Anda di halaman 1dari 11

Tiroid Penyakit dan kelainan tiroid merupakan kelainan endokrin kedua yang terseringdijumpai setelah diabetes melitus.

Kelainan tiroid memberikan pengaruh kehampir seluruh tubuh karena hormon tiroid mempengaruhi banyak organ. Untukmempelajari dan mendiagnosis kelainan tiroid perlumemahami sumbuhipotalamus-hipofisis-tiroid, honnon-hormon yang bekerja pada sumbu tersebutserta pengaruhnya kepada organ-organ lain serta sebaliknya pengaruh luarkepada sumbu tersebut. Dengan kemajuan teknik analisis hormon tiroid yangmakin peka (sensitif) dan khas (spesifik) maka dimungkinkan untuk melakukandeteksi dini dan keadaan subklinis kelainan tiroid dengan lebih baik.Pada makalah ini dibahas faal dan kelainan, fisiologi dan patofisiologi, kelainantiroid yang penting dan sering dijumpai. aal Tiroid Kelenjar tiroid terletak di daerah leher depan, di depan trake! tepat di ba"ahlaring, ber"ama merah #oklat dengan $ lobus yang dihubungkan oleh isthmus.%entuknya menyerupai kupu-kupu sehingga sering digarrrbarkan demikian.&e#ara embrional semulatiroid terletak di belakang lidah yang kemudiansebelum lahir bermigrasi ke leher depan. 'leh karena itu, meski jaranga(akalanya kelenjar tiroid masih berada di belakang lidah atau sebaliknya sudahsampai ke belakang tulang dada (substernum).Kelenjar tiroid terdiri atas sel-sel epitel kubus rendah yarrg tersusun mernbentukkantung-kantung ke#il, folikel-folikel, yang merupakan unit struktural, fungsional,dan sekresi kelenjar tiroid. )ormon-hormon tiroid Kelenjar tiroid merupakan organ endokrin yang mengeluarkan (sekresi) hormon-hormon tiroid. *da $ jenis hormon utama yaitu tiroksin (th+n,o-ine . T/ 0 1-2,3,24,34tetraiodothyronine) dan triiodothyronine (T2 -- 1-2,3,24-triiodothyronine). Keduanya tersusun oleh $ residu tirosil (tyrosyl) yang terikatmelalui ikatan eter dan digantikan oleh / atau 2 residu yodium (iodine).Kuantitatif terbanyak adalah T/ sebagai hormon utama dan sedikit T2. Tetapi T2merupakan hormon yang aktif biologis (potensi metabolik 2daripada T/), danT/ dianggap sebagai pre#ursor atau prohormon, yang bila diperlukan dipe#ah dijaringan untuk membentuk T2.5n6lm Tiroperoksidase(Thyropero-idase .TP') adalah salah satu en6im utamayang disintesis di dalam retikulum endoplasmik tirosit dan mengoksidasi yodiummemfasilitasi pembentukan T2 dan T/. 7odium merupakan unsur pentinghormon tiroid, menyusun 839 dari berat T/ dan 3:9 dari berat T2. Di jaringanperifer misalnya hati terjadi deyodinasi T/ yang menghasilkan T2 ($ yodiumpada #in#in dalam dan + yodium di #in#in luar molekulnya) dan re;erse T2 (rT2) (+ yodium pada #in#in dalam dan$ yodium pada #in#in luar molekulnya). rT2 initidak mempunyai keaktifan biologis.

