Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO A BLOK 5

Kelompok Tutor

: L9 : dr. Erial Bahar

PENDIDIKAN DOKTER UMUM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA PALEMBANG 2013


0|Tutorial blok 5

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat ridho dan karunia-Nya laporan tutorial Skenario B Blok 5 ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Laporan ini berisi hasil seluruh kegiatan tutorial blok 4 dengan membahas skenario B. Di sini kami membahas sebuah kasus yang kemudian dipecahkan secara kelompok berdasarkan sistematikanya mulai dari klarifikasi istilah, identifikasi masalah, menganalisis, meninjau ulang dan menyusun keterkaitan antar masalah, serta mengidentifikasi topik pembelajaran. Dalam dinamika kelompok ini pula ditunjuk moderator serta notulis. Bahan laporan ini kami dapatkan dari hasil diskusi antar anggota kelompok, teks book, media internet, dan bahan ajar dari dosen-dosen pembimbing. Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Erial bahar selaku tutor kelompok 9 yang telah membimbing kami semua dalam pelaksanaan tutorial kali ini. Selain itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu tersusunnya laporan tutorial ini. Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, untuk itu sumbangan pemikiran dan masukan dari semua pihak sangat kami harapkan agar di lain kesempatan laporan tutorial ini akan menjadi lebih baik. Semoga laporan tutorial ini bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Palembang, 9 Januari 2013

Tim Penyusun

1|Tutorial blok 5

DAFTAR ISI
Kata Pengantar 1 Daftar Isi . 2 BAB I : Pendahuluan 1.1 1.2 BAB II Latar Belakang . 3 Maksud dan Tujuan . 3 Data Tutorial...... 4 Skenario ..... 4 Paparan ......................... 5 I. II. III. IV. V. VI. VII. Klarifikasi Istilah. ............. 5 Identifikasi Masalah........... 5 Analisis Masalah .................................. 6 Keterkaitan Antar Masalah........................................... 25 Learning Issue ...................................................................... 25 Sintesis Masalah.................................................................... 26 Kerangka Konsep ................................................................. 44

: Pembahasan 2.1 2.2 2.3

VIII. Daftar Pustaka........................................................................45

2|Tutorial blok 5

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Blok Anatomi dan histologi adalah blok kelima pada semester 1 dari Kurikulum Bebasis Kompetensi (KBK) Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus yang memaparkan kasus mengenai Aston yang mengalami dislokasi sendi dan berkaitan dengan posisi anatomis bahu dan selanjutnya akan dijelaskan pada laporan ini.

1.2 Maksud dan Tujuan Adapun maksud dan tujuan dari materi praktikum tutorial ini, yaitu: 1. Untuk memenuhi salah satu unsur dari penilaian Tutorial. 2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan pembelajaran diskusi kelompok. 3. Mampu memahami suatu kasus dan dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat.

2.2 Skenario Blok 5 Aston, pemuda 25 tahun, mengalmi cedera saat bermain sepak bola. Ia terdorong dan terpukul pada daerah bahu kanan dengan kuat. Ia mengeluhkan nyeri bahu yang hebat, dan lenfgn atas kanan meggatung ke bawah tubuhnya dengan posisi eksorotasi. Tidak nampak adanya fraktur, dan caput humerus tampak tumpang tindih dengan collum scapula. Dokter menyatakan bahwa Aston mengalami dislokasi pada sendi bahu.

3|Tutorial blok 5

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial Tutorial Skenario A Blok 5 PDU Reguler 2012 Tutor Moderator Sekretaris papan Sekretaris meja Anggota : dr. Erial Bahar : Devuandre Naziat (04121001061) : Rizkia Retno Dwi N. (04121001120) : Muhamad Arief RH (04121001090) : Alek Febrianka (04121001039) Citra Indah Sari (04121001089) Dhita Amanda (04121001046) Dina Fitria (04121001081) Febri Rahman (04121001057) Intan Chairrany (04121001078) Libna Shabrina (04121001080) M. Salman A. (04121001060) Suci Indah Sari (04121001065) Trikaya Cuddhi (04121001146) Zahro Badria (04121001111) Waktu : Senin, 7 Januari 2013 Rabu, 9 Januari 2013

4|Tutorial blok 5

2.3 Paparan I. Klarifikasi Istilah 1. Bahu 2. Eksorotasi 3. Nyeri : Pundak antara leher dan pangkal lengan : Perputaran ke arah lateral : Rasa yang menimbulkan penderitaan, disebabkan rangsangan pada ujung syaraf tertentu. 4. Fraktur 5. Dislokasi : Pemecahan suatu bagian terutama bagian tulang : Perpindahan/ pergeseran suatu tempat perenggangan persendian pada patah tulang 6. Caput humerus : Ujung yang membesar/ kutub utama pada humerus (tulang lengan atas) 7. Collum scapula 8. Tumpang tindih 9. Sendi : leher/bagian seperti leher pada scapula : Bersusun-susun / tindih menindih : Tempat penyatuan / sambungan diantara tulang yang memungkinkan pergerakan pada tulang.

II. Identifikasi Masalah

No 1

Masalah Aston, Laki-laki, 25 tahun mengalmi cedera saat bermain sepak bola

Konsen V

Ia terdorong dan terpukul pada daerah bahu kanan dengan kuat.

Ia mengeluhkan nyeri bahu yang hebat, dan lenagn atas kanan meggatung ke bawah tubuhnya dengan posisi eksorotasi

VV

4 a.

Tidak nampak adanya fraktur, dan caput humerus tampak tumpang tindih dengan collum scapula

VV

Diagnosis : Aston mengalami dislokasi pada sendi bahu.

VVV

5|Tutorial blok 5

III. Analisis Masalah

A. Aston didiagnosis mengalami dislokasi pada sendi bahu. 1. Apa yang menyebabkan dislokasi sendi bahu ? Dari segi Etiologi, Dislokasi disebabkan oleh: a. Cedera dalam olahraga yang biasanya menyebabkan dislokasi, seperti sepak bola dan hoki, serta olahraga yang beresiko jatuh, misalnya : terperosok

akibat bermain ski, senam, voli. Pemain basket dan pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari pemain lain. b. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga seperti benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor. c. Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin d. Patologis : terjadinya tearligament dan kapsul articuler yang merupakan kompenen vital penghubung tulang

Dari segi Patofisiologi, dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada posisi abduksi atau eksorotasi tangan secara kuat menumbuk tanah atau tempat keras. Biasanya sering pada olahraga yang melempar atau mengayunkan lengan. Humerus terdorong kedepan, merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi. Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur. Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio erekta dengan tangan mengarah ke posisi melipat keatas ; lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi di bawah karakoid. 90% dari kejadian dislokasi bahu merupakan dislokasi anterior, termasuk pula pada kasus ini, karena caput humerus akan lebih mudah mengarah ke depan daripada ke belakang. Pada ketika membahas suatu sendi jangan hanya terpaku pada range of movement. Contohnya pada sendi bahu yang ruang geraknya paling luas dibanding artikulasi lain pada tubuh dan juga merupakan sendi yang paling rentan terjadi dislokasi. Pada skenario dinyatakan bahwa penyebab dislokasi sendi bahu pada Aston adalah sebagai seorang pemain sepak bola ia mengalami cedera karena terdorong dan terpukul dengan kuat pada bagian bahunya. Hal ini menyatakan bahwa penyebab terjadinya dislokasi sendi bahu pada Aston adalah karena external violence.
6|Tutorial blok 5

2. Apa jenis sendi di bahu ? Bahu (regio deltoidea) adalah bagian yang meliputi lateral cranial dari

ekstremitas superior. Disini terdapat caput humeris yang merupakan bagian os humeris (tulang lengan atas), yang menempel dengan scapula (bagian clavicula) dan juga ada tulang clavicula. Sendi yang terdapat di bahu antara lain : a. sendi acromioclavicularis, terdapat antara acromion pada scapicula dengan ekstremitas acromilaris pada clavicula. b. Sendi sternoclavicularis, terdapat antara c. Sendi humeri, atau sendi bahu antara caput humeris dengan cavitas glenoidalis.

