Anda di halaman 1dari 42

PALEONTOLOGI

BAHAN PEMBINAAN UNTUK CALON PESERTA OLIMPIADE SAINS NASIONAL BIDANG ILMU KEBUMIAN TAHUN 2009

Disusun oleh

IR. WARTONO RAHARDJO


MOH.INDRA NOVIAN, ST.

PALEONTOLOGI
PALEONTOLOGI adalah ilmu yang membahas tentang fosil FOSIL : Sisa atau jejak yang merupakan bukti adanya kehidupan di masa lalu yang terekam dan terawetkan dalam batuan oleh proses alam
Fosil berasal dari kata fodere = menggali Fosil diperoleh dengan cara menggali

Penggalian
Penggalian

Fosil umumnya tersimpan dalam perlapisan batuan di alam


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

UJUD FOSIL
FOSIL : Adalah sisa atau jejak yang merupakan bukti adanya kehidupan di masa lalu yang terekam dan terawetkan dalam batuan oleh proses alam
FOSIL dapat berupa : 1. Sisa yang berupa kerangka utuh / fragmen kerangka, disebut Body fossil 2. Jejak yang merupakan rekaman kegiatan organisme tersebut, disebut sebagai Trace fossil (fosil jejak). 3. Senyawa organik yang tersimpan dalam batuan. Senyawa tersebut merupakan hasil penguraian dari tubuh organisme yang pernah ada, disebut sebagai Chemical fossil (fosil kimia).
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

BODY FOSSIL
BODY FOSSIL dapat berupa
a. Tubuh / Cangkang asli : Awetan cangkang asli

b. Mold : Awetan berupa cetakan

c. Cast : Awetan berupa cetakan dari cetakan

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

URUTAN PROSES PEMBENTUKAN MOLD DAN CAST

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

TRACE FOSSIL
TRACE FOSSIL DAPAT BERUPA a. Track : Awetan jejak berupa tapak

b. Trail

: Awetan jejak berupa alur

c. Burrow : Awetan berupa lubang sedimen semasih lunak d. Boring : Awetan berupa lubang pada sedimen yang sudah mengeras

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

WAKTU PEMBENTUKAN FOSIL


FOSIL : Sisa atau jejak yang merupakan bukti adanya kehidupan di masa lalu yang terekam dan terawetkan dalam batuan oleh proses alam

MASA LALU : yang dimaksud adalah masa lalu geologis, yaitu masa sebelum masa sekarang
MASA SEKARANG : Holosen : masa sesudah 12.000 tahun yang lalu, saat berakhirnya Jaman Es yang terakhir.

MASA LALU : masa sebelum Holosen : masa sebelum 12.000 tahun yang lalu.

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

SKALA WAKTU GEOLOGI

Holosen

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

JAMAN JAMAN GEOLOGI


QUATERNARY
NEOGENE PALEOGENE 65 0 Ma

TERTIARY

CRETACEOUS

JURASSIC
TRIASSIC PERMIAN CARBONIFEROUS DEVONIAN
245

SILURIAN ORDOVICIAN
CAMBRIA N
570 Ma

PRE CAMBRIAN
4600 Ma WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

KENOZOIK, MASALALU YANG TERDEKAT

MASA KINI MASA LALU

HOLOSEN PLEISTOSEN PLIOSEN MIOSEN OLIGOSEN EOSEN

0,011 2,0 5,0 24 38 45

65

PALEOSEN

MESOZOIK
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

PENGAWETAN FOSIL
FOSIL : Sisa atau jejak yang merupakan bukti adanya kehidupan di masa lalu yang terekam dan terawetkan dalam batuan oleh proses alam TEREKAM : dapat diamati dengan menggunakan mata telanjang ataupun menggunakan alat pembesar (mikroskop) TERAWETKAN : belum banyak mengalami perubahan bentuk dari bentuk aslinya, serta tidak menjadi rusak & hancur oleh penimbunan
Kenampakan fosil yang sama di bawah mikroskop

Kondisi fosil dalam batuan di alam


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

BATUAN PENGANDUNG FOSIL


FOSIL : Sisa atau jejak yang merupakan bukti adanya kehidupan di masa lalu yang terekam dan terawetkan dalam batuan oleh proses alam
BATUAN : benda alam yang tersusun oleh mineral, terdiri dari batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf BATUAN YANG MENGANDUNG FOSIL : batuan sedimen dan batuan metamorf yang berasal dari batuan sedimen yang tidak sepenuhnya mengalami metamorfisme

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

BATUAN SEDIMEN DI BUMI


Bumi tersusun oleh 3 jenis batuan utama : batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf
Secara keseluruhan, batuan beku dan metamorf jauh lebih banyak dari batuan sedimen, tetapi di permukaan kerak bumi batuan sedimen lebih banyak dijumpai.

