Anda di halaman 1dari 23

Kejahatan Seksual Terhadap Anak Dibawah Umur

Natalia Angreini Gunawan 102010016* Novika Neovansie Gabriel 102009344* (Kelompok D8)

*Mahasiswa Semester Tujuh Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna No. 6 Jakarta 11510 Email: angreinigunawan@yahoo.com

Pendahuluan

Ilmu kedokteran forensik disebut juga ilmu kedokteran kehakiman, dimana peraturan perundangan mewajibkan setiap dokter baik dokter, dokter spesialis kedokteran forensik, spesialis klinik untuk membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi kepentingan peradilan bilamana diminta oleh polisi penyidik. Dalam kasus ini kita sebagai dokter diminta untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban, seorang anak yang diduga telah mengalami persetubuhan dan menjelaskan aspek medikolegal yang bersangkutan. 1

Kejahatan seksual termasuk aspek dari ilmu kedokteran forensik yang perlu diperhatikan. Kejahatan seksual adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain yang menimbulkan kepuasan seksual bagi dirinya dan mengganggu kehormatan orang lain. Dari data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) pada 2012 lalu, laporan untuk kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan. Ketua Komnas Anak menyatakan sepanjang 2012 Komnas Anak telah menerima 2.637 kasus laporan pengaduan kekerasan terhadap anak dan 62 % dari angka tersebut merupakan kekerasan seksual terhadap anak.

Skenario Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore hari datang seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun menyatakan bahwa anaknya tersebut baru saja pulang dibawa lari oleh teman laki-laki yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuat nya bila sang anak telah disetubuhi laki laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan berbagai hal tentang aspek medikolegal dan kasus anaknya.

Pembahasan
ASPEK MEDIKOLEGAL Kejahatan terhadap kesusilaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan sesorang yang menimbulkan kepuasan seksual dan di sisi lain perbuatan tersebut mengganggu kehormatan orang lain. Kejahatan seksual ialah kejahatan yang timbul diperoleh melalui persetubuhan. Pesetubuhan adalah masuknya penis ke dalam vagina, sebagian atau seluruhnya, dengan atau tanpa ejakulasi, setidaknya melewati verstibulum. Pencabulan adalah setiap penyerangan seksual tanpa terjadi persetubuhan. 1,2

Aspek hukum mengenai kejahatan terhadap kesusilaan dan kejahatan seksual ialah : 1. KUHP a) Pasal 284 KUHP

1. Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun : 1a. Seorang pria telah kawin yang melakukan zinah, pada hal diketahui, bahwa pasal 27 BW berlaku baginya 1b. Seorang wanita telah kawin yang melakuakn zinah, pada hal diketahui, bahwa pasal 27 berlaku baginya. 1,2 b) Pasal 285 KUHP

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. 1,2 c) Pasal 286 KUHP

Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun d) Pasal 287 KUHP

1. Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, diancam dengan pidanan penjara paling lama sembilan tahun e) Pasal 288 KUHP

1. Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkawinan, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum mampu dikawin, diancam, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama empat tahun. 1,2 3

f)

Pasal 289 KUHP

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. 1,2 g) Pasal 290 KUHP

Diancam dengan pidana palinh lama tujuh tahun : 1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang pada ha diketahui, bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang pada hal diketahui atau sepatutunya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalu umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu kawin; 3) Barang siapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutunya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kala umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu kawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain. 1,2

h)

Pasal 292 KUHP

Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum cukup umur, diancam pidana penjara paling lama lima belas tahun.

