Anda di halaman 1dari 0

Enid Blyton

PASUKAN MAU TAHU


MISTERI
KUCING SIAM
ilustrasi oleh
Mary Gernat
Penerbit PT Gramedia
Jakarta 1982
" THE MYSTERY OF THE DI SAPPEARI NG CAT"
by Enid Bl yton
First published in Great Britain July 13 th 1944
by Methuen & Co Lt d
Al l rights reserved
"MI STERI KUCI NG SI AM"
Alihbahasa: Agus Setiadi
GM 81. 064
Hak cipta terjemahan Indonesia
PT Gramedia, Jakarta
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Diterbitkan pertama kali oleh
Penerbit PT Gramedia. Jakarta 1981
Anggota IKAP1
Cetakan pertama: September 1981
Cetakan kedua: September 1982
Dicetak oleh
Percetakan PT Gramedia
Jakarta
1
Bets sangat gembira. Hari itu Pip akan pulang, karena
sekolahnya libur panjang. Selama tiga bulan Bets
merasa kesepian, karena abangnya itu tinggal di asrama.
Tapi kini Pips akan ada lagi di rumah.
"Sedang Larry dan Daisy akan tiba pula besok!" kata
Bets pada ibunya. "Wah, Bu asyik rasanya kalau
banyak lagi anak-anak teman bermain."
Larry dan Daisy itu teman-teman Pip. Mereka
sebenarnya lebih tua daripada Bets, tapi ia selalu
diperbolehkan ikut bermain bersama-sama. Dalam
liburan Paskah yang lalu mereka berempat serta seorang
anak laki-laki lagi yang ditemani anjingnya mengalami
petualangan ramai. Mereka berhasil menyelidiki, siapa
sebenarnya yang membakar sebuah pondok.
"Waktu itu kami menjadi Pasukan Mau Tahu," kata
Bets sambil mengingat-ingat. "Dan kami berhasil
membongkar seluruh rahasia kejadian itu ya kan, Bu?
Wah, aku kepingin kami bisa menyelidiki misteri lagi
selama liburan ini!"
Ibunya tertawa.
"Ah itu kan cuma karena mujur saja, kalian berhasil
membongkar rahasia pondok yang terbakar," kata Ibu.
"Kau jangan mengharapkan misteri lagi, Bets, karena
3
ANAK BESAR
DI RUMAH SEBELAH
jelas takkan ada. Sekarang cepatlah berpakaian. Sudah
waktunya menjemput Pip."
Pip senang sekali bisa pulang berlibur ke rumah.
Begitu sampai, ia langsung lari ke kebun bersama Bets.
Segala-galanya diperhatikan olehnya dengan asyik,
seolah-olah sudah bertahun-tahun tidak pulang.
Adik perempuannya membuntuti terus, sambil
mengoceh dengan suara lantang. Bets sangat menga-
gumi Pip. Tapi Pip tidak begitu memperhatikan adiknya
itu. Menurut anggapannya, Bets masih kecil, masih
ingusan. Masih gemar bermain dengan boneka, dan
menangis kalau terjatuh sedikit saja.
"Larry dan Daisy juga akan pulang besok," kata Bets
dengan napas memburu, karena harus mengikuti
langkah Pip yang lebih panjang. "Wah, Pip apakah
kita akan beraksi sebagai Pasukan Mau Tahu lagi?"
"Itu kan cuma kalau ada sesuatu yang perlu diselidiki,
goblok," kata Pip. "O, ya hampir saja aku lupa
liburan ini Fatty juga akan datang lagi ke sini. Orang
tuanya begitu senang berlibur di Peterswood waktu
Paskah kemarin, sehingga mereka lantas membeli
sebuah rumah kecil di sini. Dan Fatty akan kemari
liburan ini."
"Bagus," kata Bets dengan gembira. "Aku suka pada
Fatty, karena dia ramah terhadapku. Jadi kita bisa lagi
menjadi Pasukan Mau Tahu yang lengkap ... o ya, Pip,
tentunya Buster ikut lagi, ya?"
"Tentu saja," jawab Pip. Buster itu anjing piaraan
Fatty. Anjing itu kecil, berbulu hitam. Anak-anak semua
sayang pada Buster. "Senang rasanya bisa bertemu lagi
dengan Buster."
"Dari mana kau tahu Fatty akan datang?" tanya Bets,
sambil berlari-lari mengikuti Pip.
"Ia menulis surat padaku," jawab Pip. "Nanti dulu
4
suratnya ada padaku. la menuliskan pesan untukmu di
situ."
Pip merogoh kantongnya, lalu mengeluarkan sepu-
cuk surat yang sudah kumal. Dengan bergairah Bets
mengambil surat itu. Tulisannya tidak panjang, tapi
sangat rapi.
Pip yang budiman,
Aku hanya hendak mengabarkan, orang tuaku
telah membeli Rumah Putih yang tidak jauh dan
tempat kediamanmu. Jadi liburan musim panas ini
kita akan bertemu lagi. Moga-moga ada lagi misteri
yang bisa kita selidiki. Asyik, kita bisa beraksi lagi
sebagai Pasukan Mau Tahu dengan Anjing.
Salamku pada si cilik, Bets. Begitu aku sampai, aku
akan mampir ke mmahmu.
Salam,
Frederick Algernon Trotteville
"Kenapa tidak ditandatanganinya dengan nama
Fatty?" tanya Bets. "Frederick Algernon Trotteville
rasanya konyol kedengarannya."
"Yah Fatty sendiri kadang-kadang memang
konyol," kata Pip. "Mudah-mudahan sekali ini ia tidak
lagi terlalu membangga-banggakan diri sendiri. Kau
masih ingat liburan yang lalu, bagaimana ia membang-
gakan bekas-bekas memar yang terjadi karena jatuh dari
tumpukan jerami?"
"Ya, tapi memar-memarnya memang hebat nam-
paknya," kata Bets sambil mengenang kejadian itu.
"Warnanya macam-macam hebat sekali! Aku
kepingin kalau luka memar juga bisa kelihatan seperti
itu."
5
Larry dan Daisy tiba sekitar pukul tiga siang keesokan
harinya. Selesai minum teh mereka langsung lari
mendatangi Pip dan Bets. Senang rasanya bisa
berkumpul lagi beramai-ramai. Setelah beberapa saat
mengobrol, Bets merasa agak tersisih. Soalnya, cuma ia
sendiri yang tidak bersekolah di tempat lain dan tinggal
di asrama. Jadi kadang-kadang ada pembicaraan yang
tidak dimengerti olehnya.
"Coba umurku tidak baru delapan tahun," pikirnya,
mungkin untuk keseribu kalinya. "Larry sudah tiga
belas, sedang yang lain-lain dua belas jauh lebih tua
daripadaku. Aku takkan mungkin bisa menyusul
mereka."
Sementara anak-anak itu sedang asyik bertukar kabar
sambil mengobrol dan tertawa-tawa, terdengar langkah
enteng dari arah depan. Sekejap kemudian muncul
seekor anjing kecil berbulu hitam di tengah mereka,
sambil menggonggong-gonggong dengan bersemangat.
"Eh, ini kan Buster! Kau sudah datang lagi, Buster!"
seru Daisy bergembira. Anak-anak yang lain ikut
senang, ribut menyapa Buster dengan ramah. Karena-
nya mereka tidak segera melihat Fatty. Bets yang paling
dulu melihat anak gendut itu muncul. Fatty dirangkulnya
dengan ramah. Fatty nampak gembira, karena ia pun
senang pada Bets. Ia pun merangkul Bets.
Anak-anak yang lain memandangnya sambil nyengir.
"Hallo, Fatty!" sapa Larry. "Bagaimana hasilmu di
sekolah?"
"Aku juara kelas,'' kata Fatty, dengan sikap yang tidak
bisa dibilang rendah hati.
"Masih tetap Fatty yang dulu juga," kata Pip sambil
meringis. "Jadi jago ini, juara itu otak jenius seperti
biasanya murid terhebat di sekolah!"
6
"Tutup mulut," kata Fatty. Sambil bercanda
dipukulnya Pip. "Kalau kau kurasa tentunya murid
yang paling bawah dalam kelas, ya?"
Enak rasanya berbaring-baring di rumput sambil
bercanda dengan Buster, serta membayangkan hari-hari
libur musim panas selama delapan atau sembilan
minggu mendatang. Tidak perlu memikirkan pelajaran.
Tak ada peraturan sekolah yang mesti dipatuhi.
Memang liburan musim panas rasanya paling menye-
nangkan bagi mereka!
"Ada kabar baru, Bets?" tanya Fatty. "Barangkali ada
kejadian misterius, atau masalah yang perlu dipecah-
kan? Jangan lupa, kita masih tetap Pasukan Mau Tahu
ditambah seekor anjing!"
"Aku tahu," jawab Bets. "Tapi saat ini sama sekali
tidak ada kejadian misterius, Fatty. Pak Ayo Pergi saja,
sudah berminggu-minggu aku tidak melihatnya."
Orang yang dijuluki 'Pak Ayo Pergi' itu nama
sebenarnya Pak Goon. la polisi desa Peterswood.
Anak-anak menjulukinya 'Pak Ayo Pergi', karena itulah
yang selalu dikatakannya kalau berjumpa dengan
mereka. Pak Goon tidak suka pada anak-anak. Dan
anak-anak pun tidak suka padanya.
"Kelihatannya di sini sama sekali tidak ada kejadian
menarik, sejak kita kembali lagi ke sekolah waktu itu,"
kata Pip.
Tiba-tiba Bets teringat pada sesuatu.
"O ya, rumah sebelah sudah didiami orang lagi
sekarang," katanya.
Rumah yang dimaksudkan Bets itu selama dua tahun
belakangan tidak ada penghuninya. Anak-anak meno-
leh ke arah Bets.
"Ada anak-anak di situ?" tanya Pip.
7
"Tidak," jawab Bets. "Setidak-tidaknya, kurasa tidak
ada. Aku pernah melihat seorang anak laki laki yang
sudah remaja di situ, tapi kalau tidak salah ia pekerja di
kebun. Kadang-kadang aku mendengar dia bersiul-siul
di situ. Merdu sekali siulannya. O ya kecuali itu
banyak sekali kucing di sana. Kucing-kucing aneh!"
"Kucing? Kucing kayak apa?" tanya Pip heran.
Telinga Buster langsung tegak, begitu mendengar kata
kucing disebutkan. Anjing itu menggeram pelan.
"Muka mereka coklat tua wamanya, begitu pula ekor
dan kaki mereka," kata Bets. "Sedang bulu tubuh
berwarna kuning susu. Aku pernah melihat gadis yang
merawat mereka menggendong seekor di antaranya.
Kucing itu aneh sekali kelihatannya."
"Pasti kucing Siam yang dimaksudkan oleh Bets,"
kata Larry. "Matanya biru cerah, Bets?"
"Entah, aku tidak tahu," jawab Bets. "Jarakku waktu
itu tidak cukup dekat, jadi tidak bisa kuperhatikan
dengan jelas. Lagipula mata kucing kan hijau wamanya,
Larry bukan biru."
"Tapi kalau kucing Siam, matanya biru cerah," kata
Fatty. "Aku tahu, karena bibiku pernah punya seekor.
Bagus sekali kucing itu. Namanya Patabang. Kucing
begitu sangat berharga."
"Aku kepingin kapan-kapan ke rumah sebelah, untuk
melihat mereka," kata Daisy. Menurut pendapatnya,
kucing bermata biru cerah dengan bulu kuning susu
kecuali kepala, kaki dan ekor yang berwarna coklat tua,
pasti sangat indah. "Pemiliknya siapa, Bets?"
"Seorang nyonya, bernama Lady Candling," kata
Bets. "Tapi aku belum pernah berjumpa dengan dia.
Kurasa nyonya itu sering bepergian."
Anak-anak meneruskan obrolan mereka, sambil
berbaring-baring di rumput. Sekali-sekali terdengar
8
suara terpekik kaget. Maklumlah. Buster iseng mendata-
ngi mereka, lalu menjilat-jilat muka. Tentu saja anak
yang dijilati kaget, lalu mendorongnya supaya pergi.
Kemudian terdengar bunyi siulan riang di balik
tembok pembatas ke rumah sebelah. Siujan itu
terdengar jelas dan merdu.
"Itu dia anak laki-laki yang kuceritakan tadi," kata
Bets. "Bagus ya, siulannya?"
Larry berdiri, lalu menghampiri tembok. Sesampai di
situ ia memandang ke sebelah, sambil menopangkan
kaki ke tepi sebuah jambangan bunga yang besar.
Dilihatnya seorang anak laki-laki di pekarangan rumah
sebelah. Umurnya sekitar lima belas tahun. Tubuhnya
besar, dengan wajah bundar kemerah-merahan. Bola
matanya biru sekali, memandang seolah-olah selalu
heran. Mulutnya besar, dengan dua deret gigi putih
cemerlang. Anak itu sedang sibuk menggaruk tanah
dekat tembok pagar.
la merasa sedang diperhatikan, lalu mendongak. la
tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang putih
bersih.
"Hai," sapa Larry. "Kau tukang kebun rumah
sebelah ini?"
"Aduh bukan!" jawab anak itu. la nyengir semakin
lebar. "Aku ini cuma pembantu saja. Pembantu tukang
kebun. Tukang kebun di sini Pak Tupping. Itu, yang
berhidung bengkok dan cepat marah."
Larry cepat-cepat memandang berkeliling kebun.
Tapi ia tidak melihat hidung bengkok. Jadi Pak Tupping
tidak ada di situ. Menurut perasaannya, orang itu pasti
tidak bisa diajak bercanda.
"Bisakah kami kapan-kapan datang untuk melihat
kucing-kucing yang ada di situ?" tanya Larry. ' "Kan
9
kucing Siam mereka itu, yang dipelihara Lady
Candling?"
"Betul! Mereka bagus-bagus," kata anak laki-laki
temannya berbicara. "Yah, sebaiknya. kalau mau
datang, tunggu saja sampai Pak Tupping sedang tidak
ada. Menurut anggapannya kalau melihat aksinya
seluruh tempat ini kepunyaan dia, termasuk kucing-
kucing sekaligus. Begini, datang saja besok sore. Pak
Tupping akan keluar saat itu. Kau lewat tembok ini saja.
Gadis perawat kucing-kucing itu akan ada di sini.
Namanya Nona Harmer. Dia pasti takkan keberatan jika
kau ingin melihat kucing-kucing piaraannya."
"Beres!" kata Larry senang. "Kami akan datang
besok sore. He namamu siapa?"
Sebelum anak laki-laki itu sempat menjawab, sudah
terdengar suara seseorang berseru dari suatu tempat tak
jauh dari situ. Orang itu marah-marah.
"Luke! Luke! Ke mana lagi kau pergi,. hah?! Kan
sudah kukatakan, kau harus membuang sampah itu?
Sialan anak itu, sama sekali tak ada gunanya di sini."
Luke menatap Larry dengan pandangannya yang
selalu nampak tercengang. Cepat-cepat dipanggulnya
alat penggaruk. Kelihatannya seperti ketakutan.
"Itu dia," bisik Luke. "Itu Pak Tupping. Aku harus
pergi sekarang. Besok saja kau datang lagi."
Setelah itu ia pergi, sementara Larry turun dari
jambangan, lalu mendatangi kawan-kawannya yang
masih berbaring di rerumputan.
"Dia itu pembantu tukang kebun," ceritanya.
"Namanya Luke. Kelihatannya baik hati, tetapi agak
tolol. Kurasa menakut-nakuti angsa saja dia takkan
mampu!"
Menurut perasaan Bets, ia pun pasti takkan mampu.
10
Angsa kan besar, dan suka mendesis-desis kalau
diganggu.
"Bagaimana apakah kita besok akan melihat
kucing-kucing itu?" tanyanya pada Larry. "Aku
mendengar kau tadi menyebut-nyebut tentang
mereka."
"Memang betul. Besok sore, apabila tukang kebun
yang bernama Pak Tupping itu sedang tidak ada," jawab
Larry. "Kita ke sana lewat tembok pagar. Tapi Buster
lebih baik jangan diajakkan tahu bagaimana dia kalau
melihat kucing!"
Mendengar kata yang terakhir, Buster langsung
menggeram. Kucing? Untuk apa anak-anak hendak
pergi melihat kucing? Binatang konyol dan tak berguna,
dengan cakar tajam seperti jarum! Cuma satu saja guna
kucing untuk dikejar!
11
2
PAK TUPPING JAHAT!
Keesokan sorenya anak-anak itu teringat, mereka
hendak ke rumah sebelah untuk melihat kucing-kucing
Siam yang ada di sana. Larry pergi ke tembok lalu
bersiul, memanggil Luke.
Tak lama kemudian anak laki-laki itu muncul. la
meringis, memamerkan giginya yang putih.
"Kalian bisa datang sekarang," katanya. "Pak
Tupping sedang pergi."
Dengan segera anak-anak memanjat tembok, lalu
masuk ke pekarangan rumah sebelah. Bets dibantu
menyeberang oleh Fatty. Buster jengkel sekali, karena ia
ditinggal. Anjing itu menggonggong-gonggong dengan
marah, sambil berdiri pada kaki belakang serta
menggaruk-garuk dinding tembok dengan sepasang
kaki depannya.
"Kasihan si Buster," kata Bets. "Jangan sedih, Buster
kami cuma sebentar saja."
"Anjing tidak boleh masuk ke sini," kata Luke.
"Soalnya, di sini kan banyak kucing. Mereka sangat
berharga. Banyak sekali uang yang masuk sebagai
hadiah dalam berbagai perlombaan, kata gadis yang
mengasuh mereka."
"Kau tinggal di sini?" tanya Larry, sementara mereka
12
berbondong-bondong menyusur jalan kebun menuju
beberapa rumah kaca.
"Tidak, aku tinggal di tempat ayah tiriku," kata Luke.
"Ibuku sudah meninggal dunia. Aku seorang diri, tidak
punya adik maupun kakak. Namaku Luke Brown.
Umurku lima belas tahun."
"O ya," kata Larry. Mereka belum sempat berkenalan
secara resmi. "Namaku Laurence Daykin. Umurku tiga
belas tahun. Margaret ini adikku, berumur dua belas.
Nama panggilannya Daisy. Lalu dia itu namanya
yang panjang Frederick Algernon Trotteville. Umurnya
juga dua belas. Panggilannya si Gendut alias Fatty."
"Aku lebih senang jika disapa dengan nama
Frederick," kata Fatty dengan nada tersinggung. "Aku
tidak mau dipanggil Fatty oleh sembarang anak."
"Kau kan bukan sembarang orang, Luke?" tanya
Bets. Luke meringis.
"Kalau maumu begitu, aku akan menyapamu dengan
nama Frederick," katanya pada Fatty. "Sepantasnya
kau bahkan harus disebut Tuan Frederick, tapi kurasa
begitu pun kau takkan suka."
"Dan aku Elisabeth Hilton, singkatannya Bets.
Umurku delapan tahun," kata Bets cepat-cepat. la
sudah khawatir saja, jangan-jangan Larry akan melewati
dirinya. "Dan ini abangku, Philip. Umurnya dua belas,
sedang nama panggilannya Pip."
Setelah mereka menceritakan tempat kediaman
masing-masing pada Luke, anak itu lantas mengatakan
di mana ia tinggal. Di sebuah rumah bobrok, di tepi
sungai. Sambil saling memperkenalkan diri, anak-anak
sudah melewati rumah-rumah kaca. Mereka melalui
sebuah kebun mawar yang indah, menuju sebuah
bangunan bercat hijau.
13
"Itu dia tempat kucing-kucing," kata Luke. "Dan itu
Nona Harmer."
Seorang wanita muda bertubuh montok nampak di
dekat kandang kucing. la memakai jas dan celana yang
panjangnya sampai ke lutut. la kaget ketika melihat lima
orang anak muncul.
"Hai," sapanya. "Kalian dari mana?"
"Kami tadi masuk lewat tembok," jawab Larry.
"Kami ingin melihat kucing-kucing yang ada di sini.
Katanya bukan kucing biasa, ya?"
"Memang," jawab wanita muda itu. Umurnya sekitar
dua puluh tahun. "Itu mereka! Kalian suka pada
mereka?"
Anak-anak memandang ke dalam bangunan yang
kelihatan berupa kandang besar. Banyak kucing ada di
situ. Semua sewarna coklat tua dan kuning susu,
dengan mata biru cemerlang. Kucing-kucing itu
membalas tatapan anak-anak, sambil mengeong
dengan suara aneh.
"Mereka bagus sekali," kata Daisy dengan segera.
"Bagiku, kelihatannya aneh," kata Pip.
"Mereka itu betul-betul kucing?" tanya Bets.
"Kelihatannya kayak monyet!"
Anak-anak yang lain tertawa.
"Kalau sudah sekali kena cakar, kau takkan
beranggapan lagi bahwa mereka itu monyet," kata
Nona Harmer sambil tertawa. "Kucing-kucing ini
semuanya sangat berharga sudah sering memenang-
kan hadiah uang yang banyak dalam berbagai
pertandingan."
"Kucing mana yang paling banyak memenangkan
hadiah?" tanya Bets.
"Itu yang di sebelah sana," kata Nona Harmer, lalu
mengajak anak-anak mendekati sebuah kandang
14
terpisah. Kandang itu agak kecil, seperti kandang anjing
bentuknya, tetapi berdiri di atas tonggak. "Nah, Dark
Queen kucing manis? Ini ada tamu, yang hendak
mengagumi kecantikanmu!"
Kucing Siam besar yang ada dalam kandang terpisah
itu mengusap-usapkan kepalanya ke pagar kawat yang
mengurung dirinya, sambil mengeong-ngeong nyaring.
Pengasuhnya menggaruk-garuk kepalanya dengan
sikap sayang.
"Dark Queen ini kucing kami yang paling istimewa,"
katanya. "Baru saja ia memenangkan hadiah pertan-
dingan keindahan, sebesar seratus pound. Nilainya
sendiri jauh lebih besar lagi."
Dark Queen berdiri. Ekornya yang coklat tua
ditegakkan, melambai pelan ke kiri dan ke kanan. Saat
itu Bets melihat sesuatu yang menarik.
"Di tengah bulu ekornya yang coklat tua ada
beberapa helai yang berwarna kuning susu," katanya
pada Nona Harmer.
"Betul," jawab pengasuh itu. "Dulu ia pernah digigit
kucing lain di tempat itu. Ketika bulunya tumbuh lagi,
ternyata berwarna kuning susu. Tetapi lama-kelamaan
akan berubah menjadi coklat tua lagi. Nah bagaimana
pendapat kalian mengenai dirinya?"
"Rasanya persis sama seperti yang lain-lainnya juga,"
kata Daisy. "Maksudku mereka kan persis sama
semuanya?"
"Memang, karena warna bulu mereka persis sama,"
jawab Nona Harmer. "Tapi aku selalu bisa membeda-
bedakan, walau semuanya dicampur di satu tempat."
"Bayangkan, nilainya lebih dari seratus pound!" kata
Fatty, sambil menatap Dark Queen yang membalas
tatapannya tanpa berkedip. "Luke, matamu sama
15
birunya seperti mata Dark Queen. Kau bermata kucing
Siam!"
Semuanya tertawa, sementara Luke kelihatan agak
kikuk.
"Bolehkah Dark Queen dikeluarkan?" tanya Daisy. la
sudah kepingin sekali memegang kucing indah itu.
"Jinakkah dia?"
"O ya." jawab Nona Harmer. "Semuanya jinak-jinak.
Kami mengurung mereka, karena nilai mereka sangat
tinggi. Kami tidak berani menanggung risiko membiar-
kan mereka berkeliaran di luar, karena takut kalau-kalau
ada yang ingin mencuri."
Nona Harmer mengambil anak kunci yang tergantung
pada sebatang paku. lalu membuka pintu kandang.
Diambilnya Dark Queen. Kucing indah itu mengusap-
usapkan tubuhnya pada pengasuhnya, sambil men-
dengkur-dengkur dengan suara dalam. Daisy membelai-
belai kucing itu. yang langsung meloncat ke dalam
pelukannya. Daisy senang sekali.
"Aduh. ramahnya kucing ini!" katanya gembira.
Tahu-tahu terjadi keributan di situ! Secara tiba-tiba
saja Buster sudah datang berlari-lari, lalu melonjak ke
dalam pelukan Fatty sambil menggonggong dengan
gembira. Dark Queen langsung melompat dari pelukan
Daisy, menghilang ke balik semak. Buster melongo
sesaat. Tapi sambil mendengking gembira, detik
berikutnya ia sudah mengejar kucing tadi. Terdengar
suara pergumulan sengit.
Nona Harmer terpekik karena kaget. Mulut Luke
melompong, sementara matanya memancarkan sinar
takut. Kucing-kucing ribut mengeong-ngeong. Fatty
memanggil-manggil dengan suara garang.
"Buster! Ayo kemari! BUSTER! Kau tidak dengar ya?!
Kemari, kataku!"
16
Tapi percuma saja. Biar dipanggil sampai serak pun,
Buster takkan mau mendengar apabila sedang asyik
mengejar kucing. Saking bingungnya, Nona Harmer
mengejar masuk semak. Tapi ternyata cuma Buster saja
yang ditemukannya di situ. Hidungnya berdarah kena
cakar. Lidahnya terjulur ke luar, sementara matanya
nampak bersinar-sinar karena bersemangat.
"Mana Dark Queen?" keluh Nona Harmer. "Aduh,
gawat nih! Pus, pus!"
Bets menangis. Tak enak perasaannya membayang-
kan Dark Queen hilang. Kemudian ia merasa seperti
mendengar bunyi dalam semak, di sebelah ujung jalan
kebun. Dengan segera ia berlari ke sana untuk
memeriksa, sementara air matanya berlinang-linang
membasahi pipinya.
Saat itu terjadi lagi keributan. Ada orang datang dari
balik kandang. Ternyata orang itu Pak Tupping, tukang
kebun. Luke memandang atasannya dengan mata
terbelalak ketakutan.
"Ada apa di sini?" seru Pak Tupping. "Siapa kalian?
Mau cari apa dalam kebunku?"
"Ini bukan kebun Anda," kata Fatty dengan tabah.
"Ini kebun Lady Candling, teman ibuku."
Tapi percuma saja mengatakan pada Pak Tupping
bahwa kebun itu bukan miliknya. Ia merasa dialah
pemiliknya. Setiap bunga yang mekar, setiap biji buncis
bahkan setiap biji kismis yang paling kecil sekalipun,
semua merupakan miliknya pribadi. Dan tahu-tahu ada
anak-anak masuk ke kebunnya, bersama seekor anjing!
Padahal ia paling benci pada anak-anak, anjing, kucing
dan burung-burung.
"Ayo semuanya keluar!" teriaknya marah-marah.
"Cepat semuanya keiuar! Kalian dengar kataku?
Awas kalau nanti kalian kujumpai masuk ke sini lagi,
17
18
pasti kutempeleng nanti dan kuadukan pada orang tua
kalian. Nona Harmer, kenapa Anda berkeluh-kesah?"
"Dark Queen hilang!" tangis Nona Harmer. Nampak-
nya ia juga takut pada Pak Tupping, seperti Luke.
"Syukur, apabila karenanya Anda dipecat," kata Pak
Tupping. "Aku ingin tahu, apa sih gunanya kucing?
Semuanya cuma binatang brengsek! Kalau ada satu
yang hilang, bagus!"
"Anda memerlukan bantuan kami mencari Dark
Queen?" tanya Daisy pada gadis pengasuh kucing-
kucing itu.
"Kalian keluar!" bentak Pak Tupping. Hidungnya
yang besar dan bengkok berubah warna, menjadi merah
padam. Matanya yang berwarna kelabu kusam
terbelalak, menatap Daisy. Orang itu jelek tampangnya,
kelihatan cepat sekali marah. Rambutnya kuning
jagung, sudah beruban di sana-sini. Kerut-merut di
mukanya nampak kotor berdaki. Anak-anak tidak
senang melihat tampang laki-laki itu.
Mereka memutuskan, lebih baik pergi saja karena
Pak Tupping kelihatannya sudah tidak bisa lagi
menahan kesabaran. Anak-anak kembali ke tembok
pagar. Mereka masih sempat melihat bahwa Bets tidak
ada. Tapi menurut perkiraan mereka, anak itu pasti
sudah lari mendului dan cepat-cepat memanjat tembok
ke sebelah, karena takut melihat tukang kebun galak itu.
Fatty memanggil-manggil Buster.
"Biarkan anjing itu di sini," kata Pak Tupping. "Dia
perlu dihajar dulu. Biar kapok, dan tidak berani lagi
masuk ke kebunku."
"Jangan berani-berani menyentuh anjingku!" seru
Fatty dengan segera. "Nanti Anda digigitnya."
Pak Tupping menyambar Buster dan mencengkeram
kalung lehernya. Ia memegang pada tengkuk, sehingga
19
anjing itu sama sekali tak berdaya. Pak Tupping pergi
sambil menjinjingnya. Fatty hampir-hampir tidak bisa
lagi menahan kemarahannya. Dikejarnya tukang kebun
jahat itu, lalu ditarik lengannya. Tapi orang itu malah
memukulnya, sehingga Fatty kaget. Saat itu juga Pak
Tupping membuka pintu sebuah gudang, mencampak-
kan Buster ke dalam, lalu mengunci pintu. Sedang anak
kuncinya dikantongi. Setelah itu ia berpaling lagi
menatap Fatty. Tampangnya jahat sekali, sehingga anak
gendut itu cepat-cepat lari menjauh.
Tak lama kemudian keempat anak itu sudah terkapar
di atas rumput, di seberang tembok. Napas mereka
terengah-engah. Mereka marah sekali. Mereka mening-
galkan Luke yang ketakutan, begitu pula Nona Harmer
yang malang, yang juga merasa takut. Tanpa mereka
ketahui, Bets juga masih ketinggalan di kebun sebelah.
Sedang Buster terkunci dalam kandang.
"Dasar orang jahat!" kata Daisy. Anak itu sudah
nyaris menangis. Fatty mengumpat dengan gigi terkatup
rapat.
"Coba lihat ini tanganku memar," katanya. "Aku
tadi dipukulnya, kena di sini."
"Kasihan Buster," kata Pip, ketika terdengar lolongan
sedih di kejauhan.
"Mana Bets?" tanya Larry sambil memandang
berkeliling. "Bets! Bets! Kau ke mana?"
Tapi tak terdengar jawaban. Bets masih ada di kebun
sebelah,
"Rupanya dia masuk ke dalam rumah," kata Pip. "He
apa yang akan kita lakukan sekarang, tentang
Buster? Kita harus menyelamatkan dia, Fatty! Tidak bisa
kita tinggalkan sendiri di sana. Pasti orang itu tadi akan
memukulnya."
20
"Kasihan si Buster." kata Daisy. "Dan juga Dark
Queen. Mudah-mudahan saja dia berhasil ditemukan
kembali. Aku ingin tahu, bagaimana Buster tadi
menyeberangi tembok ke rumah sebelah."
"Bukan lewat tembok," kata Fatty, "itu kan mustahil!
Pasti dia tadi berpikir-pikir dulu, lalu masuk ke kebun
lewat depan untuk mencari kita di sana. Kalian kan tahu,
Buster cerdas otaknya. Wah bagaimana cara kita
menyelamatkan dia sekarang? Huh, aku benci sekali
pada Pak Tupping itu! Pasti Luke sangat menderita,
harus bekerja sebagai bawahannya."
"Aku hendak mencari Bets," kata Pip. "Mestinya ia
bersembunyi karena mungkin ketakutan tadi."
Ia pun masuk ke dalam rumah untuk mencari
adiknya. Tapi segera muncul kembali, dengan tampang
bingung.
"Bets sama sekali tak ada di dalam," katanya. "Sudah
kupanggil-panggil, tapi tidak menyahut. Ke mana lagi
anak itu? Dia tadi kan menyeberangi tembok jadi
tidak masih tertinggal dalam kebun di sebelah?"
Tapi ternyata Bets masih ada di sana. Anak itu
bersembunyi ketakutan. Apa yang harus dilakukannya
sekarang? Mencoba menyeberangi tembok seorang diri,
tidak bisa. Sedang lari ke luar lewat pintu pekarangan
depan, tidak berani karena takut ketahuan Pak
Tupping!
21
LUKE MEMANG BAIK HATI
Ketika Bets tadi lari ke dalam semak untuk melihat
apakah Dark Queen ada di situ, ternyata yang ada cuma
seekor burung jalak. Burung hitam itu langsung terbang
menjauh, begitu Bets muncul. Tapi anak itu masih juga
menyuruk ke dalam semak, melihat ke mana-mana
sambil memanggil-manggil Dark Queen dengan suara
pelan.
Tiba-tiba dilihatnya sepasang mata bersinar, meman-
dangnya dari atas pohon. Sesaat Bets kaget tapi
kemudian ia berseru gembira.
"Ah, di situ kau rupanya, Dark Queen! Untung aku
berhasil menemukanmu kembali!"
Setelah itu Bets berpikir. Tak ada gunanya menurun-
kan Dark Queen dari atas pohon, selama Buster belum
dikeluarkan dari kebun. Kucing indah itu lebih aman di
tempatnya yang tinggi. Sementara Bets mendongak
memandangnya, Dark Queen mulai mendengkur-
dengkur. Rupanya senang pada Bets.
Setelah memperhatikan sekilas, Bets merasa pasti
mampu memanjat pohon tempat kucing itu. Dengan
segera ia sudah berada di atas dahan di samping Dark
Queen, sambil mengelus-elus dan mengajak kucing itu
bicara. Dark Queen menikmati belaian Bets. Kepalanya
22
3
23
yang coklat tua digeser-geserkannya pada Bets, sambil
mendengkur dengan suara nyaring.
Kemudian Bets mendengar suara Pak Tupping
berteriak-teriak. Rasa takut anak itu timbul lagi. Aduh
temyata tukang kebun itu sudah datang lagi. Rupanya ia
tadi sama sekali bukan pergi. Bets mendengarkan
teriakan orang yang sedang marah-marah itu dengan
tubuh gemetar. Ia tidak berani turun dan pohon,
menggabungkan diri dengan anak-anak lainnya. Ia
duduk saja diam-diam di samping kucing, sambil
mendengarkan keributan di bawah.
Ia tidak bisa mengikuti dengan jelas kejadian itu. Tapi
beberapa saat kemudian ia menyadari, anak-anak pasti
sudah pergi kembali lewat tembok. Dan ia ditinggal
sendiri di situ. Bets ketakutan sekali. Ia sudah hendak
turun saja dari pohon, untuk mencari Nona Harmer dan
melaporkan di mana Dark Queen berada. Tapi tiba-tiba
terdengar langkah orang datang. Bets mengintip dari
sela dedaunan. Dilihatnya Luke diseret Pak Tupping.
Kasihan anak itu kupingnya dijewer!
"Kau perlu dihajar rupanya berani mengajak
anak-anak luar masuk ke kebunku!" tukas Pak Tupping.
Ditamparnya Luke keras-keras, sampai anak itu menjerit
kesakitan. "Kau digaji untuk bekerja di sini, tahu!
Sekarang kau harus kerja lembur dua jam, karena
lancang mengajak anak-anak tadi masuk ke sini!"
Dipukulnya Luke sekali lagi, lalu ditariknya kupingnya
keras-keras. Setelah itu ditolakkannya, sehingga ter-
sungkur-sungkur. Bets merasa kasihan sekali pada
Luke. Air matanya meleleh, dan ia terisak pelan. Jahat
sekali Pak Tupping itu!
Pak Tupping pergi lagi, sementara Luke meraih
sebatang penggaruk tanah dan beranjak pergi ke arah
berlawanan. Saat itu Bets memanggilnya dengan suara
lirih,
"Luke!"
Penggaruk yang dipegang Luke terjatuh ke tanah.
Anak itu memandang berkeliling sambil melongo. Siapa
yang memanggilnya? la tidak melihat siapa-siapa di situ.
"Luke," panggil Bets sekali lagi. "Aku di sini di atas
pohon. Dan Dark Queen ada bersamaku."
Saat itu barulah Luke melihat Bets duduk di atas
dahan, didampingi kucing Siam yang minggat. Bets
cepat-cepat turun, lalu berdiri di dekat Luke.
"Tolong aku memanjat pagar, Luke," katanya.
"Kalau ketahuan Pak Tupping lagi, pasti aku akan
langsung dipecat olehnya dan ayah tiriku akan
menghajar diriku sampai biru-biru," kata Luke yang
malang. Mukanya yang kemerah-merahan nampak
ketakutan, persis seperti Bets saat itu.
"Yah aku juga tidak mau kau sampai kehilangan
pekerjaan." kata Bets. "Kucoba saja memanjat sendiri."
Tapi Luke tidak sampai hati. Biarpun ia sedang
ketakutan setengah mati, namun ia merasa wajib
menolong anak kecil itu. Mula-mula ia menurunkan
Dark Queen dulu dari atas pohon. Setelah itu bersama
Bets ia berjingkat-jingkat menyusur kebun, sambil
berjaga-jaga kalau Pak Tupping tiba-tiba muncul.
Sesampai di kandang kucing, Dark Queen cepat-
cepat dimasukkan ke tempatnya dan pintu ditutup lagi.
"Nona Harmer pasti senang bahwa dia sudah
ditemukan," bisik Luke pada Bets. "Nanti akan segera
kulaporkan padanya. Sekarang ayo kita lari ke
tembok. Nanti kau kutolong memanjat ke atas."
Keduanya lantas lari ke tembok pagar. Dengan cepat
Luke menopang kaki Bets, dan sesaat kemudian anak
perempuan itu sudah duduk di atas tembok.
24
"Cepatlah sedikit," desis Luke, "kudengar Pak
Tupping datang!"
Bets begitu ketakutan sehingga ia langsung melompat
ke bawah. Ia jatuh tersungkur pada tangan dan lututnya.
Tak dipedulikannya kedua anggota badannya yang
tergores-gores itu. Dengan segera ia lari menuju ke
tempat anak-anak yang masih berbaring di atas
rerumputan. Sesampai di situ ia langsung menjatuhkan
din. Tubuhnya gemetar.
"Bets! Ke mana kau tadi?" seru Pip.
"Kau tertinggal di sebelah, ya?" kata Fatty. "Aduh
lihatlah, lututmu luka tergores!"
"Dan tanganku juga," kata Bets dengan suara
gemetar. Disodorkannya kedua tangannya yang
nampak berdarah. Fatty cepat-cepat mengambil sapu
tangannya, lalu mengusap darah pada tangan Bets.
"Bagaimana caramu tadi memanjat tembok?"
tanyanya.
"Aku ditolong Luke," jawab Bets. "Padahal ia takut
sekali kalau-kalau Pak Tupping muncul dengan
tiba-tiba, lalu ia ketahuan sedang menolong aku. Pasti ia
akan diberhentikan, kalau hal itu sampai terjadi."
"Kalau begitu dia benar-benar baik budi, mau
menolongmu," kata Larry. Anak-anak yang lain
sependapat dengan dia.
"Aku suka pada Luke," kata Bets. "Kurasa dia
benar-benar anak baik. Moga-moga saja ia tidak akan
mengalami kesulitan, karena mengijinkan kita memanjat
tembok untuk melihat kucing-kucing tadi."
Saat itu kembali terdengar suara lolongan di
kejauhan. Bets agak heran, lalu memandang berkeliling.
"Mana Buster?" katanya. Ia tadi tidak tahu bahwa
anjing itu dibawa pergi lalu dikurung, walau bunyi
ribut-ribut sempat didengar olehnya. Anak-anak lantas
25
menceritakan kejadian itu padanya. Bets jengkel dan
sekaligus kaget mendengarnya.
"Kita harus menyelamatkannya!" seru Bets. "Harus,
harus! Fatty pergilah ke sana lagi, dan ambil Buster!"
Tapi Fatty tidak kepingin menghadapi risiko berjumpa
lagi dengan Pak Tupping yang pemarah itu. Lagipula ia
tahu, anak kunci gudang tempat Buster dikurung ada
dalam kantong tukang kebun itu.
"Coba Lady Candling tidak sedang pergi, pasti akan
kuminta ibuku menelepon nyonya itu dan meminta agar
Pak Tupping disuruh melepaskan Buster lagi," kata
Fatty. Ia menggulung lengan kemejanya, untuk
memperhatikan memar di lengannya, yang sementara
itu sudah nampak mulai menjadi ungu warnanya.
"Kalau memar ini kutunjukkan pada ibuku, biar selusin
Lady Candling pun pasti akan ditelepon olehnya."
"Memarmu itu nanti pasti akan hebat jadinya," kata
Bets. Ia tahu, Fatty selalu bangga kalau di tubuhnya ada
bekas memar. "Aduh coba dengar, Buster melolong
lagi. Kasihan! Yuk, kita mengintip ke sebelah dari
tembok. Mungkin Luke ada di sana. Kita minta padanya
untuk mengintip ke dalam gudang dan membujuk
Buster supaya dia agak tenang."
Anak-anak lantas berjingkat-jingkat menghampiri
tembok. Dengan hati-hati Larry mengintip ke sebelah.
Tapi di situ tidak ada siapa-siapa. Kemudian terdengar
seorang bersiul-siul. Ternyata Luke lagi. Larry bersiul
pula. Siulan pertama terhenti lalu disambung lagi.
Kemudian berhenti, sementara Larry menyiulkan lagu
yang sama.
Tak lama kemudian terdengar seorang datang
menyeruak semak. Tampang Luke muncul, merah dan
bulat, seperti bulan sedang purnama.
26
"Ada apa?" bisiknya. "Aku tak berani lama-lama. Pak
Tupping masih ada di sekitar sini."
"Soalnya tentang Buster," bisik Larry. "Tolong
intipkan sebentar di jendela gudang, lalu bujuk dia
dengan ucapan apa saja. Tolong ya?"
Luke mengangguk, lalu menghilang lagi. Anak itu
menuju ke gudang, sambil berjaga-jaga jangan sampai
ketahuan Pak Tupping. Dilihatnya tukang kebun itu ada
di kejauhan. Pak Tupping membuka jasnya. Rupanya
bersiap-siap hendak bekerja. Jas itu digantungkannya ke
paku yang tertancap di dinding luar salah satu rumah
kaca. Saat itu dilihatnya Luke memandangnya. Pak
Tupping lantas berteriak memanggilnya.
"Nah, Pemalas! Sudah kauselesaikan pekerjaanmu
tadi? Coba ke sini ikat batang-batang tomat ini!"
Luke terdengar berseru meneriakkan sesuatu, lalu
menyelinap masuk ke semak yang ada di dekatnya. Dari
dalam semak diperhatikannya Pak Tupping berjalan
menuju kebuh sayur di dekat dapur, sambil mengurai-
kan tali rami. Tukang kebun itu masuk ke dalam kebun
kecil itu lewat ambang pintu bercat hijau, yang terdapat
di tengah tembok yang mengelilingi kebun.
Saat itu Luke melakukan sesuatu yang sungguh-
sungguh berani. la lari menyelinap dengan cepat.
Dihampirinya jas Pak Tupping yang tersampir pada
paku. la merogoh kantong sebelah luar, mengambil
anak kuhci pintu gudang, lalu lari dengan benda itu.
Dibukanya pintu gudang. Seketika itu juga Buster lari ke
luar. Luke masih berusaha menangkapnya. Maksudnya
hendak dilemparkan ke seberang tembok. Tapi anjing
kecil itu lebih cepat geraknya. la mengelak, lalu lari
menyusur sebuah jalan dalam kebun.
Luke cepat-cepat menutup pintu kembali, lalu lari ke
tempat jas Pak Tupping tersampir. Anak kunci yang
27
diambilnya tadi dikembalikan ke dalam kantong.
Setelah itu ia pergi mendatangi Pak Tupping dalam
kebun dapur, sambil berdoa dalam hati semoga Buster
cukup pintar dan langsung lari lewat pintu pekarangan
depan.
Tapi ternyata Buster tersesat dalam kebun. Tahu-tahu
ia sudah muncul di ambang pintu kebun dapur. Anjing
itu mendengking dengan gembira, ketika melihat Luke
ada di situ. Pak Tupping langsung menoleh.
"Lho itu kan anjing tadi!" katanya heran serta
marah sekaligus. "Bagaimana ia bisa keluar dari dalam
gudang? Tadi kan kukunci pintunya! Dan bukankah
anak kuncinya ada dalam kantongku?"
"Saya tadi melihat Anda menguncinya, Pak," kata
Luke. "Mungkin dia ini anjing lain."
Pak Tupping mengibas-ngibaskan lengannya sambil
berteriak-teriak ke arah Buster. Sementara itu Buster lari
menandak-nandak masuk ke dalam kebun, tepat di atas
sederet tanaman wortel. Luke merasa yakin, anjing itu
melakukannya dengan sengaja, Sedang muka Pak
Tupping berubah warna. Merah padam.
"Ayo keluar!" teriaknya, lalu melemparkan sebong-
kah batu besar ke arah Buster. Anjing kecil itu
mendengking, lalu mulai menggali tanah. Tepat di
tengah-tengah tanaman wortel! Akar tanaman itu
berhamburan ke atas.
Wah saat itu Pak Tupping benar-benar mengamuk.
Ia memburu sambil menjerit-jerit. Buster menjauh
sedikit, lalu mulai menggali lagi. Kini giliran tanaman
bawang.
Ketika ada batu besar melayang terlalu dekat ke
tubuhnya, Buster cepat-cepat lari ke luar lewat pintu
yang dicat hijau. Ia melesat lewat jalan kecil yang paling
dekat. Tak lama kemudian ia sudah berhasil menemu-
28
kan jalan keluar, lalu berpacu melawan bayangannya
sendiri menuju ke rumah Pip yang di sebelah.
