Anda di halaman 1dari 47

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

Percobaan Kelompok Nama 1. 2. 3. 4. 5.

: DESTILASI UAP : VIII A

: Clarissa Amalia Daniatus Syarh Hajj Aprise Mujiartono Fano Alfian A. Khairul Anam

NRP. NRP. NRP. NRP. NRP.

2313 030 015 2313 030 023 2313 030 051 2313 030 079 2313 030 097

Tanggal Percobaan Tanggal Penyerahan Dosen Pembimbing Asisten Laboratorium

: 18 Nopember 2013 : 25 Nopember 2013 : Nurlaili Humaidah, S.T., M.T. : Dhaniar Rulandri W.

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2013

ABSTRAK
Tujuan dari percobaan destilasi uap ini adalah untuk mengetahui pengaruh uap terhadap titik didih dan juga untuk mengetahui densitas minyak cengkeh sebagai hasil dari destilasi uap biji cengkeh. Prosedur dalam percobaan ini adalah menyiapkan perangkat destilasi lengkap beserta bahan yang akan digunakan untuk destilasi yaitu biji cengkeh sebanyak 350 gram. Biji cengkeh yang akan digunakan dikeringkan untuk mempermudah uap untuk mengekstrak minyak dalam cengkeh. Cengkeh dimasukkan ke dalam labu destilasi. Kemudian isi panci steam dengan air secukupnya, lalu menyalakan kompor untuk memanaskan panci. Menutup valve yang ada pada boiler saat uap pada panci sudah mengepul. Menyalakan stopwatch sebagai awal mula perhitungan waktu destilasi uap. Mengukur suhu, tekanan, dan waktu yang ada pada labu destilat saat hasil destilasi pertama kali menetes. Mengamati volume hasil destilasi yang ada pada labu erlenmeyer, apabila sudah mulai penuh harus diganti dengan labu erlenmeyer yang lain. Setelah terjadi pemisahan 2 frase antara minyak dan air, mengambil bagian minyaknya cengkeh dengan menggunakan pipet lalu memasukkan minyak kemiri kedalam piknometer. Selanjutnya untuk menghitung densitas minyak cengkeh, langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang piknometer yang akan diisi minyak cengkeh pada keadaan kosong terlebih dahulu. Lalu memasukkan minyak cengkeh ke dalam piknometer, dimana dari hasil percobaan diperoleh minyak cengkeh dengan volume 2 ml pada saat 75 menit dan 3,8 ml pada saat 125 menit. Karena hasil yang diperoleh kurang maksimal, maka hasil destilasi didiamkan selama 2 hari dan diperoleh minyak cengkeh sebesar 12,8 ml. Kemudian menimbang piknometer yang berisi minyak cengkeh. Menghitung massa minyak cengkeh dengan mencari selisih antara berat piknometer berisi minyak cengkeh dengan berat piknometer pada keadaan kosong. Kemudian prosedur untuk mendapatkan densitas dari minyak cengkeh adalah hasil pembagian dari berat (m) minyak cengkeh dengan volume (v) minyak cengkeh. Dari percobaan destilasi uap ini diperoleh bahwa terdapat pengaruh titik didih untuk menghasilkan minyak cengkeh. Hasil destilasi yang kami peroleh pertama kali menetes pada waktu 15 menit dengan suhu 90 oC dan tekanan 39 mBar. Pada proses destilasi uap ini, diperoleh suhu sebesar 96 oC dengan tekanan 44 mBar pada saat 75 menit dan suhu sebesar 98 oC dengan tekanan 55 mBar pada saat 125 menit. Dari hasil percobaan ini, sebesar 350 gram cengkeh kering mampu menghasilkan 12,8 ml setelah kami mencoba untuk mendiamkan minyak cengkeh selama 2 hari. Setelah dilakukan proses perhitungan dengan membagi massa minyak cengkeh dengan volume minyak cengkeh diperoleh massa jenis minyak cengkeh sebesar 0,75 gr/ml pada saat 75 menit, 0,92 gr/ml saat 125 menit, dan 0,94 gr/ml setelah minyak cengkeh didiamkan selama 2 hari, namun dalam literatur yang ada densitas yang diperoleh dari minyak cengkeh berkisar pada angka 0,9994 gr/ml. Minyak cengkeh dapat dihasilkan dari proses destilasi uap yang lebih kompleks.

Kata Kunci: destilasi, minyak atsiri, titik didih, cengkeh, densitas minyak.

DAFTAR ISI
ABSTRAK .......................................................................................................................... i DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR .......................................................................................................... iii DAFTAR TABEL............................................................................................................... iv DAFTAR GRAFIK ............................................................................................................. v BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang ..................................................................................................... I-1 I.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ I-2 I.3 Tujuan Percobaan ................................................................................................. I-2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Dasar Teori ......................................................................................................... II-1 BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1 Variabel Percobaan ............................................................................................ III-1 III.2 Bahan yang Digunakan...................................................................................... III-1 III.3 Alat yang Digunakan ......................................................................................... III-1 III.4 Prosedur Percobaan ........................................................................................... III-2 III.5 Diagram Alir Percobaan .................................................................................... III-3 III.6 Gambar Alat Percobaan ..................................................................................... III-6 BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil Percobaan ................................................................................................. IV-1 IV.2 Pembahasan ....................................................................................................... IV-1 BAB V KESIMPULAN ...................................................................................................... V-1 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... vi DAFTAR NOTASI ............................................................................................................. vii APPENDIKS....................................................................................................................... viii LAMPIRAN Laporan Sementara Fotokopi Literatur Lembar Revisi

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1 Sistem pada Tipe I ..................................................................................... II-10 Gambar II.2 Sistem pada Tipe II .................................................................................... II-11 Gambar III.3 Sistem pada Tipe III .................................................................................. II-12 Gambar II.4 Perangkat destilasi sederhana .................................................................... II-13 Gambar II.5 Sistem Destilasi Bertingkat ........................................................................ II-14 Gambar II.6 Perangkat Destilasi Vakum ........................................................................ II-16 Gambar II.7 Perangkat Destilasi Refluks atau Destilasi Destruksi dalam Industri ........ II-17 Gambar II.8 Perangkat Destilasi Uap ............................................................................. II-18 Gambar II.9 Minyak dari Kuncup Bunga Cengkeh Kering............................................ II-22 Gambar III.1 Gambar Alat Percobaan ............................................................................. III-5

iii

DAFTAR TABEL

Tabel IV.1 Hasil Pengamatan Destilasi Uap .......................................................................IV-1

iv

DAFTAR GRAFIK

Grafik II.1 Grafik Azeotrop pada Sistem Destilasi ............................................................. II-15

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Distilasi adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap atau volatilitas bahan. Dalam destilasi, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Salah satu contoh proses destilasi adalah destilasi uap yang telah kami praktikkan pada saat praktikum kimia fisika, dimana jenis destilasi ini memiliki fungsi untuk memurnikan zat yang memiliki titik didih tinggi. Destilasi memang dapat digunakan untuk memurnikan berbagai bahan tentunya untuk menghasilkan minyak atsiri. Tanaman cengkeh merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan untuk proses destilasi. Bijinya yang berwarna coklat kehitaman selain digunakan sebagai penyedap rasa makanan dan bahan utama rokok kretek, cengkeh juga dimanfaatkan untuk diambil minyaknya dalam perkembangan era modern ini. Dalam setiap bijinya terdapat kandungan minyak atsiri sebesar 63% yang memiliki cukup banyak manfaat. Minyak kemiri sebagai hasil dari proses destilasi ini pasti memiliki massa jenis atau densitas yang dapat dihitung dengan rumus tertentu. Oleh karena itu hal yang melatar belakangi kami dalam melakukan praktikum ini adalah keinginan kami sebagai praktikan untuk mengetahui dan mengerti lebih lanjut mengenai bagaimana pengaruh uap terhadap titik didih dalam percobaan destilasi uap dengan bahan biji cengkeh kering. Kemudian kami dapat menghitung densitas minyak cengkeh sebagai hasil dari proses destilasi uap cengkeh. Aplikasi Destilasi dalam bidang industri dapat ditemui dalam proses pengolahan minyak bumi. Destilasi digunakan dalam proses pemisahan minyak mentah menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dan lainnya. Udara didestilasi menjadi komponen-kompone seperti oksigen untuk penggunaan medisdan helium untuk pengisian balon. Destilasi juga telah lama digunakan untuk pemekatan alkohol dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk menghasilkan minuman suling.

I-1

I-2 Bab I Pendahuluan I.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengaruh uap terhadap titik didih dalam percobaan destilasi uap dengan bahan biji cengkeh? 2. Bagaimana cara menghitung dan mengetahui densitas minyak cengkeh sebagai hasil dari destilasi uap biji cengkeh?

I.3 Tujuan Percobaan 1. Mempelajari dan mengetahui pengaruh uap terhadap titik didih dalam percobaan destilasi uap dengan bahan biji cengkeh. 2. Menghitung dan mengetahui densitas minyak cengkeh sebagai hasil dari destilasi uap biji cengkeh.

