Anda di halaman 1dari 10

MENUJU EKONOMI POLITIK AKUNTANSI: SEBUAH ILUSTRASI EMPIRIS BARU TENTANG KONTROVERSI CAMBRIDGE Tinker, Anthony M.

Selama lebih dari satu abad ekonomi didominasi oleh dua posisi teoritis: ekonomi politik klasik dan ekonomi marginalism neo klasik. Dari dua paradigma ini muncul teori nilai utama: teori tenaga kerja dan teori nilai marginalis. Sampai saat ini marginalism telah menjadi perhatian utama, namun demikian sejak Cambridge Controversies dan kritik Piero Sraffa terhadap marginalism ada kemunculan ketertarikan lagi pada ekonomi politik klasik. Satu hasilnya adalah perdebatan Cambridge: Sejauh ini akuntansi menggunakan marginalism untuk landasan teoritis kemudian landasan tersebut salah. Paper ini mereview beberapa kontroversi dan mengilustrasikan bagaimana ide akuntansi dipengaruhi oleh kritik marginalism. Sebuah pendekatan alternatif terhadap akuntansi (didasarkan pada ide ekonomi politik) kemudian diselidiki dengan menggunakan bukti dari studi empiris usaha multinasional. Apakah figure dasar yang dimaksud dari income statement (laporan rugi laba)? Apakah interpretasi yang dapat diberikan padanya? Perusahaan bisnis melakukan perdagangan pada f dan pasar produk yang membentuk bagian ekonomi masyarakat. Ketika profit adalah hasil dari perdagangan dalam pasar ini, kita menyimpulkan bahwa profit adalah sebuah indikasi bukan saja viabilitas (kelangsungan hidup) pasar perusahaan tetapi juga efisiensi sosial dalam menggunakan sumberdaya masyarakat? Tingkat profit alternatif mungkin mencerminkan kekuatan sosial kapitalis. Dalam pandangan ini, besarnya biaya dalam income statement (termasuk profit) menjadi indikasi kekuatan monopolisiis, sosial, dan institusional bukannya produktivitas dan efisiensi sosial. Pandangan kedua yang disampaikan oleh income statement pada kita berhubungan dengan dua posisi teoritis yang telah mendominasi pemikiran ekonomi: ekonomi politik klasik dan ekonomi marginalist neo-klasik. Ketika diaplikasikan pada income statement kedua teori ini menyampaikan penjelasan bertentangan seperti apakah yang ditunjukkan oleh income dan bagaimana ditentukan. Tabel 1 meringkas perbedaan teoritis antara kedua sudut pandang ini ditunjukkan bahwa mereka berbeda bukan semata-mata terhadap apa yang dimaksud dengan profit tetapi juga bagaimana tingkat profit ditentukan. Contoh, teori produktivitas marginal mungkin mengadopsi pendekatan yang dekat dengan engineering: berhubungan dengan cara bagaimana input sumberdaya fisik ditransformasikan ke dalam output dan peranan profit sebagai kriteria efisiensi dalam proses ini. Sebaliknya, ekonomi politik mengatributkan divisi income (dan oleh karena itu tingkat profit yang sejalan dengan modal) terhadap distribusi kekuasaan dalam masyarakat dan struktur institusional dan sosial politik yang mencerminkan distribusi kekuasaan. Penjelasan marginalist berkonsentrasi kepada apa yang disebut dengan kekuatan produksi. Dalam analisis ekonomi ini disampaikan bersama-sama dalam analisis fungsi produksi. Mereka meliputi aspek teknologi input dan kuantitas output dari koefisien transformasi. sebaliknya, ekonomi politik menggunakan hubungan produksi: sebuah analisis divisi kekuatan antara kelompok yang berkepentingan dalam masyarakat dengan proses institusional di mana kepentingan tersebut dikembangkan. Perbedaan antara alternatif teoritis ini dikristalisasi oleh studi kasus empiris yang dijelaskan dalam akhir bab ini. Kasus studi tersebut berhubungan dengan sejarah sosio ekonomi multinasional di Inggris (Delco) yang beroperasi di Afrika. Delco beroperasi pada bisnis

ekstraksi bijih besi di Sierra Leone selama 46 tahun. Perusahaan tersebut tutup pada tahun 1976. Penelitian berusaha untuk menghubungkan sejarah akuntansi perusahaan dengan sejarah politik dan sosial. Sebuah analisis periodisasi data historis digunakan untuk mengilustrasikan hubungan antara variabel-variabel akuntansi dan sosio politik. 46 sejarah Delco dibagi ke dalam tiga periode: kolonial awal; kolonial akhir dan pasca kolonial. Sebuah income statement kemudian dipersiapkan untuk masing-masing periode yang meringkas distribusi income perusahaan untuk periode tersebut. Perbedaan antara tiga income statement (misalnya perubahan distribusi penghasilan) kemudian dihubungkan dengan perubahan kondisi politik dan sosial yang mendasarinya. Tabel 2 berisi sebuah sampel biaya item-item dari income statement Delco. Biaya ditunjukkan pada bentuk moneter dan sebagai prosentase dari revenue penjualan. Pertanyaan kami sebelumnya mungkin sekarang diarahkan pada data dalam tabel 2: apakah return terhadap investor, tenaga kerja dan institusi pemerintah menunjukkan produktivitas marginal mereka dalam