Anda di halaman 1dari 16

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur No. RM Pekerjaan Alamat Tanggal periksa : Tn DAN : 22 tahun : 525805 : Pegawai Swasta : Panulisan 01/01 Dayeuh Luhur Cilacap : 31 Mei 2011

II. ANAMNESIS Autoanamnesa dari pasien pada tanggal 1 Juni 2011. A. Keluhan Utama: Post KLL, memar pada hidung, hidung berdarah, kelainan bentuk pada hidung, luka di daerah antara hidung dengan mulut. B. Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien konsulan dari dr SpB dengan keterangan, hematom nasal, deformitas nasal dengan epistaksis. Pasien mengatakan, pasien kecelakaan di depan Taman Pintar, tabrakan antar sepeda motor. Riwayat hilang kesadaran disangkal, pasien mengeluhkan nyeri didaerah sekitar hidung, dan bawah hidung, perdarahan dirasakan keluar dari kedua lubang hidung, banyak, pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan penghidu. C. Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien belum pernah mengalami penyakit serupa. Riwayat trauma kepala diterima.

D. Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa. E. Anamnesis Sistem Sistem serebrospinal Sistem respiratorius Sistem kardiovaskuler : tidak panas, pusing, tidak mual : tidak sesak nafas, batuk (-) : tidak berdebar-debar

Sistem gastrointestinal Sistem anogenital Sistem muskuloskeletal Sistem integumentum hidung, nyeri

: tidak ada keluhan : tidak ada keluhan : tidak ada hambatan dalam bergerak : suhu raba hangat, terdapat luka robek di bawah

III. PEMERIKSAAN Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign : baik, : Composmentis : : 150/90 mmHg : 37,2 0C : 80 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 24 x/menit, reguler, thorako abdominal

Tekanan Darah Suhu Nadi Respirasi Rate

Status Lokalis Terdapat vulnus excoriatum di angulus nasolabialis, sudah diberi antiseptik. Terdapat hematom di regio nasal. Terdapat deformitas ke arah regio nasal sinistra.

1. Telinga Inspeksi, Palpasi, Perkusi AD/AS :hematom (-/-), edema (-/-), otore (-/-), CAE (+/+), nyeri tragus (-/-), nyeri mastoid (-/-), nyeri retro auriculer (-/-), fistel (-/-), nll. Tidak teraba. Otoskopi AD/AS :CAE hiperemis (-/-), nyeri (-/-), otore (-/-), cerumen (+/+) sedikit, membrana timpani utuh, mukosa tidak hiperemis. Fungsional (Test Pendengaran : Garpu Tala) - Rinne : tidak dilakukan - Webber : tidak dilakukan - Swabach : tidak dilakukan

2. Hidung dan Paranasal Inspeksi, Palpasi, Perkusi Deviasi nasal (-), massa (-), obstruksi nasal (-), rhinorrea (-), darah (+), nyeri tekan (+) SPN : edema nasal (+), NT pipi/kelopak bawah (-), NT pangkal hidung(+)/kelopak atas (-) . Rhinoskopi Anterior Septum letak sentral, deformitas os nasal (+). ND/NS :Mukosa hiperemis (-/-), mukosa pucat (-/-), edema concha (-/-), massa (-/-), vimbrissae (+/+), discharge (+/+). Rhinskopi Posterior Tidak dilakukan 3. Tenggorokan dan Laring (Leher) Inspeksi, Palpasi Trakhea letak sentral, gld. Thyroid tak teraba, nll. tak teraba, massa (-), NT (-), retraksi (-). Cavum oris : Karies (-), gigi tanggal (-) ,mukosa mulut dalam batas normal, papil lidah dalam batas normal, lidah mobile, protrusi asimetris lidah (-), uvula sentral, massa (-) Faring : mukosa tidak hiperemis, edema (-), massa (-) Tonsil : tidak hiperemis, tidak membesar, abses peritonsiler (-) Arcus palatoglossus : tidak hiperemis, protrusi asimetris (-), massa (-) Arcus palatopharingeus : tidak hieperemis, protrusi asimetris (-), massa (-) Laringoskopi Indirek Tidak dilakukan IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium (26 Mei 2010) AL Hb PTT : 8,0 x 103 : 15,9 g/dl : 15,3