&ekresi hormon tiroid Di dalam kelenjar tiroid, hormon T2 dan T/ terikat kepada tiroglobulin( thyroglobulin). 'leh bimbingan hormon pemi#u tiroid (thyroid-stimulatinghormone . T&)) terjadi pengeluaran hormon T/ dengan sedikit T2 dantiroglobulin. Pada keadaan normal, ada ;ariasi diumal T&) dengan meningkat $-2- dan nilai dasar (baseline ;alue) pada pk +4-++ malam dan menurun pada pk+4-++ pagi. &ekresi T&) diatur oleh kadar hormon tiroid yang beredar melaluimekanisme umpan balik negatif ( negati;e-feedba#k loop) dan hormon pelepas tirotropin yang dikeluarkan oleh hipotalamus (hypothalami# thyrotropin-releasing hormone 0 T<)). T/ diproduksi lebih banyak dan didapatkan di plasma dengan kadar lebih tinggidaripada T2. =asa paruh T/ /-8 hari, sedangkan T2 hanya + hari. &ebagian besar(:39) T/ terikat pada protein globulin pengikat tiroid (thyroid-binding globulin .T%>) dan +4-+39 dengan pra albumin pengikat tiroksin (thyro-ine-bindingprealbumin . T%P*) serta 39 dengan albumin. &ebagian ke#il, kurang dari +9dalam bentuk bebas tidak terikat, freeT2 (fT2 atau T2) dan freeT/ (fT/ atau T/), yang merupakan fraksi aktif biologis, umumnya tidak terpengaruh olehkelainan protein pengikat tiroid. )ormon T/ terikat kuat dengan T%>, sedangkanT2 terikat kurang kuat kepada T%> tetapi lebih kuat kepada T%P* dan albumin.&ebagian besar kadar T2 serum (?@39) dihasilkan dari kon;ersi T/ di perifer.Pada penyakit nontiroid (nonthyroidal illness0 ATB), kon;ersi T/ menjadi T2berkurang dan kon;ersi menjadi re;erse T2 (rT2) meningkat.&intesis, sekresi dan angkutan hormon tiroid olikel-folikel kelenjar tiroid berperan penting dalam pengaturan(#ompartmentali6ing) unsur-unsur yang diperlukan untuk sintesis hormon tiroid.Tiroglobulin mengisi folikel-folikel, dan memi#u sintesis hormon tiroid. &el epitelkelenjar tiroid mempunyai simporter yodium natrium (sodium-iodide symporter )di membran dasar yang memekatkan yodium sirkulasi dari darah. Di dalam selyodium segera diangkut ke lumen folikel.Pada bagian ujung membran plasma sel epitel tiroid terdapat thyroid pero-idase(TP'), yang mengkatalisis reaksi pembentukan hormonhormon tiroid. Pertama,yodida dioksidasi menjadi yodium, lalu yodinasi tirosin pada tiroglobulin menjadimonoiodotyrosine(=BT) dandiiodotyrosine (DBT). *khirnya TP'menggandengkan $ molekul tirosin membentuk T2 dan atau T/. Peptidapengikat antar hormon tiroid dan tiroglobulin kemudian dipe#ah se#araen6imatik. Koloid mengandung hormon tiroid diinternalisasi pada permukaanujung sel-sel epitel tiroid. 1isosom, yang mengandung en6im hidrolitik, menyatudengan endosom dan melepaskan hormon tiroid bebas berdifusi ke dalam darah,bergabung dengan protein pengikat yang dihasilkan oleh hati untuk diangkut kejaringan lain. <eaksi ini bersifat re;ersible.T&), yang disekresi oleh hipofisis bagian depan (anterior pituitarygland),mengatur sintesis dan sekresi horrnon tiroid. &ebaliknya sekesi T&) diaturoleh T<) dari glukuronidasi dan sulfasi.Deyodinasi berperan utama. )ampir :49 dari produksi dan metabolismeintraselular hormon-hormon tiroid berjalan dengan pemindahan sekuensialyodiurn dari molekul. Deyodinasi tipe B dan BB mengubah T/ menjadi T2 dijaringan perifer. Deyodinasi tipe B juga membentuk rT2 dari T/, tipe BBBmengkatalisis kon;ersi T/ dan T2 menjadi rT2 dan DBT (T$)C T$ akan menjadi=BT. Keaktifan en6im deyodinasi dapat diatur oleh kadar T2 dan T/ serta en6imdeyodinase lain.)ormon-honnon tiroidprimer diglukuronidasi oleh en6im uridine diphosphataseglu#uronosyl transferases (UDP>Ts) dan diekskresi oleh ginjal.