produksi ? Contoh, 43 juta pound diperoleh oleh investor selama periode 46 tahun. Apakah ini bagian dari distribusi income efisien dalam pemahaman bahwa pada margin tersebut, laba memadai diberikan kepada investor untuk memastikan bahwa modal tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk titik di mana akan menguntungkan untuk melakukan itu? Dengan cara yang sama, apakah tingkat upah secara kasar menunjukkan nilai tenaga kerja dalam produksi ? Apakah ide keadilan sosial dalam penjelasan marginalis ini memberikan pemahaman bahwa setiap faktor mendapatkan input berdasarkan ganjaran menurut jumlah laba yang dihasilkan oleh nilai yang dikontribusikan ? Pembagian kembali ventura ke dalam tiga periode utama (masing-masing dengan income statement sendiri) menunjukkan sebuah penjelasan alternatif tentang distribusi income pada tabel 2. Terkait dengan income statement, data untuk satu periode adalah konfigurasi unik kondisi politik dan sosial. Kami akan membahas bagaimana keduanya berhubungan: data income adalah produk dari realitas sosio ekonomi dan perbedaan antara item-item dalam tiga income statement mungkin dapat ditelusuri pada perubahan dalam realitas. Dengan cara ini, kita mungkin dapat menggunakan ekonomi politik untuk menjelaskan dan memprediksi angka akuntansi. Bagian selanjutnya menunjukkan bagaimana teori dan praktek akuntansi kontemporer sangat tergantung kepada pemikiran marginalist Ini diikuti oleh review Cambridge Controversies: sebuah diskusi yang menunjukkan bahwa marginalist yang mendasari akuntansi masih kekurangan landasan logis. Paper ini kemudian kembali untuk menjelaskan mode analisis ekonomi politik klasik dan mengilustrasikan bagaimana ini dapat diaplikasikan pada data akuntansi perusahaan Delco. MARGINALISM DAN AKUNTANSI Sangat sedikit sarjana akan menyangkal bahwa ekonomi marginalist telah mempunyai dampak besar dalam membentuk teori akuntansi. Ini tidak mengatakan bahwa praktek akuntansi kontemporer adalah aplikasi marginalism, tetapi jika teori mempunyai peranan penting dalam menentukan praktek maka teori marginalist barangkali mempunyai kontribusi lebih besar dibandingkan dengan lainnya dalam praktek akuntansi. Teori ekonomi khusus ini telah memberikan pedoman bagi definisi income, Valuasi aset dan baru-baru ini pada penentuan standar keuangan (Hicks, 1946, Dyckman 1977). Keluasan marginalism dalam pemikiran akuntansi diilustrasikan oleh pandangan sebagai berikut: Akuntansi menjelaskan sebuah area ekonomi yang berhubungan dengan pengukuran fenomena ekonomi (Dyckman 1977 halaman 206).

Daya tarik marginalism bagi teoritikus akuntansi mungkin dapat dipahami jika kita mencerminkan struktur konseptual marginalism. Kekuatan dan kekuasaan marginalism muncul dari potensial dalam menghubungkan pengambilan keputusan rasional pada bermacam-macam level: level individual, level perusahaan dan seluruh ekonomi. Sementara kemampuan untuk mencapai integrasi konseptual ini seringkali ditentang, marginalism mempunyai beberapa rival saat ini sebagai sebuah organisasi kerangka untuk pemikiran akuntansi. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa marginalism telah berkembang di luar domain teoritis untuk masuk secara tidak sadar kepada praktisi. Dengan demikian Keynes mengacu kepada orang praktis yang percaya dirinya bebas dari pengaruh intelektual yang biasanya menjadi budak dari beberapa ekonom defunct (tak berfungsi). (Keynes, 1936 halaman 383). Kita dapat menyelidiki kontribusi marginalism terhadap akuntansi dalam cara berikut. Bayangkan ekonomi sangat sederhana yang menghadapi dua cara alternatif dalam mengorganisasi sistem ekonomi. Kedua metode organisasi tersebut diistilahkan sebagai produksi dan didefinisikan sebagai berikut. Tabel Problem yang kita alamatkan adalah: Mana teknik yang paling diinginkan secara sosial? Teknik A membutuhkan investasi w manusia-tahun dalam tahun 0 untuk mendapatkan return $5 dalam tahun 2. Teknik B membutuhkan pembelanjaan y manusia-tahun untuk mendapatkan return $1 (tahun 1) dan $6 (tahun 3). Present value dari masing-masing teknik (nilai moneter dari w dan y) tergantung kepada tingkat diskon yang diaplikasikan kepada future return. Dengan mensubstitusi tingkat diskon berbeda ke dalam formula present value kita mendapatkan range present value untuk setiap teknik. Hasilnya disajikan secara grafik dlm figur 1. Perhatikan bahwa tidak mungkin menilai bahwa satu teknik secara sosial paling diinginkan terlepas suku bunga: teknik A adalah dominan di atas 100-200 persen range sementara teknik B unggul sampai dengan 100 persen dan di atas 200 persen. Dengan demikian kita hanya berbicara teknik yang diinginkan untuk masyarakat dengan melihat kepada