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Dasar Teori Pengertian Pemurnian Pemurnian digunakan untuk memisahkan zat tertentu dari pengaruh zat lain yang mengotorinya untuk menjadi keadaan murni. Campuran suatu larutan dapat dipisahkan melalui cara-cara fisis pemurnian didasarkan pada perbedaan ukuran partikel sifat titik didih, titik beku, daya larutan dandaya serap komponen campuran. Jarang sekali ditemukan suatu reaksi organik yang dapat memberikan hasil yang murni, yaitu suatu senyawa yang antara lain adalah hasil sampingan bahan baku yang tidak larut atau ikut bereaksi yang berfungsi sebagai pelarut dan katalisator dalam suatu reaksi untuk menghasilkan senyawa yang dimaksud maka diperlukan pemisahan dan pemurnian. Oleh karena itu apabila kita menginginkan suatu hasil yang murni, maka perlu diadakan atau dilakukan suatu proses pemurnian (Dwityatama, 2012). Kebutuhan bahan kimia dari kedua kemurnian tinggi dan kemurnian didirikan besar, dan meluas ke semua cabang ilmu. Biro Nasional standar AS telah aktif di bidang ini dan sekarang memasok beberapa bahan kemurnian tinggi dan menyediakan layanan lainnya seperti standar kemurnian dan deskripsi metode pemurnian. Diharapkan bahwa layanan ini akan diperluas. Banyak perusahaan kimia menyediakan bahan kimia kemurnian ditentukan. Tingkat kemurnian tergantung pada material yang akan diselidiki, penggunaan yang harus terbuat dari itu dan sifat dari kotoran. Substansi kimia meliputi kelas-kelas yang berbeda yaitu: Elemen, termasuk isotop yang dipilih. Senyawa Organik, termasuk hidrokarbon dan turunannya seperti alkohol. Materi non-organik, termasuk halida, oksida, asam, dan garam. Kristal tunggal.
(Daniels, 1949)

Ternik pemisahan atau pemurnian dari suatu zat yang telah tercemar atau mengalami percampuran dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya : 1. Absorbsi Absorbsi atau penyerapan dalam kimia adalah suatu fenomena fisik atau kimiawi merupakan suatu proses sewaktu atom molekul atau ion memasuki suatu fase limbak (bulk) lain yang bisa berupa gas, cairan, ataupun padatan (Satria, 2013).

II-1

II-2 BAB II Tinjauan Pustaka Proses ini berbeda dengan adsorpsi karena pengikatan molekul dilakukan melalui volume dan bukan permukaan. Absorpsi merupakan suatu proses transfer massa yang penting dalam dunia industri. Absorpsi adalah proses perpindahan massa zat-zat yang terlarut dalam fase gaske fase cair. Proses perpindahan massa terjadi karena adanya driving force yang berupa beda konsentrasi zat terlarut antar fase, dimana konsebtrasi zat terlarut dalam gas lebih besar daripada konsentrasi dalam fase cair pada kondisi seimbangnya (Chintya, 2013). 2. Adsorpsi Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penyerap, adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat terserap, adsorbat) pada permukaannya. Berbeda dengan absorpsi yang merupakan penyerapan fluida oleh fluida lainnya dengan membentuk suatu larutan (Wikipedia, 2013). Meskipun adsorpsi telah digunakan sebagai proses kimia fisik selama bertahuntahun, namun hanya selama empat dekade terakhir ini proses adsorpsi baru dikembangkan ke tahap teknik pemisahan industri utama. Pada adsorpsi , molekul mendistribusikan sendiri antara dua fase, salah satunya solid sementara yang lain mungkin cairan atau gas. Satu-satunya pengecualian pada adsorpsi terdapat pada busa, topik yang tidak dianggap pada bagian ini. Adsorpsi tidak sama halnya dengan penyerapan dimana molekul zat terlarut berdifusi dari sebagian besar fase gas ke sebagian besar fase cair (Oktavia, 2013). 3. Kristalisasi Kristalisasi adalah proses pembentukan bahan padat dari pengendapan larutan, melt atau campuran leleh, atau lebih jarang pengendapan langsung dari gas. Kristalisasi juga merupakan teknik pemisahan kimia antara bahan padat-cair, dimana terjadi perpindahan massa (massa transfer) dari suatu zat terlarut atau solute dari cairan larutan ke fase kristal padat. Pemisahan dengan teknik kristalisasi didasari atas pelepasan pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran homogeen atau larutan, sehingga terbentuk kristal dari zat terlarutnya. Proses ini adalah salah satu teknik pemisahan padat-cair yang sangat penting dalam industri, karena dapat menghasilkan kemurnian produk hingga 100% (Zulfikar, 2011). Contoh proses kristalisasi diantaranya: gula pasir, garam, kristal pupuk, protein, lemak, pati dan lain-lain (Ramadhani, 2013). Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-3 BAB II Tinjauan Pustaka 4. Destilasi Sederhana Destilasi adalah suatu proses pemisahan yang sangat penting dalam berbagai industri kimia. Operasi ini bekerja untuk memisahkan suatu campuran menjadi komponen-komponennya berdasarkan perbedaan titik didih. Destilasi ini selalu digunakan untuk memisahkan minyak bumi menjadi fraksi-fraksinya, memisahkan suatu produk kimia dari pengotornya, dan sangat diperlukan dalam industri obat-obatan.
(Murod, 2012)

Secara sederhana destilasi dilakukan dengan memanaskan atau menguapkan zat cair, lalu uap tersebut didinginkan kembali supaya jadi cair dengan bantuan kondensor. Titik didih disini dipengaruhi oleh interaksi antar molekul pelarut dan zat terlarut. Titik didih pelarut akan meningkat ketika ditambahkan zat terlarut, hal ini disebabkan karena bertambahnya iteraksi antar molekul dari pelarut dan zat terlarut. Ketika dipanaskan, zat pelarut akan mendidih terlebih dahulu karena ikatan antar molekul pelarut merupakan interaksi yang lebih lemah daripada interaksi pelarut dan zat terlarut. Dengan demikian didapatkan pemisahan zat terlarut dari pelarutnya (Isnaini, 2013). 5. Elektrolisis Elektrolisis adalah peristiwa berlangsungnya reaksi kimia oleh arus listrik. Alat elektrolisa terdiri atas sel elektrolit yang berisi elektrolit (larutan atau leburan), dan dua elektroda (anoda dan katoda). Pada anoda terjadi reaksi oksida, sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi. Komponen yang paling penting dari proses elektrolisis ini adalah elektroda dan elektrolit (Nizwar, 2011 ) . Elektroda yang digunakan dalam proses elektrolisis dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: Elektroda Inert, seperti grafit (C), platina (Pt), dan emas (Au). Elektroda Aktif, seperti seng (Zn), tembaga (Cu), dan perak (Ag) Sedangkan elektrolitnya dapat berupa larutan asam, basa, atau garam. Dapat pula leburan garam halida atau leburan oksida. Kombinasi antara elektrolit dan elektrolisis menghasilkan tiga kategori penting elektrolisis, yaitu: Elektrolisis larutan dengan elektroda inert. Elektrolisis larutan dengan elektroda aktif. Elektrolisis leburan dengan elektroda inert.
(Muthi'ah, 2013)

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-4 BAB II Tinjauan Pustaka 6. Elektroforesis Elektroforesis adalah teknik pemisahan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya. Prinsip kerja dari elektroforesis adalah adanya pergerakan komponen bermuatan positif (+) pada kutub negatif (-) serta komponen bermuatan negatif (-) pada kutub positif (+). Pegerakan yang terjadi disebut "elektrokinetik". Hasil yang didapatkan dari elektroforesis adalaha elektroforegram yang memberikan informasi mengenai seberapa cepat perpindahan komponen (tm) atau biasa disebut kecepatan migrasi (Aditama, 2011). 6. Ekstraksi Ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat dengan pelarut. Ekstraksi menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solut) diantara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih, baik untuk zat organik atau anorganik, untuk analisis makro maupun mikro.
(Kurniati, 2011)

