Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Stres sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, stres merupakan salah satu gejala psikologis yang dapat menyerang setiap orang. Stres dapat timbul karena adanya konflik dan frustrasi. Sebagian besar orang beranggapan bahwa yang dimaksud stres adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuat orang tersebut merasa tidak nyaman, bingung, mudah marah, tekanan darah meningkat, detak jantung lebih cepat, gangguan pencernaan, dan sebagainya. Sebagian besar stres dapat dipicu karena pengaruh eksternal danada pula yang dipengaruhi oleh faktor internal individu tersebut. Stres sebenarnyadapat dicegah dan diatasi dengan cara-cara tertentu. Tapi melihat adanya halhal tersebut, tampaknya tidak banyak orang yang mengetahui tentang stres, bagaimana mencegahnya, mengatasi, ataupun memanfaatkan stres tersebut sebagai salah satu bagian dari hidup kita. Pemahaman yang baik terhadap stres akan membantu kita dalam menghadapi stres ketika stres tersebut menyerang kita, melalui penanganan yang tepat dengan adanya pemahaman yang baik mengenai stres, maka individu tidak akan terkena dampak negatif dari stres tersebut. Untuk dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman akan stress tersebut, maka saya susun makalah ini yang membahas tentang stres lebih lanjut dengan sumber-sumber yang berbeda.

1.2. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa pengertian stres ? Apa gejala-gejala stres ? Apa ciri-ciri stres ? Apa sajakah faktor pemicu stres ? Apa sajakah jenis stres ? Bagaimana cara mengatasi stres ?

1.3.Tujuan 1. Mengetahui pengertian stress 2. Mengetahui gejala-gejala stress 3. Mengetahui ciri-ciri stress 4. Mengetahui faktor pemicu stress 5. Mengetahui jenis stress 6. Mengetahui cara mengatasi stres 1.4.Manfaat 1. 2. Dapat memberikan pemahaman yang cukup mengenai stres kepada pembaca Membantu pembaca atau siapa pun ketika menghadapi stress

BAB II PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Stres Berbagai pandangan manusia mengenai stres menghasilkan pengertian yang berbeda-beda tentang stres itu sendiri. Stres hanyalah sekedar gangguan sistem syaraf yang menyebabkan tubuh berkeringat, tangan menggenggam, jantung berdetak kencang, wajah memerah, dan sebagainya. Paham realistik memandang stres sebagai suatu fenomena jiwa yang terpisah dengan jasmani atau tubuh manusia atau fenomena tubuh belaka tanpa ada hubungan dengan kejiwaan. Sedangkan paham idealis menganggap stres adalah murni fenomena jiwa. Hal ini membuat kita sulit untuk menjelaskan kenapa jika fenomena stress hanyalah fenomena jiwa namun memberikan dampak pada fisik seseorang seperti dada yang berdebar-debar, keringat, dan sebagainya. Stres adalah suatu kondisi dinamis dimana individu dihadapkan dengan suatu kesempatan , kendala atau permintaan yang berhubungan dengan apa yang ia inginkan dan untuk hasil yang mana dirasakan menjadi tak pasti dan penting. Yang dapat dilihat dari gejala yang ditimbulkan baik dari aspef fisiologis, psikologis dan tingkah laku.(Rabbin, Stephen P, 1993). Stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang (Handoko , 1985). Menurut Robins (1996), stresss adalah kondisi dinamik yang mana seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang, kendala (constraints) atau tuntutan (demands) yang dikaitkan dengan apa yang sangat diinginkan dan yang hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting. Stress yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Berbagai gejala stress dapat mengganggu rutinitas sehari-hari. Gejala-gejala stress ini menyangkut baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Orang-orang yang mengalami stress bisa menjadi nervous dan merasakan kekwatiran kronis, mudah marah, agresi, tidak dapat relaks atau menunjukkan sikap yang tidak kooperatif. Tak seorang pun dapat menghindari stres karena untuk menghilangkannya berarti akan menghancurkan hidupnya sendiri ( Hans Selye, 1978 ).

