Anda di halaman 1dari 49

BAB I PENDAHULUAN

Kesehatan Indonesia semakin hari semakin memburuk. Salah satu penyebabnya adalah kondisi perekonomian Indonesia yang tidak kunjung membaik. Masyarakat miskin memandang kesehatan adalah kebutuhan yang dapat ditunda demi pemenuhan kebutuhan lain yang lebih fundamental. Saat ini di Indonesia, persentase penduduk miskinnya mencapai 16,58% (Depkes RI, 2008). Pada masyarakat dengan status ekonomi rendah ditambah dengan pendidikan yang rendah, pemeliharaan dan peningkatan kesehatan sebagai aspek yang merupakan penekanan upaya promotif dan preventif dalam pembangunan kesehatan, cenderung belum menjadi sesuatu yang dirasakan sebagai kebutuhan. Oleh karena itu, sementara menunggu kondisi perekonomian Indonesia membaik, maka perlu upaya peningkatan

kesadaran memelihara kesehatan (masyarakat) sendiri dalam bentuk swamedikasi (self medication). Swamedikasi di Indonesia dilakukan dengan menggunakan obat tradisional atau jamu dan obat-obat paten baik dari golongan obat bebas maupun golongan obat bebas terbatas. Pada umumnya, pengobatan sendiri didasarkan pada pengalaman menggunakan jamu atau obat tertentu yang diwariskan secara turun-temurun. Akan tetapi, dengan kemajuan yang sangat

pesat dalam bidang periklanan, baik melalui media cetak (surat kabar, majalah, dan sebagainya) maupun media elektronik (radio dan televisi), maka sebagian besar pengguna jamu dan obat paten yang dijual bebas mendapatkan keterangan, saran atau anjuran dari iklan yang mungkin tidak jelas dan menyesatkan. Perlu diketahui bahwa penyakit-penyakit yang serius tidak boleh dilakukan pengobatan sendiri, antara lain gangguan-gangguan jantung dan pembuluh, kencing manis, penyakit-penyakit infeksi, gangguan-gangguan jiwa dan kanker. Untuk penyakit-penyakit tersebut penting sekali untuk mencari pertolongan dokter sedini mungkin Swamedikasi dapat pula dilakukan untuk mengobati gangguangangguan pada telinga, hidung, dan mulut dengan menggunakan obat-obat sintetik ataupun obat tradisional, dimana pemeriksaan medis perlu dilakukan jika terjadi infeksi.

BAB II URAIAN UMUM II.1 Telinga

ANATOMI TELINGA

Telinga adalah organ pendengaran yang terbagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Struktur telinga adalah : a. Telinga luar yang terdiri dari daun telinga, liang telinga dan gendang telinga. Fungsi dari bagian ini adalah menangkap suara dan menghantarkannya kedalam telinga . b. Telinga tengah yang terdiri dari tulang-tulang pendengaran, tuba eustachius, aditus ad antrum (lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid). Fungsi dari bagian ini adalah

menghantarkan bunyi ke telinga dalam dan menyeimbangkan tekanan antara telinga, rongga mulut dan lingkungan luar. c. Telinga dalam yang terdiri dari rumah siput (cochlea) dan vestibuler. Fungsi bagian ini adalah menangkap bunyi yang dihantarkan untuk diterjemahkan di otak dan mengatur keseimbangan. FISIOLOGI TELINGA Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong, sehingga perlimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang akan antara

mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif

membran basalis dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan depolarisasi sel rambut, sehingga

melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan

potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis. GANGGUAN PADA TELINGA 1. Otitis media Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan nonsupuratif, yang masing-masing mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu Otitis media akut (OMK) dan Otitis media supuratif kronik (OMSK). Disebut OMK jika penyakit berlangsung kurang dari 2 bulan; sedangkan bila lebih dari 2 bulan, maka disebut OMSK. Penyebab utama penyakit ini adalah bakteri piogenik seperti Streptococcus Pneumococcus. Gejala penyakit tergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anakyang sudah dapat berbicara, keluhan utama adalah rasa nyeri pada telinga dan peningkatan suhu tubuh yang biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar,atau pada orang dewasa, disamping rasa nyeri, juga terdapat gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau penurunan kemampuan untuk mendengar. hemolitikus, Staphylococcus aureus dan

2.

Tinitus Tinitus adalah suatu gangguan pendengaran dengan keluhan perasaan mendengar bunyi tanpa ada rangsang bunyi dari luar.

Keluhan ini bisa berupa bunyi mendengung, mendenging, menderu, atau mendesis, atau berbagai macam bunyi yang lain. Frekuensi

tinitus bisa berlangsung secara terus-menerus atau hilang timbul. Tinitus tidak menbuat penderita menjadi sakit kepala secara langsung, tetapi sangat mengganggu dan tidak menyenangkan. Akhirnya, bisa berdampak pada kondisi psikis dan fisik yang selanjutnya bisa menurunkan produktifitas penderitanya, apalagi jika tinitus

berkembang menjadi ketulian. Tinitus dibedakan menjadi dua jenis yakni tinitus objektif dan tinitus subjektif. Tinitus objektif terjadi jika suara juga bisa didengar oleh pemeriksa atau dengan auskultasi disekitar telinga. Tinitus jenis ini berasal dari transmisi vibrasi (getaran) sistem muskuler atau

kardiovaskuler di sekitar telinga, misalnya gangguan vaskuler berupa aneurisma, aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah), dan tumor katoris; gangguan mekanis berupa tuba eustachius terbuka sehingga ketika bernapas membran timpani bergerak dan terjadi tinitus, atau karena kejang klonus otot tensor timpani, otot stapedius, dan otot palatum. Sedangkan tinitus subjektif terjadi jika suara hanya dapat

