Anda di halaman 1dari 4

Inkontinensia Alvi 1. Pengertian Inkontinensia alvi lebih jarang ditemukan dibandingkan inkontinensia urin.

Defekasi, seperti halnya berkemih, adalah proses fisiologik yang melibatkan koordinasi sistem saraf, respon refleks, kontraksi otot polos, kesadaran cukup serta kemampuan mencapai tempat buang air besar. Perubahan-perubahan akibat proses menua dapat menyebabkan terjadinya inkontinensia, tetapi inkontinensia alvi bukan merupakan sesuatu yang normal pada lanjut usia. Ikontinensia alvi adalah ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar, menyebabkan feses bocor tidak terduga dari dubur. Inkontinensia alvi juga disebut inkontinensia usus. Inkontinensia alvi berkisar terjadi sesekali saat duduk hingga sampai benar-benar kehilangan kendali. 2. Etiologi Penyebab inkontinensia alvi dapat di bagi menjadi 4 kelompok : a. Inkontinensia akibat konstipasi Batasan konstipasi adalah buang air besar kurang dari tiga kali per minggu. Tetapi banyak penderita sudah mengeluhkan konstipasi bila ada kesulitan mengelurkan feses yang keras atau merasa kurang puas saat BAB. b. Inkontinensia alvi simtomatik Merupakan macam-macam kelainan patologik yang dapat menyebabkan diare yang ditandai dengan perubahan usia pada sfingter terhadap feses cair dan gangguan pada saluran anus bagian atas dalam membedakan flatus dan feses yang cair. Penyebab yang lain seperti kelainan metabolik misalnya DM, kelainan endokrin seperti tirotoksitosis, kerusakan sfingter anus sebagai komplikasi dari operasi hemoroid yang kurang berhasil dan prolapses rekti. c. Inkontinensia alvi neurologik Inkontinensia ini terjadi akibat gangguan fungsi yang menghambat dari korteks serebri saat terjadi regangan atau distensi rektum yang terjadi pada penderita dengan infark serebri multiple atau penderita demensia. d. Inkontinensia alvi akibat hilangnya reflek anal Inkontinensia alvi ini terjadi akibat hilangnya reflek anal disertai dengan kelemahan otot-otot. 3. Patofisiologi Fungsi traktus gastrointestinal biasanya masih tetap adekuat sepanjang hidup. Namun demikian beberapa orang lansia mengalami ketidaknyamanan akibat motilitas yang melambat. Peristaltik di esophagus kurang efisien pada lansia. Selain itu, sfingter gastroesofagus gagal berelaksasi, mengakibatkan pengosongan esophagus terlambat.keluhan utama biasanya berpusat pada perasaan penuh, nyeri ulu hati, dan gangguan pencernaan. Motalitas gaster juga menurun, akibatnya

terjadi keterlambatan pengosongan isi lambung. Berkurangnya sekresi asam dan pepsin akan menurunkan absorsi besi, kalsium dan vitamin B12. Absorsi nutrient di usus halus juga berkurang dengan bertambahnya usia namun masih tetap adekuat. Fungsi hepar, kantung empedu dan pankreas tetap dapat di pertahankan, meski terdapat insufisiensi dalam absorsi dan toleransi terhadap lemak. Impaksi feses secara akut dan hilangnya kontraksi otot polos pada sfingter mengakibatkan inkontinensia alvi.

4. Manifestasi Klinik Secara klinis, inkontinensia alvi dapat tampak sebagai feses yang cair atau belum berbentuk dan feses keluar yang sudah berbentuk, sekali atau dua kali sehari dipakaian atau tempat tidur. Perbedaan penampilan klinis ini dapat menunjukkan penyebab yang berbeda-beda, antara lain inkontinensia alvi akibat konstipasi (sulit buang air besar), simtomatik (berkaitan dengan penyakit usus besar), akibat gangguan saraf pada proses defekasi (neurogenik), dan akibat hilangnya refleks pada anus. 5. Penatalaksanaan Dengan diagnosis dan pengobatan yang sesuai (tindakan suportif, obatobatan dan bila perlu pembedahan), inkontinensia alvi pada usia lanjut hampir seluruhnya dapat dicegah dan diobati. Tujuannya tidak hanya terletak pada keadaan yang kurang nyaman, tetapi fakta bahwa inkontinensia alvi merupakan petunjuk pertama adanya penyakit pada saluran cerna bagian bawah yang memerlukan pengobatan dini jika benar-benar ditemukan.