2. UU NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK a. Pasal 81

Dengan kekerasan atau ancaman memaksa anak (belum18 tahun) bersetubuh dengannya atau dengan orang lain dikenai pidana penjara paling lama lima belas tahun atau pidana denda sebesar paling banyak tiga ratus juta rupiah. b. Pasal 82

Dengan kekerasan atau ancaman, tipuan, kebohongan, bujukan terhadap anak (belum 18 tahun) berbuat cabul dengannya atau dengan orang lain dikenai pidana penjara paling lama lima belas tahun atau pidana sebesar paling banyak tiga ratus juta rupiah. 1,2

PROSEDUR MEDIKOLEGAL Adapun prosedur medikolegal yang harus diperhatikan pada kasus kejahatan seksual : 1. Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik

yang berwenang (pasal 133 KUHAP). 2. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau

korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, jangan diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi. 3. Setiap visum et repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh

korban pada waktu permintaan visum et repertum diterima oleh dokter. 1,2 4. Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban

adalah seorang anak, dari orang tua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan pada pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi, belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private part dari tubuh seorang wanita. 5. 6. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu memeriksa badan. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama. Hindarkan

korban menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar periksa. Apalagi bila korban 5

adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata. 7. Visum et repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya visum et repertum

perkara cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan dari tahanan, bila ternyata ia tidak bersalah. 8. Terkadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang ibu/ayah untuk

memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih perawan, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas diri anaknya baru terjadi persetubuhan.1,2 Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin mengetahui saja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya sudah 15 tahun, dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan makan menurut undang-undang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang tua itu dianjurkan untuk meminta nasehat dari pengacara. Jika orang tua hanya sekedar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan. Perlu deielaskan lebih dahulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk surat keterangan karena tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu. Mungkin saja untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang yang tidak bersalah. Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan memberitahukan hasil pemeriksaan kepada orang tuanya. 1,2 Pengertian dari medikolegal sendiri adalah aspek hukum dari dunia medis atau dari profesi dokter, di dalam medikolegal dokter berkewajiban menjalankan praktek profesi dan membantu penyidik dalam menangani suatu kasus pidana. Pengaturan prosedur medikolegal diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Didalam KUHAP disebutkan pengaturan dari penemuan atau pelaporan hingga dijatuhkannnya vonis atau hukuman.
1,2

a.

Penemuan dan Pelaporan Sesuai dengan pasal 1 ayat 25 KUHAP, Laporan adalah pemberitahuan yang

disampaikan oleh seorang karena hak atau kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana. Penemuan dan pelaporan dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengetahui atau mengalami suatu kejadian yang diduga merupakan suatu tindak pidana. Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib dan dalam hal ini yaitu Kepolisian RI, dll. Pelaporan juga bisa dilakukan melalui instansi pemerintah terdekat seperti RT (Rukun Tetangga) atau RW (Rukun Warga). Hak dan kewajiban pelaporan ini diatur didalam pasal 108 KUHAP. b. Penyelidikan Sesuai dengan pasal 1 ayat 5 KUHAP, penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur oleh undang-undang. Penyelidik yang dimaksud adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia yang tertera didalam Pasal 4 KUHAP. Didalam Pasal 5 KUHAP disebutkan wewenang dan tindakan yang dilakukan oleh penyelidik: (1) a. Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4: Karena kewajibannya mempunyai wewenang: 1. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana 2. Mencari keterangan dan barang bukti 3. Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri 4. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: 1. Penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan
1,2

2. 3. 4. (2)

Pemeriksaan dan penyitaan surat Mengambil sidik jari dan memotret seseorang Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik. 1,2

Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebgaimana

tersebut pada ayat (1) huruf a dan b kepada penyidik. c. Penyidikan Sesuai dengan pasal 1 ayat 1 KUHAP, penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya. Penyidikan dilakukan oleh penyidik yaitu pejabat polisi Negara RI dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang sebagaimana diatur di dalam pasal 6 KUHAP. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli dan didalam hal kejadian mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan secara kedokteran forensik. Kewajiban seorang dokter antara lain: 1. Melakukan pemeriksaan kedokteran forensik atas korban apabila diminta secara resmi oleh penyidik. 2. Menolak melakukan kedokteran pemeriksaan kedokteran forensik tersebut diatas dapat dikenai pidana penjara , selama lamanya 9 bulan. 1,2 Kewajiban untuk membantu peradilan sebagai seorang dokter forensik itu diatur dalam asal 133 KUHAP dimana seperti yang disebutkan diatas penyidik berwenang muntuk mengajukan permintaan keterangan ahli pada dokter forensik atau kedokteran kehakiman. Untuk Hak dokter menolak menjadi saksi/ahli diatur dalam Pasal 120, 168, 170 KUHAP. Sedangkan sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter diatur di dalam Pasal 216, 222, 224, 522 KUHP. Untuk melakukan prosedur Bedah mayat klinis, anatomis, dan transplantasi oleh seorang dokter forensik diatur menurut peraturan pemerintah No.18 Tahun 1981. Dan bagi seorang

