Anda di halaman 1dari 14

GARUDA INDONESIA Menuju Implementasi GCG Yang Excellent

Disusun oleh:

Muh. Baharudin Sani Moh. Rianda Al Dwi Nurmaya S Moch. Fauzy

Rizki Muslim H Ratri Candra Sari Pujastuti S Yekti Murwani Rezeki

PROGRAM PASCASARJASANA MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2013

A. LATAR BELAKANG Sekilas tentang Garuda Indonesia Garuda Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan Indonesia yang berkonsep sebagai full service airline (maskapai dengan pelayanan penuh). Saat ini Garuda Indonesia mengoperasikan 82 armada untuk melayani 33 rute domestik dan 18 rute internasional termasuk Asia (Regional Asia Tenggara, Timur Tengah, China, Jepang dan Korea Selatan), Australia serta Eropa (Belanda). Sebagai bentuk kepeduliannya akan keselamatan, Garuda Indonesia telah mendapatkan sertifikasi IATA Operational Safety Audit (IOSA). Hal ini membuktikan bahwa maskapai ini telah memenuhi standar internasional di bidang keselamatan dan keamanan. Visi Perusahaan

Menjadi perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan layanan yang berkualitas kepada masyarakat dunia menggunakan keramahan Indonesia. Misi Perusahaan

Sebagai perusahan penerbangan pembawa bendera bangsa Indonesia yang mempromosikan Indonesia kepada dunia guna menunjang pembangunan ekonomi nasional dengan memberikan pelayanan yang profesional. B. PERMASALAHAN 1. Penerapan GCG di Indonesia Di Indonesia, terutama pada aktivitas bisnis, istilah GCG (penerapan tatakelola perusahaan dengan baik) baru dikenal oleh khalayak pada decade terakhir ini, peraturan perundangan di Indonesia seperti Undang-Undang Perseroan Terbatas, Undang-Undang Pasar Modal pun belum mengenal

istilah GCG akantetapi istilah tersebut dikenal di Negara bagian Eropa dan Amerika1, hingga sejak ambruknya beberapa perusahaan besar didunia seperti Enron, WorldCon di AS, HIH Insurance dan One-Tel di Australia pada awal dekade 2000an maka mulai hangat diperbincangkan tentang pentingnya GCG. Didalam buku strategic Approach to Corporate Governance oleh A. Davies yang diterbitkan pada tahun 1999 menyatakan istilah governance dipergunakan peretama kali bukan untuk kalangan bisnis tapi digunakan dikalangan gereja yang terdapat dibeberapa peraturan gereja, lambat laun istilah tersebut digunakan dalam dunia industry dan juga Kapitalisme. Perkembangan CG juga merupakan suatu upaya untuk mengakomodasi berbagai kepentingan stakeholder yang berbeda-beda dalam sebuah korporasi. Pengertian GCG lebih lanjutnya adalah, Good Corporate Governance pada dasarnya merupakan suatu sistem (input, Proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang kepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan. Good Corporate Gorvernance dimasukkan untuk mengatur hubungan-hubungan ini dan mencegah terjadinya kesalahakesalahan signifikan dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat di perebaiki dengan segera. Penertian ini dikutip dari buku Good Corporate Governance pada badan usaha manufaktur, perbankan dan jasa keuangan lainnya (2008:36)2

Joni Emirzon, Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance: Paradigma Baru dalam Praktik Bisnis Indonesia, cet.I (Yogyakarta: Genta Press, 2007), hal. 75.
2

http://almirans.wordpress.com/2012/11/06/pengertian-good-corporate-governance-dan-

