Anda di halaman 1dari 50

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

BAB I PENDAHULUAN A. PENDAHULUAN Seiring dengan berkembangnya zaman, berbagai masalah kesehatan dan lingkungan cenderung akan semakin kompleks pada masa yang akan datang jika tidak diimbangi dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), kemampuan mengembangkan dan menerapkan teknologi, serta keharmonisan pembangunan ekonomi, lingkungan, dan sosial di seluruh wilayah, yang akan berakibat pula terhadap keragaman pola penyakit dan kematian. Penyakit, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra tidak mengenal batas wilayah administrasi dan pemerintahan, namun lebih dipengaruhi oleh batas ekosistem, sehingga diperlukan surveilans epidemiologi yang handal yang dilaksanakan secara nasional, regional, dan lokal. Untuk menjamin pelaksanaan surveilans epidemiologi penyakit, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, Menteri Kesehatan sesuai dengan SK Nomor 267/MENKES/SK/III/2004 telah menetapkan Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Yogyakarta sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bidang teknik kesehatan lingkungan dan pemberantasan penyakit menular B. VISI Visi Depkes RI dan Ditjen PP & PL yaitu Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat, sebagai UPT Ditjen PP & PL. BBTKLPPM Yogyakarta dituntut untuk dapat mengembangkan organisasi mengarah kepada perubahan yang lebih baik seperti yang dikehendaki dan untuk memenuhi perubahan tersebut, menetapkan Visi : Pusat Rujukan Teknologi Pengendalian Faktor Risiko Penyakit Menuju Masyarakat Hidup Sehat. C. MISI a. Mendukung terlaksananya pengendalian faktor risiko penyakit. b. Mengembangkan Laboratorium Rujukan. c. Menyediakan data dan informasi kualitas lingkungan secara cepat dan akurat. d. Memantapkan jejaring kerja dan kemitraan. e. Memfasilitasi respon cepat dan tepat dalam KLB/ Bencana/ Pencemaran. f. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia

halaman 1 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

BAB II GAMBARAN UMUM

A. ORGANISASI Sesuai Keputusan Menkes RI No 267/Menkes/SK/III/2004, susunan organisasi Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Yogyakarta terdiri dari 1 Pejabat Eselon II, 4 Pejabat Eselon III dan 12 Pejabat Eselon IV, yang meliputi : 1. Kepala BBTKLPPM Yogyakarta. 2. Kepala Bagian Tata Usaha membawahi Kepala Sub Bagian Umum dan Kepala Sub Bagian Program dan Laporan. 3. Kepala Bidang Surveilans Epidemiologi membawahi Kepala Seksi Advokasi dan KLB dan Kepala Seksi Pengkajian Diseminasi dan Informasi. 4. Kepala Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan membawahi Kepala Seksi Lingkungan Fisik Kimia dan Kepala Seksi Lingkungan Biologi. 5. Kepala Bidang Pengembangan Teknologi dan Laboratorium membawahi Kepala Seksi Teknologi Laboratorium dan Kepala Seksi Teknologi P2M. Sesuai dengan SK Dirjen PP & PL No OT.01.01.01/I/632/2007 dikembangkan 19 instalasi, yang meliputi : 1. Instalasi Laboratorium Fisika Kimia Air 2. Instalasi Laboratorium Fisika Kimia Gas dan Radiasi 3. Instalasi Laboratorium Biologi Lingkungan 4. Instalasi Laboratorium Parasitologi 5. Instalasi Laboratorium Entomologi dan Pengendalian Vektor 6. Instalasi Laboratorim Virologi 7. Instalasi Laboratorium Serologi dan Imunologi 8. Instalasi Laboratorium Mikrobiologi Klinis 9. Instalasi Laboratorium Biomarker 10. Instalasi Laboratorium Padatan dan Bahan Berbahaya Beracun 11. Instalasi Laboratorium Pengkajian dan Pengembangan TTG 12. Instalasi Sarana dan Prasarana 13. Instalasi Pengendalian Mutu, Pemeriksaan dan Kalibrasi 14. Instalasi Pelayanan Teknis 15. Instalasi Bencana dan Kejadian Luar Biasa 16. Instalasi Pendidikan dan Pelatihan 17. Instalasi Pengelolaan Teknologi Informasi 18. Instalasi Pengelolaan Media dan Reagensia 19. Instalasi Pengelolaan Hewan Percobaan

B. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan yang hendak dicapai BBTKL PPM Yogyakarta adalah : 1. Meningkatnya pengendalian faktor risiko lingkungan dan vektor penular penyakit ;

halaman 2 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

2. Meningkatnya pengendalian dampak pencemaran udara, tanah dan air ; 3. Meningkatnya upaya kesehatan lingkungan pada kesehatan matra ; 4. Meningkatnya kualitas hasil pengujian laboratorium ; 5. Meningkatnya akses informasi kesehatan lingkungan ; 6. Meningkatnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini ; 7. Meningkatnya jejaring kerja dan kemitraan antar instansi terkait ; 8. Meningkatnya advokasi dan fasilitasi kesiapsiagaan serta penganggulangan KLB/bencana/pencemaran; 9. Meningkatnya kompetensi SDM dalam bidang kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit dan administrasi; 10. Meningkatnya produktifitas dalam rangka mendukung kinerja institusi. Sedangkan sasarannya adalah: 1. Terlaksananya pengendalian faktor risiko lingkungan dan vektor penular penyakit ; 2. Terlaksananya pengendalian dampak pencemaran udara, tanah dan air ; 3. Terlaksananya upaya kesehatan lingkungan pada kesehatan matra ; 4. Terjaganya kualitas hasil pengujian laboratorium ; 5. Tersedianya akses informasi kesehatan lingkungan ; 6. Terlaksananya fasilitasi kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini ; 7. Terlaksananya jejaring kerja dan kemitraan ; 8. Terlaksananya advokasi dan fasilitasi kesiapsiagaan serta penganggulangan KLB/bencana/pencemaran; 9. Terlaksananya peningkatan kompetensi SDM dalam bidang kesehatan lingkungan, pengendalian penyakit dan administrasi; 10. Terlaksananya peningkatan produktifitas dalam rangka mendukung kinerja institusi.

C. KEDUDUKAN, TUGAS, DAN FUNGSI Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknik (UPT) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP-PL) Depkes RI sesuai Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 267/Menkes/SK/III/2004 yang mempunyai fungsi: a. Pelaksanaan survelans epidemiologi; b. Pelaksanaan analisis dampak kesehatan lingkungan (ADKL); c. Pelaksanaan laboratorium rujukan; d. Pelaksanaan pengembangan model dan teknologi tepat guna; e. Pelaksanaan uji kendali mutu dan kalibrasi; f. Pelaksanaan penilaian dan respon cepat, kewaspadaan dini, dan penanggulangan KLB/wabah dan bencana; g. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan; h. Pelaksanaan kajian dan pengembangan teknologi pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra; i. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan BBTKL PPM

halaman 3 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Di samping fungsi tersebut di atas, BBTKL PPM juga menjalankan fungsi yang lain yaitu : 1. Keputusan Dirjen PPM & PL Depkes RI No. HK.00.06.7.426 tanggal 4 Pebruari 2003 sebagai Sentra regional kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi, sebagai pusat pengendalian operasional wilayah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. 2. Rekomendasi Kepala PUSARPEDAL Kementrian Negara Lingkungan Hidup No : B-47/PS-VII/LH/03/2006 tanggal 2 Maret 2006 tentang rekomendasi BBTKL PPM Yogyakarta sebagai Laboratorium lingkungan. 3. Keputusan Gubernur DIY No : 47/KEP/2006 tanggal 29 Maret 2006 tentang Penunjukkan BBTKL PPM Yogyakarta sebagai penyelenggara Pelayanan laboratorium Lingkungan di Propinsi DI Yogyakarta. 4. Keputusan Gubernur Jawa Tengah No : 660.1/23/2007 tanggal 27 Agustus 2007 tentang penunjukkan Laboratorium Lingkungan BBTKL PPM yogyakarta sebagai Laboratorium Lingkungan di Propinsi Jawa Tengah. D. WILAYAH YANG DILAYANI Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL PPM) Yogyakarta mempunyai wilayah kerja 2 Propinsi yaitu Propinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Propinsi DIY terdiri dari 5 kabupaten/kota dan Propinsi Jawa Tengah meliputi 35 kabupaten/kota.

E. KEBIJAKAN DAN STRATEGI Untuk mencapai tujuan dan sasaran, ditetapkan kebijakan sebagai berikut: 1. Mendorong dan membangun komitmen dalam rangka pencapaian program melalui jejaring kerja dan kemitraan 2. Pengembangan standar kompetensi SDM BBTKL-PPM Yogyakarta 3. Pengembangan dan pemanfaatan SIM BBTKL-PPM Yogyakarta terpadu dalam rangka penguatan jejaring informasi yang cepat, tepat, dan akurat untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak penurunan kualitas lingkungan dan mengendalikan multiple burden, termasuk KLB/ bencana/pencemaran 4. Meningkatkan status akreditasi laboratorium 5. Mendorong dan menggerakkan peningkatan mutu pelayanan laboratorium 6. Pengembangan mutu SDM di setiap unit kerja BBTKL-PPM Yogyakarta melalui pendidikan dan pelatihan. Sesuai dengan kebijakan tersebut, ditetapkan strategi sebagai berikut: 1. Mengoptimalkan sumber daya untuk mendukung komitmen global

halaman 4 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

dalam pencapaian program melalui jejaring kerja dan kemitraan 2. Mengoptimalkan sumber daya untuk mengembangkan SIM BBTKLPPM Yogyakarta dalam memberikan informasi kepada stake holders. 3 Mengoptimalkan instalasi lab. untuk memberikan pelayanan dan rujukan. 4 Mengoptimalkan fungsi lab melalui jejaring untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak penurunan kualitas lingkungan dan mengendalikan multiple burden. 5 Peningkatan kompetensi dan profesionalisme SDM dalam bidang teknis dan fungsional

halaman 5 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

BAB III ANALISA SITUASI 3.1 Bidang Surveilans Epidemiologi Bidang Surveilans Epidemiologi mempunyai tugas melaksanakan perencanaan dan evaluasi di bidang surveilans epidemiologi, advokasi dan fasilitasi kesiapsiagaan dan penanggulangan KLB, kajian dan diseminasi informasi kesehatan lingkungan, kesehatan matra, kemitraan dan jejaring kerja, serta pendidikan dan pelatihan bidang surveilans epidemiologi. Dalam melaksanakan tugasnya, Bidang SE menyelenggarakan fungsi: a. pelaksanaan surveilans epidemiologi penyakit menular b. pelaksanaan advokasi dan fasilitasi kejadian luar biasa, wabah dan bencana c. pelaksanaan kajian dan diseminasi informasi kesehatan lingkungan, kesehatan matra dan pemberantasan penyakit menular d. pelaksanaan kemitraan dan jejaring kerja bidang surveilans epidemiologi e. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bidang surveilans epidemiologi Ke lima fungsi tersebut sebagian besar sudah dijalankan oleh Bidang SE mulai tahun 2005 sampai dengan sekarang dengan kondisi pencapaian sebagai berikut: a. Pelaksanaan surveilans epidemiologi penyakit menular Surveilans epidemiologi penyakit menular yang dilakukan secara berkesinambungan adalah surveilans penyakit Pes. Kegiatan ini mulai dilakukan pada tahun 2006 sampai dengan 2007 dengan cara melakukan surveilans serologis pada rodent (tikus) dan human secara berkala di daerah fokus Pes di wilayah Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi DIY. Jumlah lokasi pengamatan makin ditingkatkan setiap tahunnya. Pada tahun 2006, lokasi pengamatan hanya di lakukan di 7 desa di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah, sedangkan Tahun 2007 lokasi pengamatan diperluas ke 7 desa di Kecamatan Cepogo (Kabupaten Boyolali) dan 5 dusun di Desa Mungkirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Propinsi DIY. Dengan demikian jumlah keseluruhan wilayah pengamatan Pes sampai dengan tahun 2007 sebanyak 19 lokasi, dengan hasil serologis positif ditemukan baik pada tikus maupun manusia. b. Pelaksanaan advokasi dan fasilitasi KLB/Bencana/Wabah Pelaksanaan fungsi ini dijalankan dalam bentuk respon cepat terhadap KLB Penyakit, bencana maupun kasus pencemaran lingkungan. Kegiatan yang dilakukan tahun 2005 adalah penelusuran kasus pencemaran di dua lokasi yakni di wilayah Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul. Pada Tahun 2006 respon cepat yang dilakukan adalah: penanggulangan bencana alam tanah longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah; siaga merapi di Kabupaten Sleman, dan penanggulangan gempa bumi tektonik di lima kabupaten di Propinsi DIY. Frekuensi kegiatan respon cepat KLB/Bencana di tahun 2007 untuk KLB penyakit, bencana dan penelusuran kasus pencemaran, masing-masing adalah: 2 kali untuk penanggulangan bencana alam (tanah longsor dan banjir); 3 kali penyelidikan KLB penyakit (kasus AI 2 kali dan Diare 1 kali), 4 kali kasus keracunan makanan; dan 4 kali penelusuran kasus pencemaran lingkungan.

