Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS CRF E.C.

NEFROLITIASIS KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CILEGON FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

Topik Penyusun

: CRF e.c. Nefrolitiasis : Bambang Hady Prabowo

Latar Belakang
Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic non-communicable diseases) terutama penyakit kardiovaskuler, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal kronik, sudah menggantikan penyakit menular (communicable diseases) sebagai masalah kesehatan masyarakat utama. Gangguan fungsi ginjal dapat menggambarkan kondisi sistem vaskuler sehingga dapat membantu upaya pencegahan penyakit lebih dini sebelum pasien mengalami komplikasi yang lebih parah seperti stroke, penyakit jantung koroner,gagal ginjal, dan penyakit pembuluh darah perifer. Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan fungsi ginjal yang memerlukan terapi pengganti yang membutuhkan biaya yang mahal. Penyakit ginjal kronik biasanya desertai berbagai komplikasi seperti penyakit kardiovaskuler, penyakit saluran napas, penyakit saluran cerna, kelainan di tulang dan otot serta anemia. Selama ini, pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan diagnosis dan pengobatan terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan penyebab penyakit ginjal kronik serta dialisis atau transplantasi ginjal jika sudah terjadi gagal ginjal. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa komplikasi penyakit ginjal kronik, tidak bergantung pada etiologi, dapat dicegah atau dihambat jika dilakukan penanganan secara dini. Oleh karena itu, upaya yang harus dilaksanakan adalah diagnosis dini dan pencegahan yang efektif terhadap penyakit ginjal kronik, dan hal ini dimungkinkan karena berbagai faktor risiko untuk penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan.

I. Identitas Pasien
- Nama - Usia - Pekerjaan - Agama - Alamat - No. CM : Tn. R : 40 tahun : Wiraswasta : Islam : Cilegon : -- -- --

- Tanggal Berobat : 2 Mei 2010 - Ruangan - Pembayaran : Nusa Indah RSUD Cilegon : Jamkesmas

II. Anamnesa
Dilakukan secara auto-anamnesa pada tanggal 2 Mei 2010 pukul 22.30 WIB di UGD RSUD Cilegon dan tanggal 4 dan 5 Mei 2010 WIB di Ruangan Nusa Indah RSUD Cilegon. o Keluhan Utama : Sesak Nafas terus menerus sejak 1 hari SMRS o Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke UGD RSUD Cilegon dengan keluhan sesak nafas sejak 1 hari SMRS. Sesak nafas dirasakan terus menerus sepanjang hari, dan pasien merasa sesak nafasnya berkurang jika pasien duduk daripada berbaring. Pasien juga mengkonsumsi obat anti sesak yang pernah diresepkan oleh dokter 3 hari yang lalu (pasien tidak tahu merk dagang obat), dan pasien merasakan sesaknya berkurang sementara setelah pasien meminum obatnya. Pasien juga merasakan nyeri dada yang terus menerus sejak sesak nafas timbul, nyeri dada dirasakan makin memberat bila pasien beraktivitas (berjalan ke kamar mandi). Pasien juga mengeluhkan nyeri di daerah pinggang sebelah kanan, hilang timbul dan menjalar sampai ke kaki kanan. Pasien juga mengalami cegukan yang terus menerus selama 3 hari belakangan ini, sehingga membuat pasien sulit untuk beristirahat.