7. Destilasi Fraksional Destilasi bertingkat adalah proses pemisahan dua bahan yang mempunyai titik didih yang tidak berbeda jauh. Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah.Aplikasi dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, Alkohol, dan lain-lain. Perbedaan distilasi fraksinasi dan distilasi sederhana adalah adanya kolom fraksionasi. Di kolom ini terjadi pemanasan secara bertahap dengan suhu yang berbedabeda pada setiap platnya. Pemanasan yang berbeda-beda ini bertujuan untuk pemurnian distilat yang lebih dari plat-plat di bawahnya. Semakin ke atas, semakin tidak volatil cairannya (Anonim, 2012). 8. Kromatografi gas liquid Kromatografi adalah teknik pemisahan fisik suatucampuran zat-zat kimia yang berdasar pada perbedaan migrasi dari masing-masing komponen campuran yang terpisah pad afase diam di bawah pengaruh pergerakan fase gerak (Singgih, 2012). Pada umumya ada dua jenis kromatografi gas, yaitu kromatografi gas cair dan kromatografi gas padat. Kedua jeis kromatografi ini dibedakan berdasarkan wujud fase gerak dan fase diamnya. Kromatografi gas cair terdiri dari fasa gerak yang berwujud Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-5 BAB II Tinjauan Pustaka gas sedangkan fase diamnya berwujud cair. Sedangkan pada kromatografi zat padat, fase geraknya sama yaitu berwujud gas tetapi fase diamnya berwujud padat (Lianti, 2013). 9. Zona pelelehan Persyaratan untuk kemurnian yang sangat tinggi padatan yang digunakan dalam transitors dan instrumen elektronik serupa telah menyebabkan kesempurnaan pemurnian dengan zona leleh. Sebuah tabung panjang padat beku mencair pada salah satu ujungnya dengan letak yang sempit. Pemanasan kumparan bergerak perlahan di sepanjang tabung, dan zona lelehan yang berisi kotoran juga bergerak sepanjang tabung, mengumpulkan kotoran lebih juga bergerak bersama, mengumpulkan kotoran lebih sebagai kelanjutannya. Dengan cara ini kotoran berpindah ke salah satu ujung. Proses ini diulang beberapa kali (Daniels, 1949). Pengertian Destilasi Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton (Eva, 2013). Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar (Eva, 2013). Jika campuran berair didihkan, komposisi uap di atas cairan tidak sama dengan komposisi pada cairan. Uap akan kaya dengan senyawa yang lebih volatile atau komponen dengan titik didih lebih rendah. Jika uap di atas cairan terkumpul dan dinginkan, uap akan terembunkan dan komposisinya sama dengan komposisi senyawa yang terdapat pada uap Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-6 BAB II Tinjauan Pustaka yaitu dengan senyawa yang mempunyai titik didih lebih rendah. Jika suhu relative tetap, maka destilat yang terkumpul akan mengandung senyawa murni dari salah satu komponen dalam campuran (Eva, 2013). Larutan ideal memiliki tekanan uap yang berbanding lurus dengan fraksi molnya dalam larutan untuk seluruh kisaran fraksi mol yaitu: P1 = X1 . P10 Keterangan: P10 X1 P1 = tekanan uap (pada suhu tertentu) murni zat = fraksi mol dalam larutan = tekanan uap parsial dalam larutan. Ini merupakan generalisasi dari hukum Raoult untuk setiap komponen larutan. Uap jenuh dari cairan yang sama sekali tidak bercampur akan mengikuti hukum Dalton mengenai tekanan parsial, yang mengatakan bahwa jika dua atau lebih gas atau uap yang tidak bereaksi satu sama lain yang dicampur pada suhu yang tetap, setiap gas itu menghasilkan tekanan yang sama seperti jika gas itu terdapat sendirian dan jumlah tekanan itu sama dengan tekanan jumlah sistem itu (Miliard, 1936). Tekanan uap parsial adalah tekanan uap cairan murni pada suhu tersebut. Jika PA dan PB adalah tekanan uap cairan A dan cairan B pada titik didih campuran, tekanan jumlah PT adalah PT = PA + P B PT = P A + PB Keterangan: PT PA PB = Tekanan total = Tekanan uap cairan A = Tekanan uap cairan B

(Miliard, 1936)

(Gucker and Meldrum, 1950)

Dan susunan uapnya adalah : nA/nB = PA + PB Keterangan: nA = Jumlah mol senyawa A Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-7 BAB II Tinjauan Pustaka nB = Senyawa B pada volume tertentu pada fase uap.
(Miliard, 1936)

Ketika fraksionalisasi terjadi pada campuran yang tidak saling larut (imisible), hal ini sering disebut condistillation. Ketika salah satu zat tersebut berupa air, maka proses ini sering disebut steam distillation (penyulingan uap). Untuk kondisi di mana suatu bahan tidak saling larut, tekanan total dapat dicari dengan hukum Dalton, yaitu: PT = P10 + P20

Keterangan: P PoA PoB = Tekanan total = Tekanan air = Tekanan uap dari sampel

PoA dan PoB = Berpengaruh terhadap temperatur


(Milliard, 1936)

Perbandingan tekanan di temperature T konstan tentunya memiliki perbandingan mol yang konstant juga. oA = A = A. B B = B = B. A Keterangan: PoA PoB A B mA mB VA VB = Tekanan air = Tekanan uap dari sampel

PoA dan PoB = Berpengaruh terhadap temperatur = Jumlah mol air = Jumlah mol sampel = Massa air = Massa sampel = Volume air = Volume sampel Karenanya rasio tekanan dan rasio tekanan parsial pada T adalah konstan, na / nb juga harus konstan. Komposisi uap setiap saat konstan sepanjang kedua cairan tersebut ada. Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

(Gucker and Meldrum, 1950)

II-8 BAB II Tinjauan Pustaka Karena,

na =

ma Vb

dan

nb =

mb Vb

Keterangan: A = Jumlah mol air B = Jumlah mol sampel mA = Massa air mB = Massa sampel VA = Volume air VB = volume sampel
(Gucker and Meldrum, 1950)

Sehingga kita dapat mencari Berat Molekul minyak dari rumus :


Keterangan: Wa = Berat molekul air Wb = Berat molekul minyak Va = Volume air Vb = Volume minyak Poa = Tekanan air Pob = Tekanan Uap dari sampel
(Gucker and Meldrum, 1950)

Destilasi dilaksanakan dalam praktek menurut salah satu atau lebih/dua metode utama. Metode pertama didasarkan atas pembuatan uap dengan mendidihkan campuran zat cair yang akan dipisahkan dan mengembunkan (kondensasi) uap tanpa ada zat cair yang kembali kedalam bejana didih. Jadi tidak ada refluks. Metode kedua didasarkan atas pengembalian sebagian dari kondensat ke bejana didih dalam suatu kondisi tertentu, sehingga zat cair yang dikembalikan ini mengalami kontak akrab dengan uap yang mengalir keatas menuju kondensor (Anonim, 2013). Pengaruh zat pengotor pada titik didih sangat bergantung pada sifat zat pengotor, sehingga akan dijumpai pengaruh yang besar bila residu yang volatile masih tetap ada. Umumnya, sejumlah kecil zat pengotor akan memberikan pengaruh yang kecil pada titik Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-9 BAB II Tinjauan Pustaka didih jika dibandingkan pengaruhnya terhadap titik leleh. Dengan demikian, titik didih tidak memberikan arti yang sama seperti titik leleh untuk karakterisasi bahan-bahan dan kemurniannya (Anonim, 2013). Sebagaimana prinsip dasar dari destilasi adalah memisahkan zat berdasarkan perbedaan titik didihnya, maka komponen zat yang memiliki titik didih yang rendah akan lebih dulu menguap sedangkan yang lebih tinggi titik didihnya akan tetap tertampung pada labu destilasi. Proses penguapan komponen zat ini dilakukan dengan pemanasan pada labu destilasi sehingga komponen zat yang memiliki titik didih yang lebih rendah akan menguap dan uap tersebut melewati kondensor atau pendingin yang mendinginkan komponen zat tersebut sehingga akan terkondensasi atau berubah dari berwujud uap menjadi berwujud cair sehingga dapat ditampung di labu destilat atau labu Erlenmeyer. Pada proses destilasi ini, destilat ditampung pada suhu tetap (konstan). Hal ini dilakukan karena diharapkan akan diperoleh destilat yang murni pada kondisi suhu tersebut. Setelah sampel pada labu alas bulat berkurang, suhu akan naik karena jumlah sampel yang didestilasi telah berkurang. Pada kondisi naiknya suhu ini, proses destilasi sudah dapat dihentikan sehingga yang diperoleh adalah destilat murni. Pada destilasi, untuk memperoleh ketelitian yang tinggi penempatan ujung termometer harus sangat diperhatikan, yaitu ujung termometer harus tepat berada di persimpangan yang menuju ke pendingin agar suhu yang teramati adalah benar-benar suhu uap senyawa yang diamati. Pada proses destilasi, penyimpangan pengukuran dapat terjadi jika adanya pemanasan yang berlebihan atau superheating serta kesalahan dalam penempatan pengukur suhu atau termometer tidak pada posisi yang benar.
(Rusli, 2013)

Diagram Titik Didih Destilasi pada Larutan Biner. Pada destilasi terdapat perbedaan titik didih pada larutan yang membuat perbedaan pada hasil yang dicapai ketika fasa cair dan gas (uap). Perbedaan ini secara umum diklasifikasikan menjadi 3 tipe yaitu: 1. Sistem Tipe I Jika kita memanaskan larutan dengan komposisi a dan tidak mendidih sampai suhu Ta terapai. Pada suhu ini uap yang datang dari a akn memiliki komposisi a karena a lebih banyak dari pada B, sedangkan komposisi residu harus menjadi banyak dalam A. Komposisi baru residu, b, tidak bisa memanaskan sampai suhu Tb tercapai yang lebih tinggi dari Ta. Pada gilirannya, uap datang dari B akan memiliki komposisi b

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-10 BAB II Tinjauan Pustaka dan sekali lagi harus lebih banyak daripada B. Akibatnya komposisi residu akan diperkaya dalam A, dan suhu harus naik sebelum residu akan mendidih (Lando, 1994).

