Anda di halaman 1dari 65

PERSEPSI GURU TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) DI RAYON 101 UNIVERSITAS SYIAH

KUALA BANDA ACEH (Suatu Penelitian di UPTD Tanah Jambo Aye Aceh Utara) Skripsi

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: Masyithah

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH 2013

LEMBAR PERSETUJUAN SIDANG

PERSEPSI GURU TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU (PLPG) DI RAYON 101 UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH (Suatu Penelitian di UPTD Tanah Jambo Aye Aceh Utara)

Skripsi

Oleh: Nama NIM Jurusan/Program Studi : Masyithah : 1006101130019 : PPKn

disetujui,

Pembimbing I,

Pembimbing II

Drs. Amirullah, M.Si NIP. 195711031987021001

Hasbi Ali, S.Pd, M.Si NIP. 197011222005011002

ABSTRAK Kata Kunci: Persepsi Guru, PLPG. Judul penelitian ini adalah: Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Latar belakang masalah: Pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional dan sejahtera serta bermartabat. Untuk mewujudkan guru yang bermutu, pemerintah telah dan akan melaksanakan program Sertifikasi Guru dilakukan melalui jalur Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). Keberhasilan program sertifikasi ini sangat tergantung pada pemahaman guru itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan (2) Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif untuk menentukan variabel yang akan diteliti dan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara yang berjumlah 7 orang. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan instrumen wawancara, selanjutnya data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian: (1) Guru memandang positif terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) karena dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya dan menjadi guru yang profesional sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkannya dan (2) Persepsi guru terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal guru. Simpulan: (1) Persepsi guru terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) adalah sangat positif, dimana melalui program Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ini guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya dan menjadi guru yang profesional sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkannya dan (2) Faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) adalah peningkatan kualitas diri, profesionalisme, penerimaan insentif, dan peningkatan status sosial dalam masyarakat. Saran: (1) Diharapkan kepada pemerintah agar lebih dapat mengintensifkan pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dalam rangka meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran dan (2) Diharapkan kepada guruguru peserta program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) agar dapat lebih serius dalam mengikuti proses pendidikan dan pelatihan tersebut, sehingga apabila mereka telah lulus dapat melaksanakan proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi dari masa sebelumnya.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis ucapkan ke hadhirat Allah swt yang telah memberikan limpahan taufik dan hidayahNya, sehingga telah dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Suami Ishak dan anak-anak tercinta yang senantiasa memberikan doa dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan Kualifikasi Guru dalam Jabatan ini. 2. Bapak dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Ketua Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan para dosen yang telah mengasuh penulis selama dalam pendidikan. 3. Bapak Drs. Amirullah, M.Si sebagai Pembimbing I dan bapak Hasbi Ali, S.Pd, M.Si sebagai Pembimbing II yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengarahkan penulis. 4. Teman- teman mahasiswa Kualifikasi Guru dalam Jabatan Kelas Lhokseumawe yang telah memberi dorongan moril kepada penulis.

Akhirnya, penulis mengharapkan saransumbangsih dari para pembaca sekalian yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan penulisan skripsi ini di masa yang akan datang.

Pantee Bidari, 01 Juli 2013

Penulis

Masyithah

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN .. BAB I PENDAHULUAN . 1. 1.Latar Belakang Masalah 1. 2. Rumusan Masalah 1. 3. Tujuan Penelitian 1. 4. Manfaat Penelitian 1. 5. Pertanyaan Penelitian .... 1. 6. Defenisi Istilah BAB II LANDASAN TEORITIS .... 2. 1. Persepsi Guru . 2. 2. Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) 2. 3. Urgensi Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) BAB III METODE PENELITIAN .. 3. 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian . 3. 2. Lokasi Penelitian dan Sumber Data . 3. 3. Subjek dan Objek Penelitian .. 3. 4. Teknik Pengumpulan Data .. 3. 5. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 4. 1. Hasil Penelitian . 4. 2. Pembahasan .. BAB V PENUTUP 5. 1. Simpulan 5. 2. Saran DAFTAR PUSTAKA .. .. .. .. i ii iv v 1 1 7 8 8 9 9 10 10 15 28 36 36 36 37 37 38 39 39 47 52 52 52 53

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pedoman Wawancara Lampiran 2. Daftar Informan

56 57 58

. ..

Lampiran 3. Surat Keputusan Penetapan Pembimbing Skripsi

Lampiran 4. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Lampiran 5. Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara 60 59

Lampiran 6. Surat Keterangan Telah Mengadakan Penelitian dari Kepala UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara Lampiran 7. Biodata Penulis . 61 62

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha untuk membudayakan manusia atau memanusiakan manusia, sehingga pendidikan amat strategis dalam rangka upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna

meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Oleh karena itu, prosesnya harus dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam hal ini, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengamanatkan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Namun demikian, peningkatan mutu pendidikan salah satunya ditentukan oleh kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam proses pendidikan. Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan mempunyai posisi strategis, maka setiap usaha peningkatan mutu pendidikan perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan guru baik dalam segi jumlah maupun mutunya. Dalam hal ini, guru adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang peran penting dalam pendidikan. Ketika semua orang mempersoalkan masalah dunia pendidikan figur guru mesti terlibat dalam agenda pembicaraan terutama yang menyangkut persoalan pendidikan formal di sekolah. Pendidik atau guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses

pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Hal tersebut tidak dapat disangkal karena menurut Djamarah (2000:20) bahwa: Lembaga pendidikan formal adalah dunia kehidupan guru. sebagai besar waktu guru ada di sekolah, sisanya ada di rumah dan di masyarakat. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Di sekolah guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan selain unsur murid dan fasilitas lainnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui

kegiatan belajar mengajar. Namun demikian posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional guru dan mutu kinerjanya. Guru merupakan ujung tombak pendidikan sebab secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan peserta didik, sebagai ujung tombak, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik, pembimbing dan pengajar dan kemampuan tersebut tercermin pada kompetensi guru. Berkualitas tidaknya proses pendidikan sangat tergantung pada kreativitas dan inovasi yang dimiliki guru. Gunawan (1996) mengemukakan bahwa: Guru merupakan perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas, maka peserta didik merupakan subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, kehadiran guru dalam proses pembelajaran di sekolah masih tetap memegang peranan yang penting. Peran tersebut belum dapat diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal ini disebabkan karena masih banyak unsurunsur manusiawi yang tidak dapat diganti oleh unsur lain. Menurut Wijaya dan Rusyan (2004:24) bahwa: Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan

merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam

melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Guru sebagai pekerja harus berkemampuan yang meliputi penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis. Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban: (1) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) Mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan (3) Memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Harapan dalam Undang Undang tersebut menunjukkan adanya perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan ini mengharuskan guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Pada dasarnya terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi dari tujuan suatu pendidikan, antara lain guru, siswa, sarana dan prasarana, lingkungan pendidikan, dan kurikulum. Namun demikian, dari beberapa faktor tersebut, guru dalam kegiatan proses pembelajaran di sekolah menempati posisi yang sangat strategis dan dengan tidak mengabaikan faktor lainnya, guru dalam hal ini sebagai subyek pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan. Eksistensi guru ini menjadi sangat penting manakala pada sejumlah sekolah di daerah pedalaman sangat keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran. Dalam hal ini, Jalal (2007:1) mengatakan bahwa: Pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional dan sejahtera serta bermartabat. Oleh karena itu, eksistensi guru yang bermutu merupakan syarat mutlak untuk hadirnya sistem dan praktik pendidikan yang bermutu. Untuk mewujudkan guru yang bermutu, pemerintah telah dan akan melaksanakan program Sertifikasi Guru dalam jabatan yang akhir- akhir ini dilakukan melalui jalur Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). Namun demikian, keberhasilan program sertifikasi ini sangat tergantung pada pemahaman guru itu sendiri. Banyak yang memahami bahwa Sertifikasi Guru hanya untuk tujuan upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru. Kesalahpahaman dari segelintir guru ini lebih disebabkan masih lemahnya sistem sosialisai yang dilakukan oleh pemmerintah di berbagai level baik pusat maupun daerah.

