Anda di halaman 1dari 26

BAB II ISI

A. Landasan Teori 1. Gigi Tiruan Penuh (GTP) a. Definisi Merupakan gigi tiruan lepasan yang menggantikan semua gigi asli dan struktur pendukungnya yang telah hilang pada rahang atas (upper full denture) dan rahang bawah (lower full denture) (Bakar, 2012). b. Fungsi Gigi Tiruan Penuh Fungsi gigi tiruan penuh antara lain (Basker ;dkk, 1996): 1) Memperbaiki fungsi bicara 2) Memperbaiki fungsi pengunyahan 3) Memperbaiki estetis 4) Memperbaiki fungsi stomatognatik 5) Mempertahankan jaringan pendukung c. Indikasi pembuatan GTP Indikasi pembuatan gigi tiruan penuh (Bakar, 2012): 1) Seluruh giginya telah tanggal atau dicabut. 2) Ada beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih ada tidak mungkin diperbaiki. 3) Bila dibuatkan GTS gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya. 4) Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat. 5) Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosis yang akan diperoleh. d. Kontra indikasi pembuatan GTP Kontra indikasi pembuatan GTP antara lain (Bakar, 2012): 1) Tidak ada perawatan alternatif 2) Pasien belum siap secara fisik dan mental,

3) Pasien alergi terhadap material gigi tiruan penuh 4) Pasien tidak tertarik mengganti gigi yang hilang e. Keberhasilan Perawatan GTP Keberhasilan pembuatan GTP tergantung dari pada dukungan jaringan sekitarnya, sehingga dapat mempertahankan keadaan jaringan normal, meliputi (Basker ;dkk, 2012): 1) Kondisi edentulous (tidak begigi) berupa seperti processus alveolaris, saliva, batas mukosa bergerak dan tidak bergerak, kompesibilitas jaringan mukosa, bentuk dan gerakan otot-otot muka, bentuk dan gerakan lidah. 2) Ukuran, warna, bentuk gigi dan gusi yang cocok 3) Sifat dan material yang hampir sama dengan kondisi mulut 4) Penetapan atau pengaturan gigi yang benar, meliputi : 5) Posisi dan bentuk lengkung deretan gigi 6) Posisi individual gigi 7) Relasi gigi dalam satu lengkung dan antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah. 2. Diabetes Melitus a. Definisi Keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai

komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer, dkk; 2000) b. Klasifikasi Berdasarkan etiologinya, klasifikasi diabetes melitus (DM) (Jonathan, 2003): 1) DM tipe I (umumnya terjadi defisiensi insulin absolut). Pada DM tipe ini terjadi kerusakan sel beta pankreas akibat proses imunologik ataupun idiopatik. 2) DM tipe II (bervariasi mulai dari resistensi insulin yang disertai defisiensi insulin relatif sampai gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin).

3) DM tipe lain. DM tipe ini disebabkan oleh penyakit lain, seperti defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas,

endokrinopati, induksi obat atau bahan kimia, infeksi, imunologi, dan sindrom genetik lain. 4) Diabetes kehamilan (diabetes yang didiagnosis selama kehamilan).

B. Pembahasan 1. Skenario PBL 2 Tuan Athar, 75 tahun datang ke dokter gigi diantarkan oleh cucunya untuk dibuatkan gigi palsu. Lima tahun yang lalu sudah pernah menggunakan gigi palsu, tetapi gigi tiruan bagian bawah patah berkeping-keping sekitar 1 bulan yang lalu akibat jatuh pada saat dibersihkan. Sejak itu nafsu makannya menurun dan suka berdiam diri dikamar. Sebelumnya sudah pernah ke drg A, tetapi dokter gigi tersebut menolak untuk membuatkan gigi karena pasien menolak untuk dicabut sisa akar gigi geraham belakang kanan yang sudah goyah. Pemeriksaan gula darah menunjukkan kadar gula darah sesaat 250. Pasien siap untuk dicabut saat ini agar gigi palsunya segera dibuatkan.

2. Identifikasi Masalah dan Sasaran Belajar a. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan anamnesa, pemeriksaan dan penentuan diagnosis, serta bagaimana hasil anamnesa, pemeriksaan, serta diagnosis pada kasus? b. Apa sajakah rencana perawatan pada kasus? c. Jenis gigi tiruan apakah yang akan diberikan (meliputi karakteristik) dan indikasi dari gigi tiruan tersebut? d. Bagaimana tahap klinis pembuatan gigi tiruan pada kasus? e. Bagaimana prognosis perawatannya?

