Anda di halaman 1dari 3

MEMAHAMI FISIKA TANPA RUMUS

Zainal Abidin
www.geocities.com/zai_abidin69/mypage.html
zai_abidin69@yahoo.co.id

“The basic goal of physics is not mathematical elegant or even the achievement of tenure,
but learning the truth about the world around us”

Philip W. Anderson, Physics Today 43 (2), 9 (1990)

Dalam sebuah seminar, Yohanes Surya memberikan contoh-contoh bagaimana memecahkan


soal-soal fisika tanpa rumus dan terbukti bahwa tanpa rumus-rumus, soal-soal fisika dapat
dipecahkan.

Yohanes Surya mengatakan bahwa: fisika yang mudah itu, yang telah ia kembangkan, adalah
fisika yang tanpa rumus. Selama ini memang fisika dianggap keliru oleh banyak orang, fisika
dianggap hanya rumus, rumus, dan rumus saja. Oleh karena itu, katanya, sekarang ini ia telah
mengembangkan fisika yang tanpa rumus. Dengan fisika tanpa rumus ini, katanya juga, kita bisa
menyelesaikan soal-soal sesulit apapun. Sebagai contohnya, Yohanes Surya pun memberi contoh
sederhana soal fisika yang bisa diselesaikan tanpa rumus. Misalnya salah satu soalnya begini:

Dua sepeda bergerak berhadapan. Sepeda pertama bergerak dengan kecepatan 4 meter/detik,
sepeda kedua bergerak dengan kecepatan 6 meter/detik. Bila jarak mereka (mula-mula) adalah
30 meter, kapan kedua sepeda itu bertemu (berpapasan)?

Dikatakan oleh Yohanes Surya bahwa, biasanya soal seperti ini diselesaikan dengan rumus-
rumus yang rumit. Di sini, ia akan tunjukkan bahwa soal tersebut bisa diselesaikan hanya dengan
“logika” sederhana saja. Jawaban soal itu begini:

Sepeda pertama bergerak dengan kecepatan 4 meter/detik, artinya dalam satu detik sepeda
tersebut menempuh 4 meter. Sepeda kedua bergerak dengan kecepatan 6 meter/detik, artinya
dalam satu detik sepeda tersebut menempuh 6 meter. Sehingga dalam satu detik total jarak yang
ditempuh kedua sepeda adalah 10 meter. Karena jarak kedua sepeda tadi adalah 30 meter, maka
kedua sepeda akan bertemu (berpapasan) pada detik ketiga.

Lebih lanjut Yohanes surya menyatakan bahwa, selama ini guru-guru di sekolah, untuk
menyelesaikan soal tadi menggunakan “rumus yang panjang-panjang”. Yang akibatnya,
kebanyakan siswa tak mampu mengikutinya.

Setelah saya menyaksikan how to solve physics problems without formulas pada seminar itu,
selain mendapat pengetahuan tentang fisika tanpa rumus, saya pun jadi terkenang dengan

1
pembelajaran saya di kelas sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Ketika itu saya awal mengajar
fisika, dan saya merasa bangga bila dapat menurunkan rumus-rumus fisika sampai penuh di
papan tulis! ☺ Fisika Tanpa Rumus yang dikemukakan oleh Yohanes Surya, menyadarkan saya
bahwa, mestinya seorang guru mampu menunjukkan pada siswanya betapa mudah dan indahnya
fisika. Seorang guru mampu menunjukkan betapa enak dan rileksnya belajar fisika. Seorang guru
mampu mengantar siswanya mengerti berbagai fenomena alam lewat fisika dengan begitu
sederhananya. Itulah sebabnya, saya pun ingin memahami fisika yang tanpa rumus itu.

Kembali ke Fisika Tanpa Rumus dari Yohanes Surya tadi. Bila dicermati, yang dikatakan
Yohanes Surya adalah bahwa, fisika yang mudah adalah fisika yang tanpa rumus. Pernyataan ini
menarik sekali. Ya sangat menarik! Kenapa? Menariknya karena, Yohanes Surya tak (berani ☺)
berkata “fisika yang tanpa matematika”. Dari perkataannya ini, saya dapat mengatakan bahwa,
keberadaan fisika itu bergantung pada keberadaan matematika. Tanpa matematika, fisika tak
akan bisa berbuat banyak. Walaupun, matematika yang harus ”menyesuaikan” dengan alam
fisika bukan alam fisika yang ”ikut” matematika. Yohanes Surya pun pernah mengemukakan
bahwa salah satu dampak dari adanya olimpiade fisika adalah terciptanya pengembangan
pengajaran fisika yang asyik dan menarik yaitu dengan menggunakan rumus sesedikit mungkin
(atau tanpa rumus) dalam mengerjakan soal-soal fisika.

Lalu, perkataan “fisika tanpa rumus” itu maksudnya apa? Saya pikir maksudnya adalah:
pengerjaan atau penjelasan atau penyelesaian soal-soal/masalah fisika yang (hampir) tanpa
melibatkan simbol-simbol matematika. Atau dengan kata lain, pembelajaran fisika yang lebih
mengacu pada pendekatan yang digunakan, yaitu penguasaan konsep-konsep fisika.

Lantas, bila soal tadi diselesaikan dengan “fisika yang pakai rumus”, bagaimana
menyelesaikannya? Saya pikir, soal tadi dapat saya selesaikan seperti berikut ini.

Misalkan A adalah tempat mula-mula sepeda pertama, B adalah tempat mula-mula sepeda
kedua. Jarak A dan B adalah 30 meter. Misalkan lagi X1 adalah jarak tempuh sepeda pertama
dan X2 adalah jarak tempuh sepeda kedua. Perhatikan gambar berikut.

A 30 meter B

X1 X2

2
Misalkan v1 dan v2 masing-masing adalah kecepatan sepeda pertama dan kedua, dan misalkan
juga t1 dan t2 masing-masing adalah waktu tempuh sepeda pertama dan kedua, maka kedua
sepeda tersebut akan berpapasan pada saat t1 = t2. Sehingga untuk mencari waktu pada saat
berpapasan adalah seperti berikut.

t1 = t2

X1 /v1 = X2 /v2

v1.X2 = v2 .X1

v1(30 - X1) = v2.X1

4(30 - X1) = 6X1

120 - 4X1 = 6X1

10X1 = 120

X1 = 12

Sehingga, kedua sepeda akan berpapasan pada saat t1 = X1/v1 = 12/4 = 3. Artinya sepeda akan
bertemu/berpapasan pada detik yang ketiga.

Selain dapat menentukan waktu saat berpapasannya kedua sepeda, dengan cara ini, kita juga
bisa tahu jarak tempuh masing-masing sepeda pada saat berpapasan. Yaitu, jarak tempuh
sepeda pertama adalah X1 = 12 meter, dan jarak tempuh sepeda kedua adalah X2 = 30 - X1 =
30 - 12 = 18 meter.

Silakan pilih! Lebih suka “fisika yang pakai rumus” atau “yang tanpa rumus”? Kalau saya sih
dua-duanya suka. ☺

Yah, fisika…. I have ever loved you. ♥

Bandar Lampung, 7 Oktober 2007


pukul 2: 10

Zainal Abidin
SMAN 3 Bandar Lampung
Jl. Khairil Anwar 30 Bandar Lampung
Lampung 35116