Anda di halaman 1dari 89

BAB I PENDAHULUAN

A. Pengertian Desain Instruksional. Pengembangan instruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi mengembangkan dan menge!aluasi se"erangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk menca"ai tu#uan "endidikan tertentu $%&elker '()*+. Hasil akhir dari "engembangan instruksional ialah suatu sistem instruksional yaitu materi dan strategi bela#ar menga#ar yang dikembangkan secara em"iris dan konsisten telah da"at menca"ai tu#uan instruksional tertentu. Pengembangan instruksional ini terdiri dari se"erangkat kegiatan yang meli"uti "erencanaan "engembangan dan e!aluasi terhada" sistem instruksional yang sedang dikembangkan tersebut sehingga setelah mengalami bebera"a kali re!isi sistem instruksional tersebut da"at memuaskan hati "engembangnya. Pengembangan instruksional adalah teknik "engelolaan dalam mencari "emecahan masalah,masalah instruksional atau setidak,tidaknya dalam mengo"timalkan "emanfaatan sumber bela#ar yang ada untuk mem"erbaiki "endidikan. Desain Instruksional sebuah u"aya untuk meningkatkan hasil bela#ar dengan menggunakan "endekatan sistem Instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih "roduktif untuk semua tu#uan Instruksional di mana setia" kom"onen beker#a dan berfungsi untuk menca"ai tu#uan Instruksional. -om"onen se"erti instruktur "eserta didik materi kegiatan Instruksional sistem "enya#ian materi dan kiner#a lingkungan bela#ar saling berinteraksi dan beker#a sama untuk me&u#udkan hasil Instruksional "ebela#ar yang dikehendaki. Desain sistem Instruksional meli"uti untuk "erencanaan "engembangan im"lementasi dan e!aluasi Instruksional. B. -om"onen Desain Instruksional .odel Dick and /arey. .odel Dick 0 /arey adalah model desain Instruksional yang dikembangkan oleh 1alter Dick Lou /arey dan 2ames 3 /arey. .odel ini adalah salah satu dari model "rosedural yaitu model yang menyarankan agar "enera"an "rinsi" disain Instruksional disesuaikan dengan langkah,langkah yang harus di tem"uh secara berurutan. .odel Dick 0 /arey tertuang dalam Bukunya %he 4ystematic Design of Instruction edisi 5 tahun *667. Perancangan Instruksional menurut sistem "endekatan model Dick 8 /arey terda"at bebera"a kom"onen yang akan dile&ati di dalam "roses "engembangan dan "erencanaan tersebut. Langkahnya ditun#ukkan "ada gambar ' berikut ini 9

Berikut adalah langkah "engembangan desain Instruksional menurut dick dan carey 9

'. Identifikasi %u#uan $Identity Instructional :oal$s++.

%aha" a&al model ini adalah menentukan a"a yang diinginkan agar "ebela#ar da"at melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan "rogram Instruksional. %u#uan Instruksional mungkin da"at diturunkan dari daftar tu#uan dari analisis kiner#a $"erformance analysis+ dari "enilaian kebutuhan $needs assessment+ dari "engalaman "raktis dengan kesulitan bela#ar "ebela#ar dari analisis orang, orang yang melakukan "eker#aan $2ob Analysis+ atau dari "ersyaratan lain untuk instruksi baru.

*. .elakukan Analisis Instruksional $/onduct Instructional Analysis+.

Langkah ini "ertama mengklasifikasi tu#uanke dalam ranah bela#ar :agne menentukan langkah,demi,langkah a"a yang dilakukan orang ketika mereka melakukan tu#uan tersebut $mengenali keteram"ilan ba&ahan ; subordinat+. Langkah terakhir dalam "roses analisis Instruksional adalah untuk menentukan keteram"ilan "engetahuan dan sika" yang dikenal sebagai "erilaku masukan $entry beha!iors+ yang di"erlukan "eserta didik untuk da"at memulai Instruksional. Peta konse" akan menggambarkan hubungan di antara semua keteram"ilan yang telah diidentifikasi.

<. Analisis Pembela#ar dan Lingkungan $Analy=e Learners and /onte>ts+.

Langkah ini melakukan analisis "embela#ar analisis konteks di mana mereka akan bela#ar dan analisis konteks di mana mereka akan menggunakannya. -eteram"ilan "embela#ar "ilihan dan sika" yang telah dimiliki "embela#ar akan digunakan untuk merancang strategi Instruksional.

?.

.erumuskan %u#uan Performansi $1rite Performance 3b#ecti!es+.

Pernyataan,"ernyataan tersebut berasal dari keteram"ilan yang diidentifikasi dalam analisis Instruksional akan mengidentifikasi keteram"ilan yang harus di"ela#ari kondisi di mana keteram"ilan yang harus dilakukan dan kriteria untuk kiner#a yang sukses.

7.

Pengembangan %es Acuan Patokan $De!elo" Assessment Instruments+.

Berdasarkan tu#uan "erformansi yang telah ditulis langkah ini adalah mengembangkan butir,butir "enilaian yang se#a#ar $tes acuan "atokan+ untuk mengukur kemam"uan si&a se"erti yang di"erkirakan dari tu#uan. Penekanan utama berkaitan diletakkan "ada #enis keteram"ilan yang digambarkan dalam tu#uan dan "enilaian yang diminta.

5.

Pengembangan 4iasat Instruksional $De!elo" Instructional 4trategy+.

Bagian,bagian siasat Instruksional menekankan kom"onen untuk mengembangkan bela#ar "ebela#ar termasuk kegiatan "raInstruksional "resentasi isi "artisi"asi "eserta didik "enilaian dan tindak lan#ut kegiatan.

). Pengembangan atau .emilih .aterial Instruksional $De!elo" and 4elect Instructional .aterials+.

-etika kita menggunakan istilah bahan Instruksional kita sudah termasuk segala bentuk Instruksional se"erti "anduan guru modul o!erhead trans"aransi kaset !ideo kom"uter berbasis multimedia dan halaman &eb untuk Instruksional #arak #auh. maksudnya bahan memiliki konotasi.

@. .erancang dan .elaksanakan Penilaian Aormatif $Design and /onduct Aormati!e E!aluation of Instruction+.

Ada tiga #enis e!aluasi formatif yaitu "enilaian satu,satu "enilaian kelom"ok kecil dan "enilaian u#i la"angan. 4etia" #enis "enilaian memberikan informasi yang berbeda bagi "erancang untuk digunakan dalam meningkatkan Instruksional. %eknik seru"a da"at ditera"kan "ada "enilaian formatif terhada" bahan atau Instruksional di kelas.

(.

Be!isi Instruksional $Be!ise Instruction+.

4trategi Instruksional ditin#au kembali dan akhirnya semua "ertimbangan ini dimasukkan ke dalam re!isi Instruksional untuk membuatnya men#adi alat Instruksional lebih efektif.

'6. .erancang dan .elaksanakan E!aluasi 4umatif $Design And /onduct 4ummati!e E!aluation+.

Hasil,hasil "ada taha" di atas di#adikan dasar untuk menulis "erangkat yang dibutuhkan. Hasil "erangkat selan#utnya di!alidasi dan diu#icobakan di kelas; diim"lementasikan di kelas dengan e!aluasi sumatif

BAB II RANCANGAN DESAIN INSTRUKSIONAL A. Rancangan Desain Instruksional. Rancangan Desain Instruksional sebuah produk tentang rencana Instruksional yang berisi perencanaan instruksional (blue print) untuk pengembangan bahan instruksional dan media yang akan digunakan untuk mencapai tujuan. Hasil dari rancangan desain Instruksional berupa bahan Instruksional dan media serta material Instruksional. Tahapan yang digunakan merancang desain Instruksional yaitu perencanaan, pengembangan, evaluasi, dan management proses. B. Langkah-langkah Merancang Desain Instruksional Model Dick and Carey Untuk merancang desain Instruksional model dick carey mengikuti langkahlangkah yang telah ditetapkan. Ada sepuluh langkah dasar dalam mengembangkan desain Instruksional menurut dick and carey. Pembahasan langkah-langkah dick carey secara umum terdiri dari latar belakang, konsep pengembangan dan hasil pengembangan. Dalam pembahasan berikut akan dilakukan pengembangan desain secara berututan dan lebih rinci dalam pembahasan langkah per langkah. Langkah ke-1 MENGENAL TUJUAN INSTRUKSIONAL (Identify Instructional Goal(s)) A. Latar Belakang Mungkin hal yang paling kritis dalam proses desain Instruksional adalah mengidentifikasi tujuan Instruksional. Pada perancangan desain Instruksional yang sistematika merekomendasikan untuk menggunakan pendekatan teknologi kinerja, di mana tujuan Instruksional didasarkan pada analisis kinerja, penilaian kebutuhan dari permasalahan yang ada. Tidak

ada solusi yang mudah dan tunggal perlu ada proses yang sistematis untuk memecahkan masalah secara efektif. B. Konsep Pengembangan Secara garis besar proses untuk mendapatkan informasi tentang tujuan yang diharapkan maka dilakukan Analisa awal dan akhir (Front-End Analysis) atau secara spesifik terdiri dari: Performance Analysis, Need Assessment, Job Analysis, Practical experience with learning difficulties of student dan Some other requirement for new instruction. 1. Analisis Kinerja (Performance Analysis) Performance Analysis (Analisa Unjuk Kerja) adalah sebuah analisa tentang kemampuan unjuk yang bertujuan untuk memperoleh informasi dalam rangka untuk mengidentifikasi masalah dan solusinya. 2. Penilaian Kebutuhan (Need Assessment) Penilaian kebutuhan adalah sebuah pengamatan yang dilakukan untuk melihat atau mengkaji antara harapan dan kenyataan. Ada tiga komponen dalam logika penilaian kebutuhan, Komponen pertama menetapkan suatu standar atau tujuan yang disebut sebagai status yang diinginkan. 3. Analisis Pekerjaan (Job Analysis)

Job Analysis (Analisa pekerjaan) adalah sebuah proses pengumpulan, menganalisis, dan mensintesis deskripsi tentang apa yang dilakukan orang dalam pekerjaan mereka. Proses analisis pekerjaan dimulai menginventarisir pekerjaan yang biasa dilakukan oleh pekerjaan, kemudian digolongkan dalam kategori tugas-tugas yang memerlukan solusi dengan menggunakan Instruksional. 4. Memperjelas Tujuan Instruksional (Clarifying Instructional Goals)

Pada proses mengumpulkan informasi tujuan terkadang terdapat beberapa pernyataan tujuan yang samar atau tidak jelas tujuan. Sering muncul tujuan yang sulit diukur seperti mengandung kata menghargai, memiliki

kesadaran dan seterusnya. Pada kontek ini perancang harus melakukan beberapa prosedur untuk memperjelas tujuan yang samar tadi. 5. Pembelajar, Lingkungan dan Alat (Learner, Context and Tools)

Sedangkan aspek yang paling penting dari sebuah tujuan Instruksional adalah deskripsi dari apa yang pelajar akan dapat melakukannya, deskripsi yang tidak lengkap tanpa indikasi (l) siapa pelajar, (2) di mana mereka akan menggunakan keterampilan , dan (3) alat-alat yang akan tersedia. 6. Kriteria dalam Menetapkan Tujuan Instruksional (Criteria for

Establishing Instructional Goals) Kadang-kadang proses penetapan tujuan yang tidak sepenuhnya rasional, yaitu tidak mengikuti proses penilaian kebutuhan sistematis. Faktor lain misalnya pertimbangan politik dan ekonomi serta teknis atau yang akademis. C. Hasil Pengembangan Mengenali Tujuan Instruksional (Identify Instructional Goals) Untuk mengenali tujuan Instruksional pendidikan seni budaya yang akan diberlakukan di sekolah menengah pertama kelas VI dilakukan beberapa analisis, antara lain : 1. Daftar Tujuan hasil analisis tujuan. Hasil Analisis dari Kepala Sekolah :
1. Anak mampu menyanyikan lagu wajib nasional 2. Anak mampu menyanyikan lagu daerah lampung 3. Anak mampu menyanyikan lagu bebas 4. Anak mampu memainkan salah satu alat musik 5. Anak mampu menggambar 6. Anak mampu menari lampung 7. Anak mampu membuat seni kriya

8. Anak mengenal lagu-lagu daerah 9. Anak mengenal hasil karya seni lampung 10. Anak mencintai seni lampung 11. Pemerintah perlu membantu pengadaan sarana dan prasarana

kesenian, antara lain : Pakaian adat lampung, alat musik tradisional lampung, dan CD musik lagu-lagu lampung Guru Kesenian :
1. Anak mampu menyanyikan lagu wajib nasional 2. Anak mampu menyanyikan lagu daerah lampung 3. Anak mampu menyanyikan lagu bebas 4. Anak mampu memainkan salah satu alat musik 5. Anak mampu menggambar 6. Anak mampu menari lampung 7. Anak mampu membuat seni kriya 8. Anak mengenal lagu-lagu daerah 9. Anak mengenal hasil karya seni lampung 10. Anak mencintai seni lampung 11. Sekolah perlu menyediakan sarana-prasarana kesenian

Pembelajar :
1. Anak menghendaki bisa menggambar 2. Anak menghendaki bisa menyanyi terutama lagu-lagu pop 3. Anak menghendaki bisa mengenal menari 4. Anak menghendaki bisa menggambar 5. Anak menghendaki bisa menggambar

2. Need Assessment

Langkah kedua adalah mengadakan penilaian kebutuhan untuk kegiatan pembelajaran Pendidikan Seni dan Budaya di SMP Negeri 13 Bandarlampung dengan hasil sebagai berikut :
1. Pendidikan Seni merupakan mata pelajaran untuk menyalurkan

bakat dan minat, mengembangkan kreatifitas dalam karya seni peserta didik SMP 13 Bandar Lampung.
2. Pendidikan Seni dan Budaya memberikan bekal pada seluruh

peserta didik dalam hal ketrampilan dalam berkarya yang akan berguna bagi dirinya sendiri setelah peserta didik lulus dari lembaga. Berkaitan dengan hal tersebut diatas , SMP Negeri 13 Bandarlampung sebagai lembaga pendidikan perlu memasukkan pendidikan seni dalam kurikulum. 3. Job Analysis Secara umum lulusan dari Lembaga pendidikan menengah pertama belum memiliki ketrampilan yang cukup terutama ketrampilan kriya yang akan menjadi salah satu bekal ketrampilan dalam hidupnya di masyarakat. Dari fakta tersebut di atas perlu peningkatan kemampuan peserta didik, yaitu dengan menerapkan ketrampilan seni kriya pada mata pelajaran pendidikan seni budaya. 4. Memperjelas Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional harus (1) jelas, pernyataan umum hasil pelajar (2) berkaitan dengan Identifikasi masalah dan penilaian kebutuhan, dan (3) dapat dicapai dengan pembelajaran daripada beberapa cara yang lebih efisien seperti meningkatkan motivasi karyawan. Apa tujuan instruksional? Tujuan pembelajaran yang dikehendaki adalah untuk memberikan ketrampilan seni kriya agar bermanfaat ketika diterapkan di masyarakat. Apa hubungan antara tujuan dan penilaian kebutuhan belajar?

Tujuan pembelajaran secara langsung terkait dengan penilaian kebutuhan ketrampilan sni kriya. Hal ini juga berhubungan langsung dengan bukti bahwa ketrampilan seni kriya sangat berkorelasi dengan mutu lulusan, Apakah instruksi cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan? Mengembangkan keterampilan seni kriya dengan pembelajaran dan praktek praktik secara langsung. Siapa pembelajarnya? Pembelajar adalah siswa kelas VII Sekolah Menengah Pertama yang telah setuju untuk menerima pembelajaran ketrampilan seni kriya. Dalam konteks apa keahlian akan dia gunakan? Pebelajar akan menggunakan keterampilan seni kriya mereka dalam masyarakat, untuk diaplikasikan sesuai dengan fungsinya. 5. Kriteria untuk menetapkan tujuan instruksional

Tujuan instruksional ketrampilan seni kriya dirancang dengan menggunakan kriteria ini. Apakah tujuan instruksional yang dapat diterima oleh administrator? Dalam hal ini, tim desain mewawancarai lembaga pendidikan, dan personel yang ada untuk menentukan persepsi mereka akan pentingnya dan kelayakan untuk penerapan ketrampilan. Desainer juga mewawancarai beberapa personil siswa untuk berpartisipasi dalam penerapan ketrampilan seni kriya. Tanggapan positif tentang kemungkinan instruksi diterima dari semua diwawancarai. Apakah ada sumber daya yang memadai (waktu, uang, dan personil) untuk mengembangkan instruksi? Sekolah menyediakan dana yang cukup untuk pengembangan Instruksional dan untuk mengembangkan bahan-bahan yang diperlukan.

Apakah isi stabil? Isi dan keterampilan yang mendasari kerja praktik kelompok sangat stabil. Apakah pelajar tersedia? Pembelajar tersedia, yaitu siswa kelas VII sekolah menengah pertama untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan pembelajaran baik secara teori maupun praktik. Ini menunjukkan bahwa penetapan tujuan instruksional dan perbaikan dapat menjadi panjang, proses kompleks yang mencakup banyak aspek dalam identifikasi masalah, analisis kinerja, penilaian kebutuhan, dan pernyataan dari tujuan instruksional yang jelas. materi ini merupakan hasil diskusi kelompok (muhamad khotib, tri wahyu handoyo, suyono, dan rita ambarwati pada mata kuliah rancangan sistem instructional dosen pengampu : Prof. Dr. Hi. Karwono, M.Pd dan Drs. Sulthon Jasmi, M.Pd di Pasca TP Unila 2009)

Langkah ke-2 MELAKUKAN ANALISIS INSTRUKSIONAL (Conduct Instructional Analysis) A. Latar Belakang Analisis Instruksional merupakan langkah kedua dari desain Instruksional model dick and carey. Tujuan utama dari analisis Instruksional adalah menentukan komponen utama dari tujuan Instruksional serta mengidentifikasi keterampilan bawahan dari setiap langkah untuk mencapai tujuan Instruksional tersebut. Komponen utama dari tujuan Instruksional berisi langkah-langkah yang pebelajar harus mampu lakukan untuk mencapai tujuan Instruksional. Langkah kedua dari analisis Instruksional analisis keterampilan bawahan sampai menemukan perilaku masukan. B. Konsep Analisis Instruksional. Secara umum analisis Instruksional ada dua langkah, yaitu analisis tujuan ( goal analysis) dan analisis keterampilan bawahan (subordinat skill analysis). Sebuah Analisis Tujuan adalah suatu analisis untuk menghasilkan langkah-langkah utama dalam mencapai tujuan pembelajaran dan Analisis Keterampilan Bawahan adalah sebuah analisis keterampilan yang diperlukan pebelajar untuk mencapai tujuan sampai pada keterampilan paling dasar (paling murni) serta ditentukannya sebuah garis entry behaviors. Langkah utama adalah langkah-langkah keterampilan yang diperlukan oleh pembelajar untuk dapat menguasai tujuan pembelajaran. Keterampilan bawahan adalah keterampilan yang secara sendiri mungkin tidak penting tetapi secara keseluruhan sebagai merupakan keterampilanketerampilan yang secara berurutan untuk mencapai keterampilan yang lebih tinggi atau keterampilan super-ordinat. Garis perilaku masukan (entry behavior) adalah garis yang menjadi batas antara keterampilan yang akan diajarkan dengan keterampilan yang sudah dikuasai oleh pebelajar sebelum melakukan pembelajaran. 1. Analisis Tujuan Analisis Tujuan mencakup dua langkah mendasar. Yang pertama adalah mengelompokkan tujuan menurut empat ranah belajar gagne (1979), yaitu sikap, keterampilan intelek, informasi verbal dan keterampilan psikomotor. Langkah kedua adalah memeriksa secara tepat apa yang akan dikerjakan oleh pebelajar apa apabila ia berbuat untuk mencapai tujuan tersebut ini disebut dengan prosedur menganalisa tujuan. Paragraf berikut akan menjelaskan empat rana belajar gagne dan menentukan langkah-langkah umum dalam mencapai sebuah tujuan. a. Informasi Verbal. Informasi Verbal adalah kapabilitas seseorang untuk mengungkapkan informasi, fakta, atau label yang tersimpan dalam bentuk bahasa baik secara lisan maupun tertulis. Dalam informasi verbal tidak ada manipulasi simbolik, tidak ada penyelesaian masalah atau juga tidak ada aturan

penerapan. Informasi verbal hanya menyimpan informasi itu dan menariknya kembali untuk dites. . Teknik analisa Instruksional yang digunakan bagi informasi verbal disebut analisa rumpun (cluster analysis). Contohnya : mengenal bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kartu ucapan. b. Keterampilan Intelektual. Keterampilan intelektual adalah keterampilan yang memerlukan aktivitas kognitif yang khas dalam arti bahwa pelajar harus dapat memecahkan masalah atau melakukan suatu kegiatan dengan informasi atau contoh yang tidak dijumpai sebelumnya. Keterampilan intelektual terdiri dari tiga macam, yaitu membentuk konsep, menerapkan aturan, dan memecahkan masalah. Analisa yang digunakan untuk mendapatkan keterampilan bawahan intelektual menggunakan pendekatan hierarki. Contohnya : mampu menentukan letak titik yang menjadi perpotongan antara kedua titik yang saling berpotongan dalam bidang gambar. c. Keterampilan Psikomotor. Keterampilan psikomotorik adalah keterampilan yang harus dikuasai pebelajar yang memerlukan aktivitas motorik (tindakan otot atau fisik), dengan atau tanpa perlengkapan, walaupun harus disertai dengan tindakan mental / kognitif untuk mencapai tujuan tertentu. Analisa yang digunakan untuk mengenali keterampilan psikomotor adalah analisa prosedural. Contohnya : Mampu menempel accesoris pada media yang akan dijadikan kartu ucapan. d. Sikap. Tujuan sikap adalah tujuan yang mengharuskan pebelajar memilih mengerjakan sesuatu, atau keputusan tertentu untuk bertindak dalam keadaan tertentu. Misalnya, kita ingin orang-orang memilih menjadi pegawai yang baik, memilih memelihara lingkungan, memilih makanan yang bergizi, dan sebagainya. Ciri Tujuan sikap yang lain ialah bahwa tujuan itu barangkali tidak akan tercapai pada akhir Instruksional. Itu kerap kali merupakan tujuan jangka panjang yang sangat penting, tetapi sangat sulit menilainya dalam jangka pendek. Tujuan sikap terkadang menyertai tujuan kemampuan intelektual atau keterampilan psikomotorik, atau informasi verbal. e. Siasat Kognitif Siasat kognitif adalah meta processes yang digunakan untuk mengatur cara kita berpikir tentang hal-hal dan memastikan belajar kita sendiri, mengingat dan berpikir serta belajar teknik berpikir, cara menganalisis masalah, ancangan untuk memecahkan masalah. Cara mengingat nama, cara mengirit bensin. Keterampilan berada lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan intelek. Karena pada siasat kognitif kita sudah menggunakan keterampilan intelek untuk mencari cara dalam memecahkan masalah. f. Prosedur Menganalisis Tujuan

Prosedur menganalisis tujuan adalah daftar langkah-langkah spesifik yang akan dilakukan pebelajar saat mewujudkan tujuan Instruksional. Setiap langkah ini dinyatakan dalam sebuah kotak seperti ditunjukkan pada diagram alur di bawah ini: Seorang pebelajar yang ingin menguasai tujuan Instruksional harus mengerjakan langkahlangkah tersebut. Setelah melakukan langkah 1, para pelajar akan kemudian melakukan langkah 2, lalu 3, 4, dan 5. Setelah melakukan langkah 5, proses akan lengkap, dan jika dilakukan dengan benar, akan dianggap sebagai demonstrasi kinerja tujuan.

