Anda di halaman 1dari 11

1. pendahuluan dan latar belakang 2. tujuan 3. nama kegiatan 4. penyelenggara 5. tempat & waktu penyelenggaraan 6.

benefit dan kelebihan / ke-unik-kan acara dibandingkan dengan acara lainnya. 7. rincian kegiatan 8. daftar dan rundown acara 9. sisipan / foto-foto /dll. 10. floorplan / zoning 11. Rencana anggaran biaya 12. struktur organisasi / tim kerja 13. formulir keikutsertaan

PROMOSI PELAYANAN MANDIRI KESEHATAN GIGI DI SEKOLAH DASAR A. Latar Belakang Salah satu sub-komponen dalam Sistem Kesehatan Nasional yang menjadi arah pembangunan sektor kesehatan adalah Sumber Daya Manusia Kesehatan. Tanpa tersedianya sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas, beretika, tersebar secara merata jenis yang rnemadai, maka pembangunan kesehatan tidak akan dapat berjalan secara optimal. Di sisi lain, hidup sehat merupakan kebutuhan dan tuntutan yang semakin meningkat, walaupun pada kenyataannya derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih belum sesuai dengan harapan. Sementara itu pemerintah telah mencanangkan Indonesia Sehat 2010, yang merupakan paradigma baru yaitu paradigma sehat, yang salah satunya menekankan pendekatan promotif dan preventif dalam mengatasi permasalahan kesehatan di masyarakat, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Departemen Kesehatan telah memprogramkan upaya promotif dan preventif untuk anak usia sekolah melalui Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dan untuk masyarakat melalui Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD). Upaya promotif dan preventif paling efektif dilakukan dengan sasaran anak sekolah dasar, karena perawatan kesehatan gigi harus dilakukan sejak dini dan dilakukan secara kontinyu agar menjadi suatu kebiasaan. Di sekolahpun ada potensi sumber dana yang dapat digali dan difasilitasi oleh BP3 atau Komite Sekolah untuk mendukung upaya pemeliharaan kesehatan gigi anak sekolah. B. Tujuan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS): a. Meningkatkan taraf kesehatan gigi anak-anak sekolah dengan jalan mengadakan usaha preventif dan promotif. b. Mengusahakan timbulnya kesadaran dan keyakinan bahwa untuk meningkatkan

taraf kesehatan gigi perlu pemeliharaan kebersihan mulut (oral hygiene). c. Mengusahakan agar anak-anak sekolah dasar itu mau memelihara kebersihan mulutnya di rumah (habit formation). d. Meningkatkan taraf kesehatan gigi anak-anak sekolah dasar dengan menjalankan usaha kuratif apabila usaha preventif gagal melalui system selektif. (selective approach). e. Meningkatkan kesadaran kesehatan gigi dengan suatu syste pembiayaan yang bersifat

