Anda di halaman 1dari 18

OSEANOGRAFI Upwelling selat Makassar

Disusun oleh: Kelompok 4 Maulana Albar Putra Andi Lia Fadhilah Gilang Kusuma M Laily Hikmawati 230110120081 230110120092 230110120110 230110120119

Perikanan B

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR

2013 I. Densitas Air Laut

Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut.Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat.Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal yang sangat penting dalam oseanografi.Lambang yang digunakan untuk menyatakan densitas adalah (rho). Densitas air laut disebut sebagai Sigma t diperoleh dari hasil pengukuran suhu, tekanan dan salinitas. Air laut kondisinya lebih berat (sekitar 1,025 g/cm 3) dibandingkan dengan air tawar (sekitar 1,000 g/cm3) dan sekitar 800 lebih berat dibandingkan dengan udara. Nilai densitas air laut berkisar 1,020 sampai 1,030 g/cm3 dengan perubahan terbesar terjadi dilapisan permukaan dan dekat pantai. Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan tekanan (p). Kebergantungan ini dikenal sebagai persamaan keadaan air laut (Equation of State of Sea Water): = (T,S,p)

Penentuan dasar pertama dalam membuat persamaan di atas dilakukan oleh Knudsen dan Ekman pada tahun 1902.Pada persamaan mereka, dinyatakan dalam g cm-3.Penentuan dasar yang baru didasarkan pada data tekanan dan salinitas dengan kisaran yang lebih besar, menghasilkan persamaan densitas baru yang dikenal sebagai Persamaan Keadaan Internasional (The International Equation of State, 1980). Persamaan ini menggunakan temperatur dalam oC, salinitas dari Skala Salinitas Praktis dan tekanan dalam dbar (1 dbar = 10.000 pascal = 10.000 N m-2). Densitas dalam persamaan ini dinyatakan dalam kg m-3. Jadi, densitas dengan harga 1,025 g cm-3 dalam rumusan yang lama sama dengan densitas dengan harga 1025 kg m3

dalam Persamaan Keadaan Internasional.

Densitas rata-rata air laut adalah t = 25. Aturan praktis yang dapat kita gunakan untuk menentukan perubahan densitas adalah: t berubah dengan nilai yang sama jika T berubah 1oC, S 0,1, dan p yang sebanding dengan perubahan kedalaman 50 m. Densitas akan menurun karena curah hujan, intrusi massa air tawar dari aliran sungai, mencairnya es dan intensitas penyinaran matahari (Bishop,1984). Massa air laut dengan densitas rendah cenderung berada di atas dari lapisan dengan densitas tinggi. Perubahan densitas air laut secara vertical terjadi dengan adanya perubahan kedalaman perairan, dan perubahan secara horizontal disebabkan oleh arus. Distribusi densitas berkaitan dengan karakter arus dan daya tenggelam suatu massa air yang berdensitas tinggi pada lapisan permukaan ke kedalaman tertentu. Perlu diperhatikan bahwa densitas maksimum terjadi di atas titik beku untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik beku untuk salinitas di atas 24,7. Hal

ini

mengakibatkan

adanya

konveksi

panas.

S < 24.7 : air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum, kemudian jika air permukaan menjadi lebih ringan (ketika densitas maksimum telah terlewati) pendinginan terjadi hanya pada lapisan campuran akibat angin (wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi pembekuan. Di bagian kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh air dengan densitas maksimum.

S >24.7 : konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air. Pendinginan diperlambat akibat adanya sejumlah besar energi panas (heat) yang tersimpan di dalam badan air. Hal ini terjadi karena air mencapai titik bekunya sebelum densitas maksimum tercapai. Seperti halnya pada temperatur, pada densitas juga dikenal parameter densitas potensial yang didefinisikan sebagai densitas parsel air laut yang dibawa secara adiabatis ke level tekanan referensi.

erubahan densitas dipengaruhi oleh proses-proses, salah satunya adalah evaporasi (penguapan). Dan terjadinya perubahan suhu yang drastis (thermocline) dan salinitar (Halocline) yang menghasilkan perubahan densitas secara drastis (Pynocline)

Grafik-grafik Densitas CO2-Tekanan Air Laut

Grafik 1. Kurva tekanan kepadatan karbon dioksida cair diberbagai suhu (Hijau = 10C, garis hijau putus-putus = 4C, garis biru putus-putus = 2C dan garis biru = 0C) titik tengah pada tekanan-densitas (garis magenta). Titik tengah daya apung untuk karbon dioksida cair pada 2C dicapai pada kisaran 26,50 MPA atau disekitar kedalaman 2.600m.