suku bunga tertentu. Perusahaan-perusahaan bisnis individual mungkin dimasukkan ke dalam analisis ini sebagai berikut: : Figure 1 mungkin sekarang dipandang sebagai kemungkinan investasi yang dihadapi oleh perusahaan khusus. Pembaca lain m untuk memvisualisasi beberapa perusahaan dengan menggunakan teknik A: lainnya mempertimbangkan teknik B dan kelompok ketiga mempertimbangkan kedua teknik. Jika suku bunga dalam ekonomi adalah 250 persen maka, dari sudut pandang masyarakat, sebuah alokasi sumberdaya efisien akan terjadi jika investor tertarik pada perusahaan yang akan memilih teknik B (dengan present value tertinggi). Dengan demikian dari sudut pandang perusahaan, teknik B memberikan posisi pasar paling kompetitif. Contoh tersebut mengilustrasikan dua level analisis akuntansi. Pertama adalah level masyarakat dan ini menunjukkan bagaimana teknik produksi berbeda dapat diranking menurut keinginan sosial mereka (di mana keinginan didefinisikan dalam bentuk income yang sejalan dengan pekerja dan kapitalis). Dalam konteks ini akuntansi keuangan mungkin membantu mengalokasikan sumberdaya dengan menginformasikan kepada investor tentang keinginan relatif kedua teknik tersebut. Level analisis kedudukan adalah mikroekonomi dan menunjukkan kesempatan investasi yang dihadapi oleh perusahaan khusus dalam ekonomi. Untuk tetap kompetitif perusahaan khusus harus memilih teknik dengan present value tertinggi. Sistem akuntansi manajemen mungkin membantu manajemen dalam pilihan ini dengan secara benar menilai alternatif investasi. Namun demikian yang terpenting, pandangan integrative perusahaan dan ekonomi yang ditawarkan marginalism terhadap akuntansi. Berapapun suku bunga pasar, alternatif terbaik

bagi masyarakat adalah alternatif terbaik juga bagian perusahaan. Aspek penyatuan ini adalah satu alasan paling menarik untuk menggunakan kebijakan akuntansi yang sejalan dengan prinsipprinsip marginalist. Ekonom marginalist seperti Fisher (1930) Hick (1946) dan Hirshleifer telah mengembangkan konsep nilai ekonomi dan income ekonomi yang berhubungan dengan nilai konsumsi mendatang. Menjadi subyek kualifikasi tertentu, informasi cash flow dapat digunakan untuk menilai present value dari kemungkinan mendatang tersebut (Hicks, 1946, pp. 172-176; Solomons, 1961; Parker & Harcourt, 1969, p. 8; Revsine, 1970; Scapens, 1978, p. 448) Ide marginalist ini sudah membentuk bagian kebijakan akuntansi: perhitungan present value digunakan untuk menilai lease dan menilai biaya tersebut sebagai depresiasi ekonomi dan itemitem pensiun pegawai. Dalam area ini tidak ada perbedaan antara konsep nilai marginalist (diilustrasikan dengan melihat kepada teknik A dan B) dan kebijakan akuntansi sekarang. Namun demikian barangkali aplikasi paling komprehensif dari pemikiran marginalist ditemukan dalam realisme akuntansi biaya penggantian. Pendukung Biaya penggantian seringkali menggunakan konsep nilai marginalist sebagai patokan atau ideal untuk memutuskan proposal mereka sendiri terhadap pengukuran akuntansi (Casberg and edey 1969 halaman 73-112). Contoh, Edward and Bell memberikan ilustrasi detail yang menunjukkan bahwa seiring waktu, income ekonomi perusahaan akan bertemu dengan income biaya penggantian dan present value dari aset akan bertemu dengan biaya penggantian mereka (Edward and Bell 1961). Perhatikan bahwa bagi Edward and bell, konvergensi dengan nilai marginalist ini menjadi landasan penting yang sejalan dengan biaya penggantian untuk tujuan laporan keuangan. Mereka membandingkan prinsip-prinsip marginalist secara langsung dalam hubungannya terhadap akuntansi manajemen. Dalam area ini, manajemen rasional diharapkan menggunakan present value dari penggunaan alternatif aset mereka (Edwards & Bell, 1961, pp. 37-38; Parker & Harcourt, 1969, pp. l-30). Kami sudah membahas bagaimana teoritikus akuntansi telah mengembangkan metode yang secara langsung dan secara tidak langsung berusaha mengukur konsep nilai dan income dari marginalist. Cambridge Controversies berhubungan dengan validitas konsep nilai dan income marginalist. Mereka menentang kesimpulan yang telah disampaikan sebelumnya (dalam hubungannya terhadap figure 1) bahwa untuk suku bunga pasar tertentu, kita dapat menyimpulkan bahwa satu teknik lebih diinginkan secara sosial. Jika kita tidak mampu membuat kesimpulan ini maka marginalism mulai kehilangan beberapa Keuntungannya sebagai skema koheren dan terintegrasi untuk kebijakan akuntansi. CAMBRIDGE CONTROVERSIES Figure 1 akan membantu lebih lanjut pemahaman kita tentang kesulitan marginalism. Problem dalam figure 1 adalah mengidentifikasi teknik yang paling diinginkan secara sosial. Kita perlu mengasumsikan tingkat diskon untuk memecahkan