Anda di halaman 1dari 8

INJEKSI Rute pemberian obat Enteral (oral, buccal, sublingual, atau rektal, atau lewat selang nasogastrik) : absorbsi

terutama melalui usus halus, tetapi juga melalui mukosa mulut, mukosa lambung, usus besar, atau rektum Parenteral (intravena [IV], subkutan [SC], intramuskular [IM], intradermal [IC], intra-artikular, intratekal, epidural) Topikal (ointments/salep, krim, jelly untuk dipakai di kulit, obat mata, obat telinga, instilasi hidung, transdermal) intravenous 30-60 seconds intraosseous 30-60 seconds endotracheal 2-3 minutes inhalation 2-3 minutes sublingual 3-5 minutes intramuscular 10-20 minutes subcutaneous 15-30 minutes rectal 5-30 minutes ingestion 30-90 minutes transdermal (topical) variable (minutes to hours) IM INJECTION SITES Deltoid Dorsogluteal Ventrogluteal Vastus lateralis

Kebutuhan Oksigenasi
Saluran Nafas Atas 1.Hidung 2. Faring 3. Laring 4. Trakea Saluran Nafas Bawah 1. Bronkus 2. Bronkiolus 3. Bronkiolus Terminalis 4. Bronkiolus respiratori 5. Ductus alveolar dan Sakus alveolar 6. Alveoli Volume pulmoner Volume tidal ( TV ) : jumlah udara yang digunakan pada tiap siklus respirasi. 500 ml pada laki laki dan 400 ml pada wanita. Volume cadangan inspirasi / Inspiratory reserve volume ( IRV ) : jumlah udara yang didapat pada inhalasi maksimal, 3100 ml Volume cadangan ekspirasi / Expiratory reserve volume ( ERV ) : jumlah udara yang dikeluarkan pada saat ekspirasi kuat, 1200 ml. Volume residu ( RV ) : jumlah udara yang tersisa setelah ekspirasi, normalnya 1200 ml Kapasitas pulmoner Kapasitas total paru ( TLC ) : jumlah udara maksimal dlm paru setelah inspirasi maksimal : TLC = TV + IRV + ERV + RV, 6000 ml Kapasitas vital ( VC ) : jumlah udara yang dapat diekspirasi setelah inspirasi kuat : VC = TV + IRV + ERV ( biasanya 80 % TLC ), 4800 ml Kapasitas inpirasi ( IC ) : jumlah udara maksimal yang didapat setelah ekspirasi normal, IC = TV + IRV , 3600 ml Kapasitas fungsional residu ( FRC ) : volume udara yang tertinggal dalam paru setelah ekspirasi normal volume tidal, FRC = ERV + RV, 2400 ml

Tanda hiperventilasi (Merupakan upaya tubuh dlm meningkatkan jumlah O2 dlm paru agar pernapasan lebih cepat dan dalam) : Takikardia Napas pendek Nyeri dada (chest pain) Menurunnya konsentrasi Disorientasi Tinnitus Tanda hipoventilasi (Terjadi ketika ventilasi alveolar tdk adekuat u/ memenuhi pgunaan O2 tubuh atau u/ mengeluarkan CO2 dengan cukup) : Nyeri kepala Penurunan kesadaran Disorientasi Kardiakdisritmia Ketidakseimbangan elektrolit Kejang Kardiak arrest Tanda-tanda hipoksia (Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari definisi O2 yg diinspirasi atau meningkatnya pgunaan O2 pd tingkat seluler) Kelelahan Kecemasan Menurunnya kemampuan konsentrasi Nadi meningkat Pernapasan cepat dan dalam Sianosis Sesak napas Clubbing

Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh. Tujuan pemberian oksigen 1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan 2. Untuk menurunkan kerja paru-paru 3. Untuk menurunkan kerja jantung Indikasi pemberian oksigen (1) Klien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil analisa gas darah, (2) Klien dengan peningkatan kerja nafas, dimana tubuh berespon terhadap keadaan hipoksemia melalui peningkatan laju dan dalamnya pernafasan serta adanya kerja otot-otot tambahan pernafasan, (3) Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat. Pasien yang diberi oksigen (1) sianosis, (2) hipovolemi, (3) perdarahan, (4) anemia berat, (5) keracunan CO, (6) asidosis, (7) selama dan sesudah pembedahan, (8) klien dengan keadaan tidak sadar. Metode pemberian oksigen Sistem aliran rendah Pemberian O2 sistem aliran rendah ini ditujukan untuk klien yang memerlukan O2 tetapi masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 20 kali permenit. Contoh system aliran rendah ini adal;ah : (1) kateter nasal, (2) kanula nasal, (3) sungkup muka sederhana, (4) sungkup muka dengan kantong rebreathing, (5) sungkup muka dengan kantong non rebreathing.

