Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAN V

Judul Tujuan

: Isolasi Piperin dari Lada Hitam : 1. Memahami prinsip dasar dan teknik isolasi dengan metode ekstraksi kontinu 2. Mengetahui cara pemisahan dan pemurnian hasil isolasi

Hari/Tanggal : Selasa, 12 April 2011 Tempat : Laboratorium Kimia FKIP UNLAM Banjarmasin

I.

DASAR TEORI

1.1 Lada Tumbuhan lada (Piper ningrum L) termasuk tumbuhan semak atau perdu dan sering kali memanjat dengan akar-akar pelekat. Tumbuhan lada ini dikenal dengan beberapa nama antara lain piper, lada, merica, dan sakang. Dari perlakuan terhadap buah lada dapat diperoleh lada hitam atau lada putih. Lada hitam di peroleh dari buah lada yang belum masak, dikeringkan bersama kulitnya hingga kulitnya berkeriput dan berwarna hitam .Lada putih berasal dari buah yang masak dan kulitnya sudah dihilangkan dan dikeringkan sehingga warnanya putih (Anwar,dkk.1994). Lada hitam hidup subur di kawasan beriklim tropika yang panas dan lembab. Lazimnya, lada hitam dibiak daripada keratan batang dan pembiakan menggunakan biji jarang dilakukan. Sistem akar berkembang daripada akar adventitius yang terbentuk pada bahagian buku keratan batang yang ditanam. Daun akan keluar pada setiap buku semasa peringkat tumbesaran keratan pucuk utama. Akar adventitius juga akan berkembang untuk membantu pucuk melekat pada tiang sokongan. Pada setiap buku, mata tunas aksil tumbuh menjadi dahan sisi dan seterusnya akan mengeluarkan sulur buah. Bunga lada keluar pada buku yang bertentangan dengan setiap daun di dahan sisi. Kebanyakan kultivar lada mempunyai bunga dwiseks yang Isolasi Piperin dari Lada Hitam 1

kebiasaannya mengalami pendebungaan sendiri. Buah lada yang lebih dikenali sebagai beri, berwarna hijau dan berkeadaan lembut di peringkat awal pembentukan. Ia bertukar ke warna hijau tua dan menjadi keras apabila matang. Kulit luar (eksokarpa) berwarna kuning dan merah cerah dan menjadi lembut apabila masak. Setiap beri lada mengandung biji tunggal yang diselaputi isi buah (mesokarpa). Lada hitam terdiri daripada keseluruhan beri yang telah dikeringkan manakala lada putih adalah biji lada. Rasa pedas buah lada adalah disebabkan oleh kehadiran alkaloid piperine, chavisine dan piperettine manakala minyak pati menghasilkan aroma lada. Keduadua sebagian tersebut membentuk oleoresin yang dapat diperoleh melalui proses ekstraksi pelarut. Kepedasan lada juga dipengaruhi oleh varieti dan persekitaran penanaman lada. Tumbuhan ini berumah dua (dioecious) sehingga dikenal pohon jantan dan pohon betina. Daun berbentuk elips langsing. Buahnya berbentuk lonjong seperti lemon, berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas karena mengandung minyak atsiri pada daging buahnya. Bila masak daging dan kulit buahnya membuka dan biji akan terlihat terbungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah menghasilkan biji yangt berwarna coklat. Biji lada mengandung minyak atsiri 7-14 %. Bubuk lada dipakai sebagai penyedap untuk roti atau kue, puding, saus, sayuran. Minyak juga dipakai sebagai campuran parfum atau sabun.

1.2 Klasifikasi Tanaman Lada Berdasarkan sistem klasifikasi dari Cronquist dalam Pasuki (1994), klasifikasi tanaman lada adalah sebagai berikut: Divisi : Magndrophyta.

Kelas : Magnolipisida. Anak Kelas Bangsa : Magnolidae. : Piperales.