didengar oleh pasien sendiri. Biasanya disebabkan proses iritatif atau degeneratif traktus auditorium dari sel-sel rambur getar koklea sampai pusat saraf pendengaran. Misalnya, karena intoksikasi obat dan hipertensi endolimfatik seperti penyakit meniere. Pada dasarnya tinitus bukan penyakit, tetapi gejala adanya masalah lainnya. Beberapa hal yang bisa menimbulkan tinitus antara lain penyumbatan saluran atau liang telinga oleh rumah lilin, alergi makanan tertentu atau alergi lain, reaksi terhadap obat-obatan kimia tertentu, infeksi telinga tengah (radang kronis), ketidakberesan saluran darah di otak, ketidaknormalan saraf auditori (karena rentan terhadap suara keras), diabetes mellitus, kolesterol tinggi, pilek, hipertensi, tumor otak, susah tidur, serta vertigo. 3. Tuli Akibat Bising (Noise induced hearing loss) Tuli akibat bising adalah tuli yang disebabkan akibat terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja, seperti mesin industri atau mesin kendaraan yang dikemudikan. Gejala awal TAB adalah tinitus yang hilang timbul. Titnitus akan menjadi terus-menerus atau akan menjadi lebih keras sensasinya jika terjadi paparan bising ulangan atau terpapar bising dengan intensitas lebih besar. Tinitus semakin mengganggu jika berada dalam suasana

sunyi atau saat penderita akan tertidur, sehingga penderita TAB sulit berkonsentrasi dan sulit tidur. Gejala lainnya sudah tentu berupa penurunan fungsi pendengaran. Akibatnya, pasien akan mengeluh sulit bercakap-cakap, terutama jika berada dalam ruangan yang cukup ramai (cocktail partydeafness). Lebih jauh lagi penderita TAB sulit bercakap-cakap walaupun berada dalam ruangan yang sunyi. 4. Tuli mendadak Tuli mendadak (sudden deafness) ialah tuli yang terjadi secara tibatiba. Jenis ketuliannya adalah sensorineural, penyebabnya tidak dapat langsung diketahui dan biasanya terjadi pada satu telinga. Tuli mendadak dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain iskemia koklea, infeksi virus, trauma kepala, trauma bising yang keras, perubahan tekanan atmosfer, autoimun, obat ototoksik, penyeakit meniere dan neuroma akustik. Iskemia koklea merupakan penyebab utama tuli mendadak. Keadaan ini dapat disebabkan oleh spasme, thrombosis atau perdarahan arteri auditiva interna. Pembuluh darah ini merupakan arteri ujung, sehingga bila terjadi gangguan pada pembuluh darah ini mengakibatkan koklea sangat mudah mengalami kerusakan. Beberapa jenis virus, seperti virus parotis, campak, dan mononucleosis mengakibatkan kerusakan pada organcorti, membran tektoria, dan selubung myelin saraf akustik.

Ketulian yang terjadi biasanya berat, terutama pada frekuensi sedang dan tinggi. 5. Tuli bawaan atau genetik Tuli genetik disebabkan oleh faktor keturunan. Gejala kelainan ini biasanya sudah ada sejak bayi dilahirkan atau sejak masa kanakkanak. Bisa terjadi karena ayah dan ibu bayi tersebut

pendengarannya normal, tetapi secara genetik mereka memiliki bibit ketulian, sehingga bayinya menderita gangguan berat. Karenanya, deteksi pendengaran ketika bayi baru dilahirkan perlu dilakukan. Deteksi sudah bisa dilakukan ketika bayi masih berumur kurang dari tiga tahun, bahkan jika perlu sebelum satu tahun, atau lebih baik lagi dilakukan saat bayi berumur dua hari. Tidak adanya respon terhadap suara atau ketidakmampuan bicara pada bayi seperti bayi seusianya merupakan pertanda terjadinya gangguan pendengaran. Misalnya, bayi tidur lelap meskipun

disekitarnya ada suara bunyi yang keras atau jika setelah menginjak umur enam bulan bayi masih belum mengoceh dan tidak memberi respon ketika didengarkan bunyi-bunyian. Jika terjadi hal seperti ini, sebaiknya bayi segera dibawa ke dokter THT.

6.

Tuli pada Lansia Proses penuaan atau degenerasi bisa menyebabkan perubahan pada telinga luar dan telinga tengah yang berupa berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya daun telinga, bertambah kakunya daun telinga, penumpukan serumen, membran timpani yang bertambah tebal dan kaku, juga kekakuan pada persediaan tulang pendengaran. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada seseorang yang berumur lebih dari 60 tahun dan bisa menimbulkan tuli saraf. Tuli semacam ini juga dipengaruhi jenis kelamin, dimana laki-laki lebih cepat mengalami

penurunan pendengaran daripada perempuan. II.2 Hidung ANATOMI HIDUNG Untuk mengetahui penyakit dan kelainan pada hidung, maka perlu diketahui tentang anatomi hidung. Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung dengan sistem persarafan dan fisiologinya.

10

a. Hidung luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah berurutan adalah pangkal hidung (bridge), dorsum nasi, puncak hidung, ala nasi, kolumela dan lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. b. Rongga Hidung Berbentuk terowongan dari depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan disebut nares anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi, tepat dibelakang nares anterior disebut vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh kulit yang mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambutrambut panjang yang disebut vibrise. Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernapasan dan mukosa penghidu (mukosa olfaktorius). Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan

selalu basah karena diliputi oleh palut lender (mucous blanket) pada permukaannya yang dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel-sel goblet.

11

Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lender di dalam kavum nasi akan disorong kearah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai

daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat, dimana gangguan ini dapat diakibatkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat-obatan. GANGGUAN PADA HIDUNG 1. Polip Hidung Polip nasi ialah kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabu-abuan, dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Polip nasi bukan merupakan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi klinik dari berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rhinitis alergi, asma, dan lain-lain. Keluhan utama biasanya adalah berupa hidung tersumbat yang menetap, tidak hilang-timbul dan semakin lama semakin berat. Pasien sering

mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. Gejalalain adalah gangguan penciuman (anosmia atau hiposmia).

