Anda di halaman 1dari 31

Laboratorium Farmakologi-Toksikologi Farmasi PS. Farmasi, F-MIPA Universitas Lambung Mangkurat PERC !

AA" I# EFE$ SE%ATIF

%isusun le& ' Faturak&im ()E)*+*)+ $elom,ok ).-

PR .RAM STU%I FARMASI FA$ULTAS MATEMATI$A %A" ILMU PE".ETA/UA" ALAM U"I#ERSITAS LAM!U". MA".$URAT !A"(AR!ARU 0*))

PERC !AA" I# EFE$ SE%ATIF

%isusun le& ' Faturak&im ()E)*+*)+ $elom,ok ).-

Tanggal ,raktikum ' 1 "ovember 0*)) %ikum,ul tanggal ' )2 "ovember 0*)) "ilai '

%iketa&ui,

34ulia 4u5&a Irianti6

PR .RAM STU%I FARMASI FA$ULTAS MATEMATI$A %A" ILMU PE".ETA/UA" ALAM U"I#ERSITAS LAM!U". MA".$URAT !A"(AR!ARU 0*))

PERC !AA" I# EFE$ SE%ATIF I. PE"%A/ULUA" ).) Tu7uan Per8obaan Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari pengaruh obat penekanan sususan syaraf pusat. ).0 %asar Teori Tugas pokok terpenting dari sistem saraf adalah mengatur kegitan tubuh. Ini dicapai dengan mengatur (1) kontraksi otot rangka di seluruh tubuh, (2) kontraksi otot polos di dalam rongga internal, dan (3) sekresi kelenjar eksokrin dan endokrin dalam banyak bagian tubuh. egiatan!kegiatan ini secara bersama!sama disebut fungsi motorik sistem saraf, serta otot dan kelenjar disebut efektor karena mereka melakukan fungsi yang diperintahkan oleh isyarat saraf ("uyton, 1#$%). &ipnotika atau obat tidur ('un( hypnos ) tidur) adalah *at!*at yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau meyebabkan tidur. +a*imnya, obat ini diberikan pada malam hari. ,ilamana *at!*at ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedati-a (obat!obat pereda). .leh karena itu, tidak ada perbedaan yang tajam antara kedua kelompok obat ini (Tjay / 0ahardja, 2112). 2ering klasifikasi obat didasarkan atas kegunaan klinis daripada kemiripan dalam struktur kimia atau mekanisme kerja. 3enempatan senya4a utama ke kelas obat hipnotik!sedati-a menunjukkan bah4a guna terapi utamanya untuk menyebabkan sedasi (bersamaan dengan hilangnya ansietas) atau untuk mendorong tidur. diresepkan di seluruh dunia ( at*ung, 1#$%). egunaan klinis ini begitu besar sehingga hipnotik!sedati-a termasuk obat yang sering

3enugasan

senya4a

tertentu

untuk

obat

sedatif!hipnotik

menunjukkan bah4a terapi utama yang digunakan adalah sedatif dengan menghilangkan kecemasan atau untuk mendorong tidur. .bat sedatif! hipnotik juga digunakan oleh masyarakat sebagai anestesi, relaksan dan antikon-ulsan. 5ereka sering disalahgunakan oleh anak muda pengguna narkoba dalam dosis besar menyebabkan efek perubahan perilaku. 5enyebabkan mereka menjadi ketergantungan. 3opulasi yang lebih tua tidak kebal untuk menggunakan obat sedati-e! hipnotik dan juga sering menjadi ketergantungan. .bat sedati-e! hipnotik juga dapat menyebabkan kematian mendadak jika disalahgunakan (&adjmohammadi, et al, 2116). 2uatu bahan sedatif (anxiolytic) yang efektif harus dapat mengurangi rasa cemas dan mempunyai efek menenangkan dengan sedikit atau tanpa efek terhadap fungsi!fungsi mental dan motoris. 7erajat depresi sistem saraf pusat yang disebabkan oleh suatu sedati-e harus minimum dengan konsistensi efikasi terapeutik. 2uatu obat hipnotik harus menyebabkan rasa kantuk dan mengarah kepada mula tidur dan mempertahankan keadaan tidur, yang mana sejauh mungkin menggambarkan keadaan tidur alamiah. 8fek hipnotik meliputi depresi sistem saraf pusat yang lebih kuat dairpada sedasi, dan ini dapat dicapai dengan semua obat sedatif melalui cara yang sederhana yaitu meningkatkan dosis ( at*ung, 1#$%). 2edasi dapat didefinisikan sebagai suatu penekanan (supresi) dari kesiapsiagaan terhadap suatu tingkat stimulasi tetap, dengan penurunan akti-itas spontan dan penurunan terjadinya ide!ide. 3erubahan perilaku ini terjadi pada dosis efektif yang terendah dari sedatif!hipnotika yang biasa dipergunakan, dan belum jelas apakah kerja anticemas yang terlihat secara klinis adalah ekui-alen atau berbeda dari efek!efek sedatif. 3ada he4an uji coba, benzodiazepine dan sedatif!hipnotika lama mampu merilis punishment!suppressed behavior, dan disinhibisi ini mempunyai kesamaan dengan efek anticemas. 9kan tetapi, rilis suppressed behavior sebelumnya lebih berkaitan dengan efek

