Anda di halaman 1dari 22

RANGKUMAN MATA KULIAH SISTEM ANGGARAN DAN PEMBENDAHARAAN NEGARA

KARAKTER PEMBANGUNAN & PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGANGGARAN INDONESIA

DISUSUN OLEH :

FADHILLAH ASRI NOPRIAL VALENRA M M.YOGI PRATAMA PUTRA RIZKI DARMAWAN

( 1102120964 ) ( 1102120906 ) ( 1102112822 ) ( 1102113026 ) (1102136429)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS RIAU 2013

Karakter Pembangunan Indonesia


2.1 PARADIGAMA PEMBANGUNAN Paradigma Pembangunan adalah cara pandang terhadap suatu persoalan

pembangunan yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pembangunan dalam arti pembangunan baik sebagai proses maupun metode untuk mencapai peningkatan kualitas hidup manusia dan kesejahteraan rakyat. Secara teoritis, konsep pembangunan memiliki banyak defenisi dan pendekatan. Dalam studi ilmiah, konsep ini diakui telah beberapa kali mengalami pergeseran pendekatan. Mulai dari pendekatan Economic Well Being, Minimun Acceptable Standard of Living, ssehingga pendekatan tersebut disesuaikan dengan nilai yang dianut oleh para politisi dan cendikiawan suatu Negara pada waktu tertentu (Effendi;1989). Paradigma pembangunan Indonesia mengalami perkembangan sebagai berikut: pertama, paradigma pertumbuhan (growth paradigm); kedua, pergeseran dari paradigma pertumbuhan menjadi peradigme kesejahteraan (welfare paradigm) atau dalam literature lain disebut dengan paradigm basic need; ketiga, paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development paradigm). Pelaksanaan pembangunan di Negara berkembang seperti di Indonesia menekankan pada upaya peningkatan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan pendapatan nasional. Dalam paradigma pertumbuhan, peran pemerintah adalah menyusun perencanaan dan menciptakan pertumbuhjan ekonomi yang diinginkan dengan unsur utama pertumbuhan GNP serta pertumbuhan tingkat penanaman modal (Effendi, 1989: 5-6). Perencanaan pembangunannya bersifat center-down atau top-down, yang merupakan kelemahan paradigm pertumbuhan. Sebab, dengan mekanisme perencanaan pembangunan yang center-down, semua aspirasi rakyat cenderung diabaikan. Beberapa Negara yang mengalami kegagalan dengan model paradigma ini adalah Brazil dan Chili. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh kedua Negara tersebut dan diharapkan perlahan-lahan menetes ke bawah (tricle down effect) ternyata tidak terjadi sebagaiman yang diharapkan, malahan menimbulkan ketimpangan (Effendi, 1989). Kelemahan paradigma pertumbuhan ini akan semakain kelihatan apabila kritik-kritik yang dilontarkan oleh ahli ekonomi-politik dapat diikuti sejak awal tahun 1970-an. Para ahli ekonomi-politik ini menunjukkan bahwa perumbuhan saja buikan berarti pembangunan. Pembangunan harus juga berate pemunuhan kebutuhan pokok; seperti kesempatan kerja dan berusaha, pemberantasan kelaparan dan kekurangan gizi, pemeliharaan kesehatan,