Batuan sedimen mempunyai sifat berlapis, baik perlapisan tipis yang mudah terlihat maupun perlapisan tebal yang tidak mudah terlihat
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

BATUAN SEDIMEN PENGANDUNG FOSIL

Batulempung yang kaya akan fosil moluska di Sangiran

Batugamping yang kaya akan fosil Balanus di Klayu, Sragen

Perselingan Batugamping dan napal yang kaya akan fosil Foraminifera di Temas, Bayat

Batupasir dengan struktur silang-siur yang kaya akan fosil vertebrata di Trinil, Ngawi
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

PROSES PEMBENTUK FOSIL


FOSIL : Sisa atau jejak yang merupakan bukti adanya kehidupan di masa lalu yang terekam dan terawetkan dalam batuan oleh proses alam PROSES ALAM : bukan proses kerja manusia. Proses alam yang berpengaruh pada pembentukan fosil adalah proses eksogen (asal luar) berupa : pelapukan, erosi, transportasi, pengendapan (deposisi), pembatuan (litifikasi)

Proses yang berdampak positip pada pembentukan fosil : pengendapan dan pembatuan Proses yang berdampak negatip pada pembentukan fosil : pelapukan, erosi, transportasi

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

BEBERAPA PERSYARATAN AGAR ORGANISME YANG MATI DAPAT TERAWETKAN SEBAGAI FOSIL YANG BAIK
1. MEMPUNYAI CANGKANG YANG KERAS

2. BERJUMLAH BANYAK & BERUKURAN KECIL 3. TIDAK TERKENA PROSES TAFONOMIK YANG MERUSAK

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

PROSES YANG BERPENGARUH PADA PEMBENTUKAN FOSIL


FOSIL : REKAMAN ORGANISME YANG TELAH MATI PROSES YANG BEKERJA PADA / MENGENAI SUATU ORGANISME SETELAH MATI PROSES TAPHONOMIK MACAM PROSES TAPHONOMIK : 1. PROSES YANG MERUSAK DAN TIDAK MENGHASILKAN FOSIL Dimangsa oleh Predator Busuk karena bakteri sebelum terkubur Hancur karena transportasi Terkubur lambat, hancur sebelum sepenuhnya terkubur Terkubur lambat atau cepat, hancur karena proses tektonis, magmatis atau metamorfisme Terkubur lambat atau cepat pada batuan porous, hancur karena air tanah yang korosif
2. PROSES YANG MENGHASILKAN FOSIL Terkubur secara cepat pada batuan yang kedap air terkena proses Taphonomik yang merusak Tidak

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

CANGKANG YANG KERAS


1. Cangkang keras memungkinkan untuk tidak gampang rusak oleh proses pembusukan, erosi dan transportasi. 2. Cangkang keras dari organisme yang hidup secara berkoloni lebih gampang terawetkan dari yang hidup secara soliter.

Koloni Koral

3. Perkecualian : dalam keadaan tertentu tanpa cangkang keraspun dapat terawetkan sebagai Trace Fossil : Contoh : Ediacaran Fossil

Trace Fossil yang ditemukan

Tafsiran organisme yang membentuknya

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

JUMLAH BANYAK & UKURAN KECIL


1. Jumlah yang banyak memungkinkan masih ada sisa yang relatif utuh seandainya sebagian besar mengalami kerusakan 2. Ukuran kecil sukar mengalami abrasi, sehingga dalam satu volume batuan yang kecil masih dijumpai banyak fosil yang berukuran kecil sedang kalau ada fosil besar paling merupakan perwakilan dari satu macam organisme saja.
Satu fragmen contoh yang kecil akan mewakili organisme dalam jumlah besar

Satu fragmen fosil besar hanya mewakili satu organisme saja

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

PENGUBURAN CEPAT
1. CEPAT TERKUBUR OLEH SEDIMEN YANG RELATIF IMPERMEABEL
a. Organisme terbebas dari faktor predasi (pemangsa) dan bakteri pembusuk.