praupaya. C. Penatalaksanaan Pelayanan Mandiri Kesehatan Gigi Promotif dan Preventif Untuk dapat melakukan kegiatan pelayanan kesehatan gigi promotif dan preventif di sekolah melalui kerjasama saling menguntungkan antara tenaga kesehatan dengan pihak sekolah (Komite Sekolah) dengan baik, ada tahapan yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan sebagai pelaksana yaitu: Organisasi Perencanaan Persiapan Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi. OrganisasiBanyak pelaku usaha berpandangan bahwa sukses sebuah organisasi usaha tergantung pada modal dan aset yang dimiliki. Namun yang paling penting adalah sumber daya manusia yang memiliki kemampuan prima dan relevan dengan bidang dan profesinya. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan disiapkan untuk kelancaran organisasi (unit pelayanan kesehatan gigi promotif dan preventif) Tenaga : Dokter Gigi, adalah lulusan Fakultas Kedokteran Gigi yang bekerja pada sarana pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif, termasuk dokter gigi yang baru lulus dan memilih bekerja diluar jalur PTT dalam melaksanakan masa pengabdian profesinya sesuai dengan Kepmenkes 1540/Menkes/SK/XII/ 2002 tentang penempatan tenaga medis melalui Masa Bakti dan cara lain Perawat Gigi yang ada di lapangan terdiri dari lulusan Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG) dan lulusan Jurusan Kesehatan Gigi (JKG) Politeknik Kesehatan (Poltekkes) yang dulu bernama Akademi kesehatan Gigi(AKG) yang belum bekerja Danapembiayaan pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif dilakukan secara swadana yang dikelola komite sekolah melalui dana sehat dari murid sekolah, bantuan dari sekolah atau bantuan yang tidak mengikat. Besar kecilnya biaya pelayanan ditentukan oleh jumlah peserta didikdan jenis pelayanan. Kelayakan biaya dipengaruhi oleh kualitas pelayanan, besarnya cakupan jumlah peserta didik yang terlayani, efektifitas dan efisiensi penggunaan bahan dan obat habis pakai. Bentuk pelayanan, secara legal, model pelayanan mandiri kesehatan gigi dan mulut promotif dan preventif harus bernaung dibawah badan hukum yang sah, yaitu bernaung dibawah JKG (Jurusan Kesehatan Gigi), bernaung dibawah dokter gigi yang memiliki ijin praktek, bernaung dibawah yayasan/badan hukum lainnya yang bergerak dibidang kesehatan. Jenis pelayanan, Penambalan, Pencabutan gigi susu yang sudah saatnya tanggal, pengobatan untuk gigi untuk menghilangkan rasa sakit/pencegahan kerusakan lebih lanjut. Perencanaan,Dilakukan sebelum kegiatan pelayanan kesehatan gigi diselenggarakan di sekolah. Perlu dilakukan perencanaan yang matang agar dapat diantisipasi kesulitan-kesulitan teknis maupun administratif pada waktu pelaksanaannya di lapangan, yaitu Persiapan: Penandatanganan MoU Penyiapan bahan dan alat, Menyusun jadwal kegiatan pelayanan Pelaksanaan: Dengan membuat pertemuan orang tua, guru dan petugas kesehatan gigi dengan penjelasan : 1. Pemeriksaaan awal keadaan gigi dan mulut 2. Pemberian Flour untuk mencegah / mengurangi karies gigi 3. Program sikat gigi bersama dengan jadwal tertentu 4. Pelaksanaan pendidikan kesehatan gigi di kelas-kelas yang berintegrasi dalam kurikulum