penyediaan air

bersih, dan perumahan. Oleh karena kelemahan tersebut, para ahli

merekomendasikan agar Negara berkembang menggeser paradigma pembangunannya ke paradigma kebutuhan dasar. Dalam paradigma ini, di samping diperlukan pelayanan publik, penciptaan kondisi tertentu jga dituntut untuk memberikan akses yang sama kapada setiap warga Negara dalam memperoleh pelayanan publik. Kekurangan pada sisi kemerataan atau kualitas dari pelayanan public yang diberikan oleh birokrasi terjadi karena barbagai keterbatasan yang dimiliki oleh organisasi birokrasi. Oleh karena itu. Oleh karena itu, jika hanya mengandalkan birokrasi saja, pemerataan tidak dapat dilakukan. Secara umum, paradigma pembangunan model ini memang lebih berorientasi pada kebutuhan pokok, padat karya, berskala kecil, bertumpu pada sumber regional, berpusat pada desa, dan teknologi tepat guna. Akan tetapi dalam praktiknya, paradigma ini menimbulkan benturan-benturan akibat kurangnya keluasan politik local. Bahkan pada hakikatnya, strategi atau paradigma pembangunan basic needs, meminjam istilah Paulo Freire, merupakan assistencialism, yaitu suatu usaha untuk membantu masyarakat secara finansial atau sosial yang bersifat sementara guna memerangi gajala-gejala, bukan memerangi penyebab terjadinya masalah (Freire dalam Ulul Albab, 2004). Atas kelemahan dari kedua paradigma pembangunan di atas, munculah paradigma baru, yaitu paradigma People Centered Development (PCD). PCD merupakan strategi atau model pembangunan yang berorientasi pada pembangunan kualitas manusia. Asumsi dasar parangdigma ini adalah bahwa pwmbangunan itu harus sungguh-sungguh ditujukan pada upaya memberi manfaat bagi manusia, baik dalam upayanya maupun dalam menikmati hasil-hasil dari upayanya. Disamping itu, paradigma pembangunan ini memungkinkan masyarakat untuk memiliki kesempatan guna mengembanggikan kepandaian kreatif bagi masa depannya sendiri dan masa depan masyarakat pada umumnya (Korten, 1984). Dalam paradigma pembangunan manusia yang mendapatkan perhatian dalam proses pembangunan adalah pelayanan sosial, pembelajaran sosial, pemberdayaan, kemampuan, dan kelembagaan.(Suryono dalam surjadi, 2000). Pembangunan dinilai berhasil bilamana hubungan antar manusia dengan sumbersumber tersebut menciptakan keharmonisan kehidupan manusia itu sendiri. Peran pemerintah tidak boleh lagi dominan. Pemerintah tidak boleh lagi berperan sebagai pemborong yang aktif memupuk modal sehingga semua perencanaan dalam kebijakan berasal dari atas kebawah.

2.2 PARTISIPASI DALAM PERENCANAAN Perencanaa pembangunan yang disusun oleh suatu daerah merupakan perwujudan asas desntralisasi terhadap berbagai kewenangan penyelenggaraan pemerintahan,

pembangunan Perencanaan merupakan bagian terpenting dalam kegiatan pembangunan oleh pemerintah. Dari perencaan itu, proses/kegiatan pembangunan berjalan sesuai dengan arah yang telah ditentukan. Oleh karena itu, tahap perencanaan menjadi pusat perhatian bagi semua pemerintah daerah dalam kegiatan pembangunan. Kegiatan pembangunan ini, mensyaratkan (dalam tahap perencanaan) partisipasi masyarakat. Keikutsertaan masyarakat akan menguatkan tingkat kepercayaan (akuntabilitas) dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap pemerintah daerah. Hal ini akan membuat ringan kerja pelaksanaan pembangunan. Pendekatan partisipasi menjadi alternatif pilihan yang mengemukakan untuk lebih memberikan pesan serta aktif masyarakat sebagai subjek pembangunan di berbagai tahap pembangunan (perencanaan, perancangan, pelaksanaan sampai pada pemeliharaan). Model pendekatan partisipasi untuk proses perencanaan pengembangan daerah meliputi: 1) Institusionalisasi dan prosedur proses pelibatan masyarakat dalam perencanaan, perancangan, pelaksanaan, dan pemeliharaan pembangunan. 2) Model pendekatan dalam proses atau tahapan pembangunan. Institusionalisasi model pendekatan dengan melibatkan actor pembangunan (swasta, masyarakat, dan pemerintah daerah sebagai mediator). Di tingkat masyarakat, keberhasilan pendekatan ini akan dirasakan oleh masyarakat dalam upaya mengorganisasi diri, meningkatkan proses demokratisasi, meningkatkan peran serta (partisipasi), serta mendudukan masyarakat sebagai subjek pembangunan. Keberhasilan model pendekatan ini akan mampu memperdayakan aktiva potensi daerah guna mempercepat kemampuan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam kaitannya dengan pelaksanaan Otonomi Daerah. Dalam sistem pemerintahan yang demokratis, konsep partisipasi masyarakat merupakan salah satu konsep penting. Partisipasi masyarakat tidak hanya diperlukan pada saat pelaksanaan, tetapi tahap perencanaan dan pengambilan keputusan. Untuk mendukung pelaksanaan manajemen pembangunan daerah, upaya mutlak yang harus dilakukakn adalah peningkatan kapasitas aparat pemerintahan daerah serta organisasi civil society dalam interaksi demokratis serta proses pembangunan secara komprehensif.

