Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sindrom koroner akut (SKA) merupakan keadaan darurat jantung dengan manifestasi klinis rasa tidak enak didada atau gejala lain sebagai akibat iskemia miokardium. SKA terdiri atas angina pektoris tidak stabil (APTS), infark miokard akut (IMA) yang disertai elevasi segmen ST maupun penderita dengan infark miokardium tanpa elevasi ST. SKA ditetapkan sebagai manifestasi klinis penyakit arteri koroner. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan manifestasi utama proses aterosklerosis.1, Di Amerika Serikat setiap 1 juta pasien dirawat dirumah sakit karena angina pektoris tak stabil; di mana 6 sampai 8 persen kemudian mendapat serangan infark jantung yang tak fatal atau meninggal dalam satu tahun setelah diagnosis ditegakkan.2 Pada tahun 2005, secara global diperkirakan 7,6 juta penduduk meninggal karena serangan jantung. Di Indonesia, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004 menunjukkan 1,3% penduduk umur >15 tahun pernah didiagnosis sakit jantung oleh tenaga kesehatan selama hidupnya sebesar dan 0,9% yang pernah diobati. Pengalaman sakit jantung menurut gejala (angina pectoris) dilaporkan oleh 51 per 1000 penduduk umur >15 tahun dan 93% di antaranya tidak tercakup oleh sistem pelayanan kesehatan. Laporan nasional Riskesdas 2007 menunjukkan proporsi kematian
1

akibat penyakit jantung iskemik pada populasi semua umur sebesar 5,1%. Sebesar 7,2% pernah mengalami gejala penyakit jantung dan 13% di antaranya sudah pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan.3,4 Dengan tingginya angka kejadian dan risiko yang ditimbulkan dari penyakit inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai gambaran pasien dengan angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama satu tahun yaitu periode Januari 2010 - Desember 2010.

B. Masalah 1. Bagaimana gambaran pasien angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi infark miokard berdasarkan stratifikasi risiko TIMI terhadap pasien dengan angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama satu tahun yaitu periode Januari 2010 - Desember 2010 ? 2. Bagaimana distribusi kejadian angina pektoris tidak stabil berdasarkan jenis kelamin, usia, pasien dengan hipertensi, kadar LDL serum, kadar HDL serum, diabetes melitus, pasien perokok, pasien yang mempunyai riwayat keluarga menderita PJK?

C. Tujuan Penelitian Tujuan Umum : mengetahui gambaran pasien dengan angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama satu tahun yaitu periode Januari 2010 - Desember 2010 Tujuan Khusus : Mengetahui gambaran pasien dengan angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama satu tahun yaitu periode Januari 2010 - Desember 2010 dan membaginya kedalam distribusi kelompok berdasarkan jenis kelamin, usia, pasien dengan hipertensi, kadar LDL serum, kadar HDL serum, diabetes melitus, pasien perokok, pasien yang mempunyai riwayat keluarga menderita PJK.

D. Manfaat Penilitian 1. Memperoleh data tentang gambaran pasien dengan angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama satu tahun yaitu periode Januari 2010 - Desember 2010. 2. Dapat digunakan sebagai sumber epidemiologi. 3. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk kepentingan ilmiah dalam penelitian selanjutnya. informasi untuk kepentingan

4. Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi Serjana Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi bagi penulis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Defenisi Angina pektoris tak stabil (unstable angina pectoris = UAP) dan infark miokard akut tanpa elevasi ST (non ST elevation myocardial infarction = NSTEMI) diketahui merupakan suatu kesinambungan dengan kemiripan patofisiologi dan gambaran klinis. Iskemik miokardium kebanyakan disebabkan oleh abnormalitas arteri koroner epikardium. Menurut pedoman American College of Cardiologi (ACC) dan American Heart Association (AHA) perbedaan angina tak stabil dan infark tanpa elevasi segmen ST (NSTEMI = non ST elevation myocardial infarction) ialah apakah iskemi yang timbul cukup berat sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada miokardium, sehingga adanya petanda kerusakan miokardium dapat diperiksa.5 Terminologi angina tidak stabil harus dibatasi untuk

mendeskripsikan sejumlah kecil pasien yang memperlihatkan angina dengan frekuensi dan derajat keparahan yang meningkat, dengan serangan yang lebih lama dan hanya hilang sebagian dengan nitrat sublingual.6 Yang dimasukkan ke dalam angina tak stabil yaitu:2 1. Pasien dengan angina yang masih baru dalam 2 bulan, dimana angina cukup berat dan frekuensi cukup sering, lebih dari 3 kali per hari. 2. Pasien dengan angina yang makin bertambah berat, sebelumnya angina stabil, lalu serangan angina timbul lebih sering, dan lebih berat sakit dadanya, sedangkan faktor presipitasi makin ringan.
5

