Anda di halaman 1dari 169

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Identifikasi Masalah

Dewasa ini seluler atau yang lebih dikenal dengan nama handphone tidak

lagi menjadi barang asing di Indonesia. Harga yang kompetitif serta tersedianya

berbagai jenis fitur layanan yang mampu memberikan kemudahan dalam

berkomunikasi bagi penggunanya menjadikan perangkat ini semakin banyak

diminati oleh hampir semua lapisan masyarakat di negara ini.

Seluler sendiri mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1984 dengan

menggunakan teknologi berbasis NMT (Nordic Mobile Telephone). Pada masa itu

telepon seluler yang beredar di Indonesia berbobot setidaknya 450 gram, sehingga

sangat tidak fleksibel untuk mobilisasi. Ponsel pada era ini berharga di atas

kisaran 10 juta rupiah per unit. Teknologi yang digunakan adalah NMT 470 yang

dioperasikan oleh PT Rajasa Hazanah Perkasa. Sedangkan sistem AMPS

(Advance Mobile System) mulai dikenal pada tahun berikutnya dan ditangani oleh

4 operator yaitu PT Elektrindo Nusantara, PT Centralindo, PT Panca Sakti, dan

Telekomindo. Perkembangan lebih lanjut dimulai pada periode tahun 1990, di

mana berdiri 3 perusahaan yang bersaing di bidang telekomunikasi. PT Telkom

yang memulai proyek percontohan seluler digital GSM (Global System for

Mobile) di pulau Batam dan pulau Bintan, PT Satelit Palapa Indonesia (Satelindo)

yang mulai beroprasi dan mengenalkan GSM pertama di Indonesia dengan

menggunakan SIM Card berjangkauan luas, dan diikuti oleh PT Excelcomindo

Pratama (Exelcom) yang beroprasi sebagai operator dengan jangkauan nasional

1
2

Indonesia. Pada tahun tersebut harga ponsel turun drastis pada kisaran 2 juta

rupiah per unit. Namun penggunaan seluler pada saat itu masih sangat terbatas

pada kalangan eksekutif menengah ke atas (Rizal, 2008 online).

Pada awal tahun 2000 pengguna ponsel di Indonesia semakin meningkat,

dengan lebih dari 3 juta pelanggan. Pada tahun ini penggunaan fasilitas SMS

(Short Messaging Service) mulai digemari oleh pengguna ponsel karena biayanya

yang relatif murah. Seperti yang kita ketahui bahwa telepon dan SMS merupakan

fungsi dasar dari ponsel, dan layanan inilah yang paling banyak digunakan oleh

para konsumen di Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi dalam

bidang komunikasi, layanan seluler pun mengalami kemajuan dengan

dilengkapinya fitur GPRS yang disusul kemudian dengan diluncurkannya layanan

MMS (Multimedia Messaging Service) di tahun 2003. Pada tahun 2005 muncul

teknologi baru pada layanan ponsel yakni teknologi 3G yang mampu membawa

data lebih banyak dengan waktu pengiriman data yang lebih singkat. Setelah

teknologi 3G berhasil diterima masyarakat kemudian munculah teknologi HSDPA

atau yang juga dikenal dengan teknologi 3,5G pada tahun 2007. Teknologi ini

mampu meningkatkan kualitas pertukaran data melalui telepon seluler terutama

untuk penggunaan browsing di internet (Rizal, 2008 online).

Menurut ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) di awal tahun

2009 ini angka penetrasi penggunaan seluler di Indonesia mencapai kisaran 140

juta pengguna atau sekitar 58% dari total jumlah penduduk Indonesia yang

diperkirakan berjumlah 240 juta jiwa. Saat ini di Indonesia telah berdiri 11

operator jaringan seluler (Telkomsel, Exelcomindo, PT Indosat Tbk, PT Natrindo,

Bakrie Telecom, Smart Telecom, Hutchinson CP, PT Pasific Satelit Nusantara,


3

Sampoerna Telekom, Mobile 8, dan PT Sinar Mas) dengan lebih dari 100 ribu

BTS (Base Transceiver Station) yang memiliki coverage area sekitar 90%

wilayah tanah air, baik untuk jaringan berbasis GSM (Global System for Mobile

Communication) maupun CDMA (Code Division Multiple Access) pada teknologi

seluler (Ariyanti, 2009 online).

Tabel 1.1. Pengguna Seluler di Indonesia Periode 2000 s/d 2008


Tahun Pengguna (Juta) Pertumbuhan (%) Teledensitas (Per 100)
2000 3.5 62.8 1.7
2001 6.4 82.8 3.1
2002 11.3 76.5 5.3
2003 18.5 64.1 8.6
2004 30.3 63.7 13.6
2005 46.9 54.8 21.1
2006 63.8 36.1 24.8
2007 96.4 51.1 40.1
2008 132.7 37.7 55.3
Sumber : Data Sekunder antara.co.id 2009

Melalui data sensus penduduk yang dihimpun oleh BPS, jumlah penduduk

Indonesia pada tahun 2000 adalah 203,464 juta jiwa, dan meningkat menjadi

218,868 juta pada tahun 2005. Pada tahun 2010 diestimasikan jumlah penduduk

Indonesia akan mencapai 240 juta jiwa (BPS, 2006 online). Harus disadari dari

kisaran jumlah 240 juta ini, 42 juta diantaranya berada pada kelompok usia 0-10

tahun, dan sekitar 6 juta lainnya berada pada kelompok usia di atas 70 tahun. Bila

diasumsikan bahwa penduduk pada kelompok usia tersebut tidak lagi atau belum

menggunakan seluler, maka terdapat 140 juta nomor seluler aktif yang beredar

pada 192 juta penduduk Indonesia pada kelompok usia 10-70 tahun. Dengan

asumsi seperti ini bisa diartikan bahwa 3 dari 4 penduduk Indonesia menggunakan

seluler dalam kesehariannya.


4

Uraian di atas menunjukkan adanya potensi yang cukup besar untuk

memanfaatkan teknologi seluler sebagai media dalam kegiatan promosi kesehatan

di Indonesia. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri, pemanfaatan

teknologi seluler hanya sebatas pada penggunaan fasilitas komunikasi telepon dan

penulisan pesan singkat SMS. Fasilitas SMS (Short Messaging Service) pada

seluler inilah yang bisa dimanfaatkan oleh provider kesehatan sebagai instrumen

media promosi dan pendidikan kesehatan masyarakat.

Dunia kesehatan Indonesia masih belum mampu memanfaatkan teknologi

seluler dalam kegiatan promosi kesehatan masyarakat. Hal ini sangat berbeda

dengan beberapa pelaku bisnis di Indonesia yang mulai memanfaatkan fasilitas

SMS pada seluler sebagai media promosi dan lahan bisnis baru. Bahkan pada

masa pemilu ini fasilitas SMS pada seluler juga digunakan untuk kampanye calon

legislatif dan sosialisasi partai. Sementara kegiatan promosi kesehatan masyarakat

masih berkutat pada penggunaan media-media konvensional seperti leaflet,

booklet, poster, slide show, film strip, dan beberapa media lainnya.

Titik kritis yang menjadi perhatian pada penggunaan media konvensional

adalah terdapatnya beberapa kekurangan seperti keterbatasan jangkauan sasaran

serta frekwensi dari pesan kesehatan yang relatif rendah. Semua kekurangan

tersebut bisa direduksi dengan memanfaatkan fasilitas SMS (Short Messaging

Service) pada seluler untuk penyampaian pesan kesehatan. Dengan memanfaatkan

fasilitas SMS pada seluler sebagai media promosi, maka informasi kesehatan akan

dapat diberikan pada sedikitnya 50% dari total penduduk Indonesia pada semua

lapisan kelompok di hampir 90% wilayah kependudukan, dengan frekwensi

penyampaian informasi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.


5

Begitu banyak permasalahan kesehatan di Indonesia yang berakar dari

masalah perilaku menjadikan para ahli kesehatan di negara ini dituntut untuk

dapat mengedepankan paradigma preventive promotive lebih dari paradigma

curative rehabilitative. Pemanfaatan berbagai bentuk teknologi dalam upaya

preventive promotive ini, termasuk teknologi seluler menjadi pilihan yang rasional

dalam upaya pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Salah satu masalah kesehatan yang sering dipandang sebagai fenomena

gunung es di Indonesia adalah masalah aborsi yang terjadi baik itu pada kalangan

wanita dewasa maupun remaja puteri. Aborsi menjadi fenomena yang menarik

karena selain kontribusinya sebagai salah satu masalah kesehatan dengan tingkat

kematian yang cukup tinggi, juga memiliki dimensi sosial yang cukup luas.

Kasus aborsi tidak hanya terjadi di negara modern tetapi juga banyak terjadi

di negara berkembang. Hal ini tidak terlepas dari terjadinya pergeseran tatanan

nilai masyarakat baik itu secara moral, kultural, sosial, dan agama. Selain itu

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan,

termasuk juga teknologi informasi turut memberi andil dalam pergeseran tatanan

nilai-nilai lokal.

Menurut WHO tahun 1998, tercatat 46 juta kasus aborsi terjadi setiap

tahunnya di seluruh dunia, 20 juta diantaranya dilakukan dengan tidak aman (97%

dilakukan di negara berkembang), dan 80 ribu wanita meninggal karena

komplikasi aborsi. Dari jumlah tersebut 750 ribu hingga 1,5 juta dilakukan di

Indonesia, angka ini memberikan kontribusi 11,1% terhadap AKI (Angka

Kematian Ibu) di negara ini. AKI di Indonesia menduduki peringkat tertinggi di

Asia Tenggara dengan 390 per 100.000 kelahiran hidup (Ozzy, 2007 online).
6

Sementara di Amerika, data statistik mengenai kasus aborsi dikumpulkan

oleh dua badan utama, yaitu CDC (Federal Centres for Disease Control) dan AGI

(Alan Guttmacher Institute). Hasil pendataan mereka menunjukkan bahwa jumlah

nyawa yang dibunuh dalam kasus aborsi di Amerika setiap tahunnya mencapai 2

juta jiwa, ini lebih banyak dari jumlah nyawa manusia yang terbunuh dalam

perang manapun dalam sejarah negara itu. James K. Glassman dari The

Washington Post mengatakan pada tahun 1996 jumlah kematian akibat aborsi di

Amerika 10 kali lebih banyak daripada semua kecelakaan yang terjadi ditambah

kasus bunuh diri dan pembunuhan. Pada tahun yang sama Daniel S. Green

menunjukkan di Amerika setiap tahun terdapat 550.000 orang meninggal karena

kanker dan 700.000 meninggal karena penyakit jantung. Jumlah ini tidak seberapa

dibandingkan jumlah kematian karena aborsi yang mencapai 2 juta jiwa setiap

tahunnya di negara itu (Statistik..., 2002 online).

Di Indonesia sendiri jumlah kasus aborsi sulit dihitung secara pasti, karena

aborsi sering terjadi tanpa dilaporkan kecuali jika terjadi komplikasi sehingga

memerlukan perawatan medis. Tetapi berdasarkan perkiraan terdapat 2 juta kasus

aborsi yang dilakukan secara tidak aman setiap tahun (Zaenal, 2006 online). Tidak

sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa aborsi sering dilakukan oleh

perempuan karena alasan hamil di luar nikah atau alasan lain yang berhubungan

dengan nilai normatif khususnya agama. Namun sebuah studi di Bali tahun 1997

menemukan bahwa 71% perempuan yang melakukan aborsi adalah perempuan

menikah, juga studi yang dilakukan oleh Population Council tahun 1998, bahwa

98,8% perempuan yang melakukan aborsi di sebuah klinik swasta di Jakarta telah

menikah dan rata-rata telah memiliki anak (Ozzy, 2007 online).


7

Sementara penelitian yang dilakukan PPKLP UI tahun 2001 pada 10 kota

dan 6 kabupaten di Pulau Jawa, memperlihatkan 53% aborsi terjadi di kota dan

47% lainnya terjadi di pelosok kabupaten. Pelayanan aborsi dilakukan oleh tenaga

tidak terlatih terdapat pada 16% titik pelayanan aborsi di kota dan 57% di

kabupaten. Juga diketahui bahwa 2 dari 3 wanita pelaku aborsi lebih memilih

melakukan aborsi dengan bantuan dukun bayi atau ahli pijat. Sebagian besar

wanita melakukan aborsi di klinik atau RS memiliki profil khusus, yaitu telah

menikah dan berpendidikan. Sebagai contoh, dalam sebuah penelitian yang

dilakukan tahun 2000 menunjukkan bahwa 2 dari 3 klien yang melakukan aborsi

sudah menikah. Sementara juga didapatkan data bahwa, 54% klien aborsi adalah

lulusan Sekolah Menengah dan 21% dari mereka adalah lulusan Akademi atau

Universitas. Selanjutnya ditemukan bahwa hampir setiap klien yang melakukan

aborsi berusia lebih dari 20 tahun, 58% diantaranya berusia lebih dari 30 tahun

dan hampir setengahnya telah memiliki anak (Sedgh et al, 2008 online).

Bagan 1.1. Metode Aborsi di Indonesia Tahun 2000


8%
4% Aspirasi vakum atau
38% D&K
5% Medikasi oral dan pijatan

8% Medikasi dengan injeksi

Benda asing yang


dimasukkan dalam rahim
Jamu dan ramuan
tradisional
12% Akupunktur

Paranormal

25%

Sumber : Data Sekunder guttmacher.org 2008


8

Aborsi sendiri masih tetap merupakan wacana yang selalu mengundang pro

dan kontra baik ditinjau melalui kacamata hukum, kesehatan, maupun nilai

agama. Peraturan perundangan dan penegakan hukum yang kurang ideal, serta

kecenderungan untuk mengadopsi gaya pergaulan bebas seperti hubungan seks

pra nikah dan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan, berpengaruh

secarah linier terhadap peningkatan jumlah kasus aborsi di Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menanggulangi masalah aborsi

adalah memberikan informasi yang benar melalui pendidikan dan promosi

kesehatan tentang bahaya aborsi, baik kepada remaja khususnya remaja putri usia

produktif dengan berpedoman pada pemilihan topik, metode, strategi, maupun

media yang memadai dalam upaya peningkatan pengetahuan dan membentuk

sikap yang positif terhadap aborsi. Selama ini telah banyak program pendidikan

kesehatan tentang bahaya aborsi diperkenalkan dan diterapkan oleh berbagai

kalangan dengan menggunakan berbagai pendekatan dari yang ilmiah sampai

yang sederhana dan tradisional.

“...we find that most women feel they could remove their own
pregnancies, the invasion of their privacy is the most uncomfortable
issue..., we want to provide the tools and knowledge with which a
woman can make the best decision for herself...” (Jackson, 2000
online).

“...kami menemukan bahwa kebanyakan wanita merasa dapat


mengakhiri kehamilan mereka sendiri, campur tangan terhadap
masalah pribadi mereka adalah suatu hal yang paling tidak
menyenangkan..., kami ingin menyediakan sarana dan pengetahuan
yang dapat membantu mereka untuk mengambil keputusan yang
terbaik bagi dirinya sendiri...” (Jackson, 2000 online).

Dipahami bahwa campur tangan pihak luar terhadap keputusan aborsi bagi

seorang wanita merupakan sesuatu hal yang sulit ditoleransi. Tetapi atas dasar
9

pertimbangan kesehatan dan kemanusiaan, dirasakan penting untuk memberikan

pengetahuan dalam pengambilan keputusan aborsi bagi mereka yang telah hamil

melalui kegiatan konseling dengan didukung fasilitas yang memadai.

“...providing women with knowledge about and control over their


reproductive system is a much smarter way to fight abortion than
restraining the speech and activity of organization that help women
make good decision...” (US Gag..., 2001 online).

“...memberikan pengetahuan tentang sistem reproduksi dan


bagaimana mengontrolnya adalah cara yang lebih cerdas dalam
mencegah aborsi, daripada sekedar kata-kata atau kegiatan yang
dilakukan suatu organisasi dalam membantu wanita membuat
keputusan yang terbaik...” (US Gag..., 2001 online).

Kutipan ini menjelaskan bahwa dengan memberikan pengetahuan tentang

cara mengontrol sistem reproduksi pada mereka yang telah matang secara seksual

sebagai upaya pencegahan kehamilan dan aborsi, adalah lebih baik dibandingkan

dengan sekedar bantuan dalam pengambilan keputusan aborsi bagi mereka yang

telah hamil. Pada point ini terdapat peran pendidikan dan promosi kesehatan.

Dalam berbagai kasus aborsi yang terjadi di luar nikah, sering kali pelaku

berada dalam kelompok usia remaja. Banyak alasan mengapa kasus aborsi sering

kali dijumpai pada kelompok usia ini. Konsekwensi normatif berupa stigma

masyarakat, tidak siap untuk menikah, serta alasan ekonomi sering kali menjadi

pembenaran dilakukannya tindakan aborsi pada remaja.

Menurut Gunarsa (2003) masa pra pubertas pada remaja usia dini (12-15

tahun) merupakan titik kritis peralihan dari usia kanak-kanak menuju masa

pubertas. Pada masa ini terjadi kematangan fungsi seksual yang sesungguhnya

serta diikuti perkembangan fungsi psikologis. Usia 12-15 tahun merupakan usia

rata-rata seorang remaja berada pada bangku pendidikan menengah pertama


10

(SMP). Intervensi pendidikan dan promosi kesehatan terkait masalah reproduksi

dan aborsi sangat ideal mulai diberikan pada remaja yang telah menginjak usia

12-15 tahun atau usia pendidikan menengah pertama.

Begitu juga dengan SMP Negeri 26 dan SMP Negeri 20 Surabaya yang

merupakan institusi pendidikan menengah pertama dengan rata-rata siswa berada

pada kelompok usia 12-15 tahun. Kegiatan promosi kesehatan terkait masalah

aborsi secara ideal juga harus diberikan pada siswa di institusi pendidikan ini.

SMP Negeri 26 Surabaya berdiri tahun 1983 dan menjadi salah satu SMPN

favorit di kota Surabaya. Pada tahun ajaran 2008/2009 institusi pendidikan yang

berlokasi di Raya Banjarsugihan 21 Surabaya ini memiliki total 1.057 siswa (342

siswa kelas VII, 358 siswa kelas VIII, dan 357 siswa kelas IX) dengan proporsi

451 laki-laki dan 606 perempuan. Sedangkan SMP Negeri 20 Surabaya yang

berdiri tahun 1982 dan beralamat di Dukuh Kapasan I Sambikerep Surabaya

memiliki total 809 siswa (263 siswa kelas VII, 278 siswa kelas VIII, dan 268

siswa kelas IX) dengan 405 laki-laki dan 404 perempuan. Menurut keterangan

pihak sekolah, semenjak berdiri hingga hari ini belum pernah terdapat kasus

aborsi terjadi pada siswa di dua SMP ini, namun bukan berarti kasus tersebut tidak

dapat terjadi kedepannya.

Pemilihan SMPN 26 (experiment group) dan SMPN 20 (control group)

sebagai lokasi penelitian dengan pertimbangan bahwa ke dua institusi pendidikan

ini berlokasi di wilayah Surabaya bagian barat yang dikenal sebagai wilayah

hitam untuk kegiatan prostitusi. Hal ini bisa diketahui dengan keberadaan

beberapa lokalisasi besar yang tersebar di wilayah ini, yaitu Moroseneng,

Kembang Kuning, Kremil, Jarak, dan Dolly yang dikenal sebagai pusat lokalisasi
11

terbesar di Asia Tenggara (Surabaya..., 2007 online). Kedekatan wilayah secara

administratif serta karakteristik siswa yang relatif memiliki kesamaan, karena

mayoritas berasal dari satu lingkungan yang sama juga menjadi pertimbangan

dipilihnya dua institusi pendidikan ini sebagai lokasi penelitian.

Perubahan trend dan pola pacaran, pengaruh lifestyle dan pergaulan bebas,

tingginya paparan media hiburan dan informasi, pergeseran nilai-nilai sosio

budaya, kurangnya konsistensi terhadap pelasanaan nilai-nilai spiritual (agama),

rendahnya pengetahuan mengenai aborsi khususnya pada remaja, serta masih

maraknya praktek aborsi ilegal yang terjadi di masyarakat, berpotensi untuk

memicu terjadinya aborsi pada remaja usia dini, termasuk didalamnya adalah

siswa SMP. Sebagai langkah preventive untuk menekan tingginya kejadian aborsi

pada kelompok remaja, maka dirasakan penting untuk melaksanakan program

pendidikan dan promosi kesehatan terkait masalah aborsi secara dini sebagai

upaya dalam peningkatan pengetahuan yang kedepannya diharapkan mampu

mempengaruhi sikap dan perilaku remaja secara lebih positif terhadap aborsi.

Berangkat dari pemahaman terhadap potensi aborsi dikalangan remaja yang

cukup tinggi dan juga adanya realitas bahwa dunia kesehatan Indonesia masih

belum mampu secara optimal memanfaatkan teknologi seluler sebagai instrumen

media promosi kesehatan, maka studi penelitian eksperimental semu dengan judul

“Pemanfaatan SMS pada Seluler sebagai Media Promosi Kesehatan dalam

Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Perubahan Sikap Remaja mengenai

Aborsi” ini dilakukan dengan sasaran penelitian siswa kelas VIII SMP Negeri 26

Surabaya sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas VIII SMP Negeri 20

Surabaya sebagai kelompok kontrol.


12

1.2. Kajian Masalah

Pemanfaatan fasilitas SMS (Short Messaging Service) pada seluler dalam

kegiatan promosi kesehatan memiliki target utama yaitu untuk meningkatkan

pengetahuan sasaran mengenai masalah kesehatan (aborsi), dari peningkatan

pengetahuan ini diharapkan berpengaruh pada perubahan sikap, dan sebagai

tujuan akhir adalah perubahan perilaku.

Komunikasi Matematikal Shannon Weaver

menerima kesan
transmitted received
message message
signal signal
Information
Transmitter Receiver Destination
Source

mereproduksi kesan
promotor operator seluler remaja pengguna
kesehatan seluler (SMS) seluler

Noise Brain
Source

menyimpan kesan

Proses Fungsi Ingatan

Behavior Practice Attitude Knowledge


perilaku tidakan terkait sikap terhadap pengetahuan
terkait aborsi aborsi aborsi tentang aborsi

Domain Perilaku
Bagan 1.2. Proses Perubahan Perilaku melalui Tiga Konsepsi
(Komunikasi Matematikal, Proses Fungsi Ingatan, dan Domain Perilaku)

Gambar di atas menjelaskan tentang proses perubahan perilaku yang

diharapkan terkait masalah aborsi. Dalam hal ini adalah perilaku remaja (SMPN

26 Surabaya) yang dijelaskan melalui tiga konsepsi dasar, yaitu model komunikasi
13

matematikal Shannon Weaver (Uchajana, 2003), proses fungsi ingatan manusia

(Suryabrata, 1989), dan domain perilaku KAP - B (Notoatmodjo, 2003).

1. Model Komunikasi Matematikal (Shannon Weaver)

Information Source : Promotor kesehatan selaku provider

Transmitter : Operator seluler

Noise Source : Pengaruh noise pada jaringan seluler

Receiver : Seluler (SMS)

Destination : Remaja pengguna seluler

Message : Informasi mengenai aborsi

Transmitted Signal : Gelombang radio

Received Signal : Gelombang radio

2. Proses Fungsi Ingatan Manusia

Menerima kesan : Menerima informasi mengenai aborsi

Menyimpan kesan : Mengingat informasi tentang aborsi

Mereproduksi kesan : Menggunakan informasi tentang aborsi

3. Domain Perilaku KAP - B

Knowledge : Peningkatan pengetahuan tentang aborsi

Attitude : Perubahan sikap terhadap aborsi

Practice : Tindakan (positif) terkait aborsi

Behavior : Perilaku (positif) terkait aborsi

Model komunikasi matematikal Shannon Weaver dipilih dengan alasan

bahwa model ini memiliki perspektif matematis yang berfokus pada frekwensi

sinyal yang diterima dalam proses transmisi informasi, serta efisiensi dari saluran

komunikasi yang digunakan, dan bukan sekedar berfokus pada isi pesan yang
14

disampaikan (Arni, 1995). Hal ini sesuai dengan sifat media SMS pada seluler

sebagai media transmisi informasi kesehatan (aborsi) yang memiliki keterbatasan

dalam luas content informasi, namun memiliki keunggulan dalam frekwensi,

kecepatan, dan jangkauan transfer informasi. Penyebaran informasi kesehatan

(aborsi) melalui media SMS ini merupakan bentuk komunikasi massa satu arah

yang tidak membutuhkan feedback langsung dari sasaran. Komunikasi lebih

ditujukan pada bagaimana informasi kesehatan melalui media SMS akan mampu

menjadi alat propaganda dalam peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap

sasaran yang menerima informasi tersebut.

Proses komunikasi melalui media SMS ini memiliki efek terbatas (limited

effect) pada sasaran yang tidak sepenuhnya pasif (half active), dengan asumsi :

1. Tidak semua sasaran memiliki zero knowledge mengenai informasi aborsi

2. Tidak semua sasaran memiliki keterkaitan langsung terhadap informasi aborsi

3. Sasaran telah memiliki informasi mengenai aborsi dalam tingkatan tertentu

sebelumnya

4. Sasaran mampu secara aktif untuk mencari informasi aborsi melalui sumber

atau media lain

Harus dipahami bahwa sasaran dalam kegiatan promosi kesehatan bukan

hanya mereka yang memiliki kepentingan langsung terhadap informasi kesehatan

yang akan diterimanya. Artinya setiap individu berhak untuk menerima informasi

kesehatan walaupun informasi tersebut tidak memiliki keterkaitan langsung

dengan dirinya. Dalam hal ini diharapkan individu tersebut mampu menyimpan

dan menggunakan informasi kesehatan yang diterimanya untuk diinformasikan

ulang pada individu lain disekitarnya (reinformation).


15

Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Mei 2009 terhadap

sepuluh orang siswa kelas VIII SMP (5 siswa SMPN 26 dan 5 siswa SMPN 20

Surabaya), didapatkan fakta bahwa hampir semua siswa pernah mendengar

tentang aborsi, namun kebanyakan dari mereka hanya memaknai aborsi sebagai

suatu tindakan menggugurkan bayi saat kehamilan. Selain itu mereka juga

mengaku bahwa informasi tentang aborsi tersebut sering diperoleh melalui

pembicaraan sehari-hari dengan teman pergaulannya.

“...ya gitu itu pak, kan mbak-mbak yang nggugurkan bayi pas lagi
hamil itu kan...” (Siswa 4, SMPN 26 Surabaya).

“...ya taunya pas crita-crita sama anak-anak...” (Siswa 4, SMPN 26


Surabaya).

Pemaknaan aborsi di sini terkesan sempit dan negatif, siswa cenderung

menganggap aborsi sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan terutama dengan

orang dewasa. Hal ini didukung dengan sikap mereka yang terkesan malu-malu

dan tidak memberikan banyak komentar saat berbicara tentang aborsi.

Selain itu mereka juga mengatakan sampai saat ini belum pernah menerima

informasi mengenai aborsi melalui media promosi kesehatan, dan beberapa siswa

diantaranya mengaku mengetahui informasi aborsi dalam bentuk liputan kasus

kriminal yang ditayangkan pada program pemberitaan di beberapa stasiun televisi

swasta juga pemberitaan di koran. Namun tentu saja bentuk informasi pada media

televisi (pemberitaan kasus aborsi) yang diterima oleh mereka ini hanya

memberikan informasi aborsi dalam perspektif tindakan kriminal dan bukan

dalam tujuan pendidikan dan promosi kesehatan.

“...kalo di teve kan juga sering disiarkan kejadian orang yang


menggugurkan bayinya...” (Siswa 2, SMPN 20 Surabaya).
16

Untuk kepemilikan handphone, 7 dari 10 siswa mengaku memilikinya

secara pribadi. Memang terdapat himbauan dari pihak institusi agar siswa tidak

membawa handphone di sekolah, namun karena adanya tuntutan dari orang tua

siswa yang menginginkan kemudahan dalam memantau dan berkomunikasi

dengan anaknya, maka pihak sekolah mentoleransi penggunaan handphone hanya

pada saat di luar jam pelajaran, selain itu pihak sekolah juga tidak bertanggung

jawab terhadap segala bentuk kehilangan handphone yang terjadi di sekolah.

Tabel 1.2. Studi Pendahuluan Penelitian (Pemanfaatan SMS sebagai Media


Promosi Kesehatan pada Remaja terkait Masalah Aborsi)
SMPN 26 Surabaya
Pengertian Sumber Media Pemilikan
Siswa Sex
Aborsi Informasi Informasi Handphone
Siswa 1 L pengguguran teman liputan berita punya
bayi pergaulan televisi
Siswa 2 L pengguguran teman tidak punya
-
bayi pergaulan
Siswa 3 P pengguguran teman punya
bayi saat pergaulan -
kehamilan
Siswa 4 P pengguguran teman liputan berita punya
bayi saat pergaulan televisi
kehamilan
Siswa 5 P pengguguran teman punya
-
bayi pergaulan
SMPN 20 Surabaya
Pengertian Sumber Media Pemilikan
Siswa Sex
Aborsi Informasi Informasi Handphone
Siswa 1 L pengguguran teman tidak punya
-
bayi pergaulan
Siswa 2 L pengguguran teman liputan berita punya
bayi secara pergaulan televisi
paksa
Siswa 3 P pengguguran teman berita di punya
bayi pergaulan koran
Siswa 4 P tidak tahu - - punya
Siswa 5 P pengguguran teman tidak punya
bayi saat pergaulan -
kehamilan
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009
17

Dengan menggunakan model teori perilaku dari Lawrence W. Green,

diidentifikasikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku aborsi pada

remaja terutama siswa SMP.

Predisposing Factors
Karakteristik Personal Siswa
karakteristik fisik
nilai dan keyakinan
tingkat pengetahuan
dimensi kejiwaan

Enabling Factors
Kondisi Lingkungan Fisik
Siswa
kondisi lingkungan tempat Behavior
tinggal Perilaku Aborsi
ketersediaan fasilitas kesehatan
kondisi sosial ekonomi

Reinforcing Factors
Keadaan Lingkungan Sosial
Siswa
pengaruh pergaulan
nilai dan norma masyarakat
dukungan sosial
paparan media
peran promosi kesehatan
kebijakan dan peraturan

Bagan 1.3. Identifikasi Determinan Perilaku Aborsi pada Remaja

1. Predisposing Factors merupakan faktor pendorong yang melekat pada diri

siswa atau karakteristik personal yang berpotensi untuk membentuk perilaku

tertentu terkait aborsi. Meliputi karakteristik fisik, nilai dan keyakinan yang

dimiliki, tingkat pengetahuan, serta dimensi kejiwaan siswa.

2. Enabling Factors merupakan faktor pendukung yang memungkinkan siswa

untuk berperilaku tertentu terkait aborsi. Meliputi keadaan lingkungan (fisik)


18

tempat tinggal siswa, ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan,

serta kondisi sosial ekonomi siswa.

3. Reinforcing Factors merupakan keadaan di luar diri siswa yang mampu

memperkuat siswa untuk berperilaku tertentu terkait aborsi. Meliputi keadaan

lingkungan (sosial) di sekitar siswa termasuk teman pergaulan, dukungan

sosial, nilai dan norma yang berlaku (orang tua, guru, dan tokoh religius),

pengaruh media, peranan kebijakan dan peraturan terkait masalah aborsi, dan

juga peranan pendidikan dan promosi kesehatan.

1.3. Rumusan Masalah

Untuk mengetahui apakah pemanfaatan fasilitas SMS (Short Messaging

Service) yang terdapat pada teknologi seluler sebagai media dalam kegiatan

promosi dan pendidikan kesehatan, akan mampu secara efektif meningkatkan

pengetahuan dan berpengaruh terhadap perubahan sikap remaja terkait aborsi,

maka disusun rumusan masalah sebagai berikut :

1. Research Problem

Sejauh mana efektifitas pemanfaatan fasilitas SMS (Short Messaging Service)

pada teknologi seluler sebagai media alternatif program promosi kesehatan

akan mampu meningkatkan pengetahuan dan berpengaruh terhadap perubahan

sikap siswa SMP Negeri 26 Surabaya terkait masalah aborsi.

2. Research Question

a. Apakah pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan cukup efektif

dalam meningkatkan pengetahuan siswa SMPN 26 Surabaya terkait

masalah aborsi?
19

b. Apakah pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan cukup efektif

dalam mempengaruhi perubahan sikap siswa SMPN 26 Surabaya terkait

masalah aborsi?

c. Seperti apakah tanggapan siswa SMPN 26 Surabaya selaku sasaran

program terhadap pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan

khususnya masalah aborsi?

1.4. Tujuan Penelitian

1.4.1. Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektifitas

pemanfaatan fasilitas SMS (Short Messaging Service) pada teknologi seluler

sebagai media alternatif program promosi kesehatan dalam meningkatkan

pengetahuan dan mempengaruhi perubahan sikap siswa SMP Negeri 26 Surabaya

terkait masalah aborsi.