3. Brain Strorming a. Hasil anamnesa, pemeriksaan, serta diagnosis 1) Anamnesa Hasil anamnesa pada skenario diperoleh: a) CC b) PI : dibuatkan gigi palsu. : nafsu makan menurun dan suka berdiam diri dikamar karena 1 bulan yang lalu gigi tiruan bagian bawah pecah berkepingkeping. c) PMH : kadar gula sesaat 250 dicurigai menderita diabetes melitus. d) PDH : 5 tahun lalu pernah menggunakan gigi palsu. 2) Pemeriksaan Pada skenario tidak dijelaskan kondisi pasien dalam mulut atau diluar mulut, adapun yang harus diperhatikan ketika memeriksa antara lain: a) Pemeriksaan Intraoral Pada penderita diabetes melitus biasnya bau mulut pasien khas keton, adanya resopsi tulang alveolar, kerusakan pada jaringan periodontal sehingga gigi mudah goyang, rasa nyeri dan merah pada lidah, xerostomia karena mudah haus, harus diperiksa juga linggir tulang palatum, alveolarnya, gingiva, keadaan

vestibulum,

mukosanya,

salivanya, kondisi klinis giginya. b) Pemeriksaan Ekstraoral Pemeriksaan ekstra oral dilihat bentuk wajahnya, profil wajahnya, hidungnya, tragus, bibirnya, kulitnya.

3) Diagnosa Diagnosa sementara adalah klasifikasi PDI kehilangan gigi penuh kelas III.

b. Rencana perawatan pada kasus Rencana perawatan yang diberikan antara lain: 1) Ekstrasi sisa akar. 2) Menghilangkan flabby tissue karena adanya resopsi tulang alveolar. 3) Rujuk pasien ke spesialis penyakit dalam. 4) Desain gigi tiruan harus disesuaikan dengan keadaan pasien. 5) Tindakan bedah jika diperlukan, dan tindakan harus atraumatik.

c. Jenis gigi tiruan dan indikasinya Jenis gigi tiruan yang diggunakan pada kasus adalah gigi tiruan penuh lepasan pada rahang bawah. Indikasi penggunaan GTP (Gigi tiruan penuIndikasi penggunaan GTP (Gigi tiruan penuh): 1) Pasien full edentulous. 2) OH pasien baik. 3) Motivasi untuk pembuatan gigi tiruan dari diri sendiri. 4) Kontraindikasi pada penggunaan GTS. 5) Tidak ada alternatif perawatan lainnya. Karakteristik dan dukungan dari gigi tiruan antara lain: 1) Disesuaikan bahannya dengan kebutuhan pasien, jika adapasien yang alergi terhadap bahan gigi tiruan. 2) Dukungan harus didistribusikan secara merata, tidak terpusat pada tulang alveolar. 3) Flange (sayap) tidak menganggu vestibulum.

d. Tahap klinis pembuatan gigi tiruan pada kasus Tahap klinis pembuatan gigi tiruan penuh: 1) Percetakan a) Pencetakan pertama dengan sendok cetak anatomis, menghasilkan sendok cetak perseorangan, dan diperoleh model studi dengan teknik pencetakan mukostatis. b) Pencetakan kedua dengan sendok cetak

perseorangan, dan diperoleh model kerja dengan teknik pencetakan mukokompresi. 2) Penentuan MMR (Maxillo Mandibular Relationship) 3) Pemasangan anasir gigi Pemasangan anasir gigi dilakukan pada regio anterior kemudian ke regio posterir. 4) Packing 5) Proses try in Proses try in meliputi proses untuk mengecek over bite dan over jet, cek retensi dan stabilisasi. 6) Insersi Saat insersi yang perlu diperhatikan adalah oklusi, retensi dan stabilisasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan retensi adalah peripheral seal nya, postdam, kohesi dan adhesi. Sedangkan stabilisasi ditentukan oleh permukaan yang halus pada gigi tiruannya, basal seal harus seimbang. Pada saat insersi pasien diberikan edukasi tentang perawatn gigi tiruan, dan diinstruksikan untuk kontrol. 7) Kontrol Saat kontrol yang perlu diperhatikan adalah pemeriksaan subjektif dan objektif.

10

e. Prognosis perawatan Berdasarkan kasus prognosis perawatannya buruk, dikarenakan kondisi dari usia pasien, penyakit sistemik yang dideritanya yaitu penyakit diabetes melitus.