Jika dalam pencapaian tujuan itu ada keputusan yang harus diambil, misalnya pada langkah 3, maka langkah 3 ditunjukkan dalam kotak wajik. Dengan adanya alternatif maka prosedur sekarang menjadi dua jalur, yaitu : 1, 2, 3, 4 dan 5 atau mengambil jalur alternatif sesuai keputusan yang diambil, yaitu : 1, 2, 3, 6 dan 7. Oleh karenanya pada kontek ini tidak semua langkah harus dikerjakan.

Dalam rangka menganalisis tujuan Instruksional tidak semudah yang dibayangkan, kadang kita sulit sekali mendefinisikan langkah-langkah pencapaian tujuan. Namun secara umum langkah itu minimal 3 atau 5 dan paling banyak 15 langkah. Jika kurang dari 3 maka perlu dianalisa ulang dan jika lebih dari 15 juga perlu dianalisa ulang mungkin terlalu detil.

Pada kasus lain, jika ada langkah balikan maka perlu kita buat garis putus-putus sebagai tanda arus balik/revisi. Dan jika dalam penulisan tidak cukup dalam satu baris maka kita bisa memutus dan menyambung di bagian bawah. a. Analisis Sub-Step Dalam mengidentifikasi terkadang dalam satu langkah kita perlu membuat sub langkah yang mewakili langkah tersebut. Misal pada langkah 2 kita membuat sub langkah 2.1, 2.2 dan 2.3 serta pada langkah 5 juga dibuat sub langkah 5.1 dan 5.2.

1. Analisis Keterampilan Bawahan Hasil dari analisa tujuan berupa langkah-langkah yang ditulis dalam kotak-kotak yang diberi nomor urut dan disusun secara horizontal dari kiri ke kanan. Nomor urut pada kotak merupakan urutan langkah keterampilan dalam mencapai tujuan Instruksional. Selanjutnya kita akan melakukan mengidentifikasi keterampilan bawahan. Keterampilan bawahan adalah semua keterampilan yang mendukung tercapainya keterampilan-keterampilan pada langkah-langkah hasil analisa tujuan. Keterampilan bawahan seringkali melibatkan beberapa domain belajar, identifikasi keterampilan bawahan sampai pada keterampilan paling bawah dan murni. Keterampilan bawahan tersebut bisa berbentuk konsep, teori, aturan, pengertian, definisi, hukum, atau fakta. Terkadang secara sendiri keterampilan bawahan tidak begitu berarti tetapi dalam rangka mendukung tercapainya keterampilan diatas (super-ordinat) sangatlah berfungsi. Tanpa keterampilan itu mungkin tujuan Instruksional tidak akan tercapai. Keterampilan bawahan dalam peta analisis ditempat pada kotak-kotak di bawah kotak-kotak langkah-langkah analisis tujuan.

Bagan diatas menggambar posisi keterampilan bawahan dalam peta analisa. Keterampilan pada langkah 1, langkah 2, langkah 3, langkah 4 dan langkah 5 merupakan keterampilan superordinat. Keterampilan bawahan pada langkah 1 merupakan hasil analisis hierarki. Keterampilan bawahan pada langkah 2 merupakan hasil analisis rumpun. Dan Keterampilan bawahan pada langkah 3 merupakan hasil analisa prosedural. Analisa keterampilan bawahan ini akan dibahas berikut. a. Analisis Hierarki Analisa hierarkis digunakan untuk menganalisis langkah-langkah individu dalam analisis tujuan intelektual atau psikomotorik. Setelah kita mengidentifikasi seluruh keterampilan-keterampilan bawahan yang mendukung tercapainya tujuan.. Kemudian keterampilan-keterampilan bawahan ditulis kotak-kotak untuk memudahkan dalam penyusunan dalam peta konsep yang akan dibuat. Pendekatan dengan analisa hierarki adalah sebuah analisa yang memperhatikan bahwa keterampilan-keterampilan disusun dari keterampilan tertinggi sampai pada titik keterampilan

terendah. Ada satu hal yang harus dipertimbangkan bahwa keterampilan bawahan merupakan syarat untuk keterampilan di atas. Hal ini yang merupakan ciri dari analisa hierarki. Setelah anda merasa puas sudah mengidentifikasikan semua sub-keterampilan yang diperlukan pebelajar untuk dapat menguasai tujuan Instruksional anda, anda kemudian memeriksa hasil analisa anda, dan membeberkannya dalam satu peta analisa. Dalam mendiagramkan analisa hierarki digunakan cara kebiasaan berikut: 1) 2) Tujuan akhir Instruksional diletakkan di dalam kotak di puncak susunan hierarki. Semua keterampilan intelek subordinat diperlihatkan di dalam kotak-kotak yang

dihubungkan dengan garis-garis yang berasal dari kotak-kotak atas dan bawahnya. 3) Keterampilan-keterampilan informasi verbal dan sikap dihubungkan dengan garis-garis

mendatar, sebagaimana juga diperlihatkan dalam. bagian-bagian berikutnya. 4) Anak-anak panah harus menunjukkan bahwa alur keterampilan arahnya ke atas menuju ke

tujuan akhir. 5) Rumusan semua keterampilan subordinat harus menggunakan kata kerja yang

menunjukkan apa yang pebelajar harus mampu lakukan. Hindari rumusan yang hanya menggunakan kata benda. 6) Dalam kenyataan sebenarnya, hierarki tidak perlu simetri. Bentuknya bisa segala macam.

Tidak ada satu wujud penampakan hierarki yang benar. Adalah penting untuk memeriksa kembali analisa anda beberapa kali, untuk memastikan bahwa anda telah mengenali semua keterampilan bawahan yang diperlukan pebelajar bagi menguasai tujuan Instruksional. Pada tahap ini anda harus kembali menempuh prosedur langkah mundur, dari keterampilan yang tertinggi, paling kompleks dalam hierarki anda ke keterampilan yang terendah, paling sederhana yang diperlukan oleh pebelajar-pebelajar anda. Ini akan memungkinkan anda menentukan apakah anda sudah memasukkan semua keterampilan bawahan yang perlu.

b. Analisis Prosedural Analisa prosedural ialah satu teknik yang digunakan untuk mengenali langkah-langkah keterampilan bawahan dalam analisis untuk tujuan intelektual atau keterampilan psikomotorik. Setelah keterampilan bawahan atau lebih pas mungkin rincian keterampilan untuk mencapai keterampilan diatas. Keterampilan ini lebih merupakan rincian langkah untuk mencapai tujuan

diatasnya, setiap langkah ibawahnya bukan merupakan syarat untuk langkah selanjutnya. Analisa prosedural merupakan jenis analisis subskills seperti terlihat di bawah

Langkah 1 sampai 5 adalah langkah-langkah asli dalam analisis Instruksional. Langkah 2.1 adalah langkah bawahan dari langkah 2 seperti halnya dalam hubungan hierarki khas. Langkah 4.1, 4.2, dan 4.3 adalah subskills dari langkah 4 dan merupakan langkah prosedural dari langkah 4. Langkah 4.2.1 adalah langkah hierarkis dari langkah 4.2. Kotak-kotak keterampilan bawahan dalam analisa prosedural disusun sejajar dimulai dari sebelah kanan sebagai keterampilan paling bawah atau prosedur pertama. c. Analisis Rumpun Analisa rumpun (cluster analysis) biasa digunakan pada tujuan informasi verbal. Analisa rumpun lebih berfungsi mengidentifikasi kategori atau komponen-komponen utama dari tujuan informasi verbal yang akan dicapai. Setiap kategori dalam informasi verbal tersebut hampir tidak memiliki hubungan baik secara hierarki maupun prosedural, tetapi mungkin hanya memiliki kemiripan atau memiliki fungsi sama dalam pencapaian tujuan yang dianalisa. Contohnya : tujuan menuliskan nama-nama profinsi di pulau sumatra

Langkah yang harus dilakukan dalam analisa rumpun adalah menempatkan kotak-kotak keterampilan bawahan hasil Identifikasi pada posisi yang sama seperti pada analisis prosedural tetapi bukan, hubungannya dengan keterampilan super-ordinat seperti dalam analisis hierarki tetapi bukan. d. Perilaku Masukan Proses analisis Instruksional juga berfungsi membantu perancang mengidentifikasi Instruksional tentang apa yang sudah harus tahu atau mampu lakukan pembelajar sebelum mereka mulai belajar, keahlian ini disebut sebagai perilaku masukan. Prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku masukan secara langsung berkaitan dengan proses analisis keterampilan bawahan. Anda tahu bahwa dengan analisis hirarkis Anda bertanya, Apa yang pembelajar perlu tahu dalam rangka untuk mempelajari keterampilan ini? Jawaban atas pertanyaan ini adalah satu atau lebih keterampilan bawahan. Jika Anda

melanjutkan proses ini dengan masing-masing berturut-turut set keterampilan bawahan, bagian bawah hirarki akan berisi keterampilan yang sangat dasar. Asumsikan Anda memiliki peta analisis Instruksional yang begitu lengkap. Ini mewakili berbagai keahlian yang dibutuhkan untuk mengambil pelajar dari tingkat yang paling dasar pemahaman sampai tujuan Instruksional Anda. Jika mayoritas peserta didik sudah menguasai beberapa keterampilan dasar yang ada pada peta analisis sebelum memulai Instruksional maka, maka diatas keterampilan tersebut dibuat garis putus-putus. Garis putus-putus tersebut adalah garis entry behaviors (perilaku masukan)

Semua keterampilan dalam peta analisis adalah bagian yang akan kita belajarkan sedangkan yang dibawah garis disebut perilaku masukan tidak perlu di belajarkan, karena sudah dikuasai oleh pembelajar. e. Sifat Kesementaraan Dalam perancangan sebuah material kurikulum terkadang hanya diperuntukkan bagi pebelajarpebelajar yang tercerdas dalam populasi sasaran. Keadaan ini tercermin dalam analisa Instruksional garis entry behaviors terlalu tinggi, yang menunjukkan bahwa pebelajar-pebelajar populasi sasaran sudah memiliki sebagian besar keterampilan yang ada pada peta. Kalau tingkah laku masukan yang dianggap sudah ada itu ternyata belum dikuasai oleh sebagian besar populasi sasaran, maka material Instruksional itu kehilangan fungsinya bagi banyak pebelajar. Tanpa persiapan yang memadai untuk menguasai keterampilan masukan, usahausaha para pebelajar menjadi tidak berdaya guna dan materialnya tidak berhasil guna. Kesalahan kedua terjadi apabila garis putus-putus itu ditarik terlalu rendah pada bagan analisa Instruksional. Dalam keadaan ini praduganya ialah pebelajar-pebelajar sedikit saja atau sama sekali tidak memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Instruksional. Kesalahan seperti ini bisa berakibat fatal dari sudut pengembangan material Instruksional yang sebenarnya tidak diperlukan para pebelajar, dan dari sudut waktu yang

diperlukan bagi para pebelajar untuk mempelajari hal-hal guna mencapai tujuan yang sebenarnya sudah mereka kuasai.

1. Kesimpulan
Proses tujuan analisis dimulai hanya setelah Anda memiliki pernyataan yang jelas dari tujuan Instruksional. Langkah-langkah dalam proses analisis tujuan adalah :

1. Mengklasifikasikan tujuan menjadi salah satu dari empat wilayah belajar, yaitu sikap,
keterampilan intelektual, informasi verbal dan keterampilan psikomotorik.

2. Mengidentifikasi langkah-langkah utama yang harus dilakukan peserta didik untuk


mencapai tujuan. Produk awal Anda harus dipandang sebagai draft dan harus tunduk pada evaluasi dan perbaikan.

3. Mengidentifikasi keterampilan bawahan dari semua langkah-langkah utama dalam


pencapaian tujuan. Langkah ini harus sampai kepada keterampilan yang paling dasar dan murni.

4. Melakukan analisis keterampilan bawahan terhadap langkah-langkah utama.


1) 2) 3) Analisis klaster dilakukan pada langkah informasi verbal. Analisis hirarkis dilakukan pada keterampilan intelektual dan psikomotorik. Analisis prosedural dilakukan pada keterampilan intelektual dan psikomotorik.

1. Proses analisis kadang perlu diulang proses step-down digunakan sampai Anda percaya
bahwa tidak ada keterampilan bawahan lebih lanjut masih harus diidentifikasi.

2. Mengidentifikasi perilaku masukan yang akan dituntut dari peserta didik dengan
menggambar sebuah garis titik-titik di bawah ini keterampilan-keterampilan yang akan diajarkan dan di atas orang-orang yang tidak diajarkan. Keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis yang tidak akan diajarkan yang disebut sebagai perilaku masukan. Akhir dari analisis ini sampai dihasilkan sebuah peta analisis atau peta konsep seperti pada gambar

Langkah ke 3 MENGANALISIS PEMBELAJAR DAN LINGKUNGAN (Analyze Learner and Context) disusun oleh : muhamad khotib, triwahyu handoyo, suyono wahyuni satiawati, rita ambarwati (Mahasiswa Pasca TP Unila 2009) A. Latar Belakang Kenyataan di lapangan banyak ditemui adanya ketidakcocokan antara Instruksional dengan kemampuan pebelajar, dengan lingkungan tempat belajar dan dengan lingkungan setelah pembelajar menggunakan keterampilan. Oleh karena itu perancang tidak hanya menganalisis dan menentukan apa yang akan diajarkan, tetapi juga menganalisis karakteristik dari peserta didik, konteks di mana belajar akan dilakukan, dan konteks di mana keterampilan pada akhirnya akan digunakan. Untuk keperluan ini kita melakukan analisis pembelajar dan analisis konteks. Alasan lain bagi perancang untuk menganalisis pembelajar dan konteks adalah bahwa analisis ini tidak dapat dilakukan dalam satu kantor. Desainer harus berbicara dengan pembelajar, instruktur, dan manajer; mereka harus mengunjungi ruang kelas, fasilitas pelatihan, dan peserta didik tempat kerja untuk menentukan keadaan di mana peserta didik akan mendapatkan dan menggunakan keterampilan baru mereka. Seperti pada langkah 2 analisa Instruksional dan analisa pebelajar dan konteks sering digunakan secara simultan sebagai satu kesatuan, sehingga informasi dikumpulkan dari setiap komponen B. Konsep Pengembangan Untuk melakukan analisis pembelajar dan konteks ada tiga analisis yang dilakukan, yaitu analisis pembelajar, analisis konteks performansi dan analisis konteks learning. 1. Menganalisis Pembelajar (Analyze Learner) Sebelum kita membahas analisis pembelajar, baik kita tahu dulu siapa pembelajar dalam desain yang akan dibuat. Pembelajar disini kadang disebut sebagai populasi target atau kelompok sasaran. Mari kita mulai dengan mempertimbangkan bahwa pebelajar mendapatkan seperangkat Instruksional. Kita akan mengacu pada pebelajar ini sebagai target population yaitu mereka adalah orang-orang yang akan dikenai Instruksional secara tepat. Informasi yang berguna yang akan didapat meliputi (1). Entry behaviour (Perilaku awal), (2). Pengetahuan awal tentang topik tertentu, (3). Sikap terhadap isi dan sistem penyampaian, (4). Motivasi belajar, (5). Tingkat pendidikan dan kemampuan, (6). Pembelajaran yang disukai, (7). Sikap terhadap pengelolana pemberian Instruksional, dan (8). Karakteristik kelompok. Paragraf berikut akan membahas secara lengkap informasi tersebut. 1) Perilaku Masukan.

Perilaku masukan maksudnya anggota populasi sasaran harus telah menguasai keterampilan tertentu sebelum proses Instruksional dimulai. Pada peta konsep perilaku masukan berada di bawah garis entry behaviors. 2) Pengetahuan Sebelumnya Tentang Topik. Menekankan pentingnya menentukan apa yang peserta didik sudah tahu tentang topik yang akan diajarkan secara parsial. Mereka membangun pengetahuan baru dengan membangun pemahaman mereka sebelumnya, sehingga hal ini sangat penting bagi desainer untuk menentukan jangkauan dan sifat pengetahuan sebelumnya. 3) Sikap Terhadap Isi dan Sistem Penyampaian. Sikap atau kesan pebelajar terhadap isi materi dan bagaimana akan disajikan akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Harapan populasi tentang cara penyampaian materi akan menimbulkan motivasi. 4) Motivasi Akademik. Tingkat motivasi pebelajar merupakan faktor yang sangat penting dalam mencapai pembelajaran yang sukses. Ketika pebelajar mempunyai tingkat motivasi atau interest yang rendah terhadap topik tertentu, pembelajaran hampir tidak terjadi. Keller (1987) mengembangkan sebuah model motivasi ARCS (perhatian, relevansi, kepercayaan dan kepuasan) yang diperlukan dalam kesuksesan belajar tersebut. 5) Pendidikan Dan Tingkat Kemampuan. Menentukan tingkat prestasi dan kemampuan umum pebelajar. Informasi ini akan membantu mendapatkan gambaran jenis pengalaman pembelajaran yang mereka alami dan mungkin kemampuan mereka dalam mengatasi masalah terhadap pendekatan baru dan berbeda dalam pembelajaran. 6) Pembelajaran yang disukai. Temukan keterampilan belajar dan kesukaan serta minat pebelajar untuk mendapatkan model pembelajaran yang sesuai. Dengan kata lain, apakah pebelajar menyukai pendekatan ceramah atau diskusi dalam belajar atau apakah mereka mengalami pendekatan belajar yang lain seperti studi kasus, pembelajaran berbasis masalah, kelas seminar atau pembelajaran mandiri melalui web site. 7) Sikap Terhadap Organisasi Pelatihan / Pendidikan Populasi sasaran yang mempunyai sikap positif dan konstruktif terhadap organisasi yang menyediakan belajar. Beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa sikap-sikap yang menunjang terhadap kesuksesan pembelajaran adalah berkaitan dengan keterampilan baru yang dapat diterapkan di tempat kerja. 8) Karakteristik Kelompok.

Analisa pebelajar secara benar akan menghasilkan dua jenis informasi tambahan yang dapat mempengaruhi dalam merancang pembelajaran. Pertama, tingkat keragaman populasi pebelajar. Kedua, interaksi langsung yang terjadi pada populasi pebelajar. Hal ini untuk mendapatkan dan mengembangkan kesan terhadap apa yang mereka ketahui dan bagaimana perasaan mereka. Semua Variabel pembelajar ini akan digunakan untuk memilih dan mengembangkan tujuan Instruksional, dan mereka akan sangat mempengaruhi berbagai komponen dari siasat Instruksional. Mereka akan membantu para desainer mengembangkan strategi motivasi untuk Instruksional dan akan menyarankan berbagai jenis contoh yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan poin, cara-cara di mana belajar dapat (atau tidak) akan disajikan, dan cara untuk membuat praktek keterampilan yang relevan bagi pembelajar. Mengumpulkan Data untuk Analisis Learner Pengumpulan data tentang pembelajar dilakukan dengan melakukan wawancara terstruktur dengan manajer, instruktur, dan peserta didik dengan pola survei dan kuesioner. Bisa juga dengan mengelola pretest untuk mengetahun perilaku masukan pembelajar. Keluaran Hasil dari analisis pebelajar termasuk deskripsi tentang peserta didik (1) entry sebelumnya perilaku dan pengetahuan tentang topik, (2) sikap terhadap konten dan potensi sistem pengiriman, (3) motivasi akademik, (4) sebelum pencapaian dan tingkat kemampuan, (5) belajar preferensi, (6) umum sikap terhadap organisasi memberikan pelatihan, dan (7) karakteristik kelompok.

