Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN LUKA EKSTRAVASASI

Disusun oleh: Ira Wahyuni, S.Kep 20080320115

PROGRAM PROFESI NERS FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

PENATALAKSANAAN LUKA EKSTRAVASASI

1. Pendahuluan Ekstravasasi merupakan problem yang bisa muncul pada pasien kanker yang mendapat kemoterapi, dapat menimbulkan rasa sakit (pain), ulkus, nekrosis, dan kemungkinan besar bisa menimbulkan kecacatan permanen. Dengan teknik praktis yang baik pada pemberian intravenous ataupun obat, kejadiannya dapat dihindari sehingga tidak akan menimbulkan risiko ekstravasasi. Ekstravasasi adalah kebocoran obat atau cairan ke jaringan subkutaneous dari vena atau jaringan vaskular, terutama merusak jaringan dan nekrosis kulit.1,2 Insidens ekstravasasi berkisar antara 0,5%-6% pada pasien yang mendapat kemoterapi perifer. Insidens ini bukan nilai yang benar karena banyak data yang tidak dilaporkan. Tulisan ini menjelaskan tata laksana ekstravasasi pada pasien yang mendapat kemoterapi. Obat obat sitostatika banyak yang diberikan secara intra venus baik secara bolus maupun drip. Karena obat ini bersifat karsinogenik maka perlu penanganan yang aman dalam pemberian kemoterapai. Yang paling ditakutkan bila terjadi ekstravasasi yaitu masuknya obat ke jaringan yang dapat merusak jaringan , hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan merugikan pasien. Oleh karena itu pemberian obat sitostatika harus diberikan oleh perawat yang telah mendapat pengetahuan dan ketrampilan mengenai kemoterapi. 2. Definisi Ekstravasasi adalah kebocoran obat atau cairan ke jaringan subkutaneous dari vena atau jaringan vaskular, terutama merusak jaringan dan nekrosis kulit. Vesikan mempunyai kemampuan untuk menyebabkan pembentukan lepuh atau lecet dan atau menyebabkan kerusakan jaringan. Iritan adalah Dapat menimbulkan rasa sakit/pain pada posisi injeksi atau sepanjang vena, dengan atau tidak menimbulkan reaksi inflamasi. Beberapa obat mempunyai potensi dapat menyebabkan ulkus pada jaringan tissu, karena banyaknya konsentrasi obat yang terpapar. Bila kurang hati-hati, dapat menyebabkan esktravasasi. 3. Faktor -faktor resiko terjadinya ekstravasasi Ekstravasasi bisa terjadi karena beberapa hal, seperti seleksi vena yang tidak baik, factor vena yang multipel dalam pemakaian IV/injeksi, obesitas, dehidrasi, dan rasa kesakitan pada waktu memakai alat injeksi. Selain itu ektravasasi juga dapat beresiko pada :

kelemahan vena, mudah pecah dan diameter kecil integritas vasculer berkurang sehingga elastisitas berkurang edema trauma penusukan canul bekas area radiasi jenis kanul konsentrasi obat sitostatika jumlah obat terinfiltrasi lama jaringan terkena infiltrasi obat ketidak mampuan pasien berkomunikasi 4. Pencegahan ekstravasasi Oplos obat dengan jumlah pelarut yang sesuai Gunakan vena yang tepat (lurus, lembut, tidak pada daerah pergelangan, fossa antekubiti) Hindari penusukan kanul berulang pada tempat yang sama Gunakan penutup area penusukan kanul yang mudah terlihat Cek kepatenan vena dengan cairan fisiologis sebelum pemberian obat Observasi daerah yang diinfus selama pemberian obat Komunikasi selama pemberian terutama via bolus Lakukan pembilasan setiap pemberian obat. 5. Gejala ekstravasasi Gejala ekstravasasi segera Mengeluh rasa terbakar, perubahan pada kulit menjadi merah muda atau merah menyala Gejala ekstravasasi setelah beberapa minggu Perubahan kulit makin nyata, terjadi pengerasan, rasa panas makin meningkat Gejala ekstravasasi setelah beberapa minggu berikutnya Luka nekrotik kadang sampai perlu pembedahan, ulkus yang melebar

Kemungkinan kerusakan permanen Komplikai jangka panjang akibat dari penebalan jaringan nekrotik merusak struktur persyarafan dan pembuluh darah. 6. Parameter pengkajian keperawatan ekstravasasi Nyeri, pasien mengeluh nyeri sekali atau rasa terbakar Kemerahan, disekitar area penusukan, tidak selalu ada pada awal Luka, terjadi setelah beberapa minggu Bengkak, terjadi segera Blood return tidak ada Perubahan kwalitas tetesan infus 7. Penanganan ekstravasasi Stop infus, biarkan jarum atau kateter pada tempatnya Aspirasi obat dan darah di selang IV ( 3,5 ml) Masukan antidote sesuai obat kemoterapi atau beri koertikosteroid untuk mengurangi indikasi reaksi inflamasi Hindari perabaan pada area ekstravasasi Lakukan pemotretan untuk dokumentasi Berikan kompres dingin, kecuali vincristin kompres hangat Istirahatkan ekstremitas dan tinggikan selama 48 jam Observasi secara teratur terhadap rasa nyeri, bengkak, kemerahan, keras atau nekrosis Beri terapi anti nyeri Lakukan dokumentasi : tgl, waktu, jenis vena, ukuran kateter, berapa kali penusukan, urutan pemberian obat, jumlah, keluhan pasien, tindakan yang dilakukan, keadaan area ekstravasasi , lapor dokter, nama jelas.