APTT : 36,3 Gol.Da : A HbsAg : (-) Radiologis Struktur tulang baik Tampak Fraktur dan deformitas os nasal tengah lateral sinistra V. KESIMPULAN Seorang laki-laki 22 tahun, perdarahan dari hidung post KLL, nyeri daerah hidung, tidak ada gangguan penghidu, telinga dalam batas normal, hidung terdapat perdarahan, vulnus eksoriatum di angulus nasolabialis, tenggorokan dalam batas normal, laboratorium dalam batas normal, radiologi menunjukkan fraktur dan deformitas os nasal.

VI. DIAGNOSIS Epistaksis dan deformitas os nasal et causa fraktur nasal

VII. TERAPI a. Kausatif : o Pasang Tampon Hidung b. Simtomatik : : injeksi Ketorolac 1 amp/12 jam : injeksi Ceftriaxon 1 gr/12 jam o Analgetik o Antibiotik

VIII. PROGNOSIS Que ad vitam Que ad sanam Que ad fungsionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

FRAKTUR NASAL

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar daripada yang diabsorpsinya. Fraktur nasal disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah. Sedangkan jika disebabkan oleh trauma kecepatan tinggi biasanya berhubungan dengan fraktur wajah biasanya Le Fort tipe 1 dan 2. Selain itu, injury nasal juga berhubungan dengan cedera leher atau kepala. Penyebab trauma nasal ada 4 yaitu: 1. Mendapat serangan misal dipukul. 2. injury karena olah raga 3. kecelakaan (personal accident). 4. kecelakaan lalu lintas. Dari 4 penyebab diatas, yang paling sering karena mendapat serangan misalnya dipukul dan kebanyakan pada remaja. Jenis olah raga yang dapat menyebabkan cedera hidung misalnya sepak bola, khususnya ketika dua pemain berebut bola diatas kepala; olah raga yang menggunakan raket misalnya ketika squash, raket dapat mengayun ke belakang atau depan dan dapat memukul hidung atau karate; serta petinju. Trauma nasal yang disebabkan oleh kecepatan yang tinggi menyebabkan fraktur wajah. Trauma wajah disebabkan oleh 5 hal tergantung dari kecepatan dan kekerasan pukulan, yaitu : 1. Bukan fraktur, disebabkan pukulan yang tidak keras. 2. Fraktur kelas 1 3. Fraktur kelas 2 4. Fraktur kelas 3 5. fraktur Le Fort tipe 2 dan 3.

Komplikasi Trauma Nasal 1. Deviasi Deviasi dapat terjadi pada septum nasal, tulang nasal atau keduanya. Tindakan yang dilakukan pada deviasi septum biasanya dengan septoplasty. Selain itu seiring

