Anda di halaman 1dari 67

PowerPoint Template

www.themegallery.com
SUARNI S. ABUZAR, MS
Pertemuan
Sedimentasi proses pengendapan partikel-partikel
zat padat dalam suatu cairan sebagai akibat gaya
gravitasi baik individu atau bersama-sama sehingga
menghasilkan cairan yang lebih jernih dan suspensi
yang lebih kental.

Proses pemisahan partikel padat dari cairan dapat
juga dilakukan dengan cara flotasi, dimana
padatannya diapungkan.

Berdasarkan pada kepekatannya, suspensi terbagi
atas 3 (tiga) :
1. Suspensi encer bila 500 ppm;
2. Suspensi intermediate bila antara 500 ppm 10000
ppm;
3. Suspensi kental bila 10000 ppm.
Partikel pembangun suspensi tersebut dibedakan atas 2 (dua) jenis:
Partikel diskrit: yakni partikel yang mengendap sebagai partikel tun
ggal (tidak bergabung) misalnya; butiran pasir, batu bata, dan lain-l
ain.
Partikel flokulen: yakni partikel yang mengendap akibat berat yang
dibentuk dengan cara menggabungkan diri agar menjadi lebih besar/
flok. Misalnya; senyawa asam organik.


Pengendapan partikel dalam air dipengaruhi
oleh faktor-faktor:

1.Ukuran partikel, semakin besar semakin cepat menge
ndap dan semakin banyak yang terendapkan;
2.Bentuk partikel, bulat, pipih atau tak beraturan;
3.Berat jenis atau kerapatan massa partikel;
4.Berat jenis cairan;
5.Viskositas cairan;
6.Konsentrasi partikel dalam cairan;
7.Sifat partikel dalam suspensinya;
8.Temperatur.
Ukuran dan bentuk partikel akan mempengaruhi ratio permukaan te
rhadap volume partikel. Sedangkan konsentrasi partikel mempengar
uhi pemilihan tipe bak sedimentasi. Temperatur mempengaruhi viskos
itas dan berat jenis cairan. Semua faktor yang disebutkan diatas mem
pengaruhi kecepatan mengendap partikel pada bak sedimentasi.



Karena itu dibutuhkan satuan operasi dalam mendesain bak sedimentasi m
elalui percobaan di laboratorium untuk mengetahui waktu loading, kecepa
tan mengendap, konsentrasi partikel dan lain sebagainya agar penggunaa
n bak sedimentasi efektif dan efisien.
4 (empat) tipe sedimentasi :
1. Klarifikasi golongan 1. Proses sedimentasi tanpa pem
bubuhan kimiawi karena yang diharapkan mengendap
adalah partikel diskrit. Proses ini biasa terjadi pada Grit
Chamber dan bak prasedimentasi;
2. Klarifikasi golongan 2. Partikel mengendap sebagai
kumpulan yang dikatalis oleh zat kimiawi tertentu, mis
alnya Aluminium Sulfat;
3. Zone Settling. Kepekatan yang tinggi suatu suspensi
menghasilkan ikatan dan struktur plastis partikel-parti
kel akibat adanya gaya kohesi antar partikel tersebut;
4. Kompresi. Struktur plastis partikel-partikel yang berl
apis semakin lama semakin tebal sehingga lapisan diba
gian bawah akan mengalami pemadatan dan lebih pek
at.
Gambar 3.2 Diagram Paragenesis
Klarifikasi golongan I merupakan pengendapan tak terhala
ng dari suatu partikel diskrit pada suatu suspensi encer. Pros
es ini diterapkan untuk mengendapkan air baku yang beras
al dari air permukaan misalnya; sungai dan danau. Dan bia
sanya pada unit grit chamber dan atau bak prasedimentasi.

Dengan tujuan untuk menurunkan kekeruhan air baku, me
mpermudah proses atau tidak memperberat beban kerja un
it sesudahnya dan mengurangi pemakaian bahan kimia pa
da proses selanjutnya. Suspensi bersifat encer dan kecepatan
mengendapkan tergantung berat jenis (BJ) dan diameter pa
rtikel (Dp)
Pada suatu partikel diskrit berdiameter Dp, memiliki massa m, didalam suatu cairan akan be
kerja gaya-gaya :
- Gaya Luar (External Force)
Gaya yang timbul akibat massa dan percepatan gerak pengendapan partikel
FE = (3.1)

Dimana :
FE = Gaya Luar, (lb force)
m = Massa Partikel, (lb mass)
ae = Percepatan gerak pengendapan partikel, (ft.sec-1)
gc = Faktor konversi hukum Newton, (32,17 ft.lb mass/ft. lb force)
- Gaya Apung (Buoyant Force)
Gaya perlawanan yang diberikan cairan terhadap partikel yang mengendap yang besarnya:
FB = (3.2)

Dimana :
FB = Gaya Apung, (lb force)
= Densitas cairan, (lb mass.ft-3)
s = Densitas partikel, (lb mass.ft-3)
e
g
e
a m.
e
g
e
m.a
s

Gaya Friksi/gaya gesekan partikel (Frictional Force)


Gaya gesekan/tahanan yang besarnya tergantung pada tingkat keka
saran, ukuran, proyeksi luas, bentuk dan kecepatan pengendapan pa
rtikel.

