Anda di halaman 1dari 13

BAB 1. PENDAHULUAN A.

Latar belakang masalah Waktu demi waktu, dunia ini diarahkan pada suatu budaya baru yang bernama globalisasi. Hampir semua buku mendoktrin bahwa globalisasi merupakan gerakan untuk membuat dunia lebih baik. Globalisasi kini sudah tercemar maknanya menjadi suatu gerakan untuk membuat dunia menjadi semakin kebarat-baratan. Hampir seluruh belahan dunia sudah tercemar budaya barat dan bahkan hampir melupakan budayanya sendiri. Merk-merk dari perusahaan eropa dan amerika menjadi kebanggan dan gengsi tersendiri bagi pemakainya. Tidak terkecuali di Indonesia. akyat Indonesia kini banyak yang mengagung-agungkan gengsi-gengsi yang ditawarkan dalam merk produk buatan !egara-negara barat. Mereka seakan dibuat sapi perah yang bahkan tidak tahu bahwa mereka sedang diman"aatkan. #ukannya mengambil man"aat globalisasi yang positi" seperti yang ditulis dalam buku-buku, bangsa Indonesia malah diambil man"aatnya. $kibatnya, muncul budaya baru di Indonesia yang bernama %konsumerisme&. 'onsumerisme bukanlah budaya asli Indonesia dan bukanlah budaya dari siapapun. Tapi adalah budaya baru yang timbul akibat barang-barang produksi barat yang menawarkan gengsi dalam mereknya. #angsa Indonesia tidak lagi mengkonsumsi daya guna dari suatu barang, tetapi menjadi mengkonsumsi gengsi yang ada di dalamnya. #anyak diproduksinya barang-barang tiruan oleh perusahaan cina merupakan bukti bahwa Indonesia bahkan dunia lebih ingin mengkonsumsi merk dibandingkan daya guna. 'onsumerisme merupakan suatu polusi budaya yang perlu di hilangkan. B. Tujuan penulisan $dapun tujuan penulisan dari karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas dari ()$* MI($ +,-. dan juga melatih diri untuk berpikir lebih jeli dengan keadaan yang ada di masyarakat. C. Ruang lingkup kar a tulis 'arya tulis ini membahas konsumerisme secara umum dengan disertai sumber-sumber yang kredibel. #ab selanjutnya akan membahas 'onsumerisme di Indonesia, penggunaan kartu kredit yang berdampak buruk, dan cara mengatasi konsumerisme.

