Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN MATERI

A. Konsep Dasar Medik

1. Pengertian

Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488). Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu:

a. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya

b. Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya.

2.ETIOLOGI
a. Perubahan pola makan

b. Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama

c. Alkohol dan nikotin rokok

d. Stres

e. Tumor atau kanker saluran pencernaan

3. Insiden Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 15 30 % orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari. Di inggris dan skandinavia dilaporkan angka prevalensinya berkisar 7 41 % tetapi hanya 10 20 % yang mencari pertolongan medis. Insiden dispepsia pertahun diperkirakan antara 1 8 % (Suryono S, et all, 2001 hal 154). Dan dispepsia cukup banyak dijumpai. Menurut Sigi, di negara barat prevalensi yang dilaporkan antara 23 dan 41 %. Sekitar 4 % penderita berkunjung ke dokter umumnya mempunyai keluhan dispepsia. Didaerah asia pasifik, dispepsia juga merupakan keluhan yang banyak dijumpai, prevalensinya sekitar 10 20 % (Kusmobroto H, 2003)

4. Manifestasi Klinik

a. nyeri perut (abdominal discomfort)

b. Rasa perih di ulu hati

c. Mual, kadang-kadang sampai muntah

d. Nafsu makan berkurang

e. Rasa lekas kenyang

f. Perut kembung

g. Rasa panas di dada dan perut

h. Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)

5. Patofisiologi

Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.

6. Pencegahan

Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung.

7. Penatalaksanaan Medik

a. Penatalaksanaan non farmakologis

1) Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung

2) Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres

3) Atur pola makan

b. Penatalaksanaan farmakologis yaitu:

Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross

patofisiologinya pun masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.

Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah)

8. Test Diagnostik

Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama, seperti halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.

a. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.

b. Radiologis

Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.

c. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi)

Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik.

d. USG (ultrasonografi)

Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit, apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan

e. Waktu Pengosongan Lambung

Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet radioopak. Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 40 % kasus.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yang dilakukan yaitu : Mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Data fokus yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu hati, mual kadang-kadang muntah, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut kembung, rasa panas di dada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari

lambung secar tiba-tiba). (Mansjoer A, 2000, Hal. 488). Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan lain, perasaan panas di dada daerah jantung (heartburn), regurgitasi, kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah, dan beberapa keluhan lainnya (Warpadji Sarwono, et all, 1996, hal. 26)

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada klien dengan dispepsia.

a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.

b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia.

c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah

d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya

3. Rencana Keperawatan

Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menngulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan.

a. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.

Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri

INTERVENSI 1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0 10)

RASIONAL 1. Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan

2. Berikan istirahat dengan posisi semifowler 2. Dengan posisi semi-fowler dapat 3. Anjurkan menghindari klien makanan untuk tegangan yang bertambah dapat meningkatkan kerja asam telentang lambung 3. dapat menghilangkan nyeri 4. Anjurkan klien untuk tetap akut/hebat dan menurunkan mengatur waktu makannya aktivitas peristaltik 5. Observasi TTV tiap 24 jam 4. mencegah terjadinya perih 6. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi 5. 7. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik sebagai indikator untuk pada ulu hati/epigastrium dengan posisi abdomen yang menghilangkan

melanjutkan berikutnya

intervensi

6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol

7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama

dengan intervensi terapi lain

b. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan, anoreksia.

Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu, dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi

INTERVENSI 1. Pantau dan dokumentasikan dan haluaran adekuat tiap jam secara 1.

RASIONAL Untuk mengidentifikasi

indikasi/perkembangan dari hasil yang diharapkan

2. Timbang BB klien

2.

Membantu

menentukan

keseimbangan cairan yang 3. Berikan makanan sedikit tapi tepat sering 3. meminimalkan anoreksia, dan 4. Catat status nutrisi paasien: mengurangi iritasi gaster turgor kulit, badan, timbang berat mukosa 4. Berguna mendefinisikan dalam derajat

integritas

mulut, kemampuan menelan, adanya bising usus, riwayat mual/rnuntah atau diare.

masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam

pengawasan kefektifan obat,

5. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai. 5. 6. Monitor intake dan output secara periodik.

kemajuan penyembuhan

Membantu kebutuhan yang

intervensi spesifik, diet

meningkatkan klien.

intake

7. Catat adanya anoreksia, mual, muntah, dan tetapkan jika ada hubungannya Awasi konsistensi (BAB). pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. dengan medikasi. volume, 7. Dapat menentukan jenis diet Buang Air Besar dan mengidentifikasi 6. Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan

frekuensi,

c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual, muntah

Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan, perubaan dengan keseimbangan kriteria cairan,

mempertahankan/menunjukkan

dibuktikan stabil, membran mukosa lembab, turgor kulit baik.