sekolah 5. Pelaksanaan program pencegahan dan perawatan secara kontinyu di klinik UKGS 6. Melakukan pencatatan dan pelaporan. D. Penjelasan Kegiatan 1. Pemeriksaan awal keadaan gigi dan mulut Pemeriksaan keadaan gigi dan mulut dilaksakan oleh perawat gigi yang bertugas, pemeriksaan ini dilaksakan di klinik sekolah. 2. Kumur-kumur dengan larutan fluor Tujuannya adalah untuk mendapatkan lapisan gigi yang lebih tahan terhadap serangan asam. Asam merupakan hasil akhir dari sisa-sisa makanan terutama yang mengandung karbohidrat. Dengan lapisan email yang lebih tahan terhadap asam, diharapkan tidak akan cepat terjadi lubang pada gigi (karies). 3. Sikat gigi Kepada setiap siswa/i diberikan pasta Fluocaril . Kegiatan dilakukan di tempat khusus yang sudah disediakan sekolah dan sebaiknya dilengkapi juga dengan cermin, sehingga mereka dapat melihat sendiri pada saat mereka menyikat gigi. Cara sikat gigi yang baik dan benar diajarkan oleh perawat yang bertugas di lokasi sekolah tersebut. Untuk menguji apakah siswa/i telah menyikat gigi dengan bersih diberikan suatu larutan (disclosing solution) yang berwarna merah. Jika masih banyak sisa-sisa makanan/lapisan plak yang menempel akan terlihat banyak bagian gigi (email) yang berwarna merah. Kepada siswa/i yang belum menyikat giginya dengan bersih dianjurkan untuk melanjutkan kegiatan menyikat gigi ini. Dengan cara tersebut diharapkan setiap siswa/i mempunyai pengalaman dan latihan untuk mengetahui berapa lama seseorang harus menyikat gigi sampai bersih betul. Kegiatan sikat gigi bersama ini pada awalnya dapat dilakukan beberapa kali dalam satu bulan. Pendidikan kesehatan gigi dan mulutPada siswa/i TK dan kelas I-IX diberikan pendidikan kesehatan gigi dan mulut dengan cara penyuluhan oleh dokter gigi dan perawat gigi dengan dibantu overhead projector, slide, gambar-gambar dan alat-alat peraga yang menarik seperti model gigi dan lain-lainnya sehingga penyuluhan itu tidak berkesan membosankan, selain tentang kesehatan gigi, diberikan juga penyuluhan tentang bagaimana menjaga kesehatan mulut yang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan gigi. Kerjasama dengan kepala sekolah sangat diperluka karena penyuluhan ini dilaksanakan pada jam-jam sekolah dan seharusnya sudah dijadwalkan pada awal tahun pelajaran. Tujuan dari penyuluhan tersebut adalah agar siswa/i lebih sadar bagaimana seharusnya menjaga kesehatan gigi dan mulutnya masing-masing. Peran serta guru kelas dan kepala sekolah besar artinya dalam keberhasilan usaha kegiatan penyuluhan tersebut. Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut Perawatan gigi dan mulut ditunjukkan dalam memperoleh pengobatan yang diperlukan, terutama pengobatan dalam menghilangkan rasa sakit, dan mencegah kerusakan gigi semakin parah. Sebaiknya sebelum dilakukan perawatan, terlebih dahulu diadakan pemeriksaan untuk membuat data dari setiap siswa/i. Pada tiap-tiap awal tahun pengajaran dilakukan pemeriksaan awal untuk dibuatkan kartu status tentang keadaan gigi geligi masing-masing juga tentang kesehatan mulut secara keseluruhan. Berdasarkan data-data tersebut, diperoleh gambaran mengenai berapa jumlah siswa/i yang memerlukan penambalan dan pencabutan diberikan surat untuk ditandatangani orang tuanya sebagai tanda persetujuan bahwa putra/inya diizinkan dirawat di sekolah. Mengingat UKGS bukanlah poliklinik, maka perawatan yang diberikan hanyalah penambalan tetap, pencabutan gigi susu yang sudah saatnya tanggal, pengobatan gigi untuk menghilangkan rasa sakit/pencegahan kerusakan lebih lanjut. 6. Pencatatan dan pelaporan Pencatatan dan pelaporan dilakukan oleh perawat gigi yang bertugas

untuk mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksakan kepada pihak sekolah dan orang tua siswa. Monitoring dan EvaluasiMonitoring diperlukan sebagai kegiatan pengamatan yang dilakukan secara terus menerus untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan apa yang telah dilaksanakan. Evaluasi dilakukan minimal pada setiap semester dengan melakukan analisis terhadap hasil monitoring serta penyimpangan yang terjadi. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pengelola pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif. 2. Dalam rangka melakukan kegiatan yang dimaksud advokasi, pihak-pihak mana saja yang anda lakukan a. Puskesmas yaitu Kepala Puskesmas dan dokter gigi b. Kepala sekolah c. Guru UKS d. Orang tua murid melalui 3. Contoh-contoh indakator bahwa promosi kesehatan gigi yang dilakukan sukses a. Adanya dukungan dari kepala sekolah dan guru-guru b. Adanya minat dari orang tua siswa untuk pelaksaan kegiatan UKGS mandiri di sekolah, agar supaya anak mereka tidak perlu lagi di bawah ke Dokter gigi atau puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan giginya. PengembanganPengembangan Pelayanan Mandiri Kesehatan Gigi dan Mulut Promotif dan Preventif pada hakekatnya meliputi dua aspek, yaitu: Aspek peningkatan mutu. Pengembangan pelayanan melalui peningkatan mutu pada dasarnya adalah melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan upaya pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif yang meliputi unsur unsur kegiatan operasional (administratif dan teknis) antara lain perbaikan mutu tenaga alat dan Bahan pembiayaan. Aspek peningkatan cakupan. Untuk memperluas cakupan pelayanan mandiri kesehatan gigi promotif dan preventif dapat dilakukan dengan cara perbaikan terhadap hubungan lintas sektor dan lintas program terkait, sehingga pelayanan kesehatan gigi dan mulut di sekolah dapat dikembangkan di sekolah-sekolah (SD) lain, yang dimulai di sekolah dasar kemudian dapat dikembangkan ke SMP yang berdekatan. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ditingkat yang lebih luas, pola pendayagunaan perawat gigi dan dokter gigi ini dikembangkan sehingga terjadi replikasi pelayanan serupa di kabupaten, propinsi lain bahkan di seluruh Indonesia.Aspek peningkatan cakupan terdiri dari: Pembinaan, tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan mandiri secara optimal dalam upaya pencapaian tujuan pelayanan. Pembianaan dilakukan dalam 3 kegiatan yaitu: Pembinaan administrasi, Pembinaan Teknis, Pembinaan Sosial. Monitoring dan Evaluasi, diperlukan sebagai kegiatan pengamatan yang dilakukan secara terus menerus untuk melihat apakah kegiatan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Evaluasi dilakukan minimal pada setiap semester dengan melakukan analisis terhadap monitoring serta penyimpangan yang terjadi. Diposkan oleh eKsOtiSmE di 06:56 Tidak ada komentar: Poskan Komentar