FD = (3.3)

Dimana :
FD = Gaya Friksi, (lb force)
CD = Coeffisient of drag
Ap = Luas Proyeksi Partikel, (ft2)
V = Kecepatan linier partikel (ft.sec-1)
e
2.g
2
..
p
.A
D
C
sedangkan partikel akan mengalami kecepatan
pengendapan terminalnya adalah pada saat :
Dimana: vt = kecepatan pengendapan terminal (terminal settling
velocity)
Koefisien tahanan partikel (CD) merupakan fungsi dari Bilangan Reynold
(NRE) untuk mengetahui hubungan keduanya dan bentuk geometri
partikel, berikut ini ditampilkan Grafiknya.
Gambar 3.4 Grafik Hubungan CD, NRE dan Bentuk Geometrik Partikel
Dari grafik dapat dilihat bahwa sifat aliranpun akan berpengaruh da
lam proses pengendapan (sedimentasi). Berikut ditampilkan perbeda
an masing-masingnya.
Pada aliran laminer, merupakan daerah berlakunya Hukum Stokes, dimana bentuk
pusaran aliran disekeliling partikel (asumsi : bulat) akan membentuk lapisan batas yang
mirip dengan bentuk permukaan partikel sehingga diistilahkan dengan skin friction.
Sehingga bila formulasi C
D
diatas kita substitusikan pada persamaan 3.9, kecepatan
pengendapan partikel akan menjadi :
v
t
= v =
2
) (
. 18
p
D
s
g


(3.12)
Pada proses sedimentasi sifat aliran diharapkan berupa aliran laminer.
Berikut ini ditampilkan grafik yang menggambarkan hubungan kecepatan
pengendapan (V
t
), diameter partikel (D
P
), spesifik gravitasi (s) dan
temperatur pada = 10
0
C pada gambar 3.5:

atau dengan menggunakan persamaan umum menurut Hazen :
D = 0,0027 F x (60/(T + 100)) (3.13)

Dimana :
D = diameter partikel dengan massa jenis 2,65 dengan 75%
pengendapan dan temperatur 10
0
C
F = 1,73 untuk bak dengan inlet dan outlet terpisah
F = 1,41 untuk dua bak yang disusun secara seri
F = 1,22 untuk bak dengan sekat-sekat
F = 1,00 batas teoritis
Contoh soal:

Tentukan kecepatan mengendap dan ukuran parti
kel yang mempunyai spesifik graviti, Ss,= 1,001, efis
iensi bak pengendap, , 80 % dan performance ba
k pengendap, n, very good settling dengan overflo
w rate (Q/A) = 1000 gpd/ft3, jika temperatur air 10
0C (500F)
Penyelesaian:
Q/A = 1000 gpd/ft3 x 30,625 cm/ft /(86400 dt/ hari
x 7,4 gal/ft3)
= 4,77 x 10-2 cm/dt

Dari grafik 3.5, dengan = 80 % dan n very good
settling diperoleh :
Vto/Vtd = 1,8
Vto/(Q/A) = Vto/4,77 x 10-2 cm/dt = 1,8
Vto = 8,5 x 10-2 cm/dt
Komposisi Berdasarkan Ukuran
dan Berat
Gambar 3.6 Skema Effisiensi Klarifikasi

Besarnya efisiensi suatu proses pengendapan pada bak sedi
mentasi secara umum dinyatakan dengan:
x100%
in
C
eff
C
in
C


=
Dalam tinjauan partikel yang mengendap ada 2 pengertian yang
berbeda, dimana:
Partikel yang tertinggal (remaining particle), maksudnya adalah part
ikel yang tertinggal dalam air hasil olahan sedimentasi dan terbawa
ke dalam proses/unit selanjutnya.
Partikel yang terendapkan, terpisahkan atau terambil (removal), ad
alah partikel tertinggal pada bak sedimentasi.