Sesampai di sana ia menyerbu ke tengah anak-anak
yang kaget melihat dirinya tiba-tiba muncul. Bertubi-tubi
pertanyaan mereka padanya. Semua mengajaknya
bicara dengan serempak. Buster berguling menelentang
dengan keempat kaki terangkat ke atas. Ekornya
memukul-mukul tanah, sementara lidahnya yang merah
terjulur ke luar.
"Anjing manis," kata Fatty, sambil menepuk-nepuk
perut anjingnya. "Sayang kau tidak bisa bercerita,
bagaimana caramu bisa membebaskan diri!"
Malam itu anak-anak menunggu Luke pulang.
Biasanya ia bekerja sampai pukul lima sore. Tapi sekali
itu ia disuruh Pak Tupping bekerja terus sampai pukul
tujuh malam, sebagai hukuman. Walau Luke bertubuh
kekar, tapi ketika akhirnya diperbolehkan pulang, ia
sudah capek sekali.
"Luke! Bagaimana Buster bisa bebas tadi? Tahukah
kau bahwa ia sudah lepas lagi?" seru Pip, begitu Luke
muncul. Luke mengangguk.
"Aku yang mengambil anak kunci dari kantong jas
Pak Tupping, lalu membebaskan anjing kecil itu,"
katanya. "Wah kalian tadi harus melihat tampang Pak
Tupping, ketika Buster tahu-tahu muncul dalam kebun
dapur. Nyaris saja ia kena serangan jantung!"
"Luke! Jadi kau yang membebaskan Buster," seru
Fatty. Ditepuknya punggung remaja yang baik hati itu.
"Trims, Luke! Kami tadi sudah gelisah terus memikirkan
nasibnya. Tentunya kau tadi takut ya sewaktu
membebaskannya.''
"Tentu saja," kata Luke sambil menggaruk-garuk
kepala. Ia teringat lagi, betapa takut perasaannya tadi.
"Tapi anjing kecil itu kan baik tidak bersalah apa-apa.
29
Aku suka pada anjing. Sudah kusangka kalian semua
prihatin mengenainya."
"Kau memang baik hati, Luke," kata Bets, sambil
menggantungi lengan remaja itu. "Kau menolong aku
memanjat tembok dengan selamat, lalu kaubebaskan
pula si Buster. Kami ingin berteman denganmu!"
"Anak-anak kayak kalian, tak pantas berteman
dengan anak miskin seperti aku ini," kata Luke
malu-malu. Tapi dari wajahnya nampak bahwa ia
merasa senang.
"Kenapa tidak bisa," jawab Larry. "Kecuali itu,
sebagai balas budi terhadap kebaikanmu pada kami hari
ini, kami berjanji akan menolong kapan saja kau
memerlukan bantuan."
"Kurasa aku tak perlu bantuan anak-anak seperti
kalian," kata Luke yang bertubuh kekar itu dengan
ramah. "Tapi pokoknya, terima kasih! Kalian jangan
berani-berani lagi masuk ke kebun lewat tembok
nanti aku dipecat!"
"Baiklah," kata Fatty. "Dan jangan lupa
kapan-kapan kalau kau sedang menghadapi kesulitan
besar, kami pasti akan menolongmu, Luke!"
30
4
BU TRIMBLE
Luke ternyata sangat menyenangkan, sebagai teman.
Memang anak itu agak ketolol-tololan. Membaca dan
menulis pun hanya bisa sedikit-sedikit saja. Tapi ia
banyak mengenal hal-hal yang sama sekali tidak
diketahui anak-anak.
Misalnya saja, ia pandai membuat peluit dari
ranting-ranting yang berlubang sebelah tengahnya.
Sejumlah peluit buatannya dihadiahkan olehnya pada
Bets. Diajarinya anak kecil itu memainkan lagu-lagu
dengan peluit-peluit itu. Bets senang sekali.
Lalu ia juga mengenal segala jenis burung yang ada di
daerah pedesaan itu. Ia tahu di mana mereka membuat
sarang, seperti apa wujud telur mereka, serta bunyi
kicauan burung-burung itu. Kelima anak teman barunya
dengan cepat merasa bergembira apabila diajak
berjalan-jalan oleh Luke. Segala ceritanya didengar
dengan asyik. Mereka semua mengaguminya.
"Aneh, dia bisa mengetahui segala hal yang
diceritakannya padahal membaca dan menulis
dengan benar saja tidak bisa," kata Pip. "Dan dia juga
sangat cekatan dalam bertukang. Binatang dan burung
bisa diukirnya dengan cepat dari potongan-potongan
kayu. Lihatlah tupai ini, yang diukirkannya untukku."
31
"Ia sekarang sedang membuatkan patung Dark
Queen untukku," kata Bets dengan bangga. "Ia akan
membuatnya persis seperti kucing itu, sampai-sampai ke
gelang bulunya yang berwarna kuning susu di ekornya
yang coklat tua. Kata Luke patung itu akan dicatnya
persis yang asli sampai dengan matanya yang biru."
Dua hari kemudian patung Dark Queen dari kayu itu
selesai diukir oleh Luke. Anak-anak begitu mendengar
bunyi siulannya di balik tembok, langsung datang
mendekat untuk melihat kenapa ia memanggil. Saat itu
Luke menyerahkan patung kucing itu.
Patung itu benar-benar hebat! Bahkan Fatty yang
menganggap dirinya hebat dalam segala bidang seni
bahkan dia pun terkagum-kagum melihatnya. Diamat-
amatinya patung itu dengan penuh perhatian.
"Bagus, Luke," katanya kemudian. "Pewarnaannya
juga hebat kuping, muka, kaki dan ekor berwarna
coklat tua, sedang warna bulu badannya kuning susu
lalu matanya yang biru cerah! Bahkan gelang bulu
berwarna kuning susu di tengah ekor Dark Queen yang
coklat tua, tak lupa kauwarnai dengan tepat. Di tempat
itu kan dia digigit kucing lain?"
"Betul," kata Luke. "Tapi lambat-laun akan menjadi
coklat tua lagi. Kata Nona Harmer. perbedaan warna itu
tidak akan mengurangi nilainya dalam pameran."
"Bagaimana kabar Pak Tupping hari-hari ini?" tanya
Pip.
"Wah, gawat!" keluh Luke. "Kepingin rasanya tidak
bekerja sebagai bawahannya. Bisanya cuma marah-
marah melulu. Aku selalu takut saja, kalau ia
mengadukan diriku pada ayah tiriku. Kalau itu sampai
terjadi, pasti aku akan dipukul. Ayah tiriku tidak suka
padaku."
32
Kelima anak itu merasa kasihan pada Luke.
Kelihatannya, kehidupannya tidak menyenangkan.
Padahal ia ramah dan murah hati, selalu siap membantu
kalau diperlukan. Ia sayang sekali pada Bets, dan selalu
membela apabila Pip mengganggu adiknya. Padahal Pip
sering mengganggu Bets.
Buster juga sangat memuja Luke.
"Ia merasa berterima kasih padamu, karena menye-
lamatkan dirinya daripukulan Pak Tupping," kata Fatty,
sambil memperhatikan betapa Buster berusaha naik ke
atas pangkuan Luke. Napas anjing itu terdengar
terengah-engah. Bukan karena capek, tapi karena asyik.
"Dia memang anjing manis," kata Luke. "Aku senang
pada anjing. Memang sedari dulu sudah suka. Tapi aku
juga suka pada kucing. Kucing itu binatang yang indah,
ya?"
"Tadi kami melihat ada seseorang dalam kebunmu,"
kata Larry. "Seorang wanita setengah umur. Badannya
kurus sekali, dengan hidung agak merah, kaca mata
yang saban kali terjatuh dari hidungnya. Rambutnya
disanggul. Kecil, menempel di tengkuk. Siapa dia?
Itukah Lady Candling?"
"Wah, bukan," jawab Luke. "Dia itu peneman Lady
Candling. Namanya Bu Trimble. Ia takut sekali terhadap
Pak Tupping! Soalnya, Bu Trimble bertugas memetik
bunga untuk dipajang dalam rumah. Kalau ia kebetulan
sedang memetik bunga dan Pak Tupping kebetulan ada
di kebun, Pak Tupping pasti selalu membuntuti seperti
anjing yang siap hendak menggigit. Ia selalu mengomen-
tari, 'Jika Anda memetik bunga mawar lebih banyak lagi,
pohonnya bisa mati!' Atau, 'Jika Anda memetik bunga
apiunku itu, pasti akan rontok nanti Anda tidak boleh
memetiknya pada saat matahari sedang menyinarinya.'
Pokoknya, hal-hal kayak begitulah yang terus-menerus
33
dikatakannya. Kasihan wanita tua itu, ia gemetar
ketakutan. Aku benar-benar kasihan padanya."
"Kelihatannya setiap orang takut pada Pak Tupping,"
kata Daisy. "Orangnya memang jahat. Mudah-
mudahan pada suatu waktu nanti ia akan menerima
hukuman setimpal, sebagai balasan untuk sifatnya itu.
Tapi kurasa itu tidak mungkin."
"Yuk kita melihat kebunku, Luke," ajak Bets,
sambil menarik lengan remaja itu. "Ada beberapa
kuntum bunga yang sudah mekar."
Luke ikut dengannya. Ternyata kebun itu kecil
ukurannya, semua ditanam sendiri oleh Bets. Di situ ada
sebatang semak mawar, lalu semak frambus yang kecil,
serta beberapa rumpun semak apiun.
"Bagus," puji Luke. "Kau sudah pernah memetik
buah frambus dari semakmu itu?"
'' Belum,'' jawab Bets sedih. " O ya, Luke tahun lalu
aku menanamkan dua buah arbei yang sudah ranum
sekali. Tapi sial, dari buah-buah itu sama sekali tidak
tumbuh tanaman arbei. Aku benar-benar kecewa
karenanya. Padahal aku sudah berharap-harap, akan
bisa memetik buah arbei tahun ini."
Luke tertawa geli mendengamya. Ia tertawa terbahak-
bahak.
"Aduh, Bets! Pohon arbei tidak tumbuh dari
buahnya," katanya sambil tertawa terus. "Tanaman itu
tumbuh dari sulurnya. Kau tahu kan maksudku, batang
menjulur panjang yang menjalar dari tanaman asalnya.
Dari sulur-sulur itulah kemudian tumbuh tanaman baru.
Begini sajalah kau akan kuberi beberapa sulur dari
kebun sebelah. Saat ini aku sedang sibuk membersihkan
jalur tanaman arbei, dan pasti banyak sulur yang akan
dicampakkan ke tempat sampah. Kalau kau mau, bisa
kuambilkan beberapa sulur untukmu."
34
"Tapi nanti tidak apa-apa?" tanya Bets agak sangsi.
"Maksudku, semua itu benar-benar sampah?"
"Ya semuanya akan dibakar bersama tumpukan
sampah," kata Luke. "Besok Pak Tupping kebetulan
cuti sehari. Kau datang saja ke seberang, nanti
kutunjukkan bagaimana cara sulur arbei tumbuh, dan
kuberikan beberapa batang padamu."
Keesokan harinya Bets memanjat tembok dengan
dibantu oleh Pip, dan di seberang disambut oleh Luke
yang langsung mengajaknya pergi ke galangan arbei.
Luke menunjukkan tumbuhan arbei yang muncul dari
sulur yang menjalar dari tumbuhan yang tua.
"Pintar sekali tanaman arbei ini, menumbuhkan
tanaman baru dengan cara begitu," kata Bets.
Kemudian ia melihat setumpuk sulur yang sudah
dicabuti, di atas gerobak dorong yang ada di dekat situ.
"Wah itukah yang akan dibuang, Luke?" tanya
Bets. "Berapa banyak yang boleh kuambil?"
"Ambil saja enam sulur," kata Luke. Dipilihkannya
enam sulur yang baik, masing-masing dengan tunas
tanaman arbei yang nampaknya segar. Diberikannya
keenam sulur itu pada Bets.
"Siapa itu?" tanya Bets dengan tiba-tiba, ketika
melihat ada orang datang.
"Itu Bu Trimble," kata Luke. "Kau tak perlu takut
padanya. Ia tidak apa-apa."
Bu Trimble datang menghampiri, lalu tersenyum ke
arah Bets. Anak itu tidak begitu senang melihat wanita
tua itu. Orangnya kurus-kering. Memakai kaca mata
tanpa bingkai, sisi dalamnya menekan tepi hidungnya.
Kaca mata itu saban kali merosot terus. Tapi tidak jatuh
ke tanah, karena digantungkan pada seuntai rantai
halus. Bets memandang dengan penuh perhatian. Ia
35
ingin tahu, berapa kali kaca mata itu terlepas dari batang
hidung.
"Nah, siapa gadis cilik ini?" tanya Bu Trimble sambil
menganggukkan kepala kepada Bets. Suara wanita itu
ceria, berkicau seperti suara burung. Kaca mata yang
menempel di batang hidungnya jatuh lagi, dan untuk
kesekian kalinya dipasangkan lagi ke batang hidung.
"Saya Bets, dari sebelah," jawab Bets.
"Dan apa itu yang di tanganmu?" tanya Bu Trimble
lagi, sambil memandang tanaman arbei yang digenggam
oleh Bets. "Harta yang indah, ya?"
"Bukan," jawab Bets. "Cuma beberapa sulur
tanaman arbei."
Kaca mata Bu Trimble terlepas dari batang
hidungnya, dan dipasang kembali.
"Hati-hati, jangan sampai kau dibelit sulur,"- kata
wanita tua itu, lalu tertawa geli karena leluconnya
sendiri. Menurut perasaan Bets, sebenarnya tidak terlalu
lucu. Tapi ia ikut tertawa, demi kesopanan. Dan kaca
mata Bu Trimble terlepas lagi, dan dengan cepat
ditenggerkan ke puncak hidung.
"Apa sebabnya kaca mata itu tidak tetap di
tempatnya?" tanya Bets penuh minat. "Apakah hidung
Anda terlalu tipis, sehingga selalu terlepas lagi?"
"Ah kau ini macammacam saja," kata Bu Trimble,
sambil tertawa lagi. "Nah, selamat tinggal aku masih
ada pekerjaan lain."
Bu Trimble pergi. Bets merasa lega karenanya.
"Kaca matanya enam kali terlepas dari batang
hidungnya, Luke," katanya.
"Kau ini memang luar biasa," kata Luke geli. "Tapi
mudah-mudahan saja ia tidak melaporkan pada Pak
Tupping, bahwa ia melihatmu ada di sini."
36
Malang baginya, justru itulah yang dilakukan oleh Bu
Trimble! la sebenarnya tidak bermaksud jahat. la
bahkan sama sekali tidak tahu-menahu bahwa Pak
Tupping mengusir anak-anak keluar beberapa hari
sebelumnya.
Keesokan harinya, ketika Bu Trimble sedang memetik
bunga mawar, Pak Tupping datang lalu berdiri di
belakang wanita itu sambil memperhatikan kesibu-
kannya.
Bu Trimble mulai merasa takut, seperti biasanya
apabila tukang kebun yang masam itu muncul. Sikap
orang itu begitu kasar! Bu Trimble berpaling, sambil
tersenyum ngeri.
"Pagi ini indah ya, Pak Tupping?" katanya. "Bunga
mawar ini bagus-bagus."
"Pasti takkan bagus lagi, begitu Anda selesai
mengacak-acak di sini,"kata Pak, Tupping.
"Aku kan tidak mengacak-acak," kata Bu Trimble.
"Aku tahu caranya memetik mawar."
"Ala pengetahuan Anda tidak lebih banyak
daripada anak kecil," tukas Pak Tupping, la senang
sekali melihat Bu Trimble takut pada dirinya.
Begitu mendengar anak kecil disebut-sebut, Bu
Trimble lantas teringat lagi pada Bets.
"O ya," katanya, berusaha mengalihkan pembicara-
an, "kemarin dalam kebun ada anak perempuan,
bersama Luke!"
Seketika itu juga tampang Pak Tupping menjadi
masam sekali.
"Anak perempuan di sini?" teriaknya. "Mana
Luke! Kuhajar dia habis-habisan, kalau memang benar
ia mengajak anak-anak itu kemari lagi sementara aku
tidak ada!"
la pun bergegas mencari Luke, sementara Bu Trimble
37
gemetar ketakutan. Kaca matanya terlepas lagi dari
hidungnya, dan rantainya tersangkut ke kerah bajunya
yang terbuat dari kain renda. Ada dua puluh menit
barangkali ia sibuk berusaha melepaskan rantai kusut
itu, karena jari-jari tangannya gemetar terus.
"Jahat sekali Pak Tupping itu!" gumamnya pada diri
sendiri. "Aduh moga-moga saja Luke tidak
mengalami kesulitan karena kata-kataku tadi. Luke baik
hati lagipula dia kan masih anak-anak. Mudah-
mudahan saja ia tidak mengalami kesulitan."
Apa boleh buatkini Luke benar-benar menghadapi
kesulitan besar. Pak Tupping mendatanginya dengan
langkah panjang-panjang, lalu berdiri menatapnya
dengan mata terpicing di balik alisnya yang tebal.
"Siapa anak perempuan yang datang ke sini
kemarin?" tanyanya dengan galak. "Salah-seorang
yang dari sebelah, kan? Apa diperbuatnya di sini, hah?"
"Dia tidak berbuat sesuatu yang terlarang, Pak,"
jawab Luke. "Dia anak baik."
"Kukatakan tadi, 'Apa diperbuatnya di sini!' " teriak
Pak Tupping dengan marah. "Tentu memetik buah per
atau buah plum!"
"Dia anak perempuan dari rumah sebelah," kata
Luke tersinggung. "Anak itu takkan melakukan hal-hal
kayak begitu. Saya cuma memberikan beberapa sulur
arbei untuk ditanam di kebunnya. Cuma itu saja.
Sulur-sulur itu toh akan dibakar di tumpukan sampah!"
Tampang Pak Tupping sudah tidak keruan lagi saking
marahnya. Bayangkan begitu lancangnya Luke,
berani memberikan sesuatu dari kebunnya pada orang
lain. Pak Tupping sungguh-sungguh merasa kebun itu
miliknya, dan bukan kepunyaan Lady Candling. Tak
terpikir olehnya bahwa majikannya itu pasti mau
memberikan beberapa sulur arbei pada seorang anak
38
perempuan, karena Lady Candling senang pada
anak-anak.
Tangan Pak Tupping melayang, menempeleng Luke.
Setelah itu ia langsung pergi ke tembok pagar. Luke
tidak berani mengikuti. Ia merasa yakin, anak-anak pasti
sedang pergi. Soalnya, ia mendengar suara mereka
beberapa waktu yang lalu di jalan, disertai bunyi lonceng
sepeda berdering-dering. Luke membungkuk untuk
melanjutkan pekerjaannya. Telinganya merah, bekas
tamparan Pak Tupping. Luke merasa kesal pada Bu
Trimble. Apa sebabnya wanita itu sampai harus
mengadukan Bets?
Ternyata anak-anak saat itu memang sedang pergi
naik sepeda kecuali Bets. Tujuan pesiar sekali itu
terlalu jauh untuknya. Karena itu ia ditinggal di rumah,
ditemani oleh Buster. Bets sangat jengkel. Tidak enak
rasanya, berumur lima tahun lebih muda daripada yang
lain-lain. Ia selalu tidak boleh ikut!
"Sini, Buster! Duduklah di dekatku, nanti kubacakan
cerita tentang kelinci," kata Bets. Begitu mendengar
perkataan 'kelinci', Buster langsung datang. Dikiranya
Bets hendak mengajak berjalan-jalan. Tapi ternyata
tidak. Anak perempuan itu duduk di bawah sebatang
pohon, lalu mengambil buku yang dikepit di bawah
ketiaknya. Bets mulai membacakan cerita.
"Pada suatu waktu ada seekor kelinci besar, bernama
Woffly. Kelinci itu ...."
Buster tidak kepingin mendengar cerita. Bosan!
Anjing itu lari ke pintu pekarangan. Ia duduk di situ,
menunggu anak-anak yang lain kembali. Jadi Bets
tinggal seorang diri di bawah pohon. Tiba-tiba ia
mendengar bunyi sesuatu. Ia mendongak aduh,
dilihatnya ada orang memanjat tembok pagar. Seseo-
rang bertampang galak. Pak Tupping!
39
5
PAK TUPPING BUSTER
DAN PAK GOON
40
Bets begitu kaget dan ngeri, sehingga tak mampu
bangkit untuk melarikan diri. la memandang berkeliling,
mencari-cari Buster. Tapi anjing itu sama sekali tidak
nampak. Jadi Bets hanya bisa memandang dengan
ketakutan ke arah Pak Tupping, yang datang mendekat
dengan wajah merah karena marah.
"Kaukah yang masuk ke kebunku kemarin?" tanya
orang itu.
Bets mengangguk. la tak mampu mengatakan
apa-apa.
"Kau mengambil beberapa sulur arbeiku?" tanya Pak
Tupping, dengan lebih galak lagi.
Bets masih tetap belum mampu berbicara. la
mengangguk sekali lagi. Mukanya pucat pasi. Kan tak
ada salahnya mengambil sulur-sulur arbei yang kemarin
itu. Bets sudah menanamnya dengan cermat di
kebunnya, dan mengairinya. Sulur-sulur itu sudah
kepunyaannya sekarang. Di sebelah kan cuma akan
dibuang dan dibakar!
Pak Tupping menyentakkan anak perempuan yang
ketakutan itu, sehingga berdiri.
Tunjukkan di mana kau menaruhnya," kata laki-laki
itu.
"Lepaskan aku," kata Bets, ketika akhirnya bisa
embuka mulut. "Nanti kulaporkan pada Ibu!"
"Bilang saja, kalau mau," tukas Pak Tupping. "Dan
aku akan melaporkan perbuatanmu pada Pak Goon!
Akan kukatakan pada polisi itu, kau mengambil sulur
arbeiku. Biar kau dijebloskan ke dalam penjara olehnya,
bersama Luke!"
"Anak kecil takkan dimasukkan ke dalam penjara,"
kata Bets. la mulai menangis. Ngeri rasanya, mem-
bayangkan Luke akan dipenjarakan.
"Mana tanaman arbei itu?" tanya Pak Tupping. Bets
mendului, pergi ke kebunnya. Begitu Pak Tupping
melihat galangan arbei yang ditanam dan diairi begitu
rapi, ia langsung membungkuk. Sulur-sulur yang sudah
ditanam baik-baik, dicabuti olehnya semua. Semua
dipatah-patahkannya, lalu dicampakkan ke api unggun
yang masih membara dekat situ. Bets menangis
tersedu-sedu. Ia sedih mengingat tanaman arbeinya.
"Kau anak jahat," kata Pak Tupping. "Sekarang
dengar baik-baik. Jika kau berani masuk lagi ke
kebunku, aku akan langsung pergi mendatangi Pak
Goon. Polisi itu sahabatku, tahu! Pasti dengan segera ia
akan datang ke ayahmu. Sedang mengenai Luke
sudah jelas dia akan masuk penjara."
Setelah itu Pak Tupping berpaling. Maksudnya
hendak kembali lewat tembok. Tapi sebelum sampai di
sana, Buster sudah muncul sambil berlari-lari. Anjing itu
mendengar suara Bets menangis. Ketika tercium
olehnya bau Pak Tupping, seketika itu pula ia mengerti.
Buster memang anjing yang cerdik!
Pak Tupping langsung dilabrak olehnya. Ia menyam-
41
bar kaki celana orang itu, sambil menggeram dengan
galak. Pak Tupping berteriak kaget.
"Suruh anjingmu pergi!" teriaknya. Bets memanggil
Buster.
"Jangan, Buster! Kemari!"
Tapi Buster sedang asyik. Ini dia musuhnya, berani
mengganggu Bets-nya yang tersayang sampai anak itu
menangis. Buster menggeram lagi.
Pak Tupping ketakutan. Kakinya menyepak-nyepak.
Diambilnya sepotong ranting. Buster menarik kain
celana Pak Tupping sampai robek besar. Digondolnya
robekan itu ke bawah suatu semak, untuk dikunyah-
kunyah di situ. Pak Tupping melihat ada kesempatan
baik lalu cepat-cepat memanjat tembok. Tapi ia tidak
memperhitungkan ketangkasan Buster. Secepat kilat
anjing itu muncul dari balik semak. Disambarnya mata
kaki Pak Tupping. Kena ujung kaki celananya, serta
sebagian dari kaos kaki orang itu. Pak Tupping terpekik,
lalu jatuh terguling ke balik tembok.
Bets sudah tidak tahu lagi, apakah ia masih harus
menangis atau tertawa.
"Aduh, Buster, Buster!" katanya lega. "Kau ini
memang benar-benar hebat!"
"Grrr!" geram Buster dengan senang, sambil
mengunyah-ngunyah potongan kain yang masih ada
dalam moncongnya.
Setelah itu Bets duduk kembali. la berpikir-pikir.
Sebetulnya ia ingin cepat-cepat lari ke dalam rumah,
untuk melaporkan kejadian itu pada ibunya. Ia ingin
dibujuk, karena tadi benar-benar kaget dan ketakutan.
Tapi jika kejadian itu diceritakan, jangan-jangan ibunya
akan melaporkan pada Lady Candling. Lalu Pak
Tupping akan dimarahi oleh majikannya itu. Sebagai
akibatnya, mungkin Pak Tupping akan pergi ke polisi
42
dan mengatakan bahwa Luke mencuri untuk diberikan
padanya. Pada Bets.
"Padahal Pak Goon tidak suka pada kami, sejak kami
berhasil lebih cepat daripada dia membongkar rahasia
kebakaran pondok," kata Bets pada dirinya sendiri.
"Jadi pasti ia mau saja mendengarkan segala laporan
Pak Tupping, lalu ribut-ribut mengenainya. Dan
langan-jangan Luke nanti benar dimasukkan ke dalam
penjara. Aduh, kenapa anak-anak tidak ada di sini
sekarang."
Akhirnya anak-anak itu datang juga. Fatty langsung
melihat pipi Bets yang basah kena air mata.
"Ada apa, Bets?" tanya anak gendut itu. "Kau tadi
kena marah?"
" Wah tadi ada kejadian gawat di sini," kata Bets. Ia
senang, karena kini bisa melaporkan segala-galanya
pada mereka. Dan ia pun mengisahkan segala-galanya.
Pip, Larry dan Fatty marah sekali, membayangkan Bets
yang cilik diperlakukan dengan begitu kasar. Sedang
Daisy segera merangkulnya.
"Kasihan si Bets," bujuknya. "Lalu apa yang
terjadi setelah itu?"
Bets melanjutkan kisahnya, mengenai Buster yang
merobek-robek kain celana Pak Tupping. Anak-anak
yang lain tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
Buster ditepuk-tepuk.
"Anjing hebat! Anjing hebat!" kata Pip berulang-
ulang. "Orang pencemberut kayak Pak Tupping
memang mesti dibegitukan. Anjing pintar!"
Fatty merangkul Bets.
"Kepurusanmu benar, tidak memberi tahu ibumu,"
katanya. "Maksudku, lebih baik bagi Luke apabila kita
tidak ribut-ribut mengenai kejadian ini. Soalnya, dia
43
pasti akan ketahuan, apabila Pak Goon datang untuk
memeriksa dirinya. Kalian kan tahu bagaimana sifat
Luke. Selalu ketakutan menghadapi orang dewasa,
hanya karena sering diperlakukan dengan tidak adil."
"Bayangkan tanaman Bets diobrak-abrik dengan
seenaknya," kata Pip jengkel. "Coba aku sudah cukup
besar pasti Pak Tupping langsung kudatangi. Akan
kugoncang-goncang dia, sampai semua giginya
rontok!"
Anak-anak yang lain tertawa. Memang, semuanya
kepingin bisa begitu, apabila teringat pada Bets yang
malang serta tanaman arbeinya yang begitu disayangi.
Buster menggonggong, sambil mengibaskan ekor.
"Katanya, ia tadi sudah berusaha menggoncang-
goncang Pak Tupping!" kata Daisy.
Anak-anak yang lebih besar sibuk menghibur Bets,
sebagai obat ketakutannya tadi. Semuanya bersikap
ramah padanya. Larry pulang ke rumah sebentar. la
meminta pada ibunya, apakah ia boleh mengambil
beberapa tanaman arbei untuk diberikan pada Bets.
Ketika diijinkan, ia mengambil beberapa sulur lalu
menanamkannya untuk anak itu. Tentu saja anak kecil
itu senang sekali.
Fatty membelikan sebuah buku sebagai hadiah.
Seluruh uang sakunya habis untuk itu. Tapi ia tidak
mengatakan apa-apa. Orang kalau memberi hadiah,
memang tidak pantas membicarakan harganya.
Daisy memberikan sebuah bonekanya yang sudah
agak tua. Bets lebih senang lagi menerima hadiah itu.
Bahkan Pip pun, yang biasanya terlalu sibuk sendiri
untuk menemani adiknya yang dikatakan masih bayi itu,
sekali ini mengajaknya berputar-putar dalam kebun naik
sepedanya yang besar. Jadi Bets benar-benar terlipur
perasaannya!
44
45
Kemudian timbul rasa ingin tahu pada diri anak-anak
itu, apakah Luke juga mengalami kesulitan. Pukul lima
sore, begitu terdengar bunyi siulannya yang biasa,
mereka cepat-cepat berlari ke pintu pekarangan depan.
Remaja itu berjalan kaki pulang.
"Luke!" sapa mereka. "Bagaimana Pak Tupping
sampai bisa tahu mengenai Bets dan tanaman arbei itu?
Kau mengalami kesulitan karenanya atau tidak? Kau
tahu, Pak Tupping menyebabkan Bets tadi ketakutan
setengah mati?"
"Kasihan si Bets," kata Luke. "Aku tidak menyangka
dia ada di rumah. Coba kalau tahu, pasti kucegah Pak
Tupping pergi ke sebelah. Kukira kalian pergi semua.
Soalnya, kudengar bunyi lonceng sepeda kalian tadi di
jalan. Ketika Pak Tupping kembali dan mengatakan
padaku bahwa ia sudah memarahi Bets dan mencabuti
semua tanaman arbeinya huh, saat itu kepingin
rasanya aku melabrak orang itu. Tapi kalau itu
kulakukan, pasti ia akan langsung melapor pada Pak
Goon. Jadi apa gunanya?"
"Kau tadi dimarahi juga olehnya?" tanya Bets. "Dan
bagaimana ia bisa tahu tentang diriku?"
"Mestinya diceritakan oleh Bu Trimble," kata Luke.
"Ya, aku memang kena marah. Aku ditempeleng, lalu
disuruh bekerja lebih berat lagi daripada biasanya. Aku
kepingin bisa berhenti saja."
"Menurut perasaanku juga lebih baik begitu," kata
Larry. "Tapi kenapa tidak bisa?"
"Soalnya ini pertama kalinya aku bekerja dan
sebaiknya bertahan selama masih bisa di tempat kerja
yang pertama," kata Luke menjelaskan. "Kecuali itu
masih ada soal lain. Pasti Pak Tupping akan
menjelek-jelekkan diriku jika aku minta berhenti,
sehingga aku tidak bisa mendapat pekerjaan di tempat
lain. Kalau itu sampai terjadi, aku bisa ribut dengan ayah
tiriku nanti. Aku harus menyerahkan setengah dari
upahku padanya."
"Banyak sekali kesulitanmu, Luke." kata Daisy.
"Kepingin rasanya bisa ikut membantu."
"Dengan begini pun kalian sudah menolong diriku,"
kata Luke. "Aku kan menceritakan macam-macam
kesulitanku pada kalian. Tidak lagi harus kusimpan
dalam hati, seperti selama ini. Lega rasanya, kalau bisa
menceritakan kesulitan dirisendiri pada orang lain. He.
lihatlah itu Pak Goon, polisi desa!"
Seorang laki-laki bertubuh gempal, bermuka merah
dengan mata melotot seperti mata kodok melangkah di
jalan desa, menuju ke tempat anak-anak sedang
berkumpul.
"Mungkinkah dia hendak ke tempat Pak Tupping?"
tanya Bets. la sudah mulai was was lagi.
"Entah," kata Luke. la pun mulai takut. Luke selalu
takut kalau melihat polisi. Apalagi melihat Pak Goon,
karena orang itu bukan polisi yang ramah.
"Jangan-jangan kita disuruhnya pergi dari sini," bisik
Daisy. "Kalian masih ingat begitu sering ia
meneriakkan 'Ayo pergi!' pada kita ketika liburan
Paskah yang lalu? Memang dasar jahat!"
Dengan langkah pelan Pak Goon datang mengham-
piri. Anak-anak memperhatikan terus. Buster mulai
menggeram-geram. Sedang Pak Goon pura-pura tidak
melihat mereka. Ia sama sekali tidak senang pada
anak-anak itu, sejak mereka berhasil memecahkan
teka-teki suatu peristiwa yang ingin diselidikinya sendiri
sampai berhasil.
Tahu-tahu Buster menerjang maju. Ia lari berkeliling-
keliling sambil menggonggongi mata kaki polisi itu. Ia
46
tidak bermaksud menggigit. Tapi begitu pun Pak Goon
sudah kaget setengah mati.
"Ayo pergi!" katanya pada Buster dengan nada
mengancam. "Kaudengar kataku! Pergi!"
"Sini, Buster!" panggil Fatty. Tapi nadanya tidak
memerintah. Jadi tak diacuhkan oleh Buster. Anjing itu
benar-benar bahagia. Mula-mula Pak Tupping, seka-
rang giliran Pak Goon yang bisa ditakut-takuti. Wah
asyik sekali anjing kecil yang hitam legam itu.
"Ayo PERGI!" bentak Pak Goon. Tawa Luke
meledak, melihat betapa cekatan Buster meloncat untuk
mengelakkan tendangan polisi itu. Kini Pak Goon
memandang ke arahnya.
"He!" katanya. "Awas kalau berani menertawakan
hukum, nanti kau akan mengalami kesulitan. Apa yang
kauperbuat di sini? Ayo pergi!"
"Dia teman kami," kata Fatty. "Buster! Sini, Buster!"
Tahu-tahu nampak Pak Tupping muncul di pintu
pekarangan rumah sebelah. Rupanya ia mendengar
gonggongan anjing, lalu keluar untuk memeriksa.
Dengan segera ia mengenali Buster.
"Kaulaporkan saja anjing itu," katanya pada Pak
Goon. "Tadi celanaku dirobeknya! Lihatlah ini
bekasnya! Itu anjing jahat anjing buas."
Kemudian ia melihat Luke.
"Apa yang kaulakukan di sini dan tidak langsung
pulang ke rumah?" tukasnya. Luke dengan segera
mengambil langkah seribu. Ia bergegas pergi. Lebih baik
jangan cari perkara, dengan Pak Tupping atau Pak
Goon.
Buster sudah merasa menang. Ia pergi menghampiri
Fatty, yang mengangkatnya.
47
"Benar-benar anjing buas," kata Pak Tupping sekali
lagi. "Kalau kau memerlukan keterangan selengkapnya,
Pak Goon, aku bisa memberinya."
Pak Goon tidak bermaksud melaporkan Buster.
Karena ia tahu, setiap laporan akan sampai di meja
Inspektur Jenks. Dan atasannya itu ramah terhadap
anak-anak yang berdiri di dcpannya saat itu. Tapi
menurut pikirannya, tak ada salahnya berpura-pura
akan melaporkan kebuasan Buster. Dikeluarkannya
buku catatannya yang besar dan hitam dari kantong baju
seragamnya. Diambilnya sebatang pinsil pendek, lalu ia
mulai menulis lambat-lambat. Serius sekali sikapnya!
Anak-anak mulai ketakutan. Dengan cepat mereka
kembali ke pekarangan rumah Pip dan Bets. Bets
memandang Buster. Rasa takutnya timbul lagi.
"Apakah apakah Buster akan dimasukkan ke
dalam penjara?" tanyanya dengan suara lirih. Alangkah
lega perasaannya, ketika melihat anak-anak tertawa
terpingkal-pingkal mendengar pertanyaannya itu.
"Tentu saja tidak," kata Fatty. "Mana ada penjara
untuk anjing, Bets. Kau tak perlu khawatir tentang si
Buster ini!"
48
DARK QUEEN HILANG
Setelah itu terjadi peristiwa yang saling menyusul
dengan cepat. Dan tahu-tahu Pasukan Mau Tahu sudah
kembali menghadapi misteri rumit yang perlu di-
pecahkan.
Pagi itu anak-anak sedang asyik bermain dalam
kebun rumah Pip dan Bets. Ramai sekali suara berteriak
dan berseru-seru. Mereka sedang bermain Indian-
Indianan. Setelah beberapa saat, Bets agak capek
karena keributan itu. la lantas minta jadi squaw saja.
Squaw itu kaum wanita Indian, yang kerjanya
duduk-duduk dalam tenda yang disebut wigwam.
Menurut pikirannya, jadi squaw lebih aman. Tidak perlu
khawatir tertangkap dan dikelupas kulit kepalanya, atau
diikat ke pohon dan dihujani tembakan panah!
Sorenya Bu Hilton, yaitu ibu Pip dan Bets, bertamu ke
tempat Lady Candling, yang sudah kembali dari berlibur
beberapa waktu di tempat lain.
"Kalian sore ini boleh piknik dalam kebun," kata Bu
Hilton pada Pip. "Daisy! Jaga baik-baik ya, jangan
sampai ada yang nakal. Kalau bekal kalian kurang, minta
saja dengan sopan pada juru masak. Ingat sopan,
kataku. Minta padanya agar dibikinkan roti dengan
mentega lagi."
49
6
50
"Baiklah, Bu Hilton. Terima kasih banyak," kata
Daisy. Dan sore itu pukul setengah empat, Bu Hilton
pergi ke sebelah. Apik sekali dan danannya. Anak-anak
memperhatikannya pergi. Mereka merasa beruntung,
bukan mereka yang harus berdandan rapi-rapi untuk
menghadiri perjamuan minum teh. Lebih enak piknik,
bisa berpakaian seenaknya!
Asyik sekali mereka makan-makan sore itu. Dua kali
mereka minta tambah. Daisy yang memintakan ke
dapur. la tidak lupa bertanya dengan sopan pada juru
masak. Di samping rati, mereka juga diberi buah-
buahan. Jadi acara piknik mereka benar-benar
memuaskan.
Tidak lama kemudian Bu Hilton kembali. la langsung
mendatangi anak-anak. Wajahnya nampak prihatin.
"Anak-anak," katanya, "kalian tahu apa yang terjadi
di sebelah? Seekor kucing indah yang sering meme-
nangkan pertandingan, hilang! Namanya Dark Queen.
Lady Candling sangat bingung, karena kucing itu yang
paling berharga di antara kucing-kucing piaraannya.
Dan yang lebih gawat lagi ada kemungkinan Luke
yang mencurinya!"
"Bu!" tukas Pip dengan nada tersinggung. "Luke itu
sahabat kami. la takkan mungkin berbuat jahat seperti
itu!"
"Ya, betul tak mungkin!" sambung Bets.
"Wah, Bu Hilton," kata Fatty serius, "saya rasa tak
sepantasnya Anda menuduh Luke berbuat begitu!"
"Aku tidak mengatakan dia melakukannya," kata Bu
Hilton. "Aku tadi bilang, ada kemungkinan dia yang
mencuri. Semua tanda yang ada menunjukkan bahwa
cuma dia saja yang mempunyai kesempatan untuk
melakukannya."
"Tapi bukan dia, tak mungkin dia," kata Daisy. "Anak
itu sangat jujur wataknya. Lebih masuk akal jika yang
melakukan Pak Tupping, orang jahil itu."
"Tupping pergi sepanjang siang sampai sore bersama
Pak Goon. Kelihatannya ia berteman dengan polisi itu,"
kata Bu Hilton. "Jadi mustahil dia yang mencuri kucing
itu."
Anak-anak memandang Bu Hilton dengan perasaan
cemas bercampur bingung. Fatty yang paling dulu pulih
akal sehatnya.
"Luke itu sahabat baik kami, Bu Hilton," katanya,
"dan kalau ia mengalami kesulitan, kami harus
menolong dia. Saya merasa yakin. dia tak ada
sangkut-pautnya dengan peristiwa hilangnya Dark
Queen. Sama sekali tidak! Maukah Anda menceritakan
seluruh kejadiannya pada kami? Kelihatan.nya ada tugas
lagi untuk Pasukan Mau Tahu."
"Aduh, Frederick janganlah sok aksi kalau bicara,"
tukas Bu Hilton dengan sikap tak sabaran. "Dan jangan
ikut campur dalam urusan ini. Ini bukan urusan kalian!
Mentang-mentang kalian pernah berhasil memecahkan
satu misteri dengan baik, jangan lantas mengira kalian
bisa dengan seenaknya mencampuri setiap perkara
yang terjadi."
Muka Fatty berubah menjadi merah padam warna-
nya. Tak enak hatinya, diomeli di depan kawan-kawan.
"Bu, ceritakanlah apa sebetulnya yang terjadi di
sebelah," kata Pip meminta pada ibunya.
"Yah," kata Bu Hilton, "Nona Harmer mendapat cuti
sehari sejak pagi tadi, setelah memberi makan kucing
serta membersihkan kandang-kandang mereka. Untuk
hari ini Dark Queen dimasukkan ke dalam kandang
besar, bersama kucing-kucing yang lain. Kemudian
Nona Harmer pergi, naik bis pukul sepuluh. Pukul satu
51
kurang sedikit Bu Trimble ikut dengan Lady Candling ke
kandang kucing untuk melihat keadaan mereka.
Sesampai di situ Pak Tupping menunjukkan di mana
Dark Queen berada. Kalian tahu kan, betapa cantiknya
kucing itu."
Anak-anak mengangguk.
"Terus, Bu," kata Pip. "Itukah kali terakhir Dark
Queen ketahuan ada di situ?"
"Tidak," jawab ibunya. "Sekitar pukul empat sore Bu
Trimble mengantarkan aku melihat kucing-kucing itu,
sebelum teh dihidangkan. Waktu itu Dark Queen masih
ada dalam kandang bersama kucing-kucing lainnya."
"Dari mana Ibu tahu, Bu?" tanya Pip. "Bagaimana
Ibu bisa tahu itu Dark Queen? Semuanya kan persis
sama kelihatannya."
"Betul," kata ibunya, "tapi Dark Queen rupanya
pernah digigit kucing lain ekornya, dan di tempatbekas
gigitan itu bulunya tumbuh lagi berwarna kuning susu
bukan coklat tua. Ketika Bu Trimble menunjukkan
kucing itu padaku, aku sempat memperhatikan gelang
berwarna kuning susu di ekornya. Kelihatan jelas sekali!
Jadi pukul empat sore kucing itu masih ada dalam
kandang."
"Lalu," desak Pip.
"Pukul lima Pak Tupping kembali, bersama Pak
Goon," sambung Bu Hilton. "Mula-mula ia memamer-
kan tanaman tomatnya yang tumbuh subur pada polisi
itu. Setelah itu mereka pergi ke kandang kucing. Nah
saat itu dengan tiba-tiba Pak Tupping melihat bahwa
Dark Queen tidak ada lagi dalam kandang!"
"Astaga!" seru Fatty. "Jadi dia mestinya hilang antara
pukul empat dan pukul lima, Bu Hilton."
"Tepat," kata Bu Hilton. "Dan karena saat itu cuma
Luke saja satu-satunya yang ada dalam kebun, maka
52
aku khawatir dialah satu-satunya yang dicurigai
mencuri. la tahu, kucing itu mahal sekali harganya. Kata
Tupping, anak itu pernah mencuri pula beberapa hari
yang lalu. Sulur arbei, atau sesuatu yang sepele seperti
itu."
Muka Bets merah. Air matanya berlinang-linang.
Sialan sulur arbei itu! la bimbang, ingin bercerita pada
ibunya tentang persoalan itu. Tapi Fatty menatapnya
dengan kening berkerut, untuk memperingatkan agar
jangan membuka mulut.
"Ya, begitulah," kata Bu Hilton lagi, sambil
melepaskan sarung tangan. "Tapi kurasa Luke kawan
kalian itu kini menghadapi kerumitan besar. Nampaknya
tak ada yang melihat dirinya antara pukul empat dan
pukul lima. Jadi mungkin saja kucing itu dimasukkannya
ke dalam keranjang, lalu dibawanya ke salah satu
tempat."
"Tak mungkin Luke berbuat begitu, Bu!" Bets sudah
tidak tahan lagi. "Ibu tidak tahu sih, anak itu sangat baik
budi dan jujur. Banyak sekali peluit buatannya sendiri
yang dihadiahkannya padaku. la juga membuatkan
patung Dark Queen yang bagus sekali. Ini dia, Bu
lihatlah!"
"Sebetulnya lebih baik kalian jangan berteman
dengan orang-orang seperti begitu," tukas ibunya. la
sama sekali tak memperhatikan patung kucing yang
disodorkan Bets padanya. "Kalian semua belum cukup
besar, sehingga belum bisa membedakan siapa yang
betul-betul jujur dan siapa yang tidak. Kalian jangan
bicara lagi dengan Luke, ya!"
Sehabis itu Bu Hilton masuk ke rumah. Anak-anak
saling berpandangan dengan perasaan kecewa dan
sedih.
"Ibumu tidak bisa melarang kita bicara dengan
53
Luke," kata Fatty pada Pip dan Bets. "Kita harus bicara
dengan dia. Luke teman kita, dan sudah sering
menolong kita serta Buster. Jadi sekarang kita wajib
menolong dirinya."