Grafik 2

Grafik 3 Grafik 2 dan Grafik 3 menunjukan proyeksi grafik fase.Dalam grafik 2 (tekanansuhu) titik didih memisahkan antara wilayah gas dan cair.Dan berakhir di titik kritis.Yang dimana fase cair dan gas menghilang menjadi fase superkritis tunggal.Ini dapat diamati di grafik ke 3 (densitas-tekanan untuk CO2).Jauh dibawah suhu kritis, misalnya di 280K.Dengan meningkatnya tekanan, gas terkompres dan akhirnya (>40bar) mengembun. Dan mengakibatkan diskontinuitas (garis titik-titik vertical)

Disaat suhu kritis tercapai (300K).Densitas CO2 menjadi lebih padat. Pada titik kritis (304,1 K dan 7,38 MPa (73,8 bar)) tidak ada perbedaan densitas, dan dari 2 fase menjadi satu fase fluida. Dengan demikian, diatas suhu kritis CO2 tidak dapat dicairkan oleh tekanan

Grafik Densitas-Tekanan Air Laut

Grafik 4 Ini adalah grafik simpel densitas-kedalaman laut. Kita dapat melihat peningkatan densitas air laut seiring makin meningkatnya kedalaman laut. Pycnocline

adalah lapisan air dimana perubahan drastis densitas air terhadap kedalaman laut. Ini adalah grafik untuk laut bagian 30-40 derajat lintang selatan.Dan seperti kita ketahui bahwa tekanan bergantung kepada kedalaman.Semakin dalam laut semakin besar juga tekanannya. Diagram T S

II.

Diagram temperatur salinitas (T-S) perairan penting untuk dipahami karena bermanfaat untuk mengetahui sumber massa air perairan setempat. Analisis diagram T S dilakukan berdasarkan cara yang di uraikan oleh (Helland & Hasen, 1986). Konsep dari analisi massa air ini berhubungan dengan perwakilan diagram T-S dalam struktur bentuk konfigurasi vertikal di lautan. Prinsip massa air adalah air yang mempunyai sifat suhu dan salinitas tertentu oleh karena terdapat dalam diagram T-S. Nilai T-S dari suatu massa air telah didefinisikan, maka dapat ditunjukan oleh suatu titik pada diagram T-S. Menurut Sverdrup et. Al 1968, suatu massa air didefinisikan sebagai suatu bagian dari kurva diagram T-S yang dicirikan oleh kisaran terbatas dari hubungan suhu salinitas, dimana suatu massa air terdiri dari pencampuran dau massa air atau lebih jenis massa air. Hal ini yang dipakai pada analisia karakteristik T-S diagram suatu massa air pada lokasi dari sumbernya. Statistik diagram T-S sendiri adalah suatu metode pendekatan yang dapat melengkapi statistik air laut secara kualitatif pada hubungan korelasi antar suhu salinitas. Pada penelitian oseanografi ada beberapa parameter yang digunakan sebagai indikator penelitian di air laut, yaitu salinitas, temperatur, kandungan oksigen dan kandungan zat hara. Dari keempat parameter tersebut terdapat diagram yang dapat mengaitkan antara salinitas dengan temperatur yaitu diagram T-S. Salinitas dapat diplotkan di diagram tersebut dengan ditambahkan parameter kedalaman untuk lebih mengetahui karakteritik perairan.

