Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL KARYA

INOVASI PEMBUATAN PENGAWET MAKANAN ALAMI DARI UBI JALAR RUSAK DENGAN METODE EKSTRAKSI

Oleh: Miftakhul Jannah Dan Siti Azizatul Amalia

SMK PUTRA INDONESIA MALANG Program Keahlian Kimia Industri Jl. Barito 5 Malang Oktober 2013

BABI PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Makanan dalam kehidupan manusia diperlukan oleh tubuh untuk dapat bekerja denganoptimal.Makanan yang dimakan harus memenuhi nilai gizi dan aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme penyebab penyakit dan bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan tubuh.Untuk itu diperlukan adanya pengamanan di bidang pangan agar masyarakat terhindar dari mengkonsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Penggunaan bahan tambahan atau zat aditif pada makanan semakinmeningkat, terutama setelah adanya penemuan-penemuan termasuk keberhasilandalam mensintesis bahan kimia baru yang lebih praktis, lebih murah, dan lebihmudah diperoleh.Penambahan bahan tambahan/zat aditif ke makanan merupakanhal yang dipandang perlu untuk meningkatkan mutu suatu produk sehinggamampubersaing di pasaran.Bahan tambahan tersebut diantaranya pewarna, penyedap rasadan aroma, antioksidan, pengawet, pemanis, dan pengental (Winarno, 1994). Beberapa bahan pengawet yang digunakan selama ini adalah formalin, asam benzoat dan sebagai antioksidan adalah BHT, BHA, TBHQ dan lain-lain bersumber dari bahan minyak bumi atau sintesis (Deiana M, 2003; Freidon Shahidi, 2003).Penggunaan bahan pengawet dan antioksidan sintetis pada saat ini tidak direkomendasikan oleh Departemen Kesehatan karena diduga dapat menyebabkan penyakit kanker (Carcinogenic

Agent) (Hernani; Mono Raharjo, 2005). Maka dari itu dibuatlah bahan pengawet alami dari tumbuhan yang aman dikonsumsi bagi manusia. Tanaman yang berkhasiat sebagai bahan pengawet menurut Hernani dan Mono Raharjo (2002) dikelompokkan atas 4 golongan yaitu: 1. Kelompok tanaman sayuran Brokoli, kubis, lobak, wortel, tomat, bayam, cabai, buncis, pare, mentimun, dan sebagainya. 2. Kelompok tanaman buah Anggur, alpukat, jeruk, semangka, markisah, apel, belimbing, pepaya, kelapa, dll. 3. Kelompok tanaman rempah Jahe, temulawak, kunyit, lengkuas, temu putih, kencur, kapulaga, temu ireng, lada, cengkeh, pala, asam jawa. 4. Kelompok tanaman lain Teh, ubi jalar, kedelai, kentang, labu kuning, pete cina. Ubi jalar merupakan sejenis tanaman budidaya. Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Terdapat pula ubi jalar yang dijadikan tanaman hias karena keindahan daunnya. Pembudidayaan ubi jalar bertujuan untuk memanfaatkan akarnya saja.Konsumsi ubi jalar sebagai pangan sebagian besar dilakukan dengan cara di santap dari pemasakan ubi segar. Keragaman keragaman kecil dilakukan dengan perubahan bentuk atau penambahan bumbu seperti ubi rebus, ubi