1. 2. Analisis Konteks Performansi (Analysis of Performance Context)


Analisis Kontek Performasi adalah analisa untuk mengetahui lingkungan pebelajar dimana akan menerapkan keterampilan tersebut. Berdasarkan perspektif konstruktif, analisa konteks yang dilakukan secara benar dapat membantu para perancang dalam menciptakan elemen-elemen yang tepat dalam lingkungan belajar dan membantu pebelajar dalam mengembangkan konsep yang optimal untuk belajar dan mengingat. 1). Pengelolaan atau Dukungan Supervisor Kita harus belajar tentang pengorganisasian yang mendukung terhadap pengharapan pebelajar untuk menerima keterampilan-ketrampilan tersebut. Penelitian menegaskan bahwa satu indikator kuat dalam penggunaan keterampilan baru tersebut adalah pengaturan (disebut Transfer of training) yang harus diterima oleh pebelajar. 2). Aspek Fisik Aspek fisik dimana keterampilan tersebut akan diterapkan adalah apakah mereka menggunakannya berdasarkan perlengkapan, fasilitas, peralatan, waktu, atau sumber-sumber yang lain ? Data-data ini dapat digunakan untuk merancang sebuah pembelajaran sehingga keterampilan tersebut dapat diterapkan pada lingkungan atau situasi yang mirip dengan tempat kerja.

3). Aspek Sosial Pemahaman terhadap konteks sosial seperti bekerja sendiri atau merupakan anggota tim? Apakah pebelajar bekerja secara mandiri atau apakah mereka bekerja mempresentasikan konsep atau idenya dalam pertemuan staf atau supervisor ? 4). Keterampilan Yang Relevan Dengan Tempat Kerja. Untuk memastikan bahwa keterampilan baru yang akan diterima oleh pebelajar sesuai dengan kebutuhan yang sudah diidentifikasi, kita seharusnya memprediksikan keterampilan-ketrampilan yang relevan yang akan dipelajari oleh pebelajar tersebut dengan situasi tempat mereka bekerja. Pengumpulan Data untuk Pelaksanaan Analisis Konteks Pengumpulan data dilakukan dengan kunjungan langsung ke lokasi yang tujuannya mengumpulkan data dari para pebelajar dan pengelola yang potensial dan mengamati lingkungan kerja, dimana keahlian-keahlian baru akan digunakan. Rangkaian prosedur pengumpulan data dasar ini mencakup wawancara dan observasi. Hasil utama penelitian pada tahap ini adalah (1) suatu deskripsi lingkungan fisik dan organisasi, dimana keahlian tersebut digunakan, dan (2) rangkaian faktor khusus yang memudahkan atau bercampur dengan pemanfaatan keahlian baru oleh para pebelajar..

1. 3. Analisis Konteks Pembelajaran (Analysis of Learning Environment)


Terdapat dua aspek untuk analisis konteks pembelajaran, yaitu menentukan apa dan bagaimana seharusnya. Apa di sini adalah suatu tinjauan kondisi yang mana instruksi tersebut terjadi. Hal ini mungkin hanya terjadi di satu lokasi, seperti suatu pusat pelatihan bersama, atau salah satu dari banyaknya lokasi yang dihadiri oleh seorang klien. Bagaimana seharusnya di sini dapat berupa fasilitas, perlengkapan, dan sumber yang cukup mendukung instruksi yang diinginkan. Dalam analisis konteks pembelajaran, fokusnya meliputi unsur-unsur berikut ini: 1). Penyesuaian lokasi dengan Kebutuhan Instruksional Dalam pernyataan sasaran instruksional yang dirancang pada tahap awal model ini, peralatan dan item pendukung lainnya juga diperlukan untuk menunjukkan sasaran yang disusun. Apakah lingkungan pembelajaran yang Anda kunjungi mencakup sasaran-sasaran ini? Dapatkah lingkungan tersebut sesuai dengan sasaran yang ada? 2. Penyesuaian Lokasi untuk Mendorong Lokasi Kerja. Persoalan lain adalah penyesuaian lingkungan pelatihan dengan lingkungan kerja. Dalam lingkungan pelatihan, suatu upaya yang harus dilakukan untuk mendorong faktor-faktor dari lingkungan kerja yang secara kritis memang untuk ditampilkan. Apakah hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan dalam konteks pelatihan yang telah dirancang? Apakah yang harus diubah atau ditambahkan? 3). Penyesuaian untuk Pendekatan Penyampaian

Susunan kebutuhan peralatan dari pernyataan sasaran menunjukkan bagaimana seharusnya berkaitan dengan konteks pembelajaran, dan juga, konteks pelaksanaan. 4). Batasan-batasan Lokasi Pembelajaran yang Mempengaruhi Rancangan dan Penyampaian. Seorang instruktur mengajar dua puluh hingga dua puluh empat pebelajar dalam suatu ruang kelas yang masih menggunakan metode pelatihan bersama. Pendidikan umum sendiri dipimpin oleh guru dengan dua puluh hingga dua puluh empat pebelajar. Meskipun demikian, sejumlah pendekatan instruksional-mandiri dan fasilitas telah tersedia, dan lebih banyak instruksi akan disampaikan pada suatu komputer kerja yang mencakup sistem pendukung pelaksanaan elektronik. Ketika sistem-sistem ini menjadi lebih mampu dan tersedia untuk penggunaan pelatihan, maka prinsip-prinsip rancangan sistematis akan menjadi lebih diterapkan, bahkan untuk pengembangan instruksi yang efisien dan efektif. Pengumpulan Data untuk Analisis Konteks Pembelajaran Dalam banyak cara, analisis konteks pembelajaran bersifat sama terhadap lokasi kerja. Tujuan utama analisis ini adalah untuk mengenali fasilitas dan batasan yang ada dari lokasi tersebut. Prosedur yang diikuti dalam menganalisa konteks pembelajaran adalah untuk merencanakan wawancara dengan instruktur, pengelola lokasi, dan pebelajar, jika memungkinkan. Begitu juga dengan analisis konteks pelaksanaan, maka rangkaian pertanyaan wawancara juga harus disiapkan. Hasil-hasil pokok dari analisis konteks pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (1) sebuah deskripsi tentang sejauh mana tingkat lokasi yang digunakan untuk menyampaikan pelatihan dengan keahlian yang diperlukan untuk beralih ke lokasi kerja, dan (2) sebuah susunan batasan yang akan menjadi implikasi-implikasi penting untuk proyek.

1. C. Hasil Pengembangan
1.
No

Analisis Pebelajar
Kategori informasi Sumber Data Diskripsi Karakteristik Pebelajar

Entry Behavior

Pembelajaran langsung Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar sudah mampu menggunakan gunting menggunakan pisau potong , memotong kertas, mengelem, mencari bahan dari barang bekas.

Sikap terhadap Materi dan sistem penyajian

Pembelajaran langsung Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

Pebelajar sudah mengetahui dan menyukai pembuatan kartu ucapan dan praktik membuatny

Motivasi

Pembelajaran langsung

Pebelajar memiliki motivasi yang tinggi terhadap

Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri 4 Pendidikan dan Tingkat Kemampuan Pembelajaran langsung Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri Interview 5 Gaya Belajar Pembelajaran langsung Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri 6 Sikap terhadap Lembaga Pembelajaran langsung Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri 7 Karakteristik Kelompok Umum Pembelajaran langsung Ujian Rekaman Ujian Pengalaman sendiri

materi pembuatan kartu ucapan.

Pembelajarnya adalah murid yang sudah duduk kelas VII SMP Negeri 13 Bandarlampung. Kemampuan pebelajar agak beragam mengenai materi pembuatan kartu ucapan.

Pebelajar lebih suka diberikan demonstrasi pembuatan kartu ucapan

Pebelajar pada umumnya bersikap potif terhada lembaga.

Heterogernitas: Pebelajar memiliki latar belakan yang berbeda. Rata-rata usia peserta didik 11 tahun 13 tahun. Ukuran : Jumlah pebelajar kelas VII berjumlah orang.

Kesan Menyeluruh: Pebelajar memiliki kesan ya baik untuk menyelesaikan tugas dan penilaian.

2.
No

Analisis Konteks Performansi


Kategori informasi Sumber Data Karakteristik Pebelajar

Dukungan Kepala Sekolah

Pembelajaran langsung

Penghargaan: Kepala sekolah memberikan rewa pada pebelajar. Bentuknya berupa reinforcement set ifikat atau piagam.

Aspek fisik dari performansi tempat

Pengalaman pribadi pebelajar

Sekolah menyiapkan fasilitas, sarana prasarana, waktu untuk pebelajar. Pebelajar bertanggungjawab untuk menyiapkan seluruhnya

Aspek sosial

Pengalaman pribadi pebelajar

Interaksi: Pebelajar langsung belajar dilokasi yan berbeda dan didukung oleh kelompok kerja atau keluarga atau kawannya yang tahu materi pembuatan kartu ucapan.

Aspek relevansi skills to workplace. (.5)

Pengalaman pribadi pebelajar

Identifikasi Kebutuhan: Pebelajar membutuhkan Identifikasi kebutuhan yang diperlukan untuk pembuatan kartu ucapan.

Aplikasi: Pebelajar mengidentifikasi bahan dan a

yang dibutuhkan untuk membuat kartu ucapan.

Aplikasi yang akan datang: Pebelajar dapat membu dan memprodusikan kartu ucapan untuk mengembangkan kreatifitas, produktofitas, dan aspek ekonomis.

3.

Analisis Konteks Pembelajaran

1.
No 1 Kategori informasi Lokasi/ tempat Belajar Sumber Data Pengalaman priba i pebelajar Karakteristik Pebelajar

Pebelajar melengkapi t!gas belajar ari r!ma" . Pebelajar mengerjakan t!gasn#a ari pengalaman #ang berbe a alam pemb!atan kart! !$apan.

%eses!aian keb!t!"an pembelajaran

Pengalaman priba i pebelajar

&trategi pembelajaran' Pebelajar melengkapi t!ga belajar ari r!ma" . Pebelajar mengerjakan t!gasn ari pengalaman #ang berbe a alam pemb!atan kart! !$apan (akt!' Pertem!an 3 kali ) 40 menit. Peserta ' 32 orang Lokasi ' &*P negeri 13 Ban arlamp!ng

%eses!aian keb!t!"an pebelajar

Pengalaman priba i pebelajar

Lokasi' &*P negeri 13 Ban arlamp!ng %en#amanan' Pebelajar merasa n#aman/ senang belajar i sekola" +!ang' %elas ,-Pelengkapan' .!nting/ pisa! kater/ kertas/ lem/ bakan bekas lainn#a.

%ela#akan tempat belajar

Pengalaman priba i pebelajar

%arakteristik Penga0as ' Pebelajar mengat!r irn sen iri alam proses belajar . %arakteristik 1isik' 2empat belajarn#a baik.

%arakteristik sosial' 3!b!ngan / kom!nikasi antar sis0a an g!r! baik

Muhamad Khotib, guru SMA Muhammadiyah 1 Sekampung Udik Lampung Timur Tri Wahyu Handoyo, Guru SMAN 1 Gunung Pelindung Lampung Timur Suyono, Guru SMAN 2 Way Tenong Lampung Barat Wahyuni Satiawati, Guru SMPN 13 Bandar Lampung Rita Ambarwati, Guru SMA Teladan Bandar Lampung Pasca Teknologi Unila 2009.

Langkah ke-4 MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL ( Write Instructional Goal ) disusun oleh : muhamad khotib, triwahyu handoyo, suyono wahyuni satiawati, rita ambarwati (Mahasiswa Pasca TP Unila 2009) A. Latar Belakang Komponen yang paling terkenal dalam model desain pembelajaran adalah menulis tujuan performansi, atau sering disebut dengan behavioral objectives (tujuan perilaku). Robert Mager (1962). Tujuan penulisan tujuan performansi adalah untuk menjawab pernyataan tentang kemampuan apa yang akan dilakukan pebelajar ketika mengikuti dan menyelesaikan proses pembelajaran. Ketika guru dilatih untuk merumuskan tujuan intruksional khusus, terhadap dua kesulitan utama yang dihadapi ketika proses mendefinisikan tujuan tidak termasuk dalam komponen yang integral pada model desain pembelajaran. Pertama, tanpa sebuah model yang jelas para guru menemui kesulitan untuk menentukan bagaimana memperoleh tujuan pembelajaran. Meskipun para pengajar dapat menguasai mekanisme penulisan tujuan, tidak ada konsep dasar yang dapat mengarahkan dalam mendapatkan tujuan. Sebagai hasilnya beberapa guru kembali kepada isi yang terdapat dalam teks books untuk mengidentifikasi topik-topik yang akan mereka tulis sebagai behavioral objectives. Kedua, mungkin lebih sebagai kritikan adalah apa yang dilakukan dengan tujuan tersebut setelah ditulis oleh para guru. Tujuan ini hanya sebatas tulisan yang hanya berfungsi sebagai dokumen administrasi bagi seorang guru. B. Konsep Pengembangan

1. Tujuan Performansi (Performance Objective) Tujuan Performansi adalah sebuah gambaran detail tentang apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar setelah menyelesaikan pembelajaran. Titik pertama mengacu pada 3 istilah yang sering digunakan ketika mendeskripsikan performance pebelajar. Robert Mager 1975 pertama kali mengunakan istilah behavioral objectives , performance objectives dan instructional objectives. Anda seharusnya tidak memiliki pengertian yang keliru mengenai instructional objectives. Instructional objectives menggambarkan jenis pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang akan dipelajari oleh pebelajar. Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya tujuan instruksional mendeskripsikan mengenai apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar ketika mereka menyelesaikan materi pembelajaran. Hal ini mendeskrpsikan situasi nyata, situasi belajar diluar, dimana pebelajar akan menggunakan keterampilan dan pengetahuan tersebut. Ketika tujuan intruksional umum di ubah dalam Tujuan Kinerja disebut sebagai terminal objektif. Terminal objektif mendeskripsikan secara jelas apa yang akan dapat dilakukan oleh pebelajar ketika pebelajar menyelesaikan satu unit pembelajaran. Performance objective diperoleh dari keterampilan dalam analisis intruksional. Satu atau lebih objective seharusnya ditulis dalam setiap skill yang di identifikasi dalam analisis instruksional. Kadang-kadang penulisan objektif tersebut di indetifikasikan sebagai entry behavior (sikap awal) karena objektif merupakan dasar pengembangan tes item untuk menentukan apakah pelajar memilki entry behavior seperti yang telah kita asumsikan. 2. Komponen Tujuan. Bagaimana objektif ditulis sebagai goal statement, langkah-langkah dalam tujuan, subordinat skill dan entry behavior ? karya Robert Mager selanjutnya dijadikan sebagai standar dalam pengembangan objektif, model tersebut merupakan pernyataan yang meliputi tiga komponen utama,

yaitu : kemampuan yang diukur, kondisi yang menjadi syarat, dan kriteria penilaian. 1). Derivations of Behaviors (Prilaku)

Dalam penyusunan tujuan diperlukan kata kerja operasional yang terukur dari masing masing ranah ( Kognitif, psikomotor, dan afektif). Penulisan tujuan ini harus mampu mengungkapkan jenis perilaku yang dirumuskan melalui proses identifikasi dalam analisis instruksional. Keterampilan intelektual dapat dijelaskan dengan kata kerja operasional seperti mengidentifikasi, mengklasifikasi, menunjukkan, atau menghasilkan. Kata kerja ini mengacu pada kegiatan khusus seperti sebagai pengelompokan objek serupa, membedakan satu hal dari yang lain, atau memecahkan masalah. ( Golas, dan Keller , 2004) Gagne tidak menggunakan kata kerja seperti tahu, mengerti, atau menghargai karena kata kerja itu sulit untuk diukur. Tujuan performansi yang berhubungan dengan keterampilan psikomotorik dapat dilakukan dengan memilih kata kerja yang dinyatakan dalam bentuk perilaku (misalnya, berlari, melompat, menari , atau mengemudi). Ketika tujuan melibatkan aspek sikap, pelajar biasanya diharapkan untuk memilih alternatif tertentu. Di sisi lain, hal itu mungkin melibatkan pelajar membuat pilihan dari di antara berbagai kegiatan. 2). Derivations of Conditions (Kondisi)

Komponen kedua dari tujuan menetapkan kondisi-kondisi tertentu yang menjadi bagian dari tujuan tersebut. Kondisi mengacu pada lingkungan dan sumber-sumber yang tersedia pada saat tujuan ditetapkan. Dalam pemilihan kondisi yang tepat mempertimbangkan baik perilaku yang di capai maupun karakteristik populasi target anda juga membedakan fungsifungsi dari kondisi tersebut, fungsi tersebut meliputi :

a.

Syarat-syarat yang disediakan dimana siswa akan mengunakannya

dalam mendapatkan informasi (stimulus). b. Karakteristik dari sumber-sumber materi yang di perlukan untuk

mengerjakan tugas. Beberapa sumber materi sebagai berikut; Ilustrasi seperti table, grafik, Materi tertulis seperti; artikel surat kabar, story, Objek secara fisik seperti batu, daun, mesin atau alat Materi referensi, kamus, teks book, data base, web c. Cakupan dan kompleksitas tugas, menyesuaikan dengan kemampuan

dan pengalaman siswa. d. Konteks yang relevan dengan dunia nyata adalah untuk membantu

transfer pengetahuan dan penampilan dari pengajaran kedalam kinerja. 3). Derivations of Criteria

Bagian akhir dari objektif adalah kriteria dalam memutuskan keterampilan performance yang dapat diterima. dalam menetapkan kriteria yang logis, anda harus mempertimbangkan tugas yang dilaksanakan. Beberapa tugas intelectual skill dan verbal information hanya mempunyai satu respon yang dianggap benar. Beberapa tugas intelectual skill dan verbal information tidak menghasilkan jawaban tunggal dan respon siswa yang bervariasi. 3. Langkah Penulisan Tujuan. Disamping menentukan tujuan dan seperangkat instruksional yang sesuai dengan analisis konteks, para desainer seharusnya mereview pernyataan tujuan sebelum menetapkan tujuan. Langkah-langkah dalam menulis tujuan adalah sebagai berikut : 1. Edit tujuan untuk merefleksikan performance konteks.

2. Tulis terminal objective yang mencerminkan konteks learning environment. 3. Tulis tujuan untuk setiap langkah dalam analisis tujuan jika tidak terdapat substep. 4. Tulis tujuan untuk setiap substep. 5. Tulis tujuan untuk seluruh subordinate skill. 6. Tulis tujuan untuk entry behaviour jika terdapat siswa yang tidak memiliki kompetensi yang tercakup dalam entry behavior. 4. Evaluasi Tujuan. Cara yang baik untuk mengevaluasi kelayakan kejelasan dan tujuan yang telah ditulis adalah untuk membangun sebuah item tes yang akan digunakan untuk mengukur peserta didik dalam pencapaian tugas. Jika tidak dapat menghasilkan barang logis sendiri, maka tujuan harus dipertimbangkan kembali. Cara lain untuk mengevaluasi kejelasan tujuan adalah dengan meminta seorang rekan untuk membangun tes item yang sama dan sebangun dengan perilaku dan kondisi yang ditentukan. Jika item tidak diproduksi sangat mirip dengan salah satu yang ada dalam pikiran, maka tujuan tidak cukup jelas untuk berkomunikasi . Di juga harus mengevaluasi kriteria yang telah ditetapkan dalam tujuan. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria untuk mengevaluasi contoh-contoh yang ada kinerja yang diinginkan atau respons. Sementara tujuan menulis, perancang harus sadar bahwa pernyataanpernyataan ini kriteria yang akan digunakan untuk mengembangkan penilaian untuk pengajaran. Perancang mungkin lagi memeriksa kejelasan dan kelayakan tujuan dengan bertanya, Bisakah desain item atau tugas yang menunjukkan apakah seorang pelajar dapat berhasil melakukan apa yang digambarkan dalam tujuan? Jika sulit membayangkan bagaimana hal

ini dapat dilakukan dalam fasilitas yang ada dan lingkungan, maka tujuan harus dipertimbangkan kembali. Saran bermanfaat lainnya adalah sebaiknya tidak ia enggan untuk menggunakan dua atau bahkan tiga kalimat untuk secara memadai menggambarkan tujuan Tidak ada persyaratan untuk membatasi tujuan ke satu kalimat. Diasumsikan bahwa siswa akan mempelajari bahan-bahan sebelum melakukan keterampilan. C. Hasil Pengembangan Tujuan Istructional : Mengapresiasi karya seni rupa
No Keterampilan Subordinat Tujuan Performansi

1.1 Siswa dapat mengekspresikan karya seni rupa

1. Dengan menyiapkan bahan dan alat siswa yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

1.2 Siwa dapat membuat karya seni kriya berupa kartu ucapan dengan memanfaatkan barang bekas dilingkungannya

2. Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan kriya.

3. Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

4. Melalui eksplorasi tentang bahan bahan bek macam-macam bahan bekas untuk membuat ka

5. Dengan mengamati beberapa contoh pola / siswa dapat membuat desain kartu ucapan.

6. Dengan latihan menbuat pola kartu ucapa bagian-bagian kartu ucapan.

7. Melalui kerja kelompok siswa dapat mreng kartu ucapan.

8. Melalui kerja kelompok siswa dapat meny kartu ucapan

Langkah ke-5 MENGEMBANGKAN INSTRUMENT PENILAIAN ( Develop Assessment Instruments ) disusun oleh : muhamad khotib, triwahyu handoyo, suyono wahyuni satiawati, rita ambarwati (Mahasiswa Pasca TP Unila 2009) A. Latar Belakang Konsep baru dalam pengukuran proses pembelajaran yang berpusat pada pembelajar (learnedcentered) adalah penilaian yang berpusat pada pembelajar (learner-centered assessment ). Definisi learner-centered assessmentsejajar dengan definisi tradisional test acuan patokan, sebagai element inti dari pembelajaran yang didesain secara sistematis. Tipe test ini penting untuk mengevaluasi perkembangan pebelajar dan kualitas pembelajaran. Hasil dari tes acuan patokan memberikan indikasi instuktur seberapa baik pebelajar mampu mencapai setiap tujuan pembelajaran, dan mengindikasikan komponen mana dari pembelajaran yang bisa berjalan dengan baik, dan komponen mana yang perlu direvisi. Selain itu juga, tes acuan patokan memungkinkan pebelajar untuk merefleksikan diri dengan mengaplikasikan kriteria untuk menilai hasil kerja mereka sendiri. Berhubungan dengan hal tersebut di atas perlu dibahas bagaimana menyusun dan membangun aspek penilaian dalam pembelajaran yang mencakup semua jenis kegiatan yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik setelah menyelesaikan unit pembelajaran. B. Konsep Pengembangan Pengembangan tes muncul di point ini dan bukannya di setelah pembelajaran karena tes harus sesuai dengan tujuan performance. Performance yang ingin dicapai dalam tujuan harus sesuai dengan performance yang ingin dicapai dalam tes atau penugasan. Penilaian acuan patokan terbentuk dari item-item atau tugas-tugas performance yang langsung mengukur ketrampilan yang dideskripsikan dalam satu atau lebih tujuan performance. 1. Empat Tipe Tes yang dapat digunakan. a. Entry behaviors test

Tes ini diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur ketrampilan syarat atau ketrampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior. b. Pretest

Tes ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua ketrampilan yang akan diajarkan. Tujuannya adalah untuk efisiensi. Jika

semua ketrampilan sudah dikuasai maka tidak perlu ada pembelajaran. Namun jika hanya sebagian materi yang sudah dikuasai maka data tes ini memungkinkan desainer untuk lebih efisien. Mungkin hanya review atau pengingat yang dibutuhkan. Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar. c. Practice test

Tujuan tes ini adalah untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran. Tes ini memungkinkan pebelajar untuk menampilkan pengetahuan dan ketrampilan baru dan untuk refleksi diri sampai level berapa ketrampilan dan pengetahuan mereka. Tes ini berisi ketrampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit. Hasil tes ini digunakan instruktur untuk memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran. d. Posttest

Tes ini paralel dengan pretes. Sama dengan pretes, posttest mengukur tujuan pembelajaran. Postest harus menilai semua objektif dan terutama fokus pada objektif terakhir. Namun jika waktu tidak memungkinkan, maka hanya tujuan akhir dan ketrampilan penting saja yang diujikan. Postest mungkin digunakan untuk menilai performance pebelajar dan untuk memberi kredit karena telah menyelesaikan program. Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa.
Test Type Tes entry behavior Designers decicion Objectives Typically Tested

Apakah siswa siap mengikuti pembelajaran? Apakah siswa telah memiliki ketrampilan prasarat? Ketrampilan prasarat atau keterampilan yang ditandai dalam analisis pembelajaran Apakah pembelajar menguasai materi sebelumnya ? Ketrampilan manakah yang sebelumnya dikuasai ? Bagaimana dapat efesian mengembangkan pembelajaran ? Objek akhir Langkah utama dari analisis tujuan Apakah siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan?

Pretest

Practice test


Posttest

Apakah kesalahan dan miskonsepsi mereka bentuk? Apakah pembelajaran cukup kluster? Apakah langkah pembelajaran cukup bagi pembelajar? Pengetahuan dan ketrampilan sub objek tanpa tujuan Tipe skop pada pelajaran Apakah pembelajar telah mencapai tujuan? Apaka pembelajaran lebih efektif pada setisp lsngkah ketrampilan subordinate? Apakah pembelajaran perlu direvisi? Apakah pembelajar menguasai ketrampilan dan sikap ? Tujuan akhir Langkah utama dan ketrampilan subordinate

2. Mendesain Tes Pertimbangan pertama adalah menyesuaikan bidang pelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian. Verbal information biasanya di tes dengan objectif tes. Tes bentuk objektif meliputi format seperti jawaban singkat, jawaban alternatif, mencocokkan, dan pilihan ganda. Objektif untuk intelektual skill lebih kompleks dan biasanya menggunakan model objektif, kreasi produk atau pertunjukan langsung. Penilaian untuk ranah afektif juga kompleks. Biasanya tidak ada cara langsung untuk mengukur tingkah laku seseorang. Penilaian di ranah ini biadanya dilakukan dengan observasi. Penilaian ranah psikomotor biasanya dilakukan dengan mendemonstrasikan tugas. Untuk melihat apakah setiap langkah telah dilakukan dengan baik oleh pebelajar, guru membuat checklist atau rating-scale.

1. 3. Menentukan Level Penguasaan


Peneliti yang meneliti sistem penguasaan pelajaran menyarankan bahwa penguasaan equivalent dengan level keberhasilan yang diharapkan dari pebelajar yang terbaik. Metode untuk menentukan level penguasaan menggunakan acuan norma. Pendekatan yang kedua, bisa digunakan cara statistik. Jika desainer ingin memastikan bahwa pebelajar benar-benar mengerti ketrampilan sebelum mereka melanjutkan tahap pembelajaran selanjutnya, maka kemungkinan-kemungkinan harus disediakan untuk menampilkan ketrampilan sehingga hampir tidak mungkin keberhasilan menjadi hasil utama. Jika menggunakan soal pilihan ganda sangat mudah untuk menghitung probabilitas kesempatan keberhasilan. Dengan tipe soal yang lain, lebih sulit dilakukan penghitungan tapi lebih mudah untuk meyakinkan orang lain bahwa keberhasilan bukan sekedar kesempatan saja

4. Menulis Item Tes Ada empat kategori tes yang berkualitas, yaitu: a. Berpusat pada Tujuan (Goal-Centered Criteria) Soal tes dan penugasan harus sesuai dengan tujuan utama pembelajaran. Soal dan penugasan harus sesuai dengan perilaku termasuk konsep dan action. Untuk menyesuaikan jawaban soal tes dengan perilaku yang diharapkan dalam tujuan, desainer harus mempertimbangkan tugas belajar atau kata kerja yang ditunjukkan dalam tujuan. Butir soal harus mengukur perilaku yang sesungguhnya yang dideskripsikan dalam tujuan. b. Berpusat pada Pebelajar (Learner-Centered Criteria) Tes item dan penilaian tugas harus disesuaikan dengan kharakteristik dan kebutuhan siswa, meliputi kosa kata, bahasa, tingkat kompleksitas tugas, motivasi siswa, dan tingkat ketertarikan siswa, pengalaman siswa, dan latar belakang siswa serta kebutuhan khusus siswa. c. Berpusat pada Kontek (Context-Centered Criteria) Dalam membuat tes item dan penilaian tugas, desainer harus mempertimbangkan seting kinerja dan juga lingkungan belajar atau lingkungan kelas. Tes item dan tugas harus realistis atau relevan dengan seting kinerja. Kriteria ini membantu untuk memastikan transfer pengetahuan dan skill dari belajar ke dalam lingkungan kinerja. d. Berpusat pada Penilaian (Assessment-Centered Criteria) Siswa akan merasa cemas selama assessment, penyusunan tes item dan penilaian tugas yang baik dapat menghilangkan rasa cemas siswa. Cetakan tes yang berkualitas meliputi kebahasaan baik, pengucapan dan tanda baca tepat dan tulisan jelas, petunjuk jelas, sumber materi dan pertanyaan jelas. Kriteria ini membantu siswa untuk melakukan dengan tenang.

1. Seting Penguasaan Kriteria


Terdapat beberapa saran yang dapat membantu anda dalam menentukan berapa banyak tes item pilihan yang diperlukan. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa

1. Jenis-jenis Item
Pertanyaan penting lainnya adalah jenis tes item atau penilaian tugas apa yang paling baik dalam menilai kinerja siswa? Perilaku tertentu dalam objektif memberikan point-point penting terhadap jenis item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji perilaku. Contoh, jika point penting yang ditanyakan kepada siswa adalah mengingat fakta, maka tanyakan kepada siswa tersebut dengan jawaban siswa yang menyatakan fakta-fakta daripada memberikan pertanyaan yang meminta reaksi siswa seperti pada pertanyaan pilihan ganda.

gunakan objektif sebagai guide, dalam menyeleksi jenis tes item yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan kinerja tertentu yang terdapat dalam objektif. Setiap jenis test items mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Untuk meyeleksi jenis tes items yang baik dari beberapa format test item yang ada, pertimbangkan beberapa faktor seperti faktor waktu yang diperlukan oleh siswa dalam memberikan respon, waktu penilaian yang diperlukan untuk menganalisis dan memutuskan jawaban, suasana ujian, dan kemungkinan dalam menebak jawaban yang benar.

1. Menulis Petunjuk
Test harus terdapat petunjuk yang jelas, singkat. Permulaan tes biasanya menyebabkan kecemasan pada siswa yang akan dinilai. Oleh karena itu tes seharusnya mengurangi keraguan pada pikiran siswa mengenai apa yang akan mereka kerjakan dalam menyelesaikan test. Dibawah ini informasi petunjuk test yang biasanya ditemukan dalam test : a. Judul test seharusnya memberikan kesan kepada siswa mengenai content atau isi daripada

kata-kata sederhana seperti Pretest atau Test I b. c. Pernyataan singkat yang menerangkan objective atau performance yang diujikan. Siswa diberitahu untuk menebak jawaban jika mereka tidak yakin dengan jawaban yang

benar. d. e. f. Petunjuk khusus seharusnya diucapkan dengan benar. Siswa diberitahu agar menulis nama mereka atau identitas mereka. Siswa seharusnya diberitahu mengenai penggunaan perlengkapan khusus dalam

menyelesaikan test seperti penggunan pensil, lembar jawaban mesin, teks-teks tertentu atau perlengkapan khusus lainnya.

1. Mengevaluasi Test dan Item Test.


Arah dan uji test item untuk tes objektif harus diujicobakan terlebih dulu sebelum digunakan untuk evaluasi formatif. Agar tidak terjadi kesalahan pada instrumen tes , perancang harus memastikan hal hal berikut: 1. 2. arah tes jelas, sederhana, dan mudah diikuti; masing-masing item tes jelas dan menyampaikan kepada peserta didik yang dimaksud

dipembentukan atau stimulus; 3. 4. kondisi-kondisi dimana dibuat tanggapan yang realistis; metode respon jelas bagi peserta didik; dan

5. ruang yang tepat, waktu, dan peralatan yang tersedia .

Test item yang tidak terjawab oleh sebagian besar pelajar harus dianalisis, direvisi, atau bahkan diganti sebelum tes diberikan lagi. Ketika membangun item tes, dan tes pada umumnya, perancang harus diingat bahwa tes mengukur kecukupan (l) pengujian itu sendiri, (2) bentuk tanggapan, (3) bahan-bahan pengajaran, (4) lingkungan pengajaran dan situasi, dan (5) pencapaian pelajar. C. Hasil Pengembangan Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas XII SMP Negeri 13 Bandar Lampung Sub Ketrampilan Intelektual
No Ketrampilan Tujuan Performance Test Item

Melalui eksplorasi tentang bahan bahan bekas siswa dapat menuliskan macam-macam bahan bekas untuk membuat karya seni kriya.

Tuliskan macam-macam bahan yang dapat digunakan dalam membuat kary seni kriya !

Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan bebrapa alat untuk membuat seni kriya.

Tuliskan 4 alat untuk membuat karya seni kriya!

Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas XII SMP Negeri 13 Bandar Lampung Sub Ketrampilan Psikomotor
Ads not by this site

No

Ketrampilam

Tujuan Performance

Test Item

Dengan menyiapkan bahan dan alat siswa dapat mengumpulkan bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

Kumpulkan bebrapa bahan untuk membuat kartu ucapan minimal 10 macam !

Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

Siapkan alat-alat yang digunakan unt pembvuatan kartu ucapan minimal 4 buah!

Dengan mengamati beberapa contoh pola / desain yang disiapkan guru siswa dapat membuat desain kartu ucapan.

Buatlah contoh pola/ desain kartu ucapan pada kertas gambar !

Dengan latihan mebuat pola kartu ucapan siswa dapat membuat bagian-bagian kartu ucapan.

Buatlah bagian-bagian pola sesuai dengan kartu ucapan .

Melalui kerja kelompok siswa dapat mrenggabubgkan bagian-bagian pola kartu ucapan.

Gabungkan bagian-bagian pola untun membentuk kartu ucapan!

Melalui kerja kelompok siswa dapat menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan

Buatlah finishing pembuatan kartu ucapan !.

Tujuan Instruksional 1.Siswa dapat mengapresiasikan karya seni rupa daerah. 2. Siswa dapat mengekspresikan diri karya seni rupa, musik, seni tari, dan seni teater. 2.1 Siswa dapat membuat karya seni kriya 2.2 Siswa dapat membuat kartu ucapan dengan memanfaatkan barang bekas dari lingkungan sekitar. Tabel Keputusan Perancang
No Test Type Keputusan Perancang

Tes entry behavior

Apakah siswa siap mengikuti pembelajaran? Apakah siswa telah memiliki ketrampilan prasyarat?

Pretest

Apakah pembelajar menguasai materi sebelumnya ? Ketrampilan manakah yang sebelumnya dikuasai ? Bagaimana dapat efesien mengembangkan pembelajaran ?

Practice test

Apakah siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan? Apakah kesalahan dan miskonsepsi mereka bentuk? Apakah pembelajaran cukup kluster? Apakah langkah pembelajaran cukup bagi pembelajar?

Posttest

Apakah pembelajar telah mencapai tujuan? Apakah pembelajaran lebih efektif pada setiap langkah ketrampilan subordinate? Apakah pembelajaran perlu direvisi? Apakah pembelajar menguasai ketrampilan dan sikap ?

Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas XII SMP Negeri 13 Bandar Lampung Tes Entry Behavior, Pretes, Practise Tes, dan Post tes
Ads not by this site

No

Test Type

Jenis Soal/ Pertanyaan

Tes entry behavior

Apakah siswa telah memiliki ketrampilan prasyarat? a. Apakah siswa sudah dapat memotong/ menggunting ? b. Apakah siswa sudah dapat melipat ?

c. Apakah siswa sudah dapat menggulung kertas ? 2 Pretest Apakah pembelajar menguasai materi sebelumnya ? a. Apakah siswa sudah dapat membuat kartu ucapan ? b. Apakah siswa sudah pernah membuat kartu ucapan? Ketrampilan manakah yang sebelumnya dikuasai a. Bagian manakah yang sulit dalam pebuatan kartu ucapan? b. Apa kesulitan dalam pembuatan kerangka? c. Apa kesulitan dalam pembuatan bagian tambahan / Asesoris ? d. Apa kesulitan dalam pewarnaan dan finishing? 3 Practice test Apakah siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan? a. Bahan bahan apa yang dibutuhkan dalam pembuatan kartu ucapan? b. Alat-alat apa yang dibutuhkan dalam pembuatan kartu ucapan? c.Bagaimana cara membuat kerangka kartu ucapan ? d. Bagaimana cara menggabungkan kerangka dengan aksesoris? e. Bagaimana cara kartu ucapan mewarnai dengan tepat? 4 Posttest Apakah pembelajar telah mencapai tujuan? a. Tuliskan bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan kartu ucapan ! b.Tuliskan alat-alat yang diperlukan dalam pembuatan kartu ucapan ! c.Buatlah kerangka pembuatan kartu ucapan! d. Buatlah kartu ucapan yang sudah melalui proses finishing!

Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas XII SMP Negeri 13 Bandar Lampung Sub Ketrampilan Intelektual
Ads not by this site

No

Ketrampilan

Tujuan Performance

Test Item

2.1

Melalui eksplorasi tentang bahan bahan bekas siswa dapat menuliskan macam-macam bahan bekas untuk membuat karya seni kriya.

Tuliskan macam-macam bahan yang dapat digunakan dalam membuat karya seni kriya !

2.1

Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan bebrapa alat untuk membuat seni kriya.

Tuliskan 4 alat untuk membuat karya sen kriya!

Tabel Desain Evaluasi Seni Rupa Kelas XII SMP Negeri 13 Bandar Lampung Sub Ketrampilan Psikomotor
No Ketrampilam Tujuan Performance Test Item

2.1

Dengan menyiapkan bahan dan alat siswa dapat mengumpulkan bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

Kumpulkan bebrapa bahan untuk membuat kartu ucapan minimal 10 macam !

2.1

Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.

Siapkan alat-alat yang digunakan untuk pembuatan kartu ucapan minim 4 buah!

2.2

Dengan mengamati beberapa contoh pola / desain yang disiapkan guru siswa dapat membuat desain kartu ucapan.

Buatlah contoh pola/ desain kartu ucapan pada kertas gambar !

2.2

Dengan latihan membuat pola kartu ucapan siswa dapat membuat bagian-bagian kartu ucapan.

Buatlah bagian-bagian pola sesuai dengan kartu ucapan .

2.2

Melalui kerja kelompok siswa dapat menggabungkan bagian-bagian pola kartu ucapan.

Gabungkan bagian-bagian pola untuk membentuk kartu ucapan!

2.2

Melalui kerja kelompok siswa dapat menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan

Buatlah finishing pembuatan kartu ucapan !.

Frekuensi Instrumen untuk Evaluasi Tingkah Laku / Sikap Nama : Tanggal Total
YES

: :
NO

Jumlah yang diobservasi :


ASPEK

A. Pendekatan Kustomer

1. Tersenyum

2. Inisiatif untuk menyapa

3. Komentar individu

4. Meminta izin

5. Pelayanan

6. Perhatian pada semua aspek

7. Lain-lain

B. Selama Kegiatan

1. Mendengarkan dengan penuh perhatian

2. Meminta klarifikasi informasi

3. Menyiapkan bentuk permintaan

4. Melengkapi formar

5. Menjelaskan perubahan

6. Menjelaskan urutan material

7. Lain lain

C. Kesimpulan

1. Menemukan pelayanan keseluruhan

2. Ucapan terimakasih

3. Menanggapi komentar

4. Membuat kesimpulan

5. Lain-lain

Muhamad Khotib, guru SMA Muhammadiyah 1 Sekampung Udik Lampung Timur Tri Wahyu Handoyo, Guru SMAN 1 Gunung Pelindung Lampung Timur Suyono, Guru SMAN 2 Way Tenong Lampung Barat Wahyuni Satiawati, Guru SMPN 13 Bandar Lampung Rita Ambarwati, Guru SMA Teladan Bandar Lampung

Langkah ke-6 MENGEMBANGKAN SIASAT PEMBELAJARAN ( Develop Instructional Strategy ) oleh : Muhamad Khotib, Tri Wahyu Handoyo, Suyono Rita Ambarwati, Wahyuni Satuawati A. Latar Belakang Kegiatan instruksional yang dilakukan para pengajar beraneka ragam. Ada pengajar yang memulai kegiatannya dengan menunggu pertanyaan dari siswa, ada yang aktif memulai dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa, ada pula yang mulai dengan memberikan penjelasan tentang materi yang akan diuraikan, dan ada yang memulai mengulangi penjelasan tentang materi yang lalu. Selanjutnya ada yang melanjutkan dengan kegiatan menjawab pertanyaan siswa, membentuk kelompok diskusi atau menggunakan program lain. Istilah startegi pembelajaran menyatakan berbagai jenis aktivitas belajar mengajar, seperti diskusi kelompok, membaca, studi kasus, perkuliahan, simulasi computer, lembar kerja, proyek kelompok kerjasama, dll. B. Konsep Pengembangan 1. Menyeleksi Sistem Penyampaian Sistem penyampaian merupakan bagian dari strategi pembelajaran, sistem penyampaian juga merupakan asumsi bahwa desainer terlibat dalam pengembangan strategi pembelajaran. Dalam kasus lain memilih system pembelajaran dapat juga berupa level, level bidang studi, ataupun level kurikulum. Berikut ini beberapa contoh system penyampaian yang umum dalam melaksanakan pembelajaran.
Model tradisional Korespondensi Kuliah kelompok besar yang diikuti dengan Tanya jawab.

Belajar jarak jauh dengan video tape atau siaran. Video conference interaktif dua arah Pembelajaran berbasis computer Pembelajaran berbasis web menggunakan internet atau intranet Program belajar mandiri dengan bantuan modul atau paket

pembelajaran.
Kombinasi system kebiasaan, kombinasi dan unik.

Dalam proses desain pembelajaran yang ideal, hal pertama yang dipertimbangkan adalah tujuan, karakteristik pembelajar, konteks dan performa pembelajaran, tujuan khusus, assessment (penilaian), dan memilih system penyampaian yang terbaik. Dan untuk mencapai memilih sistem penyampaian yang terbaik, semua komponen di atas harus dipertimbangkan: 1) 2) 3) 4) 5) Review analisis pembelajaran dan mengidentifikasi tujuan khusus Merencanakan dan mempelajari komponen pembelajaran Memilih kelompok siswa yang paling efektif Menspesifikasi bahan dan media efektif Menentukan tujuan dari materi pelajaran dan menggabungkan

pemilihan media. 6) Menyeleksi atau mengembangkan system penyampaian terbaik.

