Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

INVERSIO UTERI

Pembimbing dr. Zulkarnain H., SpOG

Oleh Laras Maranatha L. Tobing, S.Ked (0918011055)

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD Dr. H. Abdul Moeloek November 2013

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sesuai hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 merupakan angka tertinggi di kawasan Asia Tenggara mencapai 359 meninggal dunia per 100.000 ibu

hamil/kelahiran. Secara makro, angka kematian ibu melahirkan merupakan parameter yang mencerminkan kualitas kesehatan masyarakat pada suatu wilayah atau negara dan risiko obstetrik pada seorang ibu hamil. Hal tersebut menunjukkan pentingnya perhatian pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan melahirkan untuk menekan AKI untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Sebagian besar kematian terjadi pada periode perinatal, terlebih pada saat persalinan. Beberapa penyebab utama yang menyebabkan kematian ibu antara lain: perdarahan, partus macet, eklampsia, dan infeksi. Perdarahan merupakan penyebab terbesar dengan persentase 27%. Perdarahan setelah 24 jam melahirkan atau perdarahan post partum dini salah satunya disebabkan oleh inversio uteri Inversio uteri adalah suatu keadaan dimana fundus uteri terputar balik keluar, baik sebagian atau seluruhnya ke dalam uterus atau ke dalam vagina, bahkan dapat juga keluar vagina. Pada keadaan yang ekstrim, dapat dijumpai endometrium yang berwarna keunguan dengan placenta yang masih melekat. Inversio uteri merupakan kasus yang serius dan merupakan kasus kedaruratan obstetri, oleh karna dapat menimbulkan syok bahkan sampai menimbulkan kematian. Walaupun ada beberapa kasus inversio uteri dapat terjadi tanpa gejala yang berarti, tetapi tidak jarang kasus tersebut menimbulkan keadaan yang serius dan fatal dan angka mortalitasnya masih cukup tinggi yaitu 1570% dari jumlah kasus.

Upaya pencegahan melalui penatalaksanaan kala III yang baik yaitu dengan memperhatikan saat dan cara yang tepat untuk melepaskan plasenta, melalui tarikan yang ringan pada tali pusat setelah kontraksi uterus atau setelah ada tanda-tanda lepasnya plasenta, pengenalan secara dini dan penatalaksanaan yang adekuat dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. 2. Tujuan Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui gejala dan tanda-tanda serta penanganan yang adekuat terhadap inversio uteri sehingga risiko morbiditas dan mortalitas ibu dapat dikurangi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Inversio uteri adalah masuknya fundus uteri ke dalam kavum uteri yang dapat menimbulkan perdarahan dan terutama rasa nyeri dan dapat diikuti syok neurogenik. Inversio uteri merupakan keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam cavum uteri atau vagina bahkan keluar vagina dengan endometriumnya sebelah luar. Keadaan inversio ini pertama kali dikenal oleh Hippocrates (460 770 SM). Inversio uteri dapat terjadi pada persalinan normal, persalinan abnormal, dan uterus non gravid akibat myoma uteri sub mukosum. Biasanya inversio uteri dijumpai pada atau sesudah kala III terutama akibat kesalahan dalam manajemen aktif kala III. Bisa terjadi spontan karena tekanan abdominal yang besar pada saat uterus belum berkontraksi dengan baik. Bisa juga terjadi ketika pertolongan persalinan plasenta secara Crede, sedangkan plasenta belum lepas. Tarikan pada tali pusat sehingga fundus uteri dapat masuk ke dalam kavum uteri.

2. Etiologi Etiologi dari inversio uteri bisa terjadi secara spontan atau karena tindakan. Kejadian yang bersifat spontan dapat terjadi pada grandemultipara, atonia uteri, kelemahan alat kandungan, dan tekanan intraabdominal yang tinggi (mengejan dan batuk). Inversio uteri karena tindakan disebabkan oleh perasat Crede yang dilakukan secara berlebihan, tarikan tali pusat, dan pada manual plasenta yang dipaksakan, teruama bila terdapat perlekatan plasenta

pada dinding rahim. Menurut Cunningham et al, adanya plasenta akreta dapat dianggap sebagai penyebab terjadinya inversio, walaupun demikian kejadian inversio uteri bisa saja terjadi tanpa perlekatan plasenta yang kuat. Tiga faktor diperlukan untuk terjadinya inversio uteri adalah (Obstetri Patologi Fakultas Kedokteran, UNPAD): a. Tonus otot rahim yang lemah. b. Tekanan atau tarikan pada fundus (tekanan intraabdominal, tekanan dengan tangan, tarikan pada tali pusat). c. Kanalis servikalis yang longgar. Walaupun penyebab inversio uteri belum jelas, ada beberapa faktor predisposisi yang dapat menjelaskan kejadian inversio uteri antara lain grande multipara sehingga sering terjadi: Atonia uteri, Plasenta adhesiva atau akreta, Pertolongan persalinan plasenta sebelum kontraksi uterus baik.

Inversio uteri dapat pula terjadi diluar persalinan. Kejadiannya bisa dihubungkan dengan adanya tumor yang berimplantasi di fundus uteri. Terutama akibat proses pelepasan secara paksa pada mioma submukosa dari implantasainya di fundus uteri. Selain itu juga bisa disebabkan oleh adanya karsinoma atau sarkoma pada jaringan endometrium akibat mekanisme yang serupa.

3. Diagnosis Gejala: 1. Syok 2. Fundus uteri sama sekali tidak teraba atau teraba lekukan pada fundus.

3. Kadang-kadang tampak sebuah tumor yang merah di luar vulva ialah fundus uteri yang terbalik atau teraba tumor dalam vagina. 4. Perdarahan.

