Anda di halaman 1dari 9

Biolistrik pada Sistem Saraf

A. Tujuan Praktikum - Menghitung waktu terjadinya kontraksi perambatan impuls pada bagian femur katak yang dialiri listrik - Mengetahui pengaruh pemberian alkohol terhadap kecepatan perambatan impuls - Mengetahui kecepatan perambatan impuls pada serabut saraf otot gastrocnemius yang telah di idolasi dari tubuh katak - Mengetahui pengaruh pemberian larutan ringer terhadap kecepatan perambatan impuls B. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Biolistrik Biolistrik merupakan energi yang terdapat dalam tubuh makhluk hidup yang bersumber dari ATP (Adenosine Tri Posphate) dimana ATP ini dihasilkan oleh salah satu bagian sel yakni mitokondria dalam proses respirasi dengan kata lain biolistrik merupakan segala yang berkaitan dengan kelistrikan yang dihasilkan oleh tubuh makhluk hidup. Kelistrikan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan muatan-muatan, ion-ion yang terdapat dalam tubuh dan medan listrik yang diasilkan oleh ion-ion dan muatan muatan tersebut serta tegangan yang dihasilkan. Tegangan (voltage) listrik atau sering disebut potensial listrik dapat dihasilkan oleh sel-sel tubuh. Tegangan yang dihasilkan disebut sebagai tegangan-bio atau biopotensial. Tegangan yang paling besar dihasilkan oleh sel-sel saraf (nerve) dan sel-sel otot (muscle). Tegangan yang terjadi pada sel, (selanjutnya disebut tegangan sel (cell potentials), terus menerus terjaga keberadaannya, dan untuk menjaganya, sejumlah besar energi dibutuhkan. Jadi, energi yang disuplai ke dalam tubuh, sebanyak paling tidak 25% digunakan untuk menjaga kehadiran tegangan pada sel. Tegangan sel dapat bertahan konstan dalam jangka waktu yang lama, namun dapat pula diubah melalui suatu perlakuan internal maupun eksternal dalam bentuk gangguan atau rangsangan (fires). Pengubahan nilai tegangan pada sel akan menghasilkan suatu pulsa tegangan (voltage pulses). Efek yang ditimbulkan oleh pengubahan tegangan ini sangat bergantung pada jenis selnya. Sel-sel saraf, oleh karena pengubahan nilai tegangan selnya, dapat menghasilkan pulsa tegangan yang dapat dirambatkan ke berbagai sel lainnya untuk memberi informasi tentang hal-hal yang kita rasakan dari panca indra. Aktivitas sekumpulan sel-sel ditentukan oleh keadaan tegangan yang dihasilkannya dan dapat diukur melalui suatu alat pengukur pulsa-pulsa tegangan.

2. Kelistrikan dan kemagnetan yang timbul di dalam tubuh a. Sistem saraf dan neuron Sistem saraf dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem saraf pusat dan otonom. Sistem saraf pusat terdiri diantaranya otak, medulla spinalis dan perifer. Saraf perifer ini adalah saraf-saraf yang mengirim informasi sensoris ke otak atau ke medulla spinalis disebut saraf afferen sedangkan serat saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medula spinalis ke otot serta kelenjar disebut sistem saraf efferen sedangkan sistem saraf otonom mengatur organ dalam tubuh seperti jantung usus dan kelenjar-kelenjar sehingga pengontrolan sistem ini dilakukan dengan tidak sadar yakni bekerja secara sendiri-sendiri. b. Konsentrasi ion di dalam dan di luar sel Merupakan suatu model potensial istirahat pada waktu = 0 dimana ion K akan melakukan difusi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sehingga pada saat tertentu akan terjadi membran dipole atau membran dua kutub di mana larutan dengan konsentrasi yang tadinya rendah akan kelebihan ion positif, kebalikan dengan larutan yang konsenrasi tinggi akan mengalam kekurangan ion sehingga menjadi lebih negatif. c. Kelistrikan saraf Dalam bidang Neuroatomi akan dibicarakan kecepatan impuls serat saraf, serat saraf yang berdiameter yang besar mempunyai kemampuan menghantarkan impuls lebih cepat daripada serat saraf yang mempunyai diameter yang kecil. Serat dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian diantaranya A,B dan C. Dengan menggunakan mikroskop elektron, serat saraf di bagi dalam dua tipe serta saraf yang bermyelin dan tidak bermyelin. d. Perambatan potensial aksi Potensial aksi dapat terjadi apabila suatu daerah membran saraf atau otot mendapat rangsangan mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk merangsang daearah sekitar sel membran untuk mencapai nilsi ambang. Dengan demikian dapat terjadi perambatan potensial aksi ke segala jurusan sel membran, ,keadaan ini disebut peramabatan potensial aksi atau gelombang depolarisasi. Setelah timbul potensial aksi, sel membran akan mengalami repolarisasi. Proses repolarisasi sel membran disebut sebagai suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter ada dua fase yaitu periode refrakter absolut yakni selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsur kekuatan nntuk menghasilkan potensial aksi yang lan sedangkan periode refrakter relaktif yakni setelah membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari periode refrakter terabsolut akan menjadi periode refrakter refraktif dan apabila stimulus yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru. e. Pembebasan Neurotransmitter Bergantung Pada Kalsium Jika mengalami potensial aksi, saluran kalsium bergerbang tegangan di membran permukaan terminal sinaps akan membuka dan kalsium akan