1.4.2. Tujuan Khusus

1. Mengukur efektifitas pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan

dalam meningkatkan pengetahuan siswa SMPN 26 Surabaya terkait masalah

aborsi.

2. Mengukur efektifitas pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan

dalam mempengaruhi perubahan sikap siswa SMPN 26 Surabaya terkait

masalah aborsi.

3. Mengeksplorasi tanggapan siswa SMPN 26 Surabaya selaku sasaran program

terhadap pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan khususnya

masalah aborsi.
20

1.5. Manfaat Penelitian

Diharapkan dengan dilaksanakannya penelitian berjudul “Pemanfaatan SMS

pada Seluler sebagai Media Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan

Pengetahuan dan Perubahan Sikap Remaja mengenai Aborsi” ini dapat

memberikan manfaat yang berarti bagi berbagai pihak.

1. Bagi Siswa SMPN 26 Surabaya

a. Meningkatkan pengetahuan mengenai aborsi terutama dalam sudut

pandang kesehatan.

b. Membentuk sikap yang lebih positif (tidak mendukung) terhadap aborsi.

c. Meningkatkan kemampuan dalam memperoleh dan menggunakan

informasi kesehatan tentang aborsi baik bagi dirinya maupun untuk

diinformasikan kembali pada orang lain disekitarnya.

2. Bagi Peneliti

a. Meningkatkan pengetahuan dalam kerangka promosi kesehatan dan

penggunaan media promosi kesehatan.

b. Meningkatkan wawasan dalam menghadapi berbagai fenomena kesehatan

dalam masyarakat, khususnya yang berkenaan dengan masalah aborsi.

c. Meningkatkan pengalaman dalam studi penelitian serta sensitifitas dalam

bersentuhan langsung dengan masalah kesehatan yang ada di masyarakat.

3. Bagi Instansi Terkait

a. Sebagi masukan dalam menyempurnakan program promosi kesehatan

masyarakat, terutama untuk masalah aborsi.

b. Sebagai masukan dalam penggunaan dan pemanfaatan media promosi

kesehatan alternatif non konvensional.


21

c. Sebagai masukan mengenai pentingnya upaya networking serta peranan

peraturan dan kebijakan (health policy and healthy public policy)

khususnya dalam pemanfaatan jaringan komunikasi publik, sebagai upaya

peningkatan derajat kesehatan nasional.

4. Bagi Akademisi

a. Memperkaya kajian studi dan praktek promosi kesehatan, baik melalui

sudut pandang kesehatan maupun sosial.

b. Memperbesar kemungkinan terhadap inovasi dan pengembangan media

promosi kesehatan yang lebih baik.

c. Membuka berbagai kemungkinan untuk dilakukan penelitian yang sejenis,

baik penelitian baru maupun pengembangannya.


22

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Seluler

2.1.1. Teknologi Seluler

Seluler atau lebih dikenal dengan nama cellphone merupakan perangkat

komunikasi bergerak (mobile) nirkabel dengan memanfaatkan gelombang radio

sebagai medium penghantar sinyal (Encarta Encyclopedia, 2006). Jaringan seluler

merupakan sistem dengan teknologi canggih yang mampu membagi suatu area

dalam beberapa sel kecil. Dengan kemampuan membagi area dalam beberapa sel

kecil ini maka frekwensi sinyal dapat meluas hingga mencapai semua bagian pada

suatu area tertentu, sehingga dapat digunakan secara bersamaan secara simultan

tanpa jeda dan tanpa terputus-putus. Jaringan seluler beroperasi dengan membagi

akses layanan berdasarkan jangkauan area pada zona tertentu dengan sumber daya

dan jalur tersendiri. Layanan tersebut hanya dapat diakses oleh pengguna yang

berada dalam jangkauan zona tersebut. Sehingga jika pengguna berpindah ke

daerah lain maka akan berada pada pusat layanan yang berbeda walaupun

menggunakan provider yang sama.

Jaringan seluler memiliki keterbatasan dalam hal ketersediaan bandwidth,

karena pada dasarnya jaringan ini beroperasi dengan penggunaan ulang dari

frekwensi yang ada. Secara teknis frekwensi tersebut dihasilkan oleh BTS (Base

Transceiver Station), maka terdapat penggunaan frekwensi yang sama untuk

beberapa daerah yang berbeda, dengan aturan tidak terjadi interferensi frekwensi

antara satu daerah dengan yang lainnya (Sistem..., 2000 online).


23

Ray Sheriff dan Fun Hu (2001) mengatakan, bahwa untuk menambah

kapasitas dan jangkauan jaringan seluler dapat dilakukan tiga cara :

1. Menambah jumlah jalur komunikasi

2. Menambah efisiensi modulasi dengan teknik multiple access

3. Penggunaan ulang jalur komunikasi yang sama tanpa interferensi

Berdasarkan perkembangan kemampuannya, jaringan seluler dapat dibagi

ke dalam fase 1G yang memiliki bandwidth 10 Kbps. Selanjutnya adalah fase 2G

yang memiliki bandwidth hingga 270 Kbps. Kemudian dilanjutkan dengan

teknologi 3G yang memilili bandwidth 2 Mbps, dan dapat ditingkatkan hingga

mencapai 155 Mbps pada suatu lingkungan khusus. Selain itu kini juga

dikembangkan teknologi 4G pada seluler yang menggunakan sistem All IP

Environment (Syafwin dkk, 2007).

Berbagai jenis teknologi dikembangkan dalam sistem komunikasi melalui

seluler, diantaranya adalah AMPS (Advance Mobile Phone System), GSM (Global

System for Mobile Communication), CDMA (Code Division Multiple Access), dan

PHS (Personal Handy Phone System). Dua jenis teknologi komunikasi nirkabel

yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah teknologi GSM dan

CDMA (Hilman, 2008 online).

1. GSM (Global System for Mobile Communication)

GSM adalah sistem telekomunikasi bergerak dengan menggunakan teknologi

digital yang merupakan generasi ke dua setelah AMPS. GSM pertama kali

muncul tahun 1991 dan mulai berkembang tahun 1993. Perkembangan pesat

dari GSM disebabkan karena penggunaan sistem dengan teknologi digital yang

memungkinkan pengembang untuk mengeksploitasi penggunaan algoritma


24

serta penggunaan VLSI (Very Large Scale Integration). Untuk memperkecil

biaya operasional terminalnya, saat ini teknologi GSM telah menggunakan fitur

jaringan cerdas (Intelligent Network). Sejak pertama kali dibuat GSM memang

dipersiapkan untuk menjadi sistem telekomunikasi bergerak dengan cakupan

internasional dengan berbasis teknologi Time Division Multiple Access

(TDMA) yang menggunakan teknik penyebaran spektrum. GSM mempunyai

frekwensi 900 Mhz dan 1800 Mhz dengan layanan pengiriman data

berkecepatan tinggi yang menggunakan teknologi HSCSD (High Speed Circuit

Switch Data) dengan kecepatan 64-100 Kbps.

2. CDMA (Code Devision Multiple Access)

CDMA merupakan generasi ke tiga teknologi telpon tanpa kabel. Berbeda

dengan teknologi GSM yang berbasis TDMA (Time Division Multiple Access),

CDMA tidak memberikan penanda frekwensi khusus pada setiap user. Setiap

channel menggunakan spektrum yang tersedia secara penuh. Percakapan

individual akan di encode dengan pengaturan digital secara random. CDMA

merupakan perkembangan AMPS yang pertama kali di gunakan oleh militer

Amerika Serikat. Perkembangan CDMA tidak secepat perkembangan GSM

yang banyak diadopsi oleh sebagian besar operator di berbagai negara.

2.1.2. Sejarah Seluler

Dalam sejarah perkembangan seluler baik ponsel maupun peralatan

telekomunikasi wireless lain, pada prinsipnya terkait dengan hasil eksperimen

yang dilakukan dua ilmuwan yang bernama James Clerk Maxwell (1831-1879)

dan Heinrich Hertz (1857-1894). Maxwell berhasil menguak fenomena alam

mengenai gelombang elektromagnetik. Dia menemukan bahwa kecepatan radiasi


25

gelombang magnet listrik ini sama dengan kecepatan perambatan cahaya, yakni

sekitar 186.000 mil (300.000 km) per detik. Sementara itu dalam kesempatan

yang berbeda, Hertz melengkapi hasil telaah ilmiah Maxwell dengan

mengungkapkan bahwa gelombang radio adalah bagian dari fenomena gelombang

elektromagnetik. Untuk menghargai jerih payah Hertz, masyarakat ilmiah dunia

kemudian menggunakan nama Hertz sebagai satuan frekwensi atau getaran per

detik. Gelombang inilah yang kemudian dipecah hingga ribuan kanal dan

digunakan secara internasional untuk berbagai kepentingan di bawah pengawasan

International Telecommunication Union (Supono, 2006 online).

Pada awalnya radio komunikasi sendiri hanya dimanfaatkan oleh kalangan

terbatas dalam dunia kemiliteran. Bentuk radio genggam pertama pada mulanya

masih relatif besar dan berat. Dengan dimensi seperti ini pemanfaatan radio

memang masih jauh dari praktis. Dalam ajang Perang Dunia II, bentuk dan

kekuatan radio genggam berkali-kali diperbaiki. Pada dekade 70an, bentuknya

bisa diperkecil dengan ditemukannya transistor yang bisa mewakili sekian puluh

komponen berukuran besar, dan menjelang dekade 80an berhasil diciptakan

Integrated Circuit yang mampu memuat sekian puluh bahkan ratusan instrumen

elektronik ke dalam komponen yang hanya sebesar kancing baju. Temuan ini

membuat peralatan telekomunikasi ini menjadi semakin memasyarakat karena

biaya produksinya yang menjadi semakin murah dan manfaatnya yang semakin

banyak. Teknologi digital yang mulai dikombinasikan pada dekade 90an juga ikut

membuat peralatan ini menjadi kian digemari.

Telepon seluler dikembangkan pertama kali pada tahun 1947 di Eropa, di

mana pengembangannya dimulai oleh Lars Magnus Ericsson yang juga


26

merupakan pendiri perusahaan Ericsson. Pada awalnya orang Swedia ini

medirikan perusahaan Ericsson dengan fokus terhadap bisnis peralatan telegraf,

dan perusahaanya juga tidak terlalu besar pada waktu itu. Pada tahun 1960 di

Finlandia sebuah perusahaan bernama Fennis Cable Works yang semula berbisnis

dibidang kabel melakukan ekspensi dengan mendirikan perusahaan elektronik

Nokia sebagai produsen handset telepon seluler. Pada dekade 70an perkembangan

telepon mobile menjadi pesat dengan di dominasi oleh 3 perusahaan besar di

Eropa yaitu perusahaan Ericcsson, Nokia, dan Motorola. Pada tahun 1969 sistem

telekomunikasi seluler mulai dikomersialkan (Nurasa, 2009 online).

Di Indonesia pemanfaatan teknologi telekomunikasi berbasis gelombang

radio dimulai pada dekade 70an. Indonesia dikenal sebagai negara ke 4 di dunia

yang menggunakan satelit komunikasi setelah USA, USS, dan Canada. Satelit

pertama Indonesia, SKSD Palapa A diluncurkan tahun 1976 dan dimanfaatkan

sebagai sarana pemersatu tanah air, di mana pengoperasiannya dilakukan oleh

Perumtel (PT Telkom). Selain untuk keperluan telekomunikasi jarak jauh, satelit

ini juga dimanfaatkan sebagai sarana penerima dan pengirim sinyal televisi.

2.1.3. Teknologi SMS

SMS (Short Messaging Service) merupakan fasilitas pada seluler yang

berfungsi untuk mengirim dan menerima pesan dalam bentuk teks. Penggunaan

SMS pada teknologi seluler (GSM dan CDMA) memiliki prosedur operasional

yang relatif sama. Terdapat dua metode untuk pengiriman dan penerimaan pesan

teks SMS.

1. Menggunakan perangkat mobile phone

2. Menggunakan ESMEs (External Short Messaging Entities)


27

Network Management
Seluler Base Station System Seluler
Mobile Station
BSC

Mobile Station
BTS MSC BTS

SMSC

VLR HLR EIR


Seluler Terminal Equipment Database
Seluler
Gambar 2.1. Sistem Jaringan Seluler

Mengirim dan menerima pesan teks dengan menggunakan perangkat mobile

adalah cara standar yang paling sering digunakan. Pesan yang dikirim melalui

ponsel sebelumnya dikirimkan terlebih dahulu ke server yang mengatur lalu lintas

SMS yang disebut SMSC (Short Messaging Service Center), yaitu sebuah sistem

yang mendukung pengiriman pesan teks dalam jaringannya. SMSC menentukan

jalur pengiriman pesan teks sehingga pesan dapat diterima oleh perangkat mobile.

SMSC menquery database HLR (Home Location Register) yang berisi data

pengguna, informasi subscriber (info call waiting dan pesan teks), data tagihan,

availability dari pengguna, serta lokasi pengguna. Melalui interaksi dengan

elemen jaringan yang lain, HLR menentukan informasi rute yang dibutuhkan

untuk sampai ke tujuan. Jika SMSC menerima balasan bahwa pengguna sedang

tidak bisa menerima pesan, maka pesan teks disimpan di server dan akan dikirim

untuk lain waktu (Traynor et al, 2005).


28

SMSC merupakan pusat aliran pesan SMS, tetapi secara teknis SMSC

memiliki keterbatasan dalam menangani jumlah pesan. SMSC hanya dapat

melakukan antrian pesan dalam jumlah yang terbatas untuk setiap pengguna

layanan. Pesan akan terus disimpan sampai perangkat mobile yang dituju

menerima pesan, atau terhapus karena batasan waktu yang ditentukan. Secara

teknis dibutuhkan waktu sebesar 0,71 detik untuk pengiriman pesan dan waktu

sebesar 7-8 detik untuk menerima pesan. SMS memiliki besar data maksimum

sebesar 160 byte ditambah dengan ukuran data untuk header pada protokol yang

digunakan. Jika SMS dikirim melalui internet maka dibutuhkan besar data sekitar

1500 byte untuk mentransmisikannya. Setiap penyedia layanan SMS memiliki

kebijakan berbeda terhadap penyediaan unit SMSC dalam jaringannya, ini

berpengaruh terhadap kapasitas penyimpanan pesan serta kecepatan pengiriman

dan penerimaan pesan (Traynor et al, 2005).

2.1.4. Tarif Seluler

Setiap operator seluler di Indonesia menerapkan beberapa pola tarif layanan

yang berbeda. Saat ini dikenal dua metode pentarifan layanan jasa seluler, yaitu

tarif variabel yang didasarkan pada jarak (zona), letak geografis, dan waktu

penggunaan (peak dan off peak), serta tarif flat yang memberlakukan penetapan

tarif secara setara bagi sesama operator. Penetapan tarif merupakan sesuatu yang

rumit karena melibatkan banyak perhitungan yang berbeda-beda untuk setiap

perusahaan. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan para operator dalam

penentuan tarif layanan, seperti pola bisnis, strategi pasar, segmenting,

positioning, dan targeting (Haryo, 2007 online).


29

Secara sederhana pola penetapan komponen tarif seluler di Indonesia dapat

dibedakan menjadi dua, yakni :

1. Tarif berdasarkan regulasi

Penetapan tarif oleh pemerintah dengan berdasar pada jenis layanan yang

disediakan, kemudian dilepas pada kebijakan operator sendiri. Pemerintah

hanya menetapkan batas maksimum dan minimum tarif layanan sebagai bentuk

pengendalian kompetisi pasar.

2. Tarif berdasarkan overhead cost

Komponen ini tidak diatur oleh pemerintah, tetapi diserahkan langsung pada

kebijakan operator jaringan, seperti biaya produksi dan operasional, biaya

pemeliharaan dan penambahan jaringan, dan sebagainya. Komponen overhead

cost tidak bersifat transaparan karena merupakan rahasia perusahaan.

2.2. Aborsi

2.2.1. Definisi Aborsi

Aborsi berasal dari bahasa latin “aboriri” yang menunjuk pada suatu obyek

yang dikeluarkan dari tempat yang seharusnya. Kata ini menjadi lazim dalam

dunia kesehatan dengan beranalogi bahwa janin merupakan suatu obyek yang

dikeluarkan dari tempat (rahim) di mana seharusnya dia tetap berada sebelum

dilahirkan baik secara sengaja (induced) maupun tidak (spontaneous). Selanjutnya

definisi aborsi yang ada cukup beragam, tetapi secara substansial pada dasarnya

sama. Menurut WHO abortion is the termination of a pregnancy before the fetus

is capable of extrauterine life. Sedangkan Faro dan Pearlman (1992) dalam

bukunya mengatakan bahwa abortion is the termination of a pregnancy from


30

fertilization of the ovum until the time of fetal viability. Selanjutnya dalam

pengertian lain aborsi didefinisikan sebagai keadaan berakhirnya kehamilan

karena kondisi tertentu sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu, atau buah

kehamilan belum mampu untuk hidup di dunia luar (Saifudin, 2000).

Selain itu secara medis pengertian aborsi adalah keluarnya hasil pembuahan

sebelum berusia 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram. Janin yang

dikeluarkan dari kandungan sebelum usia 20 minggu tidak memiliki harapan

hidup. Sedangkan setelah 20 minggu dapat dikatakan sebagai persalinan

mengingat janin yang dikeluarkan sudah mempunyai harapan hidup walaupun

sangat kecils (Ekotama dkk, 2001).

2.2.2. Jenis Aborsi

1. Abortus Spontan

Abortus spontan adalah aborsi yang berlangsung tanpa disengaja atau tanpa

adanya tindakan tertentu. Kebanyakan kasus aborsi jenis ini disebabkan karena

kurang baiknya kualitas sel telur dan sperma atau karena faktor kelainan

genetika. Wanita yang memiliki kebiasaan merokok dan minum alkohol lebih

berpeluang mengalami aborsi spontan dibandingkan dengan wanita yang tidak

merokok dan tidak minum alkohol. Begitu pula halnya dengan kondisi gizi

buruk pada wanita hamil, hal ini juga dapat mengakibatkan terjadinya abortus

spontan. Aborsi jenis ini seringkali terjadi pada usia kahamilan memasuki 20

minggu. Karena aborsi jenis ini terjadi tanpa adanya faktor kesengajaan oleh

sang ibu maka abortus spontan juga dikenal dengan istilah keguguran atau

miscarriage. Dalam dunia medis aborsi jenis ini disebut sebagai threatened

spontaneous abortion (Pritchard et al, 1991).


31

Banyak wanita mengalami keguguran kandungan akibat berbagai penyakit

yang dideritanya seperti sipilis, malaria, dan infeksi yang disertai dengan

demam tinggi. Penyakit tersebut dapat menyebabkan embrio tidak dapat

bertahan untuk terus tumbuh sebagaimana mestinya. Hal lain yang

menyebabkan terjadinya abortus spontan adalah karena kelalaian sang ibu

sendiri. Seringkali ibu hamil kurang berhati-hati menjaga kandungannya,

misalnya sering melakukan pekerjaan yang melelahkan khususnya pada usia

kehamilan yang masih muda. Di samping itu keguguran disebabkan oleh

kecelakaan yang dialami sang ibu, misalnya jatuh terpeleset, dan tabrakan yang

mengakibatkan terjadinya benturan pada perut sang ibu. Benturan keras pada

perut ibu hamil mengakibatkan kandungan mengalami kontraksi rahim karena

ketuban pecah yang pada gilirannya akan mendorong janin keluar dari

kandungan (Ekotama dkk, 2001).

2. Abortus Provokatus

Abortus provokatus adalah aborsi yang terjadi secara sadar dan sengaja dengan

melalui campur tangan atau pengaruh pihak lain, abortus jenis ini dibagi

menjadi 2 kategori.

a. Abortus Provokatus Terapeutik (Artificialis)

Aborsi yang dilakukan dengan pertimbangan medis demi keselamatan sang

ibu karena menderita penyakit serius (jantung, darah tinggi, kanker, ginjal,

dll) dan dapat mengancam keselamatan sang ibu pada saat persalinan.

Tindakan aborsi semacam ini tentunya perlu didasarkan pada kesepakatan

bersama antara pelaksana aborsi maupun pihak yang meminta untuk

dilakukan aborsi. Beberapa tindakan dalam melakukan aborsi jenis ini


32

adalah sunction curretage dan surgical abortion yang biasa dilakukan pada

usia kehamilan antara 6 hingga 12 minggu (Ekotama dkk, 2001).

Pada kasus ibu hamil yang mengalami kecelakaan, bila janin berusia lebih

dari tujuh bulan, dokter masih dapat melakukan tindakan medis dengan

melakukan operasi cesar untuk menyelamatkan janin atau ibunya. Tetapi

bila umur kandungan kurang dari enam bulan, biasanya janin direlakan

sebagai suatu kecelakaan, karena embrio tersebut memiliki harapan hidup

yang kecil sehingga harus digugurkan. Pertimbangan medis lain yang

menyebabkan dokter mengambil tindakan abortus adalah karena bayi yang

akan dilahirkan menderita cacat fisik yang berat, misalnya ectopia kordia

(janin lahir tanpa dinding dada), anensefalus (bayi lahir tanpa otak besar),

rachiscisis (kelainan pada tulang punggung yang tidak tertutup kulit),

atresia orsophagus (saluran tenggorokan tidak terbentuk), fistula tracheo

oesphagus (kelainan pada batang tenggorokan dan saluran kerongkongan

terhubung menjadi satu).

b. Abortus Provokatus Kriminalis

Dikenal dengan istilah induced abortion adalah aborsi yang dilakukan

karena tidak menginginkan kehadiran bayi yang dikandung. Aborsi ini

secara sadar dilakukan oleh sang ibu, baik dilakukan sendiri atau bersama

dengan pihak lain yang membantu melakukan aborsi (dokter, bidan, dukun,

dll), maupun pihak yang mendorong untuk melakukan aborsi (keluarga,

pacar, teman selingkuh, dll). Pada banyak negara aborsi jenis ini dianggap

sebagai tindakan criminal dan melawan hukum (ilegal) serta dikategorikan

sebagai pembunuhan (Ekotama dkk, 2001).


33

2.2.3. Alasan Aborsi

Pada umumnya aborsi yang dilakukan oleh wanita baik remaja maupun

dewasa terutama untuk jenis abortus provocatus criminalis memiliki beberapa

alasan sebagai berikut :

a. Tidak ingin terganggu karir, sekolah, atau tanggung jawab lainnya

b. Tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memelihara anak

c. Tidak ingin memiliki anak tanpa ayah

d. Desakan orang lain (pacar, keluarga, atau teman)

e. Persepsi negatif masyarakat pada kehamilan di luar nikah

f. Merasa masih terlalu muda dan tidak siap secara mental

g. Telah memiliki banyak anak

h. Tidak mengerti apa yang dilakukan

i. Korban perkosaan

2.2.4. Dampak Aborsi

Menurut WHO komplikasi berbagai jenis aborsi merupakan faktor utama

yang menyebabkan kematian ibu di negara berkembang. Kemandulan, cacat

kronis, infeksi merupakan bentuk komplikasi dari aborsi. Komplikasi akibat

aborsi yang tidak aman menyebabkan kurang lebih 40% kematian ibu di dunia.

Artinya 200.000 dari 500.000 kematian wanita setiap tahun merupakan akibat dari

proses yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang dilakukan

dengan cara aborsi yang tidak aman (Koblinsky et al, 1993).

Terdapat banyak resiko yang harus dihadapi oleh seorang perempuan yang

melakukan aborsi, baik itu resiko fisik hingga kematian, resiko psikologis, dan

resiko lain berupa konsekwensi moral dan nilai sosial.


34

1. Bahaya aborsi pada kesehatan dan keselamatan fisik

a. Kematian karena pendarahan yang hebat atau kegagalan pembiusan

b. Infeksi pada lapisan rahim (endometritis)

c. Luka Robek pada rahim (uterine perforation)

d. Kerusakan leher rahim (cervix leceration)

e. Mandul (infertility)

2. Dampak aborsi pada kesehatan mental PAS (Post Abortion Syndrome)

a. Merasa kehilangan harga diri

b. Berteriak histeris

c. Mimpi buruk berulang-ulang tentang bayi

d. Ingin melakukan bunuh diri

e. Mulai mencoba menggunakan obat-obatan terlarang

f. Tidak bisa menikmati hubungan seksual selanjutnya

3. Resiko lain dari aborsi

a. Beban secara moral

b. Stigma sosial dan konsekensi hukum

c. Hilangnya kesempatan meneruskan keturunan

d. Kerugian biaya terutama bila terjadi komplikasi

2.2.5. Pro Live dan Pro Choice

Di dalam aspek yuridis politik sekalipun masalah aborsi masih merupakan

isu yang hangat diperdepatkan. Dalam hukum formal suatu negara, banyak negara

yang melegalkan aborsi dan banyak pula negara yang melarang aborsi, khususnya

negara yang berideologi keagamaan yang kuat. Di Amerika misalnya, aborsi

masih merupakan komoditi politik. Pada era kepemimpinan Bill Clinton


35

(demokrat), upaya untuk melegalkan aborsi terus dilakukan dengan cara

meningkatkan alokasi dana pembiayaan klinik yang menyediakan pelayanan

aborsi. Tetapi pada masa kampanye, George W. Bush (republik) menggunakan isu

aborsi untuk mendapat dukungan dari kalangan pro live dengan menjanjikan

pemotongan alokasi dana bagi lembaga yang menyediakan layanan aborsi.

Perdebatan mengenai aborsi di Amerika Serikat mulai memanas saat

dilegalkannya aborsi di negara itu pada tahun 1973. Pada tahun 1996 terjadi

peristiwa yang mengejutkan publik Amerika, Paul Hill seorang mantan Pendeta

Presbyterian menyerang klinik aborsi Ladies Center di Pensacola Florida dan

menembak mati dua orang dokter, seorang perawat serta melukai beberapa orang

lainnya. Peristiwa tersebut menandai titik ekstrim dari peseteruan kelompok pro

live dan pro choice di Amerika Serikat (Dyatmika, 2008 online).

Kubu pro live berargumen bahwa setiap manusia termasuk yang belum lahir

memiliki hak untuk hidup, dan hak seseorang untuk hidup merupakan bagian dari

Hak Asasi Manusia Universal, sementara kelompok pro choice beranggapan

bahwa seorang perempuan berhak menentukan pilihan atas tubuhnya, dan hak

menentukan pilihan adalah hak asasi manusia yang harus dilindungi. Kubu pro

choice semakin menguat bukan saja di Amerika melainkan juga di dunia pada

masa Bill Clinton berkuasa. Kebijakan pemerintah Amerika Serikat pada waktu

itu menguntungkan kubu pro choice diantaranya pengucuran dana pemerintah

kepada klinik-klinik aborsi yang kemudian dihentikan pada masa George W Bush

berkuasa. Selain itu pemerintah Amerika Serikat juga berhasil mensponsori dan

mempengaruhi banyak negara di dunia untuk mendukung kebijakan pro choice

mengenai hak reproduksi, keluarga, dan wanita (Dyatmika, 2008 online).


36

Perdebatan aborsi pada umumnya didasari pada kapan kehidupan dimulai.

Bagi kelompok pro live, kehidupan dimulai pada saat konsepsi terjadi. Sehingga

klinik dan pusat medis yang menyediakan pelayanan aborsi dianggap sama

dengan kamp konsentrasi Nazi pada perang dunia II (human personhood

equivalent of a Nazi death camp). Di sisi lain para pro choice menganggap bahwa

kehidupan manusia dimulai pada saat kelahiran (human personhood begin later in

gestation or at birth) (Kartono, 1998).

Perdebatan masalah aborsi juga terjadi di kalangan medis, dan sampai

dengan saat ini masih belum disepakati kapan sebenarnya kehidupan manusia itu

dimulai. Persatuan dokter spesialis kebidanan sedunia (FIGO) menetapkan bahwa

awal kehidupan itu dimulai sejak sel telur yang dibuahi menempel pada dinding

rahim. Selanjutnya Norman Ford mengatakan bahwa kehidupan dimulai setelah

pembentukan primitive strech yaitu lipatan ke dalam yang membentuk zygote saat

kehamilan berusia empat minggu, pada saat inilah embrio dapat dianggap sebagai

makhluk insani. Sementara Dr. Jerome Lejeune dari Universitas Rene Descartes

Paris mengatakan bahwa beberapa saat setelah 23 kromosom pria bertemu dengan

23 kromosom wanita dalam sebuah pembuahan semua informasi genetika

manusia yang belum dilahirkan telah diperoleh, pada saat itulah kehidupan

manusia dimulai (Kartono, 1998)

2.2.6. Kebijakan Aborsi di Indonesia

Indonesia termasuk salah satu negara yang menentang pelegalan aborsi

dalam setiap konvensi yang digelar badan dunia PBB, satu kubu dengan beberapa

negara Muslim, Amerika Latin, dan Vatikan. Di Indonesia aborsi dianggap ilegal

kecuali atas alasan medis untuk menyelamatkan nyawa ibu. Oleh karena itulah
37

praktek aborsi dapat dikenai pidana oleh negara. Fatwa lembaga keagamaan pun

ikut mendukung kebijakan pemerintah tersebut, misalnya fatwa Majlis Tarjih

Muhammadiyah tahun 1989 tentang aborsi yang menyatakan bahwa aborsi

dengan alasan medik diperbolehkan dan aborsi dengan alasan non medik

diharamkan (Dyatmika, 2008 online).

Di Indonesia, abortus provocatus criminalis merupakan tindakan yang

melawan hukum dan dianggap kriminal (ilegal). Perangkat perundangan yang

mengatur masalah aborsi ini adalah UU No. 23 Tahun 1992 Pasal 15 Ayat 1

tentang Kesehatan.

“...tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan


alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum,
norma agama, norma kesusilaan, dan norma kesopanan, namun
dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan
janin yang didukungnya dapat diambil tindakan medis tertentu...”
(Pasal 15, UU No. 23 Tahun 1992).

Melalui kacamata hukum hanya aborsi terapeutik saja yang dapat dianggap

legal, dan hanya boleh dilakukan oleh dokter ahli kandungan profesional

berdasarkan alasan medis yang tepat bahwa kehamilan tersebut berisiko terhadap

keselamatan sang ibu. Aborsi ini hanya dapat dilakukan atas persetujuan keluarga

pasien. Produk hukum lain mengenai aborsi adalah KUHP (Kitab Undang Undang

Hukum Pidana) Pasal 299, 346, 347, 348, dan 349 tentang dakwaan terhadap

pelaku serta orang yang membantu melakukan aborsi secara ilegal. Namun pasal

dalam KUHP tersebut belum dapat memberikan batasan yang jelas mengenai jenis

abortus provokatus seperti apa yang dilarang. Hal ini tentunya akan menciptakan

keragu-raguan bagi seorang dokter untuk melakukan abortus provokatus

terapeutik karena ancaman pasal KUHP di atas (Ekotama dkk, 2001).


38

2.3. Remaja

2.3.1. Definisi Remaja

Istilah remaja berasal dari kata latin adolescentia, dari kepustakaan Belanda

disebutkan bahwa adolenscentia dimulai ketika tercapainya kematangan seksual

secara biologis sesudah pubertas. Adolenscentia dari kepustakaan bahasa Inggris

menunjukkan masa peralihan dengan diikuti oleh perubahan fisiologis dan

perkembangan psikologis, yakni antara usia 12-21 tahun. Masa remaja sendiri

dikategorikan menjadi 3 tahap perkembangan (Gunarsa, 2003).

1. Masa Pra Pubertas (12-15 tahun)

Merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju pubertas, di mana

seorang anak telah tumbuh (puber : anak besar) dan ingin berlaku seperti orang

dewasa. Pada masa ini terjadi kematangan seksual yang sesungguhnya,

bersamaan dengan perkembangan fungsi psikologis.

2. Masa Pubertas (15-18 tahun)

Pada masa ini seorang anak tidak lagi hanya bersifat reaktif tetapi juga mulai

aktif melakukan kegiatan dalam rangka menemukan jati diri dan pedoman

hidupannya.

3. Masa Adolenscen (18-21 tahun)

Pada masa ini seseorang sudah dapat mengetahui kondisi dirinya, ia sudah

mulai membuat rencana kehidupan serta mulai memilih dan menentukan jalan

hidup yang akan ditempuhnya.

Pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih

bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu

psikologis, biologis dan sosial ekonomi (Sarwono, 2003).


39

1. Individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual

sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari

kanak-kanak menjadi dewasa.

3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada

keadaan yang relatif lebih mandiri.

Selanjutnya WHO (World Health Organization) memberikan batasan usia

remaja antara 10-20 tahun, bila pada usia tersebut telah menikah maka masuk

dalam kategori dewasa, sebaliknya bila pada usia 20 tahun masih bergantung pada

orang tua, maka masih dikategorikan sebagai remaja. WHO juga membagi kurun

usia remaja dalam dua bagian, yaitu remaja awal usia 10-15 tahun dan remaja

akhir usia 15-20 tahun (Sarwono, 2003).

