Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

Retardasi mental adalah suatu gangguan heterogen yang terdiri dari gangguan fungsi intelektual di bawah rata-rata dan gangguan dalam keterampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun.(1) Diperkirakan bahwa di negara kita 1 3 % dari jumlah penderita retardasi mental. Dapat dibayangkan besarnya jumlah penderita yang terbelakang ini. Sikap terhadap penderitapenderita ini mencerminkan sikap sosial umum suatu masyarakat atau kebudayaan tertentu. (2) Retardasi mental boleh dipandang sebagai masalah kedokteran, psikologik atau pendidikan, akan tetapi pada analisa terakhir merupakan suatu masalah sosial, karena pencegahan, pengobatan dan terutama perawatan serta pendidikan penderita-penderita ini hanya dapat dilakukan dengan baik melalui usaha-usaha kemasyarakatan (sosial).

Banyak wilayah di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota, di mana sebagian besar penduduknya mungkin belum mengetahui banyak informasi mengenai Down Syndrome dan retardasi mental, para penderita gangguan ini mendapat perlakuan yang tidak selayaknya. Perlakuan yang tidak layak dalam konteks ini adalah mungkin dianggap gila oleh masyarakat atau tidak mendapat perawatan yang tepat. Labeling ini lah yang menghambat proses pengoptimalan potensi yang dimiliki anak-anak dengan gangguan mental dan Down Syndrome, tak jarang juga keluarga penderita juga mendapat atribusi yang tidak mengenakkan dari masyarakat. Berkaca dari keadaan para penderita baik gangguan mental maupun Down Syndrome di luar negeri, eksistensi mereka di Indonesia pun dapat dioptimalkan. Jika di luar di negeri kita sering mendengar mereka dapat bersekolah, bekerja, bahkan di Rusia ada yang berhasil menjadi aktor, di Indonesia pun tak ada kata tidak mungkin untuk melakukannya. (http: // www.kidshealth.org/parent/medical /down_syndrome.html). Makalah ini kami persembahkan guna memenuhi tugas mata kuliah seminar psikologi klinis. Kami menyadari adanya banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Semoga apa yang telah kami sampaikan dalam makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

BAB II ISI A. Definisi Retardasi mental ialah keadaan dengan intelegensia yang kurang (subnormal) sejak masa perkembangan (sejak lahir atau masa anak) sehingga daya guna sosial dan dalam pekerjaan seseorang menjadi terganggu. Biasanya terdapat perkembangan mental yang kurang secara keseluruhan, tetapi gejala utama yang menonjol ialah intelegensia yang terkebelakang. Retardasi mental disebut juga oligofrenia (oligo = kurang atau sedikit dan fren = jiwa) atau tuna mental.(2) Retardasi mental adalah gangguan yang telah tampak sejak masa anak-anak dalam bentuk fungsi intelektual dan adaptif yang secara signifikan berada dibawah rata-rata (Luckasson,1992, dalam Durand 2007) Menurut American Association on Mental Retardation (AAMR) 1992 Retardasi mental yaitu : Kelemahan atau ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sebelum 18 tahun) ditandai dengan fase kecerdasan dibawah normal ( IQ 70-75 atau kurang), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya dua area berikut : berbicara dan berbahasa; keterampilan merawat diri, ADL; keterampilan sosial; penggunaan sarana masyarakat; kesehatan dan keamanan; akademik fungsional; bekerja dan rileks, dan lainlain. Dari beberapa definisi diatas, yang menurut kami memiliki definisi yang hampir sama, kami cenderung menyepakati definisi yang diungkapkan oleh American Assosiation on Mental Retardation (AAMR) yang mengungkapkan bahwa Retardasi mental yaitu : Kelemahan/ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sebelum 18 tahun) ditandai dengan fase kecerdasan dibawah normal ( IQ 70-75 atau kurang), dan disertai keterbatasan lain. Berikut ini adalah klasifikasi retardasi mental yang ditunjukkan dengan bagan (Dr.wiguna & ika, 2005) : RM Ringan RM Sedang RM Berat RM Sangat Berat 1. RM ringan (IQ 55-70) : mulai tampak gejalanya pada usia sekolah dasar, misalnya sering tidak naik kelas, selalu memerlukan bantuan untuk mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang berkaitan pekerjaan rumah atau mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi. 80 % dari anak RM termasuk pada golongan ini. Dapat menempuh pendidikan Sekolah Dasar kelas VI hingga tamat SMA. Ciri-cirinya tampak lamban dan membutuhkan bantuan tentang masalah kehidupannya.