INTERVENSI 1. Awasi tekanan darah dan nadi, pengisian kapiler, status

RASIONAL 1. Indikator keadekuatan volume sirkulasi perifer dan hidrasi seluler

membran mukosa, turgor kulit

2. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan, ukur haluaran urine dengan akurat

2. Klien tidak mengkomsumsi cairan sama sekali dehidrasi

mengakibatkan

atau mengganti cairan untuk 3. Diskusikan menghentikan strategi muntah untuk masukan dan berdampak penggunaan laksatif/diuretik keseimbangan elektrolit 4. Identifikasi rencana untuk 3. Membantu klien menerima meningkatkan/mempertahanka perasaan n keseimbangan cairan optimal muntah dan atau penggunaan misalnya : jadwal masukan laksatif/diuretik cairan kehilangan cairan lanjut 5. Berikan/awasi hiperalimentasi 4. IV rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk berhasil Melibatkan klien dalam mencegah bahwa akibat pada kalori yang

5.

Tindakan memperbaiki

daruat

untuk ketidak

seimbangan cairan elektroli

d. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya

Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan, penyakitnya. dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang

INTERVENSI 1. Kaji tingkat kecemasan 2. Berikan dorongan dan berikan 1.

RASIONAL Mengetahui tingkat sejauh mana yang

kecemasan

dirasakan oleh klien sehingga waktu untuk mengungkapkan memudahkan dlam tindakan pikiran dan dengarkan semua selanjutnya keluhannya 2. 3. Jelaskan semua prosedur dan memperhatikan pengobatan klien merasa aman dalam 4. Berikan dorongan spiritual segala hal tundakan yang diberikan 3. Klien memahami dan sehingga Klien merasa ada yang

mengerti tentang prosedur sehingga mau bekejasama dalam perawatannya. 4. Bahwa segala tindakan yang diberikan untuk proses

penyembuhan

penyakitnya,

masih ada yang berkuasa menyembuhkannya Tuhan Yang Maha Esa. 4. Evaluasi yaitu

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan apakah masalah teratasi atau tidak, dan apabila tidak berhasil perlu dikaji,

direncanakan dan dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dan pendek tergantung respon dalam keefektifan intervensi

BAB III TINJAUAN KASUS

A.Pengkajian
Tanggal pengkajian Tanggal masuk Ruang/kelas No.RM Diagnosa medis : 21 Feb 2012 : 20 Feb 2012 : Topaz/3 : 08.70.17 : Dispepsia

1.Identitas klien Nama klien Jenis kelamin Usia Status perkawinan Agama Suku bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat Sumber informasi 2.Resume Klien masuk ke UGD rs.mh.thamrin Cileungsi pada tgl 20 feb 2012 jam 00.10 wib,dengan keluhan utama yaitu : mual-mual,muntah,pusing & rasa sakit di perut sampai ke ulu hati yg di rasakan sejak 2 hari sebelum masuk rs.Di UGD ,klien di tangani oleh Dr.Jhon.Hasil pemeriksaan TTV : TD=150/90,S=36,5c,N=97x/menit,RR=20x/menit.Hasil pemeriksaan di dapat bahwa : konjungtiva=anemis,sklera=ikterik,thorax=paru/jantung : Ny.Sopiah : perempuan : 46 tahun : Sudah menikah : Islam : Indonesia : SLTA : IRT : kp.gedong Rt 01/01 Cileungsi-Bogor : klien dan keluarga

normal,Abdomen=tidak teraba bsing usus,eks=hangat.Therapy RL/8 jam,ranitidine.Hasil Lab.darah lengkap : Hb=12,9 g/dl,leukosit=11.000/ul,Ht=38%,Eritrosit=4,3,Trombosit=200.000/ul.