Gambar II.1 Sistem pada Tipe I 2. Sistem Tipe II Jika larutan memilki komposisi antara A dan C, seperti pada proses destilasi, suhu uap yang ada pada saat mendidih akan lebih tinggi daripada larutan a. Jika destilasi dilanjutkan, terdapat pendapat yang sama seperti yang digunakan untuk larutan pada sistem tipe I yang menunjukkan bahwa a pada akhirnya residu murni dari A, yang mendidih pada Ta. Di sisi lain, jika uap dari larutan murni, a, dikondensasikan dan diredestilasi berulang kali, uap dengan komposisi C akhirnya akan diperoleh. Uap tersebut terkondensasi dan ketika didestilasi lagi akan menghasilkan komposisi uap sebagai larutan dan karenanya tidak ada pemisahan lebih lanjut yang mugkin menggunakan destilasi. Akhirnya setiap campuran yang memilki komposisi A dan C dapat dipisahkan dengan dengan destilasi fraksional, hanya menjadi residu murni A dan destilat akhir komposisi C yang tidak murni dapat dikembalikan. Di sisi lain, jika komposisi larutan antar B dan C didestilasi, misalnya b, uap yang datang b, akan lebih banyak di A daripada di larutan murni da karena itu, pada destilasi berulang, residu akan cenderung ke arah larutan murni B, sedangkan destilat akan cenderung ke arah C. Larutan tersebut pada destilasi kompleks akan menghasilkan larutan murni B di residu dan mendidih konstan pada campuran C dalam destilat. Dengan tidak ada A yang dapat dikembalikan dengan destilasi (Lando, 1994). Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-11 BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar II.2 Sistem pada Tipe II 3. Sistem Tipe III Aka dianalogiskan dengan solusi dari tipe II, dengan pengecualian bahwa residu cenderung ke arah campuran yang mendidih maksimum, sedangkan sulingan cenderung ke arah komponen yang murni. Jika campuran mulai memiliki komposisi antara A dan D, seperti a, uap yang diperoleh pada destilasi, a, akan lebih banyak di A daripada larutan itu sendiri. Oleh karena itu, komposisi residu akan bergeser ke arah D dan akhirnya akan mencapai itu. Di sisi lain, akhirnya akan menghasilkan destilat A yang murni. Campuran Campuran antara D dan B, seperti b, namun akan menghasilkan destilasi uap komposisi b yang akan lebih banyak terdapat di B daripada di larutan. Oleh karena itu, residu sekali lagi akan bergeser ke arah D, sementara pada redestilasi dari campuran sebagai b akhirnya akan menghasilkan residu komposisi D dan distilat murni B. Oleh karena itu, setiap sistem biner jenis ini dapat dipisahkan pada destilasi fraksional lengkap menjadi residu komposisi D, konstanta campuran mendidih maksimum, dan destilat baik murni A atau B murni tergantung pada apakah komposisi awal terdapat A dan D atau D dan B. Tetapi campuran komposisi D tidak dapat dipisahkan lebih lanjut dengan destilasi.
(Lando, 1994)

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-12 BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar II.3 Sistem pada Tipe III Macam-Macam Destilasi 1. Destilasi Sederhana Biasanya destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan zat cair yang titik didih nya rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat atau miniyak. Proses ini dilakukan dengan mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun hasilnya tidak benar-benar murni atau bias dikatakan tidak murni karena hanya bersifat memisahkan zat cair yang titik didih rendah atau zat cair dengan zat padat atau minyak. Destilasi sederhana adalah salah satu cara pemurnian zat cair yang tercemar oleh zat padat/zat cair lain dengan perbedaan titik didih cukup besar, sehingga zat pencemar/pengotor akan tertinggal sebagai residu. Destilasi ini digunakan untuk memisahkan campuran cair-cair, misalnya air-alkohol, air-aseton, dll. Alat yang digunakan dalam proses destilasi ini antara lain, labu destilasi, penangas, termometer, pendingin/kondensor leibig, konektor/klem, statif, adaptor, penampung, pembakar, kaki tiga dan kasa (Putri, 2012).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-13 BAB II Tinjauan Pustaka Seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar II.4 Perangkat Destilasi Sederhana Dalam destilasi sederhana seperti ini, untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masingmasing (Putri, 2012). 2. Destilasi Bertingkat atau Fraksionasi Destilasi bertingkat atau destilasi terfraksi yaitu proses yang komponenkomponennya secara bertingkat diuapkan dan diembunkan. Penyulingan Terfraksi berbeda dari distilasi biasa, karena ada kolom fraksinasi di mana ada proses refluks. Refluk proses penyulingan dilakukan untuk pemisahan campuran etanol-air dapat terjadi dengan baik. Fungsi kolom fraksinasi sehingga kontak antara cairan dengan uap sedikit lebih lama. Sehingga komponen yang lebih ringan dengan titik didih yang lebih rendah bendungan akan terus menguap ke kondensor. Lebih komponen Sedangkan distilat akan kembali menjadi labu. Destilasi ini biasanya digunakan untuk memisahkan campuran zat cair yang mempunyai perbedaan titik didih tidak berbeda banyak. Distilasi jenis ini dapat digunakan untuk memisahkan zat yang mempunyai rentang perbedaan titik didih hingga di bawah 30oC (Reza, 2013).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-14 BAB II Tinjauan Pustaka

Gambar II.5 Sistem Destilasi Bertingkat Destilasi ini juga dilaksanakan pada tekanan tetap. Pada percobaan yang dilakukan sampel yang digunakan adalah campuran air dan etanol. Campuran ini bersifat azeotrof karena kedua larutan tersebut mempunyai titik didih yang hampir sama sehingga akan sulit untuk dipisahkan antara zat yang satu dengan zat yang lainnya. hal ini dikarenakan pada saat penampungan distilat akan sulit diidentifikasi pergantian fraksinya karena titik didihnya berdekatan (hampir sama) akibatnya ditilat yang tertampung menjadi tidak murni. Belum lagi jika pada sample (campuran air dan etanol) tersebut terdapat pengotor yang mempunyai titik didih yang hamper sama dengan sample yang dapat mengakibatkan distilat menjadi tidak murni (Reza, 2013). Fungsi distilasi fraksionasi adalah memisahkan komponen-komponen cair, dua atau lebih, dari suatu larutan berdasarkan perbedaan titik didihnya. Distilasi ini juga dapat digunakan untuk campuran dengan perbedaan titik didih kurang dari 20 C dan bekerja pada tekanan atmosfer atau dengan tekanan rendah. Aplikasi dari distilasi jenis ini digunakan pada industri minyak mentah, untuk memisahkan komponen-komponen dalam minyak mentah (Rolandy, 2012). 3. Destilasi Azeotrop Distilasi Azeotrop digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop (campuran campuran dua atau lebih komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam prosesnya Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-15 BAB II Tinjauan Pustaka digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan azeotrop tersebut, atau dengan menggunakan tekanan tinggi. Azeotrop merupakan campuran 2 atau lebih komponen pada komposisi tertentu dimana komposisi tersebut tidak bisa berubah hanya melalui distilasi biasa. Ketika campuran azeotrop dididihkan, fasa uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya. Campuran azeotrop ini sering disebut juga constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut dididihkan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi berikut :

Grafik II.1 Grafik Azeotrop pada Sistem Destilasi Titik A pada pada kurva merupakan boiling point campuran pada kondisi sebelum mencapai azeotrop. Campuran kemudian dididihkan dan uapnya dipisahkan dari sistem kesetimbangan uap cair (titik B). Uap ini kemudian didinginkan dan terkondensasi (titik C). Kondensat kemudian dididihkan, didinginkan, dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. Pada titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran akan selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan sebagai pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid. Ditandai dengan garis vertikal putusputus Etanol dan air membentuk azeotrop pada komposisi 95,6% - massa etanol pada keadaan standar (Putri, 2012). 4. Destilasi Vakum atau Destilasi Tekanan Rendah Destilasi vakum merupakan proses pemisahan dua komponen yang titik didihnya sangat tinggi, metode yang digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih rendah dari 1 atm dengan tujuan untuk menghindari terjadinya reaksi oksidasi pada Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-16 BAB II Tinjauan Pustaka komponen yang akan dipisahkan agar ikata rangkap pada senyawa tidak putus.
(Mudhofar, 2012)

