Anda di halaman 1dari 8

ALERGI OBAT BAB I PENDAHULUAN I.

1 LATAR BELAKANG Reaksi hipersensitivitas merupakan reaksi immunopatologi oleh karena respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan. Alergi atau reaksi hipersensitivitas adalah perubahan spesifik, didapat, pada reaktivitas hospes yang diperantarai oleh mekanisme imunologis dan menyebabkan respons fisiologis yang tidak menguntungkan. Reaksi hipersensitivitas menurut Coombs dan Gell dibagi menjadi 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Ada beberapa penyebab timbulnya alergi, antara lain obat-obatan, makanan, hirupan (debu dan serbuk sari bunga), dan kontak kulit. Dalam laporan pemicu I ini, penulis akan membahas mengenai permasalahan yang terjadi pada ibu B terkait masalah alergi terhadap obat-obatan. I.2 DESKRIPSI TOPIK Seorang ibu B, 34 tahun datang berobat ke dokter gigi dengan keluhan gigi bengkak, setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter gigi ternyata ibu B mengalami infeksi kemudian diberi antibiotika amoxicillin. Keesokan harinya ibu B datang kembali dengan keluhan gatal-gatal di seluruh tubuh setelah minum obat tersebut. Apa yang terjadi pada ibu B? Produk: Diskusikan kasus di atas dan buat laporan mengenai: 1.Bagaimana mekanisme terjadinya reaksi imunologi pada kasus ini? 2.Apa definisi hipersensitivitas? 3.Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis hipersensitivitas! 4.Apa penyebab timbulnya reaksi hipersensitivitas? 5.Bagaimana gambaran histopatologi yang dijumpai pada kasus ini? Learning issues: Mikrobiologi : reaksi hipersensitivitas Patologi Anatomi : gambaran sel/jaringan pada proses hipersensitivitas

BAB II PEMBAHASAN 1)Mekanisme Terjadinya Reaksi Imunologi Pada Kasus Pada kasus terjadi reaksi imunologi yang berlebihan atau disebut dengan reaksi hipersensitivitas. Reaksi ini terjadi karena adanya kepekaan/respon tubuh yang berlebih terhadap antigen. Mekanisme jalannya reaksi imunologi pada kasus di atas: Alergen induksi sel T CD4+ tipe Th2 sekresi IL-4 dan IL-5 produksi IgE oleh sel B IgE berikatan dengan reseptor Fc berafinitas tinggi pada sel mast dan basofil sel mast dan basofil teraktivasi. Pada pemaparan yang kedua terhadap antigen yang sama mengakibatkan pertautan-silang pada IgE yang terikat sel dan pemicu suatu kaskade sinyal intrasel sehingga terjadi pelepasan beberapa

mediator kuat (mediator primer) respon awal, mediator sekunder fase lambat). Pada ibu B, terjadi reaksi inflamasi akut yang dimulai dengan vasodilatasi pembuluh darah sehingga volume darah bertambah di kapiler, hal ini ditandai dengan adanya hiperemia. Kemudian diikuti oleh eksudasi, yaitu keluarnya cairan yang kaya protein dari dinding pembuluh darah ke jaringan interstitial. Proses keluarnya cairan dari dinding pembuluh darah ke jaringan interstitial dipengaruhi oleh mediator kimia yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat dan endotel berkontraksi membentuk celah. Keluarnya protein dari kapiler dan bertambahnya protein pada jaringan interstitial menyebabkan tekanan osmotik bertambah sehingga menghalangi cairan plasma kembali ke kapiler dan terjadi edema pada jaringan. Mediator yang berperan pada inflamasi akut, yaitu: Vaso-aktif amin : mast selt melepas histamin menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat, platelet melepas serotonin menyebabkan dilatasi kapiler. Vaso-aktif polipeptida : bradikinin menyebabkan vasodilatsi dan kerusakan endotel. Disamping itu, eksudasi juga menyebabkan viskositas meningkat sehingga aliran lambat, axeal stream, dan plasmatic zone menghilang. Polimorfonuklear leukosit melekat pada endotel dan kemudian beremigrasi. Pergerakannya diatur oleh chemotactic agent, biasanya protein atau polipeptida. skip to main | skip to sidebar 2) Definisi Hipersensitivitas Istilah hipersensitivitas atau alergi menunjukkan suatu kondisi respon imunitas yang menimbulkan reaksi yang berlebihan, tidak diinginkan (menimbulkan ketidaknyamanan dan kadang-kadang berakibat fatal) dari sistem kekebalan tubuh sehingga bermanifestasi pada radang atau kerusakan jaringan. Pada keadaan normal, mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun selular tergantung pada aktivasi sel B dan sel T. Aktivasi berlebihan oleh antigen atau gangguan mekanisme ini, akan menimbulkan suatu keadaan imunopatologi yang disebut reaksi hipersensitivitas.1,2,3 3)Jenis-Jenis Hipersensitivitas Menurut Gell dan Coombs ada 4 tipe reaksi hipersensitivitas yaitu : 1. Reaksi hipersensitivitas tipe I (anaphylactic or immediate) 2. Reaksi hipersensitivitas tipe II (cytotoxic) 3. Reaksi hipersensitivitas tipe III (immune complex) 4. Reaksi hipersensitivitas tipe IV (cell mediated or delayed).2,4