disinhibitorik perilaku dari obat!obat ini, termasuk euforia, gangguan pengambilan keputusan, dan kehilangan pengendalian diri sendiri, yang dapat terjadi pada rentang dosis yang digunakan untuk manajemen kecemasan. &ampir semua obat sedatif!hipnotik mempunyai kemampuan merilis punishment!suppressed behavioral pada he4an coba, benzodiazepine mempunyai efek tersebut pada dosis yang hanya sedikit sekali menyebabkan depresi sistem saraf ( at*ung, 1#$%). :ntuk praktisnya, obat yang bekerja terhadap 223 dapat dibagi dalam beberapa golongan besar, yaitu( 1. 3sikofarmaka (psikotropika), yang meliputi( a. 3sikoleptika( jenis obat yang pada umumnya menekan dan;atau menghambat fungsi!fungsi tertentu dari 223 yakni hipnotika, sedati-a dan tranquillizers, dan antipsikotika. b. 3siko!analeptika( jenis obat yang menstimulasi seluruh 223, yakni antidepresi-a dan psikostimulansia (4ekamin). 2. <enis obat untuk gangguan neurologis, seperti antiepileptika, 52 (multiple sclerosis), dan penyakit 3arkinson. 3. <enis obat yang menghalau atau memblokir perasaan sakit( analgetika, anestetika umum, dan lokal. =. <enis obat -ertigo dan obat migrain (Tjay / 0aharja, 2112). .bat pada dasarnya hendaknya hanya digunakan jika tidak berhasil mengatasi penyebab gangguan tidur atau tidak berhasil dengan tindakan lain misalnya latihan autogenic. 3erlu diperhatikan pada orang lanjut usia bah4a kebutuhan tidurnya secara fisiologik menurun dan dengan demikian juga lama tidur yang dibutuhkan berkurang. .bat tidur ideal harus memenuhi syarat berikut ( 1. 5enimbulkan suatu keadaan yang sama dengan tidur fisiologik, dengan kata lain profil fisiologik tidak berubah. 2. <ika suatu kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain dari sistem saraf pusat (atau fungsi!fungsi organ lainnya) kecil. 3. Tidak tertimbun.

=. 3ada pagi berikutnya tidak menyebabkan kerja ikutan yang negatif (yang disebut hango-er) (5ustchler, 1##1). >ungsi 223 dapat ditekan seluruhnya secara tidak spesifik oleh *at!*at pereda pusat seperti hipnotika dan sedati-a. 2ebagai akibatnya kesadaran untuk impuls eksogen diturunkan serta akti-itas fisik dan mental dikurangi. .bat!obat ini tidak mempengaruhi tingkah laku secara spesifik, sebagaimana halnya dengan trans?uilli*ers, yang disamping itu juga berkhasiat depresif terhadap 223. 9ntagonis faali dari obat!obat tersebut adalah *at!*at yang berkhasiat menstimulasi seluruh 223, yakni analeptika (4ekamin) dan antidepresi-a. kegiatan langsung terhadap otak (Tjay / 0aharja, 2112). Interaksi obat yang tersering melibatkan hipnotik!sedati-a adalah interaksi dengan obat depresan susunan saraf pusat lain, yang menyebabkan efek adiktif. Interaksi ini mempunyai sejumlah kegunaan terapi dengan memperhatikan penggunaan obat ini sebagai premedikasi atau tambahan obat anestesi. Tetapi ia dapat menyebabkan efek samping serius. Termasuk peningkatan depresi dengan penggunaan banyak obat lain secara bersamaan. 8fek aditif yang jelas dapat diramalkan dengan penggunaan minuman beralkohol, analgesik narkotika, antikon-ulsan, fenotia*in, dan obat hipnotika!sedati-a lain. 'ang kurang jelas tetapi sama penting adalah peningkatan depresi susunan saraf pusat dengan berbagai antihistamin, obat antihipertensi dan obat antidepresi kelas trisiklik ( at*ung, 1#$%). edua jenis obat ini mempengaruhi semangat dan suasana ji4a berdasarkan

II.

CARA PERC !AA" 0.) Alat 5an !a&an 0.).) Alat 9lat!alat yang digunakan pada percobaan ini adalah( 1. 9lat!alat gelas 2. <arum suntik (1 m+) 3. 0otarod (batang berputar). =. 2onde oral 5. Stopwatch 0.).0 !a&an ,ahan!bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah( 1. 9?uadest 2. @T5 = mg 3. @T5 $ mg =. 7imenhidrinat 26 mg 6. 7imenhidrinat 61 mg A. 7imenhidrinat 111 mg %. +arutan Ba@l fisiologis 1,#C 0.).9 /e:an U7i &e4an uji adalah mencit atau tikus putih. :mumnya albino jantan, bobot badan 21!31 g. &e4an sebaiknya diadaptasikan lingkungan percobaan selama 1!2 minggu. 2ebelum diberi perlakuan, he4an dipuasakan makan selama A!$ jam.