Gangguan sekunder dapat terjadi bila sudah disertai kelainan organ

12

didekatnya, berupa sakit kepala, nyeri muka, suara, telinga rasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. 2. Rinitis Alergi Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Menurut WHO, Rinitis alergi merupakan kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore (keluar ingus) yang encer dan banyak, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar allergen yang diperantarai oleh Ig E. Gejala rinitis alergi yang khas adalah terdapatnya serangan bersin berulang. Sebenarnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini

merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri ( self cleaning proxess). Bersin dianggap patologik bila terjadinya lebih dari lima kali setiap serangan sebagai akibat dilepaskannya histamin. Pengobatan sendiri dapat dilakukan dengan menghindari kontak dengan allergen penyebabnya, sedangkan terapi simtomatis dapat dilakukan dengan pemberian antihistamin (AH-1) yang bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H-1 sel target, dimana pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. terfenadin, loratadin, setirisin dan fexofenadin. Contoh : astemisol,

13

3. Infeksi Hidung luar Infeksi hidung luar yang sering ditemukan ialah : Selulitis Sering terjadi pada puncak dan batang hidung dimana timbul edema & bangkak, kemerahan serta rasa nyeri pada hidung yang disebabkan oleh kuman Streptokokus dan Stafilokokus. Terapi pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan antibiotika secara sistemik dalam dosis tinggi, misalnya Oksitetrasiklin. Vestibulitis Merupakan infeksi pada kulit vestibulum. Biasanya terjadi sebagai akibat iritasi sekret dari rongga hidung, misalnya pada rinitis, sinusitis dan benda asing. Terapi pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik dosis tinggi. 4. Sinusitis Merupakan radang mukosa sinus paranasal, yang secara klinis terbagi terbagi menjadi 3 yaitu sinusitis akut (bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu), sinusitis subakut (bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan) dan sinusitis kronik (bila berlangsung lebih dari 3 bulan).

14

Sinusitis akut Penyebabnya dapat virus, bakteri, atau jamur. Biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas, berupa pilek dan batuk. Gejala yang timbul dapat berupa gejala sistemik (demam dan rasa lesu) dan lokal (pada hidung terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau, hidung tersumbat, rasa nyeri didaerah sinus yang terkena). Pengobatan : Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik

(khususnya golongan penisilin) selama 10-14 hari, meskipun gejala klinik telah hilang. Diberikan pula dekongestan lokal (seperti pseudoefedrin dan fenilpropanolamin) berupa tetes hidung untuk memeprlancar drenase sinus. Boleh juga diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa nyeri. Sinusitis subakut Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya sudah reda. Pengobatan : Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik yang berspektrum luas atau yang sesuai selama 10-14 hari, diberikan pula dekongestan untuk memeprlancar drenase; selain itu dapat pula diberikan analgetika, antihistamin dan mukolitik Sinusitis kronik Sinusitis kronik umumnya sukar disembuhkan dengan terapi

medikamentosa saja. Harus diacari faktor penyebabnya.Gejalanya berupa

15

rasa tidak nyaman dan gatal ditenggorok, pendengaran terganggu, nyeri/sakit kepala, batuk, gastroenteritis akibat adanya mukopus yang tertelan. Pengobatan : Antibiotika sekurang-kurangnya 2 minggu serta obat-obat simtomatis, yang dapat dilanjutkan dengan tindakan pembedahan jika tidak diperoleh perbaikan klinis. 5. Epistaksis Hidung berdarah (Kedokteran: epistaksis) atau mimisan adalah satu keadaan pendarahan yang keluar melalui lubang hidung. Dalam kasus tertentu, darah dapat berasal dari sinus dan mata. Selain itu pendarahan yang terjadi dapat masuk ke saluran pencernaan dan dapat mengakibatkan muntah. Epistaksis atau perdarahan hidung sering ditemukan sehari-hari, dan hampir 90 % dapat berhenti sendiri. penyakit Epistaksis bukan merupakan suatu

melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan, yang dapat

ditimbulkan oleh sebab lokal misalnya trauma, sering karena kecelakaan lalulintas, olah raga, (seperti karena pukulan pada hidung) yang disertai patah tulang hidung, mengorek hidung yang terlalu keras sehingga luka pada mukosa hidung, adanya tumor di hidung, ada benda asing (sesuatu yang masuk ke hidung) biasanya pada anak-anak, atau lintah yang masuk ke hidung, dan infeksi atau peradangan hidung dan sinus (rinitis dan sinusitis)

16

Pengobatan : Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegahnya

berulangnya epistaksis. Aliran darah akan berhenti setelah darah berhasil dibekukan dalam proses pembekuan darah. Sebuah opini medis mengatakan bahwa ketika

pendarahan terjadi, lebih baik jika posisi kepala dimiringkan ke depan (posisi duduk)untuk mengalirkan darah dan mencegahnya masuk ke kerongkongan dan lambung. Pertolongan pertama jika terjadi mimisan adalah dengan

memencet hidung bagian depan selama tiga menit. Selama pemencetan sebaiknya bernafas melalui mulut. Perdarahan ringan biasanya akan berhenti dengan cara ini. Lakukan hal yang sama jika terjadi perdarahan berulang, jika tidak berhenti sebaiknya kunjungi dokter untuk bantuan. Untuk pendarahan hidung yang kronis yang disebabkan keringnya mukosa hidung, biasanya dicegah dengan menyemprotkan salin pada hidung hingga tiga kali sehari. Jika disebabkan tekanan, dapat digunakan kompres es untuk mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriksi). Jika masih tidak berhasil, dapat digunakan tampon hidung. Tampon hidung dapat

menghentikan pendarahan dan media ini dipasang 1-3 hari.

17

II.3 Mulut ANATOMI DAN FISIOLOGI MULUT

1. Rongga Mulut Rongga mulut mempunyai dua komponen yakni, vestibulum oris dan rongga mulut sebenarnya. Kedua bagian ini terpisah satu sama lain oleh gigi-geligi dan jaringan-jaringan penyokongnya yakni, prosesus alveolaris dan jaringan gingiva di atasnya. Vestibulum oris dan rongga mulut sebenarnya berhubungan satu sama lain melalui ruang antar gigi dan

18

melalui daerah di sebelah posterior gigi molar terakhir dan tepi anterior ramus mandibula. 2. Daerah Sublingual (Dasar Mulut) Struktur-struktur di sebelah dalam selaput lendir dasar mulut meliputi kelenjar sublingualis, n. Lingualis, kelenjar dan duktus submandibularis, dan N. Hipoglosus. Semua struktur ini terletak di sebelah superior bidang horisontal m. Milohioideus dan di bidang lateral m. Hioglosus. Kelenjar sublingualis terletak pada sisi lingual badan mandibula, di dalam plika sublingualis. Kelenjar ini mempunyai sederet saluran keluar yang pendek yang bermuara ke dalam dasar mulut pada plika sublingualis. Duktus kelenjar submandibularis dan n. Lingualis terletak pada

permukaan medial kelenjar sublingualis, sementara alat-alat tersebut mempunyai arah ke anterior di dasar mulut. Milohoiideus terletak di sebelah inferior kelenjar sublingualis. Kelenjar sublingualis dipersarafi oleh serabut-serabut parasimpatik sekretomotorik postganglionar yang mencapai kelenjar tersebut melalui cabang-cabang sensorik kelenjar sublingualis dari n. Lingualis. Sarafsaraf parasimpatik preganglionar yang mengatur sekresi air ludah kelenjar sublingualis berada di dalam korda timpani dan bersinap dengan neuronneuron posganglionar di dalam ganglion submandibulare.

