Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KELOMPOK PROBLEM BASE LEARNING SISTEM TRAUMATOLOGY DAN EMERGENSI

MODUL 11 SESAK NAFAS

OLEH: KELOMPOK 9A Tutor: dr. Yusriani Mangerangi IRSAN KURNIAWAN AMIRUDDIN (1102O90066) RESKI PURWASARI (1102070127) TARBIYANTHY NAJDAH CHAIRANI (1102090112) MILA KARMILAH(1102090132) HASMIA MUSLIMIN (110209149) ANDI PUSPA RATU (1102090003) ZARAH ALIFANI DZULHIJJAH (1102090115) ASMA MUFIDAH ALHADAR (1102090109)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2012

SKENARIO 1 Seorang laki-laki usia 25 tahun dibawa ke Puskesmas dengan keluhan sesak napas, penderita terlihat, pucat, dan kebiruan. Nadi teraba cepat dan lemah.

KATA-KATA KUNCI 1. Laki-laki 25 tahun 2. Sesak napas 3. Penderita terlihat pucat dan kebiruan 4. Nadi teraba cepat dan lemah

PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING 1. Bagaimana penanganan awal pada skenario? 2. Bagaimana penanganan selanjutnya? 3. Apa penyebab terjadinya sesak napas? 4. Bagaimana mengenal tanda dan gejala sesak napas akibat truma dan non trauma? 5. Bagaiaman cara menstabilisasikan pasien sesak napas? 6. Bagaimana cara melakukan transportasi dan rujukan akibat trauma dan non trauma? 7. Bagaimana penatalaksanaan resusitasi cairan? 8. Kesimpulan akhir

Jawaban : 1. Bagaimana penanganan awal pada skenario? cari bantuan (ask for help) primary survey : A. Airway Tujuan : membebaskan jalan nafas untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal sehingga menjamin kecukupan oksigenasi tubuh.1 Pemeriksaan2,3 Lihat (look). Apakah penderita mengalami agitasi atau kesadarannya menurun. Sianosis menunjukkan hipoksemia yang disebabkan oleh kekurangan oksigenasi dan dapat dilihat dengan melihat pada kuku dan kulit sekitar mulut. Lihat adanya retraksi dan penggunaan otot-otot

napas tambahan yang apabila ada merupakan bukti tambahan adanya gangguan airway. Dengar (listen). Adanya suara-suara abnormal. Pernapasan yang berbunyi (napas tambahan) adalah pernapasan yang tersumbat. Suara mendengkur (napas tambahan) adalah pernapasan yang tersumbat. Suara mendengkur (snoring), berkumur (gurgling) dan bersiul (crowing sound, stridor) mungkin berhubungan dengan sumbatan parsial pada faring atau laring. Penderita yang melawan dan berkatakata kasar (gaduh gelisah) mungkin mengalami hipoksia dan tidak boleh dianggap karena keracunan/batuk. Suara Napas Afonia Stridor Deskripsi Menunjukkan adanya obstruksi saluran napas lengkap. Suara abnormal yang bernada tinggi. Biasanya terdengar saat inspirasi. Menunjukkan adanya obstruksi terutama pada saluran napas bagian atas. Suara serak (hoarseness) Wheezing Spesifik pada laring. Berhubungan dengan edema dan disfungsi unilateral pita suara. Sebuah suara berupa siul bernada tinggi atau berdengung di paru-paru dengar selama pernapasan, lebih jelas pada saat ekpirasi daripada inspirasi; terjadi ketika ada penyempitan atau obstruksi bronkiolus. Suara dengkur (snoring) Menunjukkan adanya obstruksi faring. Contoh sederhana biasaya adalah lidah yang jatuh ke belakang dan menutup jalan napas. Crackles/rales Bunyi napas abnormal yang memiliki kualitas derak

(crackling). Terjadi ketika ada akumulasi cairan dalam alveoli. Gurgling Menunjukkan adanya cairan yang menghalangi saluran napas bagian atas Ronki Suara bernada rendah (seperti suara mendidih/ bubbling, karena akumulasi cairan dalam yang lebih besar

dalam saluran napas). Kadang-kadang mengacu pada derak (crackles) bernada rendah. Raba (feel). Lokasi trakea dan dengan cepat menentukan apakah trakea ada ditengah. Juga merasakan adanya atau tidaknya, hembusan nafas penderita.

