Anda di halaman 1dari 20

UJI PRAKLINIS EFEK ANTI INFLAMASI DAN TOKSISITAS FRAKSI AKTIF Spilanthes paniculata WALL & DC Oleh : Armi

Djamain Telah dilakukan uji efek anti inflamasi ekstrak S.paniculata dan Siabadicencis dengan dosis yang sama (300 mg/200 g BB) dengan metoda udem buatan pad telapak kaki tikus putih jantan. Sebagai penginduksi udem, digunakan 0,2 ml karagen 1 % dalam air suling. Selanjutnya dilakukan uji efek anti inflamasi fraksi ekstrak S.paniculata dengan pelarut heksan, DCM, etil asetat dan butanol dengan metoda serta dosis yang sama dengan uji anti inflamasi ekstrak S.paniculata dan Siabadicencis Parameter yang diamati pada ke dua penentuan diatas adalah penurunan volume udem telapak kaki setelah pemberian zat uji. Persentarase inhibisi radang setelah pemberian S.iabadicencis, S.paniculata dan kontrol positif, berturut turut 35, 48 dan 63 % dan persentase inhibisis radang setelah pemberian fraksi heksan, DCM, etil asetat, Butanol dan control positif, berturut turut adalah 69, 27, 53 dan 43%. Dari hasil uji anti inflamasi dari fraksi, ternyata fraksi heksan, mempunyai persentase inhibisi terbesar (69 %) , yang kemudian dilanjutkan dengan uji efek anti inflamasi fraksi heksan dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok kontrol positif (asetosal 1,3 mg/ 20 g BB ) pada mencit putih jantan menggunakan metode udema buatan pada punggung mencit. Sebagai penginduksi udem, adalah karagen 1% dalam oleum sessami pada hari ke 0 dan ke 1 berturut turut 0,1 dan 0,5 ml. Parameter yang diamati adalah diameter udem volume udem serta kadar hemoglobin dan nilai hematokrit. Persentase inhibisi diameter inflamasi kelompok dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok kontrolpositif ( asetosal 1,3 mg/ 20 g BB ) pada hari ke 5, berturut-turut adalah 11, 15, 17 dan 20 %. Persentase inhibibisi volume radang kelompok dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok kontrol positif ( asetosal 1,3 mg/ 20 g BB ) berturut turut 19, 38, 62 dan 63% . Kadar hemoglobin ( Hb ) kelompok dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok kontrol negatif, berturut-turut 14,808; 15,064, 15,117 dan 12,944g/dl dan nilai hematokrit darah mencit, kelompok dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kontrol negative dan kontrol positif, berturut-turut 43,25; 45,2; 48,25; 45,25dan 44,2. Rata rata sel hati yang mengalami nekrosis/300 sel pada 3 lapangan pandang dari kelompok dosis 30 mg/kg BB, kelompok kontror positif dan kontrol negatif berturut-turut adalah 6,38 , 13,82 dan 3,55. Kata kunci: Anti inflamasi, S. paniculata&S.iabadicencis, Efek toksik pada darah & sel hati mencit.

A.PENDAHULUAN a. LATAR BELAKANG Radang (inflamasi) merupakan mekanisme pertahanan tubuh disebabkan adanya respons jaringan terhadap pengaruh-pengaruh merusak, baik bersifat lokal maupun yang masuk ke dalam tubuh. Pengaruh-pengaruh merusak ( noksi ) dapat berupa noksi fisika, kimia, bakteri, parasit, asam, basa kuat dan bakteri (Mutschler. 1991; Korolkovas. 1988). Penyakit inflamasi banyak dijumpai di Rumah sakit umum, rumah sakit anak dan rumah sakit gigi, sehingga pemakain obat obat anti inflamasi dari hari kehari terus meningkat dengan atau tanpa resep dokter (Cheri, 2007). Obat Antiinflamasi yang banyak digunakan, terutama dari kelompok obat-obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID) dan sebahagian kecil dari golongan Anti inflamasi steroid (AIS). Kerja utama obat-obat (NSAID) sebagai penghambat enzim

siklooksigenase yang mengakibatkan penghambatan sintesis senyawa endoperoksida siklik PGG2 dan PGH2. Kedua senyawa ini merupakan prazat antitrombotik, menghambat sintesa prostaglandin di vena. Sebagai pengganti dipilih Spilanthes acmella karena secara tradisional dan farmakologi Spilanthes acmella digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit gigi (Chakraborty, 2004) dan antiinflamasi (Agric, 2008) . b. TUJUAN PENELITIAN - Menentukan besarnya efek anti inflamasi diantara ekstrak S. paniculata dan S.iabadicencis.

