Anda di halaman 1dari 5

GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI DESA DIBEE KEC.

KALITENGAH KAB. LAMONGAN

Anggraeni, Zuni., Wulandari, AS. Gambaran Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Karies Gigi Pada Siswa Sekolah Dasar Di Desa Dibee Kec. Kalitengah Kab. Lamongan. Tugas Akhir. Sarjana Kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2012 : 4 Halaman. Bibliografi 15 (2001 20011)

ABSTRAK One form of abnormalities in the teeth of the most common is dental caries, according to the 1995 Household Health Survey cited RI Departement of Health (2001) 63 % of the population suffers from dental caries Indonesia. The purpose of this study was to determine picture of the factors associated with the incidence of Dental Caries in Primary School Students in the Village District Dibee Kalitengah Lamongan. The results showed that the significant effect between frequency and accurary brushing their teeth on the incidence of dental caries in children at the primary school Dibee Kalitengah Lamongan. While this types of sweet foodsand attached did not show any significant effect. From theanalysis it can be concluded that the frequency of each brushing effect on the incidence of dental caries in primary school Dibee Kalitengah lamongan. To suppress or reduce the incidence of dental caries in primary school Dibee suggested that children gargle after each meal, and brush your teeth two times a day rightly. Key words : dental caries incidence, frequency of tooth brushing, brushing teeth

PENDAHULUAN Masalah kesehatan gigi di Indonesia masih merupakan hal menarik untuk dibahas. Salah satu bentuk kelainan pada gigi yang paling sering ditemui adalah karies gigi dan penyakit periodontal. Menurut SKRT 1995 yang dikutip Departemen Kesehatan RI (2001), menginformasikan bahwa 63% penduduk Indonesia menderita karies gigi aktif (kerusakan pada gigi yang belum ditangani), namun untuk beberapa profinsi angka tersebut lebih tinggi dari angka nasional, seperti di Kalimantan 80,2%, Sulawesi 74%, Sumatra 65,4% sedangkan yang terendah adalah Jawa dan Bali yaitu 56,8%. Di daerah kecamatan kalitengah, dari data pasien yang berobat ke puskesmas pada tahun 2009 sejumlah 448 anak menderita karies gigi. Sedangkan pada tahun 2010 terdapat 465 anak menderita karies. Resiko dari karies gigi dapat menjadi sangat serius baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. Sebagai akibat dari karies gigi lebih lanjut dapat mempercepat hilangnya gigi dan gusi. Kehilangan gigi pada anak-anak dapat mengganggu pertumbuhan, pengunyahan yang kurang sempurna sehingga dapat menimbulkan gangguan pada pencernaan. Anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang jumlahnya cukup besar dan memiliki prevalensi karies gigi yang cukup tinggi, Survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang dilakukan pada Pelita III dan IV menunjukkan bahwa prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80%. (Suryawati, 2009). Rumusan masalahnya adalah bagaimana gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar di Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan? Dari rumusan masalah diatas didapatkan tujuan masalah adalah untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar di Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupat Lamongan. Faktor-faktor tersebut terdiri dari faktor makan makanan manis dan melekat, frekuensi menggosok gigi, cara menggosok gigi, waktu menggosok gigi, dan kebersihan gigi dan mulut (OHI-S).

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

PEMBAHASAN 1. Hubungan jenis makanan manis dan melekat dengan kejadian karies gigi Tabel 1. Tabel hubungan jenis makanan manis dan melekat dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan N o 1. Makanan manis dan melekat Pernah Karies Tidak Jumlah

Ada

63 62 (50,4%) (49,6 %) 2. Tidak 3 2 pernah (60 %) (40 %) 66 64 Jumlah (50,7%) (49,3%) Sumber : Data Hasil Kuesioner

125 (100%) 5 (100 %) 130 (100 %)

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok anak yang pernah mengkonsumsi makanan manis dan melekat dengan karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (50,4%) dibanding dengan kelompok anak yang mengkonsumsi makanan manis dan melekat yang tidak karies gigi (49,6%). Dalam penelitian ini diketahui bahwa kemungkinan makanan manis dan melekat memiliki peranan penting dalam proses terjadinya karies gigi pada anak. Hal ini didukung oleh teori menurut Djamil (2011) yaitu makin sering anak mengonsumsi makanan ringan atau makanan mengandung gula, makin mengingkatkan resiko karies gigi. 2. Hubungan frekuensi menggosok gigi dengan kejadian karies gigi Tabel 2. Tabel hubungan frekuensi menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan Karies Tidak ada 1. 28 1 (96,5%) (3,5%) 2. 2 kali 29 59 (32,9%) (67,1%) 3. 3 kali 9 4 (69,2%) (30,8%) 66 64 Jumlah (50,7%) (49,3%) Sumber : Hasil data koesioner Ada N o Frekuensi menggosok gigi 1 kali Jumlah