3. Pasien dengan serangan angina yang timbul pada waktu istirahat.

B. Etiologi dan faktor risiko Aterosklerosis pembuluh koroner merupakan penyebab angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark yang paling sering ditemukan. Aterosklerosis menyebabkan penimbunan lipid dan jaringan fibrosa dalam arteri koronaria, sehingga secara progresif mempersempit lumen pembuluh darah. Bila lumen menyempit maka resistensi terhadap aliran darah akan meningkat dan membahayakan aliran darah miokardium. Bila ini diikuti perubahan pembuluh darah yang mengurangi kemampuan pembuluh untuk melebar. Dengan demikian keseimbangan antara penyediaan dan kebutuhan oksigen menjadi tidak stabil sehingga membahayakan miokardium yang terletak di sebelah distal dari daerah lesi.7 Adapun yang menjadi faktor risiko dari penyakit aterosklerotik koroner : 6,7 Faktor risiko yang tidak dapat diubah : Usia (laki-laki 45 tahun; perempuan 55 tahun atau menopause prematur tanpa terapi penggantian estrogen) Riwayat CAD pada keluarga (MI pada ayah atau saudara laki-laki sebelum berusia 55 tahun atau pada ibu atau saudara perempuan sebelum berusia 65 tahun) Faktor risiko yang dapat diubah

Hiperlipidemia (LDL-C): batas atas, 130-159 mg/dL; tinggi 160 mg/dL

HDL-C rendah: <40mg/dL Hipertensi (140/90 mmHG atau pada obat antihipertensi) Merokok sigaret Diabetes melitus (bergantung-insulin atau tidak bergantunginsulin)

Obesitas, terutama abdominal Ketidakaktifan fisik Hiperhomosisteinemia (16 mol/L)

Faktor risiko negatif : HDL-C tinggi Terdapat beberapa metoda pendekatan untuk stratifikasi risiko,

salah satunya adalah skor risiko TIMI. Skor risiko merupakan suatu metoda sederhana dan sesuai untuk stratifikasi risiko, dan angka faktor risiko bebas pada presentasi kemudian ditetapkan. Insiden keluaran yang buruk pada 14 hari berkisar antara 5% dengan skor risiko 0-1, sampai 41% dengan skor risiko 6-7. 5,8, 15

Tabel 1. Skor Risiko TIMI untuk UA/NSTEMI Usia 65 tahun tiga faktor risiko PJK Stenosis sebelumnya 50% Deviasi ST 2 kejadian angina 24 jam Aspirin dalam tujuh hari terakhir Peningkatan petanda jantung

C. Dasar diagnosis Diagnosis angina tak stabil bila pasien mempunyai keluhan iskemi sedangkan tak ada kenaikan troponin maupun CK-MB, dengan ataupun tanpa perubahan ECG untuk iskemi, seperti adanya depresi segmen ST maupun elevasi yang sebentar atau adanya gelombang T yang negatif. Diagnosis NSTEMI ditegakkan jika pasien dengan manifestasi UA menunjukkan bukti adanya neksrosis miokard berupa peningkatan biomarker jantung. Karena kenaikan enzim biasanya dalam waktu 12 jam, maka pada tahap awal serangan, angina tak stabil seringkali tak bisa dibedakan dari NSTEMI.2,5 Keluhan pasien umumnya berupa angina untuk pertama kali atau keluhan angina yang bertambah dari biasanya. Nyeri dada seperti pada angina biasa tapi lebih berat dan lebih lama, mungkin timbul pada waktu istirahat, atau timbul karena aktifitas yang minimal. Nyeri dada dapat disertai keluhan sesak napas, mual, sampai muntah, kadang-kadang
8

disertai keringat dingin. Pada pemeriksaan jasmani sering kali tidak ada yang khas.2,13,14 Pertimbangan pmeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosis angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark antara lain: 2,6,12 Elektrokardiografi (EKG) Ekokardiografi Pemeriksaan laboratorium CT-Scan angio Kateterisasi jantung Exercise test

D. Patologi Angina pektoris adalah nyeri dada yang menyertai iskemia miokardium. Iskemia dapat menyebabkan nyeri dengan adanya

mekanisme denudasi dan erosi pada plak pembuluh darah jantung yang dicetus oleh stress, inflamasi, maupun keletihan. Nyeri biasanya digambarkan sebagai suatu tekanan substernal, kadang-kadang menyebar turun ke sisi medial lengan kiri, namun banyak pasien yang tak pernah mengalami angina yang khas.7