2.3.2. Perubahan Remaja

Menurut BKKBN (1998) terdapat tiga perubahan dasar yang terjadi pada

diri remaja, berupa perubahan jasmani, perubahan kejiwaan, dan perubahan

tingkah laku.

1. Perubahan Jasmani

Perubahan pada pria :

a. Badan lebih berotot (terutama pada bahu dan dada)

b. Pertumbuhan berat dan tinggi badan

c. Suara lebih besar

d. Tumbuh rambut disekitar alat kelamin, kaki, tangan, dada, ketiak dan wajah

e. Buah zakar menjadi lebih besar dan kalau terangsang dapat ejakulasi

f. Mengalami mimpi basah


40

Perubahan pada wanita :

a. Tumbuh rambut di sekitar alat kelamin dan ketiak

b. Payudara mulai membesar

c. Panggul mulai membesar

d. Mengalami haid untuk yang pertama kalinya

2. Perubahan Kejiwaan

Timbul rasa tertarik pada lawan jenis, bagi remaja wanita ingin mempercantik

diri, bagi remaja pria terdorong untuk menunjukkan kejantanannya. Perubahan

kejiwaan lain yang remaja rasakan biasanya adalah tidak percaya diri (rendah

diri, malu, cemas, dan bimbang) remaja menjadi salah tingkah saat menyukai

lawan jenis.

3. Perubahan Tingkah Laku

Pada usia remaja mereka akan lebih senang berkumpul di luar rumah, lebih

sering membantu orang tua, ingin menonjolkan diri, kurang pertimbangan. Hal

ini menyebabkan remaja mudah terpengaruh teman. Untuk remaja yang wanita,

saat menjelang haid biasanya menjadi perasa, mudah sedih, marah, dan cemas

tanpa alasan.

2.3.3. Kesehatan Reproduksi Remaja

Secara sederhana reproduksi berasal dari kata re (kembali) dan production

(menghasilkan), jadi reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia

dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup. Kesehatan reproduksi

adalah keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang

berkaitan dengan fungsi, peran, dan sistem reproduksi.


41

Berdasarkan Konferensi Wanita ke IV di Beijing pada tahun 1995 serta

Konferensi Kependudukan dan Pembangunan di Cairo tahun 1994 disepakati 4

pokok hak reproduksi :

1. Kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual health)

2. Penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making)

3. Kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women)

4. Keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security)

Selain itu juga disinggung hak produksi yang didasarkan pada pengakuan

hak asasi manusia bagi setiap pasangan atau individu untuk menentukan secara

bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak, pengaturan jarak kelahiran,

dan penentuan kelahiran (Widjanarko, 1999).

Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat menyangkut sistem,

fungsi, dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat ini tidak

semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan, namun juga sehat

secara mental dan sosio kultural. Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi

agar memiliki informasi yang benar tentang proses reproduksi dan berbagai faktor

yang ada didalamnya. Dengan informasi yang benar diharapkan remaja memiliki

sikap dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap proses reproduksinya.

2.4. Psikologi Pendidikan

Pengertian definitif psikologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang

berusaha memahami dimensi psikis dari manusia dalam proses pembelajaran dan

pemahaman. Definisi lain tentang psikologi pendidikan (educational psychology)

diberikan oleh Witherington, yaitu studi sistematis tentang proses-proses dan


42

faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan manusia. Selanjutnya Tardif

menyatakan bahwa psikologi pendidikan merupakan suatu studi yang

berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk

usaha-usaha kependidikan, dengan 3 ruang lingkup (Suryabrata, 1989).

a. Context Teaching and Learning

b. Process Teaching and Learning

c. Outcomes Teaching and Learning

2.4.1. Fungsi Ingatan

Salah satu area yang menjadi bahasan dalam psikologi pendidikan adalah

fungsi ingatan manusia. Secara teoritis dapat dibedakan tiga aspek yang bekerja

dalam berfungsinya ingatan manusia (Suryabrata, 1989).


menerima
kesan

mereproduksi

Human
kesan

Brain

menyimpan
Gambar 2.2. Proses Fungsi Ingatan Manusia
kesan
1. Menerima Kesan

Menerima semua bentuk kesan atau informasi melalui panca indera baik itu

disengaja ataupun tidak.

2. Menyimpan Kesan

a. Menyimpan dengan kehendak

Menyimpan informasi yang dikehendaki, atau dengan sungguh-sungguh

mencamkan kesan yang telah diterima.


43

b. Menyimpan tanpa kehendak

Menyimpan informasi tanpa dikehendaki, atau secara tidak disadari

mencamkan kesan yang telah diterima.

3. Mereproduksi Kesan

Mengeluarkan kesan atau informasi yang telah disimpan dalam ingatan baik

secara utuh, berkurang, ataupun dengan penambahan.

2.4.2. Proses Belajar

Menurut Guthrie (1948) belajar memang merupakan sifat kodrati dari

manusia. Berbagai jenis aktifitas manusia dapat diasosiasikan sebagai proses

belajar, seperti menghafal, menerima hal (informasi) baru, memahami dan

memaknai sesuatu, menekuni hobby dan kegemaran, bahkan berprasangka dan

menuduh juga dikatakan sebagai proses belajar. Berdasarkan pemahaman ini

maka konsepsi mengenai belajar menjadi perhatian sentral dalam psikologi

pendidikan (Dahar, 1989).

Banyak sekali definisi yang diberikan oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu

tentang belajar. Cronbach (1954) mengatakan learning is to observe, to read, to

imitate, to try something themeselves, to listen, and to follow direction. Sementara

Geoh (1958) mengatakan learning is a change in performance as a result of

practice. Definisi lain diberikan oleh Hilgard (1948) yang menyebutkan learning

is the process by which an activity originates or is changed trough training

procedures (whether in the laboratory or in the natural environment) as

distinguished from change by factors not attributable to training.

Dari beberapa definisi yang dipaparkan oleh ahli-ahli dengan latar belakang

yang berbeda, dapat ditarik tiga prinsip pokok tentang belajar.


44

1. Belajar dapat membawa perubahan pada individu baik secara aktual maupun

potensial.

2. Perubahan yang didapatkan dari belajar adalah kecakapan (pengertian,

pemahaman, dan keahlian) baru.

3. Perubahan yang didapatkan dari proses belajar terjadi karena usaha, baik itu

disengaja ataupun tidak.

Pada tahun 1962 seorang ahli psikologi sekaligus ahli matematika

berkebangsaan Jerman, Herbart memberikan konsepsi mengenai proses

pembelajaran dengan berdasar pada asumsi matematis. Konsepsi tersebut

selanjutnya dikenal dengan nama teori kesan. Menurutnya kesadaran manusia

berisikan kesan-kesan yang ditangkap melalui panca indera baik disengaja

ataupun tidak. Keberdaan dari kesan-kesan tersebut tidak selalu kita sadari, ada

kalanya kesan-kesan tersebut hanya sedikit dan tersimpan di bawah alam sadar

manusia. Tetapi kesan-kesan yang berada di bawah alam sadar ini tidaklah hilang,

melainkan bersifat laten dan memiliki potensi untuk muncul kembali di alam

sadar kita. Tiap kesan yang berada dalam alam sadar kita memiliki kekuatan yang

berbeda, semakin kuat kesan maka semakin besar perannya dalam menentukan

tingkah laku manusia (Dahar, 1989).

Kekuatan dari kesan-kesan ini diperhitungkan secara matematis oleh

Herbart, dan potensinya bergantung dua hal.

1. Jelas atau tidaknya kesan yang pertama kali diterima oleh kesadaran. Semakin

jelas suatu kesan yang diterima maka semakin kuat berada dalam alam sadar

manusia begitu juga sebaliknya.


45

2. Frekwensi dari kesan yang diterima dalam kesadaran manusia. Semakin sering

suatu kesan masuk dalam kesadaran maka semakin kuat kesan tersebut berada

dalam alam sadar manusia dan begitu juga sebaliknya.

2.5. Perubahan Perilaku

Terdapat tiga proses perubahan perilaku yang dimulai dengan perubahan

pengetahuan (kognitif) kemudian diikuti oleh perubahan sikap (afektif) dan yang

terakhir adalah perubahan perilaku (psikomotor), ketiganya disingkat menjadi

KAP. Juga dikenal sebagai fungsi domain perilaku KAP - B (Knowledge Attitude

Practice - Behavior).

Tokoh psikologi sosial Festinger (1957) mengemukakan tentang Cognitive

Dissonance Theory. Dissonance terjadi karena dalam diri individu terdapat

elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah

pengetahuan, pendapat, dan keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu obyek

atau stimulus yang memunculkan pendapat atau keyakinan yang berbeda dan

saling bertentangan dalam diri individu sendiri, maka terjadilah dissonance

(ketidakseimbangan). Melalui penyesuaian elemen kognitif, pertentangan dalam

diri individu dapat dikurangi sehingga tercapailah consonance (keseimbangan),

dengan tercapainya keseimbangan kembali ini menunjukkan adanya perubahan

sikap yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2003).

2.5.1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan salah satu komponen utama yang membentuk

perilaku manusia. Pengetahuan merupakan keseluruhan pemikiran, gagasan, ide,

konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dengan segala isinya
46

termasuk kehidupannya. Pengetahuan merupakan hasil dari proses penginderaan

terhadap sutu obyek, khususnya penglihatan dan pendengaran. Menurut Bloom

(1979) domain pengetahuan memiliki enam tingkatan, yaitu :

1. Tahu (to know), yaitu kemampuan untuk mengingat kembali materi pelajaran

yang pernah diajarkan.

2. Pemahaman (comprehension), yaitu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar obyek yang diketahui serta dapat mengimplementasikannya.

3. Penerapan (application), yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari dalam suatu kondisi yang nyata.

4. Analisis (analyze), yaitu kemampuan untuk menjabarkan materi yang didapat

dalam komponen yang lebih kecil namun tetap sebagai kesatuan yang utuh.

5. Sintesis (synthesize), yaitu kemampuan untuk merangkai komponen yang ada

menjadi suatu entitas baru, atau kemampuan untuk menyusun formulasi.

6. Evaluasi (evaluation), yaitu kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap

suatu materi atau obyek dengan menggunakan kriteria tertentu.

2.5.2. Sikap

Secara historis istilah sikap (attitude) digunakan pertama kali oleh Herbert

Spencer tahun 1862, yang diartikan sebagai status mental seseorang. Sejumlah

ahli psikologi seperti Louis Thurstone, Rensis Likert, Charles Osgood menyatakan

bahwa sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan yang mana dapat

memihak (favorable) maupun tidak memihak (unfavorable) pada suatu obyek

tertentu. Sedangkan kelompok ahli psikologi sosial seperti Chave, Bogardus, La

Pierre, Mead, dan Gordon Allport menganggap sikap sebagai kesiapan

(kecenderungan potensial) untuk bereaksi pada suatu obyek dengan cara-cara


47

tertentu. Selanjutnya La Pierre mendefinisikan sikap sebagai suatu pola perilaku,

tendensi atau kesiapan antisipatif, dan predisposisi untuk menyesuaikan dengan

situasi sosial, atau secara sederhana sikap adalah respon terhadap stimuli sosial

yang telah terkondisikan (Azwar, 1995).

Kelompok ahli lain yang berorientasi pada triadic scheme menganggap

sikap sebagai konstelasi komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling

berinteraksi dalam memahami dan merasakan suatu obyek. Secord dan Backman

mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi),

pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu

aspek tertentu. Komponen kognitif berkaitan dengan kepercayaan seseorang

mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sesuatu yang

telah diyakini akan menjadi suatu stereotipe pada individu tersebut, sehingga

pikirannya selalu terpola. Misalnya, bila individu percaya bahwa prostitusi adalah

sesuatu yang buruk maka kepercayaan tersebut akan selalu terpola pada

pikirannya. Komponen afektif menunjuk pada perasaan emosional subyektif

seseorang terhadap suatu obyek. Sedangkan komponen konatif merupakan

struktur sikap yang menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan

berperilaku yang ada dalam diri seseorang dikaitkan dengan obyek sikap yang

dihadapinya (Azwar, 1995).

Muchielli menggambarkan sikap sebagai suatu kecenderungan mental atau

perasaan yang relatif tetap terhadap suatu kategori obyek, orang, atau situasi

tertentu. Recht menyatakan bahwa sikap menggambarkan kumpulan kepercayaan

yang selalu memasukan aspek penilaian, artinya sikap selalu dapat ditafsirkan

sebagai baik dan buruk atau positif dan negatif (Green, 1980).
48

2.5.3. Perilaku

Perilaku adalah suatu tindakan yang dilakukan seseorang berdasarkan atas

keinginan yang dalam pelaksanaannya dibatasi oleh norma dan nilai yang ada di

masyarakat. Perilaku merupakan wujud dari pemahaman seseorang mengenai

suatu hal yang dinyatakan dalam bentuk perbuatan. Bentuk perilaku bisa dinilai

secara positif atau negatif tergantung pada standar nilai yang berlaku pada saat itu

(Notoatmodjo, 2003).

Selanjutnya perilaku secara lebih operasional dapat diartikan sebagai respon

organisme (individu) terhadap rangsangan atau stimulus. Respon ini sendiri

terbagi menjadi 2 kategori.

1. Respon Pasif

Merupakan respon internal yang terjadi di dalam diri individu yang tidak dapat

terlihat secara langsung, misalnya berfikir, persepsi, dan sikap yang masih

terselubung (covert behavior).

2. Respon Aktif

Bentuk respon yang dapat dilihat atau diobservasi secara langsung, berupa

tindakan nyata (overt behavior).

2.6. Promosi dan Pendidikan Kesehatan

2.6.1. Promosi Kesehatan

Pengertian promosi kesehatan (health promotion) didefinisikan secara

berbeda pendidikan kesehatan (health education). Menurut dokumen Healthy

People promosi kesehatan didefinisikan sebagai life style improvements of

essentially health people. Definisi ini sejalan dengan konsep promosi kesehatan
49

yang berfokus pada upaya untuk mendapatkan keadaan yang lebih sehat. Jhonson

mendefinisikan promosi kesehatan sebagai perpaduan dari aspek pendidikan,

organisasi, ekonomi, dan lingkungan yang mampu mendukung perilaku kondusif

dalam meningkatkan derajat kesehatan (Simon Morton et al, 1995).

Promosi kesehatan tidak saja menjadikan individu sebagai target tunggal,

keluarga, masyarakat, badan-badan swasta, dan pemerintah juga dipandang

sebagai kelompok yang perlu diberikan program promosi kesehatan. Hal ini

identik dengan definisi promosi kesehatan yang diberikan oleh Krueter dan Dwore

bahwa promosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kesehatan sehingga

memperluas kemungkinan bagi setiap pribadi (individu, keluarga, dan

masyarakat), sektor swasta (para profesional dan dunia usaha), serta publik

(negara dan daerah) dalam mendukung praktek kesehatan yang positif sehingga

menjadi tata nilai dan budaya baru (Simon Morton et al, 1995).

2.6.2. Pendidikan Kesehatan

Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk

mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga

mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Dari batasan ini

terkandung 3 komponen pendidikan.

a. Input atau sasaran pendidikan

b. Proses atau upaya yang dilakukan dalam mendidik

c. Output atau hasil yang diharapkan

Pendidikan kesehatan sendiri didefinisikan secara berbeda oleh beberapa

ahli. Menurut Nyswander (1967), pendidikan kesehatan dipandang sebagai proses

pengembangan individu dengan cara merubah perilaku atau sikap menjadi


50

kebiasaan yang sehat sebagai akibat dari pengalaman yang diperolehnya. Definisi

pendidikan kesehatan lain juga dikemukakan oleh Griffits (1972), yaitu upaya

untuk menghilangkan kesenjagan antara apa yang diketahui tentang praktek

kesehatan yang optiman dengan apa yang sesungguhnya dilakukan.

Tujuan pendidikan kesehatan tidak selalu dapat dipahami dan dilaksanakan

oleh masyarakat. Adanya kesenjangan antara informasi kesehatan dengan

kenyataan kesehatan yang ada pada masyarakat menjadi dasar bagi President

Committee of Health Education dalam pernyataannya, bahwa pendidikan

kesehatan adalah proses yang menjembatani antara informasi kesehatan dengan

praktek-praktek hidup sehat dalam masyarakat. Selain itu makin meningkatnya

kompleksitas permasalahan kesehatan, menjadi dasar bagi Joint Committee on

Health Terminology dalam mengembangkan definisi pendidikan kesehatan

sebagai penggunaan dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan rencana,

implementasi dan evaluasi terhadap program pendidikan kesehatan yang mampu

memberdayakan individu, keluarga, kelompok, organisasi, masyarakat untuk

memainkan peran aktif dalam mendapat, menjaga dan mempertahankan kesehatan

(Simon Morton et al, 1995).

2.7. Komunikasi

2.7.1. Dasar Komunikasi

Komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan.

Secara sederhana komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian pesan dari

satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas

pesan yang dipertukarkan tersebut.


51

Tiga elemen dasar yang terdapat dalam preoses komunikasi adalah

komunikator, pesan, dan komunikan, dan elemen lain yang sering menjadi bagian

dalam proses komunikasi adalah media dan umpan balik (Soehoet, 2003).

1. Komunikator

Pemberi pesan baik itu individual, kelompok, atau lembaga organisasi.

2. Pesan

Materi atau gagasan yang dikomunikasikan antar pihak yang terlibat dalam

proses komunikasi, baik berbentuk verbal, non verbal, atau paralinguistik.

3. Media

Sarana atau instrumen pengirim pesan dari komunikator pada komunikan.

4. Komunikan

Sasaran dari komunikasi, bisa individu, kelompok, atau lembaga organisasi.

5. Umpan Balik

Tanggapan (feedback) atas pesan oleh komunikan kepada komunikator baik itu

positif maupun negatif.

Menurut tujuannya komunikasi dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu

komunikasi informatif, komunikasi instruksional, komunikasi persuasif, dan

komunikasi hiburan (Soehoet, 2003).

1. Komunikasi Informatif

Komunikasi informatif adalah jenis komunikasi yang bertujuan memberikan

informasi atau penjelasan. Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan agar

komunikasi informatif ini dapat berhasil, yaitu menarik perhatian komunikan,

mengusahakan agar komunikan bersedia menerima pesan, serta mengupayakan

agar komunikan bersedia menyimpan pesan.


52

2. Komunikasi Intruksional

Komunikasi yang terjadi dalam proses belajar mengajar. Tahapan penerimaan

pesan sama dengan yang terjadi pada komunikasi informatif, tetapi di sini

tingkat efektifitasnya lebih tinggi karena terdapat kontrak antar komunikator

dengan komunikan.

3. Komunikasi Persuasif

Tahapan penyampaian pesan sama dengan komunikasi informatif tetapi tujuan

komunikasi jenis ini lebih jauh lagi, yaitu mengajak komunikan untuk

bertindak sesuai dengan isi pesan. Komunikan diberikan pandangan baru lalu

diajak meneliti kembali kerangka acuan tindakan dan pola perilakunya selama

ini, pada akhirnya dipengaruhi untuk merubah kerangka acuan tindakan dan

pola perilakunya sesuai dengan yang dikehendaki komunikator.

4. Komunikasi Hiburan

Komunikasi ini bertujuan untuk menghibur. Meskipun tahapan prosesnya sama

dengan jenis komunikasi lainnya, namun pencapaian tujuannya lebih ringan,

karena tidak perlu mengubah pandangan ataupun tindakan komunikan. Faktor

situasi menjadi kunci keberhasilan dalam komunikasi jenis ini.

Straubharr mengatakan, bahwa komunikasi kekinian adalah komunikasi

yang termediasi oleh berbagai bentuk media baru. Media baru ini adalah bentuk

mass media dengan perubahan konsep yang mengikuti perkembangan teknologi

digital. Tumbuhnya media komunikasi baru ini juga diikuti oleh meningkatnya

konsumsi informasi oleh masyarakat (Mufid, 2005).

Proses perkembangan komunikasi pada periode ini secara umum diikuti

oleh beberapa perubahan sudut pandang komunikasi.


53

1. Dari orientasi terhadap pesan menjadi orientasi terhadap penerima

2. Dari satu arah menjadi bolak-balik dan berputar (circular)

3. Dari statis menjadi process oriented

4. Dari penekanan makna informasi menjadi penekanan interpretasi informasi

5. Dari personal menjadi konteks hubungan organisasi, masyarakat, dan media

2.7.2. Model Komunikasi Shannon Weaver

Claude E. Shannon (1949) mengutarakan tentang Mathematical Theory of

Communication. Yang menjadi fokus perhatian pada teori ini adalah prinsip

transmisi informasi.

“...that of reproducing at one point either exactly or approximity a


message selected at another point...” (Yearry, 2008 online).

Teori Shannon pada dasarnya adalah pendekatan teknis matematis terhadap

proses komunikasi. Shannon menggambarkan komunikasi dalam perspektif

matematis bagaimana sebuah pesan mampu terkirimkan dari komunikator kepada

komunikan. Sistem komunikasi yang ditawarkan dianalogikan sebagai sebuah

mesin, di mana komunikasi manusia dianggap bekerja dengan cara yang sama.

Warren Weaver (1949) menjelasan proses komunikasi dalam asumsi bahwa

ide yang ada di dalam benak komunikator (source) pada mulanya diubah menjadi

separangkat kode tertentu (decode). Ide ini diubah menjadi seperangkat sinyal

(signal) yang dikirim melalui pengirim sinyal (transmiter). Sinyal tersebut bisa

berupa suara melalui mulut kita, tulisan melalui surat, pesan singkat melalui SMS,

atau teks berita yang dituliskan pada surat kabar.

“...in oral speech the information source is the brain, the transmitter
is the voice mechanism producing the varying air pressure (signal)
which is ttransmitted through the air (channel)...” (Yearry, 2008
online).
54

Sinyal dikirimkan kepada komunikan (destination) dan kemudian ditangkap

oleh receiver yang dimiliki oleh komunikan. Bila suara atau kata-kata yang

disampaikan oleh komunikator ditangkap oleh telinga komunikan, maka telinga

adalah receiver bagi komunikan. Receiver inilah yang bertugas untuk mengolah

kembali (encode) sinyal suara menjadi seperangkat ide yang akan dipersepsikan

oleh komunikan (Yearry, 2008 online).

transmitted received
message message
signal signal

Information
Transmitter Receiver Destination
Source

penyandian penginterpretasian
pesan pesan
Noise
Source

Gambar 2.3. Model Komunikasi Shannon Weaver

Model komunikasi matematikal dikenal juga dengan nama model

komunikasi Shannon Weaver yang muncul pada tahun 1949 sebagai perpaduan

gagasan Claude E. Shannon dan Warren Weaver. Pada tahun 1948 Shannon

mengetengahkan teori matematik dalam komunikasi permesinan (engineering

communication), yang kemudian bersama Weaver pada tahun 1949 diterapkan

pada proses komunikasi manusia (human communication). Kajian utamanya

adalah bagaimana menentukan saluran (channel) komunikasi yang dapat

digunakan secara lebih efisien. Latar belakang keahlian teknik matematis tampak

dalam penekanan teori ini. Faktor utama dalam keberhasilan komunikasi adalah

bukan pada pesan atau makna yang disampaikan (mazhab semiotika), tetapi lebih

pada jumlah sinyal yang diterima dalam proses transmisi pesan (Arni, 1995).
55

1. Sumber Informasi (Information Source)

Dalam komunikasi manusia yang menjadi sumber informasi adalah otak. Pada

otak terdapat kemungkinan pesan yang tidak terbatas jumlahnya. Tugas utama

dari otak adalah menghasilkan suatu pesan atau suatu set kecil pesan dari

berjuta-juta pesan yang ada.

2. Pengirim Sinyal (Transmitter)

Bentuk transmitter tergantung pada jenis komunikasi yang digunakan. Pada

komunikasi tatap muka yang menjadi transmitter adalah organ pembentuk

suara dan dihubungkan dengan otot serta organ tubuh lain yang terlibat dalam

penggunaan bahasa non verbal, sedangkan pada bentuk komunikasi yang

menggunakan mesin, alat komunikasi yang berfungsi sebagai transmitter

adalah telepon, radio, televisi, foto, dan lain sebagainya.

3. Penyandian Pesan (Encoding)

Penyandian pesan (encoding) digunakan untuk mengubah pesan ke dalam

suatu sandi yang cocok dengan transmitter. Dalam komunikasi tatap muka

sinyal yang cocok dengan organ suara adalah kata-kata. Sinyal yang cocok

dengan otot tubuh dan indera adalah anggukan kepala, sentuhan, gerak tubuh,

serta kontak mata. Pada komunikasi yang menggunakan mesin terdapat alat

yang digunakan sebagai perluasan dari indera, penyandian pesan yang berasal

dari tubuh diperluas dengan transmitter. Misalnya radio yang merupakan

perluasan dari suara atau televisi yang merupakan perluasan dari mata.

4. Penerima Sinyal (Receiver)

Pada proses komunikasi tatap muka transmitter menyandikan pesan dengan

menggunakan organ suara dan otot tubuh. Penerima (receiver) dalam hal ini
56

adalah organ tubuh yang sanggup menangkap sinyal, misalnya telinga

menerima sandi pembicaraan, sementara mata menerima sandi gerakan badan,

kepala, dan sinyal lain yang dapat ditangkap mata.

5. Penginterpretasian Pesan (Decoding)

Istilah penginterpretasian pesan (decoding) berlawanan dengan istilah

penyandian pesan (encoding). Penerima pesan yang telah menerima sinyal

melalui pendengaran, penglihatan, dan sebagainya akan menguraikan sinyal

tersebut dan diinterpretasikan oleh otak.

6. Tujuan (Destination)

Komponen terakhir adalah tujuan (destination). Destination ini adalah otak

manusia yang menerima pesan berupa, ingatan, ide, gagasan, atau pemikiran

mengenai makna pesan.

7. Sumber Gangguan (Noise)

Noise merupakan faktor yang dapat mengganggu transmisi sinyal dari

transmitter ke receiver. Misalnya saat berbicara dengan seseorang terdengar

suara mobil dapat mengganggu pembicaraan. Gangguan dalam proses

komunikasi dapat dikurangi atau dinetralkan. Untuk menetralkan gangguan ini

terdapat 4 teknik, yaitu :

a. Menambah kekuatan sinyal

b. Mengatur dan mengarahkan sinyal secara tepat

c. Menggunakan bantuan sinyal lain

d. Redudansi untuk memperjelas sinyal

Model komunikasi matematikal juga menjelaskan tentang bagaimana kita

dapat melakukan semacam prediksi terhadap tindakan komunikasi. Sebagai


57

contoh, ketika komunikator mengirimkan pesan kepada komunikan berupa pesan

“sudah makan belum...?” menurut teori ini dapat diprediksi respon apa atau

informasi apa yang bisa kita dapatkan dari komunikan atas pesan tersebut. Kita

dapat memprediksi bahwa ada 50 persen kemungkinan jawaban “sudah” dan 50

persen kemungkinan muncul jawaban “belum” dari komunikan. Maka teori ini

melihat bahwa komunikasi pada hakikatnya dapat dikalkulasikan dan dilihat

sebagai proses matematis (Fikse, 1999).

Jika Claude Shannon hanya memfokuskan diri pada perihal seberapa akurat

pesan mampu terkirimkan, maka Weaver menjadikan cakupan teori ini menjadi

lebih luas. Hingga kemudian teori ini manpu membahas dimensi semantik dan

efektifitas dalam praktek komunikasi. Perspektif teori ini menjadi landasan yang

kuat bagi perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri dan semakin mempertegas

peran paradigma komunikasi sebagai alat transmisi ide (Fikse, 1999).

Warren Weaver melakukan interpretasi terhadap teori Shannon dengan

mengajukan konsep tiga level communication problem atau hambatan dalam

proses komunikasi.

1. Bagaimana akurat pesan komunikasi dapat ditransmisikan

2. Seberapa tepat pesan yang ditransmisikan mampu mendekati makna yang

diinginkan

3. Seberapa efektif pesan yang tersampaikan mempengaruhi tindakan yang

diinginkan

Komunikasi dikaji melalui pendekatan ilmu eksakta, dengan menganggap

bahwa efektifitas komunikasi dapat dihitung dan diukur secara matematis maka

komunikasi dapat dipakai sebagai alat kontrol. Karena pesan komunikasi dapat
58

didesain dan diukur efektifitasnya maka dalam perspektif propaganda, komunikasi

bisa digunakan sebagai alat manipulasi. Komunikasi dapat mempengaruhi

pemikiran dan membentuk nilai orang lain sesuai dengan apa yang diharapkan,

dan dijadikan alat penyampai pesan yang efektif guna mencapai tujuan tertentu

sebagaimana diinginkan oleh pelaku komunikasi. Mathematical Theory of

Communication dari Shannon Weaver memberikan landasan dasar dalam sudut

pandang transmisi informasi ini (Fikse, 1999).

2.7.3. Komunikasi Kesehatan

Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi

secara positif perilaku sasaran dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode

komunikasi, baik komunikasi interpersonal maupun komunikasi masa. Tujuan

utama komunikasi kesehatan adalah perubahan cara pandang dan perilaku

kesehatan masyarakat. Selanjutnya dengan perubahan perilaku masyarakat yang

lebih sehat akan berpengaruh kepada meningkatnya derajat kesehatan masyarakat

yang optimal (Notoatmodjo, 2003).

2.7.4. Media Komunikasi

Media komunikasi adalah instrumen perantara dalam proses penyampaian

isi pernyataan (message) dari komunikator sampai kepada komunikan atau proses

penyampaian umpan balik (feedback) dari komunikan sampai kepada

komunikator (Hamzah, 1991).

1. Media Audio

Media audio adalah instrumen yang dapat menghasilkan bunyi atau suara. Jadi

penyampaian informasi dari seorang komunikan kepada komunikator melalui

media yang hanya dapat ditangkap melalui indera pendengaran.


59

2. Media Visual

Media visual yaitu intrumen yang dapat memperlihatkan bentuk visualisasi dari

obyek, yang kita kenal sebagai alat peraga. Instrumen visual atau alat-alat

peraga ini terbagi atas :

a. Alat visual dua dimensi pada bidang yang tidak transparan, seperti gambar

di atas kertas, gambar yang diproyeksikan dengan opaque projector, lembar

balik, grafik, diagram, bagan, poster, gambar hasil cetak saring, dan foto.

b. Alat visual dua dimensi pada bidang yang transparan, seperti slide, film

strip, lembaran transparan untuk overhead projector.

c. Alat visual tiga dimensi. Disebut tiga dimensi karena mempunyai ukuran

panjang, lebar dan tinggi, seperti model, contoh barang atau specimen, dan

alat tiruan sederhana atau mockup.

3. Media Audio Visual

Media audio visual adalah instrumen yang dapt didengar (audible) dan dapat

dilihat (visible). Jadi media audio visual adalah suatu media yang digunakan

oleh komunikator pada komunikan dalam penyampaian pesan dalam bentuk

gambar dan suara.

Kriteria media promosi kesehatan yang efektif diantaranya adalah mudah

diperoleh bahan pembuatannya, murah karena hanya membutuhkan biaya yang

kecil, mampu menarik dan merangsang perhatian sasaran, desain pesan informatif

dan tidak bermakna ganda, efektif dan berdayaguna bagi sasaran, mampu

mendorong sasaran untuk belajar secara lebih positif, tepat waktu dan aktual

dalam penyampaian, serta sesuai dengan kebututuhan sasaran (Soehoet, 2003).


60

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1. Kerangka Konseptual Penelitian

Predisposing Factors Reinforcing Factors


Enabling Factors
Karakteristik Personal Kondisi Lingkungan
Kondisi Lingkungan
Siswa Sosial Siswa
Fisik Siswa
karakteristik fisik pengaruh pergaulan
kondisi lingkungan
nilai dan keyakinan sistem nilai masyarakat
sekitar
dimensi kejiwaan dukungan sosial
ketersediaan fasilitas
paparan media
kesehatan
Knowledge peran promkes
kondisi sosial ekonomi
peraturan kebijakan
r
ule
Sel
da
Pa
S
M Attitude
S
an Sikap
na Terhadap Aborsi
gu
ng
Pe

Practice
Intervention

Informasi Kesehatan Tindakan Aborsi


Tentang Aborsi
(Desain SMS)

Behavior

diteliti
Perilaku Aborsi
tidak diteliti

Bagan 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian


61

Kerangka konseptual penelitian berjudul “Pemanfaatan SMS pada Seluler

sebagai Media Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan dan

Perubahan Sikap Remaja mengenai Aborsi” (Studi di SMP Negeri 26 Surabaya)

ini didesain dengan mengadopsi model teori perilaku dari Lawrence W. Green

(Predisposing, Enabling, and Reinforcing Factors) yang dikombinasikan dengan

domain perilaku KAP - B (Knowldge Attitude Practice - Behavior).