3. Bagaimana posisi anatomi normal pada sendi bahu ? Dalam anatomi manusia, tulang belikat (bahasa Inggris: scapula, shoulder blade, bahasa Latin: omo) adalah tulang yang menghubungkan tulang lengan

atas dan tulang selangka. Scapula membentuk bagian posterior dari gelang bahu. Berbentuk pipih dan seperti segitiga. Secara anatomis, memiliki dua permukaan (fascia), 3 pinggir (margo), dan 3 sudut (angulus). Scapula dorsal view (left):

Gambar 1 ANATOMY OF SCAPULA 1. Angulus superior 2. Angulus inferior


7|Tutorial blok 5

3. Angulus lateralis 4. Margo superior 5. Margo medialis 6. Margo lateralis 7. Spina scapulae 8. Fossa supraspinata 9. Incisura scapulae 10. Proc. Coracoideus 11. Acromion 12. Angulus acromialis 13. Cavitas glenoidalis 14. Colum scapulae 15. Tuberculum infraglenoidale 16. Fossa infraspinata

Scapula lateral view (left):

Gambar 2

1.Facies posterior 2. Facies costalis 3.. Acromion 4. Tuberculum supraglenoidale 5. Proc. Coracoideus
8|Tutorial blok 5

6. Cavitas glenoidalis 7. Tuberculum infraglenoidale 8. Margo lateralis Scapula ventral view (left):

Gambar 3

1. Angulus lateralis 2. Angulus inferior 3. Angulus superior 4. Cavitas glenoidalis 5. Facies articularis acromii 6. Acromion 7. Proc. Coracoideus 8. Incisura scapulae 9. Fossa subscapularis 10. Facies costais 11. Collum scapulae 12. Margo superior 13. Margo medialis 14. Margo lateralis

9|Tutorial blok 5

Humeri Kepala bonggol humerus (caput humeri) bersendi dengan cavitas glenoidales dari scapula. Penyambungan ini dikenal dengan sendi bahu yang memiliki jangkauan gerak yang luas. Pada persendian ini terdapat dua bursa yaitu pada bursa subacromialis dan bursa subscapularis. Bursa subacromialis membatasi otot supraspinatus dan otot deltoideus. Bursa subscapularis memisahkan fossa subscapularis dari tendon otot subscapularis. Otot rotator cuff membantu menstabilkan persendian ini.

Gambar 4

4. Bagaimana penaganan dislokasi sendi bahu ? Dislokasi merupakan keluarnya bonggol sendi (kepala) dari mangkok sendi . Bila hanya bergeser sedikit disebut subluksasi, namun apabila bergeser seluruhnya disebut dislokasi atau luksasio. Apabila seseorang menderita luksasio, pasien akan

10 | T u t o r i a l b l o k 5

merasakan nyeri yang amat sangat, sehingga biasanya pasien tidak mau menggerakan anggota badan tempat terjadinya luksasio tersebut.

Penanganan luksasio dilakukan agar memperbaiki posisi sendi atau tulang ke tempat awalnya, ini disebut reposisi. Reposisi harus dilakukan dengan cepat dan hati-hati. Apabiila tindakan reposisi tidak berhasil dilakukan jangan diulangi, karena dapat merusak jaringan lain yang berada disekitarnya. Selain itu, sebelumnya yang perlu diperhatikan ada atau tidak adanya fraktur. 1. Metode Stimson Metode ini sangat baik. Caranya penderita dibaringkan tertelungkup sambil bagian lengannya yang mengalami dislokasi, keluar dari tepi tempat tidur, menggantung ke bawah. Kemudian diberikan beban yang diikatkan pada lengan bawah dan pergelangan tangan, biasanya dengan dumbbell dengan berat tergantung dari kekuatan otot si penderita. Si penderita disuruh rileks untuk beberapa jam, kemudian bonggol sendi akan masuk dengan sendirinya. 2. Ketiak yang cedera ditekan dengan telapak kaki (tanpa sepatu). Setelah itu, lengan yang cedera ditarik sesuai dengan arah kedudukannya ketika itu. Cara menariknya pelan, namun semakin lama semaki kuat. Hal ini bertujuan untuk menghindari nyeri yang dapat mengakibatkan syok. Setelah ditarik secara hati-hati, kemudian lengan atas diputar ke luar menjauhi tubuh, hal ini sebaiknya dilakukan dengan posisi siku terlipat.

11 | T u t o r i a l b l o k 5

Pada dislokasi bahu ini perlu dilakukan pemeriksaan neurovaskular untuk meilhat cedera pada saraf ataupun vaskular. Pada luksasio glenohumerar, sering terjadi cedera pada cabang pleksus brakialis. Fungsi sensorik dari saraf aksilaris dapat diuji dengan menilai menususkan jarum di wilayah yang cedera. Fungsi saraf motorik radial lengan yang terkena dapat dinilai dengan memeriksa kekuatan ekstensi pergelangan tangan.

Suksesnya reposisi dilihat dari berkurangnya rasa nyeri, dan otot tidak mengalami spasme. Dalam melakukan reposisi ini operator dapat menggunakan kombinasi analgesik sistemik / relaksan otot / sedatif dan teknik atraumatic untuk membantu operator mencapai tujuan tersebut dan menghindari komplikasi. Sebagian besar cedera neurovaskular disebabkan oleh dislokasi sendiri, tetapi dapat pula disebabkan atau diperburuk oleh percobaan reposisi. Pemeriksaan neurovaskular harus
12 | T u t o r i a l b l o k 5

teliti, baik sebelum dan setelah reposisi penting untuk mendokumentasikan keberadaan dan perubahan dari cedera. Untuk mengurangi rasa nyeri dilakukan cara berikut ini :

Istirahat, tidak boleh ada pergerakan di daerah yang cedera. Pemberian es, bertujuan untuk mengurangi inflamasi.. Kurangi pembengkakan Elevasi, menempatkan di daerah yang lebih tinggi untuk mengurangi peradangan dan inflamasi. 5. Ciri-ciri penderita dislokasi sendi bahu ? Dislokasi sendi bahu sering ditemukan pada orang dewasa, jarang ditemukan pada anak-anak. Cedera pada bahu sering disebabkan karena lelah, tetapi sering juga terjadi pada pemain tenis, bulu tangkis, olahraga lempar dan berenang (internal violence/sebab-sebab yang berasal dari dalam). Cedera ini juga bisa disebabkan oleh external violence (sebab-sebab yang berasal dari luar), akibat body contact sports, misalnya : sepak bola, rugby dan lain-lain. Secara terperinci, penyebab dislokasi sendi bahu dibagi dalam dua jenis yaitu menurut etiologis dan patofisiologis.

6. Bagaimana kondisi bahu seseorang pasca mengalami dislokasi ? Dapat terjadi beberapa komplikasi saat dislokasi yang turut memengaruhi kondisi bahu yang terbagi menjadi komplikasi dini dan komplikasi belakangan. Komplikasi dini, yaitu : 1. Kerusakan nervus axillaris, Jika nervus axillaris cedera, dalam kasus ini terhimpit oleh caput humerus, maka pasien tidak dapat mengerutkan otot deltoid dan mungkin ada daerah kecil yang mati rasa pada kulit. Biasanya sembuh spontan setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. 2. Kerusakan pembuluh darah. Dapat terjadi saat trauma/saat traksi waktu

reposisi/karena tekanan humerus. 3. Fraktur-dislokasi. Tuberositas mayor bisa terlepas saat dislokasi. Nantinya akan masuk lagi ke tempatnya, sehingga tidak perlu terapi khusus, kalau tetap bergeser bisa ditempel dengan operasi.

13 | T u t o r i a l b l o k 5

Komplikasi belakangan, yaitu : 1. Kaku sendi ( Frozen shoulder ). Sendi yang terluka biasanya akan membuat penderita kesakitan saat menggerakkan bagian tubuhnya yang terluka tersebut, sehingga sendi akan mengalami imobilisasi. Imobilisasi yang lama akan menyebabkan persendian kaku. Dapat dilonggarkan lagi dengan beberapa exercise. 2. Diskokasi yang tak direduksi. Dapat terjadi jika pasien tidak sadar telah terjadi dislokasi / pasien sudah sangat tua. Waktu penyembuhan diusahakan tidak melewati 6 minggu, sebab apabila sudah lewat, dapat menyebabkan fraktur pada tulang / robeknya pembuluh darah/saraf. 3. Dislokasi rekuren. Dapat terjadi jika pengobatan awal tidak adekuat sehingga tetap terjadi dislokasi. Jika dislokasi anterior merobek kapsul bahu, perbaikannya spontan dan tidak berulang, namun apabila labrum glenoid ikut robek / kapsul lepas dari bagian depan leher glenoid, perbaikan tidak terjadi dan dislokasi sering berulang. Dislokasi rekuren dengan frekuensi yang tinggi memerlukan tindakan operasi.

B. Tidak nampak adanya fraktur, dan caput humerus tampak tumpang tindih dengan collum scapula

1. Bagaimana posisi normal Caput humeri dan Collum Scapulae ? Posisi normal caput humeri dan collum scapulae yaitu caput humeri berada pada cavitas glenoidea .

2. Bagaimana kondisi tulang yg dikategorikan mengalami fraktur ? Tulang yang mengalami fraktur adalah tulang yang mengalami patah karena benturan dan tegangan. Fraktur juga bisa disebabkan karena kondisi medis seperti osteoporosis, dan kanker tulang. Secara umum, fraktur dapat dibagi menjadi 2, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh. Tetapi apabila kulit di atasnya tertembus maka disebut fraktur terbuka, yang
14 | T u t o r i a l b l o k 5

memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah. Beberapa gejala terjadi fraktur adalah adanya nyeri lokal dan semakin bertambah bersamaan dengan gerakan, hilangnya fungsi anggota gerak dan persendian yang terdekat, terdapat perubahan bentuk (deformitas), nyeri tekan, nyeri ketok dan nyeri sumbu, krepitasi (tidak perlu selalu dibuktikan), gerakan-gerakan abnormal.