Suku : Piperaceae. Isolasi Piperin dari Lada Hitam 2

Marga Spesies

: Piper. : Piper ningrum L. Piperin (1piperilpiperidin ) C17H19O3N merupakan alkaloid dengan inti

piperidin. Piperin berbentuk kristal berwarna kuning dengan titik leleh 127129,50C, merupakan basa yang tidak optis aktif, dapat larut dalam alkohol, benzena, eter, dan sedikit larut dalam air (Anwar,dkk.1994). Piperin terdapat dalam beberapa spesies piper dan dapat dipisahkan baik dari lada hitam maupun lada putih perdagangan piperin juga dapat ditemukan pada cabe jawa. Kandungan piperin biasanya berkisar antara 5-92% (Anwar,dkk.1994). Struktur piperin adalah sebagai berikut :

N CO CH HC CH HC O O CH2

Piperin merupakan amida (R-CONH2). Reaksi hidrolisis amida dapat dilakukan baik dalam suasana asam maupun suasana basa. Dalam kedua kondisi ini, asam dan basa berfungsi sebagai pereaksi dan bukan sebagai katalis. Dalam suasana asam, terjadi penyelangan air terhadap amida sedangkan dalam suasana basa terjadi penyerangan ion hidroksil terhadap atom karbon karbonil amida.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

O O H H H H O N

O O H H H O N H

Isochavisin

Isopiperin

O O H H H H O N

O O H H N H H O

Chavisin

Piperin

Reaksi hidrolisis amida dalam suasana basa digambarkan sebagai berikut :


O R C NH2 OO R C O-

OH

R C OH NH2

NH3

Reaksi hidrolisis dalam suasana asam digambarkan sebagai berikut :

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

O R C NH2

OH

OH O

+ H+

R C NH2

+ HOH

R C OH2 NH2

R C OH

+ NH4+

Hidrolisis piperin dapat dilakukan dengan menggunakan larutan 10% KOH-etanol menjadi asam piperat. Reaksi hidrolisis piperin digambarkan sebagai berikut :

N CO CH HC CH HC O O CH2 KOH CH3OH

HO2C CH

CH2 O

+
N H

HC CH HC

Piperidin

Asam Piperat

Oksidasi asam piperat dengan memutuskan ikatan rangkap didekat cincin akan menghaasilkan senyawa piperonal yang merupakan bahan dasar pembuatan parfum.

HO2C CH HC CH HC

CH2 KMnO4 O COOH COOH O

O CH O O

O CH

+ H2C
O

+ H2C
Asam Piperonilat

Asam Piperat

Asam Oksalat

Piperonal

Piperin dapat mengalami foto-isomerisasasi oleh sinar membentuk isomer isochavisin (trans-cis), isopiperin (cis-trans) chavisin (cis-cis) dan piperin (transtrans). Timing dari London mengadakan penelitian bahwa lada hitam ternyata bukan saja bermanfaat sebagai rempah penyedap makanan. Menurut sebuah penelitian lada hitam juga memiliki potensi menjadi obat baru penyakit pigmen kulit yang disebut vetiligo. Dalam istilah medis, vetiligo dikenal sebagai kondisi

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

dimana sebagian wilayah kulit kehilangan pigmen normal, sehingga permukaan kulit memutih. Seperti yang dipublikasikan dalam British Journal of Dernatoligy. Para peneliti dari Kings Collage London berhasil mengungkapkan manfaat piperin, kandungan utama yang membuat lada hitam terasa pedas dan gurih dalam merangsang pigmentasi dalam kulit. Vetiligo sendiri merupakan jenis penyakit kulit prevalensinya diperkirakan cukup besar yakni menyerang satu diantara seratus orang. Sejauh ini, para dokter mengobati vitiligo dengan menggunakan korti kosteroid yang dioleskan pada kulit. Pengobatan lainnya yakni dengan teknik foto terapi yakni menggunakan radiasi ultriviolet untuk menciptakan kembali pigmen kulit. Namun begitu, dua metode pengobatan tersebut tingkat keberhasilannya masih rendah. Menurut penelitian hanya kurang dari seperempat pasien saja yang memiliki respon positif pada kortikosteroid. Sementara itu, tegangan radiasi UV untuk menciptakan pegmentasi dalam jarak panjang dikhawatirkan memperbesar resiko terkena kanker kulit. Lada hitam merupakan suatu zat yang memiki kemampuan untuk melindungi tubuh kita dari penyakit seperti jantung, kanker kolon (usus besar), sampai mencegah penuaaan.