Pasien juga mengeluhkan BAK berdarah sejak 1 tahun belakangan, mulai dari yang berwarna merah jernih sampai merah pekat, dan makin memberat selama sebulan SMSR. Pasien juga mengeluhkan batuk, pusing, dan mudah lelah setelah gejala sesak muncul. Batuk dialami berulang-ulang oleh pasien, dahak disangkal, nyeri telan disangkal. Pusing dirasakan pasien dengan kepala terasa berat, dan tidak berputar. Keluhan pilek, demam, bersin-bersin sebelum sesak nafas muncul disangkal oleh pasien. Pasien mengakui mempunyai kebiasaan merokok semenjak SMA. o Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami kencing darah 1 tahun yang lalu, pasien mengaku memiliki riwayat penyakit darah tinggi sejak 8 tahun yang lalu. Pasien hanya kontrol ke dokter dan minum obat apabila pasien merasakan gejala penyakit darah tingginya muncul. Jika obat yang diberikan sudah habis dan pasien merasa kondisinya lebih baik, pasien tidak melanjutkan pengobatannya. Riwayat pengobatan paru-paru, asma, gastritis, dan kencing manis disangkal oleh pasien. o Riwayat Penyakit Keluarga: Ayah pasien memiliki riwayat penyakit darah tinggi.

o Anamnesis Sistem: Tanda checklist () menandakan keluhan pada sistem tersebut. Tanda strip (-) menandakan keluhan di sistem tersebut disangkal oleh pasien.

Kulit (-) (-) Bisul Kuku (-) (-) Rambut Ikterus (-) (-) (-) Keringat malam Sianosis Lain-lain

Kepala (-) (-) Trauma Sinkop (-) (-) Nyeri kepala Nyeri sinus

Mata (-) (-) (-) Nyeri Radang Sklera Ikterus (-) (-) (-) Sekret Gangguan penglihatan Penurunan ketajaman penglihatan

() Konjungtiva anemis

Telinga (-) (-) Nyeri Sekret (-) (-) (-) Tinitus Gangguan pendengaran Kehilangan pendengaran

Hidung (-) (-) (-) (-) Trauma Nyeri Sekret Epistaksis (-) (-) (-) Gejala penyumbatan Gangguan penciuman Pilek

Mulut (-) (-) (-) Bibir Gusi Selaput (-) (-) (-) Lidah Gangguan pengecapan Stomatitis

Tenggorokan (-) Nyeri tenggorok (-) Perubahan suara

Leher (-) Benjolan/ massa (-) Nyeri leher

Jantung/ Paru () Nyeri dada () Berdebar-debar () Ortopnoe () (-) (-) Sesak nafas Batuk darah Batuk

Abdomen (Lambung / Usus) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Rasa kembung Mual Muntah Muntah darah Sukar menelan Nyeri perut () (-) (-) (-) (-) (-) (-) Perut membesar Wasir Mencret Melena Tinja berwarna dempul Tinja berwarna ter Benjolan

Saluran Kemih / Alat Kelamin (-) (-) (-) (-) Disuria Stranguri Poliuria Polakisuria (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Kencing nanah Kolik Oliguria Anuria Retensi urin Kencing menetes Prostat
5

() Hematuria (?) (-) Batu ginjal Ngompol

Katamenis (tidak ditanyakan) () () Leukore Lain-lain () () Perdarahan

Haid (tidak ditanyakan) () () () Hari terakhir Teratur /tidak Gangguan menstruasi () () () Jumlah dan lamanya Nyeri Paska menopause () () Menarche Gejala Klimakterium

Otot dan Syaraf (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Anestesi Parestesi Otot lemah Kejang Afasia Amnesis Lain-lain (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Sukar menggigit Ataksia Hipo/hiper-estesi Pingsan / syncope Kedutan (tick) Pusing (Vertigo) Gangguan bicara (disartri)