0.0

CARA $ER(A 5encit ditimbang dan dibagi menjadi 6 kelompok D 2 ekor diletakkan di atas rotarod selama 6 menit untuk adaptasi diberi obat secara peroral

@T5 = mg / $ mg

7imenhidri nat 26 mg A1 mg;kg ,,

7imenhidrinat 61 mg

7imenhidrinat 111 mg 6 mg;kg ,,

Ba@l 1,# C

mencit diletakkan di atas rotarod selama 2 menit pada menit ke 16, 31, A1, dan 121 dicatat berapa kali mencit jatuh dari rotarod diamati juga daya cengkeram (pada ka4at kasa) ! ditentukan obat yang paling poten

&asil

III. /ASIL PERC !AA" III.) /asil 5an %ata Per8obaan Tabel 1. 7ata &asil 3engamatan +arutan .bat ,obot Eolume F Terjatuh 16 ( = 31 ( 6 A1 ( 6 #1 ( # 16 ( 2 2# 1,= 31 ( 3 A1 ( 3 #1 ( % 16 ( 1 2=,= 7imenhidrinat 111 mg 2= 1,3=3 1,336 31 ( 2 A1 ( 2 #1 ( = 16 ( = 31 ( 3 A1 ( 3 #1 ( % 16 ( 1 2=,=6 +arutan Ba@l >isiologis 1,#C 26,%1 1,6 1,6 31 ( 1 A1 ( 1 #1 ( 1 16 ( 2 31 ( 2 A1 ( 2 #1 ( 1 7aya @engkeram uat uat uat urang uat uat uat uat urang uat uat uat uat uat uat uat uat urang uat 2angat uat uat 2angat uat uat uat uat uat uat 5encit (mg) 3emberian (m+)

2# @T5 = mg

1,=

7imenhidrinat 26 mg

2A,21

1,3%=3

16 ( 1 31 ( 2

uat uat

A1 ( A #1 ( 6 16 ( 1 2A,1A 1,3%22 31 ( 1 A1 ( 3 #1 ( 6 16 ( 1% 2# 7imenhidrinat 61 mg 2A 1,3% 1,=1= 31 ( 11 A1 ( 13 #1 ( 13 16 ( = 31 ( 3 A1 ( 6 #1 ( 3 16 ( 6 2$,%1 @T5 $ mg 2#,=1 1,=1## 1,=1#1 31 ( % A1 ( % #1 ( # 16 ( = 31 ( A A1 ( $ #1 ( 11

urang uat uat 2angat uat uat uat uat 2angat +emah 2angat +emah 2angat +emah 2angat +emah uat uat uat uat uat urang uat urang uat urang uat uat urang uat urang uat urang uat

III.0 Per&itungan 1. @T5 = mg 7iketahui ( 7osis @T5 ,obot tablet ) = mg ) 131 mg

,, mencit 1 ,, mencit 2

) 2# g ) 2# g

7itanyakan ( a. on-ersi dosis mencitG b. 3embuatan larutan stok peroralG c. Eolume larutan yang diberikanG <a4ab (
1,111== mg 36 g ) 21 g

a. 7osis mencit ) = mg H 1,112A1 ) 1,111== mg ; 21 g :ntuk mencit 36 g ) 1,11$2% mg ; 36 g

b. 3embuatan larutan stok 7osis untuk 3. ) 1,11$2% mg H 1,6 m+ ) 1,3A6= mg ; 11 m+ .bat yang ditimbang (
1,3A6= mg = mg H

11 m+

) 131 mg

H c. Mencit 1 7osis kon-ersi )

) 11,$%A mg )1,111$%A g;11m+

7osis @T5 ,, mencit 1 21 g

1,111== mg 2# g ) 21 g 1,1161 mg

1,1161 mg

Eolume yang diberikan ) 1,3A6= mg;11 ml ) 1,= ml Mencit 2 7osis kon-ersi )


7osis @T5 ,, mencit 2 21 g

1,111== mg 2# g ) 21 g 1,1161 mg

1,1161 mg

Eolume yang diberikan ) 1,3A6= mg;11 ml ) 1,= ml

2. 7imenhidrinat 111 mg 7iketahui ( 7osis 7imenhidrinat ) 111 mg ,obot tablet ,, mencit 3 ) =11 mg ) 2=,$6 g

,, mencit =

) 2= g

7itanyakan ( a. on-ersi dosis mencitG b. 3embuatan larutan stok peroralG c. Eolume larutan yang diberikanG <a4ab (
1,2A1 mg 36 g ) 1,=6A%6 21 g

a. 7osis mencit ) 111 mg H 1,112A1 ) 1,2A1 mg ; 21 g :ntuk mencit 36 g ) mg ; 36 g

b. 3embuatan larutan stok 7osis untuk 3. ) 1,=6A%6 mg H 1,6 m+ ) #,136 mg ; 11 m+ .bat yang ditimbang ( 111 mg ) =11 mg H c. Mencit 3 7osis kon-ersi )
7osis 7imenhidrinat ,, mencit 3 21 g #,136 mg H

11 m+

) 3A,6= mg ) 1,13% g ; 11 m+

1,2A1 mg 2=,= g ) 21 g 1,31$=2 mg

1,31$=2 mg

Eolume yang diberikan ) #,136 mg;11 ml ) 1,336 ml

Mencit 7osis kon-ersi )


7osis 7imenhidrinat ,, mencit = 21 g

1,2A1 mg 2= g ) 21 g 1,3132 mg

1,3132 mg

Eolume yang diberikan ) #,136 mg;11 ml ) 1,3=3 ml

3. +arutan Ba@l >isiologis 1,#C 7iketahui ( 7osis Ba@l ,, mencit 6 ,, mencit A ) 1,#C dalam 111 m+ ) 2=,=6 g ) 26,%1 g

7itanyakan ( a. 3embuatan larutan kontrol Ba@lG

b. Eolume larutan injeksi yang diberikanG <a4ab (


1,# 111 m+ ) 1,# g 111

a. 3embuatan larutan kontrol negatif Ba@l ,obot Ba!@5@ ) b. Mencit 1 dan 2 Eolume yang diberikan ) 1,6 m+ =. 7imenhidrinat 7iketahui ( 7osis 7imenhidrinat ) 26 mg >aktor kon-ersi ,obot tablet ,, mencit % ,, mencit $ ) 1,112A1 ) 126 mg ) 2A,21 g ) 2A,1A g