2. RM Sedang (IQ 40-55) : sudah tampak sejak anak masih kecil dengan adanya keterlambatan dalam perkembangan, misalnya perkembangan wicara atau perkembangan fisik lainnya. Anak ini hanya mampu dilatih untuk merawat dirinya sendiri, pada umumnya tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasarnya, angka kejadian sekitar 12% dari seluruh kasus RM. Anak pada golongan ini membutuhkan pelayanan pendidikan yang khusus dan dukungan pelayanan. 3. RM Berat (IQ 25-40) : sudah tampak sejak lahir, yaitu perkembangan motorik yang buruk dan kemampuan bicara yang sangat minim, anak ini hanya mampu untuk dilatih belajar bicara dan keterampilan untuk pemeliharaan tubuh dasar, angka kejadian 8% dari seluruh RM. Memiliki lebih dari 1 gangguan organik yang menyebabkan keterlambatannya, memerlukan supervisi yang ketat dan pelayanan khusus. 4. RM Sangat Berat (IQ < 25) : sudah tampak sejak lahir yaitu gangguan kognitif, motorik, dan komunikasi yang pervasif. Mengalami gangguan fungsi motorik dan sensorik sejak awal masa kanak-kanak, individu pada tahap ini memerlukan latihan yang ekstensif untuk melakukan self care yang sangat mendasar seperti makan, BAB, BAK. Selain itu memerlukan supervisi total dan perawatan sepanjang hidupnya, karena pada tahap ini pasien benar-benar tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

B. Etiologi Penyebab retardasi mental mungkin faktor keturunan (retardasi mental genetik), mungkin juga tidak diketahui (retardasi mental simplex). Kedua-duanya ini dinamakan juga retardasi mental primer. Retardasi mental sekunder disebabkan faktor-faktor dari luar yang diketahui dan fakto-faktor ini mempengaruhi otak mungkin pada waktu prenatal, perinatal atau postnatal.(2) Penyebab retardasi mental dapat dibagi dalam kelompok : (i) Biomedik, dan (ii) sosiokultural, psikologik dan lingkungan.(3) I. Kelompok Biomedik dapat di bagi menjadi sebab prenatal, natal dan postnatal. A. Penyebab Prenatal 1. Infeksi ibu : kuman, virus, toxoplasma. (a) Kuman : tbc, syphilis, meningitis. (b) Virus : rubella, influenza, cytomegalic inclusion body disease. 2. Intoxikasi karena : bilirubin (kernicterus), timah, karbon 3. Gangguan metabolisme. (a) metabolisme protein : phenylketonuria. (b) metabolisme hidrat arang : galactosemia.

(c) metabolisme lemah : Tay-Sach's disease 4. Bentuk kepala abnormal : Anencephalia, Makrocefalia, Mikrocefalia. 5. Kelainan khromosom : Mongolism (sindroma Down), Klinefelter's syndrome. 6. Irradiasi pada kandungan dengan umur kehamilan 2-6 minggu. 7. Malnutrisi ibu, terutama karena defisiensi protein. 8. Endokrin : Hypothyroid ibu menyebabkan kretinism B. Penyebab Perinatal 1. Anoksia otak karena asfiksia, misalnya karena partus lama. 2. Trauma kelahiran 3. Prematuritas/berat badan lahir rendah. C. Penyebab Postnatal 1. Malnutrisi bayi : Perkembangan inteligensi anak, sangat dipengaruhi bila defisiensi protein terjadi sejak lahir sampai umur 2 tahun. 2. Infeksi : encephalitis, meningitis, febrile convulsion yang lama dan sering. 3. Trauma kapitis. 4. Anoxia otak : karena status epilepticus atau dehydrasi (gastroenteritis berat). 25% dari retardasi mental mempunyai IQ dibawah 50 dan ada hubungannya dengan sebab-sebab biomedik.