Ekstremitas (-) (-) Bengkak Nyeri sendi (-) (-) Deformitas Sianosis

III. Pemeriksaan Fisik


Dilakukan pada tanggal 4 dan 5 Mei 2010, pukul 09.30 WIB. o VITAL SIGNS: - Kesadaran - Keadaan Umum - Tekanan Darah - Nadi - Respirasi - Suhu - TB/BB o STATUS GENERALIS: - Kulit : Berwarna coklat, tidak terdapat kelainan warna kulit, tidak terlihat ikterik, suhu afebris, dan turgor kulit baik. - Kepala - Rambut - Alis - Mata : Bentuk oval, simetris, ekspresi wajah terlihat lelah. : Tidak dilakukan pemeriksaan. : Hitam, tumbuh lebat, tidak mudah dicabut. : Tidak exopthalmus, tidak enopthalmus, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, lensa jernih, pupil bulat dan isokor, pergerakan bola mata baik kesegala arah. - Hidung : Tidak terdapat nafas cuping hidung, tidak deviasi septum, tidak ada sekret, dan tidak hiperemis. - Telinga - Mulut : Tidak dilakukan pemeriksaan. : Bibir tidak sianosis, gigi geligi tidak lengkap, gusi tidak hipertropi, lidah tidak kotor, mukosa mulut basah, tonsil T1-T1 tidak hiperemis. - Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening pada submentalis, subklavikula, pre-aurikula, post-aurikula, oksipital, sternokleidomastoideus, dan supraklavikula. Tidak terdapat pembesaran tiroid, trakea berada ditengah (tidak deviasi), dan Jugular Venous Pressure bernilai 5 + 2 cm H2O. : Compos mentis : Sakit Sedang : 210/110 mmHg : 112 kali/menit (regular, equal, dan isi cukup) : 28 kali/menit (tipe abdominotorakal), cepat dan dalam : 36,70C : 165/55 (kesan gizi cukup)

- Thoraks

: Normal, Simetris kiri dan kanan. : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri pada saat statis dan dinamis, tidak terdapat retraksi diafragma. Palpasi Perkusi : Fremitus taktil dan vokal simetris kanan dan kiri : Sonor seluruh lapang paru, dan terdapat peranjakan paruhati Auskultasi : Vesikuler kanan dan kiri, terdapat rhonki +/+, tidak terdapat wheezing

Paru-paru : Inspeksi

Jantung

: Inspeksi Palpasi

: Iktus kordis terlihat : Iktus kordis teraba di 2cm lateral ICS V linea midklavikula sinistra, kuat angkat, dan tidak terdapat thrill

Perkusi

: Batas jantung kanan pada ICS V linea sternalis dextra, batas jantung kiri pada 2cm lateral ICS V linea midklavikula sinistra, batas pinggang jantung pada ICS III linea parasternalis sinistra, proyeksi besar jantung membesar.

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal, tidak terdapat murmur dan bunyi derap. - Abdomen : Inspeksi : Tampak simetris, agak membuncit, tidak terdapat kelainan kulit seperti sikatrik, dan tidak ada pelebaran pembuluh darah vena. Auskultasi : Bising usus normal, bising aorta abdominalis terdengar. Palpasi : Supel, turgor baik, tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas, tidak teraba hepatosplenomegali, terdapat nyeri ketuk. Perkusi : Suara timpani di semua lapang abdomen, tidak terdapat nyeri ketuk. - Genitalia : tidak ditemukan adanya tumor, luka parut, sekret yang keluar, dan nyeri pada saat perabaan. - Ekstrimitas: Akral hangat, cappilary refill kurang dari 2 detik, kekuatan otot tidak terdapat udem di ke-empat ekstrimitas. - Refleks fisiologis - Refleks patologis 5 5 5 5

: Refleks Biseps, triseps, patella, dan achiles dalam batas Normal. : Tidak ditemukan refleks patologis seperti Babinski, Chaddock, Schafer, Oppenheim dan Gordon
8

IV. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium Hb Leuko Ht Trombo LED GDS SGOT : 6,3* : 8780 : 18,8* : 166.000 : 110* : 167 : 23 SGPT Ureum : 17 : 302*

Kreatinin : 9,7* Asam Urat : 15,1* Natrium Kalium Klorida : 137,9 : 5,66 : 101,5

Elektrokardiografi Radiografi Thoraks BNO polos

: Sinus takikardi, HR 118x/menit

: Udema Paru, Kardiomegali (CTR 75%) : Kesan nefrolitiasis

Ultrasonografi Abdomen Ginjal Kanan : Ukuran membesar, tampak sistem pelvikalis melebar sehingga kortex menipis, panjang 11,48cm, tebal korteks 0,88cm, tampak batu di pelvis renal ukuran 2,43cm, dan batu di pole bawah multiple ukuran 0,61cm sampai 1,05cm, tak tampak adanya massa. Ginjal Kiri : Ukuran sangat membesar, tampak sistem pelvikalis melebar

sehingga korteks sangat menipis, ukuran 0,64cm, tak tampak adanya batu maupun massa. Kesan : Hidronefrosis bilateral, Nefrocalcitosis dextra, Cystitis.