>lukuronidasimenjadi penting bila kadar T2 meningkat. Keaktifan UDP->T dapat dimodulasioleh berbagai -enobioti#s. &ulfasi T2 menfasilitasi metabolisme T2 oleh en6imdeyodinasi tipe B. Pada janin, bila tiada deyodinasi T/, maka sumber T2 didapatdari T2-sulfat, yang dibentuk oleh sulfatase dari jaringan dan bakteri usus. K51*BA*A TB<'BD Pada orang de"asa dikenal / jenis kelainan D gangguan tiroid. Pertama dankedua, gangguan fungsi atau keseimbangan homeostasis berupa kekurangantirotropin yang dikeluarkan oleh hipotalamus (hypothalami# thyrotropin-releasing hormone 0 T<)). T/ diproduksi lebih banyak dan didapatkan di plasma dengan kadar lebih tinggidaripada T2. =asa paruh T/ /-8 hari, sedangkan T2 hanya + hari. &ebagianbesar (:39) T/ terikat pada protein globulin pengikat tiroid (thyroid-binding globulin.T%>) dan +4-+39 dengan pra albumin pengikat tiroksin (thyro-ine-bindingprealbumin. T%P*) serta 39 dengan albumin. &ebagian ke#il, kurang dari +9dalam bentuk bebas tidak terikat, freeT2 (fT2 atau T2) dan freeT/ (fT/ atau T/), yang merupakan fraksi aktif biologis, umumnya tidak terpengaruh olehkelainan protein pengikat tiroid. )ormon T/ terikat kuat dengan T%>, sedangkanT2 terikat kurang kuat kepada T%> tetapi lebih kuat kepada T%P* dan albumin.&ebagian besar kadar T2 serum (?@39) dihasilkan dari kon;ersi T/ di perifer.Pada penyakit nontiroid ( nonthyroidal illness0 ATB), kon;ersi T/ menjadi T2berkurang dan kon;ersi menjadi re;erse T2 (rT2) meningkat. &intesis, sekresi dan angkutan hormon tiroid olikel-folikel kelenjar tiroid berperan penting dalam pengaturan(#ompartmentali6ing) unsur-unsur yang diperlukan untuk sintesis hormon tiroid.Tiroglobulin mengisi folikel-folikel, dan memi#u sintesis hormon tiroid. &el epitelkelenjar tiroid mempunyai simporter yodium natrium (sodium-iodide symporter )di membran dasar yang memekatkan yodium sirkulasi dari darah. Di dalam selyodium segera diangkut ke lumen folikel.Pada bagian ujung membran plasma sel epitel tiroid terdapat thyroid pero-idase(TP'), yang mengkatalisis reaksi pembentukan hormonhormon tiroid. Pertama,yodida dioksidasi menjadi yodium, lalu yodinasi tirosin pada tiroglobulin menjadi monoiodotyrosine(=BT) dan diiodotyrosine (DBT). *khirnya TP'menggandengkan $ molekul tirosin membentuk T2 dan atau T/. Peptidapengikat antar hormon tiroid dan tiroglobulin kemudian dipe#ah se#araen6imatik. Koloid mengandung hormon tiroid diinternalisasi pada permukaanujung sel-sel epitel tiroid. 1isosom, yang mengandung en6im hidrolitik, menyatudengan endosom dan melepaskan hormon tiroid bebas berdifusi ke dalam darah,bergabung dengan protein pengikat yang dihasilkan oleh hati untuk diangkut kejaringan lain. <eaksi ini bersifat re;ersible.T&), yang disekresi oleh hipofisis bagian depan (anterior pituitarygland),mengatur sintesis dan sekresi horrnon tiroid. &ebaliknya sekesi T&) diaturoleh T<) dari glukuronidasi dan sulfasi.Deyodinasi berperan utama. )ampir :49 dari produksi dan metabolismeintraselular hormon-hormon tiroid berjalan dengan pemindahan sekuensialyodiurn dari molekul. Deyodinasi tipe B dan BB mengubah T/ menjadi T2 dijaringan perifer. Deyodinasi tipe B juga membentuk rT2 dari T/, tipe BBBmengkatalisis kon;ersi T/ dan T2 menjadi rT2 dan DBT (T$)C T$ akan menjadi=BT. Keaktifan en6im deyodinasi dapat diatur oleh kadar T2 dan T/ serta en6imdeyodinase lain.)ormon-honnon tiroidprimer diglukuronidasi oleh en6im uridine

diphosphataseglu#uronosyl transferases (UDP>Ts) dan diekskresi oleh ginjal. >lukuronidasimenjadi penting bila kadar T2 meningkat. Keaktifan UDP->T dapat dimodulasioleh berbagai -enobioti#s. &ulfasi T2 menfasilitasi metabolisme T2 oleh en6imdeyodinasi tipe B. Pada janin, bila tiada deyodinasi T/, maka sumber T2 didapatdari T2-sulfat, yang dibentuk oleh sulfatase dari jaringan dan bakteri usus. K51*BA*A TB<'BD Pada orang de"asa dikenal / jenis kelainan D gangguan tiroid. Pertama dankedua, gangguan fungsi atau keseimbangan homeostasis berupa kekurangan hormon tiroid (hipotiroid), dan kelebihan hormon tiroid (hipertiroid). Ketiga,kelainan berupa pembesaran kelenjar tiroid. Keempat kelainan hormon tiroidtanpa disertai gangguan klinis (eutiroid). Perlu pula diperhatikan pengaruh obat-obatan terhadap fungsi tiroid. )ipertiroid )ipertiroid juga dapat dibedakan antara klinis jelas (o;ert ) dan klinis tidak jelas(subklinis). )ipertiroid klinis (atau tirotoksikosis) disifatkan dengan peningkatankadar T2 dan T/ serum dan penurunan kadar T&) serum. Penyebab terseringadalah penyakit >ra;es, menurut nama dokter yang pertama menjelaskanpenyakit ini pada tahun +:23 dengan trias pembesaran kelenjar tiroid (goiter),palpitasi dan mata menonjol (eksofthalmus). Penyakit ini disebabkan olehproduksi antibodi terhadap reseptor T&), yang merangsang pembentukanhormon tiroid berlebih. Tirotoksikosis berat dapat menyebabkan dekompensasi,thyroid storm, ditandai demam, takikardia, hipertensi, kelainan gastrointestinaldan neurologis yang dapat diikuti gagal jantung kongestif, hipotensi dan renjatandengan akibat fatal.Usia paling ra"an terkena penyakit ini $4-/E tahun, pun#ak pada 84-8E tahunpada studi di&"edia.Penyebab dan mekanisme patogenesis )ipertiroid Klasifikasi penyebab Produksi lebih hormon tiroid .Penyakit >ra;es>oiter multinodular toksik*denoma folikularPenyakit hipotalamusTumor sel germinal (mola hidatidosa,koriokarsinoma)Karsinoma tiroid folikular metastasisKerusakan kelenjar tiroid .Tiroiditis limfositikTiroiditis granulomatosa (subakut)Tiroiditis )ashimoto1ainlain.Tirotoksikosis medikamentosa =ekanisme patogenesis *ntibodi merangsang T&)-< FT&)-<(stim)*bG )iperfungsi otonom Produksi lebihT<)&timulasi )(>=etastasis fungsionalPenglepasan hormon simpanPenglepasan hormon simpanPenglepasan hormon simpan selintas=akan hormon tiroid eksogenberlebihTemuan klinis pada )ipertiroid (Tirotoksikosis)>ejala HKe"aspadaan, emosi labil, gelisah, mudah terangsang HKonsentrasi terganggu H'tot lemah, mudah lelah HPalpitasi