a. Kateter nasal Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan O2 secara kontinu dengan aliran 1 6 L/mnt dengan konsentrasi 24% - 44%. - Keuntungan Pemberian O2 stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap. - Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 yang lebih dari 45%, tehnik memasuk kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 L/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, kateter mudah tersumbat.

b. Kanula nasal Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan O2 kontinu dengan aliran 1 6 L/mnt dengan konsentrasi O2 sama dengan kateter nasal. - Keuntungan Pemberian O2 stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, mudah memasukkan kanul disbanding kateter, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan nyaman. - Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih dari 44%, suplai O2 berkurang bila klien bernafas lewat mulut, mudah lepas karena kedalam kanul hanya 1 cm, mengiritasi selaput lendir. sungkup muka sederhana, Merupakan alat pemberian O2 kontinu atau selang seling 5 8 L/mnt dengan konsentrasi O2 40 60%. - Keuntungan Konsentrasi O2 yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, system humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol. - Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.

d. Sungkup muka dengan kantong rebreathing : Suatu tehinik pemberian O2 dengan konsentrasi tinggi yaitu 60 80% dengan aliran 8 12 L/mnt - Keuntungan Konsentrasi O2 lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir - Kerugian Tidak dapat memberikan O2 konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong O2 bisa terlipat. e. Sungkup muka dengan kantong non rebreathing Merupakan tehnik pemberian O2 dengan Konsentrasi O2 mencapai 99% dengan aliran 8 12 L/mnt dimana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi - Keuntungan : Konsentrasi O2 yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak mengeringkan selaput lendir. - Kerugian Kantong O2 bisa terlipat.

System aliran tinggi Suatu teknik pemberian O2 yang tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi O2 yang lebih tepat dan teratur. Adapun contoh tehnik system aliran tinggi yaitu sungkup muka dengan ventury. Prinsip pemberian O2 : gas yg dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai O2 sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada alat ini sekitas 4 14 L/mnt dengan konsentrasi 30 55%. Keuntungan Konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol serta tidak terjadi penumpukan CO2 Kerugian Kerugian system ini pada umumnya hampir sama dengan sungkup muka yang lain pada aliran rendah.

Terapi cairan intravena (infus) Ukuran 18 : paling besar Ukuran 26 : paling kecil Indikasi infus Mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit Membantu pemasukan obat (intermiten, kontinyu/bolus)/pemeriksaan diagnostik Pemberian darah/komponen darah Membantu pemberian anestesi pra dan pasca bedah Memelihara atau memperbaiki status gizi pada klien yang sistem pencernaannya terganggu Monitoring fungsi hemodinamik Indikasi pemberian obat secara infuse Pada klien dengan penyakit berat, kasus sepsis, kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat akibat obstruksi pada GI tract Obat yang memiliki bioavailabilitas oral yang terbatas atau hanya tersedia dalam sediaan intravena. Ex: antibiotika gol aminoglikosida Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai. Ex : kasus mengancam nyawa, hipoglikemia berat pada DM Mikro drip (60 drops/ml) bentuknya beda karena ada jarumnya Makro drip (60 drops/ml) bentuknya Cuma lubang saja Tipe cairan Cairan isotonic Osmolaritas hampir sama dengan serum Cairan akan tetap berada di dalam pembuluh darah Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload, khususnya pasien dengan disfungsi ventrikel kiri, riwayat penyakit CHF atau hipertensi Hindari hiperexpansi pada pasien dengan patologi intracranial, lesi desak ruang (SOL). Ex: Ringer-Laktat (RL), normal saline (NS)/ larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) Cairan hipotonik Osmolaritas lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum) Digunakan pada keadaan sel yang dehidrasi, ex: pada pasien hemodialisa dalam terapi diuretik, hiperglikemia dengan ketoasidosis diabetik

Komplikasi yang membahayakan: perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial pada beberapa orang Ex: NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%

Cairan hipertonik Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan dengan serum Sifat: menarik cairan dan elektrolit dari intraseluler/insterstisial ke intravaskuler Berperan dalam stabilitas tekanan darah, meningkatkan urine output, koreksi hipotonik hiponatremia, dan mengurangi edema Ex: Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah , dan albumin