Pada proses sedimentasi, effisiensi 100% tidak mungkin terjadi karena
ukuran butiran partikel tidak seragam. Partikel dengan ukuran lebih
besar cendrung lebih cepat mengendap dibandingkan dengan partike
l yang lebih kecil.
Berikut ini ilustrasi beda tinggi pengendapan akibat kecepatan pengend
apan yang berbeda pada tiap ukuran partikel:

Gambar 3.7 Ilustrasi Beda Tinggi Pengendapan akibat Kecepatan yang Berbeda
Pada keadaan butiran seragam pengendapan akan efisien (terendap
100%). Namun hal tersebut tidak mungkin terjadi karena butiran par
tikel tidak seragam.
Bila pada waktu t tersebut dengan ketinggian pengendapan Z, semua
partikel sama atau lebih besar dari P1 terambil 100% dan sebagian pa
rtikel yang lebih kecil dari P1 yang seharusnya tidak terambil, kenyat
aannya ikut terambil. Bahwa kecepatan merupakan fungsi dari jarak
per waktu tempuh, Vt = , sehingga pada waktu sama dengan t, seluru
h partikel berukuran P1 akan terendapkan semua, sebagian besar P2
terendapkan dan juga sebagian kecil P3. Maka untuk mengetahui uk
uran partikel yang efektif mengendap 100 % pada proses sedimentasi
yang akan didesain, untuk selanjutnya akan dijadikan acuan sebagai
partikel paling kecil yang mencapai terminal settling velocity (Vt).
Laju pengendapan (Clarifier Rate) adalah besarnya kecepa
tan pengendapan partikel pada satuan luas permukaan
(surface loading) bak sedimentasi.

Q = = (3.16)


Dimana:
Q/A = Surface Loading = terminal velocity = clarifier rate
Q = laju pengendapan (Clarifier Rate) (ft3/sec)
A = luas permukaan bak sedimentasi (ft3)
Z = tinggi pengendapan (ft)
t = waktu pengendapan (sec)
A
t
Z
.A
t
v
Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya,
bahwa keadaan partikel seragam baik berat jenis m
aupun bentuknya tidaklah mungkin ada dalam air
baku. Namun dengan asumsi kecepatan pengendap
an partikel diskrit ini adalah seragam, maka konsen
trasi partikel pada ketinggian yang berbeda akan
mengikuti persamaan berikut:

Xi = = (3.17)

0
i
Z
Z
t0

ti

Gambar 3.8 Ilustrasi Beda Tinggi Pengendapan Partikel


Sehingga melalui penelitian laborat
orium pada test batch, dilakukan a
nalisis persentase pengendapan de
ngan memasukkan sampel air ke d
alam kolom batch (gambar 3.5) ya
ng pada ketinggian tertentu (ZN) d
iberi bukaan. Pada waktu tertentu
(t), dilakukan pengambilan air sa
mpel pada masing-masing bukaan
tersebut secara serentak. Kemudian
dianalisis konsentrasi partikelnya.
Lakukan pada beberapa waktu sa
mpel yang berbeda. Maka hasil pe
nelitian akan mengikuti bentuk ku
rva berikut :
Gambar 3.9 Ilustrasi Kurva Konsentrasi Pengendapan Partikel Pada Klarifikasi I
Besarnya konsentrasi batas (xo) ditentukan oleh kecepatan pengenda
pan terminal (vt0). Pada kurva diatas, luas bagian terarsir adalah be
sarnya partikel yang terambil (removal). Di dalam tangki aliran horiz
ontal dengan vto = Q/A, maka fraksi (1 - xo) dari partikel-partikel yan
g mempunyai vs > vto akan dipisahkan seluruhnya, karena fraksi par
tikel golongan vs < vto yang akan dipisahkan adalah vi/vto, maka d
ari partikel yang mempunyai vs < vto, bagian yang akan dipisahkan
dapat ditentukan dengan persamaan berikut ini:
(vs / vto) dx = 1/ vto . vs dx (3.18)
kemudian persamaan diintegralkan menjadi:
XT = (1- xo) + (3.19)
}
xo
dx
t
v
t
v
0
.
0
1

