Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Pemantapan mutu laboratorium merupakan suatu peralatan mutu yang digunakan untuk melakukan pengawasan mutu dengan menggunakan konsep pengawasan proses Pengawasan proses dengan statistic (statistical statistic adalah process control.) yang

sebuah

cara

memungkinkan operator menentukan apakah suatu proses sedang berproduksi keluaran yang sesuai. Sedangkan jaminan mutu adalah suatu system manajemen yang dirancang untuk mengawasi kegiatan-kegiatan pada seluruh tahap (desain produk:produksi, penyerahan produk serta layanan), guna mencegah adanya masalah-masalah kualitas dan

memastikan bahwa hanya produk yang memenuhi syarat yang sampai ke pelanggan. (Riono, 2007). Pengendalian mutu merupakan aktivitas teknik dan

manajemen,bagaimana kita mengukur karakteristik kualitas dari output kemudian membandingkan hasil pengukuran itu dengan spesifikasi output yang diinginkan pelanggan, serta mengambil tindakan perbaikan yang tepat apabila terjadi kesalahan. Usaha untuk tercapainya pemeriksaan yang bermutu, diperlukan strategi dan perencanaan manajemen mutu. Diantaranya meliputi pengendalian mutu, peningkatan mutu, good laboratory practice,

pemantapan mutu internal, pemantapan mutu eksternal, uji banding, dan uji profisiensi. Usaha untuk mencapai sasaran mutu sudah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sejak proses perencanaan (quality planning). Selanjutnya pada saat laboratorium telah beroperasi seluruh aktivitas juga dikendalikan untuk menjamin bahwa laboratorium masih tetap mengarah ke sasaran mutu (quality laboratory practices- quality assurance). Ketika sasaran ini telah tercapai,bukan berarti laboratorium berhenti meningkatkan mutu namun laboratorium perlu menetapkan sasaran mutu berikutnya dan merencanakan seluruh program untuk mencapainya (quality improvement- quality planning). Berkaitan dengan hal tersebut maka laboratorium diharapkan terus berkembang dan mampu menjawab tuntutan zaman (Kee, 2008)

B. Permasalahan 1. Apa itu Pemantapan Mutu Internal Pemeriksaan Laju Endap 2. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam Tahap Preanalitik pemeriksaan LDL 3. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam Tahap Analitik Pemeriksaan LDL 4. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam Tahap Pasca Analitik pemeriksaan LDL?

C. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini untuk menjawab setiap permasalahan yan telah dutuliskan diatas dan menjabarkanya sehingga dapat memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan pemantauan mutu internal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pemantapan Mutu Internal Sebagai petugas laboratorium kita perlu menjamin bahwa hasil pemeriksaan laboratorium kita valid dan dapat dipergunakan oleh klinisi untuk mengambil keputusan klinis. Untuk dapat memberikan jaminan itu, kita perlu melakukan suatu upaya sistematik yang dinamakan kontrol kualitas (quality control/QC). Kontrol kualitas merupakan suatu rangkaian pemeriksaan analitik yang ditujukan untuk menilai kualitas data analitik. Dengan melakukan kontrol kualitas kita akan mampu mendeteksi kesalahan analitik, terutama kesalahankesalahan yang dapat mempengaruhi manfaat klinis hasil pemeriksaan laboratorium. Kontrol kualitas ini merupakan bagian dari proses yang lebih besar yaitu penjaminan mutu/quality assurance/QA. (Pireno PA, 2002). Dalam praktek sehari-hari, kontrol kualitas biasanya dilakukan dengan memeriksa bahan kontrol yang telah diketahui rentang kadarnya dan membandingkan hasil pemeriksaan alat kita dengan rentang kadar bahan kontrol tersebut. Idealnya kita mengetahui nilai benar (true value) dari kadar bahan kontrol yang kita gunakan (Tjahjati MI. 2002). Pemantapan mutu internal laboratorium yang merupakan kegiatan pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masingmasing laboratorium secara terus-menerus agar diperoleh hasil