A. Latar Belakang Hidup sehat merupakan kebutuhan dan tuntutan yang semakin meningkat, walaupun pada kenyataannya derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih belum sesuai dengan harapan. Sementara itu pemerintah telah mencanangkan Indonesia Sehat 2010, yang merupakan paradigma baru yaitu pardigma sehat, yang salah satunya menekankan pendekatan promotif dan preventif dalam mengatasi permasalahan kesehatan di masyarakat , termasuk kesehatan gigidan mulut.Departemen kesehatan telah memprogramkan upaya promotif dan preventif untuk anak usia sekolah melalui Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dan untuk masyarakat melalui UKGMD. Namun pelaksanaan program tersebut masih terbatas karena keterbatasan tenaga perawat gigi sebaagi pelaksana UKGS dan UKGMD. Sasaran yang paling efektif dalam upaya promotif dan preventif adalah anak sekolah dasar, karena perawatan kesehatan gigi harus dilakukan sejak dini dan dilakukan secara kontinu agar menjadi suatu kebiasaan. Disamping itu, pada masa ini (6-12 th) terjadi gigi campuran yaitu gigi tetap telah tumbuh disamping gigi sulung. Pada gigi sulung yang sudah rusak, harus segera ditambal agar tetap tanggal pada saat yang sewajarnya. Gigi sulung yang dibiarkan rusak dan tidak ditambal maka akan menyebabkan peradangan yang bisa menjalar kebenih gigi tetap yang ada dibawahnya. B. Tujuan Klinik Mandiri Terciptanya kondisi dimana peserta didik mempunyai pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan memelihara diri sehingga mampu mencegah terjadinya penyakit / kelainan gigi dan mulut serta mengambil tindakan yang tepat, untuk mendapatkan perawatan / pengobatan yang memadai sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal. C. Manfaat Klinik Mandiri 1. Bagi Pengguna a. Biaya pelayanan lebih murah b. Waktu tunggu pasien berkurang c. Mutu pelayanan lebih baik d. Waktu pemeriksaan lebih teratur 2. Bagi Sekolah dan Dinas Pendidikan

a. Terjaminnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut bagi murid-muridnya. b. Murid menjadi lebih sehat. c. Pengetahuan dan kesadaran murid dan guru tentang kesehatan bertambah. d. Bertambahnya daya tarik sekolah bagi calon siswa baru karena adanya fasilitas Klinik Mandiri. 3. Bagi Pemerintah Pusat dan Daerah, dan Dinas Kesehatan a. Peningkatan pemerataan pelayanan kesehatan gigi dan mulut khususnya siswa SD. b. Mencerdaskan generasi muda melalui kesehatan gigi paripurna. c. Pemberdayaan masyarakat akan lebih berhasil guna dan tepat guna karena sumberdayanya masyarakat dikelola secara professional, sehingga mengurangi sektor pemerintah. d. Pemerintah dapat lebih memanfaatkan sumber daya kesehatan untuk progam-progam lain yang perlu bantuan dari pusat. e. Meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut. D. Kegiatan yang dilakukan 1. Promotif Dilakukan penyuluhan tentang : a. Cara menyikat gigi yang baik dan benar b. Plak c. Gigi berlubang d. Karang gigi e. Radang gusi

f. Masa pertumbuhan g. Fluor 2. Preventif a. Melakukan sikat gigi bersama

b. Pembersihan karang gigi c. Fissure selant d. Topikal aplikasi 3. Kuratif a. Penambalan dengan Glas Ionomer / ART b. Penambalan dengan amalgam c. Pencabutan gigi sulung dengan Topical Anasthesi