7itanyakan ( a. on-ersi dosis mencitG b. 3embuatan larutan stok peroralG c. Eolume larutan injeksi yang diberikanG <a4ab ( a. 7osis mencit ) 26 mg H 1,112A1 ) 1,1A626 mg ; 21 g :ntuk mencit 36 g ) g
1,1A626 36 g ) 21 g

1,11=2 mg ; 36

b. 3embuatan larutan stok dan obat yang ditimbang 7osis 3. ) 1,11=2 mg H 1,6 m+ ) 2,2$= mg ; 11 m+ .bat yang ditimbang ( 2,2$= mg
111 mg

11 m+

H 126 mg

x c. Mencit !

) 11,=2 mg )1,111=2 g;11 m+ larutan

7osis kon-ersi ) )

7osis 7imenhidrinat ,, mencit % 21 g 1,1A626 mg 2A,21 g 21 g 1,1$66 mg

) 1,1$66 mg

Eolume yang diberikan ) 2,2$= mg;11 ml ) 1,3%=3 ml Mencit " 7osis kon-ersi ) )
7osis 7imenhidrinat ,, mencit $ 21 g 1,1A626 mg 2A,1A g ) 1,1$6 21 g 1,1$6 mg

mg

Eolume yang diberikan ) 2,2$= mg;11 ml ) 1,3%22 ml

6. 7imenhidrinat 61 mg 7iketahui ( 7osis 7imenhidrinat ) 61 mg >aktor kon-ersi ,obot tablet ,, mencit # ,, mencit 11 ) 1,112A1 ) AAA mg ) 2# g ) 2A g

7itanyakan ( a. on-ersi dosis mencitG b. 3embuatan larutan stok peroralG c. Eolume larutan injeksi yang diberikanG <a4ab ( a. 7osis mencit ) 61 mg H 1,112A1 ) 1,1316 mg ; 21 g :ntuk mencit 36 g ) 21 g 36 g ) 1,22$= mg ; 36 g b. 3embuatan larutan stok dan obat yang ditimbang 7osis 3. ) 1,22$= mg H 1,6 m+ ) =,6A$ mg ; 11 m+ .bat yang ditimbang ( 2,2$= mg
111 mg 1,1316

11 m+

H =11 mg

x c. Mencit #

) =A,6$$6 mg ) 1,1= g;11 m+ larutan

7osis kon-ersi ) )

7osis 7imenhidrinat ,, mencit # 21 g 1,1316 mg 2# g ) 21 g

1,1$# mg

Eolume yang diberikan ) =,6A$ mg;11 ml ) 1,=1= ml Mencit 1$ 7osis kon-ersi ) )


7osis 7imenhidrinat ,, mencit 11 21 g 1,1316 mg 2A g ) 1,1A#A6 21 g 1,1A#A6 mg

1,1$# mg

mg

Eolume yang diberikan ) =,6A$ mg;11 ml ) 1,3% ml

A. @T5 $ mg 7iketahui ( 7osis @T5 >aktor kon-ersi ,obot tablet ,, mencit 11 ,, mencit 12 ) $ mg ) 1,112A1 ) 2=2 mg ) 2$,%1 g ) 2#,=1 g

7itanyakan ( a. on-ersi dosis mencitG b. 3embuatan larutan stok peroralG c. Eolume larutan injeksi yang diberikanG <a4ab ( a. 7osis mencit ) $ mg H 1,112A1 ) 1,121$$ mg ; 21 g :ntuk mencit 36 g ) g d. 3embuatan larutan stok dan obat yang ditimbang 7osis 3. ) 1,13A6= mg H 1,6 m+ ) 1,%31$ mg;11m+ .bat yang ditimbang ( 2,2$= mg
111 mg 1,121$$ 36 g ) 21 g

1,13A6= mg ; 36

11 m+

H =11 mg

) =A,6$$6 mg

) 1,1= g;11 m+ larutan b. Mencit 11 7osis kon-ersi ) )


7osis @T5 ,, mencit 11 21 g 1,121$$ mg 2$,%1 g ) 1,12##A 21 g 1,12##A mg

mg

Eolume yang diberikan ) 1,%31$ mg;11 ml ) 1,=1#1 ml Mencit 12 7osis kon-ersi ) )


7osis @T5 ,, mencit 12 21 g 1,121$$ mg 2#,=1 g ) 1,131A# 21 g 1,131A# mg

mg

Eolume yang diberikan ) 1,%31$ mg;11 ml ) 1,=1## ml

LAMPIRA" 3ertanyaan ( 1. enapa mencit perlu diadaptasikan sebelum percobaan G cengkeram, dan perubahan pupilG <a4aban ( 1. 5encit perlu diadaptasikan sebelum percobaan agar mencit sudah terbiasa berjalan di atas rotarod. <ika tidak diadaptasikan, maka mencit akan lebih banyak jatuh di atas rotarod. 7alam keadaan normal, mencit yang sudah diadaptasikan akan lebih terbiasa berjalan di atas rotarod, sehingga ketika efek 2. 5erupakan indikasi apakah hilangnya reflek balik badan dan kornea, daya

sedatif yang diberikan bekerja, dapat diamati perubahan pada jumlah jatuh mencit yang semakin banyak dibandingkan mencit yang tidak diberi efek sedatif. 2. &ilangnya reflek balik badan dan kornea, daya cengkeram, dan perubahan pupil mengindikasikan bah4a efek sedatif yang diberikan kepada mencit mulai bekerja. &al!hal di atas merupakan parameter yang diamati pada mencit.

