Anda di halaman 1dari 6

EARNING MANAGEMENT (MANAJEMEN LABA)

Patterns of earnings management
Patterns of
earnings
management
Good earnings management Motivations for earnings Implication for management accounting Bad earnings management
Good earnings
management
Motivations for
earnings
Implication for
management
accounting
Bad earnings
management

Manajemen laba mungkin dilakukan karena adanya fakta bahwa GAAP tidak sepenuhnya membatasi pilihan kebijakan dan prosedur akuntansi bagi manajer. Pilihan tersebut jauh lebih kompleks dan menantang daripada sekedar memilih kebijakan dan prosedur yang memberikan informasi terbaik bagi investor. Malahan, pilihan kebijakan akuntansi manajer seringkali dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan strategik seperti kontrak yang tergantung pada variabel akuntansi keuangan, pengunduran diri manajer, usaha manajer untuk menghindari dipecat, penawaran untuk pengambilalihan, daya tarik untuk perlindungan tarif dan penurunan potensi persaingan. Sebagai akibatnya, pilihan kebijakan akuntansi mempunyai karakteristik sebuah permainan. Konsekuensi ekonomi tercipta ketika perubahan dalam GAAP mempengaruhi secara negatif kemampuan manajer untuk memainkan permainan. Dimana manajer akan bereaksi terhadap perubahan aturan yang mengurangi fleksibilitas mereka dalam hal pilihan akuntansi. Sebagai akibatnya, akuntan perlu waspada akan kebutuhan manajemen yang terlegitimasi, seperti halnya investor. Pelaporan akuntansi yang sesungguhnya menggambarkan kompromi antara kebutuhan dua unsur utama ini.

Manajemen laba dapat dilihat dari kedua pelaporan finansial dan perspektif kontrak. Dari perspektif pelaporan keuangan, manajer dapat menggunakan manajemen laba untuk memenuhi analis prakiraan laba, sehingga menghindari reputasi "kerusakan dan negatif yang

kuat”, reaksi harga saham yang cepat mengikuti kegagalan untuk memenuhi harapan investor. Juga, mereka dapat merekam berlebihan write-off , atau menekankan pendapatan konstruksi selain laba bersih, seperti "pro-forma" laba Beberapa taktik menunjukkan bahwa manajer tidak sepenuhnya menerima sekuritas efisien pasar.

Earning Management adalah pilihan bagi manajer akan kebijakan akuntansi untuk mencapai suatu tujuan yang spesifik.

Scott dalam Aribowo mendefinisikan earning management sebagai ''the choice by a manager of accounting policies so as to achieve some specific objective" yang artinya pilihan yang dilakukan oleh manajer dalam menentukan kebijakan akuntansi untuk mencapai beberapa tujuan tertentu.

Pemahaman tentang manajemen laba adalah penting untuk akuntan, karena memungkinkan peningkatan pemahaman kegunaan atau laba bersih, baik untuk melaporkan kepada investor dan kontrak. Hal ini juga dapat membantu akuntan untuk menghindari beberapa konsekuensi hukum dan reputasi serius yang muncul ketika perusahaan secara finansial tertekan. Tekanan tersebut sering didahului oleh penyalahgunaan laba yang serius oleh manajemen.

  • Pola Manajemen Laba

    • a. Taking a bath (kepalang basah). Pola ini terjadi ketika organisasi mengalami sebuah tekanan terkait dengan reorganisasi, termasuk didalamnya memperkerjakan CEO baru. Pada kondisi tersebut jika perusahaan harus melaporkan kerugian, maka manajemen cenderung untuk melaporkan kerugiannya dalam jumlah besar dengan melakukan penangguhan aset, menyediakan biaya yang dapat diperkirakan di masa depan, dan secara umum “clear the decks” sehingga laba di masa depan dapat dikontrol. Healy juga menyebutkan bahwa manajer yang income bersihnya dibawah bogey dari rencana bonus, maka mereka akan melakukan take a bath atau pencucian dengan alasan yang serupa. Sebagai akibatnya, pencatatan penangguhan yang besar akan menempatkan earning mendatang “dalam bank”.