E. Penatalaksanaan Angina pektoris tak stabil (unstable angina = UA) dan infark miokard akut tanpa elevasi ST (non ST elevation myocardial infarction = NSTEMI) diketahui merupakan suatu kesinambungan dengan kemiripan patofisiologi dan gambaran klinis sehingga pada prinsipnya

penatalksanaan keduanya tidak berbeda.2,5 Tindakan umum Pasien perlu perawatan di rumah sakit, sebaiknya di unit intensif koroner, pasien perlu diistirahatkan (bed rest), diberi penenang dan oksigen; pemberian morfin atau pethidin perlu pada pasien yang masih merasakan sakit dada walaupun sudah mendapat nitrogliserin.2 Terapi Farmakologis2,9,10 o Obat anti iskemia Nitrat organik Penyekat beta Antagonis kalsium

o Obat antiagregasi trombosit Aspirin Tiklopidin Klopidogrel Glikoprotein IIb/IIIa inhibitor

o Obat antitrombin Unfractionated heparin Low molecular weight heparin (LMWH)

10

o Direct thrombin inhibitors Terapi non Farmakologis5 Modifikasi pola hidup Olah raga Berhenti merokok Kontrol faktor risiko

11

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat retrospektif deskriptif, yaitu mengumpulkan kembali data rekam medis dari status pasien angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama satu tahun yaitu periode Januari 2010 - Desember 2010 dan mengolahnya kembali.

B. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

C. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada Bulan Desember 2011 - Januari 2012.

D. Populasi dan Sampel Penelitian Semua pasien baru yang dirawat di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang terdiagnosa sebagai angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark, mulai dari Januari 2010 - Desember 2010.

E. Variabel Penelitian Jenis kelamin Usia pasien Faktor risiko Skor risiko pasien berdasarkan TIMI

12

F. Defenisi Operasional 1. Diagnosis angina tak stabil bila pasien mempunyai keluhan iskemi sedangkan tak ada kenaikan troponin maupun CK-MB, dengan ataupun tanpa perubahan ECG untuk iskemi, seperti adanya depresi segmen ST maupun elevasi yang sebentar atau adanya gelombang T yang negatif. Diagnosis NSTEMI ditegakkan jika pasien dengan manifestasi UA menunjukkan bukti adanya neksrosis miokard berupa peningkatan biomarker jantung.2,5 2. Hipertensi dibagi berdasarkan klasifikasi derajat hipertensi menurut JNC 7 Tabel 2. Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 716 Klasifikasi Tekanan Darah Normal Prahipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 TDS (mmHG) < 120 120 139 140 159 160 dan atau atau atau TDD (mmHg) < 80 80 89 90 99 100

TDS = Tekanan Darah Sistolik, TDD = Tekanan Darah Diastolik Dimana data tekanan darah yang diambil adalah tekanan darah saat pasien masuk dan dirawat di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. 3. Kadar LDL didapatkan dari data laboratorium pasien. Dibagi menjadi kadar LDL normal ( <130 mg/DL), meningkat (130-159 mg/dL), serta kadar LDL tinggi (160 mg/dL).

13

4. Kadar HDL didapatkan dari data laboratorium pasien. Dibagi menjadi kadar HDL rendah (<40 mg/dL) dan kadar HDL normal / meningkat (40 mg/dL) 5. Dikatakan pasien dengan diabetes jika terdapat riwayat diabetes sebelumnya dan / atau terdapat hasil pemeriksaan gula darah puasa 126 mg/dL. 6. Dikatakan merokok jika pasien mengkonsumsi rokok > 1 batang rokok/hari. 7. Risiko TIMI dibagi atas low risk untuk TIMI 2, intermediate risk untuk TIMI antara 3 4, high risk untuk TIMI 5.

G. Instrumen Penelitian 1. Alat tulis menulis. 2. Buku ajar, Makalah, jurnal ilmiah, bulletin konsultasi dengan ahli dalam hal ini dosen pembimbing dan informasi aktual dari internet. 3. Status Pasien dan buku register di bagian rekam medik dan di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou mulai Januari 2010 sampai Desember 2010.

H. Cara Kerja 1. mengumpulkan data kasus secara retrospektif dari catatan medis pasien yang dirawat di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou mulai Januari 2010 sampai Desember 2010. 2. mengolah data kasus dengan cara menyusunnya dalam bentuk tabel atau grafik dan persentase, mencakup

14

a) jumlah penderita dengan diagnosis angina pektoris tidak stabil / non ST elevasi miokard infark rawat inap di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou mulai Januari 2010 sampai Desember 2010 b) distribusi berdasarkan jenis kelamin yaitu: 1. laki-laki 2. perempuan c) distribusi frekuensi menurut usia, dibagi atas: kurang dari 45 tahun 45 54 tahun 55 64 tahun 65 74 tahun lebih dari 75 tahun

d) distribusi berdasarkan : 1. Hipertensi 2. Kadar LDL dan HDL 3. Riwayat diabetes 4. Merokok 5. Riwayat keluarga penderita PJK e) distribusi berdasarkan skor risiko TIMI 3. melakukan konsultasi dengan dosen pembimbing 4. penyusunan dan pengetikan naskah akhir 5. menelaah kembali naskah