II. Faktor Biologis a. Pengaruh genetik Kebanyakan peneliti percaya bahwa di samping pengaruh-pengaruh lingkungan, penderita retardasi mental mungkin dipengaruhi oleh gangguan gen majemuk (lebih dari satu gen) (Abuelo, 1991, dalam Durand, 2007) Salah satu gangguan gen dominan yang disebut tuberous sclerosis, yang relatif jarang, muncul pada 1 diantara 30.000 kelahiran. Sekitar 60% penderita gangguan ini memiliki retardasi mental (Vinken dan Bruyn, 1972, dalam Durand 2007). Phenyltokeltonuria (PKU) merupakan gangguan genetis yang terjadi pada 1 diantara 10.000 kelahiran (Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2002). Gangguan ini disebabkan metabolisme asam amino Phenylalanine yang terdapat pada banyak makanan. Asam Phenylpyruvic, menumpuk dalam tubuh menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat yang mengakibatkan retardasi mental dan gangguan emosional.

b. Pengaruh kromosomal Jumlah kromosom dalam sel-sel manusia yang berjumlah 46 baru diketahui 50 tahun yang lalu (Tjio dan Levan, 1956, dalam Durand, 2007). Tiga tahun berikutnya, para peneliti menemukan bahwa penderita Sindroma Down memiliki sebuah kromosom kecil

tambahan. Semenjak itu sejumlah penyimpangan kromosom lain menimbulkan retardasi mental telah teridentifikasi yaitu Down syndrome dan Fragile X syndrome. 1. Down syndrome Sindroma down, merupakan bentuk retardasi mental kromosomal yang paling sering dijumpai, di identifikasi untuk pertama kalinya oleh Langdon Down pada tahun 1866. Gangguan ini disebabkan oleh adanya sebuah kromosom ke 21 ekstra dan oleh karenanya sering disebut dengan trisomi 21. (Durand, 2007). Anak retardasi mental yang lahir disebabkan oleh faktor ini pada umumnya adalah Sindroma Down atau Sindroma mongol (mongolism) dengan IQ antar 20 60, dan rata-rata mereka memliki IQ 30 50. (Wade, 2000, dalam Nevid 2003). Menyatakan abnormalitas kromosom yang paling umum menyebabkan retardasi mental adalah sindrom down yang ditandai oleh adanya kelebihan kromosom atau kromosom ketiga pada pasangan kromosom ke 21, sehingga mengakibatkan jumlah kromosom menjadi 47. Anak dengan sindrom down dapat dikenali berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu, seperti wajah bulat, lebar, hidung datar, dan adanya lipatan kecil yang mengarah ke bawah pada kulit dibagian ujung mata yang memberikan kesan sipit. Lidah yang menonjol, tangan yang kecil, dan berbentuk segi empat dengan jari-jari pendek, jari kelima yang melengkung, dan ukuran tangan dan kaki yang kecil serta tidak proporsional dibandingkan keseluruhan tubuh juga merupakan ciri-ciri anak dengan sindrom down. Hampir semua anak ini mengalami retardasi mental dan banyak diantara mereka mengalami masalah fisik seperti gangguan pada pembentukan jantung dan kesulitan pernafasan. (Nevid, 2003)

2. Fragile X syndrome. Fragile X syndrome merupakan tipe umum dari retardasi mental yang diwariskan. Gangguan ini merupakan bentuk retardasi mental paling sering muncul setelah sindrom down (Plomin, dkk, 1994, dalam Nevid, 2003). Gen yang rusak berada pada area kromosom yang tampak rapuh, sehingga disebut Fragile X syndrome. Sindrom ini mempengaruhi laki-laki karena mereka tidak memiliki kromosom X kedua dengan sebuah gen normal untuk mengimbangi mutasinya. Laki-laki dengan sindrom ini biasanya memperlihatkan retardasi mental sedang sampai berat dan memiliki angka hiperaktifitas yang tinggi. Estimasinya adalah 1 dari setiap 2.000 laki-laki lahir dengan sindrom ini ( Dynkens, dkk, 1998, dalam Durand, 2007).