Berdasarkan kecepatan reaksinya, tipe I, II dan III termasuk tipe cepat karena diperantarai oleh respon humoral (melibatkan antibodi) dan tipe IV termasuk tipe lambat yang diperantai oleh sel.1,2 Tipe 1: Hipersensitivitas Tipe Cepat (Anafilaksis)

Hipersensitivitas tipe I terjadi dalam reaksi jaringan dalam beberapa menit setelah antigen bergabung dengan antibodi yang sesuai. Ini dapat terjadi sebagai anafilaksis sistemik (misalnya setelah pemberian protein heterolog) atau sebagai reaksi lokal (misalnya alergi atopik seperti demam hay).1 Reaksi hipersensitivitas tipe I, atau tipe cepat ini dibagi menjadi reaksi anafilaktik (tipe Ia) dan reaksi anafilaktoid (tipe Ib).2 1.Reaksi tipe Ia memerlukan interaksi antara IgE spesifik yang berikatan dengan reseptor IgE pada sel mast atau basofil dengan alergen yang bersangkutan. Proses aktivasi sel mast terjadi bila IgE atau reseptor spesifik yang lain pada permukaan sel mengikat anafilatoksin, antigen lengkap atau kompleks kovalen hapten-protein. Proses aktivasi ini akan membebaskan berbagai mediator peradangan yang menimbulkan gejala alergi pada penderita, misalnya reaksi anafilaktik terhadap penisilin atau gejala rinitis alergik akibat reaksi serbuk bunga.1,2 2.Reaksi tipe Ib (reaksi anafilaktoid) terjadi melalui degranulasi sel mast atau basofil tanpa peran IgE. Sebagai contoh misalnya reaksi anafilaktoid akibat pemberian zat kontras atau akibat anafilatoksin yang dihasilkan pada proses aktivasi komplemen.2 Eosinofil berperan secara tidak langsung pada reaksi hipersensitivitas tipe I melalui faktor kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A = eosinophil chemotactic factor of anaphylaxis). Zat ini merupakan salah satu dari preformed mediators yaitu mediator yang sudah ada dalam granula sel mast selain histamin dan faktor kemotaktik neutrofil (NCF = neutrophil chemotactic factor). Mediator yang terbentuk kemudian merupakan metabolit asam arakidonat akibat degranulasi sel mast yang berperan pada reaksi tipe I.2 a.Mediator Hipersensitivitas Anafilaksis 1.Histamin Merupakan mediator utama (primer) pada rekasi tipe I. Pelepasan Histamin ini menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas kapiler, dan kontraksi otot polos.1 2.Prostaglandin dan tromboksan Seperti leukotrien, prostaglandin, dan tromboksan berasal dari asam arakidonat melalui jalur siklooksigenase. Prostaglandin mengakibatkan bronkokonstriksi dan dilatasi serta peningkatan permeabilitas kapiler. Tromboksan menyebabkan agregasi platelet (trombosit). Mediator tersebut, bersama dengan sitokin seperti TNF dan IL-4, merupakan mediator sekunder pada reaksi tipe I.1 b.Pengobatan dan Pencegahan Reaksi Anafilaksis Pengobatan ditunjukkan untuk menghentikan aksi mediator dengan cara mempertahankan jalan nafas, memberikan ventilasi buatan jika perlu dan mempertahankan fungsi jantung. Satu atau lebih dari obat berikut dapat diberikan: apinefrin, antihistamin, kortikosteroid, dan natrium kromolin. Kromolin mencegah pelepasan mediator (misalnya histamin) dari granula sel mast.1 c.Atopi Gangguan hipersensitivitas atopik menujukkan adanya predisposisi familial dan berhubungan dengan peningkatan kadar IgE. Predisposisi atopik jelas ditentukan secara genetik tetapi gejalagejala yang timbul dicetuskan oleh alergen spesifik. Manifestasi klinis yang umum meliputi demam hay, asma, eksema, dan urtikaria, edema laring, wheezing dan kolaps kardiorespiratorius. Penyebab umum adalah molekul biologis dan beberapa obat, seperti penisilin dan insulin.1,4 Tipe II: Hipersensitivitas Sitotoksik