halaman 6 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

c. Pelaksanaan kajian dan diseminasi informasi kesehatan lingkungan, kesehatan matra dan pemberantasan penyakit menular Kegiatan kajian pada tahun 2005 diarahkan pada kajian faktor risiko penyakit DBD, TB Paru dan Dipteri. Kajian DBD dan TB Paru masingmasing dilakukan di 5 lokasi. Untuk TB Paru dilakukan di 5 puskesmas di Kota Yogyakarta, sedangkan kajian TB Paru dilakukan di 5 puskesmas di Kabupaten Bantul. Kajian faktor risiko penyakit di tahun 2006 ditujukan pada penyakit Malaria (10 puskesmas), DBD (20 puskesmas), AI (10 puskesmas) dan TB Paru (10 puskesmas). Pada tahun 2007, kajian dan monitoring faktor risiko ditujukan untuk penyakit Leptospirosis di 2 kabupaten di Propinsi Jawa Tengah dan kajian faktor risiko penyakit DBD di 2 kabupaten di Propinsi DIY. Mekanisme penyampaian informasi dari hasil kegiatan kajian oleh Bidang SE maupun bidang lainnya di BBTKL-PPM Yogyakarta dilakukan dalam bentuk: pertemuan sosialisasi, penerbitan buletin/MIK dan pendistribusian laporan hasil kegiatan kepada pihak terkait. d. Pelaksanaan kemitraan dan jejaring kerja surveilans epidemiologi Bentuk kegiatan jejaring epidemiologi menurut Kepmenkes. RI No. 266/Menkes/SK/III/2004 adalah diseminasi informasi. Kegiatan diseminasi informasi diperuntukan untuk menyebarluaskan informasi hasil kajian maupun hasil-hasil kegiatan lain yang dilakukan oleh Bidang SE maupun bidang-bidang lain di BBTKL-PPM Yogyakarta. Kegiatan diseminasi informasi dilakukan melalui berbagai cara, yaitu: pertemuan sosialisasi, penerbitan buletin/jurnal/MIK dan pendistribusian laporan hasil kegiatan kepada pihak terkait. Kegiatan diseminasi informasi yang telah dilakukan sejak tahun 20052007 meliputi: pertemuan sosialisasi/diseminasi informasi data penyakit dan kualitas lingkungan di Propinsi DIY dan Jawa Tengah dengan frekuensi 1 kali per tahun untuk masing-masing propinsi. Untuk penerbitan buletin telah dilakukan 2 kali pertahunnya, sedangkan MIK diterbitkan 6 kali pertahun. e. Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Bidang Surveilans Epidemiologi Dalam menyelenggarakan fungsi ini Bidang Surveilans Epidemiologi belum bertindak sebagai penyelenggara oleh karena masih adanya keterbatasan sumber daya (fasilitas pendukung pelatihan, SDM dan dana).Oleh karena itu maka alokasi dana untuk fungsi diklat dipergunakan untuk mengirim petugas dari Bidang SE maupun bidang atau unit instalasi laboratorium terkait lain yang akan mendukung penyelenggaraan surveilans epidemiologi faktor risiko lingkungan, khususnya untuk penyakit berbasis lingkungan. Jenis pelatihan yang telah diikuti adalah Sistim Informasi Kesehatan, GIS, Epi Info, PAEL, dan Pemeriksaan Lab. Spesimen Pes.

halaman 7 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

3.2 Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan mempunyai tugas melaksanakan perencanaan dan evaluasi pelaksanaan analisis dampak kesehatan lingkungan fisik dan kimia serta dampak lingkungan biologi, pendidikan pelatihan di bidang pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra. Dalam melaksanakan tugasnya Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan menyelenggarakan fungsi: a. analisis dampak kesehatan lingkungan fisik dan kimia b. analisis dampak kesehatan lingkungan biologi c. pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang analisis dampak kesehatan lingkungan d. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bidang analisis dampak kesehatan lingkungan Keempat fungsi tersebut sebagian besar sudah dijalankan oleh Bidang ADKL mulai tahun 2005 sampai dengan sekarang dengan kondisi pencapaian sebagai berikut: a. Analisis dampak kesehatan lingkungan fisik dan kimia Analisis yang dilakukan adalah analisis kesehatan lingkungan fisik dan kimia terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan berupa kajian dampak pencemaran udara di industri pengecoran logam yang dilakukan di Klaten pada tahun 2005 dan ditindaklanjuti dengan kajian dampak industri tersebut terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat sekitar. Dilakukan pula antara lain : i)Kajian kualitas air tanah pada pemukiman padat penduduk di Propinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, ii) Kajian dampak pencemaran udara di SPBU terhadap kesehatan pekerja, iii) Kajian pengaruh lindi TPA terhadap kualitas air tanah di sekitarnya, iv) Kajian dampak penambangan emas tradisional di Kulon Progo, v) Kajian dampak kualitas udara di Malioboro terhadap kesehatan masyarakat disekitarnya, vi) Kajian kualitas udara di terminal dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya,vii) kajian dampak kualitas udara di Malioboro terhadap kesehatan masyarakat disekitarnya, disamping itu juga dilakukan analisis terhadap kegiatan yang direncanakan berupa telaahan dua dokumen AMDAL dari aspek kesehatan masyarakat serta penanganan beberapa kasus pencemaran lingkungan di DIY b. Analisis dampak kesehatan lingkungan biologi Analisis yang dilakukan adalah analisis kesehatan lingkungan biologi terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah berjalan berupa kajian ,antara lain: i)kajian kualitas lingkungan TPA terhadap kejadian kecacingan pada pemulung, ii) kajian tempat perindukan nyamuk vektor malaria, iii) kajian tempat perindukan nyamuk aedes, iv) survey jentik nyamuk, v), kajian keberadaan Legionella di tempat-tempat umum, vi) kajian keberadaan bakteri Leptospira, vii) kajian keberadaan virus avian influenza dilingkungan pasar , disamping itu juga dilakukan analisis terhadap kegiatan yang direncanakan berupa telaahan dua dokumen AMDAL dari aspek kesehatan masyarakat.

halaman 8 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

c. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang analisis dampak kesehatan lingkungan, Kegiatan ini dilaksanakan dengan menjalin komunikasi, koordinasi, tukar informasi dan kerja sama dengan 19 institusi di Propinsi DI Yogyakarta dan 11 institusi di Propinsi Jawa Tengah, baik jajaran kesehatan maupun diluar kesehatan seperti dinas LH, Perhubungan, Perindustrian dsb d. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bidang analisis dampak kesehatan lingkungan Dalam menyelenggarakan fungsi Diklat belum sepenuhnya dilaksanakan, namun telah ikut berperan dalam Diklat BBTKL-PPM khusus untuk materi materi yang berkaitan dengan Bidang ADKL seperti: Dampak kualitas lingkungan terhadap kesehatan, Dampak kualitas limbah RS terhadap kesehatan dsb. Disamping itu peningkatan SDM bidang ADKL dilakukan dengan mengirimkan petugas mengikuti berbagai pelatihan seperti : Diklat AMDAL Diklat ADKL/ARKL, Diklat Aspek Kesehatan Masyarakat dalam AMDAL 3.3 Bidang Pengembangan Teknologi dan Laboratorium Bidang Pengembangan Teknologi dan Laboratorium mempunyai tugas melaksanakan perencanaan dan evaluasi pengembangan dan penapisan teknologi dan laboratorium, kemitraan dan jejaring kerja kesehatan lingkungan, kesehatan matra, kemitraan dan jejaring kerja, serta pendidikan dan pelatihan bidang pengembangan teknologi dan laboratorium pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra. Dalam melaksanakan tugasnya , Bidang Pengembangan Teknologi dan Laboratorium menyelenggarakan fungsi: a. Pengembangan dan penapisan teknologi pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra b. pengembangan laboratorium pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra c. pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang pengembangan teknologi dan laboratorium d. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bidang pengembangan teknologi dan laboratorium di bidang pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra Keempat fungsi tersebut sebagian besar sudah dijalankan oleh Bidang PTL mulai tahun 2005 sampai dengan sekarang dengan kondisi pencapaian sebagai berikut: a. Pengembangan dan penapisan teknologi pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra Dalam pelaksanaannya terdiri dari 17 kegiatan dan menghasilkan 21 model serta 27 teknologi. Yang antara lain prototipe ventilasi untuk bangsal rumah sakit, alat penyaringan air skala rumah tangga, model penurunan kadar phospat pada instalasi pengolahan limbah cair rumah sakit, kajian pengelolaan sampah medis di unit pelayanan rumah sakit,

halaman 9 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Kajian efektifitas berbagai model alat penurunan Fe dengan sistem aerasi, Pembuatan Alat Pengolahan air baku pada unit mobile, Kajian pemanfaatan kreweng untuk menurunkan deterjen limbah cair RS, Study gypsum dan epoxy terhadap penghambatan bakteri desulvibrio dalam degradasi betonan secara kimia dan biologi, Pembuatan peratan Fe test kit, Penanggulangan pencemaran udara pada industri pengeringan limbah padat pemotongan ayam dengan closed circulation drying sistem, Penyediaan depot air isi ulang di tempat pariwisata, Pembuatan model penangkap jentik pada sumur/parit, Kajian efektifitas berbagai model/propotype ventilasi UV pada bangsal perawatan Rumah Sakit, Model pengolahan limbah sputum di sarana kesehatan, Kajian pemantauan kualitas lingkungan di asrama haji Donohudan, dan Kajian efektifitas pemanfaatan cangkang kerang terhadap penurunan Fe pada air minum. b. Pengembangan laboratorium pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra Kegiatan ini berupa pengembangan laboratorium rujukan dan kendali mutu & Kalibrasi. Untuk laboratorium rujukan khususnya di bidang Kesehatan lingkungan telah berkembang dengan terakreditasinya laboratorium lingkungan & ditunjuk sebagai laboratorium Lingkungan oleh Gubernur DIY dan Jateng. Untuk pengembangan laboratorium PPM telah dibentuk 6 laboratorium khususnya dalam rangka mendukung kegiatan program BBTKL PPM Yogyakarta. c. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang pengembangan teknologi dan laboratorium Kegiatan ini dilaksanakan dengan menjalin komunikasi, koordinasi, sharing informasi kerjasama termasuk bimbingan teknis dan evaluasi terhadap laboratorium lingkunganyang ada di DIY termasuk laboratorium air di 5 Kab/Kota DIY, 8 laboratorium Kab/Kota di Jateng 2 laboratorium Penguji di Jakarta, BBTKL PPM , 2 laboratorium Penguji di Surabaya, serta laboratorium- laboratorium di BTKL luar Jawa. Sedang jejaring kerja kemitraan di bidang pengembangan dan penapisan teknologi telah dilaksanakan dengan menjalin komunikasi, koordinasi, sharing informasi, kerjasama dengan 10 Institusi di DIY dan. 22 Instirusi di Jateng termasuk bantuan alat & teknologi dalam rangka penanggulangan KLB/ bencana alam. Telah dilaksanakan pertemuan jejaring kerja dengan 23 laboratorium di Propinsi DI Yogyakarta sebanyak dua kali, pertemuan ini dilaksanakan setiap tiga bulan sebagai forum komunikasi dengan koordinator Bapedalda Propinsi DI Yogyakarta. d. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bidang pengembangan teknologi dan laboratorium di bidang pemberantasan penyakit menular, kesehatan lingkungan dan kesehatan matra Kegiatan ini telah dilaksanakan melalui Diklat Internal maupun Diklat Eksternal. Diklat Internal melalui teori dan praktek (1 Paket) Pelatihan PPM & 1 paket pelatihan akreditasi sesuai ISO/IEC/17-25 -2005 (diikuti 20 orang). Diklat Eksternal dengan mengirimkan personil untuk pelatihan, magang, workshop dll Untuk pengembangan laboratorium lingkungan,

halaman 10 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

laboratorium PPM dan akreditasi laboratorium sebanyak 35 personil, 15 jenis Pelatihan.

3.4. Bagian Tata Usaha Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program, pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian, perlengkapan dan rumah tangga. Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian TU menyelenggarakan fungsi : a. Pelaksanaan penyusunan program dan pelaporan yang dilaksanakan dengan penyiapan bahan penyusunan program, evaluasi dan laporan serta informasi. b. Pelaksanaan urusan keuangan yang dilaksanakan terdiri dari pengelolaan penerimaan anggaran (PNBP) dan pengelolaan anggaran pengeluaran DIPA BBTKL PPM Yogyakarta. c. Pelaksanaan urusan kepegawaian dan umum yang terdiri dari tugas urusan tata usaha, perlengkapan dan kerumahtanggaan. Ketiga fungsi tersebut sebagian besar sudah dijalankan oleh Bagian Tata Usaha mulai tahun 2005 sampai dengan sekarang dengan kondisi pencapaian sebagai berikut: a. Pelaksanaan penyusunan program dan pelaporan Kegiatan ini dilaksanakan dengan penyiapan bahan penyusunan program, evaluasi dan laporan serta informasi. Dalam penyusunan bahan perencanaan dan evaluasi kegiatan didukung dengan pelaksanaan kegiatan Evaluasi dan Perencanaan Program yang dilaksanakan pada setiap tahunnya, dan disempurnakan dengan konsultasi penyusunan program ke pusat, penyusunan program kegiatan yang bermuara pada tersusunnya dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga yang dalam pembuatannya menggunakan aplikasi DIPA dan RKAKL. Pelaporan dilaksanakan dengan laporan kegiatan triwulanan yang sejak tahun 2007 sudah mengikuti format sesuai UU no 39 tahun 2006 dan menggunakan aplikasi Sim Monitoring dan Evaluasi, laporan tahunan, profil institusi, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan laporan kinerja sesuai SK Menkes No. 266 Tahun 2004. b. Pelaksanaan urusan keuangan Kegiatan ini terdiri dari pengelolaan penerimaan anggaran (PNBP) dan pengelolaan anggaran pengeluaran DIPA BBTKL PPM Yogyakarta. Penerimaan PNBP dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi realisasi penerimaan PNBP, pada tahun 2003 dan 2006 target tidak tercapai. Pada tahun 2004, 2005 dan 2007 sudah melebihi target. Pada tahun 2007 target mencapai 108,65%. Pengelolaan anggaran pengeluaran DIPA juga dilaksanakan oleh bagian tata usaha dengan menggunakan beberapa aplikasi baru dalam pengelolaannya, antara lain aplikasi gaji, aplikasi Surat Perintah Membayar, aplikasi Sistem Akuntansi Instansi yang terdiri dari Sistim Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran dan Sistim Akuntansi Kuasa Pengguna Barang.

halaman 11 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

c. Pelaksanaan urusan kepegawaian dan umum yang terdiri dari tugas urusan tata usaha, perlengkapan dan kerumahtanggaan. Kegiatan ini terdiri dari urusan administrasi umum yang antara lain mengelola surat-menyurat kantor, kerumahtanggaan yang berupa pengelolaan kegiatan sehari-hari perkantoran, perawatan sarana dan prasarana kantor dan kepegawaian yang mengelola antara lain kenaikan pangkat pegawai, kenaikan gaji berkala, serta urusan kepegawaian lainnya. Pada tahun 2008 ditetapkan tiga program yaitu Program Penerapan Kepemerintahan Yang Baik, Program Lingkungan Sehat dan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit. Sehubungan dengan DIPA Tahun Anggaran 2008 yang sampai dengan Minggu kedua Bulan Mei 2008 anggaran yang turun baru untuk satu program saja, sehingga sampai saat ini Program yang dilaksanakan adalah Program penerapan kepemerintahan yang baik dengan dua kegiatan dan masing-masing rincian sub kegiatan sebagai berikut : b. Kegiatan Pengelolaan Gaji, Honorarium, dan Tunjangan, dengan sub kegiatan Pembayaran Gaji, Lembur, Honorarium dan vakasi c. Kegiatan Penyelenggaraan Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran, dengan sub kegiatan Operasional Perkantoran, Pimpinan dan Pemeliharaan.

halaman 12 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

BAB IV PENCAPAIAN PROGRAM

A.