- Menentukan besarnya efek anti inflamasi secara praklinis diantara fraksi heksan, DCM, etil asetat dan butanol. - . Menentukan dosis terapi anti inflamasi fraksi heksan. - . Mengetahui kerusakan sel hati kelompok fraksi heksan kelompok dosis 30 mg/20 g BB ( dosis yang paling efektif ) dibanding dengan kelompok kontrol negatif dan kelompok kontrol positif. - Mengetahui efek toksik fraksi heksan dosis 30 mg/ 20 g BB terhadap darah (perobahan kadar Hb dan nilai hematokrit ). c. MAMFAAT PENELITIAN - Penelitian ini merupakan salah satu upaya pemanfaatan tumbuhan S. paniculata dalam mengobati inflamasi. Oleh karena itu tumbuhan S.paniculata diharapkan dapat dipakai sebagai bahan alternatif dalam pencegahan maupun pengobatan terhadap kerusakan dini sel atau organ tubuh akibat infeksi bakteri, fungi, virus, zat kimia lainnya ataupun kerusakan karena proses kimia atau fisika. -. Dapat mengurangi pemakaian obat obat NSAID dan glukokortikoid untuk pengobatan penyakit inflamasi akut dan kronis yang mempunyai efek samping pada hati, ginjal, lambung, hipertensi, diabetes, osteoporosis dan lain-lain. -. Dapat mengurangi biaya obat bila digunakan secara tradisional tanpa memikirkan efek samping. d. MASALAH PENELTIAN - Apakah ekstrak S.paniculata dan S.iabadicencis mempunyai efektivitas

antiinflamasi berbeda pada sanpel.

- Apakah diantara fraksi heksan, etil asetat, DCM dan butanol berbeda efek anti inflamasinya . - Berapakah dosis terapi fraksi heksan. - Apakah fraksi heksan toksik terhadap hati hewan coba. e. METODE PENELITIAN Hewan uji terdiri dari 24 ekor tikus wistar berat 200 g dan mencit putih berat 20 - 30 g sebanyak 28 ekor. Adapun teknik pengambilan hewan uji dilakukan dengan metode pemilihan secara randon, kemudian dikelompokan sesuai dengan pengamatan yang akan dilakukan. - Ekstraksi dari herba S.paniculata dan S.iabadicencis maserasi herba dengan etanol 85%, sebanyak empat kali, filtrat dikumpulkan dan uapkan dengan rotaryevaporator sampai semua pelarut tidak menetes lagi. - Uji Pendahuluan untuk penentuan efektivitas ekstrak di antara ke dua spesies. Penentuan efektivitas anti inflamasi di antara ke empat fraksi. Masing-masing fraksi dosis 300 mg/ 200 g BB, menggunakan metode winder. Pengamatan dilakukan pada jam ke 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 20 dan 21. Hasil pengamatan dilakukan analisa Anova 2 arah dengan spss 17, kemudian dilakukan uji lanjut Duncan. - Uji pendahuluan fraksi heksan, DCM, etil asetat dan butanol. Penentuan efektivitas anti inflamasi di antara ke empat fraksi. Masing-masing fraksi dosis 300 mg/ 200 g BB, menggunakan metode winder Pengamatan dilakukan pada jam ke 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 22, 23 dan ke 24. Hasil pengamatan dilakukan analisa Anova 2 arah dengan spss 17, kemudian dilakukan uji lanjut Duncan.