Ada 2 jenis antidotum: (a) bertujuan menurunkan netralisasi obat, seperti sodium chloride 0,9 % dan hyaluronidase; atau (b) mengurangi efek obat dan menurunkan efek inflamasi lokal, misalnya pemberian suntikan steroid atau cream seperti dexametason atau hydrokortison. Pemberian suntikan steroid secara evidence based hanya sedikit. Topikal antidotum bertujuan untuk meminimalisasi inflamasi di kulit dan reaksi eritema. Pemberian

99% dimethyl sulfoxide (DMSO) hasilnya lebih baik untuk ekstravasasi doxorubicin dan mitomycin C. Dianjurkan pemberian 1-2 ml pada daerah lokasi setiap 6 jam. Hyaluronidase adalah suatu enzim yang berperan memperbaiki jaringan dengan mempercepat difusi cairan ekstravasasi dan mempercepat absorpsi obat.

Agen penyebab Anthracyclin Daunomycin Doxorubicin Dactinomycin

Kompres dingin/hangat Kompres dingin selama 15 menit 4-6 kali/ hari x 48 jam (Ditinggikan) Kompres dingin selama 15 menit 4-6 kali/ hari x 48 jam (Ditinggikan) Catatan: Panas dapat meningkatkan kerusakan

Penawar Tidak ada

Tidak ada

Mechlorethamine

Kompres dingin selama 15 menit 4-6 kali/ hari x 48 jam (Ditinggikan)

Sodium thiosulfate 1:6 M solution Campur 4 ml cairan 10% dengan 6 ml air steril. Suntikkan 2 ml subkutan untuk tiap 1 mg mechloretamine

Vinca alkaloids Vinblastine Vincristine Vindesine

Kompres hangat selama 15 menit 4-6 kali/ hari x 48 jam (Ditinggikan)

Hyaluronidase: 150 unit dalam 1 ml NaCl 0.9%. Berikan 0,2 ml subkutan atau intrakutan pada lokasi atau pinggirnya x 5.

8. Daftar obat kemoterapi vesikan & antidote NO 1 NAMA OBAT ALKYLATING AGENT Chlorambucil melphalan busulfan cyclop ifosfamide Larutkn 1,6 cc thiosulfat 25 % dg 8,4 cc aquadest steril, suntikan 1 - 4 cc scr IV & SC ke area ekstravasasi Beri kompres dingin ANTIDOTUM

ANTIBIOTICS dacarbazine daunorubicin doxorubicin epirubicin idarubicin mitomycin Hidrokortison 100mg/cc disuntikan 0,5 cc scr IV & 0,5 cc SC & beri kompres dingin Dexametason 4mg/cc disuntikan 0,5c IV & 0,5 cc SC, beri kompres dingin Topical DMSO 1-2ml dr 1mmol DMSO 50%-100%

VINCA ALKALOID vinblastin vincristin Hyaluroidase 150 u/cc + 1cc nacl, suntikan 1-6cc SC & beri kompres hangat

LOKAL ANTIDOTE Daunorubicin Doxorubicin Mitomycin Pendinginan topikal: ice packs Pendinginan dengan air mengalir: cryogel packs Toleransi ps thd pendinginan selama 24 jam & istirahatkan ekstremitas 2448 jam

Gambar area luka ekstravasasi

DAFTAR PUSTAKA

S. Al-Benna. (2013). Extravasation Injuries in Adults. Department of Burns and Plastic Surgery, Nottingham City Hospital, Hucknall Road, Nottingham NG5 1PB, UK Rosdiana,N. Tatalaksana Ekstravasasi Karena Pemakaian Kemoterapi. Indonesian Journal of Cancer Vol. III, No. 2 April - Juni 2009. Medan British Columbia Cancer Agency.(2006). Extravasation of chemotherapy, prevention and management.diambil tanggal 30 Oktober 2007 dari http://
Cancer medicin. 5ed.(2000).Chemotheraphy extravasation. diambil tanggal 30 Oktober 2007 dari www.BCDecker.com.

Shierly E. Otto (2001). Oncology Nursing.(4 th ed). St. Louis: Mosby Company. Susan B. Baird, Ruth McCorkle, Marcia Grant ( 1996 ). Cancer Nursing ; a comprehensive textbook. Philadelphia. W.B. Saunders Company Yasko, Joyse.M.(1983). Nursing management of symptoms associated with chemotheraphy. Reston Pubblisitng Company.