Pemeriksaan: 1. Palpasi abdomen tidak dijumpai fundus uteri. 2. Terjadi perdarahan rasa nyeri dalam dan diikuti syok neurogenik. 3. Pemeriksaan dalam dijumpai fundus uteri berada di dalam kavum uteri.

4. Klasifikasi Pada inversio uteri, uterus terputar balik sehingga fundus uteri terdapat dalam vagina dengan selaput lendirnya sebelah luar. Keadaan ini disebut inversio uteri komplet. Jika hanya fundus menekuk ke dalam dan tidak ke luar ostium uteri, disebut inversio uteri inkomplet. Jika uterus yang berputar balik itu keluar dari vulva, disebut inversio prolaps. Inversio uteri jarang terjadi, tetapi jika terjadi, dapat menimbulkan syok yang berat. Adapun pembagian klasifikasi inversio uteri sebagai berikut: Berdasarkan Etiologi a. Inversio uteri non obstetri Biasanya disebabkan oleh myoma uteri submukosum atau neoplasma yang lain. b. Inversio uteri obstetri Merupakan inversio uteri tersering yang terjadi setelah persalinan.

Berdasarkan berat ringannya, inversio uteri dibagi menjadi:

1.

Inversio uteri ringan, yaitu fundus uteri terbalik menonjol dalam cavum uteri, namun belum keluar dari rongga rahim.

2.

Inversio uteri sedang yaitu fundus uteri yang terbalik dan sudah masuk dalam vagina.

3.

Inversio uteri berat yaitu uterus dan vagina sudah terbalik dan sebagian sudah keluar vagina.

Berdasarkan kejadiannya dibagi menjadi: 1. Inversio lokal yaitu keadaan dimana fundus uteri menonjol sedikit ke dalam cavum uteri. 2. Inversio parsial yaitu tonjolan fundus uteri terbatas hanya pada cavum uteri. 3. Inversio uteri incomplete yaitu penonjolan fundus uteri yang mencapai canalis cervicalis. 4. Inversio complete yaitu tonjolan fundus uteri yang sudah mencapai ostium uteri eksternum. 5. Inversio total yaitu tonjolan fundus uteri yang telah mencapai vagina atau keluar vagina. Keadaan lebih lanjut dimana uterus yang berputar balik telah keluar dari vulva, keadaan ini disebut inversio prolaps.

Berdasarkan derajat kelainannya: 1. Derajat 1 (inversio uteri subtotal atau incomplete): bila fundus uteri belum melewati canalis cervicalis. 2. Derajat 2 (inversio uteri total atau complete): bila fundus uteri telah melewati canalis cervicalis. 3. Derajat 3 (inversio uteri prolaps): bila fundus uteri telah menonjola keluar dari vulva. Berdasarkan pada waktu kejadian

1.

Inversio uteri akut yaitu suatu inversio uteri yang terjadi segera setelah kelahiran bayi atau plasenta sebelum terjadi kontraksi cincin cervix uteri.

2.

Inversio uteri subakut yaitu inversio uteri yang terjadi hingga terjadi kontraksi cincin cervix uteri.

3.

Inversio uteri kronis yaitu inversio uteri yang terjadi selama lebih dari 4 minggu dengan atau tidak didapatkannya gangren. Ataupun inversio uteri yang kejadiannya tidak berhubungan dengan persalinan atau karena kelainan ginekologis.

5. Tatalaksana Walaupun kejadian inversio uteri sangat jarang, tetapi merupakan komplikasi persalinan yang sangat serius. Inversio uteri termasuk ke dalam kegawatdaruratan dalam obstetri dan memerlukan penanganan yang segera.

6. Prognosis

Makin lambat keadaan ini diketahui dan diobati makin buruk prognosisnya, tetapi jika pasien dapat mengatasi 48 jam dengan inversio uteri, prognosis akan berangsur baik.

Terapi 1. Atasi syok dengan pemberian infus Ringer Laktat dan bila perlu transfusi darah. 2. Reposisi manual dalam anestesi umum sesudah syok teratasi (secara Johnson). Jika plasenta belum lepas, baiknya plasenta jangan dilepaskan dulu sebelum uterus direposisi karena dapat menimbulkan perdarahan banyak. Setelah reposisi berhasil, diberi drip oksitosin dan dapat juga dilakukan kompresi bimanual. Pemasangan tampon rahim dilakukan supaya tidak terjadi lagi inversio. 3. Jika reposisi manual tidak berhasil, dilakukan reposisi operatif.

Cara inversio uteri 1. Abdominal Haultain dan Huntington. 2. Vaginal Kustner (forniks posterior) dan Spinelli (forniks anterior). 3. Kadang-kadang dipertimbangkan histerektomi.

Obstetri Patologi Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Ginekologi 2004. Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, Sp.OG

Jakarta : EGC

Inversio Uteri

Profilaksis - Tingkatkan KB - Persalinan legeartis - Perasat Crede saat plasenta telah lepas

Predisposisi: - Grandemultipara - Overdistensi uteri - Tarikan tali pusat/tali pusat pendek - Perasat Crede sebelum kontraksi-plasenta belum lepas - Plasenta adhesiva, inkreta sampai perkreta

Gejala klinis: - Syok dalam tanpa perdarahan - Dapat terjadi perdarahan

Plasenta masih melekat: - Reposisi dengan narkose dalam - Setelah kontraksi baik plasenta manual - Diikuti internal masase sampai kontraksi baik

Plasenta telah lepas: - Reposisi dengan narkose dalam - Masase sampai kontraksi baik

Berhasil: - Infus diteruskan, dapat ditambah transfusi darah - Profilaksis antibiotika dan antitetanus serum

Gagal: - Tindakan operasi menurut Haultein atau Spinelli

III. KESIMPULAN