Anda di halaman 1dari 34

Risalah

Transformasi Pribadi Muslim


Status : Final, Edisi Artikel
Revised on : 19/06/2006 7:00:52
Diambil dari : Risalah Kun fa Yakuun

Risalah Mawas Diri


A.t.m.o.n.a.d.i

“Hak Penciptaaan Hanya Milik Allah semata “


Distribusikan secara bebas untuk kepentingan Umat Islam
2005-2057 adalah era tegaknya Cahaya Pemurnian Tauhid
Transformasi Pribadi Muslim

“Allah berfirman:
Dan tiada suatu yang lebih Ku-sukai
Daripada pendekatan hamba-Ku kepada-Ku.
Dengan menjalankan apa yang Aku wajibkan kepadanya.
Disamping itu selama ia mendekat kepada-Ku dengan melakukan sunnat,
maka Aku akhirnya sayang kepadanya,
maka saatnya ia akan mendengar dengan pendengaran-Ku,
ia akan melihat dengan penglihatan-Ku,
ia akan memukul dengan kekuatan-Ku,
dan ia akan berjalan dengan kudrat-Ku.
Jika ia memohon,
Aku akan memenuhi permohonannya,
Jika ia meminta perlindungan,
Aku akan melindungi dia.”
Hadis qudsi Nabi Muhammad SAW (HR Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Upaya kita untuk selalu selaras dengan Kehendak Allah akhirnya membawa kita
pada suatu kesimpulan bahwa unsur manusia secara jasmani dan ruhani
memegang peranan penting untuk membangun suatu sistem sosial
kemasyarakat. Manusia merupakan fondasi sekaligus pengarah dari
keseimbangan dan kesatupaduan wujud alam semesta. Oleh karena itu,
manusia yang memiliki kesadaran diri yang optimum akan memiliki Pengetahuan
Makrifat disertai dengan kearifan Pengetahuan Qolbu sehingga diperoleh tingkat
Kecerdasan Spiritual yang tinggi. Kecerdasan Spiritual yang tinggi implementasi
praktisnya akan tampil sehari-hari dalam bentuk ubudiyyah yang lahir maupun
yang batin, yang formal maupun tidak formal, yang muncul sebagai akhlak dan
perilaku yang muncul mewakili sebagai Jamal dan Jalal-Nya yang menunjukkan
bukti kemuliaan dan kesucian dari Penciptanya yaitu Allah SWT.

Kita sebagai entitas personal, khususnya sebagai Pribadi Muslim, akan menjadi
komponen-komponen Bangsa Indonesia dan akan bergerak bersama-sama
dengan bangsa-bangsa lain mengikuti arus zaman untuk membangun
peradaban. Tetapi, supaya tidak terseret arus liar peradaban dan supaya tidak
menjadi buih-buih gelombang peradaban diperlukan Pribadi Muslim sebagai
hamba Allah yang sehat baik secara jasmani maupun ruhani. Namun, sejak
menyatakan diri menjadi bangsa yang merdeka hampir 60 tahun yang lalu,
mentalitas Bangsa Indonesia nampaknya tidak mengalami banyak kemajuan,
bahkan cenderung semakin merosot. Dalam arti yang lebih luas mentalitas ini
mencakup berbagai aspek sosial budaya, kemasyarakatan, dan kepribadian baik
secara jasmani maupun ruhani.

Adalah suatu fakta yang menyedihkan bahwa diusianya yang hampir 60 tahun,
kita masih tetap nongkrong di urutan teratas dalam daftar negara paling korup di
dunia; kita masih tetap dijuluki bangsa dengan low trust society; kita masih tetap
menjadi bangsa yang suka cakar-cakaran dan ribut sendiri; kita makin merosot
menjadi bangsa yang tidak mempunyai rasa percaya diri; kita juga masih
menjadi bangsa yang tergagap-gagap menyikapi kemajuan peradaban, bingung
diombang-ambingkan arus zaman; kita masih tetap menjadi ahli berhutang
kepada Bank Dunia; kita masih tetap menjadi bangsa dengan pendapatan per
kapita yang rendah di dunia. Karena itu, kita atau secara khusus Pribadi Muslim
Indonesia sebenarnya memerlukan suatu revolusi transformasi “kesadaran diri
yang membebaskan”. Tujuannya adalah membangun Kecerdasan Spiritual yang
optimal sehingga Pribadi Muslim, atau Bangsa Indonesia secara umum, mampu
berselancar di samudera peradaban dan perubahan zaman dengan aman dan
terkendali, bukannya menjadi buih yang akan musnah dan terombang-ambing
oleh ganasnya ombak peradaban.
1 Pribadi Muslim Dengan Kesadaran Yang Membebaskan

Lantas, kesadaran sebagai Pribadi Muslim yang bagaimana agar mampu


mengatasi persoalan kemanusiaan dan kehidupannya? Kesadaran yang
diperlukan adalah kesadaran universal yang agamis bukan sekedar kesadaran
universal yang tanpa sandaran pasti dan Haqq (kesadaran al-Haqqah). Manusia
Indonesia, khususnya Pribadi Muslim, harus mampu menjadi jati dirinya sendiri
sebagai hamba Allah yang merupakan bagian dari alam semesta secara utuh,
bukan sebagai makhluk mikrokosmos yang mekanistik, tersegmentasi oleh
individualisme fisikalnya, terisolir di dalam ilusinya, kerdil, egois dan lebih
mementingkan perut sendiri.

Kesadaran diri yang diperlukan adalah suatu kesadaran sebagai hamba Allah
yang memiliki sifat-sifat ilahiah, spiritual, membebaskan dan universal untuk
selalu menjaga diri dan lingkungannya di jalur keseimbangan optimum, di jalur
shiraat al mustaqiim, dengan cara yang sebenarnya sudah lama kita ketahui,
namun cenderung diabaikan, yaitu dengan :
• Mematuhi perintah-perintah Allah dan menjuhi larangan-larangan-
Nya,
• mengikuti sunnatulrosul, mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW
• selaras dengan sunnatullah dan kehendak Allah dengan ridha
kepada semua ketentuan-Nya,

Ringkasnya, kalau kita definisikan secara simbolis matematis, maka kualitas


qolbu Manusia Indonesia, khususnya Pribadi Muslim sebagai hamba Allah, harus
merupakan suatu fungsi yaitu :

Q = f(Perintah & larangan Allah, Sunnatulrosul, Sunnatullah, Ridha,)

Sehingga dapat dicapai kondisi :


M.QÆA

Dengan suatu upaya yang teguh dan konsisten agar nilai Q Æ 0, yaitu menuju
manusia sempurna atau Insan Kamil, menjadi hama Allah, seperti yang
diperlihatkan oleh kepribadian dan akhlak Nabi Muhammad SAW. Pada saat
QÆ0 maka Pribadi Muslim bisa dikatakan akan makrifatullah mengenal Allah
SWT (M.QÆA) dan bergerak sebagai hamba Allah. Tentunya pencapaian ini
harus disesuaikan dengan potensi masing-masing. Dalam formalisme diatas, Q
merepresentasikan kualitas Qolbu yaitu qolbu yang terbebas dari keterikatannya
dengan relativitas ruang-waktu (dunia), qolbu yang bersih dari semua bercak-
bercak keduniawian, qolbu seorang hamba yang menyadari kehambaannya di
hadapan Allah, ketidakberartiannya sehingga ia mampu menampung semua
penampakkan Af’al, Asma-asma dan Sifat-sifat Allah, qolbu yang menjadi Arasy
Allah, qolbu yang merepresentasikan suatu Kecerdasan Ilahiah yang
mengetahui segala sesuatu tentang “asmaa a kullahaa”, qolbu yang memiliki
suatu kecerdasan optimum yaitu Kecerdasan Spiritual yang terdiri dari
Pengetahuan Qolbu dan Pengetahuan Makrifat.

Pengetahuan Qolbu menyatakan kualitas manusia dalam mengelola qolbunya


sehingga menjadi qolbu yang jernih dan bersih dari semua noda-noda dan
gambar-gambar keduniawian sehingga Realitas Absolut (al-Haqq) tersingkap
dan tersaksikan dengan utuh tanpa distorsi. Sedangkan Pengetahuan Makrifat
merupakan pemaknaan relativitas Pengetahuan Tuhan yang sekarang kita sebut
sains modern sebagai suatu instrumen penggerak peradaban manusia dalam
konteks religius, yaitu dengan kesadaran hakiki bahwa semua itu adalah suatu
anugerah bagi manusia, alam semesta, dan semua isinya dan merupakan
bagian dari Ilmu Pengetahuan Allah, sehingga manusia dituntut untuk
memanfaatkannya bagi kesejahteraan semua makhluk (diri, manusia lainnya,
lingkungannya) lahir dan batin.
Revolusi kesadaran diri yang membebaskan adalah sebuah revolusi diri sendiri
yang ditujukan bukan untuk berkuasa atau meraih peng-“aku”-an diri. Namun,
revolusi untuk mengubah sikap mental kita yang takut menegakkan kebenaran,
keadilan, keseimbangan, tidak istiqamah, kurang bertanggung jawab, tidak
mempunyai sikap mandiri, rendah diri, dan beberapa sikap inheren lainnya yang
menyebabkan Bangsa Indonesia kehilangan jati diri dan mudah dipengaruhi,
gampang terkooptasi, atau terbawa arus. Jadi revolusi itu harus bisa mengubah
sikap mental Pribadi Muslim menjadi mawas diri, teguh dan konsisten
(istiqamah), mempunyai ketulus ikhlasan, berserah diri dengan ridha, dan
mahabbah (Cinta Ilahi) di jalan yang lurus sehingga membangkitkan Kecerdasan
Spiritual-nya dan menyaksikan hakikat menauhidkan-nya sebagai Allah – Tuhan
Yang Maha Esa. Sikap demikian harus ditegakkan di dalam lingkup individual,
keluarga, komunitas, maupun sistem sosial yang lebih besar yaitu negara yang
mempercayai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan berbangsa dan
bernegara.