Menurut UU Nomor 25/2004, salah satu tujuan perencanaan adalah mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini, penjelasan kata optimal tidak ada menurut UU ini.

2.3 TITIK KRITIS PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DAERAH Sejak tiga dasawarsa terakhir, kalim proses pembangunan adalah partisipasi masyarakat. Klaim ini didasarkan pada proses perencanaan pembangunan secara bottom up, lewat penyelenggaraan forum koordinasi pembangunan partisipasi yaitu forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan di desa atau kelurahan, forum musyawarah perencanaan pembangunan kecamatan, dan forum koordinasi perencanaan pembangunan daerah di tingkat kota, kabupaten, atau provinsi.

2.3.1 Asimetri

antara

Perencanaan

dan

Anggaran

Pembangunan

dengan

Permasalahan yang Dihadapi oleh Masyarakat Pada hakikatnya, perencanaan pembangunan adalah suatu proses interaksi timbal balik antara lembaga perencanaan dan perencana dengan public yang sangat pluralistic, baik sebagai subjek ataupun objek perencanaan. Makna wacana top-down dan bottom-up adalah sesuatu yang berpasangan, karena satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Di masa yang lalu, unsur top-down sangat kental. Mekanisme bottom-up kini kian menggema ditengah pembangunan yang dilakukan. Setiap daerah pasti memiliki permasalahan spesifik yang sering kali berbeda antardaerah. Perbedaan inipun berakibat pada perbedaan rencana. Pembangunan yang akan dilakukan di daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, perencanaan pembangunan daerah seharusnya bergantung pada permasalahan yang muncul di daerah tersebut. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya baru guna meluruskan mekanisme perencanaan dan penganggaran.

2.3.2 Tidak Transparannya Program Hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan dalam Produk Perencanaan dan Penganggaran yang Ditetapkan Pemerintah Produk merupakan hal yang sangat penting, namun hal yang tidak dapat diabaikan adalah kualitas proses dalam menghasilkannya. Hal terakhir inilah yang tidak disentuh dalam UU No. 25/2004. Dalam UU tersebut hanya ditegaskan bahwa kelembagaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan diwajibkan dalam penyusunan rencana.

Hal tersebut memang secara eksplisit akan dituangkan dalam suatu Peraturan Pemerintah. Namun, perlu dicatat bahwa Undang-Undang Nomor 25/2004 hanya menyebut permukaanya saja (Pasal 10 ayat 3, pasal 11 ayat 1, dan pasal 12 ayat 1), tidak seperti pada Pasal-pasal tentang Produk (Dokumen) yang dijelaskan dengan sangat rinci. Makna Musrenbang yang merupakan kunci paradigma baru perencanaan tidak tercemirkan secara eksplisit. Hal tersebut mencerminkan masih adanya kesenjangan (gap) antara tujuan UU No. 25/2004 dengan kandungannya, di mana isi kurang mencerminkan jiwa serta semangatnya.

2.3.3 Mayoritas Dana APBD Dinikmati oleh Birokrasi Sebagian besar dana APBD Kota/Kabupaten ternyata dinikmati oleh kalangan

birokrasi. Sebagai contoh, di kota Bandung, menurut hasil penelitian BIGS (2004), sekitar 90% dana APBD dinikmati oleh birikrasi yang terdiri atas 66,03% belanja rutin; 8,09% belanja sector aparatur pemerintah dan pengawasan; serta 15,88% dana kickback yang biasanya dipungut oleh birokrasi dari pada rekanan baik melalui proses tender maupun penunjukan langsung. Kecenderungan ini juga berlaku di Kota/Kabupaten lainnya di Indonesia.

2.3.4 Perencanaan dan Anggaran yang Tidak Peka terhadap Gender Hasil-hasil pembangunan harus dinikmati secara merata oleh semua orang, termasuk semua kelompok gender. Pembangunan yang hanya menguntungkan salah satu gender,n pada gilirannya, justru tidak mengoptimalkan kinerja pembangunan itu sendiri. Dari perspektif gender pada saat ini, proses anggaran yang ada adalah bias pria, dimana respresentasi dan artikulasi kepentingan dan kebutuhan perempuan belum diperhitungkan. Format anggaran dan mekanisme pembentukannya potensial menyingkirkan kebutuhan pembangunan salah satu gender. Saat ini, diperlukan langkah dan sarana untuk mendeteksi bias gender dalam pembangunan sedini mungkin. Bias gender dalam anggaran dapat ditemukan melalui berbagai indikasi. Pertama, terdapat indikasi adanya alokasi sumber daya dalam anggaran yang menguntungkan gender tertentu. Kedua, terdapat indikasi bahwa pengelolaan anggaran akan memunculkan kesenjangan distribusi pendapatan dan kesejahteraan diantara kedua kelompok gender. Ketiga, fungsi stabilisasi ekonomi anggaran (dalam bentuk penetapan penyerapan tenaga kerja, penetapan pertumbuhan ekonomi,, stabilisasi harga, dan kesinabungan lingkungan)

