Anda di halaman 1dari 11

PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA (PDB)

ORDO SATU

PDB orde satu dapat dinyatakan dalam: ) , ( y x f
dx
dy
=
atau dalam bentuk: M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0
1. Penyelesaian PDB orde satu dengan integrasi secara langsung
Jika PDB dapat disusun dalam bentuk ) (x f
dx
dy
= , maka persamaan tersebut dapat
diselesaikan dengan integrasi sederhana.
Contoh 1: 5 6 3
2
+ = x x
dx
dy

Maka ( )
}
+ + = + = c x x x dx x x y 5 3 5 6 3
2 3 2

Contoh 2: 4 5
3
+ = x
dx
dy
x
Maka
x
x
dx
dy 4
5
2
+ =
Sehingga c x x y + + = ln 4
3
5
3

Nilai c tidak dapat ditentukan kecuali jika dalam persamaan di atas diberi keterangan
syarat (sebuah nilai y untuk x tertentu). Solusi dengan nilai konstanta sembarang atau c
disebut solusi umum/primitif, sedangkan solusi disebut khusus jika nilai c dapat dihitung.
Contoh 3:
Tentukan solusi khusus persamaan berikut jika y = 3 untuk x = 0:
4 =
dx
dy
e
x

Penyelesaian
4 =
dx
dy
e
x
sehingga
x
e
dx
dy

= 4
Maka
}
+ = =

c e dx e y
x x
4 4
dengan mengetahui y = 3 untuk x = 0 dapat dihitung nilai c yaitu
y = -4e
-x
+ c menjadi 3 = - 4e
-0
+ c ; c = 7
sehingga solusi khusus adalah:
}
+ = =

7 4 4
x x
e dx e y
2. Penyelesaian PDB orde satu dengan pemisahan variabel
Jika persamaan diferensial berbentuk ) , ( y x f
dx
dy
= , yaitu persamaan yang ruas kanannya
dapat dinyatakan sebagai perkalian atau pembagian fungsi x dan fungsi y, maka
penyelesaian PD dengan cara memisahkan variabelnya sehingga faktory bisa kita
kumpulkan dengan dy dan faktorx dengan dx.
Contoh 4: selesaikan PD berikut
( )( ) y x
dx
dy
+ + = 1 1
maka jika kita pisahkan berdasarkan variabelnya menjadi:
( )
( )dx x dy
y
+ =
+
1
1
1

jika kita integrasikan kedua ruas menjadi:
( )
( )
( ) c x x y
dx x dy
y
+ + = +
+ =
+
} }
2
2
1
1 ln
1
1
1

3. Persamaan Homogen substitusi y = vx
tinjau persamaan diferensial berikut:
x
y x
dx
dy
2
3 +
=
persamaan di atas tidak dapat diselesaikan dengan cara memisahkan variabelnya. Dalam
hal ini kita lakukan substitusi y = vx, dengan v adalah fungsi x. Sehingga
penyelesaiannya:
dari y = v x dideferensialkan menjadi
dx
dv
x v
dx
dy
+ =
Sehingga
2
3 1
2
3 2 v
x
y +
=
+

Persamaan sekarang menjadi:
dx
x
dv
v
v
v
v
dx
dv
x
v
dx
dv
x v
1
1
2
2
1
2
3 1
2
3 1
=
+
+
=
+
=
+
= +

kedua ruas diintegrasikan menjadi:
( )
( ) x c v
c x v
dx
x
dv
v
.. 1
ln 1 ln 2
1
1
2
2
= +
+ = +
=
+
} }

substitusi v = y/x didapatkan
( ) x c y x atau x c
x
y
3 2
2
. 1 = + =
|
.
|

\
|
+
4. Persamaan Linier dalam bentuk Q Py
dx
dy
= +
Untuk PD yang berbentuk Q Py
dx
dy
= + dengan P dan Q fungsi x atau konstanta maka
penyelesaian PD dengan mengalikan kedua ruas dengan faktor integrasi
}
Pdx
e
Contoh 5, selesaikan PD berikut: Penyelesaian
x y
dx
dy
=
dari persamaan diperoleh P = -1 dan Q = x
faktor integrasinya
x
Pdx
e e

