Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN BLOK 23 LBM 1 Hospital Management

Disusun oleh : SGD 2 1. Anggun hibah 2. Agnestania 3. Arum dyah 4. Ayu nurlaila 5. Fania mahardini 6. Febri Jayanti 7. Happy septianto 8. Henny eka putri 9. Jayadi rapen ulpa (112100 (112100110) (1121001 (1121001 ) )

(112100131) (112100133) (1121001 (112100 (112100 ) ) )

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung Semarang 2013

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat, karunia dan petunjukNya, Makalah laporan hasil Small Group Discussion (SGD) LBM 1 BLOK 23 dari kelompok SGD 2 ini telah selesai disusun. Makalah laporan hasil SGD ini memuat mengenai scenario permasalahan, latar belakang masalah serta pembahasan mengenai masalah yang ada diskenario yang diberikan. Dengan disusunnya makalah laporan SGD ini semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, khususnya bermanfaat bagi seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung dan mendapatkan rahmat serta ridho Allah SWT. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Semarang, Desember 15 Desember 2013 Anggota SGD 2

BAB I PENDAHULUAN Costumer focused service adalah sebuah pelayanan yang dikhususkan untuk kepuasaan pasien dalam hal kenyamanan pasien serta mengevaluasi untuk pengembangan suatu rumah sakit yang mengfokuskan pada sumber daya manusia yang ada/terlibat(tenaga kesehatan) agar menghasilkan mutu kepada pasien. Keselamatan pasien merupakan isu global yang banyak dibicarakan saat ini, dimana sekarang banyak dilaporkan tuntutan pasien atas medical eror yang terjadi pada pasien. Keselamatan pasien di rumah sakit atau disebut patient safety adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien dirumah sakit menjadi lebih aman yang meliputi asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisa insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat mengambil suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Kemenkes, 2011). Medical error adalah Kesalahan dari perencanaan terhadap tindakan medis yang harus diselesaikan atau tindakan yang bukan perencanaan nya dan terjadinya Kegagalan dari tindakan medis yang telah direcanakan yang akhirnya tidak sesuai yang diharapkan. Menurut laporan IOM (Institute of

medicine) di Amerika tahun 1999 menyatakan bahwa paling sedikit terdapat 44.000 bahkan 98.000 pasien meninggal dirumah sakit dalam setahun akibat kesalahan medis (medical error). Penelitian Bates menunjukkan bahwa peringkat tertinggi terdapat pada kesalahan pengobatan (medical error) pada tahap ordering ( 49%), diikuti tahap administration pharmacy management (14%), dan trascarbing (11%). Gerakan keselamatan pasien rumah sakit ( GKPRS) telah dicanangkan di Indonesia pada 21 agustus 2005 oleh menteri kesehatan republik indonesia yang menyatakan bahwa setiap rumah sakit wajib membentuk tim keselamatan rumah sakit. Keberhasilan patient safety sangat tergantung pada individu staf medis yang terkait dengan pelayanan pasien. Lima prinsip yang dapat digunakan untuk merancang safety system pada rumah sakit yakni 1. prinsip provide leadership a. Menjadikan keselamatan pasien sebagai tujuan utama/prioritas b. Menjadika keselamatan pasien sebagai tanggung jawab bersama c. Menunjuk/menugaskan seseorang yang bertanggung jawab untuk program kesehatan d. Menyediakan sumber daya manusia dan dana untuk analisis error dan redesign sistem management (26%),

e. Mengembangkan mekanisme efektif untuk mengidentifikasi unsafe dokter 2. Memperhatikan keterbatasan manusia dalam merancang proses yakni a. Design job for safety b. Menyederhakan proses c. Membuat standar proses 3. Mengembangkan tim yang efektif 4. Antisipasi kejadian yang tak terduga a. Pendekatan proaktif b. Menyederhanakan proses c. Training simulasi 5. Menciptakan atmosfer Learning A. Skenario Kasus Judul Pelayanan di rumah sakit X aman dan nyaman gak ya ....?

Rumah Sakit Islam Sultan Agung terus mengedepankan salah satu misinya yaitu Customer Focused Service. Misi ini diwujudkan dalam proses pelayanan kesehatan yang terbaik kepada pasien. Salah satu perwujudannya melalui pengembangn system Patient Safety yang terstandar untuk mengurangin medical error. Hal ini sangat penting dilakukan untuk mengurangi ressiko cedera atau harm pada pasien akibat struktu dan proses pelayanan kesehatan.

B.