%AFTAR PUSTA$A "uyton, @. 9. 1#$%. %isiologi Manusia dan Me&anisme 'enya&it. 3enerjemah 9ndrianto, 3. 3enerbit ,uku edokteran 8"@. <akarta. &adjmohammadi, 5.0 / 2hariphi 9.9. 2116. Separation o( Sedative)*ypnotic +rugs ,ith Mixed Micellar -iquid .hromatography. http(;;444.sid.ir;8n;E8I22I7;<Jpdf;$=32116121$.pdf 7iakses pada tanggal 12 Bo-ember 2111 at*ung, ". ,. 1#$%. %arma&ologi +asar dan /lini&. 3enerjemah Bugroho, 9.I. 3enerbit ,uku edokteran 8"@. <akarta. 5utschler, 8. 1##1. +inami&a 0bat 1disi 2. 3enerjemah Iidianto, 5.,. 3enerbit IT,. ,andung. Tjay, T.&. / . 0ahardja. 2112. 0bat)0bat 'enting. 3T. 8leH 5edia omputindo. <akarta.

III. %ATA %A" /ASIL PERC !AA" 9.) %ata /asil Per8obaan

+arutan .bat 3entotal =1 mg;kg ,,

,erat 5encit (g) !mencit 1) 3=,2A

3emberian (ml) 1,#%#1

<umlah Terjatuh 16 ) 1 kali 31 ) 1 kali A1 ) 1 kali 121 )1 kali

eterangan 7aya @engkram uat uat uat uat uat uat uat uat +emah +emah +emah uat uat uat uat uat +emah uat uat uat +emah uat uat uat uat uat uat +emah uat uat uat +emah ! ! ! ! uat uat uat

! mencit 2 ) 2$,AA

1,$1#1

16 ) 1 kali 31 ) 1 kali A1 ) 1 kali 121 )$ kali

3entotal A1 mg;kg ,,

! mencit 1 ) 2$,$

1,$22%

16 ) A 31 ) $ A1 ) 12 121 ) %

! mencit 2 ) 2%, %=gram

1,%$2%

16 ) 1 kali 31 ) 1 kali A1 ) 2 kali 121 ) 2 kali 16 ) A kali 31 ) 1 kali A1 ) 1 kali 121 ) 1 kali 16 ) 6 kali 31 ) 3 kali A1 ) 2 kali 121 ) 1 kali 16 ) 1 kali 31 ) 1 kali A1 ) 1 kali 121 ) 1 kali

7ia*epam 2 mg;kg ,,

! mencit 1 ) 2$,A%

1,$1#1

! mencit 2 ) 33,#$

1,#%1#

7ia*epam 6 mg;kg ,,

! mencit 1) 32,66

1,#311

! mencit 2 ) 2$,#=

1,$263

16 ) 1 kali 31 ) 1 kali A1 ) 1 kali 121 ) 1 kali

Ba >isiologis 1.#C

! mencit 1) 31,$3

1,%#6$

16 ) ! 31 ) ! A1 ) ! 121 ) !

! mencit 2 ) 2A,32 gram

1,A6$1

16 ) 2 kali 31 ) 1 kali A1 ) 1 kali

9.0 Per&itungan 1. 3entotal =1 mg; g ,, 7iketahui 7itanya <a4ab ( 7osis ) =1 mg; g ,, ,erat mencit ) 3=,2A g ( Eolume pemberian......G (

a. 3embuatan larutan stok 7osis maksimal pentotal ) =1 mg; g ,, 7o untuk mencit :ntuk mencit ,, 36 g( 7o ) 36 g H 1,11== mg ) 1,1$2% mg 21 g ) =1 mg;kg ,, H 1,112A1 ) 1,11== mg ; 21 g

2tok yang dibuat 11 m+.

mg yang ditimbang ) 11 m+ H 1,1$2% mg ) 1,$2%1 mg 1 m+ +arutan stok( 1,$2%1 mg pentotal dilarutkan dalam 11 m+ larutan a?uadest. b. 3erhitungan -olume lar. 2tok pentotal yang diberikan( ,, mencit 7osis mencit Eolume pemberian ) 3=,2A g ) 3=,2A g H 1,11== mg ) 1,1%$$ mg 21 g ) 1,1%$$ H 11 m+ ) 1,#%#1 m+ 1,$2%1 mg 2. 3entotal A1 mg; g ,, 7iketahui ( 7osis 7itanya <a4ab ) A1 mg; g ,, ,erat mencit ) 2$,$1 g ( Eolume pemberian......G (

a. 3embuatan larutan stok 7osis maksimal pentotal ) A1 mg; g ,, 7o untuk mencit :ntuk mencit ,, 36 g( 7o ) 36 g H 1,16AA mg ) 1,2%=1 mg 21 g 2tok yang dibuat 11 m+. mg yang ditimbang ) 11 m+ H 1,2%=1 mg ) 2,%=11 mg 1 m+ +arutan stok( 2,%=11 mg pentotal dilarutkan dalam 11 m+ larutan a?uadest. ) A1 mg;kg ,, H 1,112A1 ) 1,16AA mg ; 21 g

b. 3erhitungan -olume lar. 2tok pentotal yang diberikan(

,, mencit 7osis Eolume pemberian

) 2$,$1 g ) 2$,$1 g H 1,16AA mg ) 1,2266 mg 21 g ) 1,2266 H 11 m+ ) 1,$22% m+ 2,%=11