dengan perkembangan bedah plastic untuk komestika, maka dapat dilakukan rhinoplasty. Rhinoplasty adalah operasi plastic pada hidung. Ada 2 macam : a. Augmentasi rhinoplasty : penambahan pada hidung. Yang harus diperhatikan tidak boleh menambahkan injeksi silicon. Yang boleh digunakan adalah bahan dari luar, misalnya silicon padat maupun bahan dari dalam tubuh sendiri misal tulang rawan, flap kulit/dermatograft. b. Reduksi rhinoplasty : pengurangan pada hidung. 2. Bleeding Terjadi bleeding karena lacerasi mucosal sebaiknya dihentikan 24 jam dengan nasal packing atau jika persisten dan banyak dilakukan dengan membuka arteri sphenopalatine atau arteri ethmoidal anterior. Tempat terjadinya bleeding seharusnya diidentifikasi dan jika dari sphenopalatine maka eksplorasi septal dikeluarkan dan ketika arteri dibebaskan dari segmen fraktur biasanya dihentikan dengan packing (balutan). Jika arteri ethmoidal masih terjadi bleeding setelah fraktur ethmoidal maka dilakukan clip dengan ethmoid eksternal yang sesuai. 3. Saddling Biasanya terjadi pada fraktur kelas 3 dan hasilnya adalah kegagalan untuk mengextract tulang nasal dari bawah tulang frontal atau terjadi malunion tulang nasal yang disebabkan fraktur laybirith ethmoidal. 4. Kebocoran cairan serebrospinal Ini jarang terjadi dan disebabkan fraktur cribriform plate, fraktur dinding posterior sinus frontal, atau jika fragmen tulang menginsersi ke dalam area dural tear (air mata) maka akan terjadi kebocoran. Tindakan yang dilakukan dengan craniotomy frontal. Perlu diperhatikan juga bahwa kebocoran bisa terjadi karena komplikasi dari meningitis sehingga perlu diobservasi kondisi pasien post trauma dan periode discharge. Penanganan dengan antibiotic prophylactic perlu dilakukan. Kebocoran kulit cukup diobservasi selama 4 sampai 6 minggu dan biasanya terjadi penutupan spontan. Jangan lupa untuk melakukan konsultasi dengan ahli bedah saraf. 5. Komplikasi orbital Tindakan dacryocystorrhinostomy dilakukan untuk mengatasi masalah.

Diagnosis 1). ANAMNESA Mengerti akan mekanisme trauma dapat membantu tenaga medis dalam menghadapi pasien dengan trauma. Akan sangat berguna dengan mengetahui objek yang melukai, dari arah mana datangnya, dan seberapa kekuatannya hingga mengenai hidung. Pasien akan mengatakan tentang kapan dia mendapatkan trauma dan apakah terdapat perdarahan yang menyertainya. Informasi yang dibutuhkan lainnya adalah mengenai riwayat pembedahan, trauma dan penilaian objektif mengenai tampilan dan fungsi dasar hidung sebelumnya. Yang terakhir, perlu didapatkan informasi apakah pasien mengkonsumsi alcohol sebelum trauma. Hal ini berpengaruh pada pemilihan obat analgetik yang akan digunakan, kemungkinan terjadinya trauma kembali, dan untuk penilaian status mental yang berhubungan dengan kemungkinan trauma kepala. 2). PEMERIKSAAN FISIK Ketika menilai pasien dengan cedera akut pada hidung, pemeriksa jangan mengesampingkan kemungkinan adanya trauma serius. Hal ini penting jika pasien mendapatkan trauma pada pertengahan wajahnya, kerena dapat menyebabkan cedera vertebra servikal, dan para medis harus mengenakan alat penyangga untuk mengamankannya hingga cedera vertebra servikal telah tersingkirkan. Selama penilaian awal, pemeriksa harus memastikan bahwa pasien mempunyai pernafasan yang adekuat. Cedera hidung dapat disertai dengan trauma kepala dan leher yang lain misalnya kemungkinan terjadi fraktur mandibula. Serta tak menutup kemungkinan fraktur pada semua sruktur tulang pada wajah, seperti area orbita, zygomatikus, gigi, sehingga perlu dilakukan inspeksi yang teliti dan palpasi dengan hati-hati. Seluruh laserasi pada wajah, pembengkakan, dan deformitas harus dicatat, dan mata harus dinilai apakah simetris dan pergerakannya baik. Jika dicurigai fraktur mandibula atau wajah, perlu dilakukan pemeriksaan radiology, bisa dilakukan CT scan jika ada indikasi. Sebuah deformitas pada hidung biasanya ditemukan pada kejadian fraktur nasal. Akan tetapi, epistaksis tanpa deformitas nasal kemungkinan juga ditemukan