V. Diagnosis
1. Diagnosis Kerja : Chronic Renal Failure grade V Hipertensi Hiperurisemia Anemia

2. Dasar Diagnosis: Anamnesis : Didapatkana adanya tanda penting Gagal Ginjal Kronik seperti cegukan (hiccup), anemis, dan hipertensi. Nyeri daerah pinggang kanan yang menjalar ke kaki kanan, BAK berdarah, riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu. Pemeriksaan Fisik : Nyeri ketuk daerah pinggang, perut yang membuncit, anemis. Pemeriksaan Penunjang : Ditemukan Hematuria, Hb dan Ht menurun. LED, Ureum, Kreatinin, Asam urat menigkat

VI. Diagnosis Banding


Gagal Ginjal Akut tipe Renal Sindroma Nefrotik Glomerulonefritis

VII. Pemeriksaan yang dianjurkan


Renogram

VIII. Terapi yang diberikan


Non farmakologis Tirah Baring dan pembatasan aktivitas Restriksi protein 0,6 0,8 g/kgBB/hari Restriksi kalori 30-35 Kal/kg/hari Restriksi cairan 1000-urine output Batasi konsumsi makanan pencetus batu calcium (ikan teri, bayam, coklat, kacang, stroberi)

10

Farmakologis O2 4 liter KAEN 1B 500 cc / 24 jam Cefotaxim 2 x 1 gram Detal tab. 3 x 1 Bicnat tab. 3 x 1 Prorenal tab. 3 x 1 Hematro tab. 3 x 1 Nifedipin tab. 3 x 10 mg Lansoprazole tab. 1-0-1 Transfusi 2 kolf Hemodialisa

IX. Prognosis Gagal Ginjal Kronik


- Quo ad vitam : dubia - Quo ad functionam : ad malam

X. Saran pengobatan
Hiperurisemia Anemia Hipertensi : Alopurinol : Eritropoietin 2-50 unit/kgBB, 3x/minggu, IV/SC. : ACE Inhibitor atau Calcium Channel Bloker

11

I. Definisi Gagal Ginjal Kronik


Penyakit ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal, diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60ml/menit/1,73m2.

II. Faktor Penyebab Gagal Ginjal Kronik


Faktor penyebab Gagal Ginjal Kronik adalah: - Diabetes tipe 1 dan 2 - Penyakit glomerular. (penyakit autoimun, infeksi sistemik, obat, neoplasia) - Penyakit vaskular. (penyakit pembuluh darah besar, hipertensi, mikroangiopati) - Penyakit tubulointerstitial. (pielonefritis kronik, batu, obstruksi, keracunan obat) - Penyakit kistik. (ginjal polikistik) - Rejeksi kronik, penyakit reccurent, transplant glomerulophaty.

III. Kriteria Diagnostik Gagal Ginjal Kronik


Pada tahun 2002, National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQI) telah menyusun pedoman praktis penatalaksanaan klinik tentang evaluasi, klasifikasi, dan stratifikasi penyakit ginjal kronik.