PLPG merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk pengembangan intelektual dan kepribadian manusia. Selain itu PLPG berperan penting dalam memenuhi kebutuhan manusia dan organisasi atau instansi pemerintah agar dapat maju dan berkembang baik dari segi pengetahuan maupun keterampilan sesuai dengan kebutuhan tuntutan lembaga pendidikan itu sendiri. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru diperuntukkan bagi guru yang telah menjalani sertifikasi profesi melalui uji portofolio. Dalam dua tahap sertifikasi melalui uji portofolio, hanya sebagian kecil guru yang dinyatakan memenuhi kualifikasi. Guru yang gagal memenuhi persyaratan diwajibkan mengikuti PLPG. Widoyoko (2008:5) mengatakan bahwa: Sertifikasi merupakan sarana untuk mencapai tujuan, dalam hal ini perlu adanya pemahaman dari semua pihak bahwa sertifikasi adalah sarana untuk mencapai mutu pendidikan. Oleh karena itu, kelulusan dalam sertifikasi bukan merupakan segalanya dengan

menghalalkan segala cara untuk mencapainya, melainkan hanya sebagai sarana yang dapat menunjukkan bahwa guru tersebut memiliki kompetensi yang dipersyaratkan dalam Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sanaky (2005:7) mengatakan bahwa: Langkah dan tujuan melakukan sertifikasi guru adalah untuk meningkatkan kualitas guru sesuai dengan kompetensi keguruannya. Lebih lanjut, Sanaky (2005:7) mengatakan bahwa ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas atau mutu guru antara lain: (1) Sertifikasi guru, (2) Pembaharuan sertifikat pendidik,

(3) Beberapa fasilitas untuk memajukan diri, dan (4) Sarjana non kependidikan dapat menjadi guru. Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh masih banyak guru yang belum berhasil, walaupun dengan tiga tahapan ujian ulangan. Mayoritas ketidaklulusan guru tersebut adalah pada Ujian Nasional program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Kondisi yang demikian, cenderung telah menyebabkan apatisme pada guru untuk mengikuti program program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada tahun berikutnya. Sikap apatisme guru ini menyebabkan mereka tidak dapat menikmati kesejahteraan guru yang didanai oleh pemerintah. Dari latar belakang masalah di atas, maka penelitian ini membahas tentang: Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Suatu penelitian di UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara).

1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ? 2. Apa faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ?

1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). 2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

1.4. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermamfaat baik secara teoritis maupun praktis. 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan nantinya akan menjadi sumbangan pemikiran teoritis kepada guru dalam rangka mengikuti pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (Guru). 2. Manfaat Praktis a. Bagi guru, hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi bahan masukan dalam rangka mengikuti pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (Guru). b. Bagi peneliti, hasil penelitian ini sebagai pengetahuan awal nantinya untuk mengikuti pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (Guru) di masa yang akan datang.

1.5. Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimana persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ? 2. Apa faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ?

1.6. Defenisi Istilah 1. Persepsi guru. Persepsi guru dalam penelitian ini dimaksudkan adalah cara pandang guru terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). 2. Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dalam penelitian ini dimaksudkan adalah program pemberian sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi syarat untuk menjadi pendidik yang profesional.

BAB II LANDASAN TEORITIS

2.1. Persepsi Guru Membahas istilah persepsi akan dijumpai banyak batasan atau definisi tentang persepsi yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain oleh: Rahmat (2003:51) mengemukakan pendapatnya bahwa: Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi setiap individu dapat sangat berbeda walaupun yang diamati benar-benar sama. Menurut Desideranto dalam Rahmat (2003 :16) persepsi adalah: Penafsiran suatu obyek, peristiwa atau informasi yang dilandasi oleh pengalaman hidup seseorang yang melakukan penafsiran itu. Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa persepsi adalah hasil pikiran seseorang dari situasi tertentu. Muhyadi (1991:233) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses stimulus dari lingkungannya dan kemudian mengorganisasikan serta

menafsirkan atau suatu proses dimana seseorang mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan atau ungkapan indranya agar memilih makna dalam konteks lingkungannya. Hal senada juga dikemukakan oleh Sarwono (1993:238) yang mengartikan persepsi merupakan proses yang digunakan oleh seseorang individu untuk menilai keangkuhan pendapatnya sendiri dan kekuatan dari kemampuan-kemampuannya sendiri dalam hubungannya dengan pendapatpendapat dan kemampuan orang lain. Sedangkan pengertian persepsi menurut

Walgito (2002:54) adalah: Pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktifitas integrated dalam diri individu. Dari beberapa pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa persepsi adalah kecakapan untuk melihat, memahami kemudian menafsirkan suatu stimulus, sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan menghasilkan penafsiran. Selain itu persepsi merupakan pengalaman terdahulu yang sering muncul dan menjadi suatu kebiasaan. Berbagai batasan tentang persepsi di atas, dapat dijelaskan bahwa persepsi adalah sebagai proses mental pada individu dalam usahanya mengenal sesuatu yang meliputi aktifitas mengolah suatu stimulus yang ditangkap indera dari suatu obyek, sehingga didapat pengertian dan pemahaman tentang stimulus tersebut. Persepsi merupakan dinamika yang terjadi dalam diri individu disaat ia menerima stimulus dari lingkungannnya. Miftah Thoha (2003: 145) menyatakan, proses terbentuknya seseorang didasari pada beberapa tahapan: 1. Stimulus atau rangsangan. Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan pada suatu stimulus atau rangsangan yang hadir dari lingkungannya. 2. Registrasi. Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan saraf seseorang berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya. 3. Interpretasi. Merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi yang sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada stimulus yang diterimanya. Proses interpretasi bergantung pada cara pendalamannya, motivasi dan kepribadian seseorang. 4. Umpan Balik (feed back). Setelah melalui proses interpretasi, informasi yang sudah diterima dipersepsikan oleh seseorang dalam bentuk umpan balik terhadap stimulus. Proses persepsi menurut Marat (1992:108) adanya dua

komponen pokok yaitu seleksi dan interpretasi. Seleksi yang dimaksud adalah proses penyaringan terhadap stimulus pada alat indera. Stimulus yang ditangkap oleh indera terbatas jenis dan jumlahnya, karena adanya seleksi. Hanya sebagian kecil saja yang mencapai kesadaran pada individu.

Individu cenderung mengamati dengan lebih teliti dan cepat terkena halhal yang meliputi orientasi mereka. Interpretasi sendiri merupakan suatu proses untuk mengorganisasikan informasi, sehingga mempunyai arti bagi individu. Dalam melakukan interpretasi itu terdapat pengalaman masa lalu serta sistem nilai yang dimilikinya. Sistem nilai di sini dapat diartikan sebagai penilaian individu dalam mempersepsi suatu obyek yang dipersepsi, apakah stimulus tersebut akan diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut menarik atau ada persesuaian, maka akan dipersepsi positif, dan demikian sebaliknya, selain itu adanya pengalaman langsung antara individu dengan obyek yang dipersepsi individu, baik yang bersifat positif maupun negatif. Kehidupan individu tidak dapat terlepas dari lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Sejak individu dilahirkan, maka sejak itu pula individu secara langsung berhubungan dengan dunia sekitarnya. Menurut Walgito (2001:69) persepsi merupakan: Suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera. Namun demikian, proses penerimaan stimulus tersebut tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan selanjutnya menjadi proses persepsi. Oleh karena itu, proses penginderaan tidak terlepas dari proses persepsi dan proses penginderaan merupakan pendahuluan dari proses persepsi. Dalam

hal ini, alat indera tersebut merupakan mediator antara individu dengan dunia luarnya. Stumulus yang diindera tersebut oleh individu diorganisir dan diinterpretasikan, sehingga individu dapat menyadari, mengerti. Menyadari dan mengerti inilah yang dimaksudkan sebagai proses persepsi. Dalam persepsi stimulus dapat datang dari luar maupun dalam diri individu itu sendiri. Namun demikian menurut Walgito (2001:70 bahwa: Pada umumnya stimulus datang dari luar diri individu yang diperoleh melalui indera penglihatan. Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan yang sebagian besar melalui indera penglihatan menghasilkan stimulus yang diorganisir dan diinterprestasikan, sehingga individu mengerti tentang objek yang diinderanya dengan melibatkan perasaan, kemampuan berpikir, dan pengalaman individu. Oleh karena itu, persepsi masing- masing individu saling berbeda antara satu dengan lainnya. Persepsi merupakan proses yang digunakan individu mengelola dan menafsirkan kesan indera mereka dalam rangka memberikan makna kepada lingkungan mereka. Meski demikian apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan yang obyektif. Menurut Daviddof dalam Walgito (2001:73) mendefenisikan persepsi adalah: Suatu proses yang dilalui oleh suatu stimulus yang diterima panca indera yang kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikan, sehingga individu menyadari yang di inderanya itu. Atkinson dan Hilgard dalam Walgito (2001:73) mengemukakan bahwa persepsi adalah: Proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola

stimulus dalam lingkungan. Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masuk ke dalam otak, kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi. Menurut Walgito (2001:75) bahwa: Proses terjadinya persepsi

tergantung dari pengalaman masa lalu dan pendidikan yang diperoleh individu. Proses pembentukan persepsi dijelaskan oleh Feigi dalam Walgito (2001:73) sebagai: Pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan interpretation, begitu juga berinteraksi dengan closure. Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Notoatmodjo (2005:25) bahwa ada banyak faktor yang akan menyebabkan stimulus masuk dalam rentang perhatian seseorang. Faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal, yaitu: 1. Faktor eksternal, yaitu faktor yang melekat pada diri objeknya, meliputi: 1. Kontras. Cara termudah dalam menarik perhatian adalah dengan membuat kontras baik warna, ukuran, bentuk atau gerakan. 2. Perubahan intensitas. Suara yang berubah dari pelan menjadi keras atau cahaya yang berubah dengan intensitas tinggi akan menarik perhatian seseorang. 3. Pengulangan.