pada beberapa kasus fraktur nasal. Edema dan ekimosis pada struktur hidung dan periorbital dapat terlihat pada pemeriksaan beberapa jam setelah cedera. Palpasi struktur nasal dilakukan untuk memeriksa adanya krepitasi, indensitas atau tulang nasal yang irregular. Jika ditemukan cairan cerebrospinal (SCF) berupa rhinorrehea yang bening, subcutaneous emphysema, perubahan status mental, maloklusi yang baru, atau pergerakan batas-batas ekstraokular harua segera dirujuk ke subspesialis. Pengetahuan tentang bentuk dan penampakan hidung pasien sebelum terjadi cedera, bertujuan untuk menentukan derajat kepahan cedera hidung. Akan lebih baik jika dapat menemukan foto pasien ketika sebelumnya. Jika foto tidak didapatkan, foto pasien dalam kartu identitas juga dapat digunakan. Pemeriksaan eksternal dan internal akan sulit jika cedera nasal disertai dengan ekimosis, edema dan perdarahan, terlebih jika dilakukan setelah lebih dari 3 jam setelah terjadi cedera. Jika kasusnya adalah pasien dengan fraktur nasal akut tanpa komplikasi, cukup diberikan resep analgetik dan memulangkan pasien dengan instruksi untuk istirahat, kompres es, dan meminimalkan pergerakan kepala. Karena tidak ada acuan klinik untuk dilakukan reduksi fraktur segera. Dilakukan evaluasi dan penatalaksanaan akan lebih aman setelah bengkak berkurang, biasanya antara 3 sampai 4 hari. Reduksi dilakukan antara 5 hingga 10 hari setelah cedera, dan sebelum tulang nasal mulai difiksasi. Akan tetapi, sebelum itu dilakukan penanganan hematom pada septum. Hal ini dapat tampak pada satu atau kedua sisi dari septum nasal. (Gambar 2). Gagal dalam mengidentifikasi dan mengatasi hematom pada septum dapat menyebabkan timbulnya infeksi sehingga kartilago septal hilang dan akhirnya terbentuk deformitas pelana. Hematom septal harus dicurigai jika didapati nyeri dan pembengkakan yang menetap. Splint silastic dapat digunakan untuk mencegah reakumulasi darah pada tempat hematom. Pada pemeriksaan internal, dibutuhkan lampu, suction, anesthesia dan vasokonstriktor spray hidung. Speculum hidung dan lampu kepala akan memperjelas visualisasi. Pada inspeksi internal akan terlihat seberapa besar jendalan darah, yang akan dikeluarkan irigasi saline hangat, suction, dan aplikator dengan kapas.

Anesthesia dan vasokonstriktor yang adekuat perlu diberikan sebelum dilakukan pemeriksaan internal lengkap. Suatu pilihan yang tepat jika menggunakan agen topical seperti spray atau injeksi local. Cocaine dalam solution 5-10%, merupakan single terapi yang mengandung analgesia sekaligus vasokonstriktor. Alternatif lain yang termasuk anesthesia topical intranasal adalah spay lidocaine (Xylocaine), bupivacaine (Marcaine), dan pontocaine (Opticaine). Topikal

vasokonstriktor seperti oxymetazoline (Afrin) dan phenylephrine hydrochloride (Neo-Synephrine) merupakan pengontrol perdarahan mengurangi edema intranasal. Beberapa sumber menyebutkan percampuran 1 banding 1 antara decongestant topical oxymetazoline atau phenylephrine dan 4 % lidocaine topical (liquid) adalah sama efektifnya dengan cocaine. Selama pemeriksaan internal, pemeriksa harus menilai patensi dari jalan napas dan mencari asal epistaksis ataupun deformitas septum. Kemudian laserasi mukosa perlu dicatat untuk memperkirakan adanya fraktur. 3). PEMERIKSAAN RADIOLOGI Ketika ada kecurigaan fraktur nasal dengan tanpa komplikasi, perencanaan radiografi perlu dibuat. Radiografi tidak dapat mengidentifikasikan adanya desrupsi kartilago, dan akan sulit untuk menginterpretasikan garis sutura normal pada fraktur nondisplased. Maka dari itu, ketika ditemukan adanya rhinorrhea cairan serebrospinal, adanya gerakan ekstraokuler yang abnormal, terjadi maloklusi, pencitraan CT-scan diindikasikan untuk menilai fraktur mandibula dan wajah.

