Anda di halaman 1dari 8

BAB II DASAR TEORI

2.1. Foraminifera Foraminifera adalah organisme bersel tunggal (disebut protista), dengan karakteristik yaitu memiliki pseudopods (reticulopodia), dan beberapa jenis foraminifera memiliki lapisan pelindung luar yang disebut tes. Foraminifera adalah kelompok organisme yang kuno, telah ada 550 juta tahun yang lalu. Test foraminifera tersusun oleh beberapa material yang berlainan. Sebagian tersusun oleh material pseodokhitinan, sebagian merupakan perlekatan material

berukuran pasir dan sebagian lain yang terbesar tersusun oleh material karbonatan. Komposisi dinding test ini merupakan hal yang sangat penting, karena komposisi tersebut menjadi faktor dasar pembeda Ordo foraminifera menjadi Subordonya. 2.1.1. Subordo Faraminifera Berdasar atas komposisi dinding test, foraminifera terbagi menjadi lima Subordo, masing-masing adalah : 1. Subordo Allogromiina Dicirikan oleh dinding test dari kambrium atas-holosen 2. Subordo Textularina Dicirikan oleh dinding terst dari butiran mineral atau pecahan cangkag yang saling didekatkan oleh suatu zat pelekat, dan dinding semacam ini disebut dinding test agglutinated atau arenaceous. Kenampakkan dinding ini kasar dan berbintil-bintil. Umur kambrium-holosen 3. Subordo Miliolina Dicirikan oleh dinding test yang bersadat calcareous imperforate atau porcellaneous dengan kenampakkan halus, putih, opak dan mengkilat seperti porselin. Umur karbon-holosen 4. Subordo Fusulinina Dicirikan oleh dinding test yang bersifat calcareous microgranular. Umur siluran-permian 5. Subordo Rotaliina zat lectinous/pseudokhitin. Umum

Dicirikan oleh dinding terst yang bersifat calcareous perforate atau hyaline dengan sifat dinding yang relarif jernih, dan agak melakukan cahaya (transluscens). Umur trias-holosen Dari kelima jenis dinding test tersebut dinding test pseudokhitin jarang terawetkan sebagai fosil, sedang dinding test microgranular dumiliki oleh

Foraminifera Paleozoik yang tidak sebanyak ditemukan di Indonesia. Bagian utama dari test Foraminifera adalah kamar yang berupa suatu rongga yang dikelilingi oleh dinding, tempat dimana bagioan lunaknya tinggal. Kamar yang pertamakali terbentuk disebut sebagai proloculus. Diantara kedua kamar terdapat sekat yang nampak pada dinding luar sebagai septa. Pada kamar terakhir terdapat apertur, yaitu suatu lubang utama tempat keluarnya pseudopodia. Apertur ini jumlah, bentuk dan tempatnya sangat beragam pada beberapa spesies Foraminifera.

2.2. Aplikasi Biozonasi dalam Bidang Geologi Dalam pengaplikasian biozonasi dalam bidang geologi ialah dalam penentuan umur batuan sedimen, penentuan kematangan suatu hidrokarbon, dan korelasi. Penentuan umur batuan dapat menggunakan dua metode : penentuan umur absolut penentuan umur relatif Penentuan umur absolut menggunakan waktu paruh dari unsur radioaktif yang ada dalam batuan tersebut (DATING). Penentuan umur relatif dengan membandingkan umur batuan tersebut dengan umur batuan lain yang sudah diketahui umurnya, dengan membandingkan posisi stratigrafinya. Penentuan umur batuan dengan zonasi foraminifera termasuk penentuan umur relatif batuan. Umumnya yang digunakan untuk penentuan biozonasi umur batuan adalah foraminifera planktonik kecil. Penentuan zonasi umur batuan dengan menggunakan foraminifera, merupakan prinsip dalam biostratigrafi. Biostratigrafi merupakan tubuh lapisan tubuh batuan yang dipersatukan berdasarkan kandungan fosil atau ciri-ciri paleontologi sebagai sendi pembeda terhadap batuan di sekitarnya. Banyak klasifikasi biozonasi yang diusulkan oleh beberapa peneliti berdasarkan foraminifera plankton, diantaranya : Zonasi Bolli (1957, 1966), Blow (1969), Postuma