3. Penyebab terjadi tumpang tindih Caput Humeri & Collum Scapulae ? Adanya kekuatan yang kuat dari luar yang menghantam tepat dipersendian antara os.humerus dan os.scapula.

4. Bagaimana posisi tumpang tindih Caput Humeri dan Collum Scapulae ? Pada dislokasi ini, Kaput humerus terdorong kearah anterior dan menimbulkan avulsi kapsul sendi dan kartilago beserta periosteum labrum glenoidalis bagian anterior. Kaput humeri yang tergeser ke anterior dan agak kebawah sedikit tampak seperti tumpang tindih pada bagian collum scapula. Apabila diraba di bagian aksila, Kaput humeri akan terasa jelas. Berikut ini adalah gambar rontgen dari tulang yang mengalami dislokasi dalam keadaan caput humerus tumpang tindih dengan collum scapulae

15 | T u t o r i a l b l o k 5

C. Ia mengeluhkan nyeri bahu yang hebat, dan lenagn atas kanan meggatung ke bawah tubuhnya dengan posisi eksorotasi.

1. Bagaimana kondisi persyarafan pada bahu ? sebutkan syaraf yang mensyarafkannya! Bahu dipersyarafi oleh cabang dan daerah persarafan plexus brachialis. Saraf tersebut yaitu: Nervus dorsalis scapulae fungsi motoriknya pada M. Levator scapulae dan Mn. Rhomboidei. Nervus suprascapularis, fungsi motoriknya pada M. Supraspinatus, dan M. Infraspinatus. M.Supra spinatus berfungsi untuk abduksi lengan. Nn. Subscapulares, fungsi motoriknya M. Subscapularis (M. Teres Major). M.Subscapularis berfungsi untuk rotasi interna lengan atas. N. Subclavius, fungsi motoriknya pada M. Subclavius N. Axillaris, fungsi motoriknya pada M. Deltoideus dan M. Teres Minor. Fungsi sensoriknya pada kulit bahu. Fungsi dari M.Teres minor adalah rotasi eksternal lengan atas.

2. Apa penyebab nyeri bahu ? Secara umum, nyeri bahu disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: Stres/ tegang Posisi kepala yang tidak sejajar dengan postur tubuh pada saat duduk. Memegang telepon antara telinga dan bahu Membawa tas berat/ransel Tidur dengan punggung atau perut dan kepala yang berpaling ke satu sisi Kepala berpaling ke satu sisi untuk waktu yang lama Membungkuk ke depan saat bekerja Mengetik dengan keyboard komputer yang terlalu tinggi. Bekerja tanpa sandaran lengan dan berat lengan menggantung dari bahu Pada orang yg harus mengangkat beban berat,lengan harus diangkat sebatas atau melebihi tinggi akronion Pertambahan usia,mempengaruhi luas gerak sendi, yang disebabkan oleh perubahan posisi scapula.

16 | T u t o r i a l b l o k 5

Sedang ada masalah serius dengan bahu, seperti : Osteoarthritis, Rheumatoid Arthritis (RA), Post-Traumatic Arthritis, Tendinitis dan Bursitis, Frozen Shoulder (Adhesive Capsulitis).

Kegiatan setiap harinya yang melibatkan otot trapezius, seperti bermain biola, piano, backpacking, bersepeda,dan lain-lain.

3. Apa saja otot pada lengan bahu ? Epicondylus lateralis


Otot extensor carpi radialis brevis Otot extensor carpi ulnaris Otot extensor digiti minimi Otot extensor digitorum Otot supinator

Epicondylus medialis

Otot flexor carpi radialis Otot flexor carpi ulnaris Otot flexor digitorum superficialis Otot palmaris longus Otot pronator teres

Sulcus intertubercularis

Otot latissimus dorsi Otot pectoralis major Otot teres major

Tuberculum mayus dan tuberculum minus (Otot rotator cuff)


Otot infraspinatus Otot supraspinatus Otot teres minor Otot subscapularis

17 | T u t o r i a l b l o k 5

Lainnya

Otot anconeus Otot brachioradialis Otot coracobrachialis Otot extensor carpi radialis longus Otot deltoideus

Otot-otot yang melekat pada scapula:


Otot pectoralis minor Otot coracobrachialis Otot serratus anterior Otot triceps brachii (caput longus) Otot biceps brachii Otot subscapularis Otot rhomboideus major Otot rhomboideus minor Otot levator scapulae Otot trapezius Otot deltoideus Otot supraspinatus Otot infraspinatus Otot teres minor Otot teres major Otot latissimus dorsi (sedikit) Otot omohyoideus

4. Otot yg menderita nyeri? Kemungkinan otot yang menderita nyeri adalah otot-otot yang berada di sepanjang caput humeris yang melakukan gerakan eksorotasi, yaitu m. infraspinatus, teres mayor dan deltoid posterior. Beberapa otot tersebut termasuk dalam otot rotator cuff. Rotator Cuff. Otot-otot utama yang digunakan dalam hubungannya dengan sendi glenohumeral adalah kelompok yang dikenal sebagai otot manset rotator.

18 | T u t o r i a l b l o k 5

5. Bagaimana keadaan lengan pada posisi eksorotasi ? Gerakan eksorotasi pada sendi bahu merupakan salah satu kemampuan dari Articulatio Humeri. Pada posisi Eksorotasi, lengan atas berputar ke arah luar sekililing sumbu panjang tulang yang bersendi. Otot-otot yang berperan pada gerakan ini dilakukan oleh musculus infra spinatus, musculus teres minor dan serabut posterior musculus deltoideus. Posisi lengan sama dengan posisi anatomi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar berikut.

6. Bagaimana patofisiologi nyeri? Rasa nyeri timbul bila ada kerusakan jaringan, dan hal ini akan menyebabkan individu bereksi dengan cara memindahkan stimulus nyeri. a. Klasifikasi Nyeri Penggolongan nyeri yang sering digunakan adalah klasifikasi berdasarkan patofisiologi (nosiseptif vs neuropatik) ataupun berdasarkan durasinya (nyeri akut vs kronik). 1. Nosiseptik vs Neuropatik Berdasarkan patofisiologinya nyeri dibagi menjadi nyeri nosiseptik dan nyeri neuropatik. Nyeri nosiseptif adalah nyeri yang disebabkan oleh adanya stimuli noksius (trauma, penyakit atau proses radang). Diklasifikasikan menjadi nyeri viseral (berasal dari rangsangan pada organ viseral), nyeri somatik (berasal dari jaringan seperti kulit, otot, tulang atau sendi). Pada nyeri nosiseptik, system saraf nyeri

19 | T u t o r i a l b l o k 5

berfungsi secara normal, secara umum ada hubungan yang jelas antara persepsi dan intensitas stimuli dan nyerinya mengindikasikan kerusakan jaringan. Nyeri somatik superfisial digambarkan sebagai sensasi tajam dengan lokasi yang jelas, atau rasa terbakar. Nyeri somatik dalam digambarkan sebagai sensasi tumpul yang difus. Nyeri viseral digambarkan sebagai sensasi cramping dalam yang sering disertai nyeri alih (nyerinya pada daerah lain). Nyeri neuropatik adalah nyeri dengan impuls yang berasal dari adanya kerusakan atau disfungsi dari sistim saraf baik perifer atau pusat. Penyebabnya adalah trauma, radang, penyakit metabolik (diabetes mellitus, DM), infeksi (herpes zooster), tumor, toksin, dan penyakit neurologis primer. Dikategorikan berdasarkan sumber atau letak terjadinya gangguan utama yaitu sentral dan perifer. Dapat juga dibagi menjadi peripheral mononeuropathy dan polyneuropathy, deafferentation pain, sympathetically maintained pain, dan central pain. Nyeri neuropatik sering dikatakan nyeri yang patologis karena tidak jelas kerusakan organnya. Kondisi kronik dapat terjadi bila terjadi perubahan patofisiologis yang menetap setelah penyebab utama nyeri hilang. Nyeri neuropatik dapat bersifat terus menerus atau episodik dan digambarkan dalam banyak gambaran seperti rasa terbakar, tertusuk, shooting, seperti kejutan listrik, pukulan, remasan, spasme atau dingin. Beberapa hal yang mungkin berpengaruh pada terjadinya nyeri neuropatik yaitu sensitisasi perifer, timbulnya aktifitas listrik ektopik secara spontan, sensitisasi sentral, reorganisasi struktur, adanya proses disinhibisi sentral, dimana mekanisme inhibisi dari sentral yang normal menghilang, serta terjadinya gangguan pada koneksi neural, dimana serabut saraf membuat koneksi yang lebih luas dari yang normal.