Gambar II.6 Perangkat Destilasi Vakum Proses distillasi dengan tekanan dibawah tekanan atmosfer, bertujuan untuk mengambil minyak midle distillate yang tidak terambil diproses CDU, dengan cara menarik (vacum) produk tersebut dari long residue, sebenarnya minyak midle distillate tersebut mungkin dapat dipisahkan dengan menaikkan suhu inlet kolom pada proses distillasi atmosfer. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa minyak bumi bila dipanaskan pada suhu 370 oC minyak bumi akan mengalami cracking, patahan yang terjadi dapat membentuk senyawa hidrokarbon tidak jenuh berupa olefin, dimana senyawa ini dalam produk minyak bumi tidak dikehendaki karena sifatnya yang tidak stabil. Untuk menyiasati supaya suhu tidak tinggi maka tekanan prosesnya yang dibuat rendah sehingga tujuan menguapkan minyak midle distillate dapat diuapkan pada temperatur kurang dari 370 oC atau sekitar 345 oC (Putri, 2012). 5. Destilasi Refluks atau Destilasi Destruksi Internal refluks destilasi adalah teknik berdasarkan pada jenis khusus kolom yang menggabungkan transfer massa dan transfer panas, penting untuk fraksionasi dari campuran uap yang dihasilkan oleh pendidihan campuran cairan multi komponen, dalam peralatan pada dasarnya terbuat dari sejumlah koil sirip vertikal, secara internal didinginkan oleh fluida dingin. Sehinggaa transfer panas dapat terjadi, permukaan khusus sekitar 500 m2/m3, digabungkan ke transfer massa yang sangat efisien, juga keuntungan dengan pembasahan seragam dari permukaan dari setiap titik. Teknologi ini Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-17 BAB II Tinjauan Pustaka menghasilkan efisiensi terutama pada destilasi batch dari senyawa dimana dibutuhkan kualitas baik dari distilat sebagaimana recovery pelarut dari campuran kompleks, dimana teknik lain yang tersedia lebih mahal untuk recovery (Anonim, 2012).

Gambar II.7 Perangkat Destilasi Refluks atau Destilasi Destruksi dalam Industri Campuran reaksi cair ditempatkan dalam sebuah wadah terbuka hanya di bagian atas. Kapal ini terhubung ke kondensor Liebig, seperti bahwa setiap uap yang dilepaskan kembali ke didinginkan cair, dan jatuh kembali ke dalam bejana reaksi. Kapal kemudian dipanaskan keras untuk kursus reaksi. Refluks sangat banyak digunakan dalam industri yang menggunakan kolom distilasi skala besar dan fractionators seperti kilang minyak, petrokimia dan pabrik kimia, dan pabrik pengolahan gas alam (Zulaiha, 2011). Fungsi refluks, adalah memperbesar L/V di enriching section, sehingga mengurangi jumlah equibrium stage yang diperlukan untuk product quality yang ditentukan, atau, dengan jumlah stage yang sama, akan menghasilkan product quality yang lebih baik dengan menggandakan kontak kembali antara cairan dan uap agar panas yang digunakan efisien. Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan dalam macam-macam destilasi walau pada prinsipnya agak berkelainan. Refluks dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan tetapi tidak akan mengurangi jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi- reaksi senyawa organik adalah lambat maka campuran reaksi perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan menyebabkan penguapan baik pereaksi maupun hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat cepat, dengan jalan pemanasan tetap jumlahnya tetap reaksinya dilakukan secara refluks.
(Putri, 2012)

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-18 BAB II Tinjauan Pustaka 6. Destilasi uap Untuk memurnikan zat/senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan (rearranagement), maka zat cair tersebut tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi bertingkat, melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap (Putri, 2012). Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air ke dalam campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap (Putri, 2012).

Gambar II.8 Perangkat Destilasi Uap Distilasi uap digunakan untuk memisahkan campuran senyawa-senyawa yang memiliki titik didih mencapai 200 C atau lebih. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu mendekati 100oC dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih (Saprudin, 2013). Prinsip dasar destilasi uap adalah mendestilasi campuran senyawa di bawah titik didih dari masing-masing senyawa campurannya. Selain itu destilasi uap dapat digunakan untuk campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didestilasi dengan air. Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan, dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut karena titik didih suatu campuran lebih rendah daripada titik didih komponen-komponennya. Aplikasi dari destilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-19 BAB II Tinjauan Pustaka minak eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan unutk ekstraksi minyak parfum dari tumbuhan (Saprudin, 2013). Minyak Atsiri Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, minyak esensial karena pada suhu kamar mudah menguap. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi. Untuk mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk (Gunawan & Mulyani, 2004). Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Minyak atsiri mempunyai rasa getir (pungent taste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya dan umumnya larut dalam pelarut organik tetapi tidak larut dalam air (Saraswati, 2012). Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rhizome. Berbagai macam tanaman yang dibudidayakan atau tumbuh dengan sendirinya di berbagai daerah di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi minyak atsiri, baik yang unggulan maupun potensial untuk dikembangkan. Khususnya di Indonesia telah dikenal sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, namun baru sebagian dari jenis tersebut telah digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersil (Saraswati, 2012). Bagi tanaman penghasil minyak, minyak atsiri berfungsi sebagai insect repellant (mengusir serangga/parasit lain) dan insect attractant (menarik). Dalam beberapa hipotesis dapat disimpulkan bahwa tumbuhan akan memproduksi minyak atsiri secara maksimal jika kondisi tumbuh dalam keadaan susah, misalnya akar tanaman sulit mendapat air, struktur tanah berkapur atau jarang nutrisi makanan, dan sebagainya. Kondisi semacam itu membuat tanaman berusaha untuk memproduksi minyak atsiri agar tetap toksik terhadap serangan serangga maupun parasit lain (Lansida, 2012). Minyak atsiri biasanya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan oksigen (O). Pada umumnya komponen kimia minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan yaitu:

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-20 BAB II Tinjauan Pustaka 1) Golongan hidrokarbon Persenyawaan yang termasuk golongan ini terbentuk dari unsur Karbon (C) dan Hidrogen (H). Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar terdiri dari monoterpen (2 unit isopren), sesquiterpen (3 unit isopren), diterpen (4 unit isopren) dan politerpen (Anonim, 2013). 2) Golongan hidrokarbon teroksigenasi Komponen kimia dari golongan persenyawaan ini terbentuk dari unsure Karbon (C), hidrogen (H) dan Oksigen (O). Persenyawaan yang termasuk dalam golongan ini adalah persenyawaan alcohol, aldehid, keton, ester, eter, dan fenol. Ikatan karbon yang terdapat dalam molekulnya dapat terdiri dari ikatan tunggal, ikatan rangkap dua, dan ikatan rangkap tiga. Terpen mengandung ikatan tunggal dan ikatan rangkap dua. Senyawa terpen memiliki aroma kurang wangi, sukar larut dalam alkohol encer dan jika disimpan dalam waktu lama akan membentuk resin. Golongan hidrokarbon teroksigenasi merupakan senyawa yang penting dalam minyak atsiri karena umumnya aroma yang lebih wangi. Fraksi terpen perlu dipisahkan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk pembuatan parfum, sehingga didapatkan minyak atsiri yang bebas terpen (Ketaren, 1985). Metode isolasi minyak atsiri dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: 1) Penyulingan (destilasi) Penyulingan adalah proses pemisahan komponen berdasarkan perbedaan titik didihnya. Prinsip dasar penyulingan adalah cairan dirubah menjadi uap pada titik didihnya, kemudian uap tersebut dikondensasikan lagi ke dalam bentuk cairan dengan proses pendinginan (Heldyanisa, 2012). Penyulingan dapat dilakukan dengan bebagai cara, yaitu : a. Penyulingan dengan air b. Penyulingan dengan air dan uap c. Penyulingan dengan uap
(Heldyanisa, 2012)

2)