contoh-kasus-penyimpangannya/

Lain lagi pendapat Budiati (20012) di Indonesia, konsep GCG mulai dikenal sejak krisis ekonomi tahun 1997 krisis yang berkepanjangan yang dinilai karena tidak dikelolanya perusahaan perusahaan secara bertanggungjawab, serta mengabaikan regulasi dan sarat dengan praktek (korupsi, kolusi, nepotisme) KKN. Bermula dari usulan penyempurnaan peraturan pencatatan pada Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia/BEI) yang mengatur mengenai peraturan bagi emiten yang tercatat di BEI yang mewajibkanuntuk mengangkat Komisaris Independen dan membentuk Komite Audit pada tahun 1998, GCG mulai di kenalkan pada seluruh perusahaan publik di Indonesia. Setelah itu pemerintah Indonesia menandatangani Nota Kesepakatan (Letter of Intent) dengan International Monetary Fund (IMF) yang mendorong terciptanya iklimyang lebih kondusif bagi penerapan GCG. Pemerintah Indonesia mendirikan lembagakhusus, yaitu Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) yangmemiliki tugas pokok dalam merumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakannasional mengenai GCG, serta memprakarsai dan memantau perbaikan di bidang corporate governance di Indonesia. pelaksanaan penerapan GCG memberi nilai tambah bagi perusahaan. Perusahaan yang melakukan peningkatan pada kualitas GCG menunjukan peningkatan penilaian pasar, sedangkan perusahaan yang mengalami penurunan kualitas GCG, cenderung menunjukan penurunan pada penilaian pasar (Cheung, 2011). 2. Difinisi GCG Istilah tata kelola perusahaan di Indonesia merupakan terjemahan dari corporate governance. Kata governance berasal dari bahasa Prancis kuno yaitu gouvernance yang berarti pengendalian (control) atau regulated dan dapat dikatakan sebagai suatu keadaan yang berada dalam kondisi yang terkendali (Subroto, 2005). GCG merupakan masalah yang

tidak akan berakhir dan terus akan menjadi bahan pembahasan bagi pelaku bisnis, akademis, pembuatan kebijakan dan lain sebagainya. Perhatian terhadap GCG kian meningkat seiring banyak bermunculan masalah skandal keuangan di lingkungan bisnis. Konsep GCG telah banyak dikemukakan oleh banyak ahli dan badan sebagai alat control dan pengawasan terhadap kinerja manajemen. Definisi GCG menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: KEP-117/M-MBU/2002 adalah suatu proses atau struktur yang digunakan oleh BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna Mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka waktu panjang dan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundang undangan dan nilai-nilai etika. Sehubungan dengan tidak berlakunya Keputusan Menteri Negara BUMN tersebut yang selama ini digunakan sebagai dasar penerapan GCG, yaitu Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor: Kep117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli 2002 tentang Penerapan Praktik GCG pada Badan Usaha Milik Negara karena digantikan dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara (tanggal 1 Agustus 2011), maka definisi GCG berubah menjadi prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme 15 pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Menurut Muh. Arief Effendi (2009) dalam bukunya The Power of Good Corporate Governance, pengertian GCG adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang. Definisi GCG yang dikemukakan diatas

berbeda namun memiliki maksud yang sama. Dari definisi diatas dapat disimpulkan GCG adalah sistem atau seperangkat peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi hubungan antara para pengelola perusahaan dengan stakeholders disuatu perusahaan. GCG tidak hanya sebagai alat pengatur dan pengendali saja namun juga sebagai nilai tambah bagi suatu perusahaan. 3. Prinsip-Prinsip GCG Menurut KNKG, Prinsip-prinsip GCG adalah sebagai berikut: 1. Transparansi (Transparency) Dalam prinsip ini, perusahaan dituntut mampu menyediakan informasi yang penting atau materiil dan relevan secara akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, comparable dan mudah diakses dan dipahami oleh stakeholders karena keyakinan dan kepercayaan stakeholders terhadap perusahaan tergantung pada pengungkapan informasi tersebut. Untuk itu, perusahaan hendaknya menggunakan prinsip-prinsip akuntansi dan audit yang lazim digunakan dan dapat diterima secara luas dalam pengungkapan laporan keuangan. Disamping itu, perusahaan diharapkan mempublikasikan laporan keuangan dan informasi agar investor mudah dalam mengakses informasi yang dibutuhkan, sehingga dapat menghindari benturan lainnya dan kebijakankepentingan (conflict of interest). Selain laporan keuangan, perusahaan harus menyediakan informasi-informasi penting kebijakan perusahaan kepada stakeholders, khususnya para pemegang saham. Informasi yang disajikan oleh perusahaan harus mencerminkan keadaan yang sesungguhnya (transparency), tanpa rekayasa oleh pihak manapun.