2. Akut vs Kronik Nyeri akut diartikan sebagai pengalaman tidak menyenangkan yang kompleks berkaitan dengan sensorik, kognitif dan emosional yang berkaitan dengan trauma jaringan, proses penyakit, atau fungsi abnormal dari otot atau organ visera. Nyeri akut berperan sebagai alarm protektif terhadap cedera jaringan. Reflek protektif (reflek menjauhi sumber stimuli, spasme otot, dan respon autonom) sering mengikuti nyeri akut. Secara patofisiologi yang mendasari dapat berupa nyeri nosiseptif ataupun nyeri neuropatik. Nyeri kronik diartikan sebagai nyeri yang menetap melebihi proses yang terjadi akibat penyakitnya atau melebihi waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan, biasanya 1 atau 6 bulan setelah onset, dengan kesulitan ditemukannya patologi yang
20 | T u t o r i a l b l o k 5

dapat menjelaskan tentang adanya nyeri atau tentang mengapa nyeri tersebut masih dirasakan setelah proses penyembuhan selesai. Nyeri kronik juga diartikan sebagai nyeri yang menetap yang mengganggu tidur dan kehidupan sehari-hari, tidak memiliki fungsi protektif, serta menurunkan kesehatan dan fungsional seseorang. Penyebabnya bermacam-macam dan dipengaruhi oleh factor multidimensi, bahkan pada beberapa kasus dapat timbul secara de novo tanpa penyebab yang jelas. Nyeri kronik dapat berupa nyeri nosiseptif atau nyeri neuropatik ataupun keduanya.

B. Mekanisme Dasar Nyeri Mekanisme dasar terjadinya nyeri adalah proses nosisepsi. Nosisepsi adalah proses penyampaian informasi adanya stimuli noksius, di perifer, ke sistim saraf pusat. Rangsangan noksius adalah rangsangan yang berpotensi atau merupakan akibat terjadinya cedera jaringan, yang dapat berupa rangsangan mekanik, suhu dan kimia. Bagaimana informasi ini di terjemahkan sebagai nyeri melibatkan proses yang kompleks dan masih banyak yang belum dapat dijelaskan. Deskripsi makasnisme dasar terjadinya nyeri secara klasik dijelaskan dengan empat proses yaitu transduksi, transmisi, persepsi, dan modulasi.

Pengertian transduksi adalah proses konversi energi dari rangsangan noksius (suhu, mekanik, atau kimia) menjadi energi listrik (impuls saraf) oleh reseptor sensorik untuk nyeri (nosiseptor). Sedangkan transmisi yaitu proses penyampaian impuls saraf yang terjadi akibat adanya rangsangan di perifer ke pusat. Persepsi merupakan proses apresiasi atau pemahaman dari impuls saraf yang sampai ke SSP sebagai nyeri. Modulasi adalah proses pengaturan impuls yang dihantarkan, dapat terjadi di setiap tingkat, namun biasanya diartikan sebagai pengaturan yang dilakukan oleh otak terhadap proses di kornu dorsalis medulla spinalis.

D. Aston, Laki-laki, 25 tahun mengalmi cedera saat bermain sepak bola. Ia terdorong dan terpukul pada daerah bahu kanan dengan kuat. 1. Hubungan perkembangan tulang dengan usia dan jenis kelamin ? Proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6 7 minggu dan berlangsung sampai dewasa sekitar umur 30-35 tahun. Berikut adalah gambaran pembentukan tulang: Dari grafik, massa tulang mulai tumbuh sejak usia 0. Sampai usia 30-35 tahun (tergantung indvidu) pertembuhan tulang berhenti, dan tercapai

21 | T u t o r i a l b l o k 5

puncak massa tulang. Puncak massa tulang belum tentu bagus, tapi di umur itulah tercapai puncak massa tulang manusia. Bila dari awal proses pertumbuhan asupan kalsium selalu terjaga, maka tercapailah puncak massa tulang yang maksimal. Tapi bila dari awal pertumbuhan tidak terjaga asupan kalsium serta gizi yang seimbang, maka puncak massa tulang tidak masimal. Pada usia 0-30/35 tahun, disebut modeling tulang karena pada massa ini tercipta atau terbetuk model tulang seseorang. Sehingga lain orang, lain pula bentuk tulangnya. Pada usia 30-3 tahun, pertumbuhan tulang sudah selesai, disebut remodeling dimana modeling sudah selesai tinggal pergantian tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda. Secara alami, setelah pembetukan tulang selesai, maka akan terjadi penurunan massa tulang. Hal ini bisa dicegah dengan menjaga asupan kaslium setelah tercapainya ouncak massa tulang. Dengan supan kalsium 800-1200 mg per hari, puncak massa tulang ini bisa dipertahankan. Tujuannya adalah untuk mencegah penurunan massa tulang, dimana penurunan massa tulang ini akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan tulang, dan tulang akan mengalami osteoporosis. Osteoporosis lebih baik dicegah dengan cara asupan kalsium yang cukup setelah usia 30 atau 35 tahun. Dalam proses pembentukan tulang, tulang mengalami regenerasi, yaitu pergantian tulang-tulang yang sduah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda, proses ini berjalan seimbang sehingga terbentuk puncak massa tulang. Setelah terbentuk puncak massa tulang, tulang masih mengalami pergantian tulang yang sudah tua dengan tulang yang masih muda, tapi proses ini tidak berjalan seimbang dimana tulang yang diserap untuk diganti lebih banyak dari tulang yang akan menggantikan, maka terjadi penurunan massa tulang, dan bila keadaan ini berjalan terus menerus, maka akan terjadi osteoporosis. Proses terbentuknya tulang terjadi dengan dua cara, a) Osifikasi intra membrane Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, contohnya pada proses pembentukan tulang pipih. Mesenkim merupakan bagian dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal langsung dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intrammebrane.

22 | T u t o r i a l b l o k 5

b) Osifikasi endokondral Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim

berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago (jaringan rawan) lalu berubah menjadi jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggungjawab pada pembentukan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang (osteoblas) aktif membelah dan muncul di bagian tengah dari tulang rawan yang disbeut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit, sel-sel tulang dewasa ini tertanam dengan kuat pada mtariks tulang. Pembentukan tulang rawan terjadi segera setelah terbentuk tulang rawan (kartilago) pembuluh darah menembus perichondrium di bagian tengah tulang rawan merangsang sel-sel perichondrium, osteoblas, lapisan tulang kompakta perichondrium, periosteum. Bersamaan dengan proses tersebut, pada bagian dalam tulang rawan di daerah diafisis yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH (menjadi basa) akibatnya kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebbakan kematian pada sel-sel tulang rawan ini. Kemudian akan terjadi degenerasi (kemunduran bentuk dan fungsi) dan pelarutan dari zat-zat interseluler (termasuk zat kapur) bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya, pembuluh darah akan memasuki daerah ephiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersisa tulang rawan di kedua ujung ephiphise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di atas epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise. Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifise terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafise, dengan demikian tebal cakram epifise tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter (lebar) tulang, tulang di daerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru did aerah permukaan.

23 | T u t o r i a l b l o k 5

2. Bagaimana mekanisme tulang meredam tekanan yang kuat? (pada bahu) Rangka tubuh atau skeletal memiliki struktur dan komponen penyusun yang kuat. Hal ini dikarenakan skeletal berperan sebagai pelindung organ dan jaringan dalam tubuh serta penggerak anggota tubuh. Salah satu komponen penyusun tulang adalah matriks. Matrik terdiri dari komponen organik dan anorganik. Komponen organik memungkinkan tulang untuk menahan tegangan dan anorganik (mineral) berfungsi sebagai penahan tekanan. Selain matriks, tulang memiliki kartilago. Senyawa glikosaminoglikan (GAG) merupakan komponen strukutural penting penyusun kartilago dan meningkatkan ketahanan tulang terhadap tekanan. Senyawa ini disintesis oleh sel tulang yaitu osteoblast dan osteosit. Jadi, tulang memmang sudah memiliki ketahanan dan kekuatan cukup untuk menjaga tubuh dari guncangan. Namun, bila daya tahan yang dimiki tidak sebanding dengan tekanan besar yang terjadi, maka akan terjadi beberapa kemungkonan seperti fraktur. Beberapa tekanan yang terjadi pada tulang dapat berupa tekanan berputar, membengkok, tekanan sepanjang aksis tulang, kompresi vertical, trauma langsung yang disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu, fraktur oleh karena remuk, atau trauma karena tarikan ligamen atau tendo.

3. Apa saja akibat yang ditimbulkan apabila bahu terdorong dan terpukul dengan kuat? Cedera yang dapat terjadi di bagian bahu dan lengan atas Luksasio atau subluksasio dari artikulasi humeri Luksasio atau subluksasio dari artikulasi akromio klavikularis Subdeltoid bursitis Strain dari otot atap bahu (rotator cuff) Sendi yang pernah mengalami luksasio, biasanya akan terjadi kekenduran ligamen. Akibatnya, sendi tersebut mudah mengalami dislokasi kembali. Semakin awal usaha penyembuhan semakin baik. Namun, bila dalam keadaan darurat upaya reposisi tidak bisa, pasien dapat di bawa ke rumah sakit dengan sendi yang cedera sudah dibidai.