Ekstraksi Prinsipnya adalah melarutkan minyak atsiri yang terdapat dalam simplisia dengan pelarut organik yang mudah menguap yang sesuai. Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang tidak tahan dengan pemanasan. Metode ini banyak digunakan karena rendahnya kadar minyak dalam tanaman, selain itu cara ini dianggap Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-21 BAB II Tinjauan Pustaka paling efektif karena sifat minyak atsiri yang larut sempurna di dalam bahan pelarut organik nonpolar (Heldyanisa, 2012). 3) Enflurage Prinsipnya adalah metode perlekatan bau dengan menggunakan media lilin dan memanfaatkan aktivitas enzim yang diyakini masih aktif selama sekitar 15 hari sejak bahan minyak atsiri dipanen. Metode ini digunakan karena ada beberapa jenis bunga yang setelah dipetik enzimnya masih menunjukkan kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai beberapa minggu, misalnya bunga melati. Diperlukan perlakuan khusus secara langsung agar tidak mengubah aktivitas enzim (Heldyanisa, 2012). Cengkeh Cengkeh memiliki nama ilmiah Eugenia Aromaticum atau Eugenia Caryophyllata adalah herba dengan aroma wangi yang sudah diperdagangkan sejak dulu kala dengan sebutan paling terkenal Clove yang mana tanaman ini sudah digunakan dan dimanfaatkan secara global sebagi bahan bumbu penyedap untuk berbagai produk makanan. Bunga cengkeh dengan Nama atau sebutan global adalah Clove berasal dari bahasa Latin, clavus, yang berarti kuku, ini mungkin bentuk dari bunga cengkeh yang kering memiliki kelopak seperti kuku. Menurut catatan atau dokumentasi Orang Cina kuno, herbal bunga cengkeh telah di manfaatkan sejak 207 SM (Caratik, 2013). Cengkeh mempunyai komponen eugenol dalam jumlah besar (70-80%) yang mempunyai sifat sebagai stimulan, anestetik lokal, karminatif, antiemetik, antiseptik dan antispasmodik. Pemisahan kandungan kimia dari serbuk bunga, tangkai bunga dan daun cengkeh menunjukan bahwa serbuk bunga dan daun cengkeh mengandung saponin, tannin, alkaloid, glikosida, dan flavonoid, sedangkan tangkai bunga cengkeh mengandung saponin, tannin, glikosida dan flavonoid. Selain itu kandungan lainnya yang ada pada cengkeh adalah senyawa asetil eugenol, beta-caryophyllene, vanilin, tanin, asam galotanat, metil salisilat (suatu zat penghilang rasa nyeri), asam krategolat, beragam senyawa flavonoid (eugenin, kaemferol, rhamnetin, dan eugenetin), berbagai senyawa triterpenoid (asam oleanolat, stigmasterol, dan kompesterol), serta mengandung berbagai senyawa seskuiterpen (Anonim, 2013). Pohon cengkeh bertajuk kerucut, dapat tumbuh setinggi 10 20 meter, cocok ditanam di dataran rendah sampai ke pegunungan pada ketinggian 900 meter dari permukaan laut (kota Bandung kira-kira 700 meter dari permukaan laut), dan dapat hidup puluhan tahun. Daunnya licin berkilap (glossy), berbentuk oval, warnanya pink dan kuning Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-22 BAB II Tinjauan Pustaka muda ketika baru tumbuh, dan berubah menjadi hijau segar. Sebaliknya, tangkai bunganya kehijauan, kemudian berubah menjadi merah muda ketika siap untuk dituai (dengan panjang sekitar 1.5-2cm). Tangkai bunga cengkeh adalah tuaian utama dari pohon cengkeh. Biasanya ia kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari atau dengan oven (untuk industri besar) hingga berwarna coklat kehitaman. Cengkeh beraroma kuat dan berasa pedas karena kandungan minyak atsiri (essential oil) yang tinggi. Kegunaannya antara lain sebagai bumbu masak, bahan rokok kretek, aromaterapi, obat sakit gigi, dsb. Namun bukan hanya tangkai bunganya saja yang dapat dimanfaatkan, seluruh bagian pohon mempunyai manfaat (Anonim, 2013). Bunga kering yang memiliki aroma harum ini digunakan sebagai obat, di zaman kuno sebelum teknologi modern medis kedokteran berkembang. Berdasarkan pengobatan tradisional cina, cengkeh memiliki arti penting untuk mengobati penyakit yang berhubungan dengan pernapasan, seperti batuk, masalah bau napas, mengobati luka gigitan serangga, serta banyak digunakan dalam berbagai macam aplikasi lain. Bunga Cengkeh Kering memiliki manfaat dan Khasiat yang sangat luas untuk kegunaan obat, dan banyak budaya di seluruh dunia yang meyakini ramuan Cengkeh ini sebagai obat mujarab untuk berbagai penyakit dan ragamnya. Manfaat yang nyata untuk penggunaan paling umum dari ramuan herbal ini terkait dengan antiseptik dan sifat analgesik (Caratik, 2013). Seperti di daratan topis Asia, bunga Cengkeh telah digunakan untuk memerangi penyakit malaria, kolera, TBC dan penyakit yang disebabkan parasit. Bahkan minyak cengkeh yang memiliki aroma harum telah di buat salep topikal, Minyak cengkeh juga memiliki manfaat yang besar untuk mengurangi kejang otot (keram), mengobati jerawat dan bisul. Tidak sebatas itu saja pemanfaatan dari bunga cengkeh, zat-zat yang dimiliki tumbuhan ini juga sangat efektif untuk di jadikan insektisida ampuh, sebagai pembasmi nyamuk dan serangga lainnya penyebab penyakit (Caratik, 2013).

Gambar II.9 Kuncup Bunga Cengkeh Kering Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-23 BAB II Tinjauan Pustaka Bahkan sampai sekarang Minyak cengkeh masih banyak digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk mencegah juga meringankan kerusakan gigi dan sakit gigi. Manfaat lain dari minyak bunga cengkeh juga di gunakan sebagai obat untuk mual, hernia, Perut kembung, diare, kaki Varises, dan infeksi jamur kulit. Beberapa virus infeksi dapat di lemahkan dengan baik oleh sifat antiseptik dan bakterisida dari minyak bunga cengkeh itu (Caratik, 2013). Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif. Banyak zat terkandung dalam minyak cengkeh yaitu antibiotik, antivirus, anti-jamur dan memiliki khasiatse bagaianti septik. Selainitu ditemukan pula sekitar 60-90 persen eugenol dalam minyak cengkeh. Kandungan lain yang tedapat di dalamnya adalah zatmangan, asam lemak omega 3, magnesium, serat, zatbesi, potassium dan jugakalsium. Vitamin yang diperlukan oleh tubuh juga ada di dalamnya terutama vitamin C dan vitamin K. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa minyak cengkeh dapat mengurangi peradangan dalam tubuh, meningkatkan system kekebalan tubuh secara alami, memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan metabolism serta membantu mengatasi stress dan depresi (Jaya, 2011). Meskipun awalnya hanya sebagai pengobatan tradisional, dan sudah banyak budaya bangsa yang merasakan manfaat dan kebaikan bunga cengkeh. Kini seiring

berkembangnya penelitian modern telah mengungkap bahwa komponen obat utama yang dimiliki cengkeh adalah berkaitan dengan senyawa fenol dan senyawa eugenol. Eugenol merupakan antiseptik yang cukup ampuh dan anestesi. Untuk itulah, minyak bunga cengkeh di nobatkan sebagai panglima antiseptik dan analgesik, minyak cengkeh memiliki manfaat yang terbaik untuk menghilangkan, meringankan sakit gigi (Caratik, 2013). Berikut akan dijelaskan beberapa manfaat cengkeh dalam bidang kesehatan, antar lain: 1) Mengatasi Infeksi Pernapasan Menurut profesor dari Mount Sinai School of Medicine di New York City; Neil Schachter, MD: Cengkeh bekerja sebagai ekspektoran. yaitu dapat mengencerkan lendir yang ada di kerongkongan dan tenggorokan. Teh yang mengandung cengkeh dapat membantu mengatasi infeksi saluran pernapasan (Cinta, 2013). 2) Mengobati Sakit Gigi Bagian cengkeh yang dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi adalah bunga cengkih. Cara pemanfaatannya adalah, sangrai 5 sampai 10 butir bunga cengkih lalu Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-24 BAB II Tinjauan Pustaka ditumbuk hingga halus. Bubuk cengkeh yang dihasilkan kemudian ditaburkan di bagian gigi yang sakit (Cinta, 2013). 3) Mengatasi Noda Jerawat Menurut Cornelia Zicu (staf Elizabeth Arden Red Door Spas), kandungan senyawa Euganol (dikenal sebagai antiseptik alami untuk menyeimbangkan kulit) yang dikandung cengkeh dapat dimanfaatkan untuk mencegah timbulnya jerawat dan menghilangkan noda bekas jerawat (Cinta, 2013). 4) Pembersih kuman Alternatif Senyawa Euganol atau antiseptik alami pada cengkeh bermanfaat untuk menjaga kebersihan barang-barang anda. Minyak cengkeh dapat mengurangi bakteri atau jamur yang ada pada perabotan rumah tangga dan mencegah kuman datang kembali. Caranya yaitu dengan mencampur 1/2 sendok minyak cengkeh dengan dua gelas air kemudian semprotkan ke tempat-tempat yang rentan terpapar bakteri atau kuman, misalnya dinding kamar mandi (Cinta, 2013). 5) Pewangi Alami Pakaian Aroma cengkeh yang pedas secara alami akan menutupi bau tak sedap, selain itu dapat menjaga kesegaran barang-barang anda. Salah satu contoh pemanfaatan nya adalah untuk pewangi dan penyegar pada pakaian anda. Caranya: simpanlah beberapa batang cengkeh ke dalam lemari pakaian Anda dan ganti setiap 2-4 minggu sekali, agar aroma segar tetap terjaga (Cinta, 2013). Bunga Cengkeh aman di konsumsi, ini karena selain memiliki manfaat obat, ia banyak di gunakan sebagai bumbu pada beberapa makanan. Bahkan dalam budaya bangsa Arab, cengkeh dibuat campuran minuman kopi, 2 biji cengkeh dan kulit kayu manis sangat baik untuk manfaat kesehatan. Untuk Mengobati dan meringankan sakit gigi satu kuncup bunga cengkeh kering ditumbuk dan disumbatkan pada bagian gigi yang berlobang, atau anda bisa menggunakan 1 tetes minyak cengkeh asli pada bola kapas dan di sumbatkan pada bagian gigi sakit atau yang berlubang. Untuk menghilangkan gangguan napas bau, minum teh yang di campur beberapa 2 sampai 3 putik bunga cengkeh dapat mengusir aroma tidak sedap dalam mulut (Caratik, 2013). Seperti dikutip dari AOLHealth, meskipun minyak cengkeh merupakan obat alami, tapi sebaiknya tetap memperhatikan cara penggunaannya. Karena belum banyak penelitian yang menunjukkan efektifitas dari minyak cengkeh ini pada manusia. Bagi orang yang memiliki sensitifitas tinggi (hipersensitif), sebaiknya berhati-hati dalam penggunaannya Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