Teman-temannya sependapat. Mereka duduk selama
beberapa saat sambil berpikir-pikir. Kemudian mulai
berunding.
"Pasti ada seseorang yang mencuri Dark.Queen,"
kata Fatty membuka pembicaraan. "Itu sudah jelas! Dan
kelihatannya, cuma Luke saja yang mungkin melaku-
kannya. Tapi kita yakin tak mungkin dia! Jadi kalau
begitu siapa?"
"Yuk kita mencari jejak pencurinya," kata Bets
bersemangat. la teringat kembali, betapa asyiknya
mereka mencari-cari jejak dalam perkara misterius yang
berhasil mereka pecahkan kemudian.
"Kita menyusun daftar orang-orang yang patut
dicurigai!" kata Daisy. "Persis yang kita lakukan dulu!"
"Nah, kurasa kini Pasukan Mau Tahu bisa mulai
beroperasi lagj," kata Fatty dengan gaya tokoh penting.
"Kuusulkan.... '
"He!" potong Larry. "Kau melupakan sesuatu, Fatty.
Akulah pemimpin Pasukan Mau Tahu. Bukan kau!"
"Ya deh," kata Fatty agak merajuk. "Kalau begitu
mulai sajalah! Asal kau tahu saja, otakku jauh lebih
cerdas. Selama semester yang lalu aku ini juara kelas,
dan ...."
"Ah tutup mulut, Fatty!" kata anak-anak
serempak. Kecuali Bets. Anak kecil itu diam saja. Fatty
kelihatannya sudah mau pergi saja. Tapi ia tidak bisa
merajuk berlama-lama, karena terlalu kepingin tahu dan
berminat ikut dalam penyelidikan itu. Tak lama
kemudian kelima anak itu sudah sibuk memperunding-
kan rencana mereka.
54
"Sekarang kita pikirkan dulu persoalan itu dengan
kepala dingin," kata Daisy. "Pukul empat tadi Dark
Queen masih ada dalam kandang bersama kucing-
kucing lainnya, karena itulah saat ibu Pip melihatnya di
situ ketika ia datang menengok bersama Bu Trimble.
Tapi ketika Pak Ayo Pergi dan Pak Tupping datang
melihat sekitar pukul lima, kucing itu sudah tidak ada
lagi. Jadi dalam wakru satu jam itu mestinya ada
seseorang datang menyelinap ke kandang, membuka
pintunya, mengambil Dark Queen, menutup pintu
kandang lagi lalu pergi sambil membawa kucing itu
untuk diserahkan pada orang lain. Atau disem-
bunyikan!"
"Betul," kata Larry. "Pemaparanmu sangat jelas,
Daisy."
"Soal berikutnya siapakah yang mungkin mencuri
kucing itu? Siapa yang rasa-rasanya bisa dicurigai?"
tanya Pip.
"Yah kurasa Bu Trimble bisa saja menyelinap
pergi, lalu mengambil Dark Queen," kata Fatty. "Bisa,
tapi kemungkinannya kecil sekali! Bu Trimble itu kan
termasuk orang yang langsung panik, kalau tanpa
sengaja mengeposkan surat tanpa menempelkan
perangko di sampulnya. Kejadian begitu saja pasti
membuatnya termimpi-mimpi malamnya. Tapi walau
begitu kita harus memperrimbangkan setiap orang yang
memiliki kesempatan mencuri Dark Queen."
Larry mengambil sebuah buku notes dari kan-
tongnya.
"Akan kutuliskan nama-nama mereka di sini,"
katanya. "Bu Trimble. Itu sudah satu. Bagaimana
dengan Lady Candling?"
"Kau ini masak dia mencuri kucingnya sendiri,"
kata Daisy.
55
"Kenapa tidak mungkin?" bantah Larry. "Siapa tahu.
kucing itu diasuransikan terhadap pencurian. Jadi kalau
kucing itu hilang karena dicuri, Lady Candling akan
menerima uang yang banyak sebagai ganti rugi. Hal-hal
begini perlu juga kita pertimbangkan." Lalu ditulisnya
nama Lady Candling dalam buku notesnya.
"Pak Tupping?" kata Bets.
Dengan sikap menyesal, Larry menggeleng.
"Tak mungkin, Bets." katanya. "Aku sebetulnya
kepingin bisa menuliskan namanya dalam daftar ini.
Tapi jika ia sepanjang siang terus bersama Pak Ayo
Pergi, percuma saja kita mencurigai dirinya. Tapi
bagaimana dengan Nona Harmer? Mungkinkah ia
menyelinap kembali setelah berangkat, lalu mengambil
kucing itu? la pun tahu. Dark Queen sangat mahal
harganya."
Itu pikiran baru bagi mereka. Semua lantas
membayangkan wajah Nona Harmer, gadis bertubuh
montok yang selalu tersenyum itu. Dia bukan potongan
orang yang sampai hati mencuri kucing yang berharga
milik majikannya. Tapi namanya tetap dituliskan
dalam daftar orang-orang yang dicurigai.
"Kita sebaiknya menyelidiki di mana dia berada
antara pukul empat dan lima tadi," kata Pip.
"Siapa lagi yang masih ada?" tanya Daisy. "Yang
sudah kita catat Bu Trimble, Lady Candling, lalu Nona
Harmer. Bagaimana dengan juru masak serta pembantu
rumah tangga di sebelah? Keduanya kan juga bisa saja
mencuri-curi kesempatan untuk menyelinap ke kandang
kucing, lalu mengambi! Dark Queen?"
"Aku belum pemah melihat mereka," kata Pip. "Tak
seorang pun di antara kita pemah melihat kedua orang
itu. Kita perlu mengadakan penyelidikan tentang
mereka. Wah banyak juga orang yang perlu dicurigai
56
rupanya! Cukup banyak pekerjaan yang harus di-
lakukan!"
"Satu-satunya orang yang cukup jahat sehingga
pantas melakukan perbuatan itu cuma Pak Tupping
tapi justru dia satu-satunya yang tak mungkin bisa
dicurigai," kata Bets sedih. "Yah, tak ada lagi kecuali
yang tadi, kan?"
"Kita harus mengikutkan nama Luke dalam daftar
ini," kata Larry. "Aku tahu, kita tidak mencurigai dirinya!
Tapi Pak Tupping mendakwa bahwa ialah yang mencuri
kucing itu jadi sebaiknya kita tuliskan juga namanya
dalam daftar ini. Kapan-kapan kita mau, bisa kita coret
lagi."
Jadi nama Luke pun ikut tercatat sebagai orang yang
dicurigai. Kasihan remaja itu selalu dilanda kesulitan.
"Yuk, kita panggil dia," kata Larry. "Dia belum
pulang, karena kalau sudah mestinya sudah tadi-tadi ia
bersiul memanggil kita, untuk menceritakan segala-
galanya."
Anak-anak menghampiri tembok pagar, lalu menyiul-
kan nada-nada khusus yang sudah disepakatkan
dengan Luke sebagai isyarat panggilan. Tapi sampai
pegal bibir mereka bersiul, Luke tetap tidak muncul. Ke
manakah anak itu?
57
7
LUKE DIDAKWA MENCURI
58
Kelima anak itu duduk di atas tembok, sementara
Buster menggaruk-garuk dinding batu di bawah mereka.
Anak-anak itu memikirkan tindakan selanjutnya. Pip
melirik jarum arlojinya.
"Pukul enam kurang seperempat," katanya.
"Jangan-jangan Luke sudah pulang. Tapi mustahil
pasti ia mampir sebenrar, untuk berbicara dengan kita."
"Mungkin ia sedang diperiksa Pak Ayo Pergi." kata
Fatty. Kemungkinan itu bisa diterima. Anak-anak
kepingin bisa menyelidiki kebenarannya.
Kemudian Fatty mendapat akal.
"He, Pip," katanya, "kau bisa menyelidiki apa yang
terjadi, kalau kau mau."
"Bagaimana caranya?" tanya Pip.
"Ibumu tadi kan diundang minum teh di sebelah,"
kata Fatty menjelaskan. "Jadi kau pergi saja ke situ,
untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Lalu kalau
ada orang melihatmu lalu bertanya apa yang kauperbuat
di situ, bilang saja ibumu tadi diundang minum teh oleh
Lady Candling. Dan kau ke situ karena ingin melihat,
barangkali saja sapu tangan ibumu tercecer di kebun."
"Tapi ibuku sama sekali tidak kehilangan sapu
tangan," kata Pip. "Kau tidak melihatnya mengeluarkan
barang itu dari tasnya tadi, ketika sedang bicara dengan
kita? Harum sekali baunya."
"Tentu saja aku juga melihatnya, Goblok," kata Fatty
tak sabar. "Itu kan cuma alasan saja. Kau tak perlu
mengatakan ibumu kehilangan sapu tangan, karena kita
tahu itu tidak betul. Tapi kau kan boleh saja bilang
'mungkin'?"
"Bagus ide si Fatty itu," kata Larry. "Itulah
satu-satunya jalan bagi salah seorang di antara kita untuk
masuk ke kebun, tanpa langsung diusir lagi oleh Pak
Goon atau Pak Tupping. Melompat sajalah ke sebelah,
Pip dan cobalah selidiki apa yang terjadi di situ.
Cepatlah sedikit! Untung saja ibumu baru saja kembali
dari perjamuan teh di sana."
Pip sebenarrtya kepingin sekali pergi. Tapi ia juga
takut ketahuan oleh Pak Tupping, atau Pak Goon.
Akhirnya ia membulatkan tekat. Ia meloncat ke sebelah,
melambaikan tangan ke arah kawan-kawannya, lalu
menyelinap pergi di sela semak.
Luke sama sekali tak nampak. Pip bergerak melewati
kandang kucing. Di situ pun tak ada siapa-siapa. Ia
mengintip ke dalam kandang tempat Dark Queen tadi
bersama kucing-kucing lainnya. Kucing-kucing itu
memandangnya sambil mengeong-ngeong. Pip terus
berjalan. Melewati rumah pesemaian, lalu berdiri di balik
semak. Terdengar olehnya suara beberapa orang di
dekat situ,
Pip mengintip dari balik semak. Dilihatnya beberapa
orang berdiri di atas rumput. Kebanyakan dari mereka
dikenal oleh Pip.
"Itu Lady Candling," katanya dalam hati. "Dan itu Bu
Trimble. Wah, kelihatannya sangat gelisah. Dan itu Pak
Tupping. Tampangnya nampak senang dan sok
59
penting! Lalu itu Pak Ayo Pergi, polisi desa. Dan itu
kasihan, itu Luke!"
Luke berdiri di tengah kerumunan orang itu.
Tampangnya bingung dan sangat ketakutan. Pak Goon,
polisi desa, berdiri menghadapi Luke dengan buku
catatan yang besar di tangannya. Luke tergagap-gagap
menjawab pertanyaan yang dibentakkan bertubi-tubi
padanya oleh Pak Goon.
Sedikit terpisah dari orang-orang itu ada dua orang
wanita. Pasti itulah juru masak serta pembantu rumah
tangga, pikir Pip. Kedua wanita itu berbisik-bisik sambil
saling menyenggol.
Pip merayap, mendekati orang-orang itu. Sekarang
bisa didengarnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
pada Luke yang nampak semakin takut.
"Apa yang kaulakukan sesiang ini?"
"Saya saya tadi si-sibuk menggali kacang
polong di galangan panjang," kata Luke terbata-bata.
"Maksudmu galangan yang di dekat kandanc
kucing?" tanya Pak Goon, sambil menuliskan sesuatu
dalam buku catatannya.
"Be-be-betul, Pak," kata Luke.
"Jadi sesiang ini kau selalu berada di dekat tempat
kucing-kucing itu?" desak polisi desa. "Ada orang
da tang ke situ?"
"Bu T-t-trimble, Pak, sek-sekitar puk-pukul empat,
bersama seorang nyonya," kata Luke, sambil menyi-
bakkan rambutnya yang acak-acakan ke belakang.
"Mereka berdiri di situ selama beberapa menit, lalu pergi
lagi."
"Lalu apa yang kaulakukan dari pukul empat sampai
pukul lima tadi?" tanya Pak Goon. Suaranya galak
sekali. Luke nampaknya sudah nyaris pingsan, saking
ketakutan.
60
"Tid-tidak ap-apa-apa, Pa-pak cuma mengg-g-gali
saja," katanya semakin gugup. "Mengg-g-gali terus
dek-dekat kandang kuc-c-c-cingg. Waktu itu sama sekali
tak ada orang datang, sampai Anda ingin melihat
kucing-kucing itu bersama Pak Tupping."
"Dan ketika kami melihat ke dalam kandang, ternyata
Dark Queen tidak ada lagi di situ," sela Pak Tupping
dengan suara galak. "Nah, Pak Goon buktinya sudah
jelas, bukan? Dark Queen dicuri antara pukul empat dan
pukul lima dan kini anak ini menyatakan selama itu
tak ada orang lain kecuali dia sendiri di dekat
kucing-kucing itu. Dialah yang mencuri Dark Queen!
Tak ada keraguan lagi mengenainya dan kucing itu
dijualnya pada salah-seorang temannya, untuk mempe-
roleh tambahan uang saku. Luke ini memang anak
jahat. la sudah selalu begitu, sejak bekerja untukku."
"Saya tidak jahat, Pak Tupping!" seru Luke, yang
tiba-tiba menjadi agak berani. "Saya belum pernah
mengambil sesuatu yang bukan milik saya! Selama ini
saya selalu bekerja keras untuk Anda! Apa saja yang
Anda lakukan, selalu saya terima walau kadang-.
kadang sudah keterlaluan. Anda tahu betul, saya takkan
pernah mau mencuri salah satu kucing itu. Memikirkan-
nya saja, saya sudah takut!"
"Cukup! Cukup!" potong Pak Goon dengan galak.
"Kau tidak boleh bicara begitu terhadap Pak Tupping.
Anak macam kau ini perlu dipukul rupanya!"
"Ah, soal itu bisa kuurus," kata Pak Tupping
mencemooh. "Aku bicara saja sebentar dengan ayah
tirinya. Dia tahu bagaimana watak anak ini!"
"Kurasa kita belum perlu mengatakan apa-apa pada
ayah tiri Luke, Tupping," kata Lady Candling dengan
suara pelan tapi jelas. "Sebelum kita lebih banyak
mengetahui kejadian aneh ini."
61
Pak Tupping kelihatan agak kaget. Sedari tadi ia asyik
sendiri, sampai nyaris lupa Lady Candling juga ada di
situ. Luke berpaling pada majikannya itu.
"Saya harap Nyonya tidak mau percaya begitu saja
pada kata-kata Pak Tupping dan Pak Goon mengenai
din saya," katanya penuh harap. "Sungguh, bukan saya
yang mencuri Dark Queen. Saya tidak tahu di mana
kucing itu sekarang. Saya belum pernah rnengambil
sesuatu tanpa ijin dari kebun Anda!"
"Kau bohong!" 'kata Pak Tupping dengan nada
menang. "Lalu bagaimana dengan sulur-sulur arbei itu,
hah?"
Pip kaget sekali melihat Luke tiba-tiba menangis
tersedu-sedu. Tubuhnya yang kekar tergoncang-
goncang karena isakannya. Lengannya menutupi
mukanya. Rupanya ia sudah sangat ketakutan dan
bingung.
"Biarlah ia pulang sekarang," kata Lady Candling
dengan suara lembut. "Anda sudah cukup memeriksa
dirinya. Dia kan baru lima belas tahun umurnya. Pak
Goon, saya minta Anda mau pergi sekarang juga. Kau
juga Luke pulang sajalah dulu."
Pak Goon kelihatannya sama sekali tidak senang. Ia
merasa menyesal, karena tidak bisa memperlakukan
Luke seperti pesakitan yang sudah dewasa. Ia tahu, anak
itu harus diperbolehkannya pulang. Dan ia pun merasa
tidak enak, karena disuruh pergi oleh Lady Candling.
Sambil mendehem-dehem dengan suara nyaring,
diliriknya Lady Candling dengan pandangan mence-
mooh, lalu ditutupnya buku catatannya yang besar.
"Aku masih perlu bicara sedikit dengan ayah tirimu,"
katanya dengan lagak penting pada Luke. Anak itu
langsung pucat mendengar kata-katanya itu. Ia takut
sekali pada ayah tirinya.
62
"Aku ikut, kata Pak Tupping, karena siapa tahu,
mungkin saja ayah tirinya itu bisa memberi keterangan
pada kita tentang kawan-kawan anak ini. Dark Queen
pasti diberikannya pada salah seorang dari mereka."
Jadi Luke pergi, diapit Pak Goon dan Pak Tupping.
Kasihan anak itu, sekali-sekali masih terdengar isakan-
nya. Pip merasa benci sekali kepada kedua laki-laki
dewasa itu. Kasihan si Luke! Sedikit pun tak ada
kesempatan baginya untuk membela diri.
Pip tidak tahu bahwa kedua laki-laki itu akan
membawa Luke lewat dekat tempatnya bersembunyi.
Karenanya ia tidak sempat mundur ke balik semak yang
lebat, supaya tidak ketahuan. Tiba-tiba Pak Tupping
melihat muka Pip yang mengintip dari celah semak
bunga.
Pak Tupping berhenti, lalu melangkah dengan cepat
ke samping. Pip dicengkeramnya, lalu ditariknya ke luar.
"Apa yang kaulakukan di sini?" bentaknya. "Ini satu
dari kawanan anak sebelah, Pak Goon," katanya pada
polisi desa yang memandang sambil tercengang.
"Mereka selalu mengintip-intip ke sini. Akan kugiring dia
sekarang juga ke majikanku, biar dimarahi habis-
habisan!"
Luke hanya bisa memandang sambil melongo,
sementara Pip digiring dengan kasar oleh tukang kebun
yang marah-marah. Lady Candling mendengar suara
ribut-ribut, lalu kembali ke kebun untuk melihat apa lagi
yang terjadi sekarang.
"Lepaskan aku!" tukas Pip. "Orang jahat! Lepaskan,
kataku sakit tanganku kaupilin!"
Pak Tupping memang sengaja melakukannya. Dan
Pip juga tahu. Tapi ia tidak berdaya. Dengan segera
mereka sudah berdiri di depan Lady Candling. Nyonya
itu kelihatan sangat heran.
63
64
"Saya menjumpai anak ini bersembunyi dalam semak
sebelah sana," kata Pak Tupping melaporkan. "Saban
kali, selalu ada saja anak-anak di situ. Mereka
teman-teman Luke. Pasti mau berbuat jahat."
"Apa yang kaulakukan dalam kebunku?" tanya Lady
Candling dengan nada garang.
"Ibu saya baru saja minum teh di sini bersama Anda,
Lady Candling," kata Pip dengan nada sesopan-
sopannya. "Anda tidak kebetulan menemukan sapu
tangannya yang ketinggalan?"
"Astaga! Jadi kau ini Philip, putra Bu Hilton?" kata
Lady Candling, sambil tersenyum padanya. "Ibumu tadi
bercerita tentang dirimu. Kau kan punya seorang adik
perempuan, bernama Bets?"
"Betul, Lady Candling," jawab Pip. la tersenyum.
Manis sekali senyumnya. "Adik saya itu baik sekali.
Kalau diperbolehkan, kapan-kapan dia akan saya ajak
ke sini."
"Ya, bawalah adikmu itu kemari," kata Lady
Candling. "Tupping, ternyata kau tadi keliru besar.
Rupanya anak ini datang karena hendak mencari sapu
tangan ibunya. Bu Hilton tadi minum teh bersamaku di
sini."
Pip mengusap-usap lengannya, sambil mengernyit-
kan muka seolah-olah kesakitan.
"Kau disakiti Tupping tadi?" tanya Lady Candling
prihatin. "Kasihan! Tupping, kau tadi terlalu kasar
terhadap anak ini."
Pak Tupping cemberut tampangnya. Ternyata
kelanjutan soal itu jauh berlainan dengan sangkaannya
semula.
"Kalau sapu tangan ibumu ditemukan di sini, pasti
akan kusuruh antarkan ke sebelah," kata Lady Candling
65
pada Pip. "Dan jangan lupa mengajak adikmu
mengunjungi aku di sini, ya? Aku senang sekali pada
anak-anak perempuan."
"Kalau kami datang, pasti akan diusir orang ini," kata
Pip sambil menuding Pak Tupping.
"Tidak bisa!" tukas Lady Candling dengan segera.
"Tupping, anak-anak ini boleh kemari, kapan saja
mereka mau. Mengerti?"
Muka Pak Tupping merah padam. Kalau dia itu balon,
pasti saat berikut sudah meledak. Tapi ia tidak berani
membantah perintah majikannya. Dengan sikap kurang
ajar ia berpaling, kembali ke tempat Pak Goon
menunggu bersama Luke.
Pip bersalaman dengan Lady Candling, mengucap-
kan terima kasih, meminta diri lalu menyusul Pak
Tupping.
"Luke!" serunya. "Luke! Kau tidak boleh putus asa,
Luke! Semua temanmu akan membantu. Kami tahu
pasti, bukan kau yang mencuri kucing itu!"
"Ayo pergi!" sergah Pak Goon, yang kini sudah
benar-benar marah. "Jangan bermulut lancang! Kalian
selalu mau ikut campur dengan urusan orang lain! Ayo
pergi, kataku!"
Tapi Pip tidak mau pergi. Ia menandak-nandak
mengikuti, sambil berjaga-jaga jangan sampai bisa
ditangkap Pak Goon. Sambil membuntuti, ia terus
rneneriakkan kata-kata pembangkit semangat pada
Luke. Polisi desa dan tukang kebun Lady Candling
sudah bukan main jengkelnya pada anak bandel itu.
Pip mendengar Pak Goon berbicara pada Pak
Tupping. Kata Pak Goon, ia hendak kembali malam itu,
untuk memeriksa kandang kucing dengan seksama.
"Ah rupanya dia hendak mencari-cari tanda bukti
yang bisa dipakai untuk semakin memperkuat tuduhan
66
terhadap Luke," pikir Pip. "Jadi sebaiknya aku dan
teman-teman menduluinya. Kuberi tahu sekarang juga
pada mereka."
Sambil menyerukan kata-kata terakhir untuk mem-
besarkan hati Luke, Pip berpaling, lari ke tembok pagar
dan langsung memanjatnya ke sebelah. Ia bergegas
menceritakan segala yang didengarnya tadi pada
kawan-kawannya. Wah keadaan mulai asyik
sekarang!
67
8
BERBAGAI INDIKASI
"Apa yang terjadi tadi, Pip? Lama sekali kau pergi!"
kata Larry menyambut kedatangan temannya itu, yang
langsung merebahkan diri di samping anak-anak yang
empat lagi.
"Ah, si Ayo Pergi dan Pak Tuping sudah begitu pasti,
Luke yang mencuri," kata Pip. "Kasihan si Luke!
Bayangkan, ia tadi menangis melolong-iolong, seperti
yang kadang-kadang dilakukan Bets!"
Tidak enak rasanya, membayangkan anak sebesar
Luke menangis.
"Apa sebabnya mereka begitu yakin dia yang mencuri
Dark Queen?" tanya Daisy.
"Yah memang dasar sial tapi soalnya, kucing itu
dicuri orang antara pukul empat dan lima sore ini,
sedang selama itu Luke bekerja dekat kandang kucing,"
jawab Pip. "Itu keterangannya sendiri. Dan ia juga
mengatakan, selama itu tak ada orang lain datang ke
situ."
"Aneh!" kata Bets. Ia nampak bingung. "Kita tahu
betul, bukan Luke yang melakukannya tapi
kelihatannya yang melakukan mesti dia! Ini benar-benar
misteri yang misterius."
"Betul," kata Fatty sambil merenung. "Rasanya tak
68
ada gunanya menanyai orang-orang lain yang patut
dicurigai, karena tersangka utama yaitu Luke dia
sendiri mengatakan sore itu cuma ia sendiri yang ada di
dekat kandang kucing. Tapi aku tidak bisa
membayangkan, dia yang mencuri kucing itu. Biar
kepingin, dia takkan berani. Lagipula aku tahu pasti, dia
tidak ingin mencurinya."
"Aku ingin tahu, di mana Dark Queen sekarang," kata
Bets.
"Ya, betul! Jika kita bisa menemukannya, mungkin
ada gambaran lebih jelas mengenai siapa yang
mencurinya," kata Larry. "Maksudku, kucing itu
sekarang tentunya ada pada seorang temannya. Wah
ini memang teka-teki rumit!"
"Apakah kita tidak bisa mencari tanda-tanda bukti?"
tanya Bets. Menurut pendapatnya, dengan tanda-tanda
bukti itu mungkin Luke bisa bebas dari dakwaan.
"O ya, aku lantas ingat lagi," kata Pip dengan segera,
"si Ayo Pergi tadi mengatakan, malam ini ia hendak
kembali lagi untuk memeriksa sekitar kandang kucing.
Kurasa ia ingin mencari-cari tanda bukti di situ
tentunya yang akan semakin memperkuat tuduhan
terhadap Luke, menurut perasaanku!"
"Yah kuusulkan bahwa sebaiknya kita mendului
saja," kata Fatty dengan segera, sambil bangkit.
"Apa? Pergi ke sebelah lagisekarang?" tanya Larry
kaget. "Bisa repot kita nanti!"
"Jangan khawatir," kata Fatty menenangkan, "sebe-
lum si Ayo Pergi dan Pak Tupping kembali, kita sudah
lama pergi lagi dari sana. Kedua orang itu pasti akan
terlalu asyik mengadukan Luke pada ayah tirinya."
"Baiklah kalau begitu sekarang saja kita ke sana,"
kata Larry. "Siapa tahu, kita berhasil menemukan salah
69
satu barang bukti walau aku sama sekali tidak bisa
menduga, apa! Yuk, kita berangkat!"
"Bets lebih baik tidak ikut saja," kata Pip. "Dia masih
terlalu kecil siapa tahu, nanti dengan tiba-tiba terjadi
kesulitan."
"Tidak bisa! Aku hams ikut," tukas Bets kesal.
"Jangan jahil, Pip. Aku cuma memerlukan bantuan
sedikit untuk memanjat tembok. Siapa tahu, aku nanti
menemukan tanda bukti yang tidak kalian lihat.
Mungkin saja ada gunanya aku ikut."
"Betul, Bets," kata Fatty. Seperti biasa, anak gendut
itu langsung membela Bets. "Biariah dia ikut, Pip. Tidak
enak rasanya, apabila tidak bisa ikut mengalami sesuatu
yang menarik."
Akhirnya Bets diperbolehkan ikut. Sedang Buster
ditinggal. la dimasukkan ke dalam sebuah gudang dan
dikunci pintunya, supaya tidak bisa menyusul mereka
lagi ke kebun Lady Candling.
Seteiah itu mereka pergi ke seberang tembok. Fatty
menolong Bets memanjat. Di sebelah kelihatannya tidak
ada siapa-siapa. Dengan hati-hari anak-anak menyeli-
nap menuju kandang kucing. Binatang-binatang piaraan
itu sedang berbaring-baring di bangku mereka. Melihat
anak-anak datang, kucing-kucing itu memandang
dengan mata mereka yang biru cerah.
"Nah sekarang mulailah mencari tanda-tanda
petunjuk," kata Larry.
"Petunjuk kayak apa?" tanya Bets.
"Aku juga tidak tahu sampai ada yang kita
temukan," jawab Larry. "Periksa tanah di sekitar sini.
Nah, lihatlah! Pasti di sinilah Luke bekerja tadi sore."
Ia menuding sebuah gerobak dorong yang berisi
rumput liar sampai setengahnya. Di dekatnya ada sekop
70
yang ditancapkan ke tanah. Sedang jas kerja Luke
lersangkut pada dahan sebatang pohon.
"la tadi menggali di galangan itu," kata Fatty sambil
berpikir-pikir. "Tak mungkin ia bekerja lebih dekat lagi
ke kandang kucing dari tempat itu. Tentunya ia pasti
akan melihat siapa saja yang mendatangi kandang
kucing. Tidak mungkin tidak."
Anak-anak pergi ke tempat Luke bekerja tadi sore.
Ternyata dari situ semua kucing yang ada dalam
kandang terlihat jelas. Jadi tak mungkin ada orang yang
membuka pintu kandang, mengambil Dark Queen lalu
menurup pintu lagi, tanpa dilihat Luke.
Tapi kenyataannya kucing itu hilang! Dan Luke berani
bersumpah, bukan dia yang mengambil. Kalau begitu,
siapa yang mencuri Dark Queen?
"Kita periksa saja sekeliling kandang kucing," kata
Larry dengan tiba-tiba. "Siapa tahu, barangkali kucing
itu sendiri yang lari."
"Betul juga," kata Fatty setuju. Mereka lantas kembali
mendatangi kandang-kandang yang dibuat dari kayu
itu. Buatannya kokoh, dibangun di atas tonggak-
tonggak. Kelihatannya mirip kandang ayam.
"Di sini tak ada lubang yang bisa dilewati kucing,"
kata Pip setelah memeriksa beberapa saat. "Dark Queen
tidak mungkin bisa minggat sendiri. Pasti ada orang yang
mengambilnya."
"Ketika ibumu bersama Bu Trimble datang pukul
empat, dia masih ada di situ tapi ketika si Ayo Pergi
muncul bersama Pak Tupping pukul lima, tidak ada
lagi," kata Daisy, "dan selama itu Luke sibuk bekerja di
samping kandang. Aku benar-benar tak mengerti. Dark
Queen lenyap, seperti disulap kekuatan gaib!"
"Jangan-jangan memang begitu," kata Bets serius.
"Kekuatan gaib itu kuat sekali, kan? Barangkali ...."
71
Saat berikutnya mukanya memerah, karena anak-
anak yang lain ramai menertawakannya.
"Yah, Dark Queen mestinya disulap supaya hilang
atau dan semula memang tidak ada di sini!" katanya
menantang.
"Dia jelas ada di sini tadi, Goblok! Kan ibu kita sendiri
masih melihatnya," tukas Pip. "He! Apa itu?"
Pip menuding sesuatu yang terietak di lantai kandang
besar, tempat kucing-kucing dikumpulkan. Anak-anak
mengintip lewat pagar kawat. Sesaat tidak ada yang
bicara. Kemudian Fatty memoncongkan bibirnya.
Alisnya terangkat ke atas, sementara tangannya
menggaruk-garuk kepala.
"Sialan! Aku tahu benda apa itu!" katanya. "Itu kan
peluit kayu, seperti yang biasa dibikin oleh Lukeuntuk
Bets."
Memang betul! Di lantai kandang tergeletak suatu
tanda bukti. Tapi tanda bukti yang mengejutkan
anak-anak. Bagaimana peluit itu bisa ada dalam
kandang? Kemungkinannya cuma satu mestinya
Luke yang menjatuhkannya dengan tak disengaja,
ketika masuk ke dalam kandang. Anak-anak terdiam
semua. Mereka betul-betul kaget.
"Tak mungkin Luke! Mustahil!" kata Bets dengan
suara serak menahan tangis. "Kita semua tahu, dia tak
bersalah."
"Ya, kita tahu! Tapi kenyataannya sekarang, dalam
kandang ada peluit yang hanya mungkin Luke saja
yang menjatuhkannya dengan tak sengaja," kata Fatty.
"Kejadian ini memang luar biasa!"
"Fatty, apabila Pak Goon melihat peluit itu, mungkin
dia akan mengatakan ini bukti nyata bahwa Luke pasti
pencurinya," kata Bets dengan cemas.
Fatty mengangguk.
72
"Tentu saja! Ini tanda bukti yang sangat jelas, Bets
bagi orang kayak si Ayo Pergi, yang kemampuannya
melihat cuma sejauh ujung hidungnya sendiri saja!"
tukas Fatty.
"Tapi bagimu tidak begitu, Fatty?" desak Bets, sambil
memegang tangan anak gendut itu. "Aduh, Fatty kau
kan tak menyangka Luke yang menjatuhkannya di
situ?"
"Akan kukatakan bagaimana pendapatku tentang
soal ini," kata Fatty lagi.'' Kurasa ada orang yang sengaja
menaruh peluit itu di situ, supaya kecurigaan ditimpakan
pada Luke. Begitulah pendapatku."
"Wah! Kurasa kau benar, Fatty!" seru Larry. Tapi
seruannya itu tidak terlalu keras, karena nanti terdengar
orang di rumah Lady Candling. "Urusan ini makin lama
semakin misterius saja rasanya. He apakah harus kita
biarkan saja tanda bukti ini tergeletak di sini, sehingga
terlihat oleh si Ayo Pergi? Kita kan yakin, ini tanda bukti
palsu?!"
"Betul katamu itu," sambut Pip. "Sebaiknya kita
ambil saja barang itu!"
Anak-anak memandang peluit yang tergeletak di
lantai kandang. Pintu kandang terkunci, sedang anak
kuncinya tak nampak ada di situ. Jadi bagaimana cara
mereka mengambil peluit?
"Kita harus bertindak cepat," kata Fatty cemas.
"Sebentar lagi si Ayo Pergi mungkin sudah muncul lagi.
Aduh bagaimana caranya kita mengambil peluit itu?"
Anak-anak tidak ada yang tahu akal. Jika peluit itu
sedikit saja lebih dekat ke pagar kawat, mereka bisa
mengambilnya dengan bantuan ranting atau sepotong
kawat Tapi peluit itu terletak di bagian belakang
kandang.
73
Kemudian sekali lagi Fatty mendapat ilham hebat.
Diambilnya sebutir batu kecil, lalu disentilkannya ke
dalam kandang, ke arah peluit. Seekor kucing melihat
batu itu menggelinding, lalu meloncat untuk bermain-
main dengannya. Ditepuknya batu itu dengan kaki
depannya. Karena letak batu itu berdekatan dengan
peluit, maka peluit itu ikut tersenggol dan tergeser
sedikit. Kucing itu lantas bermain-main pula dengan
peluit.
Anak-anak memperhatikan sambil menahan napas.
Kucing itu mengejar batu yang menggelinding. Setelah
itu kembali ke peluit dan menatapnya lama-lama.
Kelihatannya seperti menunggu benda itu menggelin-
ding pula.
Kemudian binatang itu mengulurkan kaki depannya.
Didorongnya peluit itu pelan-pelan. Ternyata bisa
menggelinding. Kucing mulai asyik. Diambilnya peluit
dengan kedua kaki depannya, dipermainkan sebentar
lalu dijatuhkan lagi. Sebelum menyentuh lantai
kandang, peluit itu sudah ditampar dengan kaki depan.
Peluit terpental, dan jatuh ke dekat pagar kawat.
"Hebat! Hebat!" desah Fatty dengan gembira. Kini
diambilnya segulung kawat dari kantongnya. Memang
luar biasa apa saja yang ada dalam kantong si gendut
itu! Kawat itu dilipatnya, dengan semacam jerat di
sebelah ujung. Kawat berjerat itu disisipkannya ke dalam
kandang, lewat celah di antara kawat pagar.
Anak-anak yang lain memperhatikan dengan penuh
gairah. Kawat yang disodorkan sudah sampai ke dekat
peluit. Fatty mengorek-ngorek dengan sabar, berusaha
menjerat benda itu. Kucing yang tadi bermain-main
dengan peluit, ikut memperhatikan dengan penuh
minat. Tapi tiba-tiba salah satu kaki depannya terulur,
74
dan menepuk jerat di ujung kawat, sehingga peluit
kini tersangkut di situ!
"Wah terima kasih, Pus!" kata Fatty senang.
Dengan hati-hati ditariknya peluit ke arah pagar kawat,
lalu disentakkannya ke atas. Peluit terlempar ke luar
celah kawat, dan jatuh dekat kaki Bets. Anak itu
buru-buru memungutnya.
"Berhasil!" kata Fatty. "Coba kita lihat sebentar. Ya,
betul ini memang bikinan Luke. Untung kita berhasil
mengeluarkannya. Tanda bukti ini sekarang tidak bisa
ditemukan lagi oleh si Ayo Pergi. Luke takkan semakin
dicurigai karena benda ini!"
"Kau ini memang pintar, Fatty," kata Bets kagum.
"Bagus, Fatty!" puji Pip.
Dada Fatty langsung membusung karena bangga dan
merasa penting.
"Ah, ini sih belum apa-apa," katanya, "aku sering
mendapat akal yang lebih baik lagi. Pernah suatu kali
"Tutup mulut!" kata Larry, Daisy dan Pip serempak.
Dan Fatty terdiam. Peluit tadi dikantonginya.
"Coba can, kalau-kalau ada tanda bukti lain," kata
Pip. "Siapa tahu, dalam kandang masih ada."
Kelima anak itu kembali merapatkan hidung ke pagar
kawat. Hidung Bets mengernyit.
"Bau kandang ini tidak enak," katanya.
"Binatang yang dikurung dalam kandang memang
tidak pernah enak baunya," kata Larry.
"Bukan, bukan bau binatang maksudku," kata Bets
lagi. "Bau lain! Kayak bau bensin."
Anak-anak mengendus-endus.
"Maksudnya minyak terpentin," kata Fatty. "Aku
juga menciumnya sekarang samar-samar. Tapi
kurasa itu bukan bukti, Bets walau harus kuakui
75
penciumanmu sangat tajam. Mungkin Nona Harmer
memakai minyak itu untuk membersihkan kandang.
Nah, bagaimana masih ada tanda bukti lain yang
kelihatan?"
Tapi kelihatannya di situ tidak ada apa-apa lagi yang
bisa ditemukan, walau anak-anak sibuk mencarj ke
sekeliling kandang dan berulang kali mengintip ke
dalam.
"Ini benar-benar menjengkelkan," tukas Fatty.
"Sama sekali tak ada yang bisa membantu penyelidikan
kita. Satu pun tak ada! Yah tapi untung saja kita
menemukan peluit tadi, sebelum kelihatan oleh Pak
Tupping atau si Ayo Pergi. Aku merasa yakin, pasti
benda itu diletakkan dengan sengaja di situ oleh
seseorang, supaya Luke dicurigai mencuri Dark Queen.
Jahat sekali orang itu!"
"Kepingin rasanya memasukkan segala macam
barang ke dalam kandang ini," kata Pip, "supaya si Ayo
Pergi bingung menghadapinya!"
Anak-anak memandang ke arahnya dengan gembira.
"Wah hebat sekali idemu itu!" kata Fatty. Dalam
hati ia agak menyesal, kenapa bukan dia sendiri yang
mendapat akal itu.
"Ya, ya yuk, kita melakukannya!" kata Larry
bersemangat. "Kita masukkan segala macam tanda
bukti konyol, yang tak mungkin bisa dipakai untuk
menyalahkan Luke. Si Ayo Pergi pasti pusing
kepalanya, apabila berusaha mengadakan penyelidikan
berdasarkan bukti-bukti palsu itu!"
Anak-anak cekikikan. Sekarangapa saja yang akan
mereka masukkan ke dalam kandang?
"Aku punya permen," kata Pip terkikik. "Kumasuk-
kan saja sebutir ke dalam kandang."
"Dan aku akan memasukkan secarik pita rambutku,"
76
kata Daisy. "Tadi kebetulan putus, dan potongannya
kukantongi."
"Dan aku punya beberapa kancing biru yang terlepas
dan pakaian bonekaku," kata Bets. "Itu saja yang
kujadikan barang bukti palsu!"
"Kurasa, kalau tidak salah aku mengantongi sepasang
tali sepatu berwarna coklat yang masih baru," kata
Larry, sambil mencari-cari dalam kantong. "Ya ini
dia. Biar kumasukkan saja sekaligus!"
"Apa yang akan kaumasukkan ke situ, Fatty?" tanya
Bets.
Fatty mengeluarkan segenggam puntung cerutu dan
kantongnya. Anak-anak melongo melihatnya.
"Untuk apa kau mengumpulkan puntung cerutu?"
tanya Lam;, setelah rasa herannya berkurang.
"Kuisap," kata Fatty. "Ini semua bekas cerutu yang
diisap ayahku. Sehabis mengisap satu, selalu ditinggal-
nya dalam asbak di kamar tidurnya."
"Kau bukan mengisapnya!" kata Pip tak percaya. "Ini
cuma bualanmu lagi, kayak biasanya! Kau mengantongi
puntung-puntung itu, supaya baumu kayak orang
dewasa. Pantas selama ini aku selalu heran, kenapa si
Gendut baunya aneh!"
Kata-kata Pip itu pura-pura tak didengar oleh Fatty
karena memang begitulah kenyataannya. la menganto-
ngi puntung cerutu, supaya disangka sudah dewasa!
"Kucampakkan saja sebatang puntung ini di bawah
kandang kuletakkan di tanah," katanya. "Dan satu
kumasukkan ke dalam kandang. Moga-moga saja tak
ada kucing yang memakannya nanti sakit! Dua
puntung cerutu, pasti si Ayo Pergi pusing tujuh keliling
memikirkannya!"
Anak-anak lantas menaruh 'tanda bukti' masing-
masing ke kandang. Pip mencampakkan sebutir permen
77
yang besar. Kucing-kucing memandang benda itu
dengan sikap tidak senang. Rupanya mereka tidak suka
mencium bau permen itu.
Daisy menjejalkan segumpal pita rambut yang sudah
kumal di sela kawat pagar. Bets menyisipkan kancing
berwarna biru. Larry menaruhkan sepotong tali
sepatunya yang masih baru sedang Fatty melempar-
kan sepotong puntung cerutu ke bawah kandang, dan
sepotong lagi dimasukkannya ke dalam kandang.
"Nah sekarang cukup banyak tanda bukti yang
bisa ditemukan si Ayo Pergi! Mudah-mudahan ia cepat
datang!"
78
9
PAK GOON BERAKSI
"He!" kata Daisy dengan tiba-tiba, sementara ia
memperhatikan potongan pita rambutnya bergerak-
gerak sedikit di lantai kandang, karena tertiup angin yang
masuk. "He! Mudah-mudahan saja tak ada yang lantas
menyangka akulah yang mencuri kucing itu. Ibuku pasti
akan mengenali pita itu, jika ia melihatnya!"
"Astaga! Tak terpikir olehku kemungkinan itu tadi,"
kata Pip.
"Kau tak perlu bingung," kata Fatty menenangkan
suasana. "Nih aku punya sampul besar! Kita
masing-masing memasukkan benda sama seperti yang
jadi tanda bukti palsu ke dalam sampul ini. Kumasukkan
dua puntung cerutu. Kau, Daisy kaumasukkan
potongan pita rambutmu yang sebelah lagi ke
dalamnya."
Daisy menurut. Setelah itu Bets memasukkan sebutir
kancing bonekanya, Larry menaruhkan pita sepatu yang
sebelah lagi, dan Pip menyelipkan sebutir permen.
Fatty melipat sampul itu dengan cermat, lalu
mengantonginya.
"Jika ada seorang di antara kita dituduh mencuri
karena adanya tanda-tanda bukti dalam kandang ini,
maka cukup apabila isi sampul ini kita tunjukkan! Pasti
79
semua akan tahu, kita melakukannya sebagai lelucon
saja," kata Fatty.
Saat itu terdengar bunyi lonceng dan arah rumah Pip
dan Bets. Bets mengeluh.
"Itu tanda aku dipanggil untuk tidur. Sialan! Aku
belum mau pergi," katanya.
"Kau harus pergi," kata Pip. "Kemarin saja kau sudah
diomeli, karena terlambat pulang. Wah sebetulnya
aku kepingin tinggal di sini, untuk melihat si Ayo Pergi
dan Pak Tuping menemukan tanda-tanda bukti yang
kita tinggalkan di sini!"
"Yuk, kita tinggal di sini," ajak Larry.
"Aku ikut," kata Bets setengah menangis. la sudah
sedih saja, karena lagi-lagi tidak kebagian. Namun Pip
tetap keras. Adiknya didorong ke arah rumah mereka.
"Kau harus pulang, Bets! Nah itu, terdengar lagi
lonceng memanggilmu!"
"Ya, tapi itu kan juga panggilan untukmu!" bantah
Bets. "Itu tanda bahwa kau harus pulang dan berganti
pakaian untuk makan malam. Kau jangan pura-pura
tidak ingat!"
Pip memang bukan lupa. Larry menarik napas
panjang. la tahu, saat itu juga sudah waktu baginya serta
Daisy untuk pulang ke rumah. Perjalanan pulang
mereka lebih jauh daripada Pip dan Bets.
"Kami pun harus pulang," kata Larry. "Fatty kau
kan bisa tinggal di sini untuk mengintip? Pasti lucu sekali!
Kau tinggal saja, ya? Orang tuamu kan tidak begitu
pedulian! Kau nampaknya bisa seenaknya saja, mau
pulang kapan!"
"Ya deh aku menunggu di sini untuk mengintip
perbuatan mereka," kata Fatty. "Sebaiknya aku
memanjat pohon itu. Tidak sukar naik ke atasnya,
80
sedang daun-daunnya cukup rimbun. Dari atas aku bisa
melihat segala-galanya, tanpa ketahuan."
"Kalau begitu yuk, Bets, kita pulang," kata Pip,
yang sebetulnya segan. Bayangkan, Fatty akan asyik
sendiri nanti!
Saat itu terdengar suara dua orang bercakap-cakap
sambil masuk ke dalam kebun. Anak-anak saling
pandang-memandang.
"Pak Tupping sudah datang lagi, bersama si Ayo
Pergi," bisik Larry. "Cepat, ke tembok!"
"Sampai besok, Fatty," kata Pip dengan suara pelan.