Kasus Percampuran Tiga Massa Air Dalam kasus percampuran tiga massa/type air, massa air hasil percampuran (R) di dalam diagram T S terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh penyatuan titiktitik yang mewakili massa air I, II dan III. Jika suhu dan salinitas massa air R (TR, SR) diketahui dari pengukuran, secara grafis kita dapat menentukan berapa persen kontribusi massa air I, II dan III dalam membentuk R Perbandingan Porsi Massa Air I,II,III.

Cara membaca diagram T-S dilihat dari indikator yang terdapat di diagram tersebut, yaitu pada variabel X menunjukan salinitas, variabel Y temperatur potensial dan variabel Z untuk kedalaman.

III.

Upwelling Pengertian Upwelling

Upwelling didefinisikan sebagai fenomena naiknya massa air yang dingin dan berat serta kaya zat hara dari lapisan yang lebih dalam ke lapisan atas atau menuju permukaan. Massa air yang berasal dari lapisan dalam akan menggantikan kekosongan tempat aliran lapisan permukaan air yang menjauhi pantai (Hutabarat dan Evans, 1985). Laut dikenal memiliki stratifikasi massa air secara vertikal yaitu air di lapisan dalam mempunyai suhu lebih rendah dan zat hara lebih tinggi dibandingkan di permukaan. Peristiwa upwelling menyebabkan suhu lebih rendah dan zat hara menjadi lebih tinggi di permukaan. Di daerah upwelling, lapisan termoklin akan naik, bahkan mungkin mencapai permukaan dan terjadi anomali suhu rendah di permukaan dibanding sekitarnya (Smith, 1968). Upwelling yang terjadi di laut lepas sering dijumpai di sepanjang khatulistiwa dimana angin pasat bertiup sepanjang tahun, menyebabkan daerah divergen berkembang begitu kuat, sehingga lapisan termoklin bergerak vertikal ke permukaan. Keadaan pada daerah divergen tersebut menimbulkan kekosongan pada lapisan permukaan yang diisi oleh massa air dari lapisan di bawahnya (Barnes and Hughes, 1988). Menurut Barnes (1988), proses upwelling ini dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu : 1. Pertama, pada waktu arus dalam (deep current) bertemu dengan rintangan seperti mid-ocean ridge (suatu sistem ridge bagian tengah lautan) di mana arus tersebut dibelokkan ke atas dan selanjutnya air mengalir deras ke permukaan.

2.

Kedua, ketika dua massa air bergerak berdampingan, misalnya saat massa air yang di utara di bawah pengaruh gaya coriolis dan massa air di selatan ekuator bergerak ke selatan di bawah pengaruh gaya coriolis juga, keadaan tersebut akan menimbulkan ruang kosong pada lapisan di bawahnya. Kedalaman di mana massa air itu naik tergantung pada jumlah massa air permukaan yang bergerak ke sisi ruang kosong tersebut dengan kecepatan arusnya. Hal ini terjadi karena adanya divergensi pada perairan laut tersebut.

3.

Ketiga, upwelling dapat pula disebabkan oleh arus yang menjauhi pantai akibat tiupan angin darat yang terus-menerus selama beberapa waktu. Arus ini membawa massa air permukaan pantai ke laut lepas yang mengakibatkan ruang kosong di daerah pantai yang kemudian diisi dengan massa air di bawahnya.

Berdasarkan beberapa penelitian, upwelling di Indonesia terjadi antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. di Samudra Hindia selatan Pulau Jawa Nusa Tenggara Barat Sumatra, laut di Kepulauan Maluku,

6. Selat Makasar, perairan Kepulauan Selayar, Laut Banda dan Laut Arafura.

Pergerakan massa air yang disebabkan oleh perubahan iklim musiman (monsoon) juga berperan dalam penyebaran (migrasi) ikan terutama jenis pelagis. Wilayah yang di pengaruhi oleh fenomena ini adalah 1. Proses pelepasan material (discharge) yang beragam dari pantai ke laut merupakan fenomena oseanografi yangberpotensi dapat menurunkan kualitas air. 2. Selanjutnya di khawatirkan akan mengganggu kese imbangan ekosistem pesisir serta penurunan potensi sumberdaya perikanan laut.

