Anda di halaman 1dari 7

BAB V TUGAS KHUSUS

V.1. Latar Belakang Proses Ammonia terjadi di ammonia converter menggunakan gas sintesa berupa campuran gas N2 dan H2 sebagai umpan. Proses ini termasuk dalam bagian synthesis loop (syn-loop) yang didalamnya termasuk proses pemisahan ammonia dan pengeluaran gas inert yang dilanjutkan dengan pemurnian produk dengan refrigerasi. Ammonia converter merupakan alat utama dalam industri ammonia, oleh karena itu unjuk kerja ammonia converter perlu selalu dijaga dan dievaluasi agar kestabilan proses dapat dijaga. Ammonia converter pada pabrik ammonia mempunyai peranan yang sangat penting pada proses pembuatan ammonia. Oleh karena itu ammonia converter diusahakan untuk beroperasi pada kondisi optimal untuk menjaga performance secara keseluruhan. Reaksi di ammonia converter adalah reaksi katalik fasa gas dan bersifat eksotermis. Kondisi yang diharapkan adalah membuat konsentrasi NH3 keluar ammonia converter sebesar mungkin, akan tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi salah satunya adalah suhu pada reaksi katalik, suhu akan berpengaruh pada kecepatan reaksi dan juga kecepatan deaktivasi katalis. Oleh karena itu problem operasi yang penting adalah bagaimana menjalankan reaktor supaya mendapatkan hasil atau produk sesuai dengan yang diinginkan dengan kondisi yang diharapkan masih tercapai. Dalam tugas khusus ini, ruang lingkup permasalahan dibatasi pada ammonia converter, yaitu perhitungan neraca panas pada ammonia converter.

V.2. Landasan Teori A. Reaktor Fixed Bed 1. Pengertian reaktor fixed bed Reaksi katalik dengan katalisator padat dan zat pereaksi berupa gas dapat dilakukan dalam sebuah Reaktor Fixed Bed. Reaktor Fixed Bed menurut bentuknya dapat dibagi menjadi :

a. Isi katalisator satu lapis Pada reaktor ini terdapat penyangga katalisator dengan

menggunakan alumina (bersifat inert terhadap zat pereaksi) dan pada dasar reaktor disusun dari butir yang besar makin keatas makin kecil, tetapi pada bagian atas katalisator disusun dari butir kecil makin keatas makin besar. b. Multi Bed Katalisator diisi lebih dari katalisator fixed bed dengan katalisator lebih dari satu tumpuk banyak dipakai pada proses adiabatic. Jika reaksi sangat eksotermis pada konversi yang masih kecil suhu gas sudah naik sampai lebih tinggi dari pada suhu maksimum yang diperoleh untuk katalisator, maka gas harus didinginkan dulu dengan dialirkan kedalam alat penukar panas diluar reaktor untuk didinginkan dan selanjutnya dikembalikan ke raktor lagi mengalir melalui tumpukan katalisator kedua. Jika konversi gas waktu keluar dari tumpukan katalisator kedua belum mencapai yang direncanakan tetapi suhu gas sudah lebih tinggi dari suhu gas yang diperbolehkan, maka dilakukan pendinginan lagi dengan mengalirkan gas kedalam alat penukar panas kedua dan selanjutnya gas yang dikembalikan ketumpukan katalisator yang ketiga. Hal ini diulang ulang sampai konversi yang diinginkan. c. Reaktor yang terdiri atas banyak pipa kecil Untuk Menghindari adanya perbedaan suhu sepanjang jari jari reaktor sebagainya dipakai reaktor yang berbentuk pipa pipa kecil diisi dengan katalisator yang sedang medium pemanas atau pendinginannya dialirkan didalam shell 2. Proses adiabatic pada reactor fixed bed Reaktor tersebut secara adiabatic, jika tidak ada perpindahan panas antar reaktor dan lingkungan sekelilingnya. Untuk reaksi yang eksotermis dijalankan dengan proses adiabatic maka suhu didalam akan naik dan kadang kadang kenaikan suhu yang tidak dikehendaki dengan alasan :