Latar Belakang Permasalahan Berdasarkan dari scenario kasus yang telah menjadikan latar belakang dari masalah yang akan kami diskusikan. Kelompok SGD kami setuju dan menyepakati bersama pokok bahasan pada LBM 1 BLOK 22 ini mengenai customer focused service sebagai misi rumah sakit yang berlandaskan system patient safety 1. Bagaimana prinsip/langkah-langkah yang digunakan untuk mencapai misi customer focused services? 2. Mengapa RS perlu menggunakan misi customer focused sevices? 3. Manajemen lain selain costumer focused service, dan apa cirri khas dari costumer focused service? 4. Apa saja Standar patient safety ? 5. Langkah langkah pelaksanaan patient safety di RS? 6. Mengapa perlu patient safety ? 7. Aspek hukum yang berkaitan dengan patient safety? 8. Apa saja macam / bentuk Medical eror ? 9. Apa saja aspek yang terkandung dalam manjemen pelayanan kesehatan? 10. Pengertian RS, fungsi, dan struktur organisasi RS ?

BAB II PEMBAHASAN 1. Bagaimana prinsip/langkah-langkah yang digunakan untuk mencapai misi customer focused services? o Studi informasi 2008 lebih mengacu pada customer focused service selain itu juga ada informasi dan produk. o Prinsip meningkatkan mutu pada RS focus pada pelanggan ada 2 yaitu kualitas mutu dari barang/product dan kualitas tenaga kerja dan lingkungan o Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit dengan cara perbaikan sistem yang ada dan dibutuhkan kemitraaan dengan pelanggan dan karyawan untuk mengurangin waste yaitu mengurangi pemborosan dari resource maupun sumber daya manusia dengan meningkatkan alur kerja dan mengoptimalkan resource o Mempertahankan para pelanggan CFS untuk kepuasaan pelanggan kesembuhan dari penyakit memahami proses pelanggan kualitas, manajemen dan mutu Keinginan pelanggan dapat di lihat dari : o Sosialis need o Emosional need ingin disanjung secara emosi

o Physical need o Sercurity need 2. Mengapa RS perlu menggunakan misi customer focused sevices? Setiap bentuk organisasi mengutamakan suatu pelayanan untuk mendapatkan suatu kenyamanan dibutuhkan sebuah keamanan bagi patient safety dan tenaga medis sehingga menghasilkan suatu kepuasaan Penjamin mutu hasil dari kenyamanan yang didapat, kebutuhan dan keinginan dari pasien. Mendapatkan kepercayaan dari pasien hasil dari kenyamanan dan keamanan pasien Mengfokuskan pada seluruh SDM di RS (internal) untuk memaksimalkan nya keuntungan nya yaitu pengaturan pada focus pasien (eksternal) lebih terarah dan bisa di lakukan evaluasi(apabila ada keseimbangan internal dan eksternal) Meningkatkan mutu RS dengan melibatkan struktur organisasi di RS tsbt Keuntungan CFS 1. Menjaga hubungan pasien dengan RS supaya harmonis 2. menjaga hubungan baik kunjungan berikutnya 3. membentuk suatu recomendasi dari mulut kemulut (word of mouth)

4. reputasi RS tetap baik apabila CFS tetap terjaga 5. penghasilan yang meningkat 3. Manajemen lain selain costumer focused service, dan apa cirri khas dari costumer focused service? Manajemen RS suatu perencanaan ,pengerakan, pengorganisasian, pengendalian dan pengawasan Pengelolaan suatu sistem dan organisasi yang didalamnya dipimpin oleh seorang pemimpin dan bagaimana cara

mendapatkan kader Koordinasi dari berbagai sumber daya dalam menjalankan P1( perencanaan) p2 (pergerakan-pelaksanaan),p3(pengawasan-

pengendalian-penilaian) Daya guna(efisien) dan hasil guna (efektif) 4. Apa saja Standar patient safety ? Menurut hospital patient safety standart Joint comnision on Acreditation of health organization tahun 2002 dan permenkes 1. Hak pasien memiliki standar untuk mendapatkan informasi ,rencana dan KTD Criteria : Harus ada dokter penanggung jawab nya membuat rencana penjelasan tentang hasil pelayanan, pengobatan dan prosedur

2. Mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien Memberikan info yang benar, jelas dan lengkap dan jujur Mengetahui kewajiban dan tanggun jawab Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti 3. Keselamatan pasien menjamin dan mengkoordinasi antar staf 4. Metode metode peningkatan kerja dan keselamatan pasien memperbaiki atau merubah proses yang ada 5. Mendidik tentang keselamatan pasien RS bertanggung jawab terhadap keselamatan dan pendidikan terhadap staff 6. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf dalam mencapai kenyamanan pasien memperoleh data dan revisi KKPRS-PERSI, KARS DepKes, bulan Maret 2006 Buku Panduan

Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Standar I. Hak pasien Standar : Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan.