Penatalaksanaan a). Pertolongan di pelayanaan primer Pertolongan pertama dimulai dari mengevaluasi cedera, mengetahui cerita yang akurat dari situasi dimana kecelakaan terjadi, dan memastikan bagaimana keadaan dan fungsi wajah dan hidung sebelum terjadi kecelakaan. Luka yang serius harus mendapatkan penanganan, inspeksi dan palpasi nasal dilakukan untuk menilai kelancaran jalan napas, laserasi mukosa, deformitas septum. Lakukan penilaian dari hidung dan struktur sekitarnya, meliputi mata, mandibula dan vertebra spinal haruslah lengkap. Temukan jika terdapat fraktur pada wajah ataupun mandibula. Pasien dengan

septal hematom, rhinore cairan cerebrospinal, maloklusi, atau defek pergerakan ekstraokular harus segera dirujuk ke subspesialis. Penanganan di layanan primer meliputi evaluasi nyeri dan manajemen infeksi serta debridemen minimal. Jika tidak ada indikasi untuk merujuk, evaluasi keadaan pasien 3-5 hari setelah kecelakaan. Setelah memastikan jalan napas baik, ventilasi adekuat,dan secara umum pasien telah stabil, dapat dilakukan penatalaksaan atas fraktur nasal itu sendiri. Penatalaksanaan dimulai dengan manajemen cedera jaringan lunak eksternal. Jika terdapat luka terbuka dan ada kontaminasi benda asing, lakukan irigasi. Lakukan debridemen jika diperlukan. Akan tetapi, debridemen jangan sampai berlebihan karena jaringan juga akan diperlukan untuk menutup kartilago yang terbuka. Adanya epistaksis biasanya sembuh spontan tapi jika kambuh kembali perlu dikauter, tampon nasal atau ligasi pembuluh darah. Perdarahan anterior karena laserasi arteri etmoid anterior, cabang dari arteri optalmikus (sistem karotis interna). Perdarahan dari posterior dari arteri etmoid posterior atau dari arteri sfenopalatina cabang nasal lateral, dan mungkin perlu ligasi arteri maksila interna untuk menghentikannya. Jika menggunakan tampon nasal, tidak perlu terlalu banyak, karena dapat mempengaruhi suplai darah pada septum yang mengalami trauma sehingga menyebabkan nekrosis. Lakukan penanganan septal hematom. Septal hematom adalah adanya jendalan darah yang mengisi ruang antara kartilago dan perikondrium. Jika tidak ditangani, akan memudahkan terjadinya infeksi. Adanya nekrosis pada lapisan kartilago, dapat mengakibatkan deformitas pemanen. Ketika ditemukan adanya septal hematom, harus dilakukan aspirasi ataupun incisi dengan local anesthesia (Gambar 4). Untuk mencegah reakumulasi darah, drain steril dapat ditempatkan disana. Akan tetapi, penggunaan drain ini masih diperdebatkan. Selanjutnya, penataksanaan petugas medis harus dikonsulkan dengan seorang otolaryngologist atau ahli bedah plastic jika memungkinkan. Ahli medis melakukan pemeriksaan eksternal dan internal (endoskopi, jika mungkin) terakhir, sebelum mengantar pasien kepada manipulasi dan reduksi fraktur nasal. Pemeriksaan ini untuk meneliti apakah terdapat epistaksis atau hematom signifikan yang masih tersembunyi.