Stres merupakan interaksi antara individu dengan lingkungan. Pendekatan ini telahdibatasi sebagai model psikologi. Model psikologi ini menggambarkan stres sebagai suatu proses yang meliputi stresor dan ketegangan ( strain ). Interaksi antara individu dengan lingkungannya yang saling mempengaruhi itu dinamakan dengan interaksi transaksional yang di dalamnya terdapat proses penyesuaian. Stres bukan hanya stimulus atau respon tetapi juga agen aktif yang dapat mempengaruhi stresor melalui strategi prilaku, kognitif dan emosional. Individu akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap stresor yang sama. Pendekatan medikospikologis stres adalah paradigma dasar dari psikoneuroimunologi, jenis stresor ini menyebabkan gangguan non-spesifik dalam sistem biologis. Definisi tentang stres yang sangat beragam menunjukan bahwa stres bukanlah suatu hal yang sederhana. Salah satu definisinya adalah stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan ( Vincent Cornelli, dalamMustamir Pedak, 2007 ). Kesimpulan dari para ahli tentang stres yaitu stres bias terjadi karena manusia begitu kuat dalam mengejar keinginan serta kebutuhannya dengan mengandalkan segala kemampuan dan potensinya. Grant Brecht memandang stres dapat timbul oleh banyak hal misalnya berbagai persoalan hidup yang dihadapi oleh individu dalam kehidupannya pribadi. Oleh karena itu stress juga didefinisikan sebagai proses ketika stresor mengancam keselamatan dan kesejahteraan individu atau organisme. ( Laura Cousino Klein &Elizabeth J. Corwin, dalam Laura Cousino Klein & Elizabeth J. Corwin, 2009 ). Putra dalam Nursalam & Ninuk Dian Kurniawati mengatakan stres merupakan respon terhadap stresor dan istilah ini berkembang sejalan dengan perkembangan psikologi ( Putra, dalam Nursalam & Ninuk Dian Kurniawati, 2007 ). EricLindermann & Gerald Caplan dalam Weitin ( 2004 ) memberi batasan berupastres adalah keadaan psikologis yang melibatkan kognisi dan emosi. Pada perkembangan selanjutnya muncul konsep stres dari Dhabhar Mc Ewen ( 2001 ) bahwa stresor akan direspon oleh otak berupa persepsi stress ( stres perception ), kemudian direspon oleh sistem lain termasuk sistem imun sehingga timbul responstres ( stres response ) berupa modulasi imunitas. Menurut Charles D. Spielberger menyebutkan stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnya objek dalam lingkungan atau sesuatu stimulus yang secara

obyektif adalah berbahaya. Stres juga bisa diartikan sebagai tekanan, ketegangan, gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang. Stresor (stressor) adalah stimulus atau peristiwa yang menimbulkan respon stres pada organisme. Stresor dapat dikategorikan sebagai akut atau kronis, eksternal atau internal terhadap organisme.

2.2.Macam-Macam Stressor Stressor berasal dari dalam diri seseorang (mis : demam, kondisiinternal : seperti kehamilan atau menopause, atau suatu keadaan emosi seperti rasa bersalah). eksternal : berasal dari luar diri seseorangStressor (mis : perubahan bermakna dalam suhu lingkungan, perubahan dalam peran keluarga atau sosial, tekanan dari pasangan).

2.3.MODEL-MODEL STRESS 1. PSIKOSOMATIK STRESS Dalam menghadapi waktu konflik, seringkali terjadi gangguan pada fungsi badaniah. Gejala-gejala yang sebagian besar mengganggu fungsi faal yang berlebihan sebagai akibat dari manifestasi, gangguan jika ini dinamakan gangguan psikosomatik. Psikosomatik umumnya dapat membantu banyak dalam usaha mengerti hubungan antara kepribadian seseorang dengan penyakit atau gangguannya. Suatu konflik menimbulkan ketegangan pada manusia dan bila hal ini tidak terselesaikan dan disalurkan dengan baik maka timbullah reaksi-reaksi yang abnormal pada jiwa. Jika ketegangan tersebut mengganggu fungsi susunan saraf negatif, maka hal tersebut yang dinamakan gangguan psikosomatik. Adapun sebab-sebab timbulnya psikomotorik : Penyakit predisposisi untukorganic yang pernah diderita dapat menimbulkan tuimbulnya gangguan psikomotorik pada bagian tubuh yang pernah sakit. diidentifikasikan .Merasakan penyakit orang lain yang secara tidak sadar lingkungan dapat mengarahkan emosi kepada fungsi tertentu.Tradisi dan adapt istiadat dalam keluarga atau menjelma menjadi suatu gangguan badaniah