3. 7ia*epam 2 mg; g ,, 7iketahui 7itanya <a4ab ( 7osis ) 2 mg; g ,, ,erat mencit ) 2$,A% g ( Eolume pemberian......G (

a. 3embuatan larutan stok 7osis maksimal dia*epam ) 2 mg; g ,, 7o untuk mencit ) 2 mg;kg ,, H 1,112A1 ) 1,1162 mg ; 21 g :ntuk mencit ,, 36 g( 7o ) 36 g H 1,1162 mg ) 1,11#1 mg 21 g 2tok yang dibuat 11 m+. :ntuk p.o ) 11 m+ H 1,11#1 mg ) 1,1#13 mg 1 m+ ,obot 7ia*epam 1 tablet A21,3 mg maka ( mg yang ditimbang )
A21,3mg x 1,1#13 ) 2,$3%$ mg 2mg

+arutan stok( 2,$3%$ mg dia*epam dilarutkan dalam 11 m+ larutan a?uadest.

b. 3erhitungan -olume lar. 2tok dia*epam yang diberikan( ,, mencit ) 2$,A% g

7osis mencit Eolume pemberian =. 7ia*epam 6 mg; g ,, 7iketahui ( 7osis 7itanya <a4ab

) 2$,A% g H 1,1162 mg ) 1,11%6 mg 21 g ) 1,11%6 H 11 m+ ) 1,$1#1 m+ 1,1#13 ) 6 mg; g ,,

,erat mencit ) 32,66 g ( Eolume pemberian......G (

a. 3embuatan larutan stok 7osis maksimal dia*epam ) 2 mg; g ,, 7o untuk mencit :ntuk mencit ,, 36 g( 7o ) 36 g H 1,1131 mg ) 1,122# mg 21 g 2tok yang dibuat 11 m+. :ntuk p.o ) 11 m+ H 1,122# mg ) 1,22#1 mg 1 m+ ,obot 7ia*epam 1 tablet A21,3 mg maka ( mg yang ditimbang )
A21,3mg x 1,1#13 ) %1,13$$ mg 6mg

) 6 mg;kg ,, H 1,112A1 ) 1,1131 mg ; 21 g

+arutan stok( %1,13$$ mg dia*epam dilarutkan dalam 11 m+ larutan a?uadest. b. 3erhitungan -olume lar. 2tok dia*epam yang diberikan( ,, mencit 7osis mencit Eolume pemberian 6. Ba!fisiologis 1,#C 7iketahui ( 7osis ) 1,#C ,erat mencit ) 2A,32 g ) 32,66 g ) 32,66 g H 1,1131 mg ) 1,1213 mg 21 g ) 1,1213 H 11 m+ ) 1,#311 m+ 1,22#1

7itanya <a4ab

( Eolume pemberian......G (

a. 3embuatan larutan stok 1,#C ) 1,# g ; 111 m+ H 11 m+ ) 1,1# g ) #1 mg +arutan stok( #1 mg Ba!fisiologis dilarutkan dalam 11 m+ larutan a?uadest. b. 3erhitungan -olume lar. 2tok Ba!fisiologis yang diberikan( ,, mencit ) 2A,32 g Eolume dari lar.stok ) 1,A6$1 m+ 9.9 Analisia /asil &ipotesa hasil 9B.E9 ( &o ) tidak terjadi perbedaan yang signifikan dari semua efek pemberian keempat obat. &1 ) terjadi perbedaan yang signifikan dari semua efek pemberian keempat obat. &o diterima jika nilai sig K 1,16 sedangkan &1 diterima jika nilai sig L 1,16. Bilai sig dapat dilihat dari tabel 9B.E9.

ANOVA Jumlah_terjatuh Sum of Squares Between Groups 'ithin Groups (otal 26.8 8 2$.#$! &&.$ % df ! & $ Mean Square 6."#$ &.8%$ F %.%& Sig. .!2$

Post Hoc Tests

Multiple Comparisons Jumlah_terjatuh (u)e* +S, $&5 6onfiden2e Mean ,ifferen2e -./ Bahan_01at :entotal !# mg;<g BB -J/ Bahan_01at :entotal 6# mg;<g BB ,ia=epam 2 mg;<g BB ,ia=epam & mg;<g BB >a3fisiologis #?$5 :entotal 6# mg;<g BB :entotal !# mg;<g BB ,ia=epam 2 mg;<g BB ,ia=epam & mg;<g BB >a3fisiologis #?$5 ,ia=epam 2 mg;<g BB :entotal !# mg;<g BB :entotal 6# mg;<g BB ,ia=epam & mg;<g BB >a3fisiologis #?$5 ,ia=epam & mg;<g BB :entotal !# mg;<g BB :entotal 6# mg;<g BB ,ia=epam 2 mg;<g BB >a3fisiologis #?$5 >a3fisiologis #?$5 :entotal !# mg;<g BB :entotal 6# mg;<g BB ,ia=epam 2 mg;<g BB ,ia=epam & mg;<g BB -.3J/ 3 .62&## 3%. "&## .8"&## .&#### .62&## 2.2&### !.&#### !.%2&## %. "&## 32.2&### 2.2&### %.8"&## 3.8"&## 3!.&#### 32.2&### 3. "&## 3.&#### 3!.%2&## 3%.8"&## . "&## Std. 4rror 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% Sig. .nter7al 8ower Bound 9pper Bound 6.#&%6 8. #%6 %#.&&%6 %#.%"66 % . #%6 %%.$266 %!.%"66 % .8#%6 %%.#&%6 ".!266 %%.$266 %%.&&%6 8.8#%6 &.%"66 ".!266 $. #%6 $.%"66 &.&&%6 ".8#%6 %#.#&%6