1. Lawrence W. Green

a. Predisposing Factors

Faktor pendorong yang melekat pada diri siswa dan berpotensi untuk

membentuk perilaku tertentu terkait masalah aborsi.

b. Enabling Factors

Faktor pendukung yang memungkinkan siswa untuk berperilaku tertentu

terkait masalah aborsi.

c. Reinforcing Factors

Faktor yang mampu memperkuat siswa untuk berperilaku tertentu terkait

masalah aborsi.

2. Domain Perilaku KAP - B

a. Knowledge : Pengetahuan tentang aborsi

b. Attitude : Sikap terhadap aborsi

c. Practice : Tindakan terkait aborsi

d. Behavior : Perilaku aborsi

Tidak semua variabel yang terdapat dalam kerangka konseptual penelitian

ikut diteliti, namun dibatasi pada pengukuran perubahan tingkat pengetahuan dan

perubahan sikap siswa (SMPN 26 Surabaya) terkait masalah aborsi setelah


62

dilakukan intervensi. Intervensi di sini berupa pemberian informasi kesehatan

tentang aborsi yang didesain dan disampaikan melalui penggunaan fasilitas SMS

pada seluler sebagai media promosi kesehatan.

Penelitian mengenai pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan

ini sendiri merupakan pilot research di mana untuk penelitian sejenis khususnya

pada bidang ilmu kesehatan masyarakat belum pernah dilakukan, karena itu

diberikan beberapa batasan :

1. Penelitian ditujukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas SMS sebagai

media promosi kesehatan akan sanggup mempengaruhi perubahan

pengetahuan dan sikap sasaran terkait masalah aborsi.

2. Efektifitas pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan diukur melalui

metode komparasi hasil pretest posttest sebelum dan sesudah intervensi.

3. Peneliti di samping berlaku sebagai provider kesehatan juga bertindak sebagai

provider pengiriman pesan SMS.

4. Kontrol penerimaan pesan SMS aborsi pada sasaran dilakukan hanya melalui

laporan messasge status yang terdapat pada seluler.

5. Desain pesan kesehatan melalui media SMS merupakan sebuah desain yang

relatif baru, dengan keterbatasan kemampuan media SMS terutama untuk

menampung informasi dengan deskripsi yang panjang.

6. Diasumsikan tidak semua sasaran memiliki zero knowledge mengenai

informasi aborsi, tidak semua sasaran memiliki keterkaitan langsung terhadap

informasi aborsi, sasaran telah memiliki informasi aborsi dalam tingkatan

tertentu sebelumnya, dan sasaran mampu secara aktif untuk mencari informasi

aborsi melalui sumber atau media lain.


63

7. Bentuk intervensi melalui media SMS ini bersifat satu arah dan tidak

membutuhkan feedback langsung. Namun lebih ditujukan pada pencapaian

outcomes berupa peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap.

3.2. Hipotesis Penelitian

Hipotesis pada studi penelitian berjudul “Pemanfaatan SMS pada Seluler

sebagai Media Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan dan

Perubahan Sikap Remaja mengenai Aborsi” (Studi di SMP Negeri 26 Surabaya)

ini adalah sebagai berikut :

1. Pemanfaatan SMS pada seluler sebagai media promosi kesehatan mampu

secara efektif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa SMPN 26

Surabaya terkait masalah aborsi.

2. Pemanfaatan SMS pada seluler sebagai media promosi kesehatan mampu

secara efektif mempengaruhi perubahan sikap secara positif (tidak

mendukung) bagi siswa SMPN 26 Surabaya terkait masalah aborsi.


64

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1. Rancang Bangun Penelitian

Penelitian berjudul “Pemanfaatan SMS pada Seluler sebagai Media

Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Perubahan

Sikap Remaja mengenai Aborsi” (Studi di SMP Negeri 26 Surabaya) ini

merupakan penelitian quasi experimental dengan rancangan randomized pretest

posttest with control group (quantitative study).

Interventio
Pretest Posttest
n
Experiment Group X Xi X
Control Group X X

Bagan 4.1. Rancang Bangun Penelitian

Sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian, maka pendekatan yang

digunakan dalam studi ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan

instrumen kuesioner tertutup (pretest posttest) untuk mengukur tingkat

pengetahuan dan sikap siswa (responden) sebelum dan sesudah perlakuan.

Selain itu untuk memperoleh informasi lain sebagai penunjang hasil

penelitian juga dilakukan FGD (Focus Group Discussion) dan indepth interview,

yang digunakan untuk :

1. Mengidentifikasi program kesehatan dan penggunaan media promosi

kesehatan konvensional mengenai aborsi yang telah sampai pada siswa selaku

informan penelitian (indepth interview).


65

2. Mengeksplorasi lebih dalam pendapat dan pandangan siswa (informan)

mengenai hal-hal yang terkait dengan aborsi (indepth interview).

3. Mengeksplorasi lebih dalam tanggapan siswa (informan) terhadap penggunaan

SMS pada seluler sebagai media promosi kesehatan khususnya aborsi (FGD).

Secara operasional tahapan-tahapan dalam desain penelitian quasi

experimental ini dapat digambarkan sebagai berikut :


Experiment Group

Siswa Kelas VIII


SMPN 26 dan SMPN 20
Surabaya

Kelas VIII Kelas VIII


SMPN 26 SMPN 20

Control Group
Pretest Pretest

Dengan Perlakuan Tanpa Perlakuan

Posttest Posttest

Bagan 4.2. Desain Penelitian


Analisis Hasil
Keterangan : Pretest Posttest
1. Sasaran penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 26 Surabaya (experiment

group) dan siswa kelas VIII SMPN 20 Surabaya (control group).


66

2. Pada kelompok eksperimen maupun kontrol dilakukan pretest untuk

mengukur pengetahuan dan sikap sebelum perlakuan.

3. Siswa kelas VIII SMPN 26 sebagai kelompok eksperimen diberikan perlakuan

(intervensi) dengan menggunakan pesan media SMS, sedangkan siswa kelas

VIII SMPN 20 sebagai kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan.

4. Dilakukan posttest pada ke dua kelompok baik eksperimen maupun kontrol

untuk mengukur pengetahuan dan sikap setelah perlakuan.

5. Dilakukan analisis data hasil pretest posttest untuk ke dua kelompok, siswa

SMPN 26 Surabaya (experiment group) dan siswa SMPN 20 Surabaya

(control group) dengan menggunakan uji statistik (komparasi).

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian :

SMPN 26 Surabaya, Raya Banjarsugihan 21 Surabaya (Eksperimen)

SMPN 20 Surabaya, Dukuh Kapasan I Sambikerep Surabaya (Kontrol)

2. Waktu Penelitian :

Periode bulan Juni 2009 s/d Juli 2009

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian

4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi pada studi penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP

Negeri 26 Surabaya yang berjumlah 358 siswa dan siswa kelas VIII SMP Negeri

20 Surabaya yang berjumlah 278 siswa baik laki-laki maupun perempuan, tahun

ajaran 2008/2009.
67

4.3.2. Sampel Penelitian

Menurut Gay, jumlah sampel minimum yang dapat diterima untuk studi

penelitian eksperimental sederhana dengan subyek manusia adalah 15 sampai

dengan 30 subyek per kelompok, yang disesuaikan dengan tujuan dan maksud

penelitian (Wijono, 2007).

Berdasarkan pendapat tersebut serta disesuaikan dengan tujuan penelitian

maka penentuan besar sampel dan pemilihan unit sampel untuk setiap kelompok

ditetapkan sebesar 30 sampel, dipilih menggunakan teknik random sampling pada

masing-masing populasi dengan kriteria inklusi berupa pertimbangan kepemilikan

handphone secara pribadi yang digunakan dalam keseharian siswa.

a. 30 siswa sebagai responden kelompok eksperimen yang dipilih secara random

dari 284 siswa (79,3%) yang menggunakan handphone, pada total 358 siswa

kelas VIII SMPN 26 Surabaya.

b. 30 siswa sebagai responden kelompok komtrol yang dipilih secara random

dari 215 siswa (77,4%) yang menggunakan handphone, pada total 278 siswa

kelas VIII SMPN 20 Surabaya.

Informan indepth interview dan FGD dipilih berdasarkan nilai hasil pretest

posttest, dengan kriteria siswa yang memperoleh nilai terendah, nilai tertinggi,

dan siswa dengan selisih nilai pretest posttest terbesar untuk variabel

pengetahuan.

a. Siswa sebagai informan indepth interview merupakan siswa dari kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol. Jumlah informan disesuaikan hingga

informasi yang diperlukan terpenuhi.


68

b. Siswa sebagai informan FGD (Focus Group Discussion), yaitu 6 informan

yang kesemuanya merupakan siswa dari kelompok eksperimen.

4.4. Variabel Penelitian

Dalam penelitian quasi experimental ini terdapat dua variabel yang terbagi

sebagai dependent variable dan independent variable.

1. Variabel Bebas : Media Seluler (SMS)

2. Variabel Terikat : Pengetahuan dan sikap terkait aborsi

4.5. Definisi Operasional

Tabel 4.1. Definisi Operasional Penelitian


No. Variabel Definisi Pengukuran Skala Kriteria
1. Pengetahuan Pengetahuan Multiple Ratio 25 soal dengan
atau pemahaman Choices nilai 4 untuk
responden Questioner jawaban benar
mengenai aborsi dan nilai 0 untuk
jawaban salah :

- Baik
nilai ≥ 76
- Cukup
nilai 51 s/d 75
- Buruk
nilai ≤ 50
2. Sikap Kecenderungan Multiple Ratio 20 pertanyaan
atau pandangan Choices menggunakan
responden Questioner Likert Scale :
terhadap aborsi
8 favorable
4 = SS
3 = S
2 = TS
1 = STS

12 unfavorable
1 = SS
2 = S
3 = TS
4 = STS

- Anti aborsi
69

nilai ≥ 61
- Ambivalent
nilai 31 s/d 60
- Pro aborsi
nilai ≤ 30
No. Variabel Definisi Pengukuran Skala Kriteria
3. Perubahan Perubahan Multiple Ordinal Selisih hasil
tingkat tingkat Choices pretest dan
pengetahuan pengetahuan Questioner posttest :
responden
mengenai aborsi - Naik
yang diukur bila pre < post
melalui - Tetap
perbedaan hasil bila pre = post
pretest dan - Turun
posttest bila pre > post
4. Perubahan sikap Perubahan sikap Multiple Ordinal Selisih hasil
responden Choices pretest dan
terhadap aborsi Questioner posttest :
yang diukur
melalui - Berubah (+)
perbedaan hasil bila pre < post
pretest dan - Tetap
posttest bila pre = post
- Berubah (-)
bila pre > post
5. Efektifitas Kemampuan Multiple Dikatakan
pemanfaatan SMS pada Choices efektif bila
SMS pada seluler sebagai Questioner setelah pretest
seluler dalam : media promosi dan posttest
kesehatan, dilakukan :
dalam :

- Peningkatan - Meningkatk Ratio - Terdapat


pengetahua an peningkatan
n pengetahua pengetahuan
n responden responden
mengenai ≥ 10%
aborsi
Ratio - Terdapat
- Perubahan - Merubah perubahan
sikap sikap positif sikap
responden responden
secara ≥ 10%
positif
terhadap
aborsi
6. Tanggapan Segala bentuk Focus - -
terhadap tanggapan, Group
penggunaan kritik, dan Discussion
media seluler masukan yang
70

diberikan oleh
responden
terhadap
penggunaan
seluler sebagai
media promosi
kesehatan
No. Variabel Definisi Pengukuran Skala Kriteria
7. Pendapat dan Segala bentuk Indepth
pandangan pendapat dan Interview
tentang aborsi pandangan yang
dimiliki oleh
responden
terhadap aborsi,
baik positif atau
negatif :

- Pandangan - Pandangan
positif responden
terhadap yang anti
- -
aborsi atau
menolak
tindakan
aborsi
- Pandangan
negatif - Pandangan
terhadap responden
aborsi yang pro
atau
menerima
tindakan
aborsi
8. Program dan Segala bentuk Indepth
media promosi program Interview
kesehatan kesehatan terkait
konvensional aborsi dengan
penggunaan - -
media non
seluler yang
telah sampai
pada responden

4.6. Teknik Pengumpulan Data

4.6.1. Data Kuantitatif


71

Untuk memperoleh data kuantitatif dalam pengukuran tingkat pengetahuan

dan sikap responden terkait masalah aborsi, digunakan instrumen kuesioner

tertutup dengan metode pretest posttest.

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini telah menjalani uji validitas

dan reliabilitas dengan menggunakan 10 orang responden (siswa SMP). Hasil uji

statistik menunjukkan bahwa kuesioner ini telah valid dan reliabel untuk

digunakan sebagai instrumen pengumpulan data penelitian. Hasil lengkap uji

validitas dan reliabilitas eksternal untuk setiap item pertanyaan kuesioner baik

untuk variabel pengetahuan maupun variabel sikap dapat dilihat pada lembar

lampiran 12.

Gambar 4.1. Alpha Cronbach’s untuk Pengetahuan

Nilai Cronbach’s Alpha untuk pengetahuan adalah 0,980 (98,0%), lebih

besar dari nilai koefisien korelasi r table 0,632 (α = 0,05 dan n = 10).

Gambar 4.2. Alpha Cronbach’s untuk Sikap

Nilai Cronbach’s Alpha untuk sikap adalah 0,969 (96,9%), lebih besar dari

nilai koefisien korelasi r table 0,632 (α = 0,05 dan n = 10).

4.6.2. Data Kualitatif


72

Data kualitatif sebagai penunjang penelitian diperoleh dengan menggunakan

instrumen indepth interview dan FGD (Focus Group Discussion).

1. Identifikasi program dan media kesehatan konvensional mengenai aborsi yang

telah sampai pada siswa serta eksplorasi lebih dalam pendapat dan pandangan

siswa mengenai aborsi, digunakan teknik indepth interview terhadap siswa

(informan) baik dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

2. Eksplorasi lebih dalam tanggapan siswa terhadap penggunaan seluler (SMS)

sebagai media promosi kesehatan khususnya dalam penyampaian informasi

aborsi, digunakan teknik FGD (Focus Group Discussion) dengan peserta

berjumlah 6 siswa (informan) yang kesemuanya berasal dari kelompok

eksperimen.

4.7. Teknik Analisis Data

Data kuantitatif dianalisis dengan teknik komparasi dan disajikan dalam

bentuk tabulasi frekuensi untuk nilai mean dan persentase perubahan hasil pretest

posttest. Sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam

bentuk transkrip narasi.

Analisis data kuantitatif dilakukan dengan komparasi nilai mean hasil

pretest dan posttest responden, komparasi nilai mean beda hasil pretest posttest

responden, serta komparasi persentase perubahan hasil pretest posttest responden

baik pada kelompok eksperimen (experiment group) maupun kelompok kontrol

(control group).

Uji komparasi data kuantitatif hasil penelitian, dengan kriteria :

a. Data kuantitatif berdistribusi normal


73

b. Data kuantitatif berskala ratio

1. Komparasi nilai mean hasil pretest dan posttest (2 Independent Samples T

Test)

a. Hasil pretest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

b. Hasil posttest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

Formula Hipotesis Penelitian (α = 0,05)

H0 : tidak ada perbedaan bermakna antara sampel satu dengan yang lain

Jika nilai ρ (probabilitas) > α H0 diterima

Jika nilai ρ (probabilitas) < α H0 ditolak

2. Komparasi nilai mean beda hasil pretest posttest (2 Paired Samples T Test)

a. Beda hasil pretest posttest pada kelompok eksperimen

b. Beda hasil pretest posttest pada kelompok kontrol

Formula Hipotesis Penelitian (α = 0,05)

H0 : tidak ada perbedaan bermakna antara sampel satu dengan yang lain

Jika nilai ρ (probabilitas) > α H0 diterima

Jika nilai ρ (probabilitas) < α H0 ditolak

3. Komparasi persentase perubahan hasil pretest posttest

a. Persentase (%) perubahan nilai hasil pretest posttest kelompok eksperimen

b. Persentase (%) perubahan nilai hasil pretest posttest kelompok kontrol

4.8. Kerangka Operasional

4.8.1. Teknis Intervensi

1. Bentuk dan sifat intervensi SMS yang dimaksud adalah one way SMS
74

2. Total 30 desain pesan SMS berisikan informasi kesehatan mengenai aborsi,

dengan 160 karakter per SMS (fit to one message)

3. Desain pesan SMS dikategorikan menurut jenis informasi :

a. Pesan berisikan pengetahuan mengenai aborsi (22 pesan)

b. Pesan berisikan himbauan terkait masalah aborsi (6 pesan)

c. Pesan berisikan informasi saluran lain yang dapat diakses (2 pesan)

4. Teknis pengiriman pesan SMS :

a. 30 SMS dikirimkan setiap hari selama 30 hari intervensi

b. 2 SMS per hari pada 15 hari pertama dan kemudian diulang lagi 2 SMS per

hari pada 15 hari berikutnya

c. Waktu pengiriman pesan SMS (SMS 1 pukul 13.00 WIB dan SMS 2 pukul

18.00 WIB)

d. Untuk mengetahui apakah SMS telah sampai pada responden atau tidak

dengan memanfaatkan messasge status report, dan dilakukan pengiriman

ulang bila pesan gagal terkirimkan

4.8.2. Validitas Media Intervensi

Media intervensi (pesan SMS) dalam penelitian ini telah di uji coba pada 10

orang responden yang berstatus pelajar SMP dengan menggunakan daftar

pernyataan benar salah, masing-masing pernyataan mewakili tiap item pesan SMS

(30 SMS).

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa instrumen pesan SMS telah valid dan

reliabel untuk digunakan sebagai media intervensi penelitian. Hasil lengkap uji

validitas media intervensi penelitian dapat dilihat pada lembar lampiran 11.
75

Gambar 4.1. Alpha Cronbach’s untuk Media Intervensi


Studi Pendahuluan Pra Eksperimental
Nilai Cronbach’s Alpha yang didapat adalah 0,984 (98,4%), lebih besar dari

nilai koefisien korelasi r tableValiditas


0,632 (αdan Reliabilitas
= 0,05 dan n = 10).

4.8.3. Kerangka Operasional Penelitian


Penetapan Populasi
dan Sampel

Sampel Penelitian Eksperimental

Kelompok Kelompok
Uji Homogenitas
Eksperimen Kontrol

Pretest Pretest

Peneliti berlaku sebagai


provider seluler melakukan
Intervention pengiriman SMS berisikan
pesan kesehatan terkait
masalah aborsi

Posttest Posttest

Analisis Hasil
Pretest Posttest

Indepth Indepth
Interview Interview

Focus Group
Discussion Pasca Eksperimental
76

Bagan 4.3. Kerangka Operasional Penelitian

4.8.4. Pelaksanaan Penelitian

Tabel 4.2. Jadwal Pelaksanaan Penelitian


Waktu Pelaksanaan

Kegiatan Juni 2009 Juli 2009 Keterangan

M3 M4 M1 M2 M3

Pra Eksperimental
dilakukan saat
1. Studi Pendahuluan pembuatan
proposal
2. Penetapan dilakukan saat
Populasi dan pembuatan
Sampel proposal
Eksperimental
pemilihan sampel
untuk kelompok
1. Sample Selection
eksperimen dan
kontrol
dilakukan pada ke
dua kelompok
2. Pretest
(eksperimen dan
kontrol)
dilakukan dengan
memanfaatkan
3. Uji Homogenitas
hasil pretest pada
ke dua kelompok
4. Intervention dilakukan hanya
pada kelompok
77

eksperimen
pengiriman 2
SMS per hari (15
- SMS Tahap 1 hari pertama)
dengan total 30
SMS
pengiriman ulang
2 SMS per hari
- SMS Tahap 2 (15 hari ke dua)
dengan total 30
SMS
dilakukan pada ke
dua kelompok
5. Posttest
(eksperimen dan
kontrol)
analisis hasil
6. Pretest Posttest pretest posttest
Analysis pada ke dua
kelompok
Waktu Pelaksanaan

Kegiatan Juni 2009 Juli 2009 Keterangan

M3 M4 M1 M2 M3

Pasca Eksperimental
dilakukan pada
responden terpilih
1. Indepth Interview dari kelompok
eksperimen dan
kontrol
dilakukan pada 6
2. Focus Group responden terpilih
Discussion dari kelompok
eksperimental
Pelaporan Penelitian
dilaksanakan
setelah penelitian
1. Laporan Final
lapangan selesai
dilakukan
78

BAB 5

HASIL DAN ANALISIS DATA

5.1. Gambaran Umum Penelitian

Penelitian quasi experimental berjudul “Pemanfaatan SMS pada Seluler

sebagai Media Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan dan

Perubahan Sikap Remaja mengenai Aborsi” ini dilaksanakan di dua lokasi, yaitu

SMP Negeri 26 Surabaya dan SMP Negeri 20 Surabaya.

Pada lokasi penelitian pertama, yakni SMPN 26 diambil 30 siswa sebagai

responden kelompok eksperimen. Responden pada kelompok eksperimen ini

mendapatkan perlakuan berupa pemberian informasi kesehatan tentang aborsi

yang didesain dan dikirimkan melalui pemanfaatan media SMS (Short Messaging

Service) pada seluler. Sedangkan pada lokasi penelitian berikutnya, yakni SMPN

20 juga diambil 30 siswa sebagai responden kelompok kontrol. Responden pada


79

kelompok kontrol ini tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti responden

yang berada pada kelompok eksperimen.

Pemberian intervensi berupa pengiriman informasi kesehatan tentang aborsi

melalui SMS ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas SMS pada

seluler yang dimanfaatkan sebagai media promosi kesehatan, akan mampu

mempengaruhi perubahan pengetahuan dan sikap responden terkait masalah

aborsi. Evaluasi efektifitas SMS sebagai media promosi kesehatan dilakukan

melalui pengukuran pengetahuan dan sikap responden pada ke dua kelompok

(experiment dan control) sebelum dan sesudah intervensi dengan menggunakan

metode pretest posttest.

5.1.1. SMP Negeri 26 Surabaya

SMP Negeri 26 merupakan institusi pendidikan menengah pertama yang

berlokasi di Raya Banjarsugihan 21 Kecamatan Tandes Surabaya. SMP yang

mulai beroperasi semenjak tahun 1983 ini merupakan institusi pendidikan negeri

dengan jenjang akreditasi A dan menduduki peringkat ke 9 terbaik tingkat kota

Surabaya untuk perolehan nilai hasil UNAS SMP tahun 2008 dengan rata-rata

nilai 8,21.

Luas lahan total yang dimiliki oleh SMPN 26 Surabaya adalah ± 12.879 m2

dengan bangunan fisik seluas ± 7.411 m2 dan tanah kosong seluas ± 5.468 m2 yang

memiliki potensi untuk pengembangan sekolah ke depan.

Potensi lain yang dimiliki oleh SMPN 26 Surabaya guna mendukung

kegiatan belajar mengajar siswa, antara lain :

1. Hubungan kerja sama yang baik dan harmonis antara pihak sekolah dengan

orang tua wali siswa.


80

2. Komite Sekolah yang mendukung dan responsive terhadap pelaksanaan

program belajar mengajar.

3. Sarana dan prasarana yang cukup untuk menunjang pelaksanaan pendidikan

baik ekstrakurikuler maupun intrakurikuler.

4. Sarana penunjang lain seperti tempat ibadah, koperasi sekolah, fasilitas parkir,

serta ruang terbuka hijau (taman sekolah) yang cukup memadai.

Pada tahun ajaran 2008/2009 ini jumlah staf pengajar yang dimiliki oleh

SMPN 26 Surabaya adalah 76 tenaga pendidik dengan didukung oleh 17 tenaga

administratif, yang membimbing dan melayani total 1.057 siswa (342 siswa kelas

VII, 358 siswa kelas VIII, dan 357 siswa kelas IX).

Tabel 5.1. Distribusi SDM dan Siswa Didik SMP Negeri 26 Surabaya Tahun
Ajaran 2008/2009
Distribusi Tenaga Pendidik
Status Pegawai
Tingkat Pendidikan Jumlah
Tetap Tidak Tetap
S2 5 - 5
Sarjana 58 7 65
D3/Sarmud 2 1 3
PGSMTP/D1/SLTA 3 - 3
Jumlah 68 8 76
Distribusi Tenaga Administrasi
Status Pegawai
Tingkat Pendidikan Jumlah
Tetap Tidak Tetap
Sarjana 1 5 6
D1/SLTA 2 8 10
SLTP - 1 1
SD - 2 2
Jumlah 3 16 19
Distribusi Siswa Didik
Jenis Kelamin
Kelas Jumlah Kelas Jumlah Siswa
L P
VII 9 147 195 342
81

VIII 9 160 198 358


IX 9 144 213 357
Jumlah 451 606 1057
Sumber : Data Sekunder SMPN 26 Surabaya 2009

Sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang dimiliki oleh SMPN 26

Surabaya terbilang lengkap dengan kondisi yang cukup terawat, meliputi

keberadaan ruang belajar utama, ruang tenaga pengajar, dan ruang pendukung lain

guna memenuhi kebutuhan belajar mengajar siswa. Walaupun kondisi fisik sarana

dan prasarana belajar siswa relatif baik namun terdapat beberapa fasilitas yang

kondisinya rusak dan berada dalam masa perbaikan, atau menunggu untuk diganti

dengan fasilitas yang baru.

Tabel 5.2. Kondisi Sarana dan Prasarana Penunjang Kegiatan Belajar


Mengajar Siswa SMP Negeri 26 Surabaya
Kondisi
No. Fasilitas Jumlah Rusak Rusak
Baik
Ringan Berat
1. Ruang Kelas 27 20 5 2
2. Laboratorium IPA 1 1 - -
3. Laboratorium IPS 1 1 - -
4. Laboratorium Bahasa 1 1 - -
5. Laboratorium Komputer 2 1 1 -
6. Ruang Perpustakaan 1 1 - -
7. Ruang Seni dan Ketrampilan 1 1 - -
8. Ruang Serba Guna 1 1 - -
9. Ruang UKS 1 1 - -
10. Ruang Praktek Kerja 1 1 - -
11. Ruang BP/BK 1 1 - -
12. Ruang Kepala Sekolah 1 1 - -
13. Ruang Guru 2 2 - -
14. Ruang TU 1 1 - -
15. Ruang Tamu 1 1 - -
16. Ruang OSIS 1 1 - -
17. Koperasi 1 1 - -
18. WC Guru 2 2 - -
82

19. WC Siswa 5 5 - -
20. Gudang 3 2 - 1
21. Ruang Ibadah 1 1 - -
22. Pos dan Rumah Penjaga Sekolah 1 1 - -
23. Lapangan Olahraga 1 1 - -
24. Kantin Pujasera 4 3 1 -
25. Lahan Parkir 2 2 - -
Jumlah Fasilitas Ruang 64 54 7 3
Sumber : Data Sekunder SMPN 26 Surabaya 2009

5.1.2. SMP Negeri 20 Surabaya

SMP Negeri 20 adalah institusi pendidikan menengah pertama yang berdiri

pada tahun 1982. SMP yang beralamat di Dukuh Kapasan I Kecamatan

Sambikerep Surabaya ini memiliki jenjang akreditasi B. Walaupun prestasinya

tidak sebaik SMPN 26 Surabaya, namun SMPN 20 juga memiliki nilai hasil

UNAS dalam kategori yang cukup baik, dengan rata-rata nilai 7,54 pada tahun

2008.

Institusi pendidikan negeri ini berdiri pada lahan seluas ± 9.139 m 2 dengan

luas bangunan fisik ± 6.709 m2 dan pemilikan tanah kosong seluas ± 2.430 m2

yang direncanakan untuk pembangunan kelas dan fasilitas gedung serba guna

pada awal 2010 nanti.

Jumlah SDM yang dimiliki oleh SMPN 20 Surabaya adalah 68 tenaga

pendidik yang didukung oleh 11 tenaga administratif, dengan total 809 siswa (263

siswa kelas VII, 278 siswa kelas VIII, dan 268 siswa kelas IX) pada tahun ajaran

2008/2009.

Tabel 5.3. Distribusi SDM dan Siswa Didik SMP Negeri 20 Surabaya Tahun
Ajaran 2008/2009
Distribusi Tenaga Pendidik
Status Kepegawaian
Tingkat Pendidikan Jumlah
Tetap Tidak Tetap
83

S2 4 - 4
Sarjana 51 9 60
D3/Sarmud 2 - 2
D2 1 - 1
PGSMTP/D1/SLTA 1 - 1
Jumlah 59 9 68
Distribusi Tenaga Administrasi
Status Kepegawaian
Tingkat Pendidikan Jumlah
Tetap Tidak Tetap
Sarjana 1 2 3
D3/Sarmud - 1 1
D1/SLTA 3 2 5
SLTP 1 1 2
Jumlah 5 6 11

Distribusi Siswa Didik


Jenis Kelamin
Kelas Jumlah Kelas Jumlah Siswa
L P
VII 7 136 127 263
VIII 7 130 148 278
IX 7 139 129 268
Jumlah 405 404 809
Sumber : Data Sekunder SMPN 20 Surabaya 2009

Keadaan fasilitas penunjang pendidikan yang dimiliki SMPN 20 Surabaya

tidak selengkap dan sebaik fasilitas yang dimiliki SMPN 26. Fasilitas gedung

serba guna misalnya, sampai saat ini SMPN 20 masih belum memilikinya dan

baru pada tahap perencanaan untuk pembangunan. Keberadaan dan kondisi fisik

sarana dan prasarana penunjang pendidikan yang dimiliki oleh SMPN 20 dapat

dilihat melalui tabel berikut ini.

Tabel 5.4. Kondisi Sarana dan Prasarana Penunjang Kegiatan Belajar


Mengajar Siswa SMP Negeri 20 Surabaya
Kondisi
No. Fasilitas Jumlah Rusak Rusak
Baik
Ringan Berat
84

1. Ruang Kelas 21 12 7 2
2. Laboratorium IPA 1 1 - -
3. Laboratorium Bahasa 1 1 - -
4. Laboratorium Komputer 1 1 - -
5. Ruang Perpustakaan 1 1 - -
6. Ruang Seni dan Ketrampilan 1 1 - -
7. Ruang UKS 1 1 - -
8. Ruang BP/BK 1 1 - -
9. Ruang Kepala Sekolah 1 1 - -
10. Ruang Guru 1 1 - -
11. Ruang TU 1 1 - -
12. Ruang OSIS 1 - 1 -
13. Hall Looby 1 1 - -
14. Koperasi 1 1 - -
15. WC Siswa 5 3 1 1
Kondisi
No. Fasilitas Jumlah Rusak Rusak
Baik
Ringan Berat
16. WC Guru 1 1 - -
17. Gudang 1 1 - -
18. Ruang Ibadah 1 1 - -
19. Pos dan Rumah Penjaga Sekolah 1 1 - -
20. Lapangan Olahraga 1 1 - -
21. Kantin Pujasera 3 3 - -
22. Lahan Parkir 1 1 - -
Jumlah Fasilitas Ruang 48 36 9 3
Sumber : Data Sekunder SMPN 20 Surabaya 2009

Terdapat fakta bahwa secara kuantitas dan kualitas, fasilitas penunjang

kegiatan belajar mengajar yang dimiliki SMPN 20 Surabaya tidak sebaik dan

selengkap fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar yang ada di SMPN 26

Surabaya. Begitu juga dengan jumlah tenaga pendidik maupun non pendidik, di

mana SMPN 26 memiliki 8 orang staf pengajar 8 dan staf administrasi lebih

banyak dari tenaga yang dimiliki oleh SMPN 20. Tentu saja hal ini juga

berpengaruh terhadap jumlah peserta didik di masing-masing sekolah. SMPN 26


85

memiliki 248 siswa lebih banyak dari siswa yang ada di SMPN 20. Namun dalam

hal kelulusan ke dua SMPN ini memiliki angka yang sama, yaitu 100 % kelulusan

siswa pada tahun ajaran 2007/2008.

5.1.3. Identifikasi Responden

Responden yang digunakan dalam penelitian ini baik kelompok eksperimen

maupun kelompok kontrol merupakan siswa kelas VIII SMP yang rata-rata berada

pada usia 13-14 tahun (96,7%). Distribusi responden berdasarkan tempat tinggal

baik pada SMPN 26 maupun SMPN 20 Surabaya, sebagian besar berada di

Kecamatan Tandes (63,3%) yang merupakan wilayah Surabaya bagian barat.

Untuk responden kelompok eksperimen (SMPN 26) terdiri dari 12 siswa

laki-laki dan 18 siswa perempuan, diambil secara random dari 284 siswa (79,3%)

yang mengaku memiliki handphone secara pribadi dari total 358 siswa kelas VIII

SMPN 26. Sedangkan untuk responden kelompok kontrol (SMPN 20) walaupun

tidak mendapatkan intervensi pengiriman SMS, namun tetap diambil secara

random dari 215 siswa (77,4%) yang mengaku menggunakan handphone dalam

kesehariannya dari total 278 siswa kelas VIII SMPN 20, responden kelompok ini

terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.

