Anda di halaman 1dari 9

TUGAS INDIVIDU BLOK 19 UNIT PEMBELAJARAN 1 Kucing Muntaber

Disusun Oleh : REZEKI MULIANI 10/KH/296815/06474

Learning objective : 1. Toxoplasmosis & implikasinya terhadap zoonosis! 2. Bagaimana cara diagnosa penyakit infeksi gastrointestinal pada kucing? 3. Macam-macam penyakit parasit yang menyerang gastrointestinal kucing beserta daur hidup dan patogenesisnya! 4. Bagaimana pencegahan & terapi terhadap penyakit infeksi gastrointestinal pada kucing?

Pembahasan 1. Toxoplasmosis Etiologi dan daur hidup Toxoplasmosis disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini termasuk

protozoa subfilum apicomplexa, kelas sporozoa, sub kelas coccidia. Toxoplasma berbentuk bulat atau oval yang ditemukan dalam jumlah besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, paru-paru, otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat daging licin lainnya. Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista. Dalam sel epithel usus kecil bangsa kucing dapat berlangsung siklus asexual (schizogoni) maupun sexual (gametogoni, sporogoni) yang akan menghasilkan oocyst (ookista). Ookista yang berbentuk oval dengan ukuran 9-11 mikron x 11-14 mikron akan keluar bersama feces. Ookista akan menghasilkan dua sporokista yang masing masing mengandung empat sporozoite (sporosoit). Apabila ookista tertelan oleh hospes perantara yaitu mamalia lain ( termasuk manusia ) dan golongan burung (aves), maka pada berbagai jaringan dari hospes perantara ini akan terbentuk kelompok kelompok tropozoite yang membelah secara aktif dan disebut sebagai tachyzoite yang membelah sangat cepat. Selanjutnya kecepatan membelah dari tachyzoite akan berkurang secara berangsur dan akan terbentuk cyst (kista) yang mengandung bradizoite. Masa tersebut adalah masa infeksi klinis menahun yang biasanya merupakan infeksi laten. Pada hospes perantara tidak terdapat stadium sexual melainkan terjadi stadium istirahat yaitu adanya kista jaringan. (Gandahusada, 2004) Zoonosis pada manusia Cara infeksi pada manusia : 1. Toxoplasmosis congenital , transmisi parasit ini kepada janin terjadi in utero melalui placenta bila ibunya mendapat infeksi primer pada saat kehamilan

2.

Toxoplasmosis aquisita , infeksi ini dapat terjadi bila makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista atau tachizoite parasit ini atau melalui tertelannya ookista yang dikeluarkan oleh kucing penderita bersama fecesnya

3.

Infeksi di laboratorium yaitu melalui jarum suntik dan alat laboratorium lain yang terkontaminasi oleh parasit ini serta kemungkinan ke empat adalah melalui transplantasi organ dari donor penderita toxoplasmosis latent. (Gandahusada, 2004)

PATOGENESA DAN MANIFESTASI KLINIS PADA MANUSIA : Toxoplasma gondii dapat menyerang semua sel yang berinti sehingga dapat menyerang semua organ dan jaringan tubuh hospes kecuali sel darah merah. Bila terjadi invasi oleh parasit ini yang biasanya di usus , maka parasit ini akan memasuki sel hospes ataupun difagositosis. Sebagian parasit yang selamat dari proses fagositosis akan memasuki sel, berkembangbiak yang selanjutnya akan menyebabkan sel hospes menjadi pecah dan parasit akan keluar serta menyerang sel - sel lain. Dengan adanya parasit ini di dalam sel makrofag atau sel limfosit maka penyebaran secara hematogen dan limfogen ke seluruh bagian tubuh menjadi lebih beberapa minggu. Kista jaringan akan terbentuk apabila telah ada kekebalan tubuh hospes terhadap parasit ini. Kista jaringan dapat ditemukan di berbagai organ dan jaringan dan dapat menjadi laten seumur hidup penderita. Derajad kerusakan yang terjadi pada jaringan tubuh tergantung pada umur penderita , virulensi strain parasit ini, jumlah parasit ini dan jenis organ yang diserang. Lesi pada susunan saraf pusat dan pada mata biasanya bermanifestasi lebih berat dan bersifat permanent sebab jaringan jaringan tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan regenerasi. Kelainan kelainan pada Susunan Saraf Pusat umumnya berupa nekrosis yang disertai dengan kalsifikasi sedangkan terjadinya penyumbatan aquaductus sylvii akibat ependymitis dapat mengakibatkan kelainan berupa hydrocephalus pada bayi. Infeksi yang bersifat akut pada retina akan mengakibatkan reaksi peradangan fokal dengan oedema dan infiltrasi leucocyte yang dapat menyebabkan kerusakan total pada mata serta pada proses penyembuhannya akan terjadi cicatrix. Akibat dari pembentukan cicatrix ini maka akan dapat terjadi atrophi retina dan coroid disertai pigmentasi. . (Natadisastra, 2009) Pada toxoplasmosis aquisita , infeksi pada orang dewasa biasanya tidak diketahui sebab jarang menimbulkan gejala , tetapi bila infeksi primer terjadi pada masa kehamilan maka akan terjadi toxoplasmosis congenital pada bayinya. Manifestasi klinis yang paling mudah terjadi. Parasitemia ini dapat berlangsung selama