tertentu.Suatu emosi yang Konflik dan gangguan jiwa yang menjelma menjadi suatu

gangguan badaniah biasanya hanya pada suatu alat tumbuh saja. Untuk klasifikasi, maka jenis gangguan dibagi menurut organ yang paling terkena, sebagai berikut : Kulit Pada dasarnya gangguan stress atau emosi dapat menimbulkan gangguan pada kulit. Hal ini telah lama diketahui. Beberapa penyeliodikan juga telah dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana reaksi kulit terhadap kesukaran penyesuaian diri terhadap stress. tulang Otot dan Dalam kehidupan sehari-hari seringkali ditemukan seseorang yang mengalami nyeri otot selain disebabkan faktor hawa dan pekerjaan juga disebabkan oleh faktor emosi. Karena tekanan psikologik maka tonus otot akan meninggi dan penderita mengeluh nyeri kepala dan nyeri punggung. Ketegangan otot ini dapat menyebabkan ketegangan sekitar sendi dan menimbulkan nyeri sendi. Pernapasan saluran Gangguan psikosomatik yang timbul dari saluran pernapasan seperti asma bronkiale dengan bermacam-macam keluhannya, kecemasan dapat menimbulkan serangan asma. Jantung dan pembuluh darah. Pada saat mengalami stress biasanya seseorang merasakan bahwa jantungnya berdebat-debar . Stress yang menimbulkan kecemasan mempercepat denyut jantung, meninggikan daya pompa jantung dan tekanan darah. Gangguan yang mungkin saja timbul seperti hipertensiosensial, sakit kepala vaskuler dan migraine. 2. ADAPTASI MODEL Setiap orang secara terus menerus akan menghadapi perubahan fisik, psikis, dan sosial baik dari dalam maupun dari lingkungan luar. Jika hal tersebut tidak dapat dihadapi dengan seimbang maka tingkat stress akan meningkat. Model adaptasi menunjukkan bahwa empat faktor menentukan apakah suatu situasi adalah menegangkan (Mechanic, 1962). Empat faktor yang mempengaruhi Kemampuan untuk menghadapi stress itu adalah : Biasanya tergantung serupa, sistem dukungan, dan&pada pengalaman seseorang dengan stressor persepsi keseluruhan trehadap stressor.

Berkenaan

dengan

prktik

dan

norma

kelompok

sebaya

individu.&

lingkungan sosial dalam membantu seorang individu untuk beradaptasi terhadap stressor.&Dampak dari &Sumber yang dapat digunakan untuk mengatasi stressor. a. ADAPTASI FISIOLOGIS/BIOLOGIS Pada dasarnya disetiap tubuh manusia telah terdapat mekanisme pertahanan yang bersifat alami dan bekerja secara teratur sehingga memungkinkan tubuh untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang berasal dari faktor internal. Mekanisme ini bekerja dengan sendirinya dan akan berubah menjadi suatu aksi tanpa didasari dan biasanya berfungsi dalam kondisi yang tidak normal. b. ADAPTASI PSIKOLOGIS Seseorang yang menghadapi stress akan mengalami kondisi-kondisi yang tidak mengenakkan secara psikis seperti timbulnya rasa cemas, frustasi, terancam, tak tentram yang semuanya itu berdampak pada munculnya suatu kontak konflik dalam jiwa mereka. dan konflik tersebut diekspresikan dalam bentuk kemarahan atau ekspresi-ekspresi lain yang dapat membuat orang tersebut merasa sedikit nyaman atau terlepas dari stress yang dihadapinya. c. ADAPTASI SOSIAL BUDAYA Setiap lingkungan sosial masyarakat mempunyai tatanan budaya masing,masing. Antara lingkungan satu dan yang lainnya tentu memiliki budaya berbedabeda. Perbedaan tersebut yang akhirnya menuntut setiap orang beradaptasi jika hal itu dapat dilakukan dengan baik maka akan tercipta keseimbangan. Namun jika hal tersebut tidak dapat dilakukan bukanlah suatu hal yang tidak mungkin jika orang tersebut akan mengalami stress. d. ADAPTASI SPIRITUAL Setiap agama dan kepercayaan mengandung ajaran yang hendaknya harus dijalankan oleh penganutnya. Ajaran-ajaran ini tentunya juga harus turut andil dalammengatur perilaku manusia ini. Oleh karena itu dalam rangka memenuhi ajaran-ajaran tersebut pasti terjadi perubahan dalam perilaku manusia.