Tanda tanda obstruksi jalan nafas 4 Mendengkur ( Snoring ), berasal dari sumbatan pangkal lidah. Cara mengatasi dengan chin lift, jaw thrust, pemasangan pipa orofaring / nasofaring dan pemasangan endotrakeal. Berkumur ( Gargling ), penyebabnya adalah cairan di daerah hipofaring. Carsa mengatasi dengan finger sweap, pengisapan / suction. Stridor ( crowing ), sumbatan di plica vokalis. Cara mengatasi dengan cricotirotomi, trakeostomi. Nafas cuping hidung ( flaring of the nostrils ) Retraksi trakea. Retraksi thoraks Tak terasa ada udara ekspirasi

Penanganan a. Bersihkan jalan napas - Finger swab -

b. Tanpa alat membebaskan jalan nafas5

Head tilt 1. Satu tangan diletakkan pada dahi penderita 2. Tekan ke belakang sehingga kepala menengadah ke belakang

Chin lift 1. Jari jemari salah satu tangan di letakkan di bawah rahang, lalu secara hati-hati di angkat keatas untuk membawah dagu kearah depan. 2. Ibu jari tangan yang sama dengan ringan menekan bibir bawah untuk membuka mulut. 3. Ibu jari dapat juga diletakkan di belakang gigi seri dan secara bersamaan dagu depan hati-hati diangkat. 4. Manuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi. 5. Manuver ini berguna pada korban trauma karena tidak membahayakan penderita dengan kemungkinan patah ruas tulang leher atau mengubah patah tulang tanpa cedera sumsum tulang menjadi cedera sumsum tulang

Jaw trust karna dianggap yang paling aman dan menghindari fraktur cervical. Caranya : Dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada didepan barisan gigi atas. Atau gunakan ibu jari tarik dagu ke depan. ke dalam mulut dan bersama dengan jari-jari

c. Dengan alat 4 Pipa orofaring untuk mengangkat pangkal lidah yang jatuh kebelakang. Cara melakukan pipa orofaring :

pakai sarung tangan buka mulut pasien dengan cara chin lift atau gunakan ibu jari dan telunjuk

siapkan pipa orofaring yang tepat ukurannya bersihkan dan basahi pipa orofaring agar licin dan mudah masuk arahkan lengkungan menghadap ke langit-langit masukkan separuh, putar lengkungan mengarah kebawah lidah dorong pelan-pelan sampai posisi tepat

Pipa Nasopahringeal6 Pemasangan harus hati-hati dan untuk menghindari trauma mukosa hidung pipa di olesi jelly. Airway Nasofaringeal disisipkan pada salah satu lubang hidung dan melewatkan dengan hati-hati ke orofaring posterior. Pada penderita yang masih memberikan respon, airway nasofaringeal lebih baik daripada airway orofaringeal karena lebih bias diterima dan lebih kecil kemungkinannya merangsang muntah. Bila hambatan dirasakan selama pemasangan airway, hentikan dan coba melalui hidung yang satunya. Bila ujung dari pipa nasofaring bisa tampak di orofaring posterior, alat ini dapat menjadi sarana yang aman untuk pemasangan nasogastric dengan penderita patah tulang wajah. Apabila terdapat sumbatan akibat benda padat di lakukan abdominal thrust caranya: 1. Pada posisi berdiri atau duduk: Penolong harus berdiri di belakang korban, lingkari pinggang korban dengan kedua lengan penolong, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat

kepalan tangan dengan tangan lainnya. Tekan kepalan tangan ke perut dengan hentakan yang cepat ke atas. Setiap hentakan harus terpisah dan gerakan yang jelas. 2. Pada posisi tergeletak / tidak sadar: Korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka ke atas. Penolong berlutut di sisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusar dan jauh di bawah ujung tulang sternum, tangn keduan diletakkan di atas tangan pertama. Penolong menekan ke arah perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas.7 Intubasi trakea (Endotracheal Intubation) Ketika tidak mampuuntuk ventilasipasien yang tidak responsifdengan metodebasic life support,intubasidiperlukan. Intubasiadalah carayang palingpastimengamankanjalan napaspasien. Intubasimelibatkan tabung ET melalui pembukaan glottis dan penyegelan tabung dengancuff dalam keadaan inflated /terpompa pada dinding trakea, atau uncuffed dalam kasusbayi. Intubasi endotrakeal diindikasikan bila ada kegagalan pernapasan saat ini atau yang akan datang atau pasien tidak mampu untuk melindungi jalan nafasnya sendiri sebagai akibat dari koma, penurunan tingkat kesadaran, atau serangan jantung. Adapun jenis intubasi adalah: a) Intubasi orotrakea dengan dengan laringoskop: laringoskop Pembukaan sedang

glotticdivisualisasikan

saatETT

dimasukkan. Ini adalah metode yang paling umum dilakukan. b) Intubasi nasotrakeal: Tabung ET dilewatkan tanpa ke trakea glottis.

melaluinasofaring.