Soal:
Sebuah analisis pengendapan partikel nonflokulen
yang didapat dari test batch dengan kedalaman
pengendapan 4 ft, didapat data sebagai terlihat
pada baris 1 dan 2. Untuk laju klarifikasi rata-rata
sebesar 0.08 ft3/sec/ft2, berapa besar fraksi partikel
yang terambil?
Klarifikasi golongan II ini ditujukan untuk mengendapkan partikel bersifat flokulen da
n untuk suspensi encer.
klarifikasi tingkat II ini biasanya pada unit sedimentasi dan tidak tergantung pada pen
gendapan asli, tetapi tergantung pada pembentukan flok Sebelum proses sedimentasi ter
dapat unit koagulasi dan flokulasi. Yakni unit pemberian senyawa kimia koagulan (bias
anya aluminium sulfat, Al2(SO4)3) dan unit pembentukan flok yang besarnya tidak men
yebabkan pengendapan dini pada unit flokulasi itu sendiri.
Partikel yang besar akan menyusul partikel-partikel yang lebih kecil dan akan mengad
akan ikatan yang lebih besar dengan kecepatan yang lebih besar dari kecepatan mula-
mula dari masing-masing partikel.
Maka pada klarifikasi II ini tergantung pada kedalaman tangki, bedanya dengan klarif
ikasi I yang tergantung pada kecepatan pengendapan. Namun masalahnya pada klarifi
kasi tingkat II adalah waktu detensi (waktu proses pengendapan), jika terlalu lama dikh
awatirkan flok yang sudah terbentuk akan pecah lagi.
Meskipun demikian belum terdapat suatu perumusan yang baik untuk menilai efek flok
ulasi terhadap sedimentasi, sehingga perlu dilakukan analisis kolom pengendapan (test
batch) untuk menentukan efek ini.
1. Test Batch
Settling
Suatu suspensi sam
pling yang dibiark
an mengendap sec
ara tenang kemudi
an analisis pada be
berapa kedalaman
tertentu dan interv
al waktu tertentu.
Konsetrasi dalam ti
ap sampel ditentu
kan dan besarnya f
raksi yang dipisah
kan digambarkan
dalam suatu grafik
.

Titik-titik dengan pemisahan yang sama dihubungkan dengan garis-gari
s isokonsentrasi, yang merupakan perbandingan (Z/t), kecepatan men
gendap rata-rata minimum dari fraksi yang bersangkutan. Misal den
gan t2 sebagai waktu detensi maka sebanyak XD dari partikel yang a
da pada suspensi mempunyai kecepatan mengendap rata-rata Z2/t2
pada saat partikel tersebut mencapai kedalaman Z2. pada saat terca
pai kedalaman Z4 maka fraksi yang sama mempunyai kecepatan me
ngendap Z4/t3.overall removal di dalam tangki yang dalamnya Z5, d
engan klarifikasi q0:
(3.20)

Dapat dihitung dengan rumusan :
XT = XT + ((v.t)/( v.to)).(XD XC) + ((v.t)/( v.to)).(XE XD)
XT = XT + (Z/Z0).(XD XC) + (Z /Z0).(XE XD) (3.21)

Sisanya (1-XE) merupakan bagian dari partikel yang mempunyai kecepa
tan mengendap rata-rata sedemikian kecil sehingga dapat diabaikan
A v A t Z q
to
. ). / (
2 5 0
= =
Sebuah test batch pengolahan air buangan dengan SS 320 mg
/l dan kecepatan alirnya 2 MGD. Tinggi batch 10 ft dan diame
ternya 8 inch. Pada tabel 3.2 terlihat data hasil pengukuran
persentase penyisihan SS tersebut setiap 2 ft ketinggian:
Tabel 3.2 persentase penyisihan SS pada setiap titik pengukuran
Maka tentukanlah waktu detensi yang dibutuhkan un
tuk mendesain bak pengendap akhir dengan tingkat
penyisihan SS sebesar 65%.
Contoh Soal
Penyelesaian :
Plot data penyisihan di atas (tabel 3.2) ke dalam suatu grafik sebagai
mana berikut:
Dengan metoda interpolasi tentukan fraksi yang tersisihkan (dari kurv
a persentase penyisihan 20, 30, 40, 50 dan 60) dan waktu yang telah di
butuhkan:
Untuk kurva isokonsentrasi 20% didapat besarnya penyisihan:
RT = 20 + (6,7/10)(30-20) + (2,9/10)(40-30) + (2,0/10)(50-40)
+ (1,3/10)(60-50) + (0,8/10)(70-60)
= 33,7 %
Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3.3 Data Penyisihan Ss Berdasarkan Kurva Isokonsentrasinya
Waktu
(min)
Fraksi penyisih
an (%)
0,27
0,55
0,77
1,13
1,60
33,7
48.7
56,7
63,8
68,6
Sehingga untuk 65% penyisihan SS dibutuhkan waktu detensi 1,22 jam (73,2 menit) seperti
terlihat pada grafik berikut ini:
Grafik 3.1 hubungan fraksi penyisihan dan waktu detensi pada contoh soal 3:
Pada suspensi yang pekat akan nampak ciri-ciri pengendapan yang
berbeda dengan suspensi encer. Perbedaan akan semakin jelas pada
suspensi yang mempunyai sifa flokulen dibanding dengan suspensi ya
ng memiliki sift diskrit. Misalkan di dalam suspensi encer terkandung
partikel-partikel dari berbagai ukuran dan konsentrasi yang seraga
m diseluruh cairan.suatu partikel pada saat t = 0 berada di permuka
an akan mengendap tanpa dihalangi dengan kecepatan mengendap
yang sesuai dengan sifat-sifat tersebut.
Sebelum titik B tercapai, tidak akan terjadi perlambatan. Pad
a titik antara B dan C, partikel aakan merupakan bagian dari
pengendapan lumpur. Keberadaan partikel antara C dan D te
rgantung pada pemadatan dari endapan lumpur. Pada penin
gkatan konsentrasi suspensi akan tercapai suatu keadaan dim
ana partikel-partikel yang mengendap dengan kecepatan tin
ggi akan membentuk endapan. Setelah itu pengendapan aka
n berlangsung secara kolektif dan pada kecepatan yang lebih
rendah. Semua proses pengendapan akan membentuk 4 zone,
masing-masing dengan karakteristiknya sendiri.
Keadaan mula-mula konsentrasi uniform pada seluruh cairan (konsen
trasi B)
Segera akan nampak batas antara zat cair dan cairan jernih (A). Dala
m zone B partikel akan mengendap dengan kecepatan seragamdala
m keadaan pengendapan terehalang. Besarnya kecepatan pengenda
pan dimana suspensi selalu bergerak ke bawah merupakan fungsi
dari :
V = f (Co) (3.22)
Zone C : suatu zone dimana kecepatan mengendap makin lama maki
n berkurang sebagai akibat peningkatan konsentrasi.
Zone D : zone kompresi dimana peningkatan konsentrasi sampai suat
u harga diaman zat-zat padat dalam suspensi tertahan secara mekan
is oleh zat-zat padat yang ada dibawah.