3. LINGKUNGAN SOSIAL MODEL Keadaan lingkungan dan masyarakat sangat mempengaruhi seseorang dalam beradaptasi. Keadaan lingkungan yang stabil dan seimbang akan memudahkan seseorang dalam beradaptasi. Sedangkan keadaan masyarakat dengan hubungan sosial yang baik juga akan memudahkan individu dalam melakukan adaptasi agar terhindar dari stress. 4. PROSES MODEL Pada dasarnya proses model adalah berlangsungnya kejadian dan masalah yang terjadi pada seseorang sehingga mempengaruhi orang tersebut yang pada akhirnya mengalami stress dan proses menghadapi stress itu sendiri.

2.4.Gejala-gejala Stres Cary Cooper dan Alison Straw mengemukakan gejala stres dapat berupa tandatanda berikut ini : 1. Fisik, yaitu nafas memburu, mulut dan tenggorokan kering, tangan lembab, merasa panas, otot-otot tegang, pencernaan terganggu, sembelit, letih yang tidak beralasan, sakit kepala, salah urat dan gelisah. 2. Perilaku, yaitu perasaan bingung, cemas, sedih, jengkel, salah paham, tidak berdaya, gelisah, gagal, tidak menarik, kehilangan semangat, susah konsentrasi, dan sebagainya. 3. Watak dan kepribadian, yaitu sikap hati-hati yang berlebihan, menjadi lekas panik, kurang percaya diri, penjengkel. Menurut Braham, gejala stres dapat berupa tanda-tanda sebagai berikut : 1. Fisik, yaitu sulit tidur atau tidak dapat tidur teratur, sakit kepala, sulit buang air besar, adanya gangguan pencernaan, radang usus, kulit gatal-gatal. 2. Emosional, yaitu marah-marah, mudah tersinggung, terlalu sensitif,gelisah dan cemas, suasana hati mudah berubah-ubah, sedih, mudah menangis. 3. Intelektual, yaitu mudah lupa, kacau pikirannya, daya ingat menurun, sulit berkonsentrasi, suka melamun, pikiran hanya dipenuhi satu pikiran saja.

4. Interpersonal, yaitu acuh, kurang percaya kepada orang lain, sering mengingkari janji, suka mencari kesalahan orang lain, menutup diri, mudah menyalahkan orang lain. Terry Beehr dan John Newman (dalam Rice, 1999) mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu: 1. Gejala psikologis Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan :

Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian) Sensitif dan hyperreactivity Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi Komunikasi yang tidak efektif Perasaan terkucil dan terasing Kebosanan dan ketidakpuasan kerja Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi Kehilangan spontanitas dan kreativitas Menurunnya rasa percaya diri

2. Gejala fisiologis Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular

Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin) Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung) Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome)

Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada Gangguan pada kulit

Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot Gangguan tidur Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

3. Gejala perilaku Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan Perilaku sabotase dalam pekerjaan Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas

Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi

Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi

Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

2.5.Ciri-ciri Stres Ciri-ciri stres yang baik: 1. Mengahadapi sesuatu dengan penuh harapan untuk melawan rasa takut dalam diri. 2. Memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi didalam sela-sela jadwal yang padat itu ada aktivitas yang sangat diharapkan dan sangat dinikmati. 3. Memiliki komitmen yang lebih terhadap apa yang Anda sayangi. Misalnya: pernikahan, menjadi seorang ayah/ibu, menjadi pekerja, atau menjadi pegawai negeri.