goring, kolak dan keripik. Philipina telah mengembangkan ubi jalar menjadi berbagai produk seperti manisan, asinan, sari buah dan berbagai jenis minuman pada tingkat komersial (Truong, 1986) Berdasarkan penelitian, kandungan ubi jalar meliputi beragam vitamin dan mineral yang jumlahnya relatif lebih banyak dari sayuran wortel.Ubi jalar merupakan makanan dengan rasa manis yang bebas lemak dan mengandung 769% dari nilai harian Vitamin A dan 65% kebutuhan vitamin C dalam satu porsi (kurang lebih satu cup). Ubi jalar mengandung jumlah tinggi beta karoten, yaitu sebuah antioksidan alami yang mampu membantu tubuh untuk meningkatkan pertahanan yang kuat terhadap radikal bebas dan penyakit.Ubi jalar juga mengandung Vitamin C, Vitamin B dan fosfor dalam jumlah yang cukup tinggi.Ketiga kandungan dalam ubi jalar ini membuat ubi jalar menjadi sebuah alat yang ampuh melawan infeksi.Sayangnya, karena kurangnya pengetahuan mengenai manfaat dan kegunaan, ubi jalar yang bongkeng atau rusak hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pada umumnya, pembuatan pengawet alami ini masih menggunakan metode sederhana dengan cara siapkan alat dan bahan. Cuci bahan yang diinginkan, setelah di cuci blander bahan tersebut. Kemudian peras bahan yang sudah di blander dan ambil ekstraknya. Karena cara ini masih menggunakan cara sederhana,maka dibuatlah pengawet makanan menggunakan proses ekstraksi yang lebih teliti dalam pengambilan ekstraknya. Berdasarkan uraian tersebut maka perlu adanya penelitian dengan judul Inovasi Pembuatan Pengawet Makanan Alami dari Ubi Jalar Rusak dengan Matode Ekstraksi

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana cara membuat pengawet makanan alami dari ubi jalar yang rusakdengan metode ekstraksi?

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara mengolah ubi jalar yang rusak menjadi produk pengawet makanan alami yang lebih bermanfaat dengan metode ekstraksi.

1.4 Manfaat 1. Produk inovasi dapat menunjukkan adanya keberhasilan menerapkan metode yang menghasilkan produk baru 2. Penelitian ini diharap mampu menunjukkan bahwa limbah dapat

dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih berguna dengan proses yang tepat 3. Penelitian dapat digunakan sebagai sumber acuan dan informasi untuk mengembangkan inovasi baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ubi Jalar Ubi jalar(Ipomea batatas L.) merupakan tanaman sumber karbohidrat, selain itu juga merupakan sumber vitamin dan mineral. Diharapkan dengan mengkonsumsi ubi jalar sebagai makanan tambahan dapat meningkatkan konsumsi vitamin A dan C lebih banyak (Mahmud, 1980). Variasi olahannya pun masih sangat terbatas.Misalnya direbus/kukus, dioven dan digoreng. Kue berbahan baku ubi jalar paling populer hanyalah ketimus. Salah satu penyebab kurang populernya ubi jalar adalah karena sulitnya untuk dikeringkan menjadi gaplek atau diambil patinya. Kadar pati ubi jalar sama dengan talas hanya 28 %, jauh di bawah singkong dan keladi yang mencapai 34 %, yang menjadikan kelemahan dari ubi jalar ini. Tetapi ubi jalar punya kelebihan dibanding singkong, yakni umur panennya yang bisa hanya 3 bulan.Selain itu ubi jalar juga bisa disimpan sampai 5 bulan tanpa menurunkan mutu daging umbinya. Umbi yang telah disimpan malahan akan bertambah manis karena pati yang ada dalam daging umbi tersebut telah terfermentasi menjadi gula. Penyimpanan umbi yang paling aman adalah dengan cara dihamparkan di atas abu dalam ruangan yang gelap total. Gunanya untuk menghindari tumbuhnya tunas. Ubi jalar mengandung jumlah tinggi beta karoten, yaitu sebuah antioksidan alami yang mampu membantu tubuh untuk meningkatkan pertahanan yang kuat terhadap radikal bebas dan penyakit.Ubi jalar juga mengandung Vitamin C, Vitamin B dan fosfor dalam

jumlah yang cukup tinggi.Ketiga kandungan dalam ubi jalar ini membuat ubi jalar menjadi sebuah alat yang ampuh melawan infeksi.