Hipersensitivitas tipe II melibatkan pengikatan antibodi (IgG dan IgM) ke antigen permukaan sel atau molekul matriks ekstraseluler. 1,2 Antibodi yang ditujukan ke antigen permukaan sel dapat mengaktifkan komplemen atau efektor lain untuk menghancurkan sel tersebut. Antibodi (IgG dan IgM) melekat pada antigen melalui regio Fab dan bertindak sebagai jembatan ke komplemen melalui regio Fc. Hasilnya dapat berupa lisis sel yang diperantai oleh komplemen, seperti yang terjadi pada anemia hemolitik, reaksi tranfusi ABO penyakit hemolitik Rh dan trombositopenia yang disebabkan oleh kinidin. 1,4 Obat-batan seperti penisilin, fenasetin, dan konidin dapat melekat pada protein permukaan sel darah merah dan mengawali pembentukan antibodi. Antibodi autoimun ini kemudian dapat bergabung dengan permukaan sel, yang mengakibatkan terjadinya hemolisis. Patogen seperti Mycoplasma pneumoniae dapat menginduksi antibodi yang bereaksi silang dengan antigen sel darah merah yang mengakibatkan anemia hemolitik.1,4 Tipe III: Hipersensitivitas Kompleks Imun Penyakit hipersensitivitas yang diperantarai oleh antibodi (antibody-mediated) merupakan bentuk yang umum dari penyakit imun yang kronis pada manusia.2 Terjadinya reaksi kompleks imun dirangsang oleh pengendapan kompleks antigen-antibodi dalam sirkulasi jaringan. Reaksi ini mengakibatkan aktivitasi komplemen, respon radang polimorfonuklear dan kerusakan jaringan. Antibodi terhadap sel atau permukaan luar sel dapat mengendap pada berbagai jaringan yang sesuai dengan target antigen. Penyakit yang disebabkan reaksi antibodi ini biasanya spesifik untuk jaringan tertentu seperti glomerolus, sinovium, dan dinding pembuluh darah.2,3 Kompleks imun biasanya mengendap di pembuluh darah pada tempat turbulansi (cabang dari pembuluh darah) atau tekanan tinggi (glomerulus ginjal dan sinovium). Oleh karena itu, penyakit kompleks imun cenderung merupakan suatu penyakit sistemis yang bermanifestasi sebagai vaskulitis, artritis dan nefritis.2 Pada infeksi mikroba atau virus yang menetap, kompleks imun dapat dideposisi di organ sehingga mengakibatkan terjadinya disfungsi.1 Pada reaksi tipe III terdapat periode laten beberapa hari sebelum gejala timbul, yaitu periode yang dibutuhkan untuk membentuk kompleks imun yang dapat mengaktivasi komplemen. Reaksi terkadang baru timbul setelah obat dihentikan. Reaksi tersebut dapat pula berupa reaksi setempat yang dikenal sebagai reaksi Arthus. Terdapat pembengkakan dan kemerahan setempat pada tempat antigen berada, misalnya pada vaksinasi. Reaksi setempat ini terjadi oleh karena penderita telah mempunyai kadar antibodi yang tinggi sehingga terjadi presipitasi pada tempat masuk antigen yang terjadi dalam waktu 2 sampai 5 jam setelah pemberian. Manifestasi utama berupa demam, ruam, urtikaria, limfadenopati dan artralgia. Contoh obat tersebut antara lain penisilin, salisilat, sulfonamida, klorpromazin, tiourasil, globulin antilimfositik dan fenitoin.4 Tipe IV: Hipersensitivitas yang Diperantai Oleh Sel (Hipersensitivitas Tipe Lambat) Hipersensitivitas tipe ini bergantung pada limfosit T yang tersensitisasi saat kontak dengan antigen yang terkait dengan makrofag, limfosit T kemudian berpoliferasi dengan melepaskan berbagai sitokin. Reaksi ini berakibat pada akumulasi sel-sel radang yang terlokalisir dan mengakibatkan kerusakan jaringan.3 Hampir semua penyakit yang diperantarai T cell disebabkan oleh mekanisme autoimun. Reaksi autoimun biasanya ditujukan langsung terhadap antigen pada sel yang distribusinya terbatas pada jaringan organ tertentu. Oleh karena itu penyakit T cell mediated cenderung terbatas mengenai