BAB !. "#N$U%ER&$%E D& &ND#NE$&A A. DE'&N&$& BEBERAPA AHL&

(emaknaan istilah konsumti/isme dan konsumerisme jelas berbeda, sama hal orang menilai apa itu emas dan kuningan, tetapi kerap kali konsumti/isme disama-arti-kan dengan konsumerisme. 'edua istilah tersebut adalah dua hal yang berbeda maknanya. 0ari kedua arti kata-kata tersebut jelas bahwa konsumerisme justru yang harus digalakkan dan konsumti/isme yang harus dijauhi. 'onsumti/isme merupakan paham untuk hidup secara konsumti", sehingga orang yang konsumti" dapat dikatakan tidak lagi mempertimbangkan "ungsi atau kegunaan ketika membeli barang melainkan mempertimbangkan prestise yang melekat pada barang tersebut. 1leh karena itu, arti kata konsumti" 2consumti/e3 adalah boros atau perilaku yang boros, yang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. 0alam artian luas konsumti" adalah perilaku berkonsumsi yang boros dan berlebihan, yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tidak ada skala prioritas atau juga dapat diartikan sebagai gaya hidup yang bermewah-mewah. 'onsumerisme itu sendiri merupakan gerakan konsumen 2consumer mo/ement3 yang mempertanyakan kembali dampak-dampak akti/itas pasar bagi konsumen 2akhir3. 0alam pengertian lebih luas, istilah konsumerisme, dapat diartikan sebagai gerakan yang memperjuangkan kedudukan yang seimbang antara konsumen, pelaku usaha dan negara dan gerakan tidak sekadar hanya melingkupi isu kehidupan sehari-hari mengenai produk harga naik atau kualitas buruk, termasuk hak asasi manusia berikut dampaknya bagi konsumer. 0alam kamus bahasa Inggris-Indonesia kontemporer 2(eter )alim, -4453, arti konsumerisme 2consumerism3 adalah cara melindungi publik dengan memberitahukan kepada mereka tentang barang-barang yang berkualitas buruk, tidak aman dipakai dan sebagainya. )elain itu, arti kata ini adalah pemakaian barang dan jasa. #ila kita telesuri makna kata konsumti/isme maupun konsumerisme bukan sesuatu hal yang baru. )ebab pada dasarnya -isme yang satu ini ternyata sudah lama ada dan sejak awal telah mengakar kuat di dalam kemanusiaan kita 2our humanity3. Hal ini bisa kita lihat dari ekspresinya yang paling primiti" hingga yang paling mutakhir di jaman modern ini. Tendensi yang ada dalam diri manusia untuk selalu tak pernah puas 2ne/er-endingdiscontentment3 6mau ini-mau itu6 dengan hal-hal yang telah mereka miliki, ditambah dengan dorongan kuat ambisi pribadi dan semangat kompetisi untuk mencapai sesuatu yang lebih daripada tetangga sebelah membuat pola hidup konsumerisme 2dibaca 7 konsumti/isme3 semakin subur dan berkembang amat cepat saja. #audrillard misalnya melihat bahwa struktur nilai yang tercipta secara diskursi" menentukan kehadiran hasrat. )truktur nilai dalam realitas masyarakat konsumer ini menurutnya mengejawantah dalam kode-kode. (roduksi tidak lagi menciptakan materi sebagai objek eksternal, produksi menciptakan materi sebagai kode-kode yang menstimulasi kebutuhan atau hasrat sebagai objek internal konsumsi.

0alam nalar *reudian hasrat untuk mengonsumsi secara mendasar adalah sesuatu yang bersi"at instingtual. Ia berada dalam "ase pertama perkembangan struktur psikis manusia7 yaitu id. (ada "ase id ini semua tindakan mengacu atau didasari oleh prinsip kesenangan-kesenangan yang bersi"at spontan. $dalah jelas bahwa tindakan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan spontan ini dalam "ase id bersi"at irasional. Mengonsumsi pada awalnya terkait dengan tindakan menggapai kepuasan secara irasional, spontan dan temporal - "ase id struktur psikis manusia. Masyarakat konsumer disebut 8ean #raudillard dengan masyarakat kapitalis mutakhir 28ean #raudillard, +,,93 dan $dorno dengan :masyarakat komoditas6 2commodity society3 2Ibrahim dalam Ibrahim, hal. -44;, hal. +<3. #agaimana menghindar dari konsumerisme= Mengonsumsi sebenarnya merupakan kegiatan yang wajar dilakukan. !amun, dewasa ini disadari bahwa masyarakat tidak hanya mengonsumsi, tapi telah terjebak ke dalam budaya konsumerisme. #udaya ini dikatakan berbahaya karena berekses negati" terhadap lingkungan hidup, juga meluruhnya hubungan sosial dan bertahtanya kesadaran palsu di benak masyarakat. )ekarang sudah saatnya menjadi konsumen yang cerdas dan kritis, bukan lagi saatnya menjadi -- dalam istilah #re edana -mindless consumer, konsumen yang tidak berotak, pasi", dan gampang dibodohi. Mulailah mengendalikan diri dan membelanjakan uang hanya untuk barang yang benar-benar kita perlukan, jangan mudah terpengaruh dengan rayuan untuk membeli dan mulai mempertanyakan proses di balik pembuatan barang yang akan kita beli. )ebagai konsumen, kita berhak melakukannya karena kita adalah raja #udaya 'onsumer (illiang mengemukakan bahwa7 'ebudayaan konsumer yang dikendalikan sepenuhnya oleh hukum komoditi, yang menjadikan konsumer sebagai raja> yang menghormati setinggi-tingginya nilai-nilai indi/idu, yang memenuhi selengkap dan sebaik mungkin kebutuhan-kebutuhan, aspirasi, keinginan dan na"su, telah memberi peluang bagi setiap orang untuk asyik dengan sendirinya 2(iliang, -444, hal. <<3. #udaya konsumerisme 2dibaca 7 konsumti/isme3 merupakan jantung dari kapitalisme, adalah sebuah budaya yang di dalamnya berbagai bentuk dusta, halusinasi, mimpi, kesemuan, arti"isialitas, pendangkalan, kemasan wujud komoditi, melalui strategi hipersemiotika dan imagologi, yang kemudian dikonstruksi secara sosial melalui komunikasi ekonomi 2iklan, show, media dan sebagainya3 sebagai kekuatan tanda 2semiotic power3 kapitalisme. )emiotika 2semiotics3 adalah salah satu dari ilmu yang oleh beberapa ahli?pemikir dikaitkan dengan kedustaan, kebohongan, dan kepalsuan, sebuah teori dusta. 8adi, ada asumsi terhadap teori dusta ini serta beberapa teori lainnya yang sejenis, yang dijadikan sebagai titik berangkat dari sebuah kecenderungan semiotika, yang kemudian disebut juga sebagai hipersemiotika 2hyper-semiotics3. B. Pen ebab "(nsumerisme $dorno mengemukakan empat aksioma penting yang menandai :masyarakat komoditas6 atau 6masyarakat konsumer6. @mpat aksioma tersebut adalah > (ertama, masyarakat yang di dalamnya berlangsung produksi barang-