problem ini dan menggunakan 250 persen. Bagaimanakah kita memutuskan mana rate yang digunakan ? Dua jawaban alternatif ditawarkan dalam literatur marginalist: pertama, suku bunga yang ada dan kedua, tingkat yang relevan (misalnya solusi final tidak tergantung kepada suku bunga dan oleh karena itu distribusi income). Paper ini membahas jawaban pertama: kami secara kritis akan mengkaji kasus tersebut dengan menggunakan suku bunga pasar. Pembaca dapat melihat Kregel (1976) untuk jawaban terhadap pertanyaan kedua. Kregel menunjukkan bahwa: pertama, bahwa dalam kasus paling sepele dan tidak realistis, pilihan tingkat diskon adalah penting dan (demikian juga distribusi income). Kedua, dengan menggunakan sampel penggantian teknik, ditunjukkan bahwa

marginalism adalah teori underdeterminent (kurang pasti): tidak menyampaikan teknik prediksi dan penjelasan tentang perilaku ekonomi riil tetapi multiplisitas penjelasan dan prediksi yang bertentangan. Ketiga, kita melihat bahwa dua blok bangunan sentral dalam argumen marginalist (teori produktivitas marginal dan hukum diminishing marginal return) adalah salah. Apakah ada pembenaran untuk penggunaan suku bunga pasar dalam hubungan dengan figure 1? Pertanyaan ini membutuhkan kajian Cambridge Controversies. Review dari perdebatan ini sudah ada di mana lebih komprehensif dibandingkan dengan yang dapat dijelaskan di sini (sebagai contoh lihat Robinson 1953-1954). Namun demikian beberapa isu sentral dapat diselidiki dengan menggunakan studi marginalist klasik yang dilakukan oleh Arrow, Chenery, Minhas dan Solow 1961). Ini adalah analisis komparatif ekonom enam puluhan yang menyelidiki hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan intensitas modal. Dalam hubungannya terhadap figure 1 studi empiris ini membahas pertanyaan: apakah rangkaian teknik yang menghasilkan level output nasional tertinggi seiring waktu ? Studi ini menyampaikan pertanyaan: Bagaimanakah kita mengukur kuantitas barang modal dalam ekonomi dan kuantitas output nasional ? Sumberdaya tenaga kerja mempunyai ukuran fisik dalam pengertian jam tenaga kerja, serupa dengan sumberdaya lain (seperti tanah) sehubungan dengan ukuran fisik (misalnya acre). Apa fisik yang ekuivalen dengan pengukuran kuantitas modal dan kuantitas output nasional ? Perhatian ini dapat diilustrasikan dengan melihat kepada fungsi prediksi sederhana untuk ekonomi nasional yang ditunjukkan oleh figure 2. Hanya dua faktor produksi yang diperhatikan dalam contoh ini: tenaga kerja dan modal. Q1, Q2 dan Q3 adalah contoh dari kurva iso product: masing-masing kurva menunjukkan alternatif kombinasi ke depan tenaga kerja dan modal yang mampu memproduksi level output nasional sama. T1 dan T2 adalah anggota famili harga, anggaran atau garis income . Slope dari Aristoteles ini ditentukan oleh rasio harga pasar faktor input. Seluruh titik yang membentuk garis tunggal menunjukkan kemungkinan kombi berbeda faktor-faktor yang mampu memproduksi level income nasional sama. titik pada garis sama berbeda pada level income nasional tertentu yang didistribusikan antara tenaga kerja dan modal. Berapa banyak tenaga kerja dan modal yang akan digunakan untuk memproduksi level output QQ2 dalam ekonomi persaingan sempurna? Bagaimanakah income nasional akan didistribusikan antara dua faktor tersebut? Teori neoklasik menyampaikan pada kita bahwa, dalam jangka pendek maka faktor kuantitas adalah tetap pada : dan C, harga relatif dari tenaga kerja dan modal akan menyesuaikan terhadap permintaan dan penawaran sama. Pada titik V dalam figure 2, output nasional maksimum (Q2) dicapai (dan faktor kuantitas L dan C sepenuhnya digunakan) menunjukkan harga pasar disesuaikan dengan slope T2. Harga ekulibrium ini tercermin dalam slope garis harga yang menunjukkan solusi minimum pada titik persinggungan antara garis harga T2 dengan kurva iso-product Q2. Misalnya bahwa persediaan modal bergerak ke C. Harga akan lebih murah relatif terhadap tenaga kerja sehingga menyebabkan perubahan slope garis harga menjadi T. Ini menghasilkan level output nasional lebih tinggi pada Q3 dengan ekulibrium baru untuk upah dan suku bunga (pada V). Ini adalah penjelasan neo-klasik tentang bagaimana ekonomi kompetitif secara simultan memecahkan problem produksi dan distribusi income . Seperti disampaikan Harcourt and Laing fungsi produksi adalah metode analisis untuk membunuh dua burung dengan satu batu, ini menunjukkan bagaimana level ketenagakerjaan dan modal ditentukan dan bagaimana income nasional dibagi antara tenaga kerja dan modal (Harcourt and Laing 1971). Distribusi income nasional ditentukan dengan mengalikan kuantitas tenaga kerja dan modal dengan upah ekulibrium dan suku bunga.