organ-organ tertentu dan biasanya tidak bersifat sistemis. Kerusakan organ juga dapat terjadi menyertai reaksi sel T terhadap reaksi mikroba, misalnya pada tuberculosis. Inflamasi granulomatous yang terjadi mengakibatkan kerusakan jaringan pada tempat infeksi. Pada infeksi virus hepatitis, virusnya sendiri tidak terlalu merusak jaringan, tetapi sel limfosit T sitolitik (CTL) yang bereaksi terhadap hepatosit yang terinfeksi menyebabkan kerusakan jaringan hepar.2 Pada penyakit yang diperantarai oleh sel T (T cell-mediated), kerusakan jaringan dapat disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang diperantarai oleh sel T CD4+ atau sel lisis oleh CD8+ CTLs. Mekanisme dari kerusakan jaringan sama dengan mekanisme yang digunakan oleh sel T untuk mengeliminasi sel yang berkaitan dengan mikroba. Sel T CD4+ bereaksi terhadap antigen pada sel atau jaringan, terjadi sekresi sitokin yang menginduksi inflamasi dan mengaktivasi makrofag. Kerusakan jaringan disebabkan oleh sekresi sitokin dari makrofag dan sel-sel inflamasi yang lain. Sel T CD8+ dapat menghancurkan sel yang berikatan dengan antigen asing. Pada banyak penyakit autoimun yang diperantarai oleh sel T, terdapat sel T CD4+ dan sel T CD8+ yang spesifik untuk antigen diri, dan keduanya berperan pada kerusakan jaringan.2 4)Penyebab Timbulnya Reaksi Hipersensitivitas a.Obat-obatan Alergi obat biasanya terjadi karena tubuh seseorang sangat sensitif sehingga bereaksi secara berlebihan terhadap obat yang digunakan. Tubuh berusaha menolak obat tersebut, namun reaksi penolakannya amat berlebihan sehingga merugikan tubuh sendiri.6 Gejala:7 Gejala-gejala alergi obat bisa mulai dari ringan ke sangat serius, antara lain, hives atau welts, ruam, blisters, atau masalah kulit disebut eksim. Ini adalah yang paling umum gejala alergi obat, batuk, hidung, dan kesulitan bernafas, serta demam. Gejala serius seperti kulit menjadi melepuh dan mengelupas. Anaphylaxis merupakan reaksi paling berbahayayang dapat membawa maut. Gejala, seperti hives dan kesulitan bernapas, biasanya muncul dalam waktu 1 jam setelah minum obat, reaksi cepat tanpa perawatan. b.Makanan Makanan merupakan salah satu penyebab reaksi alergi yang berbahaya. Seperti alergen lain, alergi terhadap makanan dapat bermanifestasi pada salah satu atau berbagai organ target: kulit (urtikaria, angiodema, dermatitis atopik), saluran nafas (rinitis, asma), saluran cerna (nyeri abdomen, muntah, diare), dan sistem kardiovaskular (syok anafilaktik). Urtikaria akibat alergi makanan biasanya timbul setelah 30-90 menit setelah makan dan biasa disertai gejala lain seperti diare, mual, kejang perut, hidung buntu, bronkospasme, hingga gangguan vaskular. Semua gejala ini diperantarai oleh IgE. Hampir setiap jenis makanan memiliki potensi untuk menimbulkan reaksi alergi. Alergen dalam makanan terutama berupa protein yang terdapat di dalamnya. Namun, tidak semua protein dalam makanan mampu menginduksi produksi IgE. Penyebab tersering alergi pada orang dewasa adalah kacang-kacangan, ikan, dan kerang. Sedangkan penyebab alergi tersering pada anak adalah susu, telur, kacang-kacangan, ikan, dan gandum. Sebagian besar alergi hilang setelah pasien menghindari makanan tersebut, dan melakukan eliminasi makanan, kecuali terhadap kacang-kacangan, ikan, dan kerang cenderung menetap atau menghilang setelah jangka waktu yang sangat lama.5 Gambaran klinis reaksi alergi terhadap makanan terjadi melalui IgE dan menunjukkan manifestasi terbatas: gastrointestinal, kulit dan saluran nafas. Tanda dan gejalanya disebabkan oleh pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, dan sitokin. Alergen yang dimakan dapat menimbulkan efek