4. Hasil Belajar a. Hal yang perlu diperhatikan ketika anamnesa, pemeriksaan, dan diagnosis. 1) Hal yang perlu diperhatikan ketika anamnesa Hal yang perlu diperhatikan ketika anamnesa, meliputi (Gunad, dkk; 1995): a) Nama, alamat, usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. b) Alasan kunjungan, pasien datang atas keinginan sendiri atau orang lain (keadaan ini mempengaruhi motivasi). c) Riwayat kesehatan umum. Meliputi kelainan sistemik, hormonal, penyakit infeksi berat atau kronis, penyakit kelainan darah dan kardiovaskuler, penyakit alergi dan kulit. d) Riwayat kesehatan gigi dan mulut e) Kelainan yang pernah diderita dan perawatan yang pernah diterima. f) Motivasi terhadap kesehatan gigi dan mulut, terhadap penggunaan gigi tiruan jika pada kasus. g) Memberikan kesempatan kepada pasien untuk

menceritakan masalah yang dihadapinya dengan gigi tiruan lama,penting untuk memperoleh petunjuk untuk pembuatan gigi tiruan penuh. 2) Hal yang perlu diperhatikan saat pemeriksaan Pemeriksaan pemeriksaan meliputi (Gunad, dkk; 1995): a) Pemeriksaan umum (1) Pemeriksaan Ekstraoral

11

Pemeriksaan ekstraoral meliputi pemeriksaan wajah, mata (pupil), profil wajah, telinga (tragus), TMJ, bibir, ketebalan bibir, panjang bibir. (2) Pemeriksaan Intraoral Pemeriksaan intraoral meliputi Mukosa,

ketahanan jaringan, vestibulum, lidah, gingiva, saliva, palatum, gigi, frenulum, bentuk linggir alveolaris, bentuk lengkung rahang, tuberositas alveolaris, ruang retromilohioid, perlekatan dasar mulut. Pada proses penuaan biasanya ditemukan di dalam mulut: (a) Perubahan mukosa mulut Pertambahan usia menyebabkan sel epitel pada mukosa mulut mengalami penipisan, berkurangnya keratinisasi, berkurangnya

kapiler dan suplai darah, penebalan serabut kolagen pada lamina propia. Sehingga secara klinis mukosa mulut terlihat lebih pucat, tipis, kering, proses penyembuhan yang lama. Hal ini menyebabkan mukosa mulut lebih mudah mengalami iritasi terhadap tekanan atau gesekan yang diperparah dengan

berkurangnya aliran saliva. (b) Perubahan ukuran lengkung rahang Pada rahang atas arahnya ke bawah dan keluar, maka pengurangan tulangnya pada umumnya juga terjadi kearah atas dan dalam. Pada rahang bawah inklinasi gigi anterior umumnya keatas dan ke depan dari bidang oklusal, sedangkan gigi-gigi posterior lebih vertikal atau sedikit miring ke arah lingual.

12

Resorbsi pada tulang alveolar mandibula terjadi kearah bawah dan belakang kemudian kedepan. Terjadi perubahan-perubahan pada otot sekitar mulut, hubungan jarak antara mandibula dan maksila sehingga terjadi perubahan posisi mandibula dan maksila. (c) Resobsi linggir alveolar Tulang akan mengalami resorbsi dimana resorbsi berlebihan pada puncak bentuk

tulang alveolar

mengakibatkan

linggir yang datar dan merupakan masalah karena gigi tiruan penuh kurang baik dan terjadi ketidak seimbangan oklusi. (d) Xerostomia Xerostomia dapat disebabkan karena adanya konsumsi obat-obatan pada lansia yang mengalami penyakit sistemik,dan merupakan salah satu perubahan fisiologi pada lansia. retensi gigi tiruan. Keadaan ini menyebabkan kemampkan pemakaian gigi tiruan berkurang sehingga fungsi pengunyahan berkurang, kecekatan gigi tiruan berkurang. (e) Gigi Gigi-gigi biasanya mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia, perubahan ini sebagai akibat dari usia disebabkan oleh refleks, keausan, penyakit, kebersihan mulut, dan kebiasaan. Email gigi akan berubah seiring dengan bertambahnya usia, termasuk kenaikan konsetrasi nitrogen dan fluoride sejalan usia. Pembentukan dentin yang berlanjut sejalan dengan usia menyebabkan

13

reduksi secara bertahap pada ukuran kamar pulpa. (f) Lidah dan pengecapan Lidah mungkin menjadi halus dan mengkilat atau merah dan meradang. Bermaca-maam gejala dapat terjadai pada mukosa lidah, dengan keluhan-keluhan nyeri, panas, atau sensari rasa yang berkurang. Sensasi ini biasanya pada orang uisa lanjut dan pada wanita pasca menopause. (g) Sendi TMJ Reduksi lebih lanjut pada ketebalan otot rahang ditemukan pada orang tidak bergigi dibanding yang masih bergigi. Ini

membuktikan

bahwa

tingkat

tekanan

paengunyahan dan efisiensi pengunyahan berkurang banyak pada pasien yang gigigeligi aslinya sudah diganti gigi tiruan. Gambaran klinis ekstra oral pasien diabetes melitus, meliputi: (a) Xerostomia (b) Bau mulut khas keton (c) Kegoyangan gigi (d) Resopsi tulang alveolar yang sangat cepat (e) Penurunan resistensi jaringan periodontal dan jaringan mukosa (f) Angular chelitis.

b. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan radiologi oral penunjang dan meliputi pemeriksaan laboratorium.

pemeriksaan

14

Pemeriksaan

laboratorium

meliputi

pemeriksaan

TTGO, pemeriksaan gula darah (Foster, 1998).