Dengan pengulangan, walaupun pada mulanya stimulus tersebut tidak termasuk dalam rentang perhatian kita, maka akan mendapat perhatian kita. 4. Sesuatu yang baru. Suatu stimulus yang baru akan lebih menarik perhatian kita daripada sesuatu yang telah kita ketahui. 5. Sesuatu yang menjadi perhatian orang banyak. Suatu stimulus yang menjadi perhatian orang banyak akan menarik perhatian seseorang. 2. Faktor internal. 1. Pengalaman atau pengetahuan. Pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan stimulus yang kita peroleh. Pengalaman masa lalu atau apa yang telah dipelajari akan menyebabkan terjadinya perbedaan interpretasi. 2. Harapan. Harapan terhadap sesuatu akan mempengaruhi persepsi terhadap stimulus. 3. Kebutuhan. Kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterpretasikan stimulus secara berbeda. Misalnya seseorang yang mendapatkan undian sebesar 25 juta akan merasa banyak sekali jika ia hanya ingin membeli sepeda motor, tetapi ia akan merasa sangat sedikit ketika ia ingin membeli rumah. 4. Motivasi. Motivasi akan mempengaruhi persepsi seseorang. Seseorang yang termotivasi untuk menjaga kesehatannya akan menginterpretasikan rokok sebagai sesuatu yang negatif. 5. Emosi. Emosi seseorang akan mempengaruhi persepsinya terhadap stimulus yang ada. Misalnya seseorang yang sedang jatuh cinta akan mempersepsikan semuanya serba indah. 6. Budaya. Seseorang dengan latar belakang budaya yang sama akan menginterpretasikan orang-orang dalam kelompoknya secara berbeda, namun akan mempersepsikan orang-orang di luar kelompoknya sebagai sama saja.

2.2. Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Istilah pendidikan mempunyai banyak makna. Fatah (1996:4) mengatakan bahwa pendidikan adalah:

1. Proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat dan tempat hidup mereka. 2. Proses sosial terjadi pada orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individual optimum.

Pendidikan dapat berlangsung dimana saja tempat manusia berada, baik di dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah yang dapat memberi kontribusi dalam pembentukan keterampilan, sikap dan tingkah laku seseorang. Kegiatan pendidikan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, karena kegiatannya adalah mengembangkan kemampuan secara jasmani maupun rohani, intelektual ataupun
emosional yang mengacu kearah perubahan positif.

Pendidikan sebagai persiapan atau bekal bagi kehidupan yang akan datang dalam masyarakat. Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat, karena tanpa pendidikan mustahil manusia atau suatu kelompok dapat hidup berkembang sejalan dengan cita-cita untuk maju, sejahtera dan bahagia. Seperti diungkapkan oleh Salam (1996:5) tentang Pendidikan bahwa: 1. Pendidikan berlangsung seumur hidup (life long education), ini berarti usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir sampai tutup usia, sepanjang manusia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. 2. Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. 3. Pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang.

Menurut Faiz Manshur dalam Salam (1996:6) mendefinisikan pendidikan sebagai: Sarana manusia memperoleh ilmu pengetahuan, dengan tujuan agar

manusia terbebas dari kebodohan. Sedangkan pelatihan menurut Johanes Papu dalam Salam (1996:7) adalah: Pelatihan pada dasarnya diselenggarakan sebagai sarana untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi gap (kesenjangan) antara kinerja yang ada pada saat ini dengan kinerja standar atau yang diharapkan untuk dilakukan oleh si pegawai. Dari beberapa pengertian yang telah dijelaskan diatas bahwa, pendidikan adalah tanggung jawab manusia subjek atas diri sendiri lebih-lebih sesudah ia dewasa yakni mandiri secara sosial, ekonomis, psikologi, dan lain-lain. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teoritis, konseptual dan moral supaya menjadi lebih baik serta mencapai hasil optimal. Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru yang diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru, diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan mutu layanan bimbingan dan konseling yang pada akhirnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bagi peserta sertifikasi yang belum dinyatakan lulus, Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Rayon merekomendasikan dua alternatif, yaitu: (a) Melakukan kegiatan mandiri untuk melengkapi kekurangan dokumen portofolio atau (b) Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) yang diakhiri dengan ujian. Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) diakhiri dengan uji kompetensi guru yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara Sertifikasi Guru dengan mengacu pada rambu-rambu Ujian Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). Uji kompetensi meliputi uji tulis dan uji kinerja (praktik pembelajaran).

Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) sangat diperlukan dalam meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia dalam suatu lembaga pendidikan. PLPG juga penting untuk membantu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dengan lebih baik. Selain itu PLPG akan membawa keuntungan bagi lembaga pendidikan, sehingga akan tercipta tenaga-tenaga pendidik yang profesional serta berkompetensi pada bidangnya masing-masing. Profesi guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan menguasai kompetensi sebagaimana dituntut oleh undang-undang guru dan dosen. Marimba dalam Tafsir (200:107) mengatakan bahwa: Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidk terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan berbeda dengan pelatihan. Pelatihan merupakan bagian dari pedidikan. Walaupun demikian, pendidikan dan pelatihan memiliki tujuan yang sama, yaitu pembelajaran. Pelatihan bersifat spesifik, praktis dan segera. Spesifik dalam arti pelatihan berhubungan secara spesifik dengan pekerjaan yang dilakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan praktis dan segera adalah bahwa apa yang sudah dilatihkan dapat diaplikasikan dengan segera sehingga materi yang diberikan harus bersifat praktis. Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia (2005:713) pengertian pelatihan merupakan: Proses, cara, kegiatan atau pekerjaan melatih untuk memperoleh kemahiran atau kecakapan. Selanjutnya, pelatihan menurut Salam Salam (1996:10) merupakan: Bagian dari suatu proses pendidikan yang tujuannya

untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan khusus seseorang atau sekelompok orang. Edwards Deming dalam Tjiptono (2005:215) mengatakan bahwa: Apabila pelatihan terlalu difokuskan pada aplikasi langsung merupakan pandangan yang keliru. Berbagai macam pembelajaran dapat memberikan keuntungan yang tidak dapat diprediksi. Dari beberapa pengertian pelatihan jelaslah, bahwa pelatihan merupakan bagian dari proses pendidikan karena dalam pelatihan terdapat proses transfer pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kecakapan dalam bekerja. Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu kunci dalam manajemen sumber daya manusia dan merupakan salah satu tugas serta tanggung jawab yang tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Pendidikan dan pelatihan dapat diartikan sebagai suatu upaya peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia, dan juga sebagai proses mempersiapkan tenaga pendidik untuk mencapai kinerja yang memadai sesuai dengan standar dan tuntutan lembaga pendidikan tersebut. Dari definisi Pendidikan dan Pelatihan, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan pelatihan merupakan sarana untuk menambah pengetahuan, dimana kedua hal tersebut adalah sebagai acuan untuk kehidupan yang lebih baik. Pendidikan dan pelatihan pada hakikatnya merupakan salah satu bentuk kegiatan dari program pengembangan sumber daya manusia (personal development). Pengembangan sumber daya manusia sebagai salah satu mata rantai (link) dari siklus pengelolaan personil dapat diartikan: merupakan proses perbaikan staf melalui berbagai macam pendekatan yang menekankan realisasi diri (kesadaran), pertumbuhan pribadi dan pengembangan diri. Pengembangan

mencakup kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk perbaikan dan pertumbuhan kemampuan (abilities), sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan anggota organisasi. Disisi lain, Pendidikan dan pelatihan juga merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia yang mumpuni, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Pendidikan (formal) di dalam suatu organisasi adalah suatu proses pengembangan kemampuan ke arah yang diinginkan oleh organisasi yang bersangkutan. Sedang pelatihan (training) menurut Notoatmodjo (2003:28) sering dikacaukan penggunaannya dengan latihan (pratice atau exercise) ialah: Merupakan bagian dari suatu proses pendidikan, yang tujuannya untuk meningkatkan kemampuan atau keterampilan khusus seseorang atau sekelompok orang. Menurut Wahjosumidjo (2002:381) arti pendidikan dan pelatihan dapat dirumuskan sebagai: Suatu program kesempatan belajar yang direncanakan untuk menghasilkan anggota atau staff demi memperbaiki penampilan seseorang yang telah mendapatkan tugas menduduki jabatan. Pendidikan dan pelatihan merupakan bentuk pengembangan sumber daya manusia yang amat strategis. Sebab dalam program pendidikan dan pelatihan selalu berkaitan dengan masalah nilai, norma, dan perilaku individu dan kelompok. Program pendidikan dan pelatihan selalu direncanakan untuk tujuan-tujuan seperti pengembangan pribadi, pengembangan profesional, pemecahan masalah, dan motivasi. Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia, yang harus dilakukan secara berkesinambungan.