Gambar 2.1 Salah Satu Varietas Ubi Jalar Menurut Flach dan Rumawas (1996)dalam Haryanti (2006) Kerajaan: Plantae Divisi: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Magnoliophyta Magnoliopsida Solanales Convolvulaceae Ipomoea

Spesies: I. batatas Nama binomial Ipomea batatas L

Nilai kandungan gizi Ubi Jalar per 100 g (3.5 oz) Energi 360 kJ (86 kcal) Karbohidrat 20.1 g Pati 12,7 g Gula 4.2 g Diet serat 3,0 g Lemak 0,1 g Protein 1,6 g Vitamin A equiv. 709 mg (79%) - Beta-karoten 8509 mg (79%) - Lutein dan zeaxanthin 0 mg Thiamine (Vit. B1) 0,1 mg (8%) Riboflavin (Vit. B2) 0,1 mg (7%) Niacin (Vit. B3) 0,61 mg (4%) Asam pantotenat (B5) 0,8 mg (16%) Vitamin B6 0,2 mg (15%) Folat (Vit. B9) 11 mg (3%) Vitamin C 2.4 mg (4%) Kalsium 30,0 mg (3%) Besi 0,6 mg (5%) Magnesium 25,0 mg (7%) Fosfor 47,0 mg (7%)

Kalium 337 mg (7%) Sodium 55 mg (2%) Seng 0,3 mg (3%) Menurut Haryanti (2006) beberapa manfaat ubi jalar antara lain: 1. Mencegah kanker Kandungan karotenoid yang berupa beta karoten dan vitamin A. mampu mencegah terjadinya kanker paru serta kanker mulut. 2. Mengontrol gula darah Indeks glikemik yang rendah pada ubi jalar membuat kadar gula darah seseorang tidak akan naik dalam waktu cepat. 3. Anti aging Kandungan karotenoid tinggi, yang meningkatkan kekebalan tubuh mampu melawan radikal bebas serta membuat kulit lebih sehat dan tak mudah mengalami penuaan dini. 4. Merawat elastisitas kulit Ini adalah efek dari tingginya vitamin C, yang menghasilkan produksi kolagen dimana ia menjaga elastisitas kulit. 5. Mencegah serangan jantung Vitamin B6 dalam ubi jalar mengurangi homosistein kimia, yang mengarah pada pencegahan serangan jantung. Kalium yang ada dalam makanan ini pun memiliki fungsi sama, juga menstabilkan tekanan darah. 6. Mengurangi stres Kalium juga mampu menurunkan tingkat stres, dan mengurangi kram otot.

Varietas ubi jalar Varietas ubi jalar yang digolongkan sebagai varietas unggulan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) b) c) d) Berdaya hasil tinggi di atas 30 ton/hektar Berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan Rasanya manis Tahan terhadap hama penggerak ubi(Clyas sp.) dan penyakit kudis oleh Cendawan Elsinoe sp. e) Kadar karotin tinggi di atas 10 mg/100 gram f) Keadaan serat ubi rendah Deskripsi masing-masing varietas unggul ubi jalar adalah sebagai berikut: 1. Varietas Ubi Jalar Daya, a. b. c. d. e. f. Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas (kultivar) putri selatan x jonggol. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar. Umur panen 110 hari setelah tanam. Kulit dan daging ubi berwarna jingga muda. Rasa ubi manis dan agak berair. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.

2. Varietas Ubi Jalar Prambanan a. b. c. d. e. f. Diperoleh dari hasil persilangan antara varietas daya x centenial II. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar. Umur panen 135 hari setelah tanam. Kulit dan daging ubi berwarna jingga. Rasa ubi enak dan manis. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.

3. Varietas Ubi Jalar Borobudur a. b. c. d. e. f. Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas daya x philippina. Potensi hasil antara 25-35 ton per ha. Kulit dan daging ubi berwarna jingga. Umur panen 120 hari setelah tanam. Ubi berasa manis. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.