    • b. Minimalisasi Income. Hal ini serupa dengan taking a bath, tetapi kurang ekstrim. Pola ini mungkin dipilih oleh perusahaan yang secara politis terlihat selama periode profitabilitas yang tinggi. Kebijakan yang menyatakan minimalisasi income mencakup penangguhan aset modal dan aset tidak berwujud secara cepat,

membebankan pengeluaran periklanan dan pengeluaran R&D, akuntansi usaha yang sukses untuk biaya eksplorasi minyak dan gas, dan seterusnya.

  • c. Maksimisasi income. Seperti yang kita lihat dalam studi Healy, manajer mungkin terlibat dalam pola maksimisasi income bersih yang dilaporkan untuk tujuan bonus, menyediakan hal ini tidak berarti menempatkan mereka diatas cap. Perusahaan yang mendekati pelanggaran perjanjian hutang juga dapat memaksimalkan income.

  • d. Income Smoothing (perataan laba). Hal ini mungkin merupakan pola manajemen laba yang paling menarik. Menurut Healy manajer mempunyai insentif untuk memuluskan income sehingga mereka paling tidak tetap berada diantara bogey dan cap. Sebaliknya, earning mungkin dapat hilang secara temporer atau permanen dari tujuan bonus. Lebih lanjut, jika manajer adalah penentang resiko, maka mereka lebih menyukai aliran bonus yang kurang variabel sehingga perlu mempermulus income bersih.

  • Manajemen Laba untuk Tujuan Bonus

Terdapat berbagai penelitian terkait pada Teori Akuntansi Positif yaitu pada Bonus Plan Hypotesis (BPH). Penelitian BPH yang pertama kali dilakukan oleh Healy (1985) dalam “Pengaruh Skema Bonus atas Keputusan Akuntansi”. Hal ini merupakan penyelidikan empirik yang paling terkenal atas manajemen laba. Manajemen mempunyai informasi dalam atas income bersih perusahaan sebelum diadakan manajemen laba. Karena pihak luar termasuk dewan komisaris itu sendiri tidak mampu mempelajari berapa jumlah sebenarnya dari earning, maka Healy memprediksi bahwa manajer secara oportunistik mengelola income bersih untuk memaksimalkan bonus mereka dibawah rencana kompensasi perusahaan.

Makalah Healy didasarkan pada teori akuntansi positif. Makalah ini berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi pilihan manajer atas kebijakan akuntansi. Yang lebih spesifik, ini merupakan perluasan dari hipotesis rencana bonus, yang menyatakan bahwa manajer perusahaan dengan rencana bonus akan memaksimalkan earning saat ini. Dengan melihat lebih dekat pada struktur rencana bonus, Healy sampai pada prediksi khusus tentang bagaimana dan dibawah kondisi apa manajer akan terlibat dalam jenis manajemen laba ini.

  • Motivasi Lain untuk Manajemen Laba

    • - Other contractual motivations Misalnya: Kontrak antara perusahaan dengan kreditur kontrak hutang antara perusahaan dengan kreditur pada awal kontrak telah ditentukan adanya persyaratan-persyaratan tertentu antara perusahaan dengan kreditur. Adanya pelanggaran pada persyaratan pada persyaratan kontrak akan menyebabkan perusahaan terkena penalties. Oleh karena itu, untuk menghindari adanya penalties perusahaan cenderung meningkatkan pendapatan.

    • - Political motivation Perusahaan besar yang sebagian besar kegiatan usahanya menyentuh masyarakat pada umumnya cenderung mengurangi laba yang dilaporkan untuk mengurangi political cost.

    • - Taxation motivation Pajak penghasilan mungkin merupakan motivasi yang paling nyata untuk earning manajemen. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan agar pajak penghasilan yang dibayarkan perusahaan semakin kecil.

    • - Changes of Chief Executive Officer (CEO) CEO yang mengundurkan diri atau pension cenderung membuat kondisi perusahaan terlihat bagus dengan meningkatkan laba atau pendapatan. Hal ini dilakukan agar bonus yang mereka terima pada saat pengunduran diri atau pension dapat meningkat.

    • - Initial Public Offering (IPO) IPO adalah peristiwa dimana untuk pertama kalinya suatu perusahaan menjual atau menawarkan sahamnya kepada public di pasar modal. Perusahaan go public cenderung menampilkan kondisi perusahaan yang sehat sehingga mendorong menajemen untuk melakukan earning management dengan meningkatkan laba, sehingga diharapkan saham yang ditawarkan pada public bernilai tinggi.