Tabel 5.5. Distribusi Usia, Sex, dan Domisili Responden


Usia Domisili Sex
Responden
13 14 15 Tandes Sambikerep Lainnya L P
SMPN 26 14 15 1 20 2 8 12 18
SMPN 20 12 17 1 18 7 5 15 15
Jumlah 26 32 2 38 9 13 27 33
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009

Untuk mengetahui tingkat homogenitas variabel pengetahuan dan variabel

sikap antara responden pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol


86

sebelum perlakuan, dilakukan uji homogenitas menggunakan 2 Independent

Samples T Test dengan tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05).

Gambar 5.1. Hasil Uji Homogenitas Responden

Nilai ρ (probabilitas) untuk variabel pengetahuan adalah 0,607 > α (0,05)

dan nilai ρ (probabilitas) untuk variabel sikap adalah 0,234 > α (0,05).

Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna

untuk variabel pengetahuan dan sikap responden pada ke dua kelompok sebelum

intervensi dilakukan, atau dapat diartikan responden ke dua kelompok bersifat

homogen. Melalui hasil uji normalitas, diketahui data (pengetahuan dan sikap)

responden pada ke dua kelompok berdistribusi normal. Hasil uji homogenitas dan

normalitas responden dapat dilihat pada lembar lampiran 13 dan 14.

5.2. Analisis Data Kuantitatif

5.2.1. Variabel

Pengetahuan

Dari data penelitian diketahui bahwa hasil pretest sebelum perlakuan antara

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk variabel pengetahuan tidak


87

menunjukkan perbedaan yang berarti. Nilai mean hasil pretest antara ke dua

kelompok relatif setara, yaitu 54,9 (experiment) dan 53,7 (control) dengan selisih

1,2 point. Berdasarkan nilai rata-rata hasil pretest ini maka tingkat pengetahuan

tentang aborsi pada ke dua kelompok dikategorikan “cukup” (51-75).

Tabel 5.6. Hasil Pretest Variabel Pengetahuan


Nilai
Kelompok
Total Mean Maximun Minimum
Eksperimen 1648 54,9 72 40
Kontrol 1612 53,7 72 36
Selisih Nilai 36 1,2 0 4
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009

Hasil pretest variabel pengetahuan sebelum intervensi antara kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol di uji menggunakan 2 Independent Samples T

Test dengan tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05). Dari uji statistik ini didapatkan

nilai ρ (probabilitas) sebesar 0,607.

Gambar 5.2. Hasil Uji Beda Pretest Variabel Pengetahuan

Nilai ρ (0,607) > α (0,05), maka H0 diterima. Artinya tidak ada perbedaan

bermakna antara pengetahuan responden pada ke dua kelompok (experiment dan

control) sebelum dilakukan intervensi.


88

Distribusi hasil pretest untuk variabel pengetahuan antara responden

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada grafik berikut.

Bagan 5.1. Distribusi Hasil Pretest Variabel Pengetahuan


Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Sementara untuk hasil posttest variabel pengetahuan antara kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol setelah perlakuan menunjukkan perbedaan

yang cukup berarti. Nilai rata-rata (mean) yang diperoleh berdasarkan hasil

posttest antara ke dua kelompok relatif berbeda, yaitu 76,3 untuk experiment

group dan 55,3 untuk control group. Selisih nilai rata-rata antara ke dua kelompok

juga cukup tinggi mencapai 21,0 point.

Dari hasil posttest ini dapat dikatakan bahwa tingkat pengetahuan mengenai

aborsi untuk responden pada kelompok eksperimen berada pada kategori “baik”
89

(≥76), sementara untuk tingkat pengetahuan responden pada kelompok kontrol

berada pada kategori “cukup” (51-75).

Tabel 5.7. Hasil Posttest Variabel Pengetahuan


Nilai
Kelompok
Total Mean Maximun Minimum
Eksperimen 2288 76,3 92 44
Kontrol 1660 55,3 68 32
Selisih Nilai 628 21,0 24 12
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009

Melalui uji statistik menggunakan 2 Independent Samples T Test untuk

mengetahui perbedaan pengetahuan (posttest) antara responden kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol setelah dilakukan intervensi, didapatkan nilai ρ

(probabilitas) sebesar 0,000 dengan tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05).

Gambar 5.3. Hasil Uji Beda Posttest Variabel Pengetahuan

Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa nilai ρ (0,000) < α (0,05),

maka H0 ditolak. Ini berarti terdapat perbedaan yang cukup bermakna antara

pengetahuan responden kelompok eksperimen dengan pengetahuan responden

kelompok kontrol setelah dilakukan intervensi.


90

Berikut ini adalah data hasil posttest untuk variabel pengetahuan responden

pada ke dua kelompok penelitian.

Bagan 5.2. Distribusi Hasil Posttest Variabel Pengetahuan


Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Grafik di atas menunjukkan perbedaan yang cukup tinggi untuk perolehan

nilai posttest yang didapatkan oleh responden pada kelompok eksperimen (dengan

perlakuan) dan nilai posttest yang didapatkan oleh reponden pada kelompok

kontrol (tanpa perlakuan).

5.2.2. Variabel Sikap

Pada variabel sikap sebelum intervensi, ke dua kelompok masih

dikategorikan memiliki sikap yang “ambivalent” atau “tidak menentu” (31-60)

terhadap aborsi. Nilai mean hasil pretest pada kelompok eksperimen adalah 60,8
91

sementara nilai mean untuk kelompok kontrol adalah 58,3. Selisih nilai mean

antara ke dua kelompok sebesar 2,5 point.

Tabel 5.8. Hasil Pretest Variabel Sikap


Nilai
Kelompok
Total Mean Maximun Minimum
Eksperimen 1825 60,8 73 45
Kontrol 1748 58,3 69 29
Selisih Nilai 77 2,5 4 16
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009

Dengan melakukan uji beda menggunakan 2 Independent Samples T Test

pada tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05), didapatkan nilai ρ (probabilitas) untuk

variabel sikap sebelum intervensi antara kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol sebesar 0,234.

Gambar 5.4. Hasil

Uji Beda Pretest

Variabel Sikap

Hasil uji

statistik di atas menunjukkan bahwa nilai ρ (0,234) > α (0,05), maka H0 diterima.

Yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara sikap reponden

pada ke dua kelompok (experiment dan control) sebelum intervensi diberikan.


92

Grafik distribusi hasil pretest untuk variabel sikap sebelum perlakuan antara

responden kelompok eksperimen dan responden kelompok kontrol adalah sebagai

berikut.

Bagan 5.3. Distribusi Hasil Pretest Variabel Sikap


Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Sementara untuk hasil pengukuran varibel sikap pada kelompok eksperimen

dan kelompok kontrol setelah dilakukan intervensi (posttest), didapatkan nilai

mean yang cukup berbeda. Nilai rata-rata hasil posttest yang diperoleh kelompok

eksperimen adalah 64,8 sedangkan nilai rata-rata hasil posttest yang diperoleh

kelompok kontrol adalah 57,2. Selisih nilai rata-rata antara ke dua kelompok ini

mencapai 7,6 point.


93

Perbedaan yang cukup besar untuk nilai mean hasil posttest variabel sikap

antara kelompok eksperimen (64,8) dan kelompok kontrol (57,2) menjadikan

responden pada kelompok eksperimen dapat dikategorikan memiliki sikap “anti

aborsi” (≥61), sedangkan untuk responden pada kelompok kontrol masih

dikategorikan bersikap “ambivalent” atau memiliki sikap yang masih “tidak

menentu” terhadap aborsi (31-60).

Tabel 5.9. Hasil Posttest Variabel Sikap


Nilai
Kelompok
Total Mean Maximun Minimum
Eksperimen 1944 64,8 76 40
Kontrol 1715 57,2 73 26
Selisih Nilai 229 7,6 3 14
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009

Perbedaan hasil mean variabel sikap kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol setelah diberikan intervensi (posttest) ini diperkuat dengan uji statistik

menggunakan 2 Independent Samples T Test, dan didapatkan nilai ρ (probabilitas)

sebesar 0,003 pada tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05).

Gambar 5.5. Hasil Uji Beda Posttest Variabel Sikap

Dari hasil uji statistik didapatkan nilai ρ (0,003) < α (0,05), maka H0 ditolak.

Artinya terdapat perbedaan yang cukup bermakna antara sikap responden pada

kelompok eksperimen dengan sikap responden pada kelompok kontrol setelah

intervensi diberikan.
94

Grafik berikut merupakan data hasil posttest untuk variabel sikap responden

pada ke dua kelompok penelitian (eksperimen dan kontrol).

Bagan 5.4. Distribusi Hasil Posttest Variabel Sikap


Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Perbedaan yang cukup bermakna dapat terlihat pada perolehan hasil posttest

variabel sikap antara responden kelompok eksperimen dan responden kelompok

kontrol.

5.2.3. Komparasi Pretest Posttest Kelompok Eksperimen

Perbandingan hasil mean variabel pengetahuan pada kelompok eksperimen

sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi menunjukkan perubahan yang

cukup berarti. Nilai rata-rata hasil pretest (sebelum intervensi) untuk variabel

pengetahuan adalah 54,9 dan nilai ini naik 21,4 point menjadi 76,3 pada saat
95

posttest (setelah intervensi). Berdasarkan hasil tersebut tingkat pengetahuan

mengenai aborsi untuk responden kelompok eksperimen sebelum diberikan

intervensi berada pada kategori “cukup” (51-75), dan berubah menjadi kategori

“baik” (≥76) setelah diberikan intervensi.

Tabel 5.10. Hasil Pretest Posttest Variabel Pengetahuan Experiment Group


Kelompok Eksperimen
Pengetahuan
Total Mean Maximun Minimum
Pretest 1648 54,9 72 40
Posttest 2288 76,3 92 44
Selisih Nilai 640 21,4 20 4
Sumber : Data Primer SMPN 26 Surabaya 2009

Uji beda hasil pretest posttest variabel pengetahuan sebelum dan sesudah

perlakuan pada kelompok eksperimen dilakukan menggunakan 2 Paired Samples

T Test dengan tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05). Dari uji statistik ini didapatkan

nilai ρ (probabilitas) sebesar 0,000.

Gambar 5.6. Hasil Uji Beda Pretest Posttest


Variabel Pengetahuan Kelompok Eksperimen

Untuk nilai ρ (0,000) < α (0,05), maka H0 ditolak. Artinya terdapat

perbedaan yang cukup bermakna untuk pengetahuan responden kelompok

eksperimen antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi.

Distribusi hasil pretest posttest variabel pengetahuan pada kelompok

eksperimen sebelum dan sesudah perlakuan dapat dilihat pada grafik berikut.
96

Bagan 5.5. Distribusi Hasil Pretest Posttest


Variabel Pengetahuan Kelompok Eksperimen

Namun untuk nilai mean hasil pretest posttest variabel sikap pada kelompok

eksperimen sebelum dan sesudah diberikan perlakuan, tidak didapatkan perbedaan

yang cukup mencolok. Nilai mean hasil pretest posttest variabel sikap pada

kelompok ini hanya memiliki perbedaan 4,0 point, di mana rata-rata nilai pretest

adalah 60,8 sedangkan rata-rata nilai posttest adalah 64,8.

Walaupun nilai mean hasil pretest posttest untuk variabel sikap pada

responden kelompok eksperimen tidak berbeda jauh, namun hasil tersebut telah

cukup untuk merubah kategorisasi sikap responden pada kelompok eksperimen

dari kategori bersikap “ambivalent” atau “tidak menentu” (31-60) terhadap aborsi
97

sebelum dilakukan intervensi, menjadi bersikap “anti aborsi” (≥61) setelah

dilakukan intervensi.

Tabel 5.11. Hasil Pretest Posttest Variabel Sikap Experiment Group


Kelompok Eksperimen
Sikap
Total Mean Maximun Minimum
Pretest 1825 60,8 73 45
Posttest 1944 64,8 76 40
Selisih Nilai 119 4,0 3 5
Sumber : Data Primer SMPN 26 Surabaya 2009

Melalui uji statistik dengan menggunakan 2 Paired Samples T Test pada

tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05) untuk mengetahui perbedaan hasil pretest

posttest variabel sikap sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok

eksperimen, didapatkan nilai ρ (probabilitas) sebesar 0,001.

Gambar 5.7. Hasil Uji Beda Pretest Posttest


Variabel Sikap Kelompok Eksperimen

Melalui hasil uji statistik di atas diketahui bahwa nilai ρ (0,001) < α (0,05),

maka H0 ditolak. Artinya terdapat perbedaan yang bermakna untuk sikap

responden pada kelompok eksperimen antara sebelum dan sesudah intervensi

diberikan.

Hasil lengkap distribusi hasil pretest posttest untuk variabel sikap sebelum

dan sesudah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen dapat dilihat melalui

grafik berikut ini.


98

Bagan 5.6. Distribusi Hasil Pretest Posttest


Variabel Sikap Kelompok Eksperimen

Melalui grafik di atas dapat dilihat perbedaan hasil pretest posttest untuk

variabel sikap pada responden kelompok eksperimen sebelum dan sesudah

diberikan perlakuan.

5.2.4. Komparasi Pretest Posttest Kelompok Kontrol

Responden pada kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan seperti

halnya yang didapatkan oleh responden pada kelompok eksperimen. Perubahan

nilai mean hasil prertest posttest (tanpa intervensi) variabel pengetahuan pada

kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Nilai rata-rata hasil

pretest yang diperoleh untuk variabel pengetahuan adalah 53,7 dan berubah

menjadi 55,3 pada saat posttest, dengan selisih perbedaan 1,6 point.
99

Berdasarkan hasil (mean) tersebut maka dapat dikatakan bahwa tingkat

pengetahuan mengenai aborsi untuk responden kelompok kontrol baik itu pada

saat pretest maupun posttest tanpa diberikan perlakuan, berada pada kategori

“cukup” (51-75).

Tabel 5.12. Hasil Pretest Posttest Variabel Pengetahuan Control Group


Kelompok Kontrol
Pengetahuan
Total Mean Maximun Minimum
Pretest 1612 53,7 72 36
Posttest 1660 55,3 68 32
Selisih Nilai 48 1,6 4 4
Sumber : Data Primer SMPN 20 Surabaya 2009

Rendahnya tingkat perbedaan nilai rata-rata hasil pretest posttest (tanpa

perlakuan) untuk variabel pengetahuan pada responden kelompok kontrol ini

diperkuat dengan hasil uji beda statistik menggunakan 2 Paired Samples T Test,

yang mendapatkan nilai ρ (probabilitas) sebesar 0,142 pada tingkat kemaknaan

5% (α = 0,05).

Gambar 5.8. Hasil Uji Beda Pretest Posttest


Variabel Pengetahuan Kelompok Kontrol

Melalui hasil uji statistik didapatkan nilai ρ (0,142) > α (0,05), maka H0

diterima. Dapat diartikan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna untuk

pengetahuan responden kelompok kontrol baik pada saat pretest maupun posttest

tanpa adanya intervensi.


100

Berikut ini adalah distribusi hasil pretest posttest variabel pengetahuan pada

responden kelompok kontrol (tanpa perlakuan).

Bagan 5.7. Distribusi Hasil Pretest Posttest


Variabel Pengetahuan Kelompok Kontrol

Sementara untuk nilai mean hasil pretest posttest variabel sikap pada

kelompok kontrol (tanpa intervensi), juga tidak memiliki perbedaan yang cukup

berarti. Bahkan terdapat penurunan hasil pretest posttest untuk variabel sikap pada

kelompok ini, di mana rata-rata nilai pretest adalah 58,3 dan turun menjadi 57,2

pada saat posttest, dengan selisih perbedaan 1,1 point.

Berdasarkan nilai rata-rata hasil pretest posttest variabel sikap untuk

responden kelompok kontrol yang diukur tanpa diberikan intervensi, maka


101

kelompok ini dapat dikategorikan masih memiliki sikap yang “ambivalent” atau

“tidak menentu” (31-60) terhadap aborsi.

Tabel 5.13. Hasil Pretest Posttest Variabel Sikap Control Group


Kelompok Kontrol
Sikap
Total Mean Maximun Minimum
Pretest 1748 58,3 69 29
Posttest 1715 57,2 73 26
Selisih Nilai 33 1,1 4 3
Sumber : Data Primer SMPN 20 Surabaya 2009

Perbedaan hasil pretest posttest (tanpa perlakuan) variabel sikap untuk

responden kelompok kontrol di uji dengan menggunakan 2 Paired Samples T Test

pada tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05), dan didapatkan nilai ρ (probabilitas)

sebesar 0,131.

Gambar 5.9. Hasil Uji Beda Pretest Posttest


Variabel Sikap Kelompok Kontrol

Dari hasil uji statistik didapatkan nilai ρ (0,131) > α (0,05), maka H0

diterima. Artinya tidak ada perbedaan yang bermakna untuk sikap responden

kelompok kontrol baik pada saat pretest maupun posttest tanpa diberikan

intervensi.

Data distribusi nilai mean hasil pretest posttest (tanpa perlakuan) untuk

variabel sikap pada responden kelompok kontrol dapat dilihat melalui grafik

berikut ini.
102

Bagan 5.8. Distribusi Hasil Pretest Posttest


Variabel Sikap Kelompok Kontrol

Grafik di atas menunjukkan adanya penurunan rata-rata hasil pretest

posttest untuk variabel sikap pada responden kelompok kontrol (tanpa intervensi).

5.2.5. Efektifitas Media SMS

Pengukuran efektifitas SMS sebagai media promosi kesehatan terkait

masalah aborsi ditinjau melalui dua aspek, yaitu pengetahuan dan sikap yang

diukur menggunakan metode pretest posttest terhadap kelompok penelitian yang

mendapatkan perlakuan (intervensi SMS). Dalam hal ini adalah kelompok

eksperimen (experiment group).


103

Indikator efektifitas media SMS dapat dilihat melalui persentase perubahan

(kenaikan) nilai mean hasil pretest posttest pada kelompok yang mendapatkan

intervensi (experiment group). Dikatakan efektif bila persentase kenaikan antara

hasil pretest (sebelum intervensi) dan posttest (setelah intervensi) untuk variabel

pengetahuan atau variabel sikap mencapai 10%.

100
Nilai Mean Hasil Pretest Posttest

80

60
64,8

60,8

76,3

54,9

53,7

55,3

58,3

57,2
40

20

Ai A Ki K K Ki A Ai
Experiment Group Control Group
A : Hasil Pretest Variabel Sikap
Ai : Hasil Posttest Variabel Sikap
K : Hasil Pretest Variabel Pengetahuan
Ki : Hasil Posttest Variabel Pengetahuan

Bagan 5.9. Distribusi Nilai Mean Hasil Pretest Posttest


Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Perbedaan nilai mean dan persentase perubahan hasil pretest posttest untuk

variabel pengetahuan dan variabel sikap pada responden kelompok eksperimen

(dengan intervensi) maupun responden kelompok kontrol (tanpa intervensi) dapat

dilihat melalui tabel berikut.

Tabel 5.14. Persentase Perubahan Hasil Pretest Posttest pada Responden


Kelompok Penelitian
104

Experiment Group
Nilai Mean Persen
Variabel Intervensi Indikator Efektif
Pre Post Selisih (%)
Knowledge 54,9 76,3 21,4 up 38,9 ada ≥ 10% ya
Attitude 60,8 64,8 4,0 up 6,6 ada ≤ 10% tidak
Control Group
Nilai Mean Persen
Variabel Intervensi Indikator Efektif
Pre Post Selisih (%)
Knowledge 53,7 55,3 1,6 up 2,9 tidak - -
Attitude 58,3 57,2 1,1 down 1,9 tidak - -
Sumber : Data Primer SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya 2009

Terjadi peningkatan nilai mean hasil pretest posttest untuk variabel

pengetahuan dan variabel sikap pada kelompok eksperimen, dengan persentase

perubahan 38,9% untuk pengetahuan dan 6,6% untuk sikap. Sedangkan pada

kelompok kontrol peningkatan nilai mean hasil pretest posttest hanya terdapat

pada variabel pengetahuan dengan persentase perubahan 1,6%, dan untuk variabel

sikap justru terjadi penurunan nilai mean dengan persentase perubahan 1,1%.

Dari persentase perubahan nilai mean hasil pretest posttest untuk variabel

pengetahuan dan variabel sikap pada kelompok penelitian dengan intervensi

(experiment group), didapatkan jawaban terhadap dua hipotesis penelitian.

3. Hipotesis Satu

Pemanfaatan SMS pada seluler sebagai media promosi kesehatan mampu

secara efektif meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa SMPN 26

Surabaya terkait masalah aborsi.

Peningkatan persentase nilai mean hasil pretest posttest untuk pengetahuan

sebesar 38,9% > 10%, hipotesis satu diterima. Artinya pemanfaatan SMS

sebagai media promosi kesehatan terbukti efektif dalam mempengaruhi

peningkatan pengetahuan (aborsi) siswa SMPN 26 Surabaya.


105

4. Hipotesis Dua

Pemanfaatan SMS pada seluler sebagai media promosi kesehatan mampu

secara efektif mempengaruhi perubahan sikap secara positif (tidak mendukung)

bagi siswa SMPN 26 Surabaya terkait masalah aborsi.

Peningkatan persentase nilai mean hasil pretest posttest untuk sikap sebesar

6,6% < 10%, hipotesis dua ditolak. Artinya pemanfaatan SMS sebagai media

promosi kesehatan terbukti kurang efektif dalam mempengaruhi perubahan

sikap (aborsi) siswa SMPN 26 Surabaya.

5.3. Analisis Data Kualitatif

Data kualitatif penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen indepth

interview dan FGD (Focus Group Discussion), yang dilaksanakan pada siswa

(informan) SMPN 26 dan SMPN 20 Surabaya setelah intervensi dilakukan.

Untuk mengetahui pandangan siswa mengenai hal-hal yang terkait dengan

aborsi, serta identifikasi program dan penggunaan media promosi kesehatan

mengenai aborsi yang telah sampai pada siswa, digunakan instrumen indepth

interview (SMPN 26 dan SMPN 20). Sedangkan untuk eksplorasi lebih dalam

mengenai tanggapan siswa terhadap pemanfaatan SMS pada teknologi seluler

sebagai media promosi kesehatan khususnya masalah aborsi, digunakan instrumen

FGD (SMPN 26).

5.3.1. Paparan Informasi dan Pandangan tentang Aborsi

Melalui kegiatan indepth interview terhadap empat informan yang

merupakan siswa kelas VIII SMP Negeri 26 (dua informan) dan SMP Negeri 20
106

(dua informan) Surabaya, didapatkan beberapa fakta menarik terkait pandangan

siswa tentang aborsi.

Umumnya pemahaman informan yang rata-rata berusia 13 hingga 14 tahun

ini mengenai aborsi hanya pada batas pengguguran bayi dalam kandungan. Alasan

yang paling sering diungkapkan oleh mereka dalam kasus-kasus yang mendasari

terjadinya aborsi adalah ketidaksiapan pelaku untuk memiliki anak karena hamil

pada usia sekolah, selain itu dikatakan bahwa korban pemerkosaan dan jumlah

anak yang terlalu banyak juga mendasari dilakukannya aborsi. Kelompok remaja

sekolah menengah dan mahasiswa dituding menjadi kelompok paling rawan dan

sering melakukan aborsi.

“...aborsi itu ya menggugurkan bayi saat kehamilan..., yang paling


sering nglakuin biasanya anak SMA ato kuliah, mungkin pacarannya
keterterlaluan kali ya...” (Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...tidak mau punya anak saat masih sekolah..., juga bisa karena
diperkosa...” (Informan 2 SMPN 26 Surabaya).

Metode aborsi yang banyak diketahui oleh informan adalah pemijatan oleh

dukun beranak atau juga melalui praktek ilegal oleh dokter. Sementara untuk

dampak aborsi sendiri, semua informan mengetahui bahwa aborsi memiliki

pengaruh negatif terhadap kesehatan si pelaku, namun hanya beberapa dari

mereka yang mengungkapkan secara spesifik bagaimana dampak aborsi bagi

kesehatan. Sedangkan untuk dampak diluar kesehatan, semua informan

sependapat bahwa tindakan aborsi memiliki konsekwensi secara etis dalam sudut

pandang sosial serta konsekwensi secara vetikal (dosa) dalam sudut pandang

keyakinan spiritual atau agama.


107

“...bukannya kebanyakan mereka itu melakukan di dukun bayi atau


dokter..., biasanya perutnya dipijit-pijit sampe mengeluarkan
darah...” (Informan 4, SMPN 20 Surabaya).

“...aborsi itu bisa berbahaya untuk kesehatan karena dapat


meyebabkan pendarahan pada rahim dan juga stress...” (Informan 2,
SMPN 26 Surabaya).

“...orang yang nglakuin aborsi pasti bakalan dikucilkan masyarakat,


kayak jadi rasan-rasan tetangganya gitu..., ya soalnya sama kayak
pembunuh, yang pasti nglakuin aborsi itu dosa besar..., dan bisa
dihukum...” (Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

Sikap informan terhadap aborsi sendiri cenderung menolak karena berbagai

alasan moral, namun terdapat juga informan yang menyatakan bahwa aborsi bisa

dilakukan karena alasan medis tertentu.

“...tidak setuju..., salah sendiri mau melakukan tapi tidak mau


bertanggung jawab...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...tapi ada juga yang diperbolehkan, karena sakit tidak bisa


melahirkan...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

Bahkan juga terdapat informan yang memberikan pertimbangan ke depan

terhadap resiko bayi yang dilahirkan oleh orang tua yang tidak memiliki kesiapan

secara moral maupun material, atau bayi yang dilahirkan oleh keluarga yang telah

memiliki banyak anak.

“...ga setuju..., tapi kayaknya ada juga yang boleh, jadi ya bisa boleh
bisa enggak...” (Informan 4, SMPN 20 Surabaya).

“...ya kalo orangnya masih kecil..., terus kalo orangnya sudah punya
banyak anak..., terus daripada entar anaknya terlantar gimana, kan
ibunya masih kecil...” (Informan 4, SMPN 20 Surabaya).
Walaupun dalam tingkatan tertentu informan telah memahami apa itu aborsi,

namun untuk kejadian aborsi sendiri informan mengaku belum pernah


108

menjumpainya secara langsung, terlebih lagi untuk mengetahui tempat praktek

dilakukannya aborsi.

“...ga pernah tahu kalo di kehidupan nyata..., kalo yang hamil tapi ga
nikah sih pernah tahu, tapi kalo aborsi belum pernah...” (Informan 4,
SMPN 20 Surabaya).

“...kalo tempatnya ya saya mana tahu kak..., baru tahu kalo sudah
dipraktekkan....” (Informan 4, SMPN 20 Surabaya).

Media informasi publik seperti televisi dan koran justru menjadi saluran

utama dalam mendapatkan informasi mengenai aborsi. Namun informasi ini tidak

dikemas dalam kerangka edukatif, karena hanya sebatas pada liputan berita

kriminal seputar kejadian aborsi, atau juga didesain sebagai media hiburan

melalui sinetron. Selain memberi pemahaman awal mengenai aborsi, ternyata

peran media di atas juga mampu menyentuh sisi sensitifitas emosional informan.

“...iya uda tau..., sebelom terima SMS nya mas juga uda pernah tau
tentang aborsi..., taunya dari teve, dari majalah juga ada..., tapi
emang kebanyakan tau aborsi dari teve...” (Informan 1, SMPN 26
Surabaya).

“...di televisi saya tahunya dari sinetron, kalo di koran ya berita


aborsi itu...., kalo di sinetron sih bagus ada ceritanya, tapi kalo di
koran ya kasian bayinya...” (Informan 4, SMPN 20 Surabaya).

“...tidak menarik..., kadang sungkan juga sama orang-orang rumah


kalau lagi lihat televisi bareng-bareng...” (Informan 2, SMPN 26
Surabaya).

Televisi dan koran menjadi sumber informasi utama tentang aborsi, karena

hanya dari media inilah mereka banyak mendapatkan informasi. Aborsi sendiri

merupakan hal masih dianggap tabu oleh informan sehingga informasi tersebut

tidak pernah ditanyakan langsung kepada orang yang lebih dewasa, terutama

orang tua atau guru di sekolah. Aborsi sering hanya menjadi pembicaraan ringan
109

antar teman sebaya, terlebih bila terdapat momentum yang memicu terjadinya

pembicaraan.

“...ya sama temen-temen itu ngomongnya, sama temen rumah yang


seumuran..., kalo orang dewasa se ga pernah, ya malu aja...”
(Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...yang diomongin ya kok tega ada orang yang nglakuin hal kayak
gitu..., ga tau tiba-tiba aja ngomongin masalah itu, biasanya se abis
liat teve ato kalo ada orang yang ketauan hamil tapi belum kawin...”
(Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...gak pernah..., gak pa pa yo takut ae mas..., yo cumak omong-


omongan ae, pas ada yang pacaran sama anak SMA...” (Informan 3,
SMPN 20 Surabaya).

Tidak semua informan memiliki keinginan dan berusaha untuk mencari

informasi aborsi secara mandiri. Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka merasa

bahwa informasi aborsi tidak terlalu relevan dengan kebutuhannya. Selain itu

kendala rasa malu dalam mengkomunikasikan aborsi pada orang yang dianggap

lebih tahu (orang tua dan guru) juga menjadi alasan mengapa selama ini informan

tidak berusaha mencari tahu lebih banyak tentang aborsi.

“...kadang aku pengen tau aborsi itu sendiri gimana se..., tapi ya ga
pernah bener-bener nyari gitu..., mau tanya kakak juga ga enak...”
(Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...ya ga pa pa mas.., kan aku juga ga terlalu butuh...” (Informan 1,


SMPN 26 Surabaya).

“...yo males ae mas, soale kan gak penting..., di pelajaran juga gak
ada mas...” (Informan 3, SMPN 20 Surabaya).

Namun terdapat juga informan yang mengaku pernah mencari sendiri

informasi tentang aborsi. Rasa ingin tahu lebih banyak mengenai aborsi dan

ketidakpuasan karena selama ini informasi aborsi tidak pernah didapatkan secara
110

langsung melalui orang lain yang dianggap lebih tahu menjadi alasan

dilakukannya pencarian ini.

“...pernah di internet..., mungkin minggu-minggu kemarin waktu


sering terima SMS itu...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...banyak, tapi seperti yang di SMS itu..., apa itu aborsi,


penyebabnya apa, terus bagaimana supaya tidak melakukan aborsi...,
ya hampir sama...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...yang pernah saya tahu di internet itu..., aborsi itu banyak


dilakukan remaja karena hamil di luar nikah dan ga ingin sampai
ketahuan orang tuanya..., terus ibu-ibu yang ga ingin punya anak
lagi..., terus apa lagi ya..., ya itu aja sih ingatnya kak...” (Informan 4,
SMPN 20 Surabaya).

Internet menjadi media pilihan dalam pencarian informasi mengenai aborsi,

dikarenakan informasi yang didapatkan melalui media ini dianggap lebih banyak

dan lengkap, serta adanya kemudahan dalam mengaksesnya apalagi terdapat juga

informan yang disediakan fasilitas internet di rumah.

5.3.2. Tanggapan terhadap Pemanfaatan Media SMS

Eksplorasi tanggapan siswa terhadap pemanfaatan SMS pada seluler sebagai

media promosi kesehatan khususnya tentang aborsi dilakukan melalui kegiatan

FGD (Focus Group Discussion) yang melibatkan enam siswa (informan) kelas

VIII SMP Negeri 26 Surabaya. Dari hasil FGD yang dilaksanakan selama 90

menit pada hari Rabu 22 Juli 2009, didapatkan beberapa pernyataan siswa terkait

pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan.

Sebagian besar informan memiliki pemahaman yang sederhana tentang

promosi kesehatan masyarakat. Mereka tidak memberikan definisi dan batasan

yang jelas mengenai apa itu promosi kesehatan, tetapi rata-rata telah mampu

menunjukkan contoh kegiatan atau program promosi kesehatan itu sendiri yang
111

diketahui dalam keseharian mereka. Kegiatan penyuluhan serta pemasangan

gambar-gambar (poster dan papan peringatan) kesehatan dianggap merupakan

representasi dari kegiatan promosi kesehatan masyarakat.

“...promosi kesehatan itu seperti kegiatan penyuluhan kesehatan...”


(Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...ya kegiatan penyuluhan..., kayak waktu di pertemuan ibu-ibu di RT


itu...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...mungkin seperti gambar-gambar dilarang merokok atau juga


dilarang buang sampah sembarangan itu ya...” (Informan 3, SMPN
26 Surabaya).

Untuk media promosi kesehatan itu sendiri, sebagian informan juga telah

mengenalnya dengan baik. Beberapa contoh media promosi kesehatan yang

banyak dijumpai di masyarakat dapat ditunjukkan oleh informan, walaupun

pemaparannya juga masih sangat umum, seperti media cetak dan elektronik yang

digunakan untuk penyampaian informasi kesehatan.