dikelola dengan memunculkan massalah ketidaksetaraan gender. Untuk menghindari adanya bias gender meke anggaran Negara seyogyanya menjadi anggaran yang sensitif gender.

2.3.5 Perencanaan dan Anggaran Merupakan Hasil Kolusi antara Birokrasi dan DPRD Dari segi proses politik, proses anggaran mengandung unsure-unsur kolusi, di mana pihak parlemen dan pemerintahan secara bersama-sama mempertahankan kepentingannya dalam anggaran. Modus yang dilakukakan cukup beragam, tetapi yang paling utama adalah menguasai proyek secara bersama-sama dan/atau peningkatan niali proyek/mark-up (Ibid, 2004). Semenjak tahun 2002 di Indonesia pengaggaran berbasis kinerja yang menganut prinsip anggaran surplus/deficit telah dipopulerkan. Lebih penting lagi, penganggaran berbasis kinerja menggunakan pendekatan partisipasi. Namun, reformasi tersebut belum secara signifikan dapat mengatasi penyakit lama, yakni ego sektoral serta keterisolasian antara perencanaan dan penganggaran. 2.3.6 Meningkatnya Biaya Rutin Biaya rutin sebagai sinonim dari biaya yang harus dikeluarkan cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini didukung dengan upaya peningkatan kesejahteraan pegawai, peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan public, seta kondisi eksternal lainnya yang berpengaruh pada harga-harga di pasaran. Perencanaan dan penganggaran yang baik akan menjadi pengendali dari setiap pos-pos anggaran yang hendak dikeluarakan daerha. Hal ini tujukan untuk menjaga keseimbangan dengan biaya daerah lainnya.

Reformasi perencanaan dan penganggaran pembangunan

1.Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Perundang-undangan yang terkait dengan perencanaan dan penganggaran

pembangunan adalah sebagai berikut : 1. UU NO 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. UU No 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara 4. PP No 20/2004 tentang Penyusunan rencana kerja pemerintah 5. PP No 21/2004 tentang penyusunan RKA-K/L

6. dll Perencanaan Pembangunan Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat,melalui urutan pilihan,dengan memperhitungkan sumber daya yang

tersedia.Perencanaan pembangunan daerah disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,penganggaran,pelaksanaan dan pengawasan.pembangunan

nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara.Sedangkan pembangunan daerah ialah bagian dari kesatuan system pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh semua komponen masyarakat dan pemerintah menurut prakarsa daerah dalam kerangka NKRI. Sistem perencanaan pembangunan nasional adalah suatu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan renccana-rencana pembangunan dalam jangka panjang (20 tahun),jangka menengah(5 tahun) dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat maupun daerah. Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)

Narasumber dalam musrenbang adalah pihak-pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil musrenbang.Peserta musrenbang adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam musrenbang melalui pembahasan yang disepakati bersama. Penganggaran

1. Pagu Indikatif 2. Kebijakan Umum APBD (KUA) 3. Pagu Sementara 4. Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA SKPD) 5. RAPBD 6. APBD 7. Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)