mengalir ke dalam terminal. Aliran kalsium yag masuk memungkinkan vesikel sinaps bergerak ke tempat pembebasan di membran prasinaps. Vesikel menyatu dengan membran pra sinaps dan mengeluarkan bahan transmitternya ke dalam celah sinaps. Jumlah transmitter yang dibebaskan berkaitan langsung dengan jumlah kalsium yang masuk terminal sinaps. C. Alat Dan Bahan Alat Bedah Baterai kotak Kabel Stop watch Katak Alkohol 70 % dan Ringer

D. Cara Kerja a. Kegiatan 1


Membedah Kulit kaki bagian belakang katak, dan kulit bagian badan katak Membedah bagian perut katak (usahakan tidak memotong vena abdominalis di bagian tengah perut) Membuka rongga perut bagian dorsal, maka akan terlihat serabut saraf yang mempersarafi tungkai depan dan belakang

Memblokir serabut saraf dengan memberikan alkohol 70 %. Amati dan bandingkan waktu terjadinya tanggapan

Mengamati dan Hitung waktu terjadinya tanggapan

Memberi rangsangan listrik dengan menghubungkan kutub positif dan negatif baterai pada saraf yang berbeda.

b. Kegiatan 2
Mengisolasi serabut saraf yang mempersarafi otot gastrocnemius bersama dengan otot tersebut dari sepasang kaki katak Meletakkan kedua preparat tersebut dan menyambungkan serabut saraf dari preparat ke 1 otot preparat 2. Membasahi preparat saraf da otot dengan larutan Ringer

Mengamati dan mencatat waktu terjadinya tanggapan

Melakukan pemblokiran di titik tengah dengan alkohol 70 %

Melakukan perangsangan listrik dengan menempelkan kabel pada kedua ujung dari preparat tersebut

E. Hasil a. Kegiatan 1 Mengukur Kecepatan Perambatan Impuls Kecepatan Perambatan Impuls Keterangan Normal + Alkohol 70 % Kegiatan Ulangan Rata-rata Ulangan Rata-rata Normal +alkohol 70% 0.25 2.01 0.31 1.25 1 0.2 1.23 0.19 0.42 0.72 1.59 0.54 1.66 2 0.6 1.97 0.54 2.65 0.018 6.12 0.24 0.60 3 0.21 2.34 0.21 0.30 0.17 0.18 0.43 0.13 4 0.26 0.15 0.17 0.13 0.72 0.63 1.03 3 5 0.85 1.82 0.81 b. Kegiatan 2 Perambatan Impuls Kecepatan Perambatan Impuls Normal + Alkohol 70 % Kegiatan Ulangan Rata-rata Ulangan Rata-rata 0.16 0.24 0.19 0.17 1 0.17 0.2 017 0.19 0.49 2.34 0.54 2.07 2 0.46 1.8 0.36 0.99 5.09 2.13 1.27 20.26 3 3.24 16.3 3.36 26.52 0.13 0.10 0.18 0.14 4 0.17 0.13 0.21 0.15 0.54 0.85 0,58 0.49 5 0.71 0.97 1 1.57

Keterangan Normal +alkohol 70%

F. Pembahasan Mengukur kecepatan Perambatan impulse Percobaan ini dilakukan pada serabut saraf yang mensarafi tungkai depan dan belakang. Warna dari saraf-saraf tersebut adalah putih, sehingga dapat dibedakan dengan organ dan serabut saraf yang lain. Pada kegiatan ini diberikan perangsangan di sebelah kanan. Perangsangan dilakukan dengan memberikan aliran listrik dengan baterai. Ketika diberi stimulus listrik, tungkai depan dan tungkai belakang bereaksi dengan cepat. Padahal stimulus diberikan pada saraf di bagian perut di dorsal, ternyata tungkai depan dan belakang juga merespon. Hal ini menunjukkan terjadi perambatan impulse dengan cepat. Setelah itu, pada lokasi yang sama diteteskan alcohol 70 %. Ketika diberikan rangsangan listrik, ternyata kecepatan gerak respon menurun. Adanya alcohol ini meningkatkan efek neurotransmitter GABA. Meningkatnya GABA ini menyebabkan menurunya kecepatan perambatan impulse. Kecepatan perambatan impulse antara yang normal dan yang diberi alkohol pada kaki katak memiliki perbedaan. Pada kaki katak yang normal (tidak diberikan alkohol) kecepatan impulse ketika diberi sengatan listrik berjalan dengan cepat, rata-rata kecepatannya yaitu kurang dari 1 menit. Sedangkan pada kaki katak yang diberi alkohol, memiliki kecepatan yang lambat, dengan rata-rata kecepatan perambatan impuls yang terhitung yaitu lebih dari 1 menit. Gambar 1. Sebelum diberikan rangsang listrik, katak dikuliti terlebih dahulu