10

Status tetanus pada semua pasien harus diselidiki dan dimanajemen, antibiotic profilaksis dapat diberikan jika terdapat indikasi, seperti adanya kontaminasi rumput pada fraktur terbuka. Atau juga untuk pasien yang mempunyai penyakit kelemahan kronis, immuno-compromised dan dengan hematom septal. Reduksi pada fraktur nasal akut di pelayaan kesehartan primer hanya dikerjakan untuk reduksi tertutup pada fraktur unilateral ringan. Sedangkan untuk reduksi terbuka dilakukan dalam kamar operasi. Para medis yang akan melakukan reduksi baik tertutup maupun terbuka harus mengalami prosedur pelatihan sebelumnya. Di samping itu, karena pentingnya fungsi dan hasil kosmetik dari reduksi fraktur nasal, merujuk kepada otolaryngologist atau ahli bedah plastic tidak lebih dari 3-5 hari. b). Tatalaksana operasi 1.Persiapan: Penjelasan kepada penderita dan keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani serta resiko komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari penderita untuk dilakukan operasi (Informed consent). Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi. Beberapa instrument sederhana digunakan disini yaitu: elevator Boies atau Ballenger, forcep Asch dan Walsham. Penderita puasa minimal 6 jam sebelum operasi. Antibiotika profilaksis, Cefazolin atau kombinasi Clindamycin dan Garamycin, dosis menyesuaikan untuk profilaksis. 2. Teknik Operasi 1. REDUKSI TERTUTUP Prinsip reduksi tertutup adalah untuk menyatukan kartilago dan struktur tulang pada tempat yang semestinya untuk mengurangi ketidaknyamanan serta memaksimalkan patensi jalan napas. Teknik reduksi tertutup adalah singkat dan optimal. Pemberian anxiolitik dan analgetik sebagai premedikasi juga dapat dipertimbangkan.

11

Pembiusan dengan anestesi umum. Posisi pasien terlentang, dikerjakan di kamar operasi dengan anestesi general atau lokal. Disinfeksi lapangan operasi dengan larutan hibitan-alkohol 70% 1:1000. Lapangan operasi dipersempit dengan linen steril. Jarak antara tepi rongga hidung ke sudut nasofrontal diukur, kemudian instrumen dimasukkan sampai batas kurang 1 cm dari pengukuran tadi. Fragmen yang depresi diangkat dengan elevator dalam arah berlawanan dari tenaga yang menyebabkan fraktur, biasanya kearah antero-lateral. Reposisi fraktur nasal dan fraktur dapat dilakukan dengan forsep Walsham. Jangan terlalu ditekan (dibawah tulang hidung yang tebal dekat sutura nasofrontal) karena daerah ini jarang terjadi fraktur, lagipula bisa menyebabkan robekan mukosa dan perdarahan. Reduksi disempurnakan dengan melakukan molding fragmen sisa dengan menggunakan jari. Pada kasus fraktur dislokasi piramid bilateral, reduksi septum nasal yang tidak adekuat menyebabkan reposisi hidung luar tidak memuaskan. Stabilisasi septum dengan splints Silastic, pasang tampon pada tiap lubang hidung dengan sofratul. Splints dengan menggunakan gips kupu-kupu. Tampon dilepas pada hari ke 3 paska reposisi. Meskipun kebanyakan fraktur nasal dan septal dapat direduksi secara tertutup, beberapa hasilnya tidak optimal, disini penting merencanakan reduksi terbuka. 2. REDUKSI TERBUKA Tahapan operasi: Penderita dalam anestesi umum dengan pipa orotrakheal, posisi telentang dengan kepala sedikit ekstensi .desinfeksi lapangan operasi dengan larutan Hibitane dalam alkohol 70% 1: 1000, seluruh wajah terlihat . Persempit lapangan operasi dengan menggunakan kain steril. Insisi pada kulit ada beberapa pilihan, melalui bekas laserasi yang sudah terjadi, insisi H, insisi bilateral Z, Vertikal midline, insisi bentuk W. Insisi diperdalam sampai perios dan perdarahan yang terjadi dirawat. Perios diinsisi, dengan rasparatorium kecil fragmen tulang dibebaskan. Dilakukan pengeboran fragmen tulang dengan mata bor diameter 1 mm, tiap pengeboran lindungi dengan rasparatorium dan disemprot dengan aquadest steril.