.6#% 3% . #%6 .$"! 3%%.#&%6 .$$& .$$$ .6#% .8" .! .&#2 .$"! .8" .8" .$2" 38.8#%6 3$.%"66 36.#&%6 3".!266 3&.%"66 3&.&&%6 38. #%6 3%%.$266 3".!266 3".8#%6

.$$& 3%#.&&%6 .! .8" 3%!.%"66 3%%.$266

2.!%22% %.### 3%#.#&%6 2.!%22% 2.!%22% 2.!%22% .$$$ 3%#.%"66 .&#2 3% .8#%6 .$2" 3%%.&&%6 3$. #%6

2.!%22% %.###

Homogeneous Subsets
Jumlah_terjatuh (u)e* +S,a Su1set for alpha @ #.#& Bahan_01at ,ia=epam & mg;<g BB >a3fisiologis #?$5 :entotal !# mg;<g BB ,ia=epam 2 mg;<g BB :entotal 6# mg;<g BB Sig. > 2 2 2 2 2 % .%2&# .&### %.#### 2. "&# !.62&# .!

Means for groups in homogeneous su1sets are displa*ed. a. 9ses +armoni2 Mean Sample Si=e @ 2.###.

I#. PEM!A/ASA" 3raktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh obat penekanan susunan saraf pusat. .bat yang digunakan adalah dia*epam, pentotal dan Ba@l digunakan sebagai pembanding. 7ari praktikum ini diharapkan dapat diketahui obat mana yang paling poten memiliki efek sedatif. &ipnotika atau sedati-e seperti juga antipsikotika (neuroleptika) termasuk dalam kelompok psikoleptika yang mencakup obat!obat yang menekan atau menghambat fungsi!fungsi 223 tertentu. 2edatif berfungsi menurunkan akti-itas, mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunaannya. eadaan sedasi juga merupakan efek samping dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan 223, misalnya antikolinergika. &ipnotika merupakan *at!*at yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. +a*imnya, obat ini diberikan pada malam hari. <ika obat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan maka dinamakan sedatif (obat!obat pereda).

7ia*epam merupakan obat golongan ben*odia*epin yang berkhasiat sebagai penenang. 7isamping khasiat ansiolitis dan hipnotiknya, senya4a ben*odia*epin ini berdaya antikon-ulsi. ,erdasarkan khasiat ini dia*epam digunakan pada epilepsi dan dalam bentuk injeksi i- terhadap status epileptikus. 3ada penggunaan oral dan dalam klisma, resorpsinya baik dan cepat. Tetapi lambat dan tidak sempurna dalam bentuk supositoria. 7i dalam hati, dia*epam dibiotransformasi menjadi antara lain n!desmetil dia*epam dengan plasma t M antara =2!121 jam. 3lasma t M dia*epam hanya berkisar antara 21!6= jam. 8fek sampingnya mengantuk, termenung!menung, kelemahan otot dan pusing Tiopental merupakan obat golongan barbiturat ultra!shortacting yang digunakan sebagai anestetikum!injeksi. 8feknya baik, tetapi sangat singkat (t M ca 6 menit). 5ulai kerjanya cepat (tanpa taraf eksitasi) begitu pula pemulihannya, tetapi efek analgetis dan relaksasi ototnya tidak cukup kuat. .leh karena itu, hanya digunakan untuk induksi dan narkosa singkat pada pembedahan kecil. 8fek samping terpenting adalah depresi pernapasan (apnoe), terutama pada injeksi yang terlampau cepat dan dosis berlebihan. Nat ini tidak dapat digunakan pada insufisiensi sirkulasi, jantung atau hipertensi.pentotal juga menyebabkan sering menguap, batuk, dan kejang laryHn pada taraf a4al anestesi. 7osis untuk i- 111!161 mg larutan 2,6!6C (perlahan!lahan), rektal =1mg;kg maksimal 2 g. .bat yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas. .bat tersebut mungkin merangsang atau menghambat luas 223 secara spesifik atau secara umum. elompok obat memperlihatkan selektifitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik khusus mempengaruhi pusat pengatur suhu pusat nyeri tanpa pengaruh jelas. 2ebaliknya anestesi umum dan hipnotik sedatif merupakan penghambat 223 yang bersifat umum, karena psikofarmaka misalnya menghambat fungsi bagian 223 tertentu dan merangsang bagian 223 yang lain. 8fek sedatif dapat mempengaruhi kemampuan koordinasi motorik he4an coba. ,esar kecilnya pengaruh terhadap koordinasi motorik tersebut dapat menggambarkan besar kecilnya efek sedasi. 3ada percobaan kali ini,