Terutama pendidikan dan pelatihan bagi guru, karena guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, dimana saat ini guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam proses pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini W. Robert Houston dalam Rostiyah (1989:4) memberikan pengertian kompetensi sebagai: Suatu tugas yang memadai, atau pemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang. Dalam pengertian ini kompetensi lebih dititikberatkan pada tugas guru dalam mengajar. Pendidikan dan pelatihan selain itu juga merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, keterampilan dan kemampuan intelektual manusia. Jelaslah bahwa pendidikan dan pelatihan memang sangat diperlukan bagi para guru sebagai Agent of Change dalam dunia pendidikan. Karena pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan tidak hanya berguna bagi diri sendiri tapi juga bagi orang lain. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya pendidikan adalah upaya perbaikan perilaku dalam aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik yang dilakukan melalui aktivitas pengarahan, pembimbingan, penteladanan dan latihan. Sedangkan pelatihan pada dasarnya sebuah proses menjadikan seseorang memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan juga sebagai usaha perluasan ke tingkat yang lebih terampil dan mahir. PLPG juga penting untuk membantu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dengan lebih baik. Selain itu PLPG akan membawa keuntungan bagi lembaga

pendidikan, sehingga akan tercipta tenaga-tenaga pendidik yang profesional serta berkompetensi pada bidangnya masing-masing. Tujuan PLPG berhubungan erat dengan manfaat dari PLPG tersebut, dengan maksud agar tenaga pendidik dapat melaksanakan tugasnya sebagai guru dengan lebih baik lagi. Adapun tujuan dari Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) menurut Dirjendikti Depdiknas (2009:3) adalah: Untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru peserta sertifikasi yang belum mencapai batas minimal skor kelulusan pada penilaian portofolio, dan untuk menentukan kelulusan peserta sertifikasi guru melalui uji tulis dan uji kinerja di akhir PLPG. Sedangkan manfaat pendidikan dan pelatihan menurut Siagian (1999:183) bagi organisasi, diantaranya: 1. Peningkatan produktivitas organisasi secara keseluruhan. 2. Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan. 3.Terjadi proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat. 4. Timbul dorongan pada diri pekerja untuk terus meningkatkan kemampuan kerjanya. 5. Peningkatan kemampuan pegawai untuk mengatasi stress, frustasi dan konflik. 6. Meningkatkan kepuasan kerja. 7. Semakin besar pengakuan atas kemampuan seorang. 8. Mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru dimasa depan.

Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) dapat dipandang sebagai salah satu bentuk investasi. Karena dengan adanya Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) guru termotivasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya dan kualitas pendidikan di Indonesia akan 15 meningkat. Oleh karena itu setiap organisasi atau instansi yang ingin berkembang, maka

pendidikan dan pelatihan bagi karyawannya harus memperoleh perhatian yang besar. Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) adalah suatu proses yang akan menghasilkan suatu perubahan perilaku sasaran diklat. Secara konkret perubahan perilaku itu berbentuk peningkatan kemampuan dari sasaran diklat. Kemampuan ini mencakup kognitif, efektif, maupun psikomotor. Apabila dilihat dari pendekatan sistem, maka proses pendidikan dan pelatihan itu terdiri dari input (sasaran diklat) dan output (perubahan perilaku), dan faktor yang mempengaruhi proses tersebut. Dapat dilihat bahwa tujuan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) dapat meningkatkan kualitas tenaga pendidik khususnya dalam hal keahlian, pengetahuan, dan sikap. Dari ketiga hal khusus ini bahwa satu sama lain saling berkaitan, karena keahlian tanpa pengetahuan akan percuma, kemudian pengetahuan tanpa sikap yang baik maka tidak ada artinya begitu juga sebaliknya. Jadi, untuk menjadi guru yang baik bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Sebelum suatu program pendidikan dan pelatihan (diklat) dilaksanakan oleh suatu instansi, perlu dilakukan suatu analisa tentang pendidikan dan pelatihan untuk kebutuhan instansi tersebut. Setelah melihat adanya kebutuhan instansi (lembaga), perlu dibuat program diklat yang sesuai dan benar-benar menyentuh (mencapai sasaran) kebutuhan lembaga, karena suatu program diklat yang baik adalah program yang mencapai sasaran, tepat seperti yang telah dirumuskan sebelumnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan, antara lain, adanya penanggung jawab harian, adanya monitoring pelaksanaan pendidikan dan pelatihan melalui evaluasi harian, adanya alat-alat bantu yang diperlukan (OHP, flip chart, dan sebagainya). Setelah persyaratan diatas telah dipenuhi, nantinya pegawai (tenaga pendidik) akan dapat melaksanakan pekerjaannya secara efektif dan efisien. Program pendidikan dan pelatihan harus berprinsip pada peningkatan efektivitas dan efisiensi kerja masing-masing pegawai pada jabatannya. Untuk itu, setiap pegawai tidak boleh mengabaikan program diklat. Program diklat merupakan salah satu faktor penting dalam

mengembangkan sumber daya manusia karena diklat tidak saja menambah pengetahuan, tetapi juga dapat meningkatkan kemampuan dalam bekerja sehingga produktifitas kerja semakin meningkat. Dalam penyelenggaraan program diklat sering kali ditemukan berbagai persoalan-persoalan mendasar. Persoalan ini merupakan kekurangan yang perlu mendapat perhatian serius dari pengelola diklat. Kekurangan-kekurangan yang timbul dalam penyelenggaraan diklat akan menyebabkan kualitas dan dampak diklat akan menjadi kurang maksimal terhadap upaya pembenahan kualitas sumber daya manusia dalam suatu instansi (lembaga pendidikan). Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa: Pendidikan nasional bertujuan

mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah telah menerapkan tiga rencana strategis sebagaimana dituangkan dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2005 sampai 2009, yaitu: (1) Perluasan dan peningkatan akses, (2) Peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, dan (3) Peningkatan tata kelola pendidikan, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan pendidikan. Salah satu komponen pendidikan yang sangat penting dalam rangka pelaksanaan rencana strategis tersebut adalah guru. Menurut Mulyasa (2008:5) bahwa: Guru merupakan komponen pendidikan yang sangat menentukan dalam membentuk wajah pendidikan di Indonesia. Ujung tombak dari semua kebijakan pendidikan adalah guru. Guru yang akan membentuk watak dan jiwa bangsa, sehingga baik buruknya bangsa ini sangat bergantung kepada guru. Karena peran guru yang begitu besar, maka diperlukan guru profesional, kreatif, inovatif, mempunyai kemauan yang tinggi untuk terus belajar, melek terhadap teknologi informasi, sehingga mampu mengikuti perkembangan jaman. Sejalan dengan tuntutan profesional guru, maka pemerintah mengeluarkan Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pasal 1 Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengemukakan bahwa: Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah pada jalur pendidikan formal. Selanjutnya, pasal 2

Undang Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menisyaratkan bahwa: Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional seperti yang dimaksudkan di atas dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sertifikat pendidik diperoleh melalui program sertifikasi guru yang dilaksanakan oleh LPTK yang ditunjuk oleh pemerintah. Namun demikian, dalam realitasnya ditemukan kesenjangan antara harapan dengan kenyataan dalam program sertifikasi guru di lapangan. Permasalahan ini secara kasat mata sebagian besar diakibatkan oleh faktor oknum guru yang menghalalkan segala cara untuk bisa lulus sertifikasi. Adapun masalah yang timbul di lapangan dari diadakannya program sertifikasi guru dalam jabatan menurut Widiadi (2008:28) antara lain adalah: (1) Pemalsuan ijazah sebagai syarat kelengkapan kualifikasi akademik, (2) Pemalsuan karya ilmiah, (3) Pemalsuan sertifikat dan piagam, (4) Penyuapan ke asessor sertifikasi, (5) Munculnya konflik horizontal antar guru di masing- masing sekolah, dan (6) Tersendatnya tunjangan profesi guru. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang tentunya tidak bisa dilakukan oleh sebarangan orang dan hanya bisa dilaksanakan oleh orang-orang terdidik yang sudah disiapkan untuk menekuni bidang pendidikan. Menurut pasal 7 Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pekerjaan khusus tersebut dilaksanakan dengan prinsip- prinsip: 1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme. 2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia. 3. Memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan tugasnya. 4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.

5. Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalnya. 6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja 7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. 8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. 9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas profesi guru.