Sejarah YKGI (Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia) Pada awalnya, Drg. Rizali Noor (Alm) sebagai kepala Direktorat Kesehatan Gigi Depkes meminta Sr, Drg. Be Kien Nio untuk membuktikan bahwa suatu klinik yang menghususkan diri pada usaha pencegahan dapat meningkatkan kesehatan gigi sekaligus bermanfaat bagi pengelolanya. Hal ini merupakan tantangan karena pada waktu itu upaya-upaya kesehatan gigi, terutama klinik atau praktek swasta, lebih banyak melakukan pengobatan (kuatif) daripada pencegahan (preverentif). Rencana tersebut mendapat dukungan dan tantangan positif dari pimpinan biara, gereja, dan rekan rekan sejawat Sr. Kien mereka adalah Sr. Dionysia Michles selaku provinsial Ursulin, Mgr. Arntz OSC Alm selaku Uskup Bandung, Prof. Drg. R.G. Soemantri, dan Sr. Rosemary Huber MM. Mereka sepakat untuk mendirikan sebuah yayasan yang mempunyai misi untuk

meningkatkan kesehatan masyarakat melalui upaya pencegahan dan pendidikan dalam usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) & Pendidikan Kesehatan Gigi (PKG). Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia mengawali karirnya pada tahun 1972 dengan UKGS di sebuah Sekolah Dasar dan Taman Kanak-Kanak saja. Dalam tahun berkembang pesat menjadi beberapa sekolah. Pada tanggal 22 Maret 1973 diresmikan sebuah Poliklinik gigi YKGI yang berlokasi di Jalan. Anggrek 60 Bandung. Klinik ini terletak di lantai dasar asrama putri Providentia, yang merupakan bagian dari komplek Susteran Ursulin. Suster Dionysia selaku Provinsial waktu itu sangat mendukung usaha ini karena unsur pendidikan yang tertanam dalam kiprahnya. Hingga tahun 2002, YKGI telah melayani 16 sekolah Taman Kanak-Kanak, 11 Sekolah Dasar, serta 7 Taman Kanak-kanak & play group insidental baik negeri maupun swasta dengan jumlah total 9.213 anak. Jumlah ini terasa kecil dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar, tetapi tujuan yayasan bukanlah suatu mega proyek, melainkan suatu usaha menggunakan pendidikan dan pencegahan secara sistematis dan konsekuens untuk mencegah penyakit gigi dan mulut secara mandiri. Kegiatan-kegiatan tersebut diatas hingga kini dapat berlangsung dengan baik berkat dukungan para dokter gigi penanggung jawab beserta para staff YKGI yang sangat berdedikasi. Penanggung Jawab Unit Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) saat ini adalah drg. Swanty Hardiardja, dan penanggung jawab Unit Pendidikan Kesehatan Gigi (PKG), drg. Agustina Devi.

[Agama dan Pendidikan] Jakarta, Pelita

Metode kombinasi Fissure Sealant (model FSI) pada program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) terbukti tingkatkan status kesehatan gigi dan mulut anak sekolah secara efektif, sesuai dengan kebutuhan dan faktor risiko, serta menggunakan sumber daya program secara efisien.

"Model FSI tersebut merupakan temuan model pencegahan terbaru, yang terbukti mampu mencegah secara bersama-sama terjadinya gigi berlubang dan gusi berdarah pada anak sekolah dalam program UKGS di Jakarta, bahkan di Indonesia," jelas Dr Laksmi Dwiati, drg MM MHA kepada Pelita dalam acara promosi Doktor di Universitas Indonesia Salemba kemarin.

Menurut Laksmi, disertasinya yang berjudul Pengaruh Model Pencegahan Karies Gigi (gigi berlubang) dan Gingivitis (gusi berdarah) Terhadap Status Kesehatan Gigi Anak Sekolah dan Efisiensi Sumber Daya Program UKGS di Propinsi DKI Jakarta Tahun 2002 merupakan jalan alternatif untuk menekan dana kesehatan gigi dari Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta, karena dana yang dikeluarkan tiap tahun 1,6 Milyard untuk pencegahan gusi berdarah dan gigi berlubang melalui model kumur fluor (model KF) dua kali sebulan pada program rutin UKGS di DKI Jakarta dianggap tidak efektif dan efisien.