pemeriksaan yang tepat dan teliti. Berbagai tindakan pencegahan perlu dilaksanakan sejak tahap pra analitik, tahap analitik sampai dengan tahap paska analitik. Tahap pra analitik yaitu tahap mulai mempersiapkan pasien, menerima sampel, penanganan dan

penyimpanan sampel termasuk memberI label pada sampel. Tahap analitik yaitu tahap mulai mengkalibrasi alat, mengolah sampel sampai menguji ketelitian ketepatan. Petugas laboratorium lebih mudah mengendalikan factor analitik yang umumnya sangat dipengaruhi oleh alat, reagen dan manusianya sendiri. Program pemantapan mutu berperan dengan baik di sini untuk meminimalkan kesalahan-kesalahan yang ada. Tahap paska analitik yaitu tahap mulai dari pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan. Adanya otomatisasi dan komputerisasi maupun system informasi dapat mengurangi kesalahan paska analitik (Donoseputro, dkk., 1995) B. Tahap Pra-analitik Tahap pra analitik yaitu tahap mulai mempersiapkan pasien, menerima sampel, penanganan dan penyimpanan sampel termasuk memberI label pada sampel. 1. Persiapan Pasien Pemeriksaan LDL Pada pemeriksaan HDL dan LDL pasien dianjurkan untuk berpuasa kecuali minum air putih selama 12-14 jam sebelum pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena chylomicron terdapat pada plasma sesudah makan. Chylomicron akan dibersihkan dalam

beberapa jam dan bila masih terdapat setelah 12 jam puasa maka dikatakan abnormal. Sedangkan pada pemeriksaan kolesterol tidak dianjurkan untuk berpuasa karena puasa mempunyai pengaruh sedikit saja terhadap nilai kolesterol. 2. Pengambilan sampel atau Penyimpanan Sampel Dan terdapat juga faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan yaitu karena variasi fisiologis dan kesalahan dapat dijumpai sebelum, selama disimpan sebelum dianalisa. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu disetandarisasi semaksimal mungkin syarat-syarat sampling yaitu posisi penderita pada orang dengan posisi berbaring atau terlentang, setelah 20 menit akan terjadi penurunan nilai kolesterol 10-15%. Efek tersebut dapt dikurangi bila posisi penderita duduk. Sekalipun pada posisi duduk juga dijumpai pengenceran dalam derajat yang ringan yaitu +6 % setelah 10-15 menit duduk. Dan cara pembendungan vena yakni penggunaan tourniquet yang lama pada saat punksi dapat menyebabkan keluarnya air dari pembuluh darah (ekstravasasi) sehingga meningkatkan konsentrasi komponen yang tak berdifusi. Pada keadaan tersebut, kolesterol dapat meningkat sekitar 10-15% setelah 5 menit pembendungan dan + 2-5% setelah 2 menit. Pengaruh pembendungan vena ini dapat diabaikan, karena biasanya pengambilan sampel sudah dapat dilakukan dalam waktu 30-60

detik saja. Tabung yang digunakan sebagai penampung adalah tabung tanpa antikoagulan. 3. Pengiriman Sampel Sampel harus tertutup rapat dalam boks yang diberi tanda Biohazard pengiriman ini harus kurang dari 2 jam. Segera dikirim ke laboratorium karena tidak baik melakukan penundaan. 4. Pengolahan sampel
Diamkan darah selama 30 menit , Putar dengan sentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan, pisahkan serum dengan darah < 2 jam. 5. Penyimpanan

Penyimpanan sampel darah dalam suhu -70 sampai 80 C selama 7 hari. Dilarang menggunakan sampel yang telah mengalami pembekuan secara berulang. C. Tahap Analitik Tahap analitik adalah kegiatan yang dapat dikendalikan oleh petugas laboratorium untuk mencegah kesalahan acak yang

berhubungan dengan ketelitian dan kesalahan sistematik yang berhubungan dengan ketepatan hasil analisis laboratorium kimia klinik (HKKI & PDS PATKLIN, 1995:8. Tahap analitik dimulai dari mengkalibrasi alat, pemilihan reagen, mengolah sampel sampai menguji ketelitian ketepatan. Petugas laboratorium lebih mudah mengendalikan factor analitik yang umumnya sangat dipengaruhi oleh alat, reagen dan manusianya sendiri.