Intubasi

dilakukan

visualisasi

Penggunaanya ialah pada pasien dengan gangguan pernapasan untuk mencegahmemburuknyakondisi mereka dan ketika

laringoskopilangsung merupakankontraindikasi. c) Digital intubation: Intubasi digital dilakukan dengan menempatkan jari-jari tangan intubator ke mulut pasien, dalam upaya untuk memandu tabung ET ke dalam trakea. d) Teknik transiluminasi: Teknik ini menggunakanstilet serat

optikdengan

ujungmenyala.

Metode

inimemungkinkan

untukintubasitanpa perludilakukan manipulasi padakepaladan leher. Metode ini juga memungkinkan untuk dilakukan intubasi

tanpavisualisasilangsung daripita suara. B. Breathing Tujuan : menjamin prtukaran udara di paru-paru secara normal. 1. Pemberian Oksigen a. Tanpa Alat Mulut ke mulut Mulut ke hidung Mulut ke Mask b. Dengan alat Setiap pasien gawat, kadar oksigen yang diberikan harus lebih dari 4050 % Setiap pasien gawat, kadar oksigen yang diberikan harus lebih dari 4050 % : Sungkup sederhana: Fraksi oksigen :35 60 %. Flow rate :6-8 L/menit. Sungkup reservoir rebreathing; Fraksi oksigen :35-80 %. Flow rate :6-10 L/menit. Sungkup reservoir non breathing : Fraksi oksigen :50-95 %. Flow rate:8-12 L/menit. Bag Valve Mask :

a. Tanpa reservoir dengan oksigen. Fraksi oksign: 40%. Flow rate :8-10 L/menit b. Dengan reservoir dan oksigen: Fraksi oksigen: 100%,flow rate: 8-10 L/ menit *Monitor saturasi Oksigen pasien dan gejaa klinik yg terlihat Sungkup muka sederhana8 Aliran oksigen yang di berikan melalui alat ini sekitar 5-8 lt/menit dengan kensentrasi 40-60 % Cara pemasangan : Terangkan prosedur pada klien Atur posisi yang nyaman pada pasien Hubungkan selang oksigen pada sungkup muka sederhana dengan humidefier

Tepatkan sungkup muka sederhana, sehingga menutupi mulut dan hidung pasien

Lingkarkan karet sungkup pada kepala pasien agar sungkup muka tidak lepas

Alirkan oksigen sesuai kebutuhan

Keuntungan : Konsentrasi oksigen yang diperlukan lebih tinggi dari nasal kanul Sistem hemodifikasi dapat ditingkatkan

Kerugian Umumnya tdak nyaman bagi pasien Membuat rasa panas sehingga mengiritasi mulut dan pipi Aktifitas makan dan bicara terganggu Dapat menyebabkan mual dan muntah sehingga dapat

mengakibatkan aspirasi Jika alirannya rendah dapat menyebabkan penumpukan karbon dioksida

Bag valve mask9 Ambu bag terdiri dari bag yang berfungsi untuk memompa oksigen udara bebas, valve/pipa berkatup dan masker yang menutupi mulut dan hidung penderita. Penggunaan ambu bag atau bagging sungkup memerlukan keterampilan tersendiri. Penolong seorang diri dalam menggunakan amb bag harus dapat mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan mengangkat rahang bawah, menekan sungkup ke muka korban dengan kuat dan memompa udara dengan memeras bagging. Penolong harus dapat melihat dengan jelas pergerakan dada korban pada setiap pernafasan.

Ambu bag sangat efektif bila dilakukan oleh dua orang penolong yang berpengalaman. Salah seorang penolong membuka jalan nafas dan menempelkan sungkup wajah korban dan penolong lain memeras bagging. Kedua penolong harus memperhatikan pengembangan dada korban.