Pada tangki pemekatan atau pada aliran kontinu, luas permukaan yang dipe
rlukan untuk memisahkan suspensi yang pekat tergantung pada dua faktor y
aitu:
Kapasitas klarifikasi
Diperkirakan dari kecepatan awal pada bidang batas padatan-cairan menuru
n. Luas permukaan harus sedemikian rupa sehingga kecepatan meluap cairan
lebih kecil daripada kecepatan penurun bidang batas.
Kapasitas pemekatan
Dihitung berdasarkan atas suatu analisis rasional di seluruh cairan dan zat-zat
padat mengendap secara batch. Pada awal proses, konsentrasi uniform di selur
uh cairan dan zat padat mengendap uniform. Sebelum zat padat tersebut sam
pai dasar bak, zat tersebut harus melalui semua tingkat konsentrasi yang ada
dalam tabung tersebut. Kalau solid handling capacity(SHC) pada konsentrasi C
3 lebih kecil dari SHC pada konsentrasi C2 dalam lapisan yang berada tepat pa
da diatasnya, maka zat padat tidak akan melewati lapisan C3 dengan kecepa
tan yang sama dengan kecepatan memasuki lapisan C3 ini. Misalkan pada ssa
at t = 0 terbentuk suatu lapisan tipis pada dasar tabung dengan konsentrasi C
dan naik dengan kecepatan v.
Zat padat yang berada pada daerah dengan konsentrasi C-dC.maka:
kecepatan mengendap : v + dv
kecepatan lapisan naik : v + dv + v
karena konsentrasi lapisan tetap konstan (C) maka banyaknya zat p
ada yang keluar dari lapisan:
(C-dC) A. t (v + dv + v) = C. A. t (v + dv ) (3.23)
Dengan : A = luas peampang tegak lurus arah gerakan zat padat
dC v = C dv dC v dC dv
u = C (dv/dC) v dv
dengan mengabaikan dv maka:
u = C (dv/dC) v
Karena pada pengendapan terhalang v = f(C) maka;
v = C f(C) - f(C) (3.24)
Oleh karena C konstan dan f(C) dan f(C), maka v juga harus konstan
.
Suatu tabung setinggi Zo diisi dengan suatu suspensi dengan
konsentrasi uniform Co. Berat zat padat dalam suspensi adalah A.
ZoCo.