10

4. Bekerja dengan tujuan tertentu dan Anda tahu kecepatan Anda saat bergerak akan berkurang saat tujuan itu tercapai atau bahkan saat baru akan tercapai. 5. Merasa tertantang, siap dan bersemangat untuk menerima dan menyelesaikan tugas yang akan Anda hadapi. 6. Merasakan kondisi badan yang cukup lelah namun akhirnya akan menikmati tidur yang lelap dan nyaman.

Ciri-ciri stres yang jahat: 1. Menghadapi segala sesuatu dengan perasan takut, resah, gelisah dan khawatir. 2. Memiliki jadwal yang sangat padat, tetapi tak ada satupun yang dapat Anda nikmati dan mau tidak mau, harus Anda penuhi kewajiban itu. 3. Merasa bahwa semua yang Anda lakukan tidaklah penting, tidak memenuhi seluruh kebutuhan Anda, dan tak sebanding dengan tenaga, pikiran dan waktu yang Anda curahkan. 4. Merasa tidak memegang kendali dan selalu merasa panik seakan-akan tidak ada jalan keluar untuk menyelesaikan tugas, merasa tidak ada selesainya, dan merasa tidak ada yang membantu menyelesaikannya. 5. Merasa lebih baik bekerja daripada berhenti/istirahat sejenak saat jam kerja. 6. Memiliki tidur yang tidak lelap, tidur yang resah, sering sakit maag, sakit punggung dan mempunyai sakit yang sifatnya menahun.

2.6. Faktor Pemicu Stres Berikut adalah kategori pemicu stres yang umum : 1. Stres Kepribadian (Personality Stress) 2. Stres kepribadian adalah stress yang dipicu oleh masalah dari dalam diri seseorang. Berhubungan dengan cara pandang pada masalah dan kepercayaan atas dirinya. Orang yang selalu menyikapi positif segala tekanan hidup akan kecil resiko terkenal stress jenis yang satu ini. 3. Stres Psikososial (Psychosocial Stress) Stres psikososial adalah stress yang dipicu oleh hubungan relasi dengan orang lain di sekitarnya atau akibat situasi sosial

11

lainnya. Contohnya seperti stres adaptasi lingkungan baru, masalah cinta, masalah keluarga, stres macet di jalan raya, diolok-olok, dan lain-lain. 4. Stres Bioekologi (Bio-Ecological Stress) Stres bio-ekologi adalah stress yang dipicu oleh dua hal. Yang pertama yaitu ekologi/lingkungan seperti polusi serta cuaca dan yang kedua akibat kondisi biologis seperti akibat datang bulan, demam, asma, jerawatan, tambah tua, dan banyak lagi akibat penyakit dan kondisi tubuh lainnya. 5. Stres Pekerjaan (Job Stress) Stres pekerjaan adalah stress yang dipicu oleh pekerjaan seseorang. Persaingan jabatan, tekanan pekerjaan, deadline, terlalu banyak kerjaan, ancaman phk, target tinggi, usaha gagal, persaingan bisnis, adalah beberapa hal umum yang dapat memicu munculnya stress akibat karir pekerjaan.

2.7.Jenis-jenis stres Quick dan Quick (1984) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu: 1. Eustress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat, positif, dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan, fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi. 2. Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovaskular dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan, dan kematian.