19

3. Lidah Lidah adalah alat berotot yang berfungsi pada pengunyahan (proses mengunyah), penelanan (proses menelan), berbicara dan mengecap. Dua komponen utama lidah berbeda secara tofografik, perkembangan, struktur, fungsi, neurologik dan dalam penampakannya. Dua pertiga lidah bagian anterior berasal dari dasar mulut dan tertutup oleh selaput lendir stomodeum yang berasal ektodermal. Bagian ini adalah badan atau bagian oral lidah. Sepertiga lidah bagian posterior tertutup oleh selaut lendir ujung kepala usus sederhana bagian depan yang berasal endodermal. Bagian ini terletak di sisi anterior orofaring dan dinamakan lidah bagian faringeal atau akar lidah. Batas antara lidah bagian oral dan lidah bagian faringeal adalah sulkus terminalis yang letak di sebelah posterior papilla sirkumvalata. 4. Gigi-geligi Komponen-komponen dasar semua gigi-geligi adalah mahkota, leher dan akar gigi. Akar gigi terbungkus di dalam prosesus alveolaris mandibular dan maksilar, sedangkan mahkota gigi yang erupsi terproyeksi ke dalam rongga mulut. Masing-masing leher gigi dikelilingi jaringan epitel rongga mulut, yakni gingival. Masing-masing gigi mempunyai rongga pulpa di bagian tengah di dalam bagian mahkota gigi. Rongga pulpa bermuara ke arah inferior, melalui saluran-saluran akar dan foramen apikalis masing-

20

masing akar gigi. Muara-muara ini memungkinkan saraf sensorik dan pembuluh darah memasuki pulpa dentis yang mengisi rongga pulpa. 5. Saliva dan Fungsi Saliva Saliva adalah suatu cairan mulut yang kompleks, tidak berwarna, yang disekresikan dari kelenjar saliva mayor dan minor untuk mempertahankan homeostasis dalam rongga mulut. Pada orang dewasa yang sehat, diproduksi saliva lebih kurang 1,5 liter dalam waktu 24 jam. Saliva mempunyai beberapa fungsi penting di dalam rongga mulut, diantaranya sebagai pelumas, aksi pembersihan, pelarutan, pengunyahan dan penelanan makanan, proses bicara, sistem buffer dan yang paling penting adalah fungsi sebagai pelindung dalam melawan karies gigi. Kelenjar saliva dan saliva juga merupakan bagian dari sistem imun mukosa. GANGGUAN PADA MULUT 1. Mulut Kering

Mulut kering dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Keadaan-keadaan fisiologis seperti berolahraga, berbicara terlalu lama, bernafas melalui mulut, stress dapat menyebabkan keluhan mulut kering. Penyebab yang paling penting diketahui adalah adanya gangguan pada kelenjar saliva yang dapat menyebabkan penurunan produksi saliva, seperti radiasi pada daerah leher dan kepala, penyakit lokal pada kelenjar saliva dan lain-lain.

21

Faktor penyebab keluhan mulut kering. 1. Radiasi pada daerah leher dan kepala 2. Gangguan lokal pada kelenjar saliva 3. Efek samping obat-obatan 4. Demam, diare, diabetes, gagal ginjal 5. Berolahraga, stress 6. Bernafas melalui mulut 7. Kelainan syaraf 8. Usia Cara Mengatasi Cara mengatasinya tidak begitu mudah, karena belum dikenal obatnya. Sering kali dicoba dengan menghisap gula-gula atau sering kali minum air untuk menstimulir pembentukan liur. Cara lain yang dapat dilakukan adalah berkumur dengan larutan garam (satu sendok teh dalam 1 gelas air dingin) atau menghisap sesuatu yang berasa asam. Ada beberapa tips yang dapat membantu membasahkan mulut kering: Sering minum air atau minuman tanpa gula, mengunyah permen karet yang tidak mengandung gula, menghindari rokok, alkohol dan sirih, menghindari makanan asin dan meminta dokter meresepkan ludah buatan.

22

2. Sariawan atau aftosis Sariawan atau aftosis adalah istilah yang digunakan untuk luka-luka atau tukak-tukak kecil pada selaput lender mulut. Dalam kebanyakan hal besarnya 2-4 mm, berbentuk bundar atau lonjong, berwarna kuning merah dan terkenal karena sangat pedihnya. Terutama pada waktu makan, mengunyah dan minum. Menurut tafsiran 10-20% dari semua penduduk sewaktu-waktu menderita sariawan mulut. Pada kelompok-kelompok tertentu misalnya para mahasiswa, persentase ini bahkan meningkat sampai 50% terutama pada masa ujian. Penyebab Sebab terjadinya sariawan belum diketahui dengan pasti. Hanya terdapat sejumlah petunjuk kuat bahwa suatu bakteri tertentu memainkan peranan penting yaitu bentuk peralihan dari streptococcus sangais yang mampu melarutkan sel-sel darah merah. Ada beberapa factor yang dapat menstimulir timbulnya sariawan. Misalnya keturunan, emosi karena stress, tekanan jiwa dan kecemasan. Sariawan dapat pula disebabkan oleh infeksi Candida albicans, yang biasanya hidup ditubuh kita. Pada keadaan normal jamur yang berbentuk ragi ini tidak menyebabkan gangguan karena dirintangi oleh kuman-kuman lain yang selalu menghuni selaput lendir mulut. Bila suatu waktu keseimbangan antara ragi dan kuman-kuman terganggu misalnya