3) Penentuan diagnosis Diagnosis pada kasus kehilangan gigi penuh ini ditentukan berdasarkan klasifikasi PDI (Prostodontic Dental Index), yaitu (repository.unhas.ac.id): a) Kelas I Kelas ini mencirikan tahap edentulous paling sesuai dirawat dengan gigi tiruan penuh, yang dibuat dengan teknik gigi tiruan konvensional. Kriteria diagnostik antara lain: (1) Tinggi sisa tulang alveolar 21mm yang diukur pada tinggi vertikal rahang bawah terendah dengan menggunakan radiografi panoramik. (2) Morfologi sisa linggir edentulous resisten

terhadap pergerakan horizontal dan vertikal basis gigi tiruan. (3) Lokasi otot kondusif untuk stabilitas dan retensi dari gigi tiruan. b) Kelas II Terdapat degradai fisis anatomi jaringan pendukung gigi tiruan yang berkelanjutan. Kelas ini ditandai dengan munculnya interaksi dini penyakit sistemik serta ditandai dengan penatalaksanaan. Kriteria diagnostik dari kelas ini adalah: (1) Tinggi sisa tulang alveolar 16-20 mm yang diukur pada tinggi vertikal rahang bawah terendah panoramik. dengan menggunakan radiografi

15

(2) Morfologi

sisa

linggir

edentulous

resisten

terhadap pergerakan horizontal dan vertikal basis gigi tiruan. (3) Lokasi perlekatan otot sedikit berpengaruh retensi dan stabilitas. (4) Terdapat sedikit perubahan kondisi,

pertimbangan psikososial dan penyakit sistemik ringan yang bermanifestasi pada rongga mulut. c) Kelas III Ditandai dengan kebutuhan akan perbaikan dari struktur gigi tiruan untuk memungkinkan

diperolehnya fungsi gigi tiruan yang adekuat. Kriteria antara lain: (1) Tinggi sisa tulang 11-15mm yang diukur pada tinggi vertikal rahang bawah terendah dengan menggunakan radiografi panoramik (2) Morfologi berpengaruh sisa linggir edentulous sedikit

dalam

menahan

pergerakan

horizontal dan vertikal basis gigi tiruan. (3) Lokasi perlekatan otot cukup berpengaruh

terhadap resistensi dan stabilitas gigi tiruan. (4) Pertimbangan psikososial tingkat sedang dan atau manifestasi penyakit sistemik atau kondisi seperti xerostomia tingkat sedang. (5) Gejala TMD. (6) Lidah besar sehingga memenuhi ruang interdental dengan atau tanpa hiperaktivitas. (7) Hiperaktivasi dari refleks muntah. d) Kelas IV Memiliki kondisi edentulous yang paling buruk. Indikasi dengan pembedahan rekontruksi, namun tidak selamanya dapat dilakukan karena perlu

16

memperhatikan kesehatan pasien, minat, riwayat dental, dan pertimbangan finansial. Kriteria

diagnostik kelas ini antara lain: (1) Tinggi sisa tulang 10 mm yang diukur pada tinggi vertikal rahang bawah terendah dengan menggunakan radiografi panoramik. (2) Sisa linggir tidah menahan pergerakan horizontal maupun vertikal. (3) Lokasi perkiraan otot dapat diperkirakan

berpengaruh terhadap retensi dan stabilitas gigi tiruan. (4) Manifistesi penyakit sistemik yang parah pada rongga mulut. (5) Hiperaktivitas lidah yang mungkin disebabkan oleh retraksi posisi lidah atau morfologi yang berhubungan. (6) Pasien kambuhan sering melaporkan keluhan kronik setelah menajlani terapi yang sesuai. b. Rencana perawatan Pasien diabetes melitus yang akan melakukan tindakan perawatan gigi terutama tindakan pembedahan harus memperhatikan kadar gula dalam darah. Kadar gula darah normal untuk pemeriksaan gula darah yaitu kadar gula darah sewaktu 200mg/dl, kadar gula darah puasa 126mg/dl, dan kadar gula darah 2 jam setelah pemberian glukosa 200mg/dl (Foster, 1998). Pasien diabetes melitus yang tidak terkontrol masih bisa dilakukan tindakan pembedahan, asalkan kadar gula darah pasien telah terkontrol, dan pasien mendapatkan profilaksis antibiotik terlebih dahulu. Hindari trauma atau luka yang berlebihan, jika akan melakukan ekstraksi pasien diberi anastesi yang non vasokonstriktor atau sedikit