Dalam jangka panjang persediaan tenaga kerja dan modal menjadi variabel. Kondisi ekulibrium jangka panjang ditentukan oleh produktivitas marginal bersih dari masing-masing faktor : persediaan akan meningkat sampai net marginal revenue sama dengan nol untuk setiap faktor. Dan ini adalah alasan marginalist menggunakan suku bunga pasar dalam figure 2. Modal diasumsikan mempunyai produktivitas marginal dan suku bunga pasar yang ada mencerminkan nilai produktivitas dari produksi akhir. Tetapi apakah kita dapat mengatakan bahwa modal mempunyai produktivitas dalam pengertian sama seperti tanah atau tenaga kerja? Kembali kepada figure 2, bagaimanakah stock modal diukur? Sebuah ukuran kuantitas yang seringkali digunakan adalah present value dari aliran income yang diharapkan sejalan dengan pemilik modal (Samuelson 1976 halaman 615). Tetapi di mana kita mendapatkan tingkat diskon dan aliran income bersih untuk periode ini ? Aliran income yang diharapkan membutuhkan estimasi income nasional dan pembagian income antara tenaga kerja dengan modal. Tetapi ini adalah analisis yang ingin dihasilkan oleh analisis: misalnya distribusi income optimal dalam pengertian output, ketenagakerjaan dan pertumbuhan. (Ini akan memberikan harga ekulibrium yang menyamakan tingkat substitusi marginal modal dan tenaga kerja (Samuelson 1976 halaman 547-557). Dengan kata lain, asumsi yang dibutuhkan (agar analisis dapat dilakukan) memberi kita solusi sebelum kita memulai. Jauh dari memberikan solusi optimal terhadap problem produksi, distribusi income dan kebijakan pertumbuhan, analisis ini menunjukkan bahwa problem tersebut tidak bisa ditentukan kecuali distribusi income dipastikan sebelumnya. Tetapi tidak ada alasan yang dapat disampaikan untuk memilih satu distribusi income dengan melihat pada lainnya. Di luar itu semua, ini adalah apa yang ingin dipecahkan oleh analisis (Harcourt 1969 halaman 370). Penjelasan marginalist ini bersifat ontologism: kita mulai dengan bertanya bagaimana tingkat profit ditentukan dan jawabannya adalah dengan melihat kepada kuantitas modal dan revenue marginal produk. Kita kemudian bertanya bagaimana ini ditentukan dan jawabannya adalah dengan mengasumsikan pembagian income mendatang dan diskon return terhadap modal dengan suku bunga pasar. Semua telah mengatakan bahwa suku bunga pasar adalah fungsi suku bunga pasar (dan asumsi distribusi income ). Harus ditekankan bahwa kekurangan ini mengacu marginalism sebagai teori, bukan harus kapitalisme sebagai sistem organisasi ekonomi. Jelasnya tingkat diskon pasar tidak ada dalam realitas; apa yang disoroti oleh kritisme Cambridge adalah ketidakmampuan marginalism (qua theory) untuk menjelaskan bagaimana harga pasar ini terbentuk dan bagaimana modal bekerja. Seperti diamati oleh Kregel (teori ortodoks (marginalist) dapat dipandang sebagai kasus khusus yang membutuhkan batasan yang tidak ada dalam kenyataan dan tidak mempunyai dukungan logis jelas atau landasan teoritis ... nilai modal dan intensitas modal tergantung kepada aturan tingkat profit atau tarip upah (Kregel 1976 halaman 75). Marginalist terkemuka telah mengakui kesulitan-kesulitan mengangkat ekonomi neoklasik dengan Cambridge Controversies. Paul Samuelson telah menyatakan sebagai berikut: Pembahasan menunjukkan bahwa cerita sederhana yang disampaikan oleh jevon, BohmBawerk, Wicksel dan penulis neo klasik lainnya tidak dapat valid secara untuk nil (1966 halaman 576)... Jika semua jawaban ini menimbulkan sakit kepala bagi mereka yang memikirkan masa tulisan neo-klasik dahulu, kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa para sarjana tidak lahir untuk hidup dengan eksistensi mudah. Kita harus menghargai dan memuji fakta kehidupan(1966 hal.583).

