Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar belakang adalah merupakan salah lembaga yang berperan dalam

Pengadilan

melaksanakan sistem hukum di Negara tersebut dimana tujuan utama dalam suatu proses di muka Pengadilan adalah untuk memperoleh putusan Hakim yang memenui rasa keadilan dan tentunya memiliki kekuatan hukum yang mengikat yakni yang kita kenal dengan bahasa hukumnya memiliki kekuatan hukum yang tetap . Akan tetapi, setiap putusan yang dijatuhkan oleh Hakim belum tentu dapat menjamin kebenaran secara yuridis, karena putusan itu tidak lepas dari kekeliruan dan kekhilafan, bahkan tidak mustahil bersifat memihak. Agar kekeliruan dan kekilafan itu dapat diperbaiki, maka demi tegaknya kebenaran dan keadilan, terhadap putusan Hakim itu dimungkinkan untuk diperiksa ulang. Cara yang tepat untuk dapat mewujudkan kebenaran dan keadilan itu adalah dengan melaksanakan upaya hukum. Demikian pula halnya terhadap putusan dari Pengadilan Niaga dalam perkara kepailitan adanya upaya hukum atas putusan hakim pada Pengadilan Niaga. Namun terdapat perbedaan dari Pengadilan Niaga ialah hanya tersedia upaya hukum kasasi ke ahkamah Agung. Pengadilan Niaga disebut sebagai pengadilan tingkat

pertama dan tidak ada tingkat kedua atau sering disebut sebagai tingkat banding.

'

"emudian terhadap putusan#putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dalam $$ No. %& tahun '(() tentang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang tersedia upaya hukum luar biasa yaitu peninjauan kembali. Dengan melihat perbedaaan upaya hukum dalam kepailitan diatas, maka hal demikian menimbulkan minat penulis untuk membuat karya ilmiah dengan judul *injauan +uridis $paya Hukum Dalam "epailitan enurut $$ No.%& *ahun '(()

*entang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang . B. Rumusan Permasalahan . Atas dasar latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas, fokus permasalahan yang diajukan sebagai berikut, !. -agaimana pelaksanaan upaya hukum "asasi menurut $$ No. %& *ahun '(() tentang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang . '. -agaimana pelaksanaan upaya hukum Peninjauan "embali menurut $$ No. %& *ahun '(() tentang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang . C. Maksud dan Kegunaan Penulisan Adapun maksud dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut,

!. $ntuk mengetahui dan memaparkan bagaimana pelaksanaan upaya hukum "asasi menurut $$ No. %& *ahun '(() tentang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang/ '. $ntuk mengetahui dan memahami bagaimana pelaksanaan upaya hukum Peninjauan "embali menurut $$ No. %& *ahun '(() tentang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang/ 0edangkan yang menjadi kegunaan dalam penulisan makalah ini dapat diuraikan penulis sebagai berikut, !. akalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hukum "epailitan dengan dosen pengajar -apak Arsel, 0H. H/ '. $ntuk melatih penulis dalam hal melakukan penulisan karya ilmiah, sekaligus penerapan berbagai teori ilmu pengetahuan yang penulis didapatkan diperkuliahan khususnya mata kuliah Hukum "epailitan/ D. Met d l gi etode penulisan yang digunakan adalah metode yuridis normati1e yaitu penelitian yang menekankan pada data sekunder yakni dengan mempelajari dan mengkaji asas#asas hukum khususnya kaidah#kaidah hukum dalam peraturan perundang#undanagan serta ketentuan#ketentuan yang berkaitan dengan

*injauan +uridis $paya Hukum Dalam "epailitan

enurut $$ No.%& *ahun

'(() *entang "epailitan dan Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang.

BAB II PEMBAHA!AN
A.

Pelaksanaan u"a#a hukum Kasasi menurut UU N . $% &ahun '(() tentang Ke"ailitan dan Penundaan Ke*a+iban Pemba#aran Utang enurut ketentuan pasal !! $$ No %& *ahun '(() tentang "epailitan dan

Penundaan "ewajiban Pembayaran $tang disebutkan , 2 Upaya Hukum yang dapat diajukan terhadap putusan atas permohonan pailit adalah kasasi ke Mahkamah Agung Namun dalam ketentuan pasal ini tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan kasasi pada perkara kepailitan ini. $ntuk memahami pengertian kasasi , dalam pasal %( ayat 3!4 $$ No 5 *ahun '(() *entang Perubahan atas $$ No !) *ahun !675 *entang ahkamah Agung jo $$ No % *ahun '((6 *entang Perubahan kedua atas ahkamah Agung ditentukan ,

$$ No !) *ahun !675 *entang

Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dai semua lingkungan peradilan karena: 1. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang !. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku

". lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundangundangan yang mengan#am kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan. -erdasarkan ketentuan#ketentuan yang telah dikemukakan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ahkamah Agung dalam melakukan peradilan kasasi terhadap
)

perkara kepailitan tidak melakukan peninjauan putusan seluruhnya dari Pengadilan dalam tingkat terakhir dimana dalam hal ini adalah pengadilan Niaga, melainkan terbatas pada peninjauan mengenai hukum saja, tidak mengenai peristiwa dan pembuktiannya. Peninjauan mengenai hukum tersebut hanya terbatas mengenai pasal yang ditentukan yakni pasal %( ayat 3!4 $$ No 5 *ahun '(() *entang Perubahan atas $$ No !) *ahun !675 *entang ahkamah Agung jo $$ No % *ahun '((6 ahkamah Agung.

*entang Perubahan kedua atas $$ No !) *ahun !675 *entang Dalam melakukan kasasi,

ahkamah Agung bukan peradilan tingkat tertinggi

sebab yang dikasasi itu adalah putusan tingkat tertinggi !. "asasi hanya meliputi bagian hukumnya saja, tidak mengenai peristiwa. Hakim kasasi bukan hakim yang memeriksa peristiwa 3$ude% &a#ti4 dalam perkara kepailitan. sudah diperiksa dan diputus oleh hakim Pengadilan Niaga B. Pelaksanaan u"a#a hukum Kasasi menurut UU N . $% &ahun '(() tentang Ke"ailitan dan Penundaan Ke*a+iban Pemba#aran Utang Peninjauan "embali merupakan upaya hukum luar biasa, namun sebenarnya lembaga ini bertentangan dengan asas kepastian hukum. Prinsip asas kepastian
!

engenai peristiwa

Abdulkadir

uhammad,Hukum A#ara 'erdata (ndonseia)halaman !75

hukum menentukan bahwa putusan hakim yang sudah berkekuatan hukum tetap, tidak bisa diubah lagi. Asas kepastian hukum ini disebut *ebis in (dem, artinya tidak boleh terjadi dua kali putusan terhadap satu kasus yang sama antara dua pihak dalam perkara yang sama. $ndang#$ndang memberi kesempatan untuk mengajukan peninjauan kembali dengan segala persyaratan yang ketat. Persyaratan yang ketat tersebut dimaksudkan untuk menerapkan asas keadilan terhadap pemberlakuan asas kepastian hukum, karena itu peninjauan kembali berorientasi pada tuntutan keadilan. 8umusan Pasal !) $ndang#$ndang "epailitan memberikan hak untuk mengajukan perninjauan kembali atas putusan pailit yang telah berkekuatan hukum tetap. 9alau demikian permohonan peninjauan kembali hanya dapat dilakukan pada dua macam alasan saja, yang masing#masing secara khusus telah dibatasi jangka waktu tertentu. Pasal '65 ayat 3'4 $ndang#$ndang "epailitan menentukan bahwa peninjauan kembali dapat diajukan dengan alasan sebagai berikut

a, 0etelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di Pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan. -ukti baru tersebut apabila diketahui pada tahap persidangan sebelumnya akan menghasilkan putusan yang berbeda. Permohonan dengan alasan ini mengajukan dalam jangka waktu paling lambat !7( hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan Peninjauan "embali yang kita kenal dengan sebutan P" memperoleh kekuatan hukum yang tetap b, *erdapat kekeliruan yang nyata pada putusan hakim sebelumnya atau hakim telah melakukan kesalahan berat dalam penerapan hukum. Permohonan peninjauan kembali atas dasar alasan ini, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat %( hari

&

setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap. BAB III PENU&UP A. Kesim"ulan !. Dalam melakukan kasasi perkara pailit, ahkamah Agung bukan peradilan

tingkat tertinggi sebab yang dikasasi itu adalah putusan tingkat tertinggi 3Pengadilan Niaga4. '. ;ungsi ahkamah Agung dalam Peninjauan "embali adalah mengadakan

koreksi terakhir terhadap putusan pengadilan yang mengandung ketidakadilan yang disebabkan kesalahan dan kekhilafan hakim. B. !aran 0elanjutnya penulis ingin memberikan sumbang saran diantaranya Adanya $$ tentang kepailitan juga perlu dibarengi kemauan dan kemampuan aparat dalam menegakkan $$ tersebut sehingga apa yang ingin dicapai oleh $$ tersebut dapat terlaksana.

&