23

bakteri dimatikan oleh antibiotika maka Candida albicans dapat bertumbuh seenaknya dan menimbulkan infeksi (candidosis). Dikenal sejumlah obat bebas untuk meringankan gejala-gejala sariawan mulut yaitu : 1. Zat zat antinyeri seperti lidokain yang tersedia sebagai obat bebas dalam larutan 0,3% (osagi), tablet hisap, obat kumur (orofar) dan salep 5% (lindonest). 2. Antiseptika seperti heksetidin (bactidol), povidon-iod (betadine) dan campuran larutan peroksida 3% dengan larutan garam (1:1) digunakan sebagai obat kumur. 3. Kortikoida, sangat ampuh dalam meredam peradangan dan nyeri yaitu sediaan-sediaan dengan hormon anak ginjal (kortikoida). Yang tersedia sebgai O.W.A adalah triamsinolom dalam pasta mulut yang melekat pada selaput lendir. 3. Gingivitis (Radang Gusi) Gusi yang radang dan sakit, disebut gingivitis, disebabkan bakteri dalam plak (endapan) pada gigi. Bakteri menginfeksi gusi dan menyebabkan radang, bengkak, pendarahan dan napas yang busuk. Dengan jumlah CD4 sangat rendah, infeksi ini dapat menjadi semakin berat, dan dapat meluas pada dan merusak tulang rahang di bawah gusi. Infeksi ini dapat dicegah

24

dengan sering menyikat gigi. Antibiotik dan kumur dapat menyerang infeksi, walaupun beberapa kumur dapat menyakitkan. 4. Nyeri gigi Nyeri gigi sering disebabkan oleh adanya kerusakan pada gigi (lubang) atau jaringan sekitarnya (gusi). Terutama lubang pada geraham yang sudah menjalar kesaraf gigi, menimbulkan nyeri yang hebat. Pengobatan : Sakit gigi dapat diatasi dengan obat-obat analgetik seperti parasetamol dengan dosis 2 tablet (1 gram). Dapat juga dengan beberapa tetes minyak cengkeh pada kapas, kemudian diletakkan pada gigi yang sakit dapat membantu meringankan rasa nyeri untuk sementara atau setengah ruas bawang putih yang diletakkan antara pipi dan gigi yang sakit.

25

BAB III PEMBAHASAN

III.1. Swamedikasi Pada Penyakit Telinga Contoh Obat Wajib Apotek yang dapat digunakan untuk swamedikasi gangguan telinga umumnya hanya untuk mengurangi nyeri dan sebagai antibiotik. Obat telinga dapat dibagi menjadi : 1. Obat telinga sebagai antinyeri (analgetik) : Nama sediaan Bentuk sediaan Dosis : Paracetamol ; Panadol ; Dumol : Tablet ; sirup : Dewasa 300 mg 1 g per kali, dengan maksimum 4 g per hari ; Anak 6-12 tahun 150 300 mg/kali Anak 1-6 tahun 60 120 mg/kali. Indikasi Nama sediaan Bentuk sediaan Dosis : Analgetik antipiretik : Asetosal ; Aspirin ; Aptor ; Aspilets : Tablet ; Salep : Dewasa 325 mg 650 mg tiap 3-4 jam ; Anak 1520 mg/kgBB tiap 4-6 jam. Indikasi Perhatian : Analgetik antipiretik antiinflamasi : Tidak dianjurkan untuk anaka-anak.

26

Nama Sediaan Bentuk sediaan Dosis Indikasi

: Asam mefenamat ; Ponstan ; Ponstelax : Tablet : Dewasa 250 mg 500 mg/kali, 2-3 kali : Analgesik antiinflamasi

2. Obat telinga sebagai antimikroba Nama sediaan : Kloramfenikol ; Kalmicetine ; Enkacetyne Tetes Telinga Bentuk sediaan : Tablet ; Tetes telinga ; Tetes mata ; Salep mata ; Suspensi Dosis : Tablet 50 mg/kgBB dibagi dalam 3-4 dosis ; Tetes telinga 1-5% dipakai beberapa kali sehari Indikasi Nama sediaan Bentuk sediaan Dosis Indikasi : Antibiotik : Tetrasiklin HCl ; Tetrasanbe : Tablet ; Salep : 250-500 mg/hari, 4 kali : Antibiotik

Cara Penggunaan Obat Telinga:

1. Berbaringlah miring atau tengadahkan kepala sehingga telinga menghadap ke atas. 2. Kocok botol untuk mencampur obat telinga dengan baik

27

3. Tarik daun telinga keatas dan ke belakang untuk meluruskan liang telinga 4. Teteskan sebanyak yang dianjurkan 5. Telinga tetap meghadap keatas sampai 5 menit supaya cairan masuk dengan sempurna Obat telinga ini dibuat dalam bentuk sediaan khusus untuk telinga dengan pembawa yang mudah menyebar kedalam liang telinga, bentuk kemasannya pun didesain khusus untuk mempermudah pemberian obat telinga.

Penggunaan obat tradisional : Tinitus Nama tanaman : Pegagan ( Centella asiatica Linn.)

Kandungan kimia : Asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahminoside, brahmic acid, madasiatic acid, meso-inositol, centellose, carotenoids, garam-garam mineral seperti garam kalium, natrium, magnesium, kalsium, besi, vellarine, zat samak. Senyawaan glikosida asiaticoside triterpenoida dan yang disebut sejenis,

senyawaan

mempunyai kasiat anti lepra (Morbus Hansen)


28

Cara membuat

: Herba pegagan segar sebanyak 20 g direbus dengan 5 gelas air hingga tersisa 3 gelas.

Aturan pakai

: Ramuan ini diminum 3 kali sehari pada pagi, siang dan sore hari sebelum makan. Sekali minum 1 gelas.

Nama tanaman

: Daun Dewa (Gynura pseudochina Lour.)

Kandungan kimia : Flavanoid, asam fenolat, asam klorogenat, asam kafeat, asam p-kumarat, asam phidroksibenzoat dan asam vanilat. Kandungan dan manfaat senyawa flavanoid, saponin, dan minyak atsiri . Cara membuat : Daun dewa sebanyak 4 lembar atau bisa digantikan dengan umbinya sebanyak 5 iris direbus dengan 5 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Aturan pakai : Diminum 3 kali 1 gelas pagi, siang dan sore sebelum makan. Nama tanaman : Sambiloto (Andrographis paniculata Burm.)