24 | T u t o r i a l b l o k 5

Komplikasi dari dislokasi, 50-60% diperkirakan pasien dengan luxatio erecta telah terkait cedera pleksus brakialis. Cedera pada aksilaris, termasuk trombosis arteri, juga telah dilaporkan. Cedera jaringan ligamen dan ikat meliputi gangguan ligamen glenohumeral, kapsul glenoid , atau keduanya. Cedera tulang terkait termasuk patah dari tepi glenoid, tuberositas lebih besar, akromion, klavikula, dan proses coracoid . Cedera ini dapat disebabkan atau diperburuk oleh reposisi. Namun, ini lebih sering terjadi sebagai akibat dari dislokasi itu sendiri. IV. Bahu terdorong Kerangka Konsep Trauma bahu kanan eksorotasi

Dislokasi Anterior

Inflamasi pada capsule articularis

Mengeluarkan prostaglandin, histamin, dll

Infeksi Saluran Pernafasan dan kurang gizi

V. Learning Issue : a. Anatomi Sendi Bahu b. Reaksi Inflamasi c. Kelainan pada Sendi d. Jenis-jenis Sendi e. Pertumbuhan Tulang f. Histologi Bahu g. Radiologi pada Sendi Bahu

25 | T u t o r i a l b l o k 5

VI.

SINTESIS

1. Anatomi Sendi Bahu a. Articulatio Acromioclavicularis Articulatio: Di antara acromion dan ujung lateral clavicula Tipe: Sendi sinovial Capsula articularis : Mengelilingi dan melekat pada pinggir facies articularis Ligamentum : Ligamentum acromioclaviculare superior dan inferior

memperkuat capsula articularis; dari capsula, dari sisi atas sebuah discus fibrocartilagineus berbentuk baji menonjol ke dalam rongga

Ligamentum tambahan: Ligamentum coracoclaviculare yang sangat kuat berjalan dari proc. coracoideus menuju permukaan bawah clavicula. Ligamentum ini terutama bertanggung jawab menggantungkan berat scapula dan ekstremitas superioir pada clavicula

Membrana sinovial: Melapisi capsula articularis dan melekat pada pinggir rawan yang meliputi permukaan sendi

Persarafan: Nervus suprascapularis Gerakan : Terjadi gerakan yang luwes waktu scapula memutar, atau waktu clavicula diangkat atau ditekan ke bawah

b. Articulatio Humeri
26 | T u t o r i a l b l o k 5

Articulatio: Persendian terjadi antara caput humeri yang bulat dengan cavitas glenoidalis scapulae yang dangkal dan berbentuk seperti buah pir. Facies articularis diliputi oleh rawan sendi hialin, dan cavitas glenoidalis diperdalam

oleh adanya bibir fibrocartilago yang dinamakan labrum glenoilade.

Tipe: Sendi sinovial "ball and socket" Capsula articularis: Meliputi sendi dan di medial melekat pada pinggir cavitas glanoidalis di luar labrum; di lateral capsula melekat pada collum anatomicum humeri

Ligamentum: Ligamentum glenohumerale adalah tiga buah pita jaringan fibrosa yang memperkuat bagian depan capsula articularis. Ligamentum humerale transversum memperkuat capsula articularis dan menjembatani celah antara kedua tuberculum. Ligamentum coracohumerale memperkuat capsula articularis dari sebelah atas dan majus humeri. terbentang dari pangkal process coracoideus sampai ke

Ligamentum tambahan: Ligamentum coracoacromiale terbentang antara proc. coracoideus dan acromion. Fungsinya adalah untuk melindungi bagian atas sendi.

Membrana sinovial: Melapisi capsula articularis dan melekat pada pinggir cartilago yang meliputi facies articularis. Membrana ini membentuk sarung di sekitar tendo musculi biceps brachii caput longum. Membrana ini menonjol keluar dari dinding anterior capsula untuk membentuk bursa subscapularis yang terletak di bawah musculus subscapularis.

Persarafan: Nervus axillaris dan nervus suprascapularis Gerakan: Flexio, Extensio, Abductio, Adductio, Exorotatio, Endorotatio, Circumductio
27 | T u t o r i a l b l o k 5

2. Reaksi Inflamasi Reaksi peradangan merupakan reaksi defensif (pertahanan diri) sebagai respon terhadap cedera berupa reaksi vaskular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zatzat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis. Peradangan dapat juga dimasukkan dalam suatu reaksi non spesifik, dari hospes terhadap infeksi. Hasil reaksi peradangan adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang, penghancuran jaringan nekrosis dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan. Syarat reaksi radang adalah : 1. Jaringan harus hidup. 2. Memiliki mikrosirkulasi fungsional. Bentuk peradangan dapat timbul didasarkan atas jenis eksudat yang terbentuk, organ atau jaringan tertentu yang terlibat dan lamanya proses peradangan. Tata nama proses peradangan memperhitungkan masing-masing variable ini. Berbagai eksudat diberi nama deskriptif, berdasarkan lamanya respon peradangan disebut akut, subakut dan kronik. Lokasi reaksi peradangan disebut dengan akhiran -tis yang ditambahkan pada nama organ (misalnya; apendisitis, tonsillitis, gastritis dan sebagainya). Peradangan dan infeksi itu tidak sinonim. Pada infeksi ditandai adanya mikroorganisme dalam jaringan, sedang pada peradangan belum tentu, karena banyak peradangan yang terjadi steril sempurna. Jadi infeksi hanyalah merupakan sebagian dari peradangan.

28 | T u t o r i a l b l o k 5

MEDIATOR KIMIA Selama proses peradangan terjadi pelepasan histamine dan zat-zat humoral lain kedalam cairan jaringan sekitarnya. Akibat dari sekresi histamine tersebut berupa : 1. Peningkatan aliran darah lokal. 2. Peningkatan permeabilitas kapiler. 3. Perembesan ateri dan fibrinogen kedalam jaringan interstitial. 4. Edema ekstraseluler lokal. 5. Pembekuan cairan ekstraseluler dan cairan limfe.

RESPON VASKULER Mediator kimia yang dihasilkan dari jaringan yang cedera atau nekrotik akan menyebabkan peningkatan permeabilitas membran vaskuler dan vasodilatasi.

Peningkatan permeabilitas membran vaskuler terjadi dengan peregangan sel-sel endotel sehingga pori-pori membran membesar dan dapat dilalui oleh protein darah. Sedangkan vasodilatasi menyebabkan peningkatan jumlah volume darah ke daerah peradangan.

ASPEK CAIRAN DALAM REAKSI INFLAMASI Setiap luka pada jaringan akan menimbulkan reaksi inflamasi atau reaksi vaskuler. Mula-mula terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga terjadi peningkatan volume darah. Peningkatan volume darah menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik yang mendorong plasma merembes keluar (transudasi). Selanjutnya cairan edema akan terkumpul di daerah sekitar luka, kemudian fibrinogen keluar dari vaskuler membentuk
29 | T u t o r i a l b l o k 5

benang-benang fibrin yang menutupi saluran limfe dengan tujuan membatasi penyebaran mikroorganisme. Leukosit juga ikut berperan dalam fagositosis. Pada saat terjadi vasodilatasi maka aliran darah menjadi lambat dan menyebabkan neurofil mengalami marginasi kemudian emigrasi dengan cara diapedesis, selanjutnya bergerak secara kemotaksis ke lokasi radang untuk melakukan fagositosis. Mula-mula neutrofil membungkus mikroorganisme, kemudian dimulailah digesti dalam sel, hal ini akan mengakibatkan perubahan pH menjadi asam. Selanjutnya akan keluar protease selluler yang akan menyebabkan lysis leukosit. Setelah itu makrofag mononuklear besar akan tiba di lokasi infeksi untuk membungkus sisa-sisa leukosit dan akhirnya terjadilah pencairan (resolusi) hasil proses inflamasi lokal. Cairan kaya protein dan sel darah putih yang tertimbun dalam ruang ekstravaskular sebagai akibat reaksi radang disebut eksudat. a. Transudat Transudat adalah cairan dalam ruang interstitial yang terjadi akibat peningkatan tekanan hidrostatik atau turunnya protein plasma intravaskular yang meningkat. Berat jenis transudat pada umumnya kurang dari 1.012 yang mencerminkan kandungan protein yang rendah. b. Eksudat Eksudat adalah cairan radang ekstravaskular dengan berat jenis tinggi (diatas 1.020) dan seringkali mengandung protein 2-4 mg % serta sel-sel darah putih yang melakukan emigrasi. Cairan ini tertimbun sebagai akibat permeabilitas vaskular (yang memungkinkan protein plasma dengan molekul besar dapat terlepas), bertambahnya tekanan hidrostatik intravascular sebagai akibat aliran lokal yang meningkat pula dan serentetan peristiwa rumit leukosit yang menyebabkan emigrasinya.

RESPON SELULER Leukositosis terjadi bila ada jaringan cedera atau infeksi sehingga pada tempat cedera atau radang dapat terkumpul banyak leukosit untuk membendung infeksi atau menahan mikroorganisme menyebar keseluruh jaringan. Leukositosis ini disebabkan karena produksi sumsum tulang meningkat sehingga jumlahnya dalam darah cukup untuk emigrasi pada waktu terjadi cedera atau radang.