2. Menyusun Isi Materi dan Mengelompokkan Pembelajaran a. Merangkai Isi Langkah pertama dalam mengembangkan siasat pembelajaran adalah mengidentifikasi rangkaian pembelajaran dan pengaturan isi. Hal ini bisa mulai dari level skill yang paling bawah yaitu skill yang tepat di atas garis entri behavior kemudian naik terus mengikuti hierarki sampai ke yang paling tinggi. Rangkaian pembelajaran cenderung merupakan kombinasi

dari bawah ke atas atau dari kiri ke kanan. yaitu, subordinat skill langkah 1 diajarkan pertama kali, kemudian langkah 1, lalu yang berikutnya sub ordinat skill langkah 2,kemudian langkah ke 2 itu sendiri. Rangkaian ini berlangsung terus sampai semua langkah di ajarkan. b. Pengelompokkan Pembelajaran Satu rangkaian yang besar adalah pendekatan program pembelajaran linear yang cenderung merubah semua informasi ke dalam unit-unit kecil dan meminta respon terus menerus dari pembelajar, aktivitas dasar, atau anda ingin menampilkan informasi tersebut ke dalam bentuk beberapa tujuan terlebih dahulu pada berbagai aktivitas pebelajar. Anda harus mempertimbangkan 5 faktor dalam menentukan jumlah informasi yang akan ditampilkan (atau ukuran kelompok), yaitu :
Level usia pebelajar Kompleksitas materi Jenis-jenis pembelajaran Variasi aktivitas. Jumlah waktu tersedia.

3. Komponen Belajar dalam Siasat Pembelajaran Konsep dasar dalam strategi pembelajaran adalah peristiwa pembelajaran yang dideskripsikan dalam condition of learning Gagne (1970). Dalam pandangan psikologi kognitif ada 9 event yang menghadirkan efektivitas mengajar eksternal yang mendukung mental proses pembelajaran internal, yaitu : Memperoleh perhatian, Menginformasikan tujuan pembelajaran, Menstimulasi ingatan dan prasyarat pembelajaran, Menampilkan materimateri, Menyediakan bimbingan pembelajaran, Menimbulkan performa, Memberikan feed back, Menilai kinerja, Memperkaya ingatan dan mentransfer. Dalam siasat pengajaran ada lima komponen utama:

1. Kegiatan pra instruksional ( pendahuluan ) 1. Perhatian dan Motivasi Pebelajar 2. Menjelaskan Tujuan 3. Menjelaskan dan Memastikan Pengetahuan PraSyarat 1. Isi presentasi / Penyajian Informasi 1. Uraian Materi 2. Contoh 3. Partisipasi pembelajar 4. 1. Praktek 2. Umpan Balikan 3. Penilaian 1. Tes Perilaku Masukan 2. PreTest 3. PosTest 4. Kegiatan Tindak lanjut 1. Remediasi (review) 2. Pengayaan

Adapun uraian dari kelima komponen tersebut sebagai berikut :


1. Kegiatan pra instruksional (pendahuluan) ; sebelum memulai

pembelajaran formal anda harus mempertimbangkan 3 faktor yaitu: motivasi pembelajar, menginformasikan apa yang akan harus mereka pelajari, memastikan bahwa mereka sudah mempunyai pengetahuan prasyarat sebelum memulai pembelajaran
2. Isi presentasi/ penyajian materi; disini anda harus menentukan

dengan tepat informasi konsep aturan dan prinsip-prinsip apa yang perlu diberikan pada pembelajar. Ini merupakan penjelasan dasar

dari unit-unit yang ada di dalamnya. Kesalahan utama yang sering terjadi dalam langkah ini adalah menyampaikan terlalu banyak informasi, khsususnya informasi yang tidak ada hubungannya dengan tujuan. Tidak hanya penting untuk mendefenisikan konsepkonsep baru, tetapi juga menjelaskan hubungan antar konsep-konsep tersebut. Anda juga perlu menentukan tipe dan jumlah contoh yang akan diberikan pada setiap konsep.
3. Partisipasi pebelajar; merupakan pemberian aktivitas yang

berhubungan langsung dengan tujuan. Pebelajar harus diberi kesempatan untuk mempraktekkan apa yang diinginkan, dan mampu dilakukan oleh mereka. Pembelajar seharusnya tidak hanya mampu mempraktekkan tetapi mereka juga harus memberi feed back.
4. Penilaian (assessment); empat kriteria dasar di dalam penilaian

sudah digambarkan didalam chapter 7, tes entry behavior, pre test, tes praktek, dan post test. Fungsi utama dari tes tersebut sudah digambarkan, tetapi disini sebagai seorang desainer anda harus memutuskan dengan tepat apa strategi anda. Pertama anda harus tahu bagaimana menggunakan tes praktek, lalu anda harus bisa memutuskan hal-hal berikut ini.
5. Kegiatan Tindak lanjut adalah kegiatan review keseluruhan dari

strategi untuk menentukan apakah memori/materi pembelajaran dan transfer perlu untuk diberikan. Pertanyaan ini bisa dijawab dengan mengulang kembali analisis konteks kinerja. 4. Komponen Belajar Untuk Pebelajar Dengan Level Kemampuan Dengan Kedewasaan yang Berbeda. Aspek pertama yang perlu diperhatikan adalah mengingat bahwa komponen belajar itu ditujukan untuk memandu proses intelektual pembelajar melalui aktivitas dan mental yang membantu pembelajaran. Idealnya adalah semua pembelajar harus mampu mengatur proses intelektual mereka seperti menjadi pebelajar yang mandiri.

1)

Komponen Belajar Untuk Berbagai macam Outcome (Hasil).

Komponen dasar belajar untuk berbagai hasil pembelajaran dalam strategi pembelajaran adalah intelektual skill, informasi verbal, skill motorik dan perilaku.
Intelektual skill;

Seorang desainer harus menyadari dua hal yaitu cara pebelajar mengorganisir pengetahuan yang diterima dalam memori dan keterbatasan kemampuan mereka untuk mengingat materi baru. Strategi yang digunakan harus mencakup cara-cara bagaimana pebelajar dapat menghubungkan materi baru yang didapatkan dengan pengetahuan yang sudah ada dalam memori.
Informasi verbal;

Prosedur yang direkomendasikan oleh Gagne untuk membantu siswa mengatur informasi baru adalah dengan memberikan outline atau tabel yang merangkum informasi ini.
Skill motorik;

Apa implikasi dari deskripsi pembelajaran skill motorik yang menampilkan isi, contoh, praktek dan umpan balik (feed back) ? Implikasi yang sangat nyata adalah persyaratan dari beberapa presentasi visual dari skill, sudah pasti video atau film bisa digunakan untuk melihat gerak tetapi sering foto dan gambar juga bisa digunakan, Kategori isi dan contoh dalam strategi biasanya dalam bentuk deskripsi verbal yang diikuti dengan ilustrasi.
Perilaku

Perilaku terdiri dari tiga komponen: perasaan, sikap, dan pemahaman kognitif. Perasaan bisa dideskripsikan sebagai hal yang menyenagkan atau tidak menyenangkan yang diekspresikan melalui kecenderungan kita untuk mendekati atau menghindari sebuah situasi. Sikap, harus mendemonstrasikan kondisi yang menggambarkan tujuan performa.

2)

Komponen Belajar untuk Strategi Pembelajaran Konstruktivisme

Pendekatan belajar dalam presepektif konstrutivisme lebih menekankan pada, pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada pebelajar (siswa). Dalam strategi konstruktivisme pembelajaran didesain dan dikelola sedemikian rupa, sehingga pembelajaran dapat menggali secara optimal potensi yang dimiliki oleh pebelajar (siswa). Komponen belajar untuk strategi pembelajaran konstruktivesme sama dengan komponen terdahulu, tapi pada pendahuluan atau dalam deskripsi lebih menekankan keterlibatan siswa dalam memberikan gambaran yang objektif yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari. Demikian juga dalam partisipasi siswa mempunyai porsi yang lebih besar dan umpan balik dapat dilakukan pada proses tersebut.. Berikut bagan komponen belajar konstruktivisme. C. Hasil Pengembangan
KOMPONEN-KOMPONEN PRAPENGAJARAN, PENGETESAN DAN TINDAK LANJUT DARI SIASAT PEMBELAJARAN Aktivitas Kegiatan Prapembelajaran

Motivasi: Menjelaskan kepada siswa tentang keindahan-keindahan dalam seni rupa dan memberikan ilustrasi ser rupa yang memiliki nilai estetika, ekonomis dan dapat menambah wawasan serta melatih siswa untuk m nusantara melalui karya seni rupa.

Tujuan 1.1. Melalui eksplorasi tentang bahan bahan bekas siswa dapat menuliskan macam-macam bahan b kriya. 1.2 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6

Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan bebrapa alat untuk membuat seni kriya. Dengan menyiapkan bahan dan alat siswa dapat mengumpulkan bahan yang sesuai untuk pem

Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pe

Dengan mengamati beberapa contoh pola / desain yang disiapkan guru siswa dapat membuat d

Dengan latihan membuat pola kartu ucapan siswa dapat membuat bagian-bagian kartu ucap Melalui kerja kelompok siswa dapat mrenggabungkan bagian-bagian pola kartu ucapan. Melalui kerja kelompok siswa dapat menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan

PENGETESAN Batas Kriteria Ketuntasan Minimal : 65

4ait!/ sis0a #ang memperole" nilai i ba0a" 65 berarti ianggap bel!m meng!asai ma

1. Tingkah Laku Masukan Untuk menetahui ketrampilan mana yang sudah dikuasai siswa, maka perlu dilakukan Tes Tingkah Laku beberapa soal, yang berkaitan dengan sejumlah ketrampilan subordinat yang telah disusun. Ketrampila dikuasai akan diletakkan di bawah garis entry behavior, sedangkan yang belum dikuasai di atas garis en material pembelajarannya. Jika hanya beberapa siswa yang tidak menguasai ketrampilan subordinat, m mandiri untuk menguasai ketrampilan yang belum dikuasai tersebut. Namun jika semua siswa belum m subordinat, maka ditetapkan tidak ada garis entry behavior. 2. Pra-Tes

Dilakukan sebelum memulai pembelajaran, yaitu menguji beberapa soal tentang ketrampilan subordina behavior Pasca Tes Dilakukan setelah semua material pembelajaran disampaikan.

KEGIATAN TINDAK LANJUT Remedial Bagi siswa yang belum mencapai batas minimal yang telah ditetapkan, akan diberikan remedial (dibimb belum dikuasai atau dengan tutor sebaya dan diahiri dengan tes ahir).

Bagi siswa yang telah mencapai batas minimal kelulusan, maka yang bersangkutan akan diberi pengay kreasi-kreasi seni rupa yang lain (membuat pigura, kartu lebaran dan lain-lain).

Isi Presentasi dan Aktivitas Partisipasi Belajar Tujuan 1.1.Melalui eksplorasi tentang bahan bahan bekas siswa dapat menuliskan macam-macam bah seni kriya. Isi Presentasi Pebelajar menuliskan macam-macam bahan bekas untuk membuat karya seni kriya. Contoh

Kertas koran, kertas HVS, Kertas Folio, Kertas asturo, Kertas buffalo, Kertas gambar, Kertas emas, lidi, ,bungkus makanan, klise, bulu unggas, ranting, pelepah daun kelapa dll

Partisipasi siswa 1. Siswa mencari dan mengumpulkan bahan-bahan bekas untuk membuat karya seni kriya di lingkunga Praktik Siswa mengumpulkan bahasa bekas di lingkungan sekolah. Umpan balik 1. Tunjukkan bahan bekas yang sudah dikumpulkan oleh pebelajar. 2. Sebutkan nama-nama bahan yang digunakan dalam pembuatan seni kriya.

Tujuan 1.2 Melalui diskusi siswa dapat menyebutkan bebrapa alat untuk m Isi Presentasi

1.Siswa membuat kelompok diskusi maksimal 5orang. 2. Siswa berdiskusi untuk membahas tentang alat-alat yang digunakan untuk membuat seni kriya. Contoh Pisau, Cutter, gunting, lem, mistar, jangka, palu, paku, gergaji, paku payung dll Partisipasi siswa 1. Siswa mengumpulkan alat-alat untuk membuat seni kriya. Praktik Siswa mengumpulkan alat-alat untuk membuat seni kriya Umpan balik 1. Tunjukkan alat-alat untuk membuat seni kriya. 2. Menyebutkan nama- nama alat untuk membuat seni kriya

Tujuan 2.1 Dengan menyiapkan bahan dan alat siswa dapat mengumpulkan bahan yang sesuai untuk Isi Presentasi Siswa dapat mengumpulkan, mengelompokkan, memilih bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu u Contoh

Siswa mengumpulkan, mengelompokkan, memilih bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan Partisipasi siswa 1. Siswa mengumpulkan, bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan 2. Siswa mengelompokkan bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan 3. Siswa memilih bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan Praktik

&is0a meng!mp!lkan/ mengelompokkan/ memili" ba"an #ang ses!ai !nt!k pem


Umpan balik 1. Kumpulkan bahan-bahan untuk membuat seni kriya. 2. Pilihlah bahan-bahan untuk membuat seni kriya. 3. Kelompokkan bahan-bahan untuk membuat seni kriya.

Tujuan 2.2 Dengan menyiapkan alat dan bahan siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk Isi Presentasi Siswa dapat memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan. Contoh

Siswa memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.Seperti kertas, koran, kerta emas, pisau, gunting, lem, curter, penggaris, paku payung, palu dll.

Partisipasi siswa 1. Siswa memilih, bahan yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan 2. Siswa memilih alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan

Praktik Siswa memilih bahan dan alat yang sesuai untuk pembuatan kartu ucapan.Seperti kertas, koran, kerta emas, pisau, gunting, lem, curter, penggaris, paku payung, palu dll. Umpan balik 1. Pilihlah bahan-bahan untuk membuat seni kriya. 2. Pilihlah alat-alat untuk membuat seni kriya.

Tujuan 2.3 Dengan mengamati beberapa contoh pola / desain yang disiapkan guru siswa dapat membu Isi Presentasi siswa dapat membuat desain kartu ucapan. Contoh siswa membuat desain kartu ucapan dengan berbagai variasi contoh yang disiapkan oleh guru. Partisipasi siswa 1. Siswa mengamati berbagai contoh desain kartu ucapan 2. Siswa membuat berbagai contoh desain kartu ucapan Praktik Siswa membuat berbagai contoh desain kartu ucapan Umpan balik 1. Tunjukkan hasil pembuatan desain kartu ucapan yang dibuatnya

Tujuan 2.4 Dengan latihan membuat pola kartu ucapan siswa dapat membuat bagian-ba Isi Presentasi Siswa membuat bagian-bagian kartu ucapan, bagian frame/ kerangka, bagian pelengkap/ assesoris. Contoh Bagian-bagian kartu ucapan: a. bagian frame/ kerangka, b. bagian pelengkap/ assesoris. Partisipasi siswa 1. Siswa berlatih membuat bagian-bagian kartu ucapan: a. bagian frame/ kerangka, b. bagian pelengkap/ assesoris.

Praktik Siswa membuat bagian-bagian kartu ucapan, bagian frame/ kerangka, bagian pelengkap/ assesoris. Umpan balik 1. Tunjukkan bagian-bagian kartu ucapan yang dibuatnya. 2. Tunjukkan kerangka kartu ucapan yang dibuatnya Tunjukkan bagian pelengkap kartu ucapan yang dibuatnya

Tujuan 2.5 Melalui kerja kelompok siswa dapat mrenggabungkan bagian-bagian Isi Presentasi Siswa menggabungkan bagian-bagian pola kartu ucapan. Contoh 1.Siapkan kerangka utama pembuatan kartu ucapan! 2.Gabungkan kerangka utama dengan pelengkap/ assesoris.

Partisipasi siswa Siswa menggabungkan bagian-bagian pola kartu ucapan . Bagian kerangka/ pokok dan pelengkap diga

Praktik Siswa praktik menggabungkan bagian-bagian pola kartu ucapan . Bagian kerangka/ pokok dan pelengk Umpan balik 1. Tunjukkan bagian-bagian kartu ucapan yang dibuatnya. 2. Gabungkan/ tempelkan bagian utama dengan bagian pelengkap Tujuan 2.6 Melalui kerja kelompok siswa dapat menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan Isi Presentasi Siswa menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan serta proses finishing. Contoh

1. Siswa bekerja kelompok menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan , merapikan, memperbai Partisipasi siswa Siswa berpartisipasi dalam menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan serta proses finishing Praktik Siswa praktik menyelesaikan proses pembuatan kartu ucapan serta proses finishing kartu ucapan. Umpan balik 1. Tunjukkan hasil pembuatan kartu ucapan yang dibuat pebelajar. 2. Kumpulkan hasil kerja pembuatan kartu ucapan .

Langkah ke-7 MENGEMBANGKAN DAN MEMILIH MATERIAL PEMBELAJARAN ( Develop and Select Instructional Material ) oleh : Muhamad Khotib, Tri Wahyu Handoyo, Suyono Wahyuni Satiawati, Rita Ambarwati (mahasiswa pasca TP unila) A. Latar Belakang Dalam menyusun desain pengembangan materi pembelajaran sangat penting, karena pencapaian tujuan yang di tetapkan terinci pada materi pembelajaran. Meskipun begitu tidak berarti mengesampingkan unsurunsur lainnya termasuk siswa, metode, maupun penilaian. Oleh karena itu pengembangan bahan pembelajaran sebaiknya melibatkan pusat sumber belajar baik yang didesain maupun yang tidak didesain. Sehingga sebagai desainer bahan pembelajaran jangan tergantung pada buku teks saja tetapi memanfaatkan sumber bahan pembelajaran. Disadari atau tidak kondisi sekarang kurang memperhatikan pengembangan bahan pembelajaran secara baik, kadang seorang guru mengajar didepan kelas berbicara sesuai apa yang diingat saat itu tanpa ada perencanaan dalam pembelajaran. Pengembangan materi pembelajaran perlu dilakukan mulai penyusunan perencanaan pembelajaran sehingga diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang optimal. B. Konsep Pengembangan Sistem Penyampaian dan Pemilihan Material Pada titik ini dalam proses desain instruksional, sebuah sistem pengiriman ditentukan dan strategi pengajaran telah dikembangkan, termasuk pengelompokan dan pengurutan, komponen pembelajaran, pengelompokan siswa, dan tentatif pilihan media. ada 3 faktor cara pemilihan media yaitu: (1) ketersediaan bahan pembelajaran yang ada, (2)

dapat di implementasikan dan diproduksi, (3) memberi kemudahan pada instruktur


1. Komponen Paket Pembelajaran

Dengan strategi instruksional selesai di tangan, Anda, pada akhirnya, siap untuk mulai memilih bahan pengajaran yang ada, mengembangkan bahan sendiri, atau menulis spesifikasi untuk orang lain yang akan mengembangkan bahan-bahan. Sebelum Anda mulai Anda harus sadar akan beberapa komponen yang biasanya membentuk suatu paket instruksional, dan perhatikan bahwa dalam istilah paket kami menyertakan semua bentuk cetak dan bahan-bahan ditengahi.
1. Memilih Material Yang Ada

Langkah selanjutnya mengikuti perkembangan strategi pengajaran adalah untuk menentukan apakah ada bahan yang ada yang sesuai dengan tujuan Anda. Di beberapa daerah konten anda akan menemukan materi yang berlimpah yang tersedia, baik dangkal atau sangat rinci, yang tidak benarbenar diarahkan untuk target populasi di mana Anda tertarik. Di sisi lain, kadang-kadang adalah mungkin untuk mengidentifikasi bahan yang akan melayani setidaknya sebagian dari kebutuhan Anda. Ketika Anda mempertimbangkan biaya pengembangan video atau presentasi multimedia, itu jelas sepadan dengan upaya untuk menghabiskan beberapa jam meneliti bahan-bahan yang ada untuk menentukan apakah mereka memenuhi kebutuhan anda.
1. Bahan yang berpusat pada tujuan 2. Bahan yang berpusat pada pembelajar 3. Bahan yang berpusat pada konteks 1. Mengembangkan Material untuk Evaluasi Formatif

Draft kasar Bahan Kita semua tahu apa istilah konsep kasar berarti, karena kita semua menulis draf kasar kertas yang kemudian telah direvisi menjadi bentuk akhir. Konsep kasar berarti tentang hal yang sama ketika diterapkan

pada bahan pengajaran, tetapi membawa makna tambahan bahwa produk tersebut dikembangkan di alternatif, sederhana, lebih murah format media. Tujuan untuk melakukan konsep kasar bahan baku untuk membuat cepat, biaya rendah versi desain Anda, sehingga Anda akan memiliki sesuatu untuk membimbing produksi akhir dan sesuatu untuk memperhitungkan evaluasi formatif dan mencoba dengan subjek-materi ahli, beberapa pelajar, atau sekelompok pelajar.
1. Langkah-langkah Pengembangan Pembelajaran 1. Meninjau strategi pengajaran untuk setiap tujuan dalam setiap

pelajaran.
2. Survei literatur dan bertanya kepada ahli bidang study untuk

menentukan bahan pengajaran apa yang sudah tersedia.


3. Pertimbangkan bagaimana Anda dapat mengadopsi atau

mengadaptasi bahan-bahan yang tersedia.


4. Menentukan apakah bahan-bahan baru harus dirancang. Jika

demikian, lanjutkan ke langkah Jika tidak, mulai mengatur dan menyesuaikan bahan-bahan yang tersedia, dengan menggunakan strategi pengajaran sebagai panduan.
5. Periksa analisis peserta didik dan untuk setiap pelajaran,

mempertimbangkan peran instruktur dalam memfasilitasi instruksi dan menentukan sejauh mana Anda ingin instruksi untuk diri sendiri atau kelompok-berjalan mondar-mandir.
6. Periksa analisis konteks pembelajaran dan asumsi-asumsi

Anda tentang sumber daya yang tersedia untuk mengembangkan bahan. Mempertimbangkan kembali sistem penyampaian dan media yang dipilih untuk mempresentasikan bahan-bahan, untuk memantau praktik dan umpan balik, untuk mengevaluasi, dan untuk meningkatkan memori pelajar dan transfer.