Kandungan kimia : Deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-deoksi-11-12-

29

didehidroandrografolid,

dan

homoandrografolid. Juga terdapat flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalium,

kalsium, natrium), asam kersik, dan damar. Flavotioid diisolasi terbanyak dari akar, yaitu polimetoksiflavon, mono-0dimetileter. Cara membuat : Herba sambiloto kering sebanyak 5 10 gram direbus dengan 5 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Aturan pakai : diminum 3 kali sehari pada pagi, siang dan sore hari sebelum makan. Sekali minum 1 gelas. Nama tanaman : Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Oc-laktuserol, P-laktuserol, manitol, inositol, silika, kalium, flavonoid, dan taraksasterol. Cara membuat : Herba tempuyung segar sebanyak 7 lembar yang dibilas dengan air matang, lalu digiling atau ditumbuk hingga halus dan airnya diperas menggunakan air bersih. andrografin, dan pan.ikulin, apigenin-7,4-

metilwithin,

Kandungan kima :

30

Aturan pakai

: Air perasan selanjutnya diteteskan ke telinga sebanyak 2 tetes 3 4 kali sehari hingga dengung di telinga menghilang.

II.2. Swamedikasi pada Gangguan Hidung Untuk swamedikasi pada gangguan hidung Obat bebas atau OWA yang digunakan hanya untuk mengurangi gejala-gejala hidung tersumbat, bersinbersin dan sakit kepala, contohnya seperti : Nama Sediaan : Decolgen

Bentuk sediaan : Tablet ; Sirup Dosis : Dewasa 3-4 kali 1 tablet sehari ; Anak 6-12 tahun tablet. Sirup untuk anak 2-6 tahun 5ml, 3 kali sehari ; 6-12 tahun 10 ml. Indikasi : Meringankan gejala bersin-bersin dan hidung tersumbat. Nama Sediaan : Stopcold

Bentuk sediaan : Tablet Dosis Indikasi : 1-3 kali/hari. : Meringankan sakit kepala, hidung tersumbat dan bersin-bersin.

31

Nama sediaan Bentuk sediian Dosis Indikasi

: Neozep Forte : Tablet : Dewasa 3-4 kali/hari ; Anak 6-12 tahun tablet : Meringankan demam, hidung tersumbat dan bersin-bersin.

Cara Pemakaian obat hidung 1. Bersihkan hidung dengan cara mengeluarkan ingus 2. Kocok obat hidung 3. Tengadahkan kepala sambil duduk atau berdiri atau berbaring telentang dengan kepala tergantung di pinggir tempat tidur. 4. Masukan aplikator sekitar 1 cm ke dalam hidung tanpa menyentuh sisi dalam hidung. 5. Teteskan sejumlah yang dianjurkan 6, Tetaplah tengadah sampai 1 2 menit supaya obat merata ke seluruh bagian hidung. Cara pemakaian Semprotan hidung 1. Bersihkan hidung 2. Kocok kuat kuat untuk meratakan aerosol 3. Tengadahkan sedikit kepala

32

4. Tutup satu cuping hidung dan masukan ujung botol semprot ke dalam cuping hidung yang lain. 5. Aktifkan semprotan hidung, dan pada saat yang sama, tarik nafas perlahan melalui cuping hidung. Hembuskan nafas melalui mulut. 6. Ulangi untuk cuping hidung yang lain 7. Bersihkan ujung alat yang masuk ke hidung sebelum di tutup kembali

Penggunaan obat tradisional : Epistaksis Nama tanaman : Sirih (Piper betle L.) atsiri,kavikol, kavibetol, eugenol,

Kandungan kimia : Minyak

karvacol, dan allipyrocatechol, karoren, asam nikotinat, riboflavin, tiamin, vitamin C, gula, tannin, patin dan asam amino. Cara membuat : Satu lembar daun sirih disumbat di hidung yang berdarah/mimisan. Nama tanaman : Alang-alang (Imperata cylindrical) mengandung malic acid, terdapat

Kandungan kimia :Gukosa,

kandungan citric acid. Selain itu pada akar alang-alang juga terdapat kandungan kimia

coixol, arundoin,cylindrin, fermenol, simiarenol Serta kandungan anemonim.

33

Cara membuat

: Akar segar alang-alang dicuci bersih, lalu ditumbuk & diperas airnya sampai terkumpul sekitar 100 cc. Atau 30 gram, akar segar dicuci bersih lalu dogodok dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas

Aturan pakai Polip Hidung Nama tanaman

: Diminum.

: Kunyit (Curcuma longa L.)

Kandungan kimia : kurkumin, 10% desmetoksikumin, dan 1-5% bisdesmetoksikurkumin), minyak asitri

(turmeron, keton sesquiterpen, 60% tumeon, 25% zingiberen, sabinen, felandren, sineil, dan borneon), 1-3% lemak, 3% Karbohidrat, 30% Protein, 8% Pati, 45-55% Vitamin C, serta garam-garam mineral (zat besi, fosfor, kalsium). Cara membuat : Kunyit dikupas, dicuci, lalu diparut. Bahanbahan lain dicuci bersih, lalu direbus bersama parutan kunyit. Air yang digunakan sebanyak sepuluh gelas air. Bahan-bahan tersebut

dididihkan hingga air rebusan tersisa sekitar

34

delapan gelas. Air rebusan tersebut dituangkan ke dalam panci. Cara memakai : Kepala penderita diselubungi dengan handuk. Kepala ditempatkan tepat di atas panci, lalu uapnya dihirup. Lakukan pengobatan ini dua kali sehari pada pagi dan sore hari sampai penyakitnya benar-benar hilang. Sinusitis Nama tanaman : Blustru (Luffa Cyiindrica L.)

Kandungan kimia : Saponin, lufein, cittrulline atau cucurbitaen, lemak, protein, xylan, Vitamin B dan C, minyak lemak. Cara membuat : Bunga blustru 10-15 gram dicuci bersih, ditumbuk dan diperas airnya. Aturan pakai Hidung berlendir Nama tanaman : Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) : Diminum.

Kandungan kimia : zat pedas piperine, chavicine, palmitic acids, tetrahydropiperic acids, 1-undecylenyl-3,4-

methylenedioxy benzene, piperidin, rninyak asiri, isobutyideka-trans-2-trans-4-dienamide, dan

35

sesamin. Piperine mempunyai daya antipiretik, analgesik, antiinflamasi, dan menekan susunan saraf pusat. Bagian akar mengandung piperine, piplartine, dan piperlonguniinine. Cara membuat : 2,5-5 gram cabe jawa digodok atau dijadikan pil, bubuk. Aturan pakai : Diminum dengan segelas air.