(1971), Bronnimann & Resig (1971), Berggren (1972, 1973), Kennet & Srinivasan (1983) dan Bolli & Sanders (1985). Biozonasi Blow (1969) adalah yang paling sering dipakai di Indonesia, untuk berbagai keperluan, baik penentuan umur batuan sedimen maupun korelasi. Salah satu faktornya adalah karena sifat kesederhanaan pemakaiannya, dimana dalam tatanama hanya menggunakan notasi huruf P (untuk Paleogen) dan N (untuk Neogen) dan angka (1-22/23) untuk bagian yang lebih rinci dari zonanya. Dalam biozonasi foraminifera dikenal adanya istilah ZONA, yaitu suatu lapisan atau tubuh batuan yang dicirikan oleh satu takson fosil atau lebih. Ada beberapa macam zona dalam biostratigrafi : a. Zona kumpulan b. Zona kisaran c. Zona Puncak d. Zona selang e. Zona rombakan f. Zona padat a. Zona Kumpulan Zona kumpulan adalah satu lapisan atau kesatuan sejumlah lapisan yang terdiri oleh kumpulan alamiah fosil yang khas. Fosil-fosil tersebut harus mempunyai lingkungan hidup yang sama dan terdapat dalam lapisan batuan yang seumur. Misalnya suatu lapisan batuan mengandung sekumpulan fosil A, maka bisa disebut zona Kumpulan A. b. Zona Kisaran Zona kisaran adalah tubuh lapisan batuan yang mencakup kisaran stratigrafi unsur terpilih dari kumpulan seluruh fosil yang ada. Kegunaannya terutama untuk korelasi tubuh-tubuh lapisan batuan dan sebagai dasar untuk penempatan batuanbatuan dalam skala waktu geologi. Contoh : Zona kisaran Globorotalia margaritae, zona kisaran Globigerinoides sicanus-Globigerinetella insueta c. Zona Puncak Zona puncak adalah tubuh lapisan batuan yang menunjukkan perkembangan maksimum suatu takson tertentu. Kegunaan zona puncak adalah untuk menunjukkan kedudukan kronostratigrafi tubuh lapisan batuan dan dapat dipakai sebagai petunjuk lingkungan pengendapan purba. Nama zona puncak diambil dari nama takson yang berkembang secara maksimum dalam zona tersebut.

d.

Zona Selang Zona selang adalah selang stratigrafi antara pemunculan awal/akhir dari dua takson penciri. Kegunaannya pada umumnya untuk korelasi tubuh-tubuh lapisan batuan. Batas atas atau bawah suatu zona selang ditentukan oleh pemunculan awal atau akhir dari takson-takson penciri. Nama zona selang diambil dari nama-nam takson penciri yang merupakan batas atas dan bawah zona tersebut. Bidang dimana titik-titik tempat pemunculan awal/akhir tersebut berada, disebut sebagai

biohorison/biodatum. e. Zona Rombakan Zona rombakan dalah tubuh lapisan batuan yang ditandai oleh banyaknya fosil rombakan, yang berbeda jauh dengan tubuh lapisan batuan di atas dan di bawahnya. Zona rombakan umumnya khas berhubungan dengan penurunan muka air laut relatif yang cukup besar, baik lokal maupun regional.

f.

Zona Padat Zona padat adalah tubuh lapisan batuan yang ditandai oleh melimpahnya fosil dengan kepadatan populasi jauh lebih banyak dibandingkan lapisan batuan di atas atau bawahnya. Zona padat ini umumnya diakibatkan oleh sedikitnya pengendapan material lain selain fosil.

2.3.

Prinsip Dasar Penyusunan Biozonasi Foraminifera Planktonik 1. 2. 3. Awal pemunculan fosil Akhir pemunculan fosil Zona overlap

2.4.

Cara Penentuan Umur dengan Biozonasi a) Siapkan sampel batuan yang akan diteliti, dalam bentuk peraga butir. b) Dengan mikroskop binokuler, pisahkan peraga fosil dengan butiran sedimen. c) Fosil yang didapat kemudian ditentukan jenisnya (nama spesies). d) Masukkan semua spesies fosil tersebut pada daftar fosil (fosil list). e) Pasang garis kisaran umur tiap spesies fosil tersebut (N3, N4, N5 dst. Untuk mengetahui kisaran umur fosil, bisa dilihat pada berbagai pustaka).

f) Dari garis kisaran yang dibuat pada tiap spesies tersebut, tentukan kolom dimana terjadi overlap dari kisaran-kisaran tersebut. Umur batuan merupakan daerah overlap kisaran tersebut. g) Jika terjadi lebih dari satu overlap kisaran (overlap kisaran umur tua dan overlap kisaran umur muda), perhatikan spesies apa yang menjadikan kisaranumur yang lebih tua. Periksa kembali spesies tersebut. h) Jika hasil identifikasi ulang membuktikan bahwa telah terjadi kesalahan identifikasi, mak tentukan kembali spesies tersebut dan buatlah kisaran umurnya dan tentukan overlap yang baru. i) Jika identifikasi ulang tidak menemukan kesalahan penentuan spesies, ulangi prosedur no. 8 untuk overlap kisaran umur yang lebih muda. jika ternyata dari dua identifikasi ulang keduanya tidak menunjukkan kesalahan determinasi, maka overlap umur yang dipakai adalah overlap kisaran umur yang lebih muda, sedangkan overlap kisaran umur yang lebih tua kemungkinan disebabkan oleh spesies-spesies reworked.