Batasan penyakit ginjal kronik 1. kerusakan ginjal > 3 bulan, yaitu kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus berdasarkan: - kelainan patalogik - petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria atau kelainan pada pemeriksaan pencitraan 2. laju filtrasi glomerulus < 60 ml/menit/1,73m2 selama > 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal

12

Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik, klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus, yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah. Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium. - Stadium 1 - Stadium 2 - Stadium 3 - Stadium 4 - Stadium 5 kerusakan ginjal dengan fungsi ginjal yang masih normal, kerusakan ginjal dengan penurunan fungsi ginjal yang ringan, kerusakan ginjal dengan penurunan sedang fungsi ginjal, kerusakan ginjal dengan penurunan berat fungsi ginjal, dan gagal ginjal

Laju filtrasi glomerulus dan stadium penyakit ginjal kronik - Stadium - Stadium 1 - Stadium 2 - Stadium 3 - Stadium 4 - Stadium 5 Fungsi ginjal Normal/meningkat Penurunan ringan Penurunan sedang Penurunan berat Gagal ginjal Laju filtrasi glomerulus (ml/menit/1,73m2 ) > 90 60-89 30-59 15-29 < 15

Klasifikasi penyakit ginjal kronik didasarkan atas dua hal yaitu : atas dasar derajat (stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologi. Klasifikasi atas dasar derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG yang dihitung dengan mempergunakan rumus Kockcroft-Gault sebagai berikut:

LFG (ml/mnt/1,73m2)

(140-umur) x berat badan 72 x kreatinin plasma (mg/dl)

*Pada perempuan dikalikan 0,85.

13

IV. GAMBARAN KLINIS


Gambaran klinis pasien penyakit ginjal kronik, meliputi : Pada permulaannya, gagal ginjal bisa tanpa gejala (asimptomatis). Ketika fungsi ginjal menurun, gejala yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit, pembersihan produk sampah dari tubuh, dan memicu produksi sel darah merah. Letargi, kelemahan, nafas pendek dan pembengkakan seluruh tubuh bisa terjadi. Situasi yang mengancam jiwa yang tidak dikenali dan tak terobati bisa terjadi. Asidosis metabolik, atau peningkatan keasaman tubuh karena ketidakmampuan membuat bicarbonat, akan mengubah enzim dan metabolisme oksigen, menyebabkan gagal organ. Ketidakmampuan mengekskresikan potasium dan meningkatkan kadar potasium dalam serum (hiperkalemi) berhubungan dengan gangguan irama jantung (aritmia) yang fatal. Peningkatan kadar urea di dalam darah (uremia) dapat mempengaruhi fungsi berbagai organ dari otak (encephalopathy) dengan perubahan kemampuan berpikir, sampai peradangan selaput jantung (pericarditis), menurunkan fungsi otot karena kadar kalsium yang rendah (hipokalsemia). Kelemahan umum dapat disebabkan oleh anemia, penurunan jumlah sel darah merah, karena kadar erythropoietin yang rendah tidak cukup adekuat untuk menstimulasi sumsum tulang. Penurunan sel darah merah setara dengan penurunan kapasitas oksigen yang diangkut oleh darah, menyebabkan penurunan pengiriman oksigen ke sel, sehingga tubuh lelah dengan cepat. Begitu juga, dengan kurangnya oksigen, sel lebih siap menggunakan metabolisme anaerobik (tanpa oksigen) menyebabkan peningkatan jumlah produksi asam yang tidak dapat dihadapi oleh ginjal yang sudah gagal. Ketika produk sampah tertimbun di dalam darah, kehilangan nafsu makan, letargi, dan fatig muncul. Ini akan berlanjut terus sampai pada titik dimana fungsi mental akan menurun dan koma bisa terjadi. Karena ginjal tidak dapat menghadapi peningkatan beban asam dalam tubuh, nafas menjadi lebih cepat ketika paru-paru berusaha untuk menahan keasaman dengan membuang karbondioksida. Tekanan darah bisa meningkat karena cairan
14

yang berlebihan, dan cairan ini bisa tertimbun di paru-paru, menyebabkan gagal jantung kongestif.