Gigi berlubang dan gusi berdarah adalah penyakit gigi serta jaringan pendukung gigi yang dijumpai anak-anak sekolah dasar di Indonesia yang cenderung meningkat tiap tahunnya. Usaha untuk mengatasi masalah tersebut belum terlihat hasilnya, diperkirakan peningkatan akan terus terjadi sejalan dengan kenaikan konsumsi gula, faktor distribusi penduduk, faktor lingkungan, dan perilaku kesehatan gigi masyarakat Indonesia.

Meskipun tidak menimbulkan kematian, namun dapat menurunkan tingkat produktivitas seseorang, karena dari sakit yang dirasakan akan menyebabkan aktivitas belajar, makan, dan tidur terganggu. Selain itu, dari aspek estetik dapat menimbulkan masalah psikososial, dan yang lebih parah dapat menjadi sumber infeksi timbulnya penyakit sistemik dengan komplikasi, yaitu jantung, ginjal, dan mata.

"Akhir-akhir ini banyak penelitian yang menghubungkan kejadian gigi berlubang dan penyakit jaringan pendukung gigi dengan terjadinya penyakit HIV, AIDS, dan kelahiran bayi prematur atau bayi berat badan rendah," kata Laksmi.

Apabila tidak segera dilakukan upaya pencegahan, lanjutnya, seiring meningkatnya umur, kerusakan akan menjadi lebih berat, bahkan dapat mengakibatkan terlepasnya gigi pada usia muda, sehingga diperlukan biaya perawatan gigi yang makin mahal. Oleh karena itu, program pencegahan gusi berdarah perlu dilakukan bersamaan dengan pencegahan gigi berlubang.

Model pencegahan gigi berlubang dan gusi berdarah melalui model FSI merupakan pengganti model KF pada program UKGS di DKI Jakarta, khususnya untuk murid kelas satu sampai tiga sekolah dasar. Model FSI tersebut sebagai alternatif untuk meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut anak sekolah terutama pada sekolah dasar di daerah dengan sarana dan sumber daya terbatas. (m25)

To provide oral health care at school, school-based oral health program has been conducted since 1951 by the government. Nevertheless, the result was not very successful as shown by the DMF-T score for 12 year-old children. The oral health must be promoted if we want to achieve the WHO Goal for Year 2000, that is DMF-T score less than 3 for 12 year-old children. According to the Ministry of

Health, those situations were caused by lack of facilities, funds, and personnels. To solve these problems, some private primary schools conduct their own oral health programme in a more ideal form, one them is Sumbangsih Primary School. The management of the oral health programme at that school has some differences in compare with the similar programme rum by the government. Through this private sector involvement and the school community participation, it is hoped that it will help the government to overcome the oral health problems and eventually to reach an optimum health level in Indonesia. (Pengarang)

Bandung 12 Maret 2009 Kepada Yth.: Bapak /Ibu Pimpinan RUMAH SAKIT Dustira Di tempat Dengan Hormat Yang bertanda tangan dibawah ini Nama Tempat dan tanggal lahir Agama Status Alamat : Lina Herlina : Bogor 27 Mei 1972 : Islam : Menikah : Perum Tani Mulya Jl Garuda Raya No 2 Tani Mulya Cimahi Dengan ini mengajukan permohonan untuk dapat bergabung di KEMANG MEDIKAL CARE sebagai tenaga BIDAN sesuai dengan kompetensi yang saya miliki. Dan saya berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh baik dalam satu tim maupun perseorangan sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan kwalitas KEMANG MEDIKAL CARE. Sebagai bahan pertimbangan bersama ini saya lampirkan: 1 2 Foto copy ijzah SPK .Foto copy transkrip nilai SPK

3 4. 5. 6. 7. 8.

Foto copy ijazah AKBID Foto copy transkrip nilai AKBID Foto copy surat pengalaman kerja Foto copy KTP Daftar Riwayat Hidup Pas foto ukuran 46 2 lembar.

Demikian surat permohonan kerja ini saya buat ,atas pertimbangan dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Hormat saya Lina Herlina