- Uji fraksi heksan (fraksi yang paling efektif). Sebelum dimulai dilakukan uji toksisitas terhadap 3 ekor mencit, dosis 30 mg/ 20 g g BB, mencit tidak mati, dan dosis ini di pakai sebagai dosis pengamatan fraksi hexan, dengan metode pembentukan gelembung inflamasi pada punggung mencit dengan udara (Tehereh, 2009). Pada hari ke 0 dan ke 1 induksi berturut turut dengan 0,1 dan 0,5 ml karagen 1%. Pada hari ke 1 induksi dilakukan setelah udara dikeluarkan. Pemberian zat uji dilakukan pada hari ke 1, 2, 3 dan ke 4 dengan dosis 10, 20 dan 30 mg/ 20 g BB.. Parameter yang ditentukan adalah. a. Mengukur diameter inflamasi dilakukan pada hari ke 1 sesudah, dikurangi dengan sebelum induksi dengan menggunakan jangka sorong dari 3 arah (cm). Hasil yang diperoleh dilakukan uji statistik Anova 1 arah dengan spss 17. b. Mengukur volume inflamasi pada hari ke 5, setelah mencit di potong, cairan inflamasi diambil dan diukur dengan spit. Hasil yang diperoleh dilakuka uji statistik anova 1 arah dengan spss 17 dan dilanjutkan dengan dengan uji Duncan. c. Menentukan kadar hemaglobin. Metode sianmethemoglobin didasarkan pada pembentukan sianmethemoglobin yang intensitas warnanya diukur secara fotometri. Reagen yang digunakan adalah larutan drabkin . Intensitas warna yang terbentuk diukur secara fotometri pada panjang gelombang 540 nm. Terhadap hasil pengamatan dilakukan uji statistik anova 1 arah dengan spss 17, kemudian dilakukan uji lanjut duncan.

e. Menentukan nilai hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan ( packed cell volume, PCV) dengan metode mikrohematokrit. Hasil yang diperoleh dilakukan uji statistik Anova 1 arah dengan spss 17. f. Setelah semua uji selesai dilakukan, kelompok dosis (dosis 300 mg/200 g BB), kelompok kontrol negatif, diisolasi dan diambil hatinya dan dibuat preparat histopatologi menurut cara Bancoft (Bancroft dan Gamble, 2002). Sel hati yang mengalami kerusakan nekrotik , di amati dengan mikroskop pembesaran 40x100 . Jumlah sel yang nekrosis/ 300 sel pada 3 lapangan pandang dilakukan uji statistik anova 1 arah dengan spss 17 dan dilanjutkan dengan uji Duncan.
B. TINJAUAN PUSTAKA

a. Zat uji ekstrak dari herba kering Spesies : 1. Acmella oleraceae (L.) R .K Jansen (Spilanthes paniculata Wall.& D) 2. Acmella oppositofolia ( Spilanthes iabadicensis A.H.Moore Malaysia : Getang, Kerabu.Indonesia : Jotang, Jocong, dan Getang. Family : Asteraceae( Compositae ) ( RATNASOORIYA, 2005 ).

b. OBAT-OBAT ANTIINFLAMASI Golongan antiinflamasi non steroid Antiinflamasi (NSAID) Asam asetilsalisilat

Asam asetilsalisilat yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah obat anti inflamasi non steroid (NSAID) yang paling banyak digunakan dan merupakan turunan asam salisilat yang terpenting. Asam asetilsalisilat merupakan obat protipe obat analgetik, antipiretik dan anti inflamasi (Anne and Garret, 2006). C. PELAKSANAAN PENELITIAN Ekstraksi S. paniculata dan S.iabadicensis a. Masing-masing simplisia (herba) yang sudah dibersihkan dikeringkan dengan oven blower (40-600 C) selama 30-36 jam hingga diperoleh simplisia kering, di potongpotong 0,5 mm dan digrender sampai jadi bubuk kasar. Ekstraksi dilakukan dengan etanol 85 %,. Terhadap ekstrak kental yang diperoleh , dilakukan fraksinasi berturut turut dengan pelarut heksan, DCM, etil asetat dan butanol. Persiapan hewan percobaan Hewan yang akan digunakan telah lolos kaji etik komite etik penelitian FK UNAND a. Tikus untuk pemeriksaan pendahuluan ekstrak dan fraksi (fraksi heksan, DCM, etil asetat dan butanol) adalah tikus putih galur Wistar yang sehat dengan umur lebih kurang 2-3 bulan, berat badan lebih kurang 200 gram atau 100-150 gram (Vogel, 2002). Sebelum diperlakukan hewan di adaptasikan selama 7 hari. b. Pemeriksaan Anti inflamasi adalah mencit putih yang sehat dengan umur lebih kur ang 2-3 bulan, dan berat badan lebih kurang 20 - 30 gram (Vogel, 2002). Sebelum diperlakukan hewan di adaptasikan selama 7 hari dan diberi makan dan minum yang cukup.

d. Uji Pendahuluan efek anti inflamasi ekstrak S.paniculata dan S.iabadicencis Ekstr. S. paniculata Ekstr. S. iabadicencis