“...media cetak atau juga media elektonik...” (Informan 1, SMPN 26


Surabaya).

“...mungkin kayak poster, terus brosur-brosur..., di televisi juga ada...”


(Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...poster, televisi..., terus SMS yang itu juga ya...” (Informan 3,


SMPN 26 Surabaya).

Iklan layanan SMS yang sering masuk pada handphone informan dirasakan

sedikit mengganggu, terutama bentuk pesan SMS dengan ajakan untuk bergabung

atau mendaftar (registrarsi) pada layanan tertentu dengan tarif jauh di atas tarif

SMS normal. Informan menganggap SMS seperti ini merupakan bentuk penipuan

yang dapat mengurangi jumlah saldo pulsa pada handphone mereka.


112

“...sebenernya seneng juga, tapi kadang isinya ga penting banget...,


jadi ya agak terganggu...” (Informan 3, SMPN 26 Surabaya).

“...tidak suka karena biasanya iklan layanan SMS itu berisi penipuan
dan menyedot pulsa hp...” (Informan 5, SMPN 26 Surabaya).

Namun dikatakan juga bahwa mereka tidak keberatan untuk menerima

layanan pesan SMS sepanjang isinya memberikan informasi yang dapat

menambah pengetahuan dan wawasan.

“...selama iklan layanan SMS itu bersifat menambah wawasan dan


pengetahuan pasti dapat diterima dengan baik..., bahkan juga bisa
diterapkan manfaatnya...” (Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

Pengiriman informasi aborsi melalui SMS pada handphone informan

ternyata mendapat sambutan yang positif. Informan menyatakan bahwa semua

pesan aborsi yang diterimanya telah dibaca walaupun beberapa dari mereka

mengaku agak kesulitan untuk memahami isi pesan aborsi tersebut.

“...dibaca..., tapi kadang-kadang ga langsung baca..., habis hp nya ga


terus dibawa...” (Informan 3, SMPN 26 Surabaya).

“...paham..., karena bahasa SMS nya baku jadi mudah dipahami...”


(Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...agak kesulitan juga memahami kata-kata asing...” (Informan 2,


SMPN 26 Surabaya).

“...agak paham..., karena banyak yang tidak kebaca...., hp nya dibawa


kakak...” (Informan 6, SMPN 26 Surabaya).

Pesan aborsi yang masuk pada handphone informan juga memiliki nilai

khusus bagi sebagian dari mereka. Hal ini ditunjukkan dengan adanya upaya dari

beberapa informan untuk tetap menyimpan pesan SMS tersebut. Namun terdapat

juga dari mereka yang mengaku langsung menghapus pesan aborsi yang diterima

setelah membacanya.
113

“...di hapus karena memory hp tidak cukup...” (Informan 1, SMPN 26


Surabaya).

“...ada beberapa yang dihapus dan ada beberapa yang masih


disimpan..., malah bikin folder buat dibaca-baca sebagai
pengetahuan...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

Untuk reinformasi pesan aborsi, hanya sebagian dari informan yang

mengaku berusaha mengkomunikasikan isi pesan aborsi pada orang lain

disekitarnya. Mereka mengatakan bahwa alasan untuk megkomunikasikan pesan

SMS karena mereka menganggap bahwa orang lain juga berhak untuk mengetahui

informasi tersebut. Selain itu juga karena banyak pertanyaan dari pihak keluarga

mengenai sering masuknya pesan SMS pada handphone mereka.

“...SMS diketik ulang, diprint.., lalu dilihatkan ke teman sama


saudara...” (Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...hanya diberitahukan ke keluarga...” (Informan 2, SMPN 26


Surabaya).

“...supaya orang lain dapat pengetahuan juga...” (Informan 1, SMPN


26 Surabaya).

“...karena orang rumah banyak yang tanya-tanya...” (Informan 2,


SMPN 26 Surabaya).

Namun juga banyak dari mereka yang mengatakan bahwa informasi tersebut

tidak diberikan pada yang lain dengan alasan bahwa hal itu tidak terlalu penting

bagi mereka, atau juga karena mereka masih merasa bahwa informasi aborsi

merupakan sesuatu yang tidak wajar untuk diberitahukan kepada orang lain.

“...ya ada yang buka-buka inbox terus baca SMS nya..., ya malu sih
koq SMS nya aborsi..., sempat ditanya-tanya tapi uda tak jelasin...”
(Informan 3, SMPN 26 Surabaya).

“...kalo dikirim lagi sayang pulsanya...” (Informan 5, SMPN 26


Surabaya).
114

Pada umumnya informan menyatakan tidak merasa terganggu dengan

masuknya pesan SMS aborsi pada handphone mereka, namun pengiriman pesan

SMS yang sama secara berulang-ulang cenderung menjadikan mereka merasa

bosan. Selain itu bagi sebagian informan pesan aborsi masih dianggap sedikit

memalukan bila dibaca oleh orang tua.

“...ngerasa terganggu juga kalo SMS nya sering diulang-ulang...”


(Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...enjoy aja.., ya dianggep sex education...” (Informan 3, SMPN 26


Surabaya).

“...malu kalo sampai dibaca orang tua...” (Informan 5, SMPN 26


Surabaya).

Sementara untuk teknis dan desain pesan aborsi melalui media SMS sendiri,

informan juga memiliki pendapat yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka

memberikan komentar terhadap bahasa penulisan pesan. Selain itu durasi dan

frekwensi pengiriman pesan SMS juga tidak lepas dari perhatian mereka.

“...kurang enak dipahami jika hanya bahasa tulisan saja.., karena


yang namanya penyuluhan selalu identik dengan gambar-gambar...”
(Informan 1, SMPN 26 Surabaya).

“...kurang gaul bahasa yang digunakan...” (Informan 3, SMPN 26


Surabaya).

“...merasa tersanjung sama bahasa yang digunakan..., karena ada


kata-kata anda...” (Informan 4, SMPN 26 Surabaya).

“...jarak antara pengiriman SMS satu sama yang ke dua terlalu


cepat..., kadang sedikit mengganggu apalagi kalo siang...” (Informan
5, SMPN 26 Surabaya).

Setelah mendapatkan intervensi berupa pengiriman pesan SMS tentang

aborsi pada handphone mereka, sebagian dari informan mengaku berusaha untuk

mencari informasi aborsi lebih banyak melalui media lain. Rasa ingin tahu
115

mengenai aborsi dan harapan untuk memperoleh informasi aborsi secara lebih

lengkap mendorong informan untuk melakukan pencarian ini. Media internet

menjadi saluran informasi pilihan dalam memuaskan keingintahuan informan

mengenai aborsi, namun demikian informasi aborsi yang mereka dapat melalui

media internet secara garis besar relatif sama dengan informasi pada SMS yang

telah mereka terima.

“...coba mencari info lewat internet...” (Informan 1, SMPN 26


Surabaya).

“...sama juga..., coba cari-cari lewat internet..., ada juga teman yang
beritahu...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).

“...aborsi itu seperti apa..., terus dampaknya apa...” (Informan 1,


SMPN 26 Surabaya).

“...untuk lebih memperjelas tentang aborsi...” (Informan 2, SMPN 26


Surabaya).

Tanggapan berbeda-beda diberikan oleh informan terkait penggunaan SMS

sebagai media promosi kesehatan, terutama dalam penyampaian informasi tentang

aborsi. Bagi mereka informasi dalam bentuk pesan teks SMS sedikit kurang

menarik dibandingkan dengan informasi yang didesain dengan media yang

menggunakan audio visual sebagai bentuk penyampaiannya. Mereka berpendapat

bahwa penyampaian informasi kesehatan dengan disertai ilustrasi gambar akan

lebih mempermudah dalam pemahaman, selain itu juga akan lebih menarik untuk

membacanya.

“...kurang ada gambar untuk lebih memperjelas...., lebih enak kalau


pakai media lain yang ada audio visualnya...” (Informan 1, SMPN 26
Surabaya).

“...setuju aja..., tapi bagaimana dengan mereka yang tidak punya


hp..., kasian kan...” (Informan 2, SMPN 26 Surabaya).
116

Namun terdapat juga beberapa tanggapan dari informan yang menunjukkan

nilai lebih dari penggunaan SMS sebagai media promosi kesehatan, terutama pada

keunikan dan efisiesinya.

“...kalo SMS itu bikin penasaran bakal SMS apalagi ya..., jadi ya
lebih seneng aja...” (Informan 3, SMPN 26 Surabaya).

“...lebih enak yang dibaca tidak terlalu banyak...” (Informan 5, SMPN


26 Surabaya).

“...pulsa tidak boros karena hanya terima SMS...” (Informan 6, SMPN


26 Surabaya).

Beberapa rekomendasi menarik juga diberikan oleh informan terkait dengan

penggunaan SMS pada seluler sebagai media promosi kesehatan ke depan.

“...coba diberikan informasi tentang menstruasi...” (Informan 1,


SMPN 26 Surabaya).

“...jangan terlalu banyak pakai bahasa inggris...” (Informan 2, SMPN


26 Surabaya).

“...lain kali dikirim SMS tentang narkoba..., atau SMS dunia remaja
seperti dunia cinta...” (Informan 3, SMPN 26 Surabaya).

“...jangan ada SMS yang berbunyi ancaman...” (Informan 4, SMPN


26 Surabaya).

“...jarak pengiriman SMS terlalu dekat..., jangan SMS terlalu malam


kadang ada orang yang tidak boleh pakai hp di atas jam sembilan...”
(Informan 5, SMPN 26 Surabaya).

“...ya sama, diberi SMS lainnya...” (Informan 6, SMPN 26 Surabaya).

Saran yang diberikan oleh informan selain pada desain dan teknis

pengiriman pesan, juga lebih ditujukan pada isi informasi SMS, di mana mereka

berharap bahwa ke depan nanti akan pendapatkan informasi mengenai sesuatu

yang lebih relevan dengan kehidupannya saat ini.

BAB 6
117

PEMBAHASAN

Penggunaan media dalam program promosi kesehatan masyarakat

merupakan suatu yang sangat mendasar. Walaupun media hanya merupakan

instrumen pendukung dalam kegiatan promosi kesehatan, namun tidak dapat

dipungkiri bahwa media memegang peranan dalam berhasil tidaknya pencapaian

tujuan program promosi kesehatan. Kegiatan promosi kesehatan sendiri pada

dasarnya merupakan suatu bentuk aktifitas komunikasi dalam penyampaian

informasi kesehatan antara provider kesehatan dan sasaran program, dengan

media sebagai alat bantu komunikasi untuk menunjang proses penyampaian

informasi. Efektif tidaknya suatu media dalam kegiatan promosi kesehatan tentu

saja juga bergantung pada provider, sasaran, dan informasi itu sendiri.

Pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan masyarakat merupakan

sesuatu yang relatif baru. Bagaimana bentuk, desain, teknis implementasi, dan

peranannya dalam pencapaian tujuan program promosi kesehatan merupakan

pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian berjudul “Pemanfaatan SMS pada

Seluler sebagai Media Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan

Pengetahuan dan Perubahan Sikap Remaja mengenai Aborsi” ini.

Penelitian ini sendiri didesain dan ditujukan untuk mengetahui sejauh mana

efektifitas SMS yang digunakan sebagai media promosi kesehatan dalam

meningkatkan pengetahuan dan mempengaruhi sikap remaja terkait masalah

aborsi. Dengan subyek penelitian yaitu siswa kelas VIII SMP Negeri 26 dan SMP

Negeri 20 Surabaya.

6.1. Karakteristik Responden


118

Responden dalam penelitian ini baik itu experiment group dan control group

sebagian besar berada pada kisaran usia 13-14 tahun (96,7%), ini merupakan masa

pra pubertas atau masa peralihan dari kanak-kanak menuju pubertas yang diikuti

oleh perubahan fungsi fisiologis dan perkembangan fungsi psikologi (Gunarsa,

2003).

Pada remaja usia dini ini secara biologis telah dicapai kematangan fungsi

seksual dengan beberapa perubahan fisik, secara kejiwaan mulai mengalami

ketertarikan terhadap lawan jenis, dan secara tingkah laku mulai senang untuk

lebih banyak bergaul dan berada di luar rumah (BKKBN, 1998). Bagaimanapun

juga ini merupakan titik kritis di mana perilaku seksual beresiko mulai muncul

dan dapat berdampak pada terjadinya aborsi pada remaja. Tentu saja pendidikan

dan promosi kesehatan mengenai masalah perilaku seksual dan khususnya tentang

aborsi sangat penting untuk diberikan pada remaja usia dini.

Distribusi jenis kelamin responden pada ke dua kelompok penelitian adalah

27 laki-laki dan 33 perempuan. Walaupun penelitian ini tidak bertujuan untuk

mengetahui peranan gender dalam perubahan tingkat pengetahuan dan sikap

remaja terkait aborsi, namun tidak dapat dipungkiri bahwa masalah aborsi

memiliki asosiasi langsung dengan jenis kelamin perempuan.

Resiko aborsi pada kesehatan fisik (infeksi rahim, infertility, dll) maupun

psikologis PAS (Post Abortion Syndrome) dan bahkan kematian tentu saja berada

pada kelompok perempuan. Sementara untuk kelompok laki-laki justru lebih

sering menjadi pihak yang mendorong terjadinya aborsi, terlebih dengan masih

kentalnya budaya patriakalis yang menjunjung tinggi dominasi laki-laki.


119

Demikian juga dengan konsekwensi etis berupa stigma masyarakat yang

lebih melekat pada pihak perempuan pelaku aborsi daripada pihak laki-laki yang

secara logis juga memiliki peran dalam tindakan aborsi.

Namun demikian dalam kerangka hukum di Indonesia telah terdapat

beberapa pasal yang memuat konsekwensi normatif berupa sanksi tindak pidana

bagi pelaku serta orang yang membantu dilakukannya aborsi (ilegal). Produk

hukum yang tertuang pada KUHP Pasal 299, 346, 347, 348, dan 349 ini berlaku

bagi mereka baik laki-laki maupun perempuan yang terlibat dilakukannya aborsi

secara ilegal (Ekotama dkk, 2001).

Konferensi Wanita ke IV di Beijing tahun 1995 disepakati 4 pokok hak

reproduksi, yaitu kesehatan reproduksi dan seksual (reproductive and sexual

health), penentuan dalam keputusan reproduksi (reproductive decision making),

kesetaraan pria dan wanita (equality and equity for men and women), dan

keamanan reproduksi dan seksual (sexual and reproductive security). Dari empat

point ini dapat dipahami terdapat kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam

pengambilan keputusan untuk masalah reproduksi (Widjanarko, 1999).

Atas pertimbangan bahwa tanggung jawab dari masalah reproduksi

(khususnya aborsi) ada pada ke dua belah pihak baik laki-laki maupun

perempuan, serta adanya pemahaman bahwa pengetahuan yang cukup dan sikap

yang positif mengenai aborsi harus dimiliki oleh remaja tanpa ada pemisahan

gender, maka studi ini dilakukan pada subyek penelitian dengan tanpa

memandang perbedaan jenis kelamin.

Bentuk keyakinan spiritual (agama) yang dipegang oleh responden juga

tidak menjadi perhatian dalam penelitian ini. Namun melalui kegiatan indepth
120

interview diketahui bahwa semua informan mengemukakan dosa sebagai

konsekwensi (vertikal) bagi tindakan aborsi. Melalui kacamata keyakinan ini

diketahui bahwa responden memiliki karakteristik yang sama, yaitu masih

memegang nilai-nilai spiritual yang juga turut berperan sebagai kontrol sikap dan

tindakan mereka sehari-hari. Sesuai yang dikatakan oleh Azwar (1995), bahwa

agama atau keyakinan spiritual dapat memberikan pengaruh yang cukup besar

terhadap sikap dan perilaku. Dari sini diharapkan dengan nilai spiritual (agama)

yang dipegang oleh responden akan mampu memberikan pengaruh positif

terhadap sikap dan perilaku mereka terkait aborsi.

Responden penelitian berasal dan bertempat tinggal di lingkungan dengan

kondisi sosial kemasyarakatan yang relatif sama, yaitu di wilayah Surabaya

bagian barat dengan kelompok terbesar (63,3%) berdomisili di Kecamatan

Tandes. Seperti diketahui bahwa wilayah Surabaya bagian barat yang dikenal

sebagai wilayah hitam untuk kegiatan prostitusi, beberapa lokalisasi tersebar di

wilayah ini seperti Moroseneng, Kembang Kuning, Jarak, dan Dolly. Walaupun

pengaruh lingkungan sosial responden tidak ikut diteliti namun faktor lingkungan

sosial juga dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku

responden terkait aborsi.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Gunarsa (2003), bahwa

lingkungan sosial merupakan lingkungan di mana individu berinteraksi dan

bersosialisasi dengan orang lain pada situasi tertentu. Lingkungan sosial sering

menjadi determinan dalam pembentukan perilaku individu, karena individu

cenderung untuk mengidentifikasi perilakunya dengan perilaku kelompok pada

lingkungan di mana dirinya bersosialisasi.


121

Karakteristik responden (sebelum perlakuan) untuk pengetahuan dan sikap

terkait aborsi aborsi baik SMPN 26 maupun SMPN 20 Surabaya relatif homogen

dan cukup representatif digunakan sebagai subyek penelitian. Hal ini ditunjukkan

melalui hasil uji homogenitas dengan nilai ρ (probabilitas) untuk variabel

pengetahuan dan variabel sikap masing-masing sebesar 0,607 dan 0,234 yang

lebih besar dari α (0,05) yang artinya bahwa keadaan awal responden (SMPN 26

dan SMPN 20) bersifat homogen.

Dalam hal kualitas pendidikan yang didapatkan, ke dua kelompok

responden berasal dari SMP dengan status yang relatif setara. SMP Negeri 26 dan

SMP Negeri 20 merupakan dua institusi pendidikan menengah pertama negeri

yang juga berlokasi di wilayah Surabaya bagian barat. Selama ini pihak ke dua

SMP belum pernah melakukan kegiatan penyuluhan mengenai perilaku aborsi

terhadap siswanya. Kegiatan penyuluhan mengenai perilaku remaja yang

diberikan sebatas pada Narkoba, Rokok, serta Pola Pacaran (SMPN 26), itupun

dilaksanakan sepenuhnya oleh guru BK (Bimbingan Konseling) tanpa adanya

keterlibatan dari penangggung jawab UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). Sehingga

bentuk penyuluhan dan pemberian informasi oleh pihak sekolah tersebut lebih

diorientasikan pada aspek etis normatif daripada aspek kesehatan.

Informasi mengenai aborsi belum pernah diberikan dengan pertimbangan

bahwa informasi tersebut masih terlalu dini untuk siswa setingkat SMP. Bahkan

untuk pemahaman tentang perilaku seksual remaja pun juga cenderung direduksi

menjadi bagaimana pola pacaran yang baik. Tampak masih ada batasan yang kuat

antara guru dan siswa dalam mendiskusikan hal-hal yang berbau seksualitas,

reproduksi, dan aborsi, walaupun itu dalam konteks pendidikan kesehatan.


122

Walaupun demikian untuk pihak SMPN 26 masih menyediakan media

informasi bagi siswa mengenai perilaku seksual remaja yang secara implisit juga

menyinggung tentang aborsi. Media informasi ini berupa VCD pengetahuan yang

tersimpan di perpustakaan sekolah dan dapat diakses sewaktu-waktu oleh siswa

secara bebas dalam ruang perpustakaan. Hal ini diketahui dari hasil FGD, dimana

seorang siswa informan SMPN 26 mengatakan pernah menerima informasi

tentang aborsi melalui media film yang diputar di perspustakaan sekolah.

6.2. Pengetahuan dan Sikap terkait Aborsi

Perubahan tingkat pengetahuan dan sikap terkait aborsi pada responden

dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan dua teknik pengukuran (uji

komparasi). Pertama uji perbandingan nilai mean hasil pretest dan posttest (2

Independent Samples T Test) antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,

berikutnya uji perbandingan nilai mean beda hasil pretest posttest (2 Paired

Samples T Test) untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

6.2.1. Perubahan Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) terdapat tiga proses tahapan perubahan

perilaku (KAP) yang dimulai dengan perubahan pengetahuan (kognitif), diikuti

oleh perubahan sikap (afektif), dan terakhir adalah perubahan perilaku

(psikomotor). Juga dikenal sebagai domain perilaku KAP - B (Knowledge Attitude

Practice - Behavior).

Berdasarkan pemahaman di atas, maka sudah sewajarnya bila kegiatan

promosi kesehatan tentang perilaku aborsi pada remaja harus dimulai dengan

memperkuat pengetahuan dan pemahaman remaja terhadap konsepsi aborsi.


123

Sejalan dengan hal tersebut, studi ini dilakukan dengan aspek pengetahuan

sebagai salah satu sasaran intervensinya. Penelitian menunjukkan bahwa melalui

intervensi berupa pengiriman SMS berisikan pesan aborsi ternyata mampu

berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan responden terkait aborsi.

Komparasi nilai mean hasil pretest dan posttest (2 Independent Samples T

Test) variabel pengetahuan antara responden pada ke dua kelompok, adalah

berikut :

1. Sebelum intervensi dilakukan, ke dua kelompok memiliki nilai rata-rata hasil

pretest pengetahuan yang tidak jauh berbeda, yaitu 54,9 untuk kelompok

eksperimen dan 53,7 untuk kelompok kontrol. Dengan nilai ρ (0,607) > α

(0,05), yang berarti tidak ada perbedaan bermakna antara pengetahuan

responden pada ke dua kelompok.

2. Setelah intervensi dilakukan, terdapat perbedaan yang cukup tinggi antara

nilai rata-rata hasil posttest pengetahuan pada ke dua kelompok. Nilai 76,3

untuk kelompok eksperimen dan 55,3 untuk kelompok kontrol. Dengan nilai ρ

(0,000) < α (0,05), yang berarti ada perbedaan bermakna antara pengetahuan

responden pada ke dua kelompok.

Sementara komparasi nilai mean beda hasil pretest posttest (2 Paired

Samples T Test) variabel pengetahuan untuk responden kelompok eksperimen dan

responden kelompok kontrol, adalah berikut :

1. Nilai rata-rata hasil pretest posttest pengetahuan kelompok eksperimen

(dengan intervensi) memiliki perbedaan yang cukup tinggi, yaitu 54,9 untuk

pretest dan 76,3 untuk posttest. Dengan nilai ρ (0,000) < α (0,05), yang berarti
124

ada perbedaan bermakna pada pengetahuan responden setelah diberi

intervensi.

2. Nilai rata-rata hasil pretest posttest pengetahuan kelompok kontrol (tanpa

intervensi) tidak menunjukkan banyak perbedaan, yaitu 53,7 untuk pretest dan

55,3 untuk posttest. Dengan nilai ρ (0,142) > α (0,05), yang berarti tidak ada

perbedaan bermakna pada pengetahuan responden tanpa diberi intervensi.

Penggunaan 2 uji komparasi (statistik) dalam penelitian ini (2 Independent

Samples T Test dan 2 Paired Samples T Test) dimaksudkan untuk memperkuat

nilai kemaknaan dari perbedaan tingkat pengetahuan mengenai aborsi untuk

responden pada ke dua kelompok.

Penelitian ini memberikan parameter tingkat pengetahuan mengenai aborsi

menurut tiga kategori, yaitu pengetahuan “kurang” (≤50) , “cukup” (51-75), dan

“baik” (≥76). Hasil pengukuran pretest posttest variabel pengetahuan

mengelompokkan responden dalam beberapa kategori menurut tingkat

pengetahuan (aborsi) yang dimiliki. Sesuai hasil pretest, tingkat pengetahuan

responden ke dua kelompok berada pada kategori “cukup”. Melalui hasil posttest,

tingkat pengetahuan responden kelompok eksperimen (dengan intervensi) naik

pada kategori “baik”, sedangkan tingkat pengetahuan responden kelompok

kontrol (tanpa intervensi) tetap berada pada kategori “cukup”.

pengetahuan cukup pengetahuan baik


Experiment Group
Pretest Posttest
dengan intervensi
54,9 76,3

pengetahuan cukup pengetahuan cukup


Control Group
Pretest Posttest
tanpa intervensi
53,7 55,3
125

Bagan 6.1. Kategorisasi Pengetahuan Responden

Pemberian informasi aborsi sebagai proses belajar terbukti mampu

meningkatkan pengetahuan responden. Walaupun informasi aborsi yang diberikan

tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mereka setidaknya untuk

saat ini, namun informasi tersebut ternyata dapat diserap dan disimpan dalam

alam sadar mereka.

Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran dalam psikologi pendidikan, di

mana otak manusia mampu menerima semua bentuk kesan melalui panca indera

baik disengaja atau tidak disengaja, menyimpan kesan yang telah diterima secara

sadar atau tidak sadar, dan mengeluarkan kesan yang tersimpan dalam ingatan

baik secara utuh, berkurang, atau dengan penambahan (Suryabrata, 1989).

Melalui FGD diketahui banyak dari informan mengeluhkan (bosan) tentang

pengiriman pesan SMS yang sering diulang-ulang, terutama dengan jarak waktu

kirim yang relatif dekat. Pemberian informasi aborsi secara berulang-ulang

dimaksudkan agar informasi tersebut dapat tersimpan kuat dalam alam sadar

responden, yang pada gilirannya akan memberikan peran dalam mempengaruhi

perilaku mereka sesuai dengan yang diharapkan.

Sejalan dengan yang dikemukakan Hebart, bahwa potensi dari kesan dalam

alam sadar manusia bergantung pada dua hal. Pertama adalah jelas atau tidaknya

kesan yang pertama kali diterima, semakin jelas suatu kesan diterima kesadaran

maka semakin kuat berada dalam alam sadar. Berikutnya adalah frekwensi kesan

yang diterima, semakin sering suatu kesan masuk dalam kesadaran maka semakin

kuat kesan tersebut berada dalam alam sadar. Tiap kesan yang berada dalam alam
126

sadar memiliki kekuatan yang berbeda-beda, semakin kuat kesan maka semakin

besar perannya dalam menentukan tingkah laku manusia (Dahar, 1989).

Dalam studi quasi eksperimental tentu saja responden pada ke dua

kelompok tidak sepenuhnya dapat dikontrol. Dalam artian bahwa sebelum

penelitian dilakukan pengetahuan reponden mengenai aborsi tidak sepenuhnya

kosong, juga dugaan akan adanya faktor perancu di mana selama penelitian

berlangsung responden bisa mendapatkan informasi aborsi dari sumber lain yang

akan berpengaruh terhadap hasil tes pengetahuan.

Dugaan ini diperkuat melalui hasil indepth interview di mana semua

informan pada ke dua kelompok penelitian mengatakan pernah mendapatkan

informasi mengenai aborsi sebelumnya melalui beberapa sumber terutama televisi

dan koran. Mereka juga telah mengetahui apa dan bagaimana itu aborsi walaupun

dengan tingkat pemahaman yang berbeda-beda dan tidak terlalu luas. Sedangkan

melalui FGD diketahui bahwa beberapa informan juga mencari informasi lebih

mengenai aborsi melalui media internet selama penelitian berlangsung.

Walaupun demikian bukan berarti bahwa hasil penelitian untuk variabel

pengetahuan mengenai aborsi ini menjadi tidak bermakna. Karena meskipun

responden terbukti telah memiliki pengetahuan tentang aborsi yang didapatkan

sebelum studi dilakukan, namun hal ini dapat diantisipasi dengan melakukan

pengukuran tingkat pengetahuan awal responden serta penggunaan skoring dan

kategorisasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah perlakuan. Sementara

untuk responden yang ternyata juga mendapatkan informasi aborsi dari sumber

lain selama penelitian berlangsung, diketahui bahwa informasi yang didapatkan

tersebut relatif sama dengan informasi yang diterima melalui SMS, sehingga
127

informasi dari sumber lain tersebut hanya bersifat memperkuat informasi yang

telah diterima melalui pesan SMS.

Dari argumentasi ini dapat dinyatakan bahwa peningkatan pengetahuan

responden mengenai aborsi adalah benar-benar berasal dari intervensi pengiriman

informasi aborsi melalui pemanfaatan fasilitas SMS pada seluler.

Dalam kerangka pengetahuan, intervensi pemberian informasi aborsi sendiri

difokuskan pada pencapaian tiga hal utama, yaitu reponden dapat mengetahui,

memahami, dan mengevaluasi segala sesuatu terkait aborsi. Tujuan ini diadopsi

dari enam domain pengetahuan Bloom (1979), yaitu to know (mengingat materi),

comprehension (menjelaskan kembali materi), application (mengimplementasikan

materi), analyze (menjabarkan materi dalam komponen yang lebih kecil namun

tetap utuh), synthesize (merangkai materi menjadi entitas baru), dan evaluation

(melakukan penilaian terhadap materi menggunakan kriteria tertentu).

6.2.2. Perubahan Sikap

Dalam domain perilaku KAP - B, perilaku merupakan konstelasi dari

pengetahuan, sikap, dan tindakan yang saling berinteraksi satu sama lain terhadap

suatu obyek. Pengetahuan merupakan determinan awal dari sikap, sementara

sikap sendiri adalah pemicu dari tindakan nyata, dan tindakan yang telah

terbentuk dan menjadi bagian dari diri seseorang adalah perilaku.

Namun tidak selamanya dapat dikatakan bahwa komponen pengetahuan

selalu berbanding lurus dengan komponen sikap. Perubahan pengetahuan individu

terhadap suatu obyek belum tentu diikuti oleh perubahan sikap individu terhadap

obyek yang sama. Cognitive Dissonance Theory dari Festinger (1957) setidaknya

mampu menjawab hal ini. Ketidakseimbangan elemen kognitif (pengetahuan,


128

pendapat, dan keyakinan) dalam diri individu dapat menimbulkan pertentangan,

ini terjadi ketika individu menghadapi suatu stimulus yang memunculkan

pendapat atau keyakinan berbeda dan saling bertentangan dalam diri individu

sendiri, kondisi ini disebut sebagai dissonance (Notoatmodjo, 2003).

Dengan menggunakan tolak ukur kuantitatif, setidaknya teori di atas dapat

dijumpai pada hasil penelitian. Peningkatan pengetahuan responden mengenai

aborsi yang cukup tinggi tidak diikuti oleh perubahan sikap mengenai aborsi yang

tinggi pula pada responden yang sama. Terdapat ketidakseimbangan fungsi

kognitif antara elemen pengetahuan dan keyakinan responden, yang

memunculkan pertentangan antara pemahaman dan sikap mereka terhadap aborsi.

Walaupun uji statistik menunjukkan bahwa melalui intervensi pengiriman

pesan SMS mengenai aborsi ternyata mampu memberikan pengaruh yang cukup

bermakna terhadap perubahan sikap responden, namun secara kuantitas perubahan

nilai rata-rata hasil pretest posttest pada variabel sikap ini tidak sebanding dengan

perubahan nilai rata-rata hasil pretest posttest pada variabel pengetahuan.

Komparasi nilai mean hasil pretest dan posttest (2 Independent Samples T

Test) variabel sikap antara responden pada ke dua kelompok, adalah berikut :

1. Sebelum intervensi dilakukan, nilai rata-rata hasil pretest sikap pada ke dua

kelompok tidak jauh berbeda, yaitu 60,8 untuk kelompok eksperimen dan 58,3

untuk kelompok kontrol. Dengan nilai ρ (0,234) > α (0,05), yang berarti tidak

ada perbedaan bermakna antara sikap responden pada ke dua kelompok.

2. Setelah intervensi dilakukan, nilai rata-rata hasil posttest sikap pada ke dua

kelompok menunjukkan perbedaan yang cukup tinggi, yaitu 64,8 untuk

kelompok eksperimen dan 57,2 untuk kelompok kontrol. Dengan nilai ρ


129

(0,003) < α (0,05), yang berarti ada perbedaan bermakna antara sikap

responden pada ke dua kelompok.

Sementara komparasi nilai mean beda hasil pretest posttest (2 Paired

Samples T Test) variabel sikap untuk responden kelompok eksperimen dan

responden kelompok kontrol, adalah berikut :

1. Nilai rata-rata hasil pretest posttest sikap kelompok eksperimen (dengan

intervensi) memiliki perbedaan yang cukup tinggi, yaitu 60,8 untuk pretest

dan 64,8 untuk posttest. Dengan nilai ρ (0,001) < α (0,05), yang berarti ada

perbedaan bermakna pada sikap responden setelah diberi intervensi.

2. Nilai rata-rata hasil pretest posttest sikap kelompok kontrol (tanpa intervensi)

tidak menunjukkan banyak perbedaan, yaitu 58,3 untuk pretest dan 57,2 untuk

posttest. Dengan nilai ρ (0,131) > α (0,05), yang berarti tidak ada perbedaan

bermakna pada sikap responden tanpa diberi intervensi.