H&elera makan meningkat, berat badan menurun HDefekasi sering HTidak tahan panasTanda H)iperkinesia, bi#ara #epat Hkelemahan otot proksimal (kuadriseps), tremor halus HKulit halus, basahC rambut halus, banyakC kuku pe#ah (onikolisis) H>erak kelopak mata lamban (lid lag), menatap, kemosis , edemaperiorbital, ptosis H%unyi jantung B keras, takikardia, fibrilasi atrial1aboratorium HT&) serum menurun HTiroksin bebas, T/ dan T2 serum, T2 resin atau T/ uptake, free thyro-ineinde- semua meningkat H*mbilan 7odium radioaktif oleh kelenjar tiroid meningkat H%asal metaboli# rate (%=<) meningkat HKadar kolesterol serum menurun Pada hipertiroid subklinis didapatkan kadar rendah T&) dengan T2 dan T/normal (biasanya normal tinggi, dekat batas atas rentang rujukan) sedangkangejala klinis tiada atau sedikit D tidak nyata Keadaan ini men#erminkan adanyapengurangan produksi dan sekresi T&) sebagai respons terhadap peningkatan ringan hormon tiroid yang masih dalam rentang rujukan sebelum klinis nyata.Dapat dibedakan antara yang endogen, misalnya berkaitan dengan penyakit>ra;es atau goiter nodular, dan yang eksogen, berkaitan dengan pengobatan le;otltyro-ine. Pembesaran kelenjar tiroid Pembesaran kelenjar tiroid (goiter ) dapat difuse atau nodular, tunggal ataubanyak (multinodular). >oiter biasanya disebabkan rangsangan berkepanjanganoleh T&) atau 6at serupa T&) (T&)-like agent ) baik pada hipotiroid (misalnlatiroiditis )ashimoto) maupun hipertiroid (penyakit >ra;es, tumor sel gerrninal,adenoma hipofisis), dan dapat pula pada keadaan eutiroid. Penyebab terseringadalah defisiensi yodium. Iadi berdasarkan klinis dan dasar patogenesisnyaapakah ada kaitan inflamasi atau keganasan dapat dibedakan antara goitertoksik dan yang non toksik.Penyebab dan mekanisme patogenesis >oiter Klasifikasi penyebab =ekanisme patogenesis>oiter dengan hipotiroid atau eutiroid Defisiensi yodium >angguan biosintesis hormonKelebihan yodium %lo#k sekresi hormon>oitrogen dalam makanan-minuman >angguan biosintesis hormonPengobatan goitrogenik >angguan biosintesis hormon1itium %lo#k sekresi hormon>angguan #ongenital (banyak jenis) (%anyak jenis gangguan biosintesishormon)<esistensi hipofisis dan perifer terhadap >angguan reseptor hormon tiroid >oiter dengan hipertiroid Penyakit >ra;es <angsangan oleh T&)-<FstimG*b>oiter muitinodular toksik )iperfungsi otonomTumor sel germinal <angsangan oleh )(>*denoma hipofisis