III. Kelompok sosiokultural, psikologik dan lingkungan. Ciri-ciri dari kelompok ini : -tidak ada tanda-tanda dari kelainan struktural otak. - derajat keterbelakangannya masih termasuk ringan (IQ diatas 50). - 75 % dari jumlah retardasi mental mempunyai IQ diatas 50 dan sebagian besar disebabkan karena sebab-sebab sosiokultural. Sebab-sebab dari kelompok III: (a). Adanya retardasi mental ringan (kedunguan) yang terdapat pada anggota keluarga lain (cultural familiar retardates). Karena kurangnya kepandaian mereka maka secara otomatis mereka jatuh pada suatu tingkatan yang paling bawah yakni yang taraf kehidupannya berjalan sangat sederhana. (b). Adanya gangguan emosi pada anak sehingga anak berfungsi di bawah potensi sebenarnya (misalnya karena penolakan orang tua, iri terhadap saudaranya dsb.). (c). Kurangnya stimulasi pada anak, misalnya : - kurangnya rangsangan belajar. - kurangnya pemberian kasih sayang dan perhatian orang tua pada anak karena adanya pemisahan orang tua dengan anak (parental deprivation). (d). Faktor Psikososial Seperti lingkungan rumah atau sosial yang miskin, yaitu yang tidak memberikan stimulasi intelektual, penelantaran, atau kekerasan dari orang tua dapat menjadi penyebab atau memberi kontribusi dalam perkembangan retardasi mental. (Nevid, 2002) Anak-anak dalam keluarga yang miskin mungkin kekurangan mainan, buku, atau kesempatan untuk berinteraksi dengan orang dewasa melalui cara-cara yang menstimulasi secara intelektual akibatnya mereka gagal mengembangkan keterampilan bahasa yang tepat atau menjadi tidak termotivasi untuk belajar keterampilan-keterampilan yang penting dalam masyarakat kontemporer. Beban-beban ekonomi seperti keharusan memiliki lebih dari satu pekerjaan dapat menghambat orang tua untuk meluangkan waktu membacakan buku anak-anak, mengobrol panjang lebar, dan memperkenalkan mereka pada permainan kreatif. Lingkaran kemiskinan dan buruknya perkembangan intelektual dapat berulang dari generasi ke generasi (Nevid, 2002). Kasus yang berhubungan dengan aspek psikososial disebut sebagai retardasi budayakeluarga (cultural-familial retardation). Pengaruh cultural yang mungkin memberikan kontribusi terhadap gangguan ini termasuk penganiayaan, penelantaran, dan deprivasi sosial. (Durand, 2007)

C. Manifestasi Klinis Retardasi mental sangat berat = Idiot. IQ 0 -- 19. Umur mental (mental age) kurang dari 2 tahun. Ciri-cirinya : 1. Tidak dapat dilatih dan dididik 2. Tidak dapat merawat dirinya sendiri. 3. Tidak mengenal bahaya, tak dapat menjaga diri terhadap ancaman fisik. 4. Pergerakan motorik biasanya terganggu, pergerakan kaku atau spastis. 5. Biasanya didapatkan kelainan kongential misalnya bentuk kepala abnormal, badan kecil bungkuk, dsb. 6. perkembangan fisik (duduk, jalan) dan bicara terlambat. 7. mudah terserang penyakit lain, misalnya infeksi.

Retardasi mental berat = Imbicile berat. IQ 20-35, umur mental 2-4 tahun. Ciri-cirinya : 1. dapat dilatih dan tak dapat dididik. 2. dapat dilatih merawat dirinya sendiri 3. kadang-kadang masih dapat mengenal bahaya dan menjaga dirinya. 4. pergerakan motorik biasanya masih terganggu, pergerakan kaku dan spastis. 5. biasanya masih didapatkan kelainan kongenital. 6. perkembangan fisik dan berbicara masih terlambat. 7. masih mudah terserang penyakit lain.