Uji pendahuluan ekstr. tiap kelp. tdr.dr.3 ekor tikus

K+

K-

Diberi susp.S.paniculat a 300 mg/200BB

Diberi susp.S.iabadicen ci s dosis 300 mg/200 gBB

Diberi susp. asetosal 9 mg/200 g BB

Kontrol negatif

Amati vol.udem ( berdasarkan kenaikan vol.air raksa pada pletismometer) = ( volume kaki sesudah - vol. sebelum induksi ) ( ml ) Gambar 5 : Uji pendahuluan efek anti inflamasi ekstrak Perubahan volume udem yang terbentuk diukur dan dicatat pada jam ke 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 22, 23 dan ke 24 .Setiap kelompok tikus dihitung persentase inhibisi radang rata-rata untuk setiap zat uji dengan rumus (Lauren, 1964 ; Turner, 1964) (Lampiran 4. Tabel 1 dan 2) . % Inhibisi radang = a - b x 100%. a a = volume udem pada kelompok hewan control.

b = volume udem pada kelompok hewan uji. Hasil penelitian dilakukan uji statistik menggunakan Anova 2 arah dengan spss 17, bila berbeda nyata dilakukan uji lanjut Duncan . e. Pemeriksaan kandungan kimia dari herba S.paniculata Pemeriksaan kwalitatif golongan triterpenoi Uji efektivitas fraksi ( fraksi heksan,DCM, etil asetat dan fraksi butanol alkaloid , flafonoid, fenol, saponin dan

Uji pendahuluan fraksi. Tiap kelp.tdr.dari 3 ekor tikus dengan dosis masing-masing fraksi 300 mg/ 200g BB

Kelompok A

Kelompok B

Kelompok C

Kelompok D

Kelp. fraksi heksan

Kelp. fraksi DCM

Kelp. etil.asetat

Kelp. fraksi butanol

Pengamatan Vol.inflamasi ( berdasarkan kenaikan vol.air raksa pada Pletismometer ) = volume kaki sesudah - Vol. sebelum induksi ( ml ) Gambar 6. Uji efek anti inflamasi fraksi heksan, DCM, etil asetat dan fraksi butanol

Perubahan volume udem yang terbentuk diukur dan dicatat pada jam ke 0,1, 2, 3, 4, 5, 6, 22, 23 dan ke 24. Setiap kelompok tikus dihitung persentase inhibisi radang rata-rata untuk setiap kelompok zat uji dengan rumus (Lauren, 1964 ; Turner, 1964)

Hasil penelitian dilakukan uji statistik menggunakan anova 2 arah dengan spss 17, bila berbeda nyata dilakukan uji lanjut Duncan

f. Uji Antiinflamasi Fraksi heksan. Uji Anti inflamasi fraksi heksan dengan 3 dosis dibanding kontrol negatif dan kontrol posistif. Tiap kelp. tdr. dari 5 ekor mencit

K-

K+

Kelomp. Dosis 30mg/20g BB

Kelomp.dos is 20mg/20g BB

Kelomp. Dosis 10mg/20g BB

Kelomp.kont

rol negatif

Kelomp. Asetosal 1,3 mg/20g BB

Pengamatan: Vol.inflamsi, diameter inflamasi, kadar Hb, penetapan nilai hematokrit dan uji toksisitas jaringan hati Gambar 7. Uji efek anti inflamasi fraksi heksan Diameter inflamasi (cm) Setiap kelompok tikus dihitung persentase inhibisi radang rata-rata untuk setiap kelompok zat uji dengan rumus (Lauren, 1964 ; Turner, 1964). Hasi penelitian

dilakukan uji statistik dengan menggunakan anova 1 arah dengan spss 17 dan bila berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan Lampiran 7 Volume inflamasi . Setelah mencit di isolasi, kemudian diambil eksudat. Hasil penelitian dilakukan uji statistik menggunakan anova 2 arah dengan spss 17, bila berbeda nyata kemudian dilakukan uji Duncan . Kadar hemaglobin Hasil penelitian dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dengan menggunaka spss 17. Nilai hematokrit dengan metode mikrohematokrit Hasil penelitian dilakukan uji statistik dengan anova 1 arah dengan spss 17 Uji toksisitas sel hati mencit Pemeriksaan dilakukan menurut cara (Bancroft, 2002), menggunaka pewarnaan hematoksilin dan eosin, pembesaran 40x100. Hasil pengamatan rata rata sel yang mengalami nekrosis/ 300 sel pada 3 lapangan pandang di lakukan uji statistik Anova satu arah dengan spss 17, kemudian dilakukan uji lanjut Duncan D. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil

Satu setengah kilo gram herba S.paniculata dan S.iabadicencis diperoleh ekstrak
bobot dan warna yang berbeda. S.paniculata bermassa kental bewarna hijau tua seberat 27,96 gram ( 1,96 % ) dan ekstrak S.iabadicencis bewarna hijau tua seberat 21, 5 g ( 1, 43 % ). Dan dari 5 gram ekstrak dihasilkan fraksi heksan, DCM, etil asetat

dan butanol, berturut turut, bermassa kental bewarna hijau tua seberat 21,53 gram (4,22 %), fraksi DCM yang bermassa kental bewarna merah coklat seberat 217 mg (4,34 %), fraksi etil acetat diperoleh massa kental yang kental bewarna hijau muda seberat 410 mg (8,2 %) dan fraksi butanol bewarna merah kekuningan seberat 310 mg (6,2 %). Hasil penelitian uji praklinis efek anti inflamasi ekstrak S.paniculata dan S.iabadicencis, dengan metode Winder dengan membuat radang pada kaki tikus, dengan cara menginduksis dengan 0,2 ml karagen 1%, setelah 1 jam pemberian ekstrak S.iabadicencis dan S.paniculata, dengan dosis sama 300 mg/200 g BB, ternyata persentase inhibisi radang setelah pemberian ekstrak S.iabadicencis dan S.paniculata dan kelompok asetosal pada jam ke 21 berturut turut 35,48 dan 63 %. Perbedaan efek anti inflamasi antar kelompok S.paniculata dan S.iabadicencis sangat berbeda nyata p 0,003. Hubungan efek anti inflamasi antar kelompok terhadap waktu pengamatan ( jam ), tidak berbeda nyata, p = 0,05. Efek anti inflamasi fraksi (fraksi heksan, DCM, etil asetat, fraksi butanol dengan dosis juga sama 300 mg/200 g BB), serta kontrol positif ( asetosal dosis 1,3 mg /200 g BB) dengan metode Winder, sama dengan uji efek anti inflamasi ekstrak, ternyata persentase inhibibisi radang kaki tikus , setelah pemberian zat uji pada jam ke 24 berturut-turut adalah 69, 27, 53 dan 43 %. Perbedaan efek anti inflamasi antar kelompok fraksi tidak berbeda nyata p = 0,012. Hubungan antar kelompok dengan waktu pengamatan tidak berbeda nyata p = 0,05. Efek anti inflamasi fraksi heksan kelompok dosis 10, 20 dan dosis 30 mg/20g BB , kelompok pembanding ( asetosal 1,3 mg/ 30 g BB ) dan kelompok kontrol

negatif, dengan metode pembentukan gelembung inflamasi pada punggung mencit yang kemudian di induksi dengan larutan karagen 1 % , pada hari ke 0 dan ke 1, berturut turut 0, 1 dan 0,5 ml secara sub kutan, kedalam gelembung inflamasi yang sebelumnya telah di keluarkan udaranya. Pengamatan dilakukan pada hari ke 5 pemberian zat uji. Efektivitas anti inflamasi, dinilai dari 4 parameter 1. Persentase inhibisi diameter inflamasi kelompok dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok pembanding ( asetosal 1,3 mg/ 30 g BB ) , pada hari ke 5,

berturut-turut adalah 11,15,17 dan 20 %. Perbedaan diameter inflamasi antar kelompok dosis10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok pembanding ( asetosal 1,3 mg/ 30 g BB ) , sangat berbeda nyata p , 0,000. Hubungan diameter inflamasi dengan waktu pengamatan ( hari ) tidak berbeda nyata, p = 0,031. 2. Persentase inhibibisi volume radang dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok pembanding ( asetosal 1,3 mg/ 30 g BB ) berturut-turut 19, 38, 62 dan 63 %. Hubungan efektivitas antar kelompok sangat berbeda nyata p 0,000. Hubungan antar kelompok dengan dosis, tidak berbeda nyata, p = 0,05. 3. Kadar hemoglobin ( Hb ), kelompok dosis dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , dan kontrol negatif berturut-turut 14,808; 15,117; 15,064; 12,944 g/dl. Ketiga kelompok dosis mempunyai kadar Hb lebih besar dari kadar Hb normal tikus putih ( Rattus novergicus ) 12,48 -14,63g/dl ( 13,85g/ dl ) (Esa. T, 2006). Hubungan kadar hemoglobin antar kelompok sangat berbeda nyata P 0,000. 4. Nilai hematokrit mencit ( % ), kelompok dosis 10, 20 dan 30 mg/20g BB , kelompok kontrol positif dan kontrol negatif, , berturut-turut 43,25; 45,2; 48,25; 45,25dan 44,2.