b. Organisme terbebas dari faktor pelapukan dan abrasi

2. SETELAH TERKUBUR TIDAK TERSERANG AIR TANAH YANG BERSIFAT KOROSIF


Fosil yang tersimpan tidak akan larut

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

LAPISAN PENGANDUNGNYA TIDAK RUSAK KARENAPROSES PELAPUKAN, TEKTONIK, MAGMATIK ATAU METAMORFISME
1. PROSES TEKTONIK KEMUNGKINAN AKAN MERUSAK ATAU MENGHANCURKAN JENIS FOSIL YANG BERUKURAN BESAR

2. PROSES MAGMATIK DAN METAMORFISME AKAN MENGHANCURKAN (MEREKRISTALISASIKAN) SEMUA JENIS FOSIL DARI SEMUA UKURAN SEHINGGA HILANG.
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

KEMUNGKINAN BENTUK AWETAN FOSIL


ORGANISME HIDUP
Setelah mati dan terkena proses taphonomik mungkin Rusak, hancur, lenyap, tidak terawetkan Tidak lenyap, segera terkubur

TIDAK MEMBENTUK FOSIL


Terkumpul di tempat semula hidup (in situ)

MEMBENTUK KUMPULAN / ONGGOKAN FOSIL


Terangkut, terkumpul di tempat lain (ex situ)

FOSIL BIOCOENOSIS

FOSIL THANATOCOENOSIS
Yang mungkin berupa

INDIGENEOUS

EXOTIC

REWORKED
Berasal dari batuan yang lebih tua

LEAKED
Berasal dari batuan yang lebih muda

Terpindahkan tetapi Terpindahkan ke masih pada lingkungan lingkungan yang yang sama lain

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

AWETAN FOSIL BIOCOENOSIS

FOSIL TRILOBIT : CRINOID : PADA YANG TIDAK TIDAK MOLUSKA ADA ORIENTASI FOSIL BAADA ORIENTASI YANG JELAS, JELAS, TIDAKPUCANGAN ADA PROSES TULEMPUNG DI BAGIAN YANG PATAH MASIH BERADA TRANSPORTASI = TETAP DI DI DEKAT SANGIRAN, FOSIL TAK TERBATANG FOSIL TEMPAT NYA SEMULA HIDUP ORIENTASI : : BIOCOENOSIS (FOSILBIOCOENOSIS BIOCOENOSIS) FOSIL

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

PERCABANGAN PALEONTOLOGI
BERDASAR MACAM OBYEK STUDINYA Tumbuh tumbuhan Hewan / Binatang : PALEOBOTANI Palinologi : PALEOZOOLOGI Vertebrata Invertebrata : PALEOANTHROPOLOGI

Manusia

BERDASAR UKURAN OBYEK STUDINYA

Megafosil Makrofosil Mikrofosil Nannofosil

: MAKROPALEONTOLOGI : MIKROPALEONTOLOGI :

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

PEMBAGIAN JENIS FOSIL


BERDASAR UKURAN FOSILNYA

1. Megafossil
Ukuran organisme utuh sangat besar Vertebrate fossil Hominid fossil

2. Macrofossil
Ukuran organisme cukup besar, tak memerlukan mikroskop Invertebrate fossil Petrified wood

3. Microfossil
Ukuran organisme kecil, memerlukan mikroskop Foraminifera, Radiolaria, Diatomae Fragmen invertebrate fossil

4. Nannofossil
Ukuran organisme amat kecil, memerlukan mikroskop yang kuat (SEM, TEM) Coccolithophore (coccolith)
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

MEGAFOSIL / VERTEBRATE FOSSIL

Rekonstruksi kerangka utuh Triceratop

Frangmen tengkorak Homo erectus

Fragmen rangka Stegodon trigonocephalus


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

MACROFOSIL

Fragmen fosil terumbu koral

Fosil bivalvia (internal cast)

Fosil Crinoida (Echinodermata)

Fosil bivalvia & gastropoda


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

MICRO & NANNOFOSIL

Foraminifera dan algae pada batuan Sayatan batuan yang mengandung fosil Foraminifera

Foraminifera kecil pada batuan Coccolith dilihat dengan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM )

1 cm

1 mikron
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

TUGAS AHLI PALEONTOLOGI


(DARI DISIPLIN BIOLOGI)

MELAKUKAN IDENTIFIKASI & REKONSTRUKSI FOSIL - Sisa utuh Klasifikasi - Taksonomi - Fragmen - Cetakan

MELAKUKAN ANALISIS TERHADAP KONDISI DAN FUNGSI MORFOLOGI DARI ORGANISME TERSEBUT
- Bagaimana cara hidupnya - Bagaimana cara metabolismenya - Bagaimana cara reproduksi /mempertahankan diri