Ambu bag digunakan dengan satu tangan penolong memegang bag sambil memompa udara sedangkan tangan lainnya memegang dan memfiksasi masker. Pada Tangan yang memegang masker, ibu jari dan jari telunjuk memegang masker membentuk huruf C sedangkan jari-jari lainnya memegang rahang bawah penderita sekaligus membuka jalan nafas penderita dengan membentuk huruf E. Konsentrasi oksigen yang dihasilkan dari ambu bag sekitar 20 %. Dapat ditingkatkan menjadi 100% dengan tambahan oksigen. Untuk kondisi yang mana penderita mengalami henti nafas dan henti jantung, dilakukan resusitasi jantung-paru-otak. C. Circulation Hal yang dinilai pada pemeriksaan sirkulasi adalah status

hemodinamik dari pasien. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan melihat ada tidak perdarahan, pemeriksaan tekanan darah dan nadi (tanda vital). Juga perhatikan ada tidak tanda-tanda syok seperti hipotensi, pucat, berkeringat, akral dingin, dan perubahan status mental. Bila ada tanda-tanda syok tersebut maka segera posisikan pasien dengan posisi Trendelenberg untuk menjamin sirukulasi ke otak. Kemudian segera pasang infus untuk memasukkan cairan intravena sesuai dengan indikasi. Bila ada perdarahan eksternal yang nyata maka segera hentikan perdarahan tersebut dengan kompresi atau penekanan langsung di tempat perdarahan atau bebat tekan. Kontrol perdarahan ini diperlukan agar status hemodinamik pasien tidak semakin memburuk.

Setelah tindakan tersebut dilakukan maka evaluasi kembali keadaan pasien mulai dari tindakan yang pertama yaitu Airway atau jalan napas, Breathing atau pernapasan dan Circulation atau sirkulasi. Juga evaluasi tindakan yang telah kita lakukan. Pada skenario kasus tampak nadi pasien lemah dan pucat. Keadaan ini menunjukkan bahwa pasien mengalami gejala awal dari syok. Namun, perlu di nilai jenis syok nya, sebab penanganannya berbeda

Hipovolemi Dengan tanda2 perdarahan masif Kristaloid (RL hangat) 1-2 L bolus

Obstruktif Ada tanda tension pneumothorax (dispneu+nyeri+tanda syok) Torakostomi + chest tube

Anafilaktik Edema hipofaring dan laring, hipersekresi mukus, gejala alergi kulit Epinefrin 0,2-0,5 IM 3 dosis interval 1-5 menit

D. Disability Evaluasi dengan metode AVPU, yaitu: A = Alert/Awake : sadar penuh V = Verbal stimulation :ada reaksi terhadap perintah P = Pain stimulation : ada reaksi terhadap nyeri U = Unresponsive : tidak bereaksi

RESPON Reaksi mata membuka

REAKSI spontan mengikuti perintah bereaksi terhadap rangsang nyeri tak ada reaksi terhadap rangsang (nyeri)

NILAI 4 3 2 1

Reaksi verbal/bicara

berorientasi baik disorientasi/bingung tidak sesuai/ satu kata saja tidak mengerti/suara saja tidak ada suara sama sekali

5 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1

Reaksi motorik

mengikuti perintah/bertujuan menepis rangsangan gerakan menghindar nyeri gerakan fleksi (dekortikasi) gerakan ekstensi (deserebrasi) tak ada gerakan sama sekali

E. Exposure Pada tahap ini, baju pasien dibuka tetapi cegah hipotermia.

2.

Bagaimana penanganan selanjutnya?

secondary survey a. anamnesis Setiap pemeriksaan yang lengkap membutuhkan anamnesis mengenai riwayat perlukaan. Selain itu riwayat AMPLE perlu ditanyakan. Riwayat AMPLE terdiri atas : A : Ada riwayat alergi obat maupun makanan (Asma, syok anafilaktik) M : Obat: aspirin (picu asma), penisilin, streptomisin, tiamin, ekstrak bali dan kombinasi vitamin neurotropik injeksi (syok anafilaktik) P : penyakit dahulu L : makan yg terakhir dikonsumsi ( alergen, membuat tersedak) E : lingkungan berdebu (alergen untuk asma) b. Pemfis: Inspeksi: tanda cedera kepala, pucat, warna biru pada kulit kelainan bentuk dada, susah napas Palpasi:deviasi trahea, akral dingin, nadi kecil (tension pneumothorax)

Perkusi: hipersonor, suara napas hilang (tension pneumothorax), pekak dengan perkusi di atas sisi yang sakit (hemothoraks) Auskultasi: wheezing (asma) c. Pemeriksaan penunjang: Foto thorax: melihat trauma torax Analisis gas darah = saturasi oksigen dan kadar CO2 3. Apa penyebab terjadinya sesak napas?