Apabila suatu lapisan dengan konsentrasi C
2
bergerak naik dan
membutuhkan waktu t
2
untuk mencapai bidang batas, maka banyaknya
zat padat yang melewati lapisan ini :
C
2
A t
2
(v
2
+ v
2
) = C
o
Z
o
A (3.25)
Kecepatan naik dari tiap lapisan adalah konstan, sehingga bila pada saat
t
2
, bidang batas berada pada Z
2
, maka:
V
2
= Z
2
/t
2
disubstitusikan sehingga memberikan :
C
o
Z
o
= C
2
t
2
(v
2
+ v
2
)
C
o
Z
o
= C
2
t
2
v
2
+ C
2
t
2
v
2

C
2
= (C
o
Z
o
)/{(t
2
v
2
) + t
2
v
2
)}
C
2
= (C
o
Z
o
)/{(t
2
v
2
) + Z
2
)}
Pada saat t
2
: v
2
= (Z
1
- Z
2
)/t
2
, maka:
C
2
= (C
o
Z
o
)/ Z
1
Z
1
dapat diartikan sebagai tinggi kolom pengendapan/sludge, bila zat pa
dat
dalam kolom tersebut mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsent
rasi di dalam bidang batas tersebut.
(3.26)

Pada pemisahan secara kontinu akan terjadi keadaan dima
na kedudukan dari biadang batas adalah statis dan gerakan
zat padat relatif terhadap zat cair disebabkan aliran ke atas
dari cairan. Maka, pada saat t
2
, kecepatan cairan yang mela
lui lapisan konsentrasi C
2
adalah:
q =A v
2
= A (Z
1
- Z
2
)/t
2
(3.27)
Tidak seluruh cairan akan mengalir melaluui bidang batas k
arena sebagian akan menyertai zat padat di dalam
underflow.
Volume sesungguhnya dari cairan yang melalui bidang batas
dalam pengendapan batc:
V = A (Z
1
- Z
u
) (3.28)


Dengan Z
u
adalah tinggi bidangbatas bila semua zat padat di dalam
sistem mempunyai konsentrasi C
u
(konsentrasi underflow).
Waktu yang diperlukan air sebanyak V untuk melewati suatu lapisan
dengan konsentrasi C
2
adalah:
t = V/q = A ((Z
1
- Z
u
)/ {A (Z
1
- Z
u
)/t
2
}
atau t = t
u
(3.29)
Banyaknya zat padat dalam suatu analisis secara batch : A Z
o
C
o

Pada operasi kontinu akan dibutuhkan waktu selama t
u
untuk
melewatkan zat padat sebanyak A Z
o
C
o
melalui konsentrasi C
2
maka :
q = (A Z
o
)/ t
u
(3.30)
dimana:
q = kecepatan volumetrik suspensi yang memasuki thickener
t
u
= waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan konsentrasi underflow
Z
o
= tinggi bidang batas mula-mula di dalam kolom pengendapan

Sedangkan untuk bak thikener yang menggunakan
pola recycling, perhitungan luas area pemekatan
menjadi:

0
) ( 5 , 1
H
t
R Q A
u
c
+ =

dimana:
Q = laju alir lumpur dari bak pengendap akhir/unit
sebelumnya
R = laju alir recycle lumpur
Contoh soal:
Sebuah test batch dilakukan untuk menguji MLSS 2500
mg/l untuk dipekatkan menjadi 10.000 mg/l dengan
debit desain 1,2 MGD, berikut adalah grafik hubungan
tinggi interface lumpur dengan waktu pengendapan.
Maka tentukan luas area pemekatan dan area klarifikasi
serta diameter bak yang layak untuk rencana desain
tersebut:

Saat partikel-partikel terendapkan, maka akan terbentuk l
apisan partikel solid yang terkompresi akibat gaya berat la
pisan diatasnya. Kecepatan konsolidasi partikel-partikel ter
sebut adalah :
- dZ/dt = K (Z Z
~
) (3.31)
Dengan mengintegrasikannya maka :
Ln {( Z
c
Z
~
)/( Z
t
Z)} = K (t t
c
) (3.32)
Dengan :
Z = tinggi kolom sludge
Z
~
= tinggi kolom sludge pada akhirnya
T
c
= waktu pada saat Z
c