dokter forensik yang membuat sebuah keterangan palsu didalam hasil akhir pemeriksaan dikenakan Pasal 267 KUHP dan pasal 7 KODEKI. 1,2 d. Pemberkasan Perkara Hal dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Dan nanti hasil berkas perkara ini akan diteruskan ke penuntut umum. e. Penuntutan Sesuai dengan pasal 1 ayat 7 KUHAP. Penuntutan yaitu tindakan penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim di sidang Pengadilan. 1,2 f. Persidangan Didalam persidangan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim. Dimana didalam persidangan itu dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan juga para ahli. Dokter dapat dihadirkan di sidang pengadilan untuk bertindak selaku saksi ahli atau selaku dokter pemeriksa. Dokter pun berhak menolak menjadi saksi/ahli yang sebagaimana diatur dalam pasal 120, 168, 179 KUHAP. g. Vonis Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan sebagai berikut: Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana dan bahwa terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut Keyakinan Hakin Harus Ditunjang oleh sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah yang diatur dalam pasal 184 KUHAP ( keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa). 1,2

PEMERIKSAAN FISIK a. Anamnesis Terdiri dari bagian yang bersifat umum dan khusus. Anamnesis umum meliputi : Berapa umur korban, tempat dan tanggal lahir korban Apakah sudah menikah atau belum Apakah sudah menstruasi/haid dan bagaimana siklus haidnya Apakah memiliki penyakit kelamin dan penyakit kandungan Apakah memiliki penyakit lain seperti epilepsi, katalepsi dan syncope Apakah pernah melakukan hubungan seksual Kapan melakukan hubungan seksual yang terakhir Apakah saat berhubungan menggunakan kondom. 3,4

Adapun anamnesis khusus : Kapan dan dimana peristiwa tersebut terjadi Apakah korban melakukan perlawanan Apakah korban dalam keadaan pingsan Apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi Apakah setelah kejadian, korban mencuci, mandi dan mengganti pakaian.3,4

b. Pemeriksaan Pakaian Pada pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti seperti : Apakah terdapat robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian Apakah ada kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpul dan lain-lain dari tempat kejadian Apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak Adakah benda yang melekat pada pakaian dan mengandung trace evidence. 3,4

10

c. Pemeriksaan Tubuh Korban Pemeriksaannya dibagi 2 yaitu pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus. Pemeriksaan umum Bagaimana penampilannya (rambut dan wajah), rapi atau kusut Bagaimana keadaan emosionalnya (tenang atau sedih atau gelisah) Adakah tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius dan needle marks Adakah tanda-tanda bekas kekerasan Bagaimana perkembangan alat kelamin sekunder Bagaimana kondisi pupil, refleks cahaya, berat badan, tekanan darah, jantung, paru dan abdomen. 3-5 Pemeriksaan khusus Ada tidaknya rambut kemaluan saling melekat menjadi satu (karena air mani yang mengering) dan adakah bercak mani sekitar alat kelamin. Sisir rambut kemaluan korban dengan asumsi setiap rambut yang terlepas adalah rambut pelaku dan lakukan pemeriksaan DNA untuk memastikan. Pemeriksaan kuku untuk menemukan jaringan atau bekas sperma pelaku. Apakah pada vulva terdapat tanda-tanda bekas kekerasan seperti hiperemi, edema, memar dan luka lecet (goresan kuku), lalu apakah introitus vagina hiperemi atau edema. Bagaimana jenis dari selaput dara, adakah ruptur atau tidak dan bila ada ruptur, tentukan ruptur baru atau lama dan catat lokasi ruptur, teliti apakah sampai ke insertio atau tidak. Apakah frenulum labiorum pudendi dan commisura labiorum posterior utuh atau tidak. Adakah tanda penyakit kelamin. Apabila dicurigai telah terjadi sodomi, periksa apakah anus menampakan bentuk khusus seperti corong. 3-5