Penyakit penyebab sesak napas dan riwayat khas sesak napas untuk masing-masing penyakit tersebut ialah sebagai berikut: Kelainan Jantung / Cardiovaskular Kelainan jantung yang disertai keluhan sesak napas biasanya terjadi pada gagal jantung. Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi pompa jantung dalam mengisi dan memompa darah dari paru, akibatnya terjadi penumpukan darah di paru (edema paru) dan menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru. Maka fungsi paru pun terganggu dan terjadilah sesak napas. Keluhan sesak napas ini muncul saat beraktivitas, misalnya naik tangga, yang akan membaik setelah beristirahat. Jika tidak segera diatasi, keluhan tersebut dapat terus berlanjut walau pada saat istirahat, yaitu ketika pasien tidur terlentang. Oleh karena itu pasien harus tidur dengan banyak bantal menyangga kepala bahkan baru lega pada posisi setengah duduk. Keluhan lainnya yaitu kaki yang membengkak. Dypsneu tidak berhubungan dengan mengi (wheezing), inilah yang membedakan dengan PPOK (kecuali terjadi asma kardiale). Didapat juga gejala penyakit jantung sebagai penyakit yang mendasari : Padagagal jantung ringan sesak hanya terjadi saat aktivitas. Pada gagal jantung yang lebih berat sesak juga terjadi bila berbaring (orthopnea), langsung menghilang bila duduk atau berdiri ( < 5-10 menit). Bila gejala ini berat disebut dypsneu nocturnal paroksisimal. Sering disertai edema tungkai bawah, membaik pada pagi hari dan memburuk pada malam hari.1 Kelainan atau Penyakit Pada Saluran Pernapasan Sesak napas karena kelainan saluran pernapasan paling sering ditemukan pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Penyakit ini disebabkan oleh proses peradangan paru dan ditandai dengan gangguan aliran udara dalam saluran

pernapasan yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali kekeadaan semula). Gejala lain yang menyertai adalah batuk lama (kronik) yang berdahak. Sesak napas pada asma muncul saat saluran pernapasan (bronkus) mengalami peradangan dan menyempit. Gejalanya berupa sesak napas yang disertai bunyi napas tambahan yang tidak normal seperti suara bersiul yang kasar, biasa disebut mengi (wheezing). Gejala lainnya adalah batuk dan nyeri dada. Orang yang mempunyai riwayat asma dalam keluarga memiliki resiko tinggi untuk menderita penyakit ini. Penyakit infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia dan TBCsering disertai dengan gejala sesak napas. Selain itu pasien juga akan mengalami demam, batuk, nyeri dada, dan badan lemas. Emboli Paru, penderita tiba-tiba sesak, onset mendadak, terjadi pada orang yang memiliki faktor predisposisi (imobilisasi, obesitas). Biasanya disertai nyeri pleuritik. Pneumothoraks, ditandai oleh nyeri dada yang mendadak, disertai sesak. Penyakit parenkim paru (pneumonitis/fibrosis interstisialis), ditandai oleh adanya sesak saat aktivitas dan, bila berat terjadi juga saat istirahat tanpa adanya mengi. Tidak seperti penyakit jantung, sesak tidak berhubungan dengan posisi tubuh. Lain-lain Pada gangguan saluran pencernaan bagian atas yaitu Gastro-Esophageal Reflux Disease (GERD) dan dyspepsia, dapat terjadi keluhan sesak napas. Peningkatan asam lambung yang kemudian naik dan masuk ke esophagus (kerongkongan), menimbulkan rasa sakit dan nyeri terutama saat bernapas pada pasien penderita GERD. Sesak napas pada dyspepsia timbul karena perut yang terisi penuh oleh gas dan angin menyebabkan rasa kembung dan begah sehingga diafragma (otot pemisah antara rongga dada dan perut) terdesak ke arah rongga dada.2 Pada kelainan ginjal, sesak napas terjadi karena adanya gangguan keseimbangan asam-basa yang menyebabkan darah menjadi lebih asam (asidosis). Penggunaan obatobatan diperlukan dan dilanjutkan dengan mengurangi cairannya. Kadang pasien diharuskan pula untuk melakukan cuci darah. Pada diabetes, sesak napas terjadi karena komplikasi asidosis diabetes. Darah menjadi asam sehingga tubuh mengkompensasi dengan cara napas yang dalam dan cepat untuk mengeluarkan asam di dalam darah. Pernapasan seperti ini disebut pernapasan kussmaul. Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan cairan yang cukup, memperbaiki kadar gulanya dan mengurangi kadar asam basa darah.