Retardasi mental sedang = Imbecile ringan. IQ 35--50, umur mental 4 - 8 tahun. Ciri-cirinya : 1. Dapat dilatih dan dapat dididik (Trainable & Educable) sampai ke taraf kelas II - III SD 2. dapat dilatih merawat dirinya sendiri. 3. mengenal bahaya dan dapat menyelamatkan diri. 4. koordinasi motorik biasanya masih sedikit terganggu 5. biasanya masih didapatkan kelainan kongenital. 6.dapat dilatih pekerjaan yang sederhana dan rutin misalnya : menyapu, mencuci piring, membersihkan rumah dsb. 7. bisa menghitung 1 - 20, mengetahui macam-macam warna dan membaca beberapa suku kata. 8. perkembangan fisik dan berbicara masih terlambat. 9. sering tersangkut perkara kriminil karena penilaian terhadap baik dan buruknya suatu hal masih kurang

Retardasi mental ringan, keterampilan sosial dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-tahun prasekolah. Tetapi saat anak menjadi lebih besar, defisit kognitif tertentu seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik mungkin membedakan dirinya dari anak lainnya seusianya. Terdapatnya ciri klinis lainnya yang dapat terjadi sendiri atau menjadi bagian dari gangguan retardasi mental, yaitu hiperaktivitas, toleransi frustasi yang rendah, agresi, ketidakstabilan afektif, perilaku motorik stereotipik berulang, dan perilaku melukai diri sendiri.

Menurut kriteria DSM-IV-TR untuk gejala anak retardasi mental terbagi dalam tiga kelompok yaitu : Kriteria pertama, seseorang harus memiliki intelektual yang secara signifikan berada di tingkatan sub average (dibawah rata-rata), yang ditetapkan berdasarkan satu tes IQ atau lebih. Dengan cutoff score yang oleh DSM-IV-TR ditetapkan sebesar 70 atau kurang. Kriteria Kedua, adanya defisit atau hendaya dalam fungsi adaptif yang muncul beragam setidaknya dua bidang yakni, komunikasi, merawat diri sendiri, mengurus rumah, keterampilan social, interpersonal, pemanfaatan sumber daya di masyarakat, keterampilan akademis, pekerjaan, kesehatan, dan keselamatan. Kriteria Ketiga, anak dengan retardasi mental ciri intelektual dan kemampuan adaptif itu harus muncul sebelum mencapai 18 tahun. Gejala anak retardasi mental menurut (Brown, dkk 1991 dalam Sekar, 2007) menyatakan : 1. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, mempunyai kesulitan dalam mempelajari pengetahuan abstrak atau yang berkaitan, dan selalu cepat lupa apa yang dia pelajari tanpa latihan yang terus menerus. 2. Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru. 3. Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak retardasi mental berat. 4. Cacat fisik dan perkembangan gerak. Kebanyakan anak dengan retardasi mental berat mempunyai ketebatasan dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan, tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan tugas-tugas yang sangat sederhana, sulit menjangkau sesuatu, dan mendongakkan kepala. 5. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari anak retardasi mental berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti : berpakaian, makan, dan mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan khusus untuk mempelajari kemampuan dasar. 6. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. Anak tunagrahita ringan dapat bermain bersama dengan anak reguler, tetapi anak yang mempunyai retardasi mental berat tidak

melakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi anak retardasi mental dalam memberikan perhatian terhadap lawan main. 7. Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak anak retardasi mental berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas. Kegiatan mereka seperti ritual, misalnya : memutar-mutar jari di depan wajahnya dan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri, misalnya: menggigit diri sendiri, membentur-beturkan kepala, dan lain-lain.

D. Diagnosis Kriteria diagnostik -rata IQ, kira-kira 70 atau kurang pada tes IQ yang dilakukan secara individual ( untuk bayi, pertimbangan klinisnya adalah fungsi intelektual yang jelas di bawah rata-rata) penyerta dalam fungsi adaptif sekarang (yaitu efektivitas orang tersebut untuk memenuhi standar-standar yang dituntut menurut usianya dalam kelompok kulturalnya) pada sekurangnya dua bidang dari keterampilan berikut, yaitu komunikasi, merawat diri sendiri, aktivitas di rumah, keterampilan sosial/interpersonal, menggunakan sarana masyarakat, mengarahkan diri sendiri, keterampilan akademik fungsional, pekerjaan, liburan, kesehatan dan keamanan