17

vasokonstriktornya. Pasien dengan diabetes melitus yang terkontrol ketika hendak melakukan tindakan ekstraksi atau bedah lainnya tetap harus dilakukan pengecekan gula darah sebelum tindakan. Tindakan pembedahan yang akan diberikan pada pasien diabetes melitus biasanya telah ditentukan jadwalnya oleh dokter gigi. Sebaiknya tindakan dilakukan pada pagi hari, pasien dianjurkan untuk makan setengah porsi dari porsi sarapan biasanya (Taringan, 2005). Pembuatan gigi tiruan pada pasien diabetes melitus harus diperhatikan pada saat pencetakan, bahan cetak yang digunakan harus mengalir bebas, desain gigi tiruan harus mudah dipasang, dan dilepas oleh pasien, distribusi beban fungsional harus merata dan seluas mungkin, hal ini untuk menghindari terjadinya resopsi tulang alveolar yang cepat karena beban oklusi yang berlebihan. Oklusi disusun secara harmonis, pada pasien dengan gangguan TMJ pemilihan anasir gigi dapat menggunakan anasir gigi non anatomis. Pasien lansia dengan penyakit sistemik diabetes melitus memiliki gangguan pada sekresi salivanya (xerostomia) sehingga pasien dengan xerostomia yang parah pada gigi tiruannya dapat dimodifikasi dengan reservoir. Pasien ditekankan untuk memelihara kesehatan mulutnya,

diinstruksikan untuk kontrol maksimal enam bulan sekali untuk mengecek kondisi dari gigi tiruan, jika terjadi pelonggaran akibat resopsi dari tulang alveolar maka pada gigi tiruan dapat dilakukan relinning dan rebassing (Gunadi, 1995). c. Karakteristik dan komponen gigi tiruan 1) Komponen gigi tiruan penuh Komponen gigi tiruan penuh meliputi (Bakar, 2012): a) Basis

18

Bagian dari gigi yang menggantikan tulang alveolar yang sudah hilang, dan berfungsi

mendukung elemen atau anasir gigi. b) Flange Bagian dari basis yang membentang diatas mukosa, melekat dari margin servikal gigi sampai batas gigi tiruan. c) Post dam Retensi dari gigi tiruan rahang atas yang

tergantung dari suction seal. 2) Karakteristik gigi tiruan Karakteristik dari gigi tiruan meliputi retensi dan stabilisasi, adapun retensi dan stabilisasi yang

dimaksud adalah: a) Retensi Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi antara lain (Bakar, 2012): (1) Faktor fisis Faktor fisis yang dimaksud adalah

peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek retensi dari

tekananatmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah di sekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan bukal gigitiruan atas, pada

permukaan bukal gigi tiruan bawah. Peripherial seal bersambung dengan postdam pada rahang atas menjadi sirkular seal yang berfungsi membendung agar udara dari luar tidak dapatmasuk ke dalam basis gigi tiruan (fitting surface) dan mukosa sehingga tekanan atmosfer di dalamnya tetap terjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat kebocoran, maka protesa akan

19

mudah

lepas.

Postdam,

diletakkan

tepat

disebelah anterior garis getar (AH line) dari palatum molle dekat fovea palatina. (2) Faktor fisik Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak antara basis gigi tiruan dengan mukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya fisik dari

adhesi(saliva dengan gigi tiruan) dan kohesi (saliva dengan saliva). Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). (3) Kondisi residual ridge yang baik, karena tidak ada lagi gigi yang diggunakan sebagai

penyangga. (4) Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang di bawahnya untuk menghindari rasa sakit dan terlepasnyagigi tiruan saat berfungsi. (5) Pemasangan gigi geligi yang penting terutama untuk gigi anterior karena harus mengingat estetis walaupun tidak kalah pentingnya untuk pemasangan gigi posterior yang tidak harus sama ukurannya dengan gigi asli, tetapi lebih kecil, untuk mengurangi supaya tidak tekanan memberatkan permukaan padawaktu jaringan

pengunyahan penguyahan pendukung.