Metode pada tahap analitik sendiri dibagi menjadi dua. Metode absolut (primer) yaitu metode yang hasilnya dapat ditelusuri melalui rantai perbandingan yang tidak terputus contohnya seperti gravimetri dan titrimetri. Lalu ada metode instrumental (sekunder) yaitu metode yang hasil pengukurannya tidak dapat ditelusuri. Dalam metode instrumental alat harus dikalibrasi dengan bersertifikat. Contohnya UV, AAS, HPLC dll. Dasar pemilihan metode dapat dipercaya jika bias analitik, variasi analitik random hasilnya kecil dan jumlah terkecil dari analit yang diperiksa masih dapat terdeteksi oleh metode ini, dan dapat diperaktekkan dengan nilai sensitivitasnya serta spesifitasnya tinggi. Untuk menjamin mutu metode ini maka perlu dilakukan pemantapan mutu internal, meliputi seluruh kegiatan yang terdapat, pada tahap analitik mulai dari memeriksa bahan control komersial atau bahan control yang dibuat sendiri, memeriksa setiap hari bersama dengan memeriksa specimen si pasien dengan prosedur dan metode yang sama, lalu hasil pemeriksaan dievaluasi secara statistic dan diplot pada kartu control (grafik), bila hasil pemeriksaan bahan control berada pada daerah control dan sesuai aturan berarti hasil analisis diterima. LDL (Low Density Lipoprotein) Merupakan lipoprotein plasma yang mengandung sedikit

trigliserida, fosfolipid sedang, protein sedang, dan kolesterol tinggi.

LDL mempunyai peran utama sebagai pencetus terjadinya penyakit sumbatan pembuluh darah yang mengarah ke serangan jantung, stroke, dan Iain-Iain.

Nilai normal : 30 - 100 mg/dl Tabel.1 Pemeriksaan Bahan Control LDL No 1 2 3 4 5 6 7 8 Hasil (mg/dL) 30.0 30.0 30.09 30.1 30.1 30.1 30.2 30.2 -0.16 -0.16 -0.07 -0.06 -0.06 -0.06 0.04 0.04

(XX)
0.002 0.002 0.005 0.003 0.003 0.003 0.001 0.001

( X X )2

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X

30.0 30.1 30.1 30.1 30.2 30.2 30.2 30.3 30.3 30.3 30.3 30.4 = 603.2 = 30.16 Menentukan Nilai CV

-0.16 -0.06 -0.06 -0.06 0.04 0.04 0.04


0.14 0.14 0.14 0.14

0.002 0.003 0.003 0.003 0.001 0.001 0.001


0.02 0.02 0.02 0.02

0.24

0.05 = 0.164 X = 0.008

SD=

CV =

SD=

CV =

SD=

CV= 0.06

SD = 0.02

o Menentukan Nilai Bias

Bias = 0.13 o Membuat grafik Levey dengan bantuan Westgard Batas peringatan = Mean 2 SD = 30.16 0.04 Atas = 30.2 Bawah = 30.12 Batas control = Mean 3 SD = 30.16 0.06 Atas = 30.22 Bawah= 30.1
Pelaksanaan Pembuatan Grafik Fungsi dari grafik ini untuk menilai pekerjaan kita bisa diterima atau tidak dari bahan control yang diperiksa setiap hari untuk setiap parameter kemudian hitung penyimpangannya terhadap nilai rujukan dalam satuan dengan rumus

Xi: Hasil pengukuran


Satuan SDi diplot pada kertas grafik control, pada sumbu x dari grafik menunjukkan hari dan tanggal, sumbuh y diplot satuan SDi yang diperoleh. Bila SDi berada lebih dari 3 SD maka hasil tidak boleh

dikeluarkan dan pemeriksaan jangan dilanjutkan lagi. Jika SDi berada diluar 2 SDi dan kurang dari 3 SDi maka pemeriksaan perlu dikoreksi.

SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi SDi

Lakukan perhitangan sebanyak 20 kali =s

SDi SDi

Grafik Levy-Jennings Chart

PEMERIKSAAN HDL & LDL KOLESTEROL

1. Metode 2. Prinsip

:Choleaterol Liquicolor : Chylomicrons, VLDL ( very low density lipoprotein ) dan LDL (low density lipoprotein) diendapkan dengan penambahan asam fosfotungsat dan magnesium clorida. Setelah dicentrifuge cairan supernatan mengandung fraks HDL yang mana diperiksa sebagai HDL cholesterol dengan menggunakan cholesterol liquicolor test.

3. Dasar teori

: Kolesterol diangkut kedalam lipoprotein pada plasma dan proporsi terbesar kolesterol terdapat dalam LDL. Akan tetapi dalam keadaan dimana kwantitatif VLDL lebih dominan, peningkatan proporsi plasma akan terjadi pada fraksi ini. Kolesterol dalam jaringan. makanan Penggantina (dietary kolesterol cholesterol) dalam hati membutuhkan beberapa hari untuk mengimbangi kolesterol berlangsung relative cepat bila dibandingkan waktu paruh total kolesterol tubuh yang lamanya beberapa minggu. Kolesterol bebas dalam plasma dan hati akan seimbang dalam waktu beberapa jam saja, mengingat pertukaran dan pengangkutan kolesterol antar-membran sel, lipoprotein plasma serta membran eritrosit terjadi dengan mudah. Ester kolesterol dalam makanan akan dihidrolisis menjadi kolesterol bebas yang kemudian bercampur dengan kolesterol bebas dari makanan dan kolesterol empedu sebelum diserap dari dalam usus bersama dengan unsure lipid yang lainnya. Senyawa ini kemudian bercampur dengan kolesterol yang disintesis dalam usus dan kemudian disatukan ke dalam kilomikron. Dari kolesterol yang

diserap, 80-90% akan mengalami esterfikasi dengan asam lemak rantai panjang didalam mukosa usus. Ketika kilomikron beraksi dengan lipoprotein lipase untuk membentuk sisa kilomikron, hanya sekitar 5% ester kolesterol yang hilang. Sisanya diambil oleh hati ketika sisa kilomikron bereaksi dengan reseptor apo-E atau reseptor LDL dan dihidrolisis menjadi kolesterol bebas. VLDL yang terbentuk didalam hati mengangkat kolesterol ke dalam plasma. Sebagian besar kolesterol dalam VLDL tertahan dalam sisa VLDL (IDL) yang di ambil oleh hati atau diubah menjadi LDL yang selanjutnya akan diambil oleh reseptor LDL dalam hati dan jaringan ekstrahepatik. 3. Alat dan Bahan Alat: Mikropipet / klinipet Photometer Tabung reaksi Tips biru dan tips kuning Centrifuge Spoit Karet pembendung Kapas Rak tabung Stopwatch Reagen kolesterol Sampel Aquadest Alcohol :

Bahan:

5. Cara kerja 1)

Presipitan

Campur dengan baik, inkubasi selama 10 menit pada suhu kamar. Centrifuge selama 2 menit pada kecepatan 1000 rpm atau 10 menit pada kecepatan 4000 rpm. Semi mikro Sampel Presipitan (dengan pengenceran) 2) Pengukuran HDL Kolesterol Blanko Aquadest Standart HDL supernatan reagen Reagen kolesterol 3) Perhitungan HDL kolesterol Rumus perhitungan LDL : LDL C = TC HDL - C = . mg/dl 6. Nilai normal : 1) HDL kolesterol Pria Prognosa kadar Resiko standar Indicator resiko 2) Dicurigai Menigkat LDL kolesterol : 150 mg/dl : 190 mg/dl >55 mg/dl 35-55 mg/dl <35 mg/dl wanita >65 mg/dl 46-65 mg/dl <45 mg/dl 50 l 500 l standar 50 l 500 l 500 l Sampel 50 l 100 l 250 l