E. Diagnosa banding Anak-anak dari keluarga yang sangat melarat dengan deprivasi rangsangan yang berat (retardasi mental ini reversibel bila diberi rangsangan yang baik secara dini). Kadangkadang anak dengan gangguan pendengaran atau penglihatan dikira menderita retardasi mental. Mungkin juga gangguan bicara dan cerebral palsy membuat anak kelihatan terbelakang, biarpun inteligensinya normal. Gangguan emosi dapat menghambat kemampuan belajar sehingga dikira anak itu bodoh. Early infantile autism dan skizofrenia anak juga sering menunjukkan gejala yang mirip retardasi mental.

F. Penatalaksanaan Terapi terbaik adalah pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer adalah mencegah terjadinya retardasi. Tindakan yang dilakukan adalah untuk menghilangkan atau menurunkan kondisi yang menyebabkan gangguan. Tindakan tersebut termasuk pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat umum, usaha terus menerus dari profesional bidang kesehatan untuk menjaga dan memperbaharui kebijakan kesehatan masyarakat, dan eradikasi gangguan yang

diketahui disertai kerusakan sistem saraf pusat. Konseling keluarga dan genetik dapat membantu. Tujuan pencegahan sekunder adalah untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dengan menemukan kasus sedini mungkin dan pengobatan secepat mungkin. Sedangkan pencegahan tersier bertujuan untuk menekan atau mengurangi kecacatan atau kelainan mental yang terjadi. Dalam pelaksanaannya kedua jenis pencegahan ini dilakukan bersamaan, yang meliputi pendidikan untuk anak ; terapi perilaku, kognitif dan psikodinamika ; pendidikan keluarga ; dan intervensi farmakologis. Pendidikan untuk anak harus merupakan program yang lengkap dan mencakup latihan keterampilan adaptif, sosial, dan kejuruan. Satu hal yang penting adalah mendidik keluarga tentang cara meningkatkan kompetensi dan harga diri sambil mempertahankan harapan yang realistik. Untuk mengatasi perilaku agresi dan melukai diri sendiri dapat digunakan naltrekson. Untuk gerakan motorik stereotipik dapat dipakai antipsikotik seperti haloperidol dan klorpromazin. Perilaku kemarahan eksplosif dapat diatasi dengan penghambat beta seperti propanolol dan buspiron. Adapun untuk gangguan defisit atensi atau hiperaktifitas dapat digunakan metilpenidat. Terapi yang digunakan adalah mengunakan beberapa cara, yaitu diantaranya sebagai berikut : 1. Terapi baca (dengan pendekatan montesoori) Guru atau orang tua tidak secara langsung mengubah anak tetapi sebaliknya guru mencoba memberi peluang pada anak menyelesaikan tugas dengan usaha sendiri, tanpa bantuan orang dewasa. Tujuan ini bertujuan untuk memberikan edukasi secara dini kepada pasien.

2. Pilihan bebas (anak diberi kebebasan untu memilih kebutuhan yang sesuai dengan minatnya) Dengan cara ini, aktivitas kehidupan sehari-hari pasien menjadi bagian dari kurikulum yang diberikan.

3. Terapi perilaku Konselor memberikan pengetahuan tentang cara pandang si anak tersebut, misalnya tidak mau bermain games, cara pandang terhadap sesuatu dan lain-lain. Terapi ini bertujuan untuk mengubah perilaku yang cenderung agresif dan menciptakan self injury.