7. Rencana dan menulis bahan-bahan pengajaran berdasarkan

strategi pengajaran dalam bentuk draf. Anda akan takjub melihat betapa tongkat ilustrasi angka-angka dan kasar dapat membawa ide-ide Anda untuk hidup untuk sidang pertama. Cetak, visual, atau materi auditori dalam bentuk kasar ini akan memungkinkan Anda untuk memeriksa urutan, aliran ide, ketepatan ilustrasi ide, kelengkapan, kecepatan, dan seterusnya. Buatlah seperangkat bahan kasar selengkap mungkin cukup untuk setiap aktivitas instruksional.
8. Periksa setiap selesai pelajaran atau sesi belajar untuk

kejelasan dan aliran ide.


9. Menggunakan satu unit instruksional yang lengkap, tulis

instruksi yang menyertainya untuk membimbing para siswa melalui kegiatan jika diperlukan.
10. Menggunakan bahan-bahan yang dikembangkan di pertama ini

tidak mahal, konsep kasar, mulai kegiatan evaluasi. Bab 10 memperkenalkan dan membahas prosedur dan kegiatan untuk mengevaluasi dan merevisi bahan pengajaran.
11. Anda mungkin juga mengembangkan bahan-bahan untuk

instruktur manual saat Anda pergi bersama-sama atau Anda dapat membuat catatan ketika Anda mengembangkan dan merevisi presentasi dan kegiatan instruksional. Menggunakan catatan, Anda dapat menulis panduan instruktur kemudian C. Hasil Pengembangan Tabel 7.2 Peran Guru Dalam Rancangan Dan Penyampaian Pengajaran
Peran guru dalam merancang bahan Cara penyajian pembelajaran untuk setiap tahap pembelajaran

1. Guru merancang bahan pembelajaran individual

Kegiatan pra pembelajaran

Penyajian Informasi Bahan

Pengikut sertaan Siswa Bahan

Kegi Lanj Baha

Bahan 2. Guru memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan siasat pembelajaran 3. Guru tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan pembelajaran sesuai siasat Peran guru dalam merancang bahan Bahan dan atau guru Guru Bahan dan atau guru Guru Bahan dan atau guru Guru

Baha guru

Guru

Cara penyajian pembelajaran untuk setiap tahap pembelajaran Kegiatan pra pembelajaran Bahan Bahan dan atau guru Guru Penyajian Informasi Bahan Bahan dan atau guru Guru Pengikut sertaan Siswa Bahan Bahan dan atau guru Guru

1. Guru merancang bahan pembelajaran individual


2. Guru memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan siasat pembelajaran 3. Guru tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan pembelajaran sesuai siasat

Kegi Lanj Baha

Baha guru

Guru

Tabel 7.3 Rencana Pemilihan Format Material Pembelajaran


Alat/Perantara Yang akan digunakan

Garis Besar Draf yang akan dibua

Ilustrasi Teks Ukuran Teks LCD

Teks dan beberapa contoh gamba Ukuran A-4

Bahan ajar dalam bentuk Power P

MENGEMBANGKAN DAN MEMILIH MATERIAL PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN : SENI BUDAYA KELAS/SEMESTER TAHUN PELAJARAN PERTEMUAN KE-1
Ads not by this site

: VIII / GANJIL : 2009/2010

KOMPONEN

SUB KETRAMPILAN

TEKS

Pretes Isi Presentasi Contoh: Isi Presentasi: Contoh:

2.2 2.2.1 2.1.1 2.2.1 2.2.1 2.2.1

Skor:..Nama: Tanggal : Soal:

1. Jelaskan manfaat barang-bara

2. Tuliskan minimal 10 jenis bara untuk membuat Kartu Ucapan

3. Jelaskan urutan cara membua bekas!

Menjelaskan kepada siswa tentang k rupa dan memberikan ilustrasi serta rupa yang memiliki nilai estetika, eko wawasan serta melatih siswa untuk m nusantara melalui karya seni rupa.

Seni rupa terapan nusantara dapat m nusantara, dari berbagai daerah yang masing. Berbagai jenis karya seni ru

1. Seni kerajinan Tapis Lampung

2. Berbagai macam gambar ilust

Membuat kreasi dari barang bekas d Pigura foto, tempat tissue, tempat pe didnding, assesoris, dan lain-lain. Kr memanfaatkan barang-barang bekas lain; koran, majalah, klise film, kardus lain-lain. Selain barang bekas, baha antara lain dengan memanfaatkan tu sekitar kita. Beberapa Contoh Kartu Ucapan:

1. Kartu Ulang Tahun 1. Kartu Bermotif Kucing 1. Kartu Bermotif Tumbuhan 1. Kartu Bermotif Klise Film 1. Kartu Bermotif Rumah

Mencari Bahan-Bahan Yang Diperluk

Bahan bekas yang bisa dimanfaatkan

Kertas majalah, koran, buku-buku, ke manila, bungkus permen, bungkus ci bunga kering, pita, biji-bijian kering, f dan lain-lain, sesuai kreativitas/ide ya

1. Kertas-kertas bekas

Langkah ke-8 MERANCANG DAN MELAKUKAN EVALUASI FORMATIF PEMBELAJARAN ( Desigingn and Conducting Formative Evaluations ) oleh : Muhamad Khotib, Tri Wahyu Handoyo, Suyono Wahyuni Satiawati, Rita Ambarwati Mahasiswa Pasca TP Unila 2009 A. Latar Belakang Evaluasi formatif adalah pengumpulan data dan informasi selama pengembangan instruksi yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas instruksi. Evaluasi formatif awalnya digunakan sebagai proses untuk meningkatkan instruksi setelah draft pertama pengajaran dikembangkan. Desainer berpengalaman, bagaimanapun, menemukan bahwa lebih baik untuk mencoba komponen awal dari proses desain, sehingga menghindari banyak masalah yang akan tidak dapat ditemukan sampai setelah rancangan instruksi itu selesai. B. Konsep Pengembangan Evaluasi formatif adalah proses perancangan untuk memperoleh data yang dapat digunakan untuk meninjau kembali instruksi agar lebih efisien dan efektif. Penekanan dalam evaluasi formatif adalah pada pengumpulan dan analisis dan revisi dari instruksi. Ada tiga fase dasar evaluasi formatif. Yang pertama adalah evaluasi perorangan, evaluasi kelompok kecil dan uji lapangan. Sebelum ini dilaksanakan didahului oleh tinjauan ulang dari ahli yang tidak terlibat tidak langsung tetapi mempunyai keahlian yang relevan. 1. Merancang Evaluasi Formatif Kerangka acuan apa yang dapat Anda gunakan untuk merancang evaluasi formatif? Dengan mengingat bahwa tujuan evaluasi formatif adalah untuk

menunjukkan kesalahan-kesalahan tertentu dalam bahan-bahan untuk mengoreksi mereka, termasuk desain evaluasi instrumen, prosedur, dan kebutuhan personil untuk menghasilkan informasi tentang lokasi dan alasan untuk setiap masalah. Ada lima bidang pertanyaan yang digunakan untuk mengevaluasi bahan. 1) Apakah bahan sudah sesuai untuk jenis hasil belajar yang

diharapkan ? 2) Apakah bahan sudah memadai termasuk instruksi pada bawahan

keterampilan? 3) 4) 5) Apakah bahan sudah jelas dan mudah dipahami ? Berapakah nilai motivasi material untuk peserta didik ? Bahan-bahan yang dapat dikelola secara efisien dengan cara mereka

dimediasi? 2. Peranan Tenaga Ahli dalam Evaluasi Formatif Selain adanya data evaluasi dari pembelajar perlu juga melihat analisi dari seorang ahli. Ketika draf desain selesai terkadang desain tidak bisa melihat permasalahan yang ada. Resensi atau pendapat dari tenaga ahli perlu dipertimbangkan untuk perbaikan dan perubahan pada draf pertama desain. Terutama dalam strategi belajar, tipe belajar dan ketetapatan bahan yang akan digunakan dalam desain pembelajaran. 3. Evaluasi Perorangan Tujuan evaluasi formatif perorangan adalah untuk mengidentifikasi dan menghapus kesalahan yang mencolok dalam pengajaran. Evaluasi ini melibatkan 3 atau lebih peserta didik yang berinteraksi langsung dengan desainer. Ada tiga kriteria utama dan dalam evaluasi perorangan ini yaitu : Kejelasan, Dampak dan Kelayakan .

Ada beberapa pertimbangan dalam melakukan evaluasi perorangan yaitu :

1) Memilih Pelajar Penentuan pelajar yang dilibatkan dalam evaluasi perorangan harus mewakili populasi target, baik segi kemampuan maupun karakteristik lainnya. Misal dari segi kemampuan, dipilih yang diatas rata-rata, rata-rata dan di bawah rata-rata. Dilihat dari motivasi, dipilih yang motivasi positif, netral dan negatif, Atau kalau itu bukan pelajar bisa dipilih berdasarkan pengalaman, diatas sepuluh tahun, dua sampai lima tahun dan yang baru setahun. 2) Pendataan Data pendataan atau pengambilan informasi dati evaluasi perorangan seperti diatas, yaitu : kejelasan, dampak dan kelayakan. a. Kejelasan Untuk kejelasan instruksi, ada tiga kategori utama dari informasi yaitu pesan, link, dan prosedur. Kategori pertama, pesan, meliputi: kosakata, kalimat kompleksitas, dan struktur pesan.. Kategori kedua, link, bagaimana pesan dasar dirancang mencakup konteks, contoh, analogi, ilustrasi, demonstrasi, dan sebagainya. Katagori ketiga, prosedur, mengacu pada instruksi karakteristik seperti urutan, ukuran segmen yang disajikan, transisi antara segmen, kecepatan, dan variasi yang dibangun ke dalam presentasi. Ini akan berpengaruh kepada motivasi dan kecepatan dalam pembelajaran b. Dampak Berkaitan dengan sikap pelajar tentang instruksi pada pencapaian tujuantujuan tertentu. Terkait dengan sikap, (1) secara pribadi relevan dengan dia atau dia, (2) accomplishable dengan usaha yang wajar, dan (3) menarik dan memuaskan untuk pengalaman. c. Kelayakan

Berkaitan dengan pertimbangan orientasi manajemen yang dapat diperiksa selama evaluasi sidang. Pertimbangan kelayakan termasuk kemampuan belajar, media pengajaran, dan pengajaran lingkungan. 3) Prosedur Prosedur yang khas dalam evaluasi perorangan adalah untuk menjelaskan kepada para pelajar tentang bahan pembelajaran. Reaksi pembelajar terhadap materi, mengetahui kekurangan materi, mengerjakan soal-soal, mencatat waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan materi. Pebelaajar akan menemukan kesalahan ketik, kelalaian konten, halaman yang hilang, grafik yang berlabel tidak tepat, tidak sesuai link di halaman web mereka, dan jenis lainnya. Kesulitan memahami urutan belajar, konsep belajar, dan soal-soal yang diberikan. 4) Penilaian dan Kuesioner Setelah siswa telah menyelesaikan instruksi dalam evaluasi perorangan, mereka mengerjakan posttest dan kuesioner sikap dengan cara yang sama. Desainer akan menemukan tidak hanya kesalahan, tetapi juga kenapa terjadi kesalahan. Informasi ini dapat sangat membantu selama proses revisi. Proses untuk mengevaluasi kinerja, produk, dan sikap dan pada akhirnya untuk merevisi pembelajaran termasuk butir-butir soal yang ada. 5) Belajar Sisa Salah satu kepentingan desainer selama evaluasi perorangan adalah untuk menentukan jumlah waktu yang diperlukan bagi pelajar untuk menyelesaikan instruksi. 6) Interpretasi Data Informasi tentang kejelasan instruksi, dampak pada pelajar, dan kelayakan instruksi perlu diringkas dan terfokus. Aspek-aspek tertentu dari instruksi yang ditemukan untuk menjadi lemah kemudian dapat dipertimbangkan

dalam rangka rencana revisi yang mungkin untuk meningkatkan instruksi untuk pelajar serupa. 7) Hasil Hasil dari evaluasi satu-ke-satu adalah instruksi bahwa : (l) berisi kosa kata yang sesuai, kompleksitas bahasa, contoh, dan

ilustrasi untuk peserta didik; (2) baik menghasilkan sikap dan prestasi pelajar, atau direvisi dengan tujuan meningkatkan pelajar sikap atau kinerja selama percobaan berikutnya, dan (3) layak digunakan dengan pembelajar, sumber daya, dan pengaturan yang ada. Instruksi lebih lanjut dapat disempurnakan dengan menggunakan kelompok kecil cobaan. 4. Evaluasi Kelompok Kecil Ada dua tujuan dalam evaluasi kelompok kecil. Pertama effektivitas perubahan dan Identifikasi masalah yang masih tersisa setelah evaluasi perorangan. Kedua untuk menentukan apakah pelajar dapat menggunakan instruksi tanpa berinteraksi dengan instruktur. (Pada titik ini dalam diskusi kita, kita terus menganggap bahwa perancang merancang beberapa bentuk bahan pengajaran diri.) 1) Kriteria dan Data Langkah efektif untuk mengevaluasi pembelajaran dan kinerjanya dengan melihat skor pretest dan posttest. Informasi yang dikumpulkan mengenai kelayakan dari instruksi biasanya meliputi: (l) waktu yang dibutuhkan bagi pelajar untuk menyelesaikan baik instruksi

dan tolok ukur kinerja yang dibutuhkan, (2) biaya dan kelangsungan hidup menyampaikan instruksi dalam format dimaksudkan dan lingkungan, dan

(3) sikap mereka yang melaksanakan atau mengelola instruksi. 2) Memilih Pebelajar Evaluasi kelompok kecil terdiri dari 8 20 orang pembelajar. Dimungkin untuk memilih secara acak dai populasi target. Atau mngkin desainer perlu mengikutkan pembelajar yang telah ditetapkan untuk mewakili kelompok, misalnya pebelajar yang prestasinya rendah, rata-rata, tinggi atau yang terbasa dengan prosedur tertentu misalnya berbasis komputer, web dan yang tidak, atau yang muda, berpengalaman. 3) Prosedur Prosedurnya guru memulai dengan menjelaskan kemudian pembelajar diberikan pretest. Pada pelaksanaan peran guru sesedikit mungkin. Setiap pelajar yang kesulitan dalam proses dan bagian dan solusi harus jelas dicatat sebagai bagian dari revisi data. 4) Penilaian dan Kuesioner Langkah tambahan dari evaluasi adalah kuesioner sikap untuk mendapatkan tanggapan pembelajar, kelemahan dan kelebihan dalam strategi pembelajaran. Oleh karena itu pertanyaan dalam kuesioner minimal mencakup : Apakah instruksi menarik? Apakah Anda mengerti apa yang Anda harus dipelajari? Apakah bahan-bahan yang berkaitan langsung dengan tujuan? Apakah latihan-latihan praktek memadai? Apakah latihan-latihan praktek relevan? Apakah benar-benar tes mengukur pengetahuan tentang tujuan? Apakah anda menerima umpan balik yang memadai pada latihan-latihan praktis?

Apakah Anda merasa percaya diri ketika menjawab pertanyaan di tes? 5) Ringkasan Data dan Analisa Data kuantitatif dan informasi yang dikumpulkan selama evaluasi dirangkum dan dianalisis. Data kuantitatif terdiri dari skor tes serta persyaratan waktu dan biaya proyeksi. Informasi deskriptif terdiri dari komentar yang dikumpulkan dari sikap kuesioner, wawancara, atau evaluator catatan tertulis selama proses evaluasi. 6) Hasil Hasil dari evaluasi kelompok kecil mungkin perbaikan instruksi yang sederhana, seperti mengubah contoh dan kosa kata dalam tes item atau meningkatkan jumlah waktu yang dialokasikan untuk studi. Atau mungkin memerlukan perubahan besar dalam strategi pengajaran (misalnya, strategi motivasi, urutan tujuan, pengiriman instruksional format), atau dalam sifat informasi yang disajikan kepada peserta didik. 5. Evaluasi Uji Lapangan Evaluasi uji lapangan menggunakan konteks belajar yang mirip dengan sasaran yang akan digunakan. Tujuan uji lapangan untuk efektivitas perubahan pada evaluasi kelompok kecil dan instruksi dapa digunakan pada kontek belajar yang sebenarnya. 1) Lokasi Evaluasi dan pemilihan pelajar Uji lapangan dapat dicobakan pada kelompok besar yang terdiri dari 30 orang yang dipilih secara acak yang berbeda. Atau pada kelas perorangan tetapi akan menemui kesulitan karena pebelajar akan tersebar. 2) Kriteria dan Data informasi yang dikumpulkan adalah prestasi pelajar dan sikap; instruktur prosedur dan sikap; dan sumber daya seperti waktu, biaya, ruang, dan peralatan.

3) Prosedur Pelaksanaan Ujian Lapangan Prosedur uji lapangan hampir sama dengan kelompok kecil. Perbedaan pada peran desain yang harus dikurangi atau dihilangkan diganti dengan peran guru, oleh karenanya guru harus dilatih dulu. Mungkin setelah evaluasi kelompok kecil pretest dan posttest diubah atau dikurangi hanya menilai entry paling penting. Kuesioner difokuskan pada faktor-faktor lingkungan yang mungkin mengganggu pembelajaran. 4) Ringkasan Data dan Interpretasi Data prestasi dan informasi sikap pelajar dan guru diringkas untuk membantu menemukan bagian-bagian pada instrusi yang tidak efektif. Hal ini akan digunakan sebagai revisi akhir. C. Hasil Pengembangan Hasil Evaluasi Formatif
1. 1. Review Ahli

sesuai dengan komentar para ahli lain yang diundang di luar pengembang instruksional, diperoleh informasi bahwa produk instruksional tersebut dapat dikembangkan, karena hasilnya cukup baik berdasarkan hasil kuesioner. Dari hasil interview dan kuesioner terdapat 3 orang ahli diperoleh informasi sebagai berikut:
Pernyataan

No.

Nama Responden

Kebenaran Isi atau materi menurut bi dengan tujuan pembelajaran

Kurang

Cukup

Andriani, S.Pd

(Ahli bidang study) 2 Sentot Hardiyono, S.Pd (Ahli Produk Media) Darma Cahyono, S.Pd (Ahli Pengembang Instruksiona) 1

3 Jumlah

Langkah ke-9 MEREVISI PEMBELAJARAN ( Revisi Instructional ) A. Latar Belakang Pada hampir semua model desain instruksional, akan ditemukan penekanan utama pada konsep evaluasi formatif, yaitu pada pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah dan merevisi bahan pengajaran. Model desainpembelajaran sering menunjukkan bahwa setelah data yang telah dikumpulkan dan diringkas, harus direvisi material pembelajarannya agar lebih tepat. Ada dua jenis dasar revisi yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan material pembelajaran. Yang pertama adalah perubahan yang dibuat dengan isi atau substansi bahan untuk membuat mereka lebih akurat atau lebih efektif sebagai sarana belajar. Tipe kedua perubahan berkaitan dengan prosedur yang digunakan dalam menggunakan bahan B. Konsep Pengembangan Ada banyak cara yang berbeda di mana data yang dikumpulkan dalam suatu evaluasi formatif dapat dirangkum untuk menunjukkan daerah kesulitan belajar dan kemungkinan revisi. Metodemetode yang kita gambarkan di sini adalah hanya saran. Ketika Anda mulai bekerja dengan data Anda sendiri, Anda mungkin menemukan teknik lain yang akan membantu Anda memperoleh lebih banyak wawasan dari mereka. Kita akan melihat dulu apa yang dapat Anda lakukan dengan data dan informasi dari evaluasi formatif satu-ke-satu, dan kemudian mempertimbangkan kelompok kecil dan fase uji-lapangan.

1. 1. Menganalisis Data Dari Uji Coba Satu-satu


Dari uji satu-satu masih dirasakan sangat sedikit data yang diperoleh, karena informasi yang biasanya tersedia hanya dari tiga sampai lima pelajar. Karena pelajar ini dipilih berdasarkan keragaman, informasi yang mereka berikan akan, dalam dalam bentuk berbagai kemungkinan, akan sangat berbeda, bukan menyatu dengan beberapa jenis kelompok rata-rata. Dengan kata lain, perancang harus melihat persamaan dan perbedaan antara tanggapan para peserta didik, dan menentukan perubahan yang terbaik. Perancang memiliki lima jenis informasi dasar yang tersedia: Perancang memiliki lima jenis informasi dasar yang tersedia:

1. Perilaku masukan dan karakteristik pebelajar, 2. tanggapan langsung terhadap instruksi, 3. waktu belajar, 4. posttest kinerja, dan 5. tanggapan terhadap sikap kuesioner.

Langkah pertama adalah untuk menggambarkan para pembelajar yang berpartisipasi dalam uji satu-satu dan untuk menunjukkan kinerja mereka pada setiap entri-perilaku tindakan. Selanjutnya, perancang harus membawa bersama semua komentar dan saran tentang pembelajaran. Hal ini juga memungkinkan untuk menyertakan komentar dari ahli materi, dan setiap alternatif pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan pelajar selama uji satu-satu. Selanjutnya data yang akan diringkas adalah yang terkait dengan posttest. Dimulai dengan mendapatkan item kinerja individu dan kemudian menggabungkan nilai item untuk masingmasing tujuan sampai pada total skor. Dengan mengembangkan sebuah tabel yang menunjukkan setiap siswa skor pretest, posttest skor, dan total waktu belajar. Dengan semua informasi ini di tangan, perancang siap untuk merevisi Pembelajaran. Tentu saja, jelas revisi tertentu mungkin telah dibuat sebelum menyelesaikan uji satu-satu. Revisi dimulai dengan melihat kinerja pembelajar dalam melaksanakan evaluasi satu-satu. Yaitu dengan melihat item tes apakah berfungsi baik atau tidak, Jika tidak maka item tes kita revisi. Jika berfungsi baik maka kita revisi struktur pembelajarannya.