Selanjutnya, pasal 42 Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa: Sebagai profesi, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Menurut Dirjen Dikti (2010:21) bahwa: Pelaksanaan program sertifikasi guru melibatkan berbagai institusi pemerintah yaitu Dirjen Dikti, Dirjen PMPTK, LPTK, LPMP, Dinas Pendidikan Propinsi, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan guru. Agar dapat dilakukan penjaminan mutu terhadap mekanisme dan prosedur pelaksanaan sertifikasi guru tersebut, maka Dirjen Dikti telah menetapkan Pedoman Sertifikasi bagi guru dalam jabatan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, pelaksanaan sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilakukan dengan dua cara, yaitu uji kompetensi melalui penilaian portofolio dan pemberian sertifikat pendidik secara langsung bagi guru yang telah memenuhi persyaratan. Salah satu mekanisme pemberian sertifikat pendidik kepada guru adalah melalui jalur Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). PLPG dilaksanakan sesuai dengan proses baku sesuai dengan rambu- rambu pelaksanaan PLPG yang dikeluarkan oleh Dirjen Dikti yang terdiri dari tujuh komponen utama

pelaksanaan PLPG (Dirjen Dikti, 2010:25), antara lain: (1) Kurikulum, (2) Instruktur, (3) Sarana dan prasarana, (4) Penentuan rombongan belajar, (5) Media pembelajaran, (6) proses KBM, dan (7) sistem evaluasi. Ketujuh komponen PLPG tersebut mempunyai peran strategis dalam mendukung proses pengembangan dan audit kompetensi dalam sertifikasi guru. Pengembangan kompetensi guru merupakan kegiatan yang dirancang secara sistematis untuk meningkatkan profesionalitas guru yang menekankan pada sikap, kemampuan, dan pengetahuan melalui pendidikan, penyusunan program yang efektif, dan ketercukupan profesional untuk membantu siswa mencapai hasil maksimal. Pengembangan kompetensi guru dalam program sertifikasi khususnya dalam pelaksanaan PLPG dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian,

profesional dan sosial sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Pelaksanaan sertifikasi guru dimulai pada tahun 2007 dan tahun 2012 merupakan tahun keenam. Mengacu pada hasil penelaahan terhadap pelaksanaan sertifikasi guru dan didukung dengan adanya beberapa kajian atau studi tentang penyelenggaraan sertifikasi guru sebelumnya, pelaksanaan sertifikasi guru pada tahun 2012 dilakukan beberapa perubahan, antara lain perubahan yang mendasar yaitu pola penetapan peserta dan pelaksanaan uji kompetensi awal sebelum PLPG. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) merupakan pola sertifikasi dalam bentuk pelatihan yang diselenggarakan oleh Rayon LPTK untuk memfasilitasi terpenuhinya standar kompetensi guru peserta sertifikasi. Menurut

Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sertifikasi Guru dalam Jabatan tahun 2012 (2012:6) bahwa: Beban belajar PLPG sebanyak 90 jam pembelajaran selama 10 hari dan dilaksanakan dalam bentuk perkuliahan dan workshop menggunakan pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Pendidikan dilaksanakan untuk penguatan materi bidang studi, model-model pembelajaran, dan karya ilmiah. Workshop dilaksanakan untuk mengembangkan, mengemas perangkat pembelajaran dan penulisan karya ilmiah. Pada akhir PLPG dilaksanakan uji kompetensi.

Salanjutnya,

dalam Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sertifikasi Guru dalam

Jabatan tahun 2012 (2012:8) disyaratkan bahwa Peserta sertifikasi pola PLPG harus mengikuti ketentuan berikut. 1. Mengikuti UKA dan apabila lulus UKA menyiapkan berkas PLPG berupa: a. Fotokopi Ijazah S-1 atau D-IV, serta Ijazah S-2 dan/atau S-3 (bagi yang memiliki) dan disahkan oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan. b. Fotokopi SK sebagai guru, mulai SK pengangkatan pertama hingga SK terakhir yang disahkan oleh atasan langsung/pejabat terkait. c. Fotokopi SK mengajar dari kepala sekolah yang disahkan oleh atasan. d. SK pangkat terakhir (bagi guru PNS) yang disahkan oleh atasan langsung/pejabat terkait. e. Format A1 yang telah ditandatangani oleh LPMP. 2. Mengikuti PLPG yang dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara sertifikasi dan diakhiri dengan uji kompetensi. 3. Mengikuti satu kali ujian ulang bagi peserta yang belum lulus uji kompetensi. Apabila tidak lulus ujian ulang, peserta diserahkan kembali ke dinas pendidikan kabupaten/kota, khusus untuk guru SLB ke dinas pendidikan provinsi. 4. Peserta PLPG yang tidak memenuhi panggilan karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan diberi kesempatan untuk mengikuti PLPG pada panggilan berikutnya pada tahun berjalan selama PLPG masih dilaksanakan. 5. Peserta yang tidak memenuhi 2 kali panggilan dan tidak ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dianggap mengundurkan diri. Apabila sampai akhir masa pelaksanaan PLPG peserta masih tidak dapat memenuhi panggilan karena alasan yang dapatdipertanggungjawabkan,

peserta tersebut diberi kesempatan untuk mengikuti PLPG hanya pada tahun berikutnya tanpa merubah nomor peserta. Bagi peserta yang tidak dapat menyelesaikan PLPG pada tahun sebelumnya dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dapat melanjutkan PLPG hanya pada tahun berikutnya apabila persyaratan yang ditentukan dipenuhi.

2.3. Urgensi Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG)

Sekolah merupakan institusi yang kompleks bahkan paling kompleks diantara institusi lainnya. Bafadal (2004:3) mengatakan bahwa: Membuka wacana dalam rangka proses peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah diperlukan guru, baik secara individual maupun kolaboratif untuk melakukan sesuatu mengubah status quo agar pendidikan dan pembelajaran lebih berkualitas. Guru merupakan tenaga kependidikan yang menjadi salah satu penentu keberhasilan proses pembelajaran di sekolah, oleh karena itu guru harus dapat mengikuti perubahan baik yang ada di lingkungan internal maupun eksternal. Lahirnya Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan mutu guru sekaligus dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kebijakan prioritas dalam rangka pemberdayaan guru saat ini adalah meningkatkan kualifikasi, peningkatan kompetensi, sertifikasi guru, pengembangan karir, penghargaan dan

perlindungan, perencanaan kebutuhan guru, tunjangan guru dan maslahat tambahan.

Mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan, maka pengembangan profesional guru merupakan kebutuhan. Untuk meningkatkan mutu suatu profesi, khususnya profesi keguruan, dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan penataran, lokakarya, pendidikan lanjutan, pendidikan dalam jabatan, studi perbandingan dan berbagai kegiatan akademik lainnya. Upaya peningkatan profesi guru di Indonesia sekurang-kurangnya menghadapi dan memperhitungkan empat faktor yaitu, ketersediaan guru, mutu calon guru, pendidikan prajabatan dan peranan organisasi profesi. Dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu profesional maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya. Pengembangan sikap profesional ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan). Menurut Tilaar (1999:298) usaha pengembangan profesi tenaga

kependidikan, khususnya guru, meliputi: (1) Pembaharuan sistem pendidikan, (2) Pendidikan dan Pelatihan, dan (3) Penataran dan pembinaan guru. Ada sejumlah cara dan tempat mengembangkan profesi pendidikan menurut Usman (2006:148), yaitu : (1) Dengan belajar sendiri dirumah, (2) Belajar diperpustakaan khusus untuk pendidik, (3) Dengan cara membentuk persatuan pendidik sebidang studi atau yang berspesialisasi sama dan melakukan tukar menukar pikiran atau berdiskusi dalam kelompoknya masing- masing seperti MGMP, (4) Mengikuti pertemuan- pertemuan ilmiah di manapun pertemuan itu diadakan selama masih dapat dijangkau oleh pendidik tersebut, (5) Belajar secara formal dilembaga-lembaga pendidikan, (6) Me ngikuti pertemuan organisasi profesi pendidikan, dan (7) Ikut mengambil bagian dalam kompetisi-kompetisi ilmiah.

Berdasarkan pemikiran Mangkunegara (2003:111) bahwa: Ada prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam pengembangan guru yaitu, prinsip relevansi, prinsip efektivitas, prinsip efisiensi, dan prinsip berkesinambungan. Prinsip relevansi berhubungan atau berkaitan dengan target yang direncanakan. Prinsip ini juga berhubungan erat dengan prinsip efisiensi, tetapi prinsip efisiensi lebih mengarah pada biaya. Prinsip efektivitas berarti keberhasilan tersebut berhubungan dengan suatu usaha atau tindakan untuk mencapai hasil yang menjadi target. Dalam hal ini Irianto (2001:25) mengidentifikasi ada enam persoalan mendasar dalam penyelenggaraan program diklat, yaitu: 1. Isi program pendidikan dan pelatihan (diklat) tidak terkait dengan kebutuhan individu atau unit kerja. 2. Metode penyampaian diklat bersifat statis dan biasanya hanya menggunakan satu metode yaitu pengajaran klasikal. 3. Keterampilan dan pengetahuan yang diberikan kurang aplikatif. 4. Pelatihan kurang berorientasi pada inti kebutuhan lembaga. 5. Dampak diklat secara individual dan organisasional tidak diukur secara sistematis. 6. Alat atau instrumen kerja yang dibutuhkan pegawai setelah mengikuti pelatihan tidak diberikan secara periodik.