2. Akuntabilitas (Accountability) Dalam prinsip ini, perusahaan diharapkan dapat

mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar.Prinsip ini ditujukan untuk menghindari agency problem yang muncul karena adanya perbedaan kepentingan antara Pemegang Saham dan Direksi. Usaha yang dilakukan perusahaan untuk menjalankan prinsip ini antara lain dengan memisahkan secara jelas fungsi, hak, wewenang dan tanggungjawab masing-masing organ perusahaan, dan memastikan setiap organ perusahaan mampu melaksanakan fungsinya sesuai dengan anggaran dasar, etika bisnis dan pedoman perilaku perusahaan. Untuk meyakinkan bahwa tidak adanya penyimpangan fungsi, hak dan wewenang, maka dibentuk suatu sistem pengendalian internal (SPI) yang efektif dalam pelaksanaan pengelolaan perusahaan. Disamping itu perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment system) untuk mendorong semua organ perusahaan melaksanakan tugas dan kewajiban dengan penuh tanggungjawab. 3. Responsibilitas (responsibility) Dalam prinsip ini, perusahaan diharapkan patuh terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk yang berkaitan dengan pajak, hubungan industrial, perlindungan lingkungan hidup, kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan yang sehat. Mengingat dalam menjalankan operasinya perusahaan seringkali menghasilkan dampak yang negatif yang harus ditanggung masyarakat, untuk ini tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sangat diperlukan. Perusahaan juga diharapkan membantu peran pemerintah dalam mengurangi terjadinya kesenjangan 21 pendapatan dan kesempatan kerja yang terjadi pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari mekanisme pasar. Dengan perusahaan mematuhi hukum dan

perundang-undangan yang berlaku dan menjalankan tanggung jawab kepada lingkungan dan masyarakat maka kesinambungan usaha dalam jangka panjang akan terwujud dan perusahaan mendapatkan penghargaan sebagai Good Corporate Citizen. 4. Independensi (Independency) Dalam hal ini perusahaan dikelola secara independent, dimana perusahaan harus menghindari terjadinya dominasi oleh pihak manapun, tidak dipengaruhi oleh kepentingan tertentu, bebas dari conflict of interest dan dari segala pengaruh dan tekanan pihak manapun, sehingga dalam pengambilan keputusan dapat dilakukan secara objektif. Dalam hal ini pula, setiap organ perusahaan dituntut untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan yang telah ditentukan, tidak mendominasi atau melempar tanggung jawab satu sama lain sehingga kejelasan tugas dan tanggung jawab dapat terlihat. Untuk mewujudkan prinsip ini dapat ditempuh dengan penetapan job description secara jelas dan memastikan setiap organ telah melakukan tanggung jawabnya dengan baik sesuai apa yang telah ditentukan. 5. Kewajaran dan Kesetaraan (fairness) Dapat dipastikan semua investor pasti membutuhkan jaminan bahwa setiap asset atau capital yang mereka tanamkan dikelola secara aman. Untuk itu perusahaan dituntut untuk memberikan perlindungan terhadap seluruh kepentingan pemegang saham secara fair, termasuk kepada pemegang saham minoritas. Perlindungan tersebut termasuk perlindungan terhadap kemungkinan terjadinya praktek korporasi yang 22 merugikan seperti fraud, insider trading dan lain sebagainya. Untuk mewujudkan prinsip ini, dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

a) Dalam

pengambilan

keputusan, untuk

perusahaan

melibatkan

para

pemangku

kepentingan

memberikan

kesempatan

menyampaikan saran, masukan serta pendapat. b) Membuat peraturan untuk melindungi kepentingan saham minoritas dalam perusahaan. c) Menetapkan secara jelas peran, fungsi dan tanggung jawab semua organ perusahaan. d) Menyampaikan informasi penting secara terbuka dan secara wajar. e) Memberikan perlakuan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara professional.