luas, berupa respon urtikaria di seluruh tubuh, karena distribusi random IgE pada sel mast yang tersebar di seluruh tubuh.5 c.Hirupan Seperti debu, serbuk sari bunga, bulu binatang, tungau (pada kasur kapuk). Disamping itu, alergi berhubungan dengan adanya gen dan alergen. Alergi terjadi pada beberapa individu yang memiliki gen alergi, yaitu pada gen HLA (Human Leucocyte Antigen). Gen alergi ini bisa diturunkan pada individu lain dengan manifestasi yang berbeda. Alergi bisa dihilangkan dengan menjauhi alergen. Pada kasus dalam pemicu: Ibu B gatal-gatal di seluruh tubuhnya karena penekanan ujung-ujung serabut saraf bebas oleh histamin. Jika ditemukan gejala lain seperti: Nyeri akibat adanya kerusakan jaringan akibat inflamasi sehingga terjadi sekresi protease. Bintil-bintil merah di kulit akibat pindahnya leukosit dan plasma ke jaringan. Diare akibat adanya perangsangan sekresi asam lambung. Obat-obatan penyebab alergi:7 Analgesik Antipiretik : Paracetamol, Asam salisilat, Metampiron, Metamizole Barbiturat : Karbamazepin Jamu yang mengandung zat kimia Antibiotik : Penisillin (contoh: Amoksisillin), Sulfonamida Anticonvulsan Obat jantung, sesak nafas, anti radang, kontrasepsi, obat anestesi, dan lainnya. 5)Gambaran Histopatologi yang Dijumpai Pada Kasus Secara mikroskopis terlihat adanya: 1.Polimorfonuklear Leukosit 2.Hiperemia penumpukan darah pada pembuluh darah kapiler yang melebar. 3.Kapiler darah melebar (dilatasi kapiler)

BAB III PENUTUP III.1 KESIMPULAN Hipersensitivitas yaitu reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi hipersensitivitas menurut Coombs dan Gell

dibagi menjadi 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, dan IV. Pada kasus, reaksi hipersensitivitas yang dialami oleh ibu B termasuk ke dalam hipersenstivitas tipe 1 (Tipe Anafilaksis) yang ditandai dengan adanya gejala klinis seperti gatal-gatal dan bengkak di seluruh tubuh. Ada beberapa alergen yang dapat memicu reaksi alergi, yaitu obat-obatan, makanan, hirupan, dan kontak kulit. Secara umum, alergi berhubungan dengan adanya gen dan alergen. Alergi terjadi pada beberapa individu yang memiliki gen alergi, yaitu HLA (Human Leucocyte Antigen). Gen alergi ini bisa diturunkan pada individu lain dengan manifestasi yang berbeda. Alergi bisa dihilangkan dengan menjauhi alergen. Gambaran histopatologi yang dijumpai pada kasus terlihat banyaknya polimorfonuklear leukosit, dilatasi kapiler darah, dan hiperemia.

DAFTAR PUSTAKA 1.Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi kedokteran. Buku 1. Jakarta: Salemba Medika, 2005: 198-201. 2.Abhi. Hipersensitif. (September 2009). http://abhique.blogspot.com/2009/09. (20 Maret 2010). 3.Rizwan Ridhani. (20 Februari 2010). http//www.keperawatan.net. (20 Maret 2010). 4.Judarwanto W. Mekanisme rekasi hipersensitivitas menurut Gell dan Coombs. (20 Juli 2009). http://childrenallergyc.wordpress.com. (22 Maret 2010). 5.Agatha Dinar. Reaksi hipersensitivitas sebagai dasar mekanisme alergi terkait dengan faktor nutrisi. (7 Juli 2009). http://sampahtutorial.blogspot.com/2009/07/imunologi-urtikariahipersensitivitas.html. (23 Maret 2010). 6.Metrogaya. Tips mengatasi alergi obat. (15 Agustus 2009). http://www.metrogaya.com/kesehatan/home/tips-mengatasi-alergi-obat. (22 Maret 2010). 7.Apa yang dimaksud dengan alergi obat? (30 Agustus 2009). http://eczobar.com/dokteronline/dokter15/index.php?option=com. (23 Maret 2010). 8.Sudiono J, Kurniadhi B, Hendrawan Adhy, Djimantoro B. Ilmu Patologi. Jakarta: EGC, 2003: 81-98.