Anak-anak yang empat lagi lari menyelinap menuju
tembok. Pip membantu Bets naik. Anak-anak yang lain
menyusul. Fatty ditinggal sendiri di kebun sebelah. Anak
itu bergegas memanjat pohon. Biar gendut, gerak-
geriknya cukup tangkas.
Ia duduk pada dahan yang cukup lebar. Disibakkan-
nya dedaunan yang menutupi, sehingga ia bisa melihat
ke bawah. Dilihatnya Pak Tupping berjalan menuju
kandang kucing, bersama Pak Goon.
"Nah sekarang kita periksa sekitar sini, Pak
Tupping," kata poiisi desa itu. "Siapa tahu, barangkali
saja ada tanda bukti. Wah aku sudah sering
menemukan petunjuk, yang menyebabkan aku bisa
langsung membekuk penjahat yang dicari!"
"Bukan main!" kata Pak Tupping dengan serius.
"Yah, aku takkan heran apabila Luke meninggalkan
sesuatu di tempat ini. Mungkin saja dia cerdik sehingga
bisa mencuri kucing yang berharga tapi belum cukup
cerdik untuk menyamarkan jejak."
Kedua laki-laki itu mulai mencari-cari dengan teliti di
sekitar kandang kucing. Kucing-kucing Siam yang ada
dalam kandang memperhatikan kesibukan mereka
dengan penuh perhatian. Mata mereka yang biru
81
cemerlang, memperhatikan dengan waspada. Kucing-
kucing itu tidak mengerti, apa sebetulnya yang dilakukan
orang yang begitu banyak pada hari itu dekat kandang
mereka. Sementara itu Fatty mengintip dan atas pohon.
Pak Goon yang pertama-tama menemukan puntung
cerutu di bawah kandang kucing. Begitu terlihat, dengan
segera disergap olehnya. Diacungkannya puntung
cerutu itu tinggi-tinggi.
"Apa itu?" tanya Pak Tupping dengan heran.
"Puntung cerutu," kata Pak Goon dengan nada puas.
Tapi kemudian air mukanya berubah rnenjadi bingung.
Didorongnya topi polisinya ke tengkuk, lalu digaruk-
garuknya kepala. "Eh Luke yang masih anak-anak
itu, dia mengisap cerutu?" tanyanya.
"Jangan konyol," tukas Pak Tupping. "Tentu saja
tidak! Itu bukan petunjuk. Pasti ada orang yang kemari
diajak Lady Candling untuk melihat kucing-kucingnya,
melemparkan puntung cerutunya ke bawah kandang.
Karena itulah di situ kautemukan puntung."
"Hmmm!" Pak Goon tidak mau begitu saja
menyingkirkan petunjuk menarik berupa puntung
cerutu itu. "Yah ini perlu kupikirkan dulu."
Fatty terkikik pelan. Sementara itu kedua laki-laki
yang di bawah meneruskan pencarian. Akhirnya Pak
Tupping menegakkan tubuh.
"Kelihatannya tidak ada barang lain di sini," katanya.
"Bagaimana mungkin dalam kandang ada sesuatu?"
Pak Goon nampaknya sangsi.
"Kurasa tidak mungkin," jawabnya kemudian, "tapi
tidak ada salahnya jika kita periksa. Kau membawa anak
kunci pintunya, Pak?"
Pak Tupping pergi ke balik kandang kucing, lalu
mengambil anak kunci yang disangkutkan pada paku
yang ada di situ. Tapi sebelum ia sempat membuka
82
pintu, sudah terdengar Pak Goon berseru kaget. Polisi
desa itu mengintip ke dalam dan celah kawat pagar. Dan
ia melihat berbagai benda yang berserakan di lantai
kandang. Wah ternyata di situ banyak sekali
petunjuk! Hati Pak Goon berdebur-debur saking
gembira.
"Ada apa, Pak?" tanya Pak Tupping sambil
mendekat.
"Huh! Lihatlah kau lihat tali sepatu yang di sana
itu?" tanya Pak Goon sambil menuding. "Itu tanda bukti
yang penting sekali! Ternyata ada orang masuk ke situ,
lalu tali sepatunya terlepas."
Pak Tupping memandang tali sepatu itu sambil
melongo. Kemudian dilihatnya kancing berwarna biru
serta pita rambut. Napasnya tersentak karena kaget.
Cepat-cepat diselipkannya anak kunci Re lubangnya,
lalu dibukanya pintu kandang.
Kedua laki-laki itusibuk mengumpulkan 'tanda bukti'
yang ada dalam kandang, untuk diperhatikan.
"Satu hal sudah pasti!" kata Pak Goon dengan nada
puas. "Orang yang masuk kemari itu, memakai sepatu
dengan tali berwarna coklat. Dan lihatlah kancing ini
pasti terlepas dari jas seseorang."
"Lalu ini apa?" kata Pak Tupping, sambil menunjuk-
kan permen pada Pak Goon. Permen itu yang ditaruh
oleh Pip ke situ. Pak Goon mengendus-endus baunya.
"Itu permen!" katanya tegas. "Luke biasa makan
permen?"
"Kurasa ya," jawab Pak Tupping. "Anak laki-laki kan
biasanya mengulum permen. Tapi Luke tidak memakai
ikat rambut, Pak Goon. Dan lihatlah di sini ada
puntung cerutu lagi seperti yang kautemukan di
bawah kandang tadi."
Kegembiraan Pak Goon karena menemukan barang
83
84
bukti sebanyak itu lambat-laun berganti dengan
keheranan. Benda-benda yang ada di tangannya
diperhatikan olehnya sambil membisu.
"Kalau melihat petunjuk-petunjuk ini," katanya
kemudian lambat-lambat, "pencuri kucing itu mestinya
seseorang yang mengisap cerutu, memakai pita rambut
dan kancing jas berwarna biru, mengulum permen dan
memaki tali sepatu berwarna coklat, Aneh!"
Di atas pohon, Fatty harus menutup mulutnya
kuat-kuat dengan kedua tangannya, supaya tidak
tersembur keluar gelak tertawanya. Lucu sekali melihat
Pak Goon dan Pak Tupping kebingungan menghadapi
petunjuk-petunjuk palsu yang sengaja dipasang anak-
anak di situ supaya ditemukan oleh mereka. Dengan
hati-hati Pak Goon menjilat permen yang ada di
tangannya.
"Ya memang betul permen," katanya. "Wan, ini
benar-benar teka-teki yang rumit! Begini banyak tanda
bukti yang kita temukan di sini, tapi tak ada orang yang
cocok untuknya. Kau masih menemukan bukti lain, Pak
Tupping?"
Pak Tupping merangkak masuk ke dalam kandang
kucing, lalu memeriksa di situ dengan teliti.
"Tidak aku cuma mencari-cari saja, siapa tahu ada
sesuatu yang terlewat," katanya. Tapi betapa teliti
sekalipun ia mencari, namun tak ada barang lain yang
ditemukan. Karena itu ia keluar lagi. Tampangnya kusut
dan kesal.
"Yah kelihatannya tidak ada apa-apa lagi di sini,"
katanya. Dari suaranya ketahuan bahwa ia sangat
kecewa. "Tapi aku yakin kau akan berhasil memastikan,
Luke itulah pencurinya. Segala benda ini sama sekali
bukan petunjuk cuma kebetulan saja masuk ke
kandang sini."
"Tapi permen bukan barang yang bisa secara
kebetulan masuk ke situ," kata Pak Goon menggerutu.
"Semua barang ini akan kubawa pulang ke rumah. Di
sana aku akan berpikir-pikir mengenai petunjuk-
petunjuk ini."
Dalam hati Fatty tertawa geli, sementara memandang
Pak Goon yang sibuk memasukkan tanda-tanda bukti
palsu ke dalam selembar sampul yang bersih. Tutup
sampul direkatkan dengan ludah, lalu sebelah luarnya
dibubuhi tulisan. Sambil mengantongi sampul yang
sudah ditutup, ia lantas berpaling pada Pak Tupping.
"Nah sampai lain kali kalau begitu," katanya.
"Terima kasih atas bantuanmu, Pak. Satu hal sudah
jelas pasti anak yang bernama Luke itulah pencuri
yang kita cari. Aku sudah mengatakan padanya tadi,
besok aku akan mampir untuk meminta keterangannya
dengan teliti sekali. Jika aku sampai tidak berhasil
memeras pengakuan dari mulutnya, jangan panggil aku
Theophilus Goon lagi!"
Sehabis menyebutkan namanya yang panjangnya
hampir semeter itu, Pak Goon melangkah pergi dengan
sikap anggun. Sementara tanda-tanda bukti sudah
tersimpan aman dalam kantongnya, otaknya disibukkan
hal-hal yang membingungkan. Pita rambut. Aneh!
Kancing berwama biru! Luar biasa! Tali sepatu coklat,
yang masih baru lebih luar biasa lagi. Permen!
Membingungkan!! Lalu dua puntung cerutu. Dua
potong! Menurut perasaan Pak Goon saat itu, jika
puntung cerutu yang ditemukan cuma satu
persoalannya pasti akan lebih mudah. Tapi untuk apa
scorang pencuri mengisap dua batang cerutu pada saat
hendak mencuri seekor kucing?
Sementara itu Fatty sudah tidak sabar lagi. Ia ingin
cepat-cepat turun dari pohon dan pulang ke rumah
85
untuk makan malam. Tiba-tiba perutnya terasa sangat
lapar. la mengintip lagi ke bawah, barangkali saja Pak
Tupping sudah pergi. Tapi ternyata belum.
Tukang kebun itu merangkak kembali ke dalam
kandang kucing, seolah-olah hendak mencari sesuatu
Setelah beberapa saat ia keluar lagi. Tampangnya
seperti sedang berpikir-pikir. Pintu kandang dikuncinya
kembali. Setelah itu ia pergi, masih sambil berpikir. Fatty
menunggu sampai langkah crang itu tidak kedengaran
lagi. Setelah itu buru-buru ia turun dan pohon.
Sebelum pergi, ditatapnya mata biru kucing-kucing
yang ada dalam kandang. Ia merasa lega, karena peluit
buatan Luke ada dalam kantongnya. Kalau benda itu
sampai ditemukan kedua laki-laki tadi wah, itu baru
tanda bukti nyata namanya! Fatty tertawa geli seorang
diri, ketika mengingat kembali betapa Pak Goon tadi
kaget dan sekaligus gembira karena menemukan
'barang bukti' yang begitu banyak.
"Nah, besok Luke harus didatangi dan ditanyai
macam-macam," katanya pada diri sendiri sambil
melangkah pulang. "Wah hari ini benar-benar
mengasyikkan!"
86
10
PIP DAN BETS BERTAMU
Keesokan harinya, pagi-pagi benar Fatty sudah
datang ke rumah Pip. la sudah tidak sabar lagi, ingin
lekas-lekas menceritakan betapa kaget dan bingungnya
Pak Goon serta tukang kebun ketika menemukan
petunjuk-petunjuk palsu yang begitu banyak. Larry dan
Daisy tiba hampir bersamaan dengan Fatty yang datang
bersama Buster. Tak lama kemudian anak-anak itu
sudah tertawa terpingkal-pingkal semuanya mendengar
cerita Fatty.
"Lalu si Ayo Pergi bertanya pada Pak Tupping,
apakah Luke mengisap cerutu," sambung Fatty sambil
terkikik. "Nyaris saja aku terjatuh dari pohon, karena
sibuk menahan tertawa."
"Tadi kami sudah bersiul-siul memberi isyarat pada
Luke," kata Pip, "tapi belum dijawab olehnya. la pun
belum nampak dekat tembok. Mungkinkah dia terlalu
takut, sehingga tidak berani menjawab?"
"Mungkin saja," kata Fatty. "Yah, pokoknya kita
perlu bicara sebentar dengan dia untuk menceritakan
padanya tentang peluit yang kita temukan dalam
kandang. Begitu pula tentang petunjuk-petunjuk palsu
yang kita masukkan ke situ. Kusiuli saja dia sekarang,
senyaring-nyaringnya!"
87
Tapi siulan Fatty yang paling nyaring pun, tidak
menghasilkan jawaban dari seberang tembok. Karena-
nya anak-anak lantas memutuskan untuk menunggu di
pintu pekarangan depan, sekitar pukul satu. Saat itu
Luke biasanya pulang untuk makan siang.
Sekitar waktu yang direncanakan, anak-anak sudah
siap menunggu di depan. Tapi Luke tidak muncul.
Anak-anak masih menunggu sampai pukul satu lewat
sepuluh menit. Setelah itu mereka sendiri harus
bergegas pulang ke rumah masing-masing untuk makan
siang.
"Mungkin dia dipecat," kata Fatty. Baru saat itu
terpikir olehnya kemungkinan itu. "Mungkin ia takkan
pernah lagi datang ke sebelah."
"Aduh, kasihan!" kata Bets terkejut dan sedih. "Jadi
menurutmu, mungkin Lady Candling memecatnya dan
mengatakan ia tak perlu masuk kerja lagi?"
"Bagaimana caranya supaya kita tahu pasti?" kata
Larry.
"Kita bisa menanyakannya pada Pak Tupping," usul
Daisy. Tapi ia sendiri menyangsikan kemungkinan itu.
Sedang anak-anak yang lain memandangnya dengan
sikap mencemooh.
"Kau ini seolah-olah kita bisa begitu saja bertanya
pada orang galak itu," kata Larry. Semuanya lantas
sibuk berpikir, mencari jalan.
"Aku tahu,'' kata Pip setelah beberapa saat membisu.
"Kata Lady Candling, aku boleh mengajak Bets
berkunjung ke tempatnya. Nah nanti sore aku akan
ke situ. Lalu aku kan bisa langsung bertanya pada Lady
Candling, mengenai Luke. Ya, kan?"
"Ide bagus, Pip," kata Fatty. "Aku pun sedang
memikirkan kemungkinan itu. O ya kecuali itu kau
88
mungkin juga bisa menyelidiki, di mana Lady Candling
antara pukul empat dan pukul lima. Maksudku, selidiki
apakah ada kesempatan baginya untuk menyelinap
tanpa ketahuan ke kandang kucing, lalu mengambil
Dark Queen secara diam-diam."
"Yah, aku merasa pasti bukan dia yang melakukan-
nya," kata Pip dengan segera. "Kita cukup melihat
orangnya saja, pasti akan tahu dia takkan bisa berbuat
demikian! Lagipula kita kan sudah memutuskan tak ada
gunanya langsung menanyai orang-orang yang bisa
dicurigai, karena selama waktu sejam itu Luke selalu ada
dekat kandang itu. Kalau ada orang datang, pasti akan
terlihat olehnya."
"Betul juga," kata Fatty. "Aku tidak melihat
kemungkinan sedikitpun bagi pencurinya untuk bisa
mengambil kucing itu tanpa diketahui oleh Luke. Kata
anak itu, bahkan selama setengah menit pun ia tidak
pernah pergi dari tempatnya bekerja."
"Nah lonceng di rumah sudah berdering lagi,
memanggil kita makan," kata Bets. "Yuk, Pip nanti
kita kena marah! Kalian datang saja lagi nanti sore. Akan
kami ceritakan pengalaman kami berdua di sebelah sore
ini."
Anak-anak lantas berpisah. Masing-masing pulang
untuk makan siang. Semua merasa gelisah, memikirkan
nasib Luke. Mungkinkah anak itu benar-benar dipecat?
Pasti ia diberhentikan oleh Lady Candling! Kalau tidak,
tentunya ia sudah muncul tadi pagi, seperti biasanya.
Kasihan si Luke!
Sekitar pukul setengah empat sore, Pip dan Bets
memutuskan untuk pergi bertamu ke rumah Lady
Candling. Daisy yang sudah datang lebih dulu,
memandang Bets. Anak perempuan itu memakai celana
89
terusan yang sudah dekil. Pip pun sama saja. Celana
pendeknya kelihatan kotor sekali!
"Apakah kau tidak perlu memakai gaun yang bersih,
Bets?" tanya Daisy: "Dan coba lihat celana pendekmu,
Pip! Sungguh, kelihatannya seperti kau habis duduk di
atas karung arang."
"Aduh! Jadi kami perlu berganti pakaian dulu?" tanya
Pip cemas. la paling tidak suka memakai pakaian bersih.
"Yah kurasa terasa lebih sopan apabila kalian
datang dengan pakaian bersih," kata Daisy. Apa boleh
buat Pip dan Bets terpaksa masuk dulu ke rumah,
untuk berganti pakaian.
Ibu mereka melihat kedua anak itu masuk ke dalam,
lalu memanggil mereka.
"Kenapa kalian masuk?" seru Ibu.
"Mau mencuci badan, Bu dan mengenakan
pakaian bersih," jawab Bets.
"Apa?" Bu Hilton tercengang. "Kalian sakit, ya? Mau
ke mana, dengan pakaian bersih?"
"Mau bertamu ke tempat Lady Candling, Bu," jawab
Bets, sebelum Pip sempat mencegahnya.
"Bertamu ke tempat Lady Candling?" kata Bu Hilton,
la semakin tercengang. "Untuk apa? Kan tidak diundang
olehnya? Kalian tidak bisa begitu saja datang tanpa
undangan."
Pip menyikut Bets keras-keras, sehingga nyaris saja
adiknya itu terjatuh. Jadi Bets hanya memandang
ibunya saja, sambil membisu. la khawatir, jangan-jangan
sudah terlanjur bicara.
"Nah rupanya Bets tiba-tiba menjadi bisu," kata
Bu Hilton agak kurang sabar. "Ada apa sebenarnya,
Pip? Bukan kebiasaanmu mau pergi bertamu sore-sore,
bersama Bets. Ada apa dengan dirimu?"
90
"Begini soalnya, Bu," kata Pip menjelaskan duduk
perkara. "Kemarin aku berjumpa dengan Lady
Candling. Kata nyonya itu, Ibu bercerita padanya
tentang Bets. Lalu aku dimintanya membawa Bets ke
tempatnya, karena kata Lady Candling ia suka sekali
pada anak perempuan."
"Lho! Kapan kau berjumpa dengan Lady Candling?"
tanya Bu Hilton. Makin lama ia makin tercengang.
"Aduh, Pip! Mudah-mudahan saja kau tidak berbuat
lancang, masuk seenaknya ke sebelah dan berbuat
macam-macam di situ."
"Wah tidak, Bu," kata Pip dengan tampang tak
bersalah. "Masakan aku mau berbuat macam-macam!
Yah kami tak jadi pergi apabila Ibu tak setuju tapi
Bets pasti kecewa karenanya."
Sambil berkata begitu, Pip cepat-cepat berbisik pada
Bets.
"Ayo, cepat mulailah menangis!"
Bets mulai menarik suara, dengan tampang disedih-
sedihkan.
"Aku ingin ke sana aku ingin ke sana!" tangisnya.
"Ya deh, kalau begitu pergi sajalah," kata Bu Hilton
cepat-cepat. "Tapi ingat sikap kalian harus sopan."
"Menurut pendapatku, pasti Lady Candling akan
merasa terhibur apabila kami menyatakan ikut menyesal
bahwa kucingnya hilang," kata Pip. "Dan sekaligus
menanyakan, apakah sudah ditemukan kembali,"
Bu Hilton melongo.
"Aneh, kenapa kau tahu-tahu bersikap begitu penuh
perhatian, Pip," katanya. "Entah kenapa, tapi aku
punya perasaan bahwa pasti ada udang di balik batu.
Yah, pokoknya apabila kudengar nanti dari Lady
91
Candling bahwa kerjamu di sana cuma merepotkan saja,
aku pasti akan sangat marah."
Anak-anak bergegas masuk ke rumah, untuk berganti
pakaian. Bets sudah takut saja, jangan-jangan Pip akan
mengomeli dirinya karena mengatakan mereka akan
bertamu ke rumah Lady Candling. Tapi Pip malah
memujinya.
"Kesalahanmu membuka rahasia kita, sudah kaute-
bus dengan tangisanmu yang hebat tadi," kata Pip.
"Aku sampai nyaris percaya bahwa kau benar-benar
menangis, Bets."
Beberapa saat kemudian keduanya sudah melangkah
dengan sikap sopan keluar dan pintu pagar depan, lalu
memasuki jalan kecil yang menuju ke gedung kediaman
Lady Candling. Dalam perjalanan ke situ mereka
melewati Pak Tupping, yang sedang sibuk memangkas
semak pagar. Tukang kebun itu menatap dengan
masam ketika keduanya lewat.
"Selamat sore, Pak Tupping cuaca baik ya, hari
ini," kata Pip, menirukan gaya basa-basi ibunya. "Tapi
rasanya tak lama lagi hujan pasti turun, hmm?Tapi ada
baiknya, untuk kebun sayuran!"
Pak Tupping menggerutu. Semak yang tak bersalah,
diguntinginya dengan gemas. Pip meringis. Pasti tukang
kebun jahat itu kepingin bisa mengguntingi kupingnya
dan kuping Bets seperti caranya menggunting semak.
Anak-anak sampai di pintu depan lalu menekan bel.
Seorang gadis berpakaian rapi muncul, memandang
kedua anak itu sambil tersenyum. Itulah pembantu
rumah tangga Lady Candling.
"Maaf Lady Candling ada di rumah?" tanya Pip.
"Kurasa ia sedang dikebun sekarang," jawab gadis
itu. "Kuantarkan kalian ke beranda dan dari situ
92
kalian bisa mencarinya, kalau mau. Mungkin Lady
Candling sedang memetik bunga mawar."
"Kucing yang hilang sudah ditemukan kembali?"
tanya Pip, sementara ia serta adiknya ikut di belakang
gadis itu menuju ke beranda.
"Belum," jawab gadis itu. "Nona Harmer sudah
sangat bingung memikirkannya. Kejadian itu memang
benar-benar aneh! Tapi kurasa pasti Luke yang
mengambil. Soalnya, cuma ia sendiri yang ada di dekat
situ, antara pukul empat dan pukul lima."
"Anda sendiri, tidak melihat atau mendengar sesuatu
yang aneh kemarin sore?" tanya Pip. Dalam hati ia
memutuskan, tak ada salahnya jika mengajukan
beberapa pertanyaan pada gadis itu.
"Aku tak melihat apa-apa," kata gadis pembantu itu.
"Kemarin sore Lady Candling kan mengadakan
perjamuan minum teh. Banyak juga yang diundang.
Begitulah sekitar sembilan atau sepuluh orang.
Karenanya kami sibuk terus, aku dan juru masak. Antara
pukul empat dan lima kami sama sekali tak sempat
datang ke kebun, karena sibuk terus. Coba saat itu kami
menyelinap sebentar ke sana, mungkin saja pencuri itu
tertangkap basah oleh kami. Ya memang saat itu
memang kesempatan baik sekali bagi si pencuri! Nona
Harmer sedang keluar, begitu pula Pak Tupping
sedang aku dan juru masak sibuk di dapur. Lady
Candling sendiri sibuk mengobrol dengan tamu-
tamunya."
"Ya," kata Pip sependapat, "dan rupanya hal itu juga
diketahui si pencuri, sehingga bisa mengatur perbuatan
jahatnya dengan begitu rapi."
"Karena itulah kami beranggapan, pelakunya mesti
Luke," kata gadis itu. "Sebenarnya aku suka pada anak
itu. Agak tolol kadang-kadang, tapi selalu baik hati.
93
Padahal Pak Tupping jahat sekali terhadap dirinya."
"Anda juga tidak senang pada Pak Tupping?" tanya
Bets dengan segera.
"Dia itu pak tua yang kasar dan pemarah!" tukas gadis
pembantu rumah tangga Lady Candling. "Tapi jangan
bilang aku mengatakan begitu, ya. Aku dan juru masak.
kami merasa sayang kenapa bukan dia yang mencuri
kucing berharga itu. Yah, aku tak boleh lama-lama
mengobrol di sini. Pergi sajalah, mencari Lady Candling
dalam kebun."
Pip dan Bets masuk ke dalam kebun. Tempat itu
nampak cerah, disinari cahaya matahari sore.
"Dan cerita gadis tadi, kita bisa mencoret nama-nama
Lady Candling, juru masak serta gadis itu sendiri dari
daftar orang-orang yang dicurigai," kata Pip pada
adiknya. "Nah itu Bu Trimble datang."
Wanita setengah umur itu menghampiri mereka. Bets
cepat-cepat berbisik pada abangnya.
"Pip! Yuk, kita hitung, berapa kali kaca matanya
terlepas dari batang hidungnya! Kaca matanya saban
kali terlepas."
"Nah anak-anak!" sapa Bu Trimble dengan
suaranya yang tinggi seperti kicauan burung. la
tersenyum lebar, memamerkan sederet gigi yang
besar-besar. "Kalian mencari Lady Candling, ya? He
kurasa aku pernah berjumpa dengan gadis cilik ini! Kau
kan yang nyaris terbelit sulur arbai?"
Bu Trimble tertawa geli karena leluconnya sendiri.
Kaca matanya terlepas dari batang hidung, menggelan-
tung pada rantai pengikatnya. Dengan gerakan cepat,
tangan wanita itu sudah meletakkannya lagi sehingga
bertengger pada batang hidung yang tipis.
"Ya, betul, Bu," jawab Bets. "Kami datang hendak
mengunjungi Lady Candling."
94
95
"Aduh sayang! Beliau baru saja pergi!" kata Bu
Trimble. "Apa boleh buat, kalian terpaksa cukup puas
disambut olehku saja!"
Bu Trimble tertawa lagi, dan sekali lagi kaca matanya
terlepas dari hidung.
"Dua kali,"kata Bets pelan.
"Anda tahu di mana Luke sekarang?" tanya Pip.
Timbul niatnya untuk mendatangi anak itu, apabila ia
ada di sekitar situ.
"Tidak, aku tidak tahu," jawab Bu Trimble. "Ia tidak
muncul hari ini. Pak Tupping kesal sekali karenanya."
"Apakah Luke dipecat Lady Candling, Bu Tremble?"
tanya Bets. Tanpa disengaja, huruf i' dari nama Trimble
tertukar dengan ' e' .
"Namaku Trimble, bukan Tremble," kata Bu Trimble.
Memang, Trimble itu nama yang masih bisa dibilang
lumrah. Tapi Tremble' berarti gemetar'! Mana ada
orang yang bernama Bu Gemetar!
"Tidak, Luke tidak dipecat oleh Lady Candling," kata
Bu Trimble lagi. "Setidak-tidaknya, itu sepanjang
pengetahuanku. Sayang ya, kucing sebagus itu hilang!
Kemarin pukul empat aku masih melihatnya."
"Ya, Anda bersama ibuku waktu itu," kata Pip. "Dan
mestinya Anda tidak melihat siapa-siapa dekat kandang
itu, kecuali Luke?"
"Ya, betul," jawab Bu Trimble. "Kecuali Luke
tentunya, yang sibuk bekerja terus, menggali galangan.
Aku dan ibu kalian cuma sebentar saja di situ, karena
setelah itu kami harus cepat-cepat kembali ke
perjamuan. Banyak sekali kerjaku waktu itu. Sedikit pun
tak sempat beristirahat, sampai perjamuan selesai."
"Kalau begitu sudah jelas Anda takkan mungkin
mencuri kucing itu!" kata Pip sambil tertawa, Bu Trimble
begitu kaget mendengarnya, sampai kaca matanya
tcrlepas. Hidungnya yang memang sudah merah,
menjadi semakin merah. Hampir seperti buah tomat!
"Wah, lucu!" katanya, sambil berusaha melepaskan
kaca matanya yang tersangkut pada kerah bajunya yang
terbuat dan kain renda. "Hih membayangkan
kemungkinan mencuri saja, aku sudah seram."
"Bolehkah kami melihat kucing-kucing, Bu Tremb
le?" tanya Bets.
"Kurasa boleh saja," jawab Bu Trimble. "Dan harap
ingat baik-baik, namaku Trimble bukan Tremble.
Nona Harmer saat ini sedang mengurus kucing-kucing
asuhannya. Yuk kita datangi sebentar."
Wanita setengah umur itu berjalan mendului. Kaca
mata jepitnya sudah tertengger lagi di puncak hidung.
Tapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, benda itu
sekali lagi terlepas.
"Empat kali," kata Bets menghitung dengan suara
jelas.
"Empat kali apa, Nak?" tanya Bu Trimble. Ia
berpaling, sambil tersenyum manis. Tangannya meme-
gangi kaca mata, supaya jangan jatuh.
"Jangan pegang," kata Bets. "Aku ingin menghitung,
berapa kali saja ia terjatuh selama kami di sini."
"Kau ini anak aneh!" kata Bu Trimble. Kelihatannya
agak kesal. Kaca matanya ditopang dengan tangannya
sekarang. Bets agak menyesal. Menurut perasaannya,
Bu Trimble main licik!
Mereka sampai di kandang kucing. Nona Harmer ada
di situ, sedang sibuk mencampur makanan kucing. Ia
mendongak ketika terdengar langkah mereka datang.
Wajahnya yang bundar dan gembira sekali itu nampak
lesu.
96
Hai," sapanya, "kalian datang hendak melihat
kucing-kucingku?''
"Ya, betul," jawab Bets. "Anda mestinya merasa
tiak enak, Dark Queen dicuri orang pada saat Anda
sedang pergi."
"Memang," jawab gadis montok itu, sambil menga-
duk-aduk makanan dalam panci. "Aku menyesal,
kenapa pergi kemarin. Sebetulnya aku mendapat cuti
hanya untuk setengah hari saja. Tapi Pak Tupping lantas
menawarkan diri akan mengurus kucing-kucing ini
untukku selama sehari. Tentu saja aku mengucapkan
terima kasih padanya, lalu pergi. Namun sejak itu tak
habis-habisnya aku menyesali diri."
"Pak Tupping rnenawarkan diri mengurus kucing-
kucing, kata Anda tadi?" tanya Pip. la heran. Pak
Tupping, rnenawarkan diri untuk berbuat baik pada
orang lain! "Bukan begitu kebiasaannya."
"Memang," kata Nona Harmer sambil tertawa. "Tapi
kemarin aku kepingin sekali pulang ke rumah. Kalau
setengah hari saja cutiku, tidak bisa! Soalnya, tempat
tinggalku jauh dari sini. O ya kalian mengumpulkan
karcis-karcis kereta api? Kalau mau, kuberikan karcisku
yang kemarin. Penjaga pintu stasiun tidak meminta.
ketika aku kembali kemarin malam."
Pip memang gemar mengumpulkan karcis kereta api.
Diambilnya karcis yang disodorkan Nona Harmer
padanya.
"Terima kasih," kata Pip, lalu mengantongi karcis itu.
Pasti Larry akan iri nanti, pikirnya. Larry juga gemar
mengumpulkan karcis kereta api.
"Anda juga beranggapan, Luke yang mencuri Dark
Queen, Nona Harmer?" tanya Pip kemudian.
"Sama sekali tidak," jawab yang ditanya. "Anak itu
97
98
agak konyol, tapi dia jujur. Kalau mau tahu siapa yang
kuduga mencuri kucing itu pasti orang sirkus yang
berteman dengan Luke. Nanti dulu siapa namanya?
Kalau tidak salah, Jake."
Itu merupakan kabar baru bagi Pip dan Bets. Luke tak
pernah bercerita pada mereka tentang Jake. Luke punya
teman, orang sirkus! Wah menarik! Apa sebabnya
Luke tak pernah bercerita tentang orang itu?
"Jake itu tinggalnya di dekat sini?" tanya Pip.
"Tidak! Tapi saat ini sirkus tempatnya bekerja sedang
mengadakan pertunjukan di kota Fairing yang tidak jauh
dari sini," kata Nona Harmer. "Jadi ada kemungkinan
nya orang itu ada di dekat-dekat sini. Dark Queen pasti
hebat, kalau tampil di sirkus. Aku sempat mengajarkan
beberapa kepandaian padanya."
Sementara itu Bu Trimble sudah tidak sabar lagi,
karena waktu sudah mendekati saatnya minum teh.
Wanita setengah umur itu mendehem-dehem pelan
beberapa kali. Kaca matanya langsung terlepas dari
batang hidung.
"Kita pergi saja sekarang," kata Pip, yang memahami
makna deheman itu. "Terima kasih atas kesediaan Anda
menunjukkan kucing-kucing itu pada kami. Anda tak
perlu mengantar kami ke luar, Bu Tremble kami pergi
lewat tembok saja."
"Namaku Trimble, bukan Tremble," kata Bu Trimble
Senyumnya lenyap sebentar. "Masakan nama semudah
itu tidak bisa kalian ingat dengan benar? Dan kalian tidak
boleh memanjat-manjat tembok. Kuantarkan saja
sampai ke depan."
"Di sana ada Pak Tupping," kata Bets. Kaca mata Bu
Trimble terlepas dari tenggerannya, begitu ia mende-
ngar nama tukang kebun yang selalu masam itu disebut
"Yah kalau kalian memang ingin memanjat
tembok, aku takkan melarang!" katanya. "Sampai
ketemu lagi, Anak-anak. Nanti akan kuceritakan pada
Lady Candling bahwa kalian datang bertamu."
"Delapan kali terjatuh," kata Bets dengan nada
senang, ketika mereka kembali dengan jalan memanjat
tembok. "He, Pip aneh ya, Luke tak pernah bercerita
pada kita tentang Jake!"
99
PERGI KE SIRKUS
Sorenya mereka berjanji akan minum teh bersama
Larry dan Daisy. Dan mereka berangkat bersama-sama
dengan Fatty. Buster juga ikut. Sambil berjalan Pip sibuk
bercerita. Banyak sekali yang diceritakannya.
"Luke tidak muncul untuk bekerja hari ini," katanya.
"Aneh, karena ia tidak dipecat Lady Candling. Aku juga
heran, apa sebabnya ia tak pernah bercerita pada kita
mengenai Jake."
"Jangan-jangan mungkinkah dia mengatakan
pada Jake agar datang ke kandang kucing kemarin, lalu
dia memberikan Dark Queen pada kawannya itu?" kata
Larry menduga-duga. "Maksudku aku tahu menurut
kita bukan Luke yang mencuri kucing itu, tapi yah,
bagaimana pendapat kalian?"
Saat .itu untuk pertama kalinya timbul kesangsian
anak-anak mengenai diri Luke. Remaja itu sama sekali
tidak pernah bercerita pada mereka mengenai Jake.
Padahal jika ia hidup di sirkus, anak-anak sudah pasti
kepingin mendengar cerita-cerita mengenainya. Kecuali
itu, cuma Luke saja satu-satunya yang selama waktu
sejam terus berada di dekat kandang kucing.
100
11
"Aku masih tetap tak percaya bahwa Luke yang
mencuri begitu pula Jake, kawannya itu," kata Bets
tandas. "Itulah pendapatku!"
"Pendapatku juga begitu," kata Daisy. "Tapi kenapa
urusan ini begitu membingungkan?"
"Dalam menghadapi perkara yang lalu, kita jauh lebih
cekatan," kata Larry dengan nada suram. "Ingat saja
apa-apa yang kita temukan waktu itu, dan para
tersangka yang kita tanyai."
"Yah," kata Pip, "satu hal bisa kukatakan dengan
pasti nama-nama para tersangka bisa kita coret
semua dari daftar. Aku cuma setengah jam saja di
sebelah tadi, tapi selama itu cukup banyak kuperoleh
keterangan sehingga kini tahu bahwa tak seorang pun
dalam daftar kita itu mungkin mencuri Dark Queen."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Fatty.
"Yah kemarin Lady Candling kan mengadakan
perjamuan," kata Pip. ''Jadi sudah jelas nyonya itu tidak
bisa meninggalkan perjamuan itu yang sedang ramai-
ramainya, untuk mencuri kucingnya sendiri. Sedang
juru masak dan pembantu rumah tangga sibuk terus
selama perjamuan minum teh itu. Jadi mereka berdua
juga lepas dari sangkaan. Bu Tremble ikut sibuk
membantu, dan Lady Candling pasti akan langsung
curiga sekali apabila wanita itu pergi selama kira-kira
sepuluh menit, untuk mencuri kucing!"'
"Teruskan, Pip," kata Fatty. "Mana daftarmu, Larry,
dengan nama-nama mereka yang dicurigai? Kita coret
saja satu per satu."
"Nama Nona Harmer juga bisa dicoret," kata Pip,
''karena kemarin ia pulang ke rumahnya dan ia tinggal di
Langston yang jauh dari sini. Ini, lihatlah ini arcisnya
untuk kembali kemari. Penjaga pintu di stasiun tidak
101
memintanya dan Nona Harmer ketika ia keluar. Jadi
nama gadis itu juga bisa kita coret saja."
"Kalau begitu semua sudah dicoret kecuali Luke!''
kata Larry. "Wah! Kelihatannya ada kemungkinan
pencurinya kawan Luke seseorang yang menyelinap
masuk, mengedipkan mata ke arah Luke, mengambil
kucing lalu pergi lagi, dengan keyakinan bahwa Luke
pasti takkan membuka rahasianya. Aduh kepingin
rasanya bisa ketemu dengan Luke, lalu menanyakan
tentang Jake padanya."
"Aku tahu di mana Luke sekarang! Rasanya aku
tahu!" seru Pip. "Pasti dia ada di sirkus bersama
temannya, Jake! Berani taruhan dia akan ikut apabila
sirkus itu pergi lagi!"
Anak-anak semua merasa yakin bahwa Pip benar.
Tentu saja, Luke pasti ada di sirkus.
"Yuk, nanti sehabis minum teh kita bersepeda ke
Farring," kata Fatty mengusulkan. "Pasti dengan segera
di sana akan terlihat tenda-tenda sirkus dan kalau
Luke ada di sana, dengan segera pula kita akan
menemukannya!"
"Setujuu!" seru anak-anak. Mereka mulai bersema
ngat kembali. Seridak-tidaknya ada yang bisa mereka
kerjakan saat itu. "Yuk, kita cepat-cepat saja minum teh,
dan sesudah itu langsung berangkat."
Bu Daykin, ibu Larry dan Daisy agak heran juga
melihat anak-anak begitu cepat menyikat sajian makan
sore yang sudah diatur begitu rapi olehnya.
"Kalian ini cuma sangat lapar saja, atau tergesa-
gesa?" tanyanya. "Atau tadi siang tidak makan?"
"Kami cuma terburu-buru saja, Bu Daykin," kata
Fatty, sesopan-sopannya bicara dengan mulut penuh
berisi makanan. "Setelah ini kami hendak jalan-jalan
naik sepeda."
102
"Ya, ke Farring," sela Bets. Detik berikutnya sepasang
sikut sudah bersarang di sisinya. Sebelah kiri dari Pip,
sedang Larry dari kanan. Keduanya sudah khawatir saja,
jangan-jangan Bets terlalu banyak bercerita nantinya.
"Kenapa ke Farring?" tanya Bu Daykin heran. la tidak
tahu, di sana ada sirkus. "Kota itu kan tidak menarik."
"Yah, menurut kami asyik juga bersepeda pulang-
balik ke sana," kata Larry. "Lebih baik sekarang saja kita
berangkat. Kami takkan terlambat pulang, Bu."
Fatty harus pulang sebentar untuk mengambil
sepedanya. Begitu pula halnya dengan Bets dan Pip.
Bets senang sekali, karena ia diijinkan ikut sekali itu.
Farring tidak begitu jauh letaknya dari desa mereka.
Kemudian semuanya berangkat dengan gembira.
Setelah beberapa saat bersepeda, nampak seseorang
yang juga naik sepeda di depan mereka. Orang itu
bertubuh tinggi gempal, berpakaian seragam biru tua.
"Astaga! Itu kan si Ayo Pergi!" kata Pip. "Jangan susul
dia! Siapa tahu nanti dia membelok di salah satu tempat.
Setelah itu barulah kita cepat-cepat terus ke Farring."
Tapi Pak Goon ternyata juga mengarah ke Farring!
"Aduh! Mudah-mudahan saja dia tidak juga bermak-
sud mendatarigi Jake," kata Fatty cemas. "Mungkinkah
la berhasil mengetahui bahwa Luke punya kawan orang
sirkus? Sialan! Kita tidak boleh membiarkan si Ayo Pergi
mendului kita karena bisa saja Jake itu merupakan
petunjuk yang sangat penting."
Tapi kemudian terjadi sesuatu yang sangat menye-
nangkan hati anak-anak. Ban sepeda Pak Goon kempis.
Kupanya melindas pecahan beling. Tahu-tahu bannya
sudah mengempis. Sepeda polisi desa itu masih
meluncur sebentar sambil terantuk-antuk. Pak Goon
berseru jengkel, lalu meloncat turun.
103
Dituntunnya sepedanya ke tepi jalan, lalu diambilnya
alat-alat penamba! ban. Saat itu anak-anak melewatinya
sambii nyengir lebar. Fatty meiambai-lambai ke
arahnya.
"Selamat sore, Pak Goon! Kasihan ban Anda
bocor rupanya!"
Polisi desa itu cepat-cepat menoleh. Kekagetannya
berubah menjadi kejengkelan, ketika melihat kelima
anak itu bersepeda cepat-cepat menuju Farring. la lantas
mulai menambal ban dalamnya. Sementara itu
anak-anak bersepeda terus. Mereka tahu, paling sedikit
baru seperempat jam l agi Pak Goon bisa berangkat
untuk menyusul
"Nah, itu tenda-tenda sirkussudah kelihatan," kata
Bets, ketika mereka sampai di puncak sebuah bukit dan
mulai meluncur ke bawah "Dan lihatlah, itu kandang
kandangnya serta caravan-caravan tempat tinggai
para pemain sirkus. Alangkah meriahnya!"
Suasana di sirkus sangat menarik. Seekor gajah besar
diikatkan kaki belakangnya ke batang sebuah pohor.
yang besar, Lima ekor harimau mengaum lapar dalam
kandang yang sangat kokoh. Tujuh ekor kuda yang
indah-indah sedang dirunggangi berkeliling lapangan
oieh para pengasuh mereka. Kuda-kuda itu sedang
melakukan latihan jasmani!
Asap mengepul dari cerobong kereta-kereta tempat
tinggai yang dicat berwarna-warni. Bau masakan yang
sedap rnenghambur di udara.
"Ikan haring diasap." kata Bete, sambil mengernyit
kan hidung.
"Susis," tebak Daisy.
"Aduh. enaknya bau masakan ini!" kata Fatty. "Biar
aku tadi sudah makan sore, tapi sekarang kepingin
makan lagi rasanya!"
104
"Bagaimana rencana kita sekarang?" kata Larry,
sambil meloncat turun dari sadel. Sepedanya disandar-
kan ke pagar. "Kita mencari Luke, atau langsung
menanyakan apakah Jake ada di sini?"
"Sebaiknya kita jangan beramai-ramai," usul Fatty.
"Kurasa lebih baik aku sendiri saja yang masuk, lalu
bertanya mengenai Jake dengan sopan."
"Nanti harimau-harimau itu menerjang keluar dari
kandang mereka begitu kau muncul, karena kepingin
melahap anak begitu gendut," kata Larry. "Tidak! Aku
saja yang pergi."
"Kan aku yang mendapat gagasan tentang sirkus ini!"
bantah Pip. "Aku yang mula-mula menduga. mungkin
Luke ada di sini. Jadi kurasa akulah yang berhak
masuk!"
"Ayo cepatlah arhbil keputusan," kata Daisy tak sabar
lagi. "Sebentar lagi Pak Goon pasti akan sudah sampai
di sini."
"Yah kalau begitu kita semua saja masuk, kecuali
Bets," kata Larry. "Kurasa tidak apa-apa jika kita
memencar dan berkeliaran di sekitar lapangan sirkus ini.
Kulihat anak-anak lain juga melakukannya. Tapi Bets
lebih baik tinggal di sini, untuk menjaga sepeda kita."
"O, begitu ya?!" tukas Bets tersinggung. "Kenapa
aku?"
"Kau kan takutpada harimau," kata Pip. "Pada gajah
kau juga takut! Sewaktu ke kebun binatang waktu itu,
kau tidak mau ketika disuruh menunggang gajah. Dan
siapa tahu, binatang apa lagi yang mungkin ada dalam
kandang yang sebelah sana itu kurasa beruang coklat
yang besar-besar."
"Aduh," kata Bets ngeri. "Yah kalau begitu lebih
baik aku di sini sajalah! Tapi biar begitu kalian jahat,
karena pergi semua,"
105
Air mata anak itu berlinang-linang. la tahu, ia takkan
berani pergi sendiri memasuki lapangan sirkus. Tapi
menurut perasaannya, mestinya salah seorang dari
anak-anak itu kan bisa menemani dirinya menjaga
sepeda.
Tapi anak-anak yang lain sudah memanjat pagar,
masuk ke lapangan sirkus. Mereka lantas memencar,
berkeliaran di situ untuk menanyakan Jake pada orang
yang kebetulan lewat.
Pip yang berhasil menemukan kawan Luke itu. Ia
bertanya pada seorang anak perempuan yang bandel,
apakah anak itu tahu di mana Jake berada. Anak sirkus
itu mula-mulanya menjulurkan lidah untuk mengejek,
sambil melontarkan ucapan kasar. Tapi kemudian ia
menuding seorang laki-laki bertubuh besar, yang sedang
memberi minum pada seekor kuda.
Pip mendatangi orang itu. Orang itu menoleh ketika
disapa.
"Kau mau apa?" tanyanya.
"Anu aku mencari seorang anak laki-laki
kenalanku," jawab Pip. "Namanya Luke. Ada pesan
untuknya. Dia ada di sini?"
"Tidak," jawab laki-laki itu singkat. "Sudah beberapa
minggu aku tak melihatnya."
Pip merasa kecewa.