4. Latar Belakang GCG di Garuda Indonesia PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memiliki komitmen untuk selalu menerapkan standar tata kelola yang terbaik dengan selalu berusaha untuk menerapkan praktik tata kelola yang baik melalui berbagai usaha perbaikan dan peningkatan, serta tidak hanya merujuk pada minimal standar maupun rekomendasi yang harus dipenuhi. Sesuai ketentuan Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara, yang mengatur bahwa setiap BUMN wajib untuk melakukan pengukuran terhadap penerapan GCG, melalui penilaian (assessment) yang dilaksanakan setiap 2 tahun oleh penilai independen dan melalui evaluasi (review) yang dilakukan sendiri oleh BUMN (self assessment) yang meliputi evaluasi terhadap hasil penilaian yang dilakukan oleh pihak independen dan tindak lanjut atas rekomendasi perbaikan yang disampaikan dari hasil akhir penilaian. Konsisten dengan komitmen tersebut, untuk tahun 2011 Garuda Indonesia telah menunjuk pihak independen untuk melakukan kajian terhadap praktik tata kelola di Garuda Indonesia dengan menggunakan pembanding Pedoman Umum GCG Indonesia dan Company Corporate

Governance (CCG) Scorecard yang merupakan kerangka acuan pelaksanaan assessment dan reassessment penerapan GCG di BUMN. 1. Hasil Penilaian GCG Berdasarkan Company Corporate Governance Scorecard Dari hasil kajian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan penerapan GCG di Garuda Indonesia dibandingkan hasil assessment sebelumnya di tahun 2009 yang dilakukan oleh BPKP. Peningkatan signifikan ditemukan pada penerapan Keputusan Menteri Negara BUMN RI No.KEP-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktik GCG, penilaian yang dilakukan dengan menggunakan indikator dalam Company Corporate Governance Scorecard yang merupakan lampiran dari Surat Menteri Negara BUMN RI No.S-168/MBU/2008, juga menunjukkan adanya peningkatan, khususnya pada aspek Hak dan Tanggung Jawab Pemegang Saham/RUPS, Kebijakan Good Corporate Governance, Penerapan Good Governance, dan Komitmen. Berdasarkan kriteria penilaian yang sudah ditetapkan tersebut, Garuda Indonesia mendapatkan penilaian SANGAT BAIK, dengan nilai skor 91,87.

Tabel 1. Hasil Penilaian Penerapan GCG Berdasarkan Company Corporate Governance Scorecard No I Aspek Pengujian 2009 capaian) 6,99 6,84 (% 2011 capaian) 7,96 7,59 (%

Hak Tanggung jawab pemegang saham/ RUPS II Kebijakan Good Corporate Governance III Penerapan Good Corporate Governance A Komisaris B Komite Komisaris C Direksi D Satuan Pengawasan Intern SPI E Sekretaris Perusahaan IV Pengungkapan Informasi (Disclosure) V Komitmen Skor Keseluruhan Peringkat Kualitas Penerapan GCG

19,42 5,29 22,21 2,66 2,70 6,64 8,05 80,79 BAIK

25,42 5,03 25,27 2,85 2,73 5,92 9,11 91,87 SANGAT BAIK

2. Hasil Penilaian Penerapan GCG Berdasarkan Adopsi Pedoman GCG Indonesia. Untuk menilai penerapan GCG di Perusahaan, Garuda Indonesia juga menggunakan Pedoman Umum GCG Indonesia yang ditetapkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance sebagai acuan. Tabel 2. Hasil Penilaian Penerapan GCG Tahun 2011 Berdasarkan Pedoman Umum GCG Indonesia.