Hasi penelitian secara mikroskopis, ditemukan rata-rata jumlah sel hati yang mengalami nekrosis/300 sel pada 3 lapangan pandang, kelompok dosis 30 mg/20 g BB, kelompok kontrol negatif dan kontrol positif, berturut turut adalah 6, 38; 3,55 dan 13,82. Hubungan antar kelompok sel yang mengalami nekrosis berbeda nyata, p p 0,005. B. Pembahasan Dari literatur diketahui bahwa akar dan bunga dari S. iabadicensis dan S. paniculata mempunyai khasiat untuk berbagai penyakit, diantaranya adalah untuk pengobatan sakit gigi, anti radang, penurun panas, anestesi lokal, vasorelaksan dan beberapa strain bakteri (Supaluk et al., 2009). S.paniculata dan S.iabadicensis adalah dua species tanaman dari Famili Asteraceae dari genus Acmella. Dari jurnal tidak banyak ditemukan informasi mengenai efek farmakologisnya, maka perlu

tentang S. iabadicensis, terutama

dilakukan identifikasi tumbuhan untuk mengetahui kebenaran dari tumbuhan yang kita harapkan, yakni S.paniculata Wall.& D dan S.iaabadicensis A.H.MOOR dan ini dinyatakan benar oleh herbarium biologi UNAND. Kemudian dilakukan pemeriksaan kwalitatif, golongan kimia yang dikandung herba kering dari tumbuhan tersebut dengan tujuan untuk dapat memperkirakan senyawa aktif yang memberikan efek sebagai anti inflamasi atau menghambat radang. Ekstraksi dan fraksinasi Proses ekstraksi dengan etanol 85 %, ini dipilih sebagai teknik penyarian karena cara ini tidak membutuhkan peralatan yang khusus, pengerjaannya mudah dan tidak memerlukan panas sehingga tidak merusak zat-zat yang tidak tahan

terhadap pemanasan ( Voigt, 1994 ). Disamping itu pelarut etanol bersifat universal yang dapat melarutkan hampir semua zat, baik yang bersifat polar dan non polar dan juga untuk menghindari efek toksik dari pelarut (Harbone, 1987). Dalam penelitian ini dipakai etanol 85% (mengandung air) sebagai pelarut sesuai dengan penelitian uji anti inflamasi S.acmella (Agric, 2008). Dari bermacam macam fraksi yang di coba, dijumpai berat dan dan warna fraksi yang berbeda-beda. Sedangkan menurut pemeriksaan Supaluk dengan ( UV. IR, 1 H dan C-NMR ) terhadap bermacam fraksi, seperti fraksi heksan, kloroform etil asetat dan metanol pada ekstrak S.acmella Murr dijumpai struktur yang berbeda ( Supaluk et al., 2009 ). Pernilaian anti inflamasi Efek anti inflamasi dinilai dari penurunan diameter udem serta volume cairan inflamasi setelah di beri zat uji. Cairan inflamasi adalah campuran cairan dan sel yang tertimbun didaerah peradangan, terjadi akibat peningkatan permeabilitas

intravaskuler, memungkinkan protein plasma dan molekul aliran darah lokal yang meningkat (dilatasi arteriol), mendorong lebih banyak cairan yang keluar. Pengaruh peningkatan cairan peradangan adalah toksin yang bersifat inflamasi akan diencerkan sehingga toksisitasnya berkurang. Zat antitoksin didalam cairan akan menetralkan toksin (Elizabeth, 2009). Pernilaian efek toksik Efek toksik dinilai dari kadar hemoglobin ( Hb ), nilai hematokrit darah mencit dan sel hati yang mengalami nekrosis/ 300 sel pada tiga lapangan pandang. Peningkatan kadar Hb, bisa disebabkan oleh karena dehidrasi/hemokonsentrasi dan