4. Varietas Ubi Jalar Mendut

a. Varietas ini berasal dari klon MLG 12653 introduksi asal IITA, Nigeria tahun 1984. b. Potensi hasil antara 25-50 ton per ha. c. Umur panen 125 hari ssetelah tanam. d. Rasa ubi manis. e. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab. 5. Varietas Ubi Jalar Kalasan a. b. c. d. Varietas diintroduksi dari Taiwan. Potensi hasil antara 31,2-42,5 ton/ha atau rata-rata 40 ton/ha. 3. Umur panen 95-100 hari setelah tanam Warna kulit ubi cokelat muda, sedangkan daging ubi berwarna orange muda (kuning). e. Rasa ubi agak manis, tekstur sedang, dan agak berair. f. Varietas agak tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.). g. Varietas cocok ditanam di daerah kering sampai basah, dan dapat beradaptasi di lahan marjinal

2.2 Deskripsi Pengawet Alami

Pengawetan makanan adalah cara yang digunakan untuk membuat makanan memiliki daya simpan yang lama dan mempertahankan sifat-sifat fisik dan kimia makanan. Dalam melakukan pengawetan makanan perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu jenis bahan makanan yang diawetkan, keadaan bahan makanan, cara pengawetan yang dipilih dan daya tarik produk pengawetan makanan

1. Pengawetan makanan secara Biologi

Pengawetan secara biologis, misalnya peragian (fermentasi) adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum,

fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.

2. Pengawetan makanan secara Kimia a. Penambahan bahan kimia, misalnya asam sitrat, garam, gula. Bahan pengawetan dari bahan kimia berfungsi mampu mempertahankan bahan makanan dari serangan mikrobapemnusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis. b. Pengasaman Proses pengolahan yang dilakukan dengan cara diberi asam. Misalnya asam sitrat,asam asetat, asam benzoat, dll, dengan tujuan untuk pengawetan melalui penurunan derajat pH (mengasamkan) produk makanan sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk. c. Pengasinan Suatu proses pengolahan yang dilakukan dengan cara memberi garam (NaCl) dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan enzimenzim khususnya merusak daging dan ikan. Proses penggaraman biasanya diikuti oleh proses pengeringan untuk menurunkan lebih lanjut kadar air yang ada dalam daging ikan. d. Pemanisan Dilakukan dengan meletakkan makanan pada medium yang mengandung guladengan kadar konsentrasi sebesar 40% untuk menurunkan kadar mikroorganisme. Jika dicelupkan dalam konsentrasi 70%, maka

dapatmencegah kerusakan makanan.

3. Pengawetan makanan secara Fisika

a. Pengeringan b. Pemanasan. c. Pengeluaran udara d. Pendinginan e. Pengalengan. f. Iradiasi

2.3 Perbandingan Pengawet Alami dan Buatan

Tujuan dari proses pengawetan yaitu untuk mencegah dan menghambat kerusakan atau pembusukan makanan. Dengan pemberian zat pengawet, proses fermentasi (pembusukan), pengasaman, atau penguraian karena aktivitas mikroorganisme dapat dicegah sementara waktu. Ada dua macam cara pengawetan pada makanan,yaitu pengawet alami dan pengawetan buatan. a. Pengawetan alami itu dengan cara Menggunakan gula dan penggaraman, contohnya pembuatan manisan. Pengasapan, contohnya pada kelapa. Pendinginan, contohnya pada ikan dan buah-buahan. b. Pengawet buatan, biasanya dilakukan dengan pemberian senyawa kimia,seperti: Garam benzoat digunakan untuk sirup, margarin, dan kecap.

Asam benzoat dan natrium benzoat: dipakai untuk pengawet minuman, jus buah, saus, dan kecap. Asam propionat dan natrium propionat: dipakai pada pengawet roti dan keju. Asam sorbat: dipakai untuk pengawet keju.