Dalam menyikapi perkembangan peradaban, Pribadi Muslim Indonesia yang


berkesadaran harus mampu memilah, memilih, dan bertindak dengan penuh
tanggung jawab sesuai dengan potensi kehendak bebas yang dimilikinya. Bukan
menjadi manusia yang mudah dan gampang dipengaruhi oleh tema-tema,
pikiran-pikiran filosofis, atau ide-ide yang berasal dari dunia lain, yang cenderung
mengosongkan kepribadian dan kemanusiaannya menjadi robot-robot
mekanistik yang ketinggalan zaman. Selain itu, Pribadi Muslim harus dapat
mengkritisi dan proaktif bukannya menjadi pasifis, follower, apalagi apatis, untuk
mengambil sikap atau menolak segala sesuatu yang mendistorsikan Realitas
Relatif maupun Realitas Absolut. Dengan cara demikian, julukan sebagai Orang
Timur Yang Berbudaya dan Berketuhanan Yang Maha Esa tidak cuma sekedar
mitos yang cenderung untuk menghibur diri, yang menimbulkan kebodohan dan
kesombongan yang menyesatkan, namun merupakan suatu fakta kehidupan
sebagai hasil dari implementasi praktis nilai-nilai yang diyakininya. Apapun
profesi yang diemban seorang Pribadi Muslim, nilai-nilai spiritual yang
transenden harus tetap menjadi jiwa dari setiap aktivitas yang dilakoni dan
dibangunnya.

Oleh karena itu, semua aspek tindakan lahiriah (syariat) harus benar-benar
diyakini secara batiniah (hakikat) dengan landasan aqidah Islam yang benar dan
kokoh bahwa tindakan yang dilakukannya merupakan suatu tindakan yang
memiliki nilai-nilai kebenaran Islam maupun universal, yang menciptakan suatu
harmoni di dalam dirinya, diantara sesama manusia, dengan alam
lingkungannya, maupun secara vertikal dengan Tuhannya. Tidak ada lagi sikap
abu-abu yang "memanusiawikan" suatu pelanggaran atas prinsip-prinsip
keyakinan yang jelas-jelas dapat membengkokkan atau mendistorsikan realitas
kehidupan yang ingin dibangun, kendati kita pahami bahwa realitas tersebut
sebenarnya suatu realitas yang relatif sifatnya. Toleransi atas pelanggaran ini,
sekecil apapun, pada akhirnya hanya akan bereskalasi dan meluas menimbulkan
ketidakadilan dan penyelewengan yang dapat merusak tatanan moral dan sosial
suatu bangsa. Bangunan realitas relatif akan “menceng-menceng” seperti
“rumah miring” di taman hiburan yang tidak terawat dengan baik dan akan
semakin miring bila kita masih merasa “legowo” untuk membuka peluang atas
terjadinya ketidakadilan dan penyelewengan tersebut. Toleransi yang kita
pahami sebagai suatu tenggang rasa hendaknya jangan sampai disalahgunakan
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan mengakomodir
pembengkokan realitas kehidupan yang ingin kita bangun. Enam puluh tahun
saya kira suatu waktu yang sudah lebih dari cukup untuk memantapkan suatu
keyakinan yang kokoh bahwa masa depan Bangsa Indonesia ini sepenuhnya
mesti dibangun dengan suatu mentalitas yang lebih teguh, yang harus
diupayakan ada pada setiap komponen pembangunnya di semua strata
kehidupan.

Mentalitas yang teguh adalah mentalitas yang dilandasi oleh suatu keyakinan
yang bersifat religius, transenden, dan membebaskan. Jadi, bila diibaratkan
sebuah batu, maka komponen-komponen bangsa Indonesia ini mesti seperti
batu yang tercelup di samudera spiritual keagamaan. Sehingga seorang Pribadi
Muslim Indonesia, atau Manusia Indonesia secara umum, harus mau basah total
dari permukaan sampai ke dalam. Artinya, semua tindakan dan aktivitasnya
harus muncul dari totalitas niat yang tulus dan ikhlas dari dasar hati sebagai
upaya untuk membangun realitas yang utuh. Niat tulus dan ikhlas akan muncul
bila kita meresapi makna keberagamaan kita secara tuntas baik lahir maupun
batin, bukan sekedar wara-wiri dan woro-woro formalitas belaka sebagai orang
beragama atau sekedar berbangga-bangga menjadi manusia beragama A, B, C
atau yang lainnya. Sementara, tanpa disadari, kebodohan dan kesombongan
seperti itu akan menjadi suatu ilusi dan perlahan-lahan akan menjerumuskan diri
sendiri dengan memberhalakan agamanya, menjadi syirik yang membatalkan
penauhidan atas Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi Pribadi Muslim, nilai-nilai kesadaran diri yang membebaskan mau tak mau
harus dibangun berdasarkan asas spiritual keagamaan yang utuh, agar seorang
Muslim benar-benar terbenam dan basah total. Asas keberagaman yang utuh
adalah asas keberagamaan yang formal dan kontemplatif penuh perenungan
dan pemaknaan atas hakikat kehidupan yang senyatanya terciptakan dari
limpahan Rahmat dan Kasih Sayang Tuhan Yang Esa semata. Asas
keberagamaan yang timpang atau basah dipermukaan saja adalah asas yang
hanya menekankan kepada aspek formal keagamaan saja atau pada asas yang
kontemplatif saja. Formal dan kontemplatif keduanya harus ada seperti
disebutkan di dalam surat Al Hadiid ayat 3 (QS 57:3) yaitu asas-asas aqidah
Islam yang mencakup aspek lahir dan batin. Dengan cara demikian, nilai-nilai
yang dibangun adalah nilai-nilai yang utuh, yang mampu merespon aktivitas
horisontal yang kuantitatif (terukur meskipun bersifat relatif) maupun aspek
vertikal yang kualitatif (tidak terukur namun absolut). Karena itu, gagasan-
gagasan yang setengah-setengah seperti sekularisme harus ditolak dan
ditepiskan karena mempunyai potensi yang sangat destruktif . Gagasan
sekularisme cuma akan memandang manusia sebagai mesin organis yang
hanya perlu diisi dengan bensin yaitu manusia yang sekedar hidup hanya untuk
makan saja. Hanya untuk urusan perut. Nestapa Manusia Indonesia saat ini
merupakan hasil dari ketidakmampuan kita mengenali diri sendiri sehingga cara
pandang kita menjadi setengah-setengah; abu-abu dan tidak tegas. Akibatnya
kita cenderung akomodatif terhadap ketidakadilan dan penyelewengan sekalipun
hati nurani kita berkata bahwa itu salah. Hasil akhirnya menjadi suatu fakta yang
buram bagi Bangsa Indonesia yang mencantumkan Ketuhanan Yang Maha Esa
sebagai dasar negaranya yang pertama yaitu menjadi bangsa berakhlak munafik
tanpa prinsip yang jelas dan tanpa keistiqamahan.

Pribadi Muslim Indonesia harus dilingkupi oleh zikir, fikir, dan ikhtiar sebagai
manifestasi semua tindakan dan aktivitas jiwa rasionalnya (qolbu). Secara
individual maupun kolektif, Manusia Indonesia harus menjalankan misi
kemanusiaannya di dunia dengan aura zikir, fikir, dan ikhtiar itu. Yang harus
disadari oleh setiap Pribadi Muslim adalah ia mempunyai misi umum sepanjang
hidupnya yaitu mencapai suatu tujuan absolut untuk mengenal dan sampai
kepada Allah SWT Yang Maha Esa dan kembali kepada-Nya sebagai hamba
Allah semata, tidak lebih dari itu. Tujuan-tujuan lainnya harus disadari bersifat
relatif dan sementara. Namun, ironisnya masih banyak Pribadi Muslim yang
terkelabui dengan mengira bahwa tujuan-tujuan sementara itu adalah tujuan
absolutnya.