(a) (b)

Gambar 2. a) katak setelah dikeluarkan isi perutnya, b) katak yang sedang diberikan rangsang listrik

Mengukur Perambatan impulse Pada percobaan ini menggunakan dua buah otot gastrocnemius,

kemudian kedua ujungnya ditempelkan. Pemilihan otot ini adalah karena otot ini besar dan mudah diamati, bila dibandingkan dengan otot lain pada katak. Pada tiap ujungnya terdapat hubungan bekas tendon saat masih menempel pada kaki katak. Pada percobaan, kedua otot ditempelkan pada tendon/ ujung otot. Hubungan ini dapat dijadikan semacam jembatan bagi impus apabila kedua otot tersebut dilekatkan. Sebelum diberi aliran listrik, hubungan diantara kedua otot diberi larutan ringer. Setelah itu, kedua otot tersebut diberi aliran listrik. Ternyata, kedua otot itu bereaksi, (bergerak). Setelah itu, diantara hubungan kedua otot itu ditetesi alcohol. Kemudian diberi aliran listrik lagi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa respon atau reaksi menjadi lebih lambat. Hal tersebut menunjukkan bahwa alkohol dapat menghambat kerja impuls. Membran neuronal memperlihatkan suatu potensial membran istirahat sekitar -65 milivolt. Perubahan potensial ini ke arah yang lebih positif (depolarisasi) menyebabkan sel menjadi lebih peka-rangsang, sementara

penurunannya ke arah yang lebih negatif (hiperpolarisasi) menyebabkan sel menjadi kurang peka-rangsang. Larutan ringer adalah lautan steril kalsium klorida, Natrium klorida, dan natrium laktat. Pemberian ringer ini kemungkinan bertujuan untuk

memperlancar aliran listrik. Seperti yang kita ketahui, adanya impulse erat kaitannya dengan peristiwa depolarisasi dan polarisasi. Pada saat sel saraf dalam istiahat, ion positif Na+ lebih banyak di luar sel dan ion negative seperti CL- berada di dalam sel. Keadaan ini disebut polarisasi, muatan ion di luar sel lebih positif dan dalam sel lebih negative. Penambahan ringer mendukung terjadinya keadaan ini. Untuk Natrium, potensial Nernst adalah +61 milivolt. Karena potensial membran istirahat di neuron adalah sekitar -65 milivolt, dapat diperkirakan bahwa natrium akan berpindah ke dalam sel saat istirahat. Namun, Na tidak dapat masuk karena saluran Na bergerbang-voltase tertutup. Sedangkan potensial Nernst pada Cl adalah -70 milivolt. Secara umum, ini lebih negatif daripada potensial membran istirahat neuron pascasinaps. Akibatnya, ion klorida berpindah keluar sel dan potensial membran menjadi lebih negatif (hiperpolarisasi) dan sel menjadi kurang pekarangsangan Jika sel saraf dirangsang, maka saluran ion akan terbuka. Ion natrium akan masuk ke dalam sel dan ion Cl- keluar sel. Muatan ion menjadi lebih positif di dalam sel dan di luar sel menjadi negative, disebut depolarisasi. Jika depolarisasi melewati ambang letup, maka akan terjadi potensial aksi. Potensial aksi inilah yang disebut impuls. Penambahan alcohol pada hubungan kedua otot gastrocnemius bertujuan untuk membuktikan bahwa alcohol menghambat jalannya impulse, sama seperti kegiatan sebelumnya.

Gambar 3. Gastrocnemeus (otot betis) katak

Gambar 4. Otot betis katak yang sedang diberikan rangsang listrik

G. Kesimpulan Serabut saraf akan bereaksi bila diberi rangsangan listrik Kecepatan rambatan impulse dapat dihambat dengan pemberian alcohol Larutan ringer berfungsi untuk mendukung terciptanya keadaan polarisasi (keadaan istirahat sel saraf) sebelum diberi rangsangan Kecepatan neurotransmitter bergantung pada kalsium

Daftar Pustaka Campbell, N. A., Reece, J. B., & Mitchell, L.G Junqueira, Luiz Carlos and Jos Carneiro. 2007. Histologi Dasar. Jakarta: EGC. Hall dan Guyton. 2010. Buku Saku Fisiologi Kedokteran . Jakarta : EGC P, M Rudi Muklis. 2006.Pengaruh Pemberian Cairan Ringer Laktat dibandingkan Dengan NaCL 0,9% terhadap keseimbangan Asam Basa Pada Pasien Sectio Caesaria dengan Anastesi Regional. Semarang : Universitas Diponegoro
http://www.wisegeek.com/ http://serendip.brynmawr.edu/