1. Akan menurunkan kondisi kesetimbangan, 2. Menurunkan selektivitas, 3. Menurunkan aktivitas atau merusak katalisator, 4. Pengoperasiannya menjadi berbahaya Sebaliknya jika reaksi yang terjadi eksotermis penurunan suhu yang drastis dapat menyebabkan reaksi berhenti. Kesulitan yang terjadi pada reaksi eksotermis dan endotermis dapat dicegah dengan menggunakan beberapa lapis tumpukan katalisator dengan memanaskan gas diantara dua lapis katalisator pada reaksi endotermis dan mendinginkan gas antara dua lapis katalisator pada reaksi eksotermis. ( Sri Warnijati Agra, 1985)

B. Ammonia Converter Di PT. PUPUK KUJANG, converter yang digunakan untuk

melangsungkan reaksi pembentukan ammonia adalah Kellog Ammonia Converter dengan tipe Quenching Vertikal ( multibed converter ) yang terdiri dari empat bed katalis. Dengan menggunakan katalis besi ( Fe ). Proses yang paling utama pada pabrik ammonia adalah sintesa gas nitrogen ( N2 ) dan Hidrogen ( H2 ) yang terjadi di ammonia converter. N2 + 3 NH2 2 NH3 Reaksi pembentukan ammonia diatas bersifat eksotermis, maka pada tempat terjadinya reaksi harus dijaga suhunya agar sesuai dengan suhu reaksi. Pengendalian suhu ini biasa dilakukan dengan system quenching atau pendinginan diruang antar bed, maka dari itu ammonia converter terdiri dari empat bed. Pendinginan suhu diberikan efek sebaliknya terhadap kesetimbangan, tetapi mempunyai efek positif meningkatkan laju reaksi. Efek negatif terhadap kesetimbangan beserta efek positif yang cukup berarti terhadap laju merupakan hal yang biasa pada berbagai reaksi, sehingga perlu dicari kesetimbangan antara berbagai kondisi itu agar dapat menghasilkan keuntungan yang optimum. ( Austin, G.T, 1996 )

Perubahan suhu mempunyai efek terhadap kesetimbangan dan laju reaksi. Reaksi sintesa ammonia adalah eksotermis, kenaikan suhu yang masih jauh dari kesetimbangan akan mempercepat reaksi. Maksudnya, kodisi yang jauh dari kesetimbangan, dengan kenaikan suhu akan meningkatkan konversi. Tetapi sebaliknya kenaikan suhu yang dekat dengan kesetimbangan akan menurunkan konversi. Artinya suhu maksimum pada saat reaktan terkonversi menjadi produk ( reaksi akan berjalan kekanan ). Dan apabila suhu tersebut telah melebihi dari suhu maksimum konversi produk akan turun yaitu produk terkonversi menjadi reaktan ( reaksi berjalan kekiri ). Kesetimbangan pada reaksi ammonia converter akan meningkat dengan kenaikan suhu, pada saat yang sama kenaikan suhu akan meningkatkan laju reaksi, sehingga konversi akan naik. Untuk mendapatkan kondisi yang optimum maka perlu dicari suhu dan tekanan yang optimum pada ammonia convertet. Rancangan Pullman Kellog didapat tekanan 140,6 147,6 Kg/cm2 dan temperatur proses 454 482 0C. C. Kinetika dan Mekanisme Reaksi Reaksi yang terjadi di ammonia coverter : N2 + 3H2 2NH3 -H = 26600 Kcal/Kmol