3. Survei Pemeringkatan GCG Perusahaan mengikuti riset pemeringkatan implementasi GCG yang diselenggarakan oleh The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG). Tema riset pemeringkatan tahun 2010 adalah GCG dalam perspektif Etika. Riset dilakukan dengan metode studi dokumentasi, kuesioner, wawancara dan observasi. Berdasarkan hasil riset tersebut Perusahaan mendapatkan skor 85,82 dan masuk dalam kategori Most Trusted Company. Dalam riset kali ini, Perusahaan berhasil meraih tiga penghargaan yakni Most Trusted Company Based on Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2010, Indonesia Trusted Companies Based on Investors and Analysis Assessment Survey dan sebagai peserta Corporate Governance Perception Index (CGPI) 2010 terbaik dalam tahapan observasi. 4. Pilar 3P pada GCG Garuda Indonesia 3P (People, Planet dan Profit), people disini artinya adalah fair bagi semua pihak, baik bagi kepada staff, pelanggan, pemegang saham maupun masyarakat sekitar, sedangkan planet adalah upaya Garuda Indonesia untuk menjaga lingkungan dari kerusakan, walaupun ada kemajuan pada perusahaan akantetapi lingkungan harus tetap dijaga kelestariannya. Dan

yang terakhir adalah profit yaitu bagaimana nilai-nilai tersebut pada akhirnya bermuara pada keuntungan yang besar pada perusahaan. 5. Proses transformasi dengan adaptasi FLY-HI Dalam rangka mentransformasikan kebijakan GCG maka Garuda Indonesia mengacu pada prinsip nilai korporat bisnisnya yaitu FLY-HI yang artinya adalah sebagai berikut: o F o L o Y o H o I : eFFicient- eFFective : Loyalty : customer centracitY : Honesty & openness : Integrity

Selain prinsip nilai diatas maka untuk melengkapi penerapan GCG maka GI mempermudah transformasi GCG mereka dengan menerapkan kebijakan Wish Of Blower pada perusahaan mereka, dimana para karyawan dan staff perusahaan diberikan hak untuk melaporkan segala tindakan kecurangan yang terjadi di perusahaan dan hal tersebut dijamin kerahasiaannya oleh perusahaan. Penerapan prinsip-prinsip diatas diakui oleh Dirut PT. Garuda Indonesia bahwasannya tindakan penerapan dilaksanakan oleh setiap lapisan, mulai dari staff dan petingginya, oleh karena itu istilah Walk The Talk atau dapat diartikan dengan melakukan yang diperintahkan, adalah keharusan di perusahaan ini. Sehingga prinsip yang ada tidak hanya sekedar jargon semata. 6. Tantangan dalam menerapkan GCG di Garuda Indonesia Beberapa tantangan yang menjadi penghambat terlaksananya GCG di PT. Garuda Indonesia antara lain adalah:

Penentangan sebagian karyawan ketika proses transformasi sedang berjalan Proses transformasi Garuda Indonesia tidak dapat dijalankan dalam waktu yang singkat, melainkan membutuhkan proses yang cukup panjang. Belum ada korelasi antara penerapan prinsip GCG dengan peningkatan harga saham pada perusahaan penerbangan ini.

5. Kesimpulan Garuda Indonesia dalam rangka Turn Around yang diawali sejak tahun 2005 telah melakukan langkah-langkah yang konsisten dan persisten dalam meningkatkan citra dan pelayanan serta menjadikan Garuda Maskapai yang terbaik di Indonesia maupun dunia, hal tersebut ditandai dengan penerapan GCG yang berkesinambungan dan secara baik diimplimentasikan pula pada nilai-nilai maupun prinsip budaya korporat perusahaannya. Hal tersebutlah yang menjadikan Garuda Indonesia saat ini menjadi salah satu perusahaan terbaik yang menerapkan nilai GCG di Indonesia. Pendapat Kelompok Jadi menurut pendapat kami tentang kebijakan yang diambil oleh PT.GI, maka langkah penyesuaian yang dilakukan dengan mensinergikan dengan kebudayaan perusahaan adalah langkah yang tepat yang telah ditempuh, alasannya adalah, karena untuk menerapkan sesuatu hal yang baru dalam perusahaan diperlukan proses dan waktu yang cukup lama, hal tersebut tidak bisa dilakukan dengan menerapkan kebijakan yang sembrono dan terkesan terburu-buru hingga menghapuskan kebijakan yang lama yang sedang bergulir.