(6) Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah ekspresi pasien, umur, jenis kelamin yang akan berpengaruh dalam pemilihan ukuran, warna dan kontur gigi. Perlu diperhatikan

20

adanya over bite, over jet, curve von spee, curve monsoon. b) Stabilisasi Agar diperoleh stabilisai maka perlu diperhatikan: (1) Ukuran dan bentuk basal seat (2) Kualitas cetakan akhir (3) Kontur permukaan yang halus (4) Susunan gigi tiruan yang baik dan tepat d. Tahapan pembuatan gigi tiruan Tahapan pembuatan gigi tiruan antara lain (Itjingningsih, 2012): 1) Pencetakan Pencetakan dalam pembuatan gigi tiruan penuh dilakukan sebanyak dua kali yaitu: a) Pencetakan pertama Cetakan pertama dilakukan pada pasien dengan menggunakan stock tray dengan bahan cetak alginat teknik, teknik pencetakan mukostatik. Hasil cetakan pertama akan digunakan sebagai model studi. b) Pencetakan kedua Pencetakan kedua dilakukan dengan

menggunakan sendok cetak individual. Sedok cetak individual dibuat dengan menggunakan shellac. Shellac dilunakkan diatas api spirtus kemudian diletakkan dan ditekan pada model studi. Shellac dipotong sesuai dengan outline yang telah digambar pada model studi. Pegangan sendok cetak dibuat tegak lurus bidang horisontal dan pada bagian palatum dibuat lubang dengan jarak 4-5 mm untuk mengalirkan bahan cetak yang berlebih. Bagian tepi shellac diberi compound untuk

21

mendapatkan pencetakan: (1) Rahang atas

ketinggian

vestibulum.

Cara

Bahan cetak diaduk, setelah mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok cetak individual. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, kemudian sendok cetak ditekan ke processus alveolaris.Caranya pada saat sendok cetak di dalam mulut, dilakukan gerakan rahang bawah ke kiri dan ke kanan serta mengintruksikan pasien mangatakan O untuk mendapatkan cetakan frenulum bukalis. Frenulum labialis didapatkan dengan memberikan instruksi untuk mengatakan huruf U. Post dam area diperoleh dengan menginstruksikan pasien untuk mengatakan ah, sehingga tampak batas antara palatum durum dan palatum molle. Posisi dipertahankan sampai setting, kemudian sendok cetak dilepas dan

dimasukkan kembali ke rahang atas untuk dicek retensinya dan untuk menandai AH line. (2) Rahang Bawah Bahan cetak diaduk, setelah teraduk rata dan mencapai konsistensi tertentu dimasukkan ke dalam sendok cetak. Masukkan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam mulut, kemudian alveolaris. sendok Pasien ditekan ke processus untuk

diinstruksikan

mengucapkan huruf O untuk mendapatkan cetakan frenulum bukalis. Kemudian pasien diinstruksikan menjulurkan lidah untuk

22

medapatkan batas cetakan frenulum lingualis. Pasien menggerakkan bibir dan pipi agar bahan cetak dapat mencapai bukal flange dan untuk mendapatkan frenulum labialis pasien diinstruksikan mengucapkan huruf U. Posisi dipertahankan sampai setting, dan sendok cetak dilepas. 2) Pembuatan desain gigi tiruan Pembuatan desain gigi tiruan meliputi: (a) Pembuatan lekuk pengontrol pada dasar model kerja agar keadaan model sewaktu penyusunan gigi pada artikulator sama dengan keadaan model rahang sesudah gigi tiruan penuh disalin dengan akrilik. (b) Pembuatan kawat penguat (c) Penarikan garis tengah model kerja rahang atas dan rahang bawah. (d) Penarikan garis puncak linggir. 3) Pembuatan bite rim Pembuatan bite rim dengan cara: a) Sebelum pembuatan bite rim, dibuat base plate terlebih dahulu. b) Bite rim berbentuk tapal kuda dan diletakkan diatas base plate untuk memperoleh tinggi gigitan pada keadaan oklusi sentrik dipindahkan ke yang nantinya akan Bagian anterior

artikulator.

memiliki tinggi 12 mm, lebar 4 mm; bagian posterior memiliki tinggi 10-11 mm, lebar 6 mm. Untuk lengkung bite rim rahang bawah disesuaikan dengan alveolar ridge yang ada, sedangkan bite rim untuk rahang atas dibuat setinggi 2 mm di bawah