11

PEMERIKSAAN LABORATORIUM A. Untuk pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam sel vagina, dilakukan dengan pengambilan lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau swab. Bahan yang diperiksa diambil dari forniks posterior, mungkin dengan speculum. Pada anak-anak seperti pada kasus ini ataupun pada gadis yang selaput daranya masih utuh pengambilan sebaiknya dibatasi dari speculum saja. 3-5 B. Pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhoea dapat dilakukan dengan pulasan pewarnaan gram dari sekret ureter. Pemeiksaan dilakukan pada hari ke 1, 3, 5 dan 7. Jika pada pemeriksaan didapatkan N. gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita bila pada pria tertuduh juga ditemukan N. gonorrhea, ini merupakan petunjuk yang cukup kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik ataupun bakteriologi. C. Pemeriksaan kehamilan jika ada indikasi setelah 7 hari pasca hubungan seks. D. Pemeriksaan tanda bitemark pada korban dengan mencocokan foto panoramic dari gigi tersangka. E. Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakukan dengan bercak darah yang ada pada pakaiannya akibat tanda kekerasan maupun aktivitas seksual yang berasal dari darah deflorasi . Pemeriksaan golongan darah ini penting dilakukan. Dapat pula dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada gland penis.
3-5

INTERPRETASI HASIL A. Anamnesis Hasil anamnesis umum Nama Usia TTL :X : 14 tahun (duduk di bangku SMP kelas 2) : 13 Mei 1998 12

Status HPHT

: belum menikah : tidak tahu

Tidak ditemukan penyakit kelamin, kandungan dan penyakit penyerta lainnya. Belum pernah bersetubuh sebelumnya. Berdasarkan hasil ini, maka dapat dipastikan bahwa umur korban merupakan

umur yang belum waktunya untuk dikawin. Hasil anamnesis khusus Waktu kejadian Lokasi kejadian : 16 Desember 2013, pukul 19.30 WIB : Rumah keluarga pelaku yang sedang kosong di Bandung

Pelaku mengancam korban untuk melakukan hubungan intim. Terjadi peneterasi dan ejakulasi Menurut pengakuan korban, ia mencoba melakukan perlawanan. Korban tidak kehilangan kesadaran sebelum, saat, dan setelah kejadian.

B. Pemeriksaan Pakaian Saat datang untuk melakukan pemeriksaan,korban datang dengan pakaian yang cukup rapi, bersih, dan tidak ada robekan. Korban tidak menggunakan pakaian yang sama dengan yang dikenakan saat kejadian namun ia membawa pakaian tersebut. C. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Respiratory rate : Compos mentis : 120/80 : 89x/menit : 20x/menit

13

Suhu Berat badan Tinggi badan Refleks cahaya

: 36,5oC : 45 kg : 155 cm : Normal

Penampilan : rambut diikat satu tidak rapi; wajah tampak sedih, murung, dan malu. Korban menunjukkan bahwa ia merasa tertekan. Tidak ada needle marks tidak terdapat tanda-tanda diberikan obat tidur, tidak ada tanda-tanda kehilangan kesadaran (sesuai dengan hasil anamnesis pada korban).