Produksi lebih T&)Tiroiditis Pembesaran oleh karena JjejasJ,infiltrasi dan edemaTimbulnya nodul tunggal dapat disebabkan oleh tumor, yang tersering adenomafolikularis. Karsinomatiroid jarang, biasanya berkembang dari epitel folikelsebagai karsinoma folikularis atau papilaris. Ienis yang lebih jarang adalahkarsinoma medularis. Ke#urigaan kuat terhadap karsinoma tiroid bila ada ri"ayatkeluarga karsinoma tiroid medularis atau neoplasia endokrin gandapertumbuhan #epat tumor terutama selama terapi le;othyro-ine, nodul tunggalyang padat dan keras, nodul melekat pada struktur sekitarnya, kelumpuhan pitasuara pembesaran kelenjar getah bening regional, dan metastasis jauh. =*AB 5&T*&B )BP5<TB<'BD P*D* I*ATUA> P5AD*)U1U*A )ormon tiroid memiliki efek pada otot jantung, sirkulasi perifer dan sistem saraf simpatis yang berpengaruh terhadap hemodinamik kardio;askuler pada penderita hipertiroid. Perubahan yang utama meliputi. peningkatan denyut jantung, kontraktilitas otot jantung, #urah jantung, relaksasi diastolik dan penggunaan oksigen oleh otot jantung serta penurunan resistensi ;askuler sistemik dan tekanan diastolik. >angguan fungsi kelenjar tiroid dapat menimbulkan efek yang dramatik terhadap sistem kardio;askuler, seringkali menyerupai penyakit jantung primer. Dari berbagai penelitian dan per#obaan pada he"an, terbukti bah"a hormon tiroid mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung pada jantung yang selanjutnya akan menghasilkan efek inotropik dan kronotropik positif pada jantung. &elain gejalagejala klinis hipertiroid, pemeriksaan kadar hormon tiroid plasma dan tes fungsi kelenjar tiroid perlu diperiksa pada tiap-tiap penderita dengan keluhan atau kelainan jantung yang belum jelas penyebabnya sehingga dapat ditegakkan diagnosis penyakit jantung hipertiroid.

P*T' B&B'1'>B &intesis T/ (tiroksin) dan T2 (triiodotironin) terjadi didalam kelenjar tiroid, hasil sekresi primer jarang sekali yang bersifat inaktif. :39 T2 terbentuk dari kon;ersi perifer T/ oleh en6im 3-monodeiodinase. Potensi hormon tiroid terjadi sebagian besar melalui ikatan T2 dengan reseptor-reseptor inti yang meregulasi ekspresi gen-gen yang responsif terhadap hormon tiroid. T2 berikatan dengan reseptor tersebut dengan afinitas yang lebih tinggi daripada T/ sehingga akti;itas biologis T2 lebih tinggi. *da $ gen resptor yaitu K dan L, dengan $ m<A* dari masing-masing gen yaitu K+ dan K$ serta L+ dan L$. T2 tidak terikat dengan K$. Pengaruh hormon tiroid pada sistem seluler diperantarai oleh triiodotironin (T2) yang terikat pada reseptor-reseptor inti sel. &ebagian dari kompleks reseptor T2 yang terikat pada DA* meregulasi ekspresi gen, terutama yang mengatur perputaran kalsium

pada otot jantung. T2 juga memiliki potensi diluar nukleus yang sifatnya tidak tergantung ikatan reseptor T2 inti atau peningkatan sintesis protein. 5fek-efek diluar inti ini menyebabkan stimulasi asam amino, gula dan transport kalsium se#ara #epat. Perubahan fungsi jantung diperantarai oleh regulasi T2 oleh gen-gen yang spesifik pada otot jantung. Pengaruh hormon tiroid terhadap efek adrenergik. %eberapa peran T2 pada jantung menunjukkan manifestasi klinis yang menyerupai dengan stimulasi terhadap L adrenergik. Bnteraksi antara T2 dengan sistem saraf adrenergik dapat dibuktikan melalui kemampuan L bloker untuk meringankan beberapa gejala hipertiroid. )al ini melibatkan densitas reseptor L adrenergik yang meningkat, peningkatan ekspresi protein > (nukleotida guanin yang terikat protein) atau peran T2 yang menyerupai katekolamin. Malaupun mekanisme penderita hipertiroid menunjukkan sensiti;itas yang meningkat terhadap katekolamin masih belum dimengerti, namun sudah jelas bah"a efek T2 pada jantung tidak tergantung stimulasi reseptor L adrenergik. &timulasi kronotropik dan inotropik. )ipertiroid diduga meningkatkan denyut jantung dan kontraktilitas otot jantung. Pengukuran fungsi jantung, meliputi. fraksi ejeksi ;entrikel kiri, irama ;entrikel, relaksasi diastolik dan #urah jantung menunjukkan peningkatan. )asilnya, #urah jantung meningkat sebesar $349 dan terjadi pelebaran tekanan nadi. Perubahan fungsional ini terjadi akibat peningkatan ekspresi Nmyo#ardial sar#oplasmi# reti#ulum #al#ium dependent adenosine triphophateO, penurunan ekspresi penyekat kalsium, fosfolamban serta penurunan resistensi ;askuler sistemik.