Sementara itu, Syaefudin dan Kurniawan (2003:108) menegaskan bahwa: Ada beberapa prinsip dalam pengembangan guru sebagai tenaga pendidikan (baik struktural, fungsional, maupun teknis) berorientasi pada perubahan tingkah laku dalam rangka peningkatan kemampuan profesional dalam tugas harian. Selanjutnya, Bafadal (2004:42) mengatakan bahwa: Ada empat alas an pentingnya mengadakan peningkatan pengembangan kemampuan guru

professional, yaitu :

1. Dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai metode dan media baru dalam pembelajaran telah dikembangkan, maka seiring dengan hal itu guru harus mampu mengembangkan materi dalam rangka pencapaian target kurikulum sehingga anak-anak didik mencapai kelulusan yang baik dan memuaskan. 2. Ditinjau dari kepuasan dan moral kerja. Pengembangan dan peningkatan profesional guru merupakan hak pribadi guru, artinya setiap pegawai/guru mempunyai hak untuk secara kontinu mendapat kesempatan pembinaan. 3. Ditinjau dari segi keselamatan kerja, Banyak aktivitas belajar mengajar di sekolah bila tidak dirancang dan dilaksanakan secara hati-hati oleh guru mengandung resiko yang tidak kecil, hal ini bisa terjadi dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam dan keterampilan. Keempat, peningkatan kemampuan profesional guru sangat dipentingkan dalam rangka manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Salah satu ciri implementasi manajemen peningkatan mutu adalah kemandirian dari seluruh stakeholder sekolah. Selain itu, menurut Mulyasa (2008:43) bahwa: Pengembangan guru dapat dilakukan dengan cara pelatihan dan seminar, workshop, diskusi panel, rapat, symposium, konfrensi, dan sebagainya. Lebih khusus Mulyasa (2008:43) menjelaskan bahwa: Upaya untuk meningkatkan kinerja guru dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai pelatihan seperti : pelatihan model pembelajaran, pelatihan pembuatan alat peraga, pelatihan pengembangan silabus, dan pelatihan pembuatan materi standar. Pendidikan, pelatihan, dan pengembangan lingkungan pendidikan merujuk pada peluang- peluang belajar yang sengaja didesain untuk membantu pertumbuhan profesional tenaga kependidikan dan lebih spesifik untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan pribadi, profesional, dan sosial guru. Alasan esensial lain diperlukan pengembangan tenaga kependidikan menurut Danim (2002:8) adalah: Karakteristik tugas yang terus menerus

berkembang seiring dengan perkembangan informasi, teknologi, dan reformasi internal pendidikan itu sendiri. Menurut Natawijaya (2002:3) pengembangan kompetensi profesional guru ditekankan pada tiga kemampuan dasar, yaitu: 1. Kemampuan professional, mencakup : a. Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkan. b. Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan sebagai guru. c. Penguasaan proses-proses pendidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. 2. Kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitarnya pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. 3. Kemampuan personal (pribadi) mencakup : (a) penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya beserta unsur-unsurnya; (b) pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru; dan (c) penampilan upaya untuk menjadikan diri sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.

Upaya meningkatkan kemampuan guru dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yakni, pendekatan internal, dengan memanfaatkan guru yang lebih berpengalaman sebagai pelatih, pendekatan eksternal, dengan mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan ataupun studi lanjut, dan dengan pendekatan kemitraan melalui kerjasama antara perguruan tinggi dan sekolah. Prinsip kolaborasi juga dapat dilakukan antar sesama guru dalam satu sekolah, hal ini dapat menjadi ajang yang efektif untuk meningkatkan mutu guru. (http//www.pkabnowpress.com/2012/12/19/ model dan pembelajaran

berorientasi kompetensi siswa, diakses 19 Desember 2012).

Program pengembangan kemampuan profesional guru, sarana program mengacu pada standar kemampuan profesional atau standar kompetensi guru sesuai dengan jalur dan pendidikan. Jadi pola pengembangan kemampuan profesional guru mengacu pada efektivitas pengembangan Sumber Daya Manusia yang dilakukan berdasarkan tahapan perencanaan, dan evaluasi. Pengembangan dilihat dari tahapan perencanaan berarti tingkat kesesuaian antara pencapaian hasil dengan tujuan yang direncanakan dari proses yang terencana untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan keterampilan mengajar dengan mendidik siswa. Pengembangan dilihat dari tahapan evaluasi meliputi kriteria penilaian terhadap reaksi peserta, pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran perubahan perilaku dan kinerja serta hasil perbaikan terukur pada individu dan organisasi. Evaluasi merupakan tolok ukur efektivitas pengembangan

profesional guru yang telah dilaksanakan. Untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan pengembangan dalam PLPG yang telah berjalan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai persepsi instansi- instansi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dengan demikian, proses persepsi persepsi terhadap PLPG berawal dari penilaian yang diberikan seseorang terhadap apa yang dilihat dan dirasakan tentang pelaksanaan PLPG dan dipengaruhi oleh informasi baru yang didapatnya.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif untuk menentukan variabel yang akan diteliti. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Suharsimi Arikunto (2003:23) yang mengatakan bahwa: Pendekatan adalah metode atau cara mengadakan penelitian, juga menunjukkan jenis dan tipe penelitian. Jenis penelitian ini adalah deskriptif karena hanya ingin mendeskripsikan tentang: Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Suharsimi Arikunto (2003:310) bahwa: Penelitian deskripsi tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, akan tetapi hanya menggambarkan suatu variabel, gejala, atau keadaan.

3.2. Lokasi Penelitian dan Sumber Data Penelitian ini dilakukan pada UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara, sedangkan yang menjadi sumber datanya adalah adalah guru Pendidikan Kewarganegaran yang telah mengikuti sertifikasi baik yang telah lulus maupun belum lulus dalam Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Gambaran umum tentang UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara diawali dari

3.3. Subjek dan Objek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah guru yang telah mengikuti sertifikasi baik yang telah lulus maupun belum lulus dalam Pendidikan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh pada UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara yang berjumlah 53 orang. Sedangkan yang menjadi sumber datanya adalah guru Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) pada UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara yang berjumlah 7 orang.

3.4. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan instrumen wawancara. Wawancara secara mendalam dilakukan dengan semua guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada UPTD Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara untuk memperoleh informasi tentang: Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

3.5. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul melalui wawancara langsung dengan informan, selanjutnya data dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan mendeskripsikan tentang: Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program

Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada Rayon 101 Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian A. Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) 1. Sudah atau belumnya guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Sudah atau belumnya guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk, Hn, In, MI, Sb, dan Zl menjawab bahwa: Sudah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan Aldilawati menjawab bahwa: Sudah, sangat baik sekali dan dapat menambah ilmu bagi guru, kalau bisa ada peningkatan lagi bagi guru kelas atau guru bidang studi. 2. Persepsi guru terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Persepsi guru terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) berjalan dengan baik, walaupun sedikit melelahkan, Hn menjawab bahwa: Sangat menyenangkan

karena bertambah pengalaman, Al menjawab bahwa: Baik sekali karena menambah pengetahuan bagi para guru untuk mengetahui bagiaman menjadi guru yang profesional dalam memberikan pelajaran, In menjawab bahwa: Alhamdulillah, untuk jurusan kami Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sudah sangat baik, kami mendapatkan banyak penambahan pengetahuan di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Hanya kadangkala ada instruktur kita yang kurang bersahabat, sehingga ada di antara kawan kami yang tidak berani untuk tampil peer teaching, mudah-mudahan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) untuk yang akan datang para instruktur kami bisa lebih memahami keadaan para peserta, sehingga kawan-kawan kita bisa berani tampil, MI menjawab bahwa: Dalam program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) banyak sekali peningkatan tentang latihan profesi seorang guru, sehingga meningkatkan kualitas guru, Sb menjawab bahwa: Sangat bagus karena bisa meningkatkan kualitas guru, dan Zl menjawab bahwa: Bagi saya Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) adalah suatu program yang sangat baik dan tepat bagi setiap guru karena di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) banyak ilmu-ilmu baru yang kita dapatkan dan di sana kita bisa mengingat kembali ilmu-ilmu bidang studi yang kita ampu. 3. Kesetujuan guru terhadap program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Kesetujuan guru terhadap program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Setuju, karena dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) itu guru dilatih untuk menjadi guru yang profesional, Hn menjawab bahwa: Sangat setuju dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Al menjawab bahwa: Setuju, pada saat diberikan pelatihan kita bisa saling tukar pendapat kepada guru yang lain yang selain daerah kita sendiri untuk saling berbagi dan memperbaiki di mana ada kelemahan dalam memberikan pelajaran kepada siswa, In dan Sb menjawab bahwa: Ya, setuju dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), MI menjawab bahwa: Sangat setuju dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dan Zl menjawab bahwa: Sangat setuju dan kalau bisa setiap 3 tahun sekali setiap guru wajib ikut Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan bagi yang tidak lulus ada baiknya mereka itu dibina kembali. 4. Kinerja guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Kinerja guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Setelah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) kinerja guru menjadi meningkat, Hn menjawab bahwa: Sudah ada kemajuan dibandingkan dengan sebelum adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Al menjawab bahwa: Bagus sekali, karena sudah bisa mengajarkan kepada siswa metode-metode yang kita dapatkan di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru

(PLPG), kalau boleh setelah dilaksanakan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) paling lama satu tahun para guru bisa dipanggil kembali untuk diberi pelatihan kembali sambil melihat hasil yang sudah dijalankan selama satu tahun, In menjawab bahwa: Berkat adanya Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan telah dinyatakan lulus kinerjanya sudah lebih

membaikdibandingkan dari sebelumnya, MI menjawab bahwa: Secara umum, guru-guru yang sudah mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ataupun latihan profesi guru itu sangat banyak menambah pengetahuan dan cara mendidik, Sb menjawab bahwa: Ada perubahan kinerja guru, dan Zl menjawab bahwa: Dalam proses belajar mengajar guru-guru yang sudah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) banyak mengalami perkembangan walaupun masih ada satu atau dua guru. 5. Ada tidaknya terjadi peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Ada tidaknya terjadi peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Ya, terjadi peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Hn menjawab bahwa: Sangat meningkat, hal ini terlihat pada saat siswa belajar, Al menjawab bahwa: Ya, setelah melaksanakan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) mutu

pembelajaran bagi siswa sudah meningkat, In menjawab bahwa: Ya,

sekarang sudah meningkat mutu pembelajaran bagi siswa, MI menjawab bahwa: Ya, sangat menentukan peningkatan seorang guru, Sb menjawab bahwa: Iya, karena peserta didik mampu mengekspresikan kemampuannya dalam belajar berkelompok, dan Zl menjawab bahwa: Ya, ada kualitas mereka biasanya di atas rata-rata guru yang belum mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) walaupun masih ada guru yang kualitasnya masih sama seperti sebelum mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG).

B. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru 1. Pembaharuan kinerja guru dalam proses pembelajaran setelah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Pembaharuan kinerja guru dalam proses pembelajaran setelah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Setiap saat guru memperbaharui kinerja dalam proses pembelajaran setelah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Hn menjawab bahwa: Ya, kita harus menggunakan metodemetode lain yang mudah dimengerti oleh siswa, Al menjawab bahwa: Ya, kita melihat keadaan siswa, In menjawab bahwa: Ya, pasti karena kita melihat kondisi siswa, MI menjawab bahwa: Ya, kami selalu memperbaharui metode-metode, sehingga pelaksanaan pembelajaran mencapai tujuan, Sal menjawab bahwa: Iya, supaya peserta didikpun berkualitas, dan Zl

menjawab bahwa: Ya, agar siswa kita tidak jenuh dengan metode yang kita pakai. 2. Tujuan pembaharuan kinerja guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Tujuan pembaharuan kinerja guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Mau mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) karena guru dilatih untuk lebih baik lagi dalam proses pembelajaran, Hn menjawab bahwa: Ya, karena dengan program Pendidikan dan Latihan Program Profesi Guru (PLPG) diajarkan cara mengajar yang tidak membosankan siswa, Al menjawab bahwa: Ya, karena dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pembelajaran di sekolah sudah meningkat, In menjawab bahwa: Ya, mau karena bisa menambah pengetahuan bagi guru, sehingga guru yang profesional dalam memberikan pelajaran, MI dan Sb menjawab bahwa: Iya, terjadi pembaharuan kinerja guru dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dan Zl menjawab bahwa: Ya pasti, karena dengan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) kita dapat mengambangkan ilmu dan pribadi kita. 3. Tujuan finansial guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Tujuan finansial guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Tentu saja mau, karena untuk mendapatkan insentif yang lebih tentunya seorang guru harus mempunyai kinerja yang lebih baik, Hn menjawab bahwa: Ya, dengan adanya insentif proses belajar mengajar bisa lancar, Al menjawab bahwa: Ya, selain ilmu bertambah dan termotivasi dengan insentif yang berlebih daripada yang sebelumnya, In menjawab bahwa: Sudah pasti, tapi yang sangat berharga lagi adalah ilmu, MI menjawab bahwa: Ya, karena gaji masih kurang, Sb menjawab bahwa: Tidak, pelatihan tersebut untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar, dan Zl menjawab bahwa: Ya, dengan insentif ini guru dapat meningkatkan ekonomi keluarga sekaligus dapat menyediakan alat-alat untuk mendukung proses belajar mengajar. 4. Tujuan profesional guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Tujuan profesional guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Mau, karena dengan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tersebut seorang guru dilatih untuk bisa menjadi guru yang profesional, Hn menjawab bahwa: Ya, keprofesionalitas sangat diperlukan oleh seorang guru, Al menjawab bahwa: Ya, karena sekarang guru dituntut harus profesional dalam memberikan pelajaran, In menjawab bahwa: Ya, itulah yang paling utama menjadi pendidik yang profesional, MI dan Sb menjawab bahwa: Iya, dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dapat

meningkatkan profesionalitas guru, dan Zl menjawab bahwa: Pasti, karena keprofesionalitas seorang guru sangat dituntut dalam proses belajar mengajar. 5. Tujuan peningkatan status sosial guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Tujuan peningkatan status sosial guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 7 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Zk menjawab bahwa: Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tersebut bukan untuk meningkatkan sosial dalam masyarakat, tetapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas tenaga pendidik, Hn menjawab bahwa: Bukan, tetapi untuk meningkatkan kualitas guru dalam mengajar, Al menjawab bahwa: Tidak, karena mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menjadi guru yang profesional bukan meningkatkan status dalam masyarakat, In menjawab bahwa: Pasti ya, itu sebagai tambahan, MI menjawab bahwa: Iya, insyaAllah, Sb menjawab bahwa: Tidak, karena pelatihan tersebut untuk meningkatkan kualitas mengajar seorang guru bukan untuk mengubah status sosial, dan Zl menjawab bahwa: Pasti, dengan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) guru dapat berinteraksi dengan masyarakat lebih efektif karena di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) juga diajarkan cara-cara seorang guru dapat dengan baik berinteraksi di masyarakat.

4.2. Pembahasan A. Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Dari hasil penelitian terungkap bahwa ternyata belum semua guru telah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), hanya ada 7 orang yang telah mengikuti dan dinyatakan lulus. Bagi guru-guru yang telah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan dinyatalan telah lulus mengatakan bahwa program tersebut sangat baik sekali dan dapat menambah ilmu bagi guru, kalau bisa ada peningkatan lagi bagi guru kelas atau guru bidang studi. Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) berjalan dengan baik, walaupun sedikit melelahkan dirasakan oleh peserta. Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dirasakan sangat menyenangkan karena bertambah pengalaman dan pengetahuan bagi para guru untuk mengetahui bagiamana menjadi guru yang profesional dalam memberikan pelajaran. Peserta Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) sudah sangat baik, peserta mendapatkan banyak penambahan pengetahuan di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Namun demikian, dalam proses pendidikan dan pelatihan tersebut banyak instruktur yang kurang bersahabat terutama dalam peer teaching, sehingga banyak peserta yang tidak berani tampil ke depan untuk praktik mengajar. Mudah-mudahan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) untuk yang

akan datang para instruktur bisa lebih memahami keadaan para peserta, sehingga mereka bisa berani tampil. Dalam program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) banyak sekali peningkatan tentang latihan profesi seorang guru, sehingga meningkatkan kualitas guru. Semua guru yang telah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru dan dinyatakan lulus sangat setuju dengan program tersebut karena guru dilatih untuk menjadi profesional dan bisa saling tukar pendapat dengan guru-guru yang lain untuk saling berbagi dan memperbaiki di mana ada kelemahan dalam memberikan pelajaran kepada siswa. Setelah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) kinerja guru menjadi meningkat. Guru-guru sudah ada kemajuan dibandingkan dengan sebelum adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) karena sudah bisa mengajarkan kepada siswa metode-metode baru dan kinerja mereka sudah lebih membaik dibandingkan dari sebelumnya. Secara umum, guru-guru yang sudah mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ataupun latihan profesi guru itu sangat banyak menambah pengetahuan dan cara mendidik. Dalam proses belajar mengajar guru-guru yang sudah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) banyak mengalami

perkembangan walaupun masih ada satu atau dua guru yang masih terbawa dengan strategi dan metode mengajar yang lama. Melalui program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) terjadi peningkatan kualitas pembelajaran oleh guru, hal ini terlihat pada saat siswa belajar. Walaupun masih ada guru

yang kualitasnya masih sama seperti sebelum mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) sangat diperlukan dalam meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia dalam suatu lembaga pendidikan. PLPG juga penting untuk membantu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dengan lebih baik. Selain itu PLPG akan membawa keuntungan bagi lembaga pendidikan, sehingga akan tercipta tenaga-tenaga pendidik yang profesional serta berkompetensi pada bidangnya masing-masing. Profesi guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan menguasai kompetensi sebagaimana dituntut oleh undang-undang guru dan dosen. Marimba dalam Tafsir (200:107) mengatakan bahwa: Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidk terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Namun demikian, Edwards Deming dalam Tjiptono (2005:215) mengatakan bahwa: Apabila pelatihan terlalu difokuskan pada aplikasi langsung merupakan pandangan yang keliru. Berbagai macam pembelajaran dapat memberikan keuntungan yang tidak dapat diprediksi.

B. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Setiap saat guru memperbaharui kinerja dalam proses pembelajaran setelah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dengan

menggunakan metode-metode terbaru yang mudah dimengerti oleh siswa. Keinginan guru mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) karena guru dilatih untuk lebih baik lagi dalam proses pembelajaran. Mereka melalui program Pendidikan dan Latihan Program Profesi Guru (PLPG) diajarkan cara mengajar yang tidak membosankan siswa. Oleh karena itu, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bisa menambah pengetahuan bagi guru, sehingga guru yang profesional dalam memberikan pelajaran. Selain untuk meningkatkan profesionalisme, guru mau mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) karena untuk mendapatkan insentif yang lebih tentunya seorang guru harus mempunyai kinerja yang lebih baik. Melalui program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tersebut seorang guru dilatih untuk bisa menjadi guru yang profesional karena keprofesionalitas sangat diperlukan oleh seorang guru. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) tersebut bukan untuk meningkatkan sosial dalam masyarakat, tetapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas tenaga pendidik. Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) guru dapat berinteraksi dengan masyarakat lebih efektif karena di Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) juga diajarkan cara-cara seorang guru dapat dengan baik berinteraksi di masyarakat. Menurut Wahjosumidjo (2002:381) arti pendidikan dan pelatihan dapat dirumuskan sebagai: Suatu program kesempatan belajar yang direncanakan untuk menghasilkan anggota atau staff demi memperbaiki penampilan

seseorang yang telah mendapatkan tugas menduduki jabatan. Pendidikan dan pelatihan merupakan bentuk pengembangan sumber daya manusia yang amat strategis. Sebab dalam program pendidikan dan pelatihan selalu berkaitan dengan masalah nilai, norma, dan perilaku individu dan kelompok. Program pendidikan dan pelatihan selalu direncanakan untuk tujuan-tujuan seperti pengembangan pribadi, pengembangan profesional, pemecahan masalah, dan motivasi. Pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu upaya pengembangan sumber daya manusia, yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Terutama pendidikan dan pelatihan bagi guru, karena guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, dimana saat ini guru dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai dalam proses pembelajaran di sekolah. Dalam hal ini W. Robert Houston dalam Rostiyah (1989:4) memberikan pengertian kompetensi sebagai: Suatu tugas yang memadai, atau pemilikan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang.

BAB V PENUTUP

5.1. Simpulan 1. Persepsi guru terhadap pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) adalah sangat positif, dimana melalui program Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) ini guru dapat meningkatkan kualitas pembelajarannya dan menjadi guru yang profesional sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkannya. 2. Faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) adalah peningkatan kualitas diri, profesionalisme, penerimaan insentif, dan peningkatan status sosial dalam masyarakat.

5.2. Saran 1. Diharapkan kepada pemerintah agar lebih dapat mengintensifkan pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dalam rangka meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran. 2. Diharapkan kepada guru-guru peserta program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) agar dapat lebih serius dalam mengikuti proses pendidikan dan pelatihan tersebut, sehingga apabila mereka telah lulus dapat

melaksanakan proses pembelajaran menjadi lebih baik lagi dari masa sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Banda Aceh: FKIP Unsyiah. Arikunto, Suharsimi. 2003. Prosedur Penelitian. (Suatu pendekatan praktis). Jakarta: Rineka Cipta. Bafadal, Ibrahim. 2004. Seri Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah: manajemen Perlengkapan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Depdiknas. 2004. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Depdiknas. 2005. Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakrta: Depdiknas. Depdiknas. 2005. Rencana Strategis 2005-2009 di Bidang Pendidikan. Jakarta: Depdiknas. Danim, Sudarwan. 2002. Agenda Pembaruan Sistem pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Dirjendikti Depdiknas. 2009. Sertifikasi Guru dalam Jabatan Tahun 2009:Ramburambu Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG). Fatah, Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Gunawan. 1996. Administrasi Sekolah: Administrasi Pendidikan Mikro. Jakarta: Rineka Cipta. http: //www.pkabnowpress.com/2012/12/19/model dan pembelajaran berorientasi kompetensi siswa. Diakses tanggal 19 Desember 2012. Irianto, Jusuf. 2001. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Pelatihan. Surabaya: Insan Cendekia.

Jalal, Fasli. 2007. Sertifikasi Guru untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu. Makalah disampaikan pada seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Pragram Pascasarjana Universitas Air Langga, tanggal 28 April 2007 di Surabaya. Mulyasa, E. 2008. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mangkunegara, A.A Anwar Prabu. 2003. Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Natawijaya, R. 2002. Struktur Profesi Kependidikan. Bandung: UPI. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengembangan Sumber DayaManusia. Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Notoatmodjo. 2005. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. Roestiyah. 1989. Masalah-masalah Ilmu Keguruan. Jakarta:PT. Bina Aksara. Salam, Burhanuddin. 1996. Pengantar Pedagogik, Dasar-dasar Ilmu Mendidik. Bandung: Rineka Cipta. Sertifikasi Guru dalam Jabatan. 2012. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Sertifikasi. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas. Sanaky, Hujair A.H. 2005. Sertifikasi dan Profesionalisme Guru di Era Reformasi Pendidikan. Dalam Jurnal Pendidikan Islam, Jurusan Tarbiyah, Edisi 2 Mei 2005. Yogyakarta: UII. Syaefuddin, Saud Udin dan Kurniawan. 2003. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta. Siagian, Sondang P. 1999. Manajemen SDM. Jakarta: Bumi Aksara. Tafsir, Ahmad. 2000. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya. Tjiptono, Fandy dan Anastasia Diana. 2005. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Yogyakarta: Andi Ofset. Tilaar, H.A.R. 1999. Kebijakan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Usman, M.Uzer. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Walgito, Bimo. 2001. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Kencana.

Widoyoko, S. Eko Putro. 2008. Peranan Sertifikasi Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Sertifikasi Guru di Universitas Muhammadiyah Purworejo, tanggal 5 Juli 2008. Widiadi, Aditya N. 2008. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Press. Wijaya dan Rusyan. 2004. Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. W, Frista Artmanda. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jombang: Lintas Media. Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Identitas Pribadi Nama NIM Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Alamat

: Masyithah : 1006101130019 : Meunasah Teungoh, 12 Februari 1983 : Perempuan : Islam : Jl. Pendidikan, Desa Meunasah Teungoh, Pantee Bidari, A. Timur

2. Identitas Orang Tua Nama Ayah : Ibrahim Nama Ibu : Maimunah 3. Identitas Keluarga Nama Suami Agama Alamat

: Ishak : Islam : Jl. Pendidikan, Desa Meunasah Teungoh, Pantee Bidari, A. Timur

4. Riwayat Pendidikan SD Negeri 1 Lhok Nibong, tamat tahun 1995 SMP Negeri 1 Lhok Nibong, tamat tahun 1998 MAN Simpang Ulim , tamat tahun 2001 D-II GPAI Unmuha, tamat tahun 2003 S1 PPKn FKIP Unsyiah, masuk tahun 2010 Demikianlah DAFTAR RIWAYAT HIDUP ini saya buat dengan sebenarbenarnya agar dapat dipergunakan di mana perlu.

Aceh Utara, 01 Juli 2013

Masyithah

PEDOMAN WAWANCARA

A. Persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) 1. Apakah bapak/ibu guru sudah mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ? 2. Bagaimana menurut bapak/ibu guru pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ? 3. Apakah bapak/ibu guru setuju dengan adanya program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ? 4. Bagaimana menurut bapak/ibu kinerja guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru dalam proses pembelajaran ? 5. Menurut bapak/ibu guru, apakah terjadi peningkatan kualitas pembelajaran yang diajarkan oleh guru yang telah lulus program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru ?

B. Faktor yang mempengaruhi persepsi guru terhadap pelaksanaan Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) 1. Apakah bapak/ibu guru selalu memperbaharui kinerja dalam proses pembelajaran ? 2. Apakah bapak/ibu guru mau mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru untuk meningkatkan kinerja dalam proses pembelajaran ? 3. Apakah bapak/ibu guru mau mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru sebelumnya ? 4. Apakah bapak/ibu guru mau mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru untuk meningkatkan profesionalitas sebagai seorang pendidik ? 5. Apakah bapak/ibu guru mau mengikuti program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru untuk meningkatkan status sosial dalam masyarakat ? untuk mendapatkan insentif yang berlebih dari pendapatan