sering terjadi pada toxoplasmosis aquisita adalah limfadenopati, rasa lelah, demam dan sakit kepala dan gejala ini mirip dengan mononucleosis infeksiosa, kadang kadang dapat terjadi eksantema. ( Markell, 1992 ) Toxoplasmosis sistemik pada penderita dengan imunitas yang normal dapat bermanifestasi dalam bentuk hepatitis, pericarditis dan meningoencephalitis. Penyakit ini

dapat berakibat fatal walaupun itu sangat jarang terjadi. Pada penderita dengan keadaan immunocompromised misalnya pada penderita HIV AIDS atau pada orang orang yang mengkonsumsi imunosupresan, infeksi oleh parasit ini mungkin dapat meluas yang ditandai dengan ditemukannya proliferasi tachizoite di jaringan otak, mata, paru, hepar, jantung dan organ organ lainnya sehingga dapat berakibat fatal. Apabila infeksi oleh parasit ini tidak diobati dengan baik dan penderita masih tetap hidup, maka penyakit ini akan memasuki fase kronik yang ditandai dengan terbentuknya kista jaringan yang berisi bradizoite dan ini terutama didapatkan di jaringan otak serta kadang kadang tidak memberikan gejala klinik yang jelas. Fase kronik ini dapat berlangsung lama selama bertahun- tahun bahkan dapat berlangsung seumur hidup . (Dharmana,2007)

2. Diagnosa penyakit gastrointestinal a. Toxoplasmosis Gold standard diagnosis untuk toxoplasmosis sampai sekarang adalah pengukuran titer antibodi. Ditemukannya Ig M merupakan petanda infeksi akut yang baru saja terjadi dan merupakan bentuk infeksi aktif. Ig G merupakan petanda infeksi telah berlangsung lama atau khronis. Diagnosis toxoplasmosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan serologis dan menemukan parasit dalam jaringan tubuh penderita. Pemeriksaan serologis yang umum dipakai ialah : Dye test Sabin Feldman yang merupakan pemeriksaan dengan metilen blue. Complement fixaton test (CFT) berdasarkan reaksi antigen antibodi yang akan mengikat komplement sehingga pada penambahan sel darah merah yang dilapisi anti bodi tidak terjadi hemolisis. Reaksi fluoresensi anti bodi memakai sediaan yang mengandung toxoplasma yang telah dimatikan. Anti bodi yang ada dalam serum akan terikat pada parasit. Setelah ditambah antiglobulin manusia yang berlabel fluoresens. Inderect hemaglutination test mempergunakan antigen yang diletakkan pada sel-sel darah merah, bila dicampur dengan serum kebal menimbulkan aglutinasis. Elisa mempergunakan antigen toxoplamosis yang diletakkan pada penyangga padat. Mula-mula diinkubasi dengan

serum penderita, kemudian dengan antibodi berlabel enzim. Kadar anti bodi dalam serum penderita sebanding dengan intertitas warna yang timbul setelah ikatan antigen anti bodi dicampur dengan substat. b. Helminthiasis Diagnosis Dipylidium caninum dengan ditemukan segmen disekitar perineum. Jika segmen masih baru bisa diamati bentuknya yang seperti biji mentimun dan 2 alat genital ditepinya dengan kaca pembesar. Jika segmen sudah kering dan mengkerut dengan cara memecahkan segmen kemudian dilihat dibawah mikroskop.