Tujuan-tujuan relatif yang dijalani sepanjang hidup oleh setiap Pribadi Muslim
hendaknya dipandang hanya sekedar sarana untuk membangun titian serambut
dibelah tujuh, shiraatal mustaqiim, sehingga sampai di tujuan absolut dengan
ridha-Nya. Jadi peran temporer kita di dunia, apakah itu menjadi pejabat, politisi,
menteri, polisi, tentara, guru, dosen, insinyur, dokter, ulama, wali, sufi dan lain-
lainnya; dan pencapaian-pencapaian lainnya apakah menjadi kaya, miskin,
terkenal, atau biasa-biasa saja; hendaknya dipandang sebagai ekses belaka.
Ekses dari upaya-upaya, dari suatu ikhtiar yang selaras dengan kehendak Allah
SWT, dari suatu keistiqamahan, dari suatu keridhaan, dengan tanda-tanda dan
rambu-rambu yang sudah jelas untuk membangun fondasi-fondasi shiraatal
mustaqiim.

Shiraatal Mustaqiim untuk mencapai tujuan absolut, wusul kepada Allah dan
memperoleh ridha-Nya, harus dibangun dengan dua macam fondasi: fondasi
vertikal dan fondasi horisontal. Fondasi vertikal adalah jalan ruhani dimana
manusia mengolah esensi ruhaninya sehingga hatinya menjadi sebening kaca,
tempat dimana kita dapat bercermin, mampu mengenali diri, mampu mengenal
Tuhannya, dan mampu mencitarasakan tujuan absolut kita dengan penyaksian
bahwa Allah SWT – Tuhan Yang Esa. Fondasi horisontal adalah aktivitas
manusia di dunia baik dengan sesama manusia maupun alam sekitarnya.
Perekatnya adalah aqidah yaitu Iman yang menauhidkan-Nya dengan haqqul
yaqin. Fondasi horisontal harus dibangun dengan jalinan ukhuwah yang mantap,
yang bisa membawa manusia lainnya ke tujuan absolut. Karena itu aspek-aspek
hubungan antara manusia harus dibina, dijalani, dan diyakini sehingga terbentuk
suatu komunitas sosial yang mantap, yang mampu menanggapi perkembangan
zaman sesuai dengan kapabilitas individual maupun kolektif. Sedangkan
hubungan dengan alam harus dijaga sehingga keharmonisan dan keseimbangan
yang muncul adalah suatu unifikasi, suatu kesatupaduan wujud dari Af’al, Asma-
asma dan Sifat-sifat Allah SWT yang dipahami oleh kita sebagai alam semesta
yang berasal dari limpahan Rahmat dan Kasing Sayang-Nya.

Fondasi vertikal harus dibangun dengan kokoh sehingga setiap bantalan


horisontal dapat terpaku dengan kuat. Bantalan-bantalan horisontal yang berupa
tujuan-tujuan antara (relatif) berdiri diatas bantalan vertikal. Dengan kata lain,
aktivitas syariat yang fisik harus dilandasi nilai-nilai hakikat berupa akhlak mulia
atas dasar ridha Allah SWT semata. Pada akhirnya integrasi aqidah-syariat-
tarikat bila dibangun dengan benar merupakan jembatan shiraat al mustaqiim
sehingga jembatan itu menjadi jalan makrifat yang berakhir di hadapan Hakikat
Absolut dari kita dan alam semesta yaitu Allah SWT. Sehingga terwujud suatu
relasi integralistik yang terpadu dan tidak bisa dipisah-pisahkan yaitu jalinan :
aqidah-syariah-tarikat-hakikat-makrifat

Sangat disayangkan bahwa Umat Islam Indonesia umumnya masih banyak yang
belum menyadari kenyataan demikian. Oleh karena keengganan kita dalam
mengolah akal dan pikiran dengan cita rasa ruhaniah, maka pandangan-
pandangan integralistik atau kesatupaduan diatas seringkali disalahpahami
secara berlebihan bahkan nyaris mengarah kepada fitnah dengan mengatakan
bahwa pandangan tersebut merupakan suatu bid’ah.

Zikir, fikir, dan ikhtiar yang menjiwai semua aktivitas dan keistiqamahan Pribadi
Muslim harus dapat membangkitkan potensi fitrah sucinya sebagai manusia
yang memiliki intelijensi dan pengetahuan kebijaksanaan yaitu memiliki
Kecerdasan Spiritual yang optimum. Optimum dalam arti Kecerdasan Spiritual-
nya itu dapat membawanya kepada shiraat al mustaqiim dengan menyaksikan
Keesaan Tuhan. Dengan kemampuan demikian, seorang Muslim akan mudah
memahami mikrokosmos, makrokosmos, dan mengenal Pencipta-Nya.
Pertanyaan-pertanyaan filosofis yang membingungkan dari, kemana, dan
ngapain dapat dijawab dengan tuntas karena seorang Muslim sejatinya
menyadari bahwa dirinya hanyalah sebagai Abdullah atau hamba Allah SWT
dengan suatu tugas dan amanat. Dengan Kecerdasan Spiritual, manusia akan
tercegah dari kesia-siaan diri. Apapun masalah yang dihadapi, pada akhirnya
akan dipahami sebagai bagian dari proses pembelajaran dan ujian dari Sang
Maha Pencipta, untuk merambat setapak demi setapak membangun shiraat al
mustaqiim-nya masing-masing. Manusia yang tidak mampu mengatasi hal ini,
akan terpeleset, terpelanting dari titian shiraat al mustaqiim. Ia akan terhempas
ke dalam jurang kesia-siaan, terperangkap di dalam penjara keduniawian, dan
terkelabui dengan mengira dinding-dinding ruang penjaranya tersebut sebagai
tapal batas tujuan hidupnya.

Jika Pribadi Muslim dapat mewujudkan kesadaran yang membebaskan,


menghidupkan kembali Kecerdasan Spiritual-nya yang sudah inheren ada sejak
dilahirkan, maka akan tercapai harmoni di dalam perubahan. Inharmonia
Progressio. Harmoni yang dicapai didalam dirinya, antara dirinya dengan
manusia lainnya, antara dirinya, masyarakatnya dengan lingkungannya, dan
drinya dengan Tuhannya. Inilah gambaran hidup surgawi yang pernah dialami
oleh Adam dan Hawa - nenek moyang kita.

2 Kecerdasan Spiritual Pribadi Muslim

Pada akhirnya, ketika kita melongok kepada diri sendiri, kita melongok ke
dimensi nanokosmis yang ada di dalam diri yaitu qolbu. Inilah alam esoteris
manusia yang lathifah, yang terabaikan di dalam derap peradaban yang
mekanistik, materialistik, hedonistik, dan berkecenderungan ateistik. Sisi esoteris
Pribadi Muslim selama ini digarap oleh Ilmu Tasawuf atau lebih dikenal secara
puitis dan romantis sebagai Sufisme. Tasawuf sebagai pengetahuan spiritual
dengan Tarikat yang merupakan suatu metode langsung atau “Top Down” yang
digunakan oleh para sufi untuk menyingkap lapis demi lapis hijab kebenaran
relatif dengan melalui intuisi penyingkapan dan penyaksian, rasionalitas melalui
proses penyucian jiwa, dan penguraian filosofis, yang sedikit demi sedikit akan
membawa pelakunya kepada pemahaman makrifat tentang hakikat manusia
atau “Pengetahuan Qolbu” yang akan membawanya menuju penyaksian
“Realitas Absolut (al-Haqq)”. Oleh karena itu, keterlibatan individu sebagai
pelaku, pelakon, atau sebagai partisipan di dalam praktek tasawuf (tarikat)
mutlak diperlukan. Tidak mengherankan jika hasil-hasil pengetahuan tasawuf
umumnya bersifat intuitif-subyektif-realistis. Dalam arti, Anda tidak akan
mendapatkan makna sebenarnya jika tidak terlibat langsung di dalam prosesnya.
Dapatkah Anda merasakan enaknya kopi kalau Anda tidak pernah minum kopi?

2.1 Kedudukan Tasawuf Dalam Membangun Kecerdasan Spiritual

Bagaimanakah kedudukan Ilmu Tasawuf atau Sufisme di tengah derasnya


gelombang peradaban manusia dimana kita terlibat di dalamnya? Apakah
Tasawuf Membangun Kecerdasan Spiritual
pengetahuan ini masih relevan dalam pembinaan moral dan akhlak Manusia
Indonesia khususnya Pribadi Muslim?

Peradaban merupakan produk penerapan ilmu pengetahuan manusia atau sains.


Sains (baik sains eksak, biologi, maupun sosial) merupakan produk dari kognisi
dan persesi inderawi, rasionalitas logis ilmiah, dan filsafat dalam lingkup fisikal
(eksoteris) yang merupakan pendekatan “Bottom-Up” untuk membangun suatu
pengetahuan (knowledge) guna mengenali realitas relatif, Gambar 46.