30 | T u t o r i a l b l o k 5

Leukosit yang bersirkulasi dalam aliran darah dan emigrasi ke dalam eksudat peradangan berasal dari sumsum tulang, dimana tidak saja leukosit tetapi juga sel-sel darah merah dan trombosit dihasilkan secara terus memenerus. Dalam keadaan normal, di dalam sumsum tulang dapat ditemukan banyak sekali leukosit yang belum matang dari berbagai jenis dan "pool" leukosit matang yang ditahan sebagai cadangan untuk dilepaskan ke dalam sirkulasi darah. Jumlah tiap jenis leukosit yang bersirkulasi dalam darah perifer dibatasi dengan ketat tetapi diubah "sesuai kebutuhan" jika timbul proses peradangan. Artinya, dengan rangsangan respon peradangan, sinyal umpan balik pada sumsum tulang mengubah laju produksi dan pengeluaran satu jenis leukosit atau lebih ke dalam aliran darah.

AKTIVITAS NEUTROFIL Vasodilatasi arteriol dan kapiler menyebabkan aliran darah menjadi lambat sehingga neutrofil mengalami marginasi kemudian terjadi adhesi dengan membran vaskuler, selanjutnya neutrofil keluar melalui membran vaskuler (emigrasi) dengan cara diapedesis. Mediator kimia yang dikeluarkan pada lokasi radang merupakan faktor kemotaksik yang menyebabkan neutrofil bergerak ke lokasi radang dan melakukan fagositosis.

FAGOSITOSIS Fagositosis adalah proses penyerapan dan eliminasi mikrobaatau partikel lain oleh selsel khusus yang disebut fagosit. Fagosit adalah sel-sel darah putih atau sel-sel yang berasal dari sel-sel darah putih tersebut, yang terdapat di dalam aliran darah. Fagosit itu terdiri atas dua kelompok, yaitu: 1) Granulosit (lekosit polimorfonuklear) : 70% jumlah sel darah putih. a) Netrofil (menghasilkan senyawa yang dapat melepaskan oksigen reaktit) : 68% jumlah sel darah putih. b) Eosinofil: 1% jumlah sel darah putih. c) Basofil: 1% jumlah sel darah putih. 2) Agranulosit (sel-sel mononuklear) : 30% jumlah lekosit. a) Limfosit: 25% jumlah lekosit. b) Monosit/makrofag : 5% jumlah lekosit. TANDA DAN GEJALA 1. Rubor (kemerahan)
31 | T u t o r i a l b l o k 5

Rubor atau kemerahan biasanya merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai timbul maka arteriol yang mensupali daerah tersebut melebar, dengan demikian lebih banyak darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler-kapiler yang sebelumnya kosong atau sebagian saja yang meregang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini yang dinamakan hyperemia atau kongesti,menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut. Timbulnya hyperemia pada permulaan reaksi peradangan diatur oleh tubuh baik secara neurogenik maupun secara kimia,melalui pengeluaran zat seperti histamin. 2. Kalor (panas) Kalor atau panas terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan yang hanya terjadi pada permukaan tubuh, yang dalam keadaan normal lebih dingin dari 37 C yaitu suhu di dalam tubuh. Daerah peradangan pada kulit menjadi lebih panas dari sekelilingnya sebab darah yang disalurkan tubuh kepermukaan daerah yang terkena lebih banyak daripada yang disalurkan kedaerah normal. Fenomena panas lokal ini tidak terlihat pada daerah-daerah yang terkena radang jauh di dalam tubuh, karena jaringan-jaringan tersebut sudah mempunyai suhu inti 37C, hyperemia lokal tidak menimbulkan perubahan. 3. Dolor (rasa sakit) Dolor atau rasa sakit, dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujungujung saraf. Hal yang sama, pengeluaran zat kimia bioaktif lainnya dapat merangsang saraf. Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal yang tanpa diragukan lagi dapat menimbulkan rasa sakit. 4. Tumor (pembengkaan) Segi paling menyolok dari peradangan akut mungkin adalah pembengkaan lokal (tumor). Pembengkaan ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat. Pada keadaan dini reaksi peradangan sebagian besar eksudat adalah cair, seperti yang terjadi pada lepuhan yang disebabkan oleh luka bakar ringan. Kemudian sel-sel darah putih atau leukosit meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian dari eksudat. 5. Functio Laesa (perubahan fungsi)

32 | T u t o r i a l b l o k 5

Functio laesa atau perubahan fungsi adalah reaksi peradangan yang telah dikenal. Sepintas lalu, mudah dimengerti, mengapa bagian yang bengkak, nyeri disertai sirkulasi abnormal dart lingkungan kimiawi lokal yang abnormal, berfungsi secara abnormal. Namun sebetulnya kita tidak mengetahui secara mendalam dengan cara apa fungsi jaringan yang meradang itu terganggu. Berbagai bentuk/Jenis Radang.

DAMPAK SISTEMIK REAKSI INFLAMASI 1. Demam Demam merupakan akibat dari pelepasan zat pirogen endogen yang berasal dari neutrofil dan makrofag. Selanjutnya zat tersebut akan memacu pusat pengendali suhu tubuh yang ada di hypothalamus. 2. Perubahan Hematologis Rangsangan yang berasal dari pusat peradangan mempengaruhi proses maturasi dan pengeluaran leukosit dari sumsum tulang yang mengakibatkan kenaikan suatu jenis leukosit, kenaikan ini disebut leukositosis. Perubahan protein darah tertentu juga terjadi bersamaan dengan perubahan apa yang dinamakan laju endap darah (LED). 3. Gejala Konstitusional Pada cedera yang hebat, terjadi perubahan metabolisme dan endokrin yang menyolok. Akhirnya reaksi peradangan lokal sering diiringi oleh berbagai gejala konstitusional yang berupa malaise, anoreksia atau tidak ada nafsu makan dan ketidakmampuan melakukan sesuatu yang beratnya berbeda-beda bahkan sampai tidak berdaya melakukan apapun.

OUTCOME REAKSI INFLAMASI

33 | T u t o r i a l b l o k 5

Dengan

adanya

reaksi

peradangan,

maka

hasil

perbaikan

yang

paling

menggembirakan yang dapat diperoleh adalah jika terjadi hanya sedikit kerusakan atau tidak ada kerusakan jaringan di bawahnya sama sekali. Pada keadaan ini agen penyerang sudah dinetralkan dan dihilangkan. Pembuluh darah kecil di daerah itu memperoleh kembali semipermeabilitasnya, aliran cairan berhenti dan emigrasi leukosit dengan cara yang sama juga berhenti. Cairan yang sebelumnya sudah dieksudasikan sedikit demi sedikit diserap oleh pembuluh limfe dan sel-sel eksudat mengalami disintegrasi dan keluar melalui pembuluh limfe atau benar-benar dihilangkan dari tubuh. Hasil akhir dari proses ini adalah penyembuhan jaringan yang meradang jaringan tersebut pulih seperti sebelum reaksi atau resolusi. Sebaliknya, bila jumlah jaringan yang rusak cukup bermakna jaringan yang rusak harus diperbaiki oleh proliferasi sel-sel hospes berdekatan yang masih hidup. Perbaikan sebenarnya melibatkan dua komponen yang terpisah tetapi terkoordinir. Pertama disebut regenerasi, hasil akhirnya adalah penggantian unsur-unsur yang telah hilang dengan jenis sel yang sama. Komponen perbaikan kedua melibatkan proliferasi unsur-unsur jaringan penyambung yang mengakibatkan pembentukan jaringan parut. Namun apabila agen penyebab peradangan tetap ada maka peradangan akan berlangsung kronis.

3. Kelainan Pada Sendi Nyeri sendi merupakan salah satu gejala yang timbul karena penyakit rematik sendi. Dan penyakit sendi yang sering terjadi adalah osteoarthritis. Osteoarthritis paling sering terjadi pada sendi penopang tubuh seperti sendi lutut. Gejala penyakit sendi pada umumnya adalah rasa sakit dan linu pada tulang serta rasa sakit pada waktu pagi atau malam hari akibat kedinginan. Gangguan pada sendi diakibatkan bukan hanya karena factor intern namun juga datang dari luar ekstren penderita. Terkadang kita tidak menyadari factor dari luar bisa menyebabkan kitra mengalami penyakit pada bagian sendi. Berikut beberapa penyakit sendi diantaranya: Keseleo atau terkelir Gangguan ini diakibatkan karena gerak tiba-tiba atau gerak yang dipaksakan sehinggga menimbulkan perubahan pada posisi sendi. Misalnya jatuh dari tangga atau tempat yang tinggi dan terkilir pada waktu lari. Akibat dari keseleo dan terkilir bisa mengakibatkan rasa sakit yang amat sangat dan mengalami bengkak. Dislokasi
34 | T u t o r i a l b l o k 5