Obesitas, apabila obesitas berat bisa menyebabkan sesak napas, baik saat aktivitas maupun saat berbaring (orthopnea, disebabkan oleh pembelatan diafragma). Emboli paru, gagal jantung, dan apnea obstruktif saat tidur lebih sering terjadi pada orang dengan obesitas. Anemia, apabila Hb kita menurun di bawah batas tertentu, tubuh kita mencoba mengatasinya dengan meningkatkan denyut jantung kita. Ketika jantung kita berdetak lebih cepat, hal ini memungkinkan lebih banyak darah dan oksigen yang dialirkan ke seluruh tubuh. Paru kita juga dapat menyebabkan kita bernapas lebih cepat untuk membawa oksigen ke tubuh kita. Pembuluh darah tertentu mengembang untuk memungkinkan lebih banyak darah yang mengandung oksigen masuk ke dalam jaringan. Pembuluh darah lain berusaha untuk menutup, untuk menyimpan oksigen. Pengalihan darah semacam ini dapat menyebabkan kulit kita tampak pucat dan dingin saat disentuh. Tetapi hal ini memungkinkan tubuh kita untuk menyediakan oksigen ke organ yang lebih penting. Dengan kegiatan yang meningkat, tubuh kita membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga mengakitbatkan kelelahan, kelemahan, jantung berdebar, sesak napas, dan gejala lain. Keracunan, setiap keadaan yang menunjukkan kelainan multisistem dengan penyebab yang tidak jelas harus dicurigai kemungkinan keracunan. Misalnya bila ditemukan penurunan tingkat kesadaran mendadak, gangguan napas (sesak napas), manifestasi berat pada pasien psikiatri, sakit dada pada anak remaja, aritmia yang mengancam nyawa, atau gejala klinis pada pekerja dengan lingkungan kerja yang mengandung bahan kimia, asidosis metabolik yang sukar dicari penyebabnya, tingkah laku aneh, atau pun kelainan neurologis dengan penyebab yang sukar diketahui.

Bisa juga digolongkan atas : Trauma: Sumbatan jalan napas Sumbatan jalan napas dapat disebabkan oleh beberapa penyebab antara lain adalah edema jalan napas bisa akibat adanya suatu infeksi, reaksi alergi atau akibat trauma tumpul. Penyebab lain disebabkan oleh benda asing yang masuk dalam saluran nafas, selain itu bisa disebabkan karena adanya tumor pada saluran napas, atau akibat spasme laring dimana disebabkan oleh tetanus. Pada kasus ini kemungkinan terjadi akibat sumbatan benda asing, dimana benda asing yang masuk kedalam saluran nafas dan menyebabkan obstruksi pada jalan napas

sehingga terjadi gangguan pada proses inspirasi dan ekspirasi normal. Akibat hal tersebut menyebabkan terjadinya usaha tubuh untuk mempertahankan pernafasan normal dengan gejala seperti sesak napas. Adapun yang dapat dilakukan pada kasus sumbatan jalan napas akibat benda asing antara lain keluarkan benda asing segera mungkin dengan heimlich manuver atau usapan jari tangan. Pneumothorax Pneumothorax adalah adanya udara dalam kavum pleura. Pneumothorax yang dimaksud dalam kasus ini adalah pneumothorax traumatik, yaitu pneumothorax yang disebabkan oleh trauma baik trauma tumpul, tajam bahkan ledakan. Dimana pada trauma thorax akan disusul dengan fraktur kosta, sehingga fragmen kosta tersebut pada gilirannya dapat menyebabkan suatu trauma tajam yang menembus pleura parietal maupun viseralis. Akibat hal ini udara akan masuk dan mengisi kavum pleura sehingga akan terjadi gangguan pegembangan paru akibat beban udara pada kavum pleura sehingga akan terjadi sesak pada pasien ini. Hematothorax Hemotirax adalah adanya cairan patologis berupa darah dimana biasanya akibat trauma thorax atau adanya suatu tanda keganasan. Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh cedera tajam atau cedera tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya hemotoraks. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. Hemotoraks traumatik trauma laserasi pembuluh darah atau struktur parenkim paru perdarahan darah berakumulasi di rongga pleura hemotoraks Emboli paru Emboli paru terjadi apabila terdapat suatu embolus, biasanya merupakan bekuan darah yang terlepas dari perlengketan pada vena ekstremitas bawah biasa terjadi akibat terjadinya fraktur, lalu bersirkulasi melalui pembuluh darah dan jantung kanan sehingga akhirnya tersangkut di arteri pulmonalis utama atau salah satu percabangannya sehingga dapat menyebabkan sesak napas secara mendadak yang berat dimana akan menyababkan infark paru. Infark paru adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fokus nekrosis lokal yang diakibatkan oleh penyumbatan vaskular.