=*AB 5&T*&B K1BAB& K51U)*A D >5I*1* K1BAB& Palpitasi merupakan keluhan yang hampir +449 ditemukan pada penderita hipertiroid. =ekanisme sebenarnya yang dapat menerangkan hal ini belum jelas, namun hal ini dihubungkan dengan pengaruh langsung hormon tiroid pada &* node dan adanya kerentanan yang berlebihan penderita hipertiroid terhadap rangsangan sistem simpatis. Palpitasi ini dirasakan baik pada saat istirahat maupun saat tidur dan akan bertambah #epat bila penderita bekerja, setelah makan atau dalam keadaan emosi. Penderita hipertiroid sering mengalami keluhan sesak napas. )al ini dapat dijelaskan karena pada penderita hipertiroid terdapat kenaikan #urah jantung dan konsumsi oksigen pada saat maupun setelah melakukan akti;itas. &elain itu kapasitas ;ital pada penderita hipertiroid akan menurun disertai dengan gangguan sirkulasi dan ;entilasi paru. Iika tidak dijumpai adanya tanda-tanda gagal jantung, mungkin sesak napas ini diakibatkan kelemahan otot-otot pernapasan. Ayeri prekordial (angina) yang menyerupai nyeri pada angina pektoris sering dijumpai pada penderita hipertiroid. )al ini diduga akibat adanya peningkatan konsumsi oksigen oleh otot jantung (oleh karena efek langsung T2 pada otot jantung maupun peningkatan kebutuhan oksigen perifer). %eberapa penderita mengalami angina yang pertama pada

saat hipertiroid. >ejala angina dan kelainan gambaran elektrokardiografi yang terkait angina bisa terjadi tanpa disertai adanya penyakit arteri koroner, kemungkinan akibat iskemia relatif (ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan) atau ;asospasme arteri koroner. P5=5<BK&**A B&BK rekuensi nadi biasanya meningkat (E4-+$3 kaliDmenit) dan akan bertambah #epat jika berakti;itas serta ada perubahan emosi. *kibat adanya #urah jantung yang tinggi dan resistensi perifer yang rendah maka tidak jarang pada penderita hipertiroid dijumpai gambaran nadi yang mirip dengan insufisiensi aorta berupa pulsus seller dan magnus. Aadi yang lebih dari :4 kaliDmenit pada saat istirahat perlu di#urigai adanya suatu hipertiroid. Tekanan darah sistolik biasanya meningkat sedangkan tekanan darah diastolik menurun sehingga menimbulkan tekanan nadi yang besar ("ide pulse pressure) menyerupai gambaran insufisiensi aorta. Pada penderita hipertensi sistolik yang tidak jelas penyebabnya (terutama jika berusia 83 tahun) perlu di#urigai kemungkinan adanya tirotoksikosis. )ipertensi ini terjadi akibat ketidakmampuan jaringan ;askuler untuk men#ukupi peningkatan #urah jantung dan ;olume sekun#up. =ekanisme ini juga yang menjelaskan kenapa hipertensi diastolik jarang terjadi. Pada penderita hipertiroid bisa terdapat hipertensi pulmonal dan regurgitasi katub fungsional. %eberapa kasus penderita hipertiroid menunjukkan kelainan hipertensi pumonal yang re;ersibel, regurgitasi trikuspid sedang hingga berat dan gagal jantung kanan. Pada penyakit hipertiroid Na#ropa#hyO, dapat dijumpai #lubbing ujung-ujung jari pada pemeriksaan klinis. )al ini diakibatkan gangguan hemodinamik pulmonal. Pemeriksaan ekokardiografi prospektif dengan doppler pada 2E penderita hipertiroid dan 2E kelompok kontrol menunjukkan bah"a abnormalitas dijumpai lebih banyak daripada yang diduga sebelumnya. <ata-rata tekanan arteri pulmonal lebih tinggi daripada kelompok kontrol (2: berbanding $@ mm)g) dan tekanan 23 mm)g dijumpai pada +8 penderita (/+9) dibandingkan hanya + pada kelompok kontrol. <egurgitasi trikuspid fungsional sedang hingga berat dijumpai pada @ penderita berbanding + penderita (kelompok kontrol). <egurgitasi mitral fungsional sedang dijumpai pada 3 penderita berbanding + penderita (kelompok kontrol). )al ini bisa diakibatkan baik oleh hipertensi pulmonal maupun fibrilasi atrial. &etelah diikuti selama +/ bulan (pada kondisi eutiroid), kelainan ini membaik pada kebanyakan kasus namun bukan pada semua penderita. )anya sedikit penderita hipertiroid yang menunjukkan gagal jantung, biasanya dijumpai pada penderita usia tua dan yang sudah memiliki kelainan atau penyakit dasar jantung sebelumnya. Pada kasus-kasus lain, hal ini merupakan komplikasi dari fibrilasi atrial atau sinus takikardi yang berkepanjangan dan membaik saat irama ;entrikel menurun dan ter#apainya irama sinus normal. >agal jantung yang tidak disertai kelainan dasar jantung atau aritmia sebelumnya, diduga akibat kardiomiopati yang terkait irama jantung, dimana gejala ini berkurang dengan pemberian terapi hipertiroid. )ipertensi pulmonal dapat juga