2.5. Geologi Regional 2.5.1 Fisiografi Pegunungan Kendeng

Gambar 2.1 Sketsa Fisografi Pulau Jawa Bagian Timur (de Genevraye and Samuel, 1972)

Zona Kendeng juga sering disebut Pegunungan Kendeng dan adapula yang menyebutnya dengan Kendeng Deep, adalah antiklinorium berarah barat-

timur. Pada bagian utara berbatsan dengan Depresi Randublatung, sedangkan bagian selatan bagian jajaran gunung api (Zona Solo). Zona Kendeng merupakan kelanjutan dari Zona Pegunungan Serayu Utara yang berkembang di Jawa Tengah. Mandala Kendeng terbentang mulai dari Salatiga ke timur sampai ke Mojokerto dan menunjam di bawah alluvial Sungai Brantas, kelanjutan pegunungan ini masih dapat diikuti hingga di bawah Selat Madura. Menurut Van Bemmelen (1949), Pegunungan Kendeng dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian barat yang terletak di antara G.Ungaran dan Solo (utara Ngawi), bagian tengah yang membentang hinggaJombang dan bagian timur mulai dari timur Jombang hingga Delta Sungai Brantas dan menerus ke Teluk Madura. Daerah penelitian termasuk dalam Zona Kendeng bagian barat.

2.5.2 Stratigrafi Menurut Harsono P. (1983) Stratigrafi daerah kendeng terbagi menjadi dua cekungan pengendapan, yaitu Cekungan Rembang (Rembang Bed) yang membentuk Pegunungan Kapur Utara, dan Cekungan Kendeng (Kendeng Bed) yang membentuk Pegunungan Kendeng. Formasi yang ada di Kendeng adalah sebagi berikut: 1. Formasi Kerek Formasi ini mempunyai ciri khas berupa perselingan antara lempung, napal lempungan, napal, batupasir tufaan gampingan dan batupasir tufaan. Perulangan ini menunjukkan struktur sedimen yang khas yaitu perlapisan bersusun (graded bedding) yang mencirikan gejala flysch. Berdasarkan fosil foraminifera planktonik dan bentoniknya, formasi ini terbentuk pada Miosen Awal Miosen Akhir (N10 N18) pada lingkungan shelf. Ketebalan formasi ini bervariasi antara 1000 3000 meter. Di daerah Lokasi Tipe, formasi ini terbagi menjadi 3 anggota (de Genevreye & Samuel, 1972), dari tua ke muda masing-masing: a.Anggota Banyuurip Tersusun oleh perselingan antara napal lempungan, napal, lempung dengan batupasir tuf gampingan dan batupasir tufaan dengan total ketebalan 270 meter. Pada bagian tengah perselingan ini dijumpai batupasir gampingan dan tufaan setebal 5 meter, sedangkan bagian atas ditandai oleh adanya perlapisan kalkarenit pasiran setebal 5 meter dengan sisipan tipis dari tuf halus. Anggota ini berumur N10-N15 (Miosen Tengah bagian tengah-atas).

b. Anggota Sentul Tersusun oleh perulangan yang hampir sama dengan Anggota Banyuurip, tetapi lapisan yang bertufa menjadi lebih tebal. Ketebalan seluruh anggota ini mencapai 500 meter. Anggota Sentul diperkirakan berumur N16 (Miosen Tengah bagian bawah). c. Batugamping Kerek Anggota teratas dari Formasi Kerek ini tersusun oleh perselangselingan antara batugamping tufan dengan perlapisan lempung dan tuf. Ketebalan dari anggota ini adalah 150 meter. Umur dari Batugamping Kerek ini adalah N17 (Miosen Atas bagian tengah). 2. Formasi Kalibeng Formasi ini terletak selaras di atas Formasi Kerek. Formasi ini terbagi menjadi dua anggota yaitu Formasi Kalibeng Bawah dan Formasi Kalibeng Atas. Bagian bawah dari Formasi Kalibeng tersusun oleh napal tak berlapis setebal 600 meter berwarna putih kekuningan sampai abu-abu kebiruan, kaya akan foraminifera planktonik. Asosiasi fauna yang ada menunjukkan bahwa Formasi Kalibeng bagian bawah ini terbentuk pada N17 N21 (Miosen Akhir Pliosen). Pada bagian barat formasi ini oleh de Genevraye & Samuel, 1972 dibagi menjadi Anggota Banyak, Anggota Cipluk, Anggota Kalibiuk, Anggota Batugamping, dan Anggota Damar. Di bagian bawah formasi ini terdapat beberapa perlapisan batupasir, yang ke arah Kendeng bagian barat berkembang menjadi suatu endapan aliran rombakan debris flow, yang disebut Formasi Banyak (Harsono, 1983, dalam Suryono, dkk., 2002). Sedangkan ke arah Jawa Timur bagian atas formasi ini berkembang sebagai endapan vulkanik laut yang menunjukkan struktur turbidit. Fasies tersebut disebut sebagai Formasi Atasangin, sedangkan bagian atas Formasi Kalibeng ini disebut sebagai Formasi Sonde yang tersusun mula mula oleh Anggota Klitik, yaitu kalkarenit putih kekuningan, lunak, mengandung foraminifera planktonik maupun

foraminifera besar, moluska, koral, alga, bersifat napalan atau pasiran dan berlapis baik. Bagian atas bersifat breksian dengan fragmen gamping berukuran kerikil sampai karbonat, kemudian disusul endapan bapal pasiran, semakin ke atas napalnya bersifat lempungan, bagian teratas ditempati napal lempung berwarna hijau kebiruan.

Beri Nilai