Lebam di daerah paha dan gigitan di sekitar leher dan dada kiri tanda kekerasan. Perkembangan alat kelamin sekunder : Normal Pemeriksaan Fisik Khusus Hiperemi, edema, lecet pada vulva tanda-tanda kekerasan Robekan selaput dara baru sampai ke insertion arah jam 3 Lubang vagina sebesar 3,5 cm telah terjadi persetubuhan Vagina dan serviks tampak hiperemi Tidak ada tanda penyakit kelamin

Hasil pemeriksaan yang khas hasil kejahatan seksual 1. Adanya robekan lama selaput dara disertai adanya erosi dan peradangan jaringan vulva merupakan tanda-tanda persetubuhan. Sedangkan keluhan sakit bila kencing

kemungkinan merupakan sexual transmitted disease. 2. Pada pemeriksaan fisik lain kemungkinan ditemukan tanda kekerasan berupa memar, bekas gigitan, tanda kuku dan lain-lain. 3. Pada pemeriksaan laboratorium bisa saja ditemukan sisa sperma atau cairan mani pada usap vagina di fornix posterior ataupun pada pakaian dalam korban. 3-5 14

Bila terjadi kasus seperti ini, sebagai dokter kita harus mengetahui bahwa persetubuhan di luar perkawinan dengan anak di bawah umur 12 tahun adalah tindak pidana sesuai pasal 287 ayat 1 dan 2 KUHP. Hukum dalam kasus ini menyebutkan bahwa tiap orang dengan umur di bawah 18 tahun yang belum menikah sebagai orang yang belum mampu membuat pertimbangan dan keputusan untuk suatu perbuatan hukum.Dalam kasus ini, bila terjadi persetubuhan, tanpa memandang si anak menyetujui atau tidak persetubuhan itu, maka dianggap persetubuhan tadi terjadi tanpa persetujuan (consent) si anak.5 Dokter juga harus menjelaskan pada orangtua si anak bahwa kasus ini adalah tindak pidana yang harus dilaporkan pada polisi, dan menjelaskan bahwa dengan menyembunyikan suatu tindak pidana dia sendiri bisa dihukum, dan dengan memudahkan terjadinya persetubuhan dan atau percabulan pada anaknya, ia dapat dituntut dengan delik pidana pasal 295 KUHP dengan ancaman penjara 5 tahun. Dokter juga bisa merujuk pada spesialis obgyn dan dokter spesialis forensik atau spesialis jiwa ataupun seorang psikolog. 5 Dokter spesialis obgyn akan memeriksa lebih teliti tentang adanya tanda-tanda persetubuhan baik dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dengan memperhatikan perkembangan tanda seks sekunder,pemeriksaan genitalia, serta pemeriksaan lab yang menunjang misalnya swab vagina, dan swab oral. Dokter spesialis forensik akan mengumpulkan semua barang bukti yang mungkin tertinggal (pakaian korban, bite mark, kerokan kuku jika korban mengaku mencakar pelaku) sesuai prosedur, dan memuatnya dalam bentuk Visum et Repertum. Seorang psikolog bisa membantu gangguan yang mungkin timbul pada mental korban dan bisa mengusulkan cara yang terbaik yang dapat ditempuh sebagai penyelesaian tindak pidana. 5

PENATALAKSANAAN I. Medikamentosa Terapi luka fisik segera bekas gigitan, lebam dan lecet 15

Kontrasepsi darurat dapat dianjurkan untuk mencegah kehamilan. Kontrasepsi ini sebaiknya diberikan dalam jangka waktu sampai 72 jam setelah kejadian. Ada beberapa metode kontrasepsi darurat. Untuk saai ini yang paling sering digunakan adalah

menggunakan levonorgestrel (POSTINOR 2) 0.75 mg, dalam 2 dosis dengan jarak 12 jam, dalam tenggang waktu 72 jam pasca coitus.3,5 Untuk mencegah PMS, terapi empiric antimikroba yang direkomendasikan untuk chlamydial, gonococcal, dan tricchomonal adalah Ceftriaxone 125 mg perIM dosis tunggal, dan Metronidazole 2 g peroral dosis tunggal , serta Doxycycline 100 mg peroral 2 kali sehari selama 7 hari. 3,5 II. Non-medika Mentosa Sebaiknya korban sexual abuse dirujuk untuk melakukan konseling ke psikologi, bantuan lembaga LSM dan diterus melakukan follow-up dua minggu kemudian. Pasien mungkin menderita trauma psikis dan perubahan tingkah laku. Perujukan dan pemeriksaan ini berkaitan dengan pelaporan dalam visum et repertum juga untuk pengobatan. 3,5