12

Lakukan reposisi dan fiksasi antara kedua fragmen tulang dengan menggunakan kawat 03 atau 05, sesuaikan dengan kondisi fragmen tulang. Pada fraktur komunitif dapat dipertimbangkan penggunaaan bone graft. Luka diirigasi dengan larutan garam faali. Luka operasi dijahit lapis demi lapis, perios, lemak subkutan dijahit dengan vicryl atau dexon 03, kulit dijahit dengan dermalon 05. 3. Perawatan Paska bedah Infus Ringer Laktat / Dekstrose 5 % 1 : 4 dilanjutkan selama 1 hari. Antibitika profilaksis diteruskan setiap 8 jam , sampai 3 kali pemberian. Analgetika diberikan kalau perlu. Penderita sadar betul boleh minum sedikit-sedikit. Bila 8 jam kemudian tidak apa apa boleh makan bubur ( lanjutkan 1 minggu ). Perhatikan posisi tidur , jangan sampai daerah operasi tertekan. Rawat luka pada hari ke 2 3 , angkat jahitan hari ke-7. Follow-Up Tampon hidung dilepas hari 3-4 Splint septum dilepas hari 10 Gips kupu-kupu dilepas minggu ke-3 Kontrol tiap bulan selama 3 bulan

Prognosa Komplikasi lanjut Komplikasi ini berupa obstruksi jalan nafas, fibrosis/kontraktur, deformitas sekunder, synechiae, hidung pelana dan perforasi septal. Penatalaksanaan terbaik dari komplikasi ini adalah dengan mencegah terjadinya komplikasi itu sendiri. Mortalitas Fraktur nasal saja tanpa perdarahan hebat dan aspirasi tidak mengakibatkan kematian.

13

DAFTAR PUSTAKA 1. Coulson, C. and R de C Coulson. (Juli 2006). Management of nasal injuries by UK accident and emergency consultants: a questionnaire survey. Diakses dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2579544/?tool=pmcentrez 2. Kucik, Corry J., Timothy Clenney, and James Phelan. (1 Oktober 2004). Management of Acute Nasal Fractures. Diakses dari: http://www.aafp.org/afp/2004/1001/p1315.html 3. Anonim. Nose Fracture. Diakses dari: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000061.htm 4. Anonim. (14 Desember 2008). Reposisi Fraktur Nasal. Diakses dari: http://bedahumum.wordpress.com 5. Anonim. (03 January 2010) Askep Fraktur Nasal. Diakses dari: http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hidayat2.wordpress.com/110/

14

PRESENTASI KASUS EPISTAKSIS DAN DEFORMITAS OS NASAL ET CAUSA FRAKTUR NASAL


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti Ujian Program Pendidikan Profesi Kedokteran di Bagian Ilmu Kesehatan THT

Diajukan kepada : dr.H. Adnan Abdullah, Sp.THT

Disusun oleh: Rr Wiwara Awisarita 20050310095

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA RS PKU YOGYAKARTA 15

2011

HALAMAN PENGESAHAN
Telah dipresentasikan Presentasi Kasus dengan judul:

EPISTAKSIS ET CAUSA FRAKTUR NASAL


Pada tanggal Juni 2010 Tempat RSUD Setjonegoro Wonosobo

Dosen Pembimbing dan Penguji,

(Preseptor : dr.Noer Ali Udin, Sp.THT )

16