II. ALAT DAN BAHAN 2.1 Alat-alat yang digunakan adalah : 1. Seperangkat alat destilasi 2. Evaporator 3. Rangkaian alat refluks 4. Corong Buchner 5. Erlenmeyer 6. Gelas ukur 250ml 7. Gelas kimia 8. Pepet Volum 9. Neraca analitik Isolasi Piperin dari Lada Hitam 1 buah 6 1 set 1 set 1 set 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah

10. Gelas ukur 100ml 11. Pipet tetes 12. Kaca arloji 13. Batang pengaduk 14. Labu pengenceran 15. Penjepit 16. Penangas minyak 17. Hot plate 18. Spatula 19. Statif+klem

1 buah 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

2.2 Bahan-bahan yang digunakan adalah : 1. Serbuk lada hitam 2. KOH


3. Etanol 95% 4. HCl 6 M 5. Vaselin 6. Kertas saring lebar untuk membungkus 7. Kertas saring untuk menyaring 8. Larutan 10 % KOH- Etanol 9. Batu didih 10. Es batu 11. Aquadest 12. Etanol Absolut 13. Kapas 14. Kertas lakmus merah dan biru

III. PROSEDUR KERJA 3.1 Pemisahan piperin 1. Membersihkan lada hitam perdagangan dari kotoran dan mengeringkannya. 2. Melakukan penggilingan sehingga menjadi serbuk lada yang halus. 3. Membungkus 90 gram lada dengan kertas saring, dan kemudian.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

4. Memasukkannya ke dalam alat ekstraksi Soxhlet. 5. Melakukan ekstraksi selama 5 jam dengan menggunakan pelarut absosut. 6. Menyaring ekstraktan dan melakukan evaporasi untuk memisahkan pelarut etanol absolut 150ml. 7. Memasukkan 30 mL larutan 10 % KOH- Etanol ke dalam rsidu. Dan melakukan penyaringan. 8. Mendiamkan larutan basa etanol selama satu malam, sampai terbentuk Kristal 9. Memisahkan kristal yang terbentuk dari endapannya. Akan diperoleh kristal-kristal yang berwarna kuning. 10. Melakukan rekristalisasi dengan pelarut etanol 95 % . 11. Melakukan uji titik leleh dan mengidentifikasi struktur dengan IR dan H1 NMR.

3.2. Hidrolisis piperin 1. Merefluks 1 gram peperin dengan 20 ml larutan 10 % KOH- etanol selama 3 jam. 2. Melakukan penguapan etanol dan residu yang diperoleh. 3. Mensuspensikan dengan air panas dan melakukan penetralan dengan HCl 6 M. 4. Menyaring larutan dengan penyaring Buchner. 5. Mencuci padatan dengan air dingin. 6. Merekristalisasi dengan pelarut etanol sampai diperoleh titikleleh yang konstan.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

IV. HASIL PENGAMATAN 4.1 Isolasi Piperin. No. 1. 2. Variabel yang Diamati Massa lada hitam Mengekstraksi selama 3 jam menggunakan pelarut etanol absolute (mensoxhletasi) Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Siklus 4 Siklus 5 Siklus 6 Siklus 7 Siklus 8 Siklus 9 Siklus 10 Siklus 11 Siklus 11 Siklus 8 Siklus 9 Siklus 10 Siklus 11 Siklus 12 Siklus 13 Siklus 14 Siklus 15 Siklus 16 Hasil Soxhletasi 30 menit 10 menit 5 menit 3 menit 4 menit 5 menit 4 menit 4 menit 5 menit 4 menit 4 menit 4 menit 8 menit 10 menit 11 menit 10 menit 10 menit 10 menit 11 menit 10 menit 10 menit 37,5 mL Larutan berwarna hijau bening Larutan hijau pekat + Kristal jarum Hasil Pengamatan 90 gr

3.

4. 5.