V. DIAGNOSA
Gambaran Laboratoris Diagnosis gagal ginjal ditegakkan dengan tes darah dengan mengukur timbunan produk-produk sampah di dalam darah. BUN dan kreatinin meningkat, dan kecepatan filtrasi gromerulus menurun. Ini adalah angka yang menunjukkan darah yang telah disaring melalui ginjal dan dapat dihitung berdasarkan kadar kreatinin, umur, ras dan jenis kelamin. Tes urin bisa dilakukan untuk mengukur jumlah protein, mendeteksi adanya sel-sel abnormal, atau mengukur konsentrasi elektrolit. Protein di dalam urin adalah tidak normal dan dapat menjadi petunjuk bahwa kerusakan pada ginjal telah terjadi. Penggumpalan abnormal dari sel darah merah dan sel darah putih yang disebut cast dapat tampak di dalam urin penderita penyakit ginjal. Dengan membandingkan konsentrasi elektrolit di dalam darah dan urin dapat membantu memutuskan apakah ginjal mampu dengan baik memonitor dan menyaring darah.

Gambaran Radiologis Gambaran radiologi penyakit ginjal kronik meliput pada foto pdos abdomen dapat tampak batu radioopak, pielografi intavena jarang dikerjakan, pielografi antegrad atau retrograde, ultrasonografi ginjal dapat memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil, korteks yang menipis, adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa, kalsifikasi. Pemeriksaan Pemindaian ginjal atau renografi dikerjakan bila ada indikasi, Renogram menilai fungsi ginjal kiri dan kanan, lokasi gangguan (vaskular, parenkim, ekskresi) serta sisa fungsi ginjal.

15

VI. TERAPI
Terapi pencegahan selalu bertujuan mencegah gagal ginjal. Penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes sangat mematikan karena kerusakan yang mereka sebabkan terhadap ginjal dan organ-organ lain. Kerajinan seumur hidup penting dalam menjaga agar gula darah dan tekanan darah selalu dalam batas normal. Terapi spesifik tergantung pada penyakit yang melatar belakangi. Jika terjadi gagal ginjal, tujuan terapinya adalah mencegah pemburukan lebih lanjut fungsi ginjal. Jika diabaikan, ginjal akan menjadi gagal secara total, tetapi jika penyakit yang melatarbelakangi diterapi secara agresif, fungsi ginjal dapat dipelihara, meskipun tidak selalu membaik. Diet Diet merupakan suatu yang penting untuk dipertimbangkan bagi mereka yang mempunyai fungsi ginjal yang tidak normal. Konsultasi dengan ahli gizi mungkin akan membantu memahami makanan apa yang boleh atau tidak boleh. Sejak ginjal tidak mampu dengan mudah membuang air, garam atau potasium yang berlebihan, maka perlu pembatasan kuantitas konsumsi mereka. Makanan dengan kadar potasium tinggi meliputi pisang, aprikot, dan garam substitusi. Fosfor adalah bahan kimia yang dilupakan yang berhubungan dengan metabolisme kalsium dan mungkin meningkat pada gagal ginjal. Fosfor yang terlalu banyak dapat menghisap kalsium dari tulang dan menyebabkan osteoporosis dan patah tulang. Makanan dengan kadar fosfor tinggi meliputi susu, keju, kacang-kacangan, dan minuman cola. Obat Obat bisa digunakan untuk membantu mengendalikan masalah-masalah yang berkaitan dengan gagal ginjal

Obat penurun fosfor meliputi kalsium karbonat (Caltrate), calcitriol (Rocaltrol), sevelamer (Renagel)
16

Stimulasi produksi sel darah merah, meliputi erythropoietin, darbepoetin (Aranesp)