Sikap responden terhadap aborsi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu sikap

“pro aborsi” (≤30) , “ambivalent” (31-60), dan “anti aborsi” (≥61). Melalui hasil

pretest didapatkan sikap responden pada ke dua kelompok berada pada kategori

“ambivalent”. Dan melalui hasil posttest, sikap responden kelompok eksperimen

(dengan intervensi) berubah pada kategori “anti aborsi”, sedang sikap responden
sikap ambivalent sikap anti aborsi
Experiment Group
kelompok kontrol
Pretest(tanpa intervensi) tetap berada pada kategori Posttest
“ambivalent”.
dengan intervensi
60,8 64,8

sikap ambivalent sikap ambivalent


Control Group
Pretest Posttest
tanpa intervensi
58,3 57,2
130

Bagan 6.2. Kategorisasi Sikap Responden

Bila diperhatikan perubahan sikap kelompok eksperimen dari kategori

“ambivalent” menjadi “anti aborsi” sebenarnya tidak terlalu banyak berarti karena

secara kuantitas perubahan nilai rata-rata hasil pretest posttest variabel sikap

kelompok ini hanya memiliki selisih 4,0 point. Sementara hasil pretest posttest

sikap ke dua kelompok untuk kategori “ambivalent” rata-rata hanya 2,2 point

dibawah batas kategori “anti aborsi”.

Menurut Notoatmodjo (2003), sikap merupakan respon internal yang terjadi

di dalam diri individu yang tidak dapat dilihat secara langsung, dan merupakan

bagian dari covert behavior. Sikap merupakan sesuatu yang sangat sulit dikontrol

dan diamati, serta membutuhkan waktu yang relatif lebih panjang untuk dapat

dipengaruhi atau dirubah.

Begitu juga dengan variabel sikap responden yang secara kuantitas tidak

memiliki banyak perubahan seperti variabel pengetahuan. Waktu penelitian yang

relatif kurang, sikap awal responden yang sebelumnya memang telah menolak

aborsi, serta adanya perbedaan nilai maximum antara hasil tes sikap dan tes

pengetahuan (80 dan 100), ikut menjadi penyebab mengapa kuantitas perubahan

nilai sikap tidak setinggi kuantitas perubahan nilai pengetahuan.

Melalui indepth interview diketahui bahwa sikap informan terhadap aborsi

cenderung menolak, sikap ini tentu saja didasari oleh penilaian-penilaian berdasar

pada standar nilai tertentu. Keyakinan terhadap dosa maupun stigma masyarakat

menjadi alasan sikap penolakan terhadap aborsi. Hanya beberapa informan saja

yang ikut menyertakan aspek kesehatan sebagai alasan dalam penolakan tindakan
131

aborsi. Sikap anti aborsi pada informan lebih dikarenakan alasan-alasan etis,

moral, dan agama daripada alasan dalam perspektif kesehatan.

Penolakan aborsi oleh informan dengan alasan bahwa tindakan aborsi

memiliki konsekwensi negatif dalam masyarakat, merupakan bentuk sikap yang

lahir dari pengaruh nilai-nilai (norma) yang berlaku pada masyarakat dimana

informan berada. Karena pada dasarnya norma masyarakat merupakan nilai yang

ada dan dipercaya pada suatu kelompok masyarakat tertentu. Norma masyarakat

berupa keyakinan umum yang berakar dari tradisi dan kepercayaan yang telah

membudaya dan dijadikan pandangan masyarakat. Norma masyarakat

memberikan batasan dalam bersikap dan bertindak bagi tiap individu yang

menjadi anggota suatu kelompok masyarakat (Notoatmodjo, 2003).

Dari hasil indepth interview juga ditemukan informan yang menolak aborsi

dengan alasan etis dan agama, sekaligus dapat menerima aborsi sepanjang

terdapat kondisi yang beresiko (secara ekonomi) bagi ibu dan bayi kedepannya

nanti bila kehamilan tetap dilanjutkan. Sikap ambivalent ini tentu saja merupakan

hasil konfrontasi internal dalam diri informan pada penilaian-penilaian mengenai

aborsi dengan menggunakan beberapa standar nilai tertentu. Nilai agama dan etis

sosial menjadi standar pertimbangan untuk ditolaknya aborsi, serta nilai ekonomi

dan kesehatan menjadi standar pertimbangan untuk diterimanya aborsi. Standar

nilai mana yang lebih berperan dalam mempengaruhi sikap informan ke depan

akan bergantung pada situasi seperti apa yang akan dihadapi.

Ambivalensi sikap informan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan

Recht, bahwa sikap menggambarkan kumpulan kepercayaan individu yang selalu

memasukan aspek penilaian didalamnya, artinya sikap selalu dapat ditafsirkan


132

sebagai baik dan buruk atau positif dan negatif, tergantung oleh standar nilai yang

digunakan individu pada saat itu (Green, 1980).

Beberapa ahli psikologi sosial dan psikologi kepribadian seperti Chave,

Bogardus, La Pierre, dan Gordon Allport menganggap sikap sebagai kesiapan

(kecenderungan potensial) untuk bereaksi pada suatu obyek dengan cara-cara

tertentu, serta tendensi atau kesiapan antisipatif untuk menyesuaikan diri dengan

stimuli sosial tertentu (Azwar, 1995).

Sejalan dengan pendapat di atas maka dengan berbekal sikap yang relatif

lebih dekat pada pilihan anti aborsi sebagai kecenderungan potensial dalam

antisipasi tindakan aborsi pada diri responden, diharapkan kedepannya mereka

akan selalu dapat bertindak dan berperilaku secara positif terkait aborsi.

6.3. Efektifitas Media SMS

Seluler pada dasarnya merupakan bentuk media elektonik (audio) yang

digunakan dalam penyampaian pesan (komunikasi) dalam bentuk suara oleh

komunikator kepada komunikan. Namun pada perkembangannya seluler berubah

dari sebatas perangkat komunikasi berbasis audio (suara) menjadi perangkat

media audio visual (gambar dan suara). Fasilitas SMS (Short Messaging Service)

sendiri mewakili salah satu bentuk visual dari media seluler.

Dalam penelitian ini efektifitas fasilitas SMS sebagai media promosi

kesehatan terkait masalah abosi diukur melalui dua variabel, yaitu pengetahuan

dan sikap. Dengan indikator pencapaian efektifitas berupa kenaikan persentase

nilai rata-rata hasil pretest posttest untuk masing-masing variabel pada kelompok

yang diberikan intervensi (experiment group) sebesar 10% atau lebih.


133

Melalui hasil pretest posttest untuk variabel pengetahuan dan variabel sikap

pada kelompok eksperimen menunjukkan persentase kenaikan nilai rata-rata

sebesar 38,9% (di atas 10%) untuk pengetahuan dan 6,6% (di bawah 10%) untuk

sikap. Dari persentase perubahan hasil ini didapatkan jawaban terhadap dua

hipotesis penelitian.

5. Peningkatan persentase nilai rata-rata hasil pretest posttest untuk variabel

pengetahuan sebesar 38,9% > 10%. Artinya pemanfaatan SMS sebagai media

promosi kesehatan terbukti efektif dalam mempengaruhi peningkatan

pengetahuan (aborsi) siswa SMPN 26 Surabaya.

6. Peningkatan persentase nila rata-rata hasil pretest posttest untuk variabel sikap

sebesar 6,6% < 10%. Artinya pemanfaatan SMS sebagai media promosi

kesehatan terbukti kurang efektif dalam mempengaruhi perubahan sikap

(aborsi) siswa SMPN 26 Surabaya.

Keberhasilan pencapaian target peningkatan rata-rata hasil pretest posttest

sebesar 10% untuk variabel pengetahuan terjadi karena beberapa faktor :

a. Pengetahuan merupakan variabel yang relatif lebih mudah dipengaruhi, karena

pengetahuan bersifat obyektif dengan landasan yang berlaku secara universal,

serta tidak melibatkan aspek penilaian (baik buruk) dalam penerimaannya.

b. Pengetahuan tentang aborsi bukan hal baru bagi responden, sehingga ada

keterbukaan dalam penerimaan informasi aborsi.

c. Pengetahuan awal responden terhadap aborsi hanya sebatas pengertian secara

umum yang tidak terlalu luas, sehingga pemberian informasi aborsi yang lebih

lengkap akan semakin memperluas pengetahuan mereka.


134

d. Desain pesan SMS aborsi yang mudah untuk dipahami dan sifat dari media

SMS sendiri yang mampu mendorong responden untuk membaca keseluruhan

informasi aborsi.

Sedangkan kegagalan pencapaian target peningkatan rata-rata hasil pretest

posttest sebesar 10% untuk variabel sikap dapat terjadi karena :

a. Sikap lebih bersifat subyektif dan selalu melibatkan aspek penilaian (baik

buruk) dalam penerimaannya dengan landasan standar nilai yang sangat

beragam, sehingga akan lebih sulit dalam mempengaruhinya.

b. Perubahan sikap membutuhkan proses yang lama dan tidak dapat berlangsung

secara instant, sehingga kontradiktif dengan waktu penelitian yang relatif

singkat.

c. Keberadaan sikap awal responden yang cenderung telah menolak aborsi,

sehingga pemberian informasi aborsi hanya bersifat memperkuat sikap mereka

saja tanpa ada pengaruh yang besar.

d. Desain pesan SMS aborsi yang lebih difokuskan pada bentuk informasi

pengetahuan dan kurang memperhatikan bentuk informasi yang dapat

menyentuh sisi emosional responden.

Dalam bidang promosi dan pendidikan kesehatan, secara umum telah

dipahami beberapa kriteria media promosi yang efektif diantaranya adalah mudah

diperoleh bahan pembuatannya, murah karena hanya membutuhkan biaya yang

kecil, mampu menarik dan merangsang perhatian sasaran, desain pesan informatif

dan tidak bermakna ganda, efektif dan berdayaguna bagi sasaran, mampu

mendorong sasaran untuk belajar secara lebih positif, tepat waktu dan aktual

dalam penyampaian, serta sesuai dengan kebututuhan sasaran (Soehoet, 2003).


135

Pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan untuk peningkatan

pengetahuan dan perubahan sikap siswa terkait aborsi, dalam beberapa point telah

memenuhi kriteria efektifitas media di atas. Bahkan melangkah lebih jauh

terutama dalam kemampuan media untuk memastikan sasaran akan membaca

keseluruhan infomasi yang diberikan, dan kemampuan untuk mempermudah

peluang reinformasi pesan.

Seperti hasil yang didapatkan dari FGD bahwa informan membaca semua

pesan aborsi yang masuk pada handphone mereka, lepas dari informasi itu

menarik atau tidak, dan apakah informasi itu memiliki keterkaitan langsung

dengan mereka atau tidak. Rasa penasaran terhadap isi pesan SMS menjadi alasan

untuk ini, dan bagaimanapun juga selalu terdapat naluri untuk membaca setiap

pesan yang masuk pada handphone tanpa memandang isi pesan itu sendiri.

Selain itu terdapat kemungkinan bagi informan untuk menginformasikan

ulang (reinformasi) pesan aborsi yang telah diterimanya ke pada siapapun,

kapanpun, dan dimanapun, karena bagaimanapun juga pesan SMS yang masuk

pada handphone informan akan selalu ada sepanjang mereka tetap menggunakan

handphone miliknya dan tidak menghapus pesan tersebut. Beberapa informan

juga mengaku lebih mudah memahami pesan SMS aborsi karena kesederhanaan

dari pesan SMS itu sendiri, yang menjadikan mereka tidak terlalu membutuhkan

banyak waktu dan usaha untuk dapat memahaminya. Walaupun harus diakui

bahwa beberapa informan merasa akan jauh lebih mudah untuk memahami

informasi bila disertai ilustrasi gambar yang menunjukkan aborsi itu sendiri.

Pesan SMS aborsi juga mampu membangkitkan rasa ketertarikan untuk

mencari informasi lebih banyak mengenai aborsi melalui berbagai sumber media
136

lain. Setidaknya hal ini diketahui dari informan yang mengaku berusaha mencari

informasi aborsi secara lebih lengkap melalui media internet setelah menerima

pesan SMS aborsi selama penelitian berlangsung.

Pada sisi lain terdapat banyak permintaan dari informan terhadap

penginformasian pesan-pesan lain (selain aborsi) melalui media SMS kedepannya

nanti. Baik itu informasi dalam konteks kesehatan maupun non kesehatan, seperti

informasi siklus menstruasi, narkoba, dan juga dunia remaja. Banyaknya harapan

dari informan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan media SMS telah dapat

diterima dan diminati secara serius, walaupun hal ini masih merupakan sesuatu

yang relatif baru.

Dengan penggunaan SMS sebagai media promosi kesehatan mengenai

aborsi, diharapkan responden dapat memiliki pemahaman yang benar mengenai

masalah aborsi serta berbagai faktor yang ada didalamnya dalam perspektif

kesehatan. Dan dengan pemahaman yang benar diharapkan responden

kedepannya akan memiliki sikap dan perilaku yang bertanggung jawab terhadap

proses reproduksinya terkait aborsi.

6.4. Peran Komunikasi dalam Perubahan Perilaku

Komunikasi kesehatan adalah usaha yang sistematis untuk mempengaruhi

secara positif perilaku sasaran dengan menggunakan berbagai prinsip dan metode

komunikasi, baik komunikasi interpersonal maupun komunikasi massa. Tujuan

utama komunikasi kesehatan adalah perubahan perilaku yang sehat. Selanjutnya

dengan perilaku yang lebih sehat diharapkan akan berpengaruh terhadap

pencapaian derajat kesehatan yang optimal (Notoatmodjo, 2003).


137

Sejalan dengan hal di atas, bentuk komunikasi dalam studi penelitian ini

pada dasarnya merupakan representasi dari komunikasi kesehatan. Dengan

pemanfaatan media komunikasi (SMS) dalam proses transfer pesan (aborsi) dari

komunikator (peneliti) kepada komunikan (responden). Tujuan dari proses

komunikasi ini adalah peningkatan pemahaman dan perubahan sikap responden

(terukur) secara lebih positif terkait aborsi, dan diharapkan dengan pemahaman

yang baik dan sikap yang positif akan berpengaruh secara linier terhadap perilaku

responden (tidak terukur) dikemudian hari.

Dengan berlandaskan pada tujuan komunikasi kesehatan, secara prinsip

komunikasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah komunikasi persuasif dengan

tahapan penyampaian pesan seperti pada komunikasi informatif tetapi dengan

tujuan yang lebih jauh lagi, yaitu mengajak komunikan (responden) untuk

bertindak sesuai dengan isi pesan (aborsi). Komunikan diberi pandangan baru lalu

diajak untuk meneliti kembali kerangka acuan tindakan dan pola perilakunya

selama ini, kemudian dipengaruhi untuk merubah kerangka acuan tindakan dan

pola perilakunya sesuai dengan yang dikehendaki komunikator (Soehoet, 2003).

Keberhasilan proses komunikasi dengan menggunakan media SMS pada

penelitian ini diukur melalui tingkat efektifitas SMS yang dinilai dari sejauh mana

responden mampu memahami informasi aborsi serta sejauh mana informasi

tersebut dapat berpengaruh terhadap sikap responden terkait aborsi. Dalam

konteks ini komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempengaruhi pengetahuan

dan sikap responden terkait aborsi, atau dengan kata lain komunikasi digunakan

sebagai alat propaganda.


138

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Claude E. Shannon dan

Warren Weaver dalam Mathematical Theory of Communication, bahwa efektifitas

komunikasi dapat dihitung dan diukur secara matematis (akurasi transmisi pesan,

ketepatan pesan terhadap makna, dan efektifitas pesan dalam mempengaruhi

tindakan), sehingga komunikasi dapat dipakai sebagai alat kontrol. Karena pesan

komunikasi dapat didesain dan diukur efektifitasnya, maka dalam perspektif

propaganda komunikasi bisa digunakan sebagai alat manipulasi. Komunikasi

dapat mempengaruhi pola pikir dan membentuk nilai sesuai dengan apa yang

diharapkan, dan dapat dijadikan alat penyampai pesan yang efektif guna mencapai

tujuan tertentu sebagaimana diinginkan oleh pelaku komunikasi (Fikse, 1999).

Dalam studi ini hubungan antara komunikasi dan perilaku aborsi memang

tidak ikut diteliti. Namun dari pernyataan informan didapatkan relevansi yang

kuat antara faktor komunikasi dengan determinan perilaku aborsi (pengetahuan

dan sikap). Hasil indepth interview menunjukkan bahwa informasi aborsi yang

diterima informan selama ini lebih banyak berasal dari media televisi dan koran,

ini merupakan bentuk komunikasi massa yang lebih bersifat informatif daripada

edukatif. Namun bentuk komunikasi ini ternyata juga memiliki peran terhadap

pengetahuan dan sikap informan terkait aborsi. Juga didapatkan fakta bahwa

selama ini terdapat nilai-nilai etis yang menjadi batasan bagi informan untuk

dapat berkomunikasi dengan orang yang dianggap lebih paham tentang aborsi

(guru dan orang tua), ini tentu berpengaruh secara negatif terhadap pengetahuan

dan sikap informan. Artinya keberadaan faktor hambatan komunikasi juga

memegang peranan dalam pengetahuan dan sikap informan terkait aborsi.


139

Tidak dapat disangkal bahwa komunikasi memiliki peran yang cukup

berpengaruh terhadap proses perubahan perilaku, dengan beberapa tahapan yang

harus dilalui. Pada tahap awal fungsi komunikasi adalah penyampaian informasi

dari komunikator kepada komunikan, dan dengan tersampaikannya informasi

diharapkan komunikan mampu memahami makna atau maksud dari informasi

tersebut. Selanjutnya dengan pemahaman yang baik terhadap informasi

diharapkan terdapat perubahan sikap pada komunikan. Dan pada tahap akhir

dengan terjadinya perubahan sikap diharapkan akan berpengaruh terhadap

perubahan perilaku komunikan.

6.5. Pemanfaatan SMS sebagai Media Promosi Kesehatan

Menurut dokumen Healthy People promosi kesehatan didefinisikan sebagai

life style improvements of essentially health people. Promosi kesehatan adalah

proses untuk meningkatkan kesehatan hingga memperluas kemungkinan bagi

setiap pribadi (individu, keluarga, dan masyarakat), sektor swasta (para

profesional dan dunia usaha), serta publik (negara dan daerah) dalam mendukung

praktek-praktek kesehatan yang positif sehingga menjadi tata nilai dan budaya

baru (Simon Morton et al, 1995).

Promosi kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan kesehatan

nasional, serta merupakan sebuah proses komprehensif bidang sosial, politik,

ekonomi, dan budaya. Tidak hanya mencakup upaya peningkatan kemampuan dan

kesadaran masyarakat di bidang kesehatan saja, tetapi juga upaya yang bertujuan

merubah dan mengkondisikan lingkungan menjadi tempat tinggal yang ideal

penopang kehidupan dalam perspektif kesehatan, meningkatkan peran serta


140

masyarakat dalam hal kesehatan, reorientasi sistem pelayanan dan pembiayaan

kesehatan, memperluas kemitraan (networking) lintas sektor dalam program

kesehatan, serta peran strategis untuk ikut mempengaruhi arah kebijakan (pusat,

daerah, dan kelembagaan), agar setiap bentuk kebijakan yang dikeluarkan juga

mempertimbangkan kepentingan kesehatan (healthy public policy).

Salah satu strategi pembangunan kesehatan adalah peningkatan pengetahuan

dan kesadaran masyarakat dalam bidang kesehatan. Proses penyadaran kesehatan

merupakan proses yang panjang dan dinamis, dan tentu saja sebelum titik “sadar”

tercapai haruslah diawali dengan proses “tahu” terlebih dahulu. Proses pemaparan

pengetahuan yang terus-menerus dan berkelanjutan lambat laun akan membentuk

keasadaran, dan melalui tahap sadar inilah perubahan perilaku yang diharapkan

dapat terwujud.

Untuk menunjang strategi ini tentu saja dibutuhkan suatu bentuk media

promosi kesehatan yang efektif, fleksibel, efisien dalam pembiayaan dan

operasionalisasi, serta mampu menjangkau semua lapisan masyarakat. Atas dasar

ini pemanfaatan fasilitas SMS (Short Messaging Service) pada teknologi seluler

sebagai instrumen media promosi kesehatan layak untuk dijadikan alternatif

pilihan, dengan target utama peningkatan pengetahuan melalui penyebarluasan

informasi kesehatan pada masyarakat di semua lapisan.

6.5.1. Karaktersistik Pesan SMS

Berbeda dengan penggunaan media kesehatan lain, media SMS hanya

mampu menampung informasi kesehatan dalam bentuk pesan tekstual dengan

jumlah karakter yang terbatas (160 karakter pes SMS). Karena itu desain

informasi kesehatan melalui media SMS harus benar-benar memperhatikan aspek


141

kesederhanaan informasi tanpa harus mengurangi isi dan makna dari informasi itu

sendiri.

Namun tentu saja satu jenis informasi kesehatan secara lengkap dipastikan

tidak akan dapat ditampung seluruhnya dalam satu pesan teks SMS. Sehingga

diperlukan beberapa SMS agar keseluruhan informasi kesehatan tersebut dapat

terakomodir. Hal ini tidak menjadi masalah sepanjang pemberian informasi

melalui SMS kepada sasaran dapat berlangsung secara continue dan tidak terputus

sampai keseluruhan informasi terkirimkan.

perlu anda tahu bahwa harus anda tahu bahwa


tahukah anda bahwa aborsi yang dilakukan
keguguran (miscarriage)
aborsi tidaklah sama secara sadar dan sengaja,
atau aborsi spontan
dengan keguguran..., dengan bantuan atau
adalah aborsi yang terjadi
terdapat dua jenis aborsi, pengaruh dari pihak lain
dengan tidak sengaja dan
yaitu abortus spontan dan merupakan bentuk dari
tanpa ada campur tangan
abortus provokatus abortus provokatus
dari pihak lain

RedCell RedCell RedCell

Gambar 6.1. Contoh Desain Pesan SMS

Tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam teknis pemberian informasi

kesehatan melalui penggunaan media SMS, yaitu frekwensi pengiriman pesan,

durasi pengiriman pesan, dan redaksional penulisan pesan.

1. Frekwensi pengiriman pesan yang terlalu tinggi akan menimbulkan kejenuhan

pada sasaran, namun bila frekwensi pengiriman pesan terlalu rendah akan

menjadikan informasi kurang dapat diingat oleh sasaran.

2. Durasi pengiriman pesan yang terlalu panjang akan menjadikan informasi

kehilangan rangkaian sehingga pemaknaan informasi oleh sasaran dapat


142

berbeda dengan makna yang dimaksud, namun bila durasi pengiriman pesan

terlalu pendek akan menimbulkan kejenuhan pada sasaran.

3. Format redaksional penulisan pesan hendaknya dengan menggunakan bahasa

Indonesia yang baku dan sebisa mungkin menghindari masuknya kata-kata

asing, karena sasaran pesan bersifat acak dan berasal dari lapisan yang

beragam.

Juga terdapat beberapa karakteristik lain dari media SMS yang dapat

membedakan dengan media promosi kesehatan lain, yaitu :

1. Peluang informasi kesehatan untuk dibaca oleh sasaran lebih besar, karena

secara psikologis terdapat naluri dari seseorang untuk selalu membaca pesan

SMS yang masuk pada handphone milikinya tanpa memandang isi dari pesan

itu sendiri.

2. Kemudahan dalam penyimpanan informasi kesehatan, karena informasi itu

sendiri berbentuk teks digital yang dapat dengan mudah disimpan dalam

handpone. Hal ini tentu saja mempermudah sasaran untuk sewaktu-waktu

membaca kembali informasi yang telah diterima sebelumnya.

3. Kemudahan dalam reinformasi pesan melalui forwarding atau juga

ditunjukkan langsung pada pihak yang dikehendaki. Karena bagaimanapun

juga informasi kesehatan yang masuk pada handphone sasaran akan selalu

ikut terbawa dimanapun sasaran berada sepanjang tetap menggunakan

handphone dan tidak menghapus informasi kesehatan yang telah diterima.

6.5.2. Segmentasi dan Jangkauan Pesan

Menurut ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) di awal tahun

2009, angka penetrasi penggunaan seluler di Indonesia mencapai kisaran 140 juta
143

pengguna atau sekitar 58% dari total jumlah penduduk Indonesia yang

diperkirakan mencapai 240 juta jiwa, artinya 3 dari 4 orang menggunakan seluler

dalam kesehariannya. Di Indonesia sendiri telah berdiri 11 operator jaringan

seluler dengan lebih dari 100 ribu BTS yang memiliki coverage area sekitar 90%

wilayah tanah air, baik untuk jaringan seluler berbasis GSM maupun CDMA

(Ariyanti, 2009 online).

Berdasarkan data di atas, dalam hal sasaran maupun jangkauan pesan

(demografis dan geografis) pemanfaatan SMS pada seluler sebagai media dalam

promosi kesehatan di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Penggunaan

media SMS mampu menjangkau masyarakat pada hampir semua kelompok umur,

semua status kelas, dan semua lokasi di Indonesia.

Dalam implementasi SMS sebagai media promosi kesehatan ke depan,

segmentasi sasaran bersifat acak dan beragam dari semua lapisan masyarakat yang

menggunakan teknologi seluler dalam kesehariannya. Hal ini berbeda dengan

penggunaan media promosi kesehatan lain di mana sasaran dapat lebih spesifik

dan terkontrol. Dalam penggunaan media SMS sasaran tidak dapat terspesifikasi

atau terkontrol karena sasaran lebih bersifat majemuk tanpa ada kategorisasi.

Artinya provider kesehatan tidak dapat memilih pada kelompok sasaran

mana informasi kesehatan yang spesifik dapat diberikan, karena provider

kesehatan tidak mungkin melakukan pendataan terhadap setiap nomor handphone

sasaran setiap kali melaksanakan kegiatan promosi kesehatan untuk setiap jenis

permasalahan kesehatan.

Dalam hal sasaran, penggunaan media SMS lebih memiliki peran informatif

seperti pada media komunikasi massa lain, misalnya televisi atau koran. Namun
144

dalam hal content informasi, penggunaan media SMS tetap memiliki peran

edukatif. Dengan filosofi dasar, bahwa penyebarluasan informasi kesehatan pada

semua lapisan kelompok masyarakat tanpa memandang apakah informasi

kesehatan tersebut memiliki korelasi langsung atau tidak, dan memiliki tujuan

utama untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap

berbagai permasalahan kesehatan yang ada.

Harus dipahami bahwa segmentasi informasi dalam kegiatan promosi

kesehatan pada dasarnya bukan hanya pada sasaran yang memiliki kepentingan

langsung terhadap informasi kesehatan. Artinya setiap individu berhak untuk

menerima berbagai jenis informasi kesehatan walaupun informasi tersebut tidak

memiliki keterkaitan langsung dengan dirinya. Individu diharapkan mampu

menerima dan memahami informasi kesehatan yang didapat untuk digunakan

sewaktu-waktu ketika terdapat kondisi yang memungkinkan, juga diharapkan

individu akan mampu menyebarkan informasi kesehatan yang didapat pada

individu lain (reinformation) yang lebih membutuhkan informasi tersebut. Dalam

konteks reinformation ini sasaran tidak hanya dipandang sebagai target promosi

kesehatan, melainkan juga sebagai agen-agen promosi kesehatan.

6.5.3. Pembiayaan Makro

Dalam hal pembiayaan, penggunaan SMS sebagai media promosi kesehatan

secara makro relatif lebih murah dibandingkan penggunaan media promosi

kesehatan lainnya. Terlebih bila dikaitkan dengan jumlah dan jangkauan sasaran

yang dapat di capai oleh media SMS (teknologi seluler).

Terdapat tiga aspek penilaian efisiensi beban pembiayaan untuk

pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan, yaitu :


145

1. SDM

Konsep dan materi informasi kesehatan didesain khusus oleh tenaga promosi

kesehatan dalam naungan Departemen Kesehatan RI. Untuk desain konsep dan

materi informasi ini tidak dibutuhkan jumlah tenaga promosi kesehatan (SDM)

yang terlalu besar. Minimnya pemakaian SDM secara linier akan berpengaruh

terhadap penekanan biaya operasional program promosi kesehatan.

Selanjutnya untuk pendistribusian informasi kesehatan melalui media SMS

kepada masyarakat khususnya pengguna jasa layanan seluler, dilaksanakan

sepenuhnya dalam tanggung jawab opertaor penyedia jaringan di bawah

pengawasan Departemen Komunikasi dan Informasi RI.

2. Teknologi

Jaringan seluler pada dasarnya bekerja dengan prinsip teknologi gelombang

radio yang mampu membagi suatu area dalam beberapa sel kecil. Dengan

kemampuan membagi area dalam beberapa sel kecil maka frekwensi sinyal

dapat meluas hingga mencapai semua bagian pada suatu area tertentu, sehingga

dapat digunakan secara bersamaan secara simultan tanpa jeda dan tanpa

terputus. Jaringan ini beroperasi dengan penggunaan ulang dari frekwensi

(bandwidth) yang ada, dan secara teknis frekwensi tersebut dihasilkan oleh

BTS (Base Transceiver Station) (Sistem..., 2000 online).

Teknologi seluler menggunakan frekwensi gelombang radio, tentu saja hal ini

berbeda dengan telepon rumah yang masih menggunakan kabel sebagai

penghubung. Artinya operator jaringan seluler hanya membutuhkan satu

frekwensi melalui BTS untuk melayani semua pengguna layanan pada area

yang sama. Jadi berapapun jumlah pengguna jasa suatu operator jaringan
146

dalam satu area jangkauan, tidak akan terjadi pembengkakan biaya operasional

yang berarti atau dapat dikatakan constant cost at any use.

Dalam komunikasi melalui SMS terdapat sistem yang disebut SMSC (Short

Messaging Service Center), yaitu sebuah sistem yang mendukung distribusi

pesan teks dalam jaringan. SMSC sendiri merupakan pusat aliran pesan SMS

(Traynor et al, 2005).

Saat ini setiap operator jaringan seluler yang beroperasi di wilayah Indonesia

telah memiliki unit SMSC dalam jaringannya untuk menfasilitasi layanan

pesan teks SMS bagi pengguna. Pemanfaatan SMS sebagai media promosi

kesehatan tentu saja juga bekerja dalam sistem jaringan seperti diungkapkan

sebelumnya. Namun dengan beban operasional yang lebih murah karena sifat

pesan SMS dalam promosi kesehatan ini adalah one way SMS (provider to

customer) dalam satu operator jaringan (intra operator).

dua arah intra dan antar operator

Pengguna 1 Operator X Pengguna 2


SMS SMS

Operator Y Pengguna 3
SMS
satu arah intra operator
SMS SMS
Pengguna 1 Operator X Pengguna 2

SMS SMS
Pengguna 3 Operator Y Pengguna 4

Bagan 6.3. Jalur Distribusi Pesan SMS

Setiap operator seluler di Indonesia cenderung menerapkan pola tarif layanan

dengan dua metode pentarifan, yaitu penerapan tarif variabel yang didasarkan
147

pada perhitungan jarak (zona), letak geografis, dan waktu penggunaan (peak

dan off peak), serta penerapan tarif flat yang memberlakukan tarif secara setara

untuk komunikasi pelanggan antar sesama operator. Terdapat banyak faktor

yang menjadi pertimbangan provider dalam penentuan tarif layanan, seperti

pola bisnis, strategi pasar, segmenting, positioning, dan targeting (Haryo, 2007

online).

Secara sederhana pola penetapan komponen tarif seluler di Indonesia dapat

dibedakan menjadi dua, yakni :

a. Tarif berdasarkan regulasi

Penetapan tarif oleh pemerintah dengan berdasar pada jenis layanan yang

disediakan, dan kemudian dilepas pada kebijakan operator. Pemerintah

hanya menetapkan batas maksimum dan minimum tarif layanan sebagai

bentuk pengendalian kompetisi pasar.

b. Tarif berdasarkan overhead cost

Komponen ini tidak diatur oleh pemerintah, tetapi diserahkan langsung pada

kebijakan operator, seperti biaya produksi, operasional, pemeliharaan,

penambahan jaringan, dan sebagainya. Komponen overhead cost tidak

bersifat transaparan karena merupakan rahasia perusahaan.

Komponen overhead cost menjadi kunci bagaimana maraknya perang tarif

antar penyedia jasa layanan seluler di Indonesia. Bahkan banyak operator

seluler memberikan tarif percakapan dan pengiriman pesan SMS dari 0,01

rupiah hingga gratis bagi para pelanggannya. Pasar, kompetisi, strategi bisnis,

atau penetapan subsidi silang mungkin bisa dijadikan penjelasan, namun

demikian tentu saja pihak provider seluler masih akan menetapkan tarif yang
148

rasional bagi jasa layanan mereka. Biaya overhead cost yang murah menjadi

alasan paling logis atas fenomena perang tarif antar operator seluler ini.