4. Terapi bicara Konselor memberikan contoh perilaku bicara yang baik, karena pada dasarnya, anak retardasi mental akan terlihat dalam mengucapkan sebuah kata-kata

5. Terapi sosialisasi Pasien diajak untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, yaitu tetap menjalin komunikasi dengan orang lain atau individu di sekitarnya dengan cara bersosialisasi, melakukan interaksi secara verbal sehingga disini akan menumbuhkan rasa percaya diri, perasaan diterima oleh lingkungan, dan motivasi pada diri pasien agar tetap survive dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

6. Terapi bermain Pasien dibimbing untuk dapat mengerjakan sesutu hal berupa hasil karya, atau sebuah permainan. Terapi ini bertujuan untuk dapat mengasah kemampuan pasien di bidang kognitif yaitu dengan cara merangsang proses berpikir pasien tentang pola sebuah bentuk sehingga disini pasien diajak untuk dapat merangkai sebuah konstruksi bangunan, kemudian dapat meningkatkan imanjinasi dengan cara merangsang kemampuan imajinasi tentang sesuatu hal yang berada di pikirannya, selain itu dalam segi kreatifitas, yaitu dengan cara meningkatkan dan mengolah kreatifitas pasien dengan paduan warna, pola, bentuk yang berbeda-beda sehingga pasien mempunyai pengetahuan, pemahaman dan keanekaragaman tentang macam-macam jenis permainan atau hasil karya yang dia temui.

7. Terapi menulis Cara ini digunakan untuk dapat mempermudah proses berjalannya terapi yaitu dengan cara pasien diajak untuk menulis di selembar kertas berupa serangkaian katakata. Tujuan daripada terapi ini adalah untuk melemaskan otot atau syarat tangan dalam beraktivitas sehingga tubuh pasien tidak kaku dan lebih fleksibel dalam menanggapi respon atau stimulus yang berada di sampingnya.

8. Terapi okupasi Terapi ini dilakukan dengan cara memijat-mijat bagian syaraf anak tersebut seperti pada bagian pergelangan tangan, kaki dan daerah tubuh lainnya. Terapi ini dilakukan pada saat pasien berusia muda, karena pada masa muda sendi-sendi dalam tubuh pasien masih bersifat elastis dan dapat menyesuaikan dengan bentuk perlakuan yang diberikan.

9. Terapi musik Terapi ini dilakukan dengan cara pasien diarahkan untuk dapat mendengarkan dan memaknai sebuah alunan musik. Terapi ini bertujuan untuk dapat mengasah fungsi auditory pasien akan stimulus suara yang di dengarkannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan HI & Sadock BJ: Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Edisi Ke-7 2. Maramis, WF: Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Cetakan I, Airlangga University Press, Surabaya, 1980. 3. Endang Warsiki Ghosali, Retardasi Mental, available from URL: http://www/portalkalbe/files/cdk/files/16_RetardasiMental.pdf/16_RetardasiMental 4. Sebastian CS, Mental Retardation, available from URL: http://emedicine.medscape.com/article/289117-overview 5. Kolb LC, Modern Clinical Psychiatry, W.B.Saunders Company, 1977 6. Williams & Wilkins, Baltimore, 1997, pp.1137-1154.Maslim R, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari PPGDJ III, Jakarta, 1996 : 65 7. Gunarsa,S (2006). Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Jakarta: PT. Gunung mulia. 8. Jacoby, D ( 2009). Pustaka Kesehatan Populer (Psikologi). PT. Buana Ilmu Populer. 9. Kartono, K (2009). Psikologi Abnormal dan Abnormalitas Seksual. Bandung:Mandar maju. 11. Nefid Jerrrey (2002). Psikologi Abnormal jilid 1 dan 2. Jakarta : Erlangga. 12. Simeun, Y (). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta : Kanisius 13. Baumeister, A (1969). Effects of variations in the Preparatory interval on the reaction. times of retardatesand normals. Journal of Abnormal Psychology,74,438-442. 14. Butterfield, Earl. Stimulus Trace in The mentally Retarded: effect or Developmental Lag?. Journal of Abnormal Psycology,73 No 4, 358-362. 15. Grend Gerald (1968). Expectancy of Succes and The probability Learning Of Midle Class, Lower Class, and Retarded Children. Journal of Abnormal Psycology,73 No 4, 343-352. 16. Hastuti dan Zamralita (2004). Penyesuaian Diri Orang Tua Yang Memiliki Anak Retardasi Mental Ringan. Arkhe jurnal ilmiah Psikologi, Volume 9 No2, 90-98. 17. Solihin olih. Retardasi Mental. http://www.jevuska.com/2007/01/19/retardasi-mental. (http: // www.kidshealth.org/parent/medical /down_syndrome.html).