<

barang, bukan terutama bagi pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi demi pro"it dan keuntungan. 'edua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan umum ke arah konsentrasi kapital yang massi" dan luar biasa yang memungkinkan penyelubungan operasi pasar bebas demi keuntungan produksi massa yang dimonopoli dari barang-barang yang distandarisasi. 'ecenderungan ini akan benar-benar terjadi, terutama terhadap industri komunikasi. 'etiga, hal yang lebih sulit dihadapi oleh masyarakat kontemporer adalah meningkatnya tuntutan terus menerus, sebagai kecenderungan dari kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia, kondisi-kondisi relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya mereka sebarkan sendiri. 0an keempat, karena dalam masyarakat kita kekuatan-kekuatan produksi sudah sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan-hubungan produksi terus membelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat masyarakat komoditas :sarat dengan antagonisme6 2"ull o" antagonism3. $ntagonisme ini tentu saja tidak terbatas pada :wilayah ekonomi6 2economic sphere3 tetapi juga ke :wilayah budaya6 2cultural sphere3. (roses Gaya Hidup 0alam masyarakat komoditas atau konsumer terdapat suatu proses adopsi cara belajar menuju akti/itas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup 2*eathersone, +,,93. (embelajaran ini dilakukan melalui majalah, koran, buku, tele/isi, dan radio, yang banyak menekankan peningkatan diri, pengembangan diri, trans"ormasi personal, bagaimana mengelola kepemilikan, hubungan dan ambisi, serta bagaimana membangun gaya hidup. 0engan demikian, mereka yang bekerja di media, desain, mode, dan periklanan serta para %intelektual in"ormasi& yang pekerjaannya adalah memberikan pelayanan serta memproduksi, memasarkan dan menyebarkan barang-barang simbolik disebut oleh #ordieu 2-4A<3 sebagai %perantara budaya baru&. 0alam wacana kapitalisme, semua yang diproduksi oleh kapitalisme pada akhirnya akan didekonstruksi oleh produksi baru berikutnya, berdasarkan hukum :kemajuan6 dan :kebaruan6. 0an karena dukungan media, realitas-realitas diproduksi mengikuti model-model yang ditawarkan oleh media 2(iliang dalam Ibrahim, -44;, hal. +,,3. #udaya konsumerisme terutama muncul setelah masa industrialisasi ketika barang-barang mulai diproduksi secara massal sehingga membutuhkan konsumen lebih luas. Media dalam hal ini menempati posisi strategis sekaligus menentukan> yaitu sebagai medium yang menjembatani produsen dengan masyarakat sebagai calon konsumen. Masalah ini dikaji secara re"lekti"-akademik oleh seorang cendikiawan (rancis terkemuka, 8ean #audrillard. )ecara umum, menurutnya, media berperan sebagai agen yang menyebar imaji-imaji kepada khalayak luas. 'eputusan setiap orang untuk membeli atau tidak, benar-benar dipengaruhi oleh kekuatan imaji tersebut. 8adi moti/asi untuk membeli tidak lagi berangkat dari dalam diri seseorang berdasarkan kebutuhannya yang riil, namun lebih karena adanya otoritas lain di luar dirinya yang BmemaksaB untuk membeli. Hasrat belanja masyarakat merupakan hasil konstruksi yang disengaja. 8auh hari sebelum hari-hari besar itu, media terutama tele/isi telah memoles-moles dirinya untuk bersiap bergumul ke dalam kancah persaingan merebut hati para pemirsa. #erbagai program, dari mulai sinetron, kuis, sandiwara komedi, sampai musik, disediakan sebagai