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok anak yang menggosok gigi 1 kali dalam sehari yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (96,5 %) dibanding kelompok anak yang menggosok gigi 1 kali dalam sehari yang tidak menderita karies gigi (3,5 %). Pada kelompok anak yang menggosok gigi 2 kali dalam sehari yang tidak karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (67,1 %) dibanding dengan kelompok anak yang menggosok gigi 2 kali dalam sehari yang menderita karies gigi (32,9 %). Sedangkan pada kelompok anak yang menggosok gigi 3 kali sehari yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (69,2 %) dibanding dengan kelompok anak yang menggosok gigi 3 kali sehari dan tidak menderita karies gigi (30,8 %). Dalam penelitian ini diketahui bahwa kemungkinan frekuensi menggosok gigi yang buruk dapat menyebabkan karies gigi, karena untuk membersihkan plak secara sempurna perlu dilakukan menggosok gigi selama 3 kali sehari, namun 2 kali sehari pun sudah cukup, yaitu setelah makan pagi dan sebelum tidur malam (Srigupta, 2004). 3. Hubungan cara menggosok gigi dengan kejadian karies gigi Tabel 3. Tabel hubungan cara menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan No Cara menggoso k gigi Tepat Karies Tidak Jumlah

Ada

1 8 (11,1%) (88,9%) 2. Kurang 31 44 (41,3%) (58,7%) 3. Tidak 34 12 (73,9%) (26,1%) 66 64 Jumlah (50,7%) (49,3%) Sumber : Hasil data koesioner

1.

9 (100 %) 88 (100 %) 46 (100 %) 130 (100 %)

29 (100 %) 88 (100 %) 13 (100 %) 130 (100 %)

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok anak yang menggosok gigi dengan tepat yang tidak karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (88,9%) dibanding dengan kelompok anak yang menggosok gigi dengan tepat yang menderita karies gigi (11,1%). Sedangkan pada kelompok anak yang menggosok gigi dengan kurang tepat yang tidak menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (58,7 %) dibanding dengan kelompok anak yang menggosok gigi dengan kurang tepat yang menderita karies (41,3 %). Dan pada kelompok anak yang menggosok gigi dengan tidak tepat yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (73,9 %)

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

dibanding dengan kelompok anak yang menggosok gigi dengan tidak tepat yang tidak menderita karies (26,1 %). Dalam penelitian ini diketahui bahwa kemungkinan cara menggosok gigi yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya karies gigi. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Srigupta (2004) yaitu jika menggosok gigi tidak bersih, plak akan berubah menjadi karang gigi yang keras dan bahkan sikat gigi pun tidak bisa menghilangkannya. Sikat gigi yang tepat bisa menghilangkannya sebelum karang gigi tersebut tumbuh. 4. Hubungan waktu menggosok gigi dengan kejadian karies gigi Tabel 4. Tabel hubungan waktu menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan Karies Tidak ada 1. 6 7 (46,1%) (53,9%) 2. Kurang 12 10 (54,5%) (45,5%) 3. Tidak 48 47 (50,5%) (49,5%) 66 64 Jumlah (50,7%) (49,3%) Sumber : Hasil data koesioner No Ada Waktu menggos ok gigi Tepat Jumlah

bakteri dan kuman perusak gigi seperti Steptococcus mutans untuk merajalela. 5. Hubungan kebersihan gigi dan mulut dengan kejadian karies gigi Tabel 5. Tabel hubungan kebersihan gigi dan mulut dengan kejadian karies gigi pada siswa Sekolah Dasar Desa Dibee Kecamatan Kalitengah Kabupaten Lamongan Karies Ada Tidak 1. Baik 1 9 (10%) (90%) 2. Sedang 48 41 (53,9%) (46,1%) 3. Buruk 17 14 (54,8%) (45,2%) 66 64 Jumlah (50,7%) (49,3%) Sumber : Hasil data koesioner No OHI-S Jumlah 10 (100%) 89 (100%) 31 (100%) 130 (100%)

13 (100%) 22 (100%) 95 (100%) 130 (100%)

Pada pene tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok anak yang waktu menggosok giginya tepat yang tidak menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (53,9 %) dibanding dengan kelompok anak yang waktu menggosok giginya tepat yang menderita karies gigi (46,1 %). Sedangkan pada kelompok anak yang waktu menggosok gigi kurang tepat yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (54,5 %) dibanding kelompok anak yang waktu menggosok gigi kurang tepat yang tidak menderita karies gigi (45,5 %). Dan pada keleompok anak yang waktu menggosok gigi tidak tepat yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (50,5 %) dibanding kelompok anak yang waktu menggosok gigi tidak tepat yang tidak menderita karies gigi (49,5 %). Dalam penelitian ini diketahui bahwa kemungkinan waktu menggosok gigi yang baik dapat menurunkan faktor resiko terjadinya karies gigi. Hal ini didukung oleh teori Djamil (2011), yaitu menyikat gigi setelah makan membantu mengikis sisa makanan dengan segera dan member kesempatan kepada pH gigi kembali normal dan menyikat gigi sebelum tidur juga tidak member kesempatan sisa makanan menjadi sarang