3. Macam-macam penyakit a. Helminthiasis Dipylidium sp Dipylidium caninum berpredileksi di dalam usus halus anjing dan kucing, serta kadang kadang pada manusia terutama anak-anak. Cacing ini bisa mencapai lebih dari 50 cm. Pada skolek terdapat rostelum retraktil memiliki 3 4 baris kait berbentuk roset. Proglotid bunting memiliki tanda yang menciri (karakteristik) berbentuk seperti biji mentimun. Pathogenesis & siklus hidup Segmen cacing yang matang akan melepaskan diri dari induknya dan keluar melalui kotoran. Dalam segmen ini terdapat telur cacing. Telur dalam segmen dapat bertahan selama beberapa bulan di daerah yang kering. Segmen yang kering berbentuk seperti butiran beras. Segmen/telur cacing jatuh ke lantai atau alas tempat tidur kucing. Telur pinjal (kutu kucing) yang juga menetas di tempat yang sama akan menghasilkan larva, larva tersebut akan memakan telur cacing. Dalam tubuh pinjal, telur cacing berkembang menjadi cysticercoid. Cysticercoid akan berpindah ke tubuh kucing bila pinjal menggigit dan menghisap darah kucing. Dalam tubuh kucing, cysticercoid akan berkembang menjadi cacing pita dewasa dan kembali menghasilkan telur. Cacing dapat saja menyebabkan mencret, kadang-kadang disertai bercak darah. Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kurang gizi, kurus, infeksi usus, dan gangguan pencernaan seperti usus tersumbat. Oleh karena itu pencegahan dengan pemberian obat cacing rutin adalah cara terbaik menghindari serangan cacing. Anak kucing yang baru lahir dapat tertular cacing dari induknya. Anak kucing yang tertular biasanya mengalami diare (mencret) berkepanjangan. Akibatnya pertumbuhan

menjadi terganggu sehingga anak kucing bisa mati karena dehidrasi dan kekurangan gizi. Ada beberapa spesies cacing pita yang sering terdapat di pencernaan kucing, yaitu : Dipylidium caninum, Taenia taeniaeformis dan Echinococcus multilocularis. Sesuai namanya, cacing pita berbentuk pipih seperti pita dengan warna putih atau krem. Cacing pita di pencernaan kucing dapat mencapai panjang 70 cm. Cacing pita mempunyai kepala (scolex) dengan beberapa mulut penghisap yang berfungsi menghisap darah dan zat-zat makanan yang terdapat di usus kucing. Di kepala cacing pita terdapat rostellum, berbentuk seperti kikir bergerigi yang berfungsi sebagai jangkar. Rostellum ini menancap di dinding usus kucing dan menyebabkan luka pada usus kucing. Badan cacing pita terdiri dari banyak segmen. Setiap segmen merupakan satu unit reproduksi fungsional. Segmen paling dewasa terdapat di ekor cacing pita. Bila telah matang segmen ini lepas dan mengeluarkan 5-30 telur cacing. Cacing pita bisa melepaskan 1 segmen dewasa setiap hari (Boreham, 1990) Ancylostoma sp Cacing Ancylostoma sp. Juga dikenal dengan cacing tambang. Cacing dewasa berukuran relatif kecil, berbentuk silinder, kaku, berwarna putih kelabu atau kemerahan tergantung banyaknya darah yang ada didalam saluran pencernaannya (Levine, 1994). Pathogenesis dan siklus hidup Penetrasi larva per kutan Gambaran radang kulit sebagai akibat penetrasi larva cacing A duodenale melalui kulit pada manusia, yang dikenal sebagai creeping eruption oleh larva migrans, gambaran patologinya pada anjing dan kucing tidak sejelas pada manusia. Dilaporkan bahwa radang kulit pada anjing terdapat di rongga antar jari-jari, kaki dan kadang-kadang pada kulit perut. Meskipun gejala klinisnya kurang jelas dari yang terlihat pada manusia, gejala pada anjing dapat berupa rasa gatal, kemerahan, dan terjadinya papulae di daerah yang menderita. Dalam keadan tertentu lesi kulit mirip radang kulit oleh tungau demodex (terbatas) atau mirip dermatitis atopik. Rasa gatal terlihat dari usaha menjilati sebagai ganti menggaruk daerah yang gatal. Membesarnya kaki ataupun terjadinya deformitas pangkal kuku dan kukunya juga mungkin diamati. Infeksi yang meluas juga dapat mencapai sendi-sendi pada jari-jari kaki.