Tipe upwelling

Setidaknya ada 5 tipeUpwelling, yaitu : 1. Coastal upwelling Merupakan upwelling yang paling umum diketahui, karena membantu aktivitas manusia dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan. Upwelling ini terjadi karena, efek coriolis yang membelokan angin kemudian permukaan laut akan terbawa oleh angin menjauhi pesisir, sehingga air laut dalam yang mengadung nutrien sangat tinggi, akan menggantikan air permukaan yang terbawa olehangin. Daerah yang sering terjadi coastal upwelling adalah pesisir Peru, Chili, Laut Arabia, Barat Daya Afrika, Timur New Zealand, Selatan Brazil, dan pesisir California 2. Equatorial Upwelling Serupa dengan coastal upwelling namun, lokasi terjadi berada di daerah equator. 3. Southern Ocean Upwelling Upwelling yang disebabkan oleh angin yang berhembus dari barat bertiup ke arah timur di daerah sekitar Antartica membawa air dalam jumlah yang sangat besar ke arah utara. Upwelling ini serupa dengan coastal upwelling, namun berbeda dalam lokasi, karena pada daerah selatan tidak ada benua atau daratan besar antara Amerika Selatan dan Antartika, sehingga upwelling ini membawa air dari daerah laut dalam. 4. Tropical Cyclone Upwelling Upwelling yang disebakan oleh tropical cyclone yang melewati area. Biasanya hanya terjadi pada cyclone yang memiliki kecepatan 5 mph (8 km/h). 5. Artificial Upwelling Tipe upwelling, yang disebabkan oleh energi gelombang atau konversi dari energi suhu laut yang dipompakan ke permukaan. Upwelling jenis ini yang menyebabkan blooming algae. Secara ekologis, efek dari upwelling berbeda-beda, namun ada dua akibat yang utama :

Pertama, upwelling membawa air yang dingin dan kaya nutrien dari lapisan dalam, yang mendukung pertumbuhan seaweed dan blooming

phytoplankton. Blooming phytoplankton tersebut membentuk sumber energi bagi hewan-hewan laut yang lebih besar termasuk ikan laut,mamalia laut, serta burung laut. Akibat kedua dari upwelling adalah pada pergerakan hewan. Kebanyakan ikan laut dan invertebrata memproduksi larva mikroskopis yang melayanglayang di kolom air.Larva-larva tersebut melayang bersama air untuk beberapa minggu atau bulan tergantung spesiesnya. Spesies dewasa yang hidup di dekat pantai, upwelling dapat memindahkan larvanya jauh dari habitat asli, sehingga mengurangi harapan hidupnya. Upwellingmemang dapat memberikan nutrien pada perairan pantai untuk produktifitas yang tinggi, namun juga dapat merampas larva ekosistem pantai yang diperlukan untuk mengisi kembali populasi pantai tersebut.

IV.

Pengaruh terhadap sektor Perikanan

Meningkatnya produksi perikanan di suatu perairan dapat disebabkan karena terjadinya proses air naik (upwelling). Karena gerakan air naik ini membawa serta air yang suhunya lebih dingin, salinitas yang tinggi dan tak kalah pentingnya zat-zat hara yang kaya seperti fosfat dan nitrat naik ke permukaan. (Nontji, 1993). Meningkatnya densitas ikan pelagis pada perairan upwelling disebabkan

oleh ketersediaan makanan yang cukup untuk larva dan ikan kecil dan besar. Termasuk ikan pelagis pemangsa seperti tuna yang bermigrasi ke dekat lokasi upwelli ng. Perairan upwelling dicirikan dengan nilai suhu permukaan laut yang rendah di bawah 28 C dan diikuti naiknya kandungan klorofil-a (0.8 - 2.0 mg).

V.

Hasil Pengolahan Data Kelompok 4 mengambil contoh stasiundaerah upwelling di selat Makassar.