Obyek dari sains adalah alam semesta fisik beserta isinya, termasuk manusia
dan polah tingkahnya. Secara eksistensial berarti “materi dan energi”. Output
dari sains adalah realitas relatif yang bersifat kebendaan dengan batas-batas
yang jelas atau terkuantifikasikan. Bahkan, jika obyek kajian sains adalah
manusia, hasilnya adalah manusia sebagai obyek biologis dan psikologis yaitu
ilmu hayat, neurosains, dan pengetahuan manusia yang berhubungan
dengannya.

Sedangkan tasawuf merupakan pengetahuan yang diperoleh dari intuisi


penyingkapan, penyaksian dan penyucian jiwa. Obyeknya adalah manusia
dengan tujuan untuk memperoleh “Pengetahuan Makrifat” dan “Pengetahuan
Qolbu” sekaligus dengan mengenali dirinya sendiri dan mengenal Tuhannya.
Produk akhirnya adalah cermin kaca yang bersih mengkilat dan tembus cahaya,
dimana semua kotoran dan karat yang menempel di dalamnya sudah
dibersihkan. Nabi SAW sering mengibaratkan qolbu yang bersih ibarat
singhasana raja. Oleh karena itu, Ilmu tasawuf atau Sufisme memegang peranan
penting dan sangat mendasar pada pembinaan akhlak dan perilaku manusia,
moralitasnya atau lebih khusus pada Pribadi Muslim, mengingat peranannya
sebagai pengarah peradaban dalam perjenjangan integralistis penampakkan
Af’al, Asma dan Sifat Allah. Dengan Tasawuf, sebagai ilmu dan tarikat sebagai
praktek, manusia dapat belajar dan mengenali hakikat dirinya, ilmu
pengetahuannya, dan Tuhannya.
Jadi, doktrin Tasawuf “Kenalilah dirimu maka engkau akan kenal Tuhanmu” pada
dasarnya merupakan suatu doktrin universal bagi manusia spiritual, apapun
agamanya. Untuk meraih pengetahuan esoteris seperti itu, maka manusia dapat
melakukannya melalui proses pendidikan keruhanian. Output dari tasawuf
adalah hakikat yang merupakan esensi dirinya sendiri sebagai penampakkan
(tajalli) yang sempurna dari Penciptanya. Secara esensial berarti Allah SWT dan
menyaksikan dengan menauhidkan-Nya : Allah, Dialah Yang Esa. Tanpa
bantuan Tasawuf maka langkah sains dan derap peradaban akan terhenti di
tengah jalan, cuma sampai kepada tingkat realitas yang relatif, kering dan tanpa
makna, jauh dari hakikat tentang Realitas Absolut sebenarnya. Sedangkan
tasawuf merupakan pendekatan top-down dimana pemaknaan atas realitas
relatif terjadi sehingga realitas itu setingkat lebih maju dan memiliki makna yang
utuh dan mencapai dua pengetahuan yaitu

“Pengetahuan Makrifat” dan “Pengetahuan Qolbu”. Pengetahuan Makrifat adalah


pemaknaan atas realitas relatif agar dicapai suatu pengertian tentang kebenaran
yang lebih transenden di titik singularitas. Ibarat empu, Pengetahuan Makrifat
mengolah berbagai raw material yang belum murni menjadi logam dengan
berbagai kelas dan kualitas. Namun, pemaknaan realitas relatif ini harus melalui
suatu pemaknaan dan penyingkapan atas sisi kemanusiaan dari para pelaku dan
pengguna sains yaitu dengan “Pengetahuan Qolbu” agar diperoleh tenaga ekstra
untuk mendobrak batas-batas psikologis manusia yang keduniawian, sehingga
suatu terowongan kuantum terbangun untuk menuju kepada kebenaran yang
lebih hakiki yaitu al-Haqq sebagai Allah Yang Maha Esa yang tersaksikan secara
mandiri. Bersama-sama, Tasawuf menjadi kunci untuk membangkitkan
“Kecerdasan Spiritual” bagi sains untuk mencapai al-Haqq atau Realitas Absolut,
Gambar 46 mengilustrasikan skema penyatuan dan saling hubungan antara
pendekatan Tasawuf dan Sains Modern.

Jadi, peran Tasawuf yang terealisasikan dalam jalur praktek sebagai Tarikat, di
dalam sains modern harus mampu membuka makna dan hakikat terhadap
realitas relatif yang dibentuk oleh sains, baik dalam hubungannya dengan alam,
dengan manusia, maupun dengan Tuhan, secara utuh dan terintegrasi.
Pendekatan yang parsial, setengah-setengah, atau mengabaikan upaya
pemaknaan ini akan membawa sains kepada materialisme, hedonisme, dan
ateisme yang kering kerontang, ilutif dan delutif, menjadi pseudo-ateis atau
pseudo-religius. Saya katakan pseudo karena pada dasarnya, tanpa
Pengetahuan Makrifat, tidak ada manusia yang menjadi ateis sejati atau religius
sejati, tetapi menjadi ateis dan religius yang tanggung dan palsu; yang terjadi
adalah manusia yang menjadi “syirik” dengan menuhankan Karl Max, Lenin,
ideologi, uang, jabatan, akal, kesenangan, atau makhluk dan obyek yang
dipertuhankan lainnya; atau malah menjadi manusia yang munafik dengan
memanipulasi akal pikirannya sendiri; atau menjadi terseret dalam lumpur
pseudo-religius. Oleh karena itu, “Pengetahuan Makrifat” yang dikembangkan
dari pengetahuan Tasawuf, merupakan jembatan antara untuk memberi makna
dan pengertian atas kemajuan sains manusia. Jadi secara terpadu rantai
pemahaman manusia atas suatu obyek atau realitas relatif harus mencakup :

Ilmu Pengetahuan-Pengetahuan Makrifat-Pengetahuan Qolbu-Realitas


Absolut
Atau
Ilmu Pengetahuan – Kecerdasan Spiritual – Realitas Absolut

Secara lebih ringkas, kesatupaduan ini adalah suatu kesatupaduan :

TAUHID
“Pengetahuan Makrifat” merupakan pengetahuan hakikat obyek dengan
menggunakan nalar logis dan intuitif (pengetahuan lahir + batin). “Kecerdasan
Spiritual” secara utuh adalah pengetahuan mengenai hakikat obyek dan hakikat
manusia yaitu “Pengetahuan Qolbu” sebagai kesatupaduan pencapaian spiritual
manusia. Tanpa adanya “Pengetahuan Qolbu” maka “Pengetahuan Makrifat”
belum sempurna. “Pengetahuan Qolbu” adalah pengetahuan manusia atas
pengenalan dirinya sendiri sehingga manusia memiliki kesadaran diri yang
optimal untuk menyelaraskan peran, posisi, dan kemampuan-kemampuannya
(potensi-potensinya) di dalam sistem ciptaan Tuhan yaitu alam semesta fisik
maupun gaib, dan mampu menyingkapkan serta menyaksikan al-Haqq sebagai
Realitas Absolut. Dengan demikian tercapailah “Inharmonia Progressio” di dalam
al-Iradah dan al-Qudrah Allah SWT. Jadi dapat disimpulkan bahwa peran
Tasawuf secara utuh di dalam menyikapi sains modern adalah membangun titik
tolak “Pengetahuan Makrifat” sebagai jembatan “Ma’rifat Aqli” yang lebih
transenden dan holistik, agar diperoleh lompatan-lompatan kuantum untuk
memperoleh “Pengetahuan Qolbu (mengenal dirinya sendiri secara utuh)” yang
mampu menyingkapkan sebagai hasil “Ma’rifat Dzauqi” dan menyaksikan
Realitas Absolut (al-Haqq) sebagai hasil dari “Ma’rifat Al Haqq”.

2.2 Kecerdasan Spiritual Dan Tauhid

Perlu saya tegaskan bahwa “Ma’rifat al-Haqq” yang saya maksud diatas adalah
penyaksian dalam batas-batas yang memang dipilihkan oleh Allah SWT kepada
makhluk-Nya sebagai suatu kehendak-Nya yang tak terbantahkan. Hal ini
ditegaskan dalam firman-Nya “Siapakah yang dapat memberikan syafa’at di sisi
Allah tanpa izin-Nya?(QS 2:255)” dan “sedangkan ilmu mereka tidak dapat
meliputi (memahami secar detail) ilmu-Nya(QS 20:110)”. Maka, dalam
pengertian ini “Ma’rifat al-Haqq” yang paling optimum adalah pencapaian yang
telah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai hamba Allah dalam
peristiwa Isra & Mi’rajnya. Sedangkan “Ma’rifat al-Dzat” tidak pernah dapat
dicapai oleh makhluk, Nabi Muhammad SAW sekalipun tidak pernah melihat
Dzat Allah SWT, oleh karena semua makhluk akan binasa di dalam Dzat Allah.
Untuk memperkuat kesimpulan demikian, dapat kita simak firman Allah ,

“Tiap-tiap yang ada di bumi akan binasa. Dan yang kekal adalah wajah Tuhanmu
yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (QS 55:26-27)”.
Demikian juga sabda Rasulullah SAW berikut1,

“Sesungguhnya Allah mempunyai tujuh puluh ribu hijab dari nur dan kegelapan,
andaikata Allah SWT membukanya, maka cahaya wajah-Nya pasti akan
membakar.” Namun demikian, pandangan hamba-hamba-Nya sama sekali tidak
akan membakar wajah-Nya.