Profesor Ferguson telah menyimpulkan bahwa teori ekonomi neo-klasik adalah masalah kesetiaan (Ferguson 1969). Satu konsekuensi paling menarik dari Cambridge Controversies adalah pernyataan ekonomi politik klasik yang berpusat pada diskusi ekonomi. Ini melibatkan perhatian Ricardo dan pengakuan bahwa lingkup marginalism, didefinisikan berdasarkan pasar persaingan (lingkungan pertukaran), perlu dilengkapi dengan konsep politik dan sosial jika kita ingin memahami bagaimana ekonomi kapitalis bekerja. SEBUAH KERANGKA EKONOMI POLITIK ALTERNATIF Ekonomi politik berbeda dari neo-klasik (marginalist) dalam mengakui dua dimensi modal: pertama sebagai instrumen (fisik) produksi dan kedua sebagai hubungan manusia terhadap manusia dalam organisasi sosial (Badhui 1969). Dimensi pertama menunjukkan kekuatan ekonomi produksi, kedua tentang hubungan sosial produksi. Figure 3 menunjukkan bagaimana kedua konsep modal ini berhubungan dalam membentuk kehidupan sosial dan ekonomi. Dlm figure 3 hub. sosial ditunjukkan dengan bermacam-macam institusi sosial (misalnya legal, negara, pendidikan, agama, hukum & aturan,politk,administrasi pemerintah). Institusi ini memastikan bahwa hak dan kewajiban (misalnya hak property) dapat ditegakkan: mereka memberikan aturan landasan bagi aturan ekonomi. Bentuk masyarakat berbeda (feudal, buruh, kapitalis dan sebagainya), dikarakteristikkan oleh bentuk hubungan sosial berbeda dan susunan institusional berbeda. Contoh, dalam analisis terbaru ekonomi Jepang pasca perang seorang ekonom terkemuka Jepang mengatributkan keajaiban ekonomi kepada penyesuaian unik kepentingan sosial dan politik (Yamura 1978 halaman 4-10). Ini meliputi aliansi tri partied antara partai Demokratis Liberal, birokrasi pemerintah dan pimpinan bisnis; mengatur pasar modal secara ketat di mana Bank Jepang mengontrol penawaran uang melalui 13 bank sentral besar; hukum monopoli lemah dan pendirian protectionistterhadap impor. Faktor-faktor ini memungkinkan pemerintah membangun biaya modal rendah yang mendorong investasi dan pertumbuhan: disebut kebijakan disequilibrium di Jepang. Dalam pengertian figur 3, studi ini menunjukkan bagaimana pemahaman proses sosial dan politik (hub sosial) sangat penting untuk menginterpretasikan kinerja ekonomi (baik level nasional a/pun enterprise). Di sini kita sampai pada studi empiris. Analisis Delco tidak saja berusaha menunjukkan keuntungan keuangan dari distribusi venture tambang, ini juga mencoba menjelaskan bagaimana distribusi ini terjadi sebagai hasil dari kekuatan institusional dan sosial. Studi menunjukkan bagaimana pasar diatur oleh kekuatan institusional termasuk militer, pemerintah kolonial dan fungsi manajemen birokratis). Ini memberikan penjelasan teoritis (dalam pengertian sosiologis) tentang kekuatan sosial yang menentukan harga pasar (dan data akuntansi). Cambridge Controversies telah menunjukkan teori2 persaingan yang dpt digunakan & produktivitas marginal tidak memadai untuk menjelaskan data akuntansi. Dengan demikian kita menggunakan teori persaingan tidak sempurna dan ekonomi politik untuk menjelaskan distribusi income dan profit. PENILAIAN KEUANGAN KONVENSIONAL TERHADAP VENTURE Studi perusahaan bijih besi milik Skotlandia, Delco, hidup selama 46 tahun di awal periode kolonial, dan menelusuri ekspansinya pada akhir periode kolonial sampai runtuh tahun 1976 di bawah pasca kolonial Sierra Leone.