"Sayang aku kepingin sekali bicara dengan dia,"
katanya. "Anda tahu di mana dia sekarang?"
"Tidak," jawab orang itu lagi. "Aku tidak suka
memberikan alamat orang lain pada anak-anak yang'
selalu mau tahu. Sana, pergi dan jangan suka
mencampuri urusan orang lain."
Sementara Pip sedang berbicara dengan laki-laki itu,
Fatty datang menghampiri.
106
"Dia ini yang bernama Jake?" tanya anak gendut itu.
Pip mengangguk.
"Tapi katanya, sudah berminggu-minggu tidak
melihat Luke," kata Pip.
"Kami ini teman-temannya," kata Fatty dengan
serius. "Percayalah! Kami cuma ingin bicara sebentar
dengan dia."
"Sudah kukatakan tadi, aku tidak tahu di mana anak
itu," kata laki-laki yang bernama Jake. "Sekarang keluar
dan lapangan ini. Dan ingat apa kataku tadi sudah
berminggu-minggu aku tidak berjumpa dengan Luke."
Bets berdiri menjaga sepeda, sambil memperhatikan
kawan-kawannya yang berkeliaran di sekitar perkemah-
an. la juga berjaga-jaga kalau Pak Goon datang. Bets
berdoa dalam hati, semoga polisi desa itu tidak berhenti
lalu bertanya apa yang diperbuatnya di situ. Akhirnya
Bets memutuskan lebjh baik bersembunyi saja di balik
pagar, supaya tidak nampak oleh orang-orang yang
lewat.
Anak perempuan itu lantas merangkak ke balik pagar,
lalu duduk berjongkok di situ. Di dekatnya ada caravan
besar, berwama merah nyala. Bets memperhatikan
kereta tempat tinggal orang sirkus itu. Tiba-tiba ia
tercengang. Dilihatnya ada orang mengintip dirinya dari
balik tirai tenda. Dan orang itu Luke!
107
12
MELINDUNGI TEMAN
Bets duduk tanpa bergerak sedikit pun. la menahan
napas. Dilihatnya tirai tersibak lebih lebar. Kemudian
jendela kereta dibuka pelan-pelan. Luke menjulurkan
kepalanya ke luar.
"Hai, Bets!" panggilnya dengan hati-hati. "Kenapa
kau ada di sini? Mau nonton sirkus?"
"Bukan," jawab Bets dengan suara pelan pula. la
berdiri. "Kami mendengar bahwa kau punya teman di
sini, Luke. Kami ingin berjumpa dan berbicara
denganmu lalu kami mengira mungkin kau pergi ke
temanmu itu."
"Dia pamanku," kata Luke. "Aku tidak begitu senang
padanya, tapi kecuali dia tak ada orang lagi yang bisa
kudatangi. Soalnya, aku takut dijebloskan ke penjara
karena dituduh mencuri Dark Queen. Karenanya aku
lantas minggat."
"Tapi bukan kau kan yang mencurinya?" tanya Bets.
"Tentu saja bukan," jawab Luke. "Seolah-olah aku
ini pencuri! Kecuali bahwa itu perbuatan jahat, aku pun
takkan berani melakukannya. Kau sendiri di sini?"
"Tidak yang Iain-lain juga ada di sini," jawab Bets
"Mereka sedang mencari Jake, untuk menanyakan
apakah kau ada di sini."
108
"Oh, " kata Luke. "Tapi jangan bilang-bilang padanya
mengenai kesulitan yang sedang kuhadapi maksud-
ku, mengenai Dark Queen. Aku khawatir kalau itu
kukatakan padanya, dia tidak mau menyembunyikan
diriku di sini. Jadi aku cuma mengatakan, aku habis
bertengkar dengan ayah tiriku dan karenanya ingin
minggat ikut sirkus. Kutunjukkan padanya bekas-bekas
memar kena pukulan ayah tiriku kemarin malam. Lalu
kata pamanku itu, aku akan disembunyikannya di sini
sampai sirkus berangkat. Aku akan diajaknya ikut. Anak
kuat kayak aku bisa dipakainya sebagai pembantu."
"Kau dipukul ayah tirimu?" tanya Bets dengan
prihatin. "Aduh, Luke, nasibmu benar-benar malang!
Mudah-mudahan saja anak-anak tidak mengatakan
apa-apa pada Jake mengenai kucing yang dicuri itu.
Tapi kurasa tidak! Mereka hanya hendak mengatakan,
ada pesan untukmu."
"Yah jika mereka bercerita padanya aku dicurigai
mencuri sesuatu, sudah pasti aku tak boleh lagi
bersembunyi di sini," kata Luke. "Orang sirkus tidak
suka berurusan dengan polisi. Kau jangan bilang pada
siapa-siapa bahwa aku di sini, ya Bets? Aku hams
bersembunyi terus dalam kereta ini, sampai sirkus
berangkat."
"Aku takkan bercerita pada siapa-siapa kecuali
pada anak-anak," kata Bets, "percayalah! O ya, Luke
menurut pendapatmu, kemungkinannya siapa yang
mencuri kucing itu? Hilangnya kan antara pukul empat
dan pukul lima sedang selama itu kau selalu ada di
dekat kandang. Waktu itu kau sama sekali tidak melihat
siapa-siapa?"
"Tidak, sama sekali tak ada orang datang," kata Luke.
Kejadian itu benar-benar membingungkan."
109
"O ya, Luke aku juga perlu menceritakan sesuatu
yang aneh," kata Bets. la teringat pada peluit yang
ditemukan dalam kandang. Tapi sebelum ia sempat
menceritakannya, terdengar suara orang bercakap
cakap di dekat situ. Luke bergegas menutup jendela dan
menarik tirai rapat-rapat.
Ternyata yang datang Daisy beserta ketiga anak
lainnya. Mereka nampak sangat kecewa.
"Percuma, Bets," kata Fatty. "Kami berhasil
menjumpai Jake, tapi ia tak mau mengatakan apa-apa
tentang Luke. Katanya, sudah berminggu-minggu tidak
melihat anak itu."
"Tapi walau begitu aku mempunyai firasat Jake
pemah berjumpa dengan dia selama ini, serta tahu di
mana dia sekarang," kata Pip. "Benar-benar menjeng
kelkan sudah datang jauh-jauh, tapi tanpa hasil sedikit
pun."
"Kenapa si Bets?" tanya Fatty, sambil memperhati
kan anak perempuan itu. "Lihatlah, mukanya merah
seolah-olah kepingin mengatakan sesuatu. Ada apa,
Bets?"
"Ah, tidak ada apa-apa," kata Bets. "Aku cuma tahu,
di mana Luke sekarang."
Keempat anak yang lain memandang dirinya,
seolah-olah Bets dengan tiba-tiba saja menjadi gila.
"Apa maksudmu?" tanya Pip setelah beberapa saat
"Di mana dia?"
"Kalian lihat kereta tempat tinggal berwarna merah di
sebelah sana?" kata Bets sambil memelankan suara.
"Nah di situlah Luke bersembunyi. Aku melihatnya
Ia tadi mengintip ke arah sini. Aku juga sudah bicara
dengan dia."
110
"Bukan main!" kata Larry. "Kita capek-capek
berkeliaran di lapangan, berjumpa dengan Jake tapi
tidak berhasil mengorek keterangan sedikit pun dan
sementara itu Bets yang cilik ini asyik mengobrol dengan
Luke! Setelah ini apa lagi yang akan dilakukannya?
Memang anak luar biasa!"
Bets berseri-seri. Sebetulnya cuma kebetulan saja ia
merangkak ke balik pagar, lalu duduk dekat caravan
merah itu. Tapi walau demikian, timbul juga perasaan
bahwa ia pintar dan tidak bisa disepelekan.
"Kalian tadi bercerita tentang kucing yang dicuri pada
Jake?" tanyanya. "Soalnya, Luke tidak mengatakan
apa-apa tentang itu padanya, karena takut Jake nanti
tidak mau menyembunyikannya. Ia cuma mengatakan
lari dari rumah ayah tirinya, sambil menunjukkan
luka-luka memar kena pukul."
"Tentu saja kami tidak bercerita tentang kucing itu,
Konyol," tukas Pip. "Akulngin tahu, bisakah kita bicara
sebentar dengan Luke. Dia tadi mengintip dari balik
jendela yang mana?"
Bets menuding ke jendela itu. Pip menyiulkan lagi
yang biasa dipakai Luke sebagai isyarat pengenalan.
Nampak tirai di balik jendela bergerak sedikit. Di
belakangnya kelihatan bayangan kepala Luke. Setelah
itu jendela terbuka pelan-pelan.
"He, Luke!" panggil Fatty dengan suara tertahan.
"Kami tidak mengatakan apa-apa pada Jake tentang
kucing itu. Kau benar-benar bermaksud minggat ikut
sirkus?"
"Ya," jawab Luke.
"Tapi kau tidak takut, nanti semua akan merasa yakin
kaulah yang mencuri Dark Queen?" tanya Larry.
"Terus-terang saja, tidak baik apabila melarikan diri dari
kesulitan yang sedang dihadapi."
111
Saat itu terdengar bunyi orang turun dan sepeda di
balik pagar. Terdengar jelas napas terengah-engah.
Napas orang bertubuh berat. Anak-anak saling
berpandangan, lalu mengintip ke balik pagar. Ya, betul
seperri yang mereka khawatirkan, yang datang itu
Pak Goon! Rupanya ia berhasil menambal ban
sepedanya yang bocor, dan kini sudah sampai di sirkus.
"Ini sepeda kalian?" tanya polisi desa itu, ketika
melihat kepala anak-anak muncul di balik pagar. "Apa
yang kalian can di sini?"
"Ah cuma ingin melihat sirkus. Pak," kata Fatty
dengan sopan. "Harimau mereka bagus-bagus. Pak
Goon. Anda harus berjaga-jaga. jangan sampai
dimakan. Harimau paling senang kalau mendapat
makanan daging yang banyak."
Pak Goon mendengus.
"Ayo pergi," tukasnya. "Kalian pasti mau iseng lagi di
sini. Kalian tadi melihat sahabat kalian itu, Luke
maksudku?"
"Luke?" Fatty memandang Pak Goon dengan mata
terbentang lebar. "Luke? Mana Luke? Dia tidak ada di
tempat Lady Candling? Kami ingin sekali bicara dengan
dia asal Anda mau mengatakan di mana anak itu
sekarang berada."
Sekali lagi Pak Goon mendengus. Fatty kepingin
sekali bisa mendengus seperri dia. Dengusannya hebat.
Menurut perasaan Fatty, teman-temannya di sekolah
pasti akan senang apabila mendengar dengusan macam
begitu.
"Ayo pergi," kata Pak Goon sekali lagi, sambil
menaiki sepedanya. "Anak-anak lancang, mencampuri.
urusan hukum!"
Setelah itu ia bersepeda menuju gerbang lapangan.
Anak-anak tidak berani berbicara lagi dengan Luke.
112
Mereka menyusup lewat celah pagar, lalu cepat-cepat
menaiki sepeda masing-masing. Mereka masih sempat
melihat Pak Goon berbicara dengan seseorang, lalu
berjalan menuju ke tempat Jake yang masih sibuk
memberi minum pada kuda-kuda.
"Nah kan tepat dugaan kita tadi." kata Fatty.
Ternyata si Ayo Pergi juga mendengar kabar tentang
lake. Mudah-mudahan saja Jake tidak mengatakan di
mana Luke bersembunyi, begitu ia tahu anak itu
dicurigai mencuri Dark Queen!"
"Sebaiknya kita menjauhi kereta tempat tinggal ini,"
kata Pip. "Rasanya aneh, kenapa kita berdiri di
dekatnya. Si Ayo Pergi memang tolol sekali tapi bisa
saja terlintas dalam pikirannya bahwa kita tertarik pada
kereta ini karena alasan tertentu!"
Mereka lantas pergi, meninggalkan Luke seorang diri
dalam caravan. Mereka ingin sekali bisa berbuat sesuatu
untuk teman mereka itu. Tapi tidak bisa! Mereka cuma
bisa berdoa, semoga anak itu bisa selamat dan pergi ikut
Jake, tanpa ketahuan orang.
"Walau begitu, menurut perasaanku nasibnya akan
sama saja nanti," kata Larry, sementara mereka
bersepeda pulang. "Kurasa ia takkan lebih bahagia
nidup dengan Jake yang pencemberut itu, dibandingkan
dengan ketika ia bekerja pada Pak Tupping dan tinggal
bersama ayah tirinya."
Ketika mereka tiba kembali di desa hari sudah malam.
Sudah hampir waktu tidur bagi Bets.
"Kita berpisah saja di sini," kata Larry, sambil berhenti
di persimpangan jalan tempat orang tuanya tinggal.
Besok kita berkumpul lagi!"
"Selamat malam," seru teman-temannya, lalu
melanjutkan perjalanan. Sedang Larry dan Daisy
langsung pulang.
113
"Sebentar lagi kau sampai di rumah, Fatty," kata Pip
"Sayang ya misteri ini nampaknya kayak sampai di
jalan buntu! Luke minggat, dan kini kita takkan pernah
bisa tahu siapa sebenarnya yang mencuri Dark Queen."
"Ya kurasa bagi kita persoalan ini berakhir sampai
di sini saja," kata Fatty, sambil meloncat turun dari sadel
sepedanya. la sudah sampai di depan rumahnya
"Apabila Luke sudah pergi, Pak Goon pasti takkan
melanjutkan penyelidikannya. Dan kita pun takkan bisa
memperoleh keterangan lebih jelas. Sayang!"
"Sudahlahjadi sampai besok," kata Bets. Bersama
abangnya ia meneruskan perjalanan pulang. Ketika
mereka berdua membelok masuk ke pekarangan
rumah, dari dalam terdengar deringan lonceng. Itu tanda
bahwa Bets hams masuk ke kamar tidur.
"Tepat pada waktunya," kata Pip. "Yang jelas,
malam ini kau tidak kena marah, Bets. Selamat tidur!"
Bets masuk ke kamar mandi. Sementara itu Pip pergi
mencuci badan, lalu mengenakan pakaian rapi. Ia
berpakaian sambil bersiul-siul. Ternyata ia menyiulkar
lagu yang biasa disiulkan oleh Luke.
"Kasihan anak itu," pikir Pip sambil membersihkan
kuku. "Kurasa takkan ada kabar lagi tentang dirinya
setelah ini. Yah aku akan tetap ingat padanya, karena
peluit-peluit buatannya yang bagus itu."
Sehabis makan malam, Pip membersihkan sepeda. Ia
baru harus tidur pukul setengah sembilan. Jadi masih
cukup banyak waktu. Sepedanya digosok sampai
bersih. Setelah itu ia pergi ke kebun. Saat itu musim
panas, jadi matahari masih bersinar sampai malam. Pip
duduk di pondok peranginan yang ada dalam kebun,
lalu duduk sambil membaca di situ.
Kemudian ia merasa seolah-olah mendengar bunyi
gemerisik pelan. Ia memandang ke luar. Disangkanya
114
ada burung yang hinggap di semak. Tapi karena tidak
melihat apa-apa, ia pun melanjutkan bacaannya. Tak
lama kemudian terdengar dentangan lonceng jam di
desa menandakan waktu setengah sembilan. Pip
menutup buku yang dibacanya, lalu mendatangi kedua
orang tuanya untuk mengucapkan selamat tidur.
Pip sudah capek. Dengan segera ia terlelap.
Macam-macam mimpinya dalam tidur. Ia bermimpi
menunggangi Buster, dikejar oleh Pak Goon. Lalu Jake
menggabungkan diri, menunggangi seekor macan.
Setelah itu Luke lari ketakutan di depan mereka.
Didengarnya siulan lagu yang biasa diperdengarkan
oleh Luke sebagai isyarat.
Pip memutar tubuh dalam tidurnya. Ia bermimpi terus,
dan Luke hadir terus di situ. Bunyi siulannya pun
masih terdengar. Nyaring dan terus-menerus.
Tiba-tiba Pip merasa tubuhnya dijamah. Ia terkejut,
lalu bangun. Ia duduk dengan tubuh gemetar, karena
masih teringat pada mimpinya. Ia terpekik pelan, karena
kaget dijamah tadi.
"Ssst! Ini aku, Pip." Itu kan suara Bets. "Jangan
ribut-ribut."
"Bets! Tukas Pip jengkel. "Mau apa kau, mengejut-
kan diriku kayak tadi? Nyaris pingsan aku karena
perbuatanmu!"
"Dengar, Pip! Ada orang bersiul dalam kebun," bisik
Bets. "Yang disiulkan lagu yang biasa diperdengarkan
oleh Luke. Itu, yang selalu kita pakai sebagai isyarat
dengannya. Mungkinkan itu Luke? Apakah ia mencari
kita?"
Kini Pip sudah benar-benar bangun. Baru saja hendak
dijawabnya pertanyaan Bets, kerika terdengar lagi bunyi
siulan di luar. Bunyi siulan yang terdengar dalam
mimpinya. Kini ia tahu, yang tadi itu bukan siulan mimpi,
115
tapi siulan benar-benar. la meloncat turun dari tempat
tidur.
"Kau benar, Bets!" katanya. "Mestinya itu Luke.
Karena sesuatu hal, ia pergi lagi dari sirkus, lalu kembali
ke sini. Sebaiknya kita lihat saja, mau apa dia. Maksudku
aku yang akan melihat. Kau tinggal saja di sini."
"Aku ikut," kata Bets berkeras. "Aku yang
mendengar siulannya tadi bukan kau. Jadi aku hams
ikut."
"Tapi nanti kau cuma berisik saja karena terjatuh
dari tangga atau semacam itu," tukas Pip.
"Siapa bilang!" kata Bets jengkel. Suaranya mulai
meninggi. Pip cepat-cepat menyenggolnya.
"Jangan ribut nanti terbangun semua mendengar
suaramu. Baiklah ikut saja kalau mau, tapi jangan
berisik!"
Mereka tidak mau repot-repot mengenakan mantel
kamar dulu, karena hawa malam di luar cukup hangat.
Dengan kaki telanjang mereka menyelinap sepanjang
lorong, dan sampai di serambi dalam di ujung atas
tangga. Tahu-tahu kaki Pip tersandung sesuatu. Ia jatuh
berguling-guling di tangga. Untung sempat cepat-cepat
menyambar pinggiran tangga, sehingga tidak jatuh lebih
jauh ke bawah.
"Ada apa, Pip?" tanya Bets ketakutan.
"Aku tadi tersandung kucing dapur," bisik Pip. "Wah,
mudah-mudahan saja tidak ada yang terbangun."
Keduanya duduk di tengah tangga selama beberapa
saat, sambil menahan napas. Mereka sudah khawatir
saja kalau ayah atau ibu mereka terbangun. Tapi tidak
kamar tidur orang tua mereka tetap sepi. Kucing yang
menyebabkan Pip tersandung duduk meringkuk di kaki
tangga. Matanya yang hijau seperti bersinar dalam
gelap.
116
"Kurasa ia tadi sengaja membuat aku tersandung,"
kata Pip dengan suara pelan. "Sejak kita membolehkan
Buster masuk ke rumah, ia selalu kesal padaku. Ayo
pergi, Pus."
Kucing itu mengeong lalu lari. Anak-anak melanjut-
kan langkah, berjalan sambil meraba-raba dalam lorong,
menuju pintu yang membuka ke kebun. Pip membuka
kunci pintu, lalu melangkah ke luar. Kebun sunyi. Bets
menggenggam tangan abangnyaa erat-erat. Anak itu
tidak suka berada di tempat gelap.
Saat itu terdengar lagi siulan yang tadi.
"Kedengarannya datang dari ujung belakang kebun,"
kata Pip. "Yuk, kita ke sana! Berjalan di atas rumput,
Bets. Berisik, kalau berjalan di kerikil."
Kedua anak itu menyelinap melintasi taman, menuju
kebun sayur di belakang, mengitari tumpukan sampah.
Dekat pondok peranginan nampak bayangan gelap
bergerak-gerak.
Ternyata itu Luke! Pip dan Bets mendengar suaranya
memanggil pelan, dalam gelap. Ternyata anak itu
memang datang kembali!
117
13
"Kaukah itu, Luke?" bisik Pip. "Ada apa? Kenapa kau
pergi lagi dari sirkus?"
Pip menarik Luke, mengajaknya masuk ke pondok.
Sesampai di dalam mereka duduk, Bets di sebelah kiri
dan Pip di sebelah kanan Luke. Bets menyelipkan
tangannya ke dalam genggaman tangan Luke yang
kasar. Anak bertubuh kekar itu memegang tangan Bets
dengan sikap sayang.
"Ya aku lari lagi dari perkemahan sirkus," katanya.
"Polisi itu mendatangi pamanku, lalu menceritakan
segala-galanya tentang kucing yang hilang sambil
mengatakan bahwa ia merasa akulah yang mencurinya.
la lantas bertanya pada pamanku, apakah dia
tahu-menahu tentang kucing itu."
"Dan tentunya kau disuruh pergi oleh Jake, ketika
mendengar kejadian itu," kata Pip.
"Aku tidak dilaporkannya pada polisi itu," kata Luke.
"Katanya, ia sama sekali tidak tahu tentang kucing yang
dicuri orang, dan sudah berminggu-minggu ia tidak
melihat aku. Ia juga tidak kepingin bertemu dengan aku,
katanya pada polisi itu. Tapikurasa seluruh perkemahan
sirkus pasti akan digeledah, karena polisi itu begitu yakin
bahwa Dark Queen disembunyikan di sana."
118
LUKE MENDAPAT BANTUAN
"Dan kurasa mereka akan sekaligus mencari dirimu,"
kata Bets.
"Betul," jawab Luke. "Yah pamanku menunggu
sampai polisi itu sudah pergi lagi. Setelah itu aku
didatangi, dan disuruhnya pergi. Katanya ia tak peduli
jika aku minggat dari rumah ayah tiriku. Tapi ia tak mau
menolongku melarikan diri dari kejaran polisi."
"Tapi kau kan tidak bisa pulang ke ayah tirimu?" kata
Pip, "Dia kan jahat terhadapmu!"
"Memang, tidak bisa," kata Luke. "Aku kan tidak
kepingin dihajar sampai setengah mati?! Tapi lalu apa
yang akan kukerjakan sekarang? Aku kemari karena
kurasa kalian bisa memberi aku makanan sedikit. Sejak
tadi siang perutku belum terisi apa-apa. Aku sudah lapar
sekali!"
"Aduh, kasihan!" kata Bets. "Tunggu, akan kuambil-
kan makanan untukmu. Dalam tempat penyimpanan
makanan masih ada perkedel dan kue-kue."
"He, Bets jangan gila-gilaan," kata Pip sambil
menarik tangan adiknya untuk mencegahnnya pergi.
Apa kata Ibu besok, apabila melihat perkedel dan kue
itu sudah tidak ada lagi? Kau kan tidak bisa bohong,
mengaku tidak tahu apa-apa mengenainya. Jadi kau
terpaksa berterus-terang. Lalu kau ditanyai pada siapa
makanan itu kauberikan dan pasti akan timbul
dugaan, kau memberikannya pada Luke."
"Kalau begitu, apa yang bisa kita berikan padanya?"
tanya Bets.
"Roti dengan mentega," kata Pip. "Kalau itu, tidak
gampang ketahuan. Kecuali itu kita juga bisa mengambil
kue-kue kecil yang disimpan dalam kaleng. Dan
buah-buahan juga masih banyak."
"Itu saja sudah cukup," kata Luke lega. Bets lantas
bergegas masuk ke dapur. Di dalam kakinya tersandung
119
kucing, sampai ia terjatuh. Tapi tidak sakit Dengan cepat
diambilnya makanan, ialu dibawanya ke tempat Luke
dan Pip. Luke segera makan dengan lahap. Kelihatan-
nya iapar sekali.
"Nah. lebih enak rasanya sekarang," katanya
kemudian. "Menurut pendapatku, tak ada yang lebih
sengsara dibandingkan dengan perut lapar."
"Lalu di mana kau tidur malam ini?" tanya Pip.
"Entahlah," jawab Luke. "Di mana saja, di bawah
semak. Kurasa lebih baik aku menjadi kelana saja."
"Jangan," kata Bets. "Tinggal saja di tempat kami
untuk sementara. Kau bisa tidur dalam pondok
peranginan ini. Kasur dari kursi ayunan bisa kita
taruhkan di atas bangku situ. Kau tidur di atasnya."
"Dan setiap hari akan kami antarkan makanan
untukmu, sampai sudah ada rencana lebih lanjut," kata
Pip. Ia mulai bersemangat. "Pasti asyik nanti."
"Aku tidak mau merepotkan kalian," kata Luke.
"Ah, tidak." kata Pip. "Kau tinggal saja di kebun kami,
dan siapa tahu nanti kita berhasil membongkar teka-teki
hilangnya Dark Queen. Setelah itu, kalau semuanya
sudah beres, kau bisa kembali ke tempatmu bekerja."
"Kuambil saja sekarang kasur itu," kata Bets, lalu lari
ke tempat gelap. Ia berhasil sampai ke tempat kursi
ayunan tanpa mengalami kesukaran, karena sementara
itu matanya sudah terbiasa memandang dalam gelap.
Pip bergegas membantunya. Kasur mereka gotong
berdua ke tempat Luke menunggu sambil duduk dalam
pondok.
Kasur digelar di atas bangku. Setelah itu Pip lari ke
garasi, mengambil selembar selimut tua.
"Malam ini agak hangat," katanya pada Luke, "jadi
kau takkan kedinginan nanti. Besok pagi akan kami
antarkan sarapan untukmu."
120
"Tapi bagaimana dengan tukang kebun kalian?"
tanya Luke takut-takut. "Pukul berapa dia datang?
Apakah dia akan masuk ke sini?"
"Saat ini orang itu sedang sakit," kata Pip. "Paling
cepat beberapa hari lagi ia baru masuk kembali. Ibuku
sudah jengkel saja. Soal sayur-sayuran di kebun dapur.
Katanya tanaman itu perlu disiangi. Beberapa kali ia
sudah mencoba menyuruh aku dan Bets melakukan-
nya. Tapi aku paling tidak suka disuruh mencabuti
rumput liar."
Luke merasa lega.
"Kalau begitu aku bisa aman di sini." katanya.
"Baiklah. Terima kasih dan selamat tidur."
Pip dan Bets kembali ke rumah, langsung masuk ke
kamar tidur masing-masing. Keduanya bergairah,
membayangkan betapa kaget teman-teman besok
apabila mendengar bahwa Luke ada dalam kebun dan
semalam tidur di situ. Bets meringkuk di tempat tidurnya
dengan perasaan bahagia. Ia senang. karena bisa
menolong Luke. Ia senang pada anak yang baik hati itu.
Keesokan paginya setelah bangun, Pip duduk
sebentar di tepi tempat tidur. Ia berpikir-pikir. Apa
kiranya hidangan sarapan pagi itu. Kalau susis, pasti ia
akan bisa menyelundupkan beberapa potong dan
mengantarkannya pada Luke. Tapi kalau yang disajikan
telur rebus wah, sulit! Ah, pokoknya ia pasti bisa
mengambilkan roti dengan mentega.
Saat itu Bets sedang memikirkan hal yang sama. Anak
perempuan itu cepat-cepat berdandan, lalu turun ke
bawah. Sambil berjalan ia berpikir-pikir, apakah ia
sempat memotong roti dan mengolesinya dengan
mentega, sebelum ada yang masuk ke kamar makan
Menurut perasaannya, pasti bisa!
Tapi ketika ia sedang asyik mengiris roti tebal-tebal.
121
tahu-tahu ibunya masuk ke kamar makan. Ibu
memandang Bets dengan heran.
"Kau sedang berbuat apa?" tanya Ibu. "Sudah begitu
laparkah, sehingga tidak bisa menunggu saat sarapan?
Aduh, tebal sekali irisanmu itu, Bets!"
Kasihan Bets terpaksa meletakkan irisan roti tebal
itu ke piringnya, lalu memakannya sampai habis.
Setelah itu menyusul bubur. Pip dan Bets menghabiskan
isi piring masing-masing. Setelah itu nyaris saja kedua
anak itu bersorak gembira. Sebuah basi berisi susis
dihidangkan. Mata Pip dan Bets bersinar-sinar. Mereka
pasti akan bisa mengambilkan satu atau dua potong
susis, untuk Luke.
"Bolehkah aku minta dua susis kali ini?" tanya Pip.
"Aku juga," sambung Bets.
"Astaga lapar sekali kau rupanya, Bets!" kata
ibunya. Tapi diberikannya juga masing-masing dua.
Ayah mereka sedang asyik membaca koran, jadi takkan
bisa melihat apa yang mereka kerjakan. Tapi Ibu? Ibu
bisa melihat dengan jelas. Nah bagaimana caranya
supaya susis itu bisa disembunyikan? Repot juga
persoalannya.
Tapi saat itu Annie, pembantu mereka, masuk ke
kamar makan.
"Nyonya mau membeli bendera untuk mengumpul-
kan derma bagi rumah sakit desa ini?" tanya Annie.
"Nona Lacy yang menawarkan. la menunggu di pintu
depan."
"O ya, tentu saja," jawab Bu Hilton. la bangkit untuk
mengambil tasnya, yang ketinggalan di tingkat atas. Pip
dan Bets saling mengedipkan mata. Dengan cepat Pip
mengeluarkan sapu tangan dari kantongnya, lalu susis
dibungkus di dalamnya. Bets juga melakukan perbuatan
yang sama. Tapi sayangnya sapu tangannya tidak
122
begitu bersih! Susis yang sudah terbungkus sapu tangan
cepat-cepat dijejalkan ke dalam kantong bersama
beberapa iris roti. Saat itu ibu mereka datang lagi. la
melongo, memandang kedua piring yang sudah licin
tandas.
"Pip! Bets! Cepat sekali kalian makan pagi ini! Kalau
makan jangan bergegas-gegas. Bukan main kalian
kan tadi mendapat susis masing-masing dua potong!
Dan bubur sepiring penuh!"
Bets tercekikik. Pip cepat-cepat menendang kaki
adiknya di bawah meja. Setelah itu mereka tidak berani
lagi mencoba mengambil makanan lain dan cepat-cepat
mengantonginya. Mereka merasa Ibu masih menatap
mereka terus dengan heran dan bingung.
Ternyata Luke senang sekali menerima bawaan roti
beserta susis. Pip dan Bets juga membawakan air minum
untuknya. Luke duduk sambil makan dalam pondok
peranginan. Ketiganya berunding sambil berbisik-bisik.
"Nanti siang akan kami bawakan makanan lagi," kata
Pip. "Sedang buah-buahan bisa kaupetik sendiri, ya
Luke?"
Luke mengangguk. Diteguknya air dingin sampai
habis, lalu dikembalikannya gelas yang sudah kosong.
Saat itu terdengar suara seseorang memanggil-manggil.
Bets bangkit dengan segera.
"Itu Fatty dengan Buster!" katanya. "Hai, Fatty
kami ada di sini! Dalam pondok!"
Fatty masuk ke kebun, bersama Buster. Anjing kecil
itu langsung lari masuk ke pondok peranginan, sambil
menggonggong dengan gembira melihat kawannya ada
di situ. Luke menepuk-nepuknya.
Sesampai di ambang pintu pondok, Fatty tertegun.
Mulutnya ternganga lebar, heran melihat Luke ada di
situ, Bets tertawa melihat anak gendut itu melongo.
123
"Kami menyembunyikannya di sini," katanya sebagai
penjelasan pada Fatty. "Dan makanan, setiap kali kami
antarkan untuknya. Asyik deh! Fatty, tidak bisakah kita
menyelesaikan soal pencurian itu, supaya Luke tidak
perlu takut lagi? Yuk, kita cepat-cepat saja membongkar
teka-teki itu!"
Setelah itu mereka lantas menceritakan segala
kejadian kemarin malam pada Fatty. Kemudian muncul
pula Larry dan Daisy. Kedua anak itu pun mula-mula
kaget, lalu ikut bergembira. Menyenangkan sekali
suasana dalam pondok pagi itu.
"Mana peluit yang kita temukan dalam kandang
kucing?" tanya Pip. Benda itu disodorkan untuk dilihat
oleh Luke.
"Kami menemukannya dalam kandang," kata Fatty.
"Dan karena menurut perasaan kami Pak Goon pasti
akan melihatnya, lalu Pak Tupping akan memberi tahu
peluit ini kepunyaanmu, maka kami lantas mengambil-
nya dari situ. Setelah itu kami memasukkan berbagai
tanda bukti palsu ke dalam kandang. Kau pasti tertawa
jika melihatnya. Aku meletakkan sepotong puntung
cerutu ke situ, dan sepotong lagi ke bawahnya!"
Luke bersiul.
"Wah!" katanya. "Itu rupanya sebabnya, kenapa Pak
Goon tahu-tahu gelisah ketika melihat pamanku
mengisap cerutu! Mulanya aku tidak mengerti. Kata
pamanku, muka polisi itu berubah menjadi ungu, ketika
Paman mengambil sebatang cerutu dan menyalakan-
nya. Paman pernah menerima hadiah cerutu satu kotak.
Apabila ia perlu berhati-hati dalam berbicara dengan
seseorang, ia selalu menyalakan sebatang cerutu dan
mengisapnya. Katanya, dengan begitu ia bisa berpikir
lebih baik."
124
125
Anak-anak cekikikan membayangkan puntung cerutu
Fatty menyebabkan Pak Goon gelisah ketika melihat
Jake mengisap cerutu. Kemudian Luke memperhatikan
peluit yang dipegang Fatty.
"Ya itu memang buatanku," katanya, "tapi
kemudian tercecer entah di mana, dalam kebun.
Kenapa tahu-tahu ada dalam kandang kucing? Aku
membuatnya sudah beberapa bulan yang lalu."
Anak-anak kembali membicarakan kejadian misterius
itu. Tapi mereka tak berhasil menemukan penjelasan.
Luke tetap berkeras mengatakan, selama ia bekerja
dekat kandang tak ada orang lain datang. Jadi kalau
begitu, bagaimana Dark Queen bisa tahu-tahu hilang?
Anak-anak semua menyisakan makanan mereka
sedikit, untuk diberikan pada Luke. Daisy nyaris saja
mengalami kesulitan, ketika hendak memasukkan kue
berlapis selai ke dalam kantongnya. Kebetulan ibunya
memandang ke arahnya, dan melihat perbuatan itu.
Tentu saja Ibu sangat marah.
"Daisy! Mau kauapakan kue selai itu? Masak
dimasukkan ke dalam kantong?!"
"Aduh aku ini bagaimana," kata Daisy sambil
mengeluarkan kue itu lagi dan memandangnya dengan
heran. "Kusangka sapu tanganku."
"Kalau kau bermaksud hendak mengambilkan kue itu
untuk diberikan pada anjing Frederick tidak boleh!"
kata ibunya lagi. "Anjing itu sudah terlampau gemuk!"
"Ah, Bu masak aku memberikan makanan pada
Buster," kata Daisy serius. "Tak mungkin!"
Tapi toh cukup banyak makanan yang berhasil
diselundupkan anak-anak untuk Luke. Mereka juga
membawakan air dalam ember, serta sabun dan
selembar handuk yang sudah tua. Setiap malam mereka
mengatur tempat tidurnya dalam pondok peranginan.
126
Sebagai balas jasa, Luke bekerja dalam kebun sayuran
setiap kali ibu Pip dan Bets sedang pergi. Rumput liar
dicabuti, galangan dibersihkan. Pokoknya, kebun itu
rapi nampaknya sekarang. Letaknya agak jauh dan
rumah, jadi Luke takkan nampak apabila sedang bekerja
di situ.
"Aku harus berbuat sesuatu untuk membalas
kebaikan hati kalian," katanya pada Pip dan Bets.
Kedua anak itu semakin menyenangi Luke karenanya.
Tiga hari anak itu tinggal dalam kebun keluarga Pip dan
Bets. Setelah itu mulai lagi terjadi berbagai peristiwa.
127
14
PAK GOON CURIGA
Pada suatu hari Bu Hilton masuk ke kebun. la
tercengang. ketika melihat kebun sayuran tahu-tahu
sudah begitu rapi. Dipandangnya kebun itu sesaat
sambil melongo. Kemudian dipanggilnya Pip dan Bets.
Ibu tersenyum sayang.
"Pip! Bets! Kalian memang anak-anak yang baik!
Kalian mencabuti rumput liar di kebun sayuran selama
tukang kebun sakit, tanpa mengatakan apa-apa padaku!
Aku senang sekali, Nak!"
Bets sudah membuka mulut untuk mengatakan
bahwa bukan dia serta Pip yang melakukannya. Tapi Pip
menatapnya dengan tampang yang begitu galak,
sehingga Bets cepat-cepat menutup mulutnya kembali.
Tapi kini mukanya memerah.
Muka Pip juga menjadi merah. Kedua anak itu merasa
tidak enak, karena dipuji untuk sesuatu perbuatan yang
sebenamya bukan mereka yang melakukan. Tapi
bagaimana mereka bisa mengaku berterus-terang,
tanpa menyebabkan Luke terbongkar rahasianya?
Hampir sama tidak enaknya dipuji tanpa sepantasnya
dipuji, seperti halnya dipersalahkan untuk sesuatu yang
bukan kita yang melakukan," pikir Pip. "Wah kurasa
sekarang aku dan Bets terpaksa menyiangi kebun itu
128
sedikit supaya bisa dengan tenang mengaku telah
bekerja, walau bagian yang terbesar sebenarnya
dilakukan oleh Luke!"
Kawan-kawan mereka tercengang ketika melihat Pip
dan Bets menyiangi rumput liar dalam kebun sayuran.
Kedua anak itu merasa benar-benar berjasa sekarang.
Luke tertawa melihat mereka.
"Bets mencabuti setengah dari selada yang disemai-
kan tukang kebun," katanya bercerita. "Rupanya ia
mengira tanaman itu rumput liar. Tapi tak apa, Bets
masih cukup banyak selada yang tersisa dalam kebun!"
Pada suatu siang Pak Goon berjumpa dengan Fatty
yang sedang lewat bersama Buster. Dipanggilnya anak
gendut itu.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu, Frederick,"
kata Pak Goon dengan gaya sok penting. Polisi desa itu
mengeluarkan buku catatan hitamnya yang besar dari
dalam kantong, lalu membalik-balik halamannya.
"Maaf, tak sempat," kata Fatty dengan sopan. "Aku
sedang berjalan-jalan dengan Buster."
"Kau berhenti di tempatmu sekarang," kata Pak
Goon mulai marah. "Kukatakan tadi, ada sesuatu yang
perlu kukatakan padamu."
"Biasanya yang Anda katakan cuma, 'Ayo Pergi',"
tukas Fatty. "Anda tahu pasti, bukan itu yang hehdak
Anda katakan?"
"Kapan-kapan, Anak muda kapan-kapan kau pasti
akan ditahan, karena menghina polisi," kata Pak Goon
dengan suara geram.
"O ya?" kata Fatty dengan penuh minat.
"Nah ini dia," kata Pak Goon. Rupanya ia berhasil
menemukan halaman yang dicari dalam buku catatan-
nya. "Ya, ini dia! Tanggal lima bulan ini, Frederick, kau
129
bersama empat orang anak berkeliaran di perkemahan
sirkus dan berbicara dengan seseorang bernama Jake."
"Tepat," sambut Fatty. Dalam hati ia bertanya-tanya,
apalagi yang akan datang berikutnya.
"Sopan sedikit, ya!" bentak Pak Goon. Fatty
memandangnya dengan sikap begitu tak bersalah,
sehingga sudah gatal saja rasanya tangan Pak Goon
karena ingin menempeleng. Sikap sopan Fatty kadang-
kadang bisa sangat menjengkelkan.
"Yah, bilang saja Anda mau apa," kata Fatty. "Aku
benar-benar harus terus sekarang karena Buster
sudah tidak sabar lagi!"
"Guk," gonggong Buster. Ternyata anjing itu juga
pintar bersandiwara. Ia pura-pura sudah tidak tahan lagi.
"Begini," kata Pak Goon. Didekatkannya mukanya
ke muka Fatty, yang langsung mundur selangkah,
"begini aku kepingin tahu, Luke waktu itu ada di
perkemahan, ya kan?"
"O ya?" balas Fatty bertanya. "Kalau Anda tahu pasti,
kenapa bertanya lagi padaku? Silakan cari saja dia di
sana!"
"Nah, itu dia persoalannya," kata Pak Goon. "Dia
tidak ada lagi di sana sekarang! Salah seorang anak
sirkus membuka rahasia ...."
"Rahasia?" tanya Fatty dengan tampang tolol.
"Rahasia apa, Pak. Wah jangan-jangan tentang Dark
Queen! Anda melihat kucing itu? Di mana dia sekarang?
Anda sudah menemukan kucing itu rupanya! Di mana
130
"Diam!" bentak Pak Goon. "Yang kumaksudkan
dengan 'rahasia', bukan Dark Queen. Kau sebenarnya
...."
juga sudah mengerti. Maksudku tadi, salah seorang anak
sirkus bercerita, ia melihat Luke di sana. Tapi ketika
kucari, ternyata sudah tidak ada lagi."
"Sial ya, Pak," kata Fatty ikut prihatin. Pak Goon
menatapnya sambil melotot. Fatty membuka mulut lagi,
"Lho, aku tidak boleh mengatakan, 'Sial', Pak?
Maksudku cuma ingin ikut prihatin."
Pak Goon menarik napas dalam-dalam. Lalu
mengetengahkan hal yang dari semula hendak
dikatakan olehnya.
"Kau serta kawan-kawanmu tahu, di mana Luke
sekarang," katanya. "Betul, kan? Aku cuma ingin
memperingatkan saja jika kalian menyembunyikan
anak itu, atau tidak melaporkan pada polisi walau tahu di
mana ia berada, kalian nanti akan mengalami kesulitan
besar. Kesulitan yang mahabesar!"
Fatty kelihatan kaget. Apa sebabnya Pak Goon curiga
bahwa anak-anak tahu di mana Luke kini berada, atau
bahkan menyembunyikan anak itu?
"Apa sebabnya Anda beranggapan kami hendak
menyembunyikan Luke, Pak?" tanyanya. "Seolah-olah
kami ini bisa menyembunyikan dirinya tanpa ketahuan
oleh Anda! Wah polisi cerdas seperti Anda kan tahu
segala-galanya!"
"Ya lebih banyak yang kuketahui daripada
sangkaan kalian," kata Pak Goon.
Dan dengan begitu pembicaraan selesai. Pak Goon
menutup buku catatannya dengan sikap tegas, lalu
melanjutkan perjalanan. Sedang Fatty berjalan lagi
sambil berpikir-pikir.
"Rupanya Pak Tupping mengintip dari balik tembok,
lalu melihat Luke sekilas," pikirnya. "Atau merasa
seperti melihatnya. Sialan! Kita tidak kepingin terlibat
131
dalam kesulitan. Tapi kalau begitu, bagaimana dengan
Luke? Mungkin sebaiknya anak itu disuruh pergi saja
dari sini, dengan dibekali uang."
Ketika Fatty menceritakan kejadian itu pada keempat
temannya, anak-anak mendengarkan dengan penuh
minat. Bets langsung bingung.
"Jangan suruh Luke pergi," pintanya. "Mungkin kita
berhasil membongkar rahasia pencurian itu, dan
sesudah itu Luke bisa kembali bekerja pada Lady
Candling."
"Kita takkan bisa membongkarnya," kata Fatty
dengan nada suram. "Ternyata kita tak secerdik
sangkaan kita sendiri. Kurasa bahkan Inspektur Jenks
pun takkan berhasil menyibakkan misteri Dark Queen."
"O ya!" seru Daisy dengan segera. la teringat kembali,
betapa ramah sikap Inspektur Jenks pada mereka pada
liburan Paskah yang lalu, ketika mereka berhasil
membongkar rahasia suatu kejadian misterius. "Betul
Inspektur Jenks! Aku sampai lupa padanya! Tidak
bisakah kita menghubungi dia dan melaporkan perkara
Luke padanya? Aku merasa pasti, Pak Inspektur takkan
memasukkan anak itu ke penjara. Tentu dia mau
menyimpan rahasia kita."
"Begitu pendapatmu?" kata Larry. "Yah pokok-
nya aku sama sekali tidak melihat jalan keluar dari
musibah ini. Jika si Ayo Pergi menggeledah kebun
rumah Pip, pasti Luke akan ditemukannya di situ.
Kecuali anak itu, nanti kita pun akan mengalami
kesulitan besar! Yukkita laporkan saja urusan ini pada
Pak Inspektur. Dia dulu kan mengatakan selalu bersedia
menolong kita, apabila bisa!"
"Aku suka pada Inspektur Jenks," kata Bets.
"Ah kau ini, pada siapa pun kau selalu suka," kata
Pip.
132
"Siapa bilang?! Aku tidak senang pada Pak Tupping,
atau Pak Goon," tukas Bets. "Yuk, kita laporkan saja
segala-galanya pada Pak Inspektur. Kurasa ia pasti mau
mengerti."
"Aku akan meneleponnya." kata Fatty. Teman-
temannya memandang dirinya dengan kagum. Menurut
perasaan mereka Fatty hebat, berani menelepon orang
yang menurut Bets merupakan 'polisi yang tinggi, tinggi
sekali kedudukannya'.
Ternyata Fatty menepati janji. Ia pulang ke rumah,
menunggu dulu sampai tak ada orang lain yang bisa ikut
mendengarkan, lalu memutar nomor telepon kantor
polisi di kota besar tempat Inspektur Jenks bekerja.
Untung baginya, Inspektur itu kebetulan ada di
kantor.