[20]
Dalam kitab Al-Luma , Syekh as-Sarraj r.a menyebutkan ungkapan “Ma’rifat
al-Dzat” sebagai “Ma’rifat Hakiki” yang dikutipnya dari pendapat Ahmad bin Atha
bahwa “tidak ada jalan menuju Ma’rifat Hakikat”. Sebab tidak dimungkinkannya
Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat Ketergantungan makhluk) Allah dan
mengaktualisasikan Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya. Kenapa demikian, menurut
as-Sarraj, dikarenakan Allah telah menampakkan Asma-asma dan Sifat-sifat-Nya
kepada makhluk-Nya, dimana Dia tahu itulah kadar kemampuan mereka (simak
kembali QS 20:110 dan Bab 6.11.5). Sebab itu, ma’rifat secara hakiki tidak akan
mampu dilakukan oleh makhluk. Alam semesta beserta semua isinya akan
lenyap ketika bagian terkecil Kekuasaan Keagungan-Nya tersaksikan.
Difirmankan-Nya bahwa, “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup
Kekal lagi Berdiri Sendiri.(Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu..) .(QS
2:255)”. Menjadi jelas bahwa ujung dari ma’rifatullah yang dapat dicapai makhluk
adalah menauhidkan-Nya sebagai Isim A’dham (nama yang Agung) yakni
“ALLAH” dengan uraian dalam QS 122:1-4 :

“Katakanlah, ‘Dialah Allah Yang Maha Esa.


Allah tempat meminta.

1
Menurut Al Ghazali, dalam kitab “Mi’raj as-Salikin”, yang dimaksud hijab adalah cara-cara yang dapat
mengantarkan kepada-Nya. Jika cara itu terang maka disebut “Hijab Nur”, sedangkan apabila masih kabur
disebut “Hijab Gelap”. Dalam pengertian yang lebih fisikal, saya pribadi berkesimpulan bahwa 70 ribu hijab
mempunyai korelasi dengan ayat-ayat yang menyatakan tingkat keadaan energetis (dan dengan demikian
berkaitan dengan dilatasi waktu atau relativitas waktu) seperti tercantum dalam QS 70:4 dimana difirmankan
bahwa “Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima
puluh ribu tahun.” Maka 70 hijab menurut saya lebih cenderung mengarah kepada tingkat-tingkat energi
ruhaniah yang masih mungkin dapat dicapai oleh makhluk. Sehingga kalau disejajarkan dengan pengertian
Al-Ghazali sebenarnya yang dimaksud “cara-cara yang dapat mengantarkan” identik dengan “kondisi
ruhaniah makhluk”.
Dia tidak beranak dan tidak (pula) diperanakkan,
dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya’
(Qul huwallaahu ahad, Allaahush shamad, Lam yalid wa lam yuulad, wa lam
yakul lahuu kufuwan ahad)”.

Sering dikatakan juga oleh para sufi bahwa, “Tidak ada selain Dia yang sanggup
mengetahui-Nya, dan tidak ada yang sanggup mencintai-Nya selain Dia sendiri.
Sebab Kemahaagungan dan Keabadian tak mungkin dapat dipahami secara
terinci”. Demikian juga Abu Bakar ash-Shiddiq r.a pernah mengatakan ungkapan
yang senada, “Mahasuci Dzat yang tidak membuka jalan untuk ma’rifat-Nya
kecuali dengan menjadikan seseorang tidak sanggup mengetahui-Nya”[20].
Sehingga ungkapan sufistik “mengenal Allah dengan Allah” adalah totalitas pen-
tauhid-an Allah SWT yang juga menjadi suatu ungkapan yang tepat untuk
menunjukkan keterbatasan makhluk dalam proses ma’rifatullah. Dikatakan oleh
[22]
Al-Ghazali bahwa rahasia dan ruh ma’rifat adalah tauhid, dalam arti Anda
harus menyucikan hidup, ilmu, kehendak, pendengaran, penglihatan, dan
pembicaraanNya dari segala bentuk penyerupaan dengan sifat-sifat makhluk-
Nya, sebab Dia adalah Dzat yang sama sekali tidak dapat diserupai oleh oleh
apa dan siapapun. Sehingga Ma’rifat al-Dzat menurut al-Ghazali adalah
mengetahui bahwa Allah SWT Wujud, Esa, Tunggal dan Dzat. Dia adalah wujud
Mahaagung, berdiri dengan sendirinya dan tidak diserupai oleh selain-Nya. Jadi,
untuk mengenal Allah tauhidkanlah Dia - Laa iIaaha illaa Allaah. Difirmankan-
Nya:

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan


melainkan Allah…(QS 47:19)”

[21]
Dalam menafsirkan ayat diatas, Ibnu Arabi berpendapat bahwa peniadaan
“Tidak ada Tuhan”, merupakan hakikat dari penetapan dengan Isim al-A’dham
“Allah”, dan itu sekaligus juga hakikat peniadaan. Semua sifat ditiadakan kecuali
sifat al-Uluhiyah (ke-Esa-an). Jika sifat al-Uluhiyah tidak ditetapkan, maka tidak
sah bagi-Nya untuk menetapkan yang lain, demikian juga sebaliknya. Jika suatu
Dzat tidak menetapkan untuk Dzat-Nya, lalu menetapkan yang lain, itu
merupakan suatu kepalsuan. Dengan demikian, al-Uluhiyah merupakan suatu
hakikat yang ditetapkan untuk Dzat-Nya, dan hal itu merupakan hakikat. Oleh
karena itu, al-Uluhiyah adalah kemandirian-Nya, ke-Esa-an-Nya. Dia Yang
Berdiri Sendiri dan tidak ada sesuatupun bersama-Nya. Maka kalau hal ini kita
sandingkan dengan QS Al Hadiid [57]: 3, “Dialah Yang Awal dan Yang akhir,
Yang lahir dan Yang batin”, menjadi jelas bahwa hakikat Dzat-Nya di luar
pengertian-pengertian ruang-waktu; baik ruang-waktu sebagai suatu kontinuum
maupun secara terpisah, atau diluar pengertian relativistik makhluk. Akan tetapi,
hakikat Dzat-Nya ada dalam kesadaran bagi makhluk-Nya yang relatif. Dan
makhluk hanya akan mencapainya jika dinyatakannya dengan kalimat Tauhid
sebagai sikap ubudiyah (penghambaan) dirinya terhadap sifat al-Uluhiyah
DzatNya yang tidak berubah, sesuai dengan sifat dari DzatNya yang memiliki
kesempurnaan dan sifat ke-Agung-an, baik sebelum atau setelah menciptakan
makhluk, yang tidak terserupakan atau tersetarakan oleh segala sesuatu selain
Diri-Nya. Maka, Dia adalah al-Huwa Yang Kekal dan Gaib Mutlak yaitu “ALLAH”
sebagai Isim A’dham.

Allah sebagai Isim A’dham adalah Dia yang memperkenalkan dan


menampakkan diri-Nya. Bukti-bukti-Nya hanyalah dari dan oleh-Nya sendiri,
yang jelas-jelas menunjukkan sifat Kemandirian-Nya. Maka dalam setiap
penampakkan dengan firman “kun fa yakun”, segala makhluk adalah eksistensi
yang tercipta dari kemandirian keinginan-Nya dan terkonfirmasikan (oleh
makhluk) dengan kehendak-Nya semata. Tidak ada keinginan dan kehendak dari
yang lainnya selain dari-Nya semata. Proses demikianlah yang dipahami oleh
sains modern sebagai “self symmetri breaking process”, dimana Kegaiban Yang
Simetris mengadakan suatu “eksistensi” yang bersifat relatif dari kesimetrisan-
Nya sendiri, disini yang dimaksud adalah Kegaiban Mutlak Allah, jadi keinginan
dan kehendak-Nya semata yang dapat memunculkan dan membinasakan,
menghidupkan dan mematikan, semua makhluk. Ketika “Basmalah” dilimpahkan,
dan “Kun fa yakuun” difirmankan, maka kesimetrisan yang terkoyak menjadi
suatu titik pangkal, suatu singularitas, dimana makhluk kemudian dapat
melakukan pembelajaran dan penghimpunan pengetahuan, baik secara nalar
logis maupun secara intuitif dengan penyingkapan dan penyaksian, untuk
berputar dari awal mula dan kembali ke awal mula sehingga mengenal dirinya
sebagai citra-Nya. “Man Arofa Nafsahu” maka siapa yang mengenal dirinya,
“Faqod Arofa Robbahu”, ia akan mengenal Tuhannya, secara otomatis tanpa
jeda temporal. Pengenalan diri makhluk yang menyebabkan otomatis mengenal
Tuhannya adalah pemurnian (bukan inkarnasi atau hulul ataupun penjelmaan
apalagi penyatuan) di penyaksian awal mula tentang ketauhidan (ke-Esa-an)
(QS 7:172-173) dimana makhluk belum maujud sebagai diri yang mengada
karena kehendak-Nya semata. Maka secara esensial di titik awal yang juga titik
akhir “Yang Ada Hanyalah Dia”.