Kriteria : Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak

Diharapkan. Standar II. Mendidik pasien dan keluarga Standar : Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien Kriteria : Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di rumah sakit harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat : a. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.

b. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga. c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti d. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan. e. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan rumah sakit. f. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa. g. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati. Standar III. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan Standar : Rumah Sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan. Kriteria : Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit. Terdapat kebutuhan koordinasi pasien pelayanan dan yang disesuaikan daya dengan secara

kelayakan

sumber

berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik dan lancar. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan efektif. Standar IV. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien Standar : Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif Kejadian Tidak Diharapkan, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. Kriteria : Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien,

petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang Standar V. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien Standar : Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit . Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi Kejadian Tidak Diharapkan. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan keselamatan pasien. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien. Kriteria :

Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien. Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis Kejadian yang memerlukan perhatian, mulai dari Kejadian Nyaris Cedera (Near miss) sampai dengan Kejadian Tidak Diharapkan ( Adverse event). Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien. Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang Analisis Akar Masalah (RCA) Kejadian Nyaris Cedera (Near miss) dan Kejadian Sentinel pada saat program keselamatan pasien mulai dilaksanakan. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya menangani Kejadian Sentinel (Sentinel Event) atau

kegiatan proaktif untuk memperkecil risiko, termasuk mekanisme untuk mendukung staf dalam kaitan dengan Kejadian Sentinel. Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan di dalam rumah sakit dengan pendekatan antar disiplin. Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan pasien, termasuk evaluasi berkala terhadap

kecukupan sumber daya tersebut. Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi

menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan implementasinya. Standar VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien Standar : Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara jelas Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi

staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien. Kriteria : Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan tugasnya masing-masing. Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden. Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien. Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan pasien Standar : Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat. Kriteria :

Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.

Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi manajemen informasi yang ada

5. Langkah langkah pelaksanaan patient safety di RS? WHO Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip ( look-alike, soundalike, medication names) Pastikan identifikasi pasien Komunikasi secara benar saat serah terima /pengoperan pasien Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar Kendalikan cairan elektrolit pekat Pastikan akurasi pemberian obat Hindari salah kateter dan salah sambung selang Gunakan alat injeksi sekali pakai Tingkatkan kebersihan tangan mencegah infeksi nosokomial RS membentuk organisasi keselamatan Pelaporan internal apabila ada insiden melaporkan kekomite medis secara rahasia

RS

memenuhi

standar

7langkah

Dan

menerapkan

untuk

keselamatan pasien Menurut KKPRS NO 001-VIII-2005 Membangun kesadaran dari nilai-nilai keselamatan pasien menciptakan kepemimipin yanga adil dan terbuka RS menumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden Bagi tim laporan terbuka apabila Masing2 staf harus focus pada keselamatan pasien membangun komitmen dan focus yang jelas dan kuat tentang KS pasien Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko kembangkan sistem dan pengelolaan resiko, serta lakukan identifikasi dan asesmen hal yang potensial bermasalah. Mengembangkan sistem pelaporan pastikan staf Libatkan komunikasi yang baik kepada pasien Menurut Hasting G, 2006 1. put the focus back on safety Patient safety harus menjadi prioritas strategis dari rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan lainnya. 2. think small and make the right thing easy to do Membuat langkah-langkah yang mudah untuk memberikan

peningkatan pelayanan kesehatan. 3. encourage open reporting

Koordinator patient safety dan manager Rumah sakit perlu membuat budaya yang mendorong pelaporan. Mencatat tindakan-tindakan yang membahayakan pasien dan tindakan-tindakan yang menyelamatkan apsien. Diskusi terbuka mengenai insiden-insiden yang terjadi bisa menjadi pembelajaran bagi semua staff. 4. make data capture a priority Dibutuhkan sistem pencatatan data untuk mempelajari dan mengikuti perkembangan kualitas dari waktu ke waktu. 5. use system-wide approaches Staff juga harus dilatih dan didorong untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan terhadap pasien. 6. build implementation knowledge Pemimpin sebagai pengarah jalannya program memegang peranan penting dalam mengembangkan metodologi, sistem berfikir dan implementasi program untuk menumbuhkan motivasi dan dukungan pada staff. 7. involve patient in safety 8. develop to-class patient safety leaders Diperlukan kepemimpinan yang kuat, tim yang kompak serta dedikasi dan komitmen yang tinggi untuk tercapainya tujuan pengembangan budaya patient safety.