1. Menganalisis Data dari Kelompok Kecil dan Uji Lapangan


Kelompok kecil evaluasi formatif menyediakan perancang dengan ringkasan data yang agak berbeda situasi. Data dari 8 20 siswa memungkinkan adanya data yang lebih lengkap. Data yang tersedia biasanya adalah sebagai berikut:

1. item performa di pretest, 2. posttest, dan 3. tanggapan terhadap kuesioner sikap; 4. pembelajaran dan 5. pengujian waktu, dan 6. komentar yang dibuat secara langsung dalam bahan.
Unit dasar analisis untuk semua penilaian adalah penilaian masing-masing item. Kinerja pada setiap item harus dinilai sebagai benar atau salah. Jika salah satu item memiliki beberapa bagian, maka setiap bagian harus dinilai dan dilaporkan secara terpisah sehingga informasi tidak hilang. Informasi item individu ini diperlukan untuk tiga alasan:

1. Berguna dalam memutuskan apakah ada masalah tertentu dengan item atau apakah itu
secara efektif mengukur kinerja sesuai yang dijelaskan dalam objektif.

2. Digunakan untuk mengidentifikasi sifat pembelajar mengalami kesulitan dengan instruksi. 3. Dapat digabungkan untuk menunjukkan kinerja pelajar yang objektif, dan akhirnya, pada
seluruh tes. Setelah item data yang telah dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah item dasar-oleh tujuantabel tersebut kemudian dimungkinkan untuk membangun tabel data yang lebih komprehensif.

Groups Item-by-Objektif Kinerja tabel ringkasan data yang pertama yang harus dibangun adalah item-oleh-meja objektif. Contoh digambarkan dalam Tabel 11.1. Asumsikan bahwa kita memiliki sepuluh-item tes yang mengukur empat tujuan. Dua puluh pelajar berada di kelompok kecil evaluasi formatif. Tujuan yang tercantum di bagian atas meja, dan item yang dimasukkan di baris kedua dalam tujuan mereka mengukur. Peserta didik data dicatat dalam baris-baris di bawah item dan tujuan. X dalam kolom di bawah item menunjukkan respon yang benar, dan kosong menunjukkan respons yang tidak tepat untuk setiap pelajar. Dengan data mentah yang ditampilkan dengan cara ini, kita dapat menggunakan tabel untuk membuat dua ringkasan untuk analisis: item kualitas dan kinerja peserta didik. Anda harus menganalisis kualitas item pertama, karena item yang rusak tidak boleh dianggap ketika menganalisis kinerja pelajar. Bawah baris berisi ringkasan data yang diperlukan untuk analisis item. Baris pertama berisi jumlah dua puluh siswa yang menjawab setiap item dengan benar. Baris berikutnya berisi persentase peserta didik yang menjawab setiap item dengan benar. Angka-angka ini diperoleh dengan membagi jumlah siswa dalam evaluasi ke jumlah siswa yang menjawab dengan benar-yaitu, untuk item 1,18 / 20 = .90 atau 90 persen. Baris terakhir berisi persentase dari kelompok yang menguasai masing-masing tujuan. Nilai ini dihitung dengan membagi jumlah siswa yang menguasai masing-masing tujuan dengan total jumlah siswa dalam analisis. Dalam contoh ini, pelajar harus benar menjawab semua pertanyaan untuk tujuan untuk menguasai tujuan. Tujuan untuk item-oleh-analisis objektif tiga: untuk menentukan kesulitan dari setiap item untuk kelompok, untuk menentukan kesulitan masing-masing tujuan untuk kelompok, dan untuk menentukan konsistensi yang himpunan item dalam langkah-langkah objektif peserta didik kinerja objektif. Kesulitan item nilai-nilai di atas 80 persen mencerminkan item relatif mudah untuk kelompok, sedangkan mencerminkan nilai-nilai yang lebih rendah yang lebih sulit. Demikian pula, secara konsisten nilai-nilai tinggi atau rendah untuk item-item dalam suatu tujuan mencerminkan kesulitan objektif untuk grup tersebut. Sebagai contoh, nilai kesulitan untuk item 1 dan 2 dalam Tabel 11.1 (90 dan 95) menunjukkan bahwa hampir semua pelajar menguasai item sebagai. sociated dengan tujuan 1. Jika data ini berasal dari sebuah posttest, maka kita dapat menyimpulkan bahwa instruksi yang berkaitan dengan tujuan 1 adalah efektif. Sebaliknya, jika mereka rendah, maka mereka menunjuk kepada instruksi yang harus dipertimbangkan untuk revisi. Konsistensi dari indeks kesulitan item dalam suatu tujuan biasanya mencerminkan kualitas dari item. Jika item mengukur keterampilan yang sama, dan jika tidak ada sengaja kompleksitas atau petunjuk dalam item, kemudian peserta didik performa di set item harus relatif konsisten. Kelompok-kelompok kecil, perbedaan dari 10 atau 20 persen tidak dianggap besar, tetapi perbedaan-perbedaan dari 40 persen atau lebih harus menimbulkan kekhawatiran. Perhatikan dalam Tabel 11.1 data item yang konsisten dalam tujuan 1 dan 2. Sebaliknya, data yang tidak

konsisten di dalam tujuan 3 dan 4. Untuk tujuan 3, dua item ini cukup konsisten (85 dan 90), sementara satu item, 6, menghasilkan kesulitan yang jauh lebih rendah indeks (30). Seperti pola baik sengaja mencerminkan kompleksitas dalam item atau keterampilan yang berbeda yang sedang diukur. Pola yang objektif 4 mengilustrasikan dua konsisten item (50 dan 45) dan satu outlier (90). Jenis ini mencerminkan pola baik petunjuk dalam butir 8 atau keterampilan yang berbeda yang sedang diukur. Ketika kesulitan indeks tidak konsisten diamati dalam suatu tujuan, hal ini menandakan bahwa item dalam himpunan harus ditinjau ulang dan direvisi sebelum menggunakan kembali mereka untuk mengukur kinerja pelajar. Jika item dinilai suara, maka mencerminkan aspek instruksi yang harus dipertimbangkan kembali. Pembelajar Item-by-Objektif Kinerja Tipe kedua analisis yang dapat dilakukan dengan menggunakan item-by-meja objektif kinerja pelajar perorangan. Sebelum melakukan analisis ini, Anda harus menghapus item apapun dinilai cacat selama analisis item. Terakhir empat kolom dalam tabel berisi data kinerja individu. Pertama dua kolom ini berisi nomor dan per sen item yang dijawab dengan benar oleh setiap pelajar. Dua kolom terakhir berisi jumlah dan persen tujuan dikuasai oleh setiap pelajar. Menjawab semua item dalam satu tujuan ditetapkan sebagai kriteria untuk penguasaan. Data hipotetis bagi pelajar dalam Tabel 11.1 menggambarkan bahwa individu-individu di dalam kelompok dilakukan cukup berbeda pada tes. Dua individu menguasai semua empat tujuan, dan nilai tertinggi untuk tiga lainnya berkisar pembelajar tidak tujuan menguasai hingga 75 persen. Jika data ini diwakili kinerja pada perilaku masuk atau keterampilan untuk dimasukkan dalam instruksi, maka mereka akan menyarankan yang sudah siap untuk instruksi instruksi dan apakah benar-benar dibutuhkan oleh beberapa anggota sampel. Sebaliknya, jika mereka tercermin posttest kinerja, maka desainer bisa membuat kesimpulan tentang perlunya merevisi instruksi. Data tentang peserta didik kinerja pada item dan tujuan memberikan informasi yang berbeda, dan untuk formatif evaluator, data tujuan menguasai lebih informatif daripada skor mentah. Peserta didik di seluruh Tes Kinerja item-oleh-tabel tujuan menyediakan data untuk menciptakan tabel untuk meringkas peserta didik kinerja di tes. Tabel 11.2 menggambarkan bagaimana pembelajar-by-tujuan penguasaan dapat digambarkan di tes diberikan. Data yang disajikan untuk hanya lima dari dua puluh mahasiswa dalam analisis, dan ringkasan untuk dua puluh mahasiswa tersebut disajikan di bagian bawah meja. Baris pertama mengidentifikasi tujuan, baris kedua menunjukkan tes, dan baris berikutnya digunakan untuk merekam mahasiswa penguasaan tujuan pada setiap tes. Ringkasan baris kedua di bagian bawah tabel berisi persentase dari dua puluh peserta didik yang menguasai masing-masing tujuan pada setiap pengujian dan peningkatan atau penurunan persentase dari pretest ke posttest untuk setiap tujuan. Idealnya, persentase Tabel 11.2 peserta didik yang menguasai masing-masing tujuan harus meningkat dari pretests ke posttests. Pola seperti digambarkan untuk semua empat tujuan dalam Tabel 11.2.

Anda mungkin juga ingin meringkas pembelajar kinerja di tes dengan menggunakan persentase menguasai tujuan pada setiap tes. Ringkasan seperti digambarkan dalam Tabel 11.3. Baris teratas mengidentifikasi tes dan jumlah tujuan diukur oleh masing-masing. Baris berikutnya berisi tujuan persentase dikuasai oleh setiap siswa pada setiap tes. Baris bawah rata-rata persentase berisi tujuan dikuasai oleh kelompok pada setiap tes. Dari data ini perancang dapat menyimpulkan bahwa: (l) kelompok sesuai untuk dipilih adalah evaluasi, (2) keterampilan meliputi instruksi sebelumnya tidak dikuasai oleh kelompok, dan (3) instruksi itu efektif dalam meningkatkan peserta didik keterampilan. Graphing Learners Performances Cara lain untuk menampilkan data adalah melalui berbagai teknik pembuatan grafik. Grafik dapat menunjukkan kinerja pretest dan posttest untuk setiap tujuan dalam studi evaluasi formatif. Anda mungkin juga ingin membuat grafik jumlah waktu yang diperlukan untuk melengkapi bahan pengajaran serta jumlah waktu yang diperlukan untuk pretest dan posttest. Sebuah contoh pretest / grafik performa posttest muncul pada Gambar 11.1. Tabel 11.3
Studen t Numb er 1 2 3 4 II 20 Mean 67 92 0 14 67 88 3 Behavior Objectives 9 Pretest Instructional Objectives 9 Posttest Objectives

100 100 100 100

11 22 22 11

89 89 89 100

Figura 11.1 Teknik grafis lain untuk meringkas data evaluasi formatif melibatkan bagan analisis instruksional. Prosedur ini memerlukan penentuan rata-rata pretest dan posttest kinerja peserta didik berpartisipasi dalam evaluasi formatif pada keterampilan masing-masing ditunjukkan pada bagan analisis instruksional. Perancang menggunakan salinan bagan analisis instruksional, tanpa pernyataan keterampilan. Lihat Gambar 11.2 untuk contoh dari teknik ini. The pretest dan posttest skor untuk masing-masing tujuan yang dimasukkan dalam kotak yang sesuai. Hal ini memberikan tampilan yang menarik dari hubungan dari nilai pada berbagai keterampilan dalam bahan pengajaran. Ini akan menjadi jelas jika peserta didik kinerja menurun ketika mereka mendekati bagian atas hirarki. Anda mungkin juga menemukan suatu keterampilan dikuasai oleh hanya beberapa peserta didik yang tampaknya memiliki sedikit efek pada berikutnya superordinate penguasaan keterampilan. Jenis Data lain Ada jenis data lain untuk meringkas dan menganalisis di samping peserta didik pada tujuan kinerja. Telah ditemukan bahwa cara yang baik untuk meringkas data dari suatu sikap kuesioner ini adalah untuk menunjukkan pada salinan kosong kuesioner persentase

peserta didik yang memilih tiap alternatif untuk berbagai pertanyaan. Jika Anda juga meminta terbuka, umum tanggapan dari pembelajar, maka Anda dapat merangkum mereka untuk setiap pertanyaan. Penting lain jenis data adalah komentar yang diperoleh dari pembelajar, dari instruktur lain yang terlibat dalam evaluasi formatif, dan subjek-materi dari para ahli yang bereaksi terhadap bahanbahan. Data dan informasi yang dikumpulkan dalam konteks kinerja evaluasi formatif mungkin harus diringkas dalam mode deskriptif. Karena hampir mustahil untuk merangkum komentar ini dalam bentuk tabel atau grafik, lebih baik untuk mencoba untuk menghubungkan masing-masing komentar ini ke bahan pengajaran sendiri, atau untuk tujuan dalam bahan-bahan yang mereka rujuk. Komentar-komentar ini dapat ditulis langsung pada salinan dari bahan. Jenis akhir data ringkasan Anda mungkin ingin mempersiapkan berkaitan dengan pendekatan alternatif apapun Anda mungkin telah digunakan selama baik kelompok kecil evaluasi atau uji coba lapangan. Data ini mungkin kinerja pada item tes spesifik, respon pada kuesioner sikap, atau bahkan sebuah indikasi dari total waktu belajar. Urutan untuk Meneliti Data Ketika engkau menyiapkan ringkasan data Anda, Anda akan segera mulai mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas umum bahan pengajaran Anda dan sejauh mana revisi Anda mungkin diminta untuk membuat. Setelah memeriksa data umum, kami sarankan agar Anda menggunakan data dalam urutan berikut. Perilaku entry Pertama, setelah menghapus data untuk semua item yang rusak, Anda harus memeriksa data yang tersisa berkenaan dengan masuknya perilaku peserta didik. Apakah pelajar dalam evaluasi formatif memiliki perilaku entri Anda diantisipasi? Jika demikian, apakah mereka berhasil dengan bahan pengajaran? Jika mereka tidak berhasil, tetapi tidak memiliki entri yang diperlukan perilaku, maka anda harus mempertanyakan apakah Anda telah mengidentifikasi perilaku entri kritis. Pretests dan Posttests Langkah kedua adalah untuk meninjau pretest dan posttest data ditampilkan pada bagan analisis instruksional. Jika Anda sequencing bahan-bahan yang tepat dan jika Anda mengidentifikasi keterampilan yang hierarkis bergantung pada satu sama lain, maka kinerja pelajar harus menurun saat Anda bergerak ke atas melalui hierarki-yaitu, harus ada pelajar miskin performa di terminal tujuan daripada keterampilan sebelumnya . Ketika instruksi bekerja dengan baik, akan ada, tentu saja, akan ada penurunan kinerja peserta didik sebagai pembelajar menyelesaikan keterampilan di bagian atas analisis. Data ini akan membantu Anda mengidentifikasi dengan tepat di mana masalah yang ada dan bahkan mungkin menyarankan perubahan dalam urutan pengajaran keterampilan tertentu. Ketiga, Anda dapat memeriksa skor pretest untuk menentukan sejauh mana individu pembelajar, dan kelompok secara keseluruhan, telah memperoleh keterampilan yang Anda mengajar. Jika mereka sudah memiliki sebagian besar keterampilan, maka anda akan menerima relatif sedikit informasi tentang efektivitas instruksi atau bagaimana hal itu bisa diperbaiki. Jika mereka tidak memiliki keterampilan ini, maka Anda akan memiliki lebih percaya diri dalam analisis yang mengikutinya.

Dengan membandingkan nilai pretest dengan posttest objektif dengan objektif, yang biasanya apa yang dilakukan ketika Anda memeriksa bagan analisis instruksional, Anda dapat menilai peserta didik kinerja pada setiap tujuan tertentu dan mulai terfokus pada tujuan tertentu dan instruksi yang terkait dengan kebutuhan yang muncul revisi . Saat Anda mengidentifikasi tujuan-tujuan yang dilakukan pembelajar buruk, memeriksa kata-kata yang tepat tujuan dan tes terkait item, dan tepat jawaban siswa item. Sebelum merevisi bahan pengajaran, lihat tabel analisis konten anda untuk melihat apakah item tes yang buruk, bukan bahan, menunjukkan kinerja pelajar miskin. Semua yang mungkin diperlukan adalah tes direvisi item daripada revisi besar dari bahan pengajaran. Strategi instruksional Langkah selanjutnya adalah untuk memeriksa strategi instruksional yang terkait dengan berbagai tujuan dengan pelajar yang mengalami kesulitan. Apakah strategi yang direncanakan benar-benar digunakan dalam bahan pengajaran? Apakah ada strategi alternatif yang mungkin digunakan? Langkah terakhir adalah untuk memeriksa bahan-bahan untuk mengevaluasi diri mereka komentar tentang area masalah yang dibuat oleh peserta didik, instruktur, dan subjek-materi ahli. Belajar Sisa Sebuah perhatian penting dalam evaluasi formatif adalah jumlah waktu yang diperlukan oleh mahasiswa untuk melengkapi bahan pengajaran. Mungkin perlu bagi Anda untuk merevisi bahan-bahan untuk membuat mereka dapat tampil dalam periode waktu tertentu. Ini adalah tugas yang sangat sulit, dan itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Dengan bahan individual tidak lazim bagi pelajar yang paling lambat untuk mengambil dua atau tiga kali lebih lama daripada pelajar tercepat. Mengetahui apa yang harus hapus dari materi atau berubah tanpa mengganggu belajar sangat sulit untuk ditentukan. Sering kali keputusan dapat dibuat hanya setelah pengadilan / merevisi / persidangan / proses merevisi dengan target pelajar. Prosedur instruksional Data yang berhubungan dengan pelaksanaan bahan pengajaran juga harus diperiksa. Kami menyarankan sebelumnya bahwa Anda mungkin mengumpulkan data menyesatkan karena salah operasi peralatan media. Mungkin juga telah gangguan di dalam kelas, perpanjangan istirahat makan siang, atau salah satu dari berbagai jenis kegiatan lainnya yang umum untuk berbagai instruksi pengaturan nasional. Karena gangguan ini tidak dapat dikendalikan, mereka hanya harus dicatat dan dijelaskan. Di sisi lain, ada kekhawatiran prosedural yang dapat dikendalikan. Apakah pembelajar terhambat oleh logistik yang diperlukan untuk menggunakan bahan-bahan? Apakah ada pertanyaan tentang bagaimana untuk melanjutkan dari satu langkah ke depan? Apakah ada penundaan panjang dalam mendapatkan nilai tes? Ini adalah jenis masalah prosedural pelaksanaan yang sering diidentifikasi dalam kuesioner dan diskusi tanya jawab. Solusi untuk masalah-masalah seperti itu harus ditemukan dan dimasukkan ke dalam baik instruksi atau instruktur manual untuk membuat kegiatan pengajaran berjalan lebih lancar.

1. Proses Revisi
Kami menyarankan bahwa ketika Anda memulai proses revisi, Anda meringkas data Anda seperti yang disarankan dalam bab ini. Kami menyadari bahwa kebutuhan desainer instruksional

akan berbeda menurut jenis bahan yang mereka bekerja, namun strategi yang disarankan di sini harus diterapkan pada hampir semua usaha desain instruksional. Sebagai contoh, jika Anda telah mengajarkan keterampilan psikomotorik, maka kinerja posttest Anda akan dicatat pada rubrik dari beberapa macam, dan diringkas pada bagan analisis instruksional. Mungkin juga ada kertas dan pensil bawahan ujian keterampilan dan pengetahuan. Skor ini harus diperiksa sehubungan dengan keterampilan motorik yang terkait. Penggunaan sikap tanggapan dan waktu belajar akan sama untuk semua jenis instruksi. Mengingat semua data dari evaluasi kelompok kecil atau uji lapangan, perancang harus membuat keputusan tentang bagaimana membuat revisi. Hal ini hampir selalu terlihat di mana masalahnya, tetapi tidak selalu jelas apa yang sebaiknya dilakukan perubahan. Jika perbandingan beberapa pendekatan telah tertanam dalam evaluasi formatif, maka hasilnya harus menunjukkan jenis perubahan yang akan dibuat. Jika tidak, mengusulkan untuk merevisi strategi mengikuti instruksi satu-ke-satu evaluasi juga berlaku pada saat ini, yaitu menggunakan data, pengalaman Anda, dan suara prinsip-prinsip pembelajaran sebagai dasar untuk revisi Anda. Satu peringatan: Hindari menanggapi terlalu cepat untuk setiap satu bagian dari data, apakah itu adalah peserta didik kinerja pada tujuan tertentu, komentar dari seorang individu pembelajar, atau pengamatan oleh ahli-materi subjek. Mereka semua informasi berharga, namun Anda harus berusaha untuk menguatkan data ini dengan data lainnya. Lihat kinerja serta data pengamatan yang akan membantu Anda berfokus pada kekurangan tertentu dalam bahan pengajaran. Saran tambahan: Ketika meringkas data dari evaluasi lapangan, Anda harus berhati-hati untuk meringkas dalam yang akurat dan jelas mode. Anda akan menemukan bahwa data-data ini menarik tidak hanya untuk Anda sebagai perancang instruksional, tetapi juga akan berfungsi sebagai kendaraan yang efektif untuk menunjukkan kepada orang lain bagaimana peserta didik dilakukan dengan instruksi Anda. Tabel dan grafik dapat menyediakan baik umum dan penjelasan rinci tentang kinerja keseluruhan dari peserta didik. C. Hasil Pengembangan Revisi terhadap semua langkah pada desain Dick and Carey adalah sebagai berikut :

1. Langkah Analisis Pembelajaran


Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden menyatakan langkah analisis pembelajaran yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

1. Langkah Analisis Pembelajaran dan Kontek


Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden menyatakan langkah analisis pembelajaran dan konteks yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

1. Langkah Menulis Tujuan Performansi


Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden menyatakan langkah Menulis tujuan performansi yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

1. Langkah Pengembangan Instrumen Penilaian 1. Sesuai dengan hasil angket yang disebarkan pada responden menyatakan langkah
Pengembangan Instrumen Penilaian yang dirancang sudah cukup baik dan tidak ada revisi.