"Ah ini Frederick Trotteville?" kata petugas polisi
itu dengan suara ramah. "Apa kabar? Mudah-mudahan
semua dalam keadaan sehat. Ya aku masih ingat
pengalaman kita yang menarik selama liburan Paskah
yang lewat ketika kau bersama teman-temanmu
berhasil membongkar teka-teki pondok yang terbakar
harus kuakui, kalian hebat waktu itu. Dan sejak itu
ada lagi misteri lain yang berhasil kalian selidiki sampai
terbongkar?"
"Begini, Pak," kata Fatty memulai laporannya, "di
sini ada suatu misteri, yang tidak bisa kami pecahkan.
Sungguh tidak bisa! Aku tidak tahu, apakah Anda
sudah mendengar laporan mengenainya. Ada seekor
kucing hilang seekor kucing yang sangat berharga."
Di seberang sambungan tak terdengar apa-apa
selama beberapa saat. Rupanya Pak Inspektur sedang
mengingat-ingat. Kemudian terdengar lagi suaranya
lewat kabel telepon.
133
"Ya laporan mengenai kejadian itu sudah sampai
padaku. Aku ingat lagi sekarang. Kalau tidak salah,
sahabat kalian Pak Goon yang berwenang menangani
persoalan aneh itu."
"Wah, Pak sebetulnya dia bukan kawan kami,"
kata Fatty berterus-terang. "Tapi orang yang disangka
melakukan kejahatan itu dia itu yang kawan kami.
Dan karena itulah aku menelepon Anda sekarang. Kami
agak bingung saat ini. Mungkin saja Anda bisa
membantu kami dengan saran-saran."
"Terima kasih atas kepercayaan kalian padaku," kata
Pak Inspektur. "Kebetulan besok aku ada tugas luar,
dan lewat di desa kalian. Ada tidak kemungkinannya
kalian mengundang aku makan sore sambil minum teh
katakanlah, piknik di tepi sungai?"
"Wah, tentu saja bisa, Pak!" kata Fatty dengan
gembira. "Kalau begitu beres! Nanti akan kami ceritakan
segala-galanya pada Anda."
"Jadi beres," kata Inspektur Jenks. "Sekitar pukul
empat sore aku akan sampai di jalan tempat tinggal
kalian. Senang rasanya bisa berjumpa kembali. Kau
sependapat, kan?"
"Ya, tentu saja, Pak!" kata Fatty. "Sampai besok, Pak
dan terima kasih banyak."
Sehabis menelepon, ia bergegas kembali ke rumah
Pip. Anak-anak yang lain ternyata berkumpul di kebun.
"Beres!" kata Fatty setelah sampai di situ. "Pak
Inspektur akan minum teh bersama kita besok sore. Kita
piknik di tepi sungai. Nanti akan kita ceritakan
segala-galanya padanya."
"Dia benar-benar akan kemari, Fatty? Kau mengun-
dangnya makan sore bersama kita? Wah kau hebat,
Fatty!" seru teman-temannya. Dada si gendut mulai
membusung lagi.
134
"Urusan begitu memang harus dilakukan oleh orang
semacam aku ini," katanya bangga. "Bagiku, mem-
bereskan soal-soal begitu merupakan urusan kecil.
Pokoknya, serahkan saja padaku ...."'
"Tutup mulut!" seru Larry dan Pip dengan segera.
Tapi mereka tidak sungguh-sungguh kesal kali ini.
Soalnya, semua terlalu gembira membayangkan akan
berjumpa lagi dengan Inspektur ramah yang bertubuh
besar itu. Apalagi Bets, anak itu gembiranya bukan
main. la sangat menyenangi Pak Inspektur, dan waktu
itu dengan cepat semua persoalan bisa langsung
dibereskan olehnya. Siapa tahu, mungkin kini ia akan
berhasil lagi!
"Kita persiapkan hidangan teh yang enak untuknya,"
kata Daisy. "Kita ceritakan pada ibu-ibu kita siapa yang
akan datang. Pasti nanti kita diijinkan membawa apa saja
yang kita inginkan. Bahkan kaum dewasa pun
menganggap seorang inspektur perlu diperlakukan
secara istimewa!"
Ternyata ucapan Daisy tepat. Begitu para ibu
mengetahui bahwa Pak Inspektur Jenks bersedia untuk
ikut berpikriik dengan anak-anak mereka, langsung
tersedia hidangan yang serba enak.
Anak-anak mengemaskan segala perbekalan yang
disediakan, lalu berdiri di depan pintu pekarangan
depan. Mereka menunggu Inspektur Jenks datang. Tapi
tahu-tahu Pak Goon muncul naik sepeda. Begitu
melihat anak-anak berdiri di situ, ia langsung turun dan
menghampiri.
"Aku ingin bicara dengan kalian," katanya dengan
gayanya yang sok aksi.
"Maaf, tapi kami mau piknik," kata Larry. "Anda pasti
kepingin ikut, karena piknik kali ini benar-benar sedap."
135
Bets mulai menyebutkan, apa-apa saja yang mereka
bawa. Pak Goon mcmandang bekal makanan mereka
dengan heran.
"Makanan sebanyak itu akan kalian makan sendiri?"
tanyanya curiga. Fatty langsung menduga, pasti polisi
desa itu menyangka bekal itu sebagian akan diberikan
pada Luke. Fatty meringis.
"Wah, tidak Pak," katanya, "makanan ini bukan
untuk kami sendiri saja. Ada orang lain yang ikut
kebagian. Tapi takkan kami katakan, siapa orang itu.
Nanti rahasia terbongkar."
"Hmmm!" Pak Goon bertambah curiga. "Kalian
hendak piknik ke mana?"
"Di tepi sungai," jawab Bets. Pak Goon lantas pergi
lagi, sambil berpikir-pikir. Fatty tertawa geli melihatnya.
"Pasti ia mengira kita hendak mengantarkan
makanan ini ke tempat Luke bersembunyi," katanya.
"Ia tidak tahu kita akan piknik bersama Pak Inspektur.
He pasti asyik nanti, apabila ia membuntuti kita lalu
menyergap karena menyangka Luke ada bersama kita.
Tidak tahunya, selama itu kita terus bersama Pak
Inspektur."
"Ya, hebat," kata Daisy. "He itu dia Inspektur
Jenks datang!"
Inspektur itu datang naik mobil polisi berwarna hitam.
Mobil dinas itu diparkir dalam garasi di rumah Pip.
Setelah itu ia menyalami anak-anak.
"Senang rasanya bisa ketemu lagi dengan kalian,"
katanya sambil tersenyum cerah. "Nanti dulu
bagaimana sebutan diri kalian waktu itu? O ya
Pasukan Mau Tahu, ditambah seekor Anjing! Ya, betul
dan ini dia anjingnya. Anjing manis!"
Mereka lantas menuju ke sungai. Bets berjalan
bergandengan tangan dengan Pak Inspektur. Petugas
136
polisi itu bertubuh tinggi besar, dengan mata bersinar
jenaka serta mulut yang selalu tersenyum. Tampangnya
memancarkan sinar cerdas. Potongannya rapi, dengan
pakaian seragam kepolisian. Bets asyik bercerita,
menyebutkan apa-apa saja yang dijadikan bekal piknik.
"Wah, timbul seleraku mendengar ceritamu," kata
Inspektur Jenks. "Sebaiknya kita langsung saja makan!
Nah di mana enaknya kita duduk?"
137
15
PAK GOON BINGUNG
Mereka menemukan tempat yang teduh dan nyaman,
di tepi air. Di belakang mereka terdapat tebing yang
menjorok ke depan, ditumbuhi pepohonan. Takkan
mungkin ada orang bisa melihat mereka di situ. Tempat
itu cocok sekali untuk berunding.
Mula-mulanya anak-anak sama sekali tak menying-
gung kesulitan yang sedang mereka hadapi. Mereka
makan dengan lahap. Pak Inspektur pun kelihatannya
sangat menikmati hidangan piknik itu. Acara sore itu
sangat meriah.
"Nah " kata Pak Inspektur kemudian, ketika bekal
makanan tinggal sedikit yang tersisa, "bagaimana kalau
kita sekarang berbicara dengan serius sebentar? Aku
sudah mempelajari laporan perkara yang kalian
ceritakan padaku lewat telepon kemarin, jadi aku sudah
tahu perinciannya. Tapi aku masih ingin mendengar apa
yang hendak kalian ketengahkan. Kata Frederick
kemarin, anak yang bernama Luke itu teman kalian?"
Anak-anak mulai bercerita dengan bersemangat.
Semua yang mereka ketahui disampaikan pada
Inspektur Jenks. Tapi mereka tidak bercerita tentang
tanda-tanda bukti palsu yang mereka pasangkan untuk
138
menipu Pak Tupping dan Pak Goon. Anak-anak merasa
kurang enak, kalau hal itu diceritakan.
Akhirnya mereka sampai pada bagian, pada saat
mereka berbicara dengan Luke di sirkus, lalu anak itu
pada suatu malam datang ke rumah Pip.
"Dan sejak itu kami yang memberi makan padanya,
sedang tidurnya dalam pondok peranginan di kebun
kami," kata Pip. "Tapi sekarang kami merasa bahwa si
Ayo eh, maksudku Pak Goon kami merasa Pak
Goon tahu di mana Luke kami sembunyikan. Kami
khawatir jika anak itu kami sembunyikan terus, nanti dia
dan juga kami sendiri akan terjerumus dalam kesulitan."
"Untung kalian mau menghubungi aku," kata Pak
Inspektur. "Itu tindakan yang bijaksana! Ya, betul
sudah jelas kalian tidak boleh menyembunyikan Luke.
Pertama-tama, apabila anak itu lari lalu menyembunyi-
kan diri, maka sangkaan terhadapnya akan semakin
kuat. Jadi jangan minggat, kalau ada kesulitan! Tapi
kalian tidak perlu khawatir, dia takkan dimasukkan ke
dalam penjara. Umurnya kan baru lima belas! Lagipula
kami tidak seenaknya saja memenjarakan orang,
sebelum terbukti bahwa Luke itu melakukan kejahatan.
Sama sekali belum terbukti bahwa Luke yang mencuri
kucing itu walau harus kuakui bahwa kedudukannya
sangat lemah. Kalian sependapat kan, dengan aku?"
"Ya, memang," kata Fatty. "Justru itulah yang sangat
membingungkan kami. Soalnya begini, Pak Inspektur.
Kami mengenal Luke dan juga senang padanya. Tak
bisa kami bayangkan, bagaimana anak baik kayak dia
bisa berbuat seperti itu. Anaknya agak dungu, dan selalu
takut-takut kalau menghadapi orang dewasa, karena
takut dimarahi atau dipukul. Padahal anak itu baik sekali
hatinya. Tapi Pak Goon dan Pak Tupping begitu yakin,
dialah yang melakukan perbuatan itu."
139
"Yah, kunasihatkan agar Luke keluar saja dari
persembunyiannya lalu bekerja kembali," kata Inspek-
tur Jenks. "Eh kurasa ia tidak perlu bilang apa-apa
tentang di mana ia selama ini, serta siapa yang
menyembunyikan dirinya. Itu sama sekali tidak perlu
disebut-sebut."
"Tapi kalau begitu ia harus kembali ke ayah tirinya,"
kata Bets, "dan Pak Inspektur, ayah tirinya itu kejam
sekali. Pasti Luke akan dipukul olehnya."
"Tidak," kata Inspektur Jenks. "Aku akan bicara dulu
dengan ayah tiri itu. Akan kalian lihat nanti, sejak itu
Luke takkan disentuhnya sedikit pun. Sementara itu aku
akan mendalami misteri ini siapa tahu aku bisa
berhasil menyibakkannya sedikit. Dari apa yang
kudengar dari kalian, kelihatannya urusan ini sangat
menarik."
"Anda memang Inspektur yang baik hati," kata Bets,
sambil memegang tangan petugas polisi itu. "Mudah-
mudahan, jika pada suatu kali aku melakukan sesuatu
kesalahan besar, Andalah yang menangkap aku dan
bukan orang lain!"
Semuanya tertawa mendengar ocehan anak itu.
"Kurasa kau takkan pernah melakukan sesuatu yang
terlarang, Bets," kata Pak Inspektur, sambil tersenyup
memandang tampang Bets yang begitu serius. "Kalau
hal itu sampai terjadi, aku pasti akan sangat heran."
"He kenapa si Buster?" tanya Fatty saat itu.
Anjingnya meninggalkan kelompok yang sedang asyik
mengobrol itu. Kini terdengar gonggongannya di
sebelah atas tebing. Kemudian menyusul suara
seseorang.
"Suruh anjing ini pergi! Jaga dia baik-baik, kalau tidak
ingin kulaporkan!"
"Wah si Ayo Pergi!" bisik Daisy dengan nada
140
senang. "Ternyata ia memang membuntuti kita! Kurasa
sekarang ia menyangka kita di sini bersama Luke. Dan
rupanya Buster tadi mendengar dia merangkak-rangkak
ke sini, lalu menggonggonginya!"
"He! Suruh anjing ini pergi!" Terdengar lagi suara Pak
Goon yang marah-marah. Fatty naik ke atas tebing
sambil menyusup di sela-sela semak yang menaungi.
Sesampai di atas, dipandangnya Pak Goon yang marah
sekali kelihatannya.
"Ha! Sudah kusangka kalian ada di situ," kata Pak
Goon. "Ya, dan aku juga tahu dengan siapa kalian di
situ!"
"Kalau begitu aku heran, apa sebabnya Anda tidak
bersikap lebih sopan sedikit," kata Fatty seenaknya.
"Sopan? Kenapa aku harus sopan?" tukas Pak Goon.
"Nah, sekarang kalian tertangkap basah menyem-
bunyikan seseorang yang melakukan kejahatan! Sekali
ini kalian sudah keterlaluan. Suruh anjingmu ini
mundur. Biarkan aku turun ke tepi sungai, biar bisa
kubekuk orang itu."
Fatty terkikik pelan. Dipanggilnya Buster, lalu
dipegangnya erat-erat pada kalung lehernya. Ia menepi
dengan sopan sementara Pak Goon menerobos semak
menuju ke bawah lalu meloncat ke tepi air. Menurut
perkiraannya, ia akan berhadapan dengan empat anak
yang ketakutan, serta Luke yang pucat pasi.
Tapi betapa kaget dan ngeri polisi desa itu, ketika
ternyata ia bertatapan mata dengan Pak Inspektur,
atasannya! Pak Goon benar-benar bingung. Matanya
yang sudah melotot semakin melotot, seolah-olah nyaris
jatuh ke luar. Ia cuma bisa menatap Pak Inspektur, tanpa
mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Selamat sore, Goon," sapa atasannya itu.
141
"S-s-s-," Pak Goon terbata-bata, meneguk ludah
beberapa kali, lalu mencoba sekali lagi, "S-s-selamat
sore, Pak s-s-saya tak mem-mengira Anda ada di
sini."
"Kalau tidak salah, kudengar kau tadi mengatakan.
hendak membekuk diriku," kata Pak Inspektur. Pak
Goon meneguk ludah lagi. Tangannya merogoh-rogoh
kerah, berusaha melonggarkannya. la mencoba terse-
nyum.
"Maaf, Pak hendaknya Anda mau mengerti, Pak,"
katanya dengan suara gemetar, "Saya anu, Pak
saya mengira akan menjumpai orang lain disini. S-saya
t-t-tak mengira akan menjumpai Anda di sini."
"Anak-anak ini memberi kehormatan padaku untuk
memberi nasihat mengenai perkara kucing yang hilang
dicuri orang," kata Inspekteur Jenks. "Duduklah, Goon.
Ada baiknya jika kudengar keteranganmu mengenai
kejadian itu. Kurasa penyelidikanmu mengenainya
belum terlalu jauh, ya?"
"Begini, Pak - saya punya berbagai tanda bukti.
Pak," kata Pak Goon bersemangat. la berharap.
dengannya akan berubah pandangan Inspektur Jenks
terhadap dirinya. "Karena Anda toh hadir di sini. saya
minta nasihat Anda mengenainya."
Pak Goon mengeluarkan sebuah sampul putih dari
kantongnya, lalu langsung membukanya. Dari dalam-
nya dikeluarkan dua potong puntung cerutu, kancing
berwarna biru, sepotong pita rambut, permen, serta tali
sepatu berwarna coklat. Pak Inspektur memandang
benda-benda itu sambil melongo.
"Semuanya itu tanda bukti?" tanyanya kemudian.
"Betul, Pak," jawab Pak Goon. "Saya menemukan-
nya di tempat kejahatan itu terjadi, Pak. Dalam kandang
kucing."
142
"Semuanya ini sungguh-sungguh kautemukan dalam
kandang kucing?" ulang Pak Inspektur, sambil memper-
hatikan barang-barang itu dengan sikap tak percaya.
"Permen ini juga kautemukan di situ, Goon?"
"Ya, Pak semuanya! Selama ini belum pernah saya
menemukan tanda bukti sebanyak ini," kata Pak Goon,
la senang, melihat Pak Inspektur tercengang.
"Aku juga belum pernah," kata Inspektur Jenks. la
menoleh sebentar ke arah anak-anak. Nampak mereka
kaget sekali ketika melihat Pak Goon memperagakan
barang-barang bukti palsu itu pada Inspektur Jenks. Di
mata petugas polisi itu timbul kilatan jenaka.
"Wah, Goon," katanya, "kau perlu diberi selamat,
karena berhasil menemukan tanda bukti yang begini
banyak. Eh Anak-anak, kalian tidak kebetulan juga
menemukan tanda-tanda bukti?"
Fatty mengambil sampul surat tempatnya menaruh-
kan barang-barang yang sama seperti yang ditemukan
Pak Goon. Dibukanya sampul itu dengan serius dan
lambat-lambat. Bets sudah kepingin tertawa, tapi tidak
berani.
"Aku tidak tahu apakah barang-barang ini bisa
disebut bukti, Pak," kata Fatty. "Kurasa tidak bisa.
Menurut kami, ini bukan apa-apa."
Pak Goon melongo, ketika dari sampul itu dikeluar-
kan benda-benda yang persis seperti barang-barang
buktinya.
Mula-mula permen.
"Sebutir permen," kata Fatty dengan nada serius.
Setelah itu menyusul potongan pita rambut.
"Sepotong pita rambut," kata Fatty. Daisy meletus
ketawanya.
"Sepotong tali sepatu coklat," kata Fatty, sambil
143
menarik benda itu keluar. Kemudian sampai giliran pada
kancing biru.
"Sebuah kancing biru dan eh puntung cerutu
dua potong!"
"Dua potong!" ujar Pak Goon lemah. "Apa-apaan
ini? Ada sesuatu yang aneh di sini."
"Memang, bahkan sangat aneh," kata Inspektur
Jenks. "Kalian kan sependapat denganku, Anak-anak?"
Tapi mereka diam saja, karena tidak tahu apa yang
harus dikatakan. Bahkan Fatty pun mernbisu. Padahal
dalam hati ia memuji-muji Pak Inspektur, yang tidak
membukakan rahasia walau sudah mengetahui segala-
galanya!
"Yah kurasa semua bukti itu bisa kaumasukkan
saja kembali ke dalam sampul, Goon," kata Pak
Inspektur. "Kurasa tak banyak gunanya bagi penyelidi-
kan kita. Ya, kan?"
"Betul, Pak," kata Pak Goon. Kasihan, tampangnya
ungu karena marah, heran dan kaget. Bayangkan
tanda-tanda buktinya yang begitu bagus ternyata sama
dengan yang berada di tangan anak-anak itu! Kenapa
bisa jadi begitu? Kasihan sekali baru lambat-laun ia
mengerti, yaitu ketika sudah berbaring di tempat
tidurnya malam itu. Tapi ia toh tidak bisa berbuat
apa-apa. Ia tahu, soal tanda-tanda bukti itu tidak bisa
diungkit-ungkitnya lagi, karena Pak Inspektur memihak
pada anak-anak.
"Dan sekarang," kata Pak Inspektur dengan suara
lugas, "Kuusulkan agar kita mendatangi anak yang
bernama Luke itu, Goon. Kita suruh dia keluar dari
persembunyiannya, dan menghadapi urusannya secara
jantan. Dia kan tak bisa bersembunyi terus selama
berminggu-minggu."
144
Entah untuk ketiga atau keempat kalinya sore itu,
mulut Pak Goon ternganga kembali. Mendatangi Luke?
Pergi ke tempat persembunyiannya? Dari mana lagi Pak
Inspektur mengetahui urusan itu? Ia memandang
anak-anak sambil melotot. Dasar anak-anak lancang
selalu mencampuri urusan orang lain! Kini, didampingi
Pak Inspektur, ia takkan bisa lagi menakut-nakuti Luke
apabila anak itu sudah ditemukan. Padahal ia kepingin
sekali melakukannya!
"Baiklah, Pak," katanya, lalu bangkit.
"Kalian ikut," kata Inspektur Jenks pada anak-anak.
"Kita akan berbicara dengan Luke yang malang itu
bicara baik-baik!"
145
16
TAK TERSANGKA-SANGKA
Sementara Bets terus menggelantung pada lengan-
nya, Pak Inspektur mendului berjalan merintis lapangan,
lalu menyusur jalan. Sedang Pak Goon berjalan paling
belakang. Buster mengendus-endus mata kaki polisi
desa itu. Kelihatannya kepingin sekali menyambar. Tapi
Pak Goon sama sekali tidak mengusir anjing kecil itu.
Hatinya kecut, setelah mengalami kejadian mengejut-
kan tadi.
Anak-anak sama sekali tidak mengira, Pak Inspektur
akan berkeras menyuruh Luke supaya jangan bersem-
bunyi lagi dan kembali bekerja lagi. Mereka ingin tahu,
apa kata Luke nanti mengenainya.
Mereka berjalan terus, menyusur jalan. Fatty
berusaha mengajak Pak Goon mengobrol, tapi polisi
desa itu cuma merengut terus di belakang Inspektur
Jenks.
"Tepi sungai memang cocok sekali dijadikan tempat
piknik ya kan, Pak Goon?" kata Fatty dengan nada
riang. "Aku heran, apa sebabnya Anda tidak ke sana
sekali-sekali, kalau Anda sedang bebas tugas! Atau
barangkali Anda tidak pernah bebas tugas, hm?"
Pak Goon memberikan jawaban yang tak terdengar
jelas, sambil melemparkan pandangan ke arah Fatty.
146
Kalau pandangan itu api, pasti si gendut sudah habis
terbakar. Tapi pandangan bukan api. Karenanya Fatty
juga tidak apa-apa!
"Aneh kenapa kami sampai bisa menemukan
tanda-tanda bukti yang sama seperti yang ada pada
Anda, Pak Goon," kata Fatty lagi, masih dengan nada
tidak tahu apa-apa. Daisy tidak bisa menahan gelaknya
lagi. Dari mulut Pak Goon terdengar bunyi entah apa,
sementara matanya semakin melotot.
"Kalau kau teruskan juga, nanti dia kena serangan
jantung. Fatty," kata Larry dengan suara pelan.
Fatty meringis. la tidak mengatakan apa-apa lagi,
cuma memandang kesibukan Buster dengan senang.
Anjing kecil itu menyusup-nyusup di sela kaki Pak Goon.
Benar-benar menjengkelkan!
"Di dalam sini," kata Pip. ketika rombongan itu
sampai di depan rumahnya. Mereka lantas masuk ke
kebun. Kemudian Pip berhenti berjalan. Dipandangnya
Pak Inspektur.
"Apakah tidak sebaiknya aku saja yang masuk
terlebih dulu, untuk mengatakan pada Luke bahwa
Anda menyuruhnya keluar dan bekerja kembali?"
katanya. "Anda tidak bisa membayangkan. betapa takut
anak itu."
"Kurasa itu ide baik," kata Inspektur Jenks, "tapi
akulah yang akan masuk sendiri dan berbicara
dengannya. Kalian tidak perlu khawatir. Aku tahu
bagaimana caranya menghadapi anak-anak seperti
Luke."
Pak Goon merengut lagi. Dia yang tahu betul,
bagaimana caranya memperlakukan anak-anak jahat,
seperti Luke. Pak Inspektur terlalu lembut hatinya.
Selalu mau memberi kesempatan! Tidak pernah mau
langsung percaya, sebelum ada bukti-bukti nyata!
147
Padahal kan sudah jelas, Luke itulah yang mencuri Dark
Queen.
Tapi Pak Goon tidak mengucapkan pendapatnya itu
keras-keras. la mengambil tempat duduk di bangku
terdekat, lalu mulai menulis dalam buku catatannya.
Anak-anak sama sekali tak diacuhkan olehnya.
Sementara itu Pak Inspektur masuk ke pondok
peranginan, diantar oleh Pip. Tapi ternyata Luke tidak
ada di situ.
"Ah di sana dia rupanya! Itu, di sana," kata Pip,
sambil menuding ke arah kebun dapur. Nampak Luke
sedang sibuk mengumpulkan sampah. "Katanya, ia
tidak bisa duduk-duduk saja, tanpa berbuat apa-apa,
Pak. Luke berpendapat kalau ia mencabuti rumput liar
untuk kami, maka itu berarti balas jasa sekadarnya atas
kebaikan budi."
"Itu pikiran anak baik," gumam Pak Inspektur, sambil
memperhatikan Luke bekerja. Dipandangnya anak itu
dari kepala sampai ujung kaki. Kemudian ia berkata
pada Pip,
"Coba panggil dia kemari. Katakan aku temanmu!
Setelah itu tinggalkan kami berdua di sini."
"Hai, Luke!" panggil Pip. "Ini ada kawan baikku yang
ingin berjumpa denganmu. Sinilah sebentar, bicara
dengan dia."
Luke berpaling dan melihat seorang laki-laki
bertubuh besar, berpakaian seragam biru. Mukanya
langsung pucat. Ia berdiri seperti terpaku di tanah.
"Bukan aku yang mencuri kucing," kata Luke setelah
beberapa saat, sementara matanya masih tetap menatap
Pak Inspektur.
"Kurasa sebaiknya kauceritakan saja segala-galanya
padaku," kata Inspektur Jenks. "Kita duduk saja di
dalam pondok."
148
Dibimbingnya Luke ke dalam pondok peranginan, di
mana anak-anak sering berunding mengenai teka-teki
hilangnya Dark Queen. Luke gemetar tubuhnya. Pip
nyengir sebentar untuk menenangkan perasaan teman-
nya itu, lalu menggabungkan diri kembali dengan
teman-teman yang menunggu dalam kebun.
Pak Goon berhenti sebentar menulis, lalu mendo-
ngak.
"Ah," katanya, "jadi di situ rupanya kalian
menyembunyikannya dalam kebun ini! Lalu kenapa
kalian mengatakannya pada Inspektur, dan bukan
padaku, hah? Kalian rupanya selalu hendak memojok-
kan diriku!"
"Wah, Pak Goon masakan kami bisa berbuat
begitu," kata Fatty. "Tak pernah terlintas dalam
pikiranku, Anda mungkin bisa dipojokkan. Polisi pintar
kayak Anda, tidak mungkin bisa dibegitukan!"
"Sudah cukup ocehanmu sesore ini," kata Pak Goon
dengan nada mengancam. "Selalu bersikap kurang ajar
terhadapku. Kau ini memang anak jahat. Kalau aku
ayahmu, aku tahu apa yang harus kulakukan
terhadapmu!"
"Mau permen, Pak Goon?" tanya Fatty, sambil
menyodorkan permen yang diambilnya dari sampul
putih. "Kurasa bukti-bukti ini sudah tidak diperlukan
lagi. Jadi sebaiknya permen ini dimakan saja."
Pak Goon mendengus jengkel, tapi tak mengatakan
apa-apa lagi. Percuma saja berbicara dengan Fatty,
karena anak itu selalu tidak mau kalah. Menurut
perasaan Larry, pasti para guru di sekolahnya makan
hati menghadapi anak gendut itu.
Anak-anak kepingin tahu, bagaimana pembicaraan
Luke dengan Pak Inspektur. Rasanya lama sekali
mereka berdua di dalam pondok. Tapi akhirnya
149
terdengar langkah-langkah mendekat di atas kerikil.
Pak Goon menutup buku catatannya, lalu berdiri.
Anak-anak menoleh, ingin tahu apakah Luke ikut
datang bersama Inspektur Jenks.
Ternyata memang dan tampangnya nampak
berseri-seri! Sedang Pak Inspektur tersenyum, dengan
kilatan mata lucu seperti biasanya. Bets lari mengham-
piri.
"Jadi Luke kini tidak perlu bersembunyi lagi? Apa
yang akan dilakukannya sekarang?"
"Yah senang rasanya hatiku bisa mengatakan
bahwa Luke sependapat denganku, lebih baik bekerja
kembali daripada bersembunyi terus di sini," kata Pak
Inspektur.
"Tapi bagaimana dengan ayah tirinya yang galak
itu?" tanya Daisy. Hatinya tidak enak, membayangkan
Luke dipukul terus.
"Ah soai itu masih harus kuatur pula," jawab
Inspektur Jenks. "Sebetulnya aku ingin bicara sendiri
dengan orang itu tapi aku tak punya waktu lagi."
Dipandangnya arlojinya sebentar, "Hm, ya aku
sudah harus kembali sekarang. Goon, kau pergi ke
tempat ayah tiri Luke sekarang juga, dan katakan pada
orang itu bahwa Luke tidak boleh lagi diperlakukan
dengan sewenang-wenang. Kau juga harus mendatangi
Pak Tupping, yang kalau tidak salah bekerja sebagai
tukang kebun di rumah sebelah. Bilang padanya, Luke
harus diterima bekerja kembali, dengan seijin Lady
Candling tentunya, dan diperolehkan berkebun lagi di
situ."
Pak Goon terperanjat sekali kelihatannya. Tugas yang
ditimpakan padanya itu sama sekali tidak mengenakkan
hatinya. Karena bukankah sebelum itu ia sendiri yang
memanas-manasi ayah tiri Luke dan juga Pak Tupping,
150
agar anak itu diperlakukan dengan keras! Fatty menatap
Pak Inspektur dengan tajam.
"Kurasa dia menyuruh Pak Goon melakukannya,
sebagai hukuman atas tindakannya menakut-nakuti
Luke," pikir Fatty. Sementara itu Pak Inspektur menatap
polisi desa itu lama-lama.
"Kau mengerti instruksiku tadi, Goon?" katanya.
Nada suaranya masih tetap ramah, tetapi mengandung
kegalakan. Pak Goon buru-buru mengangguk.
"Ya, Pak sangat mengerti, Pak," katanya.
"Sekarang juga saya akan mendatangi ayah tiri anak ini,
Pak. Namanya Brown. Dan saya pun akan mendatangi
Pak Tupping, Pak."
"Tentu saja, apabila aku mendengar keluhan tentang
perlakuan kasar, kaulah yang kuanggap bertanggung
jawab, Goon," kata Inspektur Jenks. "Tapi aku yakin
kau akan menandaskan pada kedua orang itu bahwa ini
perintahku, dan salah satu tugasmu adalah menjaga
agar perintahku benar-benar ditaati. Kurasa kau
sependapat, ya Goon?"
"O ya, Pak tentu saja, Pak," kata Pak Goon. "Dan
anu, Pak, mengenai kucing yang hilang itu. Apakah
urusan itu tidak perlu dilanjutkan lagi? Eh maksud
saya, tidak perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut."
"Yah kaupelajari saja tanda-tanda petunjuk yang
ada padamu, dan pertimbangkan apakah dengannya
persoalan itu bisa menjadi agak jelas," kata Pak
Inspektur dengan serius, tapi dengan mata berkilat
jenaka.
Pak Goon diam saja. Kemudian Pak Inspektur
berpaling, lalu bersalaman dengan anak-anak.
"Aku senang bisa berjumpa lagi dengan kelima
anggota Pasukan Mau Tahu," katanya. "Selamat
151
tinggal, dan terima kasih untuk ajakan berpiknik tadi.
Sudah lama aku tidak menikmati makanan seenak itu."
Setelah itu Pak Inspektur masuk ke mobil dinasnya
yang hitam berkilat. Sambil melambaikan tangan ke
arah anak-anak, dikemudikannya kendaraan itu keluar
kebun. Sesaat kemudian sudah tidak kelihatan lagi.
"Aku akan ke Pak Tupping sekarang," kata Pak
Goon, sambil menatap Luke serta anak-anak dengan
tampang masam. "Tapi jangan dikira urusan ini sudah
selesai dan bisa dilupakan. Sama sekali belum! Aku akan
masih terus mengadakan penyelidikan, walau Inspektur
tadi tidak begitu peduli. Dan akhirnya aku pasti akan
berhasil membekuk leher si pencuri percayalah!"
Sambil berkata begitu ditatapnya Luke dengan galak,
sehingga anak itu merasa bahwa ia masih tetap dicurigai.
Diperhatikannya Pak Goon berjalan ke luar, untuk
mendatangi Pak Tupping.
Anak-anak segera mengerumuni Luke.
"Luke, bagaimana pendapatmu mengenai Pak
Inspektur tadi? Apa katanya padamu, Luke? Ayo,
ceritakanlah segala-galanya!''
"Dia ramah sekali," kata Luke. "Lain sekali dengan
Pak Goon yang bisanya cuma mengancam dan
membentak-bentak. Tapi kenapa aku tadi sampai
berjanji akan kembali ke tempat kerjaku dan tinggal
lagi bersama ayah tiriku? Aku menyesal sekarang. Aku
takut."
"Aku juga sering takut," kata Bets. "Seperti malam
itu, ketika bermimpi buruk. Dan hari ini, ketika si Ayo
Pergi muncul di tengah jalan dan, berbicara dengan
kita."
"Kasihan, Luke juga takut," kata Daisy, sambil
memandang anak laki-laki bertubuh kekar itu, yang
152
rambutnya acak-acakan menutup kening. "Bagaimana
kita bisa menolong dia, supaya jangan takut lagi?"
"Coba kita bisa menemukan kucing yang hilang itu,"
kata Pip. " Dengan segitu, Luke tidak usah takut lagi. Dia
kan takut, hanya karena merasa semua mendakwanya
sebagai pencuri binatang itu. Aku pun pasti takut,
apabila berperasaan begitu."
Tiba-tiba terdengar bunyi gemerisik. Datangnya dari
arah semak di dekat anak-anak. Telinga Buster
menegak. Anjing itu menggonggong dengan nyaring,
lalu menerjang masuk ke dalam semak itu. Terjadi
pergumulan sengit di situ. Lalu nampak sesuatu melesat
naik ke atas sebatang pohon. Anak-anak datang
menghampiri.
Detik berikutnya semua melongo. Di atas pohon
duduk seekor kucing Siam yang indah, memandang ke
arah mereka! Tak salah lagi. Mata yang biru cerah, serta
bulunya yang belang eoklat tua dan kuning susu. Tapi
Luke yang kemudian menimbulkan kekagetan paling
besar.
"Itu Dark Queen!" serunya. "Kalian tak melihat
gelang bulu berwarna kuning susu di ekornya? Sungguh
itu Dark Queen, yang muncul kembali! Benar-benar
aneh!"
Saat itu anak-anak juga melihat gelang berwarna
terang pada ekor kucing itu yang melambai kian-kemari.
Kucing Siam itu menandak-nandak dengan sikap
marah, sambil memperhatikan Buster yang melonjak-
lonjak di bawah pohon.
"Bawa Buster pergi, Fatty," kata Larry bergairah.
"Kurung dia dalam gudang atau apa saja, pokoknya
jauhkan dari sini. Nanti Dark Queen takut lalu lari lagi
dan kembali Luke yang akan dipersalahkan, apabila
kejadian ini sampai didengar si Ayo Pergi!"
153
Buster dikurung dalam gudang. Tentu saja anjing kecil
itu kesal. Pintu gudang dilabraknya berkali-kali, dalam
usaha untuk bisa keluar. Sementara itu Dark Queen
menjadi tenang, ketika Buster sudah dibawa pergi oleh
Fatty. Kucing itu mendekam di atas dahan, sambil
mendengkur-dengkur.
"Badannya kurus," kata Daisy.
"Dan lihatlah betapa kotor bulunya," kata Larry.
"Kusut masai! Yukkita antarkan dia ke Nona Harmer.
Pasti gadis itu kaget nanti!"
154
17
NASIB LUKE BERUBAH
Dark Queen mau saja ketika diangkat oleh Daisy
dengan hati-hati, untuk diturunkan dari atas pohon.
Kemudian anak-anak berjalan dengan Luke ke luar, lalu
masuk ke pekarangan rumah sebelah.
Mereka langsung menuju ke kandang kucing. Di
tengah jalan, bertemu dengan Lady Candling. Nyonya
itu berseru kaget, ketika melihat ada kucing dalam
gendongan Daisy.
"Kau tidak boleh mengeluarkan kucing-kucingku dari
kandang mereka! Apakah diijinkan Nona Harmer?"
"Ini Dark Queen!" kata Larry. "Tahu-tahu dia tadi
muncul di kebun Pip, Lady Candling! Hebat, ya? Nona
Harmer pasti akan senang!"
"Astaga!" kata Lady Candling kaget. la memandang
ke arah ekor Dark Queen, dan melihat gelang bulu
berwarna terang yang tumbuh di situ. "Ya ini
memang Dark Queen-ku yang cantik. Ke mana saja dia
selama ini? Kelihatannya kurus. Pasti kelaparan!"
"Sayang dia tidak bisa bicara kalau bisa, tentu akan
dikatakan olehnya," kata Bets, sambil mengelus-elus
tubuh kucing yang mendengkur-dengkur itu. "Dan
Lady Candling ini Luke juga datang lagi. Selama ini
kami menyembunyikannya, karena merasa kasihan
155
padanya. Anda kan mau menerimanya kembali bekerja
di sini?"
"Tentu saja," kata Lady Candling. "Baru saja
Inspektur Jenks menelepon. Nah, Luke, sekarang sudah
jelas kau bisa kembali dengan bebas karena Dark
Queen sudah kembali dalam keadaan selamat!"
"Kami hendak mengantarnya ke Nona Harmer," kata
Larry. "Pasti ia gembira sekali!"
"Aku ikut," kata Lady Candling. "Ah itu Bu
Trimble. Bu Trimble, Anda tahu apa yang baru saja
terjadi? Dark Queen sudah kembali!"
"Ampun-ampun-ampun!" kata Bu Trimble, sambil
berlari-lari kecil menghampiri, sampai kaca matanya
terlepas dari hidung. "Dari mana dia datang! Siapa yang
membawanya ke sini?"
Anak-anak menceritakan kejadiannya, sementara Bu
Trimble mendengarkan dengan heran sambil mema-
sang kaca matanya lagi ke hidung. Bets mulai
menghitung-hitung, berapa kali saja alat pelihat itu akan
terjatuh.
Mereka lantas pergi beramai-ramai ke kandang
kucing. Nona Harmer ada di situ. Ia sedang
rnembelai-belai seekor kucing. Gadis itu memang
sayang sekali pada binatang-binatang asuhannya.
Ketika ia melihat Dark Queen dalam gendongan Daisy,
ia begitu terkejut sehingga tidak bisa mengatakan
apa-apa. Ia hanya mengembangkan kedua lengannya
ke depan. Dengan sekali lompat, Dark Queen sudah
berpindah ke dalam pelukan gadis itu sambil menggo-
sok-gosokkan kepalanya serta mendengkur dengan
suara berat dan nyaring.
"Wah!" seru Nona Harmer dengan gembira. "Dari
mana kau selama ini, Dark Queen? Aduh, senang sekali
hatiku kau kembali dengan selamat!"
156
Anak-anak lantas ribut bercerita, bagaimana Dark
Queen tadi tahu-tahu muncul. Nona Harmer memper-
hatikan kucing itu dengan seksama.
"Dia kurus," katanya. "Dan bulunya kusam, penuh
duri kecil-kecil. Kurasa dia lari dari orang yang
menyekapnya, lalu pulang ke sini lewat padang dan
hutan mungkin dari jauh sekali."
"Kucing memang binatang pintar, ya?" kata Fatty.
"Kasihan Dark Queen - pasti kau senang bisa kembali
lagi ke kandangmu."
Saat itu Pak Tupping muncul bersama Pak Goon.
Rupanya polisi desa itu sudah bercerita tentang Pak
Inspektur serta instruksinya, dan karenanya Pak
Tupping masam sekali. la memandang Luke sambil
merengut. Setelah itu dilihatnya Dark Queen.
"Ini Dark Queen!" kata Bets, "la sudah kembali.
Anda tidak senang, Pak Tupping? Sekarang ia tidak
dicuri lagi!"
Pak Tupping seakan-akan tidak bisa mempercayai
penglihatannya sendiri. Dark Queen ditatapnya terus
sambil melongo. Ditariknya ekor kucing itu, untuk
meyakinkan di situ ada gelang bulu berwarna kuning
susu. Sedang Pak Goon mulutnya menganga, sedang
matanya semakin melotot.
Diambilnya buku catatannya, lalu polisi desa itu mulai
menulis lambat-lambat.
"Kembalinya kucing ini harus dilaporkan pada Pak
Inspektur," katanya dengan gaya penting. "Untuk itu
diperlukan beberapa keterangan. Lady Candling! Anda
ada di sini, ketika kucing itu muncul lagi?"
Kemudian anak-anak sekali lagi menceritakan bagai-
mana Dark Queen tadi muncul dengan tiba-tiba. Pak
Goon sibuk menulis dalam buku catatannya. Sedang
157
Pak Tupping? Hanya dia saja yang kelihatannya tidak
senang bahwa kucing itu muncul kembali. Dipelototinya
binatang itu, seolah-olah jengkel.
"O ya, Tupping," kata Lady Candling kemudian,
"sebelum Anda pergi, perlu kukatakan bahwa aku tadi
bicara dengan Inspektur Jenks tentang Luke." Nyonya
itu berbicara dengan suaranya yang pelan tapi jelas.
"Mulai besok, anak ini bisa bekerja lagi di sini. Itu
kemauanku seperti pasti sudah diceritakan Pak Goon
pada Anda. Mudah-mudahan aku tak perlu mencela
perlakuanmu terhadap Luke."
"Yah, Nyonya, apabila Anda dan Inspektur ingin
mempekerjakan anak macam itu ...." kata Pak Tupping
dengan sikap kasar. Tapi Lady Candling langsung
memotongnya.
"Aku tidak mau lama-lama membicarakan soal itu
denganmu, Tupping! Sudah kukatakan tadi kemauan-
ku. Kurasa ini sudah cukup!"
Lady Candling pergi, diikuti oleh Bu Trimble. Kaca
mata wanita setengah umur itu sampai terlepas dari
batang hidungnya begitu senang perasaannya
mendengar Pak Tupping kena marah.
"Aku kepingin bisa bersikap begitu pada orang," kata
Fatty, sambil melirik Pak Tupping. "Maksudku, tentu
saja terhadap orang yang pantas diperlakukan begitu."
"Sekarang pergi!" bentak Pak Goon, karena melihat
tampang Pak Tupping mulai berubah menjadi ungu tua.
"Aku masih ingin menyidik jejak di sini," kata Fatty
membandel. "Anda tahu kan, siapa tahu masih ada
manis-manisan yang tercecer, atau permen coklat. O ya,
Pak Goon permen itu sudah Anda makan atau
belum?"
Sekarang Pak Goon yang berubah menjadi ungu
mukanya. Anak-anak tertawa geli, lalu cepat-cepat lari
158
menuju tembok pagar. Mereka heran ada-ada saja
yang bisa dikatakan oleh Fatty untuk mcngganggu polisi
desa itu. Dan terlebih-lebih lagi, bahwa ia berani
mengatakannya!
Mereka memanjat tembok, lalu meloncat ke kebun
seberang. Fatty pergi ke gudang untuk membebaskan
Buster. Anjing itu sudah marah sekali.
Kemudian terdengar lonceng berdering dalam rumah,
tanda Bets harus tidur. Anak itu mengeluh.
"Sialan! Lonceng itu selalu berdering kalau aku belum
kepingin. Asyik sekali pengalaman kita hari ini. ya?"
"Memang," kata Pip. "Piknik dengan Pak Inspektur,
lalu Luke disuruh keluar dari persembunyiannya, disusul
Dark Queen yang muncul kembali he! Jadi sekarang
tidak ada lagi misteri yang perlu kita pecahkan!"
"Kita kan masih tetap belum tahu, siapa sebenarnya
yang mencuri Dark Queen," kata Larry. "Aku
berpikir-pikir, mungkinkah kucing itu sendiri yang
minggat dan Luke tidak melihat sewaktu ia keluar.
Mungkin pintu kandang saat itu tidak dikunci, lalu Dark
Queen mendorongnya sampai terbuka sedikit dan
menyelinap pergi pokoknya begitulah!"
"Kurasa itu sama sekali tidak mungkin," kata Fatty.
"Tapi kita anggap saja begitu. Pokoknya kita gagal kali
ini dalam menyelidiki suatu kejadian misteriusjadi kita
anggap saja kejadian itu tidak pernah ada! Dark Queen
sendiri yang minggat, lalu kembali ketika sudah bosan
keluyuran di luar."
Tapi tak seorang pun di antara kelima anak itu yang
benar-benar beranggapan begitu. Mereka kecewa
sekali. Pasukan Mau Tahu tak berhasil menyibakkan
rahasia kejadian di rumah sebelah!
Malam itu Luke pulang ke rumah ayah tirinya. Ia tidak
dipukul, dan juga tidak diomeli. Rupanya Pak Goon
159
berhasil menjelaskan, bahwa Luke sama sekali tidak
boleh diapa-apakan. Ayah tiri anak itu sama sekali tidak
mengatakan apa-apa. Makanannya ditaruh di depan
nya. Dan Luke sehabis makan, lalu mencuci piring.