Secara geografis Selat Makassar berbatasan dan berhubungan dengan Samudera Pasifik di bagian utara melalui Laut Sulawesi dan di bagian selatan dengan Laut Jawa dan laut Flores, sedangkan bagian barat berbatasan dengan Pulau Kalimantan dan bagian timur dengan Pulau Sulawesi. Masuknya massa air bersalinitas rendah dari daratan Pulau Kalimantan dan Sulawesi, serta pertukaran massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia melalui Laut Sulawesi, Laut Flores dan laut Jawa mempengaruhi tingkat produktivitas primer di perairan Selat Makassar.

Grafik section selat makassar

Grafik section kedalaman terhadap temperatur di atas memperlihatkan lapisan termoklin yang berada berada di atas mendekati lapisan permukaan perairan. Hal ini menunjukkan indikasi telah terjadinya upwelling. Peristiwa upwelling menyebabkan suhu lebih rendah dan zat hara menjadi lebih tinggi di permukaan. Di daerah upwelling, lapisan termoklin akan naik, bahkan mungkin mencapai permukaan dan terjadi anomali suhu rendah di permukaan dibanding sekitarnya (Smith, 1968).

Diagram T-S perairan selat makassar

Semakin tingginya suhu maka salintas akan semakin berkurang begitupun sebaliknya.

VI.

Upwelling di Selat Makassar

Selat Makassar merupakan perairan yang relatif lebih subur bila dibandingkan dengan perairan lainnya di Indonesia. Suburnya perairan Selat Makassar terjadi sepanjang tahun baik pada musim barat maupun pada musim timur. Pada musim

barat, tingginya tingkat kesuburan terjadi karena adanya run off dari daratan Kalimantan maupun Sulawesi dalam jumlah besar akibat curah hujan yang cukup tinggi, sedangkan pada musim timur penyuburan terjadi karena adanya penaikan massa air (upwelling) di Selat Makassar (Illahude, 1978). Illahude (1970) menjelaskan bahwa selama angin musim tenggara (Agustus) upwelling terjadi secara rutin di Selat Makassar bagian Selatan. Terjadinya upwelling menyebabkan salinitas tinggi, SPL rendah, densitas tinggi, oksigen relatif rendah dan fosfat tinggi terutama pada batas bawah dari lapisan homogen. Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk mengkaji daerah upwelling di Selat Makassar. Penelitian diawali dengan penelitian berskala in situ yaitu penelitian yang dilakukan oleh Wyrtki (1961) dan Illahude (1970) menunjukkan bahwa terjadi upwelling di bagian selatan perairan Selat Makassar. Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh Afdal (2004) dan Riyono (2006) dengan menganalisis sebaran klorofil yang dikaitkan dengan kondisi hidrologi perairan Selat Makassar dan menemukan adanya peningkatan konsentrasi klorofil di lokasi yang sama. Penelitian ini kemudian dilanjutkan oleh Munandar (1998) dan Rosyadi (2011) menggunakan data penginderaan jauh citra NOAA AVHRR dan SeaWiFS untuk melihat variabilitas suhu dan klorofil-a di perairan SelatMakassar. Yuwono (2010) dan Rasyid (2010) juga menunjukkan adanya penampakan tingkat produktifitas yang tinggi di selatan perairan Selat Makassar dengan menggunakan citra satelit MODIS yang kemudian dihubungkan dengan hasil tangkapan ikan. Semua penelitian tersebut baik yang berskala in situ maupun dengan menggunakan teknologi peninderaan jauh menunjukkan terjadinya upwelling dengan dugaan kehadirannya yang terjadi pada periode-periode tertentu setiap tahunnya. Hal ini menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut, mengingat fenomena ini sebelumnya telah banyak dikaji namun metode yang digunakan masih terpisah-pisah dengan batasan area upwelling yang belum jelas karena daerah yang dikaji tentu tidaklah sempit. Oleh karena itu, poin yang kemudian menjadi penting untuk dikaji adalah bagaimanakah fenomena upwelling beserta pola sebarannya ini dapat diamati dengan

lebih baik secara spasial maupun temporal di bagian selatan perairan Selat Makassar dengan menggunakan bantuan teknologi penginderaan jauh. Hasil dari kajian ini nantinya diharapkan dapat memberikan informasi secara lengkap dan menyeluruh, karena mengingat upwelling itu sendiri tentunya sangat berkaitan erat dengan tingkat produktifitas primer yang ada di suatu kawasan termasuk di perairan Selat Makassar.