D. Tahap Pasca Analitik Tahap paska analitik yaitu tahap mulai dari pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan. Adanya otomatisasi dan komputerisasi maupun system informasi dapat mengurangi kesalahan paska analitik (Donoseputro, dkk., 1995). Ketepatan pemilihan parameter laboratorium didasarkan pada pertimbangan validitas diagnostik sesuai tujuan implementasi setiap parameter yang dipilih baik secara serial maupun paralel seperti sensitivitas dan spesifisitas diagnostik, predictive value, likelihood ratio. Ketepatan pemilihan metode analitik oleh laboratorium klinik didasarkan pada sensitivitas dan spesifisitas analitik serta reprodusibilitasnya. Proses verifikasi hasil laboratorium mencakup keseluruhan asesmen sejak persiapan pasien, saat dan metode sampling, pemberian identitas dan penangan spesimen, persiapan dan pengolahan sampel, kalibrasi peralatan dan kontrol kualitas internal serta ketepatan proses analitik sampai dengan penelusuran history serta penilaian plausibilitas biologis oleh dokter di laboratorium klinik. Tahap proses pasca analitik sampai dengan prosedur penyampaian hasil laboratorium kepada pelanggan yang perlu dipastikan

ketepatannya agar proses yang telah dijamin baik sejak awal memberikan keluaran bermutu secara keseluruhan. Kontrol kualitas eksternal (proficiency testing) adalah sistem pengawasan dan evaluasi

suatu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh pihak berkompeten di luar laboratorium bersangkutan dimana hasilnya meggambarkan penampilan hasil kerja laboratorium tersebut di antara berbagai laboratorium peserta yang menggunakan alat atau metode sama untuk hasil pemeriksaan tersebut (skala regional, nasional, internasional). Pasca analitik meliputi pencatatan dan pelaporan, perhitungan, penyalinan dan pengiriman hasil kepada orang dan waktu yang tepat

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pengendalian mutu merupakan aktivitas teknik dan

manajemen,bagaimana kita mengukur karakteristik kualitas dari output kemudian membandingkan hasil pengukuran itu dengan spesifikasi output yang diinginkan pelanggan. Usaha untuk tercapainya pemeriksaan yang bermutu, diperlukan strategi dan perencanaan manajemen mutu. Salah satunya yaitu pengendalian mutu internal (PMI). Pemantapan mutu internal laboratorium yang merupakan kegiatan pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-masing laboratorium secara terus-menerus agar diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat dan teliti. Berbagai tindakan pencegahan perlu dilaksanakan sejak tahap pra analitik, tahap analitik sampai dengan tahap paska analitik. Tahap pra analitik yaitu tahap mulai mempersiapkan pasien, menerima sampel, penanganan dan penyimpanan sampel termasuk memberI label pada sampel. Tahap analitik yaitu tahap mulai mengkalibrasi alat, mengolah sampel sampai menguji ketelitian ketepatan. Tahap paska analitik yaitu tahap mulai dari pemeriksaan, interpretasi hasil sampai dengan pelaporan.

Daftar Pustaka

Budiarso, A. 2000. Penilaian Kualitas Proses dengan Konsep Statistical Quality Control. Tesis. Program Studi Magister Manajemen. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Baskoro, T. 2000. Menuju Pemanfaatan Optimal Laboratorium Patologi Klinik dalam Menunjang Peningkatan Pelayanan Kesehatan. Pidato. 19 November 1998. Pengukuhan Jabatan Guru Besar Universitas Gadjah Mada Ilmu-Ilmu Kesehatan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.