6 Sasaran patient safety 1) ketepatan identifikasi pasien individu 2) peningkatan komunikasi yang efektif tepat waktu, akurat, lengkap jelas dan yang dapat dipahami pasien 3) peningkatan pelayanan obat yang perlu diwaspadai 4) kepastian tepat lokasi, prosedur, tepat pasien operasi 5) pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan 6) pengurangan resiko jatuh 6. Mengapa perlu patient safety ? Terciptanya budaya keselamatan di RS Menurunnya Ktd Meningkatkan akuntabilitas di RS Menghindari pengaduan atau tuntutan dari pasien Mencegah terjadinya cedera medical eror dan tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil Mencegah kesalahan yang diketahui atau kesalahan yang tampak Terlaksananya program2 untuk mengurangi KTD Memperbaiki proses pelayanan mengurangin KTD yang biasanya diakibat kan oleh adanya kesalahan dalam proses pelayanan 7. Aspek hukum yang berkaitan dengan patient safety?

Berhubungan dengan keselamatan pasien sebagai ISU hUkum (pasal 53 ayat 3 UU no 36/2009 pelaksanaan pelayanan kesehatan harus mendahulukan

keselamatan nyawa pasien Tanggung jawab hukum RS (pasal 29B UU NO 44/2009) memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,

antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan RS Bukan tanggung jawab RS ( pasal 45 ayat 1 UU no 44/2009 )tentang RS RS tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien atau keluarga menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya penjelasan medis yang komprhensif Hak pasien (pasal 32D UU NO 44/2009) setiap pasien mempunyai hak memperoleh layanaan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar prosedur operasional Kebijakan yang mendukung keselamatan pasien (pasal 43 UU NO 44/2009) rs wajib menerapkan standar keselamatan pasien standar keselamatan pasien

Permenkes 1691/2011 tentang keselamatan pasien RS sebagai pedoman bagi penerapan keselamatn pasien di RS UU NO 44 pasal 45 ayat 2/2009 RS tidak dapat di tuntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan nyawa manusia 8. Apa saja macam / bentuk Medical eror ? Tahap Kesalahan diagnostic keterlambatan diagnosa dan tidak menerapkan pemeriksaan yang sesuai, menggunakan cara pemeriksaan yang tidak dipakai atau tidak bertindak terhadap hasil observasi tahap pengobatan tahap terapi dan metode penggunaan obat tahap preventif tidak memberikan tindakan profilaksi dan follow up yang tidak adekuat, hal teknis yang lain dalam kegagalan alat dan komunikasi. ketidak siaga saat emergency Kejadian tidak diharapkan, kejadian tidak cedera KTD Kejadin potensial cedera preventif Kejadian sentinel 9. Apa saja aspek yang terkandung dalam manjemen pelayanan kesehatan? Input (tenaga medis, organisasi, sarana prasana)

Proses

P1(perencanaan)

,P2

(pergerakan-pelaksanaan),

P3

(pengawasan-pengendalian-penilaian) Output (pelayanan medik yang bermutu) Outcome (kepuasaan pelanggan) Impact meningkat nya mutu dan pelanggan environment

10. Pengertian RS, fungsi, dan struktur organisasi RS ? RS Depkes RI pusat pelayanan yang menyelenggarakan medic dasar dan spesialiasasi Kelas2 RS kelas A minimal 15buah spesialisasi , kelas B 11buah spesialisasi , kelas C ada 4 buah spesialiasisasi, kelas D tidak ada spesialisasi Pelayanan penunjang medis BIDAN pelayanan Perawatan rawat inap, rawat jalan maupun pelayanan instalasi

BAB III PENUTUP


RS

Pelayanan yang baik

CFS

Patient safety

Tingkat kepuasaan, kepercayaan, kenyamanan mutu meningkat dan Medical eror

KTD KTC KPC sentinel

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1. Mulyana, D.S., 2013. Analisa penyebab insiden keselamatan pasien oleh perawat di unit rawat inap rumah sakit X jakarta. Jakarta: fakultas kesehatan masyarakat universitas indonesia 2. Marseno, R., 2011. Patient safety (keselamatan pasien rumah sakit). Padang : fakultas kedokteran universitas andalas 3. http://www.jamsosindonesia.com/cetak/printout/453