1. Langkah Pengembangan Strategi Pembelajaran


Pada langkah pengembangan strategi pembelajaran bagian yang di revisi adalah: Media pembelajaran baru menggunakan laptop dan LCD. Dalam pengembangan penggunaan media perlu digunakan media internet untuk mencari materi dan contoh yang lebih bervariasi dan terbaru.

1. Langkah Pengembangan dan Pemilihan Material Pembelajaran


Pada langkah Pengembangan dan Pemilihan Material pembelajaran bagian yang di revisi adalah:

1. Isi Material direvisi dengan mencari dan menambahkan materi dari berbagai sumber
belajar.

2. Penulisan Media pembelajaran pada presentasi powerpoin terlalu kecil sehingga perlu
diperbesar ukuran fontnya.

1. Langkah Mendesain tes Evaluasi Formatif


Pada langkah Mendesain tes Evaluasi Formatif bagian yang di revisi adalah:

1. Instrumen penilaian perlu ditambah soal soal yang menyangkut aspek kognitif. 2. Instrumen untuk penilaian untuk tes unjuk kerja/ tes praktik.

Langkah 10 Merancang dan Melakukan Evaluasi Sumatif Design and Conduct Summative Evaluations ! 5is!s!n ole" *!"ama %"otib/ 2ri (a"#! 3an o#o/ &!#ono (a"#!ni &atia0ati/ +ita 6mbar0ati "# Latar $elakang 78al!asi 9ormati9 mer!pakan proses peng!mp!lan ata an in9ormasi alam rangka !nt!k meningkatkan e9ekti8itas pengajaran. &e angkan 78al!asi &!mati9 a ala" proses peng!mp!lan ata an in9ormasi alam rangka !nt!k memb!at kep!t!san tentang perole"an t!j!an pembelajar #ang tela" iran$ang. Penilaian 9ormati9 ilaksanakan sebagai s!at! proses #ang bersi9at membang!n tanpa mengan !ng kep!t!san. :am!n/ pa a s!at! titik tertent!/ perl! iketa"!i apaka" pengajaran kita s! a" e9ekti9. 6gar kita apat men$apai kep!t!san it!/ penilaian s!mati9 perl! ilaksanakan. 6 a !a ta"ap e8al!asi s!mati9. 4ang pertama ber9ok!s pa a "!b!ngan antara instr!ksi/ minat/ an keb!t!"an organisasi. 2a"ap ke !a a ala" !ji $oba lapangan ari instr!ksi #ang mirip engan 9ase ketiga e8al!asi 9ormati9/ ke$!ali sekarang ilak!kan !nt!k t!j!an #ang berbe a #ait!/ !nt!k menent!kan apaka" meng"asilkan "asil #ang iinginkan !nt!k pengambil kep!t!san $# Konse% Pengembangan 78al!asi s!mati9 i e9inisikan sebagai esain st! i e8al!asi an peng!mp!lan ata !nt!k mem8eri9ikasi e9ekti8itas ba"an pengajaran engan target pelajar. 2!j!an !taman#a a ala" !nt!k menent!kan ig!nakan ata! ti ak ba"an pengajaran i lingk!ngan sekitar an menga opsi ba"an #ang berpotensi !nt!k keb!t!"an instr!ksional 78al!asi s!mati9 memiliki !a 9ase !tama' penilaian a"li an !ji $oba lapangan. 2!j!an ari ta"ap penilaian a"li !nt!k menent!kan apaka" ig!nakan instr!ksi ata! instr!ksi lainn#a #ang memiliki potensi !nt!k keb!t!"an instr!ksional. 2!j!an ari ta"ap !ji $oba lapangan !nt!k men ok!mentasikan e9ekti8itas pengajaran #ang menjanjikan engan anggota kelompok sasaran alam pengat!ran imaks! . 6nalisis an kep!t!san #ang "ar!s ib!at selama setiap ta"ap. %egiatan #ang ilak!kan alam ta"ap penilaian a"li a ala" ;l< menge8al!asi keses!aian antara keb!t!"an instr!ksional pengajaran/ ;2< menge8al!asi kelengkapan an ketepatan pengajaran/ ;3< menge8al!asi strategi instr!ksional #ang terkan !ng alam pengajaran/ ;4< menge8al!asi !tilitas ari instr!ksi/ an ;5< menent!kan kep!asaan pembelajaran. 2a"ap !ji $oba lapangan memiliki !a komponen. Pertama a ala" "asil analisis/ #ang melibatkan an menent!kan e9ek instr!ksi pa a peserta i ik. %e !a/ analisis manajemen/ melip!ti penilaian sikap instr!kt!r an s!per8isor #ang terkait engan kinerja pelajar/ pelaksanaan kela#akan/ an bia#a. 2!j!an !tama ari per$obaan lapangan a ala" !nt!k menem!kan baik kek!atan an kelema"an ari instr!ksi/ !nt!k menent!kan pen#ebabn#a/ an !nt!k men ok!mentasikan kek!atan an masala". Ke%utusan ahli dari Evaluasi Sumatif

1. 6nalisis keses!aian 2. 6nalisis kontan 3. 6nalisis 5esain 4. 6nalisis %ela#akan Pa a s!mati9 soaln#a bisa berbe a engan 9ormati9 tergant!ng engan " asil analisis an re8isi. 4ang melak!kan il!ar peran$ang = seorang e8al!ator 2arget !ji lapangan i 1ormati9 an &!mati9 bisa berbe a #ang penting sat! le8el. 5ata tes an non tes. %eb!t!"an organisasi. &eorang penilai "ar!s menent!kan keses!aian antara keb!t!"an organisasi/ karakteristik pembelajar sasaran mereka/ an keb!t!"an an karakteristik ba"an kan i at #ang iran$ang. >nt!k melak!kan analisis keses!aian/ peran$ang "ar!s terlebi" a"!l! memperole" gambaran #ang jelas ari keb!t!"an organisasi/ #ang men$ak!p gambaran #ang ak!rat $atatan perilak! an karakteristik sasaran peserta i ik. &!mber a#a. Peran$ang "ar!s menganalisis keses!aian antara s!mber a#a organisasi engan pembelian an pelaksanaan ba"an pengajaran an bia#a !nt!k memperole" an mengg!nakanl ba"an pembelajaran. &etela" iperole" eskripsi #ang mema ai/ peran$ang "ar!s memban ingkan' ;1< keb!t!"an organisasi keb!t!"an 8ers!s iba"as alam materi/ ;2< organisasi kelompok?kelompok sasaran 8ers!s kelompok sasaran !nt!k ba"an?ba"an/ an ;3< s!mber a#a organisasi 8ers!s pers#aratan !nt!k men apatkan an melaksanakan instr!ksi. Pertan#aan?pertan#aan ini "ar!s ija0ab sebel!m melak!kan !ji $oba lapangan sem!a ba"an? ba"an engan peserta i ik. 6nalisis konten. &ala" sat! strategi alam men#e iakan para a"li engan men#iapkan salinan sem!a ba"an an meminta mereka !nt!k menilai keak!ratan an kelengkapan ba"an?ba"an !nt!k t!j!an #ang in#atakan. 4ang lebi" baik/ lebi" "emat bia#a?strategi #ang e9ekti9 akan bekerja engan para a"li !nt!k meng"asilkan seb!a" analisis instr!ksional in#atakan. 3asil analisis a"li "ar!s men$ak!p t!j!an analisis an analisis keterampilan ba0a"an. 6nalisis 5esain/ 5alam menganalisis esain iperl!kan a9tar periksa #ang apat ig!nakan !nt!k meninja! an memban ingkan ba"an?ba"an #ang akan menja i kan i at #ang paling men#el!r!" an meng"emat 0akt! pen ekatan. 6nalisis %ela#akan keg!naan >nt!k setiap set e8al!asi / "ar!s ipertimbangkan 9aktor?9aktor seperti keterse iaan pan !an ata! silab!s pelajar an instr!kt!r man!al. 1aktor?9aktor #ang terkait engan keta"anan ba"an pertimbangan lain. Ba"an pertimbangan lain a ala" s!mber a#a k"!s!s/ seperti kemamp!an instr!kt!r/ peralatan/ ata! lingk!ngan #ang iperl!kan. >nt!k esain bagian e8al!asi

s!mati9/ iperl!kan 0a0an$ara ter"a ap orang?orang alam organisasi #ang meminta e8al!asi. *elal!i isk!si engan mereka apat ipastikan ba"0a tela" itent!kan keb!t!"an mereka/ s!mber a#a/ an ken ala. @!rrent >ser 6nalisis / Pemakai 6nalisa . 6 a analisis lain #ang perl! i sertakan alam esain. .!nan#a !nt!k men$ari in9ormasi tamba"an tentang ba"an $alon ari organisasi #ang berpengalaman alam mengg!nakan mereka. Aenis in9ormasi apa #ang "ar!s i$ari' 6pa perilak! an moti8asi !nt!k mempelajari ba"anB 6pa #ang mereka pretest an posttest tingkat kinerja mengg!nakan instr!ksiB &ase 'ji la%angan dari Evaluasi sumatif >ji lapangan men$ak!p bagian?bagian berik!t' peren$anaan !nt!k e8al!asi/ mempersiapkan !nt!k pelaksanaan/ pelaksanaan pengajaran an peng!mp!lan ata/ meringkas an menganalisis ata/ an pelaporan "asil. Peren$anaan. %egiatan peren$anaan pertama a ala" esain bi ang !ji. &i9at ari esain tergant!ng pa a beberapa 9aktor/ termas!k penilaian keb!t!"an/ si9at ba"an/ an apaka" ba"an?ba"an #ang lain isertakan. Perl! ie8al!asi "an#a sat! set ba"an mengg!nakan sat! kelompok/ sat! set materi mengg!nakan beberapa kelompok engan karakteristik #ang berbe a ata! alam sit!asi #ang berbe a/ ata! set bersaing ba"an?ba"an engan mengg!nakan kelompok?kelompok #ang seban ing an pengat!ran. 6kti8itas esain lain a ala" !nt!k menggambarkan engan jelas pertan#aan?pertan#aan "ar!s ija0ab selama penelitian. Pa a asarn#a/ pertan#aan 6n a "ar!s meng"asilkan in9ormasi !nt!k ke !a "asil analisis ; ampak pa a pelajar/ pekerjaan/ an organisasi< an analisis manajemen. Pertan#aan pasti akan ber"!b!ngan engan peserta i ik perilak! entr#?le8el/ pretest an posttest mereka per9orma i t!j!an/ an sikap mereka. 5i samping pertan#aan?pertan#aan terkait engan kinerja alam konteks pembelajaran/ a a sel!r!" rangkaian pertan#aan tentang kinerja alam konteks trans9er. +en$ana "ar!s ib!at !nt!k melak!kan tin ak lanj!t kegiatan engan beberapa ata! sem!a peserta alam instr!ksi. (a0an$ara/ k!esioner/ an pengamatan apat ig!nakan engan baik pelajar an manajer/ rekan kerja/ an ba0a"an alam rangka !nt!k menent!kan ampak alam konteks kinerja. 6k"ir kegiatan peren$anaan a ala" !nt!k mengembangkan orientasi an pelati"an bagi instr!kt!r. 78al!asi s!mati9 #ang baik akan memerl!kan kerja sama ari orang?orang #ang melaksanakan instr!ksi. *ereka "ar!s merasa ba"0a mereka a ala" bagian penting ari st! i ini/ ba"0a mereka akan iberita"!/ an ba"0a pen apat mereka meng"it!ng. *engembangkan "!b!ngan a0al engan kelompok ini an memperta"ankan "!b!ngan kerja sama i sel!r!" st! i akan meningkatkan k!alitas !ji lapangan an ata apat iperole". *empersiapkan. %egiatan alam ta"ap persiapan mengalir ari kep!t!san #ang ib!at selama ta"ap peren$anaan. *ereka melibatkan memperole" sem!a ba"an/ instr!men/ s!mber a#a/ an orang?orang #ang itent!kan. Pelaksana / *eng!mp!lkan ata. &elama pelaksanaan instr!ksi "ar!s ik!mp!lkan sem!a jenis ata #ang itent!kan. Peng!mp!lan ata melal!i tolok !k!r kinerja/ pengamatan/ 0a0an$ara/ an k!esioner. *eringkas an menganalisis ata. +ingkasan ata teknik #ang tela" ijelaskan !nt!k !ji $oba lapangan e8al!asi 9ormati9 ses!ai !nt!k s!mati9 per$obaan lapangan. Perl! ib!at tabel !nt!k memban ingkan kemaj!an in i8i ! an kelompok ari pretests !nt!k menggambarkan posttests an pengg!naann#a alam konteks kinerja.

Pelaporan 3asil &i9at laporan e8al!asi s!mati9 tergant!ng pa a esain. Aika baik alam penilaian a"li an ta"ap !ji $oba lapangan/ maka ke !an#a "ar!s i ok!mentasikan alam laporan. Pa a bagian ini ijelaskan t!j!an !m!m/ pertan#aan?pertan#aan k"!s!s/ ran$angan an prose !r/ "asil/ an rekomen asi an asar pemikiran. 6lasan !nt!k rekomen asi "ar!s ber asarkan ata #ang a a alam bagian "asil. Perban ingan e8al!asi 9ormati8e engan s!mati9 Perban ingan antara 78al!asi 9ormati9 an s!mati9 a ala" sebagai berik!t'
"s%ek 2!j!an Evaluasi formatif *en$ari kelema"an alam instr!ksi !nt!k mere8isin#a Evaliuasi Sumative

*en$ari kek!atan serta kelema"an ok!men alam pengajaran s!pa#a apat mem!t!skan apaka" aka memperta"ankan ata! menga opsi it! %ep!t!san 6"li >ji lapangan

1ase

>ji sat! sat! %elompok 2erbatas >ji lapangan

&ejara" pengembangan pembelajaran Ba"an Posisi e8al!ator 3asil

Ba"an pengajaran sistematis iran$ang i r!ma" an ises!aikan engan keb!t!"an organisasi &at! set ba"an 6nggota "asil esain an tim pengembangan &!at! resep !nt!k mere8isi instr!ksi Biasan#a e8al!ator eksternal

&at! set ba"an ipro !ksi i r!ma" ata! i tempat lain ti ak perl! mengik!ti pen ekatan s#stem !rai &at! set ba"an ata! beberapa set bersaing 2ipe penilai ari l!ar &eb!a" laporan men ok!mentasikan esain/ prose !r/ "asil/ rekomen asi/ an asar pemikiran

(# )asil Pengembangan @37@%L-&2 >:2>% -&- 6:6L-&-& *7:.7,6L>6&- %7L7:.%6P6: 56: %727P626: B636:
@an i ate %etrampilan &!bor inate *62 1 1.1 1.2 2 2.1 2.2 2.3 D D D ) ) ) ) P+7 D D D D D D D PC&2 D D D D D D D *62 D D D D D D D P+7 D D D D D D D PC&2 D D D D D D D *62 D D D D D D D P+7 D ) ) ) ) ) ) PC&2 ) ) ) ) ) ) ) @an i ate @an i ate

2.4 2otal

@atatan' *62 ' -si *ateri Pembelajaran= P+7 an PC&2 tes= )' %etrampilan alam material/ tes. 56126+ P7*B6:5-:. >:2>% 6:6L-&-& 57&6-: *7:.7,6L>6&- &2+627.B7L6A6+ 56: -:&2+>%&-C:6L 56L6* B636:
Ads not by this site

6+@3 *oti8ation *o el

Pertan#aan e8al!asi &!mati9

Pembelajaran 1

Pembelajaran 2

Pembelajaran 3

47& Per"atian 1. 6paka" strategi #ang ig!nakan !nt!k memperole" an menjaga per"atianB 2. 6paka" pembelajaran rele8an engan target B 3.6paka" pembelajar per$a#a iri !nt!k apat s!kses B 4. 6paka" pembelajar p!as engan pengalaman belajar B 8

:C

47& 8

:C

47& 8

:C

+ele8ansi Per$a#a iri

8 8

8 8

8 8

%ep!asan

@37@% L-&2 %6+6%27+-&2-% P7*B7L6A6+6: B7+56&6+ P+-:&-P P7*B7L6A6+6: P656 %7*6P>6: -:27L7%2>6L/ -:1C+*6&- ,7+B6L/ &-%6P 56: %727+6*P-L6:
-. -ntelekt!al &kill Pertan#aan e8al!asi &!mati9 Pembelajaran 1 Pembelajaran 2 Pembelajaran 3

47& 1. 6paka" pembelajar mengingat pengeta"!an pras#arat alam ingatann#aB 2. 6 aka" ling men#iapkan pembelajaran antara kemap!an pras#arat engan pengeta"!an bar! alam memoriB 3. 6 aka" kemamp!an organisasi bar! menampilkan se"ingga apat siap membangkitkan ingatanB 4. 6 aka" prose !r aplikasi menggambarkan peran an prinsipB 5. 6paka" k!alitas kriteria langs!ng menggambarkan $!k!p ata! tak $!k!p "asil pro !k/ ata! per9ormansiB , , , , 8

:C

47& , , , , 8

:C

47& , , , , ,

:C

--. -n9ormasi ,erbal 1. 6 aka" in9ormasi bar! itampilkan pa a kontek #ang rele8anB 2.6paka" strategi men#iapkan link in9ormasi bar! alam memorin#aB 3.6paka" in9ormasi bar! ikelola 4. 6 aka" tabel/ $eklis/ o!tline #ang mem!at ringkasan in9ormasi B 56 akan logika mnemonok #ang men#iapkan ketikan in9ormasi bar! ti ak apat ter"!b!ngkan alam memoriB 6. 6paka" praktik teramas!k sikap #ang iperk!at is#arat elaborasiB ---.&ikap 16 aka" perasaan keinginan igambarkanB 2. 6paka" keinginan tingka" lak! tergambarkanB 3.6 aka" link antara perasaan keinginan tingka" lak! positi9 ibang!nB an i

47& , , , , , ,

:C

47& , , , , , ,

:C

47& , , , , , ,

:C

47& , , , , ,

:C

47& , , , , ,

:C

47& , , , , ,

:C

4 6 aka" sisi positi9 an negati9 #ang itampilkan an iper$a#a ari pembelajar B 5. 5alam !mpan balik a aka" konsek0ensi positi9 an negati9 ijanjikan !nt!k pengalaman langs!ng pembelajarB -,. %etrampilan *otorik 1. 6paka" t!j!an pembelajaran mirip engan ketrampilan pembelajar apat ilak!kanB 2.6paka" pembelajaran termas!k presentasi 8is!al menggambarkan !r!tan 0akt!B 3.6paka" ketrampilan #amng komplek mer!sak bagian logika pembelajar/ analisis/ eksperoimen/ an lati"an. 4. 6paka" lati"an #ang ber!lang E!lang pa a pembelajar akan memperlan$ar ketrampikanB

47& , , , ,

:C

47& , , , ,

:C

47& , , , ,

:C

(EKL*S 'N+'K E,"L'"S* K-MP-NEN PEM$EL"."/"N D"/* S+/"+E0* M"+E/*"L PEM$EL"."/"N


Ads not by this site

%etrampilan &!bor inate

@an i ate *62 PC&2 D D D

@an i ate *62 D D D PC&2 D D D

@an i ate *62 D D D PC&2 D D D

-.Pra Pembelajaran *oti8asi 2!j!an

D D D

7ntr# be"a8ior 1. Penjelasan 2. @onto" item

) ) )

) ) )

) ) )

) ) )

) ) )

) ) )

--.-n9ormasi presentasi &tr!kt!r organisasi ?3ea ing ?-l!strasi 7laborasi 6nalaogi Pertimbangan promosi %arakteristik $onto" #g rele8an +ingkasan --- Partisipasi Pembelajar Praktek #ang rele8an >mpan balik 1. Aa0aban 2. @onto" sol!si 3. %esala"an >m!m -,. 6kti8itas 2in ak Lanj!t 12!j!an ingatan &trategi trams9er

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

2otal

1C+*62 >:2>% 5C%>*7:26&- 56: P7+B6:5-:.6: %7.>:66: *627+-6L


Ads not by this site

%an i at 1 %ela#akan Pertan#aan *aterial 4es - %arakteristik Pembelajaran 6. 6paka" material ter iri ari 1. Pet!nj!k / &i!lab!sB 2. Pembelajajaran man!alB 3. -tem tesB B. 5apatka" materalF. 4. ilal!i in i8i !B , , , , , , , , , , , , , , , , :o >ser satis9 4es :o

%an i at 2 *aterial 4es :o >ser satis9 4es :o

, , , , , , , ,

, , , , , , , ,

5. ilal!i kelompokB 6. !nt!k kelas tra isionalB 7. ig!nakan pembelajaran terp!satB 8. ig!nakan i r!ma"/ perp!stakaanB @. 6paka" material memerl!kan 9. -nstr!kt!r k"!s!sB 10. 6lat k"!s!sB 11. Limgk!ngan k"!s!sB 5.Berapa lama apat iambil 12.lengkap pa a sat! sesenB 13. Lengkap 1 !nitB

, , , ,

, , , ,

, , , ,

, , , ,

14. lengkap 1 pembelajaranB 15.lengkap sampai tesB 7. 6paka" material mengara"kan pa a' 16. tingkat perole"anB 17. per!ba"ab sikap an moti8asiB 18. *elengkapi pekerjaan setiap !nitB 19. *elengkapi t!j!an an missi B

, , , , , ,

, , , , , ,

, , , , , ,

, , , , , ,