2.Asas Dan Tujuan Perencanaan Pembangunan Nasional Asas dan tujuan perencanaan pembangunan nasional yang terdapat dalam pasal 2 UU No 25 Tahun 2004 menyebutkan bahwa : 1. Pembanggunan nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi dengan prinsip kebersamaan,keadilan,berkelanjutan,berwawasan lingkungan,serta kemandiriian

dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional 2. Perencanaan pembangunan nasional disusun secara

sitematis,tearah,terpadu,menyeluruh,dan tanggap terhadap perubahan. 3. System perencanaan pembangunan nasional diselenggarakan berdassarkan asas umum penyelenggaraan negara 4. System perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk : 1. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan 2. Menjamin terciptanya integrasi,sinkronasi,dan sinergi pusat baik dan

antradaerah,antarruang,antarwaktu,antarfungsi daerah 3. Menjamin keterkaitan dan

pemerintah

konsistensi

anatara

perencanaan,penganggaran,pelaksanaan dan pengawasan 4. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat ; dan 5. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara

efisien,efektif,berkeadilan,dan berkelanjutan 6. 3. Ruang Lingkup Perencanaan Pembangunan Nasional Peraturan mengenai ruang lingkup perencanaan pembangunan nasional tertuang dalam pasal 3,4,5,6,7 UU No 25/2004.Perencanaan pembangunan nasional mencakup penyelenggaraan perencanaan makro semua fungsi pemerintahan meliputi semua bidang kehidupan secara terpadu dal;am wilayah NKRI. Perencanaan pembanggunan nasional terdiri atas perencanaan pembangunan yang disusun secara terpadu oleh kementrian/lembaga dan perencanaan pembangunan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.Perencanaan yang akan dihasilkan adalah : 1. Rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) 2. Rencana pembangunan jangka menengah ( RPJM) 3. Rencana pembangunan tahunan

4.Tahapan Perencanaan Pembangunan Nasional Prinsip utama dalam kegiatan perencanaan dan dan penganggaran adalah menyusun dan menganggarkan prioritas kegiatan yang disepakati dengan tidak melebihi kapasitas fiscal daerah yang bersangkutan.Pengantaran prioritas kegiatan pembangunan dari proses perencanaan ke dalam proses penganggaran adalah suatu kelanjutan.Pada UU Nomor 25 Tahun 2004 Pasal 8 disebutkan bahwa perencanaan pemabngunan terdiri dari 4 tahapan yaitu : 1. Penyusunan Rencana 2. Penetapan Rencana 3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana 4. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan,sehingga secara keseluruhan satu siklus perencanaan utuh yang terbentuk.Implementasi rencana dan pengendalian serta evaluasi pelaksanaan rencana merupakan bagian dari siklus perencanaan yang amat menentukan kebijakan penganggaran.Untuk itu,kedudukan perencanaan dan penganggaran dalam proses pembangunan merupakan kegiatan penting dalam mata rantai guna mewujudkan pembangunan yang berkelanjtan.

5.Anggaran Daerah Reformasi Jika dilihat sejarah perkembangannya,reformasi system penganggaran sudah terjadi pada decade 40-an di Amerika Serikat dmana pemerintah federal saat itu menghendaki adanya pengukuran kinerja bagi institusi pemerintah.Pada awal tahun 60-an Departemen Pertahanan AS merancang suatu system perencanaan-pemrogaman-penganggaranyang kemudian penerapannya diperluas ke organisasi sipil pemerintah.Namun dalam

perkembangannya ditemukan beberapa kesulitan penerapan system ini,kemudian dibentuklah suatu system yang lebih baik yaitu Manajemen Berdasarkan Tujuan lalu Manajemen Berbasis Nol. Tetapi meskipun mengalami banyak kendala ,ada beberapa negara yang berhasil mengembangkan format penganggaran berbasis kinerja yang sesuai dengan

kebutuhannya.Penganggaran berbasis kinerja ini memberikan akuntabilitas public tersendiri bagi institusi yang menerapkannya,dimana public bisa mengetahui secara jelas apa tujuan institusi pemerintah yang bersangkutan,bagaimana penggunaan sumber daya di institusi tersebut dan bagaimana output dan outcomenya dibandingkan dengan input.Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu

tertentu yang dinyatakan dalam ukuran financial,sedangkan penganggaran adalah proses atau metode untuk mempersiapkan suatu anggaran. Aspek-aspek yang harus tercakup dalam anggaran meliputi : 1. Aspek Perencanaan 2. Aspek Pengendalian 3. Aspek Akuntabilitas Publik Penganggaran harus diawasi dimulai dari tahap perencanaan ,kemudian berlanjut ke tahap pelaksanaan dan pelaporan.Proses penganggaran akan lebih efektif jika lembaga pengawas khusus yang bertugas mngontrol proses perencanaan dan pengendalian anggaran melakukan pengawasan.Anggaran berisi estimasi mengenai apa yang akan dilakukan organisasi di masa yang akan datang.Setiap anggaran memberikan informasi mengenai apa yang hendak dilakukan dalam beberapa periode yang akan datang. Di Indonesia,seiring dengan digulirkannya,isu reformasi di bidang pemerintahan hingga dikeluarkannya Undang-undang Nomor 32/2004 dan Undang-undang Nomor 33/2004 yang ditindak lanjuti denagn keluarnya PP Nomor 58/2005 dan beberapa revisi PP dan permendagri pendukungnya,paradigm baru dalam pengelolaan keuangan daerah telah dilahirkan.Perubahan ini terjadi karena besarnya tuntutan masyarakat terhadap transparansi dan akuntabilitas terhadap penyelenggaran jalannya pemerintah guna mencegah terjadinya KKN.