MELAKUKAN ANALISIS TERHADAP EKOSISTEM ORGANISME YANG MEMFOSIL TERSEBUT PADA SAAT ORGANISME TERSEBUT MASIH HIDUP. MELAKUKAN ANALISIS PERKEMBANGAN MORFOLOGI FOSIL YANG TERDAPAT PADA URUTAN PERLAPISAN YANG TERBENTUK PADA WAKTU GEOLOGI BERBEDA : EVOLUSI ORGANIK
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

Stegodon trigonocephalus
Data 1

Data 2

Data 4

Data 3

Pleistosen Tengah (> 0,5 juta tahun yang lalu)


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

TERUMBU KARANG MIOSEN


Data 2

Data 1

Rekonstruksi mengacu padamodel masa kini yang diterapkan untuk masa lalu berdasar data yang tersedia

TERUMBU KARANG Miosen Tengah (15 Juta tahun yang lalu)


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

Archaeopteryx : PERALIHAN REPTIL KE BURUNG

Cetakan Rangka pada Endapan batukapur (chalk) dari Bavaria , Jerman

Hasil rekonstruksi dari Museum Ilmu Pengetahuan Alam, Berlin

Jura (150 juta tahun lalu)


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

STUDI PENYEBARAN FOSIL SECARA STRATIGRAFIS


Batuan sedimen mempunyai sifat berlapis karena terjadinya tidak sekaligus, melainkan tahap demi tahap. Setiap tahap menghasilkan satu perlapisan A B C D E
T7
C
D E

D
D

T6
T5 T4
A A A A

B
B B

C
C

T3 T2 T1

SEBARAN STRATIGRAFIS

Perlapisan yang terbentuk dahulu akan berada di bawah perlapisan yang terbentuk kemudian: HUKUM SUPERPOSISI Dengan mempelajari/mengidentifikasi isi fosil dari setiap lapisan yang berurutan dapat diketahui perkembangan organisme sepanjang waktu : EVOLUSI ORGANIK
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

SEBARAN FOSIL SECARA STRATIGRAFIS

BANYAK GENUS / SPESIES FOSIL MEMPUNYAI KISARAN STRATIGRAFIS YANG PENDEK SEHINGGA DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENENTU UMUR BATUAN YANG MENGANDUNGNYA

Disadur dari JONES, 1969,Hal.295

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

SEBARAN FOSIL SECARA STRATIGRAFIS


A. Dijumpai Discocyclina dan Nummulites dalam jumlah banyak UMUR BATUAN DITENTUKAN DENGAN MENGAMBIL ZONE OVERLAP PADA KISARAN STRATIGRAFI DARI TAKSONTAKSON YANG ADA A. Eosen tengah

UMUR BATUAN

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

SEBARAN FOSIL SECARA STRATIGRAFIS


A. Dijumpai Discocyclina dan Nummulites dalam jumlah banyak
B. Dijumpai Nummulites, Miogypsinoides dan Cycloclypeous

UMUR BATUAN

A. Eosen tengah
B. Oligosen akhir

WR/2008/Mikropaleontologi/Teknik Geologi UGM

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

HUTAN RAWA PADA JAMAN KARBON


Pada hutan tersebut didapatkan tumbuhan antara lain Sigillaria, Lepidodendron, Calamites, Sphenophyllum Rentangan sayap capung mencapai hampir 1 meter

275 juta tahun lalu


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

MACAM FOSIL YANG DITEMUKAN

MOLD ON ROCK

ORIGINAL
WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

FAUNA SERPIH BURGESS

WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

REKONSTRUKSI KEHIDUPAN LAUT JAMAN CAMBRIAN


(BERDASAR FOSIL YANG DIJUMPAI PADA SERPIH BURGESS)

560 juta tahun lalu

FAUNA EDIACARA, AUSTRALIA

Mold dari organisme yang dijumpai di batuan sedimen di Ediacara Australia

580 juta tahun lalu


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009

ORGANISME GUNFLINT, CANADA


FOSIL PRIMITIF YANG TERDAPAT PADA BATU RIJANG GUNFLINT. BERBENTUK PAYUNG ADALAH Kakabekia umbellata. Huroniospora BERBENTUK BOLA, SEDANG YANG BERFILAMEN ADALAH Gunflintia

REKONSTRUKSI BENTUK MIKROFOSIL GUNFLINT, Eoasterion (A), Eosphaera (B), Animikiea (C) dan Kakabekia (D)

2000 juta tahun lalu


WR / 2009 / PALEONTOLOGI / PEMBEKALAN PESERTA IESO 2009