Teori rasional untuk tangki ideal dan modifikasinya
diperlukan untuk keperluan desain tangki sedimentasi
(oleh Camp). Analisis ini didasarkan atas hal-hal :
(Gambar 3.15 Sketsa Tangki Ideal)
Suatu unit cairan yang memasuki tangki ideal dianggap menyebar
secara merata ke seluruh bidang vertikal A-A sdemikian rupa
sehingga partikel-partikel yang ada dalam suspensi adalah konstan
di seluruh cairan dalam suatu volume yang panjangnya dL (daerah
inlet)
Volume bergerak dari inlet menuju outlet tangki sedimentasi pada
kecepatan yang uniform dan akan tiba pada penampang A-A
tanpa mengalami perubahan bentuk.
Di dalam daerah outlet semua bagian cairan dari bidang A-A
mengumpul kembali dan membentuk unit cairan semula yang
hanya mengandung partikel-partikel yang tidak dipisahkan dalam
ruang sedimentasi.
Apabila diameter partikel, Do, dan kecepatan
mengendap, v
0
, maka waktu yang dibutuhkan untuk
mengendapkan sedalam h
0
, adalah :
t = h
o
/v
o
(3.33)
maka : v
0
= h
0
/(A h
0
/Q) = Q/A (3.34)
atau menurut hukum stokes :
D
0
= K. v
0
0,5
= K. (Q/A)
0,5
(3.35)
Apabila Y
0
menyatakan jumlah partikel yang terdiri dari
tiap golongan ukuran yang mempunyai kecepatan
mengendap v
s
v
0,
maka fraksi dari jumlah partikel
yang, mengendap adalah :
Y/Y
o
= h
i
/h
0
= v
i
/v
0
= v
i
/(Q/A) (3.36)

Persamaan diatas diturunkan dari :
Untuk tangki empat persegi panjang dengan lebar w
dan dh/dl = v
i
dt/v
h
.
dt adalah konstan karena v
h
konstan, sedangkan v
i

untuk golongan tertentu adalah konstan. Maka:
h
i
/h
0
= (v
i
/v
h
)= (v
i
.L. w)/( v
h
L. W) = v
i
/(Q/A)
Untuk tangki berbentuk lingkaran dengan jari-jari r,
luas A = 2.r.h
0
:
h
i
/h
0
= v
i
/v
h
= (2 . . r. h
0
. v
i
)/ Q
= (2 . . r. h
0
. v
i
)/ Q r dr
= (2 . . r. h
0
. v
i
)/ Q (1/2 r
2
)
= (. r. h
0
. v
i
)/ Q (r
0
2
r
i
2
)
= (h
0
v
i
A)/Q = v
i
/(Q/A)



Efisiensi bak pengendap dapat berkurang akibat arus yang
membentuk lintasan pendek pada aliran, diataranya adalah :
1.Arus olakan yang terbentuk oleh inersia cairan yang masuk
2.Arus permukaan yang disebabkan oleh induksi angin pada bak
terbuka
3.Arus konveksi vertikal yang disebabkan oleh panas yang timbul
4.Arus densitas yang disebabkan oleh kekentalan cairan akibat
dingin atau berat air dan panas atau ringan air yang melewati
permukaan.
5.Arus yang disebabkan oleh struktur outlet. Pada tangki aliran
horizontal, begitu material mengendap ke dasar, arus turunnya
diinduksi dekat inlet tangki yang sejalan dengan aliran dekat
outlet.


Perbandingan antara efisiensi yang tercapai terhadap efisiensi
teoritis adalah sebagai berikut:

n
o
i
A Q v n
y
y
/ 1
0
)] / /( . 1 [ 1

+ =

Hubungan yang terjadi antara efisiensi bak pengendap dengan rasio waktu
detensi atau rasio kecepatan mengendap dapat dilihat pada grafik berikut:
Dimana: y
i
= efisiensi yang akan
dicapai/diharapkan
y
0
= efisiensi teoritis
= karakteristik bak pengendap
(bernilai antara 0, 1/8, 1/5, 1/3, -1)
v
o
= kecepatan mengendap terminal
v
d
= surface loading = Q/A
Untuk mencegah pengendapan tidak
terlaksana, maka:
1.Perpanjang waktu pengendapan (t
d
> t
0
)
2.Perkecil kecepatan mengendap (v
td
< v
to
)
dimana v
to
= (1,5-3) v
td


Peningkatan kapasitas bak dengan mempercepat
pengumpulan flok menjadi dasar pemikiran. Sehingga
muncul gagasan untuk menambah dasar/alas semu
(tray) Peningkatan kapasitas bak dengan tray yang
horizontal, menyebabkan efisiensi pengendapan
bertambah tinggi. namun lama-lama effluen yang
keluar akan tercampur partikel yang sudah
mengendap. Solusinya bisa dengan menggunakan
multi tray settler.
Bentuk multi tray settler :
1.Tube settler
2.Plate settler