Allah terlalu besar dari berbagai khayalan, lebih besar dari berbagai pemikiran
yang berusaha mengenal hakikat dan sifat-sifat-Nya, sebab Allah SWT sendiri
“Laisa Kamitslihi Syai-un” (tidak bisa diserupakan dengan sesuatupun), dan Dia
juga “Yang Berdiri Sendiri” sebagai suatu kemandirian mutlak. Kekuasaan-Nya
tidak dapat didefinisikan atau terkirakan dengan hitungan macam apapun
karenanya “Dia meliputi segala sesuatu”. Hakikat DzatNya sama sekali tidak
dapat diketahui oleh kemajuan pemikiran dan perasaan. Allah SWT lebih mulia
dari apa yang telah dihasilkan oleh pemikiran dan perasaan manusia. Sifat-
sifatNya lebih besar dari pada yang telah engkau tentukan, dan Dia sangat
berkuasa atas segalanya. Kekuasaannya menutup ke diri-Nya sendiri sebagai
sesuatu “Yang Berdiri Sendiri”. Sehingga “Dia” pun sangat pencemburu. Maka
bagi yang mencintai-Nya, jangan menduakan-Nya (jangan menyekutukanNya).

Dalam pandangan Ibnu Arabi[21], Allah SWT adalah Dzat yang tidak belajar dan
tidak juga diajari, tidak bodoh dan tidak dapat dibodohi, tidak diketahui dan tidak
akan tersaksikan dan tidak ada satu makhluk pun yang akan menyaksikan-Nya
walau melalui bermacam cara dan pendekatan, tidak dapat diakali dan diketahui.
Hal –hal yang dapat diketahui hanyalah yang terkait dengan nama-nama
Uluhiyah dan nama-nama DzatNya seperti ar-Rabbu, al-Malik, dan al-Mukmin.
Maka ketika Al Qur’an dan Hadis mengatakan bahwa orang mukmin melihat
Allah di akhirat nanti (QS 75:22-23), maksudnya adalah melihat Allah sebagai ar-
Rububiyah. Contoh demikian difirmankan dalam Al Qur’an ketika Nabi Musa a.s
di alam dunia berkata,

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah
Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah
Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat
melihat kepada Engkau (QS 7:143)".

Maka Allah SWT menjawab dengan tegas,

Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke


bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu,
dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah
Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman (QS 7:143)".

Surat al-A’raf [7]:143 diatas sama sekali tidak menyebutkan sifat al-Uluhiyah,
bahkan hal itu ditiadakan oleh-Nya, seperti difirmankan dalam surat Al-An’am [6]
: 103:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala
penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dalam ayat diatas, yang kita dapatkan hanyalah kata Huwa (Dia) yang Gaib
(Maha Halus) dan tidak diketahui, maka yang demikianlah yang sangat benar.
Dengan demikian, di akhirat nanti penglihatan mata atau inderawi normal tidak
mampu melihat Allah, namun penglihatan qolbu jernih nan halus mampu
mencapainya, itupun dengan ditutupi atau ditabiri oleh sifat ar-Rububiyah.
Sehingga difirmankan,

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya


mereka melihat (QS 75:22-23)”

Sedangkan untuk mereka yang berqolbu kotor dan tertutup karena


mendustakan-Nya, maka dipakai kalimat hijab yang menutupi dalam firman-Nya,

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang


(tertutup) dari melihat Tuhan mereka (QS 83:15)”

Dalam pengertian yang utuh dan kesatupaduan kualitas manusia untuk


menauhidkan Allah SWT maka "Pengetahuan Makrifat dan Pengetahuan
Qolbu" adalah suatu "Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)" seorang hamba
Allah yaitu suatu kemampuan olah pikir bernalar secara logis sebagai “Ma’rifat
Aqli”, dengan optimalisasi cita rasa intuitif manusia sebagai hasil penyingkapan
(Ma’rifat Dzauqi) dan penyaksian (Ma’rifat al-Haqq) yang dilandasi oleh
keyakinan dan kesadaran atas peran dan posisi dirinya di alam semesta (fisik
dan non fisik) secara utuh (sebagai manusia seutuhnya yang menjadi hamba
Allah seperti Nabi Muhammad SAW). Dengan demikian, menauhidkan Allah
sebagai Yang Esa adalah manusia yang menyadari kerendahan dirinya
dihadapan Allah, yang menyadari kehambaannya di hadapan Allah SWT.
Dengan demikian, ia yang berkecerdasan spiritual adalah manusia yang
menyadari ubudiah-nya dihadapan Uluhiah-Nya dan dapat memahami segala
tindakan-tindakannya baik secara individual maupun kolektif dan dapat
mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, baik di dunia maupun di
akhirat, dihadapan ar-Rubbubiyah-Nya.
Kecerdasan Spiritual dapat “dipelajari dan dilakoni” dengan nalar logis ilmiah
yang obyektif maupun nalar spiritual yang subyektif. Manusia dengan
“Kecerdasan Spiritual” adalah manusia yang mampu mengoptimalkan semua
aspek kehidupannya secara jasmani dan ruhani, sehingga ia mampu melakukan
lompatan-lompatan kuantum untuk melakukan tindakan dan pelakonan
kehidupan yang membawanya pada ma’rifat dan wusul kepada Allah SWT
sebagai Ma’rifat al-Haqq menjadi hamba Allah. Pada akhirnya, ia akan mampu
menyingkapkan dan menyaksikan-Nya secara optimum (sesuai dengan potensi
dan kadarnya) sebagai suatu penauhidan terhadap Ke-Esaan-Nya seperti
pernah disaksikannya sebelum ruhnya ditiupkan ke dalam jasad biologisnya (QS
7:172-173) :

Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?"
Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi".
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
"Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)",
atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak
keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"

2.3 Kecerdasan Spiritual Masyarakat Kita

Mungkin Anda bertanya-tanya, adakah manusia yang beranjak dari sains bisa
mencapai “Pengetahuan Makrifat” seperti yang digambarkan di atas? Saya
katakan banyak. Berikut ini akan saya uraikan beberapa contoh sebagai suatu
ilustrasi.

Banyak saintis yang religius menjadi peletak dasar dari sains klasik dan modern.
[115]
Isaac Newton, misalnya merupakan sosok yang religius . Dan dengan sadar
sebenarnya ia sudah menduga apa dampak dari penemuan-penemuannya yang
menyebabkan alam semesta dipandang secara mekanistik dari sudut pandang
hukum-hukum yang ia rumuskan. Namun, sebagai manusia spiritual ia juga
menyadari bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari takdir Tuhan.

Ketika pengetahuan yang disampaikannya menimbulkan kegoncangan-


kegoncangan peradaban baik yang baik atau pun buruk, Newton mesti berserah
diri bahwa itu merupakan bagian dari rencana-rencana Tuhan. Demikian juga
Albert Enstein yang merumuskan kesetaraan materi dengan energi. Ketika
kemudian apa yang disampaikannya mampu memusnahkan puluhan ribu
manusia dengan sekali tepuk, ia menyampaikan penyesalannya yang mendalam
dengan mengirimkan suratnya yang terkenal kepada presiden AS untuk
menghentikan aktivitas penelitian nuklir untuk tujuan-tujuan perang. Didalam
tulisannya “Out Of My Later Years”, Einstein berkata mengenai tata-hubungan
antara sains dan agama [11]:

Meskipun agama dan ilmu berbeda, namun keduanya mempunyai hubungan


timbal balik yang kuat. Agama yang menentukan tujuan, tetapi agama telah
belajar dari ilmu, dalam arti yang seluas-luasnya, sarana-sarana apa yang dapat
membantu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkannya. Sebaliknya ilmu
hanya dapat diciptakan oleh orang yang jiwanya penuh dengan keinginan untuk
mencapai kebenaran dan pengertian; dan sumber perasaan ini memancar dari
bidang agama. Pada bidang ini termasuk juga kepercayaan akan kemungkinan,
bahwa hukum-hukum yang berlaku bagi kehidupan duniawi adalah rasional,
yaitu dapat ditangkap akal. Saya tidak membayangkan kalau ada sarjana yang
tidak mempunyai kepercayaan. Kedudukannya dapat dinyatakan dengan kiasan:
Ilmu tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu buta.