=
}

jika kedua ruas persamaan dikalikan dengan
x
e

maka
( )
( ) Q e x e y e d x e y e
dx
d
x e y e
dx
dy
e
x e y
dx
dy
e
pdx pdx pdx
x x
x x x
x x
. . . . .
. .
}
=
}
=
)
`

}
=
=
=
|
.
|

\
|





sehingga penyelesaiannya
( )
x
x x x x x
x x
e c x y
c e x e dx e x e y e
dx x e y e d



+ =
+ = + =
=
}
} }
/ 1
.

dari contoh di atas jika faktor integrasi =
}
Pdx
e , maka PD linier orde satu bisa
dinyatakan dalam bentuk
( ) Q y
dx
d
. , =
Dengan bbentuk diatas, penyelesaianya menjadi
} }
+
}
=
}
+ = c Qdx e e y atau c Qdx y
Pdx Pdx
. . . .
5. Persamaan Bernoulli berbentuk
n
Qy Py
dx
dy
= +
PD yang berbentuk
n
Qy Py
dx
dy
= + dengan P dan Q fungsi x atau konstanta diselesaikan
dengan cara :
Q Py
dx
dy
y
n n
= +
1

Kedua, misalkanlah Z = y
1- n

sehingga
( )
( )
dx
dy
y n
dx
dz
dx
y d
dx
dz
n
n

= = 1
1

supaya suku pertama didapat
dx
dz
maka persamaan pertama dikalikan (1-n) didapat:
( ) ( ) ( )
) ( .
1 1 1
1 1
1
Linear PD Q Z P
dx
dz
Q n py n
dx
dy
y n
n n
= +
= +


dengan P
1
dan Q
1
fungsi x atau konstanta. Persamaan terakhir dapat diselesaikan dengan
faktor integrasi. Setelah diperoleh penyelesaian untuk z, dengn substitusi z = y
1- n
kita
dapatkan y.
Contoh 6, selesaikan PD berikut:
2
.y x
x
y
dx
dy
= +
Penyelesaian
Kedua ruas dibagi y
2
menjadi
x
x
y
dx
dy
y = +

1
2

Misalkan z = y
1-n
, n = 2 sehingga z = y
-1
dan
dx
dy
y
dx
dz
2
=
Supaya suku pertama didapat
dx
dz
maka penyelesaian dikali 1, diperoleh:
Linear PD x
x
z
dx
dz
x
x
y
dx
dy
y
=
=

1
2

Faktor integral
}
Pdx
e dimana
x
P
1
= maka

x
e e e e
x x
dx
x
Pdx 1 1
ln ln
1
= = =
}
=
}


Bentuk umum penyelesaian PD Linear didapat :
}
+
}
= c Qdx e y
Pdx
. .
Sehingga
( )
2
1 .
1
.
1
x cx Z
c x
x
z
c dx x
x
z
x
=
+ = + =
}

Karena Z = y
-1
= cx x
2
y = (cx x
2
)
- 1

6. Persamaan Diferensial Eksak
PDB dalam bentuk :
M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0
Dikatakan eksak jika terdapat fungsi Q(x,y), sedemikian sehingga ( ) y x M
y
Q
, =
o
o
dan
( ) y x M
y
Q
, =
o
o
, dengan mengingat diferensial total dari fungsi Q(x,y), maka disimpulkan
bahwa persamaan M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0 eksak jika hanya jika :
x
N
y
M
o
o
o
o
=
Langkah langkah untuk menyelesaikan PD Eksak adalah sebagai berikut:
Langkah 1. Tuliskan PD dalam bentuk diferensial :
M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0
Langkah 2. Uji ke-eksak-an PD:
x
N
y
M
o
o
o
o
=
Langkah 3. Jika eksak, integralkan M terhadap x atau N terhadap y. misalkan dipilih M,
maka: ( ) ( ) ( ) y g dx y x M y x N + =
}
, ,
Langkah 4. turunkan Q terhadap y dan semakan hasilnya dengan N(x,y)
( ) ( ) ( ) ( ) y g dx y x M
y
y x N ' , , + =
}
o
o