16

KEJAHATAN SEKSUAL A. Definisi Kejahatan seksual adalah tindakan seksual apa pun yang dilakukan seseorang pada yang lain tanpa persetujuan dari orang tersebut. Kejahatan seksual terdiri dari penetrasi genital, oral, atau anal oleh bagian tubuh pelaku atau oleh sebuah objek benda. 5 Beberapa varian kejahatan seksual antara lain pemerkosaan dalam pernikahan (marital rape) dilakukan oleh suami/istri dengan paksa terhadap pasangannya; acquitance rape, dilakukan oleh orang yang telah dikenal sebelumnya, incest dilakukan terhadap saudara kandung sendiri; date rape dilakukan pada saat sedang kencan; statutory rape bermakna adanya hubungan seksual dengan seorang perempuan dibawah umur, yang rentang usianya ditentukan oleh hukum (rentang usia 14-18 tahun); child sexual abuse diartikan dengan interaksi antara seorang anak dengan dewasa dimana anak tersebut digunakan sebagai perangsang seksual dari orang dewasa itu atau orang lain. 5 Lingkungan sosial kita sering salah persepsi tentang kejahatan seksual.Korban sering disalahkan bahwa kejahatan susila itu diakibatkan oleh tingkah lakunya sendiri. B. Dampak Kejahatan Seksual pada Anak Dampak kejahatan seksual lebih dari apa yang bisa kita bayangkan. Stephen J. Sossetti dengan tepat mengatakan bahwa dampak kejahatan seksual pada anak adalah membunuh jiwanya. Luka kejahatan akan dibawa oleh seorang anak hingga ia dewasa, menjadi luka abadi yang sulit dihilangkan. Korban kejahatan seksual akan mengalami pasca trauma yang pahit. Kejahatan seksual dapat merubah kepribadian anak seratus delapan puluh derajat.Dari yang tadinya periang menjadi pemurung, yang tadinya energik menjadi lesu dan kehilangan semangat hidup. Pada beberapa kasus, ada pula anak yang menjadi apatis dan menarik diri, atau menjadi psikososial dengan prilaku agresif, liar dan susah diatur. 5 Dampak lain yang akan muncul dari kekerasan pelecehan pelajar akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri 17

anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan inventif. Kekerasan yang terjadi pada peserta didik di sekolah dapat mengakibatkan dampak psikis yaitu: Trauma psikologis, rasa takut, rasa tidak aman, dendam, menurunnya semangat belajar, daya konsentrasi, kreativitas, hilangnya inisiatif, serta daya tahan (mental) siswa, menurunnya rasa percaya diri, inferior, stress, depresi dsb. Dalam jangka panjang, dampak ini bisa terlihat dari penurunan prestasi, perubahan perilaku yang menetap, Anak yang mengalami tindakan kekerasan kejahatan seksual tanpa ada penanggulangan, bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena takut, merasa terancam dan merasa tidak bahagia berada diantara teman-temannya.Mereka juga jadi pendiam, sulit berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan sesama teman. Bisa jadi mereka jadi sulit mempercayai orang lain, dan semakin menutup diri dari pergaulan. Sebagai korban, mereka kehilangan haknya atas pendidikan, dan haknya untuk bebas dari segala bentuk kekerasan fiisik dan mental yang tidak manusiawi.Martabat anak direndahkan. Pertumbuhan dan perkembangan anak akan terhambat. 5