2.3 betakaroten

Gambar 1.2 betakaroten

Betakaroten

Beta-Karoten

-Karoten

merupakan

senyawa

organik

dan

diklasifikasikan sebagai suatu terpenoid.Ini adalah pigmen merah-oranye sangat berwarna berlimpah pada tanaman dan buah-buahan.Sebagai karoten dengan beta-cincin di kedua ujungnya, itu adalah bentuk paling umum dari karoten.Ini adalah prekursor (bentuk tidak aktif) vitamin A. Struktur ini disimpulkan oleh Karrer et al. pada tahun 1930.Di alam, karoten adalah prekursor vitamin A melalui aksi beta-karoten 15.-Karoten juga merupakan substansi dalam wortel yang warna oranye mereka. -Karoten biosynthesized dari pirofosfat geranylgeranyl. Menjadi sangat terkonjugasi, hal ini sangat berwarna, dan sebagai kelompok fungsional hidrokarbon kurang, sangat lipofilik.Karotenoid tanaman

adalah sumber makanan utama pro-vitamin A di seluruh dunia, dengan -karoten sebagai yang paling terkenal pro-vitamin A karotenoid.Lainnya inlcude --karoten dan cryptoxanthin.Karotenoid diserap ke dalam usus kecil oleh difusi pasif.Satu molekul karoten dapat dibelah oleh enzim usus spesifik menjadi dua molekul vitamin A. Efisiensi penyerapan diperkirakan antara 9-22%. Penyerapan dan konversi karotenoid mungkin tergantung pada bentuk bahwa -karoten dalam (sayuran dimasak vs mentah, dalam suplemen), asupan lemak dan minyak pada saat yang sama, dan tingkat saat ini vitamin A dan - karoten.

2.4 Oksidasi

Gambar 2.3 antioksidan

Antioksidan merupakan zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi.Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal

bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari metabolisme tubuh maupun faktor eksternal lainnya.

Antioksidan membantu menghentikan proses perusakan sel dengan cara memberikan elektron kepada radikal bebas. Antioksidan akan menetralisir radikal bebas sehingga tidak mempunyai kemampuan lagi mencuri elektron dari sel dan DNA.

2.5 metode ekstraksi merupakan pemisahan suatu zat dari campurannya dengan menggunakan prinsip kelarutan. Ekstraksi digunakan untuk menggambil salah satu atau sekumpulan senyawa dari bahan asalnya. Suatu proses ekstraksi melibatkan tahap-tahap berikut: 1. 2. 3. mencampur bahan ekstraksi dengan pelarut dan membiarkannya saling berkontak memisahkan larutan ekstrak dari rafinat, dengan cara penjernihan atau filtrasi mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarut,

umumnya dengan menguapkan pelarut.: Adapun kriteria-kriteria untuk pelarut : 1. murah 2. tersedia dalam jumlah banyak 3. tidak beracun 4. tidak dapat terbakar 5. tidak eksplosif bila bercampur dengan udara 6. tidak korosif 7. tidak menyebabkan terbentuknya emulsi (viskositas rendah) 8. stabil secara kimia dan termis

pelarut yang sering digunakan untuk ekstraksi antara lain : 1. air 2. asam organic dan anorganik 3. hidrokarbon jenuh 4. toluene 5. karbon disulfit 6. eter 7. aseton 8. hidrokarbon yang mengandung klor 9. isopropanol 10. etanol

Ada dua jenis ekstraktor. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap.Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair.Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon.

Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet.Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt.Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon.Hal ini menyebabkan

ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid).Selain itu ekstraksinya juga lebih merata.Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif daripada ekstraktor Soxhlet. Hal-hal yang berpengaruh dalam ekstraksi : 1. Jenis Pelarut Pelarut yang digunakan adalah pelarut organik. Pelarut organik sangat cepat menguap sehingga cepat terjadi sirkulasi uap dan perolehan minyak akan semakin rendah, disamping itu titik didih lebih rendah akan mempermudah proses pemisahan. 2. Volume pelarut Volume pelarut yang kecil/sedikit akan menghasilkan minyak yang sedikit karena kontak antar uap pelerut dengan sampel sedikit sekali dan sebaliknya. 3. Temperatur Temperatur yang tinggi akan meningkatkan harga difusi massa sehingga perpindahan solute ke pelarut juga meningkatkan harga difusi massa. 4. Ukuran partikel Semakin halus ukuran partikel maka akan semakin mudah dalam mendapatkan minyak tetapi akan mempengaruhi terhadap warna minyak yang dihasilkan. Partikel yang terlalu halus akan mempersulit keluarnya minyak, karena kontak dengan pelarut kecil. 5. Pengadukan Fungsi pengadukan adalah untuk mempercepat terjadinya reaksi antara pelarut dengan solut. 6. Lama waktu