Non Trauma : Efusi pleura Efusi pleura adalah terdapatnya cairan patologis pada kavum pleura. Namun tetap perlu diingat bahwa dalam keadaan normal kavum pleura juga selalu terdapat cairan yang berfungsi untuk mecegah melekatnya pleura viseralis dan pleura parietalis, sehingga dengan demikian gerakan paru berjalan dengan mulus tanpa harus adanya friksi. Cairan fisiologis ini disekresikan oleh pleura parietalis dan diabsorbsi oleh pleura viseralis. Dalam keadaan normal cairan fisiologis dalam rongga pleura ini berkisar antara 1 ml sampai 20 ml. Setiap peningkatan jumlah cairan di atas ini harus dianggap sebagai efusi pleura. Pada umumnya kelainan ini didasari oleh suatu proses peradangan dimana dapat bersifat akut ataupun kronik, selain itu juga dapat sebagai salah satu manifestasi kelainan sistemik. Akibat terdapatnya cairan patologis pada kavum pleura akan menyebabkan gangguan pengembangan paru sehingga pasien akan menderita sesak napas. Asma bronkial Asma adalah penyakit yang ditandai dengan resistensi terhadap aliran udara intrapulmoner yang sangat variabel dalam jangka waktu yang pendek. Dimana pada asma terdapat kombinasi keluhan sesak napas, rasa dada yang terhimpit, suara napas mengi (wheezing). Adapun yang mendasari terjadinya asma adalah terpajannya sesorang oleh alergen yang menyebabkan terjadinya reaksi alergi sehingga menyebabkan hipersekresi mukus, edema mukosa dan bronkospasme sehingga terjadinya obstruksi jalan nafas. Akibat obstruksi menyebabkan pasien menderita sesak napas. Penyakit valvular Penyakit valvular yang memiliki kemungkinan besar menyebabkan sesak adalah stenosis katup mitralis. Dimana pada stenosis katup mitral terjadi penyempitan pembukaan katup mitral pada fase distolik dimana darah dipompakan dari atrium kiri menuju ventrikel kiri, namun apabila terjadi penyempitaan pada pembukaan katup mitral di fase distolik dimana lama kelamaan akan terjadi peningkatan volume pada atrium kiri dan peningkatan tekanan atrium kiri. Berjalannya waktu akan diikuti dengan peningkatan tekanan pada arteri pulmonal sehingga terjadi ekstravasasi cairan ke jaringan interstisial paru. Sehingga akan terjadi gangguan pengembangan atau elastisitas paru sehingga akan diikuti dengan gejala sesak nafas

Trauma Benda asing Pneumothorax Hemothorax Emboli Paru

Non Trauma Efusi Asma Penyakit valvular

4.

Bagaimana mengenal tanda dan gejala sesak napas akibat truma dan non trauma? Trauma Ada riwayat trauma Sering disertai tanda syok Akut (tiba- tiba) Non Trauma Tanpa riwayat trauma Tidak disertai tanda syok Sudah ada riwayat perjalanan penyakit tertentu

5.

Bagaiaman cara menstabilisasikan pasien sesak napas? Untuk stabilisasi yang efektif diperlukan :11 Resusitasi yang cepat Menghentikan perdarahan dan menjaga sirkulasi Imobilisasi fraktur Analgesia

6.

Bagaimana cara melakukan transportasi dan rujukan akibat trauma dan non trauma? Transportasi pasien-pasien kritis ini berisiko tinggi sehingga diperlukan komunikasi yang baik perencanaan dan tenaga-tenaga kesehatan yang sesuai. Pasien harus distabilisasi lebih dulu sebelum diberangkatkan. Prinsipnya pasien hanya ditransportasi untukmendapat fasilitas yang lebih baik dan lebih tingggi di tempat tujuan. Perencanaan dan persiapan meliputi : Menentukan jenis transportasi (mobil, perahu, pesawat terbang)

Menentukan tenaga keshatan yang mendampingi pasien Menentukan peralatan dan persediaan obat yang diperlukan selama perjalanan baik kebutuhan rutin maupun darurat Menentukan kemungkinan penyulit Menentukan pemantauan pasien selama transportasi Komunikasi yang efektif sangat penting untuk menghubungkan : Rumah sakit tujuan Penyelenggara transportasi Petugas pendamping pasien Pasien dan keluarganya11 Transportasi pasien dengan :12 Long spine board Servical collar Vacuum mattress Ked (kendrick exrication device) Scoop stretcher.