II-25 BAB II Tinjauan Pustaka untuk menghindari reaksi alergi. Penggunaan minyak cengkeh secara berlebihan dapat menimbulkan efek samping. Pengobatan memiliki hasil yang berbeda-beda pada setiap individu, minyak cengkeh murni sangat terkonsentrasi dan dapat memiliki reaksi yang merugikan pada beberapa jenis kulit sensitif, jadi sebaiknya jika anda memiliki kulit yang sensitif untuk menggunakan minyak cengkeh lakukan pengenceran dengan air. Selain itu, bagi orang yang sedang mengonsumsi obat anti koagulan (pengencer darah) atau obat anti platelet sebaiknya mempertimbangkan kembali untuk menggunakannya dan

berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter. Hal ini disebabkan karena ada beberapa jenis obat yang dikenal dapat berinteraksi dengan Bio kimia Bunga Cengkeh (Jaya, 2011).

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


III.1 Variabel Percobaan 1. Variabel kontrol 2. Variabel terikat 3. Variabel bebas : Tekanan udara, suhu, dan waktu pada proses destilasi : Volume minyak cengkeh dan densitas minyak cengkeh : Biji cengkeh

III.2 Bahan Yang Digunakan 1. Biji cengkeh 350 gram 2. Air

III.3 Alat Yang Digunakan 1. Erlenmeyer 2. Handphone 3. Gelas Beker 4. Gelas Ukur 5. Labu Destilat 6. Manometer 7. Perangkat distilasi uap : 1) Boiler 2) Kondensor 3) Labu Destilat 4) Pipa 5) Kaki Tiga 6) Erlenmeyer 8. Piknometer 9. Pipet tetes 10. Termometer

III-1

III-2 BAB III Metodologi Percobaan III.4 Prosedur Percobaan III.4.1 Treatment Bahan Destilasi Uap (Cengkeh) 1. Menyiapkan cengkeh sebagai bahan destilasi uap sebanyak 500 gram. 2. Mengeringkan cengkeh selama 6 jam. 3. Menyimpan cengkeh di tempat yang kering. 4. Cengkeh siap digunakan untuk proses destilasi uap. III.4.2 Proses Destilasi Uap 1. 2. 3. 4. 6. 7. 8. Menyiapkan semua peralatan dan bahan. Memastikan perangkat destilasi uap terpasang dengan baik. Mengisi labu distilat dengan 350 gram cengkeh yang telah di keringkan. Mengisi boiler dengan air secukupnya, kemudian menyalakan kompor. Menutup valve yang ada pada boiler saat uap pada panci sudah mengepul. Menyalakan stopwatch sebagai awal mula perhitungan waktu destilasi uap. Mengukur suhu, tekanan, dan waktu yang ada pada labu destilat saat hasil destilasi pertama kkali menetes. 9. Mengamati volume hasil destilasi yang ada pada labu erlenmeyer, apabila sudah mulai penuh harus diganti dengan labu erlenmeyer yang lain. 10. Mengambil minyak cengkeh dengan cara menyedot hasil desilasi dengan pipet tetes. 11. Mencatat semua data yang diperlukan dalam analisa, seperti persen minyak cengkeh yang dihasilkan dalam proses destilasi. 12. Melakukan perhitungan massa jenis minyak cengkeh yang dihasilkan dalam proses destilasi. 13. Mendiamkan minyak hasil destilasi selama 2 hari. III.4.3 Menghitung Densitas Minyak Cengkeh 1. Menimbang piknometer yang akan diisi minyak cengkeh pada keadaan kosong terlebih dahulu. 2. Memasukkan minyak cengkeh pada piknometer berukuran 10 ml. 3. Menimbang berat piknometer yang berisi minyak cengkeh. 4. Menghitung berat (massa) minyak cengkeh dengan mencari selisih antara berat piknometer yang telah terisi minyak dengan berat piknometer yang kosong. 5. Setelah diketahui massanya, densitas dapat dihitung dengan menggunakan cara berikut ini :

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-3 BAB III Metodologi Percobaan

=
Keterangan: m v = massa jenis atau densitas (gr/ml) = massa (gram) = volume (ml)

m v

III.5 Diagram Alir Percobaan III.5.1 Diagram Alir Treatment Bahan Destilasi Uap (Cengkeh) Mulai

Menyiapkan cengkeh sebagai bahan destilasi uap sebanyak 500 gram.

Mengeringkan cengkeh selama 6 jam.

Menyimpan cengkeh di tempat yang kering.

Cengkeh siap digunakan untuk proses destilasi uap.

Selesai

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-4 BAB III Metodologi Percobaan III.5.2 Diagram Alir Percobaan Destilasi Uap Mulai

Menyiapkan semua peralatan dan bahan

Memastikan perangkat destilasi uap terpasang dengan baik

Mengisi labu distilat dengan 350 gram cengkeh yang telah di keringkan

Mengisi boiler dengan air secukupnya, kemudian menyalakan kompor

Menutup valve yang ada pada boiler saat uap pada panci sudah mengepul

Menyalakan stopwatch sebagai awal mula perhitungan waktu destilasi uap

Mengukur suhu, tekanan, dan waktu yang ada pada labu destilat saat hasil destilasi pertama kali menetes

Mengamati volume hasil destilasi yang ada pada labu erlenmeyer, apabila sudah mulai penuh harus diganti dengan labu erlenmeyer yang lain

Mengambil minyak cengkeh dengan cara menyedot hasil desilasi dengan pipet tetes

Mencatat semua data yang diperlukan dalam analisa, seperti persen minyak yang dihasilkan dalam proses destilasi Melakukan perhitungan massa jenis minyak cengkeh yang dihasilkan dalam proses destilasi Mendiamkan minyak hasil destilasi selama 2 hari. I I I 3 Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

Selesai

III-5 BAB III Metodologi Percobaan III.5.3 Diagram Alir Perhitungan Massa Jenis atau Densitas Mulai

Menimbang piknometer yang akan diisi minyak cengkeh pada keadaan kosong terlebih dahulu Memasukkan minyak cengkeh pada piknometer berukuran 10 ml.

Menimbang berat piknometer yang berisi minyak cengkeh cengkeh Menghitung berat (massa) minyak cengkeh dengan mencari selisih antara berat piknometer yang telah terisi minyak dengan berat piknometer yang kosong

Setelah diketahui massanya, densitas dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang telah ditetapkan

Selesai

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

III-6 BAB III Metodologi Percobaan III.6 Gambar Alat

Erlenmeyer

Handphone

Gelas Beker

Gelas Ukur

Labu Destilat

Manometer

Piknometer 1 3

Pipet Tetes 2 4

Termometer Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Boiler Kondensor Labu destilat Pipa Kaki Tiga Erlenmeyer

Perangkat Destilasi Uap

Laboratorium Kimia Fisika Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Hasil Pengamatan Dari percobaan Destilasi uap minyak kemiri didapatkan hasil percobaan adalah sebagai berikut : Tabel IV.1.1 Hasil Proses Destilasi Uap Minyak Cengkeh Gelas Beker 500 mL Pertama Kedua Waktu 75 menit 125 menit Tekanan Uap (mBar) 44 55 Suhu (oC) 96 98 Hasil Minyak (mL) 2 3,8 Densitas Minyak (gr/mL) 0,75 0,92

Tabel IV.1.2 Hasil Destilasi Uap Minyak Cengkeh Setelah Didiamkan Selama 2 Hari Gelas Beker 500 mL Pertama Waktu 2 hari Tekanan Uap (mBar) Suhu (oC) Hasil Minyak (mL) 12,8 Densitas Minyak (gr/mL) 0,94

IV.2 Pembahasan Tujuan dari percobaan destilasi uap minyak cengkeh adalah mempelajari dan mengetahui pengaruh uap pada titik didih dalam percobaan destilasi uap dengan bahan serbuk cengkeh. Serta menghitung dan mengetahui densitas minyak kemiri sebagai hasil dari destilasi uap serbuk kemiri. Pada percobaan destilasi uap minyak cengkeh ini hasil yang didapatkan mula-mula berupa minyak cengkeh yang bercampur dengan air dengan volume 2 ml pada saat 75 menit dan 3,8 ml pada saat 125 menit. Namun, minyak yang keluar pada proses distilasi uap ini tidak maksimal. Hasil yang tertampung dalam labu erlenmeyer sangar encer dan bening karena perbandingan minyak cengkeh sangat kecil dibandingkan air sehingga menyebabkan minyak susah diamati dan diambil. Hal ini disebabkan oleh alat destilasi di laboratorium sendiri yang fungsinya sudah menurun, proses destilasi pun tidak sempurna. Ada kebocoran pada perangkat destilasi uap ini, uap pada proses destilasi menetes pada kaki tiga. Saat kami menampung hasil tetesan ini, ternyata berupa air yang dengan kadar minyak yang lebih tinggi daripada hasil destilasi pada labu erlemenyer. Karena hasil destilasi yang diperoleh masih bercampur dengan IV-1