Langkah 5. Integralkan g(y) untuk memperoleh g(y)
Langkah 6. Tuliskan penyelesaikan umum dalam bentuk implisit: Q(x,y) = c
Langkah 7. Tentukan C jika diberikan kondisi awal tertentu.
Contoh 7
Selesaikan PDB ( ) 3 .
2
2
2
=

= o y
x y
y x
dx
dy

Selesaikan :
Langkah 1. Bentuk diferensial PD adalah : (x 2y)dx + (y
2
2x) dy = 0
Langkah 2. Uji ke-esak-an PD ini : 2 ; 2 = =
x
N
y
M
o
o
o
o

Langkah 3. Misalkan dipilih M untuk diitegralkan, maka :
( ) ( ) ( )
( ) ( )
( ) y g xy x
y g dx y x
y g dx y x M y x Q
+ =
+ =
+ = =
}
}
2
2
1
2
, ,

Langkah 4. Menyamakan turunan Q(x,y) terhadap y dengan N(x,y):
( )
( )
( )
2
2
2
'
2 ' 2 0
2 2
2
1
y y g
x y y g x
x y y g xy x
y
=
= +
=
|
.
|

\
|
+
o
o

Langkah 5. Integralkan g(y), diperoleh : g(x) = 1/3y
3

Langkah 6. Penyelesaian umum dalam bentuk implisit Q(x,y) = C
C y xy x + +
3
3
1
2
2
1

Langkah 7. Dengan kondisi awal y (0) = 3, diperoleh C = 9, sehingga penyelesaian
khususnya adalah : 9
3
1
2
2
1
3
+ + y xy x



7. Persamaan Diferensial Tak-Eksak
Jika suatu PD orde satu berbentuk :
M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0
Mempunyai sifat :
x
N
y
M
o
o
o
o
=
Maka PD tersebut disebut PD tak-eksak, suatu PD tak-eksak dapat diubah ke PD Eksak
dengan mengalikan persamaan dengan suatu faktor yang tepat, yang disebut faktor
pengintegralan (integrating factor). Pada bagian sebelumnya, kita mengenal faktor
integral : ( )
( )
}
=
dx x p
e x untuk menyelesaikan persamaan diferensial linear order satu
dalam bentuk :
( ) x Q y x P
dx
dy
= + ) (
Faktor integral ( )
( )
}
=
dx x p
e x akan membawa persamaan diferensial linier order satu
berbentuk ( ) x Q y x P
dx
dy
= + ) ( menjadi PD eksak. Secara umum suatu faktor integral
adalah faktor (x, y) dapat mengubah persamaan diferensial tidak eksak menjadi
persamaan diferensial eksak.
Contoh 8: Tunjukkan bahwa x dy + (2y xex )dx = 0 tidak eksak, tetapi dengan
mengalikan dengan faktor = x PD tersebut menjadi eksak. Kemudian selesaikan!
Penyelesaian :
Uji ke-eksak-an, ( ) ( ) 1 2 2 = = x
x
xe y
x
x
o
o
o
o

Jadi PD adalah tidak eksak. Dengan mengalikan faktor integral x diperoleh:
( )
( ) ( )
x
x
x
x
N
x
y
e x xy
y
M
Eksak PD dx e x xy dy x
x
x
2 ; 2
2
0 2
2 2
2 2
= = =

=
= +
o
o
o
o
o
o
o
o

dari langkah-langkah penyelesaian PD eksak, maka:
Q(x,y) = x
2
y x
2
e
x
+ 2xe
x
2e
x
+ g(y)
jika diketahui:
( ) ( ) y x N y x Q
y
, , =
o
o

Maka x
2
+ g(y) = x
2
g(y) = 0 g(y) = 0
jadi solusi PD adalah: Q(x,y) = c x
2
y x
2
e
x
+ 2xe
2
2e
x
= c
8. Menentukan Faktor Itegrasi
Jika M(x,y)dx + N(x,y)dy = 0 PD tak-eksak dan (x,y) faktor integrasi, maka
(x,y)M(x,y)dx + (x,y)N(x,y)dy = 0 adalah PD Eksak, sehingga
x
N
y
M
o
o
o
o
= atau
|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|