III.3. Swamedikasi pada Gangguan Mulut Beberapa contoh obat mulut dan tenggorokan yang beredar di Indonesia antara lain : a. Povidon Iodida Kegunaannya : Untuk kesehatan mulut terutama Selama dan sesudah pencabutan gigi atau operasi pada mulut Untuk pengobatan infeksi ringan pada mukosa mulut dan faring. Aturan pakai : Dewasa dan anak anak diatas 6 tahun Tanpa diencerkan ( gunakan povidon 10 ml ) Diencerekan dengan air hangat denga volume sama kemudian di kumur selama 10 -30 detik dapat diulangi sampai 4 kali

36

Tidak boleh digunakan jangka panjang lebih dari dua minggu, karena dapat diapsorpsi dan menimbulkan efek yang serius yang tidak diingingkan. Efek yang tidak diingingkan : Iritasi mukosa, reaksi alergi , pemakaian jangka lama menimbulkan efek sistemik seperti : Asidosis , metabolik , gangguan ginjal.

b.

Heksetidin Kegunaan :

Untuk infeksi ringan pada mulut dan tenggorokan , misalnya radang gusi , radang sekitar gigi , sariawan , radang selput lender mulut , radang tenggorokan dan radang amandel.

Sebagai pembilas sebelum dan sesudah pencabutan gigi . Menjaga kebersihan mulut sesudah menjalani operasi amandel dan tenggorokan.

Tidak boleh digunakan pada : Penderita yang alergi terhadap komponen obat ini Efek yang tidak diingingkan : Walaupun jarang , tetapi dapat terjadi reaksi alergi.

Aturan pakai :

37

Kumur sebanyak 15 ml tanpa diencerkan selama 30 detik, pada pagi dan malam hari. c. Mikonazol Kegunaan : Untuk pengobatan kandiasis pada rongga mulut Efek yang tidak diingingkan : Iritasi local reaksi alergi Aturan pemakaian : Dioleskan pada daerah mulut yang sakit 2 4 kali sehari. d. Benzinamida HCl Kegunaan Radang ringan pada ronnga mulut dan tenggorokan ,seperti

ginggivitas ,periondontitis , faringitis , laryngitis , dan stomatitis. Hal yang perlu diperhatikan : Tidak dianjurkan untuk anak dibawah 5 tahun Efek Yang tidak diinginkan: Iritasi pada lidah Aturan pakai Tanpa diencerkan , lain-lain 1 sendok makan (15 ml) diukur selama 1 menit , lalu di buang , sehari 2-3 kali. e. Gentian Violet Kegunaan : Infeksi lokal Hal yang perlu diperhatikan:

38

Tertelannya

gentian violet

dapat

menyeabkan esofagitas, dan mual, muntah, diare dan nyeri

trakheitis, bisa juga menyebabkan perut. Penggunaan obat tradisional : a. 1. Sariawan Bahan

: 1 rimpang temulawak sebesar ibu jari, 3 mata buah asam, 1 potong gula aren.

Kandungan kimia

: fellandrean dan turmerol, minyak atsiri, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol, dan kurmin.

Cara membuat

: semua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, kemudian disaring.

Aturan pakai 2. Bahan

: Diminum biasa. : 1 rimpang kunyit, 1 butir jeruk nipis dan 1 butir telur ayam kampung.

Kandungan kimia

:kurkumin,

desmetoksikumin,

dan

bisdesmetoksikurkumin), minyak asitri (turmeron, keton sesquiterpen, tumeon, zingiberen, sabinen, felandren, Karbohidrat, sineil, dan borneon), lemak,

Protein, Pati, Vitamin C, serta

garam-garam mineral (zat besi, fosfor, kalsium).

39

Cara membuat

: kunyit diparut dan diperas diambil airnya. Jeruk nipis diperas diambil airnya. Kemudian keduanya dicampur dengan telur.

Aturan pakai 3. Nama tanaman Kandungan kimia

: Diminum sore hari. : Jambu biji (Psidium guajava) : Tanin, minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin dan vitamin. Kandungan buah jambu biji (100 gr) Kalori 49 kal - Vitamin A 25 SI - Vitamin B1 0,02 mg - Vitamin C 87 mg - Kalsium 14 mg - Hidrat Arang 12,2 gram - Fosfor 28 mg - Besi 1,1 mg Protein 0,9 mg - Lemak 0,3 gram - Air 86 gram

Bahan

: 1 genggam daun jambu biji, 1 potong kulit batang jambu biji irebus bersama dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya

Aturan pakai b. 1.

: Diminum dua kali sehari.

Menghilangkan bau mulut Nama tanaman Kandungan kimia : Sirih (Piper battle) : Minyak atsiri,kavikol, kavibetol, eugenol, karvacol, dan allipyrocatechol, karoren, asam nikotinat,

40

riboflavin, tiamin, vitamin C, gula, tannin, patin dan asam amino. Cara membuat : 4-7 lembar daun sirih direbus dengan 4 gelas air sampai mendidih Aturan pakai : air rebusan daun sirih tersebut dipakai untuk kumur tiap hari. 2. Bahan Cara membuat : 2-4 lembar daun sirih : daun sirih diremas-remas, kemudian direndam dalam 2 gelas air panas Aturan pakai : air rendaman daun sirih tersebut untuk kumur tiap hari, pagi dan sore. c. Pendarahan gusi Bahan cara membuat Aturan pakai : 4 lembar daun sirih : direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih : setelelah dingin dipakai untuk kumur, diulangi secara teratur sampai sembuh. d. Radang mulut Nama tanaman Kandungan kimia : Jambu monyet (Anacardium occidentale, Linn.) : anacardic acid dan cardol, yang bermanfaat sebagai antibakteri dan antiseptik. Selain itu daun jambu monyet yang masih muda juga mempunyai

41

komposisi kandungan kimia seperti vitamin A sebesar 2689 SI per 100 gram, vitamin C sebesar 65 gram per 100 gram, kalori 73 gram per 100 gram, protein 4,6 gram per 100 gram, lemak 0,5 gram per 100 gram, hidrat arang 16,3 gram per 100 gram, kalsium 33 miligram per 100 gram, fosfor 64 miligram per 100 gram, besi 8,9 miligram dan air 78 gram per 100 gram. Cara membuat : 1 genggam daun jambu monyet dan 1 potong kulit batang jambu monyet direbus bersama dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring untuk diambil airnya Aturan pakai e. Gigi berlubang Nama tanaman Kandungan kimia : Alpokat (Percea americana) : saponin, alkaloida dan flavonoida, serta tannin, polifenol, quersetin, dan gula alcohol, betakaroten, klorofil, vitamin E, dan vitamin B-kompleks Cara membuat Aturan pakai : Biji alpukat ditumbuk sampai halus : lubang pada gigi dimasukkan bubuk biji alpokat : Dminum 2 kali sehari.