BIDANG SURVEILANS 1. RESPON CEPAT DAN PENANGGULANGAN KLB Dalam rangka pelaksanaan respon cepat dan penanggulangan KLB, Bidang Surveilans Epidemiologi melakukan 4 kegiatan sebagai berikut: 1.1. SKD- KLB Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB penyakit bertujuan untuk mendeteksi secara dini kemungkinan akan adanya KLB sehingga dapat dilakukan upaya dini agar KLB tidak terjadi atau mencegah terjadinya penyebaran lebih luas pada daerah lainnya. Bentuk implementasi penyelenggaraan SKD KLB oleh BBTKL-PPM Yogyakarta lebih ditekankan pada upaya fasilitasi kesiapsiagaan penanggulangan KLB. Alokasi anggaran untuk penyelenggaraan SKD KLB tahun 2007, mencakup: Penyediaan logistik/reagensia Penyediaan biaya pemeriksaan spesimen Penyediaan belanja jasa, khususnya untuk jasa pemeriksaan spesimen Penyediaan anggaran perjalanan Dalam operasionalisasinya, alokasi anggaran yang ada telah dimanfaatkan untuk mendukung upaya fasilitasi kesiapsiagaan KLB termasuk bencana. Kegiatan riil yang dilaksanakan adalah: pengadaan bahan/reagensia/peralatan untuk menambah kekurangan bahan pendukung dalam pengoperasian alat yang sudah tersedia di instalasi laboratorium mikrobiologi dan virologi, dengan volume 1 paket untuk masingmasing instalasi tersebut. Kegiatan yang telah dilakukan sebelum penyesuaian dana perjalanan (pemotongan 70%) masih sebatas koordinasi ke instansi terkait. Kegiatan operasional selanjutnya tidak dapat lagi dilakukan sehingga berdampak pada tidak terserapnya dana biaya jasa pemeriksaan spesimen. 1.2. INVESTIGASI DAN PENANGGULANGAN KLB Investigasi dan Penanggulangan KLB/Bencana merupakan bentuk implementasi salah satu tupoksi BBTKL-PPM yakni respons cepat terhadap KLB. Kegiatan ini bertujuan antara lain: memastikan kebenaran adanya KLB, mengetahui besaran masalah KLB dan faktor-faktor yang mempengaruhi, serta mendukung upaya penanggulangan KLB sesuai dengan tupoksi yang ada. Dalam periode tahun 2007, jumlah respon cepat KLB yang dilakukan sebanyak 13 kali. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Bidang Surveilans Epidemiologi bersama Bidang dan Instalasi laboratorium terkait di BBTKL-PPM Yogyakarta. Dalam

halaman 13 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

pelaksanaannya, tim dari BBTKL-PPM Yogyakarta Kegiatan melaksanakan kegiatan secara bersama dengan petugas dari jajaran pemerintah daerah setempat (Dinas Kesehatan Propinsi,/Kabupaten/Kota serta instansi terkai lainnya). Berdasarkan jenis KLB, proporsi terbesar respon cepat yang dilakukan adalah pada kasus Keracunan Makanan dan kasus pencemaran lingkungan, masing-masing 31 %. Selebihnya dapat dilihat pada grafik berikut:

P e n ce m a ra nL in g k . 3 1 %

K e ra cu n a nM k n 3 1 %

B e n ca n a Ala m 1 5 %

K a su s AI 1 5 %

D ia re 8 %

Grafik Proporsi Kegiatan Respon Cepat menurut Jenis Kejadian Di Wilayah Propinsi DIY dan Jawa Tengah, Tahun 2007 Bila dilihat menurut lokasi kejadian, sebagian besar 7 (53,8%%) kegiatan respon cepat yang dilakukan berada dalam wilayah Propinsi DIY dan 6 kasus berada dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah. Frekuensi KLB menurut waktu kejadian, dapat dirinci dilihat pada Grafik berikut:
3,5 3 2,5 2 1,5 1 0,5 0 Jan 0 P eb 0 M ar 2 1 0 Ags 2 2 2 1 0 O kt 0 N op 3

Apr

M ei

Jun

Jul

S ep

D es

Grafik Kegiatan Respon Cepat KLB Penyakit, Bencana Alam dan Pencemaran Lingkungan menurut Waktu Pelaksanaan Di Wilayah Propinsi DIY dan Jawa Tengah, Tahun 2007

halaman 14 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

2. KAJIAN BIDANG SURVEILANS EPIDEMIOLOGI 2.1 Kajian Faktor Risiko (KFR) dan Monitoring Faktor Risiko (MFR) Leptospirosis KFR dan MFR Leptospirosis merupakan studi deskriptif dengan rancangan crosssectional. Kedua kajian ini memiliki tujuan serupa yakni mengidentifikasi adanya faktor risiko untuk kejadian Leptospirosis. Variabel yang dikaji pada kegiatan KFR mencakup faktor risiko lingkungan lingkungan fisik (kondisi lingkungan rumah) dan lingkungan sosial (pengetahuan dan perilaku) yang berisiko untuk terjadinya transmisi penyakit leptospirosis, sedangkan pada kegiatan MFR mengidentifikasi faktor risiko biologik (keberadaan tikus yang terinfeksi leptospira sp) yang merupakan sumber penularan. KFR dan MFR dilakukan di Kabupaten Demak dan Kota Semarang, Jawa Tengah. Wilayah survei untuk Kabupaten Demak yaitu: Puskesmas Guntur I, Puskesmas Guntur II, Puskesmas Bonang I, Puskesmas Bonang II, Puskesmas Wonosalam II, dan Puskesmas Demak III), sedangkan untuk Kota Semarang adalah: wilayah Puskesmas Bandarharjo dan Puskesmas Miroto). Jumlah subjek diteliti untuk KFR maupun MFR berjumlah 600 subjek, terdistribusi 300 subjek di Kabupaten dan 300 subjek di Kota Semarang. Subjek penelitian diambil dari wilayah yang ada kasus leptospira maupun non kasus. sasaran penelitian KFR adalah orang dan lingkungan rumah, sedangkan sasaran MFR adalah hewan rodent (tikus) yang tertangkap di rumah responden yang sama pada kegiatan KFR. Survei dilangsungkan dalam dalam dua tahap. Tahap pertama dilangsungkan di daerah kasus, selanjutnya dilakukan di daerah non kasus. Kesimpulan dari hasil KFR dan MFR adalah bahwa pada daerah kasus maupun non kasus leptospirosis keduanya mempunyai risiko terhadap penularan leptospirosis karena pada kedua wilayah tersebut teridentifikasi adanya sumber penularan yakni tikus terinfeksi Leptospira sp. Spesies tikus terinfeksi dominan adalah Rattus tanezumi (tikus rumah), artinya sumber penularan sangat dekat dengan masyarakat sehingga risiko keterpaparan dengan agent penyakit relatif tinggi. Risiko tersebut makin bertambah dengan adanya kondisi tingkat pengetahuan responden tentang leptospirosis (gejala, penyebab, sumber dan cara penularanpenularan) relatif masih kurang. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Leptospirosis membawa implikasi pada munculnya perilaku yang kurang mendukung dalam upaya pencegahan. Untuk itu disarankan: 1) puskesmas setempat yang di wilayah kerjanya ditemukan tikus terinfeksi Leptospira sp melakukan upaya promotif guna meningkatkan tingkat pengetahuan tentang Leptospirosis sehingga masyarakat dapat melakukan proteksi diri dan keluarga terhadap keterpaparan dengan sumber penularan; 2) seluruh puskesmas di Kabupaten Demak dan Kota Semarang

halaman 15 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

agar meningkatkan upaya promotif dan preventif untuk mewaspadai dan mencegah terjadinya transmisi Leptospirosis; dan 3) Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota melakukan bimbingan teknis ke puskesmas tentang upaya pengendalian tikus. 2.2 Kajian Faktor Risiko (KFR) DBD KFR DBD bertujuan mengidentifikasi adanya faktor risiko lingkungan (fisik dan sosial) berkaitan dengan kejadian DBD di wilayah Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Variabel yang diukur dari faktor risiko lingkungan fisik dan sosial mencakup: tingkat pengetahuan responden tentang DBD dan keberadaan jentik di rumah responden, dengan parameter House Index (HI). Kajian direncanakan dilaksanakan di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Sehubungan dengan adanya penyesuaian anggaran perjalanan maka kegiatan hanya dilakukan di Kabupaten Bantul. Dari Kabupaten Bantul dipilih dua kecamatan sebagai lokasi survei. Kecamatan terpilih adalah Kecamatan Banguntapan dan Kecamatan Kasihan. Populasi penelitian adalah seluruh penderita DBD yang tercatat pada bulan Januari-Maret 2007 di kedua kecamatan tersebut. Responden adalah orang serumah yang bertanggungjawab atas penderita dan lingkungan rumah. Jumlah subjek yang diteliti sebanyak 125 orang. Cara pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan checklist. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum pengetahuan responden tentang DBD dan PSN di Kecamatan Banguntapan dan Kecamatan Kasihan relatif baik. Proporsi pengetahuan responden tentang DBD dan PSN untuk masing-masing kecamatan adalah: 73,81% (pengetahuan tentang penyakit DBD) dan 83,33% (pengetahuan tentang PSN) untuk Kecamatan Banguntapan, sedangkan untuk Kecamatan Kasihan adalah 86% (pengetahuan tentang DBD) dan 84% (pengetahuan tentang PSN). Akan tetapi dengan tingkat pengetahuan responden yang sudah relatif baik tampaknya belum berdampak positif pada perubahan perilaku, khususnya perilaku PSN. Hal ini diindikasikan masih tingginya rumah yang positif jentik (HI) di kedua kecamatan tersebut, masing-masing 28,57% untuk Kecamatan Banguntapan dan 22% untuk Kecamatan Kasihan. Sesuai dengan teori perilaku bahwa pengetahuan maupun sikap yang baik belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Dalam Notoatmodjo ((2003) dinyatakan bahwa untuk seseorang dapat berperilaku sehat sesuai yang diinginkan, masih dibutuhkan faktor lain, yakni faktor pendukung atau situasi yang memungkinkan, berupa fasilitas maupun dukungan dari pihak lain. Adanya HI tinggi mengindikasikan bahwa di wilayah survei memiliki potensi untuk terjadinya transmisi DBD oleh karena di wilayah tersebut terdapat sumber penularan (penderita DBD). Bahkan tanpa adanya penderita DBD pun tetap ada peluang untuk

halaman 16 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

terjadinya transmisi DBD jika nyamuk di wilayah tersebut sudah terjadi penularan secara transovarial, yaitu penularan Virus Dengue terjadi secara vertikal dari nyamuk Aedes aegypti dewasa kepada turunannya sehingga jentik tersebut ketika dewasa sudah infektif tanpa harus menggigit penderita DBD. Upaya yang perlu dilakukan adalah mengintensifkan gerakan PSN melalui pelaksanaan 3-M Plus secara benar dan tepat sehingga berdampak pada penurunan HI. 2.3 Monitoring Faktor Risiko (MFR) Demam Berdarah Dengue (DBD) DBD merupakan salah satu penyakit tular vektor potensial menyebabkan KLB. Upaya proaktif untuk mencegah terjadinya KLB DBD dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor risikonya, berupa faktor risiko lingkungan fisik (tempat perkembangbiakan vektor), lingkungan biologik (vektor), maupun lingkungan sosial (pengetahuan, sikap dan perilaku). MFR merupakan studi deskriptif dengan rancangan cross sectional. Kegiatan ini bertujuan: 1) mengidentifikasi faktor risiko lingkungan fisik yakni keberadaan tempat perkembangbiakan potensial vektor DBD dilihat dari parameter House Index (HI), beserta karakteristik fisik, kimia dan biologi dari tempat perkembangbiakan dengan parameter: Suhu, pH, Kekeruhan, Salinitas, DO dan Plankton. Pelaksanaan MFR dilakukan di wilayah Kabupaten Bantul, yakni di 2 kecamatan yang paling rawan DBD. Dari ke 2 kecamatan tersebut dipilih 5 dusun sebagai lokasi survei, masing-masing: Dusun Ngipik, Dusun Sorowajan, Dusun Sidorejo, Dusun Ngglondong dan Dusun Kembaran. Unit dan besar sampel disurvei per dusun adalah 20 rumah yang berada di sekeliling rumah dimana anggota keluarganya pernah menderita penyakit DBD. Pengamatan jentik dilakukan pada semua kontainer yang dianggap potensial untuk menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Pengukuran parameter fisik, kimia dan biologi hanya dilakukan pada air sumur. Jika tidak ada sumur maka sampel air akan diambil dari kontainer terbesar yang ada di rumah tersebut. Selanjutnya sampel air sumur/kontainer diuji di laboratorium BBTKL-PPM Yogyakarta untuk mengetahui variasi Genus Plankton (parameter biologi), Suhu, pH dan Kekeruhan (parameter fisika), Salinitas dan DO (parameter kimia). Pengambilan sampel air dan survey jentik dilakukan dua kali yakni pada Bulan Mei dan Juli 2007. Hasil monitoring jentik menunjukkan adanya peningkatan nilai HI dari survei pertama ke survei ke dua. Peningkatan ini terjadi pada semua dusun, kecuali Dusun Taman Tirto nilai HI-nya turun dari 35% menjadi 30%. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna antara kadar semua parameter yang diperiksa (variasi genus, Suhu, pH, kekeruhan, salinitas dan DO) pada air yang diambil dari rumah yang positif jentik dan air yang diambil dari rumah yang negatif jentik.