Keesokan paginya ia kembali bekerja seperti biasa. la
masih takut-takut terhadap Pak Tupping. Tapi laki-laki
itu tidak mendampratnya, seperti yang biasa terjadi
sebelumnya. Ternyata ucapan Pak Inspektur besar
pengaruhnya! Begitu pula perintah bady Candling, tidak
bisa tidak diacuhkan. Pekerjaan Pak Tupping di situ
enak, dan itu juga disadari olehnya. Ia tidak kepingin
kehilangan pekerjaan itu.
Luke senang sekali bahwa Dark Queen sudah kembali
dengan selamat. Menurut perasaannya, kini semuanya
sudah beres lagi. la bekerja dengan rajin. Sekali-sekali
Pip serta kawan-kawannya mendengar anak itu
bersiul-siul dengan riang, sementara Luke mendorong
gerobaknya dalam kebun di sebelah.
Pada suatu ketika anak-anak naik ke atas tembok,
untuk melihat dia bekerja. Luke sedang sibuk
menggaruk tanah galangan.
"Hai, Luke," sapa Bets. "Kau senang, bisa bekerja
kembali?"
Luke mengangguk.
"Tentu saja," katanya. "Aku ini paling tidak senang
bermalas-malas. Ah, aku belum sempat mengucapkan
terima kasih dengan sepatutnya pada kalian, karena
mau menyembunyikan diriku serta memberi makan
selama itu. Tapi kalian tentu tahu, aku sangat berterima
kasih. Cuma aku tidak bisa mengatakannya dengan
baik, kayak kalian."
"Itu juga tidak perlu, Luke," kata Larry. "Kami
senang, bisa menolongmu."
"Kalau kalian mau, bisa kubuatkan peluit," kata Luke
160
lagi. "Peluit yang bagus, bukan yang kecil kayak yang
kubikinkan untuk Bets waktu itu. Peluit yang besar
dan kuwarnai dengan cat. Mau?"
"Wah terima kasih banyak," kata Pip senang.
"Peluitmu bagus-bagus, Luke. Tapi kau pasti akan sibuk
sekali, kalau membuatkan masing-masing satu untuk
kami."
Luke memang sibuk sekali membuatnya. Tapi ia
merasa bahagia. Senang rasanya bisa membikinkan
lima buah peluit untuk teman-temannya yang setia. Ia
merasa sayang, untuk Buster tidak bisa dibikinkan peluit
pula.
Kehidupannya sudah lebih enak sekarang. Ayah
tirinya tidak pernah memukulnya lagi. Pak Tupping juga
tidak berani menempeleng, walau kadang-kadang
masih juga membentak-bentak. Kadang-kadang ia
diajak mengobrol oleh Lady Candling. Majikannya itu
ramah. Lagipula kelima temannya selalu mau diajak
mengobrol, atau berjalan-jalan dengan dia apabila Luke
kebetulan sedang tidak bekerja.
Pokoknya segala-galanya berjalan dengan tenang
dan damai. Beberapa hari berlalu. Anak-anak asyik
bermain-main dalam kebun, atau berpiknik, pesiar
dengan sepeda, atau mandi-mandi di sungai.
"Rasanya sudah lama sekali sejak kita mengira ada
misteri lagi yang bisa kita selidiki," kata Fatty pada suatu
hari. "Kita konyol waktu itu, menyangka kejadian itu
misterius. Padahal yang terjadi cuma seekor kucing
menghilang, entah dengan cara bagaimana. Padahal
penjelasannya mungkin sangat sederhana."
"Tapi bagaimanapun, aku kepingin ada misteri yang
bisa kita pecahkan dalam liburan ini," kata Bets. "Apa
gunanya jadi Pasukan Mau Tahu, apabila tidak ada yang
bisa diketahui. Coba ada lagi kejadian baru!"
161
"Kejadian takkan muncul dengan begitu saja, apabila
kita menghendakinya," kata Fatty berlagak bijak.
Tapi sekali itu ia keliru. Ternyata ada lagi terjadi
sesuatu sesuatu yang langsung menarik perhatian
Pasukan Mau Tahu. Dark Queen sekali lagi lenyap!
162
18
HILANG UNTUK KEDUA
KALINYA
Luke yang menyampaikan kabar itu. Sore itu, sekitar
setengah enam anak itu muncul dari balik tembok
sebelah. Mukanya pucat pasi. Nampak jelas ia
ketakutan, sehingga anak-anak menyangka ia habis
dipukul oleh Pak Tupping, atau mengalami musibah
seperti itu.
"Ada apa?" tanya Daisy.
"Dark Queen hilang lagi," kata Luke. "Ya, sungguh
dan hilangnya sementara aku ada di dekat kandang.
Persis seperti kejadian yang lalu!"
"Apa maksudmu?" tanya Fatty heran. "Duduklah
dulu lalu bercerita dengan tenang. Ini benar-benar
luar biasa!"
Luke duduk di rumput, dekat anak-anak, lalu mulai
bercerita.
"Kejadiannya begini," katanya. "Aku sedang mena-
rik gilingan, meratakan kerikil di lorong kebun sekitar
kandang kucing. Kemarin kan hujan dan sehabis
hujan aku selalu meratakan kerikil. Nah aku sedang
mundur maju, mundur maju menarik gilingan
ternyata ada orang mencuri Dark Queen lagi saat itu.
Sementara aku ada di situ bayangkan! Dan aku tidak
melihat siapa-siapa di situ!"
163
"Dan mana kau tahu kucing itu hilang?" tanya Larry.
"Hari ini Nona Harmer tidak dinas," kata Luke.
"Pukul sepuluh pagi tadi ia pergi, dan pulangnya baru
sekitar sepuluh menit yang lalu. Begitu ia datang di
kandang ia langsung menjerit. Katanya Dark Queen
tidak ada dalam kandang!"
"Astaga!" kata anak-anak kaget. "Kau lantas pergi
melihat, Luke?"
"Tentu saja," kata Luke. "Tapi yang ada cuma
kucing-kucing yang lain. Dark Queen tidak ada di situ.
Hilang begitu saja sementara aku ada di dekat situ!"
"Bagaimana kau bisa tahu kucing itu hilang sewaktu
kau sedang bekerja di lorong dekat situ?" desak Fatty.
"Kan bisa juga sudah hilang sebelum saat itu."
"Tidak mungkin," jawab Luke. "Soalnya, Lady
Candling sekarang selalu datang melihat-lihat sekitar
pukul tiga sore, sambil berbicara dengan Nona Harmer.
tentang kucing-kucing. Nah tadi pukul tiga Lady
Candling datang lagi seperti biasa. Dan waktu itu Dark
Queen masih ada."
"Katamu tadi, Nona Harmer hari ini pergi, karena
tidak dinas," kata Fatty. "Jadi dia tidak melihat Dark
Queen."
"Tentu saja tidak," jawab Luke."Pak Tupping yang
mengantar Lady Candling melihat-lihat kucing hari ini.
Itu selalu dilakukannya sekarang apabila Nona Harmer
sedang tidak ada. Pak Tupping harus ikut, karena
mungkin ada hal-hal yang perlu disampaikan pada Nona
Harmer. Aku ada di situ ketika Lady Candling dan Pak
Tupping sedang melihat ke dalam kandang. Kudengar
Pak Tuping berkata, 'Itu Dark Queen, di sebelah
belakang, Nyonya bisa ketahuan karena ekornya
yang belang.' Jadi kucing itu masih ada di situ, pukul tiga
tadi."
164
"Dan sejak pukul tiga itu kau selalu berada di dekat
kandang? Tidak pernah pergi walau sebentar sampai
Nona Harmer kembali dan melihat bahwa Dark Queen
sudah tidak ada lagi?" kata Larry. Luke mengangguk.
"Dan kalian tentu tahu, bagaimana keadaannya
sekarang," gumamnya. "Pasti aku lagi yang dituduh.
Waktu itu aku sendiri yang ada di situ dan sekarang
juga begitu. Tapi aku sama sekali tak menyentuh Dark
Queen."
"Bagaimana Nona Harmer tahu bahwa kucing itu
tidak ada lagi?" tanya Fatty. Rupanya segala perkataan
Luke diperhatikannya dengan sungguh-sungguh.
"Yah ketika ia kembali, ia langsung disambut oleh
Pak Tupping. Pak Tupping merasa, kelihatannya
salah-satu kucing ada yang agak sakit," kata Luke. "Jadi
sementara aku memperhatikan, Pak Tupping langsung
masuk ke dalam kandang, untuk mengambil kucing
yang katanya sakit. Begitu Nona Harmer melihat ke
dalam kandang, ia langsung menjerit. Katanya, Dark
Queen hilang!"
"Mungkinkah Pak Tupping melepaskannya saat itu?"
tanya Larry.
"Tidak," kata Luke. "Aku tidak melihat Pak Tuping
ketika ia berada dalam kandang. Tapi pintu kandang
nampak jelas dari tempatku berdiri. Dan aku sama sekali
tidak melihat ada kucing keluar. Pintu itu bahkan
tertutup rapat!"
Anak-anak terdiam sesaat. Benar-benar aneh Dark
Queen sekali lagi hilang di depan mata Luke.
Memang nasibnya malang! Kenapa cuma ia sendiri yang
saat itu bekerja dekat kandang!
"Memang maumu sendirikah meratakan kerikil dekat
kandang itu?" tanya Fatty.
165
"Bukan," kata Luke, "aku tidak bisa berbuat
semauku sendiri. Pak Tupping yang mengatur tugas-
tugasku setiap hari. Dan dia yang menyuruhku
meratakan kerikil di lorong dekat kandang kucing siang
ini."
"Waktu itu kau juga terus-menerus ada di situ," kata
Pip. "Dan sekarang lagi! Waktu itu, Nona Harmer
sedang pergi sehari. Sekarang pergi lagi. Waktu itu
Pak Tupping yang masuk ke dalam kandang, seperti
yang terjadi lagi sekarang maksudku, ketika ketahuan
bahwa Dark Queen lenyap. Waktu itu dia masuk dengan
Pak Goon dan Sekarang dengan Nona Harmer.
Banyak hal yang berulang. Aneh! Benar-benar aneh."
"Pokoknya, waktu itu bukan aku yang mengambil
kucing dan sekarang juga bukan," kata Luke. "Aku
tahu, bukan aku yang mengambil. Kalau aku yang
melakukan, tentunya aku ingat, kan? Maksudku, aku
kan tidak jadi gila sekarang? Mustahil aku yang
mengeluarkan Dark Queen, tapi setelah itu tidak ingat
lagi?"
"Tak pemah terpikir kemungkinan itu oleh kami,"
kata Daisy. "Itu memang bisa saja terjadi
kadang-kadang. Tapi sedikit pun tak ada sangkaanku,
kau berbuat begitu, Luke."
"Kejadian ini semakin misterius saja," kata Fatty, lalu
berdiri. "Aku hendak ke sebelah sekarang, untuk
menyelidiki sebentar. Kalian ingat apa yang kita
temukan dalam kandang waktu itu? Sebuah peluit,
buatan Luke. Nah karena kejadian sekarang sangat
mirip seperti yang dulu, aku berani taruhan dalam
kandang ada lagi peluit bikinan Luke!"
"Jangan konyol!" kata Daisy. "Kan cuma kebetulan
saja kejadian sekarang mirip dengan yang dulu."
"Ya deh," kata Fatty. "Tapi kalau aku nanti sampai
166
menemukan peluit bikinan Luke dalam kandang, maka
harus kita akui itu bukan kebetulan tapi disengaja!
Yah kulihat saja sebentar."
Tentu saja anak-anak ingin berangkat semua. Jadi
kelima-limanya memanjat tembok ke sebelah, diikuti
oleh Luke. Anak itu takut dan bingung. la tidak mau
ditinggalkan sendiri. Tinggal Buster saja yang tidak ikut.
Anjing itu dltambatkan pada sebatang pohon, di kebun
rumah Pip. la menggonggong-gonggong dan meronta-
ronta, hendak membebaskan diri. Nyaris saja lehernya
tercekik tali. Tapi ia tidak bisa melepaskan diri dari
ikatannya.
Anak-anak mendatangi kandang kucing. Di situ tidak
ada orang. Pak Tupping pergi menghadap Lady
Candling bersama Nona Harmer, untuk melaporkan
kejadian itu. Yang ada dalam kandang cuma kucing-
kucing saja. Binatang-binatang itu memandang anak-
anak dengan mata mereka yang biru. Bets menghitung
jumlah mereka. Ada tujuh ekor.
"Lihatlah itu kan peluit Luke," kata Fatty, sambil
menuding ke dalam kandang.
Memang benar. Sebuah peluit yang bagus buatan
Luke, tergeletak di lantai kandang. Luke menatap benda
itu sambil melongo. Kemudian didatanginya jasnya yang
tersampir pada dahan sebatang pohon yang ada di dekat
situ, lalu dirogoh-rogoh kantongnya.
"Rupanya tadi ada yang mengambil dari sini,"
katanya. "Tadi kukantongi, karena masih ingin
kuselesaikan. Aku membuatnya untuk Pip. Pasti ada
orang yang mengambilnya tadi."
"Lalu meletakkannya di lantai, supaya kau lagi yang
dicurigai!" kata Fatty dengan geram. Ditatapnya peluit
yang tergeletak di lantai kandang.
167
"Tidak bisakah kita mengambilnya lagi, seperti waktu
itu?" tanya Daisy.
"Kurasa tidak ada waktu," jawab Fatty. "Cepat
periksa kalau-kalau ada petunjuk lain di sini."
Anak-anak bergegas mencari. Bets mendekatkan
hidungnya ke kandang, sambil mengendus-endus.
"Aku mencium bau yang sama kayak waktu itu,"
katanya. "Apa katamu bau itu dulu, Fatty? O ya itu
bau terpentin, katamu."
Fatty merapatkan hidung ke kawat pagar kandang,
lalu mencium-cium.
"Ya, betul bau terpentin," katanya heran. "Wah,
ini aneh! Semuanya seperti terulang kembali. Peluit
yang terletak di lantai. Lalu bau terpentin. Kurasa baru
sekali ini aku mengalami kejadian seaneh ini."
"Itu petunjuk atau bukan, Fatty?" tanya Daisy, sambil
menuding secercah cat di atas batu yang terdapat di
pinggir lorong. Fatty memandang ke arah itu.
"Kurasa bukan," katanya. Dipungutnya batu itu, lalu
diperhatikannya bercak warna yang menempel di situ.
"Luke kan mencat peluit-peluit kita," katanya.
"Mungkin ini cat yang tercecer sewaktu ia sedang
mencat. Kau pernah mencat peluit di sini, Luke?"
"Tidak, tidak pernah," kata Luke. "Aku selalu
melakukannya dalam gudang, di mana kaleng-kaleng
cat disimpan. Lagipula, aku tidak pemah memakai cat
coklat muda kayak itu. Aku selalu memilih warna-warna
cerah. Merah, atau biru, atau hijau."
"Kurasa ini bukan petunjuk," kata Fatty. Tapi walau
begitu batu itu dikantonginya juga.
Saat itu terdengar langkah orang mendekat. Lady
Candling datang diiringi Bu Trimble, Pak Tupping dan
Nona Harmer. Pak Tupping berlagak sibuk. Sedang
168
yang lainnya kelihatan kaget dan bingung. Kaca mata Bu
Trimble selalu terlepas lagi setiap dua detik.
Semuanya langsung memandang ke dalam kandang
kucing. Seolah-olah berharap, Dark Queen ternyata ada
di dalamnya. Tiba-tiba Nona Harmer berseru kaget.
"Ada apa?" tanya Lady Candling padanya. Nona
Harmer menuding ke arah lantai kandang.
"Apa itu?" tanyanya. Semua memandang lagi ke
dalam kandang.
"Ha!" seru Pak Tupping dengan suara galak. "Itu
peluit, seperti yang biasa dibikin Luke. Aku kepingin
tahu, kenapa peluit itu sampai bisa ada di situ!"
Nona Harmer mengambil anak kunci pintu kandang,
lalu membuka pintu. Pak Tupping memungut peluit
yang tergeletak di lantai, dan ditunjukkannya pada
Lady Candling.
"Peluit ini bikinanmu, Luke?" tanya Lady Candling.
Luke mengangguk. Tampangnya pucat. la tidak bisa
mengerti bagaimana Dark Queen bisa lenyap lagi. Dan
ia lebih-lebih lagi tidak mengerti, mengapa peluitnya
tahu-tahu ada dalam kandang!
"Luke sedang membuatkan peluit untuk kami
semua," kata Fatty. Diambilnya kepunyaannya dari
dalam kantong. "Kurasa itu peluit salah seorang di
antara kami, Lady Candling! Mungkin saja, kan?"
"Tapi kenapa tahu-tahu ada dalam kandang?" tanya
nyonya itu dengan heran.
"Persoalannya jelas, Nyonya," sela Pak Tupping.
"Anak itu masuk untuk mengambil kucing, persis seperti
yang dilakukannya juga waktu itu tapi kemudian
tanpa disadarinya peluit itu terjatuh dari kantongnya. Ia
langsung pergi setelah pintu kandang dikunci kembali,
sementara Dark Queen dibawa olehnya."
169
"Aku bahkan sama sekali tidak tahu, di mana anak
kunci pintu ini disimpan sekarang," kata Luke membela
diri.
"Biasanya kukantongi, kecuali kalau aku harus
pergi," kata Nona Harmer. "Kalau aku pergi, anak kunci
kuserahkan pada Pak Tupping. Anda menyimpannya di
mana, Pak?"
"Aku juga selalu mengantonginya," kata Pak
Tupping. "Tapi tadi siang jasku kutinggalkan di salah
satu tempat. Jadi gampang saja bagi Luke untuk
mengambilnya. Percayalah Dark Queen pasti
disembunyikan di dekat-dekat sini, untuk diambil orang
lain nantinya. Sudah kusangka Anda pasti akan
menyesal, Lady Candling, karena menerima anak jahat
ini kembali. Sudah jelas kejadian begini akan terjadi,
setelah Anda berbuat begitu. Berulang kali kukatakan
pada Pak Goon ...."
"Aku tak mau tahu apa katamu pada Pak Goon,"
tukas Lady Candling. "Kurasa kali ini kita lewati saja
polisi desa itu, dan langsung menghubungi Inspektur
Jenks di kota."
Anak-anak sangat gembira mendengarnya. Tapi
sayang saat itu Pak Inspektur sedang tidak ada di
kantornya. Jadi terpaksalah Pak Goon diberi tahu. Polisi
desa itu datang tidak lama kemudian. Dengan sikap sok
aksi seperti biasanya, ia mulai sibuk mencari-cari tanda
bukti serta meminta keterangan dari semua yang hadir di
situ.
Fatty serta keempat temannya ditatap olehnya
dengan sikap curiga. Kemudian dipandangnya kan
dang-kandang kucing, seolah-olah menyangka akan
kembali menemukan setumpuk tanda bukti di situ. Tapi
tak ada yang terlihat, kecuali peluit yang diserahkan
Lady Candling padanya.
170
"Kau menemukan tanda-tanda bukti kali ini?" tanya
Pak Goon pada Fatty.
"Kami hanya menemukan bau, serta sebutir batu
yang ada cat di atasnya," kata Bets, Teman-temannya
semua berpaling dengan cepat dan menatapnya dengan
kening berkerut. Bets begitu kaget, sehingga nyaris lari.
Aduh, tentu saja itu kan tidak boleh diceritakan pada
Pak Goon! Ke mana lagi pikirannya tadi?
"Bau?" tanya Pak Goon dengan sikap tak percaya.
"Dan batu yang ada catnya? Hah! Kausangka aku bisa
kautipu lagi, ya sekali ini dengan macam-macam bau
dan batu. Kukatakan saja sekarangsekali ini aku tidak
mau percaya pada permen, tali sepatu, pita rambut, bau
atau batu! Simpan saja tanda-tanda bukti itu untukmu
sendiri! Dan ingat kataku waktu itu jika kalian masih
juga mencampuri urusan hukum, pada suatu hari nanti
kalian pasti akan terjerumus dalam kesulitan besar!"
Setelah itu Pak Goon membelakangi anak-anak, yang
langsung pergi ke sebelah lewat tembok, lalu duduk
untuk merundingkan kejadian baru itu.
"Bets! Dasar goblok!" tukas Pip marah-marah. "Kau
ini minta dipukul rupanya! Masak petunjuk-petunjuk
kita, kauceritakan pada si Ayo Pergi! Sinting kau
rupanya ya?"
"Kurasa begitu." Bets sudah hampir menangis. "Aku
sendiri tidak mengerti, kenapa aku tadi mencerita-
kannya."
"Tak apalah, Bets," kata Fatty menghiburnya.
"Justru karena kau tadi menceritakan, si Ayo Pergi
malah tidak mau percaya! Jadi kalau yang tadi itu
memang betul-betul tanda bukti, juga tidak apa-apa.
Kau tidak perlu sedih lagi!"
"Kejadian ini sungguh-sungguh misterius," kata
171
Daisy. "Misteri kucing yang hilang! Hilangnya ke mana
dan dengan cara bagaimana? Aku kepingin sekali
mengetahuinya!"
172
BUSTER MEMANG CERDAS!
"Bagiku, yang paling membingungkan adalah hampir
semuanya terjadi persis seperti waktu itu," kata Fatty.
"Maksudku, Luke ada di dekat situ, dan hanya Luke
seorang diri! Lalu Nona Harmer sedang pergi dan,
dalam kandang ada peluit."
"Kelihatannya seolah-olah itu persyaratannya,
supaya kucing itu bisa dicuri," kata Daisy. "Jadi Nona
Harmer harus pergi, Luke ada di dekat situ dan
sebagainya."
"Kali ini percuma saja mencurigai orang lain, kecuali
Luke," kata Larry. "Pukul tiga sore Dark Queen masih
ada, karena Lady Candling melihatnya bersama Pak
Tupping. Dan Luke ada di dekat kandang kucing sejak
pukul tiga sampai saat Nona Harmer kembali. Lalu Nona
Harmer masuk ke dalam kandang bersama Pak
Tupping, dan melihat Dark Queen sudah tidak ada lagi
di situ."
"Dan seperti waktu itu juga, kali ini Luke mengatakan
bahwa tak ada orang lain kecuali dia yang datang ke
dekat kandang selama itu," kata Pip. "Yah aku sama
sekali tak mengerti, bagaimana caranya sampai Dark
Queen bisa dicuri."
Anak-anak terdiam semuanya. Sekali lagi dihadapi
173
19
persoalan misterius, yang sama sekali tidak mungkin
dipecahkan kecuali menuduh Luke pencuri yang
sangat tolol dan pendusta. Tapi anak-anak tidak ada
yang beranggapan begitu.
Mereka sibuk berunding terus, sampai saatnya tiba
bagi Bets untuk tidur. Mereka lantas mengucapkan
selamat berpisah, lalu bangkit untuk pulang ke rumah
masing-masing.
"Besok kita berkumpul lagi di sini walau sebetulnya
tidak banyak yang bisa kita lakukan," kata Fatty lesu.
"Malam ini kita semua memutar otak, karena siapa tahu
barangkali bisa ditemukan penyelesaian soal ini."
"Coba ada beberapa petunjuk baik serta sejumlah
orang tersangka, seperti dalam misteri yang kita alami
waktu itu," kata Pip. "Tapi bau sesuatu dan secercah cat
di atas batu kan tidak bisa disebut petunjuk!"
"Bahkan si Ayo Pergi saja mencemoohkan," kata
Fatty sambil berdiri. "Nah kalau begitu sampai besok!
Dan jangan lupa, kita harus berusaha menemukan akal.
Kalau tidak, habislah riwayat Luke sekali ini."
Malam ini anak-anak tidak bisa tidur nyenyak. Semua
sibuk memikirkan misteri kucing hilang. Dan ketika
mereka berkumpul lagi keesokan paginya, tak ada yang
berhasil mendapat akal kecuali Bets. Tapi anak itu
segan mengatakannya, karena takut kalau-kalau diter-
tawakan.
"Ada yang hendak mengetengahkan sesuatu?" tanya
Fatty.
"Yah " Bets nampak agak segan, "sebetulnya aku
ada gagasan, mengenai salah satu petunjuk yang
kemarin."
"Gagasan apa?" tanya Fatty.
"Kau tahu kan, bau terpentin yang kita cium itu,"
kata Bets. "Kemarin kita menciumnya dalam kandang
174
persis seperti waktu itu. Itu pasti ada artinya. Pasti ada
sangkut-pautnya dengan misteri yang kita hadapi. Bau
itu pasti merupakan petunjuk bagi kita, jadi perlu kita
usut."
"Bagaimana caranya?" tanya Pip, agak menye-
pelekan.
"Yah kita kan bisa mencari ke sebelah, untuk
menemukan tempat penyimpanan botol berisi terpen-
tin, atau begitu," kata Bets. "Aku tidak mengatakan itu
akan ada gunanya. Tapi jika bau itu memang suatu
petunjuk, mungkin saja kita nanti akan menemukan
jejak tertentu."
"Betul juga katanya," kata Fatty. "Bets benar! Kita
memang dua kali mencium bau terpentin. Dan memang
kita harus berusaha menyelidiki di mana minyak itu
disimpan. Siapa tahu, mungkin nanti kita akan
menemukan petunjuk-petunjuk lain!"
"Kalau begitu, sekarang saja kita ke sana!" kata Pip.
"Jangan membuang-buang waktu lagi! Tapi hati-hati,
jangan sampai ketahuan Pak Tupping. Dia tidak senang
melihat kita berkeliaran di situ."
Anak-anak pergi lagi ke sebelah lewat tembok,
sementara Buster kembali dikurung dalam gudang. Pip
disuruh masuk dulu ke kebun, untuk melihat di mana
Pak Tupping berada.
Setelah beberapa saat, Pip kembali dan mengatakan
bahwa Pak Tupping sedang sibuk mengikat sesuatu
dekat rumah.
"Jadi untuk sementara keadaan aman," katanya.
"Yuk kita ke kandang lagi, untuk memeriksa apakah
bau itu masih tercium di sana. Setelah itu kita meneari
tempat penyimpanannya."
Anak-anak pergi ke kandang kucing, lalu mengendus-
endus. Ternyata masih tercium samar-samar bau
175
minyak terpentin di situ. Ketika mereka sedang asyik
mengendus, tiba-tiba Nona Harmer muncul. Gadis itu
kelihatannya tidak begitu senang melihat anak-anak ada
di situ.
"Aku tidak mau lagi melihat ada orang lain di dekat
kandang kucing," katanya. Dua kali kejadian Dark
Queen hilang, membuat diriku sangat gelisah sekarang.
Lebih baik kalian pergi dari sini, Anak-anak."
"Anda memakai minyak terpentin untuk membersih-
kan kandang?" tanya Fatty pada gadis itu. Nona Harmer
agak kaget.
"Tentu saja tidak," jawabnya. "Aku memakai cairan
pembersih yang biasa. Kucing paling tidak senang
mencium bau minyak terpentin."
"Kalau begitu, kenapa di sini ada bau terpentin?" kata
Larry. "Ciumlah sendiri, Nona Harmer barangkali
Anda juga bisa mencium baunya."
Tapi penciuman Nona Harmer ternyata tidak begitu
tajam. Menurut katanya, tidak diciumnya bau terpentin
dalam kandang.
"Tapi Anda tidak menciumnya kemarin, ketika Anda
masuk ke dalam dan menyadari bahwa Dark Queen
hilang?" tanya Larry.
"Hmm mungkin juga," kata Nona Harmer sambil
mengingat-ingat. "Tapi aku tidak tahu pasti. Soalnya
saat itu aku terlalu gugup, karena Dark Queen hilang
lagi."
Anak-anak mengintip ke dalam kandang, sambil
mengendus-endus terus. Tapi Nona Harmer menyuruh
mereka pergi.
"Kalian pergi saja sekarang," katanya mendesak.
"Aku sekarang gelisah saja, kalau ada orang mendekati
kandang."
176
"Yuk, kita ke gudang barangkali di situ ada
terpentin," kata Fatty. Anak-anak pergi dari kandang
kucing, menuju ke dua bangunan gudang yang letaknya
saling membelakangi tidak jauh dari rumah kaca.
Gudang yang satu penuh berisi peralatan. Sedang yang
satu lagi berisi pot-pot bunga, kotak-kotak serta
macam-macam lagi.
"Daisy, kau dan Bets pergi memeriksa ke gudang
yang itu, sedang kami bertiga melihat-lihat di sini," kata
Fatty.
Anak-anak itu lantas memeriksa kedua gudang,
mencari-cari botol terpentin. Walau mereka sebetulnya
tidak tahu, apa gunanya jika mereka berhasil menemu-
kan botol itu.
Tapi walau dicari dengan sangat teliti, namun mereka
tidak berhasil menemukan terpentin dalam botol. Saat
itu Larry melihat Luke lewat. Tampang anak itu nampak
lesu dan sedih. Larry bersiul memanggilnya.
"Hai, Luke! Kau .kelihatannya seperti baru saja
kehilangan harta. Bergembiralah sedikit!"
"Kau pasti juga takkan bisa gembira, apabila sedang
ketakutan kayak aku sekarang," jawab Luke.
"Jangan takut," kata Larry sambil nyengir. "Anak
yang takut dikejar kucing nantinya."
Tapi Luke pagi itu sama sekali tidak bisa diajak
bercanda. la tidak mampu tersenyum, karena merasa
seolah-olah setiap waktu Pak Goon akan muncul, lalu
menggiringnya ke kantor polisi.
"Cari apa kalian dalam gudang itu?" tanyanya.
"Awas kalau Pak Tupping datang dan melihat kalian
mengacak-acak di situ."
"Kami mencari terpentin," kata Fatty, sambil
menjengukkan kepala ke luar. Luke tercengang
mendengar katanya.
177
"Terpentin?" katanya. "Untuk apa? Terpentin
disimpan dalam gudang yang satu lagi. Di atas rak
Sebentar, kutunjukkan tempatnya. Tapi untuk apa
kalian memerlukan terpentin?"
Sambil berkata begitu Luke masuk ke gudang yang
satu lagi, di mana Daisy dan Bets berada. Sesampai di
dalam ia menuding ke atas rak, di mana nampak
sejumlah botol dan kaleng berderet-deret.
"Di situlah tempatnya," kata Luke.
Anak-anak lantas mencari. Botol-botol diambil satu
per satu, lalu diendus isinya. Tapi tak ada yang berisi
terpentin.
"Tadi kami juga sudah mencari di situ," kata Daisy.
Luke nampak heran.
"Kemarin aku masih melihatnya ada di situ," katanya
"Ke mana barang itu?"
Fatty mulai merasa gelisah, walau ia sendiri tidak tahu
apa sebabnya.
"Misteri botol terpentin yang hilang," gumamnya
Anak-anak tertawa geli mendengarnya.
"Botol itu harus kita cari sampai ketemu," kata Fatty
"Kenapa?" tanya Daisy.
"Aku juga tidak tahu, kenapa," jawab Fatty. "Tapi
pokoknya, harus dicari sampai ketemu. Botol itu tidak
ada lagi di sini. Barangkali disembunyikan. Kita harus
menemukannya!"
"Tapi kita kan tidak bisa mengendus-endus ke segala
penjuru kebun, untuk mencari sebotol terpentin," kata
Larry. "Kita kan bukan anjing!"
"Tapi Buster anjing!" kata Fatty. "Kurasa Buster pasti
bisa menemukan botol itu untuk kita!"
"Ya betul!" kata Bets. "Buster pintar aku tahu
dia akan bisa!"
178
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Larry. "Kan kita
tidak bisa mengatakan padanya, 'Carikan kami di mana
ada sebotol terpentin yang disembunyikan.' Mungkin
saja Buster anjing pintar, tapi takkan begitu pintar
sehingga bisa mengerti perintah itu!"
"Itu bisa kuatur," kata Fatty berlagak yakin. "Dalam
gudang di kebunmu ada terpentin, Pip?"
"Kurasa ada," jawab Pip.
"Kalau begitu, tolong ambilkan," kata Fatty lagi.
"Sedang aku akan menjemput Buster. Yang lain
kembali ke tembok, karena siapa tahu Pak Tupping
muncul lalu bertanya kita mau apa di sini."
Luke kembali bekerja lagi, dengan tampang yang
masih tetap suram. Sedang anak-anak yang lain pergi ke
tembok pagar. Pip dan Fatty menuju ke kebun keluarga
Hilton. Pip masuk ke gudang yang terletak di ujung
kebun. Di situ ditemukannya terpentin, dalam sebuah
botol kecil.
Sedang Fatty pergi ke gudang tempat menyimpan
sepeda. Dikeluarkannya Buster yang tadi dikurung di
situ. Anjing kecil itu langsung berlari-lari mengelilingi
tuannya, sambil menggonggong-gonggong dengan
gembira. Kelakuannya saat itu, seolah-olah sudah
berpisah paling sedikit lima tahun dari Fatty.
"Yuk, Buster," kata Fatty, sambil menggendong
anjing itu. "Kau harus bekerja sebentar sekarang.
Tunjukkan bahwa otakmu memang cerdas."
Dengan segera anak-anak sudah kembali berada
dalam kebun rumah sebelah.
"Mana Pak Tupping? Masih sibuk bekerja dekat
rumah?" tanya Fatty.
"Ya," jawab Larry. "Tadi aku mengintainya sebentar.
Saat ini keadaan aman."
179
"Mau apa Buster sekarang?" tanya Bets bergairah
"Dia mau ikut menyelidik?"
"Mudah-mudahan saja begitu," jawab Fatty. Ditum
pahkannya terpentin sedikit ke sapu tangannya yang
agak kumal, lalu diciumkannya ke hidung Buster. "Cium
ini, Buster! Cium baik-baik. Ini bau terpentin. Nah
sekarang carilah di seluruh kebun. Can di mana ada bau
kayak begini. Kau kan anjing pelacak jejak yang hebat?''
"Dia pelacak bau bukan jejak!" kata Bets geli
"Kau kan anjing pintar, Buster? Ayo, can bau itu!"
Padahal Buster sama sekali tidak senang mencium
bau terpentin. Anjing itu menjauhkan hidungnya dari
sapu tangan yang kena minyak itu, lalu bersin tiga kali.
"Ayo, Buster cari! Cari!" kata Fatty, sambil
mengibas-ngibaskan sapu tangannya ke arah Buster.
Anjing itu memandang tuannya. Ia tahu, apa arti 'cari'. la
selalu disuruh mencari oleh Fatty. Karenanya ia pun
pergi, dengan lidah terjulur serta ekor terangkat tinggi.
"Kurasa ke mana pun ia pergi, yang tercium pasti
cuma bau terpentin sekarang," kata Daisy, sambil
memperhatikan anjing itu. "Kau tadi memenuhi rongga
hidungnya dengan bau itu Fatty!"
Buster lari ke semak-semak, lalu mengelilingi
bangunan-bangunan gudang. Setelah itu menuju
kandang-kandang kucing. Kemudian menyusur lorong
dalam kebun.
"Dia mencari jejak kelinci bukan terpentin," kata
Larry jengkel. "Lihatlah ia menemukan liang kelinci.
Nah sekarang dia pasti tidak mau menurut lagi, kalau
disuruh apa-apa!"
Buster memang menemukan sebuah liang. Liang itu
letaknya dalam sebuah tanggul. Disusupkannya hidung
ke dalam liang itu, lalu mendengking. Buster lantas
180
menggali di situ dengan caranya yang biasa. Tanah
berhamburan ke belakang.
"Ayo keluar, goblok!" seru Fatty pelan. "Aku tadi
tidak bilang kelinci tapi terpentin."
Fatty datang menghampiri, lalu menarik kaki
belakang Buster supaya keluar dari lubang yang digali.
Ketika berhasil ditarik, ternyata ada sebuah benda kecil
ikut tertarik ke luar. Anak-anak melongo menatap benda
itu. Sebuah gabus! Fatty memungutnya, lalu mendekat-
kannya ke hidung.
"Bau terpentin!" katanya bersemangat. Anak-anak
langsung mengerubung dan ikut mengendusnya.
Benarlah tak salah lagi, gabus itu berbau terpentin!
Secepat kilat Fatty berlutut, lalu merogoh ke dalam
lubang. la menarik sebuah botol ke luar. Pada botol itu
ada secarik kertas yang direkatkan ke situ. Kertas itu
sudah robek separuh. Tapi samar-samar masih terbaca
tulisan 'pentin'. Dan dalam botol masih ada minyak itu
sedikit.
"Ini dia, yang kita cari!" kata Fatty senang.
Ditunjukkannya botol itu pada teman-temannya. Bets
membungkuk, dan mengintip ke dalam lubang. la
melihat ada sesuatu di situ.
"Di dalam masih ada benda lain, Fatty," seru Bets
bersemangat. sambil memasukkan tangannya ke dalam.
Ketika ditarik lagi ke luar, ternyata memegang sebuah
kaleng. Anak-anak berkerumun lagi karena ingin ikut
melihat.
"Apa itu?" tanya Larry. O kaleng cat. Ini, aku
punya pisau. Kubuka saja tutup kaleng itu."
Ketika sudah dibuka, nampak bahwa isinya cat
berwarna coklat muda. Masih bisa dibilang penuh!
"Aneh!" kata Fatty. "Ini kan sama warnanya dengan
181
bercak cat yang ada pada batu yang kita temukan.
Lihatlah!"
Diambilnya batu itu dari kantongnya, lalu dibanding-
kannya warna cat yang tumpah di situ dengan warna cat
dalam kaleng. Ternyata persis sama. Larry berlutut lalu
mengorek-ngorek dalam lubang. Tapi ternyata tidak ada
apa-apa lagi di situ.
"Nah " kata Fatty senang, sambil memperhatikan
botol terpentin dan kaleng cat berganti-ganti, "sekarang.
siapa yang menaruh kedua barang ini dalam lubang itu?
Dan kenapa ditaruh di situ?"
182
20
MENCARI JEJAK BAU
Anak-anak sangat bersemangat saat itu. Mereka
sudah berhasil menemukan dua tanda bukti penting,
walau mereka tidak tahu bagaimana bisa dihubungkan
dengan kucing yang hilang.
"Terpentin itu gunanya untuk apa?" tanya Bets.
"Macam-macam!" jawab Larry. "Misalnya untuk
membersihkan kuas setelah selesai mencat pokoknya
untuk membersihkan bekas cat. Jelas bahwa antara cat
ini serta terpentin, ada sangkut-pautnya. Aneh
kuasnya tidak ada. Maksudku, mencat kan perlu kuas?"
"Pasti juga ada dalam lubang itu!" kata Bets. Tapi
sebelum anak itu sempat melihat ke dalam, Buster sudah
mendului. Anjing itu menyusup kembali ke dalam
lubang. Tanah berhamburan kembali, menyiram
anak-anak. Akhirnya Buster merangkak mundur, dan
keluar sambil menggondol sebatang kuas kecil dalam
moncongnya.
"Dia memang pintar sekali!" kata Bets kagum.
"Lebih baik kita periksa saja, barangkali masih ada
barang-barang lain dalam lubang," kata Fatty. la
berbaring, lalu memasukkan lengannya sampai ke bahu.
Tapi tak ada lagi yang bisa ditemukan dalam lubang itu.
"He itu suara Pak Tupping, berseru-seru pada
Luke," kata Fatty. "Yuk, cepat-cepat saja kita lari ke
183
tembok. Larry, tolong aku membenahi tanah di sekitar
lubang ini. Jangan sampai orang yang menyembunyi
kan barang-barang ini di situ tahu bahwa kita sudah
menemukan tempat persembunyiannya. Nanti dia tahu
bahwa kita sudah menemukan jejaknya."
Kedua anak itu lantas bergegas membereskan tempat
itu, sementara Bets dan Daisy lari menuju tembok. Daisy
menolong Bets memanjat ke atas. Beberapa saat
kemudian ketiga anak lainnya menyusul, bersama
Buster. Untung mereka bergegas memanjat ke sebe
rang, karena saat itu Pak Tupping lewat di situ, sambil
menggerutu pada diri sendiri.
Anak-anak kembali ke pondok peranginan dengan
tanda-tanda bukti yang mereka temukan dalam lubang.
Barang-barang itu diperiksa dengan seksama.
"Sebuah botol kecil bekas tempat minyak terpentin,
cat coklat muda sekaleng kecil, serta sebatang kuas kecil
yang sudah tua," kata Fatty. "Sekarang, jika kita bisa
mengetahui untuk apa barang-barang ini dipakai, dan
siapa yang memakainya, maka kurasa misteri kucing
hilang yang membingungkan itu akan bisa kita
pecahkan!"
"Bets memang hebat, karena dia yang mendapat akal
untuk mencari terpentin," kata Larry memuji.
"Betul," kata Fatty. "Kau tak punya akal baik lagi,
Bets?"
Bets mulai berpikir-pikir. Dipikirkannya kandang-
kandang kucing, serta bau yang diciumnya di situ.
Terpikir olehnya kucing-kucing yang ada dalam
kandang, dan yang semua tidak suka pada bau
terpentin. Dipikirkannya, di mana tepatnya dalam
kandang itu minyak terpentin ditaruh, tumpah atau
dipergunakan.
184
"Fatty," katanya setelah beberapa saat, "menurut
pendapatmu, adakah gunanya jika kita masuk ke dalam
kandang, lalu mengendus-endus di situ untuk mengeta-
hui dengan tepat di mana ada bekas minyak terpentin?
Maksudku apakah di bangku-bangku tempat kucing
berbaring, atau di lantai, pada langit-langit, atau pada
pagar kawat? Terus-terang saja aku tidak melihat
gunanya apabila kita berhasil menemukan tempat yang
berbau terpentin itu. Tapi siapa tahu, mungkin saja
berguna nanti!"
"Menurut perasaanku, itu ide konyol," kata Pip.
"Yah aku pun tidak melihat gunanya," kata Larry.
"Lagipula, bagaimana kita bisa masuk ke dalam
kandang? Anak kuncinya kan dipegang Nona Harmer."
"Aku mempunyai firasat, ide Bets itu ada gunanya,"
kata Fatty. "Memang, seperti kata Larry tadi, aku juga
tidak melihat apa gunanya bagi kita jika berhasil
mengetahui di mana tepatnya bekas terpentin itu dipakai
tapi aku mempunyai perasaan sebaiknya kita coba
saja menemukannya. Bets, kau saat ini sedang hebat
dalam mencari akal."
Bets sangat gembira. Anak itu senang menerima
pujian, karena ia sering diganggu. Dan kata-kata pujian
dari Fatty, menghibur perasaannya.
"Tapi bagaimana kita bisa memperoleh anak
kuncinya?" tanya Daisy. "Kan disimpan Nona Harmer
dalam kantongnya."
Fatty berpikir sebentar.
"Hari ini panas sekali," katanya kemudian. "Kurasa
Nona Harmer pasti melepaskan jasnya, dan menyampir-
kannya di salah-satu tempat. Saat ini bukan waktunya
mengurus kucing. Jadi kurasa ia sedang sibuk bekerja di
185
rumah kaca, karena juga harus membantu di situ.
Kurasa dalam ruangan panas itu pasti ia cuma
mengenakan pakaian seperlunya saja. Siapa tahu kita
bisa meminjam anak kunci itu sebentar tanpa
sepengetahuannya, tentunya!"
"Kurasa pasti ia akan terus mengawasi jasnya, karena
sudah dua kali terjadi kucing hilang," kata Larry.
"Coba kita lihat saja," kata Pip, sambil berdiri.
Diangkatnya papan dinding yang longgar dalam pondok
peranginan, lalu dimasukkannya ketiga barang bukti
yang ditemukan tadi ke dalam rongga yang ada di situ.
"Nan sekarang pasti tak ada orang lain yang bisa
menemukan barang-barang itu, kecuali kita sendiri. Yuk
kita lihat saja apa yang sedang dilakukan Nona
Harmer saat ini."
Mereka kembali memanjat tembok, setelah mengu-
rung Buster lagi ke dalam gudang. Mereka tidak berani
menanggung risiko anjing itu berlari-lari sekeliling
kandang kucing, pada saat mereka sedang ada di
dalamnya nanti.
Fatty berangkat dulu, untuk melihat di mana Nona
Harmer berada. Ternyata seperti diduganya semula.
gadis itu sedang sibuk mengikat ranting-ranting pohon
per dalam rumah kaca. Ia hanya memakai celana
setinggi lutut yang biasa dipakainya, serta kemeja katun
yang tipis. Fatty memandang berkeliling, mencari di
mana jas gadis itu diletakkan.
Ternyata jas itu digantungkan pada sebuah paku,
dalam rumah kaca tempat gadis itu sedang bekerja.
Dalam hati Fatty mengumpat. Takkan ada yang bisa
merogoh kantong jas itu untuk mencari anak kunci
kandang kucing, tanpa dilihat Nona Harmer. Fatty
kembali ke tempat teman-temannya menunggu, untuk
melaporkan hal itu.
186
"Kalau begitu kita harus memancingnya, supaya
keluar sebentar dari situ," kata Pip. Anak-anak lantas
sibuk mencari akal. Berbagai rencana rumit diajukan
dan dibahas. Akhirnya Daisy mengajukan usul. Usul itu
begitu sederhana, sehingga bisa dilakukan tanpa ada di
antara anak-anak itu yang bisa terlihat.