Mengevaporasi

Hasil evaporasi (residu) + (5 g Larutan cokelat kehijau-hijauan KOH + etanol 50 mL) Menyaring Filtrat 9

6.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

7.

Mendinginkan filtrate dalam air es Larutan hijau kehitam-hitaman + Kristal Menyaring dengan seperangkat Padatan berwarna cokelat alat Buchner Massa padatan berwarna cokelat 1, 73 g

8.

9.

4.2 Hidrolisis piperin No. 1. 2. 3. Variabel yang Diamati 0,8 g piperin + 10% KOH 30 mL Merefluks selama 3 jam Hasil Pengamatan Larutan berwarna kuning keruh Larutan bercampur secara merata

Mendinginkan hasil refluks, Larutan menjadi setengahnya, yaitu kemudian mengupkan etanol 15 mL dengan evaporator. Memanaskan aquades 30 mL

4. 5.

Mencampurkan ekstrak dengan Putih keruh aquades Membuat HCl 6 M 12 mL HCl dan 14 mL aquades

6. 7.

Mencampurkan HCl 6 M dengan Larutan sedikit bening ekstrak secara perlahan hingga pH ekstrak mendekati netral. Uji dengan kertas lakmus merah Merah = merah dan biru Biru = biru Mendiamkan Massa kristal Terbentuk endapan putih 1,81 g

8.

9. 10.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

10

V. ANALISIS DATA 5.1 Isolasi Piperin Pada percobaan ini, menggunakan metode ekstraksi continue untuk memperoleh senyawa piperin dari lada hitam. Metode ekstraksi continue yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh hasil ekstrak yang lebih murni lagi. Lada hitam yang digunakan dibersihkan dan dihaluskan hingga terbentuk serbuk lada yang halus. Tujuan penghalusan lada hitam adalah agar zat-zat yang terkandung di dalam lada hitam mudah melarut dalam pelarut yang digunakan. Hal ini karena semakin halus serbuk, maka kelarutan akan meningkat karena semakin banyak terjadi kontak dengan pelarut, sehingga semakin banyak zat yang dapat terbentuk dan semakin efisien proses pemisahan atau ekstraksi yang terjadi. Karena sampel yang digunakan dalam percobaan ini adalah lada hitam yang berupa padatan, sehingga metode ekstraksi continue yang digunakan dengan cara soxhletasi. Sebelum melakukan soxhletasi, dilakukan tahap preparasi atau persiapan, yaitu membungkus sampel serbuk lada hitam yang digunakan dengan kertas saring sedemikian rupa sehingga berbentuk lonjong. Lalu diikat dengan benang gandir agar serbuk tidak pecah atau keluar dari kertas saring pada saat proses ekstraksi berlangsung. Kertas saring digunakan sebagai pembungkus karena kertas saring mempunyai dinding yang tipis dan berpori yang dapat memperudah pelarut untuk menyerap piperin yang terkandung di dalam sampel. Dalam proses soxhletasi pada percobaan ini, menggunakan pelarut berupa etanol. Pelarut etanol digunakan untuk melarutkan zat yang diinginkan dari dalam lada hitam. Etanol digunakan karena baik piperin maupun etanol memiliki kepolaran yang sama yaitu bersifat polar sehingga etanol mampu melarutkan piperin sesuai dengan prinsip like dissolved like. Dari literature diperoleh bahwa piperin merupakan senyawa alkaloid yang dapat larut dalam alcohol yaitu etaol, dimana antara piperin dengan etanol mampu untuk membentuk ikatan hydrogen. Gambar ikatan hydrogen antara piperin dan etanol adalah sebagai berikut:

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

11

N HOCH2CH3 CO CH CH CH O CH2 O

ikatan hidrogen

CH3

Selanjutnya memasukkan kertas saring yang sudah berisi serbuk lada hitam ke dalam alat soxhlet, kemudian memasukkan etanol absolute ke dalam labu bundar dan merangkai alat soxhlet serta melakukan proses ekstraksi selama beberapa jam ( 3 jam). Pada saat proses ekstraksi juga digunakan batu didih pada labu pelarut yang bertujuan untuk menjaga tekanan dan suhu larutan supaya tetap stabil dan tidak terjadi letupan selama proses ekstraksi berlangsung. Disamping itu, digunakan penangas minyak karena suhu yang diperlukan untuk memperoleh piperin cukup tinggi (lebih dari 100oC), sehingga tidak cocok bila menggunakan penangas air. Hal ini karena titik didih air kurang dari titik didih piperin sehingga ditakutkan justru piperin yang akan ikut menguap jika menggunakan penangas air. Proses yang terjadi selama soxhletasi adalah pelarut etanol dipanaskan dalam labu bundar sehingga menguap dan didinginkan menggunakan kondensor, sehingga jatuh berupa cairan ke sample (lada hitam) untuk melarutkan zat aktif di dalam sampel lada hitam dan jika cairan pelarut telah mencapai permukaan sifon maka seluruh cairan pelarut etanol yang membawa solute telah mencapai permukaan sifon akan keluar melalui pipa kecil menuju labu bundar datar dan proses ini terjadi secara terus menerus atau continue sehingga terjadi proses soxhletasi. Dari proses soxhletasi dihasilkan ekstrak lada hitam sebanyak 37,5 mL dan dalam proses pada alat soxhlet ini mengalami 16 siklus yang continue menghasilkan larutan lada hitam atau ekstraktan yang berwarna hijau bening. Hasil tadi kemudian dievaporasi yang bertujuan untuk memisahkan hasil ekstrak dengan pelarutnya, yakni etanol. Dalam evaporator akan terjadi pemisahan ekstrak dari pelarutnya (etanol) dengan prinsip pemanasan yang dipercepat oleh Isolasi Piperin dari Lada Hitam 12

putaran labu bundar, pelarut dapat menguap 5-10oC di bawah titik didih pelarutnya disebabkan adanya perubahan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan pelarut etanol akan menguap naik ke kondersor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut etanol murni yang ditampung dalam labu bundar sebagai penampung pelarut. Sehingga diperoleh ekstrak larutan hijau pekat dengan krital jarum. Selanjutnya, ekstrak yang pekat tadi ditambahkan dengan larutan KOH dalam etanol dan diperoleh larutan berwarna cokelat kehijau-hijauan. Penambahan larutan KOH dalam etanol bertujuan untuk memperoleh piperin dari ekstrak pekat tersebut, dimana di dalam ekstrak tersebut terdapat komponen lain ketika ditambahkan KOH-etanol yang menyebabkan piperin yang ada dalam ekstrak tersebut bereaksi menjadi garam asam piperat dan dengan penambahan KOHetanol dapat mengeliminasi senyawa lainnya, karena dalam ekstak tersebut masih ada zat pengotor. Masih terdapatnya zat pengotor ini disebabkan senyawa piperin, merupakan senyawa alkaloid golongan amida yang dapat mengalami reaksi hidrolisis baik dalam suasana asam maupun basa. Jadi penambahan larutan KOHetanol ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa piperin dalam bentuk garamnya, karena berdasarkan literature dinyatakan bahwa senyawa golongan alkaloid sering kali diisolasi dalam bentuk garamnya yaitu garam asam piperat. Lalu filtrate yang ada disaring. Proses penyaringan bertujuan agar filtrate dapat terpisah dari zat-zat pengotornya. Kemudian filtrate didiamkan dalam larutan es selama satu malam agar terjadi pembentukan Kristal piperin yang sempurna. Hasil yang terbentuk tersebut disaring dengan corong Buchner sehingga dapat dihasilkan Kristal yang sudah terpisah dari filtratnya. Kristal yang diperoleh direkristalisasi menggunakan etanol, rekristalisasi ini didasarkan pada prinsip perbedaan dalam kelarutan pada suatu pelarut tertentu dan suhu tertentu. Pada suhu kamar, senyawa piperin dalam bentuk kristalnya yang memang bersifat polar akan dapat melarut dalam etanol yang juga bersifat polar. Ketika ditambahkan etanol sebagai pelarut, maka piperin yang ada akan melarut dalam filtratnya, sedangkan zat pengotor seperti piperin yang bersifat nonpolar atau kurang polar tidak larut dalam etanol akan tertinggal di dalam residunya. Isolasi Piperin dari Lada Hitam 13