halaman 17 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

2.4 Survei Pes Penyakit pes adalah salah satu penyakit zoonosa yang terdaftar dalam Karantina Internasional, termasuk dalam undang-undang No.4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dan termaktub di dalam peraturan Menkes RI. No. 560/ Menkes/ Per/ VIII/ 1989 tentang penyakit yang menimbulkan wabah, yang diatur dalam surat edaran Dir. Jen. PP&PL No. 451 I/PD.03.04/IF/1989. Surveilans penyakit pes dilakukan di Kecamatan Selo dan Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Propinsi Jawa Tengah dan Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, PropinsDIY. Surveilans Pes secara umum bertujuan mendeteksi adanya penularan pes pada rodent (tikus) maupun pada manusia. Tujuan khususnya adalah mengetahui: 1) proporsi hasil tangkapan tikus rumah dibanding tikus ladang; 2) mengidentifikasi spesies pinjal tertangkap untuk menentukan Indeks Pinjal/Flea Index (FI) khusus (FI Xenopsylla cheopis) dan FI umum (selain Xenopsylla cheopis); dan 3) mengidentifikasi adanya serologis positif pada human dan rodent Surveilans rodent dan pinjal dilakukan dengan menangkap rodent di dalam maupun di luar rumah (ladang/kebun) menggunakan metal live trap. Pemasangan trap dilakukan selama 5 hari berturutturut. Rodent yang tertangkap terlebih dahulu diambil darahnya menggunakan disposible syringe ukuran 2,5 ml sebagai bahan untuk pemeriksaan serologis Selanjutnya dilakukan penyisiran pada bulu tikus guna memperoleh pinjal. Tikus beserta pinjalnya diidentifikasi spesiesnya. Untuk kepentingan penghitungan indeks pinjal maka semua tikus dan pinjal tertangkap dihitung jumlahnya menurut spesies. Penyelenggaraan surveilans Pes di Kecamatan Selo, Kecamatan Cepogo dan Kecamatan Cangkringan masing-masing dialokasikan sebanyak delapan kali. Dari alokasi tersebut baru terealisir 2 kali (25%) untuk Kecamatan Selo dan Kecamatan Cepogo, sedangkan untuk Kecamatan Cangkringan terealisair sebanyak 4 kali (50%). Hasil tangkapan tikus selama dua bulan (Mei dan juni 2007) di wilayah Kabupaten Boyolali berjumlah 553 ekor. Proporsi hasil tangkapan dalam rumah lebih besar dari tangkapan di luar rumah (ladang/kebun). Hasil pemeriksaan BLK Yogyakarta menemukan adanya serologis positif pada tikus sebesar 2,17% (4 ekor) dengan variasi titer 1:16 (dua ekor), 1:64 (satu ekor), 1:128 (satu ekor). FI khusus (FI Xenopssylla cheopis) sebesar 1 dan FI umum 2. Adapun hasil tangkapan selama empat bulan (Mei-Agustus 2007) di wilayah Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman menemukan tikus sebanyak 775 ekor. Proporsi tikus yang tertangkap dalam rumah juga lebih besar dari tangkapan di luar rumah. Serologis positif ditemukan pada tikus maupun manusia. Serologis positif untuk tikus sebanyak 1 ekor dengan titer 1:16, sedangkan pada

halaman 18 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

spesimen manusia ditemukan sebanyak 20 orang (20 spesimen) dengan variasi titer: 1:8 (5 orang), 1:16 (5 orang), 1:32 (7 orang), 1:64 (2 orang), 1:128 (1 orang). Hasil surveilans yang menemukan: 1) adanya proporsi tangkapan tikus dalam rumah lebih besar dari tangkapan di luar rumah; 2) FI khusus 1 dan FI umum 2; dan 3) adanya serologis positif pada rodent, harus diwaspadai secara dini kemungkinan terjadinya penularan pes. Kewaspadaan dini dilakukan dengan cara meningkatkan surveilans terhadap manusia, ekstra trapping pada rodent serta dilakukan pengendalian pinjal, sesuai dengan pedoman penanggulangan pes bagi daerah fokus ataupun daerah terancam.

2.5 Survei Prevalensi Mikrofilaria (Survei Endemisitas Filariasis) Filariasis merupakan salah satu penyakit tular vektor prioritas. Departemen Kesehatan menetapkan eliminasi filariasis sebagai salah satu program prioritas nasional pemberantasan penyakit menular dengan strategi pengobatan massal bagi daerah endemis serta upaya pencegahan dan pembatasan kecacatan melalui tatalaksana kasus klinis Filariasis. Sebelum melaksanakan program ini setiap propinsi diharuskan melaksanakan pemetaan endemisitas filariasis dengan satuan wilayah kabupaten/kota. Sampai Tahun 2006 Propinsi DIY termasuk salah satu daerah yang belum diketahui derajat endemisitasnya. Pada tahun 2007, BBTKL-PPM Yogyakarta melaksanakan Survei Prevalensi Mikrofilaria, tepatnya adalah Survei Endemisitas Filariasis (SEF) di Propinsi DIY. Pelaksanaan SEF bertujuan menentukan derajat endemisitas filariasis kabupaten/kota di Propinsi DIY berdasarkan kriteria adanya penderita klinis kronis Filariasis dan atau Microfilaria rate (Mf-rate). Penyelenggaraan SEF selain melibatkan petugas dari BBTKL-PPM Yogyakarta, juga petugas dari Subdit Filariasis dan Schistosomiasis Ditjen. PP dan PL Depkes RI (sebagai narasumber), Dinas Kesehatan Propinsi DIY, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota se Propinsi DIY dan puskesmas setempat. Pelaksanaan SEF didahului dengan survei cepat kasus klinis kronis filariasis di 117 puskesmas. Selanjutnya di masing-masing kabupaten/kota dipilih satu desa/kelurahan dengan jumlah kasus kronis klinis terbanyak sebagai lokasi survei darah jari (SDJ). Sasaran SDJ adalah penduduk berusia 13 tahun ke atas, bertempat tinggal di sekitar penderita (tanpa membatasi radius berdasarkan jarak terbang nyamuk) dan memenuhi undangan aparat desa. Setiap lokasi diambil 500 subjek untuk diambil darah jarinya. Pengambilan darah jari dipusatkan di kantor desa/puskesmas/masjid dan dilakukan malam hari mulai pukul 20.00. Pewarnaan slide dilakukan tanpa fiksasi terlebih (sesuai kebijakan pusat). Sebahagian slide langsung diwarnai keesokan paginya, namun sebagian lainnya sempat tersimpan beberapa hari sebelum

halaman 19 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

dilakukan pewarnaan yang mengakibatkan kualitas beberapa slide kurang optimal untuk pembacaan hasil. Hasil survei cepat menemukan 37 kasus klinis kronis filariasis di Propinsi DIY (sesuai hasil Survei Cepat oleh puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota), terdistribusi: 7 kasus di Kota Yogyakarta, 3 kasus di Kabupaten Bantul, 2 kasus di Kabupaten Sleman, 3 kasus di Kabupaten Gunung Kidul, dan 22 kasus di Kabupaten Kulon Progo. Pemeriksaan pada 2.500 slide darah jari tidak ditemukan mikrofilaria atau mikrofilaria rate (Mf-rate) 0%. Mengacu pada pedoman penentuan endemisitas filariasis suatu daerah, maka kedua temuan di atas salah satunya memenuhi kriteria daerah endemis rendah. Sebagaimana disebutkan bahwa jika di suatu wilayah ditemukan penderita kasus kronis Filariasis dan atau Mf-rate < 1%, maka daerah tersebut termasuk kategori endemis rendah. Namun demikian, untuk menetapkan secara pasti status endemisitas wilayah survei masih perlu dilakukan konfirmasi guna memastikan apakah kasus klinis kronis yang dilaporkan benar adalah kasus Filarial. Oleh karena itu hasil SEF ini belum dapat digunakan untuk menetapkan status endemisitas Filariasis sesungguhnya di 5 kabupaten/kota di Propinsi DIY. Selain karena: kasus klinis kronis yang dilaporkan masih perlu konfirmasi, juga data Mf rate 0% hanya menggambarkan keadaan di satu desa wilayah survei untuk masing-masing kabupaten/kota. Dalam pedoman disyaratkan SDJ dilakukan minimal di empat site/lokasi. Dari hasil survei ini disarankan: 1) Puskesmas setempat menatalaksana secara tepat penderita klinis kronis filariasis yang ada; 2) Seluruh puskesmas di Propinsi DIY melakukan upaya promotif dan preventif berupa penyuluhan tentang penyakit filariasis dan cara pencegahannya melalui perbaikan sanitasi lingkungan guna mencegah tersedianya tempat perkembangbiakan vektor filariasis; 3) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Propinsi DIY melakukan bimbingan teknis Tata Laksana Kasus dan Upaya Promotif ke tingkat puskesmas; 4) Subdit. Filariasis dan Schistosomiasis Ditjen PP dan PL Depkes RI bersama BBTKL-PPM melakukan penapisan teknologi pemeriksaan mikrofilaria dan sosialisasi hasil penapisan; dan 5) Perlu penelitian lebih lanjut dengan perbaikan rancangan (penambahan site dan pemilihan teknik SDJ yang sensitif) guna mendapatkan hasil yang representatif tentang status endemisitas Filariasis serta dengan dukungan data entomologi (kapasitas vektorial). 3. DISEMINASI INFORMASI Penyebaran informasi merupakan salah satu komponen kegiatan surveilans, yakni sebagai lanjutan dari kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data hasil kajian yang dilakukan oleh BBTKLPPM Yogyakarta. Informasi yang disebarluaskan selain bersumber dari

halaman 20 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

hasil kajian oleh tenaga fungsional di bidang-bidang maupun instalasi laboratorium, juga informasi tentang kegiatan lain yang dilangsungkan di dalam maupun luar gedung BBTKL-PPM Yogyakarta. Kegiatan penyebaran informasi dilakukan melalui berbagai cara atau media. Pada tahun 2007, Bidang SE melakukan penyebaran informasi dalam bentuk: - Penerbitan Jurnal/Buletin - Penerbitan Media Informasi Kegiatan (MIK) - Pertemuan Diseminasi Informasi - Pertemuan Workshop Jejaring Surveilans Epidemiologi Penerbitan Jurnal/Buletin dilakukan dengan frekuensi 2 kali dalam setahun (edisi enam bulanan), sedangkan MIK diterbitkan 6 kali dalam setahun (edisi dua bulanan). Jumlah buletin dan MIK yang diterbitkan pada setiap edisi, masing-masing 200 eksemplar untuk buletin dan 125 eksemplar untuk MIK. Buletin dan MIK yang telah diterbitkan selanjutnya didistribusikan ke pihak-pihak terkait pada institusi kesehatan maupun institusi lain yang berkompoten. Secara umum sasaran pendistribusian buletin dan MIK untuk jajaran kesehatan, mencakup: Dirjen PP dan PL Depkes RI Jakarta, BBTKL-PPM, Dinas Kesehatan Propinsi/ Kabupaten/Kota dan Puskesmas setempat yang menjadi lokasi survei, serta instansi terkait lainnya di wilayah Propinsi DIY dan Propinsi Jawa Tengah. Hasil kegiatan penerbitan buletin dan MIK secara fisik telah mencapai 100%, tetapi untuk pendistribusiannya belum dapat terlaksana 100%, khususnya untuk buletin edisi ke 2 dan MIK edisi ke 5 dan ke 6. Selain itu, dalam upaya penyebaran informasi adalah melalui Pertemuan Diseminasi Informasi dan Pertemuan Workshop Jejaring Surveilans Epidemiologi. Ke dua kegiatan ini berfungsi sebagai wadah bertukar informasi antara BBTKL-PPM Yogyakarta, Jajaran kesehatan yang ada, serta mitra terkait lainnya di Propinsi DIY dan Jawa Tengah. Bantuk lain dari diseminasi informasi yang dilakukan adalah dengan adanya website BBTKL PPM Yogyakarta dengan alamat : www.btkljogja.or.id. Website ini memberikan informasi segala sesuatu tentang BBTKL PPM Yogyakarta, dari informasi umum institusi, pelayanan yang diberikan, kegiatan yang dilaksanakan dan juga ditampilkan abstrak kajian yang sudah dilakukan BBTKL PPM Yogyakarta. Tidak hanya memberikan informasi, umpan balik dari pembaca website BBTKL PPM Yogyakarta dapat disampaikan melalui alamat Email : info@btkljogja.or.id. Pemantauan terhadap website BBTKL PPM Yogyakarta maupun tanggapan terhadap masukan dari berbagai pihak relatif mudah dilaksanakan karena sejak tahun 2007 di BBTKL PPM Yogyakarta sudah tersedia koneksi internet. B. BIDANG ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN (ADKL) Program Bidang ADKL BBTKL-PPM Yogyakarta yang telah dicapai pada tahun 2007 meliputi kegiatan- kegiatan seperti berikut ini :

halaman 21 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

1. KAJIAN ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN 1.1 Monitoring Faktor Risiko Lingkungan di Pelabuhan Keberadaan Pelabuhan Tanjung Emas dengan segala kemampuan, fasilitas dan kinerjanya merupakan tempat bertemunya kepentingan pemilik barang dengan pemilik kapal, baik untuk ekspor, impor maupun angkutan antar pulau dan berbagai kepentingan pengurusan penumpang, hewan serta barang, akan berdampak terhadap eksistensi para pelaku ekonomi dan lingkungan pelabuhan. Dampak lingkungan dapat berupa menurunnya kualitas air dan udara di sekitar pelabuhan dan akan berdampak kepada manusia. Berdasarkan permasalahan di atas kajian ini bertujuan mendapatkan gambaran kualitas air tanah,limbah cair dan udara di sekitar pelabuhan dengan metodologi kajian Deskriptif. Pada umumnya masyarakat di sekitar pelabuhan sudah berperilaku hidup bersih dan sehat sebagian besar responden tidak mempunyai keluhan kesehatan yang berhubungan dengan kualitas air maupun udara tetapi 10% responden menyatakan paling tidak satu bulan sekali sakit perut. maupun 10 % menyatakan sesak napas,10 % panas dan 5 % mata merah. Hasil Pengujian Air minum yang diambil di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sebanyak 15 contoh uji secara fisik kimia memenuhi syarat Kepmenkes RI No.907/Menkes/SK/VII/2002 tetapi secara bakteriologis sebagian ( 20 % ) tidak memenuhi syarat. Air Bersih yang diambil di sekitar pelabuhan Tanjung Emas Semarang sebanyak 19 contoh uji, sebagian besar 89 % secara fisik kimia tidak memenuhi syarat air bersih sesuai Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990, karena parameter Natrium melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan sedangkan secara bakteriologi sebanyak 26 % tidak memenuhi syarat yang sebagian besar berasal dari sumur artesis PT Pelindo. Limbah cair dari Ballast kapal tidak memenuhi baku mutu terutama kadar BOD dan COD. Kualitas udara di Dermaga Samudera terburuk dibandingkan dengan kualitas udara di lokasi lainnya dengan parameter dominan TSP dan CO, disusul kemudian kualitas udara di terminal Penumpang. Tingkat kebisingan sesaat tertinggi juga di Dermaga Samudra Untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk akibat konsumsi air minum yang berasal dari air sumur gali , air minum isi ulang perlu dilakukan pembinaan dan pengawasan secara ketat pada kualitas minum dan air bersih oleh instansi yang berwenang, peningkatan kualitas air minum PDAM serta air bersih dari PT Pelindo. Disamping itu limbah cair dari ballast kapal perlu dikelola dengan benar sebelum dibuang ke laut.Untuk menekan dampak pencemaran udara perlu upaya-upaya penghijauan, pengaturan kepadatan lalu lintas, pengelolaan limbah industri di kawasan pelabuhan serta pemantauan udara secara berkala. 1.2 Kajian Gambaran Kualitas Udara Lingkungan Sekolah Dasar Di Kota Yogyakarta Tahun 2007 Pemeriksaan udara ambient di lingkungan sekolah dasar, pada mulanya merupakan pemeriksaan pendukung dari Kajian Dampak

halaman 22 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Pb (timah hitam) Terhadap Tingkat Kecerdasan Anak Sekolah yang akan dilaksanakan pada awal Bulan Agustus (pengambilan darah dan pemeriksaan IQ siswa kelas 2 SD). Kegiatan pada bulan Agustus ini tidak terlaksana karena adanya penyesuaian anggaran perjalanan dinas sehingga penelitian berubah menjadi Gambaran Kualitas Udara Lingkungan Sekolah Dasar Di Kota Yogyakarta hal ini didasari oleh hasil pemeriksaan udara ambient sebagai pemeriksaan pendukung kajian mula-mula. Pencemaran udara terjadi jika udara atmosfer dicampuri dengan partikel (debu,aerosol,timah hitam/ Pb) dan gas (CO, NOx, SOx, H2S, Hidrokarbon) atau radiasi yang berpengaruh buruk terhadap organisme hidup. Udara yang tercemar dengan zat tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbeda tingkatan dan jenisnya, tergantung dari macam, ukuran, dan komposisi kimiawinya. Pencemaran udara di Indonesia saat ini menjadi masalah yang semakin serius. Dalam kebijakan Pembangunan Kesehatan Indonesia 2010 program pengendalian pencemaran udara merupakan salah satu dari 10 program unggulan. Tujuan kegiatan ini diketahuinya dampak pencemaran timbal pada anak-anak usia sekolah dengan sasaran anak-anak SD di lokasi padat lalu lintas dan tidak padat lalu lintas. Direncanakan kegiatan pengukuran kadar timbal dalam darah/urin anak, kandungan timbal dalam makanan jajanan di lingkungan sekolah, air sumur sekolah dan kualitas udara lingkungan sekolah, dan tingkat kecerdasan anak. Namun kegiatan yang terlaksana hanya pengukuran kualitas udara saja, sehingga laporan yang tersusun adalah kualitas udara di sepuluh sekolah dasar kota Yogyakarta. Kegiatan dilaksanakan di Kota Yogyakarta di 10 sekolah dasar yang berada di kawasan padat lalu lintas dan bukan kawasan padat Pengambilan contoh uji udara untuk pemeriksaan kualitas udara ambient di lingkungan sekolah baru dilakukan sebanyak satu kali (dari 3 kali pengambilan contoh uji yang direncanakan). Hasil pemeriksaan udara di 10 sekolah adalah masih berada di bawah baku mutu kualitas udara ambient Propinsi DIY (berdasarkan Kep.Gub.DIY No 153 Th 2002) yang berarti hasil pemeriksaan udara di masing-masing titik pemeriksaan di lingkungan sekolah tidak ada yang melebihi baku mutu yang telah ditetapkan ( < NAB). Adapun hasil Pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut: Kebisingan 52 78,5 dB(A), SO2 = 5,54 -197,21g/m3 ; CO= 2300 -16100 g/m3 ; NO2 = 9,69 -39,32 g/m3 ; O3 = 7,39 40,37 g/m3 ; debu= 91,55 170,56 g/m3 dan Pb=0,0113 0,2837.g/m3

1.3 Studi Deskriptif Keberadaan Legionella di Tempat-Tempat Umum Legionellosis adalah suatu penyakit infeksi bakteri akut yang bersifat new emerging diseases. Secara keseluruhan baru dikenal 20 spesies Pertama kali wabah Legionellosis terjadi di Philadelphia Amerika Serikat pada tahun 1976 dengan jumlah kasus 182 dan kematian 29 orang (CFR 15,9%). Di Indonesia kasus ini ada di

halaman 23 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

sejumlah tempat antara lain di Bali (1996), di Karawaci Tangerang (1999), dan di sejumlah kota lainnya. Dari hasil survai tahun 2001 atas petugas air menara sistem pendingin di hotel-hotel di Jakarta dan Denpasar ditemukan hampir 90% pernah terpajan bakteri Legionella Tujuan kegiatan ini adalah diperolehnya data keberadaan bakteri legionella di lingkungan pada sarana hotel, rumah sakit, dan pusat kebugaran/perawatan tubuh/spa, dan tempat-tempat lain di Yogyakarta. Penularan Legionellosis pada manusia dapat melalui aerosol diudara, air minum yang terkontaminasi bakteri Legionella dan sebagainya. Keberadaan bakteri ini di sarana rumah sakit yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan infeksi nosokomial. Metodologi penelitian yang digunakan adalah Deskriptif. Adapun hasil pengujian Legionella pneumophila yang dilakukan di hotel, rumah sakit dan mall, dari 18 sampel yang di uji, 100 % dinyatakan negatif baik yang diambil di air sumber, air coolling tower, air spa, air corten, swab dari kran, swab shower, dan swab condenser. Untuk melindungi pengunjung, pasien, karyawan di TTU perlu pengawasan lebih intensif dan optimal.

1.4 Kajian Pengaruh Pencemaran Udara di Terminal Terhadap Kesehatan Masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan antara konsentrasi debu ambien di dalam dengan di sekitar terminal.Hubungan antara konsentrasi debu ambien, lamanya terpapar dengan gangguan fungsi paru.Perbedaan gangguan fungsi paru masyarakat di dalam dengan di sekitar terminal. Metodologi Penelitian dilakukan secara observasional dengan rancangan retrospective study, Berdasarkan hasil penelitian ada perbedaan konsentrasi debu ambien rata-rata di dalam terminal (52,0 g/m3 PM 2,5 dan 241,278 g/m3 TSP) dengan di sekitar terminal (65,389 g/m3 PM 2,5 dan 110,667 g/m3 TSP), dan rata-rata konsentrasi debu PM 2,5 untuk daerah sekitar terminal melebihi baku mutu ( PM2,5 , 65 g/m3). Tingginya debu TSP tidak selalu dibarengi/diikuti dengan tingginya debu PM 2,5, dan debu dengan ukuran 2,5 m (PM 2,5) lebih berpengaruh terhadap ketidak normalan fungsi paru dari pada debu total (TSP). Ada hubungan (p=0,028) antara konsentrasi debu ambien dengan gangguan fungsi paru [makin tinggi konsentrasi debu ambien, makin tinggi resiko terkena gangguan fungsi paru (tidak normal)]. Tidak dilakukan analisis hubungan antara lama tinggal dengan gangguan fungsi paru. Ada perbedaan (p=0,009) gangguan fungsi paru (tidak normal) masyarakat di dalam terminal dan di sekitar terminal.

halaman 24 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

2. KAJIAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 2.1 Survei jentik dan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes di Dusun Blimbingsari, Catur Tunggal, Depok, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang rawan terjadinya KLB DD/DBD, pada tahun 2006 telah dinyatakan sebagai KLB. Sedangkan Kabupaten Sleman walaupun tidak dinyatakan KLB, namun kasusnya cukup tinggi. Salah satu wilayah Sleman yang dinyatakan endemis adalah Dusun Blimbingsari Catur Tunggal Depok. Salah satu upaya pengendalian kasus adalah meminimalkan terjadinya penularan, yaitu dengan pengenalian vektor. Upaya pengendalian vektor yang paling efektif dan efisien adalah intervensi tempat perindukan nyamuk. Dalam rangka intervensi tersebut BBTKL PPM Yogyakarta melakukan survey tempat perindukan dengan tujuan mengukur indeks jentik, mengidentifikasi kontainer potensial, dan mengidentifikasi ragam spesies nyamuk. Survei dilakukan di wilayah Dusun Blimbingsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman. Sasaran survei adalah 5 titik kasus, masing-masing titik terdiri dari 1 rumah kasus dan 19 rumah di sekitarnya, sehingga total didapatkan 100 rumah. Survei dilakukan sebulan sekali selama 3 bulan, dimulai pada bulan Mei dengan metode wawancara dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, yaitu mengukur indeks jentik (container indexs/CI, house indexs/HI, bruto indexs/BI), angka bebas jentik (ABJ), dan prosentase kontainer potensial. Hasil kajian memberikan gambaran: Indeks jentik dari bulan Mei hingga Juli mengalami penurunan. HI = 46%, 41%, 22%; CI = 17%, 11%, 7%; dan BI = 99%, 58%, 32%. Dibandingkan dengan HI, nilai BI selalu lebih tinggi, ini memberikan gambaran bahwa pada rumah yang positif jentik/pupa terdapat lebih dari satu container yang positif jentik/pupa. Nilai ABJ dari bulan Mei hingga Juli berturut-turut sebagai berikut: 54%, 59%, 78%; jadi mengalami peningkatan, walaupun masih di bawah standar nasional sebesar 95%. Kontainer yang ditemukan positif jentik/pupa yaitu: bak mandi, pot/vas, drum/gentong/reservoir, penampung air dispenser, ember, penampung air kulkas, kaleng/botol bekas/pecahan kaca, tempat minum burung, aquarium, dan sumur. Proporsi kontainer bak mandi paling dominan dibanding yang lain pada 3 kali pengamatan, yaitu 38%, 33%, dan 23%. Ada beberapa kemungkinan hal ini bisa terjadi: a) bahwa membersihkan/menguras bak mandi belum menjadi kebiasaan yang kontinyu/rutin, dan b) waktu pengurasan lebih dari 56 hari sekali. Kontainer sumur dari 23 sumur yang diamati 26% positif jentik/pupa. Identifikasi ragam spesies nyamuk, dari 40 ekor: 5% merupakan spesies Aedes albopictus, dan 95% Aedes aegypti. 2.2 Kajian tempat perindukan nyamuk di Kabupaten Bantul

halaman 25 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Kajian ini dilakukan untuk mengukur indek jentik yang terdiri dari House Index (HI), Container Index (CI), dan Breteu Index (BI) serta mengidentifikasi karakteristik fisik tempat perindukan nyamuk di daerah endemis DBD. Kajian yang berjenis deskriptif Survei ini dilaksanakan di 5 dusun di Kabupaten Bantul yaitu Dusun Sidorejo, Sorowajan, Ngglondong, Ngipik, dan Kembaran. Unit sampel yang disurvei adalah rumah, dengan obyek pengamatan kontainer. Survei jentik dimulai dari rumah kasus yaitu rumah dimana ada anggota keluarganya yang pernah menderita penyakit DBD. Rumah yang akan disurvei untuk setiap dusun adalah 20 rumah terdiri dari 19 rumah yang berada di sekeliling rumah kasus dan 1 rumah kasus. Sehingga total untuk seluruh dusun ada 100 rumah. Survei jentik dilakukan empat kali yaitu pada Bulan April, Mei, Juni dan Juli 2007. Nilai Indeks jentik (HI, CI, dan BI) terendah yaitu 0 didapatkan pada waktu survei Bulan Mei di Dusun Ngipik, dan Bulan Juli di Dusun Ngglondong. Nilai indeks jentik tertinggi didapatkan dari waktu survei Bulan April; HI tertinggi yaitu 45% berasal dari Dusun Kembaran, CI tertinggi yaitu 16% dan BI 75% berasal dari Dusun Sidorejo. Dari hasil survei didapatkan rata-rata nilai HI masih diatas 5%, berarti masih diatas batas maksimal yang ditetapkan oleh Depkes. Sebagian besar nilai BI di semua dusun sama dengan nilai HI yang berarti jumlah kontainer positif jentik di satu rumah positif jentik rata-rata hanya 1 kontainer. Terdapat 11 jenis kontainer yang positif jentik yaitu gentong/tempayan, bak mandi, ember, tebangan bambu, reservoir, drum, dispenser, selokan, tempat minum burung, pot bunga, dan barang-barang yang sudah tidak terpakai (gelas plastik, kaleng bekas, keranjang sampah, ban bekas, kolam bekas. bekas tower, dan aquarium). Jenis kontainer yang dominan sebagai kontainer positif jentik untuk masing-masing dusun berbeda. Di dusun Sidorejo, Ngglondong, Ngipik dan Sorowajan jenis kontainer yang dominan sebagai kontainer positif jentik adalah bak mandi. Di Dusun Kembaran jenis kontainer yang dominan sebagai kontainer positif jentik adalah barang-barang bekas seperti ban, kaleng, dan kolam ikan yang sudah tidak terpakai. Lokasi kontainer yang mendominasi sebagai kontainer positif jentik untuk masing-masing dusun berbeda. Di Dusun Sidorejo dan Kembaran persentase kontainer positif jentik lebih banyak yang berlokasi di luar rumah daripada yang di dalam rumah. Di Dusun Sorowajan, Ngglondong, dan Ngipik persentase kontainer positif jentik lebih banyak yang berlokasi di dalam rumah daripada yang di luar rumah. Keberadaan tutup pada kontainer sangat mempengaruhi ada tidaknya jentik pada kontainer tersebut. Dari hasil survei didapatkan kontainer yang tidak mempunyai tutup/kontainer terbuka banyak yang menjadi tempat perindukan nyamuk dibandingkan kontainer yang tertutup untuk semua dusun.

halaman 26 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

2.3 Kajian keberadaan bakteri Leptospira sp di beberapa wilayah Propinsi Jawa Tengah Tujuan dilakukannya kajian adalah untuk mengetahui keberadaan bakteri Leptospira sp pada air, tanah dan tikus di daerah endemis leptospirosis juga karakteristik fisik-kimia tanah dan air. Kajian ini merupakan kajian deskriptif yang menggambarkan kondisi lingkungan yang potensial mengakibatkan kejadian leptospirosis. Jumlah sampel direncanakan sebanyak 100 rumah di sekeliling rumah kasus, sehingga diharapkan didapatkan 100 sampel air dan tanah untuk dilakukan pemeriksaan fisik, serta 200 ekor tikus untuk dilakukan pemeriksaan serologi. Penangkapan tikus dilakukan untuk menemukan tikus yang positif terinfeksi Leptospira sp dengan pemeriksan serologi. Pengambilan sampel air dan tanah di sekitar lokasi kasus dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri leptospira bebas serta untuk dilakukan pengukuran derajat keasaman dan suhu. Sampel diambil di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Batan Miroto Kec. Semarang Tengah, dan Kelurahan Dadapsari Kec. Semarang Utara. Setelah dilakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel didapat hasil sebagai berikut: pada sampel tanah, dari 54 titik semuanya (100%) teridentifikasi negatif bakteri leptospira bebas; pada sampel air selokan, dari 47 titik, teridentifikasi 14 (30%) titik positif bakteri leptospira bebas; pada sampel air sumur, dari 5 titik, teridentifikasi 2 (40%) titik positif bakteri leptospira bebas; pada sampel air sungai, dari 3 titik, teridentifikasi 1 (33%titik positif bakteri leptospira bebas; dan pada sampel tikus, dari 184 tikus yang tertangkap, teridentifikasi 10 (5%) tikus positif bakteri leptospira bebas. Adapun jenis tikus yang positif yaitu: Rattus norvegicus (tikus got/riol), Rattus exulans (tikus ladang), Rattus tanezumi (tikus atap). Sedangkan hasil pemeriksaan karakteristik lingkungan khususnya pada sampel air selokan, air sumur, dan air sungai tidak terdapat karakteristik lingkungan yang spesifik antara titik sampel yang teridentifikasi positif leptospira bebas maupun yang negatif. Artinya konsentrasi suhu, pH, kekeruhan, salinitas, DO, dan nitrat pada sampel yang positif leptospira terlihat sama dengan yang negatif leptospira. Berdasarkan hasil pemeriksaan di atas dengan diketahuinya bakteri leptospira pada tikus, air selokan, air sungai, maupun air sumur di sekitar kasus leptospirosis disimpulkan bahwa wilayah survey merupakan wilayah yang potensial terjadinya penularan leptospirosis. Sebagai saran, perlu dilakukan penelitian lanjutan, yaitu: keberadaan bakteri leptospirosis pada manusia; juga besarnya risiko faktor lingkungan terhadap kejadian penyakit leptospirosis, sehingga dapat diketahui faktor risiko potensial.

halaman 27 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Kajian Keberadaan virus avian influensa (H5) di lingkungan pasar tradisional dan analisa risikonya terhadap kesehatan manusia di Kabupaten Kulon Progo, Propinsi DI.Yogyakarta Penelitian ini ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan virus AI (H5) di lingkungan pasar tradisional dan perilaku penjual unggas yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya infeksi virus AI pada manusia. Penelitian dilaksanakan pada bulan PebruariSeptember 2007 di 8 Pasar tradisional, yang dikarakterisasi adanya penjual unggas yang juga memelihara unggas tersebut, dari 34 pasar tradisional yang ada di Kabupaten Kulonprogo. Data keberadaan virus AI-H5 diperoleh berdasarkan pengambilan contoh uji swab kloaka unggas dan tanah di sekitar penjual unggas, lalu pemeriksaan contoh uji menggunakan RT-PCR (Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction) dan identifikasi kultur sel dalam telur ayam berembrio dengan HI (Hemagglutination Inhibition) tes. Data perilaku penjual unggas diperoleh berdasarkan observasi dan wawancara. Hasil kajian ditemukan virus AI-H5 di lingkungan Pasar Sentolo, Pasar Gawok, dan Pasar Bendungan. Berdasarkan penelitian ini, didapatkan virus H5 pada 1 (25 %) dari 4 sampel tanah yang diambil di Pasar Sentolo, 2 (33,3 %) dari 6 sampel tanah dan 2 (33,3 %) dari 6 sampel swab kloaka unggas non ayam di Pasar Gawok, serta 1 (20 %) dari 5 sampel tanah di Pasar Bendungan. Sebagian besar responden tidak menggunakan alat pelindung diri lengkap saat berjualan, membersihkan kandang atau memelihara merawat unggas, dan tidak melakukan desinfeksi keranjang dan kandang unggas sebelum dikeluarkan dari lokasi pemeliharaan unggas. Sebagian besar responden sudah mencuci tangan dengan air dan sabun, serta lebih dari setengah jumlah responden mandi dengan air dan sabun, setelah selesai berdagang. 3. PELATIHAN ADKL Dalam menyelenggarakan fungsi Diklat belum sepenuhnya dilaksanakan, namun telah ikut berperan dalam Diklat BBTKL-PPM khusus untuk materi materi yang berkaitan dengan Bidang ADKL seperti: Dampak kualitas lingkungan terhadap kesehatan, Dampak kualitas limbah RS terhadap kesehatan dsb. Disamping itu peningkatan SDM bidang ADKL dilakukan dengan mengirimkan petugas mengikuti berbagai pelatihan antara lain dengan mengikut sertakan 2(dua) orang staf untuk mengikuti Diklat Teknis ADKL(ARKL) , yaitu 1(satu) orang dibiayai oleh DIPA BBTKL PPM Yogyakarta, dimana sebagai penyelenggaranya adalah BBTKL PPM Jakarta, dilaksanakan selama 4(empat) hari dari tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 2007 di Puncak Bogor. Sedangkan 1(satu) orang lagi dibiayai DIPA Direktorat Penyehatan Lingkungan Jakarta, dilaksanakan selama 7(hari) di Unsoed Purwokerto.

2.4

halaman 28 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Diklat Teknis ADKL/Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan ini bertujuan untuk mengenalkan, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan SDM dalam penilaian dokumen AMDAL khususnya telaah ADKL/ARKL suatu dampak pembangunan atau kegiatan Wajib AMDAL . Materi ajar yang di peroleh oleh peserta meliputi dasar- dasar Pengelolaan Lingkungan , Kebijakan Lingkungan, AMDAL, ADKL dan ARKL sebagai materi inti. Bentuk penghargaan yang diberikan kepada para peserta diklat yaitu berupa Sertifikat 4. KAJIAN PENILAIAN DOKUMEN AMDAL Bidang Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) merupakan salah satu bidang di BBTKL-PPM Yogyakarta yang mempunyai tugas antara lain mengevaluasi pelaksanaan analisis dampak lingkungan fisik, kimia dan biologi. Salah satu kegiatan bidang ADKL tahun 2007 ini yaitu melakukan telaah ADKL dalam AMDAL dari proyek pembangunan yang diperkirakan akan mempunyai dampak yang besar dan penting. Dipilihnya kegiatan pembangunan jalan tol ruas: Yogya-solo, Solo-Mantingan, Mantingan-Ngawi, Ngawi-Kertosono, karena lokasi pembangunan yang memanjang diperkirakan berdampak besar dan penting dari proyek pembangunan tersebut akan mengenai pada wilayah yang luas. Telaah ADKL dalam dokumen AMDAL pembangunan jalan tol dilakukan secara deskriptif, dengan mencermati data kesehatan apa yang disajikan, dan bagaimana aspek kesehatan masyarakat dibahas dalam dokumen tersebut. Telaahan dilakukan per-bagian sebagaimana susunan dokumen AMDAL pembangunan jalan tol. Diskusi dilakukan oleh tim ADKL untuk mengupas sajian aspek kesehatan masyarakat dengan mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) ADKL dalam AMDAL dan ARKL yang diterbitkan oleh Dirjen PP dan PL Depkes RI, Keputusan Menteri Kesehatan RI No.876/Menkes/SK/VIII tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKLl). Depkes RI, Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-124/12/1997 Tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Bapedal dan Materi Teknis Langkah-langkah Operasional Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) Dirjen P2PL Depkes RI. Dari hasil diskusi didapatkan bahwa uraian mengenai aspek kesehatan masyarakat yang telah menjadi bagian dalam dokumen AMDAL pembangunan jalan tol adalah hal yang positif, tetapi sebaiknya pembahasannya bisa lebih dipertajam. Berikut kesimpulan hasil telaah dan saran bagaimana sebaiknya aspek kesehatan masyarakat disajikan dalam dokumen ANDAL pembangunan jalan tol:

halaman 29 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Main issue tidak muncul pada rona lingkungan hidup, sehingga data pendukung main issue yang seharusnya ada pada rona lingkungan hidup tidak ada. Data prevalensi penyakit yang disajikan tidak up to date karena menampilkan data prevalensi penyakit per kabupaten yang dilewati pembangunan jalan tol. Pembahasan aspek kesehatan masyarakat dalam ruang lingkup studi tidak menyentuh sampai ke hal yang lebih spesifik mengenai dampak penyakit yang dapat muncul pada masyarakat. Dalam prakiraan dampak penting, pembahasan komponen kesehatan masyarakat hanya pada tahap konstruksi saja. Penyakit yang diprakirakan akan muncul adalah ISPA, sakit mata dan gangguan kenyamanan karena kebisingan dan getaran. Prakiraan dampak kesehatan dilakukan secara kualitatif. Aspek kesehatan masyarakat yang perlu ditambahkan dalam dokumen ANDAL yaitu: Main issue dan data pelengkapnya dalam rona lingkungan hidup Pembahasan ruang lingkup studi merujuk paradigma kesehatan lingkungan dimana evaluasi lingkungan diarahkan pada 4 simpul Pada prakiraan dampak penting komponen kesehatan masyarakat sebaiknya: 1) Dibahas pada setiap tahapan kegiatan yaitu tahap pra konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi dan operasi 2) Penyakit yang diprakirakan muncul merujuk pada penyakit yang menjadi main issue 3) Pembahasan komponen kesehatan tidak hanya kualitatif tetapi juga kuantitatif. Misalnya dengan menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Saran yang diberikan adalah : Disarankan keterlibatan pakar kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL lebih diintensifkan Tim penilai AMDAL disarankan lebih mencermati mengenai aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam dokumen AMDAL Dalam menyusun AMDAL sebaiknya tim penyusun mengacu Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-124/12/1997 mengenai panduan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan Sebaiknya masyarakat mengikuti dan terlibat dalam perkembangan proses pembangunan agar kesalahpahaman yang nantinya akan merugikan semua pihak dapat diminimalisasi. C. BIDANG PENGEMBANGAN TEKNOLOGI DAN LABORATORIUM (PTL) 1. UJI PETIK PENGAWASAN LINGKUNGAN Kegiatan uji petik pengawasan lingkungan dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran kualitas lingkungan di Propinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta dengan kegiatan berupa pemeriksaan/uji petik kualitas air badan air. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Maret 2007 terhadap 6 (enam) air badan air di Propinsi Jawa Tengah yaitu Sungai Jalidin di Kabupaten Klaten,

halaman 30 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Sungai Tanggul di Kota Surakarta, Sungai Elo di Kabupaten Magelang, Sungai Bogowonto di Kabupaten Purworejo, Sungai Siwaluh di Kabupaten Karanganyar dan Sungai Kaligarang di Kabupaten Semarang. Air badan air di Propinsi D.I. Yogyakarta direncanakan akan diperiksa 11 Badan air, namun hanya dapat dilaksanakan pada 5 (lima) air badan air yaitu sungai Serang di Kabupaten Kulonprogo, Sungai Oya di Kabupaten Gunung Kidul, Sungai Gadjah Wong di Kota Yogyakarta, Sungai Winongo dan Sungai Code di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Hasil kegiatan menunjukkan kualitas Air badan air pada musim kemarau di Propinsi Jawa Tengah dari 6 air badan air untuk parameter pencemar seperti COD yang diambil pada lokasi sebelum masuk kota, tengah kota, dan setelah keluar kota 50% tidak memenuhi syarat baku mutu sedangkan di D.I. Yogyakarta Parameter COD sebesar 20 % tidak memenuhi syarat baku mutu dan 100% parameter DO tidak memenuhi baku mutu. Hal ini bisa terjadi karena adanya pengaruh dari debit air sungai yang alirannya sangat lambat akibat musim kemarau, juga adanya buangan limbah rumah tangga dan buangan limbah cair industri. 2. AKREDITASI LABORATORIUM Kegiatan akreditasi laboratorium secara umum dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan jaminan sistem mutu laboratorium penguji. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan sebanyak 5 paket kegiatan antara lain : Audit eksternal dalam rangka peningkatan jaminan sistem mutu laboratorium, uji banding antar laboratorium terakreditasi dalam rangka peningkatan jaminan sistem mutu laboratorium penguji, uji profisiensi dalam rangka peningkatan jaminan sistem mutu laboratorium penguji, Pertemuan teknis jejaring kerja menuju laboratorium akreditasi sesuai ISO/IEC 17025 dan Dukungan pelaksanaan akreditasi laboratorium dengan pencapaian masing-masing kegiatan sebagai berikut : Audit eksternal dalam rangka peningkatan jaminan sistem mutu laboratorium Kegiatan akreditasi laboratorium bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu laboratorium sesuai ISO/IEC 17025-2005. Target kegiatan adalah sebanyak 2 paket namun baru dilaksanakan sebanyak 1 paket (50%). Sasaran kegiatan ini adalah untuk melakukan evaluasi terhadap kesesuaian kegiatan laboratorium dan sarana prasarana pendukung dengan dokumen sistem manajemen mutu yang meliputi dokumen Panduan mutu, prosedur pelaksanaan, instruksi kerja dan furmulir. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 23 s/d 24 April 2007 di Laboratorium BBTKL-PPM Yogyakarta melibatkan 2 assesor dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Hasil kegiatan ditetapkan bahwa Akreditasi Laboratorium BBTKL-PPM Yogyakarta dapat dipertahankan dengan masih ditemukan 16 jenis ketidaksesuaian

halaman 31 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

dokumen dengan perincian katagori III (ringan) sebanyak 3 Jenis ketidaksesuaian dan katagori II (sedang) sebanyak 13 jenis ketidaksesuaian dan katagori I (berat) tidak ditemukan adanya ketidaksesuaian dokumen. Uji banding antar laboratorium terakreditasi dalam rangka peningkatan jaminan sistem mutu laboratorium penguji Kegiatan uji banding antar laboratorium terakreditasi bertujuan untuk meningkatkan jaminan sistim manajemen mutu laboratorium secara external. Target kegiatan adalah pemeriksaan uji banding sebanyak 16 contoh uji masing-masing 4 parameter untuk dikirim ke laboratorium BBTKL-PPM Jakarta, Pusarpedal, BBTKL-PPM Surabaya dan BPPI. Kegiatan ini baru dilaksanakan sampai tahap koordinasi pada tanggal 12 s/d 15 Juni 2007 di Laboratorium BBTKL-PPM Surabaya dan tanggal 25 /d 18 Juni 2007 ke Laboratorium BBTKL-PPM Jakarta namun belum sampai pada tahab pelaksanaan pengiriman contoh uji (0%). Uji profisiensi dalam rangka peningkatan jaminan sistem mutu laboratorium penguji Kegiatan uji profisiensi bertujuan untuk meningkatkan jaminan sistim manajemen mutu laboratorium dengan metode melakukan uji banding terhadap contoh uji untuk diperiksa di laboratorium BBTKL-PPM Yogyakarta yang sebelumnya contoh uji ini telah diuji oleh laboratorium lain (Pusarpedal dan KAN). Target kegiatan sebanyak 4 paket dan terlaksana 3 paket (75%). Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juli 2007 dengan sampel berasal dari laboratorium KAN dan pada bulan September 2007 dengan sampel berasal dari laboratorium KAN dan Pusarpedal. Hasil kegiatan dari KAN untuk sampel air limbah dari 8 parameter yang diuji terdapat 2 parameter yang tidak sesuai (out lier) sementara untuk sampel padatan dari 5 parameter yang diuji keseluruhan telah sesuai (100%). Sedangkan hasil kegiatan dari Pusarpedal untuk sampel air bersih dari 4 parameter yang diuji terdapat 1 parameter yang tidak sesuai. Pertemuan teknis jejaring kerja menuju laboratorium akreditasi sesuai ISO/IEC 17025 Kegiatan pertemuan teknis jejaring kerja dilaksanakan dengan tujuan untuk membantu meningkatakan kemampuan laboratorium dan mutu hasil uji pada laboratorium BBTKL-PPM/BTKL lainnya dalam mendukung tupoksi. Metode kegiatan adalah dengan melakukan kunjungan ke BTKL dengan kelas dibawahnya dalam rangka melakukan assesment, supervisi, bimbingan teknis dan manajemen dalam rangka mempersiapkan laboratorium yang siap diakreditasi serta melakukan kunjungan ke Laboratorium lain yang mempunyai kemampuan lebih baik dalam rangka meningkatkan

halaman 32 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

kemampuan laboratorium terakreditasi. Untuk kegiatan assesment ke BTKL kelas di bawahnya dari target 2 lokasi yang direncanakan belum terlaksana keseluruhan (0%), sementara untuk kunjungan ke Pusarpedal dan KAN telah terlaksana (100%). 2.5 Dukungan Pelaksanaan Akreditasi Laboratorium Tujuan kegiatan dukungan pelaksanaan akreditasi laboratorium adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan akreditasi laboratorium sesuai dengan ISO/IEC 17025-2005. Kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan pengendalian mutu internal di masing-masing laboratorium (biologi, kimia, dan gas) secara terus menerus dan audit internal serta kaji ulang manajemen minimal 1 tahun sekali. Kegiatan ini telah dilaksanakan mulai bulan Januari s/d Desember 2007 dengan pencapaian 100%. Hasil kegiatannya adalah laporan pengendalian mutu internal di laboratorium termasuk uji profisiensi, laporan audit internal dan laporan kaji ulang manajemen yang berisi temuan ketidaksesuaian kegiatan dibandingkan dengan dokumen kendali manajemen mutu laboratorium sesuai ISO/IEC 17025 2005 dan laporan tindakan perbaikan yang telah dilakukan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan sistim kemajuan mutu laboratorium. 3. PENGEMBANGAN METODA DAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kegiatan pengembangan metode dan teknologi pengelolaan lingkungan secara umum dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan Januari sampai bulan Desember 2007 dengan target 7 kegiatan yang di rencanakan berhasil diselesaikan sebanyak 6 kegiatan (85,7%). Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah : 3.1 Penyediaan depot air isi ulang di tempat pariwisata. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Oktober s/d Desember 2007 dengan tujuan untuk tersedianya sarana air minum bagi para pengunjung tempat wisata. Hasil kegiatan adalah telah berhasil dibuat alat damiu sebanyak 2 unit. 3.2 Pembuatan model penangkap jentik pada sumur/parit Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Oktober s/d Desember 2007 dengan tujuan untuk mendapatkan model penangkap jentik pada sumur gali atau parit. Hasil kegiatan diperoleh hasil bahwa model penangkap jentik yang dibuat mampu untuk menangkap jentik. 3.3 Kajian efektifitas berbagai model/propotype ventilasi UV pada bangsal perawatan Rumah Sakit Kajian efektifitasi ventilasi ultraviolet pada bangsal rumah sakit dengan hasil Ventilasi UV yang telah dipasang di Rumah Sakit Umum Muntilan, Rumah Sakit Pusat Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga

halaman 33 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

dan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta mampu menurunkan jumlah kuman udara, jumlah kuman lantai dan dinding dengan efisiensi penurunan sebesar 55100%. Model ini juga mampu meniadakan bakteri patogen (Streptococcus haemoliticus dan Pseudomonas aeruginosa) dari udara, lantai, dan dinding. 3.4 Model pengolahan limbah sputum di sarana kesehatan Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Mei s/d Juli 2007 di RS Pusat Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga, BP4 Mangkuyudan, Puskemas Banguntapan dan BBKPM Surakarta dengan tujuan untuk mengetahui kriteria disain Model pengolahan Limbah Sputum dg metode desinfeksi kaporit, cara pembakaran dan filtrasi pasir aktif dalam meminimalisasi baksil patogen infeksius tbc. Hasil kegiatan adalah pengolahan limbah padat sputum model incenerator; model filter desinfeksi; model chlorin digesty mampu meminimalisasi baksil tbc dengan parameter pengujian pemeriksaan mikrobiologi klinis Bakteri Tahan Asam (BTA) negatip dan pemeriksaan kultur Bakteri dengan medium Kudoh tidak tumbuh. Pengolahan limbah Sputum Model Incenerator dengan suhu 100o C mampu meminimalisasi basil tbc dengan parameter pengujian pemeriksaan mikrobiologi klinis Bakteri Tahan Asam (BTA) negatip dan pemeriksaan kultur bakteri dengan medium Kudoh tidak tumbuh, sementara untuk pengolahan limbah Sputum Model Filter Desinfeksi dengan tebal unggun 65 cm dan variasi diameter media unggun 18 mesh mampu meminimalisir basil tbc dengan parameter pengujian pemeriksaan mikrobiologi klinis Bakteri Tahan Asam (BTA) negatip dan pemeriksaan kultur bakteri dengan medium Kudoh tidak tumbuh. Dari ketiga model tersebut yang paling efektif adalah model incenerator. 3.5 Kajian pemantauan kualitas lingkungan di asrama haji Donohudan. Kajian pemantauan kualitas lingkungan di asrama haji Donohudan. Kegiatan ini telah dilaksanakan pada bulan Januari s/d Desember 2007 di Asrama haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah dengan tujuan untuk mendapatkan data kualitas sanitasi pada asrama haji. Hasil kegiatan adalah diketahuinya pengelolaan sanitasi lingkungan yang terdiri dari pengelolaan limbah padat/sampah, pengelolaan limbah cair, penyediaan air bersih, kualitas udara ruangan dan lingkungan/halaman , uji swab dinding, lantai dan kursi. 3.6 Kajian efektifitas pemanfaatan cangkang kerang terhadap penurunan Fe pada air minum Kajian efektifitas pemanfaatan cangkang kerang terhadap penurunan kadar besi dengan hasil cangkang kerang mampu menurunan kadar Fe rata-rata dari 1,2 PPM menjadi 0,2 PPM dan peningkatan pH dari 6,9 menjadi 7,2, dan air menjadi tidak berwarna atau jernih.

halaman 34 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

4. PENYELENGGARAAN KALIBRASI Kegiatan kalibrasi dilaksanakan dengan tujuan untuk mempertahankan dan memelihara validitas kegunaan peralatan laboraturium. Pelaksanaaan kegiatan kalibrasi dilakukan secara in situ di laboratorium BBTKL-PPM Yogyakarta dan membawa peralatan ke laboratorium akreditasi di luar BBTKL-PPM Yogyakarta. Kegiatan kalibrasi in situ mendatangkan petugas kalibrasi alat dari PT.MIS Semarang dan dari BBNNP Yogyakarta telah dilaksanakan pada tanggal 2-4 Mei 2007 dan 12-13 Desember 207 ke Laboratorium kalibari di Semarang dan tanggal 7-9 Mei 2007 dan 1719 Desember 2007 ke laboratorium kalibrasi di Jakarta, dengan hasil kegiatan telah terkalibrasinya alat laboratorium 1 paket sebanyak 179 alat (100%) dikalibrasi . 5. PENYUSUNAN PEDOMAN PEMERIKSAAN Kegiatan penyusunan pedoman pemeriksaan parameter kimia air dan padatan terdiri dari pengujian DHL, Fluorida, Fosfat, Surfaktan anionik, Permanganat, Perak, Nitrogen total dalam padatan, Krom total dalam padatan, timbal total dalam padatan. Pedoman pengujian Biologi terdiri dari pengujian plankton dan benthos. Pedoman pengujian fisika kimia udara terdiri dari pengujian Sulfur dioksida (SO2) dan Ozon (O3). D. PELAYANAN LABORATORIUM DAN HASIL PEMERIKSAAN 1. PEMERIKSAAN SAMPEL TAHUN 2003 2007

12,000

J umlah

9,000 6,000 3,000 2003 2004 2005 2006 2007

2003 Jumlah Contoh Uji 10,002

2004 8,884

2005 8,980

2006 5,759

2007 5,908

Grafik Jumlah Contoh Uji Yang Diperiksa BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2003-2007. 2. HASIL PEMERIKSAAN SAMPEL PASIF TAHUN 2007 BBTKL-PPM sebagai institusi yang melaksanakan layanan laboratorium di bidang lingkungan, menghasilkan/memiliki data kualitas lingkungan, mencakup kualitas air (air bersih, air minum dan air limbah/limbah cair) dan kualitas udara (udara ambien) yang

halaman 35 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

diperoleh dari hasil pemeriksaan sampel air maupun udara dari konsumen (pengguna layanan laboratorium). Disadari bahwa data kualitas air ataupun kualitas udara dari contoh uji yang diperiksa tersebut belum dapat mewakili gambaran sesungguhnya tentang kualitas lingkungan dimana contoh uji berasal. Namun demikian informasi tersebut dapat menjadi bahan rekomendasi kepada pihak terkait untuk melakukan upaya dini dalam pencegahan dan pengendalian penyakit yang diakibatkan oleh kualitas lingkungan yang buruk. 2.1 Hasil Pemeriksaan Sampel Air Minum Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Jenis air minum meliputi : air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga, air yang didistribusikan melalui tangki, air kemasan dan air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman. Pemeriksaan kualitas air minum oleh BBTKL PPM Yogyakarta meliputi pemeriksaan parameter terbatas, yaitu : 1. Pemeriksaan fisika : Bau, TDS, kekeruhan, rasa,suhu dan warna. 2. Pemeriksaan kimia : Fluorida, Nitrat (NO3), Nitrit (NO2), Sianida, Ammonia, Besi, Deterjen, Hidrogen Sulfida, Kesadahan, Klorida, Mangan, Natrium, pH dan Sulfat. 3. Pemeriksaan bakteriologi : jumlah E.Coli dan total Coliform Jumlah contoh uji terolah yang diperiksa Laboratorium Fisika Kimia air periode Tahun 2007 adalah 229 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut :
Jatim, 2.18% Jateng, 20.5 %

DIY, 77.29%

Grafik Asal Contoh Uji Air Minum Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji air minum berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 77,29%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta

halaman 36 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

maupun Jawa Tengah memenuhi nilai ambang batas persyaratan air minum, yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut :
80 60 40 20 0 DIY JATENG 32 % 21 % 68 % 79 %

MS TMS

Grafik Kualitas Contoh Uji Air Minum Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007. Parameter yang tidak memenuhi persyaratan berturut-turut sebagai berikut : bau;kekeruhan;warna;rasa;Fe;Mangan;NO3;pH dan Na. Jumlah contoh uji terolah yang diperiksa Laboratorium Biologi Lingkungan periode Tahun 2007 adalah 287 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut:

Jateng 30%

DIY 70%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Air Minum Yang Diperiksa di Laboratorium Biologi Lingkungan BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007. Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji air minum berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 70%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah memenuhi nilai ambang batas persyaratan air minum, yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut.

halaman 37 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

100 75 50

79 %

82 %

21 % 25 0 DIY JATENG 18 %

MS TMS

Grafik Kualitas Contoh Uji Air Minum Yang Diperiksa di Laboratorium Biologi Lingkungan BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Parameter biologi yang tidak memenuhi persyaratan adalah bakteri coliform dan colitinja.

2.2 Hasil Pemeriksaan Sampel Air Bersih Jumlah contoh uji air bersih terolah yang diperiksa Laboratorium Fisika Kimia Air periode Tahun 2007 adalah 577 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut

Jatim, 1%

Jateng, 17 %

DIY, 83%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Air Bersih Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007. Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji air bersih berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 83%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah memenuhi nilai ambang batas persyaratan air minum, yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut.

halaman 38 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

66 % 70 60 50 40 30 20 10 0 DIY J ATENG 34 % 38 % 62 %

MS TMS

Grafik Kualitas Contoh Uji Air Bersih Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Parameter yang tidak memenuhi persyaratan berturut-turut sebagai berikut :Bau;kekeruhan;Fe;Na;NO3-N;KMnO4;Mn;F;CaCO3;Cl;NO2N;Rasa dan pH. Jumlah contoh uji air bersih terolah yang diperiksa Laboratorium Biologi Lingkungan periode Tahun 2007 adalah 330 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut
Jateng 12%

DIY 88%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Air Bersih Yang Diperiksa di Laboratorium Biologi Lingkungan BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji air bersih berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 88%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah tidak memenuhi nilai ambang batas persyaratan air bersih , yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut.

halaman 39 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

70 % 70 60 50 40 30 20 10 0 DIY JATENG 30 % 41 % 59 %

MS TMS

Grafik Kualitas Contoh Uji Air Bersih Yang Diperiksa di Laboratorium Biologi Lingkungan BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007. Parameter biologi yang tidak memenuhi persyaratan adalah bakteri coliform dan colitinja. 2.3 Hasil Pemeriksaan Sampel Limbah Cair Jumlah contoh uji Limbah Cair Hotel Bintang 3,4,5 yang diperiksa Laboratorium Fisika Kimia Air periode Tahun 2007 adalah 62 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut :

Jateng 2%

DIY 98%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Limbah Cair Hotel Bintang 3,4,5 Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji limbah cair hotel bintang 3,4,5 berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 98%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah memenuhi nilai ambang batas persyaratan limbah cair , yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut :

halaman 40 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

100 80 60 40 20 0 DIY 61 % 39 %

100 %

MS TMS
0%

J ATE NG

Grafik Kualitas Contoh Uji Limbah Cair Hotel Bintang 3,4,5 Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007. Parameter yang tidak memenuhi persyaratan adalah BOD, COD, TSS dan Deterjen. Jumlah contoh uji Limbah Cair Hotel Rumah Sakit yang diperiksa Laboratorium Fisika Kimia Air periode Tahun 2007 adalah 86 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut :

Jateng 16%

DIY 84%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Limbah Cair Rumah Sakit Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji limbah cair Rumah Sakit berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 84%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah tidak memenuhi nilai ambang batas persyaratan limbah cair , yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut :

halaman 41 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

100 80 60 40 20 0 DIY 8%

92 %

57 % 43 %

MS TMS

J ATENG

Grafik Kualitas Contoh Uji Limbah Cair Rumah Sakit Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007. Parameter yang tidak memenuhi persyaratan adalah BOD, COD, TSS dan PO4. 2.4 Hasil Pemeriksaan Sampel Udara Jumlah contoh uji udara terolah yang diperiksa Laboratorium Fisika Kimia Gas dan Radiasi periode Tahun 2007 adalah 577 contoh uji dengan proporsi sebagai berikut :

Jateng 32%

DIY 68%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Udara Ambien Yang Diperiksa Laboratorium Fisika Kimia Gas dan Radiasi BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji udara ambien berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 68%. Sebagian besar contoh uji, baik yang berasal dari DI Yogyakarta maupun Jawa Tengah memenuhi nilai ambang batas persyaratan udara ambien , yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut :

halaman 42 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

95 % 100 80 60 40 20 0 DIY J ATENG 5% 13 % 87 %

MS TMS

Grafik Kualitas Contoh Uji Udara Ambien Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Gas dan Radiasi BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Parameter yang tidak memenuhi persyaratan berturut-turut sebagai Debu (TSP); SO2 dan NO2.

Jateng 4%

DIY 96%

Grafik Proporsi Asal Contoh Uji Kebisingan Yang Diperiksa Laboratorium Fisika Gas dan Radiasi BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Dari Grafik di atas, terlihat bahwa sebagian besar contoh uji kebisingan berasal dari DIY, dengan prosentase sebesar 96%. Sebagian besar contoh yang berasal dari DI Yogyakarta maupun dari Jawa Tengah memenuhi nilai ambang batas persyaratan kebisingan sesuai peruntukannya , yang lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut :

halaman 43 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

100 80 60 40 20 0 DIY 67% 33 %

100 %

MS TMS
0%

J ATE NG

Grafik Kualitas Contoh Uji Kebisingan Yang Diperiksa di Laboratorium Fisika Kimia Gas dan Radiasi BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 E. PENUNJANG PROGRAM 1. ANGGARAN a. Alokasi dan Realisasi Anggaran Periode Tahun 2003 2007
12,000,000 8,000,000

Alokasi dan Realisasi (Dlm Ribuan Rupiah)

4,000,000 2003 2003 2004 1,683,843 1,681,467 2004 2005 6,199,000 5,918,877 2005 2006 2006 9,307,399 8,310,067 2007 2007 10,285,43 9,023,918

Alokasi Realisasi

923,374 906,289

Grafik Alokasi dan Realisasi Anggaran BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2003 s/d 2007 Dari grafik di atas terlihat bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan PAGU anggaran. Pada tahun 2007 PAGU awal adalah Rp 11,624,343,000,- , namun dengan adanya beberapa penyesuaian anggaran yang digunakan untuk ASKESKIN serta penyesuaian PAGU anggaran perjalanan dinas lainnya sesuai surat Menteri Keuangan nomor S. 348/MK.02/2007 Tanggal 30 Juli 2007 tentang Penyesuaian belanja perjalanan dinas tidak mengikat tahun anggaran 2007 maka PAGU anggaran setelah revisi terakhir adalah sebesar Rp 10,285,438,000,-. b. Target dan Realisasi PNBP Periode Tahun 2003 2007

halaman 44 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

600,000

Target dan Realisasi (Dlm Ribuan Rupiah)

400,000 200,000 2003


2003

2004
2004 363,473 376,171

2005
2005 350,000 371,823

2006
2006 450,000 287,626

2007
2007 525,000 567,270

Target penerimaan R ealisasi Penerimaan

500,000 467,606

Grafik Target dan Realisasi Penerimaan PNBP BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2003 s/d 2007 Dari grafik di atas terlihat bahwa terjadi fluktuasi realisasi penerimaan PNBP, pada tahun 2003 dan 2006 target tidak tercapai. Pada tahun 2004, 2005 dan 2007 sudah melebihi target. Pada tahun 2007 target mencapai 108,65%. Target pada tahun 2007 ini terlampaui karena ada pemasukan dari kegiatan rutin sebesar Rp 443.165.780,- dan kegiatan temporer sebesar Rp 123.001.776,- yang diperoleh dari penjualan aset lainnya yang rusak/dihapuskan, pendapatan jasa lembaga keuangan (jasa giro), pendapatan bea lelang, penerimaan pengembalian belanja pegawai dan pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pengadaan barang/jasa pemerintah.

500,000

Target dan Realisasi (Dlm Ribuan Rupiah)

250,000 2003 2003 2004 2004 2005 2005 2006 2006 2007 2007

Target penggunaan

425,000 308,952 297,500 382,500 450,337

R ealisasi Penggunaan 397,465 319,745 316,050 244,482 285,643

Grafik Target dan Realisasi Penggunaan PNBP BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2003 s/d 2007 Dari dua grafik di atas terlihat bahwa realisasi penggunaan berbanding lurus dengan realisasi penerimaan, kecuali pada tahun 2007 dimana realisasi penerimaan tinggi, tetapi realisasi penggunaan hanya 50,3% dari penerimaan PNBP. 2. KETENAGAAN BBTKL PPM YOGYAKARTA

halaman 45 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

Situasi ketenagaan BBTKL PPM Yogyakarta dapat dilihat pada grafik berikut.
50 25 0 2003
2003 Pasca S arjana S arjana Akademi S MA/ S ederajat <S MA 9 20 32 42 8

2004
2004 10 23 35 45 9

2005
2005 13 35 37 47 9

2006
2006 13 36 30 41 10

2007
2007 15 37 29 45 9

Grafik Proporsi Sumber Daya Manusia BBTKL PPM Yogyakarta Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2003 s/d 2007 Dari grafik di atas terlihat bahwa terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (tingkat pendidikan) pegawai BBTKL PPM Yogyakarta dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007. Menurut jenis jabatannya, pegawai BBTKL PPM Yogyakarta pada tahun 2007 dapat digolongkan sebagai berikut :
Fs. Umum (41) Struktural (17) Fs. Pranata Lab Kes (47)

Fs. Analis Kepeg (2)

Fs. Pranata Humas (11)

Fs. Epidemiolog (6)

Fs. Sanitarian (13)

Grafik Proporsi Sumber Daya Manusia BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007 Menurut Jabatan 3. SARANA DAN PRASARANA Kantor BBTKL-PPM Yogyakarta saat ini menempati gedung eks Diklat Kanwil Departemen Penerangan Propinsi DIY yang terletak di Jl. Wiyoro Lor, Baturetno, Banguntapan, Bantul, dengan luas tanah 2.542 m2 dan luas bangunan 1.780 m2, dengan cara pinjam pakai sesuai SK Gubernur DIY Nomor 21/12/2002 tanggal 18 September 2002 dan surat perjanjian No. 011/2504/BU tanggal 4 Desember 2002. Dalam perkembangannya dilakukan rehabilitasi dan penambahan gedung. Pada tahun 2002 dilaksanakan rehabilitasi gedung BTKL Yogyakarta yang dilaksanakan oleh

halaman 46 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

pemborong CV. Matra Karya dengan nomor kontrak PL.00.07.34 Tanggal 21 September 2002 dan nilai kontrak sebesar Rp 1.011.849.300,-. ( Nilai fisik Rp 919.863.000,-), Pada tahun 2003 dilaksanakan rehab gedung A BTKL Yogyakarta yang dilaksanakan oleh pemborong CV. Matra Karya dengan nomor kontrak PL.00.07.75 Tanggal 23 Juni 2003 dan nilai kontrak Rp 147.691.000,-. Pada tahun 2005 dilaksanakan perawatan gedung kantor BBTKL PPM Yogyakarta berupa rehabilitasi gedung B dan C yang dilaksanakan oleh pemborong PB. Indah Karya dengan nomor kontrak PL.00.07.35 tanggal 1 September 2005 dan addendum kontrak No. PL.00.07.50 tangal 19 Nopember 2005 dan nilai kontrak sebesar Rp 529.055.000,-Pada tahun 2006 dilaksanakan pembangunan Rumah Negara serta Prasarana dan Sarana Gedung BTKL PPM Yogyakarta yang dilaksanakan oleh pemborong CV. Wahyu Utama dengan nomor kontrak PL.00.07.36.c Tanggal 2 Oktober 2006 dan nilai kontrak sebesar 229.248.000,-. Pada tahun yang sama dilaksanakan pembangunan gedung Laboratorium Biomarker dan struktur lantai 2 laboratorium Entomologi yang dilaksanakan oleh PB. Pembangunan Jaya dengan nomor kontrak PL. 00.07.35 tanggal 26 September 2006 dan nilai kontrak sebesar Rp 243.656.000,- .Pada tahun 2007 dilaksanakan pembangunan gedung khusus berupa penyempurnaan/lanjutan pembangunan gedung laboratorium Biomarker dan Entomologi yang pengerjaannya dilaksanakan oleh CV. Cakra Jaya dengan Surat Perintah Kerja tanggal 16 Juli 2007 Nomor PL.00.07.20 dan nilai kontrak sebesar Rp 175.443.000,-. Pada tahun yang sama dilaksanakan pembangunan gedung parkir kendaraan roda dua yang pengerjaannya dilakukan oleh CV. Karya Buana Lestari dengan Surat Perintah Kerja tanggal 10 September 2007 Nomor PL.00.07.40a dan nilai kontrak sebesar Rp 483.826.000,-. Selain itu dilaksanakan pula rehabilitasi gedung A dan B pengerjaannya dilaksanakan oleh CV. Putra Bakti Sarana dengan Surat Perintah Kerja tanggal 4 Juni 2007 Nomor PL.00.07.10 dan nilai kontrak sebesar Rp 650.854.000,Kendaraan bermotor sebagai sarana operasional sehari-hari sampai pada tahun 2007 sejumlah 11 unit kendaraan bermotor roda empat dan 21 unit kendaraan bermotor roda dua. Untuk melancarkan operasional kantor sehari-hari tersedia dukungan alat kantor berupa satu unit mesin fotocopy, 25 unit pesawat telpon dengan tiga jaringan nomor telepon yang salah satunya digunakan untuk faksimili, lemari kerja, meja kerja, filling cabinet, AC split, Personal Komputer , laptop, notebook, printer, LCD dan lain-lain. 4. PENGEMBANGAN LABORATORIUM Instalasi BTKL PPM Yogyakarta sejumlah 19 instalasi, yang 11 instalasi diantaranya adalah laboratorium. Sampai dengan tahun 2007 laboratorium yang telah terakreditasi adalah laboratorium biologi lingkungan (4 parameter), laboratorium fisika kimia air (23 parameter) dan laboratorium fisika kimia gas dan radiasi (3 parameter). Laboratorium Pemberantasan Penyakit

halaman 47 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Tupoksi BBTKL PPM Yogyakarta. Adapun kemampuan pengujian masing-masing laboratorium sebagai berikut : Instalasi Laboratorium Mikrobiologi
No 1. Parameter yang Diuji Bakteri Gram Negatif ( 147 Species ) Bakteri Gram Positif ( 171 Species ) Parameter yang Diuji Hepatitis B (antigen) Hepatitis C (antibody) HIV Jenis Sampel Isolat Bakteri Jenis Pengujian Identifikasi dan Uji Resistensi Metode Pengujian Otomatis (Microbial Analiser) Peralatan BD Phoenix

2.

Isolat Bakteri

Identifikasi dan Uji Resistensi

Otomatis (Microbial Analiser)

BD Phoenix

Instalasi Laboratorium Serologi dan Imunologi


No 1. 2. 3. Reagen HbS Uniform II (Hepanostika) HCV Ultra (Hepanostika) HIV Uniform II Ag/Ab (Vironostika) Jenis Spesimen Serum Serum Serum Metode Pengujian Mikro Elisa Mikro Elisa Mikro Elisa Peralatan Mikro Elisa Kit Mikro Elisa Kit Mikro Elisa Kit

Instalasi Laboratorium Virologi


No 1. Parameter Jenis Spesimen yang Diuji Swab Virus AInasofaring H5N1 manusia Jenis Pengujian Biomole-kular Metode Pengujian Gel Based-PCR

Instalasi Laboratorium Parasitologi


No Parameter Yang Diuji Telur cacing (kualitatif) Telur cacing (kuantitatif) Telur cacing (kuantitatif) Cacing Dewasa Mikrofilaria Protozoa Jenis Spesimen Feses Jenis pengujian Sederhana Metode Pengujian Langsung, tidak langsung Kato Suzuki Pengamatan langsung Mikroskopis Langsung Peralatan Yang Digunakan Mikroskop

1.

2. 3. 4. 5. 6.

Feses Tanah

Sederhana Sederhana Sederhana

Mikroskop Mikroskop Loup Mikroskop Mikroskop Mikroskop

Darah Swab

Sederhana Sederhana

halaman 48 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

7.

Protozoa

Air

Sederhana

Mikroskopis

8.

Plasmodium

Darah

Sederhana

Mikroskopis

Swab steril Plankton net Mikroskop Sedwidge Raffter Counter Mikroskop

Instalasi Laboratorium Entomologi dan Pengendalian Vektor


No 1. Parameter Yang Diuji Identifikasi Genus Nyamuk Identifikasi Spesies Nyamuk Identifikasi Spesies Pinjal Jenis pengujian Pengamatan takson nyamuk Pengamatan takson nyamuk Pengamatan takson pinjal Metode Pengujian Membandingkan dengan kunci OConnor Membandingkan dengan kunci OConnor Membandingkan dengan kunci identifikasi P2PL Depkes RI Jakarta Peralatan Digunakan Yang Stereo mikroskop Kunci identifikasi

2.

Stereo mikroskop Kunci identifikasi Stereo mikroskop Kunci identifikasi

3.

halaman 49 dari 50 halaman

Profil BBTKL PPM Yogyakarta Tahun 2007

BAB V PENUTUP

Profil BBTKLPPM Yogyakarta ini merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan tahun 2007. Kegiatan Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular Yogyakarta dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya telah diupayakan seoptimal mungkin selama periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2007. Akhirnya, disampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya profil ini.

halaman 50 dari 50 halaman