persembahan spesial untuk menyambut hari spesial. )emakin cantik acara yang disajikan akan semakin mengundang banyak penonton. )elanjutnya, rating-pun tinggi sehingga merangsang kalangan produsen untuk memasang iklan. Iklan merupakan proses persuasi yang sangat e"ekti" dalam memengaruhi keputusan masyarakat dalam mengonsumsi. Masyarakat yang hidup dalam budaya konsumer. $da tiga perspekti" utama mengenai budaya konsumer menurut *eatherstone 2-44-3. Tiga perspekti" yang dimaksud adalah > (ertama, budaya konsumer di dasari pada premis ekspansi produksi komoditas kapitalis yang telah menyebabkan peningkatan akumulasi budaya material secara luas dalam bentuk barang-barang konsumsi dan tempattempat untuk pembelanjaan dan untuk konsumsi. Hal ini menyebabkan tumbuhnya akti/itas konsumsi serta menonjolnya peman"aatan waktu luang 2leisure3 pada masyarakat kontemporer #arat. 'edua, perspekti" budaya konsumer berdasarkan perspekti" sosiologis yang lebih ketat, yaitu bahwa kepuasan seseorang yang diperoleh dari barang-barang yang dikonsumsi berkaitan dengan aksesnya yang terstruktur secara sosial. *okus dari perspekti" ini terletak pada berbagai cara orang meman"aatkan barang guna menciptakan ikatan sosial atau perbedaan sosial. 'etiga, perspekti" yang berangkat dari pertanyaan mengenai kesenangan?kenikmatan emosional dari akti/itas konsumsi, impian dan hasrat yang menonjol dalam khayalan budaya konsumer, dan khususnya tempat-tempat kegiatan konsumsi yang secara beragam menimbulkan kegairahan dan kenikmatan estetis langsung terhadap tubuh.

C. Bu)a a "(nsumerisme )i &n)(nesia #udaya konsumerisme di Indonesia sangat banyak dan mencakup segala hal. !amun dari sudut pandang sains konsumerisme yang berlebihan dan tidak sewajarnya dapat menggangu serta mempengaruhi keseimbangan alam dan kesehatan lingkungan serta tubuh diri sendiri. Contoh budaya konsumerisme dari sudut pandang sains itu sendiri seperti7 konsumerisme terhadap rokok, konsumerisme terhadap Dat-Dat adikti", alkohol dan psikotropika, konsumerisme terhadap transportasi kendaraan bermotor secara berlebihan, dan yang paling sering dijumpai terutama para remaja adalah konsumerisme terhadap budayabudaya asing. (embangunan di Indonesia khususnya sejak era 1rde #aru yang meman"aatkan teknologi #arat dan modal asing telah melahirkan nilai-nilai baru dalam masyarakat yang menggeser kebudayaan tradisional. )eiring dengan adanya pergeseran nilai, konsumerisme juga menjalar kemana-mana, baik di kotakota besar maupun pedesaan di Indonesia. Ini membuktikan bahwa dengan modernisasi yang menggunakan teknologi #arat serta masuknya modal asing, kita tidak dapat mencegah masuknya kebudayaan asing yang perlahan-lahan menyisihkan kebudayaan tradisional serta dilengkapi dengan timbulnya konsumerisme. Indonesia, sebagai negara dunia ketiga atau negara berkembang 2negara miskin3 menjadi mangsa yang empuk bagi para kapitalis dalam mengembangkan teori modernismenya yang berujung pada perilaku konsumen 2paham konsumerisme3. Indonesia memang tidak mampu bersaing sendiri dari segi