42

f.

Pembengkakan selaput lendir mulut Nama tanaman Kandungan kimia : Kunyit : kurkumin, 10% desmetoksikumin, dan 1-5% bisdesmetoksikurkumin), minyak asitri (turmeron, keton sesquiterpen, 60% tumeon, 25% zingiberen, sabinen, felandren, sineil, dan borneon), 1-3% lemak, 3% Karbohidrat, 30% Protein, 8% Pati, 4555% Vitamin C, serta garam-garam mineral (zat besi, fosfor, kalsium). Cara membuat Aturan pakai : Diperas diambil filtratnya. : Kunyit dikonsumsi dalam bentuk perasan yang disebut filtrat. Bersifat mengurangi

pembengkakan.

43

CONTOH OBAT TRADISIONAL DIPASARAN Obat Herbal "Daun Saga" Aneka Kapsul [Tazakka Group]

Komposisi : Daun Saga (Abrus Precatorius) Bahan tamabahan Kandungan kimia : Akar mengandung protein, vitamin A,B1, B6, C, kalsium oksalat, glisirizin, flisirizinat, polygalacturomic acid dan pentosan. Daun, batang dan biji mengandung saponin,flavonoid, tannin. Deskripsi : Tanaman saga punya nama latin Abrus precatorius. Daun saga memiliki kandungan kimia berupa glycyrrhicic acid. Mempunyai sifat penyejuk pada kulit dan selaput lendir. Mempunyai efektifivitas ekspektoran, yang diyakini karena adanya kandungan glicerin yang memacu sekresi mukosa dari trakea. Daun saga secara tradisional digunakan untuk mengobati beberapa macam penyakit. Diantaranya penyakit yang terkait dengan gangguan pernapasan,
44

seperti sakit serak, bronchitis, batuk, sariawan mulut. Demikian pula daun saga bisa digunakan untuk mengobati panas dalam dan sariawan. Khasiat : Sariawan Mulut Panas dalam Batuk Bronchitis Sakit Tenggorokan (Serak) Amandel Batuk pada anak Aturan Pakai Izin Depkes Sertifikat Halal MUI : 3 x 1-2 kapsul/hari : P.IRT No. 313331105058 : 163 607 2001

45

BAB IV PENUTUP

IV.1. Kesimpulan - Swamedikasi pada gangguan telinga, hidung dan mulut hanya sebatas mengurangi gejala yang ditimbulkan, seperti nyeri, bersin-bersin, hidung tersumbat atau menghentikan pendarahan pada epiktasis. - Swamedikasi pada gangguan telinga, hidung dan mulut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa obat bebas/OWA dang juga obat tradisional/Herbal.

IV.2. Saran Perlu dilakukan penyuluhan tentang swamedikasi pada gangguan telinga, hidung dan mulut yang tepat kepada masyarakat.

46

DAFTAR PUSTAKA

1. Pearce, E.C., 2002. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta

PT

2. Supardi, H.E.A & Iskandar. H.N., 2006. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi V . 2001. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 3. Higler, A.B., 1997. BOIES, Buku Ajar Penyakit THT. Kedokteran. Jakarta Penerbit Buku

4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak ., 2002. Buku Kuliah : Ilmu Kesehatan Anak 2. Bagian Kesehatan Anak, FK-UI. Jakarta 5. Mansjoer, Arif M., 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Penerbit Media Aesculapius, FKUI. Jakarta 6. Anonymous. Hidung Berdarah. [cited 2009 September 29th]. Available from : http://id.wikipedia.org/wiki/Hidung_berdarah. 7. Maria, J. Aftosis. [cited 2009 September 29th]. http://www.aafp.org/aafp/149.Html.Aftosis Available from :

8. Rahardja, K & Tan, H.T., 1993. Swamedikasi. Edisi I. Cetakan pertama. Jakarta. 9. Anonymous. Epistaxis. [cited 2009 September 29th]. Available from : http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm?doc_id=9749 10. Content Team. Penyakit Gigi [cited 2009 September 29th]. Available from : http://www.Asian Brain.com. 11. Anonymous. Obat Tradisional untuk sariawan. [on line 2008 mei 26th]. [cited 2009 September 29th]. Available from : http://iherbal.blogspot.com/ Brain.com. 12. Content Team. Obat tradisional [cited 2008]. Available from : http://www.Asian Brain.com.

47

HASIL DISKUSI 1. Bagaimana dengan keamanan dari swamedikasi gangguan telinga dengan menggunakan minyak-minyak, contohnya minyak kelapa ? (Desi Rosanti ) Jawab : Menurut pengalaman pemateri (Hermanto utomo) saat kecil pernah kemasukan serangga di telinga dan menggunakan minyak untuk mengeluarkan serangga tersebut dan ternyata aman. Dan hal ini sering dilakukan masyarakat turun-temurun. 2. Apa yang perlu diperhatikan pada pengguanaan obat-obat kortikosteroid dalam swamedikasi gangguan THT ? (Satria Putra P.) Jawab : Penggunaan kortikosteroid sebaiknya dengan pengawasan dokter. Dosis yang digunakan juga dosis kecil untuk penggunaan topikal / lokal sehingga efek samping pun kecil. 3. Apa tindakan awal pada seseorang yang mengalami epiktasis (mimisan) ? (Sarti Agustina) Jawab : Tindakan yang dapat dilakukan adalah membasahi bagian kepala pasien dengan air dingin, yang dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya perdarahan pada bagian hidung, yang dapat dilanjutkan dengan mengompres bagian hidung dengan kain yang dibasahi air dingin. 4. Bagaimana cara membedakan polip dan sinus ? (Andi Hudayah) Jawab :

48

Secara awam polip dan sinus tidak dapat langsung dibedakan karna keduanya memiliki gejala dan tanda yang mirip, perlu dilakukan pemeriksaan lanjut agar didapatkan diagnose tepat.

49