    • - To communicate information to investor Manajemen perusahaan selalu menyajikan informasi yang bagus mengenai prosepek perkembangan perusahaan di masa yang akan datang agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya. Sehingga perusahaan cenderung menaikkan pendapatan agar dapat menampilkan kesan positif.

  • Sisi Baik dari Manajemen Laba

Sisi baik dari manajemen laba bisa dilihat dari perspektif kontrak dan pelaporan keuangan. Dari perspektif kontrak, tingkat manajemen laba bisa dianggap baik apabila terkait dengan kontrak efisien versus bentuk oportunistik dari teori akuntansi positif. Dalam kontrak yang efisien, maka diinginkan untuk memberi manajer kemampuan untuk mengelaola laba dalam menghadapi kontrak yang rigid dan tidak lengkap. Sehingga interpretasi terhadap manajemen laba harus hati-hati untuk bonus, perjanjian hutang dan alasan politik sebagai hal yang buruk. Seperti interpretasi yang mungkin hanya akan valid apabila manajer terlalu jauh dan oportunistk terhadap kontrak yang ada, sehingga bisa diekspektasikan manajemen laba akan eksis untuk alasan kontrak yang efisien. Manajemen laba bisa juga menjadi alat untuk

menyampaikan informasi internal ke pasar, mengokohkan harga saham untuk dengan lebih baik merefleksikan prospek masa depan perusahaan.

  • Sisi Buruk Manajemen Laba

Selain teori dan bukti tentang penggunaan manajemen laba yang efisien, terdapat juga bukti bahwa manajemen laba adalah buruk. Dalam perspektif kontrak, hal ini dapat dihasilkan dari perilaku manajer yang oportunistik. Kecenderungan manajer untuk menggunakan manajemen laba untuk maksimisasi bonus. Dechow, Sloan dan Sweeney (1996) juga menguji praktek manajemen laba, hasil investigasi mereka mengungkap sejumlah motif manajemen laba. Salah satunya adalah kedekatan terhadap batasan perjanjian hutang. Perusahaan yang melakukan manajemen laba memiliki rata-rata leverage yang lebih besar dan secara signifikan memiliki lebih banyak pelanggaran kontrak hutang daripada sampel kontrol. Dye (1988) memodelkan manajemen laba dari perspektif pasar modal. Dia mempertimbangkan dua generasi pemegang saham, sekarang dan masa depan. Pemegang saham sekarang bisa menjual saham mereka pada generasi mendatang di masa depan. Berdsarkan informasi internal, dan berdasarkan bahwa menguraikan manajemenlaba perusahaan adalah hal yang ”prohibitively costly” untuk pemegang saham masa depan, Dye menunjukkan bahwa manajer bertindak sebagai pemegang saham sekaran yang memiliki

kemampuan dan insentif untuk mengelola laba serhingga maksimisasi harga jual dapat diterima oleh pemegang saham sekarang.

  • Reaksi Pasar Modal Terhadap Manajemen Laba

Dalam hal tertentu, apakah pasar bereaksi terhadap manajemen laba sebagai hal yang baik atau buruk? Jawaban untuk pertanyaan ini penting untuk akuntan karena mereka sangat terlibat dalam teknik dan implementasi manajemen laba. Juga pada kondisi dimana

manajemen laba baik, pembentukan standar, utamanya yang membatasi pilihan akuntansi, dapat mengurangi kemampuan pelaporan keuangan untuk mengungkap informasi dari dalam. Subramanyam (1996) menyediakan temuan atas isu ini. Dia memisahkan akrual kedalam komponen diskresioner dan non diskresioner, dengan menggunakan model Jones (bagian 8.3), untuk sampel 2808 perusahaan selama tahun 1973-1993 untuk total 21135 pengamatan. Subramanyam menemukan bahwa setelah pengendalian efek arus kas operasi dan akrual non diskresioner terhadap return saham, pasar modal merespon secara positif terhadap akrual diskresioner, konsisten dengan manajer, yang menggunakan manajemen laba untuk mengungkapkan informasi dari dalam tentang daya earning dimasa mendatang.