ekonomi dengan negara-negara maju, maka disnilah keuntungan negara-negara kapitalis atau negara-negara maju untung mengeruk keuntungan sebesarbesarnya.#anyak gedung sebagai pusat belanja, mall-mall, kartu kredit yang memberikan banyak pilihan dan kemudahan, membuat masyarakat indonesia sebagai masyarakat konsumeris lupa akan jati diri sesunggunhya, mereka lupa bahwa semua itu hanyalah rekayasa yang dibuat oleh oleh para kapitalis untuk mencapai cita-cita mereka yakni menaklukkan dunia dengan sistem modernisasi seperti sekarang ini melalui proses globalisasi. #udaya kosnumerisme di Indonesia semakin menjadi-jadi dengan adanya kemudahan untuk mencapai suatu kepuasan akan hal-hal yang diinginkan untuk dipenuhi. :manusia adalah mahluk yang tidak pernah puas6 inilah kata-kata yang menggambarkan tentang kepribadian manusia terhadap keinginannya. Inilah yang diman"aatkan oleh beberapa orang dalam segi bisnis dan keuntungan. 0i Daman modern yang serba canggih seperti ini bukan membuat manusia menjadi produkti" tapi justru membuat manusia lebih hidup konsumti". 0itambah lagi dengan sistem pembayaran dan cara mendapatkan hal-hal yang kita inginkan dengan lebih mudah. #eberapa kemudahan yang sering dijumpai adalah kemudahan transaksi jual beli dengan kartu kredit, e-banking, "orum jual-beli melalui internet, sistem pembayaran dengan kredit dan lain sebagainya. inilah yang mendorong masyarakat justru semakin akti" mengkonsumsi daripada menghasilkan sesuatu yang nyata untuk Indonesia.

D.

Dampak k(nsumerisme )i &n)(nesia

0ampak konsumerisme di Indonesia secara umum dalam sudut pandang sosial dan ekonomi mencakup banyak hal, yaitu7 negara indonesia terbebani dengan utang karena mengimport barang-barang dari negara asing dan membuat produkti/itas turun sehingga mengurangi pendapatan negara. 0ampak konsumerisme di Indonesia dari sudut pandang sains cukup banyak, seperti7 konsumerisme merokok dapat mengakibatkan dirinya menderita kelainan alat sistem pernapasan yaitu in"eksi paru-paru, bronkus, bronkeolus, al/eolus dan "aring hingga mungkin mengakibatkan kanker paru-paru yang berujung pada kematian. )elain berakibat pada perokok akti", orang yang berada di dekat perokok 2perokok pasi"3 juga memiliki presentase yang sama dengan perokok akti" dalam segi dampak terhadap kerusakan sistem pernapasan pada tubuh. 'onsumerisme terhadap Dat adikti", alkohol dan Dat psikotropika sama seperti meracuni diri sendiri. 'enikmatan yang timbul dalam penggunaannya hanya dirasakan sesaat namun kesakitan yang diderita oleh pengguna bisa mencapai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan rehabilitasi yang dilakukan tidaklah mudah 'onsumerisme terhadap transportasi kendaraan bermotor secara berlebihan juga berdampak buruk bagi lingkungan. (olusi udara di kota-kota besar tanpa adanya taman kota juga semakin memperburuk keadaan lingkungan yang mengakibatkan lapisan oDon semakin menipis sehingga suhu udaradi bumi semakin panas yang mengakibatkan mencairnya kutub es di bumi bagian utara

dan selatan. Inilah yang memicu kenaikan permukaan air di bumi dan secara tidak sadar bibir-bibir pantai semakin terkikis dan lama-kelamaan pulau-pulau akan semakin berkurang luasnya.