3.2.1 Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Struktur APBD yang berlaku sebelum reformasi keuangan daerah mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya adalah: 1. Menggunakan konsep anggaran berimbang, 2. Mencampuradukkan elemen pendapatan dan penerimaan yang berasal dan pinjaman dengan elemen belanja dengan pembayaran utang, 3. Memisahkan elemen belanja rutin dengan belanja pembangunan. Struktur tersebut kurang memberikan gambaran mengenai kinerja keuangan daerah yang menunjukkan kemampuan daerah untuk menghasilkan pendapatan dan belanja yang dikeluarkan. Adanya pemisahan elemen belanja rutin dan belanja pembangunan sering menimbulkan duplikasi dan tumpang tindih pengeluaran-pengeluaran yang dapat mengurangi efisiensi dan efektivitas anggaran Daerah. Oleh karena itu, dalam rangka penerapan anggaran kinerja, sebagaimana diamanatkan oleh PP Nomor 105/2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah yang kini berganti menjadi PP Nomor 58/2005, perlu disusun struktur APBD baru yang dikembangkan dan struktur APBD lama.

APBD Menurut UUNomor 1 7/2003

1. Anggaran daerah dirinci sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja. 2. Hal ini berarti setiap pergeseran anggaran antarunit organisasi, antarkegiatan, dan antarjenis belanja harus mendapat persetujuan DPRD. 3. Penerapan anggaran berbasis pendekatan kinerja. Sejalan dengan penerapan anggaran berbasis pendekatan kinerja tersebut, perubahan kiasifikasi anggaran dilakukan pula untuk menyesuaikan metode klasifikasi secara internasional. 4. Untuk memberikan informasi mengenai perkembangan pelaksanaan APBD, pemerintah daerah perlu menyampaikan laporan realisasi semester pertama kepada DPRD pada akhir Juli tahun anggaran yang bersangkutan. Informasi tersebut akan

menjadi

bahan

evaluasi

pelaksanaan

APBD

semester

pertama

dan

penyesuaian/perubahan APBD pada semester berikutnya. 5. Laporan Pertanggungjawaban APBD disampaikan berupa laporan keuangan yang minimumnya terdiri atas: Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi pemerintah. 6. Gubernur/bupati/walikota selaku pengguna anggaran bertanggung jawab

pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang API dan segi manfaat/hasil (outcome). 7. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah bertanggung jawab atas pelaksan. kegiatan yang ditetapkan dalam perda tentang APBD, dan segi barang dan/atau jasa yang disediakan (output).

Selain itu, struktur APBD yang baru diklasifikasikan berdasarkan bidang Pemerintahan Daerah menurut peraturan perundang-undangan. Setiap bidang pemerintahan tersebut selanjutnya dikiasifikasikan berdasarkan Unit Organisasi Perangkat Daerah yang bertindak sebagai pusat pertanggungjawaban sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing.

APBD Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Negara APBD Menurut Permendagri disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintah dan kemampuan pendapatan daerah. Penyusunan APBD ini berpedoman kepada RKPD (Rencana Kerja tahun 2006 tentang Pemerintah Daerah) dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. APBD mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Keterangannya sebagai berikut: 1. Fungsi otorisasi, berarti bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.

2. Fungsi perencanaan, berarti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. 3. Fungsi pengawasan, berarti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemenintahan daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 4. Fungsi alokasi, berarti bahwa anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerj a/mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi, dan efektivitas perekonomian. 5. Fungsi stabilisasi, berarti bahwa anggaran pemerintah daerah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah. APBD, perubahan APBD dan pertanggungjawaban APBD setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah. Dalam menyusun APBD, penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. Baik pendapatan, belanja maupun pembiayaan daerah yang dianggarkan dalam APBD, harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Seluruh pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan daerah tersebut dianggarkan secara bruto dalam APBD. Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri atas: 1. Pendapatan daerah, 2. Belanja daerah, dan 3. Pembiayaan daerah.