Syarat merujuk pasien kegawatdaruratan : Unstable circulation Fraktur-fraktur terbuka Dan pada saat merujuk jangan ke satu rumah sakit saja, harus di bagibagi dan di rujuk sesuai dengan indikasi. Contoh: - Cuma fraktur ringan di bawa ke rumah sakit lokal. - Trauma kepala dibawa ke rumah sakit pusa yang punya ct scan dan peralatan yang lengkap.12 7. Bagaimana penatalaksanaan resusitasi cairan?

8.

Kesimpulan akhir:

Trauma
Tension pneumothoraks

Nontrauma
Asma bronkiale

Hemothoraks

DEFINISI: Tension pneumothoraks terdapat udara dalam rongga pleura Adanya cairan patologis berupa darah dimana biasanya akibat trauma thorax atau adanya suatu tanda Asma adalah penyakit yang ditandai dengan resistensi terhadap aliran udara intrapulmoner yang Hemothoraks Asma bronkhiale

keganasan

sangat variabel dalam jangka waktu yang pendek

GEJALA KLINIK: Tension pneumothoraks Sesak napas Takipneu Takikardi Penurunan tekanan darah Perkusi hipersonor Suara napas lemah sampai hilang Deviasi trakea Kulit pucat Sianosis Distensi vena lehe Hemothoraks Sesak napas Takipneu Takikardi Penurunan tekanan darah Perkusi pekak Suara napas lemah sampai hilang Deviasi trakea Kulit pucat Sianosis Vena leher kolaps Asma bronkhiale Batuk, mengi, sesak napas

PENATALAKSANAAN SEGERA

Tension pneumothoraks

Hemothoraks

Asma bronkhiale

Torakosintesis+chest tube

Masif: Thoracotomy Tidak masif: chest tube

bantuan oksigen,bronkodilator ntravena atau inhalasi aerosol,kortikosteroid,v entilasi mekanik,sedasi,dan dukungan emosional .

DAFTAR PUSTAKA

1.

Lumbantobing PDdS. Pemeriksaan Neorologis. Neorologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI; 2007.h.7-8.

2. American College of Surgeons Committee on Trauma. Advanced Trauma Life Support Untuk Dokter. United States of America: Komisi ATLS Pusat; 2006. h. 14-16 3. David Sprigings, John B. Chambers. Airway management and upper airway obstruction. In: David Sprigings, John B. Chambers, editors. Acute Medicine A Practical guide to the management of medical emergencies. Fourth Edition. New York: Blackwell Publishing; 2008. p. 245-252. 4. Dr. Iman. Penglolaan Jalan Napas (Airway Manajement) Tanpa Alat. 2009 [updated 2009; cited 24 Februari 2012]; Avaliable from: Avaliable from: www.doktermedisblogspot.com 5. Sloane E. Sistem Pernafasan. In: Palupi Widyastuti S, editor. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006. p. 266-9 6. Danz Daniel F. Tracheal Intubation dan mechanical Ventilation. In: Tintinalli Judith E., Kelen Gabor D., Stapcynski J. Stephan, editors. Emergency Medicine. 5th ed. New York: McGraw-Hill; 2000. h. 80-85. 7. Dokter Medis. Pengelolaan Jalan Napas (Airway Management) Tanpa Alat. [online]. Avaiblenfrom : napas-airway.html 8. Ahmadi. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Penerbit Salemba Medika; 2008. p. 33 9. anonim. Tips P3K. 2008 [updated 2008; cited 16 juni 2012]; Available from: www.klikdokter.com 10. Nasal-kanul-Dan-Drainase-Postural.pdf.Adobe Reader 11. http://www.primarytraumacare.org/wp-content/uploads/2011/09/PTC_INDO.pdf 12. http://ismirayanti.blogspot.com/2010/10/sesak-napas.html URL : dokter-medis blogspot.com/2009/06/pengelolaan-jalan-