Larva migrans

Apabila jumlah larva yang bermigrasi melalui paru-paru cukup banyak dapat terjadi iritasi jaringan paru-paru termasuk saluran nafas hingga terjadi batuk yang sifatnya ringan sampai dengan sedang. Dalam pemeriksaan pascamati, maupun pemeriksaan histopatologi sering ditemukan larva cacing dalam jumlah besar. Infeksi cacing dalam usus halus Oleh adanya cacing dalam mukosa usus halus beberapa perubahan patologi dan faali dapat terjadi. Perubahan-perubaha patologik dan fail tersebut meliputi anemia, radang usus ringan sampai berat, hipoproteinemia, terjadinya gangguan penyerapan makanan dan terjadinya penekanan terhadap respon imunitas dari anjing. Gigitan cacing, yang sekaligus melekat pada mukosa, segera memicu terjadi perdarahan yang tidak segera membeku karena toksin yang dihasilkan oleh cacing. Cacing dewasa biasa berpindah-pindah tempat gigitannya hingga terjadilah luka-luka yang mengucurkan darah segar. Tiap ekor cacing dewasa A caninum dapat menyebabkan kehilangan darah 0,05-0,2 ml/hari, A braziliense 0,001 ml, dan Ustenocephala 0,0003 ml. darah yang mengucur ke dalam luen akan keluar bersama tinja dank karena adanya darah tersebut tinja menjadi berwarna hitam. Pengeluaran tinja bercampur darah tersebut biasa disebut melena. Cacing A tubaeforme termasuk dalam kategori pengisap darah sedang yang akibat akhirnya berupa anemia berat. Anemia yang timbul pada awalnya bersifat normositik normokromik, yang kemudian oleh hilangnya zat besi anemianya akan berubah menjadi hipokromik mikrositik (Subronto, 2004)

4. Pencegahan dan terapi a. Toxoplasmosis Pada kucing Terapi Pengobatan toksoplasmosis dapat menggunakan preparat sulfonamide dan

pyrymethamine. Sulfonamide yang paling banyak dianjurkan adalah sulfadiazine dengan dosis 120 mg/kg bb, diberikan selama 2-3 minggu. Kombinasi sulfadiazine dengan pyrymethamine dengan dosis sulfadiazine 60mg/kg dan pyrymethamine 0,5mg/kg bb diberikan 3-4 kali sehari selama 2-3 minggu. Namun kombinasi tersebut dapat mendepres sumsum tulang belakan, sehingga perlu ditambahkan vit B dan asam folat.

Pencegahan

Kucing diberi makan matang, dan dicegah berburu tikus agar tidak terinfeksi T. gondii Untuk mencegah terjadinya infeksi dengan ookista yang berada di dalam tanah, dapat diusahakan mematikan ookista dengan bahan kimia seperti formalin, amonia dan iodin dalam bentuk larutan serta air panas 70 oC yang disiramkan pada tinja kucing. Pada manusia Pengobatan Isoprinocin, repomicine, valtrex, spiromicine, spiradan, acyclovir, azithromisin, klindamisin, alancicovir untuk wanita hamil: spiramisin (spiromicine), azithromisin dan klindamisin misalnya bertujuan untuk menurunkan dampak (resiko) infeksi yang timbul pada janin. Namun sayangnya obat-obatan tersebut seringkali menimbulkan efek mual, muntah dan nyeri perut. Sehingga perlu disiasati dengan meminum obat-obatan tersebut sesudah atau pada waktu makan. Pencegahan Mencuci tangan sebelum makan, mencuci makanan daging dan sayuran sampai bersih kemudian dimasak sampai matang (jangan setengah matang, apalagi mentah), sedapat mungkin menjauhi hewan-hewan yang bisa menularkan Toxoplasma. Apabila ingin memelihara hewan seperti kucing dan anjing misalnya, harus benar-benar dirawat dan dijaga kebersihannya. Pastikan juga hewan-hewan tersebut dalam kondisi yang baik dan sehat. b. Helminthiasis Terapi Pengobatan dengan Canex atau Telmin biasanya dilakukan pada umur 6-12 minggu, diulang setiap 2-4 bulan. Anjing betina dewasa diobati 2 kali, dengan antara 2 minggu, pada saat bunting dan menyusui masing-masing dilakukan satu kali. Pyrantel pamoat, citrat emboat, 5-12 mg/kg Dihlorphos, 27-33mg/kg(dewasa)11mg/kg (anak) Mebendazole, 22mg/kg selama 5 hari Disophenol, 10mg/kg sub kutan Fenbendasol, 5mg/kg selama 3 hari

Pencegahan Berdasarkan periode prepaten cacing yang berlangsung sekitar 3 minggu : pengobatan pertama baiknya dilakukan umur 2-4 minggu, diulang 2-3 bulan. selanjutnya diobati secara teratur tiap 3-6 bulan sekali.

DAFTAR PUSTAKA Boreham R E Boreham PFL. (1990). Dipylidium CaninumLife Cycle, Epizootiology and Control. Comp cont educt pract vet 12
Dharmana E. 2007. Toxoplasma gondii : Musuh Dalam Selimut. Pidato Pengukuhan Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Gandahusada S dkk. 2004. Parasitologi Kedokteran. Ed 3

Levine. Norman D. 1994. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press : Yogyakrta. Markell EK et al. 1992. Medical Parasitologi. 7th edition. W.B. Saunders Company.
Natadisastra D dan Agoes R. 2009. Parasitologi Kedokteran di Tinjau dari Organ Tubuh yang Diserang. EGC

Subroto. 2004. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada university press. Yogyakarta