D. Cara kerja ammonia converter ( 105-D ) Aliran masuk dari bagian bawah ammonia converter, kemudian melalui annulus naik ke atas sambil menyerap panas yang berasal dari reaksi pembentukkan ammonia yang sedang terjadi. Gas tersebut sampai shell penukar panas yang berbeda dipuncak ammonia converter dan kembali menyerap panas dari gas keluar hasil sintesa. Gas tersebut keluar dari penukar panas dan turun menuju bed I,II,III,IV. Pada bed yang berkatalis promoted iron ini, gas H2 dan N2 yang berada dalam gas masuk akan bereaksi menghasilkan ammonia. Reaksi eksotermis yang terjadi akan menghasilkan panas yang akan menurunkan pembentukkan ammonia, sehingga suhu dari tiap bed dijaga dengan jalan dihembuskan dengan gas umpan yang bersuhu relativ dingin. Keluar dari bed IV, gas sintesa akan menuju ke atas dan menukarkan panasnya pada aliran gas yang akan masuk bed I melalui penukar panas yang telah

disebutkan diatas. Kemudian gas sintesa keluar dari bagian atas ammonia converter. Spesifikasi Ammonia Converter ( 105-D ) Tipe Fungsi Posisi Ukuran : Quenching Vertikal ( multibed converter ) : Mensintesa gas ammonia : Vertikal : - Diameter - Panjang total - Tebal Shell - Tebal Head - Tipe Head Temperatur : - Design - Operasi - Design Tekanan : - Design - Operasi V.3. Metode Perhitungan Data data yang digunakan untuk menghitung evaluasi kerja ammonia converetr diperoleh dari beberapa macam data, yaitu : A. Data Primer Yaitu data yang diperoleh berdasarkan pengamatan langsung di pabrik. Data data tersebut antara lain : Data komposisi umpan masuk pada ammonia converter Data laju alir yang keluar dari high pressure case (flow rate(FR 150). Dari data pengamatan dipabrik diperoleh FR 15 = 31500.32 kmol/jam Data laju alir quench feed tiap bed (Motor indicator controler (MIC) 13,14,15,16) Suhu masuk bed 1 dan keluar bed 4 pada ammonia converter. Dari data pengamatan dipabrik diperoleh, suhu masuk bed 1 = 318 0C, dan suhu keluar bed IV = 455 0C : 3188 mm : 13716 mm : 166 mm ; 188 mm : Ellips 2:1 : 315.6 0C : 283.0 0C : 283.0 0C : 153.6 Kg/cm2 : 146.2 Kg/cm2

B. Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh dari literature. Data tersebut adalah : Berat molekul tiap komponen (N2,H2,NH3,CH4, dan Ar) N2 H2 = 28.013 = 2.016

NH3 = 17.031 CH4 = 16.043 Ar = 39.948

V.4. Perhitungan Neraca Massa Komposisi gas gas masuk dan keluar ammonia converter dicari dengan menghitung banyaknya massa disetiap aliran yang akan masuk menjadi umpan di ammonia converter. Untuk data data perhitungan didapat dari log sheet yang diambil dari control room (ruang pengendali). A. Perhitungan Flow Rate (FR-15) Untuk menghitung laju alir massa, terlebih dahulu menghitung laju alir yang keluar dari High Preasure Case yang dinyatakan dengan FR-15. FR-15 Dimana : PI-26 THI-37 = Tekanan yang didapat dari data lapangan (log sheet) (Kg/cm2) = Suhu yang didapat dari lapangan (log sheet)(0C) = R X 90000 X

B. Perhitungan Flow Input Ammonia Converter Besarnya flow input ammonia converter adalah selisih antara banyaknya Flow Rate (Fr-15) dengan banyaknya produk NH3. C. Perhitungan Flow Aliran Quenching Untuk menghitung banyaknya quenching, yaitu dengan mengalikan persen bukaan valve di masing masing quenching dengan flow maksimum masing masing quenching.

D. Perhitungan Flow Main Feed (HCV-11)

Besarnya flow main feed yang merupakan umpan dari ammonia converter adalah selisih antara flow input ammonia converter dengan banyaknya jumlah quenching dari MIC-13 sampai MIC-16.

V.4. Hasil Pengamatan dan Pembahasan V.5. Kesimpulan, saran dan kesan