15

Daftar Pustaka

1. R.A. Nawawi, Fitriani, B. Rusli, Hardjoeno. Nilai troponin T penderita sindrom koroner akut. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 3, Juli 2006: 123-126. 2. Trisnohadi Hanafi B. Angina Pektoris Tak Stabil. Ilmu Penyakit Dalam, 4th ed. Jakarta: Internal Publishing, Juni 2006. P : 1621-25. 3. PUSLITBANG Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, DEPKES RI. Faktor Determinan Gejala Angina Pektoris pada

Masyarakat yang Belum Pernah Terdiagnosis Penyakit Jantung. Majalah Kedokteran Indonesia, Vol. 59, No. 11, November 2009. P : 519. 4. Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia - 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008. P : 277. 5. Harun S, Alwi Idrus. Infark Miokard Akut Tanpa Elevasi ST. Ilmu Penyakit Dalam, 4th ed. Jakarta : Internal Publishing, Juni 2006. P : 1641-47. 6. Gray Huon H, Dawkins Keith D, Morgan John M, Simpson IAIN A. Lecture Notes Kardiologi, 4th ed. Jakarta : Erlangga. 2005. 7. Brown Carol T. Penyakit Aterosklerotik Koroner. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, 6th ed. Jakarta: EGC, 2006. P : 576-612. 8. Mega Jesica L, Hochman Judith S, Scirica Benjamin M, Murphy Sabina A, Sloan Sarah, McCabe Carolyn H, et al. Clinical Features and Outcomes of Women With Unstable Ischemic Heart Disease : Observations From Metabolic Efficiency With Ranolazine for Less Ischemia in Non-ST-Elevation Acute Coronary SyndromesThrombolysis in Myocardial Infarction 36 (MERLIN-TIMI 36). Journal of the American Heart Association. 2010. 9. Suyatna F.D. Antiangina. Farmakologi dan Terapi, 5th ed. Jakarta: Balai

Penertbit FKUI. 2009. P : 361-372.

16

10. Moningka Boetje H. Ringkasan Farmakologi. Manado : Bagian Farmakologi dan Terapi FK UNSRAT. 2009. 11. Lanza G.A, Crea Filipo. Primary Coronary Microvascular Dysfunction Clinical Presentation, Pathophysiology, and Management. Journal of the American Heart Association. 2010. 12. Dharma Surya. Sistematika Interprestasi EKG Pedoman Praktis. Jakarta : EGC. 2010.
13. Anonymous. Acute Coronary Syndrome. Wikipedia. Available from: URL: http://en.wikipedia.org/wiki/Acute_coronary_syndrome. 14. Anonymous. Angina Pektoris. Wikipedia. Available from: URL:

http://id.wikipedia.org/wiki/Angina_pektoris 15. Anonymous. TIMI Risk Factor for UA/NSTEMI. Available from: URL: http://www.mdcalc.com/timi-risk-score-for-uanstemi 16. Yogiantoro M. Hipertensi Esensial. Ilmu Penyakit Dalam, 4th ed. Jakarta: Internal Publishing, Juni 2006. 17. Samuel LM, Heryanto, Hasan S, Kusnadi O. Pola sindroma koroner akut di unit perawatan intensif RS Immanuel Bandung. Acta Medica Indonesiana. 2003; 35 (2) : 676-81. 18. Heller R.F, Powell H, OConnell R.L, DEste K, Lim L.L. Trends in Hospital Management of Unstable Angina. Journal of Epidemiol Community Helath. 2001 ; 55. P :483-486. 19. Wiviott S.D, Cannon C.P, Morrow D.A, Murphy S.A, Gibson C.M, McCabe C. H, et al. Differential Expression of Cardiac Biomarkers by Gender in Patiens With Unstable Angina/Non ST Elevation Myocardial Infarction. Journal of the

American Heart Association. 2004.

17

20. Abu-Assi E, Graca-Acua J.M, Ferreira-Gonzlez I, Pea-Gil C, Gayoso-Diz

P, Gonzlez-Juanatey J.M. Evaluatingthe Performance of the Can Rapid Risk Stratification of Unstable Angina Patiens Suppress Adverse Outcomes With Early Implementation of the ACC/AHA Guidelines (CRUSADE) Bleeding Score in a Countemporary Spanish Cohort of Patiens With Non ST Segment Elevation Acute Myocardial Infarction. Journal of the American Heart Association. 2010

18

Anda mungkin juga menyukai