Gangguan ini terjadi dimana terjadi perubahan posisi awal sendi atau sendi mengalami perubahan posisi. Hal ini bisa disebabkan karena factor gen atau bawaan dari lahir, namun masih bisa disembuhkan. Artritis Artritis lebih popular dengan istilah rematik yaitu sakit pada sendi yang memberikan rasa sakit. Kadang sendi atau tulang akan mengalami perubahan posisi. Ankilosis Gangguan ini mengakibatkan jari-jari tidak dapat digerakkan. Jari mengalami mati rasa dan kaku Osteoarthritis Osteoarthritis merupakan salah ssatu jenis radang sendi yang disebabkan penghancuran dan kehilangan tulang rawan dari satu atau lebih sendi. Tulang rawan sendi adalah substansi protein yang berfungsi sebagai bantalan pada sendi. Diantara berbagai jenis penyakit rematik,osteoarthritis paling sering ditemukan baik di amerika serikat maupun diseluruh dunia,dan kelainan sendi ini menyebabkan keterbatasan fungsi sendi yang diserang. Osteoarthritis sering terjadi seiring dengan pertambahan umur. Sebelum umur 45 tahun, osteoarthritis lebih serang menyerang laki-laki. Setelah umur 55 tahun, osteoarthritis lebih sering menyerang wanita. Osteoarthritis dapat menyerang sendi tangan,kaki,tulang belakang dan sendi penumpu berat badan seperti panggul dan lutut. Kebanyakan osteoarthritis tidak diketahui penyebabnya dan disebut osteoarthritis primer. Apabila penyebab osteoarthritis diketahui misalnya karena trauma,maka disebut osteoarthritis skunder. Perubahan pada tulang juga bisa disebabkan karena lingkungan yang tidak sehat. Terjadinya polusi dan pencemaran,baik dari udara,darat dan air menyebabkan perubahan-perubahan fisik manusia semakin cepat.

4. Jenis-Jenis Sendi Sendi adalah tempat pertemuan dua tulang atau lebih, baik terjadi pergerakan atau tidak terjadi pergerakan. Sendi dikelompokkan menurut jaringan yang terdapat di antara tulang-tulang; junctura fibrosa, junctura cartilaginea, dan junctura synovialis. a. Junctura Fibrosa Permukaan tulang yang bersendi dihubungkan oleh jaringan fibrosa sehingga kemungkinan geraknya sangat sedikit. Derajat pergerakan tergantung pada panjang

35 | T u t o r i a l b l o k 5

serabut kolagen yang menghubungkan tulang. Sutura tengkorak dan articulatio tibiofibularis inferior merupakan contoh junctura fibrosa. b. Junctura Cartilaginea Dapat dibagi menjadi dua tipe: tipe primer dan sekunder. Junctura Cartilaginea primer adalah junctura cartilaginea yang tulang-tulangnya disatukan oleh selempeng atau sebatang cartilago hialin. Persatuan antara epiphysis dan diaphysis pada sebuah tulang yang sedang tumbuh dan hubungan antara iga pertama dan manubrium sterni merupakan contoh sendi ini. Tidak ada pergerakan yang dapat dilakukan. Junctura cartilaginea sekunder adalah sendi kartilaginsa yang tulang-tulangnya dihubungkan oleh selempeng cartilago fibrosa dan facies articularis-facies articularisnya diliputi oleh selapis tipis cartilago hialin. Contohnya adalah sendi di antara corpus vertebrae dan symphisis pubis. Mungkin dapat dilakukan sedikit pergerakan.

c. Junctura synovialis Facies articularis tulang-tulang diliputi oleh selapis tipis cartilago hialin dan ujungnya dipisahkan oleh rongga sendi. Sususan seperti ini memungkinkan pergerakan yang luas. Rongga sendi dibatasi oleh membrana synovialis, yang terbentang dari pinggir facies articularis yang satu ke facies aricularis yang lin. Membrana sinovialis dilindungi permukan luarnya oleh membrana fibrosa yang kuat disebut capsula articularis. Facies articularies mendapatkan pelumnas dari cairan kental yang disebut synovia (cairan sinovial) yang diasilkan oleh membrana synovialis. Pada junctura synovialis tertentu, seperti articulatio genus, di antara facies articularisnya terdapat discus atau potongan fibrocartilago, disebut discus articularis. Bantalan lemak ditemuan pada beberapa sendi sinovial dan terletak diantara membrana synovialis dan capsula fibrosa atau tulang. Contohnya dapat ditemukan pada articulatio coxae dan articulatio genus. Luas pergerakan junctura synovialis ditentukan oleh bentuk tulang yang membentuk sendi, struktur anatomi yang mengikuti pergerakannya (misalnya, pada paha berhadapan dengan dinding anterior abdomen pada fleksi sendi panggul), dan adanya ligamentum fibrosa yang menghubungkan tulang-tulang. Kebanyakan ligamentum terletak di luar capsula articularis, tetapi pada articulatio genus beberapa ligamentum penting seperti ligamentum cruciatum, terletak di dalam capsula.

36 | T u t o r i a l b l o k 5

Junctura synovialis dapat dikelompokkan berdasarkan pada bentuk facies articularisnya dan tipe pergerakan yang mungkin dilakukan. Articulatio plana (sendi plana): pada sendi ini, permukaan sendinya rata atau hampir rata, sehingga memungkinkan terjadinya pergeseran antara tulang yang satu dengan lainnya. Contoh sendi plana adalaha articulatio sternoclavicularis, dan articulati acromioclavicularis. Ginglymus (sendi engsel): sendi ini menyerupai engsel pintu sehingga memberi kemungkinan untuk gerakan fleksi dan ekstensi. Contoh ginglymus adalah articulatio cubiti, articulatio genus, dan articulation talocruralis. Articulatio trochoidea (sendi pasak): pada sendi ini, terdapat pasak tulang yang dikelilingi oleh cincin ligamentuk-bertulang. Hanya mungkin dilakukan gerakan rotasi. Contohnya articulatio atlantoaxialis dan articulatio radioulnaris superior. Articulatio condyloidea: sendi ini mempunyai dua permukaan konveks yang bersendi dengan dua permukaan konkaf. Gerakan yang mungkin dilakukan adalah fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi. Contoh dari sendi ini adalah articulationes meetacarpophalangeae atau articulationes interphalangeae manus. Articulatio ellipsoidea: pada sendi ini, facies articularis berbentuk konveks elips yang sesuai dengan facies articularis konkaf tipis. Gerakan fleksi, ekstensi, abduksi, dan adduksi dapat dilakukan, kecuali rotasi. Contohnya ialah articulatio radiocarpalis. Articulatio sellaris (sendi pelana): pada sendi ini, facies articularis berbentuk konkafokonveks yang saling berlawanan dan mirip dengan pelana kuda pada punggung kuda. Sendi ini dapat melakukan fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan rotasi. Contohnya yaitu articulatio carpometacarpalis pollicis. Articulatio spheroidea (sendi peluru): kepala sendi yang berbentuk bola pada satu tulang cocok dengan lekuk sendi yang berbentuk socket pada tulang yang lain. Susunan ini memungkinkan pergerakan yang luas, termasuk fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi medial, rotasi lateral, dan sirkumduksi. Contohnya articulatio humeri da articulatio coxae.

5. Pertumbuhan Tulang ( Histologi Jaringan Tulang ) a. Proses Histogenesis Tulang

37 | T u t o r i a l b l o k 5

Pertumbuhan tulang terbentuk dari jaringan ikat, baik pada masa embrio maupun pascanatal. Dilihat dari proses perkembangannya, tulang dibedakan menjadi dua pola, yakni osifikasi intramembranous dan intrakartilagenous. Pada osifikasi intramembranous, tulang langsung berkembang dari jaringan ikat, yang dimulai dari tengah mesenkim yang disebut pusat pertulangan. Mesenkim akan mengalami peningkatan vaskularisasi dan proliferasi. Selanjutnya terjadi perubahan bentuk sel yang menghasilkan sel osteogenik dan osteoblas. Osteoblas kemudian menjadi aktif menghasilkan matriks dan serabut kolagen, yang mula-mula masih lunak (osteoid). Osteoid tersebut kemudian mengalami kalsifikasi oleh garam Ca berupa Kristal hidroksiapatit (Hartono 1989). Tulang-tulang yang mengalami proses ini adalah sejumlah tulang yang berfungsi sebagai pelindung seperti tulang frontal dan parietal tengkorak, tulang rahang bawah, dan rahang atas (Samuelson 2007). Pada osifikasi intrakartilagenous (Gambar 4), jaringan ikat mula-mula menumbuhkan tulang rawan miniatur, yaitu suatu tulang rawan hialin, bentuknya mirip tulang dewasa hanya formatnya kecil. Tulang rawan ini selanjutnya akan dirombak, dan digantikan dengan tulang. Osifikasi dimulai dari tengah tulang rawan dan meluas ke seluruh arah sesuai dengan pertumbuhan tulang rawan (Hartono 1989). Proses pembentukan tulang ini terjadi pada pembentukan tulang panjang dan tulang pendek (tulang-tulang penahan bobot tubuh) seperti tulang femur, tibia, dan lain-lainnya. Pada masa fetus, hampir semua tulang tubuh merupakan tulang rawan. Namun seiring dengan perkembangan fetus dan setelah kelahiran, tulang rawan tersebut berkembang menjadi tulang untuk menyediakan kekuatan terhadap tekanantekanan yang makin bertambah (Mills 2007; Samuelson 2007).

