Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

1. Pengertian dan prevalensi Tromboflebitis adalah inflamasi pada veba yang disebabkan oleh penggumpalan darah. Troboflebitis dapat terjadi pada vena superfisial maupun vena dalam. Tromboflebitis yang terjadi pada vena dalam sering disebut sebagai deep vein thrombosis (DVT). Sejauh ini belum epidemiologis penyakit ini di Indonesia, namun insidensi tromboflebitis di Indonesia diperkirakan sama dengan yang terjadi di negara barat. Di Amerika tromboflebitis terjadi pada 1 dari 1000 penduduk. Wanita lebih banyak terkena dibandingkan laki-laki karena kadar hormon estrogen. Umur merupakan salah satu faktor

risiko,dilaporkan bahwa tromboflebitis sering terjadi pada lansia, rata-rata umur pasien yang menderita tromboflebitis di Eropa berkisar umur 60 tahun.

2. Etiologi dan Faktor-faktor penyebab Tromboflebitis memiliki banyak penyebab, diantaranya adalah trauma lokal atau cedera pada vena, tidak beraktivitas dalam jangka waktu lama seperti mengemudi dan duduk di pesawat dalam jangka waktu yang lama, insersi kateter intravena di rumah sakit, periode post operatif, imobilisasi jangka panjang pada pasien-pasien di rumah sakit, vena varikosa, penyakit kanker dan gangguan pembekuan darah yang mendasari, gangguan pada aliran sistem vena yang normal, penggunaan obat-obat secara intravena, dan pasien-pasien luka bakar. Faktor risiko utama yang berperan dalam terjadinya tromboflebitis adalah trauma dan imobilisasi jangka panjang, faktor-faktor lainnya yang turur berperan adalah usia, kehamilan, terapi hormonal, kontrasepsi, merokok,dan obesitas.

Faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya tromboflebitis ditinjau dari Teori Blum dibedakan menjadi empat faktor, yaitu : faktor biologi, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor perilaku.

Tabel. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tromboflebitis Faktor Biologi Wanita lebih berisiko dibandingkan laki-laki Usia ( lebih dari 40 tahun) varises Kehamilan Penyakit gangguan pembekuan darah Abnormalitas pembuluh darah Insersi kateter intravena Penggunaan obat-obat intravena Faktor Lingkungan Trauma Luka bakar Merokok Tinggal di Rumah sakit dalam jangka waktu lama Obesitas Terapi hormonal Penggunaan kontrasepsi hormonal Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi Kekeliruan dalam diagnosis dan terapi Kurangnya perhatian dari petugas kesehatan pada pasien-pasien imobilisasi jangka panjang di rumah sakit. Kurangnya tindakan aseptik petugas kesehatan dalam melakukan insersi ataupun pencabutan kateter intravena dan memasukkan obat secara intravena. Teknik pencucian tangan yang buruk Teknik pemasangan kanula yang buruk Kanula dipasang terlalu lama Tempat suntik jarang diinspeksi visual Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai Faktor perilaku Kurang aktivitas Faktor pelayanan kesehatan Minimnya pengetahuan petugas kesehatan

3. Faktor yang paling berperan Faktor yang sangat berperan mempengaruhi terjadinya

tromboflebitis adalah faktor pelayanan kesehatan.

4. Akar-akar permasalahan Kurangnya pengetahuan dan perhatian dari petugas-petugas kesehatan pada pasien-pasien yang diharuskan imobilisasi lama di Rumah sakit seperti pada pasien yang memerlukan perawatan intensif, pasien pasca operasi, pasien dengan penyakit-penyakit tertentu. Serta kurangnya pengetahuan dan kesadaran petugas pelayanan kesehatan terhadapa pentingnya tindakan aseptik dan antiseptik. 5. Akar masalah utama Faktor pelayanan kesahatan yang menjadi masalah utama adalah kurangnya pengetahuan dan perhatian dari petugas-petugas kesehatan pada pasien-pasien yang diharuskan imobilisasi lama di Rumah sakit seperti pada pasien yang memerlukan perawatan intensif, pasien pasca operasi, pasien dengan penyakit-penyakit tertentu. Serta kurangnya pengetahuan dan kesadaran petugas pelayanan kesehatan terhadapa pentingnya tindakan aseptik dan antiseptik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai penyakit tromboflebitis ini, tidak jarang pasienpasien yang dirawat di rumah sakit menderita tromboflebitis akibat dari kurangnya kesadaran petugas-petugas kesehatan dalam tindakan aseptik dan antiseptik, kurangnya perhatian kepada pasien yang imobilisasi, kurangnya edukasi dari petugas kesehatan kepada keluarga pasien. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menyelesaikan akar masalah tersebut dengan jalan meningkatkan pengetahuan petugas dan juga masyarakat mengenai tromboflebitis.

6. Rencana Program Kegiatan Pilihan program untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan antara lain : 1. Memberikan materi kuliah atau seminar bagi petugas kesehatan mengenai etiologi terjadinya tromboflebitis, faktor risiko, cara mendiagnosis penyakit sera penatalaksanaannya serta pencegahannya. 2. Menjelaskan pentingnya tindakan aseptik dan aseptik pada petugas kesehatan pada pemasangan kateter intravena. 3. Membuat leaflet-leaflet berisi informasi tentang tromboflebitis 4. Memberikan edukasi kepada pasien-pasien mengenai penyakit tromboflebitis dan bagaimana cara pencegahannya terutama kepada pasien-pasien imobilisasi yang dirawat jangka waktu lama 5. Memberi saran kepada dinas kesehatan setempat untuk mengadakan materi kuliah atau seminar, dan pelatihan bagi petugas kesehatan sebagai salah satu program kerja. Dari program kerja di atas, alternatif terbaik dalam mengatasi tromboflebitis adalah dengan memberi pengetahuan tentang penyakit tromboflebitis mengenai etiologi terjadinya tromboflebitis, faktor risiko, cara mendiagnosis penyakit serta penatalaksanaan serta pencegahannya. Dengan semakin bertambah pengetahuan dan kesadaran dari petugas pelayanan kesehatan terhadapap faktor risiko dan pencegahan

tomboflebitis diharapkan angka kejadian penyakit ini dapat menurun .