BAB *. "ARTU "RED&T DAN BUDA+A "#N$U%ER&$%E A. "ARTU "RED&T Hidup di era globalisasi dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti saat ini, merupakan keuntungan yang sangat besar bagi masyarakat. Hampir semua kegiatan sehari-hari saat ini bisa diselesaikan lebih cepat dan menjadi lebih praktis dengan bantuan teknologi, termasuk kegiatan berbelanja. #erbagai kemudahan telah ditawarkan mulai dari sistem belanja online sampai penggunaan kartu kredit. 0alam @Epert 0ictionary dide"inisikan bahwa kartu kredit merupakan kartu yang dikeluarkan oleh pihak bank dan sejenisnya untuk memungkinkan pembawanya membeli barang-barang yang dibutuhkannya secara hutang. )eperti yang disebutkan dalam de"inisi bahwa pengguna kartu kredit membeli barang yang dibutuhkannya secara hutang. 'artu kredit menggunakan iuran tahunan, yaitu biaya yang harus dibayarkan oleh penggunanya agar bisa menggunakan kartu kredit. Iuran tahunan biasanya dibukukan ke tagihan saat pengguna membuka rekening dan ditagih setiap tahun. 0ari keterangan tersebut, kita juga dapat menyebut kartu kredit sebagai alat penunda pembayaran. )eseorang tidak harus membayar barang yang dibelinya secara cash tetapi bisa menunda pembayarannya dengan kartu kredit, dengan begitu pengguna kartu kredit tidak harus membawa uang tunai dalam perjalanan berbelanjanya.

B. "ARTU "RED&T DAN PER&LA"U "#N$U%EN &ND#NE$&A )egala kemudahan yang diberikan bagi masyarakat termasuk kemudahan berbelanja menggunakan kartu kredit serta banyaknya produk-produk menarik yang ditawarkan mulai mempengaruhi perilaku konsumen khususnya di Indonesia. Masyarakat saat ini cenderung konsumti", mereka sering kali membeli barang yang sebenarnya tidaklah terlalu penting. *enomena seperti ini terjadi juga karena arus in"ormasi yang tersebar dengan cepat. (rodusen barang dan jasa berlomba-lomba mengeluarkan iklan produk mereka untuk menarik sebanyak mungkin konsumen. Iklan produk dibuat semenarik mungkin sehingga konsumen terdorong untuk memiliki barang yang diiklankan tersebut. Tren barang-barang teknologi yang saat ini berubah dengan cepat juga salah satu "actor yang menyebabkan perilaku konsumti" di Indonesia. Masyarakat terutama kaum muda ingin selalu mengikuti tren tersebut sehingga pada akhirnya mereka mengorbankan biaya kebutuhan pokok mereka demi membeli sebuah barang yang bisa membuat mereka disebut trendy. Tren itu sendiri sebenarnya cepat sekali berubah sehingga mereka tidak pernah merasa puas dengan yang dimilikinya, hal ini sudah tentu menyebabkan perilaku konsumti". (enggunaan kartu kredit tentu mempermudah hal ini. 0engan membawa kartu kredit, seseorang tidak perlu memikirkan tentang berapa besar jumlah uang yang ia bawa untuk dibelanjakan karena ia tidak akan kehabisan uang saat berbelanja. 'artu kredit memungkinkan masyarakat untuk menunda pembayaran

