Anda di halaman 1dari 6

PENDAHULUAN

Dalam istilah medis telinga berdenging disebut dengan tinnitus. Berasal dari bahasa latin tinnire artinya berdenging. Tinnitus adalah gangguan pendengaran yang ditandai dengan keluhan perasaan mendengar bunyi di dalam telinga atau di dalam kepala yang tidak dihasilkan oleh sumber dari luar. Tinnitus bukanlah suatu penyakit namun merupakan tanda dari suatu penyakit atau gangguan medis yang cukup serius. Meski tak sampai menganggu penampilan, namun tinnitus bisa menimbulkan ketidaknyamanan serta dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya. Keluhan ini dapat terjadi pada satu telinga saja maupun pada kedua telinga. Dapat bersifat sangat ringan sampai sangat berat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Tinnitus pada pasien lanjut usia biasanya disebabkan oleh kerusakan pada saraf-saraf pendengaran karena usia, sedangkan pada pasien muda dapat disebabkan oleh seringnya mendengar suara keras seperti musik dengan volume suara yang memekakkan telinga. Penelitian oleh National Center for Health Statistics menemukan 15-20% populasi di dunia mengalami tinnitus dan 70-85% orang dengan gangguan pendengaran mengalami tinnitus. Hampir 36 juta orang Amerika mengalami tinnitus. The US Veterans Administration menghabiskan USD 1 miliar per tahun untuk membiayai kecacatan yang terkait dengan tinnitus, di mana penyakit ini paling banyak terjadi pada prajurit yang telah kembali dari Irak dan Afghanistan.

PENYEBAB
Penyebab tinnitus sangat beragam. Salah satu penyebab yang paling umum dari tinnitus adalah kerusakan pada ujung-ujung dari syaraf pendengaran didalam telinga bagian dalam. Berikut ini adalah beberapa hal yang juga dapat menyebabkan telinga berdenging yaitu : 1. Usia. Pertambahan usia akan mengurangi kemampuan pendengaran seseorang. 2. Suara keras atau paparan bising Telinga akan mengalami trauma bila mendengar suara yang terlalu keras dalam periode yang lama. Biasa sering terjadi pada orang yang sering mendengarkan musik dengan suara kencang atau pada pekerja pabrik maupun pekerja di lapangan yang tidak menggunakan alat pelindung telinga saat bekerja di tempat yang bising. 3. Efek samping penggunaan obat tertentu dalam waktu yang lama, seperti aspirin, obat malaria, antibiotik dan obat anti radang. Biasanya tinnitus akan hilang saat konsumsi obat-obatan tersebut dihentikan. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Gangguan pada rahang. Terlalu banyak minum minuman beralkohol Infeksi telinga Pengapuran gendang telinga atau tulang-tulang pendengaran Stres Meniere Disease yaitu suatu kelebihan cairan endolimphe di dalam rumah siput telinga

10. Alergi Alergi dapat memicu lendir menumpuk ke bagian tengah telinga. Akibatnya, telinga mengalami tekanan yang lebih besar. Jika dibiarkan, hal ini akan memburuk dan menyebabkan infeksi di telinga yang dapat mengakibatkan telinga bendenging. 11. Bergesernya tulang pada telinga akibat benturan pada kepala atau leher yang berdampak pada telinga 12. Sumbatan kotoran telinga, biasanya disebabkan karena kebiasaan mengorek telinga dengan cotton bud

13. Penyakit lain yang terkait dengan tinnitus adalah tumor pada otak atau nasofaring, tuli saraf, kelainan pada tuba eustachius, darah tinggi, anemia, gangguan endokrin, penyakit autoimun seperti penyakit Lupus eritematous.

GEJALA DAN TANDA :


1. 2. Munculnya bunyi atau suara di dalam telinga, padahal tidak ada suara apapun Telinga terdengar berisik seperti berdenging, berdengung, berdenyut, menderum atau berbunyi desis angin atau siulan 3. 4. Bunyi-bunyian yang terdengar bisa bervariasi mulai pelan sampai memekakkan telinga. Dari hari ke hari pendengaran semakin berkurang hingga akhirnya menghilang sama sekali

Pendekatan untuk mempelajari etiologi tinnitus dapat dilakukan dengan membedakan tinnitus menjadi 2 kelompok besar yaitu tinnitus obyektif dan tinnitus subyektif. Tinnitus obyektif adalah jika suara yang didengar oleh penderita dapat didengar pula oleh pemeriksa, sedangkan pada tinnitus subyektif suara hanya terdengar oleh penderita saja