Faktor-faktor yang menunjukkan terjadinya Upwelling di selat Makassar Lapisan Termoklin Berdasarkan hasil analisis pada sebaran nilai SPL terlihat bahwa secara umum, kejadian upwelling pada tahun 2009 dan 2010 yang terjadi di bagian selatan perairan Selat Makassar dimulai pada bulan Juni dan mencapai puncaknya pada bulan Agustus. Minggu pertama bulan Agustus memperlihatkan fenomena meluasnya suhu permukaan laut dengan tingkat yang rendah yang mengindikasikan semakin memuncak dan meluasnya daerah sebaran upwelling. Indikasinya terjadinya upwelling pada periode Mei-Agustus (Musim Timur) didukung pula dengan berubahnya lapisan termoklin (Gambar 23).

Curah Hujan Data curah hujan yang dipilih adalah data curah hujan lokal untuk wilayah Makassar, Sulawesi Selatan. Makassar merupakan daerah yang dipilih karena wilayah ini merupakan wilayah yang paling dekat dengan lokasi yang diteliti dengan asumsi bahwa curah hujan daerah terdekat lebih besar mempengaruhi dibandingkan dengan daerah atau wilayah lain di sekitar Selat Makassar. Berdasarkan analisis data curah hujan untuk rata-rata setiap bulannya terlihat bahwa pada bulan Desember-Februari (Musim Barat) curah hujan (mm) berkisar antara 533-734 mm, bulan Maret-April (Musim Peralihan I) berkisar antara 235-391 mm, bulan Mei-Agustus (Musim Timur) berkisar antara 15-127 mm, dan bulan September-November (Musim Peralihan II) berkisar antara 32-273 mm.

Namun menurut pendapat Illahude (1970) menyatakan bahwa upwelling di bagian selatan Selat Makassar berlangsung selama Musim Timur (Juni-September). Fenomena upwelling tersebut disebabkan oleh dua faktor yaitu sirkulasi massa air dan arah angin. Untuk sirkulasi massa air, pada Musim Timur arus dari utara Selat Makassar bertemu dengan massa air yang datang dari Laut Flores di selatan Selat Makassar dan mengalir menuju Laut Jawa, sehingga terjadi kekosongan massa air di daerah selatan Selat Makassar. Kekosongan ini akan diisi oleh massa air di bawahnya yang memiliki suhu dan oksigen terlarut yang rendah serta nilai salinitas, fosfat, nitrat, dan silikat yang tinggi (Illahude, 1970, 1978; Wyrtki, 1961). Faktor kedua yang mempengaruhi upwelling selain sirkulasi massa air adalah angin. Angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara yang merupakan hasil dari pengaruh ketidakseimbangan pemanasan sinar matahari terhadap tempat-tempat yang berada di permukaan bumi. Berdasarkan Brown et al. (2004) angin bertiup dari daerah yang memiliki tekanan tinggi menuju daerah yang bertekanan rendah. Pola pergerakan angin di Indonesia pada umumnya mengikuti pergerakan musim. Setiap musim memiliki arah pergerakan angin yang berbeda-beda

DAFTAR PUSTAKA Sidjabat, M.M. 1974. Pengantar Oseanografi. Institut Pertanian Bogor: 127 pp. Pond, S dan G.L.Pickard, 1983.Introductory Dynamical Oceanography.Second Edition. Pergamon Press. Bowden,K.F. 1983. Physical Oceanography of Coastal Waters http://alirohman11.blogspot.com/2013/03/bab-i-pengaruh-suhu-salinitas-arus.html http://oseanografi.blogspot.com/2005/07/densitas-air-laut.html http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/7022/bab%202_%202002jan. pdf http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/12/peranan_upwelling.pdf

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52263/BAB%20I%20Pendahu luan.pdf http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52263/BAB%20IV%20Hasil %20dan%20Pembahasan.pdf?sequence=6 http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52263/2011dfi.pdf?sequence= 1