ASPEK PSIKOSOSIAL KEJAHATAN SEKSUAL Pelaku merupakan pelaksana utama dalam hal terjadinya perkosaan tetapi bukan berarti terjadinya perkosaan tersebut semata-mata disebakan oleh perilaku menyimpang dari pelaku, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berada di luar diri si pelaku. Namun secara umum dapat disebutkan bahwa faktor-faktor penyebab timbulnya kejahatan dibagi dalam 2 bagian yaitu: faktor interna, dan faktor eksterna.6 I. FAKTOR INTERNA Faktor-faktor yang terdapat pada diri individu.Faktor ini khusus dilihat dari individu serta dicari hal-hal yang mempunyai hubungan dengan kejahatan perkosaan. Hal ini dapat ditinjau dari: (a) Faktor Kejiwaan, yakni kondisi kejiwaan atau keadaan diri yang tidak normal dari seseorang dapat juga mendorong seseorang melakukan kejahatan. Misalnya, nafsu 18

seksyang abnormal, sehingga melakukan perkosaan terhadap korban wanita yang tidak menyadari keadaan diri si penjahat, yakni sakit jiwa, psycho patologi dan aspek psikologis b) Faktor Moral. Moral merupakan faktor penting untuk menentukan timbulnya kejahatan.Moral sering disebut sebagai filter terhadap munculnya perilaku yang menyimpang, sebab moral itu adalah ajaran tingkah laku tentang kebaikan-kebaikan dan merupakan hal yang vital dalam menentukan tingkah laku. Dengan bermoralnya seseorang maka dengan sendirinya dia akan terhindar dari segala perbuatan yang tercela. Sedangkan orang yang tidak bermoral cenderung untuk melakukan kejahatan.6 II. FAKTOR EKSTERNA Faktor Sosial Budaya, meningkatnya kasus-kasus kejahatan kesusilaan atau perkosaan terkait erat dengan aspek sosial budaya. Karena aspek sosial budaya yang berkembang ditengah-tengah masyarakat itu sendiri sangat mempengaruhi naik turunnya moralitas seseorang. Suatu kenyataan yang terjadi dewasa ini, sebagai akibat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dihindarkan timbulnya dampak negatif terhadap kehidupan manusia. Akibat modernisasi tersebut,

berkembanglah budaya yang semakin terbuka pergaulan yang semakin bebas, cara berpakaian kaum hawa yang semakin merangsang, dan kadang-kadang dan berbagai perhiasan yang mahal, kebiasaan bepergian jauh sendirian, adalah factor - faktor dominan yang mempengaruhi tingginya frekuensi kasus perkosaan.6

19

Contoh Visum et Repertum3 RS UKRIDA Jl. Arjuna Utara Telp 021-56990011

JAKARTA, 17 Desember 2013

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM No: 08 / TU.RSU / I/ 2013

VISUM ET REPERTUM NO: KF 25/VR/IV/2013

Yang bertanda tangan di bawah ini, dr.Natalia Angreini Gunawan SpF, dokter pada Rumah Sakit Ukrida, atas permintaan tertulis dari Kepolisian sektor Tanjung Duren, melalui suratnya nomor 08/VER/I/2013/SektTjDuren , tertanggal 30 November 2013, maka dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal lima Desember tahun dua ribu tiga belas, pukul lima belas Waktu Indonesia Barat, bertempat di RS Ukrida, telah melakukan pemeriksaan terhadap korban yang menurut surat permintaan tersebut adalah:-----------------------------------------------------------------------------

Nama Jenis kelamin Umur Kewarganegaraan Pekerjaan

: X------------------------------------------------------------------------------------: Perempuan-------------------------------------------------------------------------: Empat belas tahun ----------------------------------------------------------------: Indonesia --------------------------------------------------------------------------: Pelajar ------------------------------------------------------------------------------20