Selanjutnya, Kristal yang diperoleh tadi ditimbang dan ditentukan titik lelehnya. Berdasarkan percobaan dapat diperoleh massa Kristal yang didapat sebesar 1,73 g dan dari hasil perhitungan diperoleh persentase rendemen sebesar 1,92%. Hal ini sangat jauh dari literature yang menyatakan bahwa piperin yang terkandung dalam lada hitam sebanyak 5-92%. Dilihat dar warna Kristal yang dihasilkan, yaitu berwarna cokelat, agak berbeda dengan literature yang menyatakan bahwa Kristal piperin merupakan kristal berwarna kuning. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kristal yang diperoleh di percobaan masih belum murni. Kristal yang dihasilkan masih sangat rendah atau tidak murni 100%. Hal ini dapat disebabkan karena proses rekristalisasi yang masih kurang sempurna atau ketika mensoxhlet waktunya lama, sehingga piperin yang dalam sampel lada hitam tidak dapat diekstrak seluruhnya, tetapi hanya terekstrak seluruhnya, tetapi hanya terekstrak sebagian sehingga persentase rendemen Kristal yang diperoleh kecil. Dari literature, titik leleh piperin adalah 127-129,5oC, dalam percobaan kemungkinan akan diperoleh titik didih yang lebih rendah karena piperin yang dihasilkan masih belum murni.

5.2. Hidrolisis Piperin Dalam percobaan ini bertujuan untuk menghidrolisis piperin menjadi asam piperat. Pada proses hidrolisis sebanyak 0,8 g piperin direaksikan dengan 10% KOH. Larutan KOH digunakan agar reaksi berlangsung dalam suasana basa. Untuk menghomogenkan larutan maka piperin yang sudah dicampur direfluks selama 3 jam, dan suhu yang digunakan tidak boleh melebihi titik didih etanol, karena jika melebihi titik didih etanol maka etanol akan menguap dan dikhawatirkan etanol habis sebelum proses refluks. Refluks ini bertujuan agar terjadi reaksi hidrolisis secara sempurna. Proses yang terjadi yaitu pelarut yakni KOH dimasukan bersama piperin ke dalam labu bundar, lalu memanaskan. Uap pelarut akan terkondensasi oleh kondensor menjadi molekul pelarut sehingga turun kembali menuju labu bundar Isolasi Piperin dari Lada Hitam 14

dan akan melarutkan kembali piperin yang berada dalam labu hingga dasar dan seluruhnya secara berkesinambungan sehingga reaksi berlangsung secara sempurna. Pada proses ini terjadi reaksi sebagai berikut:

N C O CH HC CH HC O O CH2 N

OH-

adisi

O
H

CH HC CH HC

CH2

Piperin

eliminasi serah terima elektron

OOC

CH HC CH HC

CH2

+
N

Piperidin

garam Asam piperat

Pada saat merefluks digunakan batu didih yang berfungsi untuk menjaga suhu dan tekanan dalam ruang alat refluks agar tetap konstan atau stabil, sehingga tidak terjadi letupan-letupan ketika proses refluks berlangsung. Adapun hasil refluks adalah larutan berwarna kuning keruh. Warna kuning ini menunjukan bahwa pada ekstrak tersebut mengandung piperin yang dihidrolisis. Setelah melakukan refluks selama 3 jam, lalu melakukan penguapan sehingga etanol menguap, kemudian memanaskan dengan akuades sehingga menghasilkan larutan putih keruh. Kemudian menetralkan dengan larutan HCl 6 M karena hidrolisis ini berlangsung dalam keadaan basa sehingga harus dinetralkan. Adapun reaksi yang terjadi setelah penambahan HCl 6 M adalah sebagai berikut:
-