Untuk menyelidiki Delco Company sebuah simulasi komputer diciptakan dengan memasukkan seluruh aliran keuangan utama dalam periode kehidupan Delco. Aliran moneter ini disesuaikan dengan indeks inflasi dalam rangka menyajikan seluruh jumlah moneter dalam unit kekuatan pembelian sama (dengan demikian seluruh perhitungan diekspresikan dalam pound sterling 1976). Inflasi disesuaikan di mana digunakan untuk menghitung indeks profitabilitas ex ante dan ukuran lain untuk menilai nilai venture. Dengan demikian untuk pemegang saham di Delco, proyek menghasilkan penyesuaian inflasi 13 %, rate of return internal (atau 16 persen sebelum inflasi). Figur 4 tabel 3 menunjukkan bagaimana total 46 tahun hasil penjualan didistribusikan antara bermacam-macam pihak (setelah penyesuaian inflasi). Tabel 3 menyampaikan proyek ex post dari sudut pandang keuangan. Untuk pembelanjaan 500.000 pound tahun 1930 (kira-kira 3 juta pada pound 1976), proyek tersebut menghasilkan present value 18,9 juta pada tingkat diskon 3 persen setelah memperhatikan inflasi. Pada Oktober 1975, Delco (laba industri ekspor terbesar kedua Sierra Leone) masuk ke dalam likuidasi sukarela, beberapa ribu lowongan kerja dihasilkan dari operasi ini. Tabel 3 tidak membahas apakah beberapa partisipan menghasilkan ekses profit dari venture tersebut. ini akan mengimplikasikan bahwa kita mengatakan profit normal untuk situasi tersebut. Apa yang menarik adalah faktor-faktor yang menghasilkan saham diambil oleh partisipan dan alasan mengapa saham tersebut berubah seiring waktu. ANALISIS VENTURE ALTERNATIF: SEBUAH ANALISIS PERIODISASI Pada titik ini sebuah cara interpretasi data akuntansi baru dapat disampaikan. Tabel 3 bersama2 dengan figure 4 adalah income statement untuk seluruh venture 46 tahun. Tabel 4 menyampaikan pecahan tabel 3 dalam bentuk seri income statement: analisis periodisasi. Periode yang dicakup masing2 income statement dalam tabel 4 menunjukkan rezim institusional khusus. Masing2 rezim mempunyai konfigurasi institusional dan sosial sendiri yang unik. Bagaimanakah kita menginterpretasikan tabel 4? Tabel 3 menunjukkan bahwa 17,25 persen hasil penjualan adalah return modal investasi awal 500.000 pound. Apakah alokasi ini efisien dalam konteks alokasi sumberdaya ekonomi internasional ? Review kami sebelumnya tentang analisis neo klasik menunjukkan bahwa kita tidak dapat mengevaluasi situasi dalam pengertian produktivitas marginal. Di luar itu semua, perdebatan Cambridge menunjukkan bahwa distribusi income ditentukan oleh kekuatan di luar lingkungan pertukaran pasar neoklasik. Dan ini yang ditunjukkan oleh tabel 4: memberikan sebuah income statement untuk masing-masing rezim institusional. Kita sekarang dapat memulai interpretasi baru data akuntansi yang ditunjukkan dalam tabel 2. Dari kolonial awal sampai pada periode kolonial akhir kita melihat prosentase saham yang dikumpulkan oleh konstituen Inggris terus menurun (dari 84 persen menjadi 79 persen) dan penurunan ini disertai dengan peningkatan alokasi (menurun melalui pajak) kepada negara kolonial yang hasil sahamnya mencapai puncak di awal periode pasca kolonial (dari 1,7 menjadi 14,9 persen). Figure ini bersama-sama dengan catatan lain periode tersebut, menunjukkan bahwa dengan berlalu nya dari awal ke akhir kondisi kolonial maka sistem kolonial Inggris membuat ekstraksi memungkinkan dalam bentuk militer, idelogi dan dukungan lain secara berangsurangsur dicurahkan pada pertumbuhan dan kelompok yang semakin demokratis di Freetown (Hoogvelt and Tinker, 1977a). Hal penting untuk dicatat adalah bahwa hubungan dasar karakteristik produksi enterprise kapitalis, misalnya hubungan antara faktor-faktor produksi: modal versus tanah dan tenaga kerja, tetap tidak berubah. Contoh, return terhadap otoritas suku (mewakili pemilik asli tanah) dan kepada upah tenaga kerja kulit hitam tetap stagnan dalam

seluruh periode. Tidak satupun dari revenue pemerintah baru secara langsung atau secara langsung menguntungkan pekerja pribumi, orang-orang dan otoritas lokal dalam propinsi yang menghasilkan besi. Namun demikian mereka berusaha untuk mengamankan kelanjutan kerjasama negara. Dalam outline umum situasi ini menunjukkan periode pasca kolonial kecuali untuk satu variabel tambahan penting yang terus memperburuk posisi keuangan perusahaan. perhatian ini muncul dan meningkatkan partisipan baru, yaitu kontingen gaji staf kulit hitam. dalam merespon terhadap tekanan pribumi setelah kemerdekaan, Delco mulai Merekrut manajerial, klerikal dan staf supervisor tekniskulit hitam,di mana sebagian besar tdk produktif dalam pengertian biasa. Perjanjian 1967 dan 1972 memformulasikan program pribumisasi ini yang terus semakin ketat. Seiring waktu Delco mempekerjakan 218 staf di mana 164 mendapatkan gaji rata2 Sierra Leonean 3041 pound. Pada 1974 gaji kulit hitam ini menerima total 422.320 pound, tidak jauh di bawah total tagihan upah 513.215 pound untuk tenaga kerja kulit hitam manual 2317 (tabel 3). Program Sierra Leonization sulit dibenarkan dalam pengertian komersial biasa (Hoogvelt and Tinker 