IV-2 Bab IV Hasil dan Pembahasan air, maka destilat didiamkan selama 2 hari. Kemudian kami melihat hasil destilasi yang sudah didiamkan, ternyata metode ini sangat membantu karena minyak cengkeh yang dihasilkan mengendap di bawah air dan dengan jumlah yang lebih banyak dari proses destilasi sebelumnya. Penyebab lain terjadinya kegagalan pada proses destilasi uap ini adalah cengkeh sebagai bahan utama proses destilasi uap ini merupakan golongan dari minyak nabati dimana minyak nabati tidak dengan mudah bisa dikeluarkan minyaknya menggunakan proses destilasi uap biasa, suhu yang diperlukan untuk minyak cengkeh yang seharusnya adalah 2730C sedangkan temperatur pada alat destilasi pada percobaan ini hanya mencapai 1000C (Aini, 2012). Sebenarnya, pada prinsipnya pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran. Tekanan uap campuran diukur sebagai kecenderungan molekul dalam permukaan cairan untuk berubah menjadi uap. Jika suhu dinaikkan, tekanan uap cairan akan naik sampai tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer. Pada keadaan itu cairan akan mendidih. Suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap atmosfer disebut titik didih. Cairan yang mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu kamar akan mempnyai titik didih lebih rendah daripada cairan yang tekanan uapnya rendah pada suhu kamar. Apabila tekanan dalam vakum tidak cukup kuat, maka senyawa yang akan didestilasi tidak akan terangkat naik bersama uap air. Tekanan yang ada dalam vakum hanya mampu untuk mengangkat air menuju tabung pendingin dan meninggal zat atau senyawa yang akan didestilasi (Fadhil,2008). Pada percobaan destilasi uap minyak cengkeh ini didapatkan nilai densitas dari minyak cengkeh sebesar 0,75 gr/ml pada saat 75 menit, 0,92 gr/ml saat 125 menit, dan 0,94 gr/ml setelah minyak cengkeh didiamkan selama 2 hari. Dari hasil yang diperoleh ini memiliki kecocokan dengan literatur yang ada dimana nilai densitas dari minyak kemiri seharusnya berada pada kisaran angka 0,9994 gr/ml (Aini, 2012).

Laboratorium Kimia Fisika Program StudiD3 Teknik Kimia FTI-ITS

BAB V KESIMPULAN
Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa: 1. Destilasi uap dengan biji cengkeh pada tekanan 44mBar, pada temperatur 96oC dan dengan variabel waktu selama 75 menit menghasilkan minyak cengkeh sebanyak 2ml, dan pada tekanan 55mBar, temperatur 98 oC dan dengan variabel waktu selama 125 menit menghasilkan minyak cengkeh sebanyak 3,8 ml. 2. Pada percobaan destilasi uap minyak cengkeh didapatkan densitas dari minyak cengkeh yaitu 0,75 gr/ml pada waktu 75 menit dan 0,92 gr/ml pada waktu 125 menit. 3. Destilasi uap dengan biji cengkeh tidak dapat menghasilkan minyak secara maksimal dikarenakan terhalang oleh kendala teknis serta titik didih yang dimiliki oleh cengkeh sangatlah tinggi yakni 273 0C sedangkan untuk alat destilasinya sendiri hanya mencapai 1000C sehingga minyak yang dihasilkan sedikit serta bercampur dengan air dan uap minyak yang berada dalam labu destilat tidak dapat terangkat menuju kondensor. Akhirnya kami mendiamkan hasil destilasi selama 2 hari dan diperoleh minyak cengkeh sebanyak 12,8 ml dengan densitas minyak cengkeh sebesar 0,94 gr/ml. 4. Percobaan destilasi uap minyak cengkeh ini berhasil namun minyak masih bercampur dengan air diakibatkan beberapa faktor diantaranya bahan utama yaitu cengkeh tidak dapat diproses menggunakan destilasi uap sederhana, alat destilas uap yang ada kurang memadai, temperatur yang seharusnya dicapai tidak dapat tercapai, serta pengaruh tekanan vakum dalam labu destilat yang tidak dapat menguapkan minyak kemiri.

V-1

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, R. (2011, desember -). kimia analitik. Dipetik oktober 03, 2013, dari majalah kimia: http://majalahkimia.blogspot.com/2011/12/elektroforesis.html Caratik. (2013, Februari 23). Manfaat cengkeh. Dipetik November 23, 2013, dari caratik.us: http://caratik.us/166/manfaat-cengkeh-dan-khasiat-obat-yang-dimiliki.html Chintya, J. (2013, Mei 5). Absorpsi-Praktikum Operasi Teknik Kimia. Dipetik November 20, 2013, dari scribd.com: http://www.scribd.com/doc/139728104/Absorpsi-PraktikumOperasi-TeknikDaniels, F. (1949). Ezperimental Physical Chemistry. Tokyo: McGraw Hill Kogakusha. Dwityatama, R. D. (2012, November 22). Pemurnian. Dipetik November 20, 2013, dari scribd.com: http://www.scribd.com/doc/114128102/pemurnian Kurniati, N. (2011, februari -). blog archive. Dipetik oktober 03, 2013, dari al chemist: http://alchemistviolet.blogspot.com/2011/02/ekstraksi.html Lianti, L. (2013, September 12). kromatografi. Dipetik November 20, 2013, dari scribd.com: http://www.scribd.com/doc/168184509/Gas-Liquid-Chromatography Mudhofar, A. (2012, Juli 23). Destilai Vakum. Dipetik november 23, 2013, dari eprints.undip.ac.id: http://eprints.undip.ac.id/37132/1/AGUS_MUDHOFAR.pdf Murod, A. M. (2012, Desember 10). Destilasi. Dipetik November 20, 2013, dari .scribd.com: http://www.scribd.com/doc/116682265/destilasi Muthi'ah, F. (2013, Oktober 5). Elektrolisis. Dipetik November 20, 2013, dari scribd.com: Oktavia, M. D. (2013, April 12). Adsorpsi. Dipetik November 20, 2013, dari .scribd.com: http://www.scribd.com/doc/138320527/adsorpsi Putri. (2012, September 20). Destilasi azeotrop. Dipetik November 23, 2013, dari theprincess9208.wordpress.com: http://theprincess9208.wordpress.com/2012/11/20/destilasi-azeotrop/ Satria, R. (2013, April 18). Absorpsi. Dipetik November 20, 2013, dari scribd.com: http://www.scribd.com/doc/136642431/Absorpsi Singgih, A. (2012, November 29). kromatografi. Dipetik November 20, 2013, dari scribd.com/: http://www.scribd.com/doc/114864717/kromatografi

vi

DAFTAR NOTASI

NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

NOTASI V m P PoA PoB T WA WB X nA nB

KETERANGAN Volume Massa Tekanan Uap Total Tekanan Uap Air Tekanan Uap Sampel Suhu Konstan Massa Jenis Berat Molekul Air Berat Molekul Minyak Fraksi mol dalam Larutan Jumlah mol Senyawa A Jumlah mol Senyawa B dalam Fase Uap

SATUAN mL gram mmHg mmHg mmHg K g/mL g/mol g/mol mol mol mol

vii

APENDIKS
a. Densitas minyak cengkeh pada saat 75 menit: Massa piknometer kosong Massa piknometer berisi minyak Volume minyak = 11,5 gram = 13 gram = 2 ml = massa piknometer berisi minyak massa piknometer kosong = 13 11,5 gram = 1,5 gram
Massa minyak Volume minyak 1,5 gram 2 ml

Massa minyak

Massa jenis minyak

= =

= 0,75 gr/ml

b. Densitas minyak cengkeh pada saat 125 menit: Massa piknometer kosong Massa piknometer berisi minyak Volume minyak = 11,5 = 15 gram = 3,8 ml = massa piknometer berisi minyak massa piknometer kosong = 15 11,5 gram = 3,5 gram
Massa minyak Volume minyak 3,5 gram 3,8 ml

Massa minyak

Massa jenis minyak

= 0,92 gr/ml

viii

c. Densitas minyak cengkeh setelah didiamkan selama 2 hari: Massa piknometer kosong Massa piknometer berisi minyak Volume minyak = 11,5 gram = 12 gram = 12,8 ml = massa piknometer berisi minyak massa piknometer kosong = 23,5 11,5 gram = 12 gram
Massa minyak Volume minyak 12 gram 12,8 ml

Massa minyak

Massa jenis minyak

= 0,94 gr/ml

viii