suatu barang yang mereka beli sehingga kecenderungan untuk boros akan berkalikali lebih besar. C. DA%PA" PEN,,UNAAN "ARTU "RED&T 'artu kredit dengan segala kemudahan yang dibawanya, juga memilki dampak yang buruk terhadap keuangan seseorang. 'artu kredit dapat membuat seseorang jadi konsumti", membeli banyak barang yang diinginkannya tanpa memikirkan kebutuhan lain yang lebih penting. 'artu kredit juga dapat mengubah seseorang menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab, dengan berbelanja dalam jumlah besar tanpa memikurkan apakah penghasilannya cukup untuk membayar kartu kredit pada akhir bulan, ia hanya memikirkan kesenangannya saat itu dan tidak berpikir untuk masa depan. 0ampak negati" lain yang disebabkan oleh penggunaan kartu kredit yang berlebihan adalah tidak seimbangnya keuangan seseorang. (enggunaan kartu kredit dalam tiap kesempatan membuat seseorang terkadang lupa bahwa ia tetap mempunyai tanggung jawab untuk melakukan pembayaran pada akhir bulan sehingga saat ia menerima tagihan, ia pun kaget melihat pengeluaran yang jauh lebih besar dari pendapatannya. BAB -. %engatasi bu)a a k(nsumerisme )i &n)(nesia
Globalisasi ternyata membawa sebuah dampak negati/e yang cukup besar, dan salah satunya, dimana sekarang tengah menjadi salah satu budaya di Indonesia, yaitu konsumerisme. 'onsumerisme menjebak kita sebagai konsumer dan membelanjakan uang kita secara terus-menerus. Iklan-iklan baik di media massa, media cetak, maupun media elektronik, ditambah pesatnya pertumbuhan mall-mall dan minimarket ikut mendukung berkembangnya budaya ini. #udaya konsumerisme seakan mulai menjadi :trademark6, terutama di kalangan remaja jaman sekarang. !amun, bukan berarti budaya konsumerisme tidak bisa dicegah dan dihindari, berikut beberapa cara mengatasi budaya konsumerisme di Indonesia7 -. Membiasakan hidup sederhana (ola hidup sederhana adalah membeli barang-barang sesuai dengan kebutuhan dan harga barang tersebut mampu dijangkau. !amun, hidup sederhana bukan berarti hidup sehemat-hematnya, tapi menggunakan uang sesuai dengan yang kita butuhkan dan tidak mem-"oya-"oyakan uang yang kita miliki, sehingga kebutuhan mampu terpenuhi dengan baik.

+. Manajemen 'euangan 'onsumerisme membuat manusia membeli semua barang yang diinginkannya, jadi, alangkah baiknya jika kita mampu mengontrol keuangan kita agar tidak :besar pasak daripada tiang6. )alah satu nya adalah dengan memanajemen keuangan kita. Manajemen keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian, dan penyimpanan dana yang dimiliki seseorang ,organisasi atau perusahaan. 0engan manajemen keuangan, kita mampu mengatur pemasukan dan pengeluaran kita, sehingga menghindari kita terlilit hutang, bahkan, bukan tidak mungkin, kita mampu melakukan sa/ing.

-,

.. 'ebutuhan dan keinginan 'ebutuhan adalah sesuatu yang memang kita butuhkan atau dianggap penting, dan bisa saja bersi"at mendesak. )ementara keinginan adalah sesuatu 2biasanya berupa kebutuhan sekunder atau tersier3 yang bersi"at tidak terlalu penting dan tidak mendesak. 'onsumerisme biasanya berupa hawa na"su untuk membeli suatu barang yang tidak penting bahkan juga tidak berguna. Hal ini didorong oleh nilai prestis 2gengsi3 atau rasa tidak mau kalah terhadap orang lain. #ahkan, kita bisa saja rela berhutang demi barang yang tidak penting tersebut. 0alam kasus ini, kita sering tidak memperdulikan mengenai perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Hal inilah yang kadang membuat keinginan yang seharusnya tidak penting, malah naik pangkat sehingga keinginan yang sering kali mendesak manusia hingga terjebak dalam konsumerisme. #ahkan, keinginan yang tidak terkendali bisa membuat kebutuhan malah berada di bawah dari keinginan, dan akhirnya, kebutuhan kita tidak terpenuhi, malah kita memiliki hutang dan mungkin saja jatuh dalam kemiskinan. 1leh sebab itu, kita harus mampu mengendalikan keinginan kita sendiri dan mampu melihat suatu benda dari nilai kegunaan benda tersebut, sehingga kita mampu terhindar dari konsumerisme.