Produksi sel darah merah, suplementasi besi Obat tekanan darah Vitamin

Ketika ginjal gagal secara total, pilihan terapi terbatas pada dialisis atau penggantian ginjal dengan transplantasi. Dialisis Dialisis membersihkan badan dari produk-produk sampah di dalam tubuh dengan menggunakan sistem penyaringan. Ada dua tipe dialisis: Hemodialisis (cuci darah) Hemodialisis menggunakan mesin penyaring yang disebut dialiser atau ginjal buatan untuk membuang air dan garam yang berlebihan, untuk menyeimbangkan elektrolit-elektrolit di dalam tubuh, dan untuk membuang produk-produk sampah dari metabolisme. Darah mengalir melewati saluran ke dalam mesin, dimana mereka kemudian akan melewati suatu membran penyaring. Suatu larutan kimia khusus (dialisate) mengalir di sisi lain membran. Dialisate diformulasi untuk menghilangkan kotoran dari darah melalui membran penyaring. Darah dan dialisate tidak pernah bersentuhan dalam mesin ginjal buatan. Untuk tipe dialisis ini, akses ke pembuluh darah perlu dibuat dengan pembedahan sehingga jumlah besar darah dapat mengalir ke dalam mesin dan kembali ke tubuh. Dokter bedah dapat membuat suatu fistula, suatu hubungan antara arteri besar dan vena di dalam tubuh, biasanya di lengan, yang menyebabkan sejumlah besar darah mengalir ke vena. Ini membuat vena menjadi lebih besar dan dindingnya lebih tebal sehingga dapat menoleransi tusukan jarum berulang untuk menempelkan saluran dari tubuh ke mesin. Karena memerlukan beberapa minggu bagi fistula untuk cukup matur untuk

17

digunakan, rencana yang signifikan diperlukan jika hemodialisis dipertimbangkan sebagai sebuah pilihan. Jika gagal ginjal terjadi secara akut dan tidak ada waktu untuk membuat fistula, kateter khusus bisa dimasukkan ke dalam pembuluh darah besar di lengan, kaki atau dada. Kateter ini bisa ditinggalkan di tempatnya sampai tiga minggu. Pada beberapa penyakit, perlunya dialisis akan bersifat sementara, tetapi jika ternyata dialisis akan berlanjut dalam jangka waktu yang panjang, kateter ini bertindak sebagai penghubung sampai suatu fistula di programkan, dibuat dan cukup matur. Terapi dialisis normalnya terjadi tiga kali seminggu dan beberapa jam setiap kalinya. Paling sering, pasien melakukan perjalanan keluar untuk mendapatkan dialisis, tetapi terapi dialisis di rumah bisa menjadi pilihan. Dialisis peritoneal

Dialisis peritoneal menggunakan lapisan dalam ruang perut sebagai saringan dialisis untuk membersihkan sampah-sampah dan menyeimbangkan kadar elektrolit. Sebuah kateter ditempatkan di dalam ruang perut melalui dinding perut oleh ahli bedah dan diharapkan tetap disana untuk jangka panjang. Larutan dialisis kemudian diteteskan ke dalam melalui kateter dan ditinggalkan di dalam ruang perut untuk beberapa jam dan kemudian dikeluarkan dengan didrainasi. Pada saat itu, produk-produk sampah terhisap dari darah yang secara normal mengalir melewati lapisan dalam perut (peritoneum). Ada manfaat dan komplikasi dari tiap tipe dialisis. Tidak semua pasien dapat memilih tipe mana yang lebih baik untuk dia. Keputusan terapi tergantung pada penyakit pasien dan riwayat medis mereka. Biasanya, ahli ginjal (spesialis ginjal) akan melakukan diskusi panjang dengan pasien dan keluarganya untuk memutuskan apa yang akan menjadi pilihan terbaik.

18

VII. Referensi Textbook


Suhendro, Nainggolan L, Chen K, Pohan HT. Demam Berdarah Dengue. Dalam Sudoyo, A. et.al. (editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI; 2006. p. 1774-9 Sutaryo. Perkembangan patogenesis demam berdarah dengue. Dalam Hadinegoro SRH, Satari HI, editor. Demam berdarah dengue: naskah lengkap. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 1999. p. 32-43. Rachman A. Identifikasi salah satu mekanisme trombositopenia pada infeksi virus dengue: telaah khusus pada antibody terhadap protein non structural tipe 1 virus dengue dan target epitop GP IIb/IIIa pada permukaan trombosit. (thesis). Jakarta, 2009.

19