3.2.1.1 Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui rekening Kas Umum Daerah yang menambah ekuitas dana merupakan hak daerah dalani satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, kelompok, jenis, objek, dan rincian objek pendapatan. Pendapatan daerah dirinci menurut kelompok pendapatan, meliputi: Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah.

3.2.1.2 Belanja Daerah Belanja Daerah.merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi, khususnya dalam pemberian pelayanan umum. Pada struktur yang lama, Belanja Daerah diklasifkasikan ke dalam Belanja Rutin dan Belanja Pembangunan, sedang, pada struktur yang baru, Belanja Daerah diklasifikasikan ke dalam Belanja Urusan Wajib dan Belanja Urusan Pihihan. Belanja daerah yang meliputi semua pengeluaran dan rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembahi. Belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri atas: 1. Urusan wajib 2. Urusan pilihan 3. Urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dan dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Antarpemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundangundangan. Belanja daerah dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program kegiatan, kelompok, jenis, objek dan rincian objek belanja.

Belanja Daerah Menurut Urusan Pemerintah Daerah Belanja menurut urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah Pelaksanaan belanja yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan dijabar dalam bentuk program dan kegiatan menurut urusan wajib dan urusan pilihan

(1) Belanja Urusan Wajib Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial, dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat ini diwujudkan melalui prestasi kerja dalam pencapaian standar pelayanan minimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Klasifikasi belanja urusan wajib mencakup: 1. Pendidikan 2. Kesehatan . 3. Pekerjaan umum 4. Perumahan rakyat 5. Penataan ruang 6. Perencanaan pembangunan 7. Perhubungan 8. Lingkungan hidup 9. Pertanahan 10. Kependudukan dan catatan sipil 11. Pemberdayaan perempuan 12. Keluarga berencana dan keluarga sejahtera 13. Sosial 14. Tenagakerja 15. Koperasi, usaha kecil dan menengah 16. Penanaman modal 17. Kebudayaan 18. Pemuda dan olah raga 19. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri 20. Pemerintahan umum 21. Kepegawaian 22. Pemberdayaan masyarakat dan desa

23. Statistik 24. Arsip 25. Komunikasi dan informatika

(2) Belanja Urusan Pilihan Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan mencakup 1. Pertanian 2. Kehutanan 3. Energi dan sumber daya mineral 4. Pariwisata 5. Kelautan dan perikanan 6. Perdagangan 7. Perindustrian 8. Transmigrasi

Belanja Daerah Menurut Fungsi Klasifikasi belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri atas: 1. Pelayanan umum 2. Ketertiban dan ketenteraman 3. Ekonomi 4. Lingkungan hidup 5. Perumahan dan fasilitas umum 6. Kesehatan 7. Pariwisata dan budaya

8. Pendidikan 9. Perlindungan sosial

Belanja Daerah Menurut Organisasi Klasifikasi disesuaikan dengan susunan organisasi pada masing-masing pemerintah daerah

Belanja Daerah Menurut Program dan Kegiatan Klasifikasi disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

Penganggaran Belanja Daerah Dalam penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja, sebelum setiap dibebankan pada masing-masing bagian, kelompok, jenis, objek, dan rincian objekbelanja di muka, terlebih dahulu belanja dikelompokkan ke dalam anggaran belanja langsung dan anggaran belanja tidak langsung. a. Kelompok Belanja Tidak Langsung Kelompok belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanan program dan kegiatan. Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja, terdiri atas: 1. Belanja Pegawai 2. Bunga 3. Subsidi 4. Hibah 5. Bantuan Sosial 6. Belanja bagi Hasil 7. Bantuan Keuangan 8. Benlanja tidak terduga

b. Kelompok Belanja Langsung Kelompok belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Surplus/Defisit APBD Selisih antara anggaran pendapatan daerah dengan anggaran belanja daerah mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit APBD. 1. Surplus APBD terjadi, apabila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih besar dan anggaran belanja daerah. 2. Defisit anggaran terjadi apabila anggaran pendaatan daerah diperkirakan lebih kecil dan anggaran belanja daerah.