OOC

CH HC CH HC

CH2 HOOC O CH HC CH HC O O CH2

garam Asam piperat


asam piperat

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

15

Jadi penambahan HCl 6 M bertujuan untuk memperoleh proton sehingga dapat membentuk asam piperat melalui reaksi hidrolisis selanjutnya larutan didiamkan dan diperoleh endapan berwarna putih. Berdasarkan percobaan ini diperoleh massa endapan atau kristal sebesar 1,81 g dan melalui perhitungan rendemen diperoleh persentase yang dihasilkan sebesar 226,25%. Dilihat dari persentase endapannya yang melebihi 100% menunjukan bahwa percobaan yang dilakukan tidak berhasil karena tidak mungkin persentase kristal lebih dari 100%. Kemurnian yang terlalu tinggi atau diluar batas normal ini dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu: 1. Endapan masih jauh dari murni karena terdapat zat-zat pengotor dalam kristal yang dihasilkan, adapun zat pengotor seperti piperidin. 2. Pada saat melakukan penimbangan, padatan yang dihasilkan masih belum kering atau agak basah. Karena kristal yang dihasilkan masih belum murni, maka diperkirakan titik leleh asam piperat yang diperoleh akan lenih rendah dari literatur yang adda yaitu 150C.

VI. KESIMPULAN

1. Isolasi piperin dari lada hitam pada percobaan ini menggunakan proses ekstraksi soxhletasi dengan pelarut etanol karena piperin dan etanol samasama bersifat polar. 2. .....................

VII. DAFTAR PUSTAKA Anwar, Chairil. Dkk, 1996. Pengantar Praktikum Kimia Oganik. Jakarta : Depdikbud Fessenden and Fessenden. 1982. Kimia Organik Jilid I. Jakarta : Erlangga. Fessenden and Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid II. Jakarta : Erlangga.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

16

Lisnawati, 2004. Isolasi dan Karakterisasi Piperin dan Lada Hitam. Skripsi sarjana. BanjarmasIN : FKIP UNLAM. Syahmani dan Rilia Iriani. 2010. Petunjuk Praktikum Kimia Organik. Banjarmasin : FKIP UNLAM.

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

17

LAMPIRAN

PERHITUNGAN A. Perhitungan persentase piperin yang dihasilkan dari ekstraksi lada hitam sebagai berikut. % Piperin
Massa piperin x 100 % Massa Lada Hitam

1,73 gram x 100 % 90 gram

= 1,92 %

B. Persentase kristal asam % Kristal Piperidin =


Massa kristal x 100 % Massa piperin

1,819 gram x 100 % 0,8 gram

= 226,25 %

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

18

JAWABAN PERTANYAAN

Mekanisme reaksi hidrolisis piperin :

N C O CH HC CH HC O O CH2 N

OH-

adisi

O
H

CH HC CH HC

CH2

Piperin

eliminasi serah terima elektron

OOC

CH HC CH HC

CH2

+
N

Piperidin

garam Asam piperat

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

19

FLOWCHART

a. Pemisahan piperin Lada Hitam perdagangan - Membersihkan dari kotorannya - Mengeringkan - Melakukan penggilingan

serbuk lada

90 gram serbuk lada Membungkus dengan kertas saring Memasukkan ke dalam alat ekstraksi Mengekstraksi selama 5 jam dengan menggunakan pelarut etanol absolut Menyaring ekstraktan Melakukan evaporasi untuk memisahkan pelarut etanol

Filtrat

Residu + 30 ml larutan10% KOH- Etanol Mencampurkan Menyaring Mendiamkan larutan basa etanol selama semalam Memisahkan kristal dari larutannya.

Kristal piperin berwarna kuning

Larutan sisa

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

20

Catatan : 1. Melakukan rekristalisasi dengan pelarut etanol 95% 2. Menguji titik lelehnya 3. Mengidentifikasi struktur dengan IR dan H1 NMR b. Hidrolisis piperin 0,8 gram piperin + 20 ml larutan 10% KOH- Etanol - Merefluks selama 3 jam larutan - Melakukan penguapan etanol Larutan + HCl 6 M - Mensuspensikan larutan - Menyaring dengan corong Buchner

Residu + air dingin - mencuci Padatan + etanol - merekristalisasi Kristal

Filtrat

Catatan : Mengidentifikasi struktur dengan IR dan H1 NMR

Isolasi Piperin dari Lada Hitam

21