Alamat

: Jalan Taman Angsana V No. 20 Jakarta Timur -------------------------------

Hasil pemeriksaan Pada pemeriksaan ditemukan: a. Perempuan tersebut adalah seorang wanita berumur empat belas tahun dengan kesadaran

baik, emosi tegang, rambut rapi, penampilan bersih, sikap selama pemeriksaan membantu -------b. c. d. Pakaian rapi, tidak ditemukan robekan ------------------------------------------------------------Tanda kelamin sekunder sudah berkembang dengan baik--------------------------------------Keadaan umum jasmaniah baik, tekanan darah seratus dua puluh per delapan puluh

milimeter air raksa, denyut nadi delapan puluh sembilan kali per menit, pernapasan dua puluh kali per menit---------------------------------------------------------------------------------------------------e. Ditemukan adanya luka memar dan lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan,

paha bagian dalam, bokong, pinggang, dan jejas gigit pada daerah payudara-------------------------f. Pemeriksaan Alat Kelamin: ------------------------------------------------------------------------- Rambut kemaluan : Saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering dan adanya bercak mani sekitar alat kelamin----------------------------------------------------- Mulut alat kelamin : Pada kedua bibir kecil kemaluan tampak kemerahan,

terdapat luka lecet tekan dan memar yang merupakan tanda kekerasan------------------ Selaput dara : Terdapat robekan pada selaput dara hingga ke dasar sesuai

dengan arah jarum jam tiga -------------------------------------------------------------------- g. Leher rahim : Tampak merah keunguan dengan permukaan licin, lunak-----------

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya sel mani dalam leher rahim-------------

Kesimpulan 21

Pada anak perempuan yang baru berumur 14 tahun ini ditemukan sel mani dalam liang vagina, selanjutnya ditemukan robekan selaput dara pada lokasi pukul enam sesuai dengan arah jarum jam.--------------------------------------------------------------------------------------------------------------Ditemukan juga luka memar dan lecet akibat kekerasan tumpul di daerah mulut, leher, pergelangan tangan, paha bagian dalam, bokong, pinggang, dan jejas gigit pada daerah payudara.--------------------------------------------------------------------------------------------------------Dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium memang benar yang bersangkutan telah terjadi persetubuhan.-------------------------------------------------------------------------------------

Penutup : Demikianlah visum et repertum ini saya buat dengan sesungguhnya dengan menggunakan keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP --------------------------

Jakarta, 05 Desember 2013 Dokter Pemeriksa,

dr. Natalia Angreini Gunawan SpF

22

Penutup
Pada kasus ini, awalnya Ayah nona X yang membawa X langsung ke IGD untuk diperiksa. Saat hasil pemeriksaan keluar ternyata memang benar kalau X sudah disetubuhi. Selain itu, sebagai pertanda terjadinya pemaksaan seksual ditemukan tanda-tanda kekerasan seperti kemeja X yang kancingnya terlepas, rok yang robek pada sisi paha kanan sepanjang 5cm, tanda cupang di leher dan dada kiri ,luka lebam di paha dan luka lecet ditempat lainnya. Namun, hasil pemeriksaan tersebut hanyalah surat keterangan medis, bukan visum et repertum sehingga tidak bisa dijadikan sebagai bukti yang sah. Oleh karena itu sebagai dokter kita menganjurkan agar X segera dibawa ke kantor polisi. Lalu pihak penyidik akan memberikan surat permintaan pembuatan Ver kepada ahli, dalam hal ini dokter forensik. Setelah itu, barulah didapatkan visum et repertum yang merupakan bukti yang sah di peradilan. Dengan bukti yang sah ini, Ayah X dapat menggugat pelaku yang dicurigai.

Daftar Pustaka
1. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994. p. 1-9, 37. 2. Dahlan S. Ilmu kedokteran kehakiman pedoman bagi dokter dan penegak hukum. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2000 3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997. p.147-158. 4. Apuranto H. Ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. Surabaya : FK Airlangga, 2008 5. Kejahatan Seksual. Available at http://www.tribunnews.com/2013/01/13/tahun-2012laporan-kekerasan-seksual-anak-meningkat. Accessed on : December 16, 2013 6. Psikososial. Available at: www.library.usu.co.id Accesed on : December 16, 2013

23