Sebaliknya, banyak juga saintis yang tidak mampu mencapai pengetahuan


makrifat, bahkan mengelak dari kenyataan-kenyataan yang menakutkannya
sebagai manusia yang melulu bersandar kepada akal. Dengan kata lain, sisi
egoisnya sebagai manusia malah semakin mengingkari kebenaran-kebenaran
puncak yang telah diungkapkannya sebagai saintis. Memang sungguh ironis dan
kontradiktif, disatu sisi seorang saintis yang meragukan keberadaan Tuhan
Pencipta Alam dengan mengagungkan akalnya, disisi lain ia bisa mengabaikan
apa yang dikatakan akalnya sendiri. Bagi ilmuwan yang ateis, yang hanya
mengandalkan akalnya, Realitas Kuantum yang dibuktikannya menjadi sangat
berat, karena dia harus memundurkan akalnya dan menggunakan sisi
esoterisnya yaitu qolbu. Namun, seperti kebiasaan mereka yang berfikir dengan
landasan filsafat materialisme-ateisme dan yang sejenisnya, biasanya
penyelesaian yang dilakukan adalah melakukan pemikiran yang terdistorsi,
mengelak dari tuntutan alamiahnya dan membelokkan akalnya ke jalur filsafat.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Teori Kuantum akhirnya bersinggungan dengan


metafisika manakala upaya-upaya untuk lebih jauh menjawab pertanyaan
ontologis dilakukan. Suatu hal yang nampaknya ditakuti oleh Niels Bohr yang
ateis dan umumnya ditemui pada para fisikawan yang non-religius. Menjelang
akhir hayatnya, Niels Bohr yang ateis diketahui banyak membahas masalah-
masalah filsafat positivisme meskipun banyak orang yang berpendapat bahwa
hasil-hasil pemikiran filosofisnya tidak secemerlang hasil pencapaiannya di dunia
fisika modern. Bahkan beberapa pengamat cenderung berpendapat bahwa Niels
Bohr sebenarnya seorang realis yang moderat ketimbang seorang positivis sejati
[113]
.

Uraian diatas menggambarkan bagaimana suatu proses pencarian tentang


kebenaran, melalui jalur penalaran ilmiah yang berlangsung selama masa awal
perkembangan fisika modern, menimbulkan berbagai diskursus yang
sebenarnya sangat nyata bersinggungan atau malah mulai merambah aspek-
aspek religius yang (sebenarnya kalau mau memundurkan akalnya) pada
akhirnya dapat membawa beberapa saintis kepada Pengetahuan Makrifat.
Pengetahuan makrifat yang diperoleh beberapa saintis semakin menyadarkan
dirinya akan keterbatasan manusia dan Kemahakuasaan Tuhan. Disisi lain
pengetahuan makrifat saintis yang tidak utuh malah semakin memurukkannya
kedalam nestapa manusia modern yaitu menafikan akan fakta-fakta yang
diungkapkan akalnya.

Lantas, adakah contoh nyata dari rendahnya “Pengetahuan Makrifat” ini di dalam
masyarakat kita dewasa ini? Ternyata jauh lebih banyak dari yang kita kira
meskipun selama ini kita dengan bangga selalu mengklaim sebagai bangsa
beragama.

Contoh yang nyata, dan mungkin tidak disadari banyak orang kecuali beberapa
orang yang memang sangat concern dengan perkembangan bangsa ini,
terpampang setiap hari di media televisi kita. Belum lama ini, dunia hiburan
khususnya pertelevisian di Indonesia banyak dipertanyakan oleh masyarakat
sehubungan dengan tayangan-tayangannya yang menonjolkan erotisme,
pornografi, mistik, dan kekerasan secara berlebih-lebihan. Meskipun unsur-unsur
tersebut sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
Indonesia, namun sebelumnya masih berada dalam suatu wilayah yang sifatnya
pribadi dan terbatas. Misalnya dalam lingkup tempat-tempat hiburan yang
tertutup atau terlokalisir di suatu wilayah tertentu dan merupakan suatu produk
hiburan lokal. Sebagai contoh, goyang dombret dari kawasan pantura Jawa
Barat, bursa seks di Gunung Kemukus Jawa Tengah, perilaku seks bebas di
kalangan tertentu di kota-kota besar, perdukunan dan paranormal, perkelahian
antara kampung, kriminalitas, dan lain sebagainya. Semuanya itu merupakan
produk lokal. Tetapi, ketika dunia hiburan mengemas lokalitas tersebut menjadi
suatu komoditas hiburan yang mampu dijual, tanpa mengindahkan dampak
maupun ekses-eksesnya, ceritanya menjadi lain.

Lokalitas itupun menjadi suatu globalitas yang menyesakkan karena dapat


ditangkap oleh semua mata yang melotot dari segala usia dan status sosial.
Protes pun muncul dari beberapa kalangan dan akhirnya memacu munculnya
protes-protes lainnya. Namun nampaknya reaksi yang muncul masih dianggap
angin lalu saja. Bahkan oleh beberapa kalangan yang mendukung, protes
kelompok yang “kontra” itu dihadapi dengan dengan berlindung dibalik jargon
“kreativitas berkesenian”, “kebebasan pers”, dan “kebebasan berekspresi”.
Padahal, kemasan acara-acara tersebut sebenarnya sebagian besar bukan dari
hasil suatu kreativitas orisinal. Namun merupakan hasil contekkan dari acara-
acara sejenis yang ternyata sukses di televisi-televisi Amerika. Lebih lucu lagi,
ketika contekkan itu membawa hoki bagi suatu stasiun TV, acara yang serupa
dicontek lagi oleh stasiun TV lainnya. Jadilah stasiun-stasiun TV swasta di
Indonesia itu mempunyai isi yang serupa tapi judulnya tak sama. Tidak ada
unsur kreativitas disini, yang ada adalah jual beli komoditas dari oknum yang
bermentalitas follower. Namanya juga hasil contekkan, tidak ada informasi yang
pasti bagaimana sebenarnya dampak sosial-budaya-agama dari tayangan-
tayangan semacam itu di dalam suatu masyarakat yang gelagapan dihantam
gelombang peradaban.

Tentunya dunia hiburan dan media massa televisi pantas ditegur karena
menyajikan tontonan yang semestinya tetap di ruang "private". Sulit dibayangkan
bagaimana jadinya Bangsa Indonesia ini kalau tiba-tiba adegan dan praktek
prostitusi terselubung seperti di "Gunung Kemukus" digelar sebagai bagian dari
acara di TV-TV keluarga dengan alasan "kebebasan berekspresi", padahal itu
semua tak lebih dari “kebablasan berekspresi”. Media televisi khususnya, yang
memiliki jangkauan nasional dan sulit dicegah, semestinya memiliki aturan-
aturan yang jelas berkaitan dengan aturan penyiaran. Percuma saja stasiun
televisi kita membayar mahal orang-orang yang secara nalar logis "pintar jualan"
namun memiliki “pengetahuan makrifat” yang "bodoh" karena tidak mampu
menciptakan dan menerapkan aturan penyiaran yang dapat membangun bangsa
dan negara ini menjadi lebih baik lagi. Pintar namun enggan untuk menerapkan
makna dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang dikarunia akal
sempurna dan berbeda dengan binatang. Pintar namun penakut untuk melawan
kepentingan yang kapitalistik demi cuma sekedar takut dipecat dan kelaparan.
Inilah beberapa contoh gambaran rendahnya “Pengetahuan Makrifat” dari suatu
Bangsa yang ironisnya sebagian besar mengaku beragama.

Begitulah, “Pengetahuan Makrifat” para jenius pengetahuan rasional sebagian


utuh dan sebagian lainnya tidak utuh karena tidak disertai dengan “Pengetahuan
Qolbu”. Pada akhirnya, apa yang telah dicapai oleh para ilmuwan maupun para
profesional itu berkembang menjadi suatu skema peradaban yang menyusun
pola pikiran manusia. Etika yang ada pun, yang banyak dikatakan sebagai dasar
moralitas para ilmuwan, teknokrat, birokrat, dan profesional pada akhirnya malah
tidak mampu untuk mencegah kekeringan dari pemaknaan, pengertian, dan
kebenaran absolut. Bahkan etika barat, yang banyak diadopsi di Indonesia
namun tanpa verifikasi, sepertinya menjadi alasan bagi peradaban yang
dikembangkan oleh Barat, dan kemudian dikintili (diikuti, bhs. jawa) oleh kita
tanpa suatu pengertian dan pemikiran yang mendalam, untuk menarik batas
yang tegas dengan nilai-nilai spiritual yang diyakininya. Pada akhirnya, etika pun
cuma memberikan kesanggupan kepada manusia untuk menegakkan peraturan-
peraturan mereka sendiri mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dipikirkan
dan dilakukan. Dengan kata lain dibuat dan ada, tapi boleh juga dilanggar. Suatu
kesalahan fatal yang baru belakangan ini disadari oleh banyak orang.

Bagi Pribadi Muslim, yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari suatu
peradaban dengan ciri Masyarakat Muslim, sudah selayaknya dituntut untuk
merujukkan kembali semua aktivitasnya di dunia sebagai bagian dari ibadah dan
fitrahnya. Dalam arti, apapun profesi serta aktivitas seorang Muslim, melongok
kembali kepada diri sendiri dengan menghidupkan kembali nilai-nilai keagamaan
yang mungkin telah dilupakan atau telah mengalami pengeringan makna,
merupakan suatu langkah awal untuk membangkitkan kembali Kecerdasan
Spiritual-nya. Bahkan, dengan niat yang teguh (istiqamah) membangkitkan
Kecerdasan Spiritual menjadi suatu keharusan agar kehidupan yang dibangun
tidak sekedar untuk memenuhi isi perut, tetapi penuh makna dan mampu
mengantarkannya kepada Allah SWT dengan penuh keridhaan dan ridhaNya.