pengaruh obat ( zat uji ) yang diberikan. nilai hematokrit yang tinggi hanya membuktikan terjadinya perembesan plasma oleh karena suatu radang. Sel-sel yang mengalami nekrosis melarutkan unsur-unsur sel sehingga dapat mengeluarkan enzim litik. Respon peradangan dilakukan dengan cara regenerasi selsel, pembentukan jaringan ikat serta terjadi emigrasi leokosit ke daerah nekrosis (Robbine dan Kumar, 1992) Bridging nekrosis merupakan nekrosis yang membentuk periportal akibat sel-sel hepatosit dengan granul cytoplasma dan nucleus di pusat (Martinez et al., 2007) menjalar ke daerah pembuluh (portal-portal: portal- sentral dan sentral-sentral) kelompok dosis 30 mg/20 g BB (Gambar 26) menyebabkan rangkaian nekrosis pada bahagian portal. Nekrosis ditandai dengan adanya pignotik kelompok dosis 30 mg/ 20 g BB (Gambar 25). Pignotik ditandai dengan pengkerutan inti sel. Pembekakan sel terjadi karena muatan elektrolit di luar dan di dalam sel berada didalam keadaan tak setimbang. Ketidak stabilan sel dalam memompa ion Na + keluar dari sel menyebabkan peningkatan masuknya cairan ekstra seluler ke dalam sel sehingga sel tidak mampu memompa ion Na + yang cukup. Hal ini menyebabkan sel akan membengkak sehingga sel akan kehilangan integritas membrannya . sel akan mengeluarkan materi sel keluar dan kemudian akan terjadi kematian sel (nekrosis). Pembengkakan sel atau degenerasi vakuola bersifat reversible sehingga apabila paparan zat toksik tidak berlanjut maka sel dapat kembali normal namun jika pengaruh zat toksik itu berlangsung lama maka sel tidak dapat mentoleril kerusakan yang diakibatkan oleh zat toksik (Hinton dan Lauren, 1990). Kematian sel yang terus berlanjut akan menyebabkan bridging nekrosis .

E. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka dapat dibuat kesimpulan kesimpulan sebagai berikut: 1. Persentase inhibisi volume radang (inflamasi) kaki tikus oleh ekstrak S. paniculata lebih besar dari S.iabadicencis, kelompok asetosal dosis 9 mg/ 200 g BB, berturut turut pada jam ke 21: 34,48 dan 63 % 2. Persentase inhibisi volume radang (inflamasi) kaki tikus oleh fraksi heksan, fraksi DCM, etil asetat, butanol dan kelompok asetosal dosis 9 mg/ 200 g BB, berturut turut pada jam ke 24: 69, 27, 53 dan 43 %. 3. Persentase inhibisi volume radang kelompok fraksi heksan dosis 10, 20 dan 30 mg/ 20 g BB, kelompok asetosal dosis 1,3 mg/ 20 g BB, berturut turut, 11,15,17 dan 20 %. 4. Sel hati mencit / 300 sel pada tiga lapangan pandang yang mengalami nekrosis, kelompok fraksi heksan dosis 30 mg/ 20 g BB, kelompok kontrol negatif dan kelompok kontrol positif, berturut turut 6, 38; 3,55 dan 13,82 B. Saran Disarankan kepada peneliti lain untuk membuat sediaan fitofarmaka dari ekstrak etanol S.paniculata dosis yang lebih besar, karena persentase inhibisi volume radang ekstrak etanol S.paniculata dosis 300 mg/ 200 g BB adalah 48 %, sedang asetosal 9 mg/ 200 g BBadalah 63 %. Uji toksistas terhadap fraksi heksan S.paniculata dosis 30 mg/ 20 g BB, darah. tidak menunjukan toksisik pada sel hati dan