2.8. Cara Mengatasi Stress Upaya individu dapat berupa perubahan cara berpikir (kognitif), perubahan perilaku atau perubahan lingkungan yang bertujuan untuk menyelesaikan stres yang dihadapi. Cara mengatasi stres yang efektif akan menghasilkan adaptasi. Cara menyelesaikan stres dapat diidentifikasi melalui respons dan manifestasi (tanda dan gejala). Mengatasi stres

12

dapat dikaji melalui berbagai aspek : fisiologis dan psikososial. Reaksi fisiologis seperti keluar keringat dingin, jantung berdebar kencang, mata melotot, mulut kering dan lainlain. Sedangkan reaksi psiko-sosial yaitu reaksi yang berrientasi pada ego ( menyalahkan orang lain (proyeksi), tergantung pada orang lain (regresi), isolasi, benci pada orang lain (displacement) dan lain-lain), reaksi verbal ( menangis, tertawa, teriak, memukul dan lain-lain) selain coping individu, maka coping keluarga akan membantu klien karena keluarga merupakan sistem pendukung yang paling dekat dengan individu. Berikut ini cara mengatasi stres : 1. 2. 3. 4. Latihan relaksasi Berpikir positif Secara spiritual Latihan nafas dalam

2.9. MANAJEMEN STRES UNTUK PERAWAT. Sebagian besar perawat mengalami stress dalam lingkungan pekerjaan merka. Stresor dapat terdiri atas kelebihan beban kerja, kebijakan institusi tempat bekerja, konflik dengan rekan kerja atau karakteristik klien (Foxall, Zimmermen, dan Bene, 1990; Skipper, Jung dan Coffey, 1990). Reaksi terhadap stressor yang berkaitan dengan pekerjaan bergantung pada kepribadian perawat, status kesehatan, pengalaman sebelumnya dengan stress dan mekanisme koping. Stress Pekerjaan Seringkali mengakibatkan kondisi yang disebut kepenatan, yang ditandai oleh penuruanan perhatian pada orang dengan siapa kita bekerja. Selama merasa penat klien merasakan kelelahan fisik dan emosional (Melamed, Kushnir dan Shirom, 1992). Pekerjaan atau profesi tidak lagi memberi dampak positif dan klien mungkin mengalami marah dan apatis. Perawat dan risiko terhadap stress kepenatan akibat pekerjaan dan dapat memamfaatkan tehnik penatalaksanaan stress yang sama seperti yang mereka ajarkan pada klien. Dalam organisasi dan domain kompetensi peran pekerja, perawat harus mengidentifikasi stressor tertentu di tempat kerja dan berupaya untuk 13

menghilangkan stressor tersebut. Juga membantu untuk mendapat dukungan sosial dari perawat lainnya dengan harapan mempertahankan sikap merawat yang ditujukan pada klien.

2.10. PERAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MENGATASI STRESS Untuk menghadapi seseorang yang mengalami stress ,maka beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang perawat sbb: 1. Petugas kesehatan harus mampu memfasilitasi paasien yang sedang mengalami stress 2. Petugas kesehatan harus melakukan tindakan keperawatan yang sesuai dengan prinsip prinsip managemen sters 3. Petugas Kesehatan dapat mengguanakan syrategi pemecahan masalah yang bertujuan mengurangi stress secara efektif untuk jangka panjang serta dapan meningkatkan keyakinan diri dan kemampuan dalam menghadapui dan memecahkan masalah yang akan datang.

14

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa stres dapat menyerang setiap orang, stres yang menyerang dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Stres pada umumnya sangat merugikan individu yang mengalaminya, karena dapat menimbulkan berbagai dampak seperti padafisiologis, psikologis, intelektual, emosi, dan sebagainya. Selain memberikan dampak yang buruk pada individu, stres juga memiliki fungsi tertentu dan untuk stress yang tidak terlalu parah justru akan dapat memberikan dampak yang positif bagi individu. Bagi individu yang mengalami stres, terdapat berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengatasi stres yang melanda agar nantinya tidak menjadi stres yang kronis.

15

DAFTAR PUSTAKA Paket stress Paket kesehatan mental Paket psikologi konseling http://kasturi82.blogspot.com/2009/04/jenis-jenis-stres.html http://profngeblog.blogspot.com/2009/02/jenis-dan-ciri-ciri-stress.html http://organisasi.org/jenis-macam-kategori-pemicu-stress-penyebab-stres-psikologismanusia

16