Perlu diingat bahwa bagi seorang Muslim Kecerdasan Spiritual sejatinya


merupakan manifestasi puncak dari keimanannya sebagai abdi Tuhan, sebagai
hamba Allah. Oleh karena itu, Kecerdasaran Spiritual tanpa adanya keimanan
kepada Tuhan Yang Maha Esa cuma sekedar fatamorgana; suatu bayang-
bayang semu yang diciptakan untuk menentramkan diri dari bercak-bercak
materi yang sudah menjadi tuhan-tuhan kecil di hati. Kecerdasan Spiritual tanpa
Tuhan dan agama sama lumpuhnya dengan pengetahuan tanpa agama, karena
Kecerdasan Spiritual seperti itu cuma sekedar menjadi pengetahuan manusia
belaka. Ia tidak lebih dari gharur (artinya sesuatu yang mengelabui; adakalanya
digunakan untuk menyebutkan setan, disebabkan karena ia penipu ulung).

3. Inner Beauty Pribadi Muslim

Inner Beauty atau kecantikan dari dalam biasanya digunakan untuk kaum wanita
yang mempunyai kepribadian dan fisik menarik. Namun, dalam konteks
menyimpulkan risalah “kun” ini saya meminjam istilah dunia wanita ini untuk
menunjukkan bahwa seorang Pribadi Muslim mempunyai aspek penting lainnya
yang berhubungan dengan dua aspek sebelumnya. Lho, bukankah setelah
mempunyai kesadaran dan Kecerdasan Spiritual kemungkinan untuk berbuat
baik dan beramal menjadi besar? Benar, dan disinilah bahayanya.

Ketika seseorang merasa menjadi orang yang sudah disucikan, merasa sudah
beragama dengan benar, maka bisa jadi yang muncul adalah ghurur. Apakah
ghurur itu? Ghurur adalah keadaan seseorang yang terkelabui hatinya, baik oleh
bisikan-bisikan setan ataupun ilusi dirinya sendiri, sehingga dikuasai oleh
prasangka yang keliru tentang sesuatu. Dari kata ghurur inilah terbentuk juga
kata gharur. Jadi ketika ada yang mengatakan Kecerdasan Spiritual dapat
dicapai tanpa panduan agama dan tanpa keimanan kepada Tuhan, itu tidak lebih
dari gharur. Al-Gazhali, di dalam kitab “Orang-orang Yang Terkelabui”
mengingatkan bahaya hal ini [8].

Oleh karena itu, Inner Beauty merupakan sintesa Kecerdasan Spiritual dan
Makrifat mengenal Tuhan yang pada intinya adalah keharusan adanya suatu
totalitas cinta kepada Allah SWT yang menguasai hati sanubari manusia.
Manifestasi lahirnya adalah akhlak sebagai manusia yang mengabdi kepada
kemanusiaan secara tulus tanpa batas. Menjadi pelayan bagi masyarakat yang
membutuhkannya. Dalam konteks sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam,
maka pelayanan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah pelayanan
bukan karena keinginan dirinya untuk dianggap sebagai orang yang baik hati,
atau karena keinginan untuk memperoleh pahala di akhirat, namun semata-mata
karena manifestasi Asma-asma dan Sifat-sifat Allah SWT yang melimpahkan
rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua makhluk. Inilah tugas
kemanusiaan yang pernah diemban Nabi Muhammad SAW sebagai hamba
Allah, teladan akhlak, guru bagi manusia, abdi dan wakil Allah SWT.

Dalam lingkup sebagai seorang Pribadi Muslim, Inner Beauty itu akan tercermin
atau nampak sebagai seorang hamba Allah yang menjadi seorang guru manusia
(teladan manusia), yang berarti juga peduli terhadap satu sama lain, mengikuti
teladan akhlak dan perilaku Nabi SAW, dan senang melayani. Inner Beauty Nabi
Muhammad SAW tercermin dari keridhaannya melayani semua manusia, bahkan
sebagai Nabi dan Rasul terakhir beliau sudah ditakdirkan untuk melayani semua
makhluk (termasuk jin), di semua alam, di semua zaman “Dan kami tidak
mengutusmu (Muhammad) keculi untuk rahmat seluruh alam” (QS 21:107).

Menurut Robert Frager Ph.D[16], seorang mursyid sufi dan profesor psikologi
pada Institute Of Transpersonal Psychologi, California AS, melayani merupakan
suatu perilaku yang erat kaitannya dengan melayani unsur-unsur ilahiah yang
ada didalam diri setiap manusia. Melayani juga mempunyai makna yang hakiki
sebagai realisasi dari anugerah dan hidayah Allah yang diterima berupa
penyaksian atas Asma-asma dan Sifat-sifat Kemahaagungan (Jalal) dan
Kemahaindahan (Jamal) Allah SWT, yang tidak lain adalah penguraian tentang
“Basmalah” yang mengawali semua penciptaan makhluk. Oleh karena itu,
pelayanan dalam pandangan sufi adalah hadiah sekaligus sebagai hak istimewa,
suatu otoritas untuk mendidik, khususnya untuk memperbarui akhlak dan
perilaku manusia sehingga tercapai kemuliaan tertinggi, yang merupakan hasil
dari pencapaian kondisi ruhaniahnya. Dalam arti yang luas, maka semua gerak
gerik, akhlak serta perilaku para sufi yang mengikuti Nabi Muhammad SAW akan
termotivasi dengan sendirinya untuk selalu berbuat kebaikan karena memahami
bahwa melayani semua makhluk adalah bagian dari realisasi Asma-asma dan
Sifat-sifat Allah SWT yang dinisbahkan kepada manusia. Para sufi menyadari
bahwa untuk melayani sebenarnya tidak perlu harta yang melimpah, namun
kasih sayang dan ketulusan tanpa bataslah yang menjadi ukuran sebagai wujud
dari ridha Allah dan ridhanya.

Atmonadi,
Tulisan ini merupakan bagian dari Bab 7 Risalah Mawas “Kun Fa Yakuun :
Mengenal Diri, Mengenal Ilahi” Release ke-3 .
Referensi

1. Al Qur’an Terjemahan Departemen Agama, 1984


2. Al Qur’an Terjemah Indonesia, PT Sari Agung, Cetakan ke-13, 1999
3. HB Yassin, “Al Qur’an Bacaan Mulia”, Yalco Jaya, Cetakan ke-4, 2002
4. Choiruddin Hadhiri SP, “Klasifikasi Kandungan Al Qur’an”, Gema Insani
Press, 1999
5. Al Ghazali, ”Rahasia-rahasia Shalat”, Karisma, Cetakan ke-6, 1992
6. ________, “Mutiara Ihya Ulumiddin”, Mizan, 1990
7. ________, “Ringkasan Ihya Ulumiddin”, Gita Media Press, 2003
8. ________, ”Orang-orang Yang Terkelabui”, Karisma, Cetakan ke-4, 1999
9. Syekh Muhammad bin Ibrahim Ibnu Ibad, “Mutu Manikam Dari Kitab Al
Hikam”, Mutiara Ilmu, 1995
10. Paul Strathern, ”Einstein dan Relativitas”, Penerbit Erlangga, 2002
11. ____________, ”Bohr dan Teori Kuantum”, Penerbit Erlangga, 2002
12. Peter Coles, “Hawking dan Pikiran Tuhan”, Penerbir Jendela, Cetakan
Pertama, Maret 2003
13. Joko Siswanto, “Kosmologi Einstein”, PT Tiara Wacana Yogya,
November, 1996
14. Seyyed Hossein Nasr, “Antara Tuhan, Manusia dan alam”, IRCiSoD,
Agustus, 2003
15. Abdul Munir Mulkhan, “Kecerdasan Makrifat”, Harian Republika Online
Edisi 16/17 April 2004
16. Robert Frager, Ph.D “Hati, Diri, dan Jiwa”, PT Serambi Ilmu Semesta,
2003 M
17. William C. Chittick, “Dunia imajinal Ibnu Arabi”, Risalah Gusti, April 2001
18. Al-Qusyairy an-Naisabury, “Risalatul Qusyairiyah”, Risalah Gusti, 1996
19. Mawlana ‘Abd ar-Rahman Jami, “Pancaran Ilahi Kaum Sufi”, Pustaka Sufi,
Januari, 2003
20. Abu Nashr as-Sarraj, “Al-Luma”, Risalah Gusti, September, 2002
21. Ibnu Arabi, “Hakikat Lafadz Allah”, Pustaka Progresif, Mei, 2000
22. Al Ghazali, “Mihrab Kaum Arifin”, Pustaka Progresif, januari, 1999