b. Proses Modeling dan Remodeling Tulang Modeling tulang adalah suatu kondisi saat proses resorpsi dan pembentukan tulang terjadi pada permukaan tulang yang berlainan (pembentukan dan resorpsi tidak berpasangan). Contohnya pada pertambahan panjang dan diameter tulang panjang. Modeling tulang terjadi sejak kelahiran hingga dewasa dan proses ini berperan dalam penambahan massa dan perubahan bentuk kerangka. Pada kondisi ini proses pembentukan tulang lebih dominan terjadi daripada proses resorpsi tulang. Remodeling tulang adalah pergantian jaringan tulang tua dengan jaringan tulang muda. Kondisi ini sebagian besar terjadi pada kerangka hewan dewasa untuk mempertahankan massa tulang. Proses ini mencakup pembentukan dan resorpsi
38 | T u t o r i a l b l o k 5

tulang secara bersamaan (berpasangan). Remodeling merupakan sebuah proses yang dinamis termasuk penggantian dan pengisian kembali baik tulang kompak maupun trabekular. Proses ini terus-menerus terjadi untuk mempertahankan massa tulang serta integritas dan fungsi kerangka. Proses ini kompleks dan dikendalikan oleh susunan syaraf pusat melalui hormon dan oleh tekanan mekanis. Proses ini

bergantung pada keterpaduan aksi dari osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Secara bersamaan, ketiga sel ini membentuk BMU (Basic Multicellular Unit) atau unit remodeling tulang yang berperan dalam proses remodeling pada hewan dewasa (Mills 2007). Proses remodeling tulang terjadi dalam beberapa fase (Gambar 5), yaitu: 1.) Aktivasi: pre-osteoklas terstimulasi menjadi osteoklas dewasa yang aktif. 2.) Resorpsi: osteoklas mencerna matriks tulang tua. 3.) Pembalikan: akhir dari proses resorpsi, saat osteoklas digantikan oleh osteoblas. 4.) Pembentukan: osteoblas menghasilkan matriks tulang yang baru. 5.) Fase pasif: osteoblas selesai menghasilkan matriks dan terbenam di dalamnya. Beberapa osteoblas membentuk sederet sel yang berjejer di permukaan tulang yang baru.

6. Histologi Bahu Terdapat beberapa jaringan pada bahu, yaitu : 1. Jaringan Epitel Epitel selapis pipih : Pada saluran pembuluh darah Epitel selapis kuboid : Pada saluran kelenjar. Epitel pipih lapis banyak dengan lapisan tanduk : Pada lapisan epidermis kulit. Epitel berlapis kuboid : Pada saluran kelenjar minyak&keringat kulit.

2. Jaringan Ikat Jaringan Ikat Longgar : Lapisan dermis kulit. Jaringan Ikat Padat Teratur : Tendon Jaringan Ikat Padat Tidak Teratur : Pembungkus tulang & lapisan dermis kulit. Jaringan Tulang Jaringan Darah

3. Jaringan Otot Otot Lurik


39 | T u t o r i a l b l o k 5

Otot Polos

4. Jaringan Syaraf Nervus axillaris Nervus suprascapularis

7. Radiologi pada sendi bahu. a. Posisi dalam pengambilan gambar rontgen AP Projection Pasien Supine , kemudian di atur Oblique Antero Posterior 30 dengan tepi dorsal bahu yang di foto dekat ke kaset Lengan atas dan lengan bawah dari tepi yang di foto lurus di samping tubuh dan diatur supine terhadap meja pemeriksaan bahu yang tidak di foto di ganjal dengan sandbag , tubuh tetap dalam posisi oblique AP 30 sehingga memungkinkan scapula yang di foto horizontal. Bahu yang di foto di atur di atas pertengahan kaset atur penyinaran dan faktor eksposi : CR : Tegak Lurus Film CP : Caput Humerus FFD : 90 cm KV : 56 62 KV MA : 50 200 mA Sec. : 0,06 0,08 sec. Pasangkan marker R / L pada kaset film Dilakukan eksposi (pasien tidak boleh bergerak )

Kriteria gambar AP Oblique Projection Tampak gambaran AP os Scapula dengan margo medialis , inferior angle dan margo lateralis. Bawah overlap dengan rongga thorax

40 | T u t o r i a l b l o k 5

Lateral Projection Posisi Pasien Pasien ditempatkan atau duduk dalam posisi tegak, menghadapi perangkat grid vertikal. Ketika seorang pasien tidak dapat ditempatkan pada posisi tegak, proyeksi lateral skapula dapat diperoleh dengan menyesuaikan tingkat rotasi tubuh dan penempatan dari lengan rawan posisi terlentang. Posisi Obyek Atur pasien dalam posisi miring. Dengan skapula terkena terpusat ke grid. lengan ditempatkan sesuai dengan daerah skapula yang akan ditunjukkan. 1. Untuk penggambaran tubuh skapula, siku tertekuk dan tangan diletakkan dada anterior atau posterior pada tingkat yang akan mencegah bayangan humerus dari tumpang tindih yang skapula. Marjuzian 'menunjukkan bahwa lengan dapat disesuaikan di dada bagian atas dengan memegang bahu yang berlawanan. 2. Untuk demonstrasi proses akromion dan coracoideus, meminta pasien untuk memperpanjang lengan ke atas dan sisanya lengan di kepalanya. 3. Untuk demonstrasi bersama glenohumeral, untuk membuktikan atau menyangkal dislokasi posterior. McLaughlin merekomendasikan bahwa lengan menggantung di samping tubuh dan disesuaikan untuk memilikinya
41 | T u t o r i a l b l o k 5

dilapiskan sayap skapula. Setelah penempatan lengan untuk salah satu dari proyeksi di atas, pegang ketiak dan perbatasan vertebral skapula jempol dan jari telunjuk tangan satu, dan hanya rotasi tubuh untuk menempatkan sayap skapula tegak lurus ke pesawat dari film ini.

CR : Tegak Lurus dengan film CP : Caput Humerus FFD : 90 cm KV : 56-62 kv MA : 50 200 mA Sec. : 0,06 0,08 sec. Pasangkan marker R / L pada kaset film Dilakukan eksposi (pasien tidak boleh bergerak )

Kriteria gambar Lateral Projection Tampak os clavicula, Acromion, Caput humeri

Klinis : Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya atau setiap retak atau patah pada tulang yang utuh Patologi merupakan cabang bidang kedokteran yang berkaitan dengan ciri-ciri dan perkembangan penyakit melalui analisis perubahan fungsi atau keadaan bagian tubuh.
42 | T u t o r i a l b l o k 5

Fraktur Proses fraktur coracoid (basis) biasanya kominuta, pengungsi dan terlihat pada radiograf AP bahu. Cl = clavicula C = coracoid process Ac = arcomion G = glenoid

43 | T u t o r i a l b l o k 5

VII.

Kerangka Konsep
Trauma bahu kanan

Tumpang tindih Caput Humerus dan Colum Scapula

- Metode stimson - Metode Hipocrates - Metode Korchef

Dislokasi Anterior

N. Axillaris tertekan oleh Caput Humerus

Kapsula artikularis merenggang

Inflamasi (ditandai dengan dolor)

Rotator cuff mengalami spasme

Mengeluarkan zat nosiseptik (seperti prostaglandin, histamin, dll)

Nyeri Nasoseptik

44 | T u t o r i a l b l o k 5

Daftar Pustaka
Ereschenko, Victor P. 2011. Atlas histologi diFiore. Jakarta :EGC.

Mohamad, Kartono. 2005. Pertolongan Pertama. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Pearce, Evelyn C. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Putz, R dan R. Pabst. 2006. Atlas Anatomi Sobotta Jilid 1. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC. Snell, Richard S. 2000. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran.Jakarta : EGC.

Anantha K Mallia. Joint Reduction, Shoulder Dislocation, Inferior. 2012. Diakses dari : http://emedicine.medscape.com/article/110422-overview#a16 tanggal 8 Januari. Anonymus.2010. Dislokasi Bahu Anterior. (http://dokterpenuhsemangat.blogspot.com/2010/04/dislokasi-bahu-anterior.html, diakses pada tanggal 8 januari 2013)
Anonymous. 2012.Cara Atasi Nyeri Otot Trap (Dalam www.jevuska.com, diakses 8 Januari 2013) Kuntoro, Heru Purbo.2007.Aspek Fisioterapy Sindroma Nyeri Bahu (Dalam

http://fisiosby.com/aspek-fisioterapi-syndroma-nyeri-bahu/, diakses 8 Januari 2013)


Rusli, herdin. 2012. Fisioterapi Pada Dislokasi Bahu Anterior. (dalam http://herdinrusli.wordpress.com/2009/03/06/fisioterapi-pada-dislokasi-shoulder-anterior/) Utama, Herry Setya Yudha.2012.Dislokasi Sendi Bahu (Dalam www.herryyudha.com, diakses 8 Januari 2013) Utama, Herry Setya Yudha.2012.Kulit (Dalam www.herryyudha.com, diakses 8 Januari 2013)

45 | T u t o r i a l b l o k 5