(Lockwood et.al., 2002). Subyektif tinnitus juga dapat disebabkan oleh beberapa keadaan sebagaimana yang tertera pada tabel 1. Tinnitus subyektif bias disebabkan oleh karena berasal dari gangguan telinga (otologic), karena efek dari medikasi ataupun obat-obatan (Ototoxic), gangguan neurologist, gangguan metabolisme, ataupun dikarenakan oleh depresi psikogenik. Sedangkan tinnitus obyektif dapat disebabkan oleh karena adanya gangguan vaskularisasi, gangguan neurologist ataupun gangguan pada tuba auditiva atau Eustachian tube & Hassan, 2004). Secara lebih rinci tinnitus subyektif dapat pula disebabkan oleh adanya presbiacusis ataupun karena adanya pengaruh suara yang terlalu keras sebagaimana yang tertera pada tabel 2. Pada tabel dijabarkan mengenai kemungkinan etiologi yang umum terdapat pada penderita dengan tinnitus subyektif. Etiologi tinnitus subyektif antara lain adalah : presbiakusis, paparan suara bising yang lama, trauma akustik yaitu terpapar suara dengan intensitas tinggi sewaktu, otosklerosis yaitu terjadinya proses pengapuran pada tulang pendengaran di telinga tengah ataupun pengapuran pada cochlea, infeksi, autoimun, ataupun predisposisi genetic, dan juga trauma pada kepala ataupun leher (Folmer et.al., 2004). Sedangkan tinnitus obyektif merupakan tinnitus yang sangat jarang ditemui (Crummer & Hassan, 2004). Berdasar klasifikasi etiologi tinnitus obyektif oleh Lockwood et. al., (Crummer

(2002), maka tinnitus obyektif dibagi menjadi dua (2) sub bagian yaitu pulsatil dan non pulsatil.
Pulsatile Tinnitus Neoplasma pada umumnya pada vaskular Glomus tumors atau paragangliomas (chemodectoma, paragangliomas) Glomus tympanicum, glomus jugulare, glomus jugulotympanicum Hemangioma Hemangioma N VII, cavernous hemangioma Neoplasma Vaskular lainya Meningioma, adenoma Lesi Vaskular Lesi arteri akibat perlukaan Atherosclerotic plaque (carotid atau intracranial) Vaskular malformations (intracranial, dural; dapat berupa sekuel dari trauma) Aneurysma Carotid artery dissection (spontan atau traumatik) Kelainan Kongenital arteri Aberrant internal carotid arteri Persistent stapedial artery Abnormalitas Vena Abnormalitas bulbus Jugularis (posisi tinggi, diverticulum, dehiscence, pembesaran) Kelainan vaskular lainnya Fibromuscular dysplasia pada carotid artery Kompresi Vaskular pada kokhlea atau Nervus auditorik Pada root entry zone Kasus Lainya Penyakit Katup Jantung (aortic stenosis, insufficiency) Hipertensi intracranial Benigna atau pseudotumor cerebri Hyperdynamic state (eg, anemia, thyrotoxicosis) Otosclerosis dengan anastomosiss antara tulang haversi Dengan lapisan endochondral layer Nonpulsatile Tinnitus Palatal myoclonus Spasm, fasciculations, or fibrillations dari m. tensor tympani atau m. stapedius emisi otoakustik spontan Patulous eustachian tube

Tinnitus obyektif type pulsatil merupakan tinnitus obyektif yang sering ditemukan. Tinnitus pulsatil pada umunya diakibatkan oleh adanya turbulensi aliran darah arteri (percabangan arteri carotis interna) ataupun adanya aliran darah yang sangat cepat pada pembuluh darah lain di sekitar organ pendengaran. Kelainan aliran darah tersebut akan menyebabkan hantaran gelombang melalui tulang ataupun didnding pembuluh darah yang terhubung kepada cochlea, dan menghasilkan interpretasi suara. Sedangkan tinnitus obyektif tipe non-pulsatil merupakan tinnitus obyektif yang paling jarang ditemukan. Major cause dari tinnitus non-pulsatil adalah adanyapalatal myoclonus yang diakibatkan adanya kontraksi ritmik pada palatum mole atau soft palatal (Lockwood et. al., 2002).

Patofisiologi B.1. Tinnitus Subyektif Penyakit atau gangguan pada telinga merupakan sebab yang paling banyak sebagai etiologi tinnitus subyektif, yang kemudian disebut sebagaiotologic disorder atau gangguan otologik. Sebagian besar tinnitus sebyektif disebabkan oleh hilangnya kemampuan pendengaran (hearing loss), baik sensorineural ataupun konduktif. Gangguan pendengaran yang paling sering menyebabkan tinnitus subyektif adalah NIHL (noise induced hearing loss) karena adanya sumber suara eksternal yang terlalu kuat impedansinya (Crummer & Hassan, 2004).

Sumber suara yang terlalu keras dapat menyebabkan tinnitus subyektif dikarenakan oleh impedansi yang terlalu kuat. Suara dengan impedansi diatas 85 dB akan membuat stereosilia pada organon corti terdefleksi secara lebih kuat atau sudutnya menjadi lebih tajam, hal ini akan direspon oleh pusat pendengaran dengan suara berdenging, jika sumber suara tersebut berhenti maka stereosilia akan mengalami pemulihan ke posisi semula dalam beberapa menit atau beberapa jam. Namun jika impedansi terlalu tinggi atau suara yang didengar berulang-ulang (continous exposure) maka akan mengakibatkan kerusakan sel rambut dan stereosilia, yang kemudian akan mengakibatkan ketulian (hearing loss) ataupun tinnitus kronis dikarenakan oleh adanya hiperpolaritas dan hiperaktivitas sel rambut yang berakibat adanya impuls terus-menerus kepa ganglion saraf pendengaran (Folmer et. al., 2004). Menieres syndrome dengan adanya keadaan hidrops pada labirintus membranaseous dikaranakan cairan endolimphe yang berlebih, tinnitus yang terjadi pada penyakit ini ditandai dengan adanya episode tinnitus berdenging dan tinnitus suara bergemuruh (Crummer & Hassan, 2004).