23

bibir atas saat rest position. Tinggi bite rim rahang bawah dibuat sejajar dengan tinggi retromolar pad. c) Pembuatan bite rim dimulai dari rahang atas dengan menggunakan bantuan 3 titik, yaitu 2 titik tragus canthus kanan dan kiri serta titik ala nasi. Dari ketiga titik tersebut dihubungkan. Penentuan garis tragus-canthus, ditarik dari sudut mata (canthus) ke tragus, yang menjadi panduan letak kondil rahang yang terletak 0,5 inci (12-14 mm) di depan tragus pada garis ini. Dari titik tersebut, ditentukan garis chemfer yaitu garis lurus yang menghubungkan tragus dengan sayap hidung (ala nasi). d) Setelah bite rim rahang atas dipasangkan pada pasien, lalu pemasangan oklusal guide plane. Pasien diperiksa dari arah depan dan samping hingga didapatkan oklusal guide plane anterior sejajar dengan garis interpupil serta pada oklusal guide plane bagian lateral sejajar garis chamfer. Apabila belum didapatklan kesejajaran, maka bite rim terus dikurangi sampai bentuk yang kita kehendaki. e) Median line dari pasien diperoleh dari tengah lekuk bibir atas untuk menentukan garis tengah yang memisahkan incisivus kanan dan kiri. 4) Pencatatan MMR (Maxilo Mandibula Relationship) Terlebih dahulu dicari dimensi vertikal (inter oclusal distance) dengan mngukur jarak pupil dan sudut mulut sama dengan jarak hidung dan dagu (PM = HD) pada keadaan rest posisi. Pada keadaan relasi sentrik, dimensi vertikal :physiologic rest position - freeway space = (PM=HD - 2 mm). Freeway space 2-4 mm

24

diperoleh dengan cara mengurangi bite rim rahang bawah. Hal ini berguna untuk pasien mengucapkan huruf-huruf tertentu yang pengucapannya menggunakan space ini, misalnya huruf s (faktor fonetik). 5) Centic relation record Merupakan suatu relasi mandibula terhadap maksila pasa suatu relasi vertikal, ditetapkan pada posisi mandibula paling menengadahkan kepala posterior. Cara dengan pasien sedemikian rupa

sehingga processus condyloideus akan tertarik ke fossa yang paling posterior karena tarikan dari otot dan menelan ludah berulang-ulang. mandibula Pasien disuruh sampai

menggerakkan

berulang-ulang

pasien biasa dengan relasi tersebut. Setelah mendapat posisi sentrik bite rim diberi tanda tempat garis ketawa dan median line. 6) Pemasangan di artikulator Setelah ditemukan relasi sentrik dilakukan fiksasi

dengan metode double V groove yaitu dengan membuat groove berbentuk V pada kanan dan kiri bite rim rahang atas pada gigi premolar pertama dan molar pertama, kemudian diberi vaselin. Pada bite rim rahang bawah diberi tambahan malam menyesuaikan groove kemudian pasien melakukan sentrik sehingga tambahan malam pada bite rim rahang bawah dapat masuk ke groove bite rim rahang atas. Kemudian dipasang

artikulator, pemasangan dapat menggunakan mounting table jika kedua model menggunakan fiksasi double V groove. 7) Pemasangan anasir gigi

25

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan anasir gigi (Itjiningsih,2012): a) Bentuk wajah dan rahang b) Jenis kelamin c) Perbedaan warna dan keausan gigi d) Ukuran gigi yang bervariasi sesuai dengan garis orientasi. (1) Gigi anterior (a) Garis senyum garis orientasi insisal untuk panjang gigi yaitu 2/3 panjang insisivus sentral atas. (b) Jarak sebelah distal kanisnus dekstra sinistra sama dengan jumlah ke enam gigi anterior atas. (c) Jarak ala nasi berhimpit dengan poros gigi kaninus atas. (d) Lebar gigi I-I atas sama dengan 1/16 lebar bizygomatic. (2) Gigi posterior (a) Panjang gigi disesuaikan dengan jarak antara linggir rahang. (b) Lebar mesio distal gigi. (c) Lebar buko lingua atau palatal yang telah disesuaikan dengan lebar mesio distalnya. e) Bahan gigi Bahan gigi dapat dari bahan akrilik, logam atau porselen. Penyusunan anasir gigi dilakukan secara bertahap yaitu gigi anterior atas, gigi anterior bawah, gigi posterior atas, dan gigi molar pertama bawah kemudian gigi posterior bawah lainnya. Penyusunan gigi antara lain: a) Penyusunan gigi anterior

26

Penyusunan gigi dimulai dari gigi anterior rahang atas kemudian gigi anterior rahang bawah, jangan lupa diperhatikan overbite dan overjetnya. Ketika di try in ke pasien juga harus memperhatikan: (1) Garis caninus (pada saat rest posisi terletak pada sudut mulut) (2) Garis ketawa (batas cervikal gigi atas, gusi tidak terlihat pada saat tertawa) (3) Fungsi fonetik (pasien disuruh mengucapkan huruf s, f, t, r, m) b) Penyusunan gigi posterior Pemasangan gigi posterior harus disesuaikan dengan: (1) Kurva anteroposterior yang terdiri dari : (a) Bidang horizontal tempat disusunnya gigi premolar pertama dan kedua. (b) Bidang oblique tempat disusunya gigi molar pertama dan kedua. (2) Kurva lateral yang terdiri dari : (a) Bidang tegak yang terbentuk dari garis singgung pada occlusal bite rim, dimana permukaan ditempatkan (b)Bidang dengan sudut penyimpangan 6o dari bite rim ke arah palatal, dimana terletak permukaan bukal gigi molar. Untuk pemasangan gigi posterior rahang atas ini harus diperhatikan : (1) Kurva Von Spee ke arah antero posterior. Kurva Von Spee yaitu kurva imaginer anteroposterior dimana terdapat bidang horisontal yang merupakan tempat disusunnya gigi bukal gigi premolar