, DAFTAR PUSTAKA .Agric.J.Food Chem. 2000, Anti-inflamasi Effect of Spilanthol from Spilanthes acmella on Murine Macrophage by Down-Regulating LPS-Induced Inflamatory Mediators., J.Agric.Food Chem, pp 2341-2349. Anne,B., E. S and Garret. A. F. 2006., Analgesic-antipyretic agents; pharmacotherapy ofgout fitzgerald.Good man & gilmans chapter 2 pharmacological basis of therapeutics- 11 th Ed. Chakraborty.A, R KB Devi, S Rita, Kh Sharatchandra, Th I Sing. 2004., Research Paper.,Departemen of Pharmacology, Regional Institute of Medical Sciences Bakhriansyah, Mohammad dan Ajiwijaya. 2006. Antiinflamasi; pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack); edema. Jurnal ilmiah internasional. Dalam koleksi: Berkala Kedokteran jurnal kedokteran dan kesehatan vol. 5 no. 1 page 32. Boelsterli, Urs A. 2002., Mechanisms of NSAID-Induced Hepatotoxicity: Focus on Nimesulide., Review Article ., Drug Safety. 25(9):633-648, 2002. Bancroft, J.D and M. Gamble (Ed). 2002. Histological Techniques. Ed. 5. Churchill Livingstone. London. Bancroft, J.D and M. Gamble (Ed). 2002 Campbell, W.B. (1991)., Lipid-Derived Autacoids : Eicosanoids and PlateletActivating Factor. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. et al. New York: Pergamon Press. Vol. I. Halaman 600-602, 605-606, 61 1. Cheri Mathews John1, Rajeev Shukla2, Caroline A Jones1.2007., Arch .Dis. Child,., 92:524-526 doi:10.1136/adc.2006.103564 Using NSAID in volume depleted children can precipitate acute renal failure Esa,T.S.Aprianti, M.Arif, Hardjoeno. 2006., Nilai rujukan hematologi pada orang deawasa sehat berdasarkan sysmex xt-1800i., Indonesian Journal of clinical pathology and medical laboratory, vol. 3, No.3: 127-130 Harbone, J.B. 1987., Metode Fitokimia, Penentuan cara modern menganalisa tumbuhan, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata, Penerbit ITB, Bandung. Geeta Nagar, Raipur. 2006., Akarkara ( Spilanthes Acmella Murr.)., African Journal of Biomedical Research ., vol.9, vol.1,pp 67-68 Insel, P.A. (1991)., Analgesic-Antipyretics and Antiinflammatory Agents: Drugs Employed in the Treatment of Rheumatoid Arthritis and Gout. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8.

Editor: Gilman, A.G. etal. New York: Pergamon Press. Vol. I. Halaman 639,648,665,667. Katzung BG, 1998., Farmakologi dasar dan klinik. Edisi 3.Jakarta: EGC. Laine L, Bombardier C, Hawkey CJ, Davis B, Shapiro D, Brett C, Reicin A. 2002 .,Stratifying the risk of NSAID-related upper gastrointestinal clinical events: results of a double-blind outcomes study in patients with rheumatoid arthritis., Gastroenterology;123(4):1006-12. Laurance and AL. Bacharach 1964., Evaluation of drug activities Pharmacometric, Vol.2., London. Mustchler, E. 1991., Dinamika obat: Buku ajar Farmakologi dan toksikologi, Edisi ke lima, Diterjemahkan oleh Widianto, M. dan A.S Ranti, Penerbit ITB, Bandung. Robbins, S.L. & Kumar, V. (1995)., Buku ajar patologi I (4th ed.)(Staf pengajar laboratorium patologi anatomik FK UI, penerjemah). Jakarta: EGC (Buku asli diterbitkan 1987). Ratnasooriya W.D.. and K.P.P.Pieris. 2005., Attennuation of Persistent Pain and Hyperalgesia by Spilanthes acmella. Flower in Rats. Pharmaceutical Biology.Vol.43, No.7, Pages 614-619. Supaluk Prachayasittikul, Soawapa Suphapong, Apilak Worachartcheewan, Ratana Lawung, Somsak Ruchirawat and Prachayassittikul. 2009., Bioactive Metabolites from Spilanthes acmella Murr., Molecules, 14,850-867. Santoso, Heri.B. 2006., Struktur mikroskopis kartilago Epifisialis Tibia Fetus Mencit ( Mus Musculus.L ) Dari induk dengan perlakuan Kafein., Jurnal Penelitian Hayati Kalimantan Selatan. Tehereh Eteraf Oskouei, Nasrin Moslem Najfi. 2009., The Impact of Gender on the Inflamatory and Angiogenesis in the Rat Air Model of Inflamation., Iran Journa of Basic Medical Sciences vol.12 No.2, Summer, 80-85. .Vogel, H.G., W.H., Vogel. 2002., Drug Discovery and Evalution Pharmacological Assay, edisi II,
Springer-Verlag Berlin Heidelberg, Germany.

Werner, R. (2005)., A massage therapist's guide to Pathology. 3rd edition . Lippincott Williams & Wilkins, Pennsylvania.

Winder, C.A. 1962., Carragenin Induced Edema Farmasi, Edisi V, diterjemahkan oleh S.Noerono, Gajah Posted by Irga Sub Bagian Reumatologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI / RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Jansen. Robert.K and Tod F. Stuessy, 2003., Curtis , s Botanical Magazine., American Journal of Botany, Vol. 67, No.4 ( April., 1980), pp 585-594

Anda mungkin juga menyukai