=
=
|
|
.
|

\
|

+ = +
x
N
y
M
N
x
M
y
M
y
N
x x
N
y
M
x
N
N
x y
M
M
y
o
o
o
o
o
o
o
o

o
o
o
o

o
o
o
o

o
o
o
o

o
o
o
o

Ada beberapa kasus, yaitu:
(1) Faktor integrasi hanya fungsi x saja atau (x,y) = (x) maka;
dx
N
x
N
y
M
e
dx
N
x
N
y
M
dx
N
x
N
y
M
x
N
x
N
y
M
x
N
y
M
N
x
}
|
|
.
|

\
|

=
|
|
.
|

\
|

=
|
|
.
|

\
|

=
=
|
|
.
|

\
|

|
.
|

\
|

=
}
o
o
o
o

o
o
o
o

o
o
o
o
o

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

ln
1
0

Jadi jika
N
x
N
y
M
|
|
.
|

\
|

o
o
o
o
menghasilkan fungsi x saja maka (x,y) = (x).
(2) Faktor integrasi hanya fungsi y saja atau (x,y) = (y) maka:
dy
M
x
N
y
M
e
}
=
|
|
.
|

\
|
c
c

c
c

Jadi Jika dy
M
x
N
y
M
|
|
.
|

\
|
c
c

c
c
menghasilkan fungsi y saja, maka = (y)
(3) Jika
xM yN
x
N
y
M

c
c

c
c
menghasilkan fungsi xy, maka = (y)
(4) Jika
M N
x
N
y
M

c
c

c
c
menghasilkan fungsi (x + y) maka = (x + y)

(5) Jika
xM yN
x
N
y
M
+
c
c

c
c
menghasilkan fungsi (x - y) maka = (x - y)

(6) Jika
yM xN
x
N
y
M
2 2
c
c

c
c
menghasilkan fungsi (x
2
+ y
2
), maka =(X
2
+ y
2
)
Kesimpulan : faktor integral ditentukan dengan menghitung
x
N
y
M
c
c

c
c
kemudian
membaginya sehingga diperoleh fungsi yang mandiri.
Contoh 9
Tunjukan faktor integral dari PD x dy + (2y xe
x
)dx = 0 sehingga menjadi PD eksak
Penyelesaian :
M(x,y) = (2y xe
x
) dan N(x,y) = x = 1
( ) 2 2 =
c
c
=
c
c
x
xe y
y y
M
dan ( ) 1 =
c
c
=
c
c
x
x x
N

Sehingga diperoleh
1 =
c
c

c
c
x
N
y
M
dan saja x dari f ungsi
x N
y
N
y
M
=
c
c

c
c
1


Maka faktor integralnya adalah
( ) x e e e x
x
dx
x
dx
N
x
N
y
M
= =
}
=
}
=
|
|
.
|

\
|
c
c

c
c
ln
1


Dari sini seperti contoh sebelumnya dapat ditunjukan dengan mengalikan x pada
persamaan dihasilkan PD Eksak.
Latihan
1.
x y
y x
dx
dy
2
2
2
+
+
=
2. ( ) 3 0 ,
2 2
2 3
2
2
=
+
+
= y
y x
xy x
dx
dy

3. ( ) ( ) ( ) 1 0 , 0 = = + + + + y dy y x e dx y ye
x x
















DAFTAR PUSTAKA


http://yuliants.blog.ittelkom.ac.id/blog/files/2010/02/02-Persamaan-Diferensial-Orde-I
(tanggal akses 7 Febuari 2013 pukul 20.00)
blog.ub.ac.id/ardi93/files/2012/.../pd_eksak (tanggal akses 7 Febuari 2013 pukul 20.30)
Purwanto, Heri dkk.2005. Kalkulus 1. Jakarta: PT Ercontara Rajawali
Setyaningsing, Sri dkk.2005. Matematika Dasar 2. Bogor: Pusat Komputasi.