"Aku tahu akal!" kata Daisy. "Aku akan menyelinap
ke sisi rumah kaca itu, yang letaknya paling jauh dari
tempat jas tergantung. Setelah menyembunyikan diri
dalam semak aku akan memanggil-manggil, 'Nona
Harmer! Nona Harmer!' Pasti dia akan keluar untuk
melihat siapa yang memanggil. Nah saat itu salah
seorang di antara kalian menyelinap masuk lewat pintu
yang satu lagi, lalu mengambil anak kunci itu!"
"Tapi kalau sampai ketahuan, bisa repot kita nanti,"
kata Larry. "Tapi kita ini kan Pasukan Mau Tahu dan
dalam menjalankan tugas, kita harus berani menang-
gung risiko. Ya, kan? Nah siapa yang akan mengambil
anak kunci itu?"
"Aku," kata Pip. "Biar aku saja yang mengambilnya.
Aku bisa bergerak cepat sekali!"
"Memang betul," kata Fatty. "Baiklah, jadi kau yang
mengambilnya, Pip. Sekarang, begini rencana kita.
Daisy bersembunyi dalam semak di sebelah luar rumah
kaca, pada sisi yang jauh dari tempat jas Nona Harmer
digantungkan. Sedang Pip sebaiknya kau bersembu-
nyi itu pula dalam semak, di sisi seberang tempat Daisy.
Setelah itu Daisy mulai memanggil-manggil Nona
Harmer. Dan begitu ia keluar dari pintu yang satu, Pip
cepat-cepat mengambil anak kunci itu dari kantong
jasnya. Beres, kan?"
"Kedengarannya memang mudah," kata Pip, "tapi
kenyataannya kukira takkan begitu! Kalian yang Iain-lain
menunggu aku dekat kandang kucing?"
187
"Ya," kata Fatty. "Yuk, kita berangkat saja sekarang,
sebelum Nona Harmer mengenakan jasnya lagi!"
Daisy dan Pip berangkat mendului. Keduanya
menyusup-nyusup di sela-sela semak, menuju rumah
kaca. Nampak Nona Harmer masih bekerja di
dalamnya, di ujung yang satu dari tempat itu. Daisy
masuk ke dalam semak lebat yang terdapat di luar, di sisi
seberang tempat Nona Harmer. la menunggu dulu,
sampai dilihatnya Pip sudah bersembunyi dalam semak
dekat pintu yang satu lagi. Jas Nona Harmer tergantung
pada paku di balik pintu itu.
Setelah itu dimulailah pelaksanaan rencana tadi!
"Nona Harmer! Nona Harmer!" seru Daisy
memanggil-manggil. Dan Nona Harmer mendengar
panggilannya itu. la berpaling, sambil bersikap seperti
mendengarkan. Sekali lagi Daisy memanggilnya.
"Nona Harmer!"
Nona Harmer membuka pintu rumah kaca, lalu
melangkah ke luar.
"Siapa itu yang memanggil?" serunya. Tepat pada
saat itu muncul Bu Trimble. Wanita itu berjalan lewat
lorong kebun. Kaca matanya terpasang miring di puncak
hidung.
"O, Bu Trimble! Anda yang memanggilku tadi? Ada
apa?" tanya Nona Harmer. Daisy terkikik sendiri. Nah
sekarang pasti Nona Harmer akan berbicara sebentar
dengan Bu Trimble, pikirnya.
"Tidak, aku tidak memanggil Anda," jawab Bu
Trimble. Kaca matanya terlepas. "Tapi tadi memang
terdengar suara orang, memanggil-manggil nama Anda.
Barangkali Lady Candling."
"Kenapa dia memanggil?" tanya Nona Harmer,
sambil melangkah pergi. "Di mana dia sekarang?"
188
"Di taman," jawab Bu Trimble. "Sini, kutunjukkan!"
Keduanya lantas pergi bersama-sama, dan dengan
segera tidak nampak lagi dari rumah kaca. Begitu
melihat ada kesempatan baik, Pip bergegas masuk lewat
pintu yang satu lagi, menghampiri jas Nona Harmer serta
merogoh ke dalam kantongnya yang besar. Dengan
segera anak kunci kandang sudah ditemukan olehnya!
Bersama Daisy, ia pun cepat-cepat lari menuju
kandang kucing, sambil menyelinap di antara semak-
semak. Ketiga anak lainnya sudah menunggu di situ,
dengan perasaan tidak sabar.
"Ini anak kuncinya," kata Pip bangga. "Sekarang
cepat, kita memeriksa ke dalam kandang."
"Aku yang masuk, bersama Bets," kata Fatty. "Yang
Iain-lain jangan, nanti kucing-kucing itu berisik.
Penciumanku sangat tajam! Sedang menurut pendapat-
ku Bets boleh ikut masuk, karena ini kan gagasannya."
Keduanya lantas masuk ke dalam kandang. Pintu
ditutup lagi baik-baik. Setelah itu mereka m'ulai
mengendus-endus. Tercium bau cairan pembersih. Tapi
ada juga bau terpentin, tercium samar-samar di situ.
Bets dan Fatty menciumi bau bangku-bangku tempat
kucing-kucing sedang berbaring. Kucing-kucing itu
memperhatikan kedua anak itu. Seekor di antaranya
menjulurkan kaki depan, dan menepuk Fatty. Rupanya
mengajak bermain-main.
"Kayaknya bau itu berasal dari sini," kata Fatty sambil
menuding bangku tempat kucing-kucing berbaring.
Sebelumnya ia sudah mengendus lantai, langit-langit
serta pagar kawat. "Coba kaucium di sini, Bets bau
terpentin, kan?"
Di bangku yang dimaksudkannya ada seekor kucing
besar yang sedang berbaring. Bets mendorong kucing
itu pergi, supaya ia bisa mencium papan bangku.
189
"Tidak," katanya kemudian, "aku tidak mencium bau
terpentin pada bangku ini, Fatty."
Fatty mengendus sekali lagi.
"Eh bau itu tidak ada lagi sekarang," katanya
heran. "Tapi tadi ada!"
Bets menjunjung kucing yang didorongnya pergi tadi.
"Nah, Pus sekarang kau boleh baring di situ lagi,"
katanya.
"He sekarang kucium lagi bau itu," kata Fatty,
sambil mengernyitkan hidung. "Coba cium, Bets."
"Betul!" kata Bets kaget. "Ternyata bukan bangku-
nya yang bau tetapi mestinya kucing ini! Sekarang
aku juga menciumnya, setelah kucing ini kuletakkan
kembali ke atas bangku. Padahal tadi aku tidak
menciumnya sama sekali!"
Kucing Siam yang besar itu heran tapi juga senang,
ketika kedua anak itu lantas mengendus-endus seluruh
tubuhnya, dari kepala sampai ke ekor. Kucing itu
mendengkur senang. la sudah senang kalau dielus-elus
dan dipeluk. Tapi baru sekali ini ia diendus-endus
manusia!
"Apakah kucing yang berbau terpentin?" tanya Pip
dari luar kandang. Fatty mengangguk. Mukanya merah
karena bersemangat.
"Bets," katanya, "pada bagian mana dari kucing ini
kau mencium bau terpentin?"
"Di sini," kata Bets, sambil mendekatkan hidungnya
ke ekor kucing itu.
"Aku juga," kata Fatty. Ia memperhatikan ekor kucing
itu dengan seksama, yang saat itu mulai bergerak
kian-kemari.
"Fatty! Bets! Awas ada orang datang!" panggil
Larry dengan suara pelan. "Cepat keluar!"
Tapi malang bagi kedua anak itu, sebelum mereka
190
sempat meninggalkan kandang, Pak Tupping sudah
muncul.
Laki-laki itu menatap ke kandang, seakan-akan tidak
bisa percaya pada penglihatannya sendiri. Fatty dan
Bets keluar dari kandang. Pintu ditutup lagi, lalu dikunci.
Bets gemetar tubuhnya. Fatty pun merasa tidak enak.
Sedang anak-anak yang lain sudah menghilang ke
dalam semak.
"Apa yang kalian lakukan di situ, hah?" bentak Pak
Tupping. "Dari mana kalian mendapat anak kuncinya?
Kurasa kalianlah yang berbuat iseng dengan kucing itu,
sehingga hilang. Hah! Ya betul! Rupanya kalian yang
mencuri Dark Queen! Sekarang juga aku akan pergi ke
Pak Goon dan melaporkan kalian padanya. Kalian pasti
akan mengalami kesulitan besar sesudah itu. Hah biar
tahu rasa sekarang!"
191
21
MISTERI TERBONGKAR
Kemudian Pak Tupping pergi. Tampangnya saat itu
menyeramkan. Bets sangat ketakutan. Ia berpegang erat
pada Fatty, sementara mukanya pucat pasi. Fatty sendiri
nampaknya juga gelisah.
Tanpa berkata apa-apa, kelima anak itu kemudian
kembali lewat tembok, lalu menuju ke pondok
peranginan.
"Aduh benar-benar sial," kata Larry. Bets mulai
menangis.
"Kita akan dipenjarakan sekarang?" katanya terisak-
isak. "Huuu, aku takut!"
"Takut kayak Luke?" kata Larry. Ia ingin
memancing, supaya Bets tersenyum geli. Tapi saat itu
Bets sama sekali tidak bisa tersenyum. "Jangan takut,
Bets. Tadi itu tidak apa-apa. Akan kita laporkan pada
Inspektur Jenks bagaimana kita sampai bisa mendapat
anak kunci itu, lalu kau bersama Fatty mengendus-
endus dalam kandang kucing. Setelah itu pasti Pak
Inspektur tak mau percaya pada si Ayo Pergi, apabila
polisi desa itu melaporkan bahwa ia dan Pak Tupping
mencurigai kita sebagai pencuri Dark Queen!"
Fatty diam saja. Anak-anak memandangnya.
"Kau juga takut, Fatty?" tanya Daisy. Bukan
192
kebiasaan Fatty, lama merasa takut. Dan ternyata kali itu
ia juga begitu, karena ia menggeleng. Tapi tampangnya
masih tetap serius.
"Kita pikirkan sebentar bau terpentin yang tercium
pada ekor kucing tadi," katanya. "Itu lebih penting,
daripada ketakutan karena ketahuan ketika sedang
berada dalam kandang. Itu petunjuk yang aneh bau
terpentin pada ekor kucing! Kenapa di situ yang berbau
terpentin? Dan kenapa sewaktu Dark Queen hilang, juga
ada di situ?"
"Katamu, terpentin biasa dipakai untuk membersih-
kan kuas sehabis dipakai, atau untuk menghilangkan
bekas-bekas cat," kata Bets sambil menyeka air
matanya. "Mungkinkah kucing itu ekornya kena cat
basah, lalu dibersihkan dengan terpentin?"
Fatty memandangnya sesaat tanpa berkedip. Ke-
mudian ia meloncat bangun sambil berteriak, dan
memukulkan tangannya keras-keras ke daun meja.
Mukanya merah.
"Ada apa?" tanya Larry kaget.''Kau disengat lebah?''
"Dengar," kata Fatty sambil duduk kembali.
Sikapnya gelisah sekali. "Ternyata Bets mendapat ilham
yang tepat. Terpentin dipakai untuk menyingkirkan cat
dari ekor kucing itu. Kenapakah bisa ada cat di situ, dan
apa warnanya? Yah warnanya kita ketahui, karena
kita berhasil menemukan kaleng cat yang dipergunakan.
Dan pada kita juga ada batu yang terkena cipratan cat
yang sama warnanya. Coklat muda, mengarah ke
kuning susu!"
Teman-temannya menatap dirinya sambil melongo.
Sementara itu Fatty mengambil kaleng cat itu dari balik
papan yang longgar, lalu membuka tutupnya. Dicelup-
kannya kuas ke dalam kaleng itu, lalu ditotolkannya ke
daun meja yang berwarna coklat tua.
193
"Lihatlah," katanya, "kalian lihat belang yang kuning
susu ini? Yah rupanya inilah cat yang ada pada ekor
kucing tadi di bagian tengahnya. Cat berwama
kuning susu! Dan sekarang aku kepingin bertanya
kucing mana yang pada ekornya ada bulu-bulu
berwama seperti begini?"
"Dark Queen!" kata teman-temannya semua dengan
segera. Mata mereka bersinar-sinar, sementara dalam
otak masing-masing terbayang makna terpentin serta cat
itu.
"Ya," kata Fatty meneruskan perkataannya. "Dan
kucing yang ekornya berbau terpentin itu mestinya
pernah dicat sebagian dari ekornya yang coklat tua
dengan warna yang lebih muda, supaya disangka dialah
Dark Queen! Kemudian cat itu dibersihkan lagi dengan
terpentin. Karena itulah dua kali kandang kucing berbau
minyak itu. Perbuatan itu dilakukan dua kali!"
"Astaga!" kata Larry. "Ini benar-benar mengasyik-
kan! Rupanya ada yang mengatur rencana yang sangat
cerdik. Nanti dulu, coba aku merekanya sebentar ya,
kurasa Dark Queen sudah dicuri pagi-pagi, sedang ekor
kucing yang satu lagi dicat dengan warna yang lebih
muda berbentuk gelang supaya dikira Dark Queen.
Setiap orang tahu, pada ekor Dark Queen ada gelang
yang terdiri dari bulu berwama kuning susu, bekas
gigitan kucing lain."
"Ya, betul dan ketika orang-orang datang untuk
melihat kucing-kucing dalam kandang antara lain
ibumu, Pip, begitu pula Lady Candling semua
menyangka kucing yang dicat itu Dark Queen. Dan
kemudian Pak Tupping sempat menyelinap masuk ke
dalam kandang dan menghapus cat itu kembali sebelum
ada yang menyadari pemalsuan itu, lalu mengatakan
Dark Queen hilang!"
194
"Pak Tupping!" kata Bets, sementara matanya
membundar karena heran. "Pak Tupping, katamu? Tapi
kalau dia yang menghapus cat itu maka mestinya dia
juga yang membubuhkan ke situ jadi mestinya dia
sendiri yang mencuri Dark Queen, dan "
"Tepat. Memang Pak Tupping-lah orangnya. Mesti-
nya begitu," kata Fatty. la sudah tidak sanggup lagi
menahan kegairahannya. "Aduh, siapa yang akan
menyangka begitu? Dan selama ini kesalahan selalu
ditimpakannya pada Luke."
"Dan Luke disuruhnya bekerja terus dekat kandang
selama kucing yang dicat itu ada di dalamnya, sampai
saat dia menghapus cat itu lagi lalu mengatakan Dark
Queen hilang!" kata Pip. "Dengan begitu timbul kesan,
cuma Luke saja yang mungkin mencurinya. Bukan
main! Memang rencana yang sungguh-sungguh cerdik."
"Lalu ketika didengarnya Bets mengatakan pada si
Ayo Pergi bahwa kita menemukan tanda-tanda berupa
bau sesuatu serta cat secercah, ia pun lantas mengerti
dan menyembunyikan botol terpentin dan kaleng cat,"
kata Fatty. "Mungkin takut pada kedua benda itu ada
bekas sidik jarinya. Tapi Buster berhasil menemukan
keduanya untuk kita."
"Nanti dulu sebaiknya kita urus saja dengan jelas,"
kata Daisy. "Pak Tupping ingin mencuri Dark Queen,
sedang kesalahan hendak ditimpakannya pada Luke. Ia
menunggu sampai Nona Harmer pergi selama sehari.
Kurasa ia sengaja menunggu, karena tahu gadis itu
mengenal baik setiap kucing, sehingga takkan bisa ditipu
dengan gelang cat yang dibubuhkan pada kucing lain.
Nona Harmer pasti akan tahu, kucing itu bukan Dark
Queen."
"Betul! Jadi ia menunggu sampai gadis itu pergi, lalu
mencuri Dark Queen. Kucing itu diserahkannya pada
195
salah-seorang kawannya. Kemudian ia kembali ke
kandang, kucing yang satu lagi dicat kuning susu
sebagian ekornya supaya dikira Dark Queen masih ada.
Bu Trimble menyangka begitu ketika datang melihat
sekitar pukul empat, ketika Dark Queen hilang untuk
pertama kalinya. Dan kedua kalinya Lady Candling
yang mengira begitu, sekitar pukul tiga." Fatty berhenti
sebentar, dan diteruskan oleh Larry.
"Ya dan pada kejadian yang pertama Pak Tupping
memang sangat cerdik. Diajaknya polisi desa untuk
melihat kucing-kucing itu tapi kemudian ia
cepat-cepat menghapus gelang yang dicatkan ke ekor
kucing yang satu, lalu melaporkan pada polisi desa itu
bahwa Dark Queen dicuri orang! Harus kuakui, Pak
Tupping memang sungguh cerdik," kata Larry. "Dan
riekat, karena berani mengajak polisi itu melihat-lihat ke
kandang, setelah paginya mencuri kucing itu."
"Sedang kedua kalinya, Nona Harmer yang berhasil
diperdayai olehnya," kata Pip. "Kalian ingat kan, Pak
Tupping cepat-cepat masuk ke kandang ketika datang
bersama gadis itu, menghapus cat yang ada di ekor
kucing Siam lalu mengatakan Dark Queen hilang.
Semua menyangka selama itu Dark Queen ada dalam
kandang. Juga Luke ia juga mengira kucing itu ada di
situ, selama ia bekerja di dekatnya. Padahal tidak!
Kucing itu sudah tidak ada lagi, sejak pagi. Tak
mengherankan jika begitu sulit membersihkan diri Luke
dari kecurigaan!"
"Kurasa dulu Dark Queen berhasil minggat dari orang
yang menyekapnya, lalu kembali ke sebelah," kata
Daisy. "Aku ingin tahu, di mana kucing itu sekarang."
"Pokoknya, banyak yang harus dijelaskan nanri oleh
Pak Tupping," kata Fatty. "Wah! Lega perasaanku,
karena ternyata dia pencurinya. Tak enak rasanya,
196
selama ada dugaan bahwa pelakunya mungkin Luke.
Jahat sekali Pak Tupping, memasukkan peluit buatan
anak itu ke dalam kandang, supaya semua menyangka
Luke yang mencuri!"
"Apakah sekarang Pak Tupping akan dipenjarakan?"
tanya Bets.
"Pasti!" jawab Fatty.
"Wah kalau begitu, Luke tak perlu lagi bekerja di
bawah dia," kata Bets senang.
"Kocak juga kalau diingat, bahwa dia mendatangi Pak
Goon untuk melaporkan bahwa aku dan Bets tadi
ketahuan ada di dalam kandang," kata Fatty. "Sekarang
bagaimana ya, enaknya."
"Yuk, kita menelepon Inspektur Jenks lagi," kata Pip.
"Kurasa kita perlu mengatakan padanya bahwa kita
sudah berhasil memecahkan teka-teki ini. Lagipula aku
tak mau Pak Goon datang lalu menangkap Bets "
Bets terpekik ngeri. Fatty cepat-cepat merangkul anak
itu, sambil tertawa geli.
"Jangan takut, Bets takkan ada yang bisa
mengapa-apakan dirimu. Kau sama sekali tak melaku-
kan kesalahan apa-apa. Kurasa ide Pip tadi baik,
menelepon Pak Inspektur."
"Lalu bagaimana dengan anak kunci pintu kandang
kucing?" kata Larry. "Apakah tidak perlu dikembalikan
ke kantong Nona Harmer?"
"Ya! Sekarang saja kita kembalikan," kata Fatty.
"Aku tidak melihat alasan kenapa kita tidak bisa
langsung mengembalikan padanya. Kita katakan saja,
tadi kita pinjam sebentar. Pasti ia akan kaget dan marah!
Tapi bagaimanapun, akan ketahuan juga bahwa kita
mengambilnya. Jadi lebih baik mengaku saja dari
sekarang."
197
Kelima anak itu pergi lagi ke sebelah, lewat tembok
seperti biasanya. Tapi sekali ini Buster diajak. Sesampai
di sana mereka mencari-cari Nona Harmer. Tapi gadis
itu tidak ada.
"Mungkin sedang dalam gudang," kata Fatty. Mereka
pergi ke gudang yang terletak dekat rumah kaca, yang
belum mereka periksa tadi. Fatty menjengukkan kepala
ke dalam.
"He rupanya gudang ini tempat Pak Tupping
menyimpan barang-barangnya!" katanya. "Lihatlah
itu lars karetnya, dan mantel hujannya."
"Uhh keras sekali bau terpentin di sini," kata Bets
sambil mengendus-endus.
"Ya, betul." kata Fatty, lalu ikut mengendus.
Tiba-tiba ia menarik sesuatu yang terselip dalam
kantong mantel hujan yang tergantung. Ternyata
selembar sapu tangan yang sudah dekil. Pada sapu
tangan itu ada tulisan nama Pak Tupping. Tercium bau
terpentin, keras sekali.
"Rupanya sapu tangannya ini yang dipakai untuk
menghilangkan cat pada ekor kucing itu dengan
terpentin," kata Fatty. "Ini satu tanda bukti lagi. Nanti
dulu kemarin malam kan hujan, sampai tadi pagi
jadi karena itu Pak Tupping memakai mantel hujan serta
lars karet. Itu, lihat!"
Teman-temannya semua memandang, dan pada
lars nampak beberapa bercak cat berwarna kuning susu!
Rupanya Pak Tupping memakai lars, ketika mencat ekor
kucing. Jadi rupanya dialah yang meneteskan cat ke
batu yang dikantongi oleh Fatty. Mungkin tercecer dari
kuas yang masih basah waktu itu.
"Lars dan sepatu tangan ini perlu kita bawa," kata
Fatty dengan lagak serius. "Yuk, Buster! Kita sudah
punya beberapa petunjuk penting serta sejumlah tanda
198
bukti sekarang. Pasti Pak Tupping kaget sekali nanti,
kalau mendengar keterangan kita!"
Mereka keluar lagi dari gudang, dan berjumpa dengan
Luke. Anak itu masih tetap lesu tampangnya.
"Kau akan mengalami kesulitan," katanya pada
Fatty. "Pak Tupping sekarang sedang pergi mendatangi
Pak Goon untuk diajak ke sini. Katanya ia tadi
menemukan dirimu dalam kandang kucing. Katanya
pula, mestinya kalianlah yang mencuri .kucing itu.
Kurasa ia akan mengatakan bahwa kalian melakukan-
nya ketika aku ada di dekat situ. Dan aku tidak mau
melaporkannya pada dia, karena hendak melindungi
kalian. Aduh sekarang kalian benar-benar akan
mengalami kesulitan besar!"
199
22
AKHIR KEJADIAN
Fatty bergegas pergi, untuk menelepon Inspektur
Jenks. Untung dia ada di kantor, sehingga bisa langsung
bicara.
"Pak Inspektur," kata Fatty, "kami sudah berhasil
menyelidiki teka-teki kucing Siam yang hilang. Bisakah
Anda datang ke sini, supaya kami melaporkannya pada
Anda?"
"Yah" kata Inspektur Jenks, "aku memang sedang
berpikir-pikir hendak ke sana, karena baru saja kuterima
laporan misterius dari Goon. Katanya kalian ketahuan
ketika sedang berada di dalam kandang, dan itu ada
hubungan dengan hilangnya Dark Queen. Jadi aku tadi
memang bermaksud hendak ke sana."
"Bagus!" kata Fatty senang. "Anda langsung ke
tempat Lady Candling?"
"Ya, sebaiknya memang begitu," kata Inspektur
Jenks. "Jumpai aku di sana kira-kira sejam lagi, ya?"
Sehabis menelpon, Fatty bergegas kembali untuk
menceritakan kabar itu pada teman-temannya. Mereka
dijumpainya sedang marah-marah. Ternyata Pak Goon
tadi mendatangi orang tua Pip dan Bets. la mengadukan
Bets, katanya anak itu ketahuan masuk ke dalam
kandang kucing tanpa ijin. Lalu polisi desa itu pergi ke
200
ibu Fatty, untuk melaporkan bahwa Fatty juga ketahuan
masuk ke kandang kucing.
"Ibu marah sekali padaku," kata Bets. Matanya basah
karena menangis. "Waktu itu kau tidak ada, Fatty! Jadi
aku tidak berani mengatakan apa-apa, karena takut
kalau terlanjur mengatakan sesuatu yang sebetulnya
belum boleh! Aku diam saja karenanya dan ibu
memarahi habis-habisan."
"Sudahlah, Bets," kata Fatty. "Sebentar lagi
Inspektur Jenks akan datang ke sini. Begitu ia
mendengar laporan kita, pasti segala-galanya akan
dibereskan olehnya. Kita disuruhnya menjumpainya di
rumah Lady Candling, kira-kira sejam lagi. Semua tanda
bukti harus kita bawa."
Sejam kemudian mereka pun berangkat beramai-
ramai ke rumah Lady Candling. Semua petunjuk dan
tanda bukti dibawa. Botol terpentin. kaleng cat, sebutir
batu yang kena tetesan cat, selembar sapu tangan
berbau terpentin, serta sepasang sepatu. lars karet
dengan bercak-bercak cat pada permukaannya.
"Satu-satunya petunjuk yang tidak bisa kita bawa
serta, cuma bau yang menempel pada ekor kucing,"
kata Bets. "Padahal itu tanda bukti yang paling
penting!"
"Ya dan kau yang mengendusnya," kata Fatty.
"Harus kuakui, kau ini detektif hebat, Bets!"
"Lihatlah itu kan Pak Goon, yang masuk ke dalam
rumah," kata Daisy, "la datang bersama Pak Tupping.
Dan itu Luke. Hai, Luke mau ke mana?"
"Aku disuruh membersihkan badan, lalu menghadap
ke dalam," kata Luke. Anak itu bukan cuma lesu saja
tampangnya sekarang tapi juga ketakutan.
"Kau takut?" tanya Fatty.
"Ya, aku takut," kata Luke.
201
"Kau tak perlu takut," kata Fatty. "Nanti kan
segala-galanya akan beres. Lihat sajalah! Pokoknya,
bergembira sajalah!"
Tapi mana mungkin Luke bisa disuruh bergembira
saat itu. la pergi mencuci badan, sementara mobil Pak
Inspektur yang hitam mengkilat nampak meluncur
masuk ke pekarangan lalu berhenti. Inspektur Jenks
keluar, sambil tersenyum pada anak-anak yang
menunggu. Dilambainya mereka, supaya mendekat.
"Nan siapa ternyata yang bersalah?" katanya.
"Pak Tupping," kata Fatty sambil nyengir. "Kurasa
Anda juga sudah menduga begitu, Pak walau Anda
sama sekali tidak memiliki petunjuk apa pun."
"Aku tidak menyangka Luke pelakunya, dan aku juga
memang menduga Pak Tupping pantas kalau dicurigai,"
kata Inspektur Jenks. "Lagipula ada sesuatu yang
kuketahui, sesuatu yang tidak kalian ketahui. Begitu pula.
Pak Goon tidak mengetahuinya! Sebelum ini Pak
Tupping pernah terlibat dalam perkara pencurian lain.
Kalau aku tidak salah, pencurian anjing! Nah, kalian
masuk saja dulu, aku menyusul."
Orang-orang sudah berkumpul dalam ruang duduk
rumah Lady Candling yang luas. Lady Candling sendiri
ada di situ, lalu Nona Harmer dan Bu Trimble.
Sebentar-sebentar kaca mata wanita setengah tua itu
terjatuh dari batang hidungnya. Kalau melihat gerak-
geriknya saat itu, orang pasti akan menyangka dialah
pencurinya. la begitu gugup. Tangannya menggigil.
"Duduklah, Anak-anak," kata Lady Candling.
Sebelum masuk ke situ, Fatty meletakkan beberapa
tanda bukti di luar. Menurut perasaannya, Pak Tupping,
tidak boleh sampai melihat sepatu lars karetnya, begitu
pula kaleng cat serta botol terpentin. la tidak ingin tukang
kebun yang pemarah itu sempat berjaga-jaga. Anak-
202
ariak duduk. Fatty memangku Buster, supaya anjing itu
jangan mengendus-endus pergelangan kaki Pak Goon.
Kemudian Inspektur Jenks masuk dan bersalaman
dengan Lady Candling. Dianggukkannya kepala ke arah
Pak Goon, sambil melemparkan senyuman ke arah
anak-anak.
"Sebaiknya kita duduk saja semua," katanya.
Semuanya duduk. Pak Goon yang bersikap penting dan
galak, memandang Fatty dan Bets sebentar. Panda-
ngannya keras. Nah anak-anak yang selalu ikut-ikut
campur itu kini akan menghadapi kesulitan mahabesar!
Pak Tupping tadi melaporkan padanya, kedua anak itu
berani mengambil anak kunci lalu masuk ke kandang
kucing. Tapi untung ketahuan oleh Pak Tupping!
"Nah, Goon," kata Inspektur Jenks, "tadi pagi aku
menerima kabar yang agak misterius darimu sehingga
aku merasa perlu datang kemari. Rupanya persoalannya
cukup serius."
"Betul, Pak memang serius, Pak," kata Pak Goon.
Dadanya membusung, karena merasa dirinya penting.
"Saya mempunyai alasan, Pak, untuk beranggapan
bahwa anak-anak yang selalu iseng ini lebih banyak tahu
tentang kucing yang lenyap itu, dari sangkaan kita.
Menurut perasaan saya, Pak, mereka kini berada dalam
kesulitan besar! Kata peringatan serius dari Anda pasti
akan berguna sekali bagi mereka. Sungguh, Pak!"
"Begitu, hm? Kurasa sangat mungkin anak-anak ini
jauh lebih banyak tahu tentang misteri itu daripada yang
kausangka, Goon," kata Inspektur Jenks. "Kita
tanyakan saja pada mereka."
la lantas berpaling, memandang Fatty.
"Mungkin kau hendak mengatakan sesuatu, Frede-
rick Trotteville?" katanya. Itulah yang sedari tadi
203
ditunggu-tunggu Fatty. Dadanya membusung, hampir
sebangga Pak Goon tadi.
"Saya ingin mengatakan, Pak Inspektur, bahwa kami
dan Pasukan Mau Tahu telah berhasil menyelidiki siapa
yang mencuri Dark Queen," kata Fatty dengan suara
lantang dan jelas. Pak Tupping mendengus, diikuti oleh
Pak Goon. Luke sudah ketakutan saja mendengarnya.
Bets geli melihat kaca mata Bu Trimble terlepas lagi.
"Teruskan, Frederick," kata Inspektur Jenks.
"Saya ingin menjelaskan dengan tepat bagaimana
pencurian itu dilakukan, Pak," sambung Fatty, semen-
tara teman-teman memandangnya dengan kagum.
Fatty memang hebatselalu pandai memilih kata-kata!
"Kami ingin mendengar keteranganmu itu," kata Pak
Inspektur dengan serius. Tapi matanya berkilat jenaka.
"Pak Inspektur kan tahu, Dark Queen dua kali dicuri
orang," kata Fatty. "Pada kedua kejadian itu Nona
Harmer sedang pergi, dan Pak Tupping yang diserahi
tugas mengurus kucing. Nah, Pak Inspektur, Dark
Queen dicuri bukan pada sore hari tapi paginya."
Semua nampak tercengang, kecuali anak-anak. Mulut
Pak Goon ternganga, sementara matanya yang melotot
menatap Fatty dengan heran.
"Itu kan ...." katanya, tapi langsung dipotong oleh
Inspektur Jenks.
"Jangan memotong, Goon," katanya. Dan Pak Goon
tidak berani membuka mulut lagi.
"Akan saya ceritakan bagaimana pencurian itu
dilakukan," kata Fatty lagi. Anak itu asyik sendiri.
"Pagi-pagi si pencuri mengambil Dark Queen dari dalam
kandang. Tapi orang itu pintar. Seekor kucing lain dicat
sebagian ekornya dengan cat berwarna kuning susu,
supaya orang-orang yang tidak begitu mengenal
204
kucing-kucing itu menyangka Dark Queen masih ada di
dalam kandang!"
Saat itu terdengar suara-suara kaget bercampur-baur.
Kaca mata Bu Trimble langsung terjatuh untuk kesekian
kalinya.
"Nah." kata Fatty melanjutkan penjelasannya,
"dengan begitu semua yang datang untuk melihat
kucing-kucing itu pada sore hari menyangka bahwa
Dark Queen masih ada di dalam kandang padahal
tidak! Kemudian, pada saat yang tepat, si pencuri
menyelinap masuk ke kandang. menghapus cat dari
ekor kucing dengan lap yang dibasahi dengan terpentin,
lalu berseru mengatakan bahwa Dark Queen hilang!
Jadi tentu saja semua lantas menyangka baru sore itu
Dark Queen dicuri orang. Padahal hilangnya sudah
pagi-pagi."
"Dan karena itu semua lantas menyangka akulah
yang mengambil," kata Luke menyela. "Karena cuma
aku satu-satunya yang ada di dekat kandang pada sore
hari. Tak ada orang lain yang datang."
"Betul," kata Fatty membenarkan. "Itu memang
termasuk dalam rencana si pencuri. Kesalahan memang
hendak ditimpakan pada dirimu. Karena itulah kau
disuruh bekerja di dekat kandang kucing, dan karena itu
pula peluit bikinanmu dimasukkan ke situ."
"Siapa orangnya yang melakukan?" tukas Luke,
sementara mukanya nampak merah padam karena
marah. "Hih aku kepingin menghajarnya!"
Pak Inspektur meliriknya. Luke cepat-cepat duduk
kembali. la tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Dari mana segala hal itu kauketahui?" tanya Pak
Goon. Tatapan matanya memancarkan berbagai
perasaan. Heran, tak percaya dan sikap mencemooh.
"Itu kan cuma karangan konyolmu belaka. Kau harus
205
punya bukti-bukti dulu, sebelum bisa mengatakan
hal-hal seperti itu."
"Kami punya bukti-buktinya," kata Fatty dengan
sikap menang. la merogoh kantong. "Ini, lihatlah! Botol
terpentin. Botol ini disembunyikan dalam sebuah liang
kelinci, bersama sckaleng cat berwarna coklat muda
yang dipakai untuk mencat ekor kucing, serta sebatang
kuas yang sudah tua. Larry ambil barang-barang
yang lain! Tadi kuletakkan di depan pintu."
Sementara itu Fatty mengangkat botol terpentin serta
kuas tinggi-tinggi, supaya nampak oleh setiap orang
yang ada di situ. Kaca mata Bu Trimble terlepas lagi.
Tapi wanita itu begitu gugup, sehingga tak mampu
memasangnya kembali ke batang hidung. Dengan
matanya yang cadok ia berusaha memandang barang-
barang bukti itu. Fatty dipandangnya, seolah-olah
sedang memandang detektif paling ulung di dunia. Tapi
itu mungkin disebabkan karena penglihatannya yang
kurang jelas!
Larry membawa sepatu lars serta kaleng cat ke dalam
ruangan, lalu ditaruhnya di depan Fatty. Mata Pak
Tupping terpelotot ketika melihat sepatu larsnya di situ.
"Nah inilah cat yang dipakai," kata Fatty, sambil
mengambil kaleng cat. "Buster yang menemukan,
dalam liang kelinci tempat kaleng ini disembunyikan.
Betul kan, Buster?"
"Guk," gonggong Buster. Anjing itu senang, karena
diajak bicara.
"Sepatu lars ini dipakai si pencuri, yaitu orang yang
membubuhkan warna kuning susu pada ekor kucing,"
kata Fatty sambil menuding bercak-bercak cat yang
berlepotan pada permukaan sepatu itu. "Dan ini sapu
tangan yang dibasahi dengan terpentin, untuk dipakai
206
membersihkan ekor kucing cepat-cepat ketika orang itu
masuk lagi ke dalam kandang. Pada kejadian pertama
dengan Pak Goon, dan kedua kalinya bersama Nona
Harmer."
"Boleh kulihat sapu tangan itu sebentar?" tanya Pak
Inspektur penuh minat. Diambilnya sapu tangan itu, lalu
diciumnya. Tercium bau terpentin yang masih cukup
keras. Sementara itu Fatty mengeluarkan sebutir batu
dari kantongnya batu yang kena tetesan cat coklat
muda. Batu itu diserahkannya pula pada Inspektur
Jenks.
"Kami menemukannya dekat kandang, Pak," kata-
nya. "Itu salah satu petunjuk yang kami temukan.
Petunjuk lainnya, bau yang tercium dalam kandang
kucing. Bets yang mengendusnya. Anak ini penyelidik
yang hebat."
Muka Bets menjadi merah. karena senang. Pak
Inspektur memandangnya dengan wajah berseri-seri.
Setelah itu ia memperhatikan sapu tangan sekali lagi.
"Di sini tertulis nama seseorang," katanya. "Kurasa
ini nama si pencuri, ya?"
Fatty mengangguk. Luke mencondongkan tubuhnya
ke depan.
"Siapa dia?" tanyanya. "Ayo katakanlah, siapa
dia!"
"Ya, siapa orang itu?" tanya Nona Harmer.
Inspektur memandang berkeliling dengan sikap
serius. Pak Tupping nampak pucat pasi tampangnya.
Berulang kali ia meneguk ludah. Sikapnya yang kurang
ajar dan angkuh lenyap sama sekali. Kini ia takut, jauh
lebih takut daripada yang dirasakan oleh Luke selama
itu. Para hadirin memalingkan muka satu per satu.
Semua menatap Pak Tupping. Dan langsung tahu.
207
dialah pencuri yang dicari. Hanya Pak Goon yang masih
memandang Fatty dengan mata melotot.
"Tupping! Apa katamu mengenai kejadian ini?" tanya
Pak Inspektur. Suaranya berubah, kini terdengar tajam
mengiris.
"Apa? Tupping?" Pak Goon menoleh dengan cepat
ke arah kawannya itu. Suaranya seolah-olah tercekik.
Matanya melotot, tapi kini menatap tukang kebun
dengan sikap benci dan jijik. "Kau! Menempel-nempel,
mencari muka padaku. Mengajak aku datang melihat-
lihat ke kandang kucing! Melaporkan yang bukan-
bukan, sehingga membuat aku malu sekarang!"
"Bets kan pernah mengatakan pada Anda bahwa
kami menemukan dua petunjuk berupa bau sesuatu
serta batu yang ada bekas cat di atasnya," kata Fatty.
"Tapi Anda cuma tertawa saja."
"Kau kemanakan kucing itu, Tupping?" tanya Pak
Inspektur, dengan nada masih setajam tadi. "Kau tahu
sendiri, tuduhan terhadapmu ini tidak mungkin palsu.
Masih ada lagi kejadian-kejadian lain yang pernah
kaulakukan dulu, cocok sekali dengan peristiwa ini."
Pak Tupping tahu-tahu berubah sama sekali. Dari
seorang laki-laki yang keras, kejam dan pemarah,
menjelma menjadi seorang penakut yang menangis
mengiba-iba. Tidak enak melihat keadaannya saat itu.
"Orang sok galak biasanya memang penakut," bisik
Fatty pada Larry. "Sekarang bisa kaulihat, kayak apa
sebetulnya orang itu!"
"Kau takut," tukas Luke pada Pak Tupping dengan
sikap sangat menghina, "lebih takut daripada yang
pernah kurasakan selama ini. Biar tahu rasa kau
sekarang!"
208
Begitu pula perasaan orang-orang yang ada di situ
Tiba-tiba Pak Tupping membuka mulut, mengakui
segala kesalahannya. Ya, memang dia yang mencuri
Dark Queen. Dia berutang uang pada seseorang, dan
karenanya lantas timbul pikirannya untuk mencuri Dark
Queen. Akan dikatakannya di mana kucing itu sekarang,
supaya bisa diambil kembali oleh polisi. Kesalahan
hendak ditimpakannya pada Luke. Memang dia yang
mencat ekor kucing yang satu lagi, lalu dipakainya
terpentin untuk menghapuskannya dengan cepat. Dua
kali ia melakukannya, karena pertama kalinya kucing itu
berhasil membebaskan diri lalu kembali ke tempat Lady
Candling. Ia menyesal sekarang. Ia tak mau berbuat
begitu lagi. Ia sudah jera!
"Sudah pasti kau takkan bisa melakukannya,
setidak-tidaknya selama waktu agak lama," kata
Inspektur Jenks dengan keras. "Kau akan diamankan di
suatu tempat dan kurasa takkan ada orang yang akan
merasa kasihan padamu. Goon, bawa dia pergi!"
Pak Goon mencengkeram bahu Pak Tupping, lalu
menariknya supaya bangun. Sambil berbuat begitu
ditatapnya tahanannya itu dengan jijik.
"Ayo ikut!" katanya galak. Saat itu Inspektur Jenks
menyapa Pak Goon lagi dengan suara dingin.
"Kau kelihatan payah dalam kejadian ini, Goon."
katanya. "Nampaknya kau justru memusuhi mereka
yang benar, sedang pencurinya kaujadikan kawan.
Mudah-mudahan lain kali kau mau lebih berhati-hati.
Bagaimana, Goon?"
"Eh tentu saja, Pak! Siap, Pak!" kata Pak Goon
yang malang. Kelihatannya ia sangat menyesal. "Saya
sudah berbuat sebisa saya, Pak."
"Yah, untung saja anak-anak ini lebih berhasil
daripada usahamu yang sebisa-bisamu itu, Goon," kata
209
Pak Inspektur lagi. "Kurasa kita perlu berterima kasih
pada mereka, untuk jasa memecahkan teka-teki misteri
kucing yang hilang ini. Pendapatmu kan begitu juga,
Goon?"
"O ya, Pak," kata Pak Goon, dengan tampang ungu
karena menahan perasaan. "Mereka anak-anak yang
pintar, Pak. Senang rasanya kenal dengan mereka,
Pak!"
"Ah untunglah apabila kau sependapat dengan
aku," kata Pak Inspektur dengan nada agak lebih
ramah. "Sekarang, bawa orang itu pergi!"
Pak Goon menggiring pencuri itu ke luar, sementara
anak-anak menghembuskan napas lega.
"Ah, pergi juga akhirnya," desah Daisy. "Mudah-
mudahan tidak pernah kembali lagi."
"Yang jelas, dia takkan kembali ke sini," kata Lady
Candling, yang selama itu mengikuti pembicaraan
sambil tercengang. "Sedang mengenai Luke yang
malang, aku ikut sedih membayangkan nasibnya selama
ini sebagai akibat perbuatan Tupping yang jahat itu."
"Sudahlah, Nyonya," kata Luke dengan tampang
berseri-seri. Dengan segera dilupakannya kemarahan-
nya tadi pada Pak Tupping, begitu mendengar suara
Lady Candling yang ramah. "Jika Anda mau tetap
memakai tenagaku, aku berjanji akan bekerja keras
sampai Anda memperoleh tukang kebun yang baru.
Dan aku takkan pernah bisa melupakan anak-anak yang
cerdik. ini! Aku tidak bisa mengerti cara mereka
menyelesaikan teka-teki yang membingungkan ini."
"Sebenarnya Bets yang membawa kami pada jejak
yang tepat," kata Fatty. "Bets memang hebat!"
"Ah kita kan melakukannya bersama-sama," kata
Bets. "Dan Buster juga. Yah, senang rasanya bahwa kini
segala-galanya beres kembali. Kurasa Anda tentunya
210
akan memperoleh kucing Anda kembali, Lady Cand-
ling?"
"Biar kami yang mengurusnya," kata Inspektur Jenks
sambil bangkit. "Yah, aku harus pergi lagi sekarang.
Tapi sebelumnya ingin kukatakan sekali lagi, aku senang
sekali mendapat bantuan Pasukan Mau Tahu dan
seekor Anjing! Tentu kalian bersedia membantuku lagi
lain kali. Setuju?"
"Ya!" seru Pasukan Mau Tahu serempak, lalu pergi
ke luar bersama Inspektur Jenks. "Kami akan memberi
tahu Anda, apabila ada lagi misteri yang harus
dipecahkan!"
Misteri lagi? Ya rasanya pasti mereka akan
menghadapi teka-teki baru, yang perlu diselidiki. Tapi itu
cerita lain!
TAMAT
211
... Pak Tupping menyambar Buster dan mencengkeram kalung
lehernya. la memegang pada tengkuk, sehingga anjing itu
sama sekali tak berdaya. Pak Tupping pergi sarnbil
menjinjingnya. Fatty hampir-hampir tidak bisa lagi menahan
kemarahannya. Dikejarnya tukang kebun jahat itu, lalu ditarik
lengannya. Tapi orang itu malah memukulnya, sehingga Fatty
kaget. Saai itu juga Pak Tupping membuka pintu sebuah
gudang, mencampakkan Buster ke dalam, lalu mengunci
pintu. Sedang anak kuncinya dikantongi. Setelah itu ia
berpaling lagi menatap Fatty. Tampangnya jahat sekali,
sehingga anak gendut itu cepat-cepat lari menjauh.
Tak lama kemudian keempat anak itu sudah terkapar di atas
rumput, di seberang tembok. Napas mereka terengah-engah.
Mereka marah sekali. Mereka meninggalkan Luke yang
ketakutan, begitu pula Nona Warmer yang malang, yang juga
merasa takut. Tanpa mereka ketahui, Bets juga masih
ketinggalan di kebun sebelah. Sedang Buster terkunci dalam
kandang ....
Kucing Siam Lady Chandling hilang. Padahal kucing itu amat
mahal harganya dan sudah berkali-kali memenangkan
perlombaan. Luke, sahabat Pasukan Mau Tahu, dituduh
sebagai pencurinya. Tentu saja Pasukan Mau Tahu tak mau
tinggal diam. Mereka segera beraksi untuk menemukan
pencuri yang sebenarnya ....
Penerbit PT Gramedia
Jl. Palmerah Selatan 22 Lt IV
Jakarta Pusat
Halaman Belakang