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa kelompok anak dengan kebersihan gigi dan mulut (OHIS) baik yang tidak menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (90 %) dibanding kelompok anak dengan kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) baik yang menderita karies gigi (10 %). Sedangkan pada kelompok anak dengan kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) sedang yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (53,9 %) dibanding kelompok anak dengan kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) sedang yang tidak menderita karies gigi (46,1 %). Dan pada kelompok anak dengan kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) buruk yang menderita karies gigi mempunyai presentasi lebih tinggi (54,8 %) dibanding kelompok anak dengan kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) buruk yang tidak menderita karies gigi (45,2 %). Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kemungkinan kebersihan gigi dan mulut yang buruk dapat mempengaruhi terjadihan karies gigi, karena dalam keadaan kebersihan gigi dan mulut yang buruk dapat mempercepat proses fermentasi makanan oleh bakteri penghasil asam, sehingga mempermudah terjadinya dekalsifikasi enamel dan terbentuk karies gigi. Hal ini sesuai dengan teori Djamil (2011) mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya karies gigi adalah keadaan gigi dan mulut. PENUTUP DAN SIMPULAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang dilakukan, kemungkinan dapat disimpulkan sebagai berikut :

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

1.

2.

3.

4.

5.

Faktor makanan yang baik untuk kesehatan gigi dapat menurunkan kejadiaan karies gigi pada siswa kelas III-VI Sekolah Dasar Desa Dibee. Faktor frekuensi menggosok gigi yang baik dapat menurunkan kejadiaan karies gigi pada siswa kelas III-VI Sekolah Dasar Desa Dibee. Faktor cara atau teknik menggosok gigi yang baik dan benar dapat menurunkan kejadiaan karies gigi pada siswa kelas III-VI Sekolah Dasar Desa Dibee. Faktor waktu menggosok gigi yang tepat dapat menurunkan kejadiaan karies gigi pada siswa kelas III-VI Sekolah Dasar Desa Dibee. Faktor kebersihan gigi dan mulut yang baik dan bersih dapat menurunkan kejadiaan karies gigi pada siswa kelas III-VI Sekolah Dasar Desa Dibee.

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2008. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut. Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo : Surabaya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. Jakarta. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-3. Media Aesculapius. Jakarta. Herijulianti, Eliza. 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. EGC. Jakarta. Kristiani, Ani. 2008. Buku Ajar Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. Depkes RI. Jakarta. Mangoenprasodjo, AS. 2004. Gigi Sehat Mulut Terjaga Arti Penting Kesehatan Mulut dan Gigi Dalam Membangun Rasa Percaya Diri. Thinkfresh. Yogyakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. EGC. Jakarta. Putri, Megananda H & Herijulianti, Eliza & Nurjannah, Neneng. 2011. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. EGC. Jakarta. Rasuna, Gilang. 2010. Etilogi Karies Lite Version. (http://gilangrasuna.wordpress.com/2010/06/11/et iologi-karies-lite-version/ di akses 11 juni 2010). Srigupta, Aziz A. 2004. Panduan Singkat Perawatan Gigi dan Mulut. Prestasi Pustaka. Jakarta. Sukmono, Suryawati. 2009. Prevalensi Karies Gigi pada Tahun. Balita Usia 3-5 (http://tantursyah.blogspot.com/2009/03/prevalen si-karies-gigi-pada-balita-usia_11.html diakses 02 Mei 2009)

B.

Saran 1. Perlunya orang tua menganjurkan kepada anakanaknya untuk mengurangi makan makanan yang manis dan mudah melekat dan diganti dengan makan buah-buahan segar. 2. Perlu diberikan pendidikan kesehatan kepada anak sejak dini tentang kebiasaan menyikat gigi dengan cara : a. Setiap anak memiliki sikat gigi sendiri yang sesuai dengan bentuk mulut dan giginya b. Siapkan pasta gigi yang mengandung flour, banyaknya pasta gigi sebesar kacang tanah. c. Kumur-kumur sebelum menggosok gigi d. Sikatlah semua permukaan gigi dengan baik dan benar sesuai dengan posisi dan letak gigi. e. Setelah permukaan gigi disikat, kumurlah 1 kali saja agar sisa flour masih ada di gigi f. Bersihkan sikat gigi dengan air bersih dan simpan sikat gigi secara tegak dengan posisi kepala sikat berada di atas 3. Perlunya anak-anak berkumur setiap kali sehabis makan agar dapat membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi. 4. Perlunya pemeriksaan gigi dan mulut secara berkala minimal 6 bulan sekali.

DAFTAR RUJUKAN Depkes RI. 2001. Pedoman Upaya Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Di Puskesmas. Jakarta. Djamil, Melani S. 2011. A-Z Kesehatan Gigi. Metagraf. Solo. Dorland, WA. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. EGC : Jakarta

Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Beri Nilai