setelah pemberian obat secara per oral dapat diamati efek sedatif pada he4an uji dengan menggunakan parameter rotarod, daya cengkeram, dan refleks balik badan. 3emberian secara per oral dimaksudkan agar obat dapat diabsorpsi secara baik dan sempurna di dalam tubuh hingga memperoleh efek yang diinginkan. 2ebelum mencit diberikan obat, mencit diletakkan terlebih dahulu di atas rotarod selama 2 menit untuk adaptasi. 9daptasi dimaksudkan agar mencit dapat menjaga keseimbangannya apabila nanti diletakkan di atas rotarod setelah pemberian obat, sehingga pada saat mencit terjatuh dapat membedakan mencit yang jatuh akibat efek obat atau karena belum terbiasa. 5encit diletakkan di atas rotarod setelah 16 menit diberikan larutan uji. 3ercobaan dilakukan pada menit ke 16, 31, =6, A1 dan 121 kemudian selama 6 menit mencit diletakkan diatas rotarod untuk diamati. 3ercobaan kali ini hanya menggunakan obat pentotal, dia*epam dan Ba@l fisiologis. 3entotal yang digunakan dengan dosis =1 mg;kg ,, dan A1 mg;kg ,,. 7ia*epam yang digunakan denagn dosis 2 mg;kg ,, dan 6 mg;kg ,,. Eolume yang diberikan untuk dia*epam =1 mg;kg ,, dan A1 mg;kg ,, sebesar 1,$1#1 mlO 1,%$2% ml. Eolume yang diberikan untuk dia*epam 2 mg;kg ,, dan 6 mg;kg ,, adalah 1,#%1# mlO 1,$263 ml. 2edangkan -olume Ba@l fisiologis yang diberikan 1,A6$1 ml. 3engamatan yang dilakukan pada praktikum menghasilkan data bah4a pemberian yang menimbulkan efek sedati-e paling besar hingga paling kecil adalah dia*epam 2 mg;kg ,,, pentotal A1 mg;kg ,,, pentotal 21 mg;kg ,, dan dia*epam 6 mg;kg ,,. 7ia*epam 2 mg;kg ,, memiliki efek sedatif yang lebih kuat dibandingkan dengan bahan obat yang lain. &al ini dapat dilihat dari pengamatan yang dilakukan, di mana jumlah jatuh mencit yang diberikan dia*epam 2 mg;kg ,, di atas rotarod lebih banyak daripada mencit dengan bahan obat yang lain dan Ba@l fisiologis. ,anyaknya jumlah jatuh tersebut menandakan bah4a efek sedatif dari dia*epam 2 mg;kg ,, lebih cepat berlangsungnya. 7aya cengkeran mencit juga semakin melemah dengan cepat.

8fek sedatif yang ditimbulkan dia*epam 2 mg;kg ,, memberikan onset yang cepat dengan durasi yang pendek. &al ini dapat dilihat pada menit ke 16 jumlah jatuhnya sebanyak 6 kali dan pada menit ke 121 jumlah jatuhnya mencit hanya 1 kali. 3entotal A1 mg;kg ,, mulai menimbulkan onset dan durasi pada menit ke A1 dengan jumlah jatuhnya mencit sebanyak 2 kali. 3entotal =1 mg;kg ,, baru menimbulkan onset dan durasi pada menit ke 121 dengan jumlah jatuhnya mencit sebanyak $ kali. 2edangkan untuk dia*epam 6 mg;kg ,, tidak terdapat mencit yang jatuh, sehingga dapat diartikan obat ini tidak memberikan efek sama sekali. 5enurut literatur obat yang memberikan efek sedatif paling besar hingga paling kecil berturut!turut adalah dia*epam 6 mg;kg ,,, dia*epam 2 mg;kg ,,, pentotal A1 mg;kg ,, dan pentotal =1 mg;kg ,,. 7ia*epam memberikan efek yang paling baik karena dia*epem merupakan golongan obat long)acting dengan efek sedatif yang panjang jika dibandingkan tiopental. <ika dibandingkan dengan literatur praktikum kali ini masih belum sesuai karena dia*epam dengan dosis 2 mg;kg ,, memberikan efek sedatif yang baik. 2eharusnya dia*epam dengan dosis 6 mg;kg ,, yang memberikan efek sedatif paling baik. ,erdasarkan hasil analisis statistik 9B.E9 dengan taraf kepercayaan #6 C, 9B.E9 jumlah jatuhnya mencit (besarnya efek sedatif) menunjukkan bah4a nilai P adalah 1,=33 karena nilai P lebih besar dari 1,16, maka &o diterima atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara efek pemberian keempat larutan obat.

#.

$ESIMPULA" esimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu( 1. 3arameter yang digunakan untuk mengetahui besarnya efek sedatif dari obat yaitu jumlah jatuhnya mencit pada rotarod dan daya cengkram mencit pada ka4at. 2. 2emakin banyak jatuh he4an uji dari rotarod (batang berputar) maka semakin baik obat bekerja didalam tubuh he4an uji. 3. 7ari hasil percobaan obat yang memberikan efek sedatif paling besar hingga paling kecil berturut!turut adalah dia*epam 2 mg;kg ,,O pentotal A1 mg;kg ,,O pentotal =1 mg;kg ,, dan dia*epam 6 mg;kg ,,. =. 5enurut literatur obat yang memberikan efek sedatif paling besar hingga paling kecil berturut!turut adalah dia*epam 6 mg;kg ,,, dia*epam 2 mg;kg ,,, pentotal A1 mg;kg ,, dan pentotal =1 mg;kg ,,. 6. ,erdasarkan hasil analisis statistik 9B.E9 dengan taraf kepercayaan #6 C, 9B.E9 jumlah jatuhnya mencit (besarnya efek sedatif) menunjukkan bah4a nilai P adalah 1,=33 karena nilai P lebih besar dari 1,16, maka &o diterima atau tidak ada perbedaan yang signifikan antara efek pemberian keempat larutan obat.