Waktu yang diperlukan lebih kecil dari waktu detensi
semula sehingga overlow rate lebih besar dan
pengendapan lebih banyak. Jika sudut kemiringan
besar maka jarak tempuh besar kemampuan
mengendap kecil waktu pengendapan lama serta
overflow rate kecil. Seperti diilustrasikan dengan
gambar berikut
Maka waktu yang diperlukan hanya 1/5 waktu semula,
jadi overflow rate menjadi 5 kali lebih besar dari semula.
Namun akan mempercepat proses penumpukan sludge
pada dasar semu tersebut yang memungkinkan akan
terbawa keluar oleh aliran efluen.
Maka dengan sedikit modifikasi, membuat tray tersebut
dalam posisi miring, sehingga jika sudut kemiringan ()
besar, maka jarak tempuh besar, kemampuan
pengendapan kecil, waktu detensi besar akibatnya
overflow rate kecil.
to tr to
o
v
w
v
AE
v
AD
v
AB
t
o o
o
tan ). sin / (
= = = =
to
v
w
w H
v .
tan ) sin / (
) cos / ) sin / ( ) sin / (
o o
o o o
o
+
=

AB = AC tan = (w/sin ) tan dan
AC = w/sin
AE = AF + FE
AE = (H/sin ) + (DE/sin)
AE = (H/sin ) + ((w/sin ).tan /sin )
v

=

(AE/AB). v
to

R A Q
N
. ). / (
Re
=
R g
A Q
Fr
.
) / (
2
=
Untuk memperbesar V
up
(Q/A) maka perbesar H,
perkecil , luas surface loading akan kecil, sehingga
keefektifan kecil.
Banyak digunakan = 60
0
dan w = 5-10 cm, N
Re

2.000 dan Fr > 10
-5


(3.40)

(3.41)
Contoh soal:

Hasil percobaan kecepatan pendapan suatu partikel
adalah 0,1 cm/dt dan untuk removal 85 % diperoleh
perbandingan Uto = 2,4 Utd. Pengendapan dilakukan
dalam multi plate settler dengan jarak plate (W) = 5
cm dan tinggi plate = 100 cm dengan kemiringan = 100
cm dengan kemiringan () = 60
0
. Hitunglah bilangan
Reynold dan Froude () = 0,916 x 10
-2
cm
2
/dt.
AB = W/sin
Z = AB tg = W/ sin = 2 W = 10 c
AC = BD = H/ sin
CE = DE/ sin = Z/ sin = W/ sin (tg )
sin
= W/ sin cos
AE = AC + CE
= H/ Sin + W/ sin cos
= 115,47 + 11,55 = 127,02 cm
Utd = 0,1/ 2,4 cm/dt = o,o417 cm/dt
td = Z/ Utd
V = AE/ td = AE Utd = 127,02 x 0,0417 cm/ dt = 0,53 cm/ dt
Z 10
R = W x W = 1/2 W
2W
N
re
= v / = v (1/2W)R/
N
Re
= v R = v (1/2 W) = (0,53) (2,5) = 144,65 < 500 (ok)
0,916 x 10
-2


N
fr
= v
2
/ gR = v
2
/ g (1/2 W) = (0,53)
2
/981 x 2,5 =1,14 x 10
-5
(ok)
t H
v f v . ) / 8 (
5 , 0
s
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
s
o
s
o
d
o
o
v
v
t
t
f Z
P
5 , 0
8
5 , 0
8
|
.
|

\
|
s
f Z
P
o
o
Agar tidak terjadi penggerusan pengendapan padatan halus, ringan dan
flokulen dari dasar bak atau zone lumpur terangkut kembali oleh arus maka
kecepatan horizontal harus dibatasi untuk tidak lebih dari :


Untuk bak ideal, t
d
/t
o
= 1 dan v
s
= v
o
. Maka :


Dimana : P
o
= Panjang bak pengendap (m)
Z
o
= Tinggi bak pengendap (m)
Dimana:
v
H
= kecepatan aliran
f = gesekan menurut Darcy = 0,02 - 0,04
Selain itu juga harus ada pembatasan rasio panjang terhadap kedalaman bak pengendap :
Contoh soal:

Carilah unruk endapan alum (S
s
), diameternya adalah
10
-1
, kecepatan pengganti pada flok sehingga dapat
disisakan tanpa memberikan pengaruh yang
berbahaya pada proses pembentukakan suspensi
kembali dan rasio jarak pengendapan pada unit
pengendapan di pengaruhi. Asumsikan bahwa faktor
friksi dari Darcy Weisbach
f= 3,0 x 10
-2
dan temperaturnya adalah 10
0
C
Penyelesaian:
vd = (8/f)
1/2
vs
= (8/(3x10
-2
))=16,3
Didapatkan vs = 3,0 cm/sec
Vd= 3,0 x 16,3 = 48,9 cm/sec = 1,60 fps,
lo/ho = 16,3(td/to) = 16,3,
basin yang ideal = (td/to = 1,0)
www.themegallery.com