27

premolar superior pertama dan premolar superior kedua sedangkan tempat disusunnya gigi molar superior pertama dan molar superior kedua dalam bidang oblik. (2) Kurva dari Wilson ke arah lateral kiri dan kanan. Penyusunan gigi posterior bawah harus disusun sedemikian rupa sehingga terbentuk lengkung Manson. Kurva Monson atau kurva lateral yaitu bidang yang terbentuk dari garis singgung pada oklusal bite rim dimana permukaan bukal gigi premolar ditempatkan dan bidang dengan sudut penyimpangan 6 dari bite rim ke arah palatal dimana terletak permukaan bukal gigi molar. Setelah pemasangan gigi posterior

dilakukan try in (Lakshmi, 2010). 8) Try in Try in seluruh gigi tiruan di atas malam dan kontur gusi tiruannya, lalu dilakukan pengamatan pada (Bakar, 2012): a) Oklusi b) Stabilisasi dengan working side dan balancing side. c) Estetis dengan melihat garis kaninus dan garis ketawa d) Pasien diinstruksikan mengucapkan huruf-huruf p, b, d, v dan lain-lain sampai tidak ada gangguan. 9) Wax contouring geligi tiruan 10) Flasking 11) Packing 12) Processing/curring 13) Deflasking 14) Pemasangan kembali dan pengasahan selektif

28

15) Penyelesain gigi tiruan 16) Pemolesan gigi tiruan 17) Insersi Setelah diganti dengan akrilik protesa diinsersikan ke dalam mulut pasien, saat insersi harus diperhatikan retensi, stabilisasi, oklusi, artikulasi. Saat insersi pasien harus diberi edukasi antara lain: a) Pasien dianjurkan untuk beradaptasi dengan

protesa tersebut sampai biasa. b) Malam hari ketika tidur, protesa dilepas agar jaringan otot-otot dibawahnya dapat beristirahat. c) Pasien membersihkan protesanya setiap kali

sehabis makan dan sebelum tidur. Gigi tiruan dapat dibersihkan dengan sikat gigi dan pembersih seperti larutan hipoclorida, pembersih asam

mineral, bubuk dan pasta yang mengandung bahan abrasif ringan. d) Mukosa pendukung dibersihkan dengan sikat gigi yang lembut dan perlahan untuk menghindari kerusakan mukosa selama 1-2 menit setiap pagi hari dan malam hari. e) Apabila ada rasa sakit, gangguan bicara, protesa tidak stabil, pasien dianjurkan untuk segera kembali ke klinik. f) Kontrol sesuai dengan waktu yang telah ditentukan untuk dilakukan pengecekan. 18) Kontrol Ketika kontrol yang perlu diperhatikan adalah: a) Pemeriksaan subjektif Meliputi keluhan pasien tentang gigi tiruannya, ekspresi pasien. b) Pemeriksaan objektif

29

Adanya mukosa yang kemerahan, atau alergi terhadap gigi tiruan, adanya lesi di dalam rongga mulut yang disebabkan karena pemakaian gigi tiruan. e. Prognosis Prognosis mwrupakan suatu perdiksi terhadap kemungkinan keberhasilan dalam suatu perawatan yang dibuat berdasarkan pengetahuan tentang patogenesis

penyakit dan faktor-faktor resikonya. Prognosis biasanya ditentukan sesudah diagnosis ditetapkan dan sebelum perawatan dilakukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan prognosis antara lain (Jonathan, 2003): 1) Faktor klinis Faktor klinis yang dimaksud adalah usia pasien, keparahan penyakit dan kerja sama pasien (pasien yang kooperatif). 2) Faktor sistemik Faktor sistemik yang dimaksud adalah penyakit sistemik yang sedang diderita oleh pasien seperti penyakit diabetes dan faktor genetik. 3) Faktor lokal Faktor lokal seperti oral hygiene, faktor anantomis dan faktor prostetik. Prognosa dari pembuatan gigi tiruan penuh diperkirakan baik, dengan mempertimbangkan: a) Keadaan processus alveolaris rahang atas dan rahang bawah masih cukup baik b) Gigi geligi yang masih ada cukup kuat c) Oral hygine pasien baik d) Jaringan pendukung sehat e) Kesehatan umum pasien baik f) Pasien termotivasi, kooperatif dan komunikatif.