3.2.1.3 Pendanaan Daerah Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahuntahun anggaran berikutnya. Penerimaan pendanaan mencakup: 1. SiLPA tahun anggaran sebelumnya, 2. Pencairan dana cadangan, 3. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. 4. Penerimaan pinjaman daerah, 5. Penerimaan kembali pemberian pinjaman, 6. Penerimaan piutang daerah.

Pengeluaran pendanaan mencakup: 1. Pembentukan dana cadangan, 2. Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah 3. Pembayaran pokok utang, dan 4. Pemberian pinjaman daerah.

3.2.2 Anggaran Berbasis Kinerja Anggaran kinerja adalah perencanaan kinerja tahunan secara terintegrasi yang menunjukan hubungan antara tingkat pendanaan program dan hasil yang diinginkan dan program tersebut. Anggaran dengan pendekatan kinerja adalah suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dan perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Anggaran kinerja yang efektif lebih dan sebuah objek anggaran program atau organisasi dengan outcome yang teiah diantisipasi. Hal ini akan menjelaskan hubungan biaya (Rp) dengan hasil (result). Penjelasan ini merupakan kunci dalam penanganan program secara efektif. Sebagai variasi antara perencanaan dan kejadian sebenarnya, manajer dapat menentukan input-input resource dan bagaimana input-input tersebut berhubungan dengan outcome untuk menentukan efektivitas dan efsiensi program. Ciri-ciri Pokok Anggaran Berbasis Kinerja 1. Secara umum sistem ini mengandung tiga unsur pokok, yaitu: a. Pengeluaran pemerintah dikiasifikasikan menurut program dan kegiatan b. Pengukuran hasil kerja (Performance Measurement) c. Pelaporan Program (Program Reporting) 2. Titik perhatian lebih ditekankan pada pengukuran hasil kerja, bukan pada pengawasan. 3. Setiap kegiatan harus dilihat dan sisi efisiensi dan memaksimalkan output. 4. Bertujuan untuk menghasilkan informasi biaya dan hasil kerja yang dapat digunakan untuk penyusunan target dan evaluasi pelaksanaan kerja Keunggulan Anggaran Berbasis Kinerja: 1. Memungkinkan pendelegasian wewenang dalam pengambilan keputusan. 2. Merangsang partisipasi dan memotivasi satuan kerja melalui proses pengusulan dan penilaian anggaran yang bersifat faktual. 3. Membantu fungsi perencanaan dan mempertajam pembuatan keputusan. 4. Memungkinkan alokasi dana secara optimal dengan didasarkan efisiensi satuan kerja. 5. Menghindarkan pemborosan.

Karakteristik Anggaran Berbasis Kinerja: APBD dengan pendekatan kinerja harus memuat beberapa hal, yaitu. 1. Sasaran yang diharapkan menurut fungsi belanja. 2. Standar pelayanan yang diharapkan dan perkiraan biaya satuan komponen kegiatan yang bersangkutan. 3. Persentase dan jumlah pendapatan APBD yang mendanai pengeluaran administrasi umum, operasi dan pemeliharaan serta belanja modal pembangunan. Metode Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja: Metode Penyusunan Pengelolaan Anggaran Daerah telah menjadi perhatian utama bagi para pengambil Anggaran Berbass Kinerja keputusan di pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Sejauh ini berbagai perundang-undangan dan produk hukum telah dikeluarkan dan diberlakukan dalam upaya untuk menciptakan sistem pengelolaan anggaran yang mampu memenuhi berbagai tuntutan dan kebutuhan masyarakat, yaitu terbentuknya semangat desentralisasi, demokratisasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam proses penyelenggaraan pemerintahan pada urnumnya dan proses pengelolaan Keuangan Daerah pada khususnya. Untuk menghasilkan penyelenggaraan Anggaran Daerah yang efektifdan efisien, tahap persiapan perencanaan anggaran merupakan salah satu faktor penting dan menentukan dan keseluruhan sikius Anggaran Daerah. Namun demikian, tahap persiapan/perencanaan anggaran harus diakui memang hanyalah salah satu tahap penting dalam keseluruhan sikius/proses Anggaran Daerah. Dengan kata lain, sebaik apa pun perencanaan yang telah disusun oleh pemerintah daerah tidak akan memberikan arti apa-apa manakala dalam tahap pelaksanaan dan tahap pengendaliannya tidak berjalan secara baik.