Neoplasma berupa acoustic neuroma juga dapat menyebabkan terjadinya tinnitus subyektif. Neoplasma ini berasal dari sel schwann yang tumbuh dan menyelimuti percabangan NC VIII (Nervus Oktavus) yaitu n. vestibularis sehingga terjadi kerusakan sel-sel saraf bahkan demyelinasi pada saraf tersebut Crummer & Hassan, 2004). Tinnitus yang diakibatkan oleh obat-obatan digolongkan dalam tinnitus ototoksik. Ototoksisitas yang terjadi akibat dari penggunaan obat-obatan tertentu sebagaimana telah dibahas sebelumnya akan mempengaruhi sel-sel rambut pada organon corti, NC VIII, ataupun saraf-saraf penghubung antara cochlea dengan system nervosa central (Crummer & Hassan, 2004). Gangguan neurologis ataupun trauma leher dan kepala juga dapat menyebabkan adanya tinnitus subyektif, namun demikian patofisiologi ataupun mekanisme terjadinya tinnitus karena hal ini belum jelas (Crummer & Hassan, 2004). Penelitian-penelitian yang dilakukan didapatkan karakteristik penderita tinnitus obyektif yang memiliki gangguan metabolisme antara lain menderita hypothyroidism, hyperthyroidism, anemia, avitaminosa B12, atau defisiensi Zinc (Zn). Disamping itu penderita tinnitus rata-rata menunjukkan perubahan sikap dan gangguan psikologis walaupun sebetulnya depresi merupakan salah satu etiologi dari tinnitus subyektif (psikogenik). Gangguan tidur, deperesi, dan gangguan konsentrasi lebih banyak ditemukan pada penderita tinnitus subyektif dibandingkan dengan yang tidak mengalami gangguan psikologis (Crummer & Hassan, 2004). B.2. Tinnitus Obyektif Tinnitus obyektif banyak disebabkan oleh adanya abonormalitas vascular yang mengenai fistula arteriovenosa congenital, shunt arteriovenosa, glomus jugularis, aliran darah yang terlalu cepat pada arteri carotis (high-riding carotid) stapedial artery persisten, kompresi saraf-saraf pendengaran oleh arteri, ataupun dikarenakan oleh adanya kelainan mekanis seperti adanya palatal myoclonus, gangguan temporo mandibular joint, kekauan muscullus stapedius pada telinga tengah (Folmer et. al., 2004). Kelainan pada tuba auditiva (patulous Eustachian tube) akan menyebabkan

terdengarnya suara bergemuruh terutama pada saat bernafas karena kelainan muara tuba pada nasofaring. Biasanya penderita tinnitus dengan keadaan ini akan menderita penurunan berat badan, dan mendengar suaranya sendiri saat berbicara atau autophony. Tinnitus dapat hilang jika dilakukan valsava maneuver atau saat penderita tidur terlentang dengan kepala dalam keadaan bebas atau tergantung melebihi tempat tidurnya B.2.a. Pulsatile Tinnitus (Crummer & Hassan, 2004).

Tinnitus pulsatil banyak diderita oleh pasien dengan turbulensi aliran arteri ataupun aliran darah yang cepat pada pembuluh darah. Penyakit jantung yang berhubungan dengan arteriosklerosis dan penuaan meningkatkan prevalensii tinnitus pulsatil, adanya stenosis arteri juga banyak ditemukan pada penderita dengan tinnitus jenis ini. Stenosis artery intracranial dapat menyebabkan turbulensi aliran darah pada bagian stenosis dan bagian distal dari stenosis (Gambar 12). Sementara itu stenosis arteri carotis merupakan tempat yang umum ditemukan, padahal arteri carotis tempatnya berdekatan dengan bagian proximal cochlea. Sehingga melalui tulang getarab turbulensi aliran darah mempengaruhi cochlea dan menyebabkan tinnitus obyektif. Pasien dengan thyrotoksikosis dan atrial fibrilasi juga dapat menderita tinnitus pulsatill (Lockwood et.al., 2002)..

B.2.b. Non-pulsatile Tinnitus Tinnitus jenis ini jarang ditemukan, sementara itu tinnitus obyektif juga merupakan kasus yang jarang, sehingga dapat dikatakan bahwa kasusnon-pulsatil tinnitus adalah sangat jarang ditemukan. Penyebab terjadinya tinnitus jenis ini sebagaimana telah dijelaskan pada sub-bab etiologi sebelumnya. Tinnitus jenis ini juga sering berhubungan dengan kontraksi periodik abnormal pada otot-otot faring, mulut, dan wajah bagian bawah, sehingga akan mempengaruhi kerja tuba auditiva (Lockwood et. al., 2002).