<. Membuat skala prioritas kebutuhan dan ke-urgensian suatu benda 'ebutuhan-kebutuhan pun wajib kita ukur skala prioritasnya dan keurgensiannya. Maksudnya, kebutuhan yang sangat mendesak dan menjadi kebutuhan yang sangat penting di saat tersebut, harus segera dipenuhi. Hal ini dilakukan agar uang yang kita miliki mampu disesuaikan dengan kebutuhan kita. )kala ini juga membantu kita dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. $dapun skala prioritas dan urgensi ini disusun berdasarkan7 -. Tingkat kedaruratan, maksudnya, semakin darurat nya suatu kebutuhan, ia harus semakin didahulukan. Misalnya, saat sedang sakit yang parah, alangkah lebih baik jika membeli obat di apotek daripada pulang ke rumah dahulu untuk mengambil obat. Walaupun pulang ke rumah mungkin lebih murah daripada membeli obat tersebut, tapi akan lebih baik jika membeli obat tersebut, karena anda dalam keadaan yang kurang memungkinkan untuk pulang. 'esempatan yang dimiliki, misalnya saat lapar, makanan menjadi hal utama, hal lain menjadi kebutuhan di bawhnya. (ertimbangan masa depan, maksudnya, kebutuhan masa depan bisa saja menjadi kebutuhan darurat di masa depan, jadi, alangkah baiknya jika kita mulai berjaga-jaga dari sekarang, dan jangan sampai, kebutuhan ini menjadi pendesak kita saat uang kita mulai menipis 'emampuan diri, yaitu kita diharapkan mampu menyesuaikan suatu kebutuhan dengan diri kita sendiri. Tingkat pendapatan, yaitu sesuaikan kebutuhan dengan uang yang kita miliki. 8angan sampai, kebutuhan terpenuhi, namun hutang yang kita miliki menumpuk.

+. ..

<. 9.

--

5.

)tatus sosial, artinya tidak memaksakan kehendak hanya demi status sosial, atau mengikuti gaya orang lain, dan rela berhutang agar diakui sebagai orang kaya. Fingkungan, artinya kita harus beradaptasi dengan lingungan sekitar. )weater mungkin sangat dibutuhkan oleh masyarakat di @ropa atau daerah yang dingin, tapi kurang dibutuhkan di daerah tropis

;.

-+

BAB .. PENUTUP A. $impulan 'ebudayaan cenderung akan selalu berubah-ubah dalam ruang dan waktu, menjawab keperluan-keperluan insani. 0i satu pihak memperbaharui dan di pihak lain melestarikan nilai-nilai. #ila semata-mata hanya melestarikan nilai-nilai lama dan menolak nilai-nilai baru, dapat terjadi tabrakan dengan keperluan-keperluan objekti" masyarakat. Walaupun ada sebagian anggota masyarakat yang berpendapat bahwa modernisasi tidaklah harus berarti Westernisasi, dalam arti kita boleh mengambil alih teknologi yang "aktual datang dari #arat, tetapi tanpa mengambil alih kebudayaan #arat, penulis berpendapat hal ini tidak mungkin. !amun, budaya-budaya yang muncul akibat !egara barat belum tentu sepenuhnya baik. Maka dari itu perlu adanya penyaringan antara budaya yang baik dan kurang baik.

-.

DA'TAR PU$TA"A #audrillard, Masyarakat 'onsumsi, kreasi wacana, Gogyakarta7 +,,<. )amekto, Kapitalisme Modernisasi dan Kerusakan Lingkungan, (ustaka (elajar, Gogyakarta 7+,,9 itDer, Teori Sosial Postmodern, Kreasi Wacana, Gogyakarta7 +,,. Wikipedia, the "ree encyclopedia 'omparta- Indonesia ? (enulis #uku Hukum Menelusuri 'onsumerisme3 oleh 88 $mstrong )embiring. http7??indowarta.com

-<