Lamanya waktu ekstraksi akan menghasilkan mjinyak yang lebih banyak, karena sirkulasi uap akan semakin sering kontak antara solut dengan pelarut lebih lama.

Beberapa pelarut yang bisa digunakan : 1. Ethanol BM 46 gr/mol (C2H5OH) Titik didih 78,5C BJ 0,789 gr/mol Merupakan cairan yang tidak berwarna, berbau spesifik, warna nyala kuning 2. Benzena BM 78 gr/mol Tidak berwarna 3. Air (H2O) BM 18 gr/mol Pelarut universal, karena mudah menguap dalam keadaan murni, tidak berbau, tidak beracun, tidak berwarna, netral dan pada kondisi kamar berwujud cair. 4. Heksana (C6H6) BM 86 gr/mol 5. Eter (R O R) Rumus : C2H5OC2H5 BM : 74 gr/mol Titik didih : 34,5 C Cairan encer tidak berwarna, jernih, mudah menguap

Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh: a) Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan. b) Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar. c) Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi. d) Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dengan bahan ekstraksi. e) Reaktivitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi. f) Titik didih, titik didh kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena ekstrak dan pelarut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi. g) Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar, tidak beracun, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik. ekstraksi ini menggunakan umpan berfasa padat dengan pelarut berfasa cair. Proses ini digunakan terutama di bidang industry bahan alami dan makanan, misalnya untuk memperoleh : 1. zat aktif dari tumbuhan atau binatang untuk keperluan farmasi 2. gula dari umbi 3. minyak dari biji-bijian 4. kopi dari biji kopi

Gambar 2.4 proses ekstraksi

BAB III

3.1 Alat dan Bahan Alat yang akan digunakan untuk proses ekstraksi meliputi sebagai berikut : N O 1 NAMA ALAT FUNGSI Penyangga soxhlet, kondensor, labu dasar GAMBAR

STATIF

KLEM

Penjepit labu dasar soxhlet

Hitting mantel

alat pemanas pelarut

Gelas ukur

Mengukur pelarut yang akan digunakan

labu dasar bulat

Tempat pelarut

Corong gelas

Penutup kondensor agar uap tidak keluar

Soxhlet

Tempat sampel ekstraksi

Sumbat karet

Penutup lubang labu dasar bulat Mengkonden sasi uap pelarut

Kondensor

10

Evaporator

Memisahkan ekstrak dengan pelarut

Alat yang digunakan meliputi

No
1 2

Nama bahan
Ubi jalar Etanol Ekstraktor Pelarut

Fungsi

3.2 Metode Metode penyiapan bahan : 1. Bahan dicuci sampai bersih 2. Blander bahan atau digerus 3. Timbang bahan 5g dan masukkan ke dalam selongsong kertas saring

Metode penyiapan alat : 1. Taruh hitting pada statif dan labu dasar di atas hitting, eratkan pada statif 2. Pasang sumbat karet pada bagian kanan dan kiri labu dasar bulat 3. Badian bawah soxhlet diberi Vaseline dan di pasangkan pada bagian tengah labu dasar bulat 4. Dimasukkan sampel bahan yang akan diekstraksi pada soxhlet 5. Soxhlet dieratkan pada statif 6. Pasang selang yang dialiri air pada kondensor, kemudian pasangkan pada bagian atas soxhlet 7. Hitting dihidupkan dan tunggu siklus berlangsung