1977a). Sebagaimana ditunjukkan oleh tabel 5, kita harus menginterpretasikan gaji staf kulit hitam yang besar sebagai usaha perusahaan untuk mendapatkan persetujuan dan dukungan dari kelompok berpengaruh di Sierra Leone. Pada pertengahan tujuh puluhan, peningkatan tekanan pribumi bersama-sama dengan prospek penurunan return dari tambang mendorong perusahaan untuk pergi. Dalam melakukan itu, dapat dilihat strategi berikut untuk kehidupan dalam konteks pasar. Kita telah melihat bagaimana sejarah 46 tahun operasi Delco di Sierra Leone dapat diklasifikasikan ke dalam serangkaian rezim institusional, masing-masing dengan income statement sendiri. Setiap rezim terdiri dari konfigurasi kekuatan sosio politik yang menentukan distribusi revenue yang ditunjukkan dalam income statement. Setiap rezim adalah pengembangan dari sebelumnya dalam pengertian pertumbuhan keluar, dan respon terhadap, kontradiksi dan instabilitas era sebelumnya. Keruntuhan Delco terjadi pada episode baru dalam rangkaian rezim institusi ini. IMPLIKASI Paper ini terutama membahas internasional dan penggunaan laporan akuntansi. Sementara laporan ini diduga memberikan informasi tentang efisiensi perusahaan, mereka mengabaikan keadaan landasan sosio politik yang mendasari kekuatan pasar. Sebagaimana ditunjukkan oleh takdir Delco, efisiensi pasar dan stabilitas sosial bukan realisme independen: ada hubungan saling mempengaruhi kompleks antara keduanya yang membentuk takdir perusahaan seperti Delco. Sementara akuntan menjadi semakin kuat dalam memahami realisme ekonomi, tingkat kekuatan tinggi dibutuhkan terkait dengan realism sosial dan politik. beberapa mungkin merasa saran ini agak asing. Terlalu sering problem sosial dan politik dihubungkan kepada status umum, bukan menggunakan identifikasi ilmiah sistematis. Namun demikian sebagaimana ditunjukkan oleh Cambridge Controversies, kondisi politik dan sosial menjadi predikat analisis ekonomi, dengan demikian hasil akuntansi sama bagusnya dengan precept politik dan sosial. Untuk memahami proses pembentukan harga dan distribusi income di dalam masyarakat industri maju orang perlu memperhatikan dimensi modal kedua, misalnya keadaan hubungan sosial. Dengan demikian, serikat pekerja, institusionalisasi tuntutan kesejahteraan dan kondisi penawaran lainnya datum sosiologis kata Maurice Dobb perlu tercermin dalam beberapa model untuk menjelaskan pembentukan harga dan distribusi income. Kekuatan institusional dan

sosial seringkali diperlakukan sebagai ketidaksempurnaan pasar. Disampaikan di sini bahwa analisis bisnis multinasional dan monopoli (kondisi persaingan tidak sempurna) dan penyimpangan membuat penyimpangan ini harus menjadi perhatian utama dalam analisis. Kita sudah melihat dari kasus Delco bagaimana kekuatan ideologis dan pemaksaan mempunyai samaran berbeda dalam periode sejarah. Lagipula, dengan menghubungkan data akuntansi dan ekonomi terhadap kondisi sosial yang mendasarinya kita telah mulai menyampaikan cerita berbeda tentang Valuasi dan distribusi income. Ini bukan cerita menghasilkan kekayaan dan keadilan produktivitas marginal yang diukur dalam net present value dan rate of return akuntansi, tetapi cerita sistem yang sangat tidak stabil sehingga gagal memenuhi pengujian viabilitas bahkan yang paling minimum: ini tidak memberi pihak yang lemah (pegawai kulit hitam) return memadai untuk memungkinkan mereka mereproduksi peranan ekonomi dalam jangka panjang. Fakta bahwa dalam kasus Delco, akuntansi ex post (marginalist) mengukur viabilitas venture perusahaan yang bertentangan dengan pengujian litmus, ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kecukupan akuntansi dalam peranan sosial. Satu pelajaran penting dari kasus Delco berhubungan dengan kepercayaan bahwa kita yakin pada peranan bebas kekuatan pasar untuk mengerjakan masalah sosio ekonomi. Cambridge Controversies menunjukkan kepercayaan ini salah: pasar bukan bebas tetapi terstruktur dan kita harus memperhatikan struktur jika kita ingin menjelaskan distribusi income (termasuk besarnya profit). Dengan contoh dari awal penjajahan, relatif mudah untuk setuju terhadap pentingnya faktor militer (bukannya produktivitas marginal) dalam menentukan rasio profit-upah. Dengan cara yang sama,kita mempunyai sedikit kesulitan mendeteksi kekuatan sosio politik lain dalam masyarakat yang berbeda dengan kita. Apa yg perlu dilakukan dalam ekonomi politik adalah membentuk teori utk menjelaskan distribusi income dan kondisi pasar dalam masyarakat industri kita. Murices Dobb mencatat bahwa pada saat menulis, penjelasan alternatif dari distribusi dalam dunia abad dua puluh kita adalah subjudice (bagian praduga) dari diskusi ekonomi sekarang, dan diskusi tersebut (Bahkan elaborasinya) tidak memberikan hasil memadai untuk membuat keputusan akhir, masih mempunyai konsensus lemah (1973 halaman 272). Dengan melihat pada kondisi marginalism buruk yang sangat sering digunakan sebagai dukungan teoritis terhadap masalah produksi akuntansi, nilai dan pilihan sosial, maka komentar Dobb tampaknya bisa menjadi saran yang kuat.