Anda di halaman 1dari 5

ANESTESI INHALASI DAN PELEMAS OTOT (MUSCLE RELAXANT)

Farmakologi adalah ilmu tentang obat-obatan, terutama mengenai interaksi antara obat, sistem, dan proses hidup untuk kepentingan diagnosis, pencegahan, perawatan dan pengobatan penyakit. Farmakokinetik adalah cabang dari farmakologi yang mempelajari cara obat di absorbsi, didistribusi dan dieksekresikan oleh jaringan tubuh, bidang ini meningkatkan pengetahuan tentang konsentrasi obat dalam berbagai bagian tubuh yang berbeda pada waktu yang berlainan, Selama setiap 24 jam.

A. Anestesi inhalasi 1) N2O (Nitrous oxide) Memiliki analgesic yang kuat tetapi daya anestesinya lemah, harus diberikan bersama-sama dengan oksigen, 1 MAC (Minimal Alveolar Concentration )= 105,2 vol%. N2O menyebabkan penurunan aliran darah, volume tidal dan laju napas. Kardiovaskular cenderung tidak berubah dan dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Kontraindikasi : a) Emboli udara, pneumotorax, obstruksi usus yang akut b) Pneumocephalus, kista udara di paru-paru c) Gelembung udara di mata d) Graf membrane timpani, hipertensi pulmonal e) Pasien yang membutuhkan konsentrasi inspirasi oksigen tinggi 2) Halotane Merupakan alkaline berhalogen, cairan bening tidak berwarna dan berbau harum. 1 MAC = 0,72%. a) Keuntungan : Pemulihan cepat Bronkodilator Tidak iritasi Vasodilatasi

Tidak menyebabkan muntah

b) Kerugian Halothane: Menyebabkan depresi miokardial Aritmia Toksik pada hepar Mengigil paska anestesi Dapat menimbulkan relaksasi uterus sehingga menyebabkan perdarahan hebat.

3) Enflurane Merupakan cairan volatile dengan bau yang menyenangkan seperti ether, suatu larutan sodium methexide-mehanol normal. Reflek faring dan laring dengan cepat hilang sehingga memudahkan tindakan intubasi endotraceal. Termasuk halogen ether 1 MAC = 1,68 vol%. Terhadap kardiovaskuler menimbulkan depresi langsung pada miokardium dan terjadi pula penurunan tekanan darah. Terhadap respirasi menurunkan ventilasi semenit meskipun terjadi peningkatan jumlah respirasi. Terhadap serebal meningkatkan aliran darah serebal dan tekanan intrakranial. Terhadap neuromuskular menyebabkan relaksasi otot lurik tingkat sedang dan dapat meningkatkan potensi pelemas otot nondepolarazing. Indikasi untuk induksi anestesi dan maintenance pada anak-anak, dewasa dan tindakan sectio caesaria. Kontraindikasi pada pasien dengan gangguan ginjal, gangguan fungsi hepar dan epilepsi.

4) Isoflurane Merupakan cairan volatile yang tidak mudah terbakar dengan bau ether yang menyengat, reflek faring dan laring dengan cepat menghilang sehingga memudahkan tindakan intubasi. 1 MAC= 1,12 vol%. Terhadap kardiovaskuler menimbulkan depresi jantung yang minimal, dan menyebabkan dilatasi arteri koroner. Terhadap respirasi depresi

respirasi sama dengan volatile anestesi lainya dengan perbedaan bahwa takipnoe tidak terlalu nyata meskipun mempunyai tendensi untuk mengiritasi reflek jalan napas, isoflurane diangap sebagai bronkodliator yang baik, namun tidak sepoten halotan. Terhadap serebral pada 1 MAC meninggalkan aliran darah serebral dan meningkatkan tekanan serebral namun dapat ditangani dengan hiperventilasi, sehingga isoflurane banyak digunakan untuk bedah otak. Terhadap neuromuskular menyebabkan relaksasi otot skeletal. Dapat menimbulkan relaksasi otot abdominal yang cukup. 5) Sevoflurane Baunya tidak menyengat dan peningkatan konsentrasi di alveolar yang cepat membuatnya sebagai pilihan yang baik untuk induksi inhalasi pada pasien pediatrik atau orang dewasa. MAC 2,05%. Terhadap kardiovaskuler menekan konraktilitis miokard. Terhadap respirasi depresi pernapasan dan bronkodilator. Terhadap serebral meningkatkan aliran darah serebral dan meningkatkan tekanan