3. Sasaran

Sasaran program kesehatan dengan menggunakan SMS sebagai media promosi

akan terbebas dari segala bentuk beban pembiayaan, karena praktis hanya

menerima informasi kesehatan dalam bentuk pesan teks SMS yang dikirimkan

oleh provider jaringan yang mereka gunakan. Sasaran tidak harus mengakses

apapun, tidak harus datang kemanapun, atau harus menyediakan waktu

kapanpun hanya untuk mendapatkan informasi kesehatan. Sasaran hanya

menerima pesan SMS melalui handphone miliknya dimanapun mereka berada,

serta dapat membacanya kapanpun mereka mau. Tentu saja sasaran adalah

mereka yang notabene memiliki dan menggunakan fasilitas seluler, namun ini

tentu tidak menjadi suatu kendala yang berarti karena diketahui terdapat 140

juta nomer aktif dari berbagai provider jaringan yang tersebar pada 240 juta

penduduk Indonesia, secara matematis artinya 3 dari 4 penduduk Indonesia

menggunakan seluler dalam kesehariannya.

Selain itu informasi kesehatan yang didistribusikan dengan menggunakan

media SMS akan mampu menjangkau seluruh komponen masyarakat di hampir

seluruh pelosok tanah air yang berada dalam area jaringan seluler. Transfer

informasi kesehatan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat dengan

jangkauan yang sangat luas (jumlah dan jarak), dan hanya dilakukan melalui

satu pusat kendali.

Fleksibilitas distribusi informasi kesehatan bagi sasaran serta luas jangkauan

informasi kesehatan baik dalam jarak maupun jumlah, menjadi salah satu
149

alasan mengapa beban pembiayaan pada pemanfaatan SMS sebagai media

promosi kesehatan secara makro dikatakan lebih murah.

6.5.4. Posisi SMS terhadap Media Konvensional

Dalam hubungannya dengan media promosi kesehatan lain, media SMS

lebih memiliki fungsi sebagai media penunjang penggunaan media promosi

kesehatan yang telah ada. Di mana untuk bentuk informasi kesehatan yang

bersifat umum, bagi sasaran yang juga lebih bersifat umum (khalayak) dapat

diakomodir oleh pemanfaatan media SMS. Sedangkan untuk informasi kesehatan

yang lebih bersifat spesifik, bagi sasaran pada kelompok yang spesifik dapat

diakomodir oleh penggunaan media promosi kesehatan lain.

Beberapa media informasi yang umum digunakan dalam kegiatan promosi

kesehatan (direct approach) di Indonesia, antara lain leaflet, booklet, poster,

lembar balik, buku saku, slide show dan film strip. Sementara untuk pemanfaatan

saluran komunikasi publik sebagai media informasi kesehatan dengan jangkauan

yang lebih luas, diantaranya adalah media internet, televisi, radio, tabloid, dan

koran. Walaupun beberapa media yang terakhir disebutkan ini jarang sekali

dimanfaatkan.

Saat ini kegiatan promosi kesehatan sendiri lebih menggunakan prinsip

direct approach dan target oriented dalam kaitannya dengan sasaran. Hubungan

antara tenaga promotor kesehatan dengan masyarakat sasaran, serta seberapa

dekat keterkaitan informasi kesehatan yang diberikan dengan kebutuhan real

masyarakat sasaran menjadi kunci keberhasilan dalam paradigma ini. Dengan

paradigma seperti ini tidaklah heran bila media-media promosi kesehatan


150

konvensional seperti leaflet, poster, lembar balik, dan slide show lebih menjadi

pilihan dalam setiap pelaksanaan kegiatan promosi kesehatan.

Untuk program promosi kesehatan yang lebih bersifat holistik dan lebih

berorientasi pada penyebaran informasi kesehatan kepada khalayak umum dengan

pemanfaatan saluran-saluran informasi publik, terkesan kurang mendapat

perhatian. Berikut adalah karakteristik beberapa media informasi publik (mass

communication) yang juga dimanfaatkan dalam program promosi kesehatan.

1. Koran dan Tabloid

Media ini memiliki keunggulan di mana terdapat jaminan untuk tebit setiap

hari atau minimal setiap minggu, dan bila dimanfaatkan secara optimal sebagai

media promosi kesehatan, hasilnya tentu akan lebih baik paling tidak dalam

pengertian frekwentif. Informasi kesehatan juga bisa disimpan dan dapat

diakses kembali sewaktu-waktu.

Namun masih dijumpai adanya kendala untuk pemanfaatan media jenis ini,

salah satunya adalah biaya pemanfaatan space media yang relatif tinggi. Dan

seandainya permasalahan biaya ini dapat diatasi dan juga terdapat jaminan

bahwa media ini akan memuat informasi kesehatan setiap hari, hasilnya belum

tentu optimal. Tidak semua lapisan masyarakat secara continue mengkonsumsi

koran dan tabloid, biaya berlangganan yang cukup mahal serta budaya baca

yang masih rendah menjadi alasan utama kelemahan media ini.

2. Radio dan Televisi

Dalam banyak hal televisi terlihat lebih menjanjikan daripada radio, terutama

untuk kemampuannya dalam menghasilkan gambar dan suara. Televisi sebagai

media audio visual tentu saja jauh lebih informatif dan lebih menarik dalam
151

penyampaian informasi kesehatan, dengan jangkauan yang relatif lebih luas

dan beragam. Namun sangat disayangkan frekwensi tayang iklan layanan

kesehatan masyarakat pada media ini sangat kurang, dan tentu saja lagi-lagi

yang menjadi kendala adalah faktor pembiayaan.

Pemanfaatan media televisi juga masih memiliki beberapa kelemahan. Tidak

semua masyarakat memiliki banyak waktu untuk menonton televisi,

kebanyakan dari mereka hanya menikmati televisi pada jam-jam tertentu atau

hanya sebatas acara-acara tertentu. Tidak ada jaminan bahwa informasi

kesehatan yang disampaikan melalui media ini akan dapat diterima oleh setiap

orang pada setiap waktu, frekwensi dan durasi tayang informasi akan sangat

dibatasi karena sifatnya yang non komersial dan tidak memiliki rating. Televisi

juga tidak fleksibel karena sifatnya yang kurang mobile, dan juga informasi

yang telah disiarkan tidak mungkin dapat diakses kembali sewaktu-waktu.

3. Internet

Media ini terbilang cukup baru bila dibandingkan dengan dua media

sebelumnya. Pemanfaatan media internet sebagai saluran informasi kesehatan

belakangan ini banyak dikembangkan. Media ini cukup efektif bila sasarannya

adalah kelompok terdidik yang dalam kesehariannya akrab dengan teknologi

internet. Informasi kesehatan yang dapat diakses oleh pengguna tidak sekedar

informasi di tingkat lokal saja tetapi juga informasi kesehatan yang berasal dari

belahan dunia lain, yang bisa dilakukan setiap saat.

Kendala dalam pemanfaatan teknologi internet sebagai media promosi

kesehatan adalah fakta bahwa tingkat penggunaan komputer dan fasilitas

internet di negara ini yang tidak terlalu tinggi. Media ini menuntut keaktifan
152

masyarakat untuk mendapatkan sendiri informasi yang dibutuhkan. Sedang

masyarakat sendiri cenderung pasif dan kurang memiliki kesadaran terhadap

informasi, terutama informasi kesehatan. Terlebih beban pembiayaan akses

informasi melalui media ini juga menjadi beban masyarakat pengguna.

Walaupun tidak semua media informasi disebutkan, namun ke tiga media di

atas cukup mewakili gambaran media saluran informasi publik terkait dengan

penggunaannya sebagai media promosi kesehatan di Indonesia.

Orientasi dari media informasi publik sendiri adalah jangkauan dan

segmentasi sasaran, accsessibility, aspek pembiayaan, serta frekwensi informasi

itu sendiri. Sementara untuk content informasi, terutama untuk kesesuaian antara

informasi dengan sasaran kurang menjadi perhatian, karena bidikan dari media

informasi publik adalah khalayak umum pada semua lapisan.

Senada dengan yang dikatakan oleh Straubharr, bahwa komunikasi kekinian

adalah komunikasi yang termediasi oleh berbagai bentuk media baru. Media baru

ini adalah mass media dengan perubahan konsep yang mengikuti perkembangan

teknologi digital. Tumbuhnya media komunikasi baru ini juga diikuti oleh

meningkatnya konsumsi informasi oleh masyarakat (Mufid, 2005).

Proses perkembangan komunikasi pada periode ini secara umum diikuti

oleh beberapa perubahan sudut pandang komunikasi :

a. Dari orientasi terhadap pesan menjadi orientasi terhadap penerima

b. Dari satu arah menjadi bolak-balik dan berputar (circular)

c. Dari statis menjadi process oriented

d. Dari penekanan makna informasi menjadi penekanan interpretasi informasi

e. Dari personal menjadi konteks hubungan organisasi, masyarakat, dan media


153

Media seluler (SMS) sendiri dapat difungsikan sebagai saluran informasi

publik terutama informasi kesehatan, untuk mendukung penggunaan media-media

promosi kesehatan lainnya. Seperti didiskusikan sebelumnya bahwa pemanfaatan

SMS sebagai media promosi kesehatan tidak dimaksudkan untuk menggantikan

fungsi media promosi kesehatan konvensional. Tetapi lebih difungsikan sebagai

complementary element bagi media promosi kesehatan lain dalam upaya

pencapaian pembangunan rakyat Indonesia seutuhnya.

6.6. Upaya Strategis Pemanfaatan Media SMS

Implementasi pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan ke depan

dibutuhkan strategi dan upaya yang komprehensif. Tidak hanya melibatkan

peranan petugas promosi kesehatan saja tetapi juga melibatkan pihak lain dalam

konteks networking. Selain itu juga dibutuhkan dukungan berupa regulasi dan

kebijakan publik yang mampu menjadi pilar utama dalam menjamin pelaksanaan

dan kesinambungan dari implementasi program itu sendiri.

Upaya implementasi ini mengakomodir tiga fungsi strategis promosi

kesehatan masyarakat di Indonesia, yaitu advokasi dan keterlibatan dalam

perumusan kebijakan kesehatan (Health Policy dan Healthy Public Policy) baik

ditingkat pusat maupun daerah, upaya networking dan kerjasama lintas sektoral

untuk pelaksanaan program kesehatan, serta pengorganisasian dan penyadaran

masyarakat dalam hal kesehatan melalui health education dan people

empowerment. Ke tiga fungsi ini merupakan bagian integral dan harus

dilaksanakan tanpa ada kepincangan pada tiap bagiannya.

Juga merupakan strategi yang diadopsi dari Piagam Ottawa November 1986

(Ottawa Charter for Health Promotion), dimana disebutkan bahwa secara


154

fundamental promosi kesehatan merupakan upaya yang mencakup lima fungsi

dasar, yaitu :

1. Build Healthy Public Policy

2. Create Supportive Environments

3. Develop Personal Skills

4. Reorient Health Services

5. Strengthen Community Actions

6.6.1. Kerjasama Lintas Sektoral

Implementasi pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan

dilaksanakan melalui upaya kerjasama lintas sektoral (networking) antara tenaga

promosi kesehatan dengan provider jaringan seluler baik berstatus BUMN, swasta

nasional, maupun swasta asing.

Ditinjau dari perspektif beban pembiayaan program, terdapat tiga alternatif

kerjasama yang bisa dilakukan oleh ke dua organisasi pelayanan publik ini.

1. Pembiayaan program dibebankan pada promotor kesehatan yang berlaku

sebagai client dari provider jaringan seluler, dengan cost yang mengikuti

mekanisme pasar.

2. Pembiayaan program dibebankan pada provider jaringan seluler sebagai

bentuk kepedulian sosial melalui mekanisme kebijakan perusahaan CSR

(Corporate Social Responbility).

3. Pembiayaan program dibebankan ke dua belah pihak, dimana untuk jenis, isi,

ide, dan materi informasi menjadi tanggung jawab promotor kesehatan,

sementara pengiriman informasi dengan penggunaan teknologi komunikasi

seluler (SMS) disediakan penuh oleh provider jaringan.


155

Anggaran kesehatan yang disediakan oleh pemerintah selama ini tidak

pernah mencapai 5% dari total APBN. Pada tahun 2008 alokasi dana kesehatan

sekitar 18,8 triliun (2,4% APBN) dengan 1,5 triliun dana bantuan asing, ini masih

jauh dibawah anggaran kesehatan yang diwajibkan UU sebesar 15% dari total

APBN (Afriatni, 2009 online). Dana ini dialokasikan untuk pembiayaan sektor

promotive dan curative, yang pada pelasanaannya sektor curative selalu

mendapatkan porsi lebih besar dari sektor promotive.

Atas pertimbangan minimnya dana kesehatan yang disediakan pemerintah

untuk promosi kesehatan, tentu saja alternatif bentuk kerjasama pertama akan sulit

direalisasikan Sementara untuk alternatif bentuk kerjasama ke dua masih mungkin

dilakukan, namun bentuk kerjasama dengan bergantung pada kebijakan CSR

(Corporate Social Responbility) tentu saja tidak akan dapat dipastikan

kesinambungannya, sedangkan keberhasilan promosi kesehatan sendiri menuntut

adanya kesinambungan program. Bentuk kerjasama ke tiga merupakan alternatif

paling ideal dalam implementasi pemanfaatan SMS sebagai media promosi

kesehatan ke depan. SecaraPemerintah


operasional bentukIndonesia
Republik kerjasama ini dapat digambarkan

melalui bagan berikut.


healthy public policy provider jaringan
sebagai penyedia
saluran teknologi
informasi dan
komunikasi
networking
Depkes RI Depkominfo RI
promotor kesehatan
sebagai desainer
konsepsi materi, isi,
gagasan dan issue desain pesan kesehatan, frekwensi
kesehatan pesan, waktu dan teknis penyampaian
pesan, serta sasaran pesan

Program Promosi Kesehatan


Berbasis Teknologi Informasi dan
Komunikasi (SMS pada Seluler)

penggunaan teknologi media


komunikasi dan informasi seluler
sebagai instrumen penyampaian
pesan promosi kesehatan

Masyarakat Pengguna Seluler


156

Bagan 6.4. Bentuk Networking dalam Implementasi


Pemanfaatan SMS sebagai Media Promosi Kesehatan
Implementasi pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan ke depan

mensyaratkan adanya keterlibatan dari Departemen Kesehatan RI dan Departemen

Komunikasi dan Informasi RI dalam bentuk networking. Untuk menjamin

terlaksananya kerjasama serta menjamin kesinambungan dari implementasi

pelaksanaan program dibutuhkan sebuah regulasi yang dikeluarkan oleh

pemerintah pusat (Healthy Public Policy).

6.6.2. Regulasi dan Kebijakan Publik

Regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat sebagai

dasar hukum bagi implentasi pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan

tentu saja tidak secara eksklusif diperuntukkan bagi sektor kesehatan saja, atau

hanya berlaku sebatas pada peranan provider jaringan seluler. Namun secara luas

harus memuat tentang peranan provider jasa komunikasi dan informasi (cetak dan

elektronik) di Indonesia baik bestatus BUMN, swasta nasional, maupun swasta

asing terhadap penyediaan layanan informasi publik sebagai kewajiban yang

mengikat secara hukum.

Pertimbangan ini didasarkan pada asumsi bahwa selama ini kontribusi

organisasi-organisasi komersial penyedia jasa layanan komunikasi dan informasi


157

di Indonesia hanya sebatas sebagai penyumbang pendapatan negara. Ke depan

nanti pemerintah harus mampu memanfaatkan kontribusi organisasi-organisasi

komersial ini lebih dari sekedar kontribusi terhadap pendapatan negara dalam

bentuk pajak, melainkan juga pemanfaatan sebagian dari produk dan jasa layanan

mereka untuk kepentingan publik (free cost).

Bentuk regulasi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah ini secara

ideal merupakan peraturan setingkat UU, hal ini ditujukan untuk menjamin

kekuatan hukum dalam pelaksanaan jangka panjang. Kebijakan ini sendiri secara

garis besar harus memuat tentang :

1. Kewajiban bagi semua organisasi penyelenggara jasa telekomunikasi dan

informasi di Indonesia untuk berperan aktif terhadap kepentingan publik.

2. Organisasi yang dimaksud baik bersatatus BUMN, swasta nasional, maupun

swasta asing.

3. Bentuk peran aktif di sini adalah penyediaan layanan informasi (free cost)

untuk kepentingan publik secara continue.

a. Koran, tabloid, dan media sejenis lainnya harus menyediakan kolom

khusus untuk memuat informasi publik.

b. Televisi, radio dan media sejenis lainnya harus menyediakan waktu tayang

khusus bagi pemberitaan informasi publik.

c. Provider jaringan seluler harus menyediakan fasiltas layanan mereka secara

khusus bagi penyiaran informasi publik.

4. Kepentingan publik yang dimaksud adalah kepentingan dalam bentuk

informasi non komersial baik yang bersifat informatif maupun edukatif.


158

5. Kuantitas layanan informasi yang disediakan untuk kepentingan publik

minimal 1% dari total produk atau jasa layanan yang dihasilkan.

6. Frekwensi (waktu terbit) layanan informasi publik disesuaikan dengan waktu

operasi aktif dari masing-masing organisasi penyelenggara jasa

telekomunikasi dan informasi.

7. Implementasi layanan informasi publik dilaksanakan atas kerjasama dengan

badan-badan pemerintah terkait, dalam pengawasan Departemen Komunikasi

dan Informasi RI

8. Jenis dan materi informasi disediakan oleh badan-badan (government) terkait,

sesuai dengan tujuan yang ditujukan untuk kepentingan umum.

Tentu saja dibutuhkan usaha keras (advokasi) agar kebijakan ini dapat

dirumuskan oleh pemerintah pusat. Namun bukan berarti upaya ini mustahil

dilakukan, karena dalam UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

Perundang Undangan, terutama pada Pasal 5 disebutkan bahwa masyarakat

memiliki hak untuk ikut andil dalam merumuskan dan mempengaruhi kebijakan

publik baik di tingkat pusat maupun daerah melalui ketentuan-ketentuan yang

diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) atau Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

“...masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis


dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang
undang dan rancangan peraturan daerah...” (Pasal 53, UU No. 10
Tahun 2004).

Untuk memperkuat daya dorong dalam upaya advokasi pemanfaatan saluran

komunikasi dan informasi publik ini, dapat dilakukan dengan memanfaatkan

peran KKP (Koalisi Kebijakan Partisipatif). Yaitu sebuah wadah organisasi tingkat

nasional yang memiliki visi untuk menjadi kendaraan advokasi publik, sebagai
159

perwujudan hak partisipasi masyarakat sipil dalam penyusunan kebijakan di

Indonesia baik ditingkat pusat maupun daerah (Zen dkk, 2005).

Secara garis besar keseluruhan rangkaian di atas merupakan bagian upaya

strategis peningkatan derajat kesehatan rakyat. Dan dalam terminologi negara

kesejahteraan (wellfare state) hal ini merupakan filosofi dasar dari pemenuhan

hak-hak dasar rakyat terkait posisi negara dan warga negara, dengan hasil akhir

yang diharapkan tentu saja adalah pencapaian derajat kesehatan rakyat Indonesia

yang optimal.

People’s Right as a Citizen

Optimal Health Degree

Education
partnership
health policy

Environment

Legal Formal Organization


Curative Rehabilitative
Approach Information and
healthy public policy
(Private and Public)

Communication

networking
Judicial and Law

Industry and
Preventive Promotive Technology
Approach
Agriculture

Other Leading Sector

Economical Political Civil Social Cultural


Right Right Right Right Right

State Role (Government Function)


160

Bagan 6.5. Health Policy dan Healthy Public Policy

1. People’s Right as a Citizen

Kesehatan sebagai hak warga negara, dan upaya pemenuhannya merupakan

kewajiban negara melalui regulasi kebijakan dan instrumen kelembagaan.

2. Legal Formal Organization (Private and Public)

Upaya pencapaian derajat kesehatan rakyat yang optimal difasilitasi oleh dua

kutub kelembagaan (organizational) baik itu public ataupun private, yaitu

lembaga organisasi kesehatan dan lembaga organisasi non kesehatan. Kedua

bidang kelembagaan ini harus memiliki kemampuan untuk melakukan

networking secara solid dan berkesinambungan.

3. State Role (Government Function)

Pemerintah harus mampu memenuhi dan membangun lima pondasi utama

kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka wellfare state. Ke lima hal

tersebut merupakan implementasi hak dasar warga negara yang pemenuhannya

menjadi syarat utama pencapaian derajat kesehatan rakyat yang optimal. Lima

pondasi hak dasar ini adalah Economical Right, Political Right, Civil Right,

Social Right, dan Cultural Right.

4. Dalam tujuan pencapaian derajat kesehatan rakyat yang optimal, pemerintah

dapat mengeluarkan regulasi dan kebijakan kesehatan (Health Policy dan

Healthy Public Policy), serta melakukan pengawasan dan intervensi pada

semua sektor baik kelembagaan maupun non kelembagaan (public dan

private).
161

a. Kebijakan kesehatan (Health Policy), untuk semua hal yang terkait

langsung dengan bidang kesehatan termasuk didalamnya manajemen

pelayanan kesehatan.

b. Kebijakan berorientasi kesehatan (Healthy Public Policy), untuk hal-hal

yang terkait secara tidak langsung terhadap bidang kesehatan, namun

memiliki relevansi dan pengaruh cukup besar terhadap aspek kesehatan.

BAB 7

PENUTUP

Dari hasil penelitian berjudul “Pemanfaatan SMS pada Seluler sebagai

Media Promosi Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan dan

Perubahan Sikap Remaja mengenai Aborsi” ini, terdapat beberapa kesimpulan

dan saran yang dapat diberikan.

7.1. Kesimpulan

1. Efektifitas pemanfaatan SMS pada teknologi seluler sebagai media promosi

kesehatan :

a. Media SMS terbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa

(SMPN 26 Surabaya) terkait masalah aborsi.

b. Media SMS terbukti kurang efektif untuk mempengaruhi perubahan sikap

siswa (SMPN 26 Surabaya) terkait masalah aborsi.


162

2. Tanggapan siswa terhadap pemanfaatan SMS sebagai media promosi

kesehatan khususnya mengenai masalah aborsi :

a. Karakteristik SMS yang hanya menyajikan informasi dalam bentuk teks

dirasakan kurang menarik bagi siswa, terutama bila dibandingkan dengan

media promosi kesehatan lain yang berbasis gambar dan suara.

b. Distribusi informasi kesehatan melalui media SMS dapat diterima secara

positif oleh siswa, sepanjang frekwensi pengiriman pesan tidak terlalu

sering, jarak antar pengiriman pesan tidak terlalu dekat, dan layanan pesan

tidak dipungut biaya.

c. Terdapat harapan dari siswa untuk mendapatkan informasi kesehatan lain,

seperti informasi tentang siklus menstruasi dan informasi tentang narkoba

yang dikirimkan melalui SMS. Hal ini menunjukkan adanya tingkat

ekspetasi dan penerimaan yang cukup tinggi terhadap pemanfaatan SMS

sebagai media promosi kesehatan.

3. Selama ini program promosi kesehatan terkait masalah aborsi belum pernah

sampai kepada siswa, sehingga siswa hanya memiliki pemahaman yang

sempit mengenai aborsi serta bukan dalam sudut pandang kesehatan.

Pemahaman mengenai aborsi sendiri diterima oleh siswa melalui informasi

media televisi dan koran (non edukatif), dan tidak pernah didapatkan melalui

peran guru di sekolah atau peran orang tua di rumah.

4. Keterbatasan media SMS dalam menampung informasi kesehatan dengan

materi dalam jumlah besar, mensyaratkan desain pesan yang lebih sederhana

serta dapat ditampung dalam beberapa SMS yang didistribusikan secara

continue dan tidak terputus.


163

5. Melalui hasil penelitian didapatkan beberapa pembuktian teoritis, diantaranya

adalah :

a. Komunikasi terbukti mampu menjadi alat propaganda dalam

mempengaruhi perubahan (pengetahuan dan sikap) pada komunikan

(sasaran) sesuai dengan harapan komunikator (peneliti).

b. Pemberian informasi yang berulang-ulang dan tidak terputus selama kurun

waktu tertentu akan berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan.

c. Peningkatan pengetahuan tidak selalu berpengaruh secara linier terhadap

perubahan sikap.

6. Metodologi kuantitatif ideal digunakan untuk analisis kuantitas perubahan

pengetahuan dan sikap sasaran, namun masih perlu didukung oleh penggunaan

metodologi kualitatif untuk mengetahui bagaimana kualitas perubahan

pemahaman dan sikap itu sendiri, selain juga untuk mengetahui informasi lain

yang tidak mampu ditangkap oleh penggunaan metodologi kuantitatif.

7.2. Saran

1. Pemanfaatan SMS sebagai media promosi kesehatan harus dikaji ulang

melalui studi-studi lain dengan materi informasi dan sasaran yang berbeda,

dengan titik berat pada peranan media komunikasi untuk mempengaruhi

perubahan pengetahuan dan sikap dalam perspektif perilaku kesehatan.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam desain penelitian

lanjutan :
164

a. Penelitian dengan materi informasi kesehatan untuk bentuk perilaku yang

lebih konkrit dan disesuaikan dengan keseharian sasaran, seperti perilaku

merokok atau perilaku seksual dengan sasaran kelompok remaja.

b. Penelitian dengan intervensi berupa pemberian satu jenis informasi

kesehatan yang ditujukan pada kelompok sasaran yang beragam (status,

usia, dll), ini dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan tingkat perubahan

pengetahuan dan sikap dari tiap-tiap kelompok sasaran dengan pemberian

informasi yang sama.

c. Penelitian dengan waktu intervensi yang lebih lama, ini dilakukan untuk

memperkuat pengaruh perubahan terutama pada variabel sikap.

d. Penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar untuk memperkuat

validitas hasil studi.

4. Penguatan metodologi kualitatif untuk mendukung hasil analisis metodologi

kuantitatif, terutama dalam memperoleh gambaran pemahaman, sikap, dan

tanggapan sasaran terhadap obyek penelitian.

5. Untuk menjawab kekurangan media SMS (Short Messaging Service) terutama

pada informasi berbentuk teks yang cenderung kurang menarik, ke depan

dapat dipertimbangkan desain penelitian dengan intervensi pemberian

informasi kesehatan melalui media MMS (Multimedia Messaging Service)

yang mampu menampung informasi dalam bentuk gambar dan suara.


165

DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih (2009). http://www.antara.co.id. Persaingan pada Industri Telepon


Seluler di Indonesia. tanggal sitasi 20 April 2009

Afriatni, Ami (2009). http://www.tempointeraktif.com. Anggaran Kesehatan


Maksimal Belum Dapat Terpenuhi. tanggal sitasi 30 Juli 2009

Anonym (2002). http://www.aborsi.org. Statistik Aborsi. tanggal sitasi 20 April


2009

Anonym (2000). http://www.elektroindonesia.com. Sistem Jaringan PCS. tanggal


sitasi 08 April 2009

Anonym (2001). http://www.freep.com. US Gag Rule that Hurts Women


Woldwide. tanggal sitasi 20 April 2009

Anonym (2007). http://www.topix.com. Surabaya Pusat Pelacuran Terbesar di


Asia Tenggara. tanggal sitasi 25 Juni 2009

Ariyanti, Ratna (2009). http://www.operatorseluler.com. Pengguna Seluler Baru


Naik hingga 2 Juta Pelanggan. tanggal sitasi 08 April 2009
166

Arni, Muhammad (1995). Komunikasi Organisasi. Cetakan Dua. Penerbit Bumi


Aksara. Jakarta

Azwar, Saifudin (1995). Sikap Manusia. Cetakan Empat. Penerbit Liberty.


Yogyakarta

BKKBN (1998). Materi Pelatihan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR). Badan


Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Jakarta

Bloom, Benjamin (1979). Taxonomy of Educational Objectives. Longman Group.


London

BPS (2006). http://www.bps.go.id. Indonesia dalam Statistik. tanggal sitasi 20


April 2009

Dahar, RW (1989). Teori Belajar. Edisi I. Penerbit Erlangga. Jakarta

Dyatmika (2008). http://www.aborsi.org. Seks, Remaja, dan Aborsi. tanggal sitasi


25 Juni 2009

Ekotama, Pudjiarto. Widiartana (2001). Abortus Provocatus bagi Korban


Perkosaan (Viktimologi, Kriminilogi, dan Hukum Pidana). Universitas
Atmajaya. Yogyakarta

Encarta Encyclopedia 2006 Premium DVD Edition. Cellular Phone. Microsoft


Coorporation. USA

Faro, Sebastian. Pearlman, Mark (1992). Infectious and Abortion. Eldsevier


Science Publishing. New York

Fikse, John (1999). Introduction to Communication Study. 2nd Edition. Guernsey


Press Co Ltd. London

Hamzah, Amir. (1991). Media Audio Visual untuk Pengajaran, Penerangan, dan
Penyuluhan. Penerbit PT Gramedia. Jakarta

Haryo (2007). http://www.kuliseluler.com. Analisis Tarif Seluler. tanggal sitasi 25


Juni 2009

Hilman, Anshori (2008). http://www.indoforum.org. Dasar Teknologi Komunikasi


Telepon Seluler. tanggal sitasi 08 April 2009
167

Green, Lawrence W (1980). Health Education Planning, A Diagnostic Approach.


Mayfield Publishing Co. California

Gunarsa (2003). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. PT BPK Gunung


Mulya. Jakarta

Jackson, Debby (2000). http://www.cnn.com. Abortion Rhetoric Doesn’t Help.


tanggal sitasi 20 April 2009

Kartono, Muhammad (1998). Kontradiksi dalam Kesehatan Reproduksi. Pustaka


Sinar Harapan. Jakarta

Koblinsky, Marge. Timyan, Judith. Gray, Jill (1993). Kesehatan Wanita (Sebuah
Perspektif Global). Gajahmada University Press. Yogyakarta

Mufid, Muhammad (2005). Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. Cetakan


Pertama. Prenada Media. Jakarta
Mulyana, Deddy (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit Gramedia
Media. Jakarta

Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.


Cetakan Dua. PT Rineka Cipta. Jakarta

Nurasa (2009). http://www.scribd.com. HANDPHONE (Telepon Seluler). tanggal


sitasi 25 Juni 2009

Ozzy (2007). http://www.kesepro.info. Aborsi di Indonesia. tanggal sitasi 20


April 2009

Pritchard, JA. Gant, NF (1991). Obstetric Williams. Airlangga University Press.


Surabaya

Rizal (2008). http://www.ilmusejarah.com. Telepon Seluler di Indonesia. tanggal


sitasi 08 April 2009

Saifudin, AB (2000). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta

Sarwono, Solita (2003). Psikologi Remaja. Rajawali Pers. Jakarta

Sedgh, Gilda. Ball, Haley (2008). http://www.guttmacher.org. Aborsi di


Indonesia. tanggal sitasi 20 April 2009
168

Sheriff, Ray. Hu, Fun (2001). Mobile Satelite Communication Networks. John
Wiley & Sons. Bradford

Simon Morton, Bruce. Greene, Walter H. Goetlieb, Nell (1995). Introduction to


Health Education and Health Promotion. Waveland Press Inc. USA

Soehoet, Hoeta (2003). Media Komunikasi. Yayasan Kampus Tercinta II SIP.


Jakarta

Supono (2006). http://www.indowebster.web.id. Sejarah Telepon Seluler. tanggal


sitasi 25 Juni 2009

Suryabrata, Sumadi (1989). Psikologi Pendidikan. Edisi IV. Penerbit Rajawali.


Jakarta

Syafwin, Sandra. Hardiantina, Ratih. Awaliyah, Siti (2007). GSM Security.


Fakutas Teknik Informatika. Institut Teknologi Bandung
Traynor, Patrick. Enck, William. La Porta, Thomas (2005). Exploiting Open
Functionality in SMS Capable Cellular Network. Pennsylvania University.
USA

Uchajana, Onong (2003). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Cetakan Tiga. PT
Citra Aditya Bakti. Bandung

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2004. Pembentukan


Peraturan Perundang Undangan. Sekretariat Kabinet RI. Jakarta

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992. Kesehatan.


Sekretariat Kabinet RI. Jakarta

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2007. Anggaran


Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2008. Sekretariat Kabinet
RI. Jakarta

Widjanarko (1999). Seksualitas Remaja. Pusat Penelitian Kependudukan.


Universitas Gajahmada. Yogyakarta

Wijono, Djoko (2007). Paradigma dan Metodologi Penelitian Kesehatan. CV


Duta Prima Airlangga. Surabaya

Yearry (2008). http://www.comminit.com. Information of the Mathematical


Theory of Communication. tanggal sitasi 25 Juni 2009
169

Yearry (2008). http://www.comminit.com. Mathematical Theory of Shannon &


Weaver. tanggal sitasi 25 Juni 2009

Zaenal, Achmad (2006). http://www.antara.co.id. Fenomena Gunung Es itu


Bernama Aborsi. tanggal sitasi 20 April 2009

Zen, Patra. Santoso (2005). Refleksi dan Penyusunan Starategi Mewujudkan


Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Peraturan Perundang
Undangan. Sekertariat Nasional KKP. Jakarta

By :
Eko Teguh Pribadi, 2008
red_camarade@yahoo.co.id
031 71440055 or 081 75124748