menunjukkan gejala gagal jantung kanan. Pada hipertiroid sering terjadi fibrilasi atrial. >angguan irama pada penderita hipertiroid berupa sinus takikardi. =anifestasi klinisnya sering tersamar dengan adanya fibrilasi atrial akibat tirotoksikosis. Pre;alensi fibrilasi atrial dan takikardi supra ;entrikel pada hipertiroid berkisar $-$49. *ngka kejadian fibrilasi atrial pada penderita eutiroid sebesar $,29, sedangkan pada penderita hipertiroid sebesar +2,:9. Pada sebuah penelitian yang dilakukan pada lebih dari +2.444 penderita hipertiroid, pre;alensi fibrilasi atrial kurang dari $9 karena diagnosis dini dan penatalaksaan yang tepat pada penderita hipertiroid. Pada sebuah analisis distribusi usia penderita hipertiroid tampak adanya peningkatan yang bertahap terjadinya fibrilasi atrial pada penderita hipertiroid dengan pun#ak usia lebih dari @4 tahun (+39). Kurang dari +9 penderita yang mengalami fibrilasi atrial, terjadi akibat hipertiroid. ungsi tiroid yang abnormal dimana kadar T&) serum yang rendah, jarang dijumpai pada penderita dengan onset fibrilasi atrial yang baru. Tes T&) dapat digunakan pada penderita fibrilasi atrial atau aritmia supra ;entrikel lainnya yang belum diketahui penyebabnya. )ipertiroid berpengaruh terhadap fungsi ;entrikel. Penderita hipertiroid menunjukkan hipertrofi jantung. Pada he"an #oba yang mengalami hipertiroid dalam + minggu pemberian T/ pada jantung terjadi peningkatan ukuran ;entrikel kiri sebesar +239 dibandingkan dengan kelompok kontrol. Karena hormon tiroid meningkatkan sintesis protein jantung maka hal ini yang diduga sebagai penyebab hipertrofi jantung pada penderita hipertiroid. Untuk membuktikan hipotesis ini, Klein memberikan propanolol dan T/ pada he"an #oba. Pemberian tambahan terapi propanolol dapat men#egah baik peningkatan denyut jantung maupun respon hipertrofi. Klein dan )ong mengamati bah"a pada tikus yang ditransplantasi jantung tidak terjadi hipertrofi jantung jika tidak diberi beban hemodinamik. )ormon tiroid ternyata tidak memiliki efek langsung terhadap sintesis protein kontraktil otot jantung. =ereka menyimpulkan bah"a peningkatan kerja jantung yang mengakibatkan terjadinya hipertrofi jantung. osfar menyatakan bah"a hipertiroid disertai dengan kardiomiopati yang bersifat re;ersibel. Iuga dinyatakan efek latihan dan pemberian L bloker pada fungsi ;entrikel kiri baik pada hipertiroid maupun eutiroid. Penderita hipertiroid menunjukkan peningkatan fraksi ejeksi ;entrikel kiri pada saat istirahat namun menurun pada saat latihan. &ebaliknya penderita eutiroid menunjukkan peningkatan fraksi ejeksi ;entrikel kiri pada saat latihan. Pemberian terapi propanolol sebelumnya menyebabkan penurunan fraksi ejeksi ;entrikel kiri baik pada hipertiroid maupun eutiroid saat istirahat. Propanolol tidak memiliki efek menurunkan fraksi ejeksi ;entrikel kiri pada penderita hipertiroid saat latihan namun dapat menurunkan se#ara bermakna pada penderita eutiroid. Kesimpulannya fungsi ;entrikel kiri yang abnormal saat latihan terjadi akibat kardiomiopati fungsional yang re;ersible. Kardiomiopati ini terjadi akibat efek langsung hormon tiroid yang berlebihan, akti;asi L adrenoseptor yang tidak terikat. Aamun penderita tirotoksikosis juga dapat menunjukkan gejala gagal jantung Nhigh outputO akibat penyakit lain selain kardiomiopati dilatatif.

K51*BA*A <*DB'1'>B& Pada penderita hipertiroid tidak terdapat kelainan radiologis yang khas. Pentrikel kiri, aorta dan arteri pulmonalis biasanya tidak ada perubahan. %isa tampak adanya pembesaran jantung dan gambaran gagal jantung kongestif yang menyebabkan pembesaran jantung ke kanan dan ke kiri. Pada paru bisa dijumpai adanya bendungan paru.

K51*BA*A 515KT<'K*<DB'><* B Tidak terdapat kelainan 5K> yang khas pada hipertroid maupun penyakit jantung hipertiroid namun takikardi merupakan kelainan yang hampir selalu dijumpai. ibrilasi atrial dijumpai pada +4-$49 penderita tirotoksikosis atau E49 dari seluruh jenis aritmia pada penyakit jantung hipertiroid. Dapat pula terdapat gambaran kontraksi atirum yang prematur, takikardi atrium paroksismal, flutter, sindroma MPM, pemanjangan inter;al P<, ele;asi segmen &T dan pemendekan inter;al QT.

P5A*T*1*K&*A**A >olongan L bloker telah digunakan se#ara luas untuk fibrilasi atrial pada keadaan hipertiroid untuk mengontrol respon ;entrikel. Propanolol dosis +$4-+84 mgDhari atau atenolol dosis 34 mgDhari dapat meringankan gejala palpitasi dan menurunkan denyut jantung pada penderita yang mengalami sinus takikardi. Propanolol mempunyai kelebihan yaitu dapat mengurangi kon;ersi T/ menjadi T2 di jeringan perifer. L bloker intra ;ena sangat penting untuk terapi penderita yang mengalami krisis tiroid. Digitalis juga dapat digunakan untuk mengontrol respon ;entrikel tetapi karena peningkatan klirens digitalis, penurunan sensiti;itas obat karena tingginya kadar AaK *TPase sel serta penurunan tonus saraf parasimpatis sehingga perlu dosis yang tinggi pada penderita hipertiroid. (alsium (hannel %lo#ker non dihydropiridine (((%) oral seperti diltia6em atau ;erapamil dapat digunakan untuk mengontrol respon ;entrikel. ((% intra;ena harus dihindari karena menyebabkan penurunan &P< dan hipotensi. Iika keadaan eutiroid telah terapai, penderita dapat kembali ke irama sinus tergantung pada umur penderita, durasi fibrilasi atrial, ukuran atrium kiri dan adanya penyakit jantung lainnya. Pada $D2 penderita yang mengalami fibrilasi atrial akan kembali ke irama sinus setelah keadaan eutiroid telah ter#apai. Penggunaan antikoagulan pada penderita hipertiroid disertai dengan fibrilasi atrial masih kontro;ersial. Pada tahun $44/, konferensi *((P PBB (@th *meri#an (ollege of

(hest Physi#ians) yang membahas mengenai terapi anti trombotik dan trombolitik. %eberapa studi menyatakan bah"a risiko terjadinya tromboemboli dan stroke pada penderita fibrilasi atrial yang diakibatkan oleh hipertiroid sama dengan yang diakibatkan oleh penyebab yang lain. Tetapi adanya penyakit jantung lain dan faktor usia dapat meningkatkan risiko tromboemboli. 'leh karena itu antikoagulan dapat ditunda pemberiannya bila durasi fibrilasi atrial kurang dari $-2 bulan dan tidak disertai adanya penyakit jantung lainnya. &ehingga di#apai kesepakatan untuk memberikan terapi anti trombotik berdasarkan adanya faktor risiko terjadinya stroke pada penderita fibrilasi atrial. Dianjurkan terapi anti koagulan jika fibrilasi atrial tidak segera membaik atau jika ada faktor risiko tambahan terjadinya tromboemboli seperti gagal jantung, hipertensi dan diabetes mellitus. Dibutuhkan "arfarin dengan dosis yang lebih rendah karena hipertiroid berhubungan dengan peningkatan klirens faktor-faktor pembekuan yang terkait dengan ;itamin K. Diharapkan akan terjadi kon;ersi ke irama sinus bila keadaan eutiroid ter#apai. Pada penderita hipertiroid lama yang berusia tua, fibrilasi atrial terutama yang disertai dengan penyakit jantung organik, mempunyai risiko tinggi terjadinya tromboemboli, sehingga diindikasikan pemberian antikoagulan. *spirin menyebabkan ikatan T2 dan T/ dengan Thyroid %inding >lobulin (T%>) terganggu sehingga kadar hormon bebas meningkat. 5fekti;itas aspirin masih bersifat kontro;ersial. Propylthioura#il (8-propyl-$-thiourasil) dan =ethima6ole (+-methylmer#aptoimida6ole) adalah obat antitiroid yang telah dikenal luas dan telah banyak digunakan. =ethima6ol bekerja dengan menghambat sintesis hormon tiroid yaitu dengan mempengaruhi proses yodinasi sehingga T2 dan T/ menurun. &edang propylthioura#il (PTU) bekerja dengan menghambat kon;ersi T/ menjadi T2 didalam kelenjar tiroid dan jaringan perifer. =ethima6ol digunakan mulai dengan dosis +3-24 mg sehari, sedang PTU dimulai dengan dosis 244mg sehari terbagi menjadi 2 dosis. Iika terapi antitiroid dimulai maka dilakukan e;aluasi terhadap fungsi tiroid setiap /-8 minggu sampai fungsi tiroid stabil atau men#apai keadaan eutiroid. %iasanya setelah /-+$ minggu fungsi tiroid men#apai harga normal dan dosis obat dapat diturunkan untuk mempertahankan fungsi tiroid dalam batas normal. 5fek samping obat anti tiroid adalah lekopeni, netropeni, trombositopeni, reaksi kutaneus, atralgia dan keluhan gastrointestinal. 5fek samping yang paling menakutkan adalah agranulositosis. *ganulositosis dengan granulosit kurang dari 344 mm2 didapat pada 4,2@9 penderita dengan terapi PTU dan 4,239 penderita dengan methima6ol. Kejadian agranulositosis sering terjadi 2 bulan pertama pemakaian obat antitiroid. http.DD""".s#ribd.#omDdo#D32+$:82ED%ahan-)ipertiroid