intrakranial pada normokarbi. Terhadap neuromuskular menyebabkan relaksasi otot yang adekuat pada pasien anak dengan induksi inhalasi. Kontraindikasi pada pasien dengan hipovolemia berat, malignant hyperthermia dan hipertensi intrakranial. 6) Desflurane Merupakan cairan yang mudah terbakar tapi tidak mudah meledak, bersifat absorben dan tidak korosif untuk logam. Karena sukar menguap, dibutuhkan vaporiser khusus untuk desfluran. Desfluran lebih digunakan untuk prosedur bedah singkat atau bedah rawat jalan. Desfluran bersifat kali lebih poten dibanding agen anestetik inhalasi lain, tapi 17 kali lebih poten dibanding N2O. Efek terhadap kardiovaskular desfluran mirip dengan isofluran, hanya saja tidak seperti isofluran, desfluran tidak meningkatkan aliran darah arteri koroner. Efek terhadap respirasi adalah penurunan volume tidak dan peningkatan laju napas. Secara keseluruhan terdapat penurunan ventilasi

alveolar sehingga terjadi peningkatan PaCO2. Efek terhadap SSP adalah vasodilatasi pembuluh darah serebral, sehingga terjadi peningkatan tekanan intrakranial, serta penurunan konsumsi oksigen oleh otak. Tidak ada laporan nefrotoksik akibat desfluran, begitu juga dengan fungsi hati.

B. Pelemas otot (muscle relaxant) Pelemas otot sangat bermanfaat pada general anestesi, intubasi menjadi lebih mudah dan bermanfaat selama pembedahan dan kontrol ventilasi. Pelemas otot yang ideal, yaitu; golongan nondepol, onset dan durasinya cepat, metabolisme tidak aktif, efek terhadap kardiovaskular tidak ada, tidak histamine release dan dapat dinetralkan dengan anticholinergic. Ada dua jenis obat pelemas otot : 1. Golongan depolarizing Suxamethonium chloride ( succinylcholine), menghasilkan

depolarisasi pada membrane postjunctional. Manifestasi pertamanya akan terjadi kontraksi otot skeletal yang dikenal dengan fasikulasi. Lebih lanjut lagi, terbukanya saluran ion yang akan meningkatkan konsentrasi plasma dari kalium sekitar 0,5 mEq/L. Dosis 1-1,5 mg/kgbb dengan onset 0,5-1 menit dan durasi 5-10 menit. 2. Golongan depolarizing a. Atrakurium, mempunyai struktur benzilissoquinolin yang berasal dari tanaman Leontice leontopeltalum. Keunggulannya adalah

metabolisme terjadi di dalam darah, tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal, tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang dan tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskular yang bermakna. Mula kerja pada dosis intubasi 2-3 menit sedangkan lama kerja pada dosis relaksasi 15-35 menit. Dosis intubasi 0,5 mg/kgBB IV. b. Pankuronium, merupakan aminosteroid bisquaternary. Obat ini menimbulkan pelepasan histamine, tapi obat ini merupakan obat relaksan yang paling tidak pernah menimbulkan reaksi anafilaktik

yang berat dan sedikit menembus sawar plasenta. Memiliki efek akumulasi pada pemberian berulang sehingga dosis rumatan harus dikurangi dan selang waktu pemberian diperpanjang. Dosis intubasi 0,08-0,12 mg/kgbb dengan onset 3-5 menit dan durasi 120 menit. Obat ini kontraindikasi pada pasien dengan gagal ginjal. c. Vekuronium, merupakan homolog pankuronium bromide yang berkekuatan lebih besar dan lama kerjanya singkat. Zat anestetik ini tidak memiliki akumulasi pada pemberian berulang dan tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskular yang bermakna. Kemasan berupa ampul berisi 4 mg bubuk vekuronium. Pelarutnya dapat berupa aquades, garam fisiologik, Ringer laktat, atau dekstrosa 5% sebanyak 2 ml. Dosis 0,08-0,12 mg/kgBB dengan onset 3-5 menit dan durasi 45-60 menit. d. Rokuronium, bekerja cepat dengan memblokade nicotinic

cholonoreceptor pada motor endplate. Efek pada kardiovaskular dan pelepasan histamine tidak terjadi pada pemberian obat ini. Dosis intubasi 0,6-1 mg/kgBB dengan onset 1-2 menit dan durasi 30-45 menit. e. Antagonis Pelumpuh Otot Nondepolarisasi Neostigmine, obat ini memiliki efek antagonis terhadap

relaksan nondepolarizing, mencegah hidrolisis yang normal dari asetilkolin sehingga menumpuk didalam darah. Neostigmine

mempunyai efek nikotinik, muskarinik, dan merupakan stimulan otot langsung. Efek muskarinik diantaranya bradikardia, hiperperistaltik, spasme saluran cerna, pembentukan sekret jalan napas dan liur, bronkospasme, berkeringat, miosis, dan kontraksi vesika urinaria. Dosis 0,04-0,08 mg/kgbb. Dosis 2,5 mg diberikan secara perlahanlahan sesudah SA atau